KLISE : UNSTOPPABLE [Part 6]

Klise unstoppable 2

Tired of waiting? well, wait this weekend. FF explosion is going to come for you.

***

Ceklek.

Pintu terbuka. Dari celah sempit yang dibuat oleh pintu tersebut, Yonghwa mengintip ke dalam. Ia terpaku di sana selama beberapa menit.

“Dia sedang tidak ingin diganggu.” Jiyong muncul di belakang Yonghwa tiba-tiba. “Pulanglah.”

“Tapi—“

“Aku akan menjaganya. Sudah kewajibanku sebagai kakaknya. Pulanglah. Aku tidak ingin Yuri terlibat banyak masalah lagi dengan pria-pria hari ini.” Tidak ada nada yang ramah dalam kalimat Jiyong. Tapi ia juga tidak sekejam itu untuk terlalu marah pada Yonghwa—yang di sini menjadi korban juga. Yonghwa menolak untuk mengatakan apapun meskipun Jiyong memberikan jeda panjang agar kalimatnya direspon. Meskipun ia bungkam, Yonghwa telah menutup pintu kamar rawat dan berangsur-angsur menarik diri dari hadapan Jiyong.

“Maaf untuk hari ini.” Katanya sebelum ia pergi. Jiyong menggeleng kemudian mendesah panjang. “Bukan salahmu. Tapi terima-kasih sudah meminta maaf.”

Jiyong masuk ke dalam kamar rawat Yuri, kemudian menutup pintunya pelan tanpa melihat punggung Yonghwa yang menjauh.

.

.

Myungsoo berada di dalam mobil. Ia duduk di jok belakang dengan gelisah. Sesekali ia melihat ponselnya yang bergetar berkali-kali. Tapi Myungsoo mengabaikan nama Kim Hyuna yang berkedip-kedip di layar ponselnya.

Selang beberapa detik kemudian, ponselnya berhenti berkedip dan bergetar. Myungsoo memijit dahinya. Bahkan ia baru saja melepaskan dasi dan dua buah kancing kemeja paling atasnya. Myungsoo bersandar di jok dengan lelah. Seperti ia baru saja melakukan maraton keliling Seoul.

Telunjuk Myungsoo bergerak di dahinya dengan lihai sementara jempolnya berada di peipisnya, melakukan gerakan memutar dan menekan-nekan. Myungsoo memejamkan mata dan mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Ia tentu masih belum bisa mengalihkan ingatannya soal kejadian buruk di rumah sakit.

Dari semua pria yang berada di sekitarmu, kenapa harus Yonghwa?

Myungsoo menjejakkan sepatunya dengan kesal. Sang supir yang berada di depan memerhatikannya dengan raut wajah cemas dari spion tengah. Namun begitu, ia tidak menyinggung apapun.

Ponsel Myungsoo bergetar lagi. Kali ini ia melemparkannya ke luar, tepat saat mobilnya melintas di jembatan di atas Sungai Han. Ponsel itu sudah terjatuh ke dalamnya dan Myungsoo tidak mau ambil pusing. Ia kembali duduk lemas dan memijit-mijit dahinya.

“Halo?” Sang Supir kelihatan sedang menerima sebuah panggilan. Ia mengangguk-angguk beberapa kali kemudian menyerahkan ponselnya pada Myungsoo.

“Apa ini?” Kata Myungsoo.

“Nyonya Besar ingin bicara padamu.”

Myungsoo terlihat jengkel tapi ia tentu tidak punya keberanian untuk membuang ponsel milik supirnya juga. Dengan berat hati, ia menerimanya.

“Halo.” Kata Myungsoo tidak bergairah.

“Kenapa kau tidak mengangkat telepon Hyuna!” Baru satu kalimat saja, sudah ada nada jengkel dalam suara Kahi. Myungsoo menjauhkan suara itu dari telinganya, demi keamanan.

“Aku sibuk.”

“Aku tahu kau pergi menemui gadis miskin itu!”

“Jangan sebut Yuri dengan sebutan seperti itu!” Myungsoo naik pitam. Ia buru-buru mengendalikan nada suaranya lagi ketika Sang Supir meliriknya dengan takut-takut. “Dia tidak seburuk yang kau pikirkan.” Jelasnya.

“Masa bodoh. Sekarang kau dimana?”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku sedang berada di rumah kakak tirimu, kemarilah. Ada yang harus kubicarakan. Kali ini jangan menolak. Ini perintah!”

Mendengar sebutan kakak tiri dari Jung Kahi. Pastilah yang ia maksudkan adalah Jung Yonghwa. Myungsoo biasanya tidak pernah menyetujui segala kegiatan dan semua makan malam dengan kakak tirinya itu. Meskipun Jung Kahi berbicara sampai berbusa, rasanya tidak mungkin Myungsoo akan ke sana.

“Kau harus datang. Mengerti?” Myungsoo termenung atas kalimat dari Kahi. Entahlah. Dia tidak tahu apakah ia harus menurutinya kali ini atau tidak. Pikirannya sedang bercabang dan dia tidak paham harus fokus pada yang mana terlebih dahulu.

“Myungsoo? Kau masih di sana?” Kahi berbicara lagi. Kali ini Myungsoo bergerak hingga di saluran aktif tersebut terdengar suara keresek singkat dari Myungsoo. “Berhenti bicara berulang-ulang. Aku mengerti. Aku akan datang,” Myungsoo menghela napasnya. “Sepertinya aku juga memiliki sesuatu yang harus kubicarakan dengan kakak tiriku.”

.

.

“Hyuna-ssi?”

Hyuna menoleh ke belakang dan tersenyum lebar saat seseorang menyapanya. Pemuda cukup tinggi dengan tubuh yang proporsional datang dan mencium bibirnya di depan umum tanpa sedikitpun rasa malu. Hyuna terkekeh kecil saat pemuda itu memeluknya.

“Bagaimana rasanya kembali ke Korea, Chansung-ah?” Pemuda bernama Chansung kini tertawa lebar. Ia membawakan Hyuna sebuah tas yang kelihatannya seperti oleh-oleh dari Paris. “Biasa saja. Tapi setelah bertemu dengan kau, rasanya tidak tertandingi.”

Hyuna menerima buah tangan dari Chansung dengan senang hati. Ia bergelayut di lengan Chansung manja setelah melihat sebuah perhiasan perak dengan taburan permata keabuan yang sangat indah. “Terima-kasih.” Katanya. Hyuna mencium kening Chansung kemudian berjalan dengan pemuda itu.

“Bagaimana rencana kita di sini? aman?” Tanya Chansung.

“Agak repot sedikit karena seorang gadis. Tapi Jung Kahi sangat percaya padaku. Kurasa akan lancar. Aku akan bertunangan dengan Kim Myungsoo tiga hari lagi.”

Chansung tertawa. Ia mengelus kepala Hyuna. “Secepat itu? Bukankah masih enam hari lagi?”

“Jung Kahi meneleponku barusan. Ia menginginkan waktu yang dipercepat. Rasanya keluarga itu sedang dilanda masalah internal karena seorang gadis miskin. Entahlah, aku juga tidak peduli. Asalkan rencana ini berhasil, mereka akan menjadi sampah.”

Chansung berhenti berjalan. Ia menarik tubuh Hyuna dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Aku percaya padamu, Jagiya. Sebentar lagi, kita akan memiliki segalanya karena jasamu.”

.

.

Myungsoo, Yonghwa dan Kahi duduk melingkar di depan sebuah meja kecil yang biasa mereka gunakan untuk minum teh. Kahi banyak bicara tapi dua anaknya lebih memilih diam. Bahkan sedari tadi Myungsoo datang, tidak sedetikpun ia memandangi Jung Yonghwa.

“Rapat pemegang saham akan dimulai empat hari dari sekarang. Ayah Hyuna saat ini adalah pemegang saham terbesar ketiga setelah aku dan Ayah kalian. Mungkin dia akan mendominasi hasil rapat nanti karena aku berhalangan hadir. Kalian di sini, untuk memutuskan siapa yang akan menghadiri rapat tersebut, menggantikanku.”

Yonghwa melihat tidak adanya minat apalagi pergerakan dalam tubuh Myungsoo. Tapi ia juga enggan mengajukan diri. Kim Myungsoo memang sudah tidak tertarik pada dunia ini sejak awal. Ia memiliki masalah dalam menghadapi orang-orang tua yang ada dalam perusahaan. Citranya sudah kelewat buruk bahkan sebelum ia bergabung dengan perusahaan. Semuanya karena ulahnya, tapi lebih banyak karena isu-isu publik yang diciptakan oleh orang yang tidak bertanggung-jawab.

Sebenarnya, Yonghwa di sini pun tidak terlalu berpengaruh. Jung Kahi pasti akan memilih Myungsoo meskipun Myungsoo menolak. Nama Jung Yonghwa memang sudah didaftarkan dalam silsilah keluarga Kim, tapi sampai saat ini belum ada keputusan bahwa ia sudah menjadi bagian dari keluarga itu dalam lembaran negara. Sehingga sulit baginya untuk berada di perusahaan meskipun ia mumpuni untuk hal tersebut. Alasan yang dapat ia tangkap dari pertemuan sia-sia itu adalah, Jung Kahi ingin menekan mental keduanya dengan bertemu-tatap.

Mungkin ia tidak berharap kedua-anaknya hidup akur. Mungkin juga ia ingin keduanya sadar akan kekuatan hebat yang dimiliki ibunya untuk masa depan mereka berdua.

“Tidak ada?” Kahi bertanya kembali. “Kalau begitu, Kim Myungsoo. Kau yang akan—“

“Aku bersedia.” Yonghwa menyela sebelum Kahi menyelesaikan kalimatnya. Kahi tertawa . “Kau?”

“Aku akan menggantikanmu dalam rapat itu. Sebagai perwakilan.”

“Jangan bercanda, Jung Yonghwa.”

“Aku bersungguh-sungguh.” Yonghwa melirik sekilas pada Myungsoo yang kini memandangnya. Myungsoo keheranan kenapa Yonghwa mengajukan diri untuk masalah ini. Sebelumnya, Myungsoo yakin Yonghwa bahkan tidak peduli apapun yang terjadi dalam keluarga ini. Pemuda itu bahkan sampai betah tinggal di luar negeri daripada repot-repot mengurusi Kahi dengan bisnisnya.

Yonghwa juga tidak tahu mengapa. Tapi ketika ia melihat Myungsoo, ia tahu bahwa pekerjaan ini harus dilakukan oleh dirinya. Myungsoo sudah memiliki banyak masalah.

“Kau bahkan bukan dari Kim!” Kata Kahi. Kalimat ini terdengar kasar untuk telinga Yonghwa, tapi ia memilih diam. Myungsoo beranjak dari tempat duduknya. “Aku akan melakukannya.” Katanya. Kahi dan Yonghwa sama-sama terlonjak kaget mendengar hal tersebut keluar dari bibir Myungsoo.

“Apa begini sudah cukup? Kalau iya, aku permisi.” Ujar Myungsoo lagi. Ia menundukkan kepala tapi kalimat Yonghwa menahannya.

“Kau tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi wakil Ibu.”

Myungsoo mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Tapi aku dari Kim, setidaknya.”

“Masalah yang akan dibahas lebih dari sekedar marga Kim milikmu, Myungsoo.”

“Setidaknya aku datang. Sudah cukup?”

“DIAM!” Jung Kahi berteriak. Myungsoo memandang ke arah lain, Yonghwa menghela napasnya. “Aku mengundang kalian kemari bukan untuk berselisih paham!” Katanya. “Biar kuputuskan, Kim Myungsoo, dengan sifatmu kurasa kau tidak bisa hadir di sana. Aku juga tidak setuju jika Yonghwa yang menggantikanku tapi aku tidak punya pilihan. Kau akan hadir, Yonghwa. Di bawah namaku, jangan lakukan hal yang bodoh.”

Yonghwa mengangguk dan memberi satu tundukan hormat pada Kahi. Myungsoo menolak memberi pernyataan apapun. Tapi diam-diam ia lega karena ia terbebas dari satu masalah.

Perasaan lapang dari Myungsoo rasanya tidak bertahan sampai lima detik. Karena Jung Kahi sepertinya selalu saja memberikan masalah baru. “Soal pertunanganmu, aku memajukannya. Tiga hari dari sekarang.”

.

.

Menjadi orang ketiga yang paham segalanya itu tidak enak. Seperti itulah kehidupan Jung Yonghwa saat ini. Ia berada di posisi yang strategis untuk melihat semua kejadian penting di sekitarnya. Ia mengetahui permasalah dalam diri Jung Kahi termasuk degradasi mentalnya karena faktor tekanan dalam dunia bisnis. Ia juga mengenal bagaimana Kim Myungsoo dan kesehariannya. Ditambah lagi, baru-baru ini ia juga mengenal bagaimana kisah cinta penuh intrik yang dilalui Myungsoo dan Yuri.

Yonghwa juga mengenali Yuri. Mengenali apa masalah gadis itu dan kebohongan apa saja yang sudah ia lakukan demi Myungsoo. Rasanya ia seperti berada di tengah-tengah persimpangan jalan yang rumit. Yonghwa tidak tahu harus kemana. Apalagi ia masih harus disibukkan dengan urusan perasaan terpendamnya pada Yuri.

Entahlah.

Yonghwa kerepotan.

Yonghwa melihat kalender. Satu hari sebelum pertunangan Myungsoo.

Pemberitaan tentang acara besar ini sudah terpampang di mana-mana. Media elektronik bahkan tidak henti-hentinya melakukan pemberitaan. Mungkin sebagian memang dirancang oleh Jung Kahi. Sebenarnya, Kahi juga sangat berhati-hati atas pertunangan ini mengingat ayah Hyuna entah bagaimana adalah musuh dalam selimutnya juga.

Rencana Kahi adalah, dengan pertunangan itu, ia bisa memanfaatkan Hyuna demi menjalin kerjasama untuk menggulingkan Myungsoo nantinya. Seperti kata pengacara keluarga, saat Myungsoo masuk ke dalam perusahaan, Ayah Myungsoo yang sakit-sakitan telah mewariskan sahamnya pada pemuda itu. Sehingga tanpa usaha, Myungsoo sudah menduduki peringkat tertinggi dalam saham sejak awal ia masuk perusahaan.

Pertunangan yang dirancang dengan keluarga Hyuna adalah pertunangan bisnis. Kahi menginginkan kerjasama dirinya sebagai pemegang saham tertinggi kedua dengan Ayah Hyuna, Kim Ki Woo, sebagai pemegang saham terbesar ketiga. Dengan bergabungnya mereka, perusahaan akan tetap di bawah kendali mereka meskipun ada Myungsoo di sana.

Kahi semata-mata ingin berlindung dari bahaya yang ia perkirakan akan terjadi padanya ketika nanti Myungsoo masuk ke dalam perusahaan. Bisa saja anak itu akan menggulingkannya. Bahkan mengusirnya setelah semua yang ia lakukan.

Kahi juga tahu resiko saat ia menjalin kerjasama bisnis ini dengan keluarga Hyuna. Pasti suatu saat mereka akan mengkhianatinya. Tapi bagi Kahi, selama bukan Myungsoo dan keluarga Kim, ia masih bisa mengatasi hal itu.

Yonghwa tahu semua ini. Kahi sudah menceritakannya. Pemuda itu tahu bahwa secara tidak langsung, Kahi menginginkan dirinya.

Kahi sedang mengusahakan dirinya untuk masuk ke dalam perusahaan suatu hari nanti. Ia melakukan segala upaya untuk menggulingkan Myungsoo dan menggantinya dengan Yonghwa. Yonghwa tahu bahwa suatu tempat di dalam ibunya, masih memiliki dendam atas masa lalunya. Kini wanita itu menggunakan Myungsoo sebagai pelampiasan.

Meskipun Yonghwa tahu, tapi ia enggan melakukan apapun. Ia lebih senang dengan hidupnya sendiri ketimbang mengurusi hidup orang lain. Lagipula, walaupun ia tertarik pada dunia bisnis, tapi memasuki perusahaan dengan cara seperti ini rasanya akan aneh. Belum semuanya tahu bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga Kim. Meskipun dalam hitungan hari ia akan dimasukkan dalam daftar silisilah keluarga, tapi tetap saja, Yonghwa dan Myungsoo terlahir dari dua bapak yang berbeda.

Dua marga yang berbeda.

Yonghwa paham betul. Tapi dia pasrah saja pada keinginan keras ibunya. Kini, ia harus bersiap untuk pergi ke tempat Myungsoo untuk menemui Ibunya dan membicarakan hal-hal teknis pertunangan Myungsoo. Ditambah lagi beberapa persiapan teknis dalam menghadiri rapat pemegang saham yang akan dihelat sehari setelah pertunangan merepotkan itu. Yonghwa bersiap untuk semuanya.

Pemuda itu beranjak dari kamarnya setelah ia bersiap-siap. Kemeja dan celana jeans adalah trademark Yonghwa dalam situasi apapun. Ia tidak akan meninggalkan setelan kasual ini kecuali karena terpaksa.

You’re my only one way
Ojik noreul wonhe nega ni gyote isseume kamsahe

Suara merdu dari Ailee dalam lagunya Heaven mengalun lembut di sebuah ponsel milik Yonghwa. Ia melihat sebuah nama yang tertera di depan layarnya kemudian ia mengerutkan dahi.

“Kwon Yuri? Malam-malam begini?” Yonghwa menggeser panel sentuh berwarna hijau di ponselnya. “Yah, Yuri-ya kau menelepon tidak tahu waktu—“

“Tuan, kau mengenal wanita ini?”

Suara di seberang bukan suara Yuri meskipun Yonghwa meyakinkan diri bahwa telepon itu berasal dari ponsel milik Yuri. Saat mendengar suara pria di seberang sana, dahinya berkerut. Daripada penasaran, Yonghwa lebih terkesan cemas. Kenapa ponsel Yuri berada di tangan pria malam-malam begini?

“Siapa kau? Apa yang terjadi?”

“Aku bukan orang jahat. Aku pegawai sebuah pub. Gadis ini mabuk berat tapi tidak ada yang datang menjemputnya sampai malam begini. Ia berkali-kali menyebutkan nama Kim Myungsoo tapi tidak ada kontak dengan nama itu di dalam ponselnya. Satu-satunya panggilan terakhir berasal darimu. Jadi aku pikir kau mengenalnya.”

Yonghwa menggenggam erat ponselnya. “Dimana pub tempat kau bekerja?”

Suara berat di seberangnya memberikan Yonghwa sebuah alamat lengkap. Ia menutup ponselnya kemudian. Dadanya naik-turun dan ia terkesan tergesa-gesa saat ini. Dalam satu tarikan napas, Yonghwa berlari ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin dan segera melaju membelah malam.

.

.

Yuri mabuk berat. Saat Yonghwa membawanya dari pub, kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan. Informasi dari pegawai pub, gadis itu telah menghabiskan sebotol besar bir sejak ia datang pukul delapan malam. Baru dua hari gadis itu dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit, kini ia berulah lagi.

“Kim—Myung—Soo—“ Rintih Yuri. Rasanya sudah ribuan kali nama Kim Myungsoo keluar dari bibir mungil gadis itu. Dari pub, di mobil bahkan kini, hingga ke rumah Yonghwa. Gadis itu tidak henti-hentinya menyebut nama Myungsoo.

Ada emosi yang melanda Yonghwa seketika, tapi berhasil ia redam di detik selanjutnya saat ia membaringkan Yuri di atas sofa. Wajahnya bersinar meskipun dalam keadaan tidak prima. Make-upnya sudah luntur, ada usapan kasar maskara di sekitar kelopak matanya. Eyeliner hitamnya juga sudah meleleh dan membuat noda hitam di sekitar kantung mata Yuri. Tidak perlu dua kali menebak, siapapun akan tahu bahwa riasan mata gadis itu rusak karena ia sendiri yang merusaknya. Entah menangis atau apa.

“Kim—Myung—Soo…”

“Dia tidak di sini.” Yonghwa berkata. Saat itu ia duduk di sofa yang lain dan menatap Yuri dengan mata nanar. Gadis itu terlihat menderita, amat menderita bahkan untuk dijelaskan. Rasanya aneh melihat gadis itu bisa kesusahan seperti ini dalam menata hatinya. Yuri menggeliat sejurus kemudian. Matanya membuka, sesekali ia segukan.

“Yonghwa Oppa?” Katanya. Ia terkekeh kemudian mengubah posisinya di atas sofa dari berbaring menjadi duduk. Kedua kakinya ia naikkan ke atas kemudian Yuri memeluknya erat. Ia mulai menyandarkan pipinya di atas dengkul.

Di depan Yuri ada cahaya menyilaukan dari televisi yang menyala-nyala. Karena sangat terburu-buru tadi, Yonghwa sampai lupa mematikan peralatan listrik di rumahnya. Ah, bahkan ia tidak mengunci rumahnya sendiri.

Entah apa namanya kalau bukan kebetulan, saat itu sebuah potongan berita muncul dengan headline pertunangan Myungsoo dan Kim Hyuna sebagai perbincangan.

Yuri tersenyum.

“Lihat itu Oppa. Aigoo… Myungsoo dan keluarganya sangat pintar memilih menantu.” Matanya yang sayu sesekali terpejam. Yuri masih belum benar-benar tersadar. Ia masih dipengaruhi alkohol. Yonghwa bersidekap. Ia memilih diam dan mendengarkan. Berbicara dengan gadis mabuk sama anehnya dengan berbicara dengan tembok.

Potongan gambar Kim Hyuna yang sedang tersenyum lebar di depan pers muncul begitu saja. Dari bibirnya meluncur kalimat-kalimat yang sebagian besar bercerita tentang kebohongan.

“Aku dan Myungsoo sudah berteman sejak kecil.”

“Aku dan Myungsoo berkencan diam-diam selama ini.”

“Hubungan Myungsoo dengan gadis lain sebelum aku, adalah drama untuk menyembunyikan hubungan kami dari media, maafkan kami.”

Yuri memerhatikan kata demi kata yang meluncur dari bibir manis Hyuna. Ia hampir tidak bernapas jika saja rasa sesaknya tidak menyuruhnya berbuat demikian. Cengkraman pada lututnya terasa semakin kuat.

Hyuna-ssi, bisa berikan komentar soal hubungan calon tunanganmu dengan model Kwon Yuri-ssi?” Seorang pria berkacamata tebal dengan jubah hitam yang memegangi kamera besar mengajukan pertanyaan. Lampu flash sekarang lebih banyak lagi berkedip di tubuh Hyuna. Gadis itu duduk di belakang meja dengan sebuah microphone hitam di tangannya. Ia membagikan senyum hangat dan berdeham panjang sebelum berbicara.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, semua cerita asmara yang kami bagikan pada media sebelum ini, adalah drama.”

Media menggila. Lampu sorot semakin terang saja ditambah semakin banyaknya media yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan sensitif bertubi-tubi. Walaupun Yuri hanya diam dan menontonnya dengan damai, tapi Yonghwa merasa risih. Ia menemukan remote televisinya dan memijit tombol merah di sana.

Layar televisi menjadi gelap.

Tapi pandangan Yuri tidak pernah pergi dari sana.

“Drama?” Nada suara Yuri semakin lirih saja. Yonghwa tidak pandai menebak, tapi ia yakin saat ini Yuri sudah hampir menangis. Yonghwa menarik napas kemudian berjalan pelan ke arah sofa Yuri. Ia duduk di sebelahnya, di sebelah Yuri yang membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.

“Sudah malam, sebaiknya kau beristi—“

“Semua yang kulakukan setahun terakhir, adalah sebuah drama?” Napasnya tersengal. Kali ini ada isakan setiap ia melakukan tarikan napas. Yuri sedang menangis.

“Yuri-yah—“

“Jika ini drama, kenapa aku mendapatkan peran yang sangat menyakitkan, Oppa?” Yuri menahan napasnya. “Apa yang aku lakukan begitu salah sehingga semua orang menginginkan aku menderita? Aku… tidak pernah menangis seperti ini kecuali di depan Myungsoo. Tapi di mana lagi aku harus menangis ketika Myungsoo-lah penyebab air mata ini, Oppa?”

“Yuri-ya dengarkan aku—“

Oppa…” Yuri mengangkat kepalanya. “Saat kau berkata jangan hidup seperti Geum Jan Di, sebenarnya aku sudah jatuh lebih jauh ke dalam kehidupan seperti itu. Seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada pangeran yang akan menikah dengan orang lain, itulah hidupku, Oppa. Meskipun aku tahu aku tidak punya kesempatan, aku ingin mencoba. Aku terus mencoba sampai aku tersadar bahwa kesempatan itu tidak pernah datang untuk orang sepertiku. Aku bisa berbohong dengan mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja. Suatu saat aku bisa menata hidupku kembali, Tapi Oppa,” Yuri meneteskan air matanya. “Siapa yang akan menata hatiku? Bagaimana aku menata hatiku kembali setelah diguncang seperti ini? Atau, barangkali, adakah yang peduli?”

Tetes-tetes bening jatuh ke atas rok selutut yang dikenakannya. Yonghwa menatap lurus ke dalam manik cokelat Yuri dan Yuri enggan mengalihkan pandangannya dari Yonghwa.

“Aku tidak tahu—“ Yuri menundukkan kepalanya. “Aku tidak pernah tahu kalau cinta bisa membuatku seperti ini. Kupu-kupu di perutku sudah berubah menjadi duri.”

Isakan tangisnya tidak terhenti. Yonghwa mengangkat tangannya untuk memeluk gadis itu. Tapi ia mengurungkan niat setelah Yuri menundukkan kepala dan menangis lebih keras dari sebelumnya. Isakan sudah berubah menjadi banjir air mata. Meskipun tidak pernah tahu bagaimana rasa sakit yang Yuri rasakan, alunan tangisan di depan wajahnya seolah sudah menunjukkan nada-nada melankolis yang menyayat sedang dimainkan.

Melihat gadis yang dicintainya menangis, hati Yonghwa merasakan perih. Andai aku bisa menghapus air matanya, andai aku bisa memeluknya, andai aku datang padanya lebih cepat, pernyataan-pernyataan itu terus memenuhi otaknya. Rasanya aneh melihat gadis yang dicintainya menangis di depannya karena pria lain. Berbicara soal rasa sakit, Yonghwa sudah merasakannya jauh dari dahulu.

“Yuri-yah… Jangan menangis.” Saat mengatakan itu, otak dan tenggorokan Yonghwa sedang tidak sejalan. Entah mengapa tenggorokannya bergetar hingga nada suara yang dihasilkan tidak begitu terdengar. “Jangan menangis seperti ini.” Katanya lagi lebih kencang.

“Aku sudah hancur Oppa… Aku sudah hancur.” Air mata berlinangan di pipi Yuri. Yonghwa tidak berani memandangnya kali ini. Ia lagi-lagi hanya memberitahu Yuri. “Jangan menangis seperti ini, Yuri-yah!”

“Aku—hatiku—“ Yuri tidak mendengarkan. Ia hanya berbicara kosong dengan tangisan yang semakin deras. Terselip emosi yang semakin lama semakin besar di dalam dada Yonghwa. Ia menggenggam bahu Yuri dan menggoncangkan tubuh gadis itu. “KAU TIDAK BOLEH MENANGIS!”

“LALU APA YANG BISA KULAKUKAN OPPA? HARUSKAH AKU TERTAWA KALAU BEGITU? HARUSKAH AKU BERLARI KE RUMAHNYA DAN MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT?” Yuri baru saja menyingkirkan lengan Yonghwa dari tubuhnya. Ia memandang jengah pada Yonghwa. Tapi kemudian matanya melirik ke sembarang arah dan menghindari kontak mata dengan pemuda itu. “Hanya ini yang bisa kulakukan… menangis.”

Yuri menyeka air matanya. “Aku… mengantuk.” Tidak memandang mata Yonghwa adalah penyelesaian bijak untuk Yuri. Setidaknya emosinya mereda karena bersitegang singkat tadi. Yuri meraih bantal di atas sofa dan menepuk-nepuk bantal tersebut beberapa kali entah dengan maksud apa.

“Aku akan menatanya.” Yonghwa berbicara tapi manik Yuri tidak ia pandang kala itu. Yuri juga berakting seolah tidak peduli. Ia membalasnya dengan satu kata singkat.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kubilang aku akan menatanya—“ Yonghwa menggenggam bahu Yuri lagi, kali ini ia melakukan gerakan menarik dengan otot-otot tangannya. Tubuh Yuri terdorong ke depan dengan sangat cepat. Hingga selanjutnya yang Yuri tahu, bibirnya sudah mendarat di atas sesuatu yang rasanya seperti permen karet. Ada aroma maskulin yang menyergak hidungnya saat itu.

Yuri tidak melakukan apapun selain diam. Tidak lama berselang, benda sekenyal permen karet itu terlepas dari bibirnya. Ia menatap lurus pada Yonghwa. Pemuda itu tidak terlihat sedang bercanda.

Yonghwa menyelesaikan kalimatnya saat itu. “—Hatimu itu. Aku akan menatanya kembali.”

.

.

Hatimu itu. Aku akan menatanya kembali.

Myungsoo meninju batang pohon dengan keras hingga buku-buku jarinya terluka. Ia baru saja keluar dari sebuah rumah besar yang paling tidak ingin ia masuki. Firasatnya benar, ia baru saja melihat apa yang harusnya tidak pernah ia lihat, kedua kalinya.

Rasanya aneh.

Sakit, perih, bingung dan jengah.

Tapi di sisi lain, entah ia merasa seperti berterima-kasih dan cemburu di saat yang bersamaan. Myungsoo tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Saat kau berkata jangan hidup seperti Geum Jan Di, sebenarnya aku sudah jatuh lebih jauh ke dalam kehidupan seperti itu. Seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada pangeran yang akan menikah dengan orang lain, itulah hidupku, Oppa.

Myungsoo menendang kerikil hingga batu itu terbang jauh entah kemana. Ia masih berjalan lurus hingga gelap malam menelannya. Myungsoo sudah tidak peduli. Ia meninggalkan mobilnya jauh di belakang sementara ia memilih melampiaskan kekesalannya dengan meninju apapun yang dilihatnya di jalanan setapak yang sepi.

Myungsoo muak dengan hidupnya. Tapi ia lebih muak lagi dengan dirinya sendiri.

“Sial! Brengsek!” Myungsoo meninju salah satu batang pohon terdekat lagi. Kali ini dari kepalan tangannya, keluarlah darah kental yang tidak pernah ia seka. Myungsoo menatapnya hingga darah kental itu dijatuhi beberapa tetes air bening yang datangnya begitu saja. Jika tetes hujan, tentu terlalu sedikit.

Myungsoo sedang menangis.

Pantangan bagi pria untuk menangisi seorang gadis, rasanya pepatah itu tidak ada benarnya untuk hal ini. Apa bisa seorang pria tidak menangisi kehancuran hubungan dengan gadis yang amat dicintainya?

Saat ini Myungsoo sedang merasakan kesulitan tersebut. Sakitnya buku-buku jari tangannya tidak seberapa dengan betapa terlukanya hati Myungsoo.

Meskipun ia sangat mencintai Yuri, tapi jika sudah begini, ia bisa melakukan apa? Hidupnya sudah ditakdirkan untuk terluka sejak dilahirkan, jadi untuk apa ia berharap agar bahagia? Salahnya, Yuri ia seret juga ke dalam kehidupannya yang payah. Myungsoo terus-menerus dihantui rasa bersalah tak beralasan. Ia terus saja menyalahkan dirinya yang tidak kuasa untuk mengembalikan semuanya seperti sediakala. Ia tidak bisa menata apapun. Bahkan hatinya sendiri.

Aku akan menatanya, hatimu Yuri.

Myungsoo menyeka air matanya. Ia menghembuskan napas seolah semuanya sudah terpecahkan. Hatinya masih sakit, lebih sakit dari sebelumnya tapi ia memaksakan diri untuk tertawa.

“Aku yang bahkan tidak bisa menata hidupku sendiri, bagaimana aku bisa menata hatimu, Kwon Yuri-ssi? Jadi seperti inilah akhirnya kisah ini. Geum Jandi atau Gu Junpyo, kita bukan keduanya.”

Myungsoo meneteskan butiran air matanya lagi ketika ia berjalan kembali ke mobilnya. Dadanya sesak setiap ia melangkah. Tapi pilihan sudah dibuatnya sendiri kala itu, Myungsoo tidak boleh mundur.

.

.

“Setelah pertunangan besok, kita tidak akan bisa bertemu untuk waktu yang lama, Chansung-ah. Kau tidak akan merindukanku bukan?”

Hyuna bersandar manja di dada Chansung sedangkan keduanya sedang duduk di atas sebuah ayunan kursi rotan besar. Beranda minimalis adalah pemandangan yang mereka tatap kala itu. Dua blok beranda dari sana ada rumah Hyuna yang tidak kalah besar dari rumah yang keduanya tempati saat ini.

“Aku pasti akan merindukanmu, Jagiya.” Balas Chansung. “Tapi aku akan bersabar, karena setelah semuanya ada di tangan keluargamu, kita bisa melakukan apapun.”

“Bagaimana kalau menikah setelah itu?”

“Itu ide bagus. Ayahmu sudah setuju soal hubungan ini?”

Ey! Sejak kapan kau peduli pada Ayah tiriku itu? Dia hanya memanfaatkanku. Dia juga bajingan tua yang selalu menggodaku. Aku berjanji setelah semuanya selesai, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

Chansung tertawa. Ia mengelus kepala Hyuna dengan lembut bak Romeo pada Julliet-nya. “Jangan kotori tanganmu untuk hal seperti itu. Dengan uang, siapapun pasti akan melakukannya untukmu, Jagiya. Sekarang kau harus fokus untuk pertunanganmu dengan Myungsoo.”

Hyuna mencubit lengan Chansung. “Arrasseo. Cih, meskipun aku tidak suka pemuda itu tapi aku lebih tidak suka dengan ibunya. Aku merasa kasihan pada Kwon Yuri.”

“Kau tidak melakukan kesalahan apapun padanya, jagiya, untuk apa kau merasa kasihan? Ibu Myungsoo yang merencanakan pertunanganmu dengan anaknya. Kalaupun ia menderita karena itu, salahkan saja keserakahan wanita tua tersebut.”

Hyuna mengangguk. “Ah betul juga.”

.

.

 

Yuri terbangun dengan kondisi berantakan. Saat ia menemukan suasana asing di sebuah kamar yang ditidurinya, gadis itu langsung mengingat-ingat apa yang terjadi. Ia berhenti sampai titik di mana ia tertidur di atas meja bar.

Pintu kamarnya kemudian terbuka. Seseorang muncul dari sana dengan meja kecil yang di atasnya terdapat beberapa mangkuk dan piring.

Oh? Oppa?” Yuri menautkan alisnya. Yonghwa tersenyum cerah di kejauhan. Nampaknya, Yuri tidak mengingat apapun yang telah terjadi kala ia mabuk. Yonghwa bisa tersenyum lepas dari kecanggungan.

“Apa kau yang membawaku dari pub?” Katanya.

“Ya, kau sangat mabuk.”

Jinjja?”

“Kau muntah di bajuku hingga dua kali.”

Yuri menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kemudian ia tersenyum canggung dengan jemari yang sibuk menggaruk tengkuknya. “Mian.”

Yonghwa menyerahkan semangkuk sup dengan sayuran hijau di dalamnya. Ada irisan bawang putih yang dibiarkan di antara rumput laut dan sayuran di dalam sup tersebut. “Apa ini?” Yuri melihat takjub seperti ia baru pertama kali melihat makanan itu.

“Sup anti mabuk ciptaanku. Cobalah sedikit.” Yuri mengambil sendoknya. “Ah benar. Aku pusing karena minum terlalu banyak tadi malam. Kuharap sup ini ampuh.” Gadis itu mulai menyendokkan sup yang masih hangat itu ke dalam mulutnya. Lidahnya berkecap-kecap beberapa kali kemudian matanya menyipit.

“Pahit!” Katanya. Yonghwa hanya tertawa. Apalagi saat Yuri terburu-buru meminum segelas air teh yang sebelumnya sudah Yonghwa larutkan obat mual di dalamnya. “Minuman apa ini!” Protes Yuri. Pipinya menggembung. Tapi Yonghwa tidak memiliki niatan untuk menarik semua makanannya kembali. Ia membiarkan Yuri.

“Makanlah selagi hangat. Akan lebih tidak enak lagi kalau sudah dingin.”

Esh, Aku tahu, aku tahu.”

Yuri mulai kembali perjuangannya dengan sop pahit tersebut. Yonghwa menatapnya tanpa henti.

“Kenapa kau pergi minum sendirian semalam?” Yuri berhenti tiba-tiba. Senyumannya hilang dan ia terlihat berpikir. Yonghwa tahu ia sudah salah menanyakan hal tersebut walaupun niatnya sekadar basa-basi. “Em, maksudku kau kan bisa mengajakku kalau pergi minum. Aku peminum yang baik.” Kilah Yonghwa, mengatasi atmosfer tidak enak.

Respon Yuri hanya sebuah senyum tipis. Ia kembali melanjutkan sendokannya pada sup buatan Yonghwa. Yonghwa membiarkannya untuk menghabiskan makanan tersebut sebelum ia salah ucap lagi. Tapi Yuri sepertinya sudah kehilangan selera makan. Ia menaruh sendoknya dalam posisi terbalik di atas piring.

Oppa, apakah aku mengatakan sesuatu padamu ketika aku mabuk?”

Yonghwa mengernyitkan dahi. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Ani, saat aku datang ke pub ada beberapa hal yang aku pikirkan. Mungkin saja aku meledak dan mengatakan semuanya padamu tadi malam. Apakah ada sesuatu seperti itu?”

Yonghwa hendak membuka mulutnya saat kalimat demi kalimat yang ia dengar tadi malam dari bibir gadis itu terasa terngiang-ngiang kembali di telinganya.

“Jika ini drama, kenapa aku mendapatkan peran yang sangat menyakitkan, Oppa?”

Saat kau berkata jangan hidup seperti Geum Jan Di, sebenarnya aku sudah jatuh lebih jauh ke dalam kehidupan seperti itu. Seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada pangeran yang akan menikah dengan orang lain, itulah hidupku, Oppa. Meskipun aku tahu aku tidak punya kesempatan, aku ingin mencoba. Aku terus mencoba sampai aku tersadar bahwa kesempatan itu tidak pernah datang untuk orang sepertiku. Aku bisa berbohong dengan mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja. Suatu saat aku bisa menata hidupku kembali, Tapi Oppa, Siapa yang akan menata hatiku? Bagaimana aku menata hatiku kembali setelah diguncang seperti ini? Atau, barangkali, adakah yang peduli?”

“LALU APA YANG BISA KULAKUKAN OPPA? HARUSKAH AKU TERTAWA KALAU BEGITU? HARUSKAH AKU BERLARI KE RUMAHNYA DAN MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT?”

Oppa? Kau mendengarku?” Yuri menyadarkan Yonghwa akan lamunannya. Yonghwa terlonjak sedikit tapi bisa menguasainya segera. Ia menggeleng dan menatap Yuri dengan senyuman manis yang ia bisa buat kala itu.

“Tidak. Kau langsung tertidur semalam.”

.

.

TBC

55 thoughts on “KLISE : UNSTOPPABLE [Part 6]

  1. Bintang Virgo berkata:

    kak..
    T_T menyedihkan,penuh intrik dan konflik tanpa ada yang tahu kapan terpecahkan…
    satu hal lagi semoga myungyul akan tetap bertahan sampai akhirnya nanti❤ ..

    kak nyun jjang+daebak+TOP

  2. Lulu Kwon Eun G berkata:

    yah… makin seru!!!!
    udah nyangka klo Hyuna itu uler *emang kliatan ada sisiknya ><
    gimana ya,, Myungyul yg sabar ya, atas kekuatan cinta kalian pasti bersatu lg ko,,😥
    eh Yonghwa curi kesempatan dlm kesempitan gitu.. -_-" tp kamu jg kasin sh oppa, sini sm aq aja *plak

    udah lah mantab kak nyun mah,,
    next ya kak

  3. Nikita Tirta berkata:

    Oh..Konflik….Jung Hani saat engkau memasang perangkap org yg kau percaya turut memasang 1…. Tiada yg lebih sakit melihat orang yang kau cintai menangisi orang lain..Dan jika benar Yul Geum Jan Di jadi kita harus tahu Si Miskin dan Pengeran bersama pada akhirnya….hahaha

    #nyambung ngebaca setelah sekian lama….
    Anyeong…..

  4. kimchikai berkata:

    Kahi jahat bngd sih sm myungsoo. jadi kahi sm hyuna cuma paling manfaatin aja… Berharap bngt yonghwa berbaik hati bantuin myungyul bersatu..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s