U-17! [Part 1 Of 3]

U-17Part 1 Of 3 akhirnya datang,

Ini genre baru buatku karena banyak memuat komedinya. Mohon atas saran dan kritiknya ya.

***

Pernahkah kau membaca kisah Lord Of The Ring Trilogi? Jika ya, maka kau tentu tahu apa yang kulihat saat ini. Legolas! Oh tidak, tidak, dia tidak memiliki rambut sepanjang Legolas di dalam film kolosal fantasi tersebut, hanya saja… dagunya yang lancip, wajah yang bulat dan garis-garis hidung yang benar-benar sempurna membuatku berfantasi tentang Legolas dalam film tersebut.

Namanya Kim Myungsoo.

Hari pertama bekerja dan aku sudah bertemu pria tampan seperti ini. Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Annyeong haseyo, Kwon Yuri imnida.” Sapaku. Tidak tanggung-tanggung aku langsung menunduk sembilan puluh derajat di depan ruangan para guru. Beberapa wanita yang kulitnya sudah bergelayut tidak enak dipandang hanya mendesis sebal sembari melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan para pria—terkecuali Si Tampan Legolas—menatapku seolah aku adalah pizza yang siap untuk disantap kapan saja.

Tidak masalah kalau aku dianggap pizza oleh Si Ganteng Legolas, tapi ini… Ahjussi botak dengan raut wajah Choi Min Soo yang menyeramkan adalah lini depan dari sekumpulan Pria Haus Pizza.

Ey~ Lupakanlah. Lagipula aku masih harus mengurusi mejaku yang rupanya masih belum dipersiapkan di ujung ruangan. Seseorang gadis muda yang memperkenalkan diri dengan nama Seo Ju Hyun mengantarku pada meja kecil yang kusebutkan tadi. Oh sungguh, jika tidak ada gadis itu mungkin aku sudah mematung seharian sambil menunggu sapaan ramah dan hangat dari sekumpulan ahjumma yang rupanya tidak senang dengan keberadaanku.

Bukan salah mereka juga sih, aku memang sudah kaya dan cantik dari lahir.

“Apa kau yang akan menjadi wali dari kelas U-17?” Kata Seohyun—begitu ia biasa disapa. Aku mengangguk saja ketika ia bertanya. Tapi sesungguhnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Segera setelah aku meletakkan beberapa tumpuk buku dan tasku yang mahal, aku memandangnya. “Permisi, tapi apa itu kelas U-17?”

Seohyun tersenyum. “Tidak ada yang memberitahumu?”

“Sejujurnya aku tidak mendengarkan saat Si Gen—ah, maksudku kepala sekolah menjelaskan.” Aku hampir saja berkata hal-hal yang akan membuat buruk hariku barusan. Untung saja lidah ini masih memiliki rem yang pakem.

Undefined seventeen.” Katanya berbisik.

“Maaf?”

“Kau tahu artinya? Tujuh belas yang tidak terdefinisikan. Itu kelas bagi anak-anak di bawah tujuh belas tahun yang bermasalah. Sangat bermasalah sehingga para guru tidak tahu harus mengklasifikasikan murid-murid tersebut dengan nama apa. Karena tidak terdefinisikan, mereka terkenal dengan sebutan demikian.”

Ah, kukira kau sedang menyebutkan nomor judi tadi.” Aku mencoba tertawa. Tapi Seohyun ini lebih serius daripada yang kukira. “Maaf.” Kataku buru-buru. Seohyun menyelipkan beberapa helai rambutnya di balik telinga. “Yuri Sonsaeng, kau harus berhati-hati. Kudengar wali terakhir mereka masuk rumah sakit baru-baru ini.”

Aigoo, aku bukan tipe wanita yang akan masuk rumah sakit hanya karena tujuh orang bocah tengik, Seohyun sonsaeng, jika ada yang harus masuk rumah sakit, itu salah satu dari mereka.”

Aku tertawa. Seohyun menepuk pundakku. Tapi tidak ada rasa humor yang tinggi atas candaanku barusan. Setelah ia memunggungiku aku baru tahu, kalau sebenarnya isu ini bukanlah bahan untuk diketawai bersama-sama. Sesungguhnya, keadaan akan semakin rumit setelah ini, bahkan aku tidak akan sempat untuk tertawa lagi.

.

.

Annyeong haseyo, Kwon Yuri  imnida. Mulai sekarang aku akan menjadi wali kelas kalian. Mohon bantuannya.”

Hening.

Aku tidak mengajar di kelas kosong dan aku juga tidak berniat berbicara dengan tembok. Tapi kelima murid ini membuat posisiku menjadi lebih idiot daripada hari-hari normal biasanya. Mereka jelas melihatku masuk dan berdiri dengan anggun di depan kelas tapi tidak ada satupun yang menganggapku sebagai manusia.

Ah, aku bisa melihat pose yang dibuat mereka. Seseorang yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya di pojok kanan adalah Jung Ilhoon. Entahlah, dia ini bintang rocker atau apa sih? Dia memakai anting dengan gambar tengkorak. Tengkoraknya membuat ekspresi tersenyum lebar seolah sedang mengejekku. Ey! Ini hari pertamaku di sekolah dan aku merasa aku sedang diejek oleh sebuah…tengkorak?

Tinggalkan pemikiran anehku itu, mari kita lihat seseorang yang sibuk menulis di sebelahnya. Dialah Jongup Si Atlet itu. Entah apa yang ia tulis saat ini. Tapi tangannya seolah tidak berhenti bergerak tanpa letih. Ia sibuk menyalin sesuatu. Sesekali dahinya berkerut, kurasa ia mencoba mengingat apa yang dilihatnya.

Di belakang Jongup ada seseorang yang sempat terlintas di pikiranku. Si Tampan Sehun. Sekilas tidak ada yang aneh dari perilakunya jika saja aku tidak mendengar bahwa ia seorang pencuri kecil yang lihai. Kukira sebagai seorang yang dicap miskin, dia akan mengenakan pakaian lusuh dan sepatu bekas yang bau. Tapi di sini, aigoo, sepatunya bahkan lebih mahal dari sepatu milik Kim Tan-ssi. Entah bagian mana yang Si Gendut Bau katakan sebagai ‘miskin’.

Di ujung dekat jendela duduk seorang yang sibuk becermin. Ah, ini sih tidak perlu kujelaskan. Ren, dia Ren. Dia ini mencoba mengintimidasiku atau apa sih? Sejak aku datang tadi, dia langsung mengambil cermin dari loker di bawah mejanya kemudian memandangi wajahnya seolah wajahku adalah virus yang dapat mencemari kecantikannya. EY! Apa dia tidak tahu semasa aku sekolah dulu aku pernah mendapatkan titel sebagai wanita pertama yang ingin dipacari oleh pria yang lebih muda? Meskipun ada sedikit perubahan pada hormonku, aku masih yakin bahwa auraku masih bisa menangkap para pria-pria muda seperti mereka.

Di tengah-tengah kelas, aigoo, di antara kelima pria ini, hanya dialah satu-satunya yang gemar tersenyum ke arahku. Aku tidak bisa mengatakan ia menyukaiku atau apa karena ekspresinya itu terasa aneh. Alih-alih menyebutnya senang, kurasa Sungjae ini kelewat idiot. Otot-otot pipinya tidak mau mengendur bahkan setelah aku melotot tidak senang ke arahnya. Ia masih tersenyum seperti orang idiot. Aku jadi tidak heran kenapa ibunya sampai hati membuangnya ke kelas ini.

“Aku akan mengabsen kalian satu per satu.”

Cih.” Suara Sehun di kejauhan. Ia barusan mengejekku, kurasa.

“Maaf? Tapi apa yang kau tertawakan, Sehun-haksaeng?”

“Apa perlu kau mengabsen kami satu per satu, Sonsaengnim?”

“Maaf?”

“Jumlah kami hanya tujuh orang. Apa dengan melihat saja kau tidak tahu? Apa kepala sekolah tidak memberitahumu siapa yang akan kau hadapi? Atau… kau begitu bodoh sampai tidak ingat?”

Oke, tahan Yuri! Tahan! Aku harus bisa menahan emosiku. Sehun, bocah tengik itu baru saja menyulut api yang membara di dalam dadaku. Di hari pertamaku aku sudah menerima kalimat tidak menyenangkan seperti ini, heol!

“Sehun-haksaeng…” Kataku. Aku mengatur napasku agar aku masih terlihat sebagai Yuri yang penuh dengan kharisma. Bocah tengik ini harus tunduk kepadaku, bagaimanapun! “Aku akan melupakan kalimatmu barusan karena aku sedang sangat baik hari ini.”

Sehun tertawa tipis tapi tidak terlihat mendengarkan kalimatku. Masa bodoh! Siapa yang butuh dia? Aku hanya perlu bertahan selama tiga bulan dan setelahnya apakah Sehun ini ingin mencaci siapa saja, apa peduliku?

“Baiklah, hanya tinggal Choi Junhong dan Kim Jongin yang tidak  berada dalam kelasku saat ini.” Aku akhirnya menutup daftar nama yang ada di balik map hijau. Aku berbalik dan memunggungi mereka. Tentu tidak ada satupun yang menyadari bahwa sekarang aku sedang meniup poni-poniku untuk meredakan amarah. Meskipun aku tidak berbalik, aku sudah bisa melakukannya mengingat bocah-bocah tengik itu tidak menganggapku sebagai manusia yang akan memberi mereka ilmu. Terserahlah.

Aku menatap ke luar jendela, di sana ada sebuah taman yang nampaknya tidak terurus. Dia bawah pohon besar ada seseorang yang sedang bersandar dengan mata terpejam. Tanpa perlu berpikir dua kali aku sudah yakin itu Choi Junhong. Yah, seperti yang Si Gendut Bau bilang, pemuda itu nampaknya tidak memiliki gairah untuk belajar musik. Kurasa aku juga tidak perlu repot-repot mengurusinya.

Ujian murid-murid Melody High School akan dilaksanakan dalam dua bulan lagi, Yuri –yah. Berhasil atau tidaknya kau dalam remidial ujian perusahaan ini tergantung pada keberhasilan ujian mereka.

Jangan khawatir Ayah, aku pasti bisa membuat sebagian besar dari murid-muridku lulus.

Tantanganmu adalah untuk membuat ‘seluruh’ murid yang kau ajari lulus dari sana. Bukan ‘sebagian besar’

Aigoo, bagaimana kau bisa seperti ini? Yang ujian kan mereka, bukan aku. Jika mereka tidak lulus, itu bukan salahku, Ayah.

Nampaknya kau tidak memahami sesuatu, Yuri-yah. Keberhasilan seorang murid adalah keberhasilan gurunya. Kalau mereka gagal, kau juga gagal. Ingat itu.

Tidak! Tidak! Tidak!

Kenapa percakapanku dengan ayah harus muncul saat ini! AISH… JINJJA!

Aku ditempatkan di sini pula! Di tempat sampah-sampah dari sekolah ini berada. Bagaimana cara aku meluluskan ketujuh orang dari sini sementara mereka tidak mengakui aku sebagai gurunya? Wah, ini namanya penindasan. Bisa-bisanya ayah melakukan ini padaku.

“Apakah… “ Aku mulai berbicara lagi di depan kelas. “Ada yang bisa memanggil Junhon­g-ssi untuk menghadiri kelas?”

Mataku sengaja kubuat menyipit dengan harapan mereka akan luluh pada wajahku ini. Aku juga membuat bentuk bibir yang sedikit dimajukan agar mereka tahu bahwa walaupun aku lebih tua, aku tetap cukup muda untuk menarik perhatian para pria seperti mereka. Tidak ada yang bisa menolak kecantikanku. Tidak ada seorangpun di dunia ini!

Hening.

Oke, kecuali lima pria memuakkan di depanku.

Sabar Yuri! Sabar! Tunggulah sampai aku memukul jidat dan meludahi kepala mereka satu per satu setelah kelas ini selesai. Heol!

Sreek.

Ah satu lagi penyebab gangguan mentalku muncul. Kim Jongin.

“Kau terlambat, Jongin-haksaeng.” Kataku. Yah, aku mencoba menegaskan kembali kata-kataku dalam kalimat singkat. Aku ingin dihargai sebagai guru. Tapi Jongin ini benar-benar membuatku muak. Ia hanya melihatku tidak sampai satu detik, kemudian duduk di barisan paling akhir dari kelas. Ada bekas lebam di pipi kanan dan kirinya tapi ia tidak terlihat peduli.

“Apa kau berkelahi?” Aku bertanya. Jongin malah mengalihkan pandanganku darinya. Ia merosot sedikit dari tempat duduknya kemudian memasang earphone dan tertidur.

KELAS MACAM APA INI! MURID BRENGSEK MACAM APA DIA!

ARGHHHHHH!

Tenang! Yuri, kau harus tenang! Kau hanya perlu membayangkan sesuatu yang menyenangkan dari sekolah ini. Tenang, bernapas! Semuanya akan berlalu. Bayangkanlah Legolas, Ah benar! Aku harus membayangkan Si Tampan Legolas itu. Oke, oke, semua akan baik-baik saja.

Semua akan baik-baik sa—

BRUK!

Aku terjatuh dengan wajah mendarat di atas lantai. Hidungku sakit sekali, rasanya lebih parah dari terjatuh dari kasur beberapa hari yang lalu. Aku mendengar kekehan tidak beraturan yang asalnya dari dua orang di depanku. Saat aku mencoba berdiri dan mengkonfirmasi apa yang barusan membuatku jatuh, aku harus rela kejatuhan tepung di atas kepalaku.

Sungjae dan Ilhoon. Si Tengik itu. Brengsek! Aku dikerjai.

Rupanya mereka sedari tadi memasang benang panjang yang dihubungkan dengan seember tepung. Aku terjatuh karena kakiku tersandung benang tipis tersebut. Benang tersebut beresonansi dan membuat tepung yang ada pada simpul ujungnya bergoyang tidak stabil dan akhirnya menumpahkan isinya di atas kepalaku. Tepat!

Seolah rencana ini sudah mereka perkirakan dengan matang. Ah tidak, seolah mereka sudah melakukan ini bertahun-tahun.

Oh ya, tentu saja. Ini kan U-17!

Kelas paling horor yang paling ditakuti oleh para guru. Dan here i am! aku di sini dengan rambut yang memutih karena tepung dan wajah yang memerah karena malu. Aku juga masih harus hidup dengan menyaksikan dua bocah tengik yang lebih muda dariku kini tertawa lepas sambil menghentak-hentakkan kaki-kakinya di atas lantai.

AKU BERSUMPAH AKAN MEROBEK MULUT ITU.

“Aku akan melupakan ini.” Aku mencoba berbicara dengan nada bergetar. Aku berjalan sembari menepuk-nepuk pipiku dan mengibaskan serpihan tepung yang menghalangi pandanganku. Tidak peduli apa, aku harus bertahan. Keberhasilan mereka keberhasilanku juga. Kegagalan mereka, adalah kegagalanku juga. Aku tidak bisa kalah hanya karena perlakuan seperti ini.

Jika mereka ingin perang, oke!

Aku sudah siap.

“Bagaimana sekolah besar seperti ini memiliki guru yang bahkan tidak mengerti caranya berpenampilan yang baik?”

Apalagi sekarang? Ren? Si Wanita-tapi-pria itu?

“Harap angkat tanganmu jika ingin berbicara, haksaeng.” Kataku.

“Lihatlah dirimu dulu, sonsaengnim. Masuk ke sekolah ini dengan rambut dipenuhi tepung. Gaya busanamu juga… apakah ini tren 1994? Apakah kau fans dari Seo Taiji and The Boys?”

Apa kau waras? Menurutmu apakah aku akan repot-repot menjawab?

Yah, inginnya aku berkata seperti itu. Tapi, lagi-lagi aku harus bersikap layaknya guru di depan mereka. Ren, Sungjae dan Ilhoon adalah tiga orang yang paling intens mempermalukanku. Sehun menatap tapi tidak terlihat akan ikut campur. Jongup masih sibuk mencatat beberapa baris not-not balok dan Jongin? Oh, sepertinya dia tertidur pulas.

“Semua yang kalian katakan dan lakukan padaku hari ini,” Aku menarik napasku. “Aku akan melupakannya. Jadi tolong, berikan aku ketenangan.”

Ya!”

Eh? Apa tadi? Apa barusan aku mendengar seseorang memanggilku dengan Ya? Apakah salah satu murid sedang menggunakan bahasa nonformal padaku? Ia menggunakan banmal di lingkungan seperti ini?

Aku melirik ke sumber suara. Hanya ada Sungjae yang masih cekikikan dan Ilhoon yang mulai menguap. Tidak pasti siapa yang berkata tidak sopan padaku barusan.

Ya! Apa kau bisa mulai kelasnya dan biarkan kami pulang lebih cepat? Kelas ini mulai menjengkelkan.” Aku menoleh pada sumber suara. Oke, itu Jongin. Dia yang kukira sudah tertidur kini berbicara dengan mata terpejam. Earphone masih menyumbat telinganya. Apa dia memiliki mata lebih dari dua?

Aku melipat kedua tanganku di depan dada.

“Apa kau sedang  meneriaki gurumu, haksaeng?”

“Apa kau tuli? Apa aku perlu mengulangnya?”

Jongin dan Ilhoon terkekeh keras ketika Jongin mulai berbicara kasar padaku. Jongup berhenti menulis dan Ren sudah meletakkan cerminnya. Sehun yang sebelumnya hanya diam membangkai seperti patung kini mulai melirik sekilas pada Jongin. Entah mengapa aku seperti merasa mereka baru pertama kali melihat Jongin yang seperti ini.

“Bukan begini caramu memperlakukan gurumu!” Kataku. Oke, kuakui aku sudah meledak saat ini. Kutinggikan nada suaraku hanya untuk menjelaskan batas antara aku dan bocah-bocah tengik ini.

“Bukan cara seorang guru untuk meneriaki muridnya seperti itu.” Balasnya. Matanya membuka. Sorotan dingin adalah yang pertama kali kurasakan ketika menangkap manik hitamnya dengan mataku. Tenggorokanku tercekat dan entah mengapa aku merasa aku akan mati jika berdiri di sana dalam beberapa jam ke depan. Aku tidak salah tentang perasaan tidak enakku ketika melihat resume bocah ini. Dia bagaikan malaikat pencabut nyawa dan aku adalah mangsa berikutnya. Ah perasaan ini semakin tidak enak. “Mulai saja kelasnya sekarang daripada kau memelototiku seperti itu.”

“Bisakah kau sedikit sopan?”

“Apa aku perlu sopan untuk situasi ini? Aku menghabiskan banyak uang untuk masuk ke sekolah ini dan sekarang apa yang mereka berikan padaku? Seorang guru dengan kualifikasi rendah yang terlihat seperti model tidak punya otak? Apa yang mereka lakukan dengan uang sebanyak itu? Apa guru di seluruh Korea tidak ada yang lebih baik darimu?”

HEOL!

Dia meremehkanku.

Aku belum pernah dijatuhkan serendah ini oleh orang asing. Kim Jongin ini benar-benar mengiris syaraf di otakku menjadi beberapa bagian. Aku tidak bisa berpikir dan yang kutahu hanyalah rasa emosi yang menggigit-gigit jiwaku.

Aku mengepalkan tanganku. Sejujurnya aku sangat berbakat di Judo dan Kendo. Tidak masalah bagiku untuk membuat pipi kanan Jongin lebih lebam dari sebelumnya. Bahkan kalau aku mau aku bisa mematahkan lengannya dan menampar pipinya yang tidak sopan itu.

AH AKU INGIN MELAHAPNYA SAJA SEBAGAI SANTAPAN MAKAN SIANG!

Jika aku tidak ingat bahwa saat ini aku berdiri sebagai seorang guru, semua yang kusebutkan tadi sudah kulakukan dari sedetik yang lalu. Ada hukuman serius jika aku menendang atau melakukan kekerasan pada bocah-bocah tengik ini. Bisa-bisa aku dituntut dan masuk penjara dalam usia dua puluhan. Ah tidak, itu tidak boleh terjadi.

Sekesal apapun aku hanya bisa menahannya. Aku membawa buku-buku dan map-map yang sebelumnya berada rapi di atas meja, kemudian aku beringsut keluar dengan tatapan tak senang. Aku meninggalkan kelas itu sekarang.

.

.

Aish, ini lebih lama daripada yang kukira.” Ilhoon berdecak kesal sembari mengacak-acak rambutnya. Diserahkannya beberapa lembar won pada Sungjae. “Lain kali aku pasti menang.” Timpalnya.

Sungjae terkekeh. “Kukira dia akan bertahan, tidak seperti guru-guru sebelumnya. Tapi rupanya ia sama saja.” Sungjae menggoyangkan kepalanya ke arah Jongin yang kini sudah terpejam di dalam kursinya. “Sungguh tidak biasanya bocah itu hadir di kelas bahkan menghardik guru. Apa dia kemasukan setan?”

Ilhoon berbisik. “Kecilkan suaramu, pendengarannya lebih tajam dari pisau.”

“Apa pisau bisa mendengar?”

Ilhoon menepuk pundak Sungjae kemudian memukul bagian belakang kepala pemuda itu dua kali. “Tapi hari ini, kita perlu berterima-kasih pada Jongin. Karenanya, guru menyebalkan itu sudah pergi.”

Sungjae mengangguk. “Eh, tapi apa ia benar akan pergi?”

“Tentu. Dia pasti akan tertekan dipermalukan. Jika kita terus seperti ini, kita akan diliburkan. Sangat menyenangkan.”

“Tapi Ilhoon-ah,” Sungjae melipat tangannya di depan dada. “Guru baru itu adalah guru paling muda dan tercantik yang pernah kita punya. Apa tidak apa-apa membuatnya seperti itu?”

Ey! Sejak kapan kau memikirkan hal-hal seperti itu? Satu-satunya yang paling cantik di kelas ini adalah…” Ilhoon mengarahkan jari telunjuknya ke tempat duduk di dekat jendela di mana Ren berada. “Si Jari Piano dari Chicago itu. Aigoo, lihatlah bagaimana dia becermin. Apa dia gay?”

Kali ini giliran Sungjae yang menepak kepala Ilhoon. “Berhentilah mengoloknya seperti itu. Kau ini apakah kau suka padanya?”

Ya! Ya! Aku masih normal! Kau kira aku pria macam apa?”

Mianne. Hanya saja karena kau tidak pernah akur dengan Ren, seluruh sekolah memperbincangkan kalian sebagai pasangan.”

“Jangan dengarkan mereka. Aku benci karena ada suatu alasan yang tidak mereka tahu.”

“Apa itu?”

“Apa aku terlihat seperti akan memberitahukannya padamu?”

Ey~ Setelah kalah taruhan, kau menjadi lebih sensitif.”

“Sensitif bokongmu!”

Kriiiing

Bel istirahat sudah berbunyi. Ren adalah yang pertama keluar dari kelas tanpa pamit. Jongin dan Sehun masih betah di dalam kelas sedangkan Jongup sudah menghilang entah kemana. Sungjae dan Ilhoon sepakat untuk berbincang lebih panjang di kafetaria. Sepertinya mereka yakin betul, tidak akan ada hal-hal mengejutkan yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

Aku tidak percaya aku sedang berada di toilet sekarang dengan : rambut basah karena bilasan air atas tepung yang menempel di setiap helainya, baju yang terkena percikan air karena aku berusaha menghilangkan noda tepung di sana serta sepatu yang tingginya tidak sama karena heels yang patah saat terjatuh di kelas tadi.

Seohyun ada di sampingku. Matanya mengiba.

“Aku baik-baik saja.” Kataku.

“Kau benar-benar harus mencari pekerjaan lain, Yuri-sonsaeng. Mereka akan bertambah buruk setiap harinya.” Sarannya. Aku hanya mengangguk. Mungkin saat ini aku seperti seorang gelandangan yang hanya bertaruh pada satu pekerjaan saja. Aku tidak mau mengungkap identitasku yang sebenarnya pada guru-guru di sini. Yang tahu aku adalah chaebol hanyalah Si Gendut Bau. Tidak boleh lebih banyak yang tahu ini.

Aku keluar dari toilet dengan Seohyun yang sudah mendahuluiku. Ia pergi dengan seorang pria yang tidak kukenal. Mungkin pacarnya.

Karena aku tidak cukup lihai untuk memilih teman di sini, aku harus mau repot-repot berjalan ke ruang guru dengan langkah gontai. Sendirian.

Alangkah kagetnya ketika aku sampai di ruangan tersebut. Tidak ada satupun guru yang bisa kuajak bicara di sana. Semuanya lenyap. Kurasa semua guru di sini sangat menghargai waktu. Mereka mungkin sedang menikmati santap siang dengan beberapa koleganya. Dan aku? Oke, aku harus menelan ludah dan pil kesendirian, mau atau tidak.

“Hari yang kurang baik, Yuri-sonsaeng?”

Alamak! Aku sampai kaget. Kupikir itu hantu atau alien. Tapi di depanku berdiri Si Tampan Legolas yang tidak memiliki rambut panjang nan blonde. Kim Myungsoo, seorang guru kebugaran jasmani yang memiliki postur seperti seorang model kawakan sedang berdiri di depan sekat-sekat mejaku. Ia menenteng sebuah bola di pinggangnya. Adakah yang lebih indah dari ini? Kurasa tidak. Ciptaan Tuhan yang satu ini paling sempurna!

“Ah, begitulah. Anak-anak di kelasku sangat spesial.” Kataku sambil tertawa.

“Tepung ini..”

“Ulah mereka.” Aku menyelesaikan kalimatnya. Si Tampan Legolas ini hanya mengangguk. Kupikir ia akan pergi karena aku tidak memiliki topik untuk diperbincangkan. Tapi nyatanya, ia malah menarik kursi dan duduk di depanku, berhadap-hadapan.

“Tapi kau cukup hebat untuk bertahan lebih dari lima menit.”

“Benarkah? Dari mana kau tahu aku ada di kelas lebih dari lima menit?”

Myungsoo berdeham kikuk. “Itu…” Ia menggaruk tengkuknya. “Semua guru menaruh perhatian pada setiap wali baru di kelas yang kau pegang saat ini. Mereka bahkan menggunakannya sebagai bahan taruhan. Aku mencuri dengar dari beberapa guru. Normalnya, wali biasa akan keluar dari kelas setelah satu menit pertama.”

Aku tertawa melecehkan. “Heol. Inikah yang dilakukan mereka di tengah kesusahanku?”

“Kadang seperti itu.” Katanya. Myungsoo memainkan bolanya. Ia memindah-mindahkan benda itu dari tangan kanan ke tangan kiri sementara ia bicara. Kemudian ia melihatku saat aku menatap tak senang padanya. “Aku tidak ikut taruhan semacam itu. Sungguh! Kau bisa percaya padaku.”

Aku melipat tangan di depan dada sementara kakiku dalam posisi tumpang tindih. “Myungsoo-sonsaeng, bagaimana aku bisa percaya padamu sedangkan aku bahkan belum bisa percaya aku berada di sekolah ini? Apakah perkataanmu tidak terlalu cepat untuk seseorang yang baru bertemu pagi tadi?”

Myungsoo menatapku. Ia membuatku kikuk sementara dirinya tidak berkata apapun. Aku memandang bola yang dipegangnya siapa tahu ia berhenti menatapku seperti itu. Oh ayolah, matanya tetap berada di wajahku. Apa dia menganggap aku cantik? Apa dia akan mengatakan bahwa aku adalah tipe idealnya?

Duh! Apa sih yang kupikirkan setelah semua kalimat yang kukatakan tadi? Aku seperti orang bodoh saja!

“Kalimatmu berlaku juga untuk dirimu, Yuri-sonsaeng.”

“Maaf?”

“Apa kau berencana untuk segera meninggalkan pekerjaan ini?”

Aku mendesis dan berdecak. “Yang benar saja. Hidupku bergantung pada pekerjaan ini.” Kataku. Dalam kalimat itu mungkin aku terdengar seperti pengangguran yang tidak bisa bekerja jika aku keluar dari sekolah ini. Apa boleh buat, meski sedikit melukai harga diriku, aku harus menjaga rahasiaku serapat mungkin.

“Kau akan bertahan?”

“Sepertinya. Hanya sampai mereka lulus di ujian akhir.”

“Kau pikir kau bisa menangani mereka?”

“Tidak juga.”

“Lantas bagaimana kau bisa membuatnya lulus di ujian akhir?”

Hening.

Oke, aku tidak memikirkan sampai sejauh itu. Benar juga! Bagaimana aku membuat tujuh anak nakal ini bisa lulus ujian?

“Kau punya cara?”

Aku menggeleng.

“Kau tidak punya?” Myungsoo terlihat menghela napasnya. Aku tidak bisa fokus karena wajahnya yang tampan terlihat semakin menggemaskan ketika ia melakukan hal itu. Aku bisa saja memeluknya kemudian lari tanpa wajah berdosa, jika ini bukan lingkungan sekolah.

“Aku punya sedikit konsep,” kataku. “Meskipun aku tidak tahu bagaimana konsep ini akan bekerja.” Myungsoo memiringkan kepalanya sebagai tanda ia mendengarkanku. Lantas aku bercerita saja padanya soal konsepku. Aku berbicara dengan nada rendah pada pemuda itu. Bahkan setengah berbisik hingga ia memajukan kepalanya hingga sangat dekat dengan wajahku.

“Contekan dalam ujian.” Kataku begitu saja. Myungsoo menjauhkan kepalanya dariku dan aku menangkap ekspresi tidak epik dari wajahnya. Dia terlihat… kaget dan kecewa?

“Aku akan berusaha untuk memberi mereka contekan diam-diam. Bagaimana? Itu bagus bukan? Tidak ada cara lain untuk membuat tujuh bocah teng—eh maksudku tujuh murid nakal ini bisa lulus ujian hanya dalam pembelajaran dua bulan. Pekerjaan ini seperti layaknya Thomas Alva Edison yang menemukan telepon dalam waktu semalam. Maldo andwae.”

Aku mencoba meyakinkan Myungsoo dengan kalimat-kalimat yang terdengar berbobot bagiku. Sampai aku membawa perumpamaan segala. Tapi Myungsoo malah tertawa atas kalimatku. Ia membuang wajahnya untuk tertawa selama beberapa detik, kemudian setelah ia mereda sedikit barulah ia menatapku dan bicara.

“Seperti yang kau katakan tadi Yuri-sonsaeng, tidak akan ada yang bisa memercayai seseorang yang baru ditemuinya beberapa jam. Rencanamu baru akan berhasil jika jawaban yang kau beri adalah benar. Jika kau juga salah? Bagaimana jika mereka bahkan tidak mau mengikuti ujian karena tidak percaya pada jawaban yang kau berikan? Apa kau sudah memikirkan hal-hal seperti ini?”

Aku menggeleng lemah. “Aku… tidak memikirkannya.”

“Meskipun benar lulus ujian adalah standar kelayakan bagi murid maupun guru yang menjadi walinya, tetap saja kualifikasi mereka akan ditentukan oleh dunia luar nantinya. Apa yang akan terjadi pada mereka jika nilai yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan prakteknya? Bagaimana kau akan bertanggung-jawab sebagai seorang guru yang menjadi wali kelas mereka? Dan, bagaimana institusi ini akan menanggung malu karena hal tersebut?” Myungsoo mengatur napasnya lagi di depanku. Aku sudah menunduk karena malu.

“Maafkan aku.” Kataku. “Aku tidak berpikir sejauh itu karena kebodohanku. Maafkan aku.”

“Kau tidak melakukan apapun, jangan menundukkan kepalamu seperti itu.”

“Aku… tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan sehingga pemikiran itu keluar begitu saja. Aku juga merasa tertekan tadi. Mereka di luar batas.”

“Apa kau sudah siap menyerah sekarang?”

“Bagaimana aku bisa menyerah? Aku sudah berada di tengah parit sekarang. Jalan naik sudah tidak ada. Yang aku butuhkan adalah jalan baru untuk naik.”

Myungsoo tersenyum. “Jalan itu ada di depanmu.”

Aku mengangkat kepalaku. Mataku membesar dan melihat ke arahnya. “Niga?”

“Bukan aku. Kau ingat apa yang baru saja kau katakan padaku? Bagaimana seseorang yang baru bertemu beberapa jam lalu bisa saling memercayai? Itu berlaku juga untuk kau dan murid-murid spesialmu. Kalau kau ingin mereka percaya padamu dan mengikuti keinginanmu, kau juga harus percaya pada mereka dan menyerahkan kemampuanmu untuk mendorong mereka. Kau sedang mendorong mobil yang mogok. Meskipun kau mengganti bannya dan mengisi penuh tangki bahan bakarnya, mobil itu tidak akan melaju karena kesalahan teknis ada pada mesinnya. Meskipun kau bisa mendorong mobil itu sampai tujuan, hal itu tidak selamanya. Akan ada masa di mana kau akan lelah. Hal yang paling baik adalah, memperbaiki mesinnya.”

Aku memerhatikan Myungsoo dengan serius untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir. Perumpamaan yang diucapkannya membuatku pusing. “Bisa kau menjelaskannya dengan singkat, Myungsoo-sonsaeng? Aku terlallu bodoh untuk bahasa filsuf.”

Myungsoo tertawa. “Perbaiki mesinnya berarti perbaiki kelakuan seluruh murid-muridmu. Tidak ada hal yang lebih baik dari ini.”

Aku mengangguk tapi langsung terhenti saat aku sadar akan sesuatu yang paling penting. “Dan, bagaimana aku bisa memperbaiki kelakukan seperti itu?”

Myungsoo mengangkat bahunya. “Mungkin kau akan menemukan metode yang tepat setelah melakukan observasi. Ya, kau tahu… kau harus tetap bersama-sama dengan mereka hingga kau dapat menanganinya. “

“Ah~” Aku mengangguk-angguk atas saran pria ini. Untuk seukuran seorang guru olahraga, rasanya ia tahu banyak. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia mendatangiku hanya untuk membahas ini? Apa ia merasa ada ketertarikan padaku hingga mau repot-repot menyarankan ini dan itu padaku?

Oke aku tahu aku memang menawan, tapi aku tidak secepat ini jatuh cinta pada pria seperti Kim Myungsoo. Ah, aku pusing. Baru satu hari saja aku di sini rasanya otakku sudah penuh dengan fragmen memori yang tidak begitu penting.

Myungsoo berdiri setelah pembicaraan kami nampaknya sudah sampai muara akhir. Ia membelakangiku dan berjalan gagah ke arah pintu keluar. Tepat ketika kakinya menginjak bagian terluar dari lantai ruangan guru, ia menoleh ke arahku dengan senyuman tipisnya yang menawan.

“Dan, Yuri-sonsaeng, tadi aku ingin mengatakan ini. Sebaiknya kukatakan saja ini sekarang. Penemu telepon adalah Alexander Graham Bell, bukan Edison.”

Aku membeku.

Memangnya tadi apa yang kubilang?

“Aku akan berusaha untuk memberi mereka contekan diam-diam. Bagaimana? Itu bagus bukan? Tidak ada cara lain untuk membuat tujuh bocah teng—eh maksudku tujuh murid nakal ini bisa lulus ujian hanya dalam pembelajaran dua bulan. Pekerjaan ini seperti layaknya Thomas Alva Edison yang menemukan telepon dalam waktu semalam. Maldo andwae.

AH BODOHNYA AKU!

Aku sangat malu. Wajahku memerah tepat ketika Si Legolas menghilang dari pandanganku.

Untung saja guru itu segera pamit dari hadapanku karena beberapa guru lain datang berhamburan ke dalam ruangan besar tersebut.  Aku bersumpah aku juga akan melupakan kejadian ini. Aku sangat malu!

“Yuri-sonsaeng, seseorang dari kelasmu menitipkan ini padaku di kafetaria tadi.” Aku melihat guru wanita gempal yang entah siapa menyerahkan selembar surat yang dilipat-lipat padaku. Warnanya merah muda dan ada wewangian lembut saat kugenggam. “Kurasa surat cinta.” Katanya lagi. Aku buru-buru menundukkan kepala dan mengucapkan terima-kasih. Sebagian guru wanita yang sudah masuk ruangan dan mendengarkan percakapan kami terlihat sangat antusias begitu aku membuat gerakan seperti akan membuka suratnya. Biar kutebak, mereka pasti penasaran juga.

Aku tidak mau menjadi pusat perhatian, jadi aku menyingkir dari sana. Aku masuk ke dalam toilet dan duduk di atas jamban duduk yang paling kering. Aku mulai membuka secarik kertas tersebut dan bersiap membaca kalimat per kalimatnya.

Tapi tidak ada kalimat pembuka di sana.

Satu-satunya kata yang kutemukan adalah namaku dengan arah panah ke bawah di sebelahnya. Arah panah itu menunjuk pada sebuah gambar besar seorang wanita yang mengenakan bikini sedang tersungkur di depan sebuah kelas.

Itu aku.

Wajahnya tidak tergambar seperti wajahku. Benar-benar tidak. Di sana wajahnya benar-benar mengerikan dengan gigi yang keluar dan pipi yang asimetris. Ini entah ancaman atau apa. Tapi aku merasa marah. Aku meremas kertas itu kemudian mengepalkannya kuat-kuat di tanganku. Aku menatap jengah pada pintu kayu dari kamar mandi.

Keudae. Jika mereka menawarkan perang, maka ini adalah perang!”

.

.

Aku pulang ke rumah dengan tidak bersemangat. Beberapa pelayan menawariku minuman dingin tapi aku sedang tidak berselera. Yang ingin aku lakukan hanyalah berbaring di atas kasur dan memejamkan mata dengan segera. Setelah bel istirahat tadi, aku meminta izin untuk pulang lebih awal. Aku harus mempersiapkan beberapa bekal yang akan aku suguhkan pada si bocah-bocah tengik itu besok. Aku mungkin kalah hari ini, tapi kupastikan besok aku akan berhasil.

Lihat saja.

“Hari yang berat, Nona Besar?” Seorang pria masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk. Aku melemparkan bantal padanya. “Bisakah kau mengetuk? Kukira kau alien.”

“Bagaimana bisa alien setampan aku?”

“Kau tidak tahu Kim Soo Hyun dalam drama terbarunya? Dia alien tertampan di mataku.”

Kim Tan mendekatiku. Aku terbangun dan duduk di sisi ranjang sedangkan sepupuku yang menyebalkan itu memilih ruang kosong di sisiku sebagai alas duduk. Kim Tan ini memiliki kepribadian yang hangat. Berbeda jauh dengan ibunya yang cerewet sekali. Walaupun usia kami hanya terpaut tiga tahun, tapi Kim Tan memiliki karakter yang luar biasa dibanding aku. Ia sudah dipercaya sebagai tangan kanan Ayah dan memiliki anak perusahaan sendiri yang bergerak di bidang entertainment, Jeguk Group. Ah, dan dia juga berencana menikan dengan seorang gadis miskin tahun depan. Aku mengenalnya, dia pernah mengajaknya sekali dalam pesta keluarga. Cha Eun Sang. Itu namanya.

“Kau terlihat kacau. Baik-baik saja?”

“Apa di keningku tertulis bahwa aku baik-baik saja, Oppa?”

“Tidak. Di keningmu tertulis aku ingin mati saja.” Kim Tan tertawa dan aku harus mau repot-repot menghentikkan tawa ejekannya dengan menepuk kepala pemuda itu. Ia buru-buru mengatur ekspresinya dan kembali menatapku dengan tatapan teduhnya.

“Ayahmu memiliki alasan mengirimkan kau ke sana, Yuri-yah.”

“Aku jadi tidak yakin dengan ayah. Apa ia memiliki niat terselubung untuk membuatku gagal dalam ujian perusahaan? Ah, aku jadi penasaran. Tapi ia terlalu misterius untuk didekati belakangan ini. Oppa apa kau bisa membantuku mencari tahu?”

Aku menepuk pundaknya. Kim Tan mengacak-acak rambutku. “Kau pasti akan tahu jika kau bisa bertahan lebih lama di sana. Ayahmu menginginkan kau bertemu seseorang.”

Nugu?”

“Kau tahu cerita soal kembaran ayahmu yang diusir dari keluarga besar?”

“Ya. Itu cerita fenomenal. Lantas?”

“Ia memiliki keluarga. Dan saat ini, anak dari kembaran ayahmu bersekolah di tempat kau mengajar sekarang.”

“Benarkah? Apa itu masuk akal?”

Kim Tan mengangguk pasti. Dia kukenal sebagai seorang yang tidak lihai berbohong jadi kupastikan apa yang ia katakan adalah kebenaran. Masuk akal juga bagiku untuk percaya. Sejak awal aku diberi tugas ujian seperti ini aku selalu bertanya-tanya soal kemungkinan ayah merencanakan sesuatu padaku. Kupikir ia akan membuangku atau sejenisnya. Tidak kusangka malah cerita akan berbalik seperti ini.

“Tapi apa maksudnya aku dikirim ke sana? Apa ayah ingin aku membawa bocah itu kembali?”

“Tepat seperti itu. Ia bermaksud akan mengembalikan posisi yang seharusnya di dapat oleh anak itu mengingat kabar soal hidupnya yang sudah yatim piatu.”

“Apa kembaran ayahku…”

“Ya. Sudah meninggal dua tahun lalu.”

Aku menggigit bibir. Pastilah sangat sulit jika aku sekarang menjadi anaknya. Kehidupannya akan semakin pelik setelah yatim piatu. Tapi apa itu mungkin? Maksudku, apa mungkin seorang yatim-piatu yang miskin bersekolah di tempatku mengajar? Di tempat prestisius selevel Melody High School?

Aku jadi penasaran. Kim Tan sepertinya tahu banyak.

“Tapi Oppa, kenapa ayah merahasiakannya padaku?”

“Ayahmu tidak hanya merahasiakannya padamu. Tapi pada seluruh keluarga ini. Hanya aku yang tahu soal anak dari Kwon Yiwoo, kembarannya. Aku sudah beberapa kali menemui bocah itu atas perintah ayahmu, tapi bocah itu mengusirku dengan kekerasan. Jadi kali ini, ayahmu melakukan metode lain untuk membujuknya kembali ke dalam keluarga besar. Kau yang wajahnya dan namanya tidak pernah terpublikasikan di media, adalah tokoh yang paling aman untuk memainkan peran ini. Ia juga bernegosiasi soal ujianmu pada tetua keluarga dan mereka menyetujuinya. Tidak ada yang akan curiga, rencana ini akan berjalan lancar hingga tiga bulan ke depan jika kau bisa bertahan.”

Semakin banyak yang ia ceritakan semakin penasaran aku dibuatnya. “Hari pertama aku sudah dikerjai Oppa, aku berada di kelas yang sangat spesial. Aku tidak yakin aku mampu bertahan.”

“Demi ayahmu, kalau aku jadi kau, kurasa aku harus.”

“Masalahnya tidak sesimpel itu, Oppa.”

“Sejak kita lahir di dalam keluarga ini, tidak ada masalah yang simpel. Kau tahu perjuanganku untuk mencapai posisi ini? Sangat rumit. Aku bahkan harus melawan kakak kandungku sendiri. Merepotkan. Sebagai sepupu terbaik yang paling mengenalmu, hal ini tidak akan ada apa-apanya. Aku tahu kau. Dan ayahmu juga paling mengerti seperti apa dirimu, Yuri-yah. Lakukan seperti apa yang Yuri biasa lakukan. Semuanya akan baik-baik saja.”

Aku menggigit lidahku. Rasanya mendengar kalimat itu seperti himne penyemangat untukku. Kim Tan sudah lama tidak berbicara seperti ini padaku sejak ia sibuk dengan urusan pribadinya. Mendengarkannya melakukan ini seperti saat kami kecil dahulu, aku terenyuh.

“Tapi Oppa…” aku melirik ragu pada Kim Tan. “Siapa bocah malang itu kalau aku boleh tahu?”

Kim Tan mengacak-acak rambutku lagi sembari tersenyum hangat. “Apa aku terlihat seperti akan memberitahu namanya dengan mudah?”

Ey~ Oppa, ada lebih dari lima ratus murid di sana. Bagaimana aku bisa menemukan satu orang yang benar?”

“Kau tidak perlu mencari satu di antara ratusan. Nah, apakah kau tadi bilang kalau kau ditempatkan di kelas spesial?”

“Ya. OMO!” Aku menutup mulutku. “Apa bocah itu salah satu dari murid di kelasku?”

Kim Tan beranjak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Aku melihat seberkas senyuman terakhirnya saat ia menghilang di balik pintu. Hanya dari gerakan tubuhnya saja aku sudah tahu bahwa ia sepertinya mengiyakan apa yang kukatakan.

Aku sedikit lega.

Tapi saat aku berbaring kembali di atas kasur, masalah baru muncul.

Jika bocah yang harus kubawa kembali ke perusahan adalah salah satu dari tujuh bocah tengik di kelasku, bagaimana aku bisa menghadapinya?

.

.

Lakukanlah seperti apa yang Kwon Yuri lakukan seperti biasa.

Kalimat itu terngiang-ngiang padaku saat aku masuk ke dalam kelas kali ini. Saat aku berdiri, di papan tulis belakangku sudah ada gambar diriku dengan bikini yang terpampang besar di sana. Aku akhirnya tahu siapa yang mengirimi ini. Moon Jongup.

Alasan kenapa ia terlihat sibuk menulis kemarin adalah untuk hari ini. Ia membuat sebuah mahakarya dari kertas manila yang begitu besar untuk dipasang di papan tulis di depan kelas. Sungjae dan Ilhoon tertawa diam-diam. Sehun mengangkat bibirnya untuk tersenyum tipis dan Ren mengagumi dirinya sendiri di depan cermin seperti biasa.

Aku membiarkan mereka tertawa sementara aku melepas pajangan besar itu. Tapi saat aku memunggungi mereka, seseorang melemparkan pulpen padaku. Aku tidak berbalik. Kubiarkan saja hingga pulpen kedua mendarat di kepalaku sekali lagi. Aku meremas kertas manilanya dan menoleh saat itu.

Tanpa perlu kata-kata, aku sudah tahu bahwa barusan Ilhoon yang melemparku dengan pulpen.

Aku belum sempat memarahi mereka karena selanjutnya aku melihat Kim Jongin dengan luka-luka di sekitar pipinya masuk ke dalam ruangan dan duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Saat aku lengah, Ilhoon kali ini melempariku dengan sebuah kotak makan kosong. Kotak plastik itu mengenai jidatku kemudian terjatuh di dekat kakiku.

Manajemen emosi Yuri! Manajemen emosi.

Aku membangun self-defenseku sendiri. Jika aku marah pada mereka saat ini, aku sudah kalah. Aku berjalan ke arah Ilhoon. Sementara Sungjae dan yang lainnya menyorakiku dalam desisan pelan. Aku berdiri di depan mejanya sementara ia melihat padaku acuh tak acuh.

“Ayo kita cari tempat lain.” Kataku. Dahi Ilhoon mengerut. Sungjae yang duduk di sebelahnya memutar pinggangnya hingga ia menoleh ke arahku dan Ilhoon. Sehun yang ada di belakang Sungjae ikut-ikutan melirik padaku. Ren meletakkan cerminnya. Semua perhatian ada padaku, kecuali si pemuda menyebalkan yang mencoba tertidur di dalam kelas dengan telinga disumbat earphone.

“Maaf sonsaeng, apa kepalamu terbentur sesuatu dan berbicara tidak jelas?”

Aku tertawa meremehkan. “Kau miskin?”

Ren, Jongup dan Sungjae sudah pecah dalam tawa yang ditahannya. Ilhoon melirik ketiganya dengan tatapan jengah. Ia menatapku marah. “Beraninya kau berkata seperti itu! Aku bahkan bisa membeli sekolah ini jika aku mau!” Katanya.

Aku melipat tanganku di depan dada. “Apa benar begitu? Kau melempariku dengan pulpen dua kali, aku tidak marah karena mengira kau sangat menyukai basket dan tidak memiliki bola untuk dilemparkan karena kau miskin. Tapi sekarang kau bilang kau sanggup membeli sekolah ini? Apa itu mungkin, Ilhoon haksaeng?” Aku melembutkan nada suaraku di kalimat paling akhir saat aku memanggil namanya. Sungjae sudah meledak dalam tawa dan Ren melihat ke arah lain kemudian menutup mulutnya dengan anggun ketika tertawa. Jongup menyipitkan matanya dan tersenyum lebar.

Ilhoon sepertinya muak padaku. Oh, baguslah!

“Siapa yang bilang aku tidak mampu membeli bola basket? Lagipula orang bodoh mana yang bermain bola basket di dalam kelas. Cih.”

Aku mengangguk dan mengibaskan rambutku. “Tuh benar katamu. Orang bodoh mana yang bermain bola basket di dalam kelas kan? Jadi tadi kenapa kau melemparku? Aku tidak terlihat seperti ring bola kan di matamu?”

Aku memasang ekspresi angkuh yang biasanya aku buat ketika berada di rumah. Seperti kata Kim Tan, aku bisa menguasai cara yang kukuasai sebagai Yuri. Aku tidak perlu menjadi orang lain atau memakai metode yang tidak pernah kupakai karena metode Kwon Yuri biasanya selalu berhasil.

Sungjae yang kupikir sebagai teman dekat dari Ilhoon, kini adalah yang paling enerjik untuk menertawainya. Ekspresi Ilhoon tidak dapat kutebak, ia seperti marah dan sebagian besar diliputi rasa malu luar biasa. Aku suka ini. Kali ini aku menang.

Jongup yang terkekeh di bangku tengah, ini saatnya aku menegurnya.

“Kau atlet, pelukis atau pemusik, Jongup-haksaeng?”

“Kau bicara denganku, sonsaeng?”

“Apa kau bodoh karena terlalu banyak menggunakan betismu untuk berlari daripada otakmu untuk belajar?”

Sungjae semakin meledak. Jongup blank.

“Pergi ke divisi sastra rupa-rupa jika kau memiliki minat untuk melukis. Di sini kelas musik dan kau tidak perlu menggambar di atas piano nantinya. Aku memberitahumu sebelum terlambat. Aku sudah tahu kau bodoh tapi sangat ingin berada di kelas ini. Aku bisa saja menendangmu keluar kalau aku mau.” Aku menundukkan tubuhku ke depan dan berbisik pada Jongup. “Jadi hentikan kelakuan burukmu. Bikini sangat tidak cocok untukku.”

Aku berdiri tegak kemudian mengelus kepala Jongup. Kali ini aku berjalan ke arah Ren. Aku tidak perlu banyak kata-kata ketika aku berhadapan dengannya. Yang kulakukan adalah menarik cerminnya dan memecahkannya menjadi kepingan kecil di depan kelas.

“Kelas tata rias ada di hari minggu. Aku tidak mengajarimu dari hari senin sampai sabtu soal itu.” Imbuhku ketika pecahan cermin itu kudorong ke pojok ruangan. Ren membuat ekspresi jengah padaku. Oke, aku suka itu.

Sehun menatapku penuh kebencian. “Kau memiliki masalah denganku?” Kataku padanya.

Ia menggeleng.

“Baguslah. Kau akan memiliki masalah denganku kalau kau mencoba mencuri lagi. Aku mengawasimu dari senin hingga sabtu. Kau tidak bisa lolos dariku, Oh Sehun haksaeng.”

Sehun menunduk.

Entah ini imajinasiku saja atau memang Jongin sudah tidak tertidur lagi. Earphone sudah terlepas dari telinganya dan aku bisa melihat ia menatapku dengan sungguh-sungguh. Sungjae bahkan sempat berhenti tertawa ketika ia melihat Jongin duduk setegap itu. Seolah hal tersebut baru Sungjae lihat sekali sepanjang hidupnya.

“Aku tidak mentolerir keterlambatan. Kau bisa berkelahi sesukamu asal kau bisa datang tepat waktu ke dalam kelasku.” Kataku. Jongin tidak merespon jadi kuanggap dia setuju.

Tinggal Sungjae. Oke, satu-satunya masalah besar dari pria ini adalah tawa dan senyumnya yang tidak mau berhenti. Aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan ini, “Sungjae haksaeng, aku akan membawamu ke dokter setelah kelas ini selesai.”

“Eh?” Ia menatapku dengan seberkas senyuman yang sudah lenyap. Aku tersenyum ke arahnya. Bukan senyuman biasa, ini senyuman terlicik yang pernah kubuat.

“Kau mengalami gangguan mental, aku harus memeriksakanmu.”

Sonsaengnim—“

“Berhentilah membuat ekspresi bodoh, dan aku akan melupakan rumah sakit.”

Ren dan Ilhoon tertawa kecil. Sungjae terlihat bodoh di depanku karena ia mengerutkan dahinya dan menggeleng-gelengkan kepala kikuk. Sepertinya dengan murid ini juga aku sudah berhasil. Enam orang di depanku sudah melakukan apa yang aku mau. Meskipun aku hanya berbicara hal-hal tidak masuk akal, tapi cara ini bekerja. Aku bisa bernapas lega.

“Baiklah, buka halaman enam puluh lima pada modul kalian.” Kataku. Jongup langsung membuka bukunya. Tapi dialah satu-satunya yang melakukan hal tersebut. Yang kulihat adalah, Ren yang hanya menoleh sedikit pada modulnya kemudian menutupnya kembali, Sehun yang sepertinya tidak menyentuh buku di mejanya sama sekali sedangkan sisanya, seperti tidak membawa apa yang kuperintahkan tadi.

Melihat teman-temannya tidak ada yang membuka buku, Jongup menutupnya kembali.

“Apa kalian perlu beberapa nasehat lagi?” Kataku, berkacak pinggang.

“Kami tidak bisa belajar denganmu, sonsaeng.” Ucap Sehun. Ia akhirnya bicara juga. “Kau tidak memiliki kualifikasi sebagai seorang guru. Meskipun sekolah mengakuimu, kami tidak. Kami punya aturan sendiri untuk menentukan seperti apa guru yang akan mengajar kami. Kau tidak memenuhi syarat.”

Ilhoon tersenyum puas atas kalimat Sehun. Oke, kali ini apa lagi? Mereka ingin mengujiku atau apa?

“Aku lulus dari sekolah musik luar neg—“

“Itu tidak penting. Aku bertanya kualifikasimu sebagai seorang guru, bukan pemusik.” Katanya lagi. Ini mulai menjengkelkan.

“Baiklah, apa yang kalian inginkan?”

Sehun menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Ia membuang pandangan matanya ke luar jendela di mana Junhong sedang tertidur di bawah pohon. Aku mengikuti ekor matanya.

“Bawa dia kemari dan kembalikan minatnya untuk belajar. Setelah kau berhasil melakukan itu, kami bisa mengakuimu dan menuruti segala yang kau inginkan dari kami.”

Ey! Ini sih sama saja mereka menyuruhku membawa sapi jantan untuk makan daging. Tidak mungkin kan? Si Gendut Bau saja sudah menyerah dengan Choi Junhong. Jadi bagaimana aku bisa melakukannya?

“Jika kau tidak bisa, maka kau harus mengundurkan diri dari sekolah ini karena kami tidak ingin belajar dengan guru yang bahkan tidak mampu menangani satu orang muridnya.”

Ini tantangan besar. Sehun dan kelas ini merencanakan semuanya dengan matang. Biar kutebak, sepertinya hal ini adalah kartu as mereka. Kabar baiknya, setelah aku berhasil dipastikan mereka tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh padaku. Kabar buruknya, aku harus angkat kaki dari sekolah ini jika aku tidak berhasil.

Pilihan yang menggiurkan dan menyeramkan di saat bersamaan.

Aku menatap ke luar jendela. Si Junhong itu sudah tertidur tanpa tahu apa yang kami bicarakan.

“Waktumu sampai besok. Junhong harus berada di kelas, besok. Bagaimana sonsaeng? Kau menerima tantangan ini?”

Aku menelan ludah. Seketika semua pembicaraanku dengan Kim Tan kemarin terngiang di kepalaku. Jika memang benar anggota keluarga kami berada di kelas ini, maka aku tidak bisa meninggalkan sekolah ini begitu saja. Tapi untuk bertahan di sekolah ini, aku mau tidak mau harus menerima tantangan besar ini.

Aku tidak percaya diri sama sekali.

Tapi biarlah pertama-tama kukatakan pada mereka, “aku menerima tantangan ini.”

.

.

TBC

78 thoughts on “U-17! [Part 1 Of 3]

  1. Nafiani Zulfikar berkata:

    pas ngecek story telling. eh uda end aja ini ff._.
    dan aku baru baca chap ini
    seru kak, ga sabar buat baca chap 2 nya penasaran dengan taruhan yuri sama sehun😄
    hihi aku mau lanjut baca dulu deh😄
    semangaat nulis ff yang keren-keren kak nyun!:D

  2. Sjelfeu berkata:

    Aaaaaahh aku suka ceritanya lucu ! Aku suka karakter yuri😀
    ren bikin geleuh ih -,- murid murid spesial mati kutu kena yuri haha

  3. Bintang Virgo berkata:

    plok..plok..plok
    Yuri fighting,.,..
    pasti bisa menghadapi kelas U-17

    author ceritanya keren apalagi pas Yuri dibuat kepo ama anak2 U-17
    lucu. Lanjut Thor.

  4. Pangeran Sarda berkata:

    wkwkwkwkwkwk😀
    comedy pisan,, pasti yuri noona bisa ngatasin fantastic sevent itu,, Good luck yuri..
    Keren kaknyun🙂

  5. Tansa berkata:

    Hihihi Yuri jadi guru? Hmm penasaran sama caranya dia mengajar muridnya. Aku suka ceritanya ga terlalu berat🙂

  6. b2utyinspirit berkata:

    Kira2 cpa sepupu yuri ya? Klu ktana miskin itu brarti sehun kn? Part endingnya bikin greget bayangin yuri menasehati dg bertingkah menggoda

  7. minyul generation berkata:

    Wah wah,, makin seru aj,,
    Aq sebenar a gag tw2 x sama BAP,, tapi aq brani jamin ff yang kamu buat pasti bagus2,, aq baca next chap yaaa,,

  8. kimyuki berkata:

    kim tan, cha eun sang & grup jeguk..
    berasa nostalgia😀
    ceritanya keren .. ayoo yuri !!
    kamu pasti bisa menghadapi mereka😉

  9. desi.A berkata:

    OMG Sumpah jwaban yuri bkin ngakak hahaha … Rasain prlakuan klian pda yuri bsa d pter blik dgan omonganny yg bsa jd mati kutu..
    Tp trnyata gk hny dstu sehun dgan akal ny yg kreatif mnantang yuri..
    Smoga yuri bisaa…

    Ff ny mkin to the GOOD kak nyun sumpah …

  10. SSY_ELF berkata:

    OH MY!!! save uri eonni………..
    Junhongie~ Sehunnie~ Sungjae-ya~ Ilhoon-ah~ Jongin-ah~ Jongup-ya~ dan Ren-chan~*plakk eh, Ren oppa~~~ #wks
    owwww… uri Myungsoo here!!!!!!!!!!!

    aduh… kebayang jadi Yuri eonni, pasti stress setengah idup! tapi setidaknya mereka semua.. ehem.. super tampan :*

  11. Anonym berkata:

    Metode yuri dengan kata-kata pedasnya bener-bener bekerja dengan baik dah aahh😀 hahaha pas yang ngirim surat aku jadi inget spongebob yang sama patrick ikut belajar trus gambar-gambar nyonya puff *kenapa jadi spongebob* xD hahaha makin seru aja ini😀

  12. febrynovi berkata:

    kaknyun omg… entah kenapa aku kebayang sama drama School 2013 setelah baca part 1 xD tapi aku suka❤ untuk menjinakkan/? mereka sebenernya gampang asal tau caranya /plakk.

    lanjut ke part selanjutnya kaknyun~

  13. Ersih marlina berkata:

    Oh ya ampuun. Kalo bneran ada sekolah yg dimna skelas berisi anak kaya mereka. Manaa tahaan, huhu

    hanya seorang kwon yurilah yg mampu itu jelasnya , ya kan ka nyun ? Hihi

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s