U-17! [Part 2 of 3]

U-17Duh maaf banget karena satu dan lain hal, aku pecah FF ini yang semula direncanakan dua part saja, jadi tiga part kaya gini. HAHAHA. jangan tanya kenapa. Pokoknya nikmati saja chapter demi chapternya. kkk~

***

Kelas hari ini sudah selesai dan aku sekarang sedang berjalan dengan masker di wajahku. Aku mengendap beberapa kali kemudian bersembunyi di balik apapun yang dapat menutupi tubuhku dari pandangan Junhong.

Aku pikir aku sudah gila melakukan ini. Jika bukan demi ayah, aku pasti tidak akan mau melakukan hal rendahan seperti menguntit.

Sudah satu jam setelah kelas selesai tapi Junhong hanya berjalan lurus tanpa tujuan. Ia berhenti di beberapa minimarket dan membeli minuman tapi tidak ada tanda-tanda ia akan kembali ke rumahnya. Aku pegal sendiri menguntitnya.

Junhong  berbelok di salah satu gudang tua yang tak terpakai. Aku tahu gudang ini karena ceritanya yang menyeramkan dari para warga sekitar. Sesaat aku ragu untuk terus mengikutinya. Tapi setelah aku melangkahkan kakiku ke bagian dalam dari gerbang gudang tersebut, aku terkejut sekarang.

Alunan musik hip-hop kesukaanku terdengar dari ruangan tersebut. Suaranya bergaung dan memantul-mantul sehingga menimbulkan dentuman yang lebih keras dan tak beraturan, namun begitu tetap enak didengar di telingaku.

Aku hampir saja ikut menari karena alunan melodi tersebut jika saja aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Junhong sudah melepas seragamnya. Aku malah sekarang melihatnya dengan kaus longgar dan celana pendek sedengkul.

Beberapa orang berpenampilan sama mengelilinginya. Kemudian bersama-sama mereka menari.

Aku berdosa melihat ini diam-diam. Tapi Junhong menari dengan bebas. Ia berputar kemudian menggerakkan kakinya seperti B-Boy. Sesekali ia terjatuh kemudian bangkit lagi dengan tawa renyah dari bibirnya. Kemudian ia akan menari dan meletakkan tangannya di atas lantai sebagai tumpuan. Ia berteriak dan tertawa kegirangan ketika melodi berdentum dengan ritme lebih cepat. Ia berkeringat tapi tetap menari dan menari lagi tanpa lelah. Ah, aku bahkan tidak melihat sorot kelelahan di matanya.

Ia seperti baterai daya rendah yang sedang di charge. Gairahnya sangat berbeda dengan yang kulihat di bawah pohon tadi pagi.

Aku menikmati ini. Aku menikmati gaya bermusik dan menarinya. Sejujurnya aku juga lebih berbakat menari daripada bermusik.

Aku mengikuti melodi tersebut dengan melakukan tarian sederhana di bagian luar dari gedung tua tersebut. Tapi karena aku keasyikan, aku sampai tidak sadar bahwa saat ini aku sudah muncul di hadapan mereka. Teriakanku yang tidak terkendali karena senang menguar ke udara dan menyadarkan mereka akan kehadiranku. Yang lebih kaget tentu Junhong. Lihat saja bagaimana ekspresinya ketika melihatku, jengah.

Walaupun aku belum memperkenalkan diri secara resmi pada Junhong, tapi tidak mungkin dia tidak pernah meihatku di sekolah.

“Ah. Pintunya terbuka tadi.” Aku tertawa memecahkan keheningan panjang. Tapi aku buru-buru diam karena tidak ada respon serius yang bisa kudengar. “Maaf, tapi tarian kalian tadi sangat bagus kok. Aku sampai tidak sadar melompat-lompat sendiri.” Kataku.

Hening lagi. Aku sempat penasaran apakah mereka bisu. Ey~ Tidak mungkin juga. Tadi kan baru saja mereka berteriak dan tertawa bersama.

“Maafkan aku, permisi.” Aku pamit undur diri pada akhirnya. Aku keluar dari gedung tua itu sambil mengutuk diriku sendiri, siapa yang harus kusalahkan kalau aku sebodoh ini? Ayah? Ibu? Ah. Ini mungkin sudah keturunan genetik dari Si Botak yang lukisannya terpasang besar di dinding ruang tamu.

Sonsaengnim.”

Aku juga memiliki bakat berhalusinasi. Lihat saja, aku sampai berimaji bahwa aku dipanggil oleh seorang tampan seperti Junhong. Aku melihat sosoknya begitu jelas dalam bayanganku. Ia mengenakan celana pendek dan kaos longgar serta menghalangi jalanku untuk keluar dari gerbang utama gedung tersebut.

Sonsaengnim.” Katanya lagi. Saat itu aku baru sadar kalau aku tidak berimaji. Ini nyata. Pertanyaannya, ada urusan apa ia memanggilku?

“Maaf? Kau memanggilku?”

“Siapa lagi guru di sini?”

“Oh yeah. Maafkan aku. Tadi itu aku tidak sengaja melihatmu menar—“

“Kau mengikutiku?”

Aku tidak menjawab. Ia berkacak pinggang dan tertawa sinis. “Kali ini suruhan siapa? Ayah? Ibu? Kepala Sekolah?”

Aku menautkan alisku. Dari cara bicaranya. Tersirat jelas bahwa ini bukan kali pertama ia diikuti oleh seseorang. “Oh, itu—maaf kalau—“

“Pasti pihak sekolah lagi. Katakan saja pada Wanita Gendut itu, aku tidak berminat untuk bermain piano dan clarinet sepanjang hari. Jadi berhenti menguntitku!”

Junhong sepertinya salah paham padaku. “Em, begini Junhong-ssi—aku—“

“Kau bisa pergi sekarang, sonsaengnim. Kau bisa mengajar yang lain tanpa perlu mempedulikan aku. Kalau mereka membuat taruhan lagi soal aku, kau menyerah saja karena aku tidak akan mengikuti kelas busuk itu.”

Dia kurang ajar dan tidak sopan. Dia bahkan menyebut kelasku kelas busuk. Oh benar, memang kelas itu kelas busuk dengan tujuh orang sampah yang menebarkan bau tidak sedap setiap aku berhadapan dengan mereka. Tapi tentu saja aku tidak termasuk di dalamnya.

Junhong membelakangiku tanpa sopan santun. Ia pergi dan melangkah hendak kembali ke dalam gedung tua tersebut. Ini gila. Jika ia tidak datang besok, aku bisa kalah taruhan dan aku harus hengkang dari misi ini. Bagi Junhong masalahnya mungkin akan selesai sampai di sana, tapi bagiku… masih ada ujian perusahaan yang terancam gagal, amukan ayah, kekecewaan Kim Tan padaku belum lagi nyinyiran menyebalkan setiap arisan keluarga dihelat.

Aku bisa gila kalau begini.

Tidak!

Aku belum boleh gila saat ini. Dalam dua puluh satu tahun aku hidup, hari ini bukan waktu yang tepat untuk menjadi gila. Aku harus berhasil. Bagaimanapun caranya.

“Apa karena kau mengancamku untuk pergi, maka aku akan pergi?” Kataku. Junhong berhenti melangkah. Ia masih memunggungiku. “Apa kau pikir aku seseorang yang akan melakukan itu karena kau mengatakannya?”

Ia memutar tubuhnya. Kedua telapak tangannya sudah tenggelam di dalam saku celananya. Junhong melihatku dingin kemudian tersenyum sarkastik.

“Melihat kau berada di sini, sepertinya kau berhasil mencuri perhatian enam orang lainnya di kelas. Jarang yang berhasil membuat taruhan seperti ini denganku. Kau akan gagal, apapun cara yang kau lakukan. Karena aku tidak sama dengan enam orang bodoh di kelasmu.”

Cih, pemuda ini mulai menjengkelkan. Jika saja ia tidak lebih tinggi dariku, aku sudah akan menjitak kepalanya atau mencekik lehernya.

“Murahan.” Kataku dengan nada rendah. Junhong terlihat terganggu. “Maaf?” Katanya. “Apa baru saja kau mengatakan aku murahan?”

Ada kobaran api di dadaku. Aku tiba-tiba saja menjadi sangat percaya diri. Oh, apakah ini yang namanya dorongan batin?

“Apa kau pikir aku akan mengatai diriku sendiri di saat hanya ada kita berdua di sini, idiot!”

“Apa baru saja kau mengatakan idiot pada muridmu, sonsaeng?”

“Muridku? Kau bahkan tidak pernah masuk sekalipun dalam kelasku. Siapa muridku di sini? Kau bercanda?”

Junhong menghela napasnya. Gotcha!  Ia masuk dalam perangkapku. Asalkan aku tidak menjadi emosi, semuanya sudah benar. Semuanya dapat kulakukan.

“Dengar, sonsaeng—“

“Siapa kau beraninya menyuruhku mendengarkanmu?”

Lagi, ia sepertinya sangat membenciku saat ini. Terlihat sekali dari bagaimana ia mengatur napasnya. Kurasa ia sangat marah. Itu bagus.

Ya! Gijibae! Kau kemari untuk memperolokku atau apa?”

WHOA DAEBAK! Bocah tengik ini bahkan menggunakan banmal dan berkata tidak sopan padaku. Yosh, dia ingin perang? Mari kita lakukan.

Omona! Ya! Apa karena kau lebih tinggi dariku lantas aku takut padamu? Apa karena aku wanita, kau pikir aku takut padamu, bocah tengik? Bicaralah lebih sopan pada yang lebih tua darimu. Ay~ aku lupa kau idiot yang tidak mengerti sopan santun.”

Mworago? YA!” Junhong berjalan cepat ke arahku namun refleksku lebih cepat dari gerakannya. Aku berlari. Kemanapun asal jangan sampai tertangkap pemuda menjengkelkan itu. Kupikir Junhong akan berhenti di depan pagar dan membiarkan aku pergi. Tapi ternyata ia masih memiliki banyak emosi untuk berlari lebih kencang dan mengejarku.

Keuntungannya adalah, dengan kaki panjangnya, ia berhasil menyusulku dengan mudah. Tapi kelemahannya adalah, ia terlalu emosi sampai-sampai  tidak mengontrol arah kakinya dengan baik. Aku berbelok di salah satu belokan kecil dan dia sepertinya tertinggal karena terlalu bersemangat untuk berlari lurus.

Aku pikir aku sudah bebas dari pemuda itu. Tapi yang kutemukan selanjutnya adalah jalan buntu. Di saat seperti ini, apakah aku sedang main drama atau sesuatu? Kenapa harus jalan buntu yang kutemui di saat seperti ini? Apa Korea memang selalu memiliki jalan buntu untuk hal-hal genting?

AH! Aku menyesal berbelok tadi. Junhong sudah ada di depanku dengan napas tidak teratur. Lalu aku teringat tentang kasus perkosaan terhadap guru oleh muridnya yang terpampang di berita beberapa hari yang lalu. Andwae! Aku tidak bisa berada dalam berita semacam itu nantinya kan?

Aku segera saja menyilangkan tanganku di depan dada. Rasanya aneh karena mata menyebalkan itu terus saja menatapku tanpa henti. Saat ia semakin dekat, aku bahkan memalingkan wajahku dan menutup mataku. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak mau melihatnya.

.

.

Mengejutkan!

Setelah apa yang terjadi pada kami di gang sempit tadi, aku dan Junhong malah duduk berdua di kedai kopi terdekat. Junhong terlihat santai dengan kaus longgarnya. Ia baru saja menyesap kopi cokelat panasnya pelan-pelan. Jika aku menjadi Junhong saat ini, sudah barang tentu aku akan ditangkap oleh ayahku. Aku tidak pernah diperbolehkan mengonsumsi kafein di usia muda. Katanya tidak bagus untuk kesehatan.

Oh iya, apa kau penasaran mengenai kejadian di gang sempit tadi? Aku juga masih bingung, tapi terjadi begitu saja. Junhong yang menemukanku terjebak di sana malah menarik tanganku dan membawaku kemari. Sesaat malah kami sempat disangka sebagai sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Walaupun aku senang mendengarnya, tapi melihat tabiat pemuda macam ini, perempuan mana yang mau dekat-dekat. Nasib sialku saja yang membawaku sedekat ini sekarang.

“Aku tidak biasa berbasa-basi. Jadi katakan apa maumu, sonsaeng.”

Aku hampir mati tersedak ketika ia bicara tiba-tiba. Sesaat tadi aku tahu dia menyesap kopinya jadi saat aku menyesap kopiku juga di saat yang bersamaan, kupikir dia tidak akan bicara pada jeda tadi.

“Pertama-tama,” aku mengusap bibirku dengan sebuah tisu lembut di atas meja. “Jangan panggil aku sonsaengnim di lingkungan luar sekolah. Kita hanya terpaut empat tahun. Tidak banyak. Kau bisa memanggilku, noona atau apalah.”

“Apa memberitahu itu padaku begitu penting?”

Eo, penting jika kau ingin mendengarkan apa mauku.”

Junhong duduk santai di sofanya sedangkan aku duduk dengan kaku.

“Aku menunggumu bicara, Noona.” Katanya. Aku kenapa sih? Hatiku berdebar-debar ketika ia memandangku seperti ini. Ditambah lagi ia memanggilku noona dengan sangat lembut. Aku tidak boleh salah paham. Aku tidak bisa begini sekarang. Meskipun aku kesepian, aku tidak boleh memiliki perasaan yang aneh-aneh pada muridku sendiri.

“Aku sebenarnya ingin mengajakmu untuk belajar di dalam kelasku bersama enam orang yang lain. Tapi melihatmu tadi di gudang tua, sepertinya aku tahu penyebab kau tidak mau masuk ke dalam kelas.”

Dengan dingin, Junhong menjawab, “lalu?”

“Aku memiliki banyak pertanyaan di otakku sekarang, Junhong-ssi, tapi aku memutuskan untuk bertanya satu hal.”

“Apa?”

“Apa kau menyukai menari lebih dari apapun?”

Junhong melihat ke arah jalanan di luar jendela kedai. Aku menunggu ia bicara tanpa ingin mengganggunya dengan kalimat-kalimat lain. Kuharap dengan jeda panjang yang kuberikan ini, ia dapat memberikanku sedikit kunci mengetahui apa keinginan sebenarnya. Kalaupun aku tidak dapat menyelesaikan ini nantinya, setidaknya aku sudah mencoba. Ini lebih membanggakan daripada tidak sama sekali.

“Menari,” Junhong berbicara. Aku tidak bergerak takut kalau-kalau huruf demi huruf yang ia rangkai tidak sampai di telingaku saat itu. “Sudah menjadi bagian dari hidupku.”

“Lantas kenapa kau bersekolah di sekolah khusus musik klasik?”

Junhong tertawa. “Masalahnya sangat klise. Orang tuaku yang membawaku kemari.”

“Kau tidak pernah menolaknya?”

“Sudah berkali-kali. Mereka tidak pernah mendengarkan. Obsesi ayahku lebih besar dari siapapun di dunia ini. Gagal menjadi pianis, kini memaksa anaknya untuk menjadi pianis meskipun aku tidak suka. Aku mengatakan ini bukan seperti aku tidak suka musik, musik juga bagian dari hidupku. Tapi bermusik dengan tekanan seperti ini, sama sekali bukan seni.”

Junhong memutar-mutar cangkir kopinya dengan pelan. Kutebak, pikirannya pasti sudah melayang kemana-mana. “Aku harus bersekolah tapi aku tidak berminat untuk belajar. Yang bisa kulakukan adalah bersikap sebagai penunggu pohon di dekat kelas setiap hari. Seperti itulah aku.”

“Sebenarnya aku mengetahui informasi bahwa kau cukup pintar.” Kataku, memujinya. Junhong tidak bereaksi. “Jadi apa yang bisa kubantu?”

Pemuda itu menatapku. “Aku tidak butuh bantuan. Aku paling benci tawaran seperti itu.”

“Maaf.” Kataku tulus. “Kalau kau tidak ingin dibantu, aku hanya bisa memberimu beberapa saran.”

“Kalau kau berencana melakukannya hanya untuk meyakinkanku agar masuk dalam kelasmu besok, sebaiknya tidak usah.”

Kali ini dia salah. Meskipun aku sangat ingin dia memang masuk ke dalam kelasku besok, nampaknya keinginan itu memudar ketika aku berlari dikejar olehnya tadi. Apa yang ia ceritakan padaku, meluluhkan sisa-sisa keinginanku itu. Ia memiliki masalah keluarga yang serius dan aku paling tahu seperti apa rasanya, melakukan apa yang tidak ingin dilakukan.

“Kau bisa percaya padaku atau tidak sama sekali. Tapi aku memberimu saran sebagai seorang noona pada dongsaengnya. Bukan seorang guru pada muridnya. Jangan salah paham. Meskipun aku sangat ingin menang taruhan dengan enam bocah tengik itu, aku juga masih wanita yang punya hati. Dan aku paling mengerti seperti apa perasaanmu.”

“Berhenti membual. Kau bahkan tidak berasal dari keluarga konglomerat sepertiku, kau tidak akan tahu bagaimana rasanya keinginanmu tenggelam karena keinginan besar orang tua.”

Bagian tadi. Tentu dia salah. Aku juga tidak bisa serta-merta mengatakan Hey, aku ini masih keluarga dari pengusaha rempah-rempah paling sukses abad ini. Aku masih memiliki batasan tertentu meski sangat ingin memukul kepalanya.

“Dengar Junhong-ssi, aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak perlu mengenalku. Sejujurnya, ini malah pertemuan pertama kita. Aku juga pernah bersekolah di sekolah musik, Junhong-ssi. Aku dicemooh hingga saat ini hanya karena akulah satu-satunya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sama dengan seluruh keluargaku yang lain. Kau bisa lihat aku sekarang, apa aku terlihat akan mati karena ini? Aku sudah hidup dua puluh satu tahun dan aku baru pertama kali melihat seorang pemuda yang hidup menyedihkan di usianya yang bahkan belum genap tujuh belas. Perhatikan langkahmu, Junhong-ssi, kau hidup bukan hanya untuk hari ini. Meski hari ini kau dihardik, siapa yang tahu besok semua orang akan memujamu.”

Ia menatapku tanpa berkedip. Kemudian tersenyum setelahnya.

“Bagaimana caramu meyakinkan kedua orang tuamu, Noona?”

“Itu hal yang sangat mudah. Lakukan dengan cara Kwon Yuri. Dalam kasusmu, lakukan dengan cara Choi Junhong. Itu sudah paling benar.”

Ia tertawa. Tapi aku tidak mengerti bagian mana yang lucu.

“Apa ada serangga sedang menggelitikmu atau kau memang sedang menertawaiku?”

“Kau sangat lucu.”

“Benarkah? Terima kasih. Tapi,” Aku menyesap kopiku sedikit. “Aku sedang tidak melucu tadi.”

Junhong masih tertawa. Aku tidak tega menghentikannya walaupun aku masih memiliki satu topik lagi yang harus kusampaikan padanya. Aku tidak sampai hati memaksanya untuk datang ke sekolah besok hanya karena masalah taruhan ini. Junhong baru saja tertawa dan aku tidak ingin merusak suasana yang kudapatkan dengan susah payah ini. Hari sudah malam dan waktuku semakin singkat. Aku pasti akan begadang semalaman untuk berdoa : semoga keajaiban akan datang padaku besok pagi.

.

.

Tik tok tik tok

Sudah jam tujuh kurang lima menit. Hanya tersisa lima menit sampai Junhong yang menjadi bahan taruhan masuk ke dalam kelas. Aku tidak melihatnya. Bahkan di bawah pohon tempat biasanya ia bersantai.

Murid yang terakhir masuk kelas tadi adalah Kim Jongin. Ia mendengarkanku soal kedisplinan yang kukatakan kemarin rupanya. Setelah masuknya Kim Jongin, aku harusnya menutup pintu dan memulai kelasku hari ini dan membicarakan soal taruhan ini. Tapi karena sedikit harapan yang kuselipkan pada jiwaku soal Junhong, aku membiarkan pintu itu terbuka.

Sungjae dan Ilhoon menatap arloji mereka dan mulai menghitung mundur. Ren dan Jongup memandangku dengan khawatir. Aku tidak bisa membaca ekspresi mereka. Yang paling sinis adalah Sehun dan yang tampak tidak begitu berminat soal taruhan ini duduk di paling belakang, Kim Jongin.

Tinggal tiga menit lagi.

Saat itu seseorang melintas di depan pintu. Bahkan ia masuk dan menyapaku. Meski aku senang dengan kehadirannya, tapi itu bukan seseorang yang sangat kutunggu saat ini. Berdiri di pintu adalah Kim Myungsoo. Si Guru Kebugaran.

“Kelasmu belum dimulai, Yuri-ssi?”

Sungjae dan Ilhoon membuat suara gaduh ketika Myungsoo menyapaku. Aku juga bodohnya tidak dapat menyembunyikan rona merah di wajahku. Meskipun saat ini aku sangat gusar karena Choi Junhong, tapi sapaan Legolasku ini mampu membuat segalanya menjadi damai.

“Aku menunggu satu orang murid lagi. Apa pintu gerbang depan sekolah sudah ditutup?”

Sungjae mulai beraksi dengan kamera ponselnya. Aku tahu ia sedang mengambil gambar aku dan Myungsoo yang sedang mengobrol di depan kelas. Ia membagi gambar itu dengan Ilhoon kemudian tertawa bersama seperti orang bodoh.

“Sepertinya sudah dari dua menit yang lalu. Kenapa? Apa seseorang dari kelasmu terlambat?”

Hatiku gusar kembali. “Tidak…” kataku terbata. “Kurasa memang kelas ini hanya untuk enam orang.” Kataku. Pikiranku melantur kemana-mana. Sampai akhirnya Myungsoo pamit padaku dengan ramah. Tawa dari Sungjae dan Ilhoon sudah mereda saat Sehun angkat bicara. Ia sepertinya sudah siap menyerangku kembali soal taruhan kemarin. Dan… oke, aku kalah.

Hanya tersisa lima detik lagi dan semuanya,

Sudah selesai.

Lima.

Empat.

Sehun berdeham.

Tiga.

Sungjae bersiap dengan kamera ponselnya. Ren tertawa sinis di dekat jendela.

Dua.

Aku mulai mengatur napasku, meskipun aku nantinya harus pergi dari sini, rasanya aku harus bisa menahan emosiku sampai semuanya mereda.

Satu.

Srek.

Suara apa itu?

Kupikir itu suara Sehun yang mulai berimpersonasi menjadi daun pintu, tapi nyatanya yang aku dengar benar suara daun pintu. Aku bisa menjelaskan padamu apa yang sedang berdiri terengah di depanku sampai membuat Sehun enggan berbicara.

Itu Choi Junhong.

Ia memakai seragam lengkap dengan headphone yang tersangkut di lehernya ala Lee Jongsuk di dalam dramanya. Rambutnya ditata rapih layaknya seorang murid teladan. Ia memang terengah tapi senyumnya tidak lepas dari mataku. Choi Junhong mulai berjalan, tapi tidak ke kursinya.

Ia melewatiku dan berdiri di tengah. Yang membuatku kaget adalah, saat itu ia membungkuk sembilan puluh derajat pada teman-temannya.

Ren menjatuhkan cermin barunya seraya menganga lebar. Jongup bertatap-tatapan dengan Sehun selama beberapa menit sedangkan Sungjae dan Ilhoon sudah menggila dan bergerak layaknya cacing kepanasan. Yang paling tenang mungkin Jongin. Tapi aku bisa melihat ia memejamkan mata dengan seberkas senyum kecil di bibirnya, seolah ia puas akan sesuatu.

Selesai Choi Junhong membungkuk, ia berbicara dengan cukup keras.

Aku hampir menjatuhkan dagu tidak percaya.

“Namaku Choi Junhong. Aku telah membolos beberapa pelajaran setahun terakhir. Mungkin ada yang sudah mengenalku, tapi sejujurnya, kita belum pernah saling mengenal secara resmi. Hari ini, aku telah kembali memperkenalkan diri. Meskipun sangat terlambat, tapi, mohon bantuannya.”

Junhong tertawa seperti anak kecil. Ia bagai malaikat kala itu. Aku tidak tahu obat apa yang diminumnya sehingga ia berubah dengan cepat dalam semalam. Tapi persetan dengan itu, sekarang aku sudah resmi menang taruhan. Lihatlah, lihatlah Si Arogan Sehun yang menatapku tak senang, Aigoo!

Choi Junhong membungkuk lagi. Sebelum ia kembali ke kursinya, ia sempat berjalan melewatiku. Sesaat itu aku bisa mendengarkannya berbisik rendah. “Sonsaengnim… eh, bukan, maksudku, Noona… Inilah yang kusebut cara Choi Junhong.”

Kemudian mata kanannya mengedip jahil padaku.

Aku hampir terjatuh karena lemas.

Perasaan aneh menggerayangiku. Tapi setidaknya ini perasaan yang sangat bagus. Satu dari tujuh bocah tengik sudah kutaklukan. Mengurus sisanya, akan lebih mudah dari ini.

.

.

Karena duduk diam di ruang guru sangat membosankan, aku memilih perpustakaan sebagai destinasi waktu rehatku. Meskipun aku didapuk sebagai penanggung jawab kelas aneh itu, tapi untuk beberapa bidang studi, sudah ditangani oleh ahlinya. Mereka mungkin sedang berada di salah satu kelas paling membosankan sepanjang semester. Kelas composing.

Jika hanya membuat not-not dan menyusunnya menjadi sebuah lagu itu aku juga bisa sebenarnya. Tapi kelas satu ini akan memaksa setiap muridnya untuk menciptakan sebuah lagu penuh. Artinya, di kelas itulah mereka akan belajar soal lirik.

Semasa sekolah dahulu aku mendapat nilai C untuk kelas ini. Karena menyebutnya nilai Cukup menyakitkan hatiku, jadi kita sebut saja C sebagai kependekan dari Cantik, sesuai penampilanku.

“Hehe.” Aku tanpa sadar tertawa sendiri membayangkan ini. Gadis-gadis melihatku dengan aneh. Mungkin saja bertambah lagi daftar nama-nama orang yang sudah menganggapku gila. Mengabaikan pandangan tersebut, aku mulai berdiri dan melongok ke jendela belakang. Ruangan perpustakaan adalah tempat yang paling sepi dari seluruh ruangan yang ada—tentu saja aku tidak menghitung gudang dan halaman belakang yang tidak terurus. Tapi ada satu yang menarik di sini.

Jendela belakangnya tepat mengarah pada lapangan basket di mana Legolasku berada. Aku mendengar suara peluit ditiup dan teriakan-teriakan memerintah dari mulutnya. Suara itu sangat dekat hingga aku dapat merasakannya sebagai bisikan lembut di telingaku. Benar, aku berada di sini karena aku ingin melihat pemuda tampan itu lebih lama. Ah~ aku benar-benar bahagia.

Tapi rasanya bukan hanya aku saja yang menyukai Myungsoo. Di sebelahku tepat dua meter, ada beberapa gadis berkerumun sembari berbincang kecil. Aku melihat binar-binar di matanya. Bahkan yang paling buruk rupa di antaranya ketahuan sedang meneteskan air liur. Aku jadi jijik. Mereka anjing atau apa?

Aku baru saja akan menegurnya dengan kewenanganku sebagai guru. Tapi mereka membubarkan diri begitu saja, tanpa aba-aba. Malah beberapa terlihat ketakutan dan pergi dari sisiku dengan segera.

“Aneh. Apa aku sejelek itu?”

Aku mulai memerhatikan lapangan basket lagi. Tapi Myungsoo sudah tidak ada di sana. Aku mendesah dan membalikkan badanku. Tapi aku harus mau terlonjak saat itu. Di meja kecil tempatku duduk tadi sudah diduduki oleh seorang pria yang kukenali.

Ia melongok sebentar ke arah jendela kemudian mengangguk seolah mengerti.

“Kau menyukainya?” Kata Junhong. Aku mendesah pelan kemudian mengajaknya duduk di tempat yang lebih besar. Bocah itu membawakanku sekaleng jus jeruk instan.

“Dia memang tampan, tapi dia tidak terlihat menyukai wanita.” Katanya lagi. Aku awalnya tidak tertarik dengan topik Myungsoo jika yang mengatakannya adalah Junhong. Tapi sepertinya aku harus mendengarkannya mengingat ia hidup di sekolah ini lebih lama daripada aku.

“Kurasa ia seorang gay.” Mungkin Junhong berbohong padaku.

Tapi bagaimana kalau tidak?

“Tidak mungkin!”

“Kau harus percaya padaku, Noona.”

“Aku baru mengenalmu kemarin dan mengapa aku harus percaya padamu?”

Aku mendapat teguran dari beberapa orang yang sibuk dengan buku-bukunya. Suaraku terlalu kencang tadi. Jadi kali ini aku berbicara kalimat yang sama dua kali dengan nada yang lebih rendah agar Junhong paham apa maksudku.

“Kau akan sia-sia mengejarnya, sainganmu terlalu banyak jika mengejar guru satu itu, Noona.”

Aku memukul kepala Junhong hingga ia meringis. “Aku Kwon Yuri! Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan dengan caraku sendiri. Lagipula ini di lingkungan sekolah, kau harus memanggilku sonsaeng, bocah tengik!”

“Kenapa kau memanggilku—ah—kenapa kau sekasar ini pada orang yang sudah menolongmu dari kekalahan, Noona? Lagipula aku memanggilmu apa itu terserah padaku.”

Aku menenggak jus jeruk kalenganku. Kemudian mendesah dan mengeluarkan suara-suara dari tenggorokanku sebagai reaksi nikmat dari kesegaran jus tersebut. Junhong menatapku jijik tapi siapa yang peduli?

“Sungjae dan Ilhoon merencanakan sesuatu lagi untuk mengerjaimu.” Katanya ketika aku menghabiskan tegukan kelimaku dari kaleng jus. Aku menatapnya. “Kau berbicara benar atau kau hanya membual?”

“Apa wajah seperti ini terlihat seperti pembual?”

Aku mengangguk dan membuat tubuhku terduduk lebih santai di atas kursi kayu. Dari sana, kami hanya berbicara dalam nada rendah.

“Kau harus hati-hati pada keduanya. Tapi bicara hati-hati, kau juga sebisa mungkin tidak mencampuri urusan anak-anak lain seperti kau mencampuri urusanku kemarin. Masalah mereka lebih pelik daripada masalahku. Kim Jongin, terutama pria itu.”

Bicara soal ini. Aku tahu soal permasalahan mereka. Mari susun lagi semuanya. Mengabaikan Junhong yang baru-baru ini masalahnya dapat ia atasi, masih ada Ren dengan sindrom cantiknya; Jongup dengan intelejensi bermusiknya yang kurang; Sungjae dengan mulutnya yang tidak bisa dijaga; Ilhoon yang gemar membuat onar; Sehun yang misterius dan Jongin yang gemar berkelahi.

Aku masih tidak memiliki cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah mereka, tapi aku memiliki kepercayaan diri yang tinggi setelah memenangkan hati Junhong. Aku akan memikirkan mereka dan berbicara pada enam orang lainnya segera setelah mereka selesai dengan—

Eh tunggu!

“Kenapa kau ada di sini, Junhongie?” Dan karena ia memanggilku noona, aku sudah memutuskan memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab.

“Apa yang maksudmu kenapa ada di sini? Memang aku seharusnya di sini. Di mana lagi aku berada?”

“Bukankah kelas composing masih belum selesai?”

“Sudah selesai kok, gurunya hanya memberikan tugas karena istrinya sedang melahirkan di rumah sakit.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi, bocah tengik!”

“Aku memanggilmu dari tadi dan kau sepertinya sedang asyik dengan fantasimu pada guru kebugaran itu.”

Mulutku berkomat-kamit tidak senang. Kelasku akan dimulai dalam satu jam lagi, jadi aku masih bisa bersantai menunggu. Daripada aku diam dan bicara tidak penting dengan Junhong, jadi kesempatan itu aku gunakan untuk mengorek informasi yang bisa aku dapatkan soal enam orang lain di kelasnya.

Yang dikatakannya padaku kadang tidak berguna, tapi sebagian besar merupakan kunci untuk keberhasilan misi dua bulanku. Jika aku ingin mereka dapat menuruti kehendakku dan lulus seratus persen, maka pertama-tama biarlah aku coba membuka hati mereka satu per satu.

Ditambah lagi, aku juga perlu membuka hati Legolas dan menyadarkannya bahwa peri cantiknya ada di sini.

.

.

Hari kedua dan ketiga kulalui tanpa masalah. Bocah tengik itu tidak banyak membuatku jengah meskipun Sungjae dan Ilhoon terus saja mengerjaiku dengan trik-trik murahan seperti menjatuhkan air, melapisi kursi dengan lem dan sebagainya. Aku sudah terlalu banyak menggemari drama-drama negeri ini jadi aku tahu apa yang harus kulakukan soal kejahatan iseng mereka berdua.

Hari keempat adalah hari yang mengejutkan.

Mengapa?

Oke, ceritanya bermula sejak toilet guru diperbaiki. Aku harus memutar jauh untuk memakai toilet guru satunya yang berada di ujung lorong, dan saat itu aku tidak memiliki banyak waktu untuk memutar.

Aku menggunakan toilet milik siswi. Tapi karena sedang jam istirahat, toiletnya penuh. Aku benar-benar bingung karena hasrat mengeluarkan air kecil ini sudah tidak bisa tertahankan lagi. Apa jadinya jika aku tidak menemukan toilet tepat waktu dan air kecil itu merembes keluar dari rokku? Wah, keadaan akan tambah parah. Bisa-bisa Sungjae dan Ilhoon meng­upload fotoku di SNS.

Di sebelah toilet wanita, ada toilet pria yang nampaknya sepi-sepi saja. Aku memiliki ide gila.

Hajatku sudah kubuang di dalam salah satu toilet paling pojok. Namun saat aku akan membuka pintunya, segerombolan pria masuk dan terdengar berbincang. Saat masuk kemari, otakku tidak berpikir jernih sehingga aku tidak tahu jika yang kulakukan ini sungguh memalukan. Sekarang aku terjebak, tidak bisa keluar karena pria itu tidak kunjung pergi.

Mereka bicara hal-hal yang tidak patut didengarkan. Kadang membicarakan wanita kadang juga membicarakan guru. Oh, namaku sempat disebut juga tadi. Tapi mereka membicarakan soal Junhong yang duduk berdua denganku di perpustakaan dua hari yang lalu. Ah benar, kabar ini sudah menjadi rumor tidak menyenangkan. Mereka pikir aku dan Junhong sepasang kekasih atau apalah.

Aku mendengar pintu utama toilet terbuka. Aku tidak tahu siapa yang barusan masuk tapi karena itu, pria dengan mulut ember yang berkerumun langsung membuat keheningan panjang. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut mereka selain bisikan rendah yang tidak dapat kudengar.

Karena penasaran, aku membuka pintu toiletku dan mencari tahu apa yang terjadi.

Sesosok pria di antara kerumunan yang berbadan besar terlihat mengintimidasi seorang pria yang lebih kecil dengan rambut blonde di depannya. Pria kekar itu mengangkat kerah sang pemuda blonde dan memelototinya.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka membicarakan sesuatu yang tidak kudengar kemudian hantaman keras mendarat di perut sang pria blonde. Aku menutup mulutku saat tubuh kecil itu terjatuh di atas lantai lembap toilet. Wajahnya, rambutnya, seragamnya, aku tidak salah lihat.

Pemuda yang baru saja dipukuli tersebut, tidak lain, Ren!

“Jangan bermimpi menjadi bagian dari kami, bocah banci! Tim orchestra kelulusan, tidak membutuhkan permainan piano dari kau. Sebaiknya kau menyerah, atau kami akan membuatmu lebih menderita dari ini.”

Pemuda kekar dan kawanannya keluar dari toilet dan menjauh. Aku belum berani keluar sampai akhirnya Ren dengan luka memar di pipinya hilang dari pandanganku. Aku lihat keringat di dahinya dan wajah ketakutannya. Dia bukan Ren yang biasa  kulihat di kelas. Dia Ren yang benar-benar berbeda.

Apakah semua bocah tengik di kelasku, memiliki dua kepribadian seperti ini? Terlihat kuat namun rapuh di dalamnya?

.

.

Masih di hari yang sama, keterkejutanku tidak berhenti sampai di sana saja. Aku masih harus direpotkan soal Ren yang menghilang tiba-tiba dari kelas terakhir. Atas laporan dari Sungjae, aku melesat ke tempat di mana ia melihat Ren terakhir kali dengan segerombolan siswa dari kelas lain.

“Si Jari Piano itu!”

Yang tadi berteriak bukan aku. Entah dari mana Ilhoon mengejarku dan mendahuluiku. Bahkan berterima-kasihlah aku padanya. Saat aku sampai di sebuah gudang tidak terpakai dekat toilet yang hampir hancur, Ren sudah terselamatkan dari amukan tiga pemuda kekar di depannya.

Saat aku datang mereka menurunkan kepalan tangannya dan berlaku seperti seorang anak anjing yang baik. Tapi terlambat, aku sudah menyaksikan sedikit dari apa yang terjadi di sana. Orang-orang yang memukuli Ren saat ini adalah orang-orang yang memukulnya tadi siang di dalam toilet. Aku tahu soal permainan piano Ren yang menawan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka ributkan dengan persoalan tim orchestra kelulusan.

Aku ingat betul pernah mendengar soal Ilhoon dan Ren yang sama sekali tidak pernah akrab. Tapi hari ini, kurasa aku salah lihat. Ilhoon adalah yang pertama melesat dari kelas dan menyelamatkan Ren. Bahkan saat ini, ia juga yang mencoba memboyong tubuh lemah Ren menjauh.

Sungjae, Jongup dan Junhong ada di belakangku. Aku tidak tahu kemana perginya Sehun dan Jongin. Oh, akan lebih baik lagi kalau tiga orang di belakangku ini pergi juga.

Aku pikir dengan kepalan tangan yang turun, menandakan tidak ada perlawanan lebih lanjut dari pemuda-pemuda itu. Tapi aku salah.

Saat Ren berhasil diboyong oleh Ilhoon, saat itu sebuah balok kayu besar melayang sempurna di dekat kepalanya. Tekstur kayu itu sungguh sangat mengerikan, keropos dengan beberapa paku berkarat yang bersarang di sekelilingnya. Tidak banyak sih, tapi cukup untuk merobek kepala Ilhoon.

Karena memboyong Ren, gerakan refleks menghindar Ilhoon sedikit melemah. Lebih tepatnya, ia tidak menghindari bahaya itu kurang dari dua sentimeter. Satu-satunya cara adalah mendorong Ilhoon dan membuatnya terhindar dari balok tersebut.

Tapi siapa yang akan melakukannya?

Salah perhitungan sedikit, meskipun balok tersebut gagal mengenai kepala Ilhoon, bisa saja mengenai kepala si penolong.

Aku tidak akan tega memerintahkan satu di antara tiga muridku untuk melakukan ini meskipun kelihatannya mereka menunggu perintahku. Aku gurunya di sana. Dan aku bertanggung-jawab atas mereka selama  di lingkungan sekolah.

Kejadian ini ada di gedung ini, jadi apa boleh buat. Ini masih bagian dari tanggung-jawabku juga.

Aku melangkah ke depan dan mendorong tubuh Ilhoon kuat-kuat. Saat kutengok, ia sudah terjerembab bersama Ren yang ada di bawah tubuhnya. Aku melihat ke depan dan jarak balok kayu dengan dahiku kurang dari satu detik saja.

Meskipun aku dapat menghindarinya, tapi menurut perhitunganku pastilah ada bekas luka melintang yang akan menggores pelipis kiriku. Terlalu terlambat untuk menghindar sekarang.

Habislah sudah wajahku.

BRUGH!

Balok kayu itu melayang kembali kepada si pelempar. Tiga pemuda itu mundur karena terkena pukulan telah benda yang seharusnya menjadi senjata mereka. Aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun pada balok kayu tersebut.

“Apa kau terluka?” Suara berat yang kukenal. Aku melihat ke sisi kiri, ada Kim Jongin dengan buku-buku jari yang berdarah-darah. Sehun di belakang Jongin, membawa kotak perlengkapan medis. Tanpa perlu kusuruh pemuda itu segera menghampiri Ren dan Ilhoon yang mungkin saja terluka.

Dengan gesit pemuda itu membawa Ren dan Ilhoon menjauh dari tempat kejadian dengan sedikit pertolongan tangan dari Junhong dan Jongup. Sungjae sepertinya phobia darah, saat melihat Jongin yang mengalami pendarahan ringan di tangannya, Sungjae memejamkan mata dan meremas bagian belakang dari jasku kuat-kuat.

“U-17?” Kata Si Pemuda Kekar paling depan. Nada suaranya meremehkan kelasku. “Kalian berdatangan hanya untuk menyelamatkan si banci itu?”

“Apa kalian ingin mati!” Jongin berteriak. Kepalannya akan ia terbangkan ke arah tiga pemuda itu kalau saja aku tidak menahannya.

“Apa yang kalian inginkan?” Kataku. Aku bahkan maju beberapa langkah dan menahan Jongin agar tetap berada di tempatnya. “Apakah, kalian iri dengan kemampuan musik salah satu dari kelas kami?”

Cih, yang benar saja. Sonsaengnim, kelasmu hanya berisi sampah. Sampah itu harus dibuang. Kami membantumu untuk membuangnya, dan inikah balasanmu pada kami?”

Ah! Aku benar-benar muak liat si brengsek kecil ini. Tapi aku harus menjaga wibawaku di depan para muridku.

“Katamu, kau ingin membantuku membuang sampah? Cih, bagaimana kau tahu aku memang sedang berencana membuang sampah…” Pemuda di depanku menunjukkan gigi kuningnya melalui seringainya. Aku melipat tanganku di depan dada. “… yang ada di depanku.”

Tawa mereka langsung hilang. Berganti dengan geraman yang menurutku sangat rendah untuk ukuran sebuah kemarahan. Mereka menyerangku dan aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya.

Aku hanya perlu memberitahumu, aku juara kendo dan judo tingkat nasional. Jadi kau bisa menyimpulkannya sendiri.

.

.

“Mereka temanku, awalnya. Kami bermusik bersama. Dari jalan ke jalan, dari kedai ke kedai. Tapi akhirnya mereka menendangku keluar dari grup karena aku ketahuan menyembunyikan identitasku sebagai pria selama bersama dengan mereka. Aku menjadi wanita demi bergabung dengan mereka. Saat aku masuk ke dalam sekolah ini, kami bertemu lagi. Mereka sangat membenciku atas yang kejadian terdahulu. Aku ditendang dari tim orchestra sekolah. Mereka merekrut seorang pianis baru untuk upacara kelulusan nanti dengan memaksaku menandatangani surat pengunduran diri dari jabatan sebagai pianis di dalam tim tersebut. Itulah yang terjadi.”

Kalimat Ren tadi masih terbayang-bayang di dalam otakku sampai kini aku berada di rumah. Meskipun ia sudah menjelaskan semuanya padaku tapi rasanya tetap ada yang mengganjal. Aku tidak tahu apa itu sampai akhirnya aku baru merasakan ini di rumah.

Ini soal Ilhoon.

Untuk seseorang yang membenci Ren, tidakkah sikap Ilhoon menunjukkan kebalikannya?

Menurutku, ia terlalu perhatian.

Rasa penasaran ini akan membuatku tidak tidur semalaman jika aku tidak segera memecahkannya. Aku memungut ponselku dan mulai mengetikkan nama Junhong di daftar kontak. Hubungan Junhong dan aku sudah sampai tahap noona dan dongsaeng yang saling bercerita satu sama lain. Dan kuharap, Junhong memiliki cerita di balik kisah tadi siang.

“Ah itu… bagaimana aku mengatakannya ya…”

Junhong terlihat ragu saat akhirnya aku bertanya soal Ilhoon dan Ren. Dari gelagatnya, aku sudah bisa menyimpulkan. Pasti ada alasan mengapa Ren dan Ilhoon menjadi seperti itu.

“Kejadiannya sudah lama noona, aku juga tidak bisa mengkonfirmasinya karena ini kudengar dari mulut Sungjae. Sebenarnya Ilhoon dan Ren sudah mengenal sejak mereka bergabung dalam grup musik jalanan yang Ren sebut sebelumnya padamu. Aku sebenarnya tidak enak mengatakan ini, tapi pada waktu itu… saat Ren berpura-pura menjadi wanita… Ilhoon jatuh cinta padanya.”

“APA?”

Seperti itulah cuplikan pembicaraanku dengan Junhong barusan. Apa kataku…

Aku seharusnya tidak bertanya. AKU SEHARUSNYA TIDAK BOLEH PENASARAN!

Pantas saja hubungan mereka buruk sekali. Jika begini ceritanya, aku hanya bisa melihat dari jauh. Mungkin aku harus memanggil mereka berdua suatu hari. Aku harus membuat semacam kelas konseling bagi mereka.

Apapun itu, sekarang aku merasa sedikit lega. Berkurang lagi rahasia yang berusaha mereka sembunyikan dariku. Dengan kejadian hari ini, kuharap Ren dapat membuka hatinya padaku. Kuharap ia dapat memandangku sebagai guru yang akan mengajarnya tiga bulan ke depan.

Ah iya, kuharap juga, Ilhoon dapat bekerja sama dengan baik dengannya.

.

.

“Kau… akan pergi?”

Tanya Kim Tan padaku.

Pemuda itu entah sejak kapan ada di meja makan keluarga kami. Kalau ia di sini, artinya ayah dan pemuda ini dipastikan akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk tebakan satu ini.

“Ini hari libur, Yuri-yah. Tidakkah kau lebih baik di rumah dan menemani bibiku?” kata bibiku merujuk pada ibuku yang sedang sibuk berlalu-lalang dengan mangkuk-mangkuk dan piring-piring keramik. Setiap pagi ia selalu sibuk seperti ini. Tapi aku menyukai ia yang sibuk, setidaknya mulutnya menutup untuk memarahiku.

“Aku ada rapat dengan murid-muridku. Mengenai tugas akhir yang diberikan kepala sekolah. Sebuah pementasan musik.” Kataku penuh semangat. Kim Tan mengacak-acak rambutku.

“Jadi sepupuku satu ini sudah bisa menangani murid-murid tersebut?”

“Begitulah. Eh, belum seluruhnya sih. Seminggu yang lalu aku berhasil membuat Sungjae bersikap baik pada ibunya.”

“Sungjae yang kau ceritakan sebagai anak dari Si Gendut Ba—eh—maksudku, kepala sekolah Melody High School?”

“Benar. Yang itu, Oppa!”

“Kau memang benar-benar—eh bagaimana soal Oh Sehun yang kauceritakan itu? Apa dia memang benar-benar mencuri?”

Aku menghela napasku.

“Kejadiannya tidak seperti itu. Sehun terlalu polos dan baik. Selama ini ia melindungi seorang gadis. Gadis itulah yang selama ini gemar mencuri.”

“Gadis katamu? Bukankah sekolah itu khusus pria?”

“Anak dari penjaga kafetaria. Sehun menyukainya. Namanya, Krystal. Bocah itu selalu mengaku mencuri demi menyelamatkan Krystal dari amukan teman-temannya yang lain. Dua hari yang lalu aku baru saja menemukan fakta ini. Tapi sayangnya, kisah cinta itu tidak berjalan mulus. Krystal dan ibunya memilih pergi dari Melody dan memulai hidup baru entah di mana. Aku menemani Sehun menangis hingga malam saat itu.”

Kim Tan tertawa mendengar ceritaku.

“Tapi Oppa,” Aku menyela tawanya. “Apakah pria yang ditinggalkan orang yang dicintainya harus selalu menangis seperti itu?”

Kim Tan menyemburkan nasi yang tengah memenuhi mulutnya. Ia menepak bahuku keras seolah aku baru saja berbuat salah. Ia bahkan meneriakiku dengan kalimat tidak semua lelaki seperti itu! atau mungkin beberapa pria memang menangis, tapi aku tidak pernah! atau Aku tidak pernah menderita karena cinta.

Padahal aku ingat betul beberapa bulan lalu ia menangis di depan ayahku. Ia meminta ayah untuk membujuk ayah Kim Tan agar menyetujui hubungan ia dengan kekasihnya, Cha Eunsang.

Cih, pria!

“Yuri-yah…” Kim Tan sudah selesai memarahiku. Ia mengelap mulutnya dengan lap makan. Kemudian menggeser tubuhnya agar berhadap-hadapan denganku yang ada di sisi kanannya. “Apa kau sudah bertemu dengan bocah yang kuceritakan padamu sebulan lalu?”

Mungkin maksud Kim Tan adalah sepupu kami yang hilang. Bicara tentang itu, sebenarnya aku sudah memiliki beberapa kesimpulan. Tapi belum sampai pada tahap pembuktian. Aku sudah menyelesaikan kasus Sungjae, Junhong, Ren, Sehun dan Ilhoon. Dipastikan lima orang itu tidak ada kaitannya dengan masa lalu keluarga Kwon. Tinggal dua bocah yang patut kucurigai, Jongup dan Jongin.

“Aku belum tahu, Oppa.”

“Sebenarnya yang kau cari itu—“

“Jangan beritahu aku, Oppa. Aku akan menemukannya. Aku akan menemukannya dengan cara Kwon Yuri. Jadi jangan beritahu siapa dia padaku.”

Kim Tan menatapku tak yakin. “Percayalah. Aku ini Kwon Yuri.”

.

.

Aku datang dengan penuh semangat ke sekolah. Hari itu minggu dan hanya segelintir orang yang berada di sekolah. Waktuku hanya tinggal dua bulan sedangkan waktu mereka untuk menempuh ujian hanya tinggal sebulan. Kemarin kepala sekolah Melody mengumumkan soal ujian akhir masing-masing kelas melalui sistem undian.

Ujian tahun ini tepat dengan acara ulang tahun besar Melody dan dewan sekolah memiliki ide ini. Membuat pagelaran seni sebagai tugas akhir. Jika hanya pagelaran itu sangat mudah! Aku memiliki tujuh murid dengan bakat luar biasa yang ada di kelasku. Oh, mungkin Jongup belum termasuk ke dalam bakat luar biasa, tapi ia cukup pandai menyanyi.

Tapi yang diinginkan kepala sekolah ini bukan hanya pagelaran biasa. Aku setidaknya harus berpikir tentang musik, aransemen lagu, lirik, komposisi masing-masing instrumen musik dan peralatan pendukung lainnya. Dikatakan ini sebagai tugas akhir, tentulah banyak bagian tidak mudahnya. Jika biasanya aku hanya membawakan pagelaran dengan musik milik orang lain atau musisi yang sudah terkenal, kali ini kami harus membuat musik kami sendiri. Aku juga masih harus direpotkan dengan keterbatasan jumlah murid dalam kelas kami.

Tidak seperti kelas lain yang paling sedikit memiliki dua puluh orang personil di dalamnya, aku dan murid-murid kelasku sepertinya harus rela melakukan semua persiapan hanya dalam satu bulan dengan delapan kepala saja.

Apalagi ini musik klasik, setidaknya konsepnya harus mendekati orchestra.

“Selamat pagi.” Kataku. Kupikir aku adalah orang pertama yang hadir di kelas, tapi alangkah kagetnya setelah melihat Sungjae, Ilhoon, Ren, Junhong dan Sehun ada di depanku saat ini. Ada yang sedikit berbeda setelah sebulan ini aku mengajar kelas ini. Lima orang itu yang biasanya menertawaiku atau mengerjaiku, kini menjadi sangat sopan.

Dan seperti Junhong, tidak satupun dari mereka yang mau memanggilku sonsaengnim kecuali karena berada di tempat ramai. Mereka memanggilku noona meskipun kadang aku sedikit tidak nyaman jika mereka memanggilku seperti itu di kelas ini.

“Kau terlambat sekitar dua detik, noona.”

“Taksiku terjebak macet.” Kataku.

“Bukankah sudah kutawarkan jemputan mobilku? Jika kau mengiyakan kau pasti tidak akan terlambat hari ini.” Ilhoon berkata padaku. Aku ingat semalam ia meneleponku untuk mengatakan bahwa ia akan menjemputku di rumah. Itu tidak bisa terjadi. Jika Ilhoon tahu di mana rumahku, pasti identitasku akan terbongkar.

“Aku lebih suka naik kendaraan umum. Lebih ramah lingkungan.” Ucapku berkilah. Oh iya perlu kuberitahukan satu lagi, lima orang di depanku ini duduk berdekatan. Bila sebelumnya mereka berjarak setengah meter satu sama lain, kini mereka menarik kursi-kursinya hingga  jarak antara kursi mungkin tertinggal sekitar sepuluh senti saja.

Aku suka kondisi yang lebih baik ini. Walaupun Ilhoon dan Ren masih bertingkah sangat canggung, tapi mereka sudah menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki hubungan antara keduanya.

“Kemana Jongup dan Jongin?” Tanyaku.

“Jongin paling akan datang sebentar lagi. Soal Jongup, tidak ada yang tahu.” Kata Sungjae. Aku mengangguk. “Tapi noona, ada yang aneh dengan Jongup kemarin.”

Aku menautkan alisku.

“Aku  mengikutinya ke ruang kepala sekolah. Ia berbicara sangat lama di dalam, lalu ketika ia keluar, aku bisa melihat matanya yang sebam. Sesuatu pasti terjadi di sana.” Kata Sungjae. Informasi darinya ini tidak dapat kuabaikan. Jika Jongup dipanggil ke ruang kepala sekolah, pastilah Sungjae orang pertama yang akan tahu informasi berharga ini mengingat Si Gendut Bau adalah ibunya. Pertanyaannya, mengapa ia berada di ruangan kepala sekolah?

“Ah bicara soal itu, aku jadi ingat saat Jongup menyobek kertas ujiannya tiga hari yang lalu, saat kau memberikan ujian tertulis dadakan, noona. Ia membuang kertas itu di tong sampah belakang, saat aku baru selesai latihan piano.” Sambung Ren.

Ini semakin aneh.

Tapi entah mengapa aku berpikiran masuk akal juga. Jongup dipanggil kepala sekolah, Jongup menyobek kertas ujian, pasti ini ada kaitannya dengan nilai-nilainya yang belum cukup memuaskan. Ditambah lagi, beberapa kali kudengar isu soal mengeluarkan Jongup dari sekolah jika ia tidak kunjung menunjukkan peningkatan. Aku mendengar ini saat rapat para guru yang dihelat minggu lalu. Pada saat itu aku juga yang menahan mereka untuk tidak gegabah. Malahan aku berjanji bahwa aku akan mengundurkan diri jika Jongup tidak kunjung berhasil dalam ujian paling akhir.

Srek.

Pintu terbuka dan Jongin sudah berdiri di sana. Kali ini ia masuk dengan wajah lebih fresh dari sebulan yang lalu. Sudah jarang aku melihat luka lebam di wajahnya. Tentu ini bagus.

Meskipun begitu, sikap dinginnya masih sama padaku. Ia masih Jongin yang seolah melihatku sebagai mangsa, bukan guru. Dan di antara tujuh murid lainnya, hanya Jonginlah yang paling susah untuk kudekati.

“Baiklah. Kita akan mulai rapat ini tanpa Jongup.” Kataku pada akhirnya. Aku menarik kursi untuk berada lebih dekat dengan lima orang yang lain—sementara Jongin masih memisahkan diri di barisan paling belakang. Aku merumuskan konsep dan pembagian tugas pada mereka.

Sesekali aku tertawa saat Sungjae dan Ilhoon menyarankan sesuatu yang tidak masuk akal. Aku juga kadang berkerut serius ketika Ren, Sehun dan Junhong yang berbicara. Tapi ada yang menggangguku ketika aku melakukan itu semua.

Tatapan Jongin padaku.

Entah apa maksudnya.

TBC

72 thoughts on “U-17! [Part 2 of 3]

  1. tarhy94 berkata:

    omo..ttapann jonginn knpaa???
    u 17 akhirnya bsa d taklukan oleh Kwon yuri dgan Cra Kwon yurii..
    aigooo…
    izin bcaa Part 3 yah eon.

  2. Tansa berkata:

    Hahaha Yuri berhasil bawa Junhong yaa? Penasaran siapa yang bakal jadi pendamping Yuri.. Kai jatuh cinta sama Yuri yaa.. AHH PENASARAN!

  3. b2utyinspirit berkata:

    Akhirnya 5 orang sudah luluh, memang pendekatan yang baik itu adalah dengan kelembutan dan mencoba mrk terbuka pada qta. Masalah mereka pelik juga ya. Bukankah ini skulah khusus co? Lalu siapa gadis2 yang diperpus tadi?

  4. Reader1 berkata:

    Suka sama ffini, keren thor.
    seneng akhirnya mereka udah ada kemajuan
    Penasaran kenapa emang dengan tatapan jongin,
    mending angsung baca aja, kekeke

  5. Riska Dewi berkata:

    Akhirnya mereka berlima mau dengerin Yuri…^^
    Aku makin suka sama ni ff..^^
    Aku next ya..penasaran sama kelanjutannya^^

  6. YulHan berkata:

    DAEBAKKK BANGET^^
    Aku sangat sangat sangat sukaaaaaa
    pairingnya keren keren

    eonnie jangan lupa bikin ff dengan cast seperti ini, I LIKE IT

  7. kimyuki berkata:

    semakin keren .. ikatan guru & murid sudah mulai ada.
    aku seneng mereka manggil yuri dg sebutan noona😀
    terdengar lebih akrab

  8. desi.A berkata:

    skrg mslh mridny one by one trslesaikn,tgl 2 lg kai sm jongup.. Ff ny bkin trkesima,plihn ktany jg pas

  9. febrynovi berkata:

    ciecie sudah mulai ada benih2 cinta❤ .g

    ah penasaran kalau misalnya mereka ber-5 bikin konser dengan konsep gitu di real lifenya gimana ya..

    lanjut terus kaknyun~!❤

  10. Ersih marlina berkata:

    Ga bsa cuman kata2 doang kalo muji yuri yg dlm wktu singkatny bisa meluluhkan mereka, kecuali tinggal 2 orang, jongin sama jongup

    jongin suka sma yuri? Ow sepupunya yuri jga blum ketauan

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s