U-17! [Part 3 Of 3]

U-17

Part 3 of 3 MEANS THIS IS THE ENDING!

I don’t make such an epilogue so, hope you enjoy this last chapter.

lyric in this FF is owned by Akdong Musician.

***

Semuanya telah disusun hari ini.

Sungjae telah kutugaskan untuk bertanggung-jawab pada bidang vokal. Karena kutahu dialah yang memiliki range vokal paling tinggi di antara yang lain. Paduan suara atau pagelaran apapun pastilah membutuhkan vokal kuat seperti yang dimilikinya, jadi aku mempercayakan seluruh aktivitas di bidang itu padanya.

Aku belum tahu konsep apa yang akan kubuat untuk pamentasan ini jadi aku buat tugas sementara untuk enam orang yang tersisa.

Ilhoon dan Ren sangat mahir di bidang komposisi dan aransemen. Ren adalah jagonya di semua instrumen musik dan Ilhoon sangat pandai menyusun lirik-lirik yang menyentuh sekaligus penuh makna. Aku menyerahkan bagian ini seluruhnya pada mereka.

Sehun dan Junhong bertanggung jawab dalam urusan kostum dan properti. Mereka sangat kaya dan sangat sadar diri akan barang-barang trendi dan bermerek. Tentu mereka tahu kostum seperti apa yang paling pas untuk pagelaran nanti. Mereka juga diperbantukan sebagai asisten Ilhoon dan Ren. Karena tugas keduanya adalah yang paling berat.

Jongin dan Jongup, em, karena aku belum menemukan bakat yang cocok untuk tugas mereka, sementara ini aku tugaskan mereka membantu Sungjae. Omong-omong suara Jongup cukup bagus, jadi biar sementara ini ia membantu bocah pecicilan satu itu. Soal Jongin, aku menempatkannya di sana agar ia dapat lebih bergaul bersama teman-temannya. Terutama Sungjae. Jika saja Jongin bisa bergaul dengan baik bersama Sungjae, sudah pasti ia bisa bergaul dengan siapapun—mengingat Sungjae sangat supel dan pandai memengaruhi orang.

Oh iya, bicara tentang Sehun yang katanya masuk ke dalam Melody High School melalui program beasiswa, itu tidak benar. Itu hanya akal-akalan Si Gendut Bau saja atas permintaan keluarga Sehun. Keluarga Sehun tidak ingin siapapun tahu kelakuan anaknya yang ketahuan mencuri. Katanya sih akan mencoreng nama baik keluarga besar mereka, sehingga Si Gendut Bau memutar fakta menjadi seperti ini. Lagipula, Sehun memang tidak pernah mencuri kok. Dia hanya melindungi gadis yang memang ia sukai sejak lama. Walaupun cintanya tidak berakhir bahagia.

Poor Sehunie.

Saat ini, setelah rapat selesai, aku sudah berada di jalanan tidak jauh dari sekolah. Mobil Ilhoon baru saja melewatiku setelah aku menolah tawarannya untuk mengantarkanku ke rumah. Di belakang Ilhoon ada mobil Sehun dengan Junhong yang berada di dalamnya. Aku rasa mereka sudah membangun hubungan yang lebih baik setelah kasus fitnah pencurian Sehun terungkap.

Murid-muridku yang spesial itu semuanya sudah pergi dari hadapanku sementara aku harus berjalan hingga stasiun kereta. Karena menolak tawaran antar-jemput, terpaksa aku harus naik kereta setiap pergi dan pulang dari sekolah.

Hari ini cukup dingin dan bodohnya aku tidak memakai mantel yang cukup tebal. Aku berjalan dengan tangan yang dimasukan dalam jaketku sambil beberapa kali membuat suara-suara kecil agar wajahku hangat karena uap dari mulut.

Ada dua orang ahjussi mabuk di depanku siang-siang bolong begini, jadi aku berjalan sepelan mungkin tanpa mencolok perhatian. Ketika aku melewatinya, sebuah kerikil tidak sengaja kutendang dan mengenai kepala salah satu ahjussi mabuk tersebut. Temannya langsung refleks menarik tutup kepala dari jaketku sehingga badanku tertarik ke belakang.

“Cantiknya. Hey, Lim lihat dia, gadis ini begitu cantik.”

Mendengar pria di belakangku berbicara seperti itu. Rasanya aku sudah tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak segera lari. Dengan kemampuan Judoku, aku memukul tengkuk ahjussi  itu dengan cukup keras kemudian melarikan diri. Mereka tidak mengejarku karena rupanya masih di bawah pengaruh alkohol.

“Zaman sudah mulai gila sekarang.” Aku menepuk-nepuk bahu kanan dan kiriku. Karena lari tunggang-langgang tadi, aku jadi semakin jauh dari tujuan awalku. Harusnya dari arah ahjussi itu aku tinggal berbelok ke arah kiri. Tapi karena aku tadi berlari lurus, kini aku harus memutar arah untuk mencapai stasiun terdekat. Bodoh kan aku?

Gangguan hari ini tidak sampai di sana saja. Aku mempercepat langkahku karena kupikir ada seseorang yang terus mengikutiku sejak aku memutar arah. Aku menggunakan pantulan dari kaca mobil yang berderet di sisi kanan jalan, dan aku melihat tiga orang pemuda kekar mengikutiku diam-diam. Gerakan mereka sangat rapi tapi sayang pendengaran dan indera perasaku dua kali lebih peka karena latihan bela diri selama belasan tahun.

Dari pantulan tersebut, bahkan aku bisa mengetahui identitas mereka. Ingat tiga murid Melody yang menyerang Ren dahulu? Kudengar mereka di skors dua minggu tapi melihat sekarang mereka mengikutiku, pastilah ada perhitungan tentang kasus kemarin.

Targetnya pasti aku. Karena maaf saja, saat itu aku kelewat marah dan memukuli mereka hingga babak belur.

Aku berbelok ketika melihat sebuah gang yang bisa dijejali oleh tiga orang sejajar sekaligus. Meskipun bukan tujuanku, tapi aku terpaksa berbelok di sana. Aku perlu meluruskan beberapa hal.

Saat aku berbelok, benar saja. Seperti sebuah kesempatan emas, tiga orang yang mengikutiku diam-diam sedari tadi tersebut langsung berlari dan memblokade mulut gang. Satu orang yang pernah mengancam Ren berada paling depan. Ia menyeringai ke arahku.

Annyeong haseyo Sonsaengnim. Lama tidak bertemu.” Katanya. Aku berdiri penuh kewaspadaan. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti. Aku ahli bela diri jadi hal ini akan kulewati dengan mudah.

“Apa yang kalian inginkan?”

Pemuda itu tertawa. Ada codet merah di pipi kanannya. Tapi aku bersumpah codet itu bukan akibat bertarung denganku.

“Skors dua minggu, dikeluarkan dari tim orchestra, kehilangan kepercayaan orang tua kami, tidakkah kau pikir perbuatanmu pada kami keterlaluan, Sonsaengnim?”

Cih, kalian pantas menerima itu setelah perbuatan licik kalian selama ini pada muridku.”

“Ah benar! Muridmu! Karena dia dan karena kau, kami harus menerima apa yang tidak perlu kami tanggung. Sudah lama aku menantikan pertemuan seperti ini denganmu, sonsaengnim. Rasanya melihatmu berdiri begitu berani di sini, kau sudah menebak apa yang akan kami lakukan padamu.”

Bocah kekar paling belakang, sudah membawa sebuah balok kayu. Tidak sebesar yang pernah menyerangku dulu, tapi aku pasti akan langsung pingsan di tempat jika dipukul oleh benda tersebut. Aku tidak tahu darimana pria yang paling belakang mendapatkan balok kayu di waktu sesempit saat aku bicara dengan pemimpin mereka, tapi dapat kusimpulkan, mereka merencanakan semua ini sejak lama.

Dendamnya sangat membara padaku.

Aku meyakinkan diriku kalau balok kayu ini dapat kutangani sampai akhirnya aku harus berpikir lebih dari dua kali. Bukan balok kayu dan tuannya yang aku takutkan. Tapi si pemuda paling depan dengan sebilah pisau tajam yang sudah dihunuskan padaku.

Aku memang ahli kendo dan judo. Tapi aku tidak pernah melawan mereka yang bersenjata seperti ini. Tidak dalam konteks nyata seperti ini.

“Bukankah itu berbahaya?” Kataku. Aku menelan ludahku saat ia tertawa terbahak-bahak.

“Aku menunggumu mengatakan itu, sonsaengnim. Ketakutanmu adalah sumber keberanian untukku. Masuk penjara setelah ini pun rasanya aku bahagia asalkan kau bisa menderita di tanganku.”

Tidak hanya satu buah pisau, pemuda di belakang bocah paling depan ini juga menggenggam sebuah linggis. Mereka tidak berniat untuk mundur dan tidak berniat hanya untuk menyakitiku. Dari gelagatnya, mereka sepertinya ingin membunuhku.

Tidak.

Tidak.

Aku tidak bisa mati hari ini.

Sebelum mereka menyerangku, biarlah aku mengambil langkah pertama terlebih dahulu. Aku menyerang mereka dengan tangan kosong. Kakiku mendarat di bahu bocah tengik paling depan, tapi tubuhnya terlalu kekar untuk kutaklukan. Ia menangkap kakiku dengan tangannya kemudian memelintir dan membuang tubuhku layaknya sampah.

Aku terjerembab di atas tanah.

Kekuatan mereka meningkat dua kali dari terakhir kali aku melawannya. Mungkin saja selama dua minggu di skors, mereka berlatih keras untuk hari ini.

Menyeramkan.

Jatuh di atas tanah rasanya tidak terlalu sakit dibandingkan jatuhnya harga diriku. Aku menyerang lagi, kali ini balok kayu adalah lawanku. Aku menendang dada si tuannya hingga bocah itu terpental ke belakang. Balok kayu terlepas dari tangannya. Aku menangkap benda berserat tersebut kemudian menggunakannya sebagai senjata melindungi diri.

Bocah dengan linggis berusaha menyerangku ketika ia menemukan celah kecil. Untuk beberapa serangan, itu meleset. Tapi tepat di serangan terakhir, serangan linggisnya mampu memecah balok kayu yang kugenggam menjadi dua bagian. Tanganku ikut terpukul keras hingga aku merasakan tulang lenganku linu.

“Brengsek.” Gumamku. Aku berdiri tapi tepat saat itu linggisnya hendak mendarat di tengkukku. Pria dengan pisau yang masih belum menyerang tertawa di kejauhan. Aku bersumpah, aku sangat muak melihat gigi kuningnya di sana.

Aku bukannya tidak berdaya, aku hanya menunggu saat yang tepat.

Dan saat yang tepat, artinya sekarang.

Saat linggis akan menyentuh tengkukku, aku berputar dan menyabet kaki si pemukul dengan kakiku. Seperti permainan sliding tackle dalam sepakbola. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke depan dengan hidung yang menyentuh tanah. Linggisnya terlepas dari genggamannya dan aku buru-buru membuangnya jauh-jauh. Tidak boleh ada lagi yang memakai benda ini untuk tujuan keji, pikirku.

Dua sudah kulumpuhkan.

Aku sempat berbangga hati dan menepuk-nepuk tanganku dengan penuh kemenangan. Aku lupa, bahwa masih ada seorang lagi yang menguarkan aura hitamnya di belakang tubuhku. Saat aku baru menyadari hal tersebut, pemuda dengan pisau sudah berlari dengan pisau yang menghunus tajam ke arahku.

Buruk.

Ini sangat buruk.

Aku tidak boleh mati saat ini.

Aku benar-benar tidak boleh.

Tapi apa yang harus kulakukan? Kenapa kaki ini tidak mau bergerak? Kenapa aku berkeringat? Kenapa aku ketakutan?

Siapapun,

Tolong aku!

.

.

Siapapun,

Tolong aku!

DUAGH!

BRUGH!

Pandangan mataku sempat tidak fokus karena gemetar. Aku melihat seorang pemuda dengan celana jeans dan kaus longgar berhasil memukul mundur pemuda dengan pisau yang akan menyerangku. Ada suara geraman dan umpatan kasar dari mulut si penyerang tapi pemuda dengan kaus longgar menutup mulutnya dengan melakukan hantaman keras tangannya.

Pemuda-kaus-longgar tersebut juga sudah berhasil melucuti senjata yang ada pada Si Kekar Pemarah. Ia masih melawan tapi dengan sekali lagi tendangan, murid brengsek itu sudah terkapar tidak berdaya.

Aku berkedip. Pandangan mataku kembali normal. Tapi saat aku berdiri, kakiku tidak dapat bekerja sebagaimana biasa. Aku terjatuh lagi karena lemas. Mungkin ini efek karena aku terlalu paranoid sesaat tadi.

Pemuda yang menolongku berjalan ke arahku. Aku menundukkan kepalaku kemudian mengangkatnya kembali setelah mengucapkan terima-kasih.

Dan begitulah, aku seharusnya tidak menatap pemuda tersebut.

Sekarang aku benar-benar kaget.

Kim Jongin ada di depanku.

.

.

“Terima-kasih sudah menolongku, Jongin-ssi.” Kami berjalan bersisian. Tadinya Jongin membawaku ke rumah sakit tapi aku menolak karena beberapa alasan yang kubuat-buat. Masalahnya adalah, rumah sakit yang ia tunjukkan adalah rumah sakit yang sering didatangi oleh keluargaku. Akan menjadi masalah jika pegawai di sana mengenali wajahku dan berbicara yang tidak-tidak.

“Siapa mereka?”

“Eh? Siapa yang siapa maksudmu?”

“Mereka yang menyerangmu, siapa? Penagih hutang?”

Aku tersinggung saat ia menyebutkan kata penagih hutang. Memangnya ada tampang seperti penghutang yang melarikan diri dalam wajahku?

“Kau tidak ingat? Itu bocah brengsek yang kau lawan saat kasus Ren sebulan yang lalu. Mereka sangat dendam padaku karena melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah.” Kataku.

Ia menghela napasnya. “Seharusnya dari awal kau tidak usah mencampuri urusan pribadi murid-muridmu, sonsaengnim.”

“Masalah mereka masalahku juga. Sama sepertimu, seharusnya masalahmu adalah masalahku juga selama kau masih muridku.” Kataku dengan mata berbinar. “Tapi Jongin-ssi, omong-omong dari mana kau tahu aku ada di sana saat itu?”

Ini mataku saja yang salah, atau memang Jongin benar-benar terlihat salah tingkah? Baru kali ini aku melihatnya menghindari kontak mata denganku. Ia bahkan berdeham beberapa kali dan menggaruk kepalanya yang entah apa benar gatal atau tidak. Ditambah lagi ia bahkan mengalihkan topiknya. Ia terus saja berganti-ganti topik walaupun aku tidak berminat membicarakannya.

Aku baru menyahut ketika ia menyebutkan nama Jongup dalam kalimatnya.

“Kau bertemu dengannya?” Kataku.

“Sebenarnya aku yang menemuinya. Aku tahu rumahnya.”

“Kau menemuinya? Apa yang terjadi? Bukankah kau tipe bocah yang tidak memiliki teman?” Kataku. Jongin mengecapkan lidahnya dengan jengah jadi aku buru-buru memperbaiki kalimatku. “Ups, maaf soal yang terakhir. Tapi benarkah kau menemuinya, Jongin-ssi?”

“Benar. Aku tidak berbohong. Aku sering terlambat ke sekolah, menurutmu apa yang membuatku dapat mengejar ketinggalan selama ini?”

“Apa yang kau bicarakan?”

Sonsaengnim, Jonguplah yang selama ini meminjamkan buku catatannya padaku. Aku sering ke rumahnya untuk mengembalikan semua catatan itu. Kenapa aku terlihat tidak begitu dekat dengannya saat di sekolah? Itu semua karena aku yang memintanya. Jongup adalah seorang teman yang baik. Akan sangat berbahaya untuknya jika ia berada di sekitarku.”

“Ke—napa?”

“Sampai di sana saja sekilas ceritaku dan Jongup. Pokoknya kita harus ke sana sekarang sebelum Jongup melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Kenapa bocah itu akan melakukan hal yang tidak-tidak? Dia bukan bocah seperti itu.”

Sonsaengnim,” Jongin menatapku. “Sudah kubilang, aku menemuinya dua hari yang lalu. Saat itu ia menunjukkan sebuah surat padaku. Ia menangis karena surat itu, ia terlihat sangat depresi.”

Aku mengerutkan dahi.

“Surat apa itu?”

Drop Out. Jongup dikeluarkan dari sekolah.”

.

.

Aku kini berlari kencang mengikuti Jongin. Salahkan saja ponsel Jongin saat itu. Ketika aku berbicara dengannya, tiba-tiba saja sebuah pesan singkat yang asalnya dari Jongup muncul di ponsel Jongin.

Jongin-ssi, terima-kasih untuk selama ini.

Buruk.

Ini seperti sebuah kalimat perpisahan. Jongup sedang berpikir yang tidak-tidak saat ini dan aku tidak memiliki waktu untuk ragu. Meskipun tubuhku masih sakit karena perkelahian sengit dengan beberapa bocah brengsek sebelum ini, aku masih harus berlari untuk melibatkan diri dalam kasus Jongup.

Kelasku terdiri dari tujuh orang murid, dan aku tidak boleh kehilangan satu pun dari mereka. Mereka harus bertahan sampai ujian nanti, mereka harus berhasil!

“JONGUP-AH! MOON JONGUP!”

Jongin langsung berteriak dan menggedor pintu apartemen Jongup ketika kami sampai. Ia terus berteriak hingga dua petugas keamanan gedung mendatangi kami. Aku menceritakan apa yang kami tahu, petugas tersebut langsung sibuk menghubungi seseorang melalui walkie-talkienya.

Kemudian salah seorang petugas dengan seragam cokelat muda datang. Ia mengutak-atik panel password yang ada di pintu apartemen Jongup. Jongin sudah tidak terkendali dan berlari saat akhirnya pintu tersebut dapat terbuka.

Aku mengikuti Jongin dan berlari kemana-mana. Kami akhirnya berhenti dan menarik napas ketika Jongin berhenti di kamar mandi. Aku menyibakkan tirai mandi yang mengelilingi bathtub. Air masih menyala-nyala. Jongup berbaring di sana dengan mata terpejam.

Aku sering seperti ini ketika aku melakukan relaksasi di kamar mandi. Tapi Jongup, keadaannya sungguh berbeda. Kalau bathtubku biasanya dipenuhi air berbuih, bathtub Jongup sudah dipenuhi air kemerahan.

Darah.

Jongup berusaha memotong nadinya sendiri.

.

.

Noona!

Sehun menghampiriku dengan terengah. Dari penampilannya yang acak-acakan, aku tahu bahwa ia sangat terburu-buru. Omong-omong pemuda ini adalah yang paling terakhir datang ke rumah sakit karena jarak rumahnya yang jauh.

“Bagaimana keadaan Jongup?” Katanya. Aku menggeleng. “Kritis. Ia kehilangan banyak darah.”

“Sudah meminta bantuan pendonor?”

“Darahnya cukup langka. Tipe O. Bank darah tidak memiliki darah sebanyak yang diperlukan Jongup.” Kataku. Aku mencoba berdiri dan kursi tunggu tapi aku sangat lemah hingga Junhong harus menahan tubuhku agar tidak jatuh. Golongan darahku O, dan aku baru saja menyumbangkan beberapa liter darahku. Aku memaksa mereka agar mengambil lebih banyak lagi darah, tapi mereka melarangku karena sudah melebihi batas kewajaran. Katanya aku akan kekurangan darah jika mereka terus melakukan ini padaku.

“Kau harus pulang, noona.” Kata Junhong. Aku juga setuju, tapi melihat Jongin yang sangat terpukul aku bimbang juga. Ren yang mendampingi Jongin sepertinya sudah kekelahan karena pria itu terlihat sangat depresi. Aku tidak bisa meninggalkan mereka di saat mereka adalah tanggung-jawabku.

“Tidak. Aku akan berada di sini.” Kataku. Junhong memapahku untuk duduk kembali. Tapi aku minta untuk duduk bersama Jongin, berpisah bersama pemuda-pemuda lainnya. Ren kuminta kembali sementara aku menggantikan posisinya.

“Jongin-ssi…”

“Dia tidak akan mati. Kau juga berpikir demikian, sonsaengnim?”

Aku meletakkan tanganku di bahunya. “Apapun yang akan terjadi padanya, itu bukan salahmu.”

“Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Seharusnya aku membantunya bicara dengan kepala sekolah.”

Aku menggigit bibirku. Mengapa aku sampai membiarkan ini terjadi di saat aku seharusnya menjadi pelindung mereka?

“Jongin-ssi...”

“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada Jongup. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika hal yang buruk ini benar-benar terjadi. AKU—“

Plak.

Ren, Junhong, Sunghae, Ilhoon dan Sehun menatap kami dari kejauhan. Mereka sepertinya penasaran atas apa yang terjadi padaku dan Jongin.

Benar. Aku baru saja menamparnya.

Jongin dengan mata merahnya menatapku. Ia setengah bingung, setengah kaget.

Sonsaeng—“

“Pulanglah dan dinginkan kepalamu.”

“Yuri sonsaeng—“

“KUBILANG PULANGLAH!”

Ceklek

Pintu utama ICU terbuka. Seorang dokter muncul. “Siapa yang menjadi wali dari pasien Moon Jongup-ssi?”

Aku berdiri dengan refleks. “Aku.”

“Kau keluarganya?”

“Aku gurunya.”

“Aku perlu bicara dengan keluarganya.”

“Dia hidup sebatang kara. Kamilah keluarganya.” Kataku.

Dokter muda itu terlihat memerhatikanku dengan teliti. “Aku sepertinya mengenalmu.”

Tentu saja ia mengenalku. Dokter ini adalah dokter yang pernah beberapa kali ke rumah dan mengontrol penyakit diabetes dan kolesterol ayahku. Pastilah ia pernah melihat wajahku sekali atau dua kali saat ia bertandang ke rumah. Tapi ia tidak boleh mengatakannya di sini. Sama sekali tidak boleh. Sebelum semuanya terlambat, aku mengalihkan topiknya.

“Bagaimana keadaan muridku, dokter?”

Ia tersenyum. “Oh benar, pemuda itu bertahan dengan baik. Ia hanya butuh beristirahat selama tiga atau empat hari. Akan lebih bagus jika ia ditemani orang-orang yang dapat mengembalikan kepercayaan dirinya. Karena ini kasus percobaan bunuh diri, ia akan memerlukan bantuan psikiater dan orang-orang yang dekat dengannya.”

Aku bisa bernapas lega mendengar ini. Aku mengucapkan terima-kasih berkali-kali pada dokter tersebut sebelum ia pergi. Keenam muridku tersenyum padaku. Yang paling gembira? Tentu saja Jongin. Kini ia memandangku. Sebelum air matanya menetes, ia memelukku dengan hangat.

Aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Dan aku tahu seperti apa rasa bahagianya.

.

.

Sonsaengnim, maafkan aku.”

Sehari setelah Jongup sadar, aku menemuinya. Segera setelah jam belajar selesai, aku dan enam muridku bergegas mengunjunginya. Jongup benar-benar tidak memiliki siapapun jika kami tidak bergiliran menjaganya. Tapi justru hal inilah yang paling menyenangkan.

Hubungan kami menjadi lebih dekat karena ini.

Jongin sudah mulai terbiasa dengan candaan yang dilontarkan Sungjae meskipun menurutku itu sangat kekanak-kanakkan. Ilhoon dan Ren sudah mulai bicara layaknya pria dengan pria. Sehun dan Junhong belakangan menjadi sangat akrab. Mungkin ini akibat Junhong yang dikenal sangat populer di kalangan wanita mencoba mengenalkan Sehun pada teman-teman wanitanya.

Tapi yang paling kusukai adalah, bagaimana mereka memperlakukanku sebagai teman sekaligus guru yang paling diinginkan.

Aku diperlakukan seperti dewi, di dalam kelas maupun setelahnya. Ketika ada ahjussi dengan tampang Choi Minsoo yang mengajar kelas dasar-dasar musik menggodaku, merekalah yang membuatnya kapok. Aku ingat betul ketika ahjussi itu dipermalukan karena ketahuan menyimpan gambar tidak senonoh di komputernya. Belum lagi adegan di mana ia dimarahi oleh istrinya di depan umum.

Yang melakukannya? Tentu saja bocah-bocah nakal ini.

“Kau tidak perlu minta maaf padaku. Kau tidak melakukan sesuatu yang salah. Kalau ada yang perlu meminta maaf, itu pastilah aku, Jongup­-ssi. Aku hampir gagal menjadi gurumu kalau kau sampai tidak tertolong.”

Jongup tersenyum padaku.

“Kau mengajar dengan sangat baik, sonsaeng—ani—noona.”

“Tentu. Aku Kwon Yuri.” Kataku dengan sedikit candaan.

“Tapi, Jongup-ah, apa benar ibuku mengeluarkanmu dari sekolah?” Tanya Sungjae. Aku sudah melarangnya bertanya hal seperti itu saat ini, tapi mulut Sungjae seperti yang kuduga, tidak memiliki rem pakem.

Lihat saja ekspresi Jongup yang perlahan berubah.

“Kau tidak perlu memikirkan—“

“Itu benar.” Jongup menyela. “Aku sudah memohon agar mereka memberi waktu tambahan untukku memperbaiki diri, tapi katanya waktu enam bulan percobaanku sudah habis. Aku dikeluarkan. Salahku juga, aku tahu aku tidak memiliki bakat di bidang seni, tapi aku terlalu semangat menunjukkan bahwa aku bisa. Ini akhirnya yang kudapatkan.”

Jongin membangi tatapannya denganku. Ia melarangku untuk mengomentari apapun. Tapi aku bukan Kwon Yuri yang suka diatur. Meskipun mustahil atau perlu ketekunan tingkat tinggi, aku pasti akan membantunya. Harga diriku dipertaruhkan, tanggung-jawabku berada di lini depan.

Aku tidak akan berhasil jika Jongup dikeluarkan di saat-saat seperti ini. Pagelaran seni tinggal sebulan lagi dan aku tidak bisa mengubah personil menjadi enam orang. Untuk itu, aku perlu mengatakan sesuatu.

“Suaramu cukup bagus dan kau memiliki badan yang lentur. Kau masih sangat berbakat untuk berada di ujian akhir.” Kataku. Ren tersenyum ke arahku sedangkan Ilhoon melipat tangannya sambil membagi pandangan puasnya denganku.

“Aku sudah dikeluarkan, noona. Aku bukan bagian dari kalian sekarang. Pagelaran seni atau apapun itu, aku tidak dapat mengikutinya karena aku bukan murid lagi di Melody.”

“Jongup-ssi, kau tentu tahu hobiku bukan? Aku suka sekali melakukan hal-hal yang mustahil. Jika kau anggap membuatmu kembali menjadi murid dan mengikuti ujian akhir adalah mustahil, maka itu keahlianku. Aku Kwon Yuri, apa kau lupa? Dan…”

Aku mengedarkan pandanganku pada murid-murid tengikku ini. “Kalian U-17! Apa yang sekolah tidak bisa lakukan, kalian pasti bisa. Aku ada di sini, untuk memastikan hal itu terjadi. Serahkan semuanya padaku.”

.

.

Aku baru saja keluar dari gudang bekas tempat di mana Junhong belajar menari. Aku mengantarkan Jongup ke sana karena kupikir dia berbakat untuk menari. Awalnya aku hanya berasumsi saja bahwa ia pandai menari, tapi setelah aku melihatnya menari saat kami berdelapan pergi ke karaoke untuk merayakan kesembuhannya, aku ternganga.

Kemampuannya hampir sama dengan Junhong. Mungkin hanya beberapa polesan sedikit agar tubuhnya lebih luwes. Junhong kupercayakan dalam tugas ini.

Kenapa aku membuatnya belajar menari di tengah-tengah kesibukan kami menyiapkan pementasan?

Well, mungkin ini akan sangat mengejutkan. Tapi aku menyiapkan konsep yang berbeda dari sebelumnya. Kami tidak akan membuat pagelaran orchestra, opera atau apalah itu. Ada lebih dari dua puluh kelas di tingkat akhir, dan akan sangat membosankan jika penonton yang hadir nanti hanya disuguhkan gaya musik dan pementasan yang sama.

Aku membuat sedikit perubahan. (atau mungkin banyak.)

Menggabungkan kemampuan menari, menyanyi, bermusik dan berakting, aku membuat sebuah drama musikal yang berbeda dari yang sudah-sudah. Jika menari tango dan ballet adalah sebuah keharusan untuk mendukung sebuah opera. Maka aku menyuguhkan street dance.

Ren menentangku pada awalnya. Tapi sejak kejadian di karaoke itu—dimana Junhong, Jongin dan Jongup terlibat sebuah dance battle dengan iringan rap dari Ilhoon dan Sehun—mungkin ia berubah pikiran.

Musik yang dibuat oleh Ren dan Ilhoon beatnya juga diubah. Liriknya memuat beberapa bagian rap dan instrumen hip-hop, kesukaan Ilhoon.

Sungjae tetap didapuk sebagai vokalis. Tapi beban menyanyinya berkurang karena beberapa part yang diubah menjadi rap dan dance session.

Aku cukup puas dengan konsep ini.

Aku sudah mengajukan proposalnya pada Si Gendut Bau. Ia tentu saja memarahiku habis-habisan. Bahkan kemarin ia memarahiku di depan para guru. Ia mengancamku akan menghentikan pendanaan pada proyek pementasan ini jika aku bersikeras menggunakan konsep ini.

Aku menantangnya. Aku membiarkannya.

Saat ini baru terasa bahwa suntikan dana itu perlu juga.

Noona.” Aku menoleh ke belakang dan melihat Jongin berlari ke arahku. Ia membawakan sebuah cokelat dengan pita merah muda di atasnya. “Untukku?” Tanyaku. Ia mengangguk.

“Terima-kasih. Tapi aku tidak sedang berulang-tahun, Valentine juga masih lama.”

“Ini hanya ucapan terima-kasihku. Kau melakukan tugasmu sebagai guru dengan sangat baik.” Katanya. “Bolehkah aku berjalan denganmu?”

“Tentu.” Aku tersenyum padanya.

AH, bicara soal Jongin. Dia semakin aneh padaku. Tatapannya tidak sedingin biasanya. Ia malah cenderung lebih sering berbicara denganku dan bercanda bersamaku beberapa hari ini. Ia menceritakan kehidupannya, keluarganya dan beberapa hal yang tidak pernah kuketahui soal mengapa ia senang sekali berkelahi.

Penagih hutang. Aku dikejar-kejar oleh mereka. Ibuku sangat sakit-sakitan dan dalam kondisi yang tidak baik. Sejak ayahku meninggal, kami kehilangan segalanya. Tapi sebenarnya kami tidak akan menyedihkan seperti ini jika saja ayah tidak melakukan kesalahan besar pada keluarganya dahulu. Mungkin ini karma.

Saat ia menceritakan hal tersebut. Aku memancingnya juga untuk menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya.

Ia diusir dari keluarganya yang kaya raya karena ketahuan mencelakai saudara kembarnya sendiri. Aku sangat membencinya karena hal tersebut. Ia membuat ibu menderita selama ini. Tapi ketika ia meninggal, aku merasa menyesal telah membencinya. Ia menangis di hadapanku sambil meminta maaf. Aku kacau sejak saat itu. Setiap aku melihat fotonya aku menjadi tidak terkendali. Hal yang sama juga selalu terjadi padaku ketika aku melihat foto saudara kembarnya terpampang di surat kabar. Dia orang yang sangat terkenal dan sukses. Sangat berbeda dengan ayahku. Jika aku bisa diberi kesempatan bertemu dengannya, aku ingin sekali mengatakan apa yang ayahku katakan di saat-saat terakhirnya. Tapi aku menyadari, kesempatan itu tidak akan mungkin datang untukku.

Saat itu aku menyadari bahwa, yang Kim Tan maksudkan selama ini adalah Kim Jongin.

Dialah sepupu yang selama ini kucari-cari.

Aku berniat memberitahukannya tentang siapa aku dan siapa dirinya. Juga seperti apa hubungan kami. Tapi keadaan menjadi sangat rumit sejak cokelat ini berada di tanganku. Beberapa hari lalu, Jongup memberitahuku kondisi yang kompleks.

Noona, jangan marah mendengar ini.

Apa?

Seseorang menyukaimu.

Siapa?

Jongin. Bocah itu sudah lama menyukaimu sejak kau datang kemari.

Karena kondisi kompleks inilah, aku jadi menunda waktu untuk memberitahukannya soal identitasku. Jika ia tahu kami adalah sepupu, bagaimana aku bisa menyusun hatinya kembali? Lagipula, meskipun kami bukan sepupu, aku hanya menganggapnya sebagai murid, tidak lebih. Hatiku sudah lama dicuri oleh orang lain, tapi bukan Jongin.

Noona…” Jongin memanggilku. Kami sudah sangat jauh dari gudang tempat latihan Junhong. Meksipun aku mendengar Jongin memanggilku, aku tidak berniat membalasnya. Ia memanggilku untuk kedua kalinya. Kala itu tangannya sudah bertaut di antara jemariku.

“Aku ingin mengatakan ini sejak lama, tapi—“

“Jongin-ssi, sepertinya akan hujan. Apa kau membawa payung?” Aku mengalihkan topik. Aku tahu dia akan mengatakan apa dan aku tidak ingin mendengarnya. Mendengarkannya sama saja membuat hatinya semakin sakit. Dan aku tidak ingin menjadi penyebab hati pemuda itu sakit.

Noona-ya,” Ia mengembalikan topik lagi. “Apa kau bisa meluangkan tiga detikmu untuk mendengarkan ini?”

“Jongin kau mulai menggunakan banmal.” Kataku mengalihkan topik kembali.

Noona!”

“Jongin-ssi, jangan meneriakiku. Aku gurum—“

“Aku mencintaimu.”

Hening.

Aku tidak bohong soal hujan. Sekarang air langit itu tumpah ruah ke atas tubuh kami, membasahi kami. Jongin menggenggam erat tanganku. “Aku mencintaimu. Aku tidak menganggapmu sebagai guru, karena kau seorang wanita di mataku. Aku sudah lama menyukaimu.”

Aku melepaskan diri dari tangannya. “Jongin-ssi, sekarang kau mulai keterlaluan!” Kataku. Aku mencoba meninggalkannya, tapi ia malah memelukkku dari belakang. Tubuhnya yang cukup kuat menahanku—si ahli beladiri ini. Ia membisikkan kalimat itu lagi. Ia mengatakannya lagi.

“Aku mencintaimu, Noona. Aku mencintaimu.”

Aku seharusnya bahagia jika orang lain yang mengatakannya. Tapi ini Kim Jongin. Bagaimana bisa ia memiliki perasaan seperti ini pada sepupunya sendiri? Apa yang akan dikatakan Kim Tan dan ayahku nantinya? Apa pendapat mereka soal ini?

Buruk.

Pasti akan menjadi lebih buruk.

Aku tidak bisa membuat hidupnya menjadi sangat sulit jika ia tetap begini. Sekarang pilihanku terbatas pada dua poin. Menyakitinya sekarang, atau menyakitinya pelan-pelan di lain hari.

.

.

Jongin-ah mianhae.”

Aku tahu bagaimana rasanya ditolak. Mungkin hati Jongin sudah retak-retak sekarang. Ia melepaskan tangannya dari tubuhku di saat aku berbalik dan menatap wajahnya.

“Aku tidak bisa.” Kataku lagi. Hujan seperti menyahuti panggilan kesenduan yang asalnya dari hati Jongin. Aku juga sangat berat mengatakan ini. Tapi sebelum aku membunuhnya pelan-pelan dalam berjalannya waktu, aku harus melakukan ini sekarang. Jongin mungkin akan marah dan sangat kecewa padaku, tapi ia harus tahu ini.

“Aku tidak bisa bersama denganmu saat ini. Kau masih muda dan—“

“Tunggulah aku dua atau tiga tahun lagi. Jika saatnya tiba, aku akan sepadan denganmu. Aku akan menjadi pria yang tampan untukmu! Tapi jangan membuat hatiku berantakan seperti ini.”

Ia memohon padaku. Sorot matanya… ah… aku berada di posisi yang sulit.

“Jongin-ah…”

“Jangan memaksaku untuk tidak mengharapkanmu, noona. Apapun yang kau katakan hari ini, aku akan membuatnya berubah suatu hari.”

“Jongin, kau harus mendengarkan aku!”

“KAU YANG HARUS MENDENGARKAN AKU!” Ia berteriak kencang. Aku melihat seorang pria melintas di belakang Jongin, tapi ia menyembunyikan tubuhnya segera sehingga aku tidak melihat wajahnya. “Kau yang harus mendengarkan hatiku, Noona.” Tambahnya lirih.

Jongin menangis.

Bocah nakal ini menangis di hadapanku.

Sampai kapan ia harus begini? Apa yang harus kulakukan? Dia benar-benar mencintaiku, ini bukan bualan.

Bawalah dia kemari. Kita akan membuatnya sebagai bagian dari keluarga besar Kwon kembali. Apapun resikonya.

Kalimat Kim Tan terngiang kembali di dalam telingaku. Benar! Ini adalah urusan yang lebih besar. Aku tidak bisa lagi membuatnya mengharapkan jawabanku. Apa yang membuat ia suka padaku, aku akan membuatnya tidak suka lagi. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, maka aku harus mengubahnya dengan cara Kwon Yuri.

“Maaf Jongin-ah. Sepertinya kau salah paham dengan semua kebaikanku.” Aku melepaskan tangannya dari tanganku. Ia menatapku sekaligus mengatur tangisannya agar bisa mendengar suaraku. Di bawah hujan, aku mengatakan ini :

“Aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku tidak suka pria miskin sepertimu. Maaf saja.”

.

.

Noona, kudengar kau berhasil meyakinkan kepala sekolah soal keikutsertaan Jongup dalam ujian akhir. Bagaimana kau melakukannya?

Aku menerima sebuah pesan SNS dari Sungjae. Ah aku pegal sekali. Apakah aku harus bercerita tentang ayahku yang tiba-tiba mendatangi Si Gendut Bau dan menceritakan semuanya soal aku yang ditugaskan di sana serta hubungan keluarga kami dengan Jongin? Tentu aku tidak akan melakukan itu.

Sungjae adalah satu-satunya mulut bocor di dalam kelasku.

Lagipula sejak kejadian hujan-hujanan itu, meskipun aku dan Jongin bertemu di kelas, tidak ada percakapan berarti yang terjadi di antara kami. Dia hanya datang dan mengikuti latihan sebagaimana biasa dan aku hanya memerhatikan murid-muridku dengan perasaan aneh.

Persiapan kami sudah hampir rampung. Tapi Ilhoon kesulitan menentukan lirik. Aku mengatakan kalau tema persahabatan adalah yang paling pas untuk mereka. Tapi ia menolak, katanya terlalu sulit untuk di buat sebuah lagu.

Saran brilian muncul dari Sehun. Ia merujuk konsep seperti drama box-office Dream High yang diperankan oleh Suzy. Lagu yang dipakai bertemakan sebuah mimpi dan cita-cita. Sehun menginginkan sebuah tema yang sama dengan feel yang berbeda.

Tentu saja hal tersebut berpengaruh pada beberapa part dalam aransemen musik. Ren bekerja keras untuk ini. Oh iya, perlu kutambahkan juga bahwa selain berbakat dalam bidang bernyanyi, Sungjae ternyata mahir betul bermain alat musik. Meski tidak selihai Ren tapi pengetahuannya cukup luas dalam bidang musik.

Kadang mereka berkonsultasi denganku. Aku menawarkan beberapa alternatif namun keputusan akhir biasanya akan ditentukan oleh mereka bertujuh sendiri.

Karena kejadian yang menimpa Jongup serta kunjungan dadakan dari ayahku, dewan sekolah memundurkan waktu pelaksanaan sehingga waktu persiapan lebih matang. Dewan sekolah tentunya tidak mau acara ini akan berantakan dengan ayahku sebagai salah satu penontonnya. Mereka juga mulai mengucurkan dananya kembali pada timku.

Chaebol memang memiliki kekuatan yang luar biasa di Korea.

Ting.

Sebuah pesan SNS masuk lagi. Kali ini dari Sehun.

Noona, kami akan merekam konsep ini dalam sebuah video besok. Kau akan datang?

Aku tersenyum. Aku membalasnya.

Mianhae, aku sedang tidak enak badan. Kalian lakukan sendiri ya. Hwaiting.

Aku melemparkan ponselku di atas kasur kemudian menenggelamkan wajahku di antara bantal-bantal. Ponselku berbunyi lagi. Aku sudah malas untuk melihatnya, tapi aku khawatir kali ini penting.

Aku membaca ID si pengirim, itu Ilhoon.

Noona, Sungjae sudah memberitahumu? Akan ada perjamuan makan malam  hari ini, semua tim hadir. Dewan sekolah dan kepala sekolah akan berada di sana. Kau akan datang kan?

Membaca itu. Aku jadi tidak berselera. Perjamuan makan adalah hal yang paling membosankan di dunia ini. Aku tidak memunyai waktu untuk ikut acara semacam itu. Lagipula, makan malam akan menambah berat badanku. Joldae andwae.

Aku tidak bisa melakukan ini.

Mianhae, aku benar-benar sedang tidak enak badan. Kalian bisa ke sana tanpa aku kan?

Ah, aku benar-benar lelah. Memberitahu mereka nomor ponselku dan ID SNS ku rasanya tidak benar. Mereka terus saja menghubungiku siang dan malam tanpa henti. Satu per satu bergantian.

Apa semua guru seperti aku?

Tok Tok Tok.

Oke, kali ini apa lagi?

“Siapa?” Kataku.

“Ini aku.” Suara Kim Tan.

“Masuklah, Oppa.”

Kim Tan membuka pintu dan berjalan ke arah tempat tidurku. Aku masih berbaring dengan ponsel yang membangkai di dekat kepalaku. Kim Tan meletakkan sebuah tas belanja di atas ponselku hingga aku berteriak.

“Ini ponsel mahal, Oppa. Ayah tidak akan memberikanku ponsel yang sama dua kali.” Protesku. Aku bangun dan menyingkirkan tas tersebut. Karena penasaran, aku malah melongok isinya. Sepertinya itu baju. “Ini apa? Kau membelikannya untukku?”

“Harganya hampir seharga ponselmu, jadi berterima-kasihlah.”

Omo. Apakah aku berulang tahun hari ini?”

“Ini bahkan lebih penting dari ulang tahunmu. Ayahmu mengajak kita untuk mendampinginya dalam acara santunan resmi perusahaan. Sebaiknya kau persiapkan dirimu dari sekarang. Kita akan berangkat pukul tujuh malam nanti.”

“Ayah tidak berbicara apapun padaku tadi.”

“Sejujurnya,” Kim Tan menghela napasnya. “Ia juga baru memberitahukanku sejam yang lalu. Sesuatu yang penting pasti telah terjadi. Jadi jangan banyak bertanya dan persiapkan dirimu. Aku tidak ingin kita terlambat karena kecerobohanmu. Mengerti?”

Aku mengangguk.

“Ya, aku mengerti.”

.

.

Jika tahu akan menjadi seperti ini, aku harusnya mengiyakan saja ajakan Ilhoon untuk menemani mereka ke acara perjamuan yang dibicarakannya. Sungguh, jika aku bilang acara perjamuan makan itu membosankan, acara resmi perusahaan itu dua kali lipat lebih membosankan lagi.

Aku harus terus tersenyum sepanjang acara dan bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah kukenal. Belum lagi acara perjodohan, pasti banyak yang akan bicara kalimat-kalimat semacam ini : Aigoo, anakmu cantik sekali. Kau harus memperkenalkannya pada Seunghoon kami saat ia kembali dari luar negeri nanti.

Atau : Yuri sudah sebesar ini sekarang? Omona, ia sangat cocok sekali dengan Minho kami.

Dan kalimat sejenis dari beberapa keluarga kaya lainnya.

Aku muak.

Tapi aku sudah tidak bisa mundur.

Aku keluar dari mobil. Ayah dan Kim Tan sudah berjalan lebih dahulu di depanku dengan beberapa pengawal dan seseorang yang rasanya pernah kulihat, tapi aku lupa.

Aku masih belum berjalan barang selangkahpun karena gaun panjang yang menurutku sangat rumit ini. Setiap aku berjalan, aku harus mengangkat kain hitam itu agar tidak kotor karena pasir. Saat aku melangkah, bagian belakang gaunku terinjak beberapa kali oleh sepatuku sendiri. Aku sangat repot sampai-sampai ikatan rambutku yang sudah sangat rapi menjadi lepas dan membuat rambutku berantakan.

“Ah sial.” Umpatku. Aku terpaksa menjinjing gaunku tinggi-tinggi saat aku menaiki tangga agar kejadian itu tidak berulang kembali. Seorang ahjussi yang sebelumnya mengantar ayahku masuk kini menghampiriku. Ia mengantarkanku ke tempat ayah di dalam gedung sana.

“Di sana, Kwon Yuri-ssi.” Katanya. Aku ditunjukkan sebuah kursi megah di belakang kursi ayahku. Kami berada di lantai dua. Di sana ada satu balkon yang menjadi pusat perhatian seluruh ballroom di bawahnya dan disitulah aku saat ini. Aku sempat penasaran mengapa ahjussi tadi mengetahui namaku, tapi sebelum aku dapat bertanya, ia telah menghilang.

“Kau ingin anggur atau yang lain?” Tawar Kim Tan.

“Air putih dengan perasan jeruk nipis rasanya akan lebih baik.”

Kim Tan mengerutkan keningnya padaku. Aku hanya membagi senyuman singkat.

Lampu diredupkan. Aku memegang segelas air putih dengan perasan jeruk nipis yang tadi kupesan pada pelayan di sana. Karena tempat dudukku berada di belakang, aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di bawah atau siapa yang sedang berbicara.

“Selamat datang dalam acara makan malam Melody High School—“

Aku menyemburkan air dari mulutku hingga Ayah dan Kim Tan serempak menoleh ke arahku.

Aku tidak salah dengar kan?

Melody High School?

Acara apa ini sebenarnya?

“Kau kenapa Yuri?” Tanya Kim Tan. Aku menoleh bagai orang idiot. “Ini—sebenarnya kita menghadiri acara apa, Oppa?”

Sebelum aku sempat menjawabnya. Aku bisa tiba-tiba mengingat identitas ahjussi yang tadi mengantarku. Oh, itu salah satu guru mata keranjang yang sering kutemui di ruang guru. Belum lagi saat ini aku bisa melihat Myungsoo dalam balutan jas hitamnya yang berjalan merunduk untuk diam-diam menempati kursinya tepat di belakang kursiku.

“Oh, Yuri-ssi kau datang?” Katanya. “Kudengar dari Sungjae, kau sakit.”

Kim Tan menatapku dan aku memberinya kode agar ia tidak ikut campur.

“Ah, itu—iya, tapi sekarang sudah agak lebih baik.” Kataku berbohong. Ia menatapku beberapa detik, kemudian menatap kursi yang ditempati Kim Tan, tepat di sebelahku.

“Tapi kenapa kau duduk di sana, tempat guru di barisan ini, Yuri-ssi.” Katanya. Aku tidak menjawabnya. Malahan aku berakting seolah tidak mendengarkan.

Ingat soal Ilhoon yang mengajakku ke acara jamuan makan atau apapun itu? Sepertinya yang ia maksudkan adalah acara ini.

“Mari kita dengarkan sambutan dari salah satu penyandang dana pagelaran nanti, Kwon Yi Soo.”

Eh? Apa katanya? Sambutan?

Sebentar.

Biarkan aku berpikir terlebih dahulu.

Ayahku, Kwon Yisoo memberi sambutan di acara sekolah Melody High School. Di mana saat ini sudah hadir seluruh murid-murid sekolah tersebut tanpa terkecuali. Yang artinya, Kim Jongin melihat ini. Tidak. Tidak.

Identitas ayahku mungkin bisa terbongkar saat ini, tapi identitasku masih bisa terselamatkan.

Aku mengangkat gaunku dan menyelinap keluar diam-diam.

“Kau akan pergi sekarang, Yuri-ssi?” Aku lupa soal Myungsoo. Dia tepat di belakang kursiku dan tentu saja ia melihatku yang akan melarikan diri. Mungkin otaknya dipenuhi pertanyaan tapi sayang sekali aku tidak bisa menjawabnya saat ini.

“—Melody telah banyak berjasa pada keluargaku. Aku dan keluarga besar kami juga sudah lama bekerja-sama dengan Melody. Kami sangat berterima-kasih bahwa sekolah ini terus mencetak musisi-musisi yang hebat setiap tahunnya. Tahun ini, aku kembali mendukung sekolah ini. Ada beberapa hal yang menarik perhatianku—“

Tunggu, ayah tidak berencana membeberkan semuanya kan?

Aku bergegas pergi. Tapi kakiku tersandung bagian depan gaun sehingga tubuhku limbung dan terjatuh ke pangkuan Kim Myungsoo. Lampu semakin redup kemudian aku melihat proyektor dinyalakan. Profil Melody yang dipersiapkan oleh ayah sedang diputar di sana.

Tapi posisiku sedang sangat bahaya saat ini.

“Ah—ma—maaf Myungsoo-ssi. Aku—tidak sengaja.” Kataku. Myungsoo adalah pria Legolas yang kusukai, meskipun begitu, aku tidak bisa berlama-lama berada di pangkuannya saat ini. Melarikan diri adalah hal yang paling utama dalam hidupku.

Tanpa menunggu kata ya, tidak apa-apa dari Kim Myungsoo, aku berdiri dan melanjutkan aktivitas melarikan diriku. Tapi benar kata orang tuaku saat aku kecil dahulu, bahwa, tidak semua jalan kehidupan terjadi seperti apa yang kita inginkan.

Ungkapan itu terjadi padaku.

Maksud hati ingin pergi, tapi Myungsoo menarikku dan membawaku tetap di dalam pangkuannya. Tidak berhenti sampai di sana. Hatiku berdebar-debar saat tangannya menyentuh wajahku. Ia menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya, hidungku mendarat di tulang pipinya.

Bukan aku yang melakukannya.

Ia yang menarikku ke dalam pelukannya.

Hingga bibir kami bersentuhan dan dadaku berdegup sangat kencang.

Aku memang mempesona, kuakui. Tapi bagaimana bisa Myungsoo jatuh hati padaku hanya dalam waktu sebulan belakangan ini? Aku bahkan belum sempat menunjukkan pesonaku yang sebenarnya.

Tapi tunggu,

Apakah ini hanya jebakan?

Apakah ini semacam permainan otak?

Ah tidak juga. Myungsoo bahkan tidak tahu aku akan hadir kali ini. Jadi ini tidak mungkin sesuatu yang ia rencanakan. Jadi, apa ini?

Apa ia sedang menunjukkan isi hatinya padaku.

Myungsoo melonggarkan pelukannya dariku. Ia melepaskan tautan bibir kami. Aku memandangnya namun ia tidak mengatakan apapun, seperti maaf misalnya. Aku harus berterima-kasih atas lampu yang kelewat redup ini. Tidak ada seorangpun yang melihat kejadian barusan.

Aku tidak bisa terus duduk di pangkuannya kalau ingin selamat. Meskipun tadi itu mengejutkan, aku harus kembali mengatur emosiku. “Aku—permisi—“ Kataku.

Aku bergegas meninggalkan pemuda itu dan menuruni tangga. Aku menutupi wajahku dengan nampan yang kutarik dari seorang waiter yang kebetulan melintas berpapasan denganku. Aku menuruni tangga demi tangga dengan hati-hati dan tanpa ketahuan. Aku bisa menentukan posisi murid-muridku dari jarak ini. Tujuh bocah nakal itu benar-benar hadir dan mendengarkan sambutan dari Ayah.

Tapi yang paling menarik perhatianku adalah wajah Kim Jongin. Kupikir itu wajah amarah karena keluarga yang mengabaikannya dahulu kini tiba-tiba muncul di hadapannya. Tapi setelah kuteliti, Jongin malah menunjukkan wajah yang penuh dengan guratan kerinduan. Ada air mata di pelupuk matanya yang beberapa kali ia seka sebelum benar-benar terjatuh.

Mungkin masuk akal baginya untuk merindu. Wajah ayahku, memang sangat mirip dengan wajah ayahnya yang sudah tiada.

“—di sini, di Melody, aku telah lama memerhatikan salah satu murid—“

Gila! Ayah tidak berencana mengatakannya di sini, bukan?

Aku jadi berhenti dan memerhatikan pidatonya. Di layar hasil projeksi gambar dari komputer, terpampang besar foto-foto keluarga kami. Foto-foto ayah dan kembarannya ketika mereka kecil.

“Aku memiliki seorang adik. Ia sangat mirip denganku. Saat aku memulai kuliah ekonomiku, ia memilih musik sebagai hidupnya. Karena satu dan lain hal, ia menghilang. Saat aku menemukan kabar tentangnya, ia sudah tiada.”

Penonton yang mendengarkan membunyikan suara gaduh pertanda simpati. Tapi aku tidak. Aku malah ingin berteriak agar ayah memikirkan lagi kalimat demi kalimatnya.

“Aku ingin menebus dosaku padanya. Tapi dia sudah tiada. Tapi ia tidak benar-benar pergi, adikku meninggalkan harta yang tidak bernilai bagiku dan bagi keluarga kami. Sudah lama kami mencarinya kemana-mana, tiada disangka kami menemukannya di sekolah ini.”

Foto di layar terus bergulir. Hingga berhenti pada salah satu foto bocah nakal yang mengatakan cinta padaku beberapa hari lalu.

Foto Kim Jongin.

Aku melihat ekspresi yang berubah di wajah Jongin dan juga enam bocah nakal yang lain. Sungjae adalah yang paling histeris. Ah ini tidak benar. Bukan seperti ini caranya. Lihatlah bagaimana kagetnya Kim Jongin. Ia pasti sangat kaget soal ini. Ia yang sudah lama menantikan saat ini, pasti tidak tahu akan berkata apa di saat seperti ini.

“Kim Jongin, dialah keponakanku yang selama ini hilang.” Tutup ayahku.

Benar saja. Jongin menangis. Lihatlah, si jagoan U-17! Sedang menangis sekarang. Ayahku juga sudah tidak sanggup berkata-kata. Ia menyerahkan microphone pada Kim Tan. Melihat hal ini, aku jadi mengerti kenapa aku diperintahkan mendampingi Ayah malam ini. Mungkin untuk hal-hal semacam ini.

Annyeong haseyo, aku Kim Tan. Aku akan menggantikan Kwon Yisoo-ssi untuk melanjutkan sambutannya.”

Gawat. Sekarang Kim Tan. Aku hanya berharap ia tidak pernah menyebutkan namaku dalam sambutannya.

“Karena jasa Melody selama ini merawat dan mengembangkan bakat salah satu bagian dari keluarga kami, kami berencanakan meneruskan kerja sama kami dengan sekolah ini. Tidak hanya sampai di situ, Melody juga telah banyak berjasa untuk memberikan pengalaman mengajar bagi salah satu anggota keluarga kami—“

Ah si Kim Tan bodoh itu. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.

“Kami memiliki sebuah ujian bagi anak-anak keluarga besar kami yang telah melewati usia tujuh belas tahun. Ujian ini dilakukan dalam rangka menentukan kualifikasinya untuk menduduki jabatan dalam perusahaan yang susah payah kami bangun dari generasi ke generasi. Di antara semua anak itu, ada satu gadis yang untuk pertama kalinya gagal tiga kali berturut-turut dalam ujian ini setiap tahunnya sejak usianya tujuh belas. Demi membuatnya berhasil, kami memberinya tantangan padanya—“

Si Mulut Besar itu. Aku benar-benar dalam bahaya.

“—Melody membantu kami dalam membuat tantangan itu menjadi nyata. Melody membuat dia menjadi lebih bijaksana dengan menugaskannya sebagai guru di sebuah kelas yang paling sulit di sekolah ini. Untuk itu, terima-kasih pada Melody High School.

Seisi ruangan mulai berbisik-bisik. Sebagian besar murid menatap pada Jongin, Jongup, Sehun, Junhong, Ren, Ilhoon dan Sungjae bergantian. Mereka sepertinya sudah sangat peka sejak kalimat kelas yang paling sulit di Melody disebutkan oleh Kim Tan. Itu artinya, setiap kepala yang ada di sini tentu sudah tahu siapa yang patut mereka curigai. Aku ingin lari saja dari sini rasanya.

Kalau seperti ini, Jongin akan tahu siapa aku dan dia barang tentu akan mengetahui alasan di balik penolakan kasarku pada pengakuan cintanya. Ah! Ini pelik.

Saat aku akan berjalan kembali menuruni tangga, cahaya lampu menyorotiku. Aku melihat Myungsoo yang baru saja menarik diri dari sisi Kim Tan. Ah, sepertinya ia baru saja mengatakan kemana aku pergi pada Kim Tan sehingga sepupuku yang menjengkelkan itu bisa memerintahkan teknisi lampu atau siapapun itu untuk menyoroti tubuhku dengan cahaya.

“Yuri-ssi silakan beri sambutanmu.” Kata Kim Tan. AKU BERSUMPAH AKU AKAN MENYOBEK MULUTNYA SAAT INI. Myungsoo juga! Apa maksudnya sih ia memberitahukan sepupu bodoh itu.

Dua orang pemuda berseragam hitam datang padaku dan memberikan microphone. Aku menerimanya tapi aku tidak tahan dengan tatapan beberapa orang yang terlihat sangat terkejut. Sungjae sudah berbincang-bincang dengan gayanya yang kelewat hiperaktif. Ia beberapa kali memukul Ilhoon dan sepertinya dua idiot itu baru saja mencubit pipi satu sama lain demi meyakinkan ini bukan mimpi mereka semata.

Yang paling menakutiku adalah ekspresi Jongin. Sungguh. Aku bahkan tidak berani menatap mereka saat ini.

Susah payah, aku menggenggam mic nya dengan benar. Tapi tanganku gemetar karena hal ini terlalu tiba-tiba. Sesekali aku melihat ke arah Kim Tan dan menggeleng. Tapi ia meyakinkanku dengan kode singkat matanya bahwa aku harus melakukan ini.

A—annyeong haseyo—K—kwon Yuri imnida.” Kataku.

Aku tidak dapat berkata apapun setelah itu. Aku meninggalkan micnya dan berlari. Entah. Entah apakah aku ini Cinderella? Yang jelas, aku sudah berlari menuruni tangga, meninggalkan audiens dengan kebingungan.

.

.

ARRRRRGHHHHH!

Aku bisa gila.

Sudah dua minggu lebih aku menolak untuk masuk sekolah. Aku mengganti nomor ponselku dan menonaktifkan semua SNS yang ada di sana. Satu-satunya cara menghubungiku mungkin dengan menelepon ke nomor baru. Itupun hanya segelintir orang yang tahu.

Aku sebenarnya sangat merindukan kelas itu. Aku merindukan tujuh muridku yang bodoh itu. Tapi mau bagaimana, aku yang sudah menipu mereka dengan identitasku, apa masih diterima jika aku menemuinya?

Kriiing~

Telepon rumahku berdering. Aku memiliki sambungan yang dapat kuterima langsung di kamar. Jadi kuangkat saja.

Yoboseyo?”

“Yuri-ssi?”

“Myungsoo-ssi?”

“Ya. Ini aku.” Katanya.

“Kau mengetahui nomor telepon rumahku?”

“Kepala sekolah memberitahukannya padaku. Kau mengganti nomor ponselmu dan seluruh akun SNS-mu tidak aktif. Kau ini sebenarnya kenapa, Yuri-ssi?”

“Itu—“ bagaimana ya aku mengatakannya pada Myungsoo bahwa aku sedang tidak enak hati berbicara tentang ini.

“Tapi kau bisa simpan jawabanmu itu nanti. Aku meneleponmu karena ingin mengingatkanmu sesuatu.”

“Benarkah? Apa itu?”

“Ujian akhir. Kau ingat? Kelulusan murid-muridmu tergantung pada acara musikal besok. Kau harus datang. Siapa yang akan menyemangati mereka jika bukan walinya sendiri. Mereka sangat menginginkanmu melihat semua kerja keras mereka, Yuri-ssi. Kuharap kau bisa meluangkan waktumu besok.”

Aku menurunkan gagang teleponku. Entah untuk apa air mata ini mengalir.

“Yuri-ssi, kau mendengarkan?”

Aku sangat lelah. Aku lelah.

“Yuri-ssi?”

Kenapa air mata ini tidak pernah berhenti. Kenapa aku menjadi seperti ini hanya karena tujuh pemuda aneh itu?

Apa yang mereka berikan padaku?

Apa yang mereka lakukan padaku hingga aku menjadi seperti ini?

.

.

“Kau belum melihatnya?” Sehun bertanya pada Ilhoon. Pemuda itu menggeleng. “Apa uri-noona benar-benar tidak akan datang?” Sehun mengeluh. Saat itu ia berkacak pinggang. Ilhoon menggedikkan bahu dan berlalu dengan langkah yang gamang.

Masih dengan tangan yang di pinggang, Sehun berjalan ke arah Kim Jongin. “Kau benar-benar tidak bisa menghubunginya? Bukankah kalian sepupu?”

BRAK!

Meja di depan Sehun dipukul dengan sangat keras oleh Jongin. Sungjae dan Junhong terlonjak dan terpaku di tempatnya masing-masing. Ren yang sebelumnya sedang memainkan piano dengan apik tiba-tiba saja menekan tuts yang salah dan memberhentikan alunan musiknya. Jongup dan Ilhoon tidak kalah kagetnya. Mereka bahkan mundur beberapa langkah ketika Jongin tiba-tiba pergi dari sana.

Langkahnya sangat cepat. Secepat emosinya yang naik ke kepala.

Jongin menghilang dari belakang panggung. Padahal saat itu mereka sudah tersisa tiga puluh menit sebelum mereka naik ke atas panggung dan mementaskan apa yang sudah mereka persiapkan sejak dua bulan lalu.

“Sekarang lihatlah apa yang kau lakukan.” Junhong menyindir. “Kita tidak bisa melakukan opening actnya tanpa pria emosian itu.”

Sehun mengacak rambutnya kemudian berdecak dengan sebal. Pemuda tinggi itu berjalan menjauh dari lima temannya yang lain. Ia memilih sebuah kursi kosong di belakang piano besar Ren.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Waktu yang tersisa semakin sempit.” Kata Jongup.

“Apanya yang apa?”

Seluruh mata menoleh ke sumber suara. Seorang gadis berdiri di sana, ia menggunakan kacamata hitam dan berjalan sembari menarik telinga Jongin. Jongin meronta dan beberapa kali mencoba melepaskan diri, tapi gadis itu sama sekali tidak membiarkan hal tersebut terjadi. Malah, kala Sungjae menyebut nama gadis itu, ia tengah mengunci leher Jongin di ketiaknya.

“Yuri Noona?”

.

.

“Yuri noona? Kau datang?” Sungjae terlihat sangat terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Eh, sepertinya bukan hanya karena kedatanganku saja. Mungkin ia bisa jadi terkejut karena gaya busanaku juga. Jujur saja, aku selalu memakai pakaian formal selama dua bulan terakhir jadi agak mengejutkan mereka kalau sekarang aku memakai busana seperti rocker.

Inilah selera fashionku yang sebenarnya.

Kaus tipis yang dibalut dengan jaket kulit hitam glossy, celana ketat hitam yang membentuk kakiku dengan indah, sepatu boots dengan heels rendah dan aksesoris tengkorak di tangan dan jari-jariku rasanya cukup menjelaskan pada mereka siapa aku. Oh iya, perlu kusebutkan juga kacamata hitam yang bertengger indah di mataku saat ini adalah sebuah mahakarya favoritku.

Koleksi kacamata termahal dari yang pernah ada di lemariku.

Aku melemparkan tubuh Jongin ke arah Sungjae saat aku membenarkan letak kacamataku.

“Tentu aku datang. Kau pikir aku guru macam apa.” Kataku penuh arogansi. Aku melihat semuanya dengan cahaya redup saat ini karena aku enggan melepas kacamataku. Ada alasan kenapa aku tidak melakukan itu. Dan aku tidak ingin membeberkannya saat ini.

“Kalian sudah menyelesaikan lagunya?” Ren langsung meninggalkan tuts-tuts pianonya dan berjalan tepat ke arahku. Dari gerakan tubuhnya aku tahu bahwa ia ingin menunjukkan lagunya sudah selesai karena jasanya. “Kerja bagus, Ren.” Kataku.

Tapi dia tidak terlihat senang. Jadi aku menggedikkan bahuku sambil bertanya padanya, “apa?”

“Kau tidak memelukku?”

“Untuk?”

Ren mundur dari tubuhku. Sungjae dan Ilhoon terkekeh di sisinya bersamaan. Jongup dan Sehun menahan rasa geli di perut mereka. Sisanya hanya memandangku dalam hening.

“Aku akan duduk di kursi penonton nanti, bukan kursi para guru. Aku mengawasi kalian sampai akhir. Jika ada yang melakukan kesalahan sedikitpun, akan langsung berhadapan denganku di akhir pentas nanti. Meskipun nilai akhir dari ujian ini ditentukan oleh dewan sekolah, kalian perlu tahu bahwa aku ikut andil dalam menentukan nilai sikap untuk sertifikat kalian. Aku tidak akan memberikan kalian C kalau kalian melakukan lebih dari apa yang seharusnya.”

Aku berjalan, memutari mereka. Terlihat betul dari setiap kata yang kukatakan, hanya Jongin yang tidak mendengarkan. Aku memukul kepalanya saat aku melewatinya. “Peringatan keras untukmu, Jongin. Aku tidak peduli apakah kau sepupuku yang hilang atau sejenisnya, selama kau berada di sekolah ini dan aku ada di kelasmu, itu artinya kau masih muridku. Dilarang melibatkan permasalahan pribadi dalam pementasan ini. Nilaimu dipertaruhkan.”

Aku tidak menunggu respon Jongin, tapi jelas ia jengah karena kupukul barusan. Rasanya menyenangkan. Lain kali aku pasti akan melakukannya lagi.

“Kalian sudah mendengar tentangku, bukan?” Aku mengatur napasku kemudian berhenti di tengah-tengah sementara mereka berbaris di depanku. “Aku akan gagal juga jika kalian gagal. Aku melakukan ini dari awal, sebenarnya untuk diriku sendiri. Aku memaksa kalian belajar, untuk diriku sendiri. Aku membuat hal-hal yang mustahil di sini, untuk diriku sendiri. Tapi bersama kalian—tujuh bocah tengik yang selalu membuatku jengah setiap hari, aku mulai memikirkan bahwa aku bukan hanya dilahirkan untuk diriku sendiri.”

Aku melipat tanganku di depan dada.

“Aku bukan Kwon Yuri yang mau repot-repot mengurusi urusan pribadi orang lain, tapi aku terlalu banyak ikut campur dalam urusan pribadi tujuh bocah tengik ini. Aku menemukan hal-hal yang tidak dapat aku temukan dalam diriku sendiri. Bersama tujuh kurcaci bodoh ini, aku sadar, bahwa aku adalah putri salju yang sudah terlalu lama tertidur karena apel beracun. Aku terlalu egois untuk menjunjung harga diriku yang lebih tinggi dari apapun. Aku sangat egois dengan mengira kalian akan sangat marah padaku karena berbohong. Untuk itu, maafkan aku.”

Noona—“ Ilhoon menyela tapi aku tidak membuat jeda panjang untuk membiarkannya bicara.

“Jangan katakan apapun. Aku tidak meminta kalian menjawab setiap kalimatku. Biarkan aku menyelesaikan dan mengatakan semuanya di sini. Menghilang dari kalian selama beberapa hari, rasanya sungguh menyakitkan. Kupikir ini karena program diet yang sedang kujalani, tapi setelah menghabiskan satu loyang pizza di malam hari, aku sadar aku salah. Aku melihat ponselku setiap hari, barangkali ada pesan menjengkelkan dari Sungjae atau telepon panik dari Jongup yang tidak dapat memasak ramen dengan benar. Tapi semuanya itu tidak pernah ada karena aku yang memutuskan komunikasi ini. Saat aku melihat video latihan kalian di channel Youtube, aku berharap aku di sana, bertepuk tangan dan berteriak aigoo, kalian sangat hebat. Tapi saat videonya selesai, aku menyadari bahwa aku hanya dapat menyumbang sebuah komentar kecil di bawah videonya. Menghilang dari kalian rasanya sangat aneh. Kadang aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang kalian lakukan padaku selama dua bulan terakhir?”

Aku melepaskan kacamataku.

“Ini yang kalian lakukan pada mataku.” Aku menunjukan lingkaran hitam yang samar di bawah mataku. “Aku menangis semalaman hingga mataku bengkak. Mendengar berita kalian masih membutuhkanku di sini, aku tersentuh hebat. Akhirnya mataku menjadi seperti ini. Sebagian lingkaran hitamnya sudah tersamarkan karena make-up. Tapi bengkak yang ada di hatiku tidak akan bisa tersamarkan kalau aku mengabaikan kalian. Untuk itu, aku datang hari ini.”

Aku mengatur napasku dan menahan air mataku sebisa mungkin di depan mereka.

“Aku sudah selesai. Sekarang,” aku melihat wajah mereka satu per satu. Ren dan Sungjae adalah yang paling berat menahan tangisannya. Yang lainnya hampir meneteskan air mata. Bahkan Jongin, aku tidak menyangka ia terlihat sangat terenyuh dengan kata-kataku. Matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum memandangi mereka satu per satu.

“Ada yang ingin pelukan?”

.

.

“Nomor lima, kelas U-17!”

Riuh tepuk tangan berkumandang. Tapi suara berisik kemudian dapat kudengarkan dari seluruh kursi penonton. Mungkin dari beberapa peserta yang sudah menyuguhkan karyanya, hanya kelasku yang paling nyentrik. Baru muncul saja, Jongin dengan kaus longgar dan sepatu kets nya sudah mengguncang panggung.

Ia menari mengikuti alunan nada yang susah payah dibuat oleh teman-temannya. Tarian Jongin ini agak… err…seksi?

Ia menunjukkan padaku betapa dirinya menjaga tubuh. Ia memiliki lengan yang kekar dan sedikit chocolate abs saat tidak sengaja kaus longgarnya terbuka tadi. Jongin mengakhiri tariannya saat permainan piano Ren menguasai panggung.

Suara-suara yang sebelumnya bising di mana-mana kini mulai mereda saat piano lembut Ren mengalunkan nada-nada yang apik. Aku tidak menemukan kesalahan nada sedikitpun. Ren memainkannya dengan baik bahkan ia sempat-sempatnya menyunggingkan senyum padaku.

Permainan piano Ren menuai banyak pujian. Meskipun bangku di sebelahku tidak ada penghuninya, aku masih bisa mendengar pujian dari beberapa orang di depan dan belakang kursiku. Aku sangat bangga. Tapi lagi-lagi, mereka harus terheran-heran ketika Junhong, Sehun dan Jongup masuk ke dalam panggung.

Konsepnya adalah dance session.

Sehun melakukan gerakan ballet diiringi permainan piano dari Ren. Melihat Sehun menari ballet, jujur, ini tidak ada dalam konsep awal pementasan yang kubuat. Tapi cukup bagus juga. Ia sepertinya sangat bekerja keras ketika gerakan putaran lima kali dibuatnya. Keringatnya bercucuran bagai mutiara yang jatuh.

Ren bangkit dari pianonya. Kali ini Ilhoon mengambil alih musik. Dengan perpindahan nada yang lihai, ia berhasil membuat emosi penonton yang mengharu biru karena Ren, kini harus berdetak kencang karena kemampuan beatbox dan alunan musik house-remix dari Ilhoon. Wow, ini styleku sekali. Rasanya badanku sudah gatal untuk ikut menari. Junhong dan Jongup bergantian melakukan gerakan B-Boying mereka. Jungkir-balik, berputar dan melakukan gerakan kaki yang sangat susah. Mereka menutup tarian itu dengan sama-sama melompati satu sama lain dengan ekspresi manly yang dapat membuat para gadis terkesima.

Kali ini Sungjae menguasai panggung. Aku pikir dia akan menyanyikan lagu yang sempat kami perbincangkan dahulu. Tapi aku melihat permainan piano Ren, ini bukan intro dari lagu tersebut. Mereka mengubahnya. Menjadi sangat keren.

Ada piano, biola, gitar, drum dan clarinet bermain di dalamnya. Aku mendengar suara bass dan beberapa instrumen klasik korea.

Bagaimana mereka bisa berpikir membuat musik serumit ini?

Suara bising yang hingar-bingar berubah menjadi luapan pujian ketika suara Sungjae mulai terdengar. Perlahan, mereka mulai bisa menerima apa yang U-17! Suguhkan. Tepuk tangan bahkan refleks dilakukan oleh Si Gendut Bau. Mungkin kala itu ia sangat bangga dengan putranya.

Aku mendengarkan lirik yang mereka lantunkan. Junhong, Ren dan Sehun bernyanyi bergantian sedangkan Jongin memainkan gitar. Ilhoon menambahkan sedikit kemampuan beatboxnya untuk mendukung lagunya.

moduga nal arabodorok eoeouwowowo
nal aradeutdorok Crescendo eoeouwowowo

keuresyendo wowo one two
nae moksoriga mutyeo nae sumsoriga keojyeo
amudo deutji annneun nae mareun rising in Crescendo

Ini,

Musik yang luar biasa.

Aku benar-benar salut pada kemampuan mereka.

Air mataku menetes lagi. Kali  ini aku tidak berusaha menyeka atau menutupinya dengan kacamata hitamku. Aku biarkan air mata ini mengalir begitu saja. Ini bukan bentuk kesedihanku, ini rasa banggaku sebagai guru.


nae moksoriga haneure daha ullyeo
gureumdo nareul deutgikkaji mame deul ttaekkaji

noeulbit bomyeo
bireun ireun achimui sowon yaegideon
sireum sireum arhatdeon sarang yaegideon
ildan malhago bwa baradeon ba sijakdo anhago pogineun ma
mam sok gipeun gose jari jabeun kkum
thanks oneurui nalssineun gippeum
Don’t cry You can fly
You don’t even try

inneun deut eomneun deut chuk chyeojin gogaeneun deulgoseon
deultteun aedeulcheoreom nora rasidoremipa
ollaganeun mellodi ppallajineun temporeul ttara
laugh aloud hahahahaha hahahahaha

moduga nal arabodorok Crescendo
nal aradeutdorok Crescendo
moduga nal arabodorok Crescendo
nal aradeutdorok Crescendo

.

.

-Sebulan kemudian-

Noona!” Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Jongin berlari dengan tasnya yang terlihat berat. Ia memberiku sebuah buket bunga.

“Kau tidak akan mengatakan perasaanmu lagi padaku untuk kedua kalinya, bukan?” Kataku. Ia menggeleng kemudian menginjak kakiku. “Bukan dariku, ini dari Junhong dan Jongup. Mereka diterima menjadi trainee salah satu agensi entertainment besar. Mereka memberikanku ini sebelum kau pergi.”

Aku menatap bunga cantik dari Jongup dan Junhong. Aku menyukainya, sebuah buket bunga mawar.

Jongin memberikanku sebuah kotak kecil setelah itu. “Yang ini dari Ilhoon dan Sungjae. Mereka lolos audisi tahap pertama dari pencarian idol di Cube Entertainment. Katanya aku harus memberikan ini agar kau tidak melupakan mereka.”

Aku tertawa saat membuka kotak kecil tersebut dan melihat isinya. Sebungkus bubuk tepung dengan tulisan Noona, ini bubuk tepung pertama yang kami siramkan di atas kepalamu. Kau harus mengingat kami saat melihat ini, Oke?

“Itu tepung?” Tanya Jongin.

Aku mengangguk.

“Mereka benar-benar melakukannya.” Kata Jongin. Ia memberikanku dua kotak lagi. “Yang hitam dari Ren. Yang cokelat dari Sehun.”

Aku mengangguk lalu melihat isi kotaknya satu per satu. Sehun memberiku sebuah arloji mahal dengan kalimat Aku tidak mencuri ini, kau mengerti noona? dan Ren mengirimiku sebuah tuts hitam dari piano kesayangannya. Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan simpan ini agar aku terus mengingatmu setiap aku memainkan pianoku. Ini bukan sampah, jangan dibuang. Aku akan marah.

Aku tertawa membaca semua pesan mereka. Aku memasukkan semua hadiah itu ke dalam sebuah tas kecil yang kubawa. Saat ini aku berada di bandara dan bersiap untuk melanjutkan kuliah musikku di luar negeri. Destinasiku, Paris. Tidak ada alasan khusus, aku memang sangat ingin tinggal di sana sejak kecil.

“Dan kau?” Aku bertanya pada Jongin. “Mana hadiahmu padaku? Kau tidak membawa apapun kan?”

Jongin menggaruk kepalanya. Ia terkekeh padaku beberapa kali bagai seorang idiot. Aku mengejeknya dengan mulut komat-kamitku di depannya.

“Aku berniat tidak akan memberinya, tapi sepertinya kau menginginkan ini.”

Kupikir Jongin akan mengeluarkan sebuah kotak atau apalah, tapi ia malah menarikku ke dalam dekapannya. Bibir kami bertautan dan untuk pertama kalinya, aku merasakan bagaimana sensasi mencium bibir sepupuku sendiri.

Ini sangat memalukan.

Aku menarik diriku dari pelukannya.

Mwo ya!” Kataku.

“Kau bilang ingin hadiah.”

“Tapi bukan ini—“

Noona,tadi itu—Jongin memegangi tanganku sementara kami sudah menjadi pusat perhatian. “Biarkan aku melakukannya hanya sekali dalam hidupku.”

Ia menepuk pundakku kemudian tersenyum cerah. “Pesawatmu tidak akan menunggumu. Bergegaslah.” Ia mendorongku masuk ke area pemeriksaan. Aku memandangi wajahnya, entahlah. Sepertinya Jongin sudah mulai menata hatinya kembali.

Aku lega.

Omo.

Tapi bagaimana dengan hatiku? Sampai akhir, aku bahkan belum mengatakan perasaanku pada Kim Myungsoo. Argh! Aku memang bodoh.

Biarlah. Aku juga akan kembali dalam setahun. Saat itu aku hanya berharap Myungsoo tidak memiliki kekasih.

“Permisi unnie, kau menginjak kakiku.”

Ups, maafkan aku.”

Karena melamun aku tidak sengaja menginjak kaki seorang bocah perempuan saat menaruh barang-barangku tadi. Kepergianku ke Paris tidak dilepas oleh keluargaku karena mereka sungguh sangat sibuk. Tapi untunglah aku memiliki seseorang seperti Jongin. Ia tinggal bersamaku selama sebulan terakhir sejak kelasku dinyatakan lulus seratus persen oleh dewan sekolah.

Hari itu sungguh hari yang sangat bersejarah untukku. Kami bahkan menangis bersama di atas panggung. Aku tidak melupakannya.

“Permisi agassi, kau menempati tempat dudukku.” Kali ini seorang pemuda dengan kacamata hitam menyadarkanku dari lamunan. Aku meminta maaf beberapa kali kemudian menarik tas tangan kecilku dan pergi dari tempat duduk tersebut. Aku melihat kembali tiket pesawatku kemudian menyamakannya dengan nomor tempat duduk yang tadi sempat kududuki.

Aneh.

Nomornya sama.

“Permisi,” kataku pada si pemuda tersebut. “Ini memang benar tempatku, mungkin kau salah.” Sebenarnya kursi di sana ada dua buat. Tapi aku sudah memesan dua-duanya untuk kutempati. Aku tadinya ingin mengambil kelas VVIP tapi mereka mengatakan kelas itu sudah penuh. Uangku kugunakan untuk menyewa dua seat karena aku benci duduk bersama orang asing.

“Ini memang benar tempat dudukku kok.” Katanya. Ia menunjukkan tiketnya padaku. Dan, yeah, dia tidak salah. Malah di tiket tersebut dikatakan dialah pemilik dua seat di depanku. Jika sudah begini, siapa yang salah?

Lebih pentingnya, aku akan duduk di mana?

“Ini aneh. Aku juga memiliki nomor yang sama.” Aku melipat tanganku di depan dada. “Apa kau memalsukan tiket?”

Cih, untuk apa aku melakukan itu. Kau bisa menghubungi awak pesawat untuk memastikannya.” Katanya. “Malah aku yang harusnya curiga. Jangan-jangan kau yang memalsukan tiketmu. Benar agassi?”

Ya!” Aku menggunakan banmal padanya. Kalimat itu keluar dengan sendirinya karena kurasa ia sudah keterlaluan. “Aku Kwon Yuri. Kau kenal Kwon Yuri? Untuk apa aku melakukan hal rendah seperti itu?”

“Permisi Nona, pesawat akan segera take off, silakan duduk di tempat anda dan ikuti aturan keselamatan.” Seorang pramugari menegurku. Aku baru saja akan menunjukkan keanehan tiket padanya tapi pria itu menarik tanganku dan membuat tubuhku jatuh ke dalam pelukannya. Aku memrotes, tapi bibir pria itu mendarat di bibirku dengan gerakan cepat.

Aku memukul dadanya karena aku kehabisan napas.

Aneh.

Sesaat tadi rasanya aneh.

Aku merasa aku kenal tekstur bibirnya.

“Siapa kau?” Kataku.

Pemuda menyebalkan itu tersenyum. Ia mengelap bibirnya yang basah dengan mantel yang kupakai. Memang ia sangat tidak sopan. Aku hampir saja memukulnya jika ia tidak segera melepas kacamata hitamnya.

Pemuda yang menyebalkan itu semakin menyebalkan saat ia menunjukkan wajahnya padaku.

“Myungsoo-ssi?”

Ia tertawa.

“Kau kaget?” Aku melepaskan diri dari pelukannya dan segera duduk di kursi kosong sisi kiri pemuda itu. “Bagaimana kau bisa ada di sini? Dan—bagaimana kau bisa memiliki tiket yang sama denganku? Apa yang kau lakukan?”

“Aku di sini, untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”

“Maafkan aku karena aku bodoh. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

Myungsoo tertawa. “Tidakkah kau merasa ini aneh, Yuri-ssi? Aku tiba-tiba membantumu di sekolah, membantu Kim Tan saat membuat pengumuman tentangmu, bahkan aku membantu meyakinkanmu untuk datang ke acara pementasan itu. Apa kau benar-benar tidak merasa aneh?”

Aku membelalakkan mataku.

“Oh? Benar. Malam itu, kau memberitahu Kim Tan!”

“Bukan hanya malam itu. Aku juga muncul saat Jongin menyatakan perasaannya padamu, aku muncul saat kau dan Junhong berlarian di jalanan kecil, aku ada saat kau dan murid-muridmu berada di rumah sakit. Aku bahkan ada saat ayahmu datang ke ruangan kepala sekolah dan bernegosiasi. Aku ada di sana.”

Aku mencium ada yang tidak beres di sini. “Kau… memangnya siapa bisa tahu sejauh ini?”

“Aku…”

Myungsoo berbisik padaku. “Orang yang sudah ditakdirkan bersamamu sampai tua.”

Myungsoo menarikku lagi dan mencium bibirku tepat saat pesawat lepas landas. Aku sebenarnya takut akan getaran hebat yang dibuat tubuh pesawat ini, tapi aku akan lebih takut lagi kalau Myungsoo melepaskan pelukannya dari tubuhku.

Aku merasa dibohongi dan dibodohi. Tapi dengan cara seperti ini, aku rela dibodohi berkali-kali.

Aku melepaskan diri meskipun hatiku berat. Pramugari yang lalu-lalang menatap kami dengan malu-malu.

“Kenapa kau terus menciumiku?” Kataku dengan sedikit membentaknya. Aku tidak marah, hanya saja, wanita kadang memerlukan ekspresi seperti ini di depan pria yang ia cintai, bukan?

Myungsoo tersenyum ke arahku. Ia membetulkan letak poniku.

“Aku hanya mengambil kembali apa yang sudah dicuri Jongin darimu di bandara tadi.”

Ia tidak pernah melepaskan manik hitamnya dariku. Saat itu, aku mendengarnya berbicara apa yang paling aku ingin dengar di sepanjang hidupku. “Aku mencintaimu.”

.

.

Undefined Seventeen.

Aku masih ingat soal kelas menyebalkan itu.

Saat aku menyimpulkan kisahku, sudah barang tentu tidak ada satupun dari mereka yang masih berumur tujuh belas.

Jongin dan Sehun sudah menjadi idol yang sangat terkenal sekarang. Bergabung dengan raksasa entertainment sekelas, SM, membuat mereka dan grupnya, EXO langsung disukai masyarakat.

Hal yang sama terjadi pada Ilhoon dan Sungjae. Aku melihat tayangan mereka di salah satu variety show kemarin. Mereka masih idiot, tapi mereka berhasil membuat grupnya, BTOB mematenkan posisi sebagai idol yang sedang naik daun.

Junhong dan Jongup sudah debut dengan sebuah grup asuhan TS Entertainment, B.A.P. Mereka menjadi saingan besar dengan Sehun dan Jongin karena debut di tahun yang sama. Tapi aku susah sekali menghubungi mereka belakangan karena mereka lebih banyak menggelar tur dan konser di beberapa negara. Tahu Chris Brown? Aku mendengar kalau Chris mem-follow akun twitter Jongup. Aku tahu betul Jongup pasti senang karena ia diakui oleh artis idolanya.

Soal Ren? Dia masih dengan penampilannya dahulu. Ia juga memutuskan untuk menjadi seorang idol, bukan pianis. Kini ia dan grupnya, Nuest mendulang banyak prestasi lewat lagu-lagunya yang easy listening dan gaya menarinya yang penuh kekuatan.

Tanpa kusadari, setiap muridku dari kelas yang tidak terdefinisikan itu menjadi orang-orang yang disukai oleh berbagai lapisan masyarakat.

Ini membuatku tersadar akan sesuatu.

Bahwa hidup dengan melihat pada satu sisi saja, akan mengikis sisi lain yang belum tergali.

Bahwa hidup dengan membenci saja, akan mengikis kebahagiaan pelakunya.

Bahwa hidup dengan sendiri saja, akan mengikis kebutuhan akan orang lain.

Hiduplah seperti musik.

Nadanya tidak selalu sama, ada do ada re dan ada fa.

Tapi ketika semuanya dimainkan bergantian, terciptalah sebuah alunan musik yang merdu.

Tujuh kurcaci menyebalkan ini sudah membuat sebuah musik dalam hidupku.

Sungjae dengan Do

Ilhoon dengan Re

Junhong dengan Mi

Jongin dengan Fa

Ren dengan Sol

Jongup dengan La

Sehun dengan Si

Aku sendiri sebagai Do tinggi.

Kami membuat musik dan kami menikmatinya. Musik yang dibuat tujuh kurcaci ini, mungkin adalah satu-satunya musik terindah yang pernah kudengar.

Aku tidak akan melupakannya.

Tidak akan pernah.

.

.

FIN.

.

.

Bagaimana kesan dan pesannya setelah membaca FF ini? Silakan tinggalkan di kolom komentar ya~

Sangat dinantikan lho. Siapa tahu genre seperti ini akan dibuat lagi sama aku ke depannya. *kedip-kedip

109 thoughts on “U-17! [Part 3 Of 3]

  1. KwonYurilu berkata:

    suka banget kak nyun sama ff ini, yuri nya bisa dengan sabar menghadapi U17 yang super duper. sampai akhirnya mereka jadi kayak gitu. di tunggu ff lainnya kak nyuun… spirit! fighting!! hihihi aku kirim dua komentar dengan nama wp yang beda kak nyunn, makanya sama kayak yang di atas komentarnya

  2. Anonym berkata:

    Keren banget apalagi bagian terakhir yang pas kata-kata dari si yurinya :3 masih bingung sama myungsoo sebenernya tapi yaudahlah xD ini keren banget bikin gregetan bacanya😀

  3. Daphne berkata:

    Unexpected ending -claps- Myungsoo agak2 ngak terduga ya perannya :’D Ohiya, ijin balik jadi reader ya, thor, kangen liat2 blog ini lagi setelah sekian lama vakum membaca(?) 😊

  4. nalyyullie berkata:

    Waaaaaa…
    Totally love this story^^^
    Glad that finally myungyul be together…
    Love how yul handle all the boys…
    Omo jongin got kiss yul too…
    Love yul character here…
    Myungyul so sweet though…
    Thanks for a lovely story^^^^

  5. hvirus berkata:

    Kusuka sekali dengan ff ini! Kayaknya ff yg pernah aku baca disini aku suka deh wkwk
    Suka banget dengan karakter yuri yang selfish tapi ternyata dia sosialis (?)
    Aku juga suka ketika solving problemnya aaaaaa gakuat suka, suka, suka!<3

    Lebih banyak genren sepertinya ininya juseyo….<3 wkwk

  6. febrynovi berkata:

    ASTAGA KAKNYUN </3 aku terharu banget bacanya 8')

    disini twist banget ya alurnya… tapi bagus❤ ga full romance lebih banyak friendship..

    aku suka banget aaaa <3<3<3 kapan2 buat yang alurnya kayak gini ya kaknyun!❤

  7. Ersih marlina berkata:

    Aaa. Beneran end yah, ga rela ka nyuun huhu. Saking seru bacanya

    akhirnya semuanya mendulang kesuksesan tak terkecuali yuri yg menemukan cintanya. Yaitu myungsoo cie ciee hihi

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s