[Ficlet] A DAY WITHOUT YOU

A day Without YouAuthor : bapkyr (@bapkyr)

Title : A Day Without You

Cast : Nichkhun Horvejkul & Kwon Yuri

Genre : Romance; AU!; Angst

Rating : G

Disclaimer : I JUST OWN THE PLOT. This story is based on a sad quote from tumblr.

Enjoy the tales.

***

“Nichkhun-a, di hari kita yang kelimaratus ini, mari buat sebuah tantangan.”

“Tantangan?”

“Iya. Aku ingin kau melakukan ini : Tidak menghubungiku selama dua puluh empat jam mulai tengah malam nanti. Kau juga tidak boleh mengirimkan pesan, SNS, menelepon, datang ke rumah bahkan bertanya soal aku pada teman-teman atau keluargaku. Ketika kau berhasil, aku akan memberikan jawaban soal lamaranmu minggu lalu. Kau setuju?”

“Ini agak sulit. Em, tapi kupastikan akan melakukannya. Kau harus menikah denganku, bagaimanapun.”

.

Aku terbangun.  Pukul tujuh pagi. Biasanya aku akan mengecek ponselku untuk melihat apakah Yuri sudah mengirim pesan selamat pagi atau belum. Tapi kali ini aku sadar, bahwa aku berada dalam perjanjian satu harinya. Tidak akan ada pesan atau telepon dari gadis itu sampai tengah malam nanti. Aku harus bertahan.

Aku melakukan apa yang biasanya kulakukan di minggu pagi. Aku mandi, mengurus Charlie—anjing kecilku, bermain beberapa games online. Malah aku menyibukkan diri dengan membereskan setiap sudut ruangan di rumah—yang mana biasanya tidak pernah kulakukan.

Aku berhenti beraktivitas ketika petang menjelang. Aku hanya berbaring di tempat tidur, memikirkan cara yang tepat untuk menunjukkan isi hatiku pada Yuri. Dia adalah gadis yang baik, cantik dan ramah. Kepribadiannya cenderung konyol, tapi bisa hangat di saat bersamaan. Dia adalah tipe seorang wanita yang ideal untuk anak-anakku kelak. Aku sudah jatuh cinta padanya, berkali-kali dan aku tetap tidak merasa puas. Yuri adalah segalanya untukku.

Tik Tok.

Sudah hampir tengah malam. Empat jam sudah aku berbaring di atas sprei putihku sambil menunggu dengan was-was ketika detik berjalan menuju angka dua belas. Aku hanya tinggal menunggu beberapa detik lagi dan…

Ya. Aku berhasil.

Dua puluh empat jam tantangan sudah kulalui.

Aku meraih ponselku kemudian mengirimkan pesan pada Yuri. Tidak banyak kata yang kutuliskan di sana, hanya sebuah “Naekkoya.” Yang mungkin terkesan sedikit nakal untuknya. Aku terkekeh tanpa sadar ketika aku menekan panel send pada ponselku.

Lima menit kemudian aku terlelap.

.

.

Aku memeriksa ponselku berkali-kali pagi ini. Sejak aku mengirimkan pesanku semalam, Yuri tidak membalasnya. “Apa dia lupa?”

Aku tidak pernah berburuk sangka pada Yuri, seperti halnya Yuri yang tidak pernah melakukan hal tersebut padaku. Menghilangkan semua kemungkinan yang belum tentu kebenarannya, aku pergi ke rumahnya bersama Charlie. Aku menambatkan tali kekang Charlie pada sebuah tiang di depan rumah Yuri ketika aku turun dari mobil.

Meskipun keluarga Yuri tergolong keluarga besar, tapi rumahnya tidak pernah seramai ini. Terakhir aku melihat sanak saudara Yuri berdatangan adalah ketika Kwon Jiyong—kakak dari Yuri—menikah.

Aku mungkin sudah akan bertanya pada seseorang yang terlihat meringkuk lemas di pojokkan ketika lenganku tiba-tiba saja ditarik seseorang. Aku melihat si pelaku, kemudian aku menundukkan kepalaku sebagai rasa hormat. Yang menarikku adalah ibu dari Kwon Yuri, Jung Lina.

Ia adalah seorang fashionista yang selalu membuat wajahnya bersinar karena make-up. Tapi aku tidak melihat bahkan sebutir sisa bedakpun dalam wajahnya kali ini. Entahlah, ekspresinya samar, aku tidak bisa menjelaskan.

Ia membawaku ke kamar Yuri tanpa banyak kata. Aku sedikit terdorong ketika ia membawaku masuk. Kukira ia akan menemaniku untuk berbicara soal pernikahan pada Yuri, tapi Jung Lina undur diri setelah membawaku masuk. Kulihat sekilas wajahnya sebelum menutup pintu, sendu. Ia menitikkan air mata yang entah untuk apa.

Aku menggelengkan kepala, membuang rasa tidak enak hatiku. Aku melakukan sebuah langkah ringan pertama pada tempat tidur biru yang berada dua meter di depanku. Biasanya Yuri akan tersenyum dan membuka lengannya, menyambut tubuhku dalam pelukannya. Kali ini berbeda, ia tertidur.

“Yuri-a, Na-ya.” Godaku pelan. Tidak ada respon. Yuri memiliki kebiasaan tidur tenggelam dalam selimutnya. Jadi saat ini, aku tidak bisa membaca apapun dari ekspresi wajahnya yang sudah tenggelam dalam selimut merah muda. “Yuri-a?”

Tidak ada respon.

Mungkin aku harus memanggilnya dengan sebutan lain. “Chagiya?”

Tepat saat itu aku mendengar sirine mobil. Entah itu pemadam kebakaran, ambulance atau mobil polisi. Yang jelas suara itu berasal dari halaman depan rumah ini. Aku melongok dari jendela di kamar Yuri. Itu mobil putih. Jelas sekali aku membaca tulisannya Ambulance.

Perasaan yang tidak nyaman menyergap diriku secara tiba-tiba. Aku melihat beberapa orang pingsan di depan mobil tersebut ketika sebuah kasur dorong dikeluarkan dari sana.

“Yuri-a—kenapa mereka ada di sini?”

Aku bertanya. Aku bukan sekadar bertanya. Aku ingin membuktikan sesuatu. Aku ingin membuktikan bahwa semua ini bukan untuk Yuri. Bahwa apa yang kutakutkan itu tidak benar. Ini bukan music video dan bukan sebuah mellodrama.

“Yuri-a, kenapa kau hanya diam? Aku bertanya, mereka datang untuk apa?”

Aku mendengar suara pintu dibuka dengan tergesa-gesa. Beberapa petugas medis datang dengan peralatannya. Mereka tidak memandangiku. Sekelompok orang itu langsung berdiri di sekitar kasur yang ditiduri Yuri. “Kalian—“ Suaraku bergetar.

Selimut merah muda sudah disibakkan. Aku melihatnya. Akhirnya.

Sosok gadis cantik dengan kulit pucat pasi dan bibir yang teramat merah, tertidur lelap di sana. Aku tidak pernah melihat bibir Yuri yang sepert ini dalam lima ratus hari terakhir. Dan aku yakin warna ini bukan berasal dari salah satu merek pewarna bibir dimana pun. Aku dapat melihatnya, genangan darah yang sudah mengering di bibirnya.

Kericuhan terjadi selang beberapa detik setelah itu. Tubuh pucat itu dipindahkan dalam sebuah kasur dorong. Jung Lina menatapku dari kejauhan, aku tidak sanggup berkata apapun meski aku sangat ingin. Matanya memerah, mataku juga. Saat kasur dorong itu meninggalkanku sendiri di ruangan bercat biru langit ini, kakiku kehilangan kemampuannya untuk berdiri. Yang aku lihat mungkin tidak nyata, jadi aku menutup mataku.

Kemudian aroma amis itu menyeruak ke udara. Aku menatap sisa-sisa tetesan darah kering di sprei, kemudian aku mendengar sirine ambulance yang semakin jauh. Hatiku terseret sesuatu yang sangat berat, seperti dicacah kemudian dihamburkan ke udara. Air mata ini hanyalah air, tapi rasanya seperti pisau yang perlahan menuruni pipi dan meninggalkan luka di sana.

Aku mengunjunginya untuk mengatakan, Aku berhasil tidak menghubungimu dalam sehari. Jadi, mari kita menikah sesuai janjimu.

Tapi pada akhirnya aku hanya mampu mengatakan. Aku berhasil tidak menghubungimu dalam sehari. Jadi, bisakah kau tidak meninggalkanku?

.

.

Memori itu masih lekat. Senyuman, aroma, tawanya, tangisannya, air matanya, rasa cemburunya, semuanya masih lekat dalam otakku. Raganya entah kemana. Gadis itu telah pergi.

Di tanganku ada selembar kertas kecil yang kutemukan di atas kasurnya. Ada sedikit noda darah di sisi-sisinya. Saat ini, aku sudah selesai membacanya berkali-kali dan aku tidak berhenti menangis. Aku bukan pria seperti ini jika tidak untuk Yuri. Setiap kali aku mengingat setiap frasa dalam kalimat yang ia tuliskan, saat itu aku menyesali seluruh hidupku.

Dari awal, ia tahu bahwa kami tidak mungkin bersama. Tapi ia tidak mengatakannya.

.

Selamat karena berhasil dalam tantangan dua puluh empat jam tanpa diriku. Tidak sulit, bukan? Sekarang lakukan itu lagi, untuk dua puluh empat jam dalam seluruh sisa hari dalam hidupmu. Ini tantangan sesungguhnya bagimu, Nichkhun-a. Mari menikah di surga.

.

 FIN

.

.

Another ficlet this week. Eotte?

71 thoughts on “[Ficlet] A DAY WITHOUT YOU

  1. sherlie wijaya berkata:

    Annyeong eonni ceritanya daebak banget sedih banget ceritanya jdi nqqngis pas baca ceritanya ditunggu ff yg lainnya
    keep writing eonni
    fighting
    gomawo

  2. nana berkata:

    kak nyun, knpa sedh bnget kak,.
    .bikin mewek aja kak, aduh, makin galau ajah kak, hehehe
    tpi tetep crtnya keren,
    .semga ada sequel.a ya kak..

  3. Dhea Kwon berkata:

    Waa!! Keren!! Nichkhun!! Biasku lagi!! #ciumkaknyun
    Tapi, knapa sad ending ? T.T
    Eeh, itu Yuri eonni matinya bunuh diri ? Knapa ya ?

    Oke deh, ditunggu ffnya yang lain eonni~

  4. minyul generation berkata:

    Huaaaaa ;( sedih amat cerita a,,
    24 jam selama sisa hidup harus ngelupain yuri,,
    Aq aj gag bisa pisah dari laptop aq yg mw d pinjem mama 1 minggu buat tugas a,, (isi laptop a 소녀시대 semua),, gag kebayang nickhun sedih a gimana,,
    Eonnie jjang,,

  5. nitalia berkata:

    Knp mati? Bunuh diri?
    Knp hrs bunuh diri?????
    Huuuuaaaaaaaaaa ga trima
    Seperti ap yg dirasa oppa ganteng pasti ditinggal mati yuri

  6. SSY_ELF berkata:

    ini adalah ff yang selalu mengundang aku untuk membacanya, sudah sejak zaman pleistosen, lalu zaman romawi kuno*asli alay!* tapi entah kenapa dan alasan apa, baru sekarang bisa baca :3
    aigoo.. udah ketebak endingnya sih, tapi.. tapi… ini singkat namun nyeseknya kerasa..
    netes air matanya pas kalimat yang cetar itu loh kak, ‘mari menikah di surga’😥
    hiikkss….. hiks.. kasihannya mereka..
    btw, Yuri eonni sakit apa kak???
    nice! nice! :’)

  7. aloneyworld berkata:

    Aish pas bagian yang yuri gabales sms terus dirumahnya rame itu aku udah ngeh, loh ini yuri kenapa? Masa mati sih? Dan ternyata beneran mati yaampun x_x nickhun kasian banget😥 menikah disurga yaampun yuri😦 ini keren kak :’D

  8. Hara_Kwon berkata:

    Huuaaaa.. T_T firasatku benar. Knapa ini terjadi sama mereka? Kasihan Nickhun oppa :”
    kenapa Yuleon? Dia sakit apa kakak? Hiks.. Bikin sedih T_T

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s