[Oneshot] The 10th Question.

The 10th Question.

Author : bapkyr (@bapkyr)

Title : The 10th Question

Oneshot | PG-13 | Sad, AU!, Action, Family.

Cast :

Kwon Yuri [SNSD] as Kwon Yuri

01.

Mark Tuan [GOT7] as Mark Kwon

tumblr_n0mgqedPsK1tovki7o1_500

.

[This story is belong to me. DO NOT PLAGIARIZE]

***

“Kujamin Ibu akan memarahi kita, Noona.”

“Setelah kau tahu itu, aku jadi penasaran kenapa kau masih ingin ikut denganku.”

Yuri jengah dengan adiknya. Bukan lantaran Mark Kwon adalah pemuda yang gemar merengek untuk dibelikan action figure keluaran terbaru dari seri popular Teenage Mutant Ninja Turtle (walaupun sekali-duakali Mark pernah memintanya). Kebenciannya semata disebabkan oleh kejadian lima belas tahun lalu. Saat keduanya masih gemar berjalan dengan bergandengan tangan dan menenteng sebuah boks berisi permen, kecelakaan dramatis terjadi dan menewaskan sosok ayah bagi keduanya.

Yuri yang manis seketika berubah menjadi bengis. Kehilangan sosok Ayah di dalam keluarga Kwon, sama artinya dengan penjara seumur hidup bagi Yuri. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk mengutuk. Mengutuk siapa saja yang bisa ia salahkan atas kecelakaan hebat tersebut. Dan ketika satu-satunya yang tersisa untuk dikutuk adalah adiknya, Yuri tidak pandang bulu.

Jika ada sepuluh alasan soal mengapa Yuri membenci adiknya, sepuluh poin tersebut berisi seputaran asanya yang pupus di malam natal. Saat kecelakaan hebat tersebut terjadi dan pemilik orisinal marga Kwon mengorbankan seluruh hidupnya untuk Mark Kwon, anaknya yang hampir tewas terlindas trem besar.

“Siapa tahu kau butuh bantuanku.”

Jika kalimat tadi dituturkan oleh agen kepolisian swasta tepercaya setipe Lee Jongsuk, maka Yuri tidak perlu repot-repot melampiaskan amarahnya pada sebuah setir yang diputar ke kiri dan kanan dengan kasar. Ini Mark Kwon, adik kandung yang harusnya ia benci seumur hidup.

Cih. Butuh bantuanmu? Aku Yuri dengan lima bintang, kau ingat?”

Yuri meliukkan alisnya dengan arogan pada wajah tolol Mark Kwon.

“Oke, jenderal.” Langsung saja pemuda itu mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang baru saja keduanya lalui tanpa ampun. Roda-roda mobil jeep mereka melaju, membelah hujan. Ban-ban setengah gundul yang menjadi alat gerak utama meliuk-liuk tiap kali Yuri memutar arah setir.

Sesekali gadis itu menatap arlojinya dengan cemas.

“Sejauh apa lagi tempatnya?” Tanyanya.

“Kenapa kau tanya aku?”

“Buatlah dirimu berguna, Mark-ssi. Masih ingat soal siapa tahu kau akan butuh bantuanku milikmu barusan?

Esh.”  Mark mengusap tengkuknya. Menanggalkan bagaimana ketidaknyamanan yang ia dapat setelah Yuri—kakak kandungnya sendiri—baru saja memanggilnya dengan panggilan formal, ia mulai merogoh ponsel. Yang dilihat tentu saja menu GPS.

“Lima ratus meter di depan, belok kiri.” Jawab Mark semenit kemudian. Kening Yuri berkerut, dengan ekspresi terkesan menimbang-nimbang, ia kembali melirik arlojinya.

“Apa arlojinya akan meledak, Noona?”

Yuri serta-merta menelengkan kepalanya ke arah Mark sembari membagi tatapan are-you-kidding-me khasnya. Ia telah membuat Mark berbicara sorry kesekian kalinya meski tak ada satu patah katapun yang menyeruak di udara dari bibir Yuri.

“Kau bawa senjata?” Tanya Mark lagi. Yuri bergeming. Pusat kontrol tubuhnya sekarang ada pada kedua tangan dan kakinya. Yuri terus saja memacu kencang mobilnya hingga sebuah dataran kosong di sisi rel kereta api terlihat.

Mobil keduanya memacu dalam kendali tangan dingin Yuri di sebuah tanah lapang gersang  yang disinari lampu temaram. Di bahu kiri lapang gersang itu di isi dengan jalur kereta cepat. Mark rasanya ingin bicara lagi, tapi Yuri sudah membuatnya terjedut-jedut karena kerikil yang dilewati ban jeep dengan brutal.

“Kita punya waktu berapa menit sebelum keretanya sampai?”

Mark melirik arlojinya dengan refleks dan saat itu ia mengetahui bahwa sedari tadi kakaknya melakukan hal tersebut karena alasan yang sama dengannya saat ini. “Sepuluh menit. Bisa kurang, mengingat kereta itu melaju tanpa masinis.”

“Bagus.” Yuri memeriksa sakunya. Ia menarik sebuah senjata api dan menyisipkannya di saku belakang celana. Ia mengepak beberapa barang untuk dijejalkan pada sebuah koper besi yang sebenarnya sudah sesak. Belum cukup puas, Yuri membuka laci dashboard dan menarik sebuah pisau kecil perak dari sana.

“Wow, wow, kita hanya akan menjinakkan bom. Bukan melawan teroris.” Yuri mengolok Mark lewat senyuman congkaknya. Tanpa menunggu air wajah Mark berubah dalam sedetik, Yuri berkata, “terakhir aku menuruti perintahmu, aku terjebak dengan tubuh terikat tali dalam tangki besar yang dipenuhi air. Hampir mati jika saja regu tambahan tidak datang.”

“Aku ‘kan sudah minta maaf soal itu.” Mark buru-buru membela diri. Tapi Yuri terlihat tidak acuh. Ia memandangi arlojinya lantas mengatakan kata ‘enam menit’ dengan suara kelewat rendah.

Tidak mudah bagi Mark untuk berada di posisi ini. Jika dijelaskan semuanya sudah berubah, maka itu benar. Ia adalah satu-satunya orang di dunia yang akan Yuri abaikan meskipun dunia hanya berisi dua dari mereka saja. Meskipun begitu, asa masih menyala di dada Mark. Tidak pernah seharipun ia habiskan untuk membenci Yuri seperti Yuri membencinya.

Mark adalah bola yang mungkin akan ditendang Yuri berkali-kali, tapi mereka tidak bisa mengingkari bahwa keduanya berada di lapangan yang sama. Mark percaya, meskipun terkesan tolol, ia tahu satu bagian dalam diri Yuri, masih menganggapnya sebagai adik.

Setiap hari dalam tiga ratus enam puluh hari yang ia miliki setiap tahun, adalah untuk menanti saat-saat itu terjadi.

Mark adalah pemuda lemah yang mudah sakit-sakitan. Sejak kecil, kedua orangtuanya merawatnya dengan baik karena hal ini. Mark tidak sempat mengecap pendidikan formal di sekolah biasa seperti Yuri. Tubuhnya terlalu lemah untuk itu karena ia terlahir prematur.

Lain Mark, lain Yuri.

Yuri adalah sosok Xena bagi Mark. Ia gadis tangguh yang selalu melindungi Mark dari cemoohan teman-teman sebayanya. Ia adalah tembok terluar dari apa yang Mark sebut sebagai tembok perlindungan keluarga. Mark bahagia. Keluarganya bahagia.

Benar-benar bahagia hingga Tuhan memutar jalan lain untuk mengakhiri kebahagiaan tersebut. Ayah yang sangat dicintai oleh Yuri, harus rela kehilangan nyawanya di malam natal. Apa yang membuat hal tersebut semakin ironis adalah kenyataan bahwa hal buruk tersebut terjadi di depan mata Yuri, saat ayahnya mencoba menyelamatkan Mark  kala menyeberang.

Sejak saat itu kemudi bahtera hidup keluarga Kwon menjadi retak. Arahnya berantakan. Sama halnya tidak ada kompas, maka keduanya tersesat. Meskipun ada sosok Ibu yang mencoba mengarahkan bahtera tersebut kembali pada jalurnya, keduanya menolak. Tidak. Hanya Yuri yang menolak.

Bagi Yuri, hidupnya adalah untuk membenci. Jika ayahnya berakhir tidak bahagia, mengapa ia harus bahagia?

“Ayo main sepuluh pertanyaan.”

“Apa?”

“Itu kuhitung sebagai pertanyaan pertama.”

Yuri mendecak sebal. Ia menatap rel kosong dari balik kemudi. Untuk beberapa sekon ia cukup merasa tenang karena Mark tidak bereaksi. Tapi Si Burung Beo ini kembali mencacah konsentrasinya tatkala ia berkata, “sekarang giliranku.”

Yuri sudah mulai muak. Ia keluar dari mobil dengan sebuah koper besi yang ia jinjing di tangannya. Lima menit sudah berlalu, dan ia hanya memiliki lima menit tersisa untuk melompat ke dalam kereta yang sedang melaju dengan kencang. Terdengar tidak masuk akal? Tapi ini bukan fiksi.

Polisi swasta seperti Yuri sudah banyak melakukan hal-hal heroik seperti ini tanpa banyak diketahui media. Hal yang seperti ini bahkan tidak ada seperempat dari kisah hidupnya yang penuh laga. Kontras dengan Mark. Meskipun berada di departemen yang sama, keduanya sudah lama dipisahkan dalam dua divisi berbeda. Jika Yuri adalah ahli dalam segala hal, maka Mark adalah kebalikannya.

Selain menjinakkan bom, ia tidak mahir melakukan apapun. Adegan laga yang akan terjadi sebentar lagi, adalah kali pertama untuknya. Dengan tubuh lemahnya, ia sudah sampai sejauh ini jadi apa yang harus ia takuti lagi? Bagi Mark, jika bukan untuk Yuri dan mendiang ayahnya, ia tentu tidak akan mau repot-repot berada di sana, menjemput bahaya dengan kedua tangannya sendiri.

“Selain omurice apa lagi makanan favoritmu?” Mark telah berada di sisi Yuri saat Yuri menyadarinya. Dengan ekspresi enteng, ia menatap Yuri seolah tidak ada mimik jengah yang ditunjukkan gadis itu.

Yuri tentu tidak menjawab apapun. Tapi Mark mengangguk seolah ia baru saja mendengar kata tidak ada dari bisikan angin di sekitarnya.

“Mana yang lebih tampan, aku atau Lee Jongsuk?” Tanyanya tidak menyerah. Yuri menggeser tubuhnya sedemikian rupa sehingga saat ini ia membelakangi Mark. Masih dengan semangat tidak pernah padam, Mark memutari tubuh Yuri dan memosisikan diri di hadapannya, sekali lagi.

“Apa yang paling kau inginkan untuk kado ulang tahunmu minggu depan?”

“Berapa berat badanmu?”

“Apa kau sedang diet?”

“Usia berapa kau merencanakan pernikahan?”

“Kau berbohong soal ‘memacari seorang bankir’ pada ibu, bukan?”

“Bisakah kau berhenti memanggilku dengan formal?”

“Ah, mana yang kau suka? Aku dengan seragam atau aku tanpa apa-apa—eh—maksudku, tanpa seragam?”

Tiba di pertanyaan kesembilan, Yuri mengacungkan koper berat yang dibawanya di depan wajah Mark. Wajahnya datar, sama sekali tidak terganggu dengan ekspresi konyol antara kaget dan bingung di wajah adiknya. Senyum tipisnya tidak pernah mengembang, tapi ia tahu mana bentuk bibir yang pas untuk mengekspresikan keangkuhan.

“Jika kau bisa menghabiskan tenagamu untuk berbicara, bawalah koper berat ini.”

Mark memrotes soal perintah Yuri. “Aku bahkan belum sampai di pertanyaanku yang kesepuluh.”

Yuri mengabaikannya dan mulai berjalan mendekati sisi rel kereta. Suara berisik dari decitan roda besi raksasa melata besar dengan jalur yang sudah disediakan baginya terasa mengikis kepekaan indera pendengar Yuri.

“Apa aku bisa menyelesaikan pertanyaan kesepuluh?”

“Itu keretanya.” Yuri berlari, menyisir sisi paling dekat dengan jalur kereta. Mark berada di sebelahnya. Saat itu kereta melaju cukup kencang. Terhempas anginnya saja sudah bisa berakibat fatal. Nobody can survive.

Tapi perlu digarisbawahi,

Yuri adalah nobody.

Jiwa Yuri sudah redup bersamaan dengan redupnya mentari lima belas tahun lalu.

“Tapi permainan sepuluh pertanyaanku belum selesai!” Mark mengejar. Dia kelelahan? Tentu. Yuri tidak peduli? Tentu!

Tapi seutas tali sudah terjuntai kala Mark merasa hampir menyerah. Tali tersebut memiliki pinggang ramping Yuri sebagai hulu. Perlu diketahui bahwa dalam sekejap, gadis itu sudah berhasil melompat ke dalam kereta dengan bantuan beberapa petugas kepolisian swasta dan lainnya yang sudah lebih dulu berada di badan kereta.

Fokus terakhir adalah pada Mark.

“Jangan merengek! Ambil dan naik!” Yuri berteriak. Kelopak mata Mark semakin berat, ia sudah kelelahan hanya karena berlari tidak sampai seratus meter. Tanpa menunggu perintah selanjutnya, ia meraih tali-temali yang terus bergerak seiring dengan gerakan cepat dari kereta. Hempasan angin menyabet wajahnya. Mark memegang erat koper dan terus mempererat tali yang sudah melingkar di sekitar telapak tangan. Ia beberapa kali terseret di atas tanah hingga sepatunya tertinggal di belakang. Telapak kakinya beberapa kali juga terantuk kerikil tajam dan membuat beberapa goresan di sana.

Yuri menarik tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia harus tahu betul bahwa posisi Mark tidak akan membentur badan kereta nantinya. Gadis itu meneteskan peluh pertamanya di menit-menit awal misi, tidak seperti Yuri saja.

Goddammit!” Yuri mengumpat. “Kau masih punya energi?” Yuri berteriak. Mark terpontang-panting antara menapakkan telapak kaki di atas tanah atau melambung-lambung terhempas ke udara dengan ringan,  kemudian membentur badan kereta.

“HUH?” Mark membalasnya dengan teriakan kembali.

“JIKA KAU MASIH PUNYA ENERGI, LONCAT DENGAN TINGGI SATU KALI, AKU AKAN MENARIKMU AGAR KEPALAMU TIDAK PECAH SEBELUM MENDARAT DI SINI!”

“APA KERETANYA TIDAK BISA MELAMBAT SEDIKIT SAJA? KURASA AKU TIDAK BISA LONCAT SEKARANG. TUNGKAI KAKIKU TERLALU LEMAH!”

“KITA MEMILIKI SEBUAH KONDISI! TURUTI AKU ATAU KAU PULANG TANPA ISI KEPALA!”

“OH JANGAN!”

“KUANGGAP KAU SETUJU.”

Yuri melirik arlojinya. Napasnya tentu terengah dahsyat. Beberapa rekan kerja polisinya membantu Yuri untuk tetap stabil dalam posisi terluar dari pintu kereta. “DALAM LIMA,”

“LIMA MENIT?”

“EMPAT, TIGA,”

“AKU BELUM SIAP.”

“DUA,”

“OKE AKU LOMPAT.”

“SATU.”

BRUGH!

.

.

Yuri menyingkirkan sebuah massa berat di atas tubuhnya. Dilihatnya Mark yang memejamkan matanya kuat-kuat. Adiknya itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi takut, seperti ekspresi tersebut tidak pernah dianugerahkan padanya saja.

Perlahan mata pemuda itu membuka sedikit demi sedikit. Yuri mendelik sebentar untuk memastikan bahwa isi kepala Mark masih ada di tempatnya.

Merasa semuanya berjalan dengan baik, Yuri menyingkirkan tubuh Mark. Tentu ia tidak ingin berlama-lama ditindih oleh tubuh seseorang yang paling ia benci.

Yuri menepuk-nepuk debu di pundaknya. Ia menyeka keringat dengan sebuah sapu tangan yang diberikan salah satu rekan kerja wanita berseragam sama dengannya. Yuri memutuskan untuk berbalik setelah ia menerima sebuah air mineral dalam botol dari rekannya tadi.

“Pertanyaan kesepuluh,” Mark perlahan bangkit dengan gerakan patah-patah. Beberapa luka di kakinya menyulitkannya untuk berdiri dengan normal. Wajar jika ia bersandar pada salah satu dinding besi. Saat itu, Mark berbicara pada Yuri meskipun suasanya tidak begitu benar. “Kenapa kau menyelamatkan orang yang paling kau benci?”

Yuri mendesah. Tanpa banyak gerakan ia bergegas meninggalkan Mark.

Meninggalkan adiknya dengan terburu-buru.

Namun langkah buru-burunya berhenti ketika Mark perlahan mengejarnya. Terdengar bunyi krek yang sudah pasti asalnya dari tulang belakang Mark. Yuri mau tak mau bergeming. “Pulanglah setelah pekerjaan ini selesai.” Katanya.

Mark mendongak. Inginnya ia berkata hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Tapi niat itu ia urungkan. Mark menggantinya dengan sebuah kalimat sederhana. “Tentu. Aku juga ingin pulang. Jadi di mana bomnya?” Mark melirik ke arah Yuri sedangkan wanita itu juga memandangi para rekannya yang sudah lebih dahulu berada di badan kereta sebelum mereka. Seorang gadis berambut hitam panjang mendekat dan membisikkan sesuatu pada Yuri. Setelah selesai, raut wajahnya tidak jauh-jauh dari perasaan bersalah dan gugup.

“Apa katanya?” Tanya Mark ketika ia hanya ditinggal berdua dengan Yuri.

Yuri menggeleng. Ia berdecak lalu mengumpat kecil. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.

“Kaubilang kita memiliki sebuah kondisi. Apa itu?”

Yuri meniup poni hitamnya. Ia menatap wajah Mark kemudian berkata sejurus kemudian. “Menurutmu, kenapa kereta tidak melambat meskipun ada salah satu dari orang kita di sini yang bisa mengemudikan kereta?”

“Apa? Aku tidak bisa berpikir dengan tulang patah!” Yuri memberikan tatapan serius pada Mark sembari menyembunyikan pikiran memangnya kau berpikir dengan tulang?

Suaranya menyeruak ke udara dan masuk ke gendang telinga Mark dalam beberapa detik kemudian. “Kau tahu? Bukan hanya masinis yang tidak dimiliki kereta ini. Salah satu penjinak bom kita sebelumnya, sudah meledak dengan bom yang ia jinakkan di ruang kendali. Kereta ini tidak memiliki rem, Mark-ssi. Raksasa besi ini tidak akan pernah melambat kecuali bahan bakarnya habis.”

.

.

“Tidak bisa. Ini bukan kereta listrik. Hidup kita tergantung pada bahan bakar yang baru akan habis tiga jam ke depan. Itupun jika tidak ada kereta dari jalur lain yang berpapasan dengan kereta ini.”

Namanya Jin, dan tadi itu informasi darinya.

Ia adalah salah satu petugas penjinak bom yang sudah terlebih dahulu berada di TKP sebelum Yuri.

Jadi, Yuri mendengarkan baik-baik. Seluruh harapan berada di pundaknya saat ini. Awak kereta sudah dievakuasi saat kereta masih dalam kendali. Kini yang tersisa adalah pegawainya yang telah bertugas untuk menjinakkan bom di sana. Sialnya, kereta ini sama sekali bukan kereta penumpang modern melainkan hanya kereta tua yang sejak awal hanya digunakan sebagai kereta barang milik sebuah perusahaan swasta menengah. Tidak banyak alat komunikasi di sini, kecuali ponsel pribadi milik masing-masing orang yang tersisa di dalam kereta.

Yuri telah berhitung, sedikitnya ada sepuluh jiwa termasuk ia dan adiknya yang bergantung pada bahan bakar kereta.

Tindakan pencegahan telah ia lakukan (temasuk soal kemungkinan tabrakan dengan kereta lain.) Yuri dengan relasi keamanan luasnya, mampu membuat beberapa poin penting dari sistem keamanan mereka bekerja.

“Di mana bom yang lain? Ada berapa bom di sini?” Mark masuk dalam dialog diiringi picingan manik tajam dari Yuri. Mata mereka bertumbukkan dan menyebabkan mulut Mark meliuk serba-salah.

“Setiap gerbong dipasangi sebuah bom. Kecuali pada gerbong mesin, di sana ada satu bom lagi yang tersembunyi. Ada dua belas gerbong termasuk lokomotif yang sudah tidak berfungsi, artinya ada tiga belas bom saat ini. Empat bom di tiga gerbong sudah meledak. Lima bom dalam lima gerbong di antaranya sudah kami jinakkan. Dua sedang dalam proses sementara dua lagi tidak dapat kami jinakkan karena kekurangan tenaga penjinak bom.”

Dahi Yuri mengerut. “Jenis bom apa itu?”

“Bom waktu. Bom tiap gerbong akan meledak sendirinya setiap sepuluh menit. Kecuali untuk bagian mesin dan gerbong masinis, bom di kedua tempat tersebut sepertinya sudah dipasang pengendali jarak jauh. Seseorang menggunakan ini untuk menghancurkan bisnis Si Pemilik Kereta. Sekaligus dendam pribadi. Begitu yang aku tahu.”

“Gerbong mana yang belum disentuh?”

“Sepuluh dan sebelas. Kami bekerja dari gerbong yang terdekat dengan masinis. Dua gerbong terakhir belum tersentuh siapapun. Kalian akan ke sana?”

“Ya. Ada masalah lain?”

“Tidak, hanya,” Jin menggigit bibirnya, risau. “Di sana ada beberapa mayat yang hangus akibat ledakan di gerbong dua belas, gerbong mesin. Kudengar kalau kau sedikit—“

“Aku akan baik-baik saja.” Yuri menyela sebelum Jin melengkapi kalimatnya. Yuri berdiri dan menepuk pundak pemuda itu sebelum pergi. Mata sendu Jin mengiringi punggung Yuri yang mulai berjalan menuju gerbong yang telah dituju.

“Dia akan baik-baik saja.” Mark meyakinkan. “Eh tapi omong-omong, berapa menit waktu yang kita miliki?”

Jin melirik arlojinya kemudian menghitung. “Dikurangi berbincang-bincang, sisa tujuh menit. Perlu bantuan?”

Mark mengangguk. “Got it. Konsentrasilah pada apa yang kaukerjakan di sini.”

“Kau bukan pemimpinnya.”

So, do you?” Mark membagi senyuman lebarnya.

Jin terdiam sementara kala itu Mark sudah pergi menyusul Yuri dengan terburu-buru.

.

.

“Hati-hati terhadap tabung reaktornya. Pastikan kau membuangnya jauh-jauh setelah kau selesai dengan kabel kuningmu.”

Barusan adalah perintah terakhir dari Yuri sebelum bom di gerbang sepuluh dan sembilan sama-sama meledak. Di sana adalah tempat ketika keduanya berbincang dengan Jin. Tanpa perlu banyak bicara, baik Yuri dan Mark sudah tahu apa yang terjadi.

“Apakah ada kemungkinan bahwa mereka melakukan kesalahan?” Mark bertanya, menyangkal kemungkinan barangkali bom tersebut tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Yuri melongok pada bom yang telah ia jinakkan di gerbong sebelas. Aman. Clear.

Dua sekon kemudian, ledakan terjadi di gerbong yang telah disinggahi Yuri. Bom yang seharusnya sudah tidak aktif tersebut tiba-tiba saja meledak tanpa diketahui penyebabnya. Yuri merunduk sementara Mark kini takut-takut memandangi kabel yang belum selesai ia potong.

“Kelihatannya tidak satupun dari mereka yang melakukan kesalahan. Bukan hanya tiga belas bom di kereta ini. Mungkin ada lebih dari dua puluh. Entahlah.” Yuri berbicara. Menganalisis badan gerbong. “Berapa menit yang kita punya?”

“Lima.”

“Aku akan mencari di sekitar sini.”

Yuri memenuhi kalimatnya dengan mencari-cari keberadaan bom dengan alat canggih yang dipakainya di tangan. Lampu hijau akan menyala ketika ada reaksi atas penemuan bom. Namun sejauh ia bergerak, Yuri tidak menemukan apapun selain satu-satunya bom yang tengah dijinakkan Mark di balik peti-peti kayu.

“Berapa menit tersisa?”

“Tiga.”

Yuri mulai memijiti kepalanya, penat. “Apa kau punya saran?”

“Ada.”

“Seperti?”

“Lari? Turun dari kereta? Entahlah.”

“Maksudmu turun dari kereta yang tengah melaju membelah pegunungan? Di mana sisi kanan dan kirimu adalah jurang yang dalam?”

Mark mengedikkan bahunya. Sementara Yuri mendesah putus-asa.

“Apa ada kemungkinan seseorang mengendalikannya dari jauh?” Kata Mark.

“Apa ada alat penguat sinyal di sekitar bomnya?”

“Mungki tidak pada bomnya,” Mark menatap Yuri hati-hati. “Tapi pada kita.”

“Maksudmu?”

“Ponsel.”

Yuri membuka mulutnya. “Damn!”

.

.

Tass.

Baru saja kabel terakhir dipotong Mark. Ia bisa bernapas lega. Keduanya tidak berdiam diri di sana karena mereka harus melewati satu lagi tantangan besar yang mungkin akan menjadi marabahaya tersendiri. Jika dugaan Mark soal penguat sinyal salah, maka tidak ada gunanya keduanya membuang ponsel mereka ke dalam mulut jurang.

Satu-satunya cara untuk membuktikan hal tersebut adalah menjauh dari gerbong sebelas dan menunggu sekitar sepuluh menit untuk memastikan bahwa gerbong tersebut telah bersih dari ancaman bom.

Sembari menunggu, dengan hati-hati baik Mark maupun Yuri menyisir mayat-mayat hangus rekan mereka yang sudah tergeletak dalam gerbong yang sudah tidak beraturan bentuknya. Mark dan Yuri membuang segala macam benda elektronik yang masih tersisa di sana, bahkan ketika keduanya hanya menemukan bangkai baterainya saja.

Dari gerbong sembilan, ia menemukan kondisi Jin yang sama menyedihkannya dengan beberapa orang yang lain. Yuri tidak sampai hati melihatnya. Ia memiliki kesan mendalam ketika melihat Jin pertama kali. Dan kini ia melihatnya untuk terakhir kali.

“Dia mengkhawatirkan soal kau yang takut mayat.” Mark mengomentari. Yuri tidak nampak sedih meskipun ia baru saja kehilangan seorang rekan yang sangat ia banggakan. Sekali lagi, bagi Yuri, semua emosinya sudah hilang lima belas tahun lalu. Ia hanya mayat hidup yang bernapas sekarang. Tidak lebih. Emosi hanya hiasan, dan dia tidak perlu merasakan apapun.

“Dan dia sekarang menjadi salah satunya.” Yuri menutup kalimat Mark dengan telak. “Sudah sepuluh menit, tidak ada yang terja—“

GRRROOK. GRRROOOOK. CIIIIIIIIIIT.

“Bunyi apa itu?” Tanya Yuri. Mark berlari dan melihat apa yang terjadi ketika ia menyembulkan kepalanya ke luar badan kereta. Matanya memicing pada tubuh gerbong dua belas yang tidak stabil. Perlahan suara decitan semakin menjadi. Gerbong dua belas adalah gerbong mesin yang sudah terkena dampak ledakan sehingga wajar jika gerbong tersebut tidak normal saat ini. Selain suara decitan, gerbong tersebut juga mengepulkan asap-asap tidak wajar dari balik tubuhnya.

“Sebaiknya kita segera pergi dari sini, ke gerbong masinis!” Mark menarik tangan Yuri dan membawanya lari. Dalam kepanikan luar biasa, ia bisa mendengar berkali-kali Yuri mencoba menanyakan alasannya.

GRRROOOOOK. CIIIIIIIT.

Bunyi lagi. Dan saat itu, dengan mata kepala sendiri, Yuri bisa melihat gerbong di belakangnya sudah tergantung bebas di sisi-sisi jurang. Bagaikan permainan ular, ekor beratnya sudah menggantung dan berdecit di ketinggian lebih dari lima meter. Massa tersebut sangup untuk menarik gerbong-gerbong ringan untuk ikut terjun bebas ke mulut jurang.

Yuri tidak perlu bertanya lagi karena ketika keduanya sampai di gerbong paling depan, mereka tahu apa yang mereka harus lihat.

Yuri terengah.

Dari dua belas gerbong, enam di antaranya sudah menggantung. Tinggal menunggu waktu hingga semua gerbong tertarik ke bawah dan terjun bebas ke dalam dasar jurang dari ketinggian lebih dari lima meter.

“Apa yang bisa kita lakukan?” Kata Yuri. Sadar betul bahwa keduanya tidak dilatih bela diri untuk melawan kereta, sorot matanya berubah. Yuri menjadi Yuri yang tidak ia kenali. Pertama kalinya dalam belasan tahun, ia merasakan kembali apa yang ia namakan sebagai kutukan. Rasa takut. Rasa takut mati.

Tangan gemetar adalah tidak wajar untuk Yuri. Peluh yang membasahi sebagian tubuhnya, merupakan hal yang tidak biasa dari Yuri. Segalanya hari ini adalah tidak biasa bagi Yuri. Dan untuk pertama kalinya, ketidakbiasaan ini membuat dirinya takut.

Mark lantas menggenggam tangan Yuri sebelum ia kejang. Mata keduanya bertumbuk satu sama lain ketika gerbong ketujuh sudah melorot ke mulut jurang. Mesinnya berhenti tiba-tiba, menandakan kereta akan tetap berada dalam posisi tersebut sampai seluruh rangkaiannya jatuh dalam dasar jurang.

Noona,” Mark berkata. Matanya berkaca-kaca. “Bertahanlah. Pasti ada cara. Kau Kwon Yuri, kau ingat?”

Yuri masih menggetarkan tangannya dengan refleks. Namun Mark menghentikannya saat itu juga. “Kau Kwon Yuri!” Ulangnya.

Yuri menangkap dua manik hazel milik Mark dan membawanya memanggil fragmen lima belas tahun silam. Saat keduanya bersama; saat keduanya berpegangan tangan; saat semuanya baik-baik saja; saat keluarga adalah tempat pulang yang sempurna.

Berhenti gemetar adalah hal refleks lain yang Yuri lakukan sekarang. Manik adiknya itu seolah membawa jiwanya kembali ke alam nyata. Seperti aspirin yang menyadarkan Yuri dari mimpi buruk panjangnya.

“Apa yang—“ Suara Yuri sedikit serak sehingga ia berdeham kecil. Saat itu gerbong ke delapan sudah meluncur, menarik gerbong yang tersisa di atas rel untuk bergerak maju dan mundur. “Apa yang hebat dari seorang Kwon Yuri?”

GROOOOOK.

“Apa yang bisa dilakukan oleh Kwon Yuri?” Ulang Yuri dengan nada yang lebih tinggi. Terlalu lama ia tidak merasakan getaran ketakutan hebat di dadanya, tangisnya pecah. Dan Mark adalah satu-satunya yang melihatnya.

“Kwon Yuri mana yang kaumaksud? Apa Kwon Yuri yang bergidik ngeri di trotoar karena perasaan bersalah atas kematian ayahnya? Apa Kwon Yuri yang menangis di tengah jalan karena menyalahkan kelalaiannya dalam mengasuh adik laki-lakinya? Apa Kwon Yuri yang hidup dengan membenci selama belasan tahun hanya karena butuh orang untuk dipersalahkan? Kwon Yuri mana yang kaumaksud, Mark-ssi? Tidak ada Kwon Yuri hebat di sini, Kwon Yuri dari awal adalah pecundang. Sampai di sini, tetap pecundang.”

GROOOOOOK.

Suara decitan semakin menjadi. Beban yang menggantung sudah semakin berat. Mayat-mayat di dalam gerbong sudah berjatuhan terlebih dahulu ke dalam jurang. “Kita akan menjadi mereka, dan kali ini semua salahku lagi.” Tutup Yuri. Menangis? Jangan ditanya. Bajunya sudah basah oleh air mata. Begitupun tangan Mark yang menyekanya.

Mark mengangkat dagu Yuri dengan tangannya. Menatap kakaknya beberapa sekon lantas bicara dengan penuh kelembutan.

“Ayah meninggal bukan karena kau. Bukan karena aku. Bukan karena siapa-siapa. Ayah meninggal karena dia menginginkannya. Ia ingin aku hidup lebih lama tanpa perlu menyalahkan kau di masa depan. Ia melakukan apa yang menjadi tugas seorang ayah dan kita semua tahu. Jika ada yang patut dipersalahkan, maka itu ayah sendiri. Bukan kau, bukan aku. Noona,  ayah tahu apa yang terbaik. Dan yang terbaik adalah saat-saat seperti ini. Kau tahu? Keluarga adalah gerbang pulang paling hebat.”

Yuri meremas bajunya.

“Tidak ada tempat pulang untuk kakak sepertiku.”

“Maka aku dan ibu akan ikut denganmu. Jika kau tidak berniat pulang, maka kami akan pergi bersamamu.” Mark bicara dengan pelan. “Karena kau adalah Kwon Yuri kami, Noona.

GROOOOOOK.

Saat itu Yuri sudah tidak peduli. Tetes air matanya sudah menyatu dengan air asin milik Mark, adiknya. Pertama kali dalam lima belas tahun, ia bisa menangis kembali di hadapan Mark. Canggung adalah hal pertama yang ia singkirkan. Yuri paham betul bahwa luka hatinya yang sudah ia anggap mengering karena membekukan emosinya selama ini, justru semakin melebar. Dan hari ini, ia duduk kepayahan dengan sebuah senyum dan tangis sebagai penawar lukanya.

Terima-kasih pada Mark Kwon.

Yuri adalah Yuri. Dia bukan siapapun.

GROOOOOOK.

Gerbong yang ditumpangi Yuri  dan Mark mulai bergerak tertarik ke bawah. Pelan dan tidak banyak suara, tapi justru itulah yang paling menakutkan. Yuri mencengkram tangan Mark kuat-kuat. Namun Mark membagi senyum padanya.

“Kenapa kau tersenyum dengan semua tangisanmu tadi?” Kata Yuri.

“Tidak. Hanya saja, ini pertama kalinya kau menggenggam tanganku dengan sukarela selama lima belas tahun. Aku sedikit bahagia.”

“Sedikit?”

“Ya. Karena waktu kita sudah tidak lama lagi, bukan?”

Yuri mencelos. Ia menggigiti bibirnya dan melihat rupa Mark baik-baik. Figurnya menyerupai Ayah dan hal tersebut adalah poin yang membuatnya membencinya. Ketidakmampuan Yuri dalam menyelamatkan ayahnya malam itu, membuat bayangan wajah menyerana ayahnya tergambar jelas ketika ia melihat Mark, Yuri membencinya.

Tapi tidak untuk sekarang.

Atau selamanya.

Mulut jurang semakin terlihat di depan mata, dan tubuh mereka perlahan tergeser otomatis ke bagian yang lebih rendah. Dengan pelan, perlahan namun pasti.

“Hey, kita punya berapa menit?” Yuri bertanya dengan nada yang ia buat seceria mungkin. Mark menatap kosong ke arah mulut jurang. “Lima? Entahlah, tiga?” Katanya.

“Ayo main sepuluh pertanyaan.” Kata Yuri. Saat itu mata bereka bertumbuk satu sama lain, menembus jiwa dan membaca akhir yang akan ditemui sebentar lagi. “Kau mulai duluan, Mark-ssi—ani—Mark-a.”

Di akhir kalimatnya, Yuri mampu mengundang senyum sumringah dari Mark. Setidaknya, sebelum semuanya berakhir, Yuri telah memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan.

“Silakan kau duluan yang mulai, Noona.” Balas Mark. Yuri tersenyum singkat lalu berkata, “apa cita-citamu?”

“Penyanyi. Apa warna favoritmu selain biru, Noona?”

“Hitam. Apa makanan favoritmu?”

Kimchi Jjigae. Berapa berat badanmu?”

“Apa aku perlu menjawab?”

“Jawab saja.”

GROOOOOOOOK.

Suara tersebut semakin kencang seiring dengan kemiringan tubuh mereka yang hampir jauh dari kata landai.

“Enam puluh. Berapa mantan pacarmu, Mark-a?”

“Ehm, Enam? Lima? Entahlah. Siapa orang yang akan kaunikahi?”

“Lee Jongsuk. Kebohongan apa yang baru saja kau katakan pada ibu kemarin?”

“Bahwa ia tetap cantik meskipun sudah tujuh puluh tahun. Apa yang kau sumpal di balik pakaian dalammu?”

GROOOOOOKK.

Tubuh keduanya bertubrukan satu sama lain. Yuri memegangi apa saja yang ia bisa untuk bertahan, tidak terjatuh dari ketinggan tersebut. Tangannya yang bebas tentu saja menggenggam Mark kuat-kuat.

Bra-Pad. Aku harus melakukan ini untuk menarik perhatian para pria. Dan kau, apa yang kau pakai di balik sepatumu?”

Mark dan Yuri sudah hampir bergelantungan vertikal sempurna. Suara-suara decitan pelan tapi mengerikan bersahut-sahutan satu sama lain. Gerbang paling bawah akhirnya melepaskan diri dari gerbang yang lain. Gerbang berat tersebut meluncur bebas dan terjatuh dengan suara debuman yang hampir tidak terdengar—menunjukkan pada Yuri dan Mark sedalam apa jurang yang mereka hadapi.

Insoles. Aku terlalu pendek untuk berdiri di sebelahmu. Terakhir, pertanyaan kesepuluh,”

Gigi Yuri bergemeletuk seiring dengan beratnya massa yang ia tanggung. Sementara ia harus menjaga tubuhnya untuk tetap stabil bergelantungan, ia juga harus menarik tangan Mark agar pemuda lemah itu tidak terjatuh.

Kalaupun harus terjatuh, harus Yuri dahulu karena bagi Yuri, dengan begitu setidaknya ia dapat menjadi alas tubuh Mark.

Noona,” Mark menatap mata kecokelatan yang terlihat lelah. Bibir Mark memucat dan peluhnya menetes-netes saat ia melihat sebuah lubang besar yang cukup dalam di bawah kakinya. “Pertanyaan kesepuluhku, Apakah kita akan mati?”

.

Noona, pertanyaan kesepuluh, apakah kita akan mati?”

Yuri meneteskan air matanya sehingga butir bening itu terjatuh tepat di pipi Mark. Mark mendongak dan melihat wajah kakak yang dicintainya selama puluhan tahun terakhir. Rangkaian kereta telah berubah menjadi benda menggantung dan perlahan terjun bebas seluruhnya. Yuri memegangi tangan Mark meskipun gaya gravitasi sedang bekerja pada mereka dari ketinggian lima meter. Saat mata mereka bertemu dengan susah payah, Yuri menatap Mark dengan teduh. Lewat bibir manis Yuri. Ia berkata.

“Ya. Kita akan mati.”

.

| f i n |

.

.

Bapkyr’s Lounge

So yeah, this is another My FIRST Fanfic with GOT7! /nari rumba/

AND MARK IS HERE MARK IS HERE UWOWWWWWWWW MY BIAS!!!!!!  [Who’s with me?]

Dan sekali lagi, dengan adanya FF ini, anggaplah ini gift permintaan maaf karena semua FF On-going aku belum dapat dilanjutkan kembali. Karena satu dan lain hal. Mohom maklum🙂

53 thoughts on “[Oneshot] The 10th Question.

  1. Seora berkata:

    yuri terlalu kejam sama mark yg polos dan imut itu -_- haha
    tapi akhirnya kenapa nyesek begitu kaknyunn huhu, aku tetep suka ff kaknyun apapun endingnya

  2. Ersih marlina berkata:

    Yahh, endingnya mati bersama
    emm yuri d sni mmentingkan rsa bencinya, bahkan pada adik kandungnya sndri
    tpi bruntung, mskipun yuri mmbnci mark mlbhi apapun krna kmatian ayah mreka, tpi mark tdak mmbnci balik ke yuri
    dan aigoo, knpa d saat trahir mreka mulai baikan mlah akan mnyusul ayah mreka , tpi gk ppa, mungkin mreka sdah bhgia
    emm fighting and keep writhing😉

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s