SASSY GIRL NEXT DOOR [1 of 3]

Sassy Girl Next Door

Kim Himchan adalah pemuda kaya dan tampan yang memilih hidup bersembunyi di balik beratnya pintu besi dari apartemen mewah di kawasan Gangnam. Bekerja sebagai asisten fotografer di salah satu majalah fashion terkemuka tidak serta-merta membuat popularitasnya menyembul meski kesehariannya dipenuhi dengan para gadis molek.  Ia adalah sosok pemuda yang apatis soal cinta dan dia tidak begitu tergila-gila pada wanita. Kepribadiannya yang unik itu membawanya pada sudut terasing dari pergaulan.

Himchan hidup sendiri.

Ya,

Aku hidup sendiri, selama ini.

.

.

Seperti hari-hari yang lain, aku hanya bekerja dan pulang setelah jam kerjaku selesai. Minum dan berpesta adalah dua daftar hitam dalam hidupku yang baru-baru ini kuingkari. Meskipun begitu, aku tidak sampai pada tahap mabuk atau sampai tidak sadar siapa diriku dan di mana aku tinggal.

Apartemen yang kutinggali berada pada lantai dua belas. Kebetulan (atau kesialan) bagiku, hanya ada dua unit di sana. Salah satunya yang kutempati. Aku sudah tinggal di sana selama setahun dan belum pernah ada yang mengisi unit kosong di sebelah kiri unitku selama itu. Tapi hari ini, ketika mataku belum membuka sempurna dari jeratan alkohol, aku bisa melihat seorang gadis membuka pintu apartemen di sana.

Wajahnya tidak begitu kuingat jelas karena aku hanya melihatnya sesekon. Surainya mencapai punggung dan ia mengenakan setelan cokelat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sosoknya lamat-lamat menghilang begitu aku menerobos masuk ke dalam apartemenku. Tapi rasa penasaran ini membuat kedua manik cokelat kokoaku tertumbuk pada kamera di luar pintu, di mana gadis itu tengah berdiri kerepotan dengan tas besarnya.

Aku hanya tersenyum, kemudian melanjutkan sensasi limbungku di atas sofa.

.

.

Masih belum terlalu pulih dari pengaruh alkohol semalam, aku nekat tetap bekerja hari ini. Saat aku keluar dari pintu apartemenku, manikku bersirobok dengan iris hazel menawan yang perlahan menembus raga. Pemilik apartemen 1202 di depanku ini baru saja menundukkan kepalanya dengan hormat padaku. Surainya menutupi separuh wajahnya sehingga, lagi-lagi, aku masih kurang beruntung untuk dapat melihat jelas wajah gadis itu hari ini.

Aku nyaris tertinggal di luar lift jika saja gadis itu tidak menjulurkan tangannya untuk menyanggah kedua pintu lift untuk menutup.

“Terima-kasih.” Ujarku lamban dan pelan. Namun dia tidak bereaksi.

Di dalam lift, aku bisa menghitung setidaknya sudah enam kali ia menghalau surainya agar tidak menutupi wajah manisnya. Ia tidak menggunakan aksesoris apapun di kepalanya hingga rambut panjang hitamnya yang terlihat lembut, beberapa kali turun dan menutupi jarak pandangnya.

Aku ingat bahwa aku memiliki sebuah bandana hitam yang kadang kukenakan ketika bekerja (karena poniku terlalu merepotkan jika tertiup angin), tanpa pikir panjang lagi, aku menepuk pundaknya.

“Apa, kebetulan kau butuh bandana?” Ujarku seraya menyodorkan bandana milikku. Gadis itu menatapku dalam kilatan kekagetan. “Oh, kadang aku memakainya sesekali. Tapi ini bersih kok.” Kataku lagi, khawatir gadis itu merasa aneh ketika seorang pria menawarinya sebuah bandana.

“Terima-kasih, tapi—“

Mungkin kalimat itu yang terakhir kudengar dari gadis itu hari ini. Manik hazelnya tidak dapat terlihat saat ia mulai memejamkan matanya dan tertawa kuat-kuat. Di dalam lift hanya ada kami berdua sehingga aku sudah berprasangka yang tidak-tidak soal apa yang ada di dalam otak gadis ini. Untuk beberapa hal yang tidak kuketahui, aku mulai berusaha menjelaskan soal bagaimana aku mendapatkan bandana tersebut dan mengapa aku memakainya. Begitu detail hingga akhirnya kami tiba di lantai dasar.

Tentu saja gadis itu keluar terlebih dahulu dari lift. Tawanya sekaan tidak pernah pudar, ia berjalan menjauhiku. Penasaran, tungkaiku kulangkahkan dengan lebih cepat, hingga aku berjalan bersisian dengannya di trotoar.

“Permisi,” gadis itu menoleh padaku. Aku menahan napas. “Aku sudah menjelaskan semuanya tapi kenapa kau masih tertawa. Kau mengejekku?”

Ia berhenti melangkah. Saat itu surainya teraduk berantakan ditiup angin. Aku tertohok oleh binar matanya yang menawan. Selanjutnya, ia meninggalkanku setelah membuat satu kalimat di hadapanku. Ia masih tertawa, tentu saja. Tapi kali ini aku tidak memiliki alasan lain untuk bertanya atau menjelaskan. Pipiku merona merah bak tomat, rasanya aku ingin menghapus hari ini secepatnya jika aku bisa.

Kau belum menutup zipper celanamu.”

.

.

“Kenapa dengan wajahmu? Kau tidak mandi?” Mulut Jung Daehyun adalah salah satu yang paling mengerikan di dunia ini. Di tempatku berjibaku dengan pekerjaan ini, satu-satunya yang ingin kuhindari adalah kontak mata dengannya. Seperti yang sudah-sudah, aku akhirnya selalu gagal karena—mau tidak mau harus kuakui—Jung Daehyun adalah rekan kerja terdekatku.

“Aku bertemu gadis cantik pagi ini.”

Binar manik abu-abunya menyala-nyala (Tunggu, sejak kapan iris hitam itu jadi abu-abu?). Jung Daehyun mengitari tubuhku saat aku berjalan lamban ke arah dapur. Senyum bodoh Daehyun menemaniku ketika aku mulai menyambar cangkir kopi kecil.

Wohoo! Biar kutebak. Gadis itu meminta nomor ponselmu? Username SNS? E-mail?”

“Kuharap begitu.”

“Kuharap begitu?” Alis hitam Daehyun meliuk ketika aku berhasil menyeduh bubuk kopi susuku dengan air panas. Aku termasuk lihai dalam mengaduk kopi tapi kali ini Jung Daehyun dan tatapan interogasinya membuatku bergeming.

“Dia menertawaiku lalu pergi.”

“Menertawaimu?” Daehyun melipat tangannya di depan dada, membuatku kikuk. Aku menaruh cangkir kopiku di dekat setoples penuh gula kemudian memindahkan beberapa sendok gula ke dalam cangkirku.

“Ya. Kira-kira begitu.”

“Bukan ‘ya kira-kira begitu’ yang ingin kudengar. Kau seharusnya tahu.”

“Ceritanya sangat panjang.”

Daehyun melirik arlojinya. “Kita masih punya satu jam sampai para model itu datang.” Senyumnya membekas dan seolah mengejekku. Daehyun adalah sahabat yang seperti ini, aku malas menyebutnya sebagai best friend forever karena well, he never was and he never will. Meskipun aku dan dia begitu dekat, mulutnya adalah satu-satunya yang tidak bisa berteman baik denganku.

Mengingat banyak hal buruk terjadi karena aku berbohong pada Jung Daehyun, maka kali ini mau tak mau aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan the-girl-next-doorku hari ini. Termasuk kisah tentang zipper celana dan bandana.

Aku sudah siap untuk sekon demi sekon air liur Daehyun berloncatan ke udara akibat tawanya yang—terkadang—di luar kontrol. Yang membuat pagiku sangat aneh adalah ekspresi Daehyun seperti ini : bergeming.

Lantas ia menepuk tangannya sendiri, seolah baru saja melihat sebuah atraksi sulap kacangan. Kemudian ia melingkarkan tangannya pada bahuku. Bahuku ditepuknya beberapa kali.

Well, Hyung…” Daehyun melirik arlojinya, tapi aku berani bersumpah ia tidak benar-benar melihatnya. “Your morning-story not as long as i expect.”

.

.

Ok, freeze. Yeah, one move again and OK! I got it. You can rest girls!”

Model-model wanita yang sebagian besar memiliki wajah non-Asia kala itu berlalu-lalang di sekitar Himchan. Pemuda itu apatis dan lebih memilih untuk menata ulang kamera dan beberapa komponen lensa di meja kecil dekat fotografer utamanya.

“Kerja bagus hari ini.”

Bang Yongguk. Pria—yang nyatanya hanya sebulan—lebih tua dariku ini berjalan mundur ke arahku. Ia menepuk bahuku dua kali lantas menarik sebuah kursi lipat kecil di sisi kiri. Tanpa menunggu izin dariku, Yongguk sudah dengan rapi menempatkan diri di sisinya.

“Kau terlihat kusut hari ini, oh well, kau memang biasanya terlihat kusut sih tapi kau lebih kusut hari ini. Ada apa? Orangtuamu menyuruhmu kembali ke London?”

Uhm, tidak. Tapi gara-gara kau, perasaanku bertambah buruk karena kau membicarakan orangtuaku.”

Ups, I don’t mean it. Sorry.” Balas Yongguk. Ia mengangkat tangannya sebentar ketika seorang model Asia melintas di depannya dan berusaha menundukkan kepalanya. “Jadi kalau bukan orangtua, apa yang mengganggumu? Pekerjaan?”

“Aku yakin pekerjaanku baik-baik saja.” Balasku singkat.

“Lantas apa? Gadis? Asmara?”

Aku menjatuhkan sebuah lap kecil yang seharusnya ada di tanganku saat itu. Aku berdeham singkat saat memungutnya kembali. Gerakan kecil tersebut tidak luput dari pengamatan pupil Yongguk dan itu membuatnya tertawa.

“Gadis beruntung mana yang bisa membuat Himchan The Cold Guy bertingkah seperti ini, huh? Katakan padaku. Siapa gadis itu?”

“Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku. Pertama Jung Daehyun, lalu kali ini kau, Hyung. Aku merasa diriku sangat payah dalam urusan asmara kalau kau memperlakukanku seperti ini.”

Yongguk tertawa dan menepuk keras pundakku hingga aku terlonjak kaget setengah kesal. “Jadi kau merasa kau adalah jagoan dalam urusan cinta?”

Don’t i?”

“Selera humormu payah sekali. Aku tidak tertawa.”

Aku menghela napas. “Oke. Karena aku payah, jadi mari kita lupakan topik ini.”

Yongguk mengetukkan buku-buku jarinya di atas meja tersebut. Maniknya mengedar pada seluruh ruangan yang hampir kosong setelah ditinggalkan beberapa pekerjanya. Mungkin hanya Yongguk dan Aku yang tersisa di sini (ditambah Jung Daehyun yang diam-diam mendengarkan di balik sebuah papan kayu.) Yongguk merapatkan tubuhnya padaku. Ia membisikkan sesuatu sembari menutupi gerakan bibirnya dengan telapak tangan.

“Jika kau perlu informasi, Jung Daehyun sudah mengatakannya pada seluruh pegawai di sini. Aku bertanya karena aku ingin melihat ekspresimu. Itu saja.”

.

.

“Aku bersumpah Jung Daehyun, aku bersumpah akan melemparkanmu ke dalam akuarium penuh Piranha!”

Aku mengatakannya di depan wajah Jung Daehyun? Oh, tidak juga! Mana bisa aku begitu. Oke, aku akui bahwa citra yang kupertahankan sebagai The Cold Guy memang bukan tanpa alasan. Tapi citra ini tidak menunjukkan bahwa aku adalah pria dengan peranan antagonis. Aku pemuda yang sangat baik (meski aku cukup aneh mengatakannya dengan mulutku sendiri.)

Hari ini, semuanya adalah sebuah kekacauan hampir sempurna untukku.

Kenapa hampir?

Karena yang sempurna akan datang sebentar lagi.

Kisahnya berawal ketika aku naik lift menuju lantai dua belas di gedung apartemenku. Tidak seperti biasanya, hari ini aku pulang lebih malam karena mengurusi beberapa hal yang tidak dapat di­-handle oleh jadwal padat Bang Yongguk. Jika aku tidak salah ingat, saat itu adalah jam sebelas malam waktu arlojiku (karena biasanya arlojiku selalu tiga puluh menit lebih awal dari pada jam lainnya.)

Jariku baru saja akan menekan panel angka dua belas pada lift saat seseorang menerobos masuk. Gayanya sangat berbahaya dengan kepala yang dijulurkan terlebih dahulu. Jika tubuhnya tidak segera menyaruk masuk segera, saat itu aku sudah berpikir kalau dia adalah hantu lift.

Gadis penghuni apartemen 1202 itu ada di depanku. Surai hitamnya kali ini menutupi keseluruhan dari wajahnya. Aku bisa menghirup aroma alkohol yang sangat kuat dari tubuhnya. Ia beberapa kali mengalami segukan.

Dua sekon kemudian, tepat saat pintu lift sudah menutup sempurna. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke dinding-dinding besi. Kuku-kukunya menggaruk besi lantas ia bergumam bahasa aneh yang tidak kumengerti. Jemarinya sesekali menyibakkan surainya dari wajah, tapi gerakan gilanya di dalam lift membuat surai itu kembali pada posisi awal. Gadis itu berteriak-teriak lantas menari-nari di dalam lift sampai kami tiba di lantai dua belas.

Aku tidak berani menyapanya. Aku tidak suka terlibat dengan gadis mabuk. Jadi wajar ketika pintu lift terbuka, aku mengabaikannya begitu saja dan bergegas menuju pintu besi apartemenku.

Gadis itu keluar dari lift dengan gaya tak wajar. Ia duduk di lantai dan perlahan menggaruk lantai seolah ia sedang mendayung. Ia menggeser bokongnya sedikit demi sedikit demi keluar dari lift.  Jika aku tidak salah hitung, gadis itu menahan dua kali pintu lift tertutup otomatis hanya untuk keluar dari sana.

Ia sampai di sisi kiriku lantas mulai berdiri sempoyongan. Ia menyibakkan surainya lantas tersenyum ke arahku. Aku bisa mendengar ia mulai menekan-nekan panel angka lock-door unit apartemennya. Aku bisa mendengar please, try again berkali-kali dari mesin otomatisnya.

“Kenapa? Apakah ini rusak?” Gadis itu bergumam pada dirinya sendiri. Ia menggaruk kepalanya kemudian mencoba kembali. Aku tidak perlu melihat lagi, paling-paling ia salah lagi.

Pintu apartemenku sudah terbuka. Aku baru melangkahkan tungkaiku untuk mengambil langkah pertama ke dalam sana. Dan Demi Tuhan, saat itu aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Tahu-tahu rasa penasaranku menahan langkahku begitu saja. Malah aku melangkah mundur saat ini.

Yang membawaku urung melangkah maju adalah suara-suara pelan berisik yang tidak lagi kudengar. Tidak ada segukan kecil atau desahan panjang dari Si Gadis Mabuk dan itu membuatku cukup penasaran.

Agassi!”

Aku tahu-tahu sudah meneriaki gadis itu. Tubuhnya terbujur kaku di depan pintu apartemennya. Aroma alkoholnya sangat mengganggu. Aku bertaruh, ia pasti pingsan karenanya. Berpikir hal tersebut mungkin bisa berakibat fatal, aku segera menelepon 119 dan meminta bantuan.

Tidak berapa lama, petugas datang dan membawa gadis itu ke rumah sakit.

Ingat ketika aku berkata hari ini adalah kekacauan yang hampir sempurna?

Saat ini, kekacauan tersebut sudah dalam tahap sempurna.

Karena sebagai informasi, aku harus terjaga semalaman di rumah sakit malam ini hanya untuk seorang gadis mabuk yang tidak pernah kukenal.

.

.

“Terima-kasih sudah menolongku.”

Pagi ini adalah pagi kedua yang sangat aneh untukku. Bagaimana tidak? Gadis Mabuk itu duduk di sisiku dan memberiku sebuah bubur hangat untuk disantap.

Jika kau berpikir kami sedang berada di rumah sakit saat ini, maka kau salah besar. Semalam, tepat setelah ia dibaringkan pada salah satu kasur di ICU rumah sakit terdekat, gadis itu membuka matanya. Dengan santainya ia bertanya di mana toilet lantas memuntahkan seluruh isi perutnya di sana.

Kami pulang tanpa pengobatan (dan khusus buat gadis itu, perlu ditambahkan juga ‘tanpa rasa malu’)

“Tidak apa—“

“Kwon Yuri. Kau bisa memanggilku Yuri.”

Aku perlu menambahkan bahwa selain tidak tahu malu, gadis ini juga terlalu percaya diri. Aku tidak ingin tahu namanya bahkan untuk satu huruf pun.

“Oke, Yuri-ssi. Kau tidak seharusnya minum jika kau tidak tahu caranya mabuk yang benar.”

“Wah, aku sudah hidup kurang lebih dua puluh lima tahun dan ini kali pertama aku mendengar istilah itu. Mabuk dengan benar? Mabuk saja sudah salah. Jadi bagian mananya yang benar?”

Tambahan lain, gadis itu pandai sekali berbicara.

“Oke lupakan. Yang aku maksudkan di sini adalah, jangan mabuk jika kau tidak sanggup mengendalikan dirimu ketika kau mabuk. Kau hanya merepotkan orang lain.”

“Aku merepotkanmu dan kau bukan orang lain.” Sanggahnya.

“Permisi, tapi aku memang tidak pernah mengenalmu. Kau orang lain bagiku.”

“Bukankah kita tetangga? Apakah tetangga adalah orang lain untukmu?”

“Apa kau tidak berpikiran seperti itu?”

“Tidak.”

Aku menghela napas. “Baik, jadi kita tidak sepaham dan aku akan meninggalkan apartemenmu sekarang juga. Terima-kasih untuk buburnya, tapi aku tidak ingin makan bubur pagi ini.”

Aku bertingkah cukup kasar pagi ini. Aku tidak tahu kenapa. Gadis ini memicu ekspresiku yang demikian. Kata-kata polos yang keluar dari bibirnya atau tingkah laku nyentrik yang ia tunjukkan selama sehari kemarin membuatku cukup kesal. Aku hanya merasa citraku terinjak-injak untuk alasan irasional yang tidak kuketahui.

Dan lagi-lagi, karena gadis ini, aku terlambat untuk pertama kalinya dalam bekerja. Aku bertaruh, hari ini akan lebih kacau dari kemarin.

.

.

“Tidak biasanya kau terlambat, Himchan-a.” Yongguk menegurku dari balik senyuman di wajahnya. Meskipun aku dan dirinya adalah rekan kerja yang mengenal cukup lama, dalam hal-hal indispliner tanpa pemberitahuan, atasan tetaplah atasan.

“Aku memiliki alasan untuk ini. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Aku menerima apapun konsekuensinya.”

Yongguk mengangguk-angguk lamban. “Sayangnya aku tidak memiliki konsekuensi untuk tindakan indisplinermu karena kau tidak mengutarakan alasannya. Mulailah bekerja.”

Aku mengusap tengkukku. “Terima-kasih.”

Aku melihat deretan tulisan yang terpampang pada whiteboard besar di sisi kanan studio. Tertulis di sana bahwa jadwal Yongguk hari ini adalah pemotretan outdoor dan aku cukup kaget bahwa lokasi yang dipilihnya adalah kawasan berbukit yang cukup jauh dari Seoul. Well, aku tidak pernah diberitahu soal ini.

Aku bergegas menghampiri Daehyun demi menglarifikasi beberapa poin penting. “Ini sangat mendadak. Pihak majalah inginnya begini.” Ujarnya. “Kenapa kau tidak mulai membantuku mengepak beberapa lighting dan kamera?”

“Oh benar juga.”

Aku menyambar beberapa kamera milikku dan kamera milik Yongguk. Aku mengepak beberapa keperluan pendukung lainnya dengan rapi dan mulai memasukannya ke dalam mobil dengan rapi. Daehyun beberapa kali membantuku untuk membawa peralatan yang cukup berat namun seperti biasa, kecerobohannya selalu meninggalkan petaka untukku. Untung saja kali ini ia hanya tidak bisa menghindari langkah kakinya untuk menginjakku berkali-kali, bukan sesuatu yang besar.

“Kalian berangkatlah terlebih dahulu bersama para model. Aku masih menunggu satu model lain yang belum datang.” Yongguk memberi perintah terakhirnya padaku dan Daehyun. Aku (sialnya) berada satu mobil dengan Daehyun. Sedangkan staf Yongguk yang lain merasakan surga dengan satu mobil bersama para model wanita yang molek.

“Nasib buruk selalu menghampiri ketika kau berada di dekatku.” Keluh Daehyun. ”Jongup di sana dengan para gadis dan aku harus berada di sini dengan pemuda pemarah dan barang-barang studio.”

Shut up.” Aku mulai menyalakan mesin mobil sementara Daehyun membalasku dengan helaan napas dan respons singkat. “I wish i can.”

.

.

“Konsep apa yang dipakai? Kenapa di tengah hutan begini?” Tanyaku begitu kami tiba di lokasi. Aku tahu beberapa tempat yang sangat pas untuk dijadikan objek pemotretan komersial. Tapi bukit berbatu tepat di tengah-tengah hutan dengan cahaya minim, sama sekali bukan pilihan.

“Aku sudah mengatakan itu ketika Yongguk hyung menerima telepon dari pihak majalah. Dia tidak mau mendengar, tipikal Yongguk.”

Hm.

“Apa lokasi ini memang terlalu buruk?”

Aku memicingkan mata ke objek bebatuan di kejauhan. Lalu berdecak-decak pongah bak paham betul apa yang terjadi jika lokasi tersebut digunakan dalam pekerjaan kali ini.

“Tidak bagus ya?” Tanya Daehyun lagi. Aku menggeleng. “Harusnya tidak bagus. Sementara ini, percaya dahulu pada tangan dewa Yongguk-hyung dan kekuatan photoshopmu.”

Ey!

“Bercanda.”

Rasanya aku baru saja menyelesaikan beberapa dialog kecil dengan Daehyun, tahu-tahu Yongguk sudah muncul di belakang kami. Dengan mobil van hitam berukuran besarnya, Yongguk berhasil membawa model utama kami. Seorang gadis cantik yang wajahnya pernah beberapa kali menghiasi majalah-majalah fashion di Korea, Yoon Bora.

Annyeong haseyo.” Sapanya.

Sejauh mata memandang, gadis itu hanya tahu tersenyum sepanjang waktu. Aku tidak pernah melihat gusinya terhalang suatu apapun karena ia terus saja memamerkannya pada kami. Ketika mata kami bertumbuk, aku hanya mengangguk singkat lantas membuang arah pandangku ke lain objek. Aku terlalu kikuk untuk tersenyum.

Cuaca hari itu begitu dingin. Harusnya semua orang—tanpa terkecuali—memakai pakaian tebal atau setidaknya memakai baju yang melindungi seluruh kulitnya dari sapaan dingin. Karena pekerjaan, Bora dan para model lainnya harus berjibaku dengan cuaca ekstrem ini. Sebagian besar dari mereka menggunakan pakaian dengan potongan rendah di bahu.

Yongguk adalah pemimpin team yang sangat konsisten. Jika ia sudah bertahan pada satu konsep, ia tidak akan mengubahnya karena alasan apapun. Termasuk terhadap dingin yang mendera sekalipun.

“Kita akan mulai dengan skenario foto terakhir setelah break tiga puluh menit.” Yongguk memberitahuku. Aku mengangguk setuju lantas membeberkan berita itu pada setiap kepala yang ada di sana. Tanpa komando lebih lanjut, team kami selanjutnya bercerai-berai. Ada yang masuk ke dalam van dan mencoba tertidur atau ada yang sibuk mengunyah ramyeon diam-diam di kejauhan (aku berbicara tentang Daehyun.)

Yongguk dan beberapa model kenalannya sudah pergi terlebih dahulu. Herannya, ia meninggalkan Bora bersamaku di sana. Ini adalah kali pertama aku berada sedekat ini dengan model sekelas Bora jadi wajar saja jika aku merasa dua kali lebih kikuk dari biasanya.

“Kau asistennya?” Tanyanya. Saat itu seorang ahjumma datang dan memberi Bora sebuah mantel super tebal. Bora memakainya dengan bantuan ahjumma tersebut. Lantas ia menatapku lagi karena pertanyaannya belum kujawab.

Oh… ya.” Kataku lamban.

“Kim Himchan?”

“Benar. Sebuah kehormatan kau tahu namaku.”

“Yongguk bercerita sedikit saat perjalananku ke sini.”

“Oh,” aku mengangguk-angguk.

“Apa pekerjaanmu selain ini?”

“Tidak ada. Aku hanya bekerja di bidang ini.”

Ey! Tidak mungkin. Kudengar kau memiliki sebuah apartemen di Gangnam. Kecuali kau yang memiliki seluruh studio foto, barulah hal tersebut terdengar wajar. Benar bukan?”

Aku tertawa atas kalimatnya. Bukan tawa yang benar-benar lepas, hanya sebuah tawa santun sedikit. Aku bertaruh bahwa Yongguk bercerita banyak tentangku pada gadis ini. Ambisinya untuk mencarikan seorang pasangan bagiku belum pernah sekalipun luntur.

“Itu apartemen keluargaku. Aku meminjamnya sebentar.” Kataku.

“Begitu? Sepertinya keluargamu adalah seseorang yang… ya… kau tahu…”

“Mungkin.” Aku tertawa hambar disusul suara Bora yang halus di udara. Adalah sensitif untukku jika topik pembicaraan sudah menyinggung soal siapa dan bagaimana keluargaku. Meskipun apa yang kukatakan tidak sepenuhnya bohong, namun tidak ada jaminan bahwa yang kukatakan adalah kejujuran juga.

Kenyataannya, keluargaku memang kaya raya dan aku adalah pemuda yang ingin melepas semua kemewahan tersebut dan perlahan membuat duniaku sendiri. Terdengar klise? Mungkin. Aku juga belum percaya aku melakukan ini semua hanya demi ambisiku sendiri. Namun aku percaya bahwa suatu hari aku memang bisa terlepas dari bayang-bayang keluargaku. Terlepas dari takdir yang dibuat mereka padaku.

“Dengan siapa kau tinggal saat ini?” Tanyanya lagi, ini sedikit mengejutkanku karena kukira obrolan kami sudah berhenti sampai di sana.

“Aku? Oh, aku tinggal sendiri.”

“Keluargamu?”

“Di luar negeri.”

“Oh,” Bora terlihat menahan beberapa kalimatnya. Aku bisa membaca ekspresi wajahnya. Dia berpikir untuk bertanya beberapa hal lain lagi, tapi dia bimbang. Saat aku merasa topik soal aku dan latar belakangku sudah selesai, tahu-tahu Bora bicara lagi. “Bagaimana dengan kekasihmu? Mengapa kau tidak tinggal dengan kekasihmu?”

Aku tahu cepat atau lambat ia akan menyentuh topik ini—seperti yang dilakukan para gadis lain—tapi aku hanya tidak menyangka bahwa dalam sepuluh menit momen perkenalan, ia sudah bisa bertanya hal-hal pribadi seperti ini.

“Itu,” aku mengatur napasku. Aku tidak ingin berbohong, tapi jika aku jujur, hal tersebut akan membuat Yongguk terlalu senang dan berpikir bahwa rencananya menjodohkanku dengan Bora berhasil. Sayangnya, aku tidak terlalu berminat pada urusan sensitif seperti cinta. Tapi di sisi lain, rasanya akan sangat aneh jika aku berbohong di saat semua orang di sini tahu bahwa aku memang seorang pemuda lajang kesepian. So, yeah…aku tidak punya pilihan. “Kebetulan aku bel—“

“HIMCHAN-HYUNG! HIMCHAN-HYUNG! JACKPOT! JINJJA JACKPOT!”

Daehyun tahu-tahu datang dan memotong kalimatku. Ada sosis panggang yang terlihat menjijikkan di tangan kanannya (karena penuh liur Daehyun) sementara ia berlari sepanjang seratus meter dari tempatnya hanya untuk meneriakiku di tengah obrolan canggung aku dan Bora. Satu sisi aku sangat berterima-kasih padanya, tapi di sisi lain aku ingin menghantam wajahnya saat ini juga.

JACKPOT. JINJJA.” Ulangnya seraya mengganyang habis sosis di tangannya. Ia mengunyah sosis tersebut dengan brutal namun pupilnya tidak pernah beralih dari pupilku. Saat itu aku merasa seolah akulah yang dikunyah oleh Daehyun, bukan sosisnya.

“Ada apa?” Tanya Bora. Shit! Aku melupakan bagian di mana Bora berdiri juga di sisiku, sama-sama menatap Daehyun dengan bingung.

“Himchan hyung kau benar-benar daebak! JI……..NJJA!” Katanya lagi. Aku melihat jakunnya naik-turun menelan sosis yang belum tercabik lembut di mulut. Ia menunjukkan dua jempol teracungnya padaku sembari berulang kali mengatakan hal yang sama. Dan aku hanya… ah… silakan deskripsikan sendiri bagaimana frustasinya aku menunggu jawaban pria bodoh ini.

“Gadis cantik! Benar-benar cantik!” Katanya patah-patah. Seolah Daehyun baru saja turun dari roller coaster setelah dua hari berputar di atasnya. “Dia, katanya dia,” napasnya terengah hebat jadi dia membuat jeda beberapa sekon di depanku. Aku bertukar-pandang dengan Bora.

“Dia mencarimu! Ada gadis cantik mencarimu, hyung! Dan tebak apa yang dia katakan?”

Aku mengernyitkan dahi sampai baris ini. Kalau ada gadis cantik saja, itu terdengar normal. Tapi jika ada gadis cantik yang mencariku, well, ini seperti sebuah muslihat licik baru dari Daehyun.

“Ini jam kerja Jung Daehyun. Kembalilah bercanda nanti.” Kataku.

“AKU SERIUS! Kau tidak melihat aku terengah seperti ini? Aku kaget lho! Aku cukup kaget dia menyebut namamu.”

“Kau serius?”

“Jung Daehyun tidak akan mau repot-repot berlari dengan sosis yang belum selesai dimakan hanya untuk memberitahumu hal-hal tidak berguna. Ini serius, hyung!

Daehyun menatapku dengan antusiasme tinggi sementara Bora dipenuhi kuriositas yang tidak bisa kujelaskan.

“Kau bertanya siapa namanya?” Kataku. Ekspresi Daehyun terlihat tidak yakin. Ia beberapa kali memuta bola matanya ke atas seraya membuat ekspresi mengingat-ingat. “Apa ya tadi? Sesuatu seperti kaca? Yuri?”

“Yuri?” Aku ikut mengingat-ingat. Tidak pernah ada teman dekat atau kerabatku di Seoul dengan nama Yuri. Aku mengingat-ingat kalau-kalau aku pernah bertemu dengan gadis ini semasa aku bersekolah di London. Tapi nihil. Ruang lingkupku sangatlah kecil jadi aku hapal benar nama-nama orang yang berada di sekitarku. Yuri? Aku yakin tidak pernah mengenalnya.

“Daehyun-a, coba ingat lagi, siapa tahu kau—“

“Kwon Yuri, kau bisa memanggilku Yuri.”

Bagaikan di sambar petir, frasa itu tahu-tahu muncul di telingaku. Gadis Mabuk semalam.

“Di mana dia sekarang, Daehyun-a?”

“Jadi kau mengenalnya, hyung? Dia siapa? Pacarmu ya?”

“Katakan dia di mana like really now Jung Daehyun!” Aku—tanpa sadar—meneriakinya. Daehyun terlonjak sebentar lantas ia bicara patah-patah dengan cukup ragu. “Karena kupikir dia model baru kenalanmu, aku membawanya pada Yongguk hyung.”

Aku memandangi Jung Daehyun dan semua tindakan bodohnya.

“Shit!”

.

.

“Oh,” aku sedikit terengah ketika aku sampai di ambang pintu van Yongguk. Bertumbuk pandang denganku adalah Yongguk sendiri. Senyum menghiasi wajahnya yang tampak kurang begitu nyaman ketika aku tahu-tahu ada di sana. “Hyung?”

Di depan Yongguk ada Gadis Mabuk kemarin yang perlahan beringsut dari jok belakang. Ia menggeser pintu van di row kedua lantas menghindari tatapanku selagi ia bisa. Tentu rasa penasaranku membuat langkah lebih efisien dengan menghindari Yongguk dan memutar arah untuk mencegah gadis itu melakukan hal yang lebih mengagetkanku lagi. Tapi suara dehaman kencang Yongguk mengurungkan niat tersebut.

“Apa?” Tanyaku. Yongguk membukakan pintu van dan menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. “Tidak bisa, aku terburu-buru.” Kataku.

Diiringi gelengan singkat, Yongguk keluar dari van. Ia berdiri berhadap-hadapan denganku saat ini. Ada jeda yang tidak wajar dibuat olehnya sebelum akhirnya dehaman singkat lain melelehkan suasana singkat tersebut.

“Kau akan mengejarnya?” Katanya.

“Siapa?”

“Gadis itu?”

Oh iya, aku hampir lupa. “Maaf aku belum menceritakannya padamu, dia tetanggaku.”

“Apakah dia adalah Gadis Zipper dalam gosip murahan yang disebarkan Daehyun?”

Aku tidak terlalu nyaman dengan sebutan Gadis Zipper yang melekat pada mulut Yongguk saat ia mencoba menyebutkan sosok Yuri, tapi apa peduliku?

Yep. Dia.”

Em,” Yongguk mengangguk-angguk. Beberapa kali topi bak koboinya ia putar-putar. “Kau harus cepat-cepat menyelesaikan urusan ini dengan gadis itu. Dia menceritakan semuanya padaku, well, meskipun aku tidak percaya sepenuhnya.”

Aku tidak biasanya gemar melakukan hal bodoh tidak berguna seperti menggaruk kepala yang tidak gatal atau memutar-mutar pergelangan kaki dan membuatku nampak tolol, tapi dua hal tersebut kini kulakukan bersamaan sebagai reaksi atas kalimat Yongguk.

“Tunggu. Urusan? Urusan apa yang kumiliki dengan gadis itu?”

Who knows. Kau seharusnya tidak bertanya padaku. Dia tetanggamu bukan tetanggaku.”

Yongguk melipat tangannya. Ketika ia bergerak, kelepak jas hitam panjangnya bergoyang tertiup angin. Aku seakan bertemu dengan Gin dari serial animasi terkenal Detective Conan saat ini. Nyaliku meredup entah karena apa.

“Sebenarnya hyung,” Aku mendesah panjang. “Apa yang dia katakan padamu?”

“Dia mengatakan padaku apa yang seharusnya ia katakan padamu. Ia sangat takut mengatakannya padamu sehingga ia datang ke sini dan memintaku untuk membuka hatimu.”

“Tunggu, tunggu. Aku perlu waktu untuk memahami topikmu, hyung.”

“Kau akan kehilangan banyak waktu jika kau tidak mengejarnya sekarang.”

“Aku tidak paham maksudmu.”

“Aku tidak paham sifatmu.”

“Apa? Kenapa? Apa yang salah denganku.”

Tungkai kaki Yongguk bergerak, membawanya selangkah lebih dekat denganku. Tangannya yang panjang dan hangat menepuk-nepuk pundakku tiga kali. Dalam suara rendah yang hampir mendekati bisikan, ia berkata,

“Bukan salahmu kalau kau tidak pernah begitu sensitif soal cinta, tapi ini salahmu jika gadis itu mengugurkan kandungannya hanya karena kau tidak ingin mengakuinya sebagai anak.”

.

.

.

.

[To be continued]

LHO LHO LHO YURI HAMIL? DIHAMILIN HIMCHAN? LHO LHO LHO! KOK BISA? KOK BISAAAAAA?

Hihi, buat yang penasaran, ditunggu aja chapter keduanya ya. HAHAHAHA.

Do review please. do not hit and run.

65 thoughts on “SASSY GIRL NEXT DOOR [1 of 3]

  1. Winter Expect berkata:

    Hahahaha hadow himchan bagemana bisa zipper nya kelupaan ._. .

    HIHIHI BERASA PENGEN NGAKAK GA TAU KENAPA KALO HIMCHAN ROLE AS COLD GUY😄 //ABAIKAN//

    YATUHAN KOK BISA HAMIL YA KAKYUL-HIMCHAN KAMU APAIN DIAAA GRRGRKGRKGRK AUMM //IKUTAN GEGE’ES xp //

    Oke,lanjot dulu ke next chapter yah~~~~~~~~

  2. zelo berkata:

    Astaga ngakak ga nahan baca ini huahahahahahaha daebbaak unniee wkwkwkwk, fighting ne, saya lanjut kkk~

  3. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Hahahaha ya Allah ngukuk bca ini.. gila Yuri sinting bgt!
    selama baca gk brenti ketawa, tp tunggu. ko Yuri bisa hamil sih? *MikirKeras* jangan jangan.. jangan jangan
    buat Himchan,, yg sabar ya:D haha
    assh aq suka bgt!!! izin baca part slnjutnya kak..
    makasih

  4. kimchikai berkata:

    Daehyun rempong bener wktu bilang gadis cantik sambil bawa2 sosis wwk, kocak karakternya yuri.. eh tp yuri hamil?? Kapan ngelakuinnya?*plak

  5. Angella Yurisistable berkata:

    Huhuhu Daehyun lawak btl lh…Himchan kmu brtemu yeoja yg tidak kalah gila nya sma Daehyun.
    Yuri dasar aneh di selamatin olh Himchan tpi malah di blg hamil anak Himchan.Baru aja model itu mau kenaln tpi malah di ganggu Daehyun…
    ‘Ada gadis cantik mencarimu Hyung.’ huhuhu..

  6. Ersih marlina berkata:

    Selalu hal mengejutkan yg di buat kwon yuri haha. Beneran diaa nekat banget sampe berani bhong sama yongguk haha. Kbyng wjah himchan yg merah padam trus ada asapnya gtu hihi

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s