SASSY GIRL NEXT DOOR [2 of 3]

Sassy Girl Next Door

Biarlah aku berkata MAAF dahulu karena project Two-Shots ((seperti biasa)) berubah menjadi chaptered. Ada 3 chapter + 1 Epilogue. Baca hati-hati ya. Soalnya banyak twist.

😄

Last chapter : Yuri berkata bahwa dia telah hamil karena Himchan . Apa yang sesungguhnya terjadi?

.

.

“Aku menjaga rahasia ini. Kau bisa percaya padaku.”

BRENGSEK!

Gadis itu telah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Yongguk. Aku masih ingat senyuman itu dan segala nasehat bijak yang sebetulnya tidak kubutuhkan. Begitu mendengar kabar mengejutkan tadi, aku langsung saja berlari dan mencari keberadaan Yuri.

UGH,

Ini adalah hari kesialan lain sejak aku bertemu dengan gadis itu.

“HEY KAU!” Aku berteriak. Di depanku, mematung seorang gadis belia yang rasanya ingin kudorong ke sisi jurang sekarang juga. Ia memutar tubuhnya sehingga aku kini dapat dengan jelas melihat wajah polos itu. Matanya merah dan biar kutebak, “kau menangis di hadapan atasanku.”

Ia mengangguk. Lalu melipat tangannya di depan dada.

Yep.” Katanya ringan, seolah ia tidak pernah melakukan sebuah kebohongan besar. Aku menyembunyikan tangan-tanganku di belakang tubuh dan mencoba menyembunyikan rasa kesalku sebaik mungkin.

“Kau tahu apa yang kau katakan pada atasanku akan berdampak sangat buruk untuk citraku?”

“Lho?” Ia menatapku dengan kedipan tidak normal sepersekian sekon pada matanya. “Memangnya apa yang aku katakan?”

Aku menghela napas. Butuh dua training yoga dan pilates di situasi seperti ini.

“Kau mengatakan aku menghamilimu.”

“Benarkah?”

Aku menahan emosiku.

“Benar. Dan aku ingin tahu apa motivasimu.”

“Sungguh? Apa aku benar mengatakan itu?”

Satu lagi gerakan napas abnormal dan aku berkata. “Ya. Dan tolong jangan mencoba berpura-pura.”

“Ah, oke.” Katanya—tanpa nada bersalah sedikitpun. Ia memandangiku selagi aku menunggu penjelasannya. “Oh, lantas apa?”

Hell, lantas apa katanya? Dia baru saja merusak citraku pada atasan dan sekarang dengan polosnya ia berkata ‘lantas apa’? Dia waras kan? Maksudku, tidak mungkin ada seseorang yang tinggal di apartemen mewah dengan package sesempurna ini namun dengan kondisi otak yang tidak baik, bukan?

Huft.

Aku memutuskan tidak lagi menanggapi kalimatnya. Yuri menatapku penuh kuriositas. Pada akhirnya, karena Jung Daehyun dan berapa kawanan penggosipnya sudah mulai mendekat, aku menarik tangan Yuri dan pergi dari sana.

.

.

“Kau tidak makan buburku. Jadi kupikir aku harus menemuimu untuk menebus rasa terima-kasihku.”

Gadis itu menyesap kopi hitam hangatnya sedikit demi sedikit. Matanya yang jernih beberapa kali menusuk-nusuk penglihatanku, seolah menunjukkan citra bahwa dia tidak pernah merusak hari milikku sekarang dan hari kemarin. Aku baru saja mendengarkan penjelasannya soal kenapa dia repot-repot menyusulku ke daerah pegunungan seperti ini dan dari mana ia tahu di mana aku bekerja.

Meskipun aku sudah mendengar Yuri ternyata memiliki kenalan di rumah sakit yang mengetahui identitasku (karena aku memberi kartu nama sebagai penjamin biaya administrasi saat ia dibawa ke ICU kemarin) atau tentang kenyataan ia memiliki Villa di dekat sini, tapi soal muslihat kehamilannya itu yang masih belum bisa kuterima sampai detik ini.

Niatnya sangat baik, tapi caranya sungguh kejam.

“Aku memohon agar aku dapat bertemu denganmu tapi si Oppa itu menyuruhku menunggu sampai pekerjaanmu selesai. Aku tidak punya waktu selama itu. Aku juga harus bekerja selepas jam tiga nanti. Jadi aku mengarang cerita agar aku diizinkan mengajakmu keluar. Kau masih marah?”

Kau masih marah katanya?

Apa masih kurang jelas di matanya?

“Kau mungkin ingin aku meminta maaf padamu. Tapi aku tidak akan. Ini salahmu juga. Jika saja kau menerima bubur-terima-kasihku kemarin, aku tentu tidak akan bertindak seperti ini.”

Napasku semakin berat setiap sekonnya. Gadis ini tidak bisa kugolongkan ke golongan bodoh atau pintar. Dia hanya lugu. Dan tidak tahu malu. Aku punya solusi untuk orang-orang dengan perilaku seperti ini : Jauhi. Jangan bicara padanya. Jangan memohon apapun.

Mungkin dia tahu aku sangat tidak nyaman duduk berhadap-hadapan dengannya di kafe seperti ini saat jam kerjaku. Tapi ia berusaha tidak ingin peduli. Malah kini ia mengeluarkan sebuah kotak merah dari tasnya dan menyerahkannya padaku.

“Bukalah ketika kau sampai di rumah. Ini ucapan terima-kasihku.” Yuri tersenyum. Pipinya merona karena udara dingin. Jika dia tidak segila ini, tentu aku memiliki pertimbangan dan penilaian sendiri atas figurnya.

Kotak merah itu tidak kusentuh sedikitpun. Bahkan sampai gadis itu pamit dan surainya jatuh menutupi separuh dari wajahnya ketika ia menunduk sopan. Aku melihat ia mampir sebentar di kasir dan membayar bill untuk meja kami. Lantas ia pergi, entah kemana.

Bukalah ketika kau sampai di rumah.

Aku tertawa tertahan. Siapa dia berani menyuruhku untuk melakukan sesuatu? Ini hadiahku ‘kan? Kenapa ia harus mengatur kapan dan di mana aku harus membuka kotaknya?

Cih.

Aku buka saja kotak merah itu. Aku menjauhkan kepalaku dari sana kalau-kalau ternyata ia memberiku boneka Si Kejut dengan per pegas yang panjang dan mengejutkan. Tapi ternyata, well, di sana hanya berisi tiga lembar kertas. Salah satu lembarnya dilipat seperti surat dan dua yang lain hanya sebuah kertas seukuran kartu namaku.

Yang kuambil terlebih dahulu dari kotak adalah kertas surat. Aku membukanya dan melihat setidaknya ada tiga paragraf terukir di sana.

Halo Kim Himchan-ssi!

Kau sudah lihat ada dua kertas kecil kosong di dalam kotak? Kau tentu tidak tahu itu apa, bukan? kertas ini akan memberitahumu jadi baca sampai akhir😉

Aku berpikir hadiah yang pantas sebagai ucapan terima-kasih untukmu, tapi otakku buntu. Kau sepertinya kaya-raya dan rasanya kau pasti sudah memiliki segalanya. Jadi aku hadir dengan dua kupon permohonan. Kau tahu kisah Aladdin and The Genie? Kupon ini bertindak persis seperti pengabul permohonanmu. Kau tulis saja apa yang kauinginkan dan taruh kertas itu di bawah pintu apartemenku. Aku akan mengabulkannya untukmu keesokan harinya.Tapi ingat, kau hanya memiliki dua kesempatan karena aku hanya memberimu dua kertas. Kau bisa minta apa saja. Tapi kau hanya memiliki satu minggu sebelum penawaran ini kadaluarsa. Kau paham ‘kan?

Tsk.” Aku mengolok isi suratnya. Ini kekanak-kanakan. Aku melipat surat tersebut dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. Sembari menahan luapan rasa geli di dalam perutku, aku meninggalkan meja dan bergegas kembali pada pekerjaanku.

Beberapa pelayan menahanku di pintu kemudian memberitahuku sesuatu.

“Kenapa? Ada apa?”

“Kau belum membayar tagihanmu, Tuan.”

Segenap pengunjung kafe melirik padaku. Mungkin setengah mencemooh.

“Begini, kau tahu gadis muda tadi yang duduk bersamaku? Dia yang—“

“Dia membayar hanya untuk kopi hitamnya, Tuan. Kau belum membayar tagihan americanomu.”

Pengunjung di kafe berdecak. Aku hanya memohon agar suatu hari nanti aku tidak mati dengan kondisi memalukan seperti ini.

.

.

Aku sampai di lantai dua belas gedung apartemenku. Unitku berada di sebelah kiri begitu keluar lift. Aku melewati pintu apartemennya dan menemukan sebuah kotak surat kecil berwarna merah tergantung di dekat pintunya.

“Kemarin ini tidak ada.” Gumamku bertanya-tanya. Lalu aku teringat soal kuponnya dan paham untuk apa benda itu ada di sana.

Malam hari adalah waktu yang sangat panjang untukku. Karena tinggal sendiri, rasanya setiap sudut rumah adalah hampa. Aku tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluargaku sehingga aku harus puas duduk di sofa dan menonton acara televisi malam hari sendirian.

Aku melirik kotak merah yang ada di atas meja lalu teringat kembali soal kupon gadis itu.

Entah setan apa yang merasukiku, aku kini berada di depan pintu apartemennya. Aku menekan bel berkali-kali namun tidak ada gerakan apapun dari dalam. Lantas aku teringat bahwa gadis itu mengatakan ia bekerja selepas jam tiga sore dan kurasa ia masih tenggelam dalam pekerjaannya saat ini.

Aku memutuskan kembali ke unitku dan menunggu hingga larut malam.

Arlojiku sudah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh lima menit, ini sudah lewat tengah malam dan aku baru bisa mendengar gerakan di luar unitku. Melalui kamera yang ada di dekat pintu, aku bisa melihat Yuri baru saja kembali ke apartemennya dengan mantel tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.

Saat ia menekan pin di atas panel pintu, aku keluar dari unitku.

“Kau baru pulang?” Tanyaku. Matanya agak lain dari saat aku bertemu siang tadi. Ia terlihat lelah.

Eoh. Kau belum tidur?” Katanya sambil menekan-nekan pin apartemennya. Aku menggeleng. Saat itu aku melihat tubuhnya perlahan limbung. Jika aku tidak segera menangkapnya, tentu saja kepalanya sudah mencium lantai.

“Hati-hati!” Kataku, panik. Dua kali aku bertemu dengannya di malam hari, dan keadaannya selalu tidak baik. Pertama ia mabuk parah, kedua ia begini lelah.

“Terima-kasih.” Katanya.

“Kuharap kau tahu kata lain selain terima-kasih. Tubuhmu perlu perlindunganmu sendiri. Kau sangat lemah.” Kataku.

“Aku biasanya tidak begini,” ia mendesah lalu menekan panel di pintunya kembali. Saat suara pintu terbuka terdengar, ia menatapku. “Aku biasanya tidak selemah ini, tapi terima-kasih.”

Saat tubuhnya perlahan menghilang di balik pintu apartemen, tungkaiku bergerak maju refleks. Aku menahan pintunya dan perlahan mengalungkan lenganku ke lehernya. Aku memberinya bantuan berjalan ke atas sofa ruang tamu.

Ketika ia terduduk di sana, maniknya menatapku.

“Terima—“

“Sudah kubilang kau harus cari tahu kata lain selain terima-kasih.” Kataku. “Di mana dapurmu, segelas air putih rasanya akan sangat bagus untukmu.”

Tata letak barang-barang di dalam apartemen Yuri memang tidak serapi apartemenku. Tapi ia cukup bergaya dan tidak buta soal perpaduan warna. Aku selalu melihat benda-benda yang didominasi oleh warna salem. Kelihatannya dia memang penyuka warna-warna lembut.

Jika biasanya wanita memiliki beberapa boneka atau benda-benda lucu di kamarnya, maka lain dengan Yuri. Aku membopong tubuh lemahnya ke atas kasur dan saat aku menyalakan lampu, sederet action figure langka tersusun rapi di meja kecil dekat kasurnya. Ada beberapa dari serial terkenal TMNT sampai dari film box-office sekelas The Lord of The Ring.

Belum lagi aku melihat replika senjata laras pendek dengan berbagai jenis. Selongsong peluru-peluru perak dan berbagai jenis replika mobil-mobil mewah dalam ukuran kecil. Untuk sekali lihat, siapapun tidak akan menyangka bahwa penghuni kamar tersebut adalah seorang gadis belia dengan tubuh kelewat lemah.

“Kurasa ini efek mabuk parahmu kemarin. Apa kau perlu ditemani?” Tawarku. Kuakui, setelah kalimat itu aku baru menyadari bahwa aku sedikit sinting. Dia adalah wanita yang merusak hariku dan sekarang aku malah membantunya.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Sudah biasa seperti ini.” Katanya. “Sebaiknya kau pulang, Himchan-ssi.”

“Panggil aku dengan nyaman. Gunakan banmal, kau seusia denganku.”

Yuri hanya tersenyum, perlahan matanya berkedip berat. Aku memutuskan untuk keluar dari apartemennya dengan berjingkat-jingkat hati-hati, meminimalisir suara yang mungkin akan membangunkannya.

Saat aku sudah berada di apartemenku, aku merasa sudah semakin sinting.

Tanpa alasan, jantungku berdegup-degup tidak santai. Telingaku berdenging saat otakku mencoba memunculkan potongan-potongan grafis Yuri selama hari ini. Lantas, di atas semuanya, yang mengejutkan diriku sendiri adalah ketika aku mulai tertawa tanpa sebab.

Gadis itu membuatku sinting.

.

.

Hari ini aku tidak memiliki alasan untuk bekerja. Yongguk dengan tiba-tiba memberikan cuti selama beberapa hari. Aku menebak kalau dia masih memikirkan soal insiden Yuri yang mendatangi lokasi kerja kami kemarin. Kurasa penjelasanku masih belum cukup sehingga ia memutuskan untuk memberiku hari libur untuk menenangkan pikiran.

Aku baru saja menutup pintu apartemenku dari luar ketika Yuri berada di depanku. Aku diam saja karena dia terlihat sibuk menerima telepon.

“Tidak. Bukan aku tidak bisa, Oppa, kau tahu aku tidak ingin! Aku tidak ingin pulang. Aku mengerti tapi aku benar-benar tidak mau. Buatlah suatu alasan lain pada ayah dan ibu, lakukan seperti biasa. Oppa! Aku tidak mau! Aku tidak mau pulang dan tidak ada seorangpun yang bisa memaksaku!”

Salahku.

Aku mendengar pembicaraannya dan perubahan air wajah dari Yuri. Ia sempat berkacak pinggang dalam busana joggingnya, tidak sadar akan kehadiranku. Saat aku membuat suara decitan kecil ketika berjalan, ia baru menyadari aku ada di sana.

“Selamat pagi.” Katanya ceria. Tapi aku tahu bahwa ia tidak seceria kelihatannya.

“Pagi.” Balasku singkat. Aku dan Yuri sama-sama menaiki sebuah lift. Kelihatannya ia juga akan berlari-lari pagi di sekitar taman pagi ini, jadi aku mengajaknya untuk berlari bersama.

Sepanjang trek, kami diliputi oleh pikiran masing-masing. Jujur saja, percakapan Yuri dengan seseorang yang disebutnya sebagai oppa itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Penasaran? Tidak usah ditanya. Tapi aku belum memiliki keberanian untuk bertanya.

Sampai akhirnya aku dan Yuri memutuskan beristirahat di sebuah bangku kayu panjang di taman. Surainya berantakan ditiup angin Maret.

“Kentang madu?” Tawarku. Ia meraih sebungkus kentang hangat yang baru kubeli dari seorang ahjumma tadi.

Ia mulai melahap kentang rebusnya. Aku tidak berani menatap gadis itu lebih lama lagi. Ia pasti curiga akan rasa penasaranku dan itu tidak sopan menurutku.

Tapi siapa yang menyangka bahwa ialah yang akan bercerita.

“Aku kabur dari rumah.” Katanya. Tidak cukup membuatku tersedak, tapi cukup mengejutkan.

“Kau?” Ucapku tidak percaya.

“Ibu dan ayahku sepertinya terlalu banyak melihat kisah cinta kerajaan dan berusaha menerapkan sebagian besar nilai-nilai kisah itu pada hidupku. Dalam waktu dekat aku akan dinikahkan dengan seorang pemuda yang tidak pernah kukenal. Persis seperti dalam drama. Aku kabur karena itu.”

“Dan kau memilih area Gangnam? Area ini mudah ditemukan jika kau ingin tahu. Tidak cocok sebagai base persembunyian.”

“Aku tidak sembunyi kok. Aku hanya kabur. Bukan berarti aku bersembunyi. Mereka tahu di mana aku tinggal dan apa yang aku lakukan untuk bertahan hidup tanpa uang dari mereka. Dan omong-omong, apartemenku adalah pinjaman dari kakakku. Aku berencana pindah secepatnya jika tabunganku cukup.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kalau mereka tahu di mana kau tinggal dan apa yang kau lakukan selama ini, kenapa mereka tidak memaksamu untuk kembali? Mereka tidak menjemputmu?”

Gadis itu mendesah panjang. Kentang rebusnya ia biarkan dingin sementara fokusnya berada tepat di awan-awan. Ia menengadah dan seketika membuat suasana pagi itu sedikit haru untukku.

“Jika hidupku adalah permainan sepakbola, maka mereka bukan pencetak gol. Mereka adalah kiper yang tugasnya hanya menangkap bola. Mereka tidak akan pernah menjemputku, Himchan-a, alasannya harga diri. Aku dianggap sebagai pembangkang. Menjemputku berarti kalah. Mereka tidak pernah berbicara kepadaku. Hanya oppaku yang bersedia dan topiknya seputaran pulang ke rumah dan meminta maaf. Benar katamu, aku hanyalah seorang gadis yang hanya tahu berterima-kasih. Aku tidak tahu caranya untuk meminta maaf dan aku tidak peduli soal itu. Pulang ke rumah sama saja dengan menyerahkan masa depanku pada ayah dan ibu. Aku tidak mau.”

Aku menelan ludah. Tanpa pernah ia sangka, sesungguhnya masalahku dan masalahnya sedikit mirip. Aku juga seorang pelarian. Bedanya, aku hanya ingin lepas dari pengaruh orangtua atas masa depan karirku. Tapi Yuri, ingin lepas karena masa depan asmaranya.

Angin berembus kembali dan mengacak-acak surai gadis itu. Entah itu penglihatanku yang salah, tapi kurasa aku telah melihat sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Aku tidak berkomentar.

“Maafkan aku, ini masih pagi tapi kau malah banyak mendengarkan hal-hal tidak berguna dari bibirku, Himchan-a.” Katanya. Ia telah menyeka air matanya dan sekarang aku tidak bisa melihat lagi tanda-tanda ia baru saja menangis.

“Tidak apa-apa. Setidaknya dari ceritamu, aku tahu kau banyak berbohong soal satu hal.”

Alis gadis itu meliuk. Aku menyambutnya dengan senyum kecil.

“Kau tidak tahu bagaimana meminta maaf tapi barusan kau melakukannya padaku. Kau berbohong untuk satu hal kecil. Jadi aku biarkan kau cerita lebih banyak, siapa tahu aku menemukan kebohongan-kebohonganmu yang lain.”

Ia terkekeh ringan.

Aku meraih tangannya. Bukan untuk memeganginya, aku hanya ingin ia membuat perhatian lebih banyak soal kentang rebusnya. Makanan lezat itu sudah terlalu dingin untuk didiamkan saja.

.

.

“Temani aku belanja, traktir aku makan dan temani aku jalan-jalan?” Yuri berkata tidak percaya padaku. Ia memegangi selembar potongan kertas kecil di tangannya. Jemarinya kadang membuat suara di atas dashboard mobilku. “Sebanyak ini? dalam satu kupon?” Katanya lagi.

“Salahmu. Kau tidak mengatur soal berapa banyak keinginan dalam satu kupon. Jadi kutulis saja tiga.” Kataku kalem.

Alright. Aku tahu kau memang licik dari awal.” Katanya disusul dengan pijatan ringan di dahinya. “Tapi apapun permohonan ini, aku harap semuanya berakhir pukul tiga sore ini.”

“Kau bekerja?”

“Ya. Dan aku tidak boleh terlambat.”

“Aku akan langsung mengantarmu ke tempat kerja kalau begitu. Di mana tempat kerjamu?”

“Kau bisa menurunkanku di gedung apartemen kita. Aku punya mobil sendiri.”

“Lebih efisien jika aku yang mengantarmu.”

“Himchan-a, mengantarku ke tempat kerja bukan bagian dari kupon pertamamu, jadi turuti saja aku. Mengerti?”

Aku tersenyum atas kalimatnya tapi itu membuatku menghentikkan perdebatan kami. Aku membelokkan arah setirku ketika aku melihat sebuah grocery terdekat. Kudengar mereka menjual berbagai sayuran dan produk laut yang benar-benar fresh. Aku ingin membuat sashimi belakangan ini jadi aku mengajak Yuri untuk memilihkan beberapa ikan segar untukku.

“Ey, kupikir kau tahu mana yang bagus dan tidak.” Komentarku ketika Yuri berulang kali menggeleng ketika aku bertanya soal kualitas beberapa sayuran.

“Tidak semua wanita tahu soal sayuran. Aku seorang pemusik, bukan petani.”

Tsk.”

“Ambil saja sesukamu lalu kita pergi dari sini. Kita masih memiliki dua tujuan sebelum jam tiga.” Katanya mengingatkan. Aku mengangguk-angguk sebal seraya mendorong keranjang belanjaanku menjauh dari mulutnya yang berisik.

Yuri berjalan di belakangku. Tapi aku baru tahu kalau dia berjalan dengan mulut penuh apel merah yang baru saja diambilnya dari lemari pendingin tanpa persetujuanku.

.

.

“BRENGSEK!”

Wow, wow, tadi itu Yuri baru saja mengumpat. Tapi bukan padaku. Salahku mengajaknya ke Namsan di siang hari seperti ini. Sepertinya aku lupa bagian ‘menjelaskan’ pada Yuri soal banyaknya muda-mudi yang bermesraan di sana.

Jika hanya berpegangan tangan atau berciuman mungkin beberapa sudah bisa dilihat begitu kami sampai di dekat area pemasangan gembok. Tapi ini, well, memang agak keterlaluan. Ketika kami turun dari gondola yang melintasi area Namsan, Yuri dan aku melihat sepasang muda-mudi yang hampir saja berbuat mesum di semak-semak.

Aku tadinya menarik tangan Yuri dan mengajaknya untuk tak acuh soal itu. Tapi siapa yang sangka Yuri malah bertindak demikian. Ia memukul sang pemuda belia sehingga pelipisnya menyentuh tanah basah. Kekasihnya menjerit dan berulang kali memanggil-manggil nama pemuda itu.

Yuri masih belum bisa tenang. Berhasil melumpuhkan pemuda itu sekali, tak lantas membuatnya puas. Di kali kedua, ia mengangkat kerah si pemuda yang tubuhnya tidak terlalu besar tersebut. Pengunjung Namsan berkumpul di dekat kekacauan. Beberapa mengangkat ponsel dan kameranya untuk mengabadikan momen tersebut. Petugas keamanan terlihat berlarian dari jauh. Aku perlahan mundur, berusaha untuk tidak terlihat mencolok.

Bicara jujur, aku cukup malu saat itu.

“Kau seharusnya menjaganya!” Yuri menjatuhkan tubuh pemuda itu. Ia meniup-niup poninya kemudian menyeka rambutnya dari wajahnya. Lantas ia berkacak pinggang sejurus kemudian.

“Mencintai tidak sama dengan menyakiti. Cinta gadis ini memang milikmu, tapi tubuhnya tidak. Kau seharusnya menjaganya, bukan melecehkannya.” Kata Yuri lagi. Sang pemuda meringis kesakitan. Tak banyak kata yang keluar tapi aku berani bertaruh pemuda itu sedang dalam fase kesal luar biasa pada Kwon Yuri.

Manik gadis itu kemudian beralih-tumbuk pada gadis di sebelah pemuda belia. Gadis itu gemetar ketakutan saat Yuri menatapnya. “Jika kau bisa ketakutan hanya karena melihatku, sebaiknya kau tunjukkan itu ketika bertemu dengan orang tuamu. Kalau perlu tunjukkan rasa malumu juga.”

“Permisi, permisi.”

Yuri dan aku menoleh ke sumber suara. Beberapa petugas keamanan sudah datang dan mengamankan Yuri dan dua bocah tersebut. Aku yang tadinya bersembunyi malu di belakang para pengunjung Namsan yang lain malah berakhir dengan masuk ke dalam mobil petugas keamanan demi menemani Yuri.

Kami digiring ke pos keamanan terdekat dan diinterogasi beberapa menit.

“Sudah kubilang aku tidak kenal mereka, Pak Polisi.” Yuri bersikukuh dengan pendiriannya ketika polisi tidak percaya ketika ia mengatakan bahwa ia tidak mengenal dua bocah tersebut. Pak Kim—Sang Polisi—rupanya masih mencium hal-hal yang dianggapnya mencurigakan dari Yuri.

“Jadi kenapa kau memukul orang yang bahkan tidak kaukenal, agassi.”

“Namaku Yuri. Aku sudah mengatakannya!”

“Baiklah, Yuri-ssi?”

Esh, mereka berbuat mesum di depan umum. Bukankah ini juga sudah kukatakan tadi? Apa polisi di sini gemar bertanya berulang kali?”

Aku melihat Pak Kim perlahan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang didudukinya. Sesekali ia memijit kepalanya lantas melirik ke lain arah. Yuri disibukkan dengan mengikat rambutnya yang mulai menganggu. Ia memandangiku setelah selesai.

“Apa sudah jam tiga?” Katanya tanpa penyesalan.

“Belum.” Kataku frustasi. Bagaimana tidak? Dia yang membawa hariku semakin parah setiap detiknya. Ini adalah kali pertama aku digiring ke kantor keamanan. Malu? Tentu saja. Jika suatu hari orang tuaku mendengar ini, mereka pasti akan sangat marah padaku.

Eh tunggu, kenapa aku peduli pada apa yang akan dipikirkan mereka?

“Kim-ssi? Kau bertugas di sini?” Aku dikagetkan dengan kemunculan satu orang lagi pria paruh baya dengan baju serba hitam. Celananya berbahan jeans sehingga bagi siapapun yang melihatnya, sekilas ia adalah penduduk biasa.

“Oh Sunbae. Lama tak bertemu. Aku dipindahtugaskan di area Namsan kemarin. Maaf belum menyapamu.” Pak Kim dengan hormat langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada pria paruh baya di hadapannya. Pria itu menyambut hormat Pak Kim dengan tawa penuh wibawa. Lantas ia menatapku.

Senyumnya sirna ketika ia beralih menatap Yuri.

“Kau?” Katanya penuh rasa terkejut. Yuri terbelalak, tapi wajahnya lebih kalem daripada pria paruh baya tersebut.

“Anda mengenalnya, Sunbae?” Tanya Pak Kim. Pria berjaket hitam tersebut mengangguk. “Dia di sini karena memukuli seorang pelajar.”

“Benarkah itu, Yuri-ssi?” Pria itu bertanya. Yuri beringsut di atas tempat duduknya. Pria itu menatapku. “Lalu kau korbannya?”

“Oh, bukan, bukan. Aku tetangganya.”

“Tetangga korban?”

“Tetangga Yuri.”

“Oh,” Pria itu menganggukkan kepala. Diiringi rasa cemas dari Pak Kim.

“Biar aku urus gadis ini. Bilang pada atasanmu aku membawa mereka, Kim.” Katanya. Pak Kim kebingungan. Ia menatapku seolah aku memiliki jawaban atas rasa herannya. Tapi sayang, aku bukan bagian dari kesatuan pegawai keamanan jadi aku diam saja.

“Kalian ikuti aku.” Perintahnya lagi.

Yuri berdiri, diikuti aku yang menyusul di belakangnya. Kami berdua pergi ke sebuah kafe terdekat, bersama dengan pria paruh baya berjaket hitam tersebut.

.

.

“Aku tidak menyangka akan kembali bertemu denganmu di kantor polisi, Yuri-a.”

Dari sikap santai nan wajarnya Yuri dan pria paruh baya tersebut, aku berani bertaruh bahwa mereka adalah dua orang yang sangat dekat. Yuri bahkan memanggilnya oppa.

“Lain kali kau tidak perlu melibatkan orang lain dalam hobimu ini.” Katanya lagi. Yang ia maksudkan tentu aku.

“Ini bukan hobiku. Sudah kubilang padamu berulang-kali.”

“Oke, ini bukan hobimu. Tapi kenapa kau terus terlibat masalah sejenis dan selalu berakhir di kantor polisi?”

Huft.” Yuri mengeluh. Ia menatapku sebentar-sebentar. Kemudian kembali menatap pria paruh baya di hadapan kami. “Omong-omong dia tetanggaku, namanya Kim Himchan. Himchan, ini kenalanku, panggil saja Bumsoo.”

“Aku Lee Bumsoo. Senang berkenalan denganmu, Himchan-ssi. Harap kau tidak terlibat banyak masalah karena gadis ini.”

Inginnya aku berkata maaf hyung tapi terlambat sudah namun kalimat itu tidak pernah kuucapkan pada akhirnya. Kami berkenalan dengan sangat formal. Kelihatannya ia lebih tua sepuluh sampai sebelas tahun dari Yuri atau dariku. Dan seharusnya panggilan ahjussi sudah sangat cocok untuknya ketimbang panggilan oppa dari Yuri.

“Yuri tidak seperti ini. Dia hanya tidak suka pada kriminalitas dan tindakan asusila. Harap banyak-banyak memperhatikannya saat ia bergaul dengan masyarakat. Kadang tindakannya kelewat batas. Seperti hari ini.”

Kalimat dari Lee Bumsoo tadi cukup menjelaskan siapa Yuri sesungguhnya padaku. Cih, yang benar saja. Dia pikir dia power ranger, catwoman dan semacamnya? Negara ini sudah memiliki polisi sebagai penegak hukum, lalu untuk apa dia mau repot-repot mengorbankan diri untuk memberantas kriminalitas?

Aku tidak habis pikir.

“Bicara lagi tentang aku, aku akan pergi, oppa.” Ancam Yuri. Gadis itu tidak suka seseorang membicarakannya. Dan itu terbukti. Saat Bumsoo kembali mengoceh tentang Yuri padaku, ia langsung menarik tas kecilnya dan pergi dari kafe tanpa melihat ke belakang.

“Dia memang gadis seperti itu.” Kata Bumsoo setengah tergelak. Aku ingin menyusul Yuri tapi niat itu kuurungkan saat Bumsoo kembali menghidupkan dialog kami.

“Yuri bukanlah Yuri seperti ini tadinya. Dia adalah gadis yang baik. Tubuhnya lemah karena ia lahir prematur. Sampai usianya genap tiga belas, ia dikurung di rumah besarnya. Saat itu, aku bekerja sebagai satpam. Ia tidak mengenyam pendidikan konvensional. Belajar dan bermain, semuanya dilakukan di rumah besarnya. Ia tidak memiliki teman kecuali para pelayan, satpam dan tukang kebun di rumahnya. Kakak kandung laki-lakinya selalu disibukkan dengan berbagai penelitian karena ia termasuk pelajar yang jenius. Orangtuanya selalu bepergian, urusan bisnis.”

Aku membenarkan posisi dudukku saat mata Bumsoo menerawang.

“Ia memiliki seorang teman namanya Lee Jongsuk, dia adik lelakiku. Aku selalu membawa adikku ketika aku bekerja dan siapa yang sangka Yuri dapat berteman baik dengannya. Ceritanya sangat indah sehingga aku berpendapat bahwa Yuri akan selalu baik-baik saja menjalani kehidupannya. Selanjutnya, doaku terkabul. Benar bahwa Yuri memang baik-baik saja, tapi adikku tidak. Ia meninggal dalam sebuah kasus tabrak-lari oleh sebuah truk besar. Pengemudi sedang mabuk. Yuri dan orangtuanya membantuku untuk melaporkan kejadian ini pada kantor polisi, tapi akhirnya kasus ini ditutup tanpa alasan yang jelas. Belakangan, saat aku diterima jadi bagian dari satuan kepolisian, aku mendengar bahwa sang supir adalah adik dari salah satu pejabat polisi di kantor pusat. Wajar jika kasus hari itu ditutup. Yuri berubah sejak mendengar itu. Ia menjadi Yuri yang sekarang, seorang pembangkang dan gadis yang ingin bertindak semaunya sendiri.”

Aku mengangguk. Setengah percaya dan lebih banyak didominasi rasa terkejut dan haru. Siapa yang sangka gadis sinting ini memiliki masalalu yang begini rumit.

“Aku mendengar ia kabur dari rumah. Orang tuanya memintaku agar membujuk gadis itu agar ia kembali. Tapi melihatmu bersamanya, aku bisa bilang pada mereka bahwa Yuri tidak ingin pulang.”

Dahiku mengerut. “Aku? Sebentar, sebentar, aku hanya tetangganya.”

Bumsoo tersenyum penuh arti.

“Sejak insiden kelam tersebut, Yuri selalu sendiri. Ia tidak pernah keluar rumah kecuali untuk belanja atau bekerja. Menemukan dia di Namsan sedang berduaan bersama seorang pria, tentulah hal mengejutkan untukku. Yuri membuka hatinya untukmu, perlahan. Ia pasti merasa kau bisa melindunginya dan ia bersedia untuk membuka dirinya padamu.”

“Aku hanya tetangganya. Kami pergi ke Namsan karena aku yang memintanya. Dia telah berjanji mengabulkan permintaanku—“

“Apa itu tentang kupon? Apa dia memberimu kupon?”

“Bagaimana kau tahu?” Aku terhenyak sementara Bumsoo menyelesaikan gelak tawa renyahnya.

“Seharusnya aku sudah tahu kalau dia menyukaimu.”

“Menyukaiku?” Alisku meliuk.

Bumsoo tertawa jenaka sampai akhirnya ia sampai pada satu penjelasan detail yang membuat hatiku teraduk-aduk bak kapal pecah. Ada perasaan geli yang menggelitik perutku namun ada juga perasaan heran yang menjebak sebagian besar fungsi otakku.

Sampai sejauh ini, aku masih bisa berakting normal di depan Bumsoo. Setidaknya, sampai dia menyelesaikan kalimatnya.

“Dia hanya memberi kupon pada pria yang ia cintai. Hanya ada dua pria untuk kategori itu selama ini, pertama ayahnya dan kedua Lee Jongsuk. Kau adalah pemecah rekor baru. Kau yang ketiga.”

.

.

[ To be continued ]

.

.

Sampai ketemu di Chapter ketiga dan Epilogue!

Dadah~

Do comment(s) ya.

60 thoughts on “SASSY GIRL NEXT DOOR [2 of 3]

  1. Angella Yurisistable berkata:

    Huh… Tak sngka hnya krna Himchan x terima bubur pemberian Yuri, Yuri blg ke Yongguk dia hmil.. Waahhhh dasar gila ya Si Yul disini..
    Oh…trnyata Yuri lari dri rumah krna ortu nya mau jodohin dia aneh2 Yuri dia begitu menitik beratkn soal cinta nya brbeda sma Himchan yg pergi dri ortu krna mau mncapai cita2 nya dgn diri sndri bkn sbb ortunya yg kaya raya.
    Kasian Si Yul gara2 Jong Suk di tabrak lari dia berubah spenuhnya.
    Mengenai kupon pula huh Si Yul memulakan langkah dlu sblum Himchan cuma si Himchan aja yg tak sdr.. ahahahahhha
    Arhhh tpi Himchan jga sdah di jangkiti gila si Yul.. (Gadis itu membuatku sinting)
    Wahahahahahaha Yul emosi bngt memukul namja yg membuat mesum itu…Tpi tindikan Yul btul jga…

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s