SASSY GIRL NEXT DOOR [3 of 3]

Sassy Girl Next Door

Last Chapter!

Tapi jangan lupa, ada epilogue-nya lho di post-an selanjutnya.

.

.

“Kau tidak punya CD musik di dalam mobilmu? Kenapa mobil ini terasa senyap sekali.” Yuri mengeluh ketika aku menyetir pulang. Kupikir ia sudah pergi entah kemana sejak Bumsoo membuatnya jengkel. Tapi aku menemukan gadis ini sedang mengganyang semangkuk penuh eskrim di pinggir jalan. Rupanya ia menunggu mobilku lewat jalan tersebut.

Sejak ia bergabung di dalam mobil, suasana menjadi aneh. Adalah wajar jika aku memang tidak banyak bicara, tapi melihat ia terus saja menghidupkan setiap jeda panjang di antara kami, aku merasa kikuk.

Dia menyukaimu, Himchan­-ssi.

Kalimat itu terus saja merusak otakku. Yongguk sering berkata demikian padaku soal gadis-gadis kenalannya tapi aku tidak pernah sesinting ini. Perasaan aneh ini menelanjangiku, melucuti setiap inci pertahanan soal cinta yang kubangun bertahun-tahun.

Dalam setiap kesempatan, aku mencuri pandang pada gadis sinting di sebelahku. Ia nampak biasa saja dalam balutan kemeja dan jeans kasualnya. Jemarinya sibuk menari di atas layar sentuh ponselnya. Ia tergelak lantas berubah menjadi pendiam hanya karena beberapa kalimat yang muncul di situs SNS-nya.

Tidak ada yang lucu untukku, pun gadis itu bukan sebuah lelucon. Jadi jelaskan kenapa aku bisa tersenyum diam-diam seperti ini?

Ini cinta?

Tidak.

Tidak boleh cinta lagi.

Terakhir aku mengenal frasa itu adalah terakhir aku dicampakkan. Jadi tidak.

“Kita sudah hampir sampai.” Ujar Yuri. Aku tidak merespons. Mobilku melaju ke lahan parkir dasar dari gedung besar tersebut. Saat kulihat area kosong seluas badan mobilku, tanpa pikir panjang aku memarkir mobil di sana.

“Terima-kasih atas hari ini.” Yuri menundukkan kepalanya padaku hingga surainya jatuh dan memberikan efek dramatis. Tangan lembutnya menyentuh pintu mobilku. Sebelum ia sempat mendorong pintunya, aku menekan tombol lock pada keseluruhan pintu mobilku.

Aku tidak merasakan apapun saat itu. Aku hanya bertindak refleks.

Yuri melirik arlojinya kemudian menatapku. Iris hazel itu menindai wajahku. “Aku sudah hampir terlambat jadi jangan buat lelucon, Himchan-a.”

Jakunku naik-turun saat aku mencoba menelan ludah yang hari ini entah kenapa begitu banyak. Yuri menunggu jawabanku, dan aku harus bicara sebelum ia bosan. Aku perlu menegaskan beberapa hal.

“Aku ingin bicara padamu sebentar.”

Yuri melirik kembali arlojinya. “Baik. Kau punya lima menit, tidak lebih.”

Aku berdeham singkat, “aku memiliki sebuah permohonan.”

“Kau bisa menuliskannya di kupon yang tersisa.”

“Aku ingin bicara langsung padamu.”

Ekspresi Yuri terkesan menimbang-nimbang namun pada akhirnya ia berkata, “oke, kau bisa mengatakannya sekarang.”

Aku meraih tangannya. Dentaman jantungku bersahut-sahutan dengan lelehan keringat dingin dari pelipisku. “Bumsoo hyung mengatakan semuanya padaku. Aku di sini untuk menjelaskan sesuatu.”

“Bumsoo oppa? Apa yang ia katakan padamu?”

“Dia menceritakan hal-hal baik tentangmu, masa lalumu lantas apa yang membuatmu seperti Yuri hari ini. Aku adalah pendengar yang baik, Yuri-a. Aku tahu maksud tersembunyi dari apa yang dikatakan Bumsoo hyung padaku. Untuk itu kau dan aku berada di sini. Kukatakan padamu, aku tidak sebaik apa yang kau pikirkan. Aku tidak bisa melindungimu, aku tidak sekuat yang kau bayangkan. Aku bukanlah sosok pria yang kau cari-cari, atau sosok yang dapat mendekati Lee Jongsuk-mu. Aku adalah Kim Himchan dan aku bukanlah siapa-siapa untukmu. Jika kau pernah berpikir untuk mencintaiku sedikitpun, aku hanya ingin kau memikirkannya kembali. Aku bukan sosok yang pantas untuk dicintai. Aku tidak percaya soal cinta dan aku tidak ingin direpotkan soal perasaan kampungan itu.”

Aku menarik napas panjang sementara Yuri masih mematung di tempat duduknya. Ekspresinya tidak terbaca jelas, tapi riak-riak bening mulai berkumpul di pelupuk matanya, enggan jatuh.

“Untuk itu,” aku menahan napas sebentar lantas terpejam. Sejurus kemudian, aku kembali angkat bicara. “Jangan pernah berpikir untuk mencintaiku. Kau hanya akan mendapatkan rasa sakit.”

Tangan Yuri bergerak ketika aku baru selesai bicara. Ia melepaskan diri dari jeratan jemari tanganku. Kepalanya ditelengkan ke lain arah dan saat itu, melalu refleksi kaca mobil aku bisa lihat ia tengah menyeka air matanya. Beberapa sekon berlalu dan untuk pertama kalinya aku mendengar Yuri bicara.

“Aku tidak—“ suaranya serak. Napasnya tersengal-sengal. Jarak antara suku katanya terpotong-potong karena ia terus saja mengatur napasnya. “Oke.”

Yuri menutup kalimatnya. Rupanya ia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena suatu hal. Ia hanya membungkus dialog kami dengan persetujuan singkat lalu menatapku. Iris hazelnya seolah menusuk-nusuk paruku.

“Aku—aku tidak tahu apa yang oppa ceritakan padamu. Pun aku tidak tahu apa yang mendasarimu untuk berpikir seolah aku mencintaimu. Ada banyak alasan bagiku untuk marah padamu, tapi aku hanya akan marah soal satu hal : Mulutmu tidak berhak untuk menyebut nama Lee Jongsuk sedikitpun. Kau tidak tahu apa-apa. Himchan-a, aku berada di sini denganmu bukan atas keinginanku, aku percaya takdir seperti aku percaya bahwa aku benar-benar ada. Aku menghargai semua waktuku denganmu dan aku berterima-kasih lewat caraku sendiri. Jika kau merasa ini cinta, maka inilah cinta. Aku tidak memaksa agar kau merasakannya juga seperti aku melakukannya. Dunia ini bukan milikku saja, aku tahu. Takdirku bukan milikku saja, akupun tahu. Jika memang kau tidak dapat membalas apapun pada perasaanku, tidak seharusnya kau menyebutnya sebagai perasaan kampungan. Tahukah kau jika suatu saat, perasaan kampungan inilah yang akan membuatmu jatuh ke dalam dasar jurang yang paling dalam atau terbang ke lapisan langit yang paling tinggi. Kau tidak pernah tahu soal itu, Himchan-a. Tidak juga aku.”

Ia menatapku. Maniknya seolah menelanjangiku. Kata-katanya begitu dalam dan berenang-renang di dalam pikiranku.

“Himchan-a, kau tahu aku adalah gadis yang tidak tahu bagaimana mengucapkan kata maaf, tapi kali ini aku akan mengatakannya.” Isakannya tertahan, aku tahu. Tapi kenapa aku tidak mencoba menghentikannya? Kenapa aku tidak melakukan apa yang harusnya kulakukan dalam posisi ini? Kenapa tanganku tidak bergerak? Kenapa?

Aku menatap kosong ketika ia menekan tombol unlock di sisi kiriku. Ia tersenyum sebentar lantas mendorong pintu mobil. Kaki kirinya adalah yang pertama kali dijejakannya di atas lantai beton. Surainya bergerak, menutupi separuh wajahnya ketika ia sudah berhasil keluar dari mobilku.

Aku menatap nanar punggungnya selepas ia berkata sebuah kalimat lagi dan pergi dari hadapanku. Mungkin untuk sebentar, mungkin untuk selamanya.

“Himchan-a, Maaf membebanimu dengan perasaan kampungan ini. Maaf sekali.”

.

.

Aku malas makan. Seharian ini aku hanya membangkai di rumah tanpa melakukan apapun. Ponselku selalu berdering dan nama Jung Daehyun selalu muncul di atasnya, aku tak peduli. Paling-paling ia hanya mengorek informasi soal kebenaran cerita kehamilan Yuri.

Yuri…

Benar, gadis itu.

Semalaman aku mencuri perhatian pada kamera pengintai di depan pintu apartemenku, tapi tidak ada tanda-tanda dia telah kembali pulang. Bahkan sampai detik ini, aku tidak melihat adanya tanda-tanda atau gerakan di luar pintu apartemenku. Yuri, gadis itu tidak pulang semalaman.

Aku mengutuk diriku sendiri atas apa yang kukatakan semalam. Kupikir aku akan menyelesaikan masalah dengan membuat dinding pembatas antara aku dan Yuri. Aku hanya tidak ingin menyakiti gadis itu lebih banyak dari masa lalunya. Aku tidak yakin soal cinta bahkan soal bagaimana aku menemukannya.

Tapi semalam tadi aku baru sadar, bahwa yang membuat aku selalu tersedak ketika minum adalah perasaan kampungan itu.

Wajah Yuri dan semua rasa khawatirku padanya.

Itu cinta.

Perasaan kampungan.

Aku bersalah, itu mutlak. Aku yang bodoh, yang tidak mengerti rasanya mencintai dan tidak paham rasanya dicintai kini gundah setengah mati. Gadis bak malaikat datang padaku, membuka hatinya lantas mengacaukan hari-hariku namun aku membuangnya. Mengembalikan dia ke apa yang seharusnya bisa ia tinggalkan.

Aku begitu jahat.

Memang benar para gadis mengatakan pria itu kejam.

Aku merasa begitu kejam hari ini. Dan kemarin. Dan kemarinnya lagi. Dan hari-hari yang lalu.

Satu-satunya pengobat rasa bersalahku adalah kertas kecil yang tersisa di tangan. Kupon dari Yuri. Aku belum menuliskan apapun di sana. Tapi aku sudah berencana akan melakukan sesuatu begitu Kwon Yuri melakukan gerakan di depan unit apartemennya.

Sayangnya, sampai senja, ia tak kunjung datang.

Kemana kiranya Kwon Yuri bisa pergi?

Jangan katakan dia kembali ke rumah orang tuanya!

Jangan katakan padaku!

.

.

“Aku bersyukur kau membuka matamu, Yuri-a.” Yuri menatap pria di hadapannya dengan ekspresi kelam.

“Lama tak berjumpa, oppa. Bagaimana kabarmu, ayah dan ibu belakangan ini? Cukup bahagia tanpa aku?” Langkahnya lurus-lurus saja. Kalimatnya penuh dengan perhatian namun di satu sisi terkesan sarkastik. Seolah kalimat tadi adalah sindiran apik untuk keluarganya. Kwon Jiyong, kakak Yuri mengurungkan niatnya untuk menyambut gadis itu lebih banyak. Ia menutup rapat bibirnya. Manik hazel yang mirip dengan milik Yuri miliknya mengekori tubuh Yuri hingga gadis itu hilang di balik sebuah pintu kamar biru muda.

Jiyong mendesah.

“Entah kenapa aku merasa kau belum benar-benar pulang ke rumah, Yuri-a. Seolah hatimu tertinggal di suatu tempat.”

.

.

Aku melihat ada gerakan di unit apartemen Yuri hari ini.

Alih-alih senang, aku sedikit terkejut. Pasalnya, ada sosok baru yang berlalu-lalang dari unitnya. Belakangan aku baru tahu kalau seseorang bernama Jiyong—pemilik sebelumnya yang kuduga sebagai kakak dari Yuri—baru saja menjualnya pada orang asing.

Ingat kotak merah yang tergantung di sisi pintu apartemen Yuri? Kotak itu sudah berada rapi dalam tong sampah besar di depan gedung apartemen kami. Mungkin dalam sehari, kotak itu sudah akan habis terbakar.

Hyung? Melamun lagi?” Daehyun mengagetkanku. Aku melihat sekeliling dan tersadar bahwa aku sedang bekerja saat ini. Daehyun membawakan hotdog dan menyodorkannya padaku. “Kau belum makan siang, makanlah ini dulu.” Katanya.

“Terima-kasih.” Kataku lamban. Aku menerima makanan america tersebut dengan setengah hati. Nafsu makanku hilang beberapa hari ini, tepatnya sejak malam itu aku berbicara kasar pada Yuri.

“Gadis yang berbohong soal kehamilannya itu tidak datang padamu lagi?” Tanyanya. Bicara tentang ini, gosip tentangku sudah mereda dan semuanya berkat mulut Daehyun yang mau diajak kerjasama (setelah ia sempat ditegur oleh Yongguk hyung, tentu saja.)

Aku tidak bereaksi atas kalimatnya. Jika ia ingin tahu, justru topik tentang Yuri adalah topik yang sedang kuhindari belakangan ini.

“Tentu saja dia harusnya tidak datang lagi padamu. Gadis macam apa itu, trik-triknya terlalu murahan. Memangnya dia pikir seorang Kim Himchan akan mencintainya hanya karena trik kampungan seperti itu!”

Aku meletakkan hotdog yang tengah kusantap. Manik kokoaku tertumbuk kesal pada iris abu-abu Jung Daehyun. Biasanya aku tidak akan tahu untuk apa aku mau repot-repot bertindak demikian, tapi hari ini aku sudah tahu alasannya.

Aku mencintai Kwon Yuri. Aku benci melihat seseorang mengolok-oloknya.

“Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu.” Daehyun berbicara terpatah-patah padaku. “Kau aneh sekali hyung. Hari ini dan kemarin, kau sangat aneh!”

Aku berdiri dan meninggalkan hotdog-ku. Aku berbicara pada Daehyun dalam intonasi yang melambat sepersekian sekonnya. “Kwon Yuri adalah gadisku. Jika kau tidak ingin melihatku bersikap aneh, maka berhentilah menjelek-jelekannya.”

.

.

Yuri keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih yang mengelilingi tubuhnya. Air masih menetes-netes dari surainya yang basah namun ia seolah tak acuh. Dilihatnya sebuah cermin besar kemudian ia mematung di sana. Air matanya jatuh perlahan ketika ia memandangi sosoknya sendiri.

“Kau begitu rapuh, Yuri.” Gumamnya rendah. Yuri membuka balutan handuknya. Ia menyoroti sebuah luka melintang vertikal di bagian dadanya. Luka itu membuat bekas jahitan yang parah pada tubuhnya sendiri. Tangannya meraba-raba pada bagian luka besar tersebut kemudian ia mulai menangis lagi.

Yuri terkulai lemas di atas sebuah karpet basah. Air matanya tidak pernah berhenti hingga senja menjelang.

.

.

Ting tong.

Aku mendengar suara-suara di depan pintu apartemenku. Tidak biasanya ada yang bertamu di jam-jam hampir malam seperti ini. Aku menduga jika itu adalah Yuri jadi aku bergegas membukakan pintu.

“Penghuni sebelumnya meninggalkan ini, mungkin kau mengenalinya dan aku minta tolong untuk sampaikan ini padanya.”

Aku menerima sebuah buku lusuh dari tetangga baruku. Rupanya itu milik Kwon Yuri. Buku itu tertinggal di apartemen lamanya. Si Penghuni Baru rupanya tidak mau repot-repot menelepon Kwon Jiyong—sebagai penjual—hanya karena sebuah buku lusuh.

Buku itu berada di tanganku dan aku tergelitik untuk membaca lembar demi lembarnya. Tapi dari lembar pertama hingga kedelapan, aku tidak menemukan apapun selain coretan-coretan tidak bermakna.

Barulah di lembar kesembilan aku menemukan beberapa tulisan.

.

2000-11-9

Kaget ya? Aku tidak biasa menulis buku harian seperti ini. Tapi aku bosan belakangan. Ibu dan ayah kerap meninggalkanku sementara oppa sibuk dengan urusan akademiknya. Aku sendirian di rumah dan mulai menulis macam-macam. Aku mulai di halaman sembilan, karena aku merasa lebih baikan hari ini. Aku baru saja menemukan seorang teman. Lee Jongsuk, nama yang keren.

.

2001-12-5

Ulang tahunku dan aku menerima banyak hadiah. Yang paling spesial adalah milik Lee Jongsuk. Ia memberiku sebuah kupon permintaan. Aku memintanya agar ia tetap di sisiku dan ia setuju. Aku senang sekali.

.

2002-11-7

Jongsuk mengatakan bahwa sekolah itu menyenangkan. Aku memaksanya agar ia menemaniku untuk belajar di rumah. Ia menolak dan kami bertengkar. Jongsuk banyak berubah sejak ia bertemu dengan teman-temannya yang nakal. Ia pernah mengajak mereka sekali ke rumahku dan aku mengusirnya setelah mereka mengolok-olok ayah dan ibuku.

.

2003-06-05

Lucu sekali. Jongsuk mulai sering berbohong pada kakaknya. Ia bahkan berbohong soal aku yang meminjamkan sejumlah uang padanya kemarin. Ia merokok, aku tahu itu. Aku mencoba mengingatkannya tapi ia sudah masuk ke dalam palung hitam yang paling dalam. Aku tidak bisa melakukan apapun di usia kami yang masih begini muda.

.

2003-07-11

Lucunya sekarang aku berani melaporkan tindak-tanduk Jongsuk pada Bumsoo Oppa. Jongsuk diberi hukuman, ia sudah beberapa hari ini tidak berkunjung dan belajar bersama denganku. Aku tidak tahu kabarnya karena Oppa tidak memberitahukan apapun padaku. Kuharap ia baik-baik saja.

.

2003-12-05

Hari ini ulang tahunku. Aku baru saja terbangun di rumah sakit. Orangtuaku menangis seharian. Katanya aku baru tersadar setelah dua minggu koma. Mereka bertanya bagaimana aku bisa terluka karena pisau di bagian dada, aku berkata bahwa aku mencoba untuk bunuh diri. Aku menyesal telah berkata demikian hari itu, karena sesungguhnya dua minggu yang lalu aku mendapati Lee Jongsuk tengah berusaha membunuhku. Aku melindunginya. Aku melindungi si brengsek itu.

.

2003-12-06

Aku mendengar kabar buruk hari ini. Pemuda yang paling kucintai dan kubenci setengah mati, baru saja dikabarkan meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku tidak dapat menghadiri pemakamannya karena kondisiku masih belum stabil. Aku ingin mengatakan ini padanya suatu hari, tapi aku belum sempat. Jongsuk memang pria yang jahat, tapi aku masih ingin melindunginya. Namun ketika sosok jahat itu pergi, hatiku perih. Jahitan luka ini seakan membuka kembali. Seharusnya aku membiarkannya membunuhku, agar aku tidak perlu melalui masa-masa sulit seperti ini. Jadi untuk kesalahan itu, aku ingin mengatakan hal yang paling sulit untuk kukatakan. “Maaf, Jongsuk-a. Kau tidak bisa berada di sisiku selamanya.”

.

2013-03-10

Aku sudah lama tidak melihat buku ini. Tapi aku menemukannya dan memutuskan untuk menulis sesuatu. Aku baru saja pindah ke apartemen milik Jiyong oppa. Aku kabur dari rumah. Hari kedua tinggal di tempat ini, aku menemukan seorang pria yang sangat lucu, kurasa. Entahlah. Dia tipeku.

.

2013-03-14

Ia mengatakan bahwa dirinya tidak lebih baik dari Lee Jongsuk. Pria bodoh! Himchan benar-benar bodoh! Tidak ada yang satupun yang baik dari Lee Jongsuk dalam ingatanku. Lalu kenapa ia membandingkan dirinya dengan pria yang mencoba membunuhku? Kenapa ia membandingkan dirinya dengan pria yang sudah mati? Kenapa ia membandingkan dirinya dengan pria yang selamanya akan membuat hidupku seperih ini? Kenapa ia membandingkan dirinya dengan pria yang membuatku setengah gila?  Tahukah Himchan soal hidupku yang selalu tergantung pada obat mental? Tahukah dia bahwa aku selama ini berbohong soal di mana aku bekerja? Tahukan dia jika selepas jam tiga, gadis sinting ini selalu pergi ke rumah sakit dan melakukan terapi mental? Dan jika dia akhirnya tahu, masihkah ia ingin membandingkan dirinya sendiri dengan pria brengsek seperti Lee Jongsuk? Masihkah ia bicara seolah ia tahu semuanya tentangku?

| end of diary |

.

Aku kehilangan separuh dari jati diriku setelah membaca lembar demi lembar buku milik Yuri. Pantaslah ia mengutukku dan tidak kembali ke apartemennya. Pantaslah Yuri meninggalkanku dengan tanda tanya dan kegelisahan luar biasa. Ia tahu apa yang cacat dari kalimatku dan ia menutupnya dengan rapi.

Perlahan, buku itu terjatuh di hadapanku saat aku kehilangan tenaga untuk berdiri. Tungkaiku terkulai tidak berdaya di atas karpet mewah yang seakan tidak ada harganya dibanding kasih sayang tulus dari Yuri.

Ia tidak ingin membuatku membandingkan diriku dengan Lee Jongsuk. Ia berbohong demi pria itu dan dia melakukannya dengan sangat rapi.

Jika pria jahat yang telah mati saja masih begitu ingin dilindunginya, aku mengerti kenapa ia bertindak seperti itu padaku terakhir kali.

“Yuri-a…”

Gelisah. Aku sangat gelisah. Lalu perlahan rasa menyesal menggerayangi otakku. Malam itu, seharusnya akan lebih baik jika aku tidak berusaha berbicara seolah aku mengetahui segalanya. Aku menyesal. Sungguh.

.

.

“Geser ke kanan, oke cukup. Singkirkan kabel itu. Pelanggan kita akan datang sebentar lagi. Jung Daehyun! Kau kemari dan rapikan propertinya! Aku ingin semuanya sempurna.”

Yongguk berbicara begitu kencang tapi aku hampir kehilangan indera pendengaranku. Aku tidak sanggup lagi untuk bekerja tapi Yongguk memaksaku. Katanya aku akan terkejut.

Itu benar.

Aku memang terkejut.

Yuri datang bersama pria yang tidak kukenal. Ia mengenakan gaun putih dan duduk bersanding dengan sang pria. Ironisnya, aku hanya bisa menatap keduanya dari balik lensa kameraku. Yuri sangat cantik hari itu tapi ekspresinya tidak nampak bagus dalam mata Yongguk.

“Istirahat dulu, lima belas menit.” Yongguk memerintahkan. Kru kami mulai berbisik-bisik saat Yuri dan mempelai prianya mendekati aku dan Yongguk untuk melihat hasil jepretan pra-wedding mereka. Mata Yuri bertumbuk sebentar dengan mataku namun kami berakting seolah kami tidak tahu satu sama lain.

Aku bisa mendengar decakan Daehyun dari jauh ataupun tatapan curiga dari Yongguk. Namun apa yang bisa kujelaskan? Bahwa seharusnya yang berdiri di samping Yuri dan memakai tuxedo itu aku?

Tidak. Tidak.

“Aku tidak suka yang ini.” Yuri mengomentari salah satu foto. “Ini terlalu ceria.” Komentarnya. Pria di samping gadis itu tidak setuju. Katanya itu adalah foto terbagus dari banyaknya sesi pemotretan hari ini.

“Ini terlalu ceria dan kekanak-kanakan. Aku tidak suka.” Yuri bersikukuh sehingga Yongguk mau tidak mau harus turun tangan untuk melerai mereka.

“Menurutku foto ini bagus. Jika kau tidak suka, kita bisa mengulang scene ini lagi. Bagaimana?” Sang Pria menganggukkan kepala tanda setuju sementara Yuri melipat tangannya dan pergi dari hadapan kami.

“Biarkan saja. Dia gadis keras kepala.” Kata Sang Pria. Yongguk mengekori punggung Yuri dengan matanya, lantas ia menatapku. Yongguk pastilah memikirkan beberapa dialog di dalam otaknya sampai akhirnya yang ia katakan adalah, “pegawai kami akan membujuknya. Apa tidak apa-apa?”

“Boleh saja.” Sahut Sang Pria. Yongguk mengedipkan matanya padaku. “Himchan­-a, kau bisa menangani ini bukan?”

“A—aku,” aku tergagap. Ini terlalu tba-tiba. Pria dalam balutan tuxedo tertawa padaku dan mengajakku berdiri sedangkan Yongguk berbisik begitu rendah begitu aku hendak melangkah. “Ini kesempatan terakhirmu. Rebut kembali gadis itu.”

.

.

Ehm,”

“Tidak! Aku tidak mau meminta maaf jadi turuti kataku dan segera akhiri pemotretan sialan ini! Jongin-ssi kau harusnya tahu sedari awal bahwa—Oh,” Yuri memutar tubuhnya dan baru menyadari bahwa ia salah memarahi orang. “Himchan-a,”

“Ya. Aku.” Kataku canggung. “Apa kabar?”

Bodoh, memang itu aku. Selain apa kabar aku memiliki jenis kalimat seperti ‘apa kau suka donat?’ di kepalaku. Aku memilihh kalimat ‘apa kabar’ karena tahu kalau kalimat ‘apa kau suka donat?’ sangat tidak relevan dengan kondisiku.

“Baik. Kurasa kau juga.” Katanya. Dia bahkan mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya. Jika saja dia bertanya, sudah pasti aku akan mengatakan bahwa aku hampir sinting ditinggal pergi olehnya.

“Hilang beberapa minggu dan sekarang kau sudah akan menikah, huh?” Kataku.

“Kau tahu ini bukan keinginanku. Aku sudah cerita.”

“Ya. Lantas kenapa kau di sini dengan gaun kebesaran itu?”

Yuri tersenyum simpul. “Tidak tahu.”

“Kau kenal pria dengan tuxedo di dalam?”

“Tidak.”

“Kenapa kau mau menikahinya? Bukankah dia orang asing bagimu?”

“Aku sudah berkenalan dengannya seminggu yang lalu. Kau tidak usah khawatir padaku.”

“Bagaimana denganku?”

Yuri mengerutkan alisnya, “apa?”

“Bagaimana denganku? Jika seminggu adalah waktu yang cukup bagimu untuk memutuskan sebuah pernikahan, lalu kenapa kau tidak menikahiku? Aku juga baru seminggu mengenalmu.”

Yuri menyeruakkan sebuah tawa tipis ke udara. Ia melipat tangannya di depan dada. “Kau tidak mencoba merayuku bukan, Himchan-a?”

“Tidak. Aku tidak tahu caranya merayu seorang gadis,” aku menatapnya dalam-dalam. “Tapi aku tahu caranya menemukan cinta yang tersembunyi dari binar matanya.”

Yuri berdecak beberapa kali. Ia menelengkan kepalanya ke lain arah kemudian memandangku dengan tidak nyaman. Wajahnya dipenuhi sesuatu yang tidak kukenali, amarah.

“Cinta. Kau sudah mengubah sebutannya. Jadi kau sekarang mulai merasakan perasaan kampungan itu ya? Bagus sekali. Tapi sayangnya, kau sedikit terlambat. Jika maksudmu adalah untuk menangkap kembali hatiku, maaf saja Himchan-a, hatiku sudah tertinggal entah di mana di dalam diriku. Aku tidak merasakannya lagi.”

Yuri berjalan lurus, ia melewati tubuhku dari sisi kanan saat ia selesai bicara. Gaunnya yang panjang terinjak kakinya sendiri tepat ketika ia melangkah di sisiku. Aku menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh lalu aku membiarkannya berdiri. Tanpa kata, ia berusaha melangkah lagi. Tapi langkahnya itu tidak pernah terjadi.

Ia tertahan dan kami sama-sama mematung.

Gelang perak di tangannya berkaitan tidak sengaja dengan gelang di tanganku; membuat aku sedikit senang. Kami bertukar-tatap ketika angin Maret berembus di atas ubun-ubunku.

“Aku pernah dengar seorang gadis berkata bahwa ia mempercayai takdir seperti ia mempercayai eksistensinya sendiri. Sekarang, gadis itu melihat takdir dengan mata kepalanya sendiri.” Aku tersenyum dan menggengam tangannya. Ia sedikit berontak tapi lain dengan terakhir kali, kali ini aku mempertahankannya. “Sekarang aku menunggu saat-saat di mana gadis itu mengakui ucapannya. Mengakui bahwa ini takdirnya dan menyerah untuk pergi.”

“Lepaskan aku Kim Himchan-ssi!”

“Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan menjadi Lee Jongsuk-mu yang membuat lubang hitam besar dalam hidupmu, Kwon Yuri. Aku akan menutup lubangnya dan membuang semua lukamu ke dalamnya. Aku tidak akan membandingkan diriku dengan siapapun. Aku adalah aku dan aku milikmu.”

Aku menangkap gerakan besar di belakang bahuku. Tanpa perlu melihat, aku sudah tahu itu Jung Daehyun, Si Mulut Besar. Yang mengejutkanku adalah beberapa orang di sisinya. Selain Yongguk, aku melihat Kim Jongin, calon suami Yuri.

Seharusnya aku malu karena aku sedang mencoba menghancurkan hubungan dua insan itu secara tidak langsung. Tapi aku tidak pernah merasa malu untuk memperjuangkan perasaanku. Lagipula, Kwon Yuri…

“Himchan-a,” Ia menatapku. Perlahan ia mengurai gelangnya hingga terlepas. Entah bagaimana, aku mendengar petir lamat-lamat di dalam kepalaku. Aku memiliki firasat buruk soal ini. “Maaf. Kau tahu aku tidak pernah mengatakan maaf padamu.”

Daehyun menutup mulutnya rapat-rapat. Mungkin semua yang mencuri dengar saat itu sudah hampir tahu apa yang akan terjadi. Aku berharap semoga petir ini dapat meluluhlantakkan indera pendengaranku saat ini juga. Aku belum siap mendengar apa yang akan Kwon Yuri katakan. Tidak, aku memang tidak pernah siap untuk itu.

“Aku pernah mencintaimu, sekali. Aku memang pernah. Tapi Himchan-a, setelah hari itu, aku… ,”

TIDAK! Batinku  berteriak. Aku berakting seolah aku sudah siap untuk mendengar apapun. Tapi sejujurnya aku serapuh kaca. Bagaimana bisa ia berbicara dengan tegar sementara aku sudah tidak tahan menahan luapan emosiku? Tidakkah Kwon Yuri tahu? Tidakkah ia merasakannya?

Getaran hebat ini, melanda tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Aku sudah siap. Aku mungkin siap. Aku, bisa saja siap.

Yuri bicara lagi saat aku memejamkan mataku dengan paksa.

“Setelah hari itu aku… jatuh cinta kepadamu untuk keduakalinya, ketigakali dan berkali-kali setelahnya. Dan jawabanku, ya, ini memang takdir. Aku memang mencintaimu, Himchan-a, selamat!”

.

.

-1 bulan kemudian-

Aku telah melamar Yuri hari ini. Bukan dalam acara mewah dan klasik seperti dalam mimpi para gadis biasanya. Aku membuat acara kecil yang hanya diisi aku dan Yuri saja. Tidak ada bunga dan tidak ada musik. Kami hanya duduk berdua di balkon masing-masing unit apartemen kami (Yuri membeli kembali apartemennya dengan paksa agar kami bisa bertetanggaan kembali).

Masih ingat soal kupon yang tersisa padaku?

Aku menggunakannya untuk melamar Yuri.

Will you marry me adalah satu-satunya kalimat yang tercetak dalam kertas itu. Anggukan singkat dari Yuri malam itu adalah sebuah persetujuan. Yang membuat momen singkat itu tak terlupakan adalah bagian di mana sebuah bintang jatuh terlihat di atas langit yang cerah.

Aku masih ingat ketika Yuri bicara malam itu.

“Permohonan apa yang kau buat, Yuri-a?” Kataku.

“Sebuah permohonan kecil.”

“Seperti?”

“Seperti kehidupan yang lebih baik dari ini.”

Aku tertawa. “Tidak ada kehidupan yang lebih baik dari ini, Yuri-a. Semuanya sudah sangat sempurna denganmu.”

“Benarkah? Kalau begitu aku ganti permohonanku.”

“Seperti?”

“Kehidupan yang baik untukmu.”

“Kehidupanku sudah cukup baik bersamamu.”

“Kehidupan baik untukmu, jika kau tidak bersamaku.”

“Kau tahu bahwa aku akan selalu bersamamu. Kau satu-satunya yang membuatku sesinting ini.”

Yuri tersenyum. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan selalu bersamamu, Himchan-a.”

.

Lalu aku menemukan gadis itu keesokan harinya, terbujur kaku di atas lantai dalam apartemennya sendiri. Aku membawanya ke rumah sakit namun semuanya terlambat.

Kwon Yuri tidak pernah kembali untuk membuatku lebih sinting lagi.

Dia tidak ada.

Aku mempercayai takdir seperti aku mempercayai eksistensiku sendiri. Tapi Himchan-a, kau tidak perlu mempercayai apapun ketika eksistensiku hilang.

Katanya kebocoran jantung, efek lama dari luka tusukannya semasa ia kecil. Yuri tidak pernah berkata apapun pada keluarganya soal kejadian sesungguhnya. Walaupun aku ingin mengutuk makam Lee Jongsuk saat ini, tapi aku menjaga apa yang telah dijaga Yuri sejak lama.

Aku sekali lagi telah terlambat.

Aku memang Himchan yang selalu terlambat.

“Benarkah? Kalau begitu aku ganti permohonanku.”

“Seperti?”

“Kehidupan yang baik untukmu.”

“Kehidupanku sudah cukup baik bersamamu.”

“Kehidupan baik untukmu, jika kau tidak bersamaku.”

.

“Maaf Yuri-a, tapi memang tidak ada kehidupan yang lebih baik jika tanpa dirimu.”

.

.

[ f i n ? ]

.

.

Baca Epiloguenya besok jam empat sore ya :p

71 thoughts on “SASSY GIRL NEXT DOOR [3 of 3]

  1. Angella Yurisistable berkata:

    Himchan akhirnya sndri sakit sma perasaan kampungan yg dikatanya sendiri.
    Jong suk si baik yg memilih jalan menjadi jahat.
    Yuri tetap sja mau lindungi si Jong Suk yg mau membunuhnya.Apa dia gila?
    Yul meninggal?huhuhuhuh
    Uhhh ksian Himchan sendirian lagi….

  2. Ersih marlina berkata:

    Lee jongsuk. Oh kejamnya
    lukanya sampe buat yuri koma 2 minggu

    iyalah semua org jga pasti marak kalo semisal org yg d cintai membadingkan drinya dg org yg hmpir membunuhnya

    ah, masa yuri meninggal ? Okelah lanjut. Ga rela kalo iya hihi
    fighting ya ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s