GHOST SLAYER STEP #8

Poster #8 Ghost Slayer

UPDATEEEE~~~

***

“Seharusnya kau tidak menghilangkan bagian ‘kita harus menjaga jarak dari Yuri’, Vict!” Seunghyun protes tatkala kemejanya beberapa kali hampir terbakar karena gesekan kuat cahaya hitam-putih di depan matanya. Victoria tengah memandunya ke area yang lebih aman kala itu. Tidak banyak kalimat yang dapat ia pikirkan selain ‘diam dan tenanglah’

Tanpa siapapun sadari, bagian ‘pengkhianatan akan muncul’ adalah saat-saat seperti ini.

Siapa yang menyangka bahwa Victoria adalah gadis yang baik. Siapa yang sangka bahwa Seunghyun sejak awal tidak berpihak pada Chaerin. Dan apa Chaerin menyangka bahwa dirinya sebenarnya tidak disokong oleh kekuatan apapun selain kekuatan hitam miliknya sendiri?

“Kalian tidak apa-apa?” Zico muncul tiba-tiba di balik embusan angin. Gerakannya sangat cepat hingga tidak dapat diprediksi baik Victoria maupun Seunghyun. Anggukan singkat Vict, selanjutnya menjadi komando bagi Zico. Bagaimanapun, gadis itu menyelamatkannya dari kematian.

Pasalnya, setelah Yuri, Victoria segera menyalurkan setengah dari energi dan keterampilan yang sama pada Zico. Meskipun efek yang dihasilkan tidak sesuai yang diharapkan (sebagaimana terjadi dalam tubuh Yuri) setidaknya ia tidak mati dan hal tersebut patut Zico syukuri secara pribadi.

“Bagaimana cara menghancurkan gerbang ini?” Zico bertanya waspada karena terakhir kali ia menggempur sinar hitam, dua puluh sinar hitam lain menyambarnya bagai cambukan. Ia mungkin bisa bertahan kali pertama, tapi jika terus-menerus seperti itu, dia kembali akan meregang nyawa.

Victoria menatap Seunghyun sejurus lamanya, bukan untuk mengagumi paras tanpa cela meskipun penuh dengan lendir hijau di sana, melainkan menanti sebuah keputusan mutlak. Bagaimanapun atau dalam kondisi apapun, Seunghyun adalah allegra yang bertanggung-jawab dalam case ini.

“Dahulu, Shiwoon Hyung mengorbankan dirinya untuk gerbang besar ini. Kekuatannya mampu menutup gerbang ini. Dari sana sebuah kesimpulan kecil dapat kujelaskan. Bahwa kekuatan besar hanya akan bisa ditahan oleh kekuatan besar.”

“Tidak ada Kwon Shiwoon dalam kasus ini, Seunghyun. Kau harus mencari solusi lain. Tidak ada satupun dari kita yang memiliki kekuatan sebesar beliau.” Tukas Victoria. Picingan mata tajam muncul dari balik bahu Victoria. Saat itu sulur sinar hitam hampir mencambuk ketiganya saat mereka lengah. Zico bertindak cepat dengan mencabut gun-kit Seunghyun dari sarungnya tanpa izinnya kemudian melemparkan dua buah peluru perak tepat di pangkal cahayanya. Ketika cahaya tersebut melambat, loncatan indah Zico berhasil mewarnai malam hari itu. Pedang cahaya berpendar putih terang berhasil memotong cahaya hitam menjadi dua bagian. Meskipun dua puluh lagi cahaya lain baru saja tumbuh di kejauhan, setidaknya mereka selamat untuk sekon ini.

“Kalian bilang tidak ada satu pun yang memiliki kekuatan besar di sini?” Zico terlontar ke udara saat Yuri hampir terpelanting ke tanah. Dengan tangannya, ia menangkap tubuh saudarinya itu dengan penuh kasih. Keduanya bertukar-pandang lantas saling mengangguk. Tanpa kata, Yuri meluncur ke depan terlebih dahulu, kembali ke medan perang sedangkan Zico masih sempat mengulas senyumnya pada Victoria dan Seunghyun, menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi kubilang, kita memiliki dua saat ini.”

.

.

“Kau pernah belajar matematika, Yuri-a?” Zico bertanya tatkala cahaya hitam terus-menerus mengejarnya tanpa kenal lelah. Ia tidak berniat memotongnya menjadi dua atau melawan, karena semakin banyak yang ia lawan, akan tumbuh dua puluh kali lipat lawan lainnya. Tidak, Zico tidak sebodoh itu.

“Aku bodoh, sebagai informasi.” Pedang perak Yuri muncul entah dari mana. Pedang tersebut berpendar putih keperakan seolah ia membias dari sinar bulan. Bentuknya dapat berubah-ubah acapkali ia bergerak. Dan lagi, sampai saat Zico berdiri, ia tidak bisa melihat jelas bentuk tubuh Yuri saat itu. Raganya penuh dengan sinar hingga ia sendiri terlalu silau untuk melihatnya.

“Untungnya aku pintar. Kau tahu pentagram memiliki lima sisi. Menurutmu apa yang terjadi jika sisi-sisinya kita hancurkan?”

“Maksudmu,” Yuri berlari kencang. Pedangnya teracung ke udara kemudian mengalirkan listrik ketika mata peraknya bertumbuk dengan sebuah pilar hitam yang dibangun oleh Chaerin. Gadis iblis itu masih dalam ritualnya sehingga tubuhnya seolah mati—tidak bergerak.

Seketika, pilar itu rubuh dan membuat Chaerin limbung. Pun didapati oleh mata Zico, bahwa ada sekilat gerakan kecil dalam tubuh Jiyong yang sedang tergantung di pilar pusat yang paling tinggi. Saat manik Zico bertumbuk ada mata cokelat Yuri, Yuri tersenyum simpul, “seperti ini?”

Zico mengepalkan tangannya. Senyum adalah identitas yang tidak pernah lekang dari wajahnya saat itu. “Ya, mari kita lakukan ini.”
Semakin banyak pilar yang hancur, semakin cepat Chaerin kembali normal. Matanya yang kehijauan dipenuhi dengan kebencian. Saat pilar kelima runtuh di depan matanya. Ia menyerang Yuri dengan gerakan kilat dan mencekiknya dalam kuku-kuku iblis.

“Kau… tidak… bisa… menghancurkanku!”

Suara Chaerin cenderung mendesis tidak jelas. Bukan lagi jenis suara gadis yang Yuri kenal semasa mereka berada dalam satu area kerja. Jelas-jelas ini adalah suara iblis yang menguasainya dengan kekuatan besar. Yuri terjerembab di tangan Chaerin. Ia terbatuk.

“Aku tidak ingin melukaimu.” Yuri berdiri kembali tanpa mencoba meringis akan rasa sakitnya. “Jangan salahkan aku, kau menggali lubang kuburmu sendiri, Chaerin-a.”

“DIAM KAU BRENGSEK!”

DUAR!

Ledakan besar terjadi ketika keduanya melesat bersamaan ke udara bagai kembang api. Victoria dan Seunghyun mengendap-endap di kejauhan dan mencoba memberi Zico kekuatan dukungan. “Kau tidak bisa menghancurkan pilar besar ini. Salah sedikit, jiwa Jiyong akan tersedot ke dalamnya.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Zico meninggikan suaranya. Perseteruan seru yang terjadi di udara membuat telinganya berdenging. Bagi allegra dengan kekuatan cukup tinggi seperti Seunghyun, suara tersebut hampir seperti rocker yang sedang berteriak-teriak di panggung dengan dengingan super sopran. Bagi Victoria yang berada beberapa level di bawahnya, dengingan keras tersebut membuatnya meneteskan darah. Sesuatu terjadi pada gendang telinganya.

“VICT!” Seunghyun panik. Namun berulang-kali, Victoria mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Pakai ini.” Zico menyentuh sesuatu di udara lantas sebuah cahaya tiba-tiba saja bermaterialisasi menjadi penyumbat telinga nan empuk. Ia memberikannya pada Victoria cepat-cepat agar bisa menyelesaikan perbincangannya dengan Seunghyun di tengah krisis.

“Kalau kau ingin menghancurkan pilar ini, setidaknya bangunkan Jiyong terlebih dahulu.” Saran Seunghyun.

“Itu malah bagus! Aku akan melakukannya.”

“Tunggu Zico! Kau tidak bisa gegabah.” Seunghyun menahan tangan Zico saat sayap putih besar mencuat dari tulang-tulang rusuk di punggungnya. Takjub sebentar, Seunghyun lantas buru-buru menyelesaikan kalimatnya. “Ada hal-hal yang mungkin saja tidak membaik saat kau membangunkan Jiyong.”

“Maksudmu?” Zico mengerutkan dahinya.

“Bisa jadi Jiyong masih dalam pengaruh iblis sehingga begitu kau menyadarkannya, ia akan mengamuk dan memperparah keadaan.”

“…”

“Kau mengerti aku, Zico?”

“Aku tidak bodoh, hell.”

“Lalu, kau memiliki rencana apa untuk kita diskusikan saat ini?”

Zico melebarkan sayapnya. “Pikir saja, Seunghyun-ssi, apa diskusi adalah cara yang tepat saat ini? Aku akan membangunkan pria bodoh di sana dulu. Selebihnya, urusan nanti.”

.

.

DUAR!

Ledakan lagi dan sebagian besar sinar Yuri yang mengelilingi tubuhnya perlahan memudar. Warna hitam pekat diiringi dengan tawa jahat menyeringai di hadapannya, membuat nyali Yuri semakin ciut setiap sekonnya.

“Kenapa, Anak Manis? Tidak berani mendekati Unnie-mu ini, huh?”

Tawa Chaerin memekik gaduh. Petir menyambar dan gerbang kingdom perlahan membuka kembali seiring dengan tawa Chaerin yang makin nyaring. “Apapun yang kau lakukan, kau sudah terlambat. Selama Jiyong masih berada di pihakku, kau tidak bisa melakukan apapun sayang. Kau tidak bisa!”

“Persetan denganmu!”

Yuri menyerang lagi. Pedang cahayanya berubah menjadi sulur cambuk yang dapat merobohkan tiga pohon berusia ratusan tahun sekalipun. Ujung cambuk cahayanya selalu terarah ke cahaya hitam. Ia merobek-robek setiap cahaya di sekitarnya kemudian menyerang Si Pengendali Cahaya Hitam. Yuri terlalu sembrono hingga ia lupa bahwa acapkali ia menyerang cahaya hitam, cahaya hitam lain tumbuh dan menjeratnya seketika.

“Kau tidak pernah belajar dari pengalaman. Sungguh ironis gadis sepertimu menyandang marga besar seperti Kwon.”

“Tutup mulut tidak bergunamu, Chaerin!”

“JANGAN MENERIAKIKU!” Sebuah cambukan maha dahsyat mengurung Yuri di dalam rasa sakit luar biasa pada tubuhnya. Manik Chaerin terlihat kompleks. Setengah bahagia setengah nanar. “Kau pikir kau siapa bisa meneriakiku, Gadis Manja?”

“Apa,” Yuri merintih. “Apa salah Jiyong dan keluarga kami sehingga kau sangat membencinya?”

“Salah? Salah apa katamu? Tidak cukupkah mereka membuangku dan mengasingkanku? Tidak cukupkah penghinaan panjang akan rupaku dan seluruh kekuatan ini? Tidak cukupkah dunia ini mencampakanku? Dan kau berdiri di sini hanya untuk mengatakan apa salah kalian? Apa rasa sakit ini tidak cukup menjelaskan, Yuri-a?”

Sekali lagi, sebuah petir hitam menyambar ubun-ubun Yuri hingga gadis itu mengejang. Zico berusaha ingin membantu namun Victoria dan Seunghyun menahannya. Katanya, ia harus fokus pada Jiyong.
Lagipula, Yuri adalah tipe yang tidak suka pertarungannya dicampuri orang lain. Ketika ia sudah memutuskan lawannya sendiri, maka ia akan menyelesaikannya sampai akhir.

“Aku minta maaf.” Ucap Yuri nanar. Ada nada tulus yang bisa Chaerin tangkap dari sorot mata cokelatnya. Tapi ego sudah tumbuh dan mengakar sejak lama di dalam tubuh gadis iblis itu. Pintu maaf sudah tertutup baginya, begitupun pintu kasih-sayang. Tidak ada rasa humani yang tersisa dari sosok Chaerin kecuali raganya. Itupun sudah cukup berantakan saat ini.

Luka kecil di setiap pori-pori, luka sayatan melintang di bagian pelindung organ-organ tubuh penting dan luka-luka di hatinya yang enggan menutup secara psikis. Bahkan kata manusia, rasanya sudah tidak seimbang untuk sosok Chaerin saat ini.

Melihatnya, ada perasaan aneh di tubuh Yuri. Seolah raganya ikut tersiksa karena perasaan tersebut.

“Permintaan maafmu hanya akan membuatku semakin terlihat jahat.”

“Setidaknya aku telah meminta maaf.”

“Pertarungan adalah pertarungan, Yuri.”

“Aku tahu. Tapi keluarga adalah keluarga.”

“Aku bukan keluargamu.”

“Jiyong juga. Tapi dia telah menjadi keluargaku selama ini. Kenapa kau tidak?”

“Berhenti bicara omong kosong dan awasi saja langkahmu!”

Yuri terdiam saat cambukan cahaya hitam melangkahi tubuhnya tanpa ampun. Ia harusnya menjerit, atau ia bisa saja menjerit. Tapi Yuri menahannya dengan mengunci jeritan itu dalam-dalam. Ada kata-kata yang belum sempat ia katakan pada Chaerin sebelum cahaya itu menarik kembali rasa sakitnya mencuat. Tubuh Yuri mengunci karena sebelum ia sempat bereaksi atas cambukan pertama, sebuah sulur mengikat pergelangan kaki-kaki dan tangan-tangannya; membawanya ke udara dan menariknya perlahan dari sisi-sisi mata angin yang berbeda, seolah kaki dan tangannya akan dicerai-beraikan dari tubuhnya.

Yuri bisa saja melakukan sesuatu dengan pedangnya. Tapi dengan sengaja, ia menjatuhkannya ke bawah. Tubuhnya perlahan meregang.
“Apa sesakit ini?” Kata Yuri. Air matanya tiba-tiba saja menetes tanpa sebab. Hatinya terkoyak lebih parah daripada luka-luka kecil di seluruh tubuhnya.

“Bicara apa kau, gadis sinting!”

“Apa selalu sesakit ini, Chaerin-a?”

Chaerin menjentikkan jarinya dan teriakan Yuri adalah alunan melodi musik malam itu. Tubuhnya perlahan ditarik bersamaan dari empat penjuru mata angin yang berbeda.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu jadi jangan bicara lagi. Aku akan membuatmu mati dengan nyaman. Diamlah selama aku masih memiliki belas-kasih padamu.”

Yuri tersenyum simpul. “Belas-kasih katamu?”

Chaerin menjentikkan jarinya dan Yuri berteriak kembali. Victoria dan Seunghyun akhirnya merilis gun-kit mereka dan menembakkan peluru perak pada tubuh Chaerin yang mengawang di udara. Apa efeknya? Tidak ada. Tubuh Chaerin terbuat dari cahaya hitam. Cahaya tidak akan musnah hanya karena materi perak padat semacam peluru.

Sebagai akibatnya, Seunghyun dan Victoria harus rela terpelanting jauh dari pilar tengah karena Chaerin menamparnya dengan cambuk cahaya hitam.

Zico?

Ia masih kesulitan mencapai pilar karena pilar tengah terus-menerus dinaungi oleh sulur cahaya yang semakin ia tebas, semakin bertambah banyak.

“Tentu kau masih memiliki itu. Aku tidak mengenalmu tapi aku tahu! Ya, aku membencimu dan kau membenciku. Lalu kupikir berulang-kali bahwa kau bisa saja membunuhku kapanpun kau mau saat ini. Lantas kenapa kau menyudutkanku sampai ke titik ini dan memilih cara seperti ini untuk membunuhku di saat kau memiliki sejuta cara yang lebih keji untuk mengakhiri ini? Akhirnya aku tahu sekarang. Belas-kasih. Kau masih memilikinya. Kau masih mengasihi nyawa manusia sepertiku. Dalam sudut gelap di suatu ruang kecil pada hatimu, kau masih menganggap aku sebagai saudarimu. Katakan, Chaerin-a apa aku benar?”

“DIAM KAU BEDEBAH!”

“KAU YANG HARUS DIAM CHAERIN!” Satu, dua dan tiga. Tiga pohon besar tumbang sekaligus saat Yuri berteriak. Zico sempat terpaku sebentar sebelum ia kembali menyibukkan diri dengan menebas berbagai sulur hitam dan meneriaki Jiyong agar pria tersebut tersadar. Bulir bening air mata menetes tanpa sebab dari pelupuk Yuri saat matanya bertumbuk pada mata ular milik Chaerin. “Kau yang harus diam. Kenapa? Karena aku akan mati dan kau akan hidup lebih lama. Orang yang akan mati harus berbicara sekarang. Jadi kumohon, dengarkan aku.”

.

.

Jadi kumohon, dengarkan aku.”

Kwon Hani dapat mendengar suara parau itu di kejauhan. Saat kepalanya menengadah ia bisa melihat dua orang anak gadisnya sedang berhadap-hadapan dengan kematian. Salah satunya hendak meregang nyawa dan yang lain bergeming.

Hani ingin berlari tapi ia masih ragu saat maniknya bertumbukkan dengan Seunghyun dan Victoria yang notabene berasal dari Mansion. Akan sangat bahaya baginya mengingat ia baru saja kabur dari penjara bawah tanah di dalam Mansion dan menyerang beberapa orang di sana demi pergi ke Kyoto.

Ia akan berlari saat Victoria mengejarnya. Namun suara parau Yuri lantas menahannya begitu saja. Victoria menangkap tubuh bergeming Hani dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun wanita paruh baya itu menanamkan fokusnya pada dua anak gadis yang sedang berbicara serius di atas sana. Air matanya menetes, kehijauan.

“Aku tidak peduli kau siapa dan untuk apa kau melakukan ini. Kau hanya perlu ingat, jika kau terbuang dahulu, kau tidak perlu merasa terbuang sekarang. Hidup bagimu mungkin hanya bernapas sembari menahan rasa sakit di dalam hatimu, tapi hidup bagi aku, Jiyong, Zico bahkan ibu adalah lebih daripada yang kautahu. Yang kulakukan tidak sekadar bernapas. Ada kalanya aku tidak paham kenapa ibu tiba-tiba menangis di malam hari atau merasa benci padaku tiba-tiba. Ada kalanya aku merasa tidak mengerti kenapa ayahku sendiri membuang Zico ke tempat lain dan memilih memelihara Jiyong. Ini adalah keputusan dan tangan takdir, Chaerin-a. Kau yang terbuang, tidak selamanya akan terbuang. Kau bisa kembali, tapi kau bisa bertahan. Pilihan ada di tanganmu. Aku tidak ingin kegelapan menelan kebaikanmu. Kau adalah kau. Kau bebas.”

Yuri menatap pelupuk mata Chaerin yang tengah tertunduk dalam-dalam. Ia menghirup napas dalam-dalam.

Chaerin lantas mendongak menatapnya dengan binar kehijauan di dalam irisnya. Tanpa rasa ampun, cahaya hitam diperintahkannya untuk mencambuk tubuh itu beberapa kali hingga lengkingan Yuri menyeruak ke udara, membuat tungkai Hani lemas.

“Bisakah kau menghentikkan ini?” Seunghyun berujar. Panik. Yang diajak bicara tak lain adalah Kwon Hani. Namun wanita paruh baya itu sepertinya sedang kehilangan tujuan.

“Pertama-tama bawa dia ke tempat yang lebih aman dulu, Vict.” Seunghyun akhirnya memberi perintah. Namun gagal. Perintah itu gagal karena tiba-tiba tubuh di dalam dekapan Victoria sudah menghilang secepat kilat. Sebelum mereka berkedip, Yuri dan Chaerin sudah terjerembab kesakitan di atas tanah.

.

.

“BODOH!”

Hani mengumpat tidak senang. Yuri dan Chaerin sama-sama terpaku melihat seorang wanita paruh baya yang turun dari udara dan berdiri menengahi keduanya. Yuri tidak bisa bangun karena seluruh tubuhnya hampir remuk dicambuk. Chaerin adalah yang pertama diajak bicara oleh Hani.

“Kenapa kau melukai adikmu?” Tanyanya.

“I—ibu…”

“Jangan panggil aku ibu!”

“Ibu, kau terlalu keras padanya.” Kwon Yuri menengahi.

“Diam kau Yuri! Aku tidak bertanya padamu!”

“I—ibu a—aku…”

Hani mendekat lantas sebuah tamparan keras singkat mendarat di pipi Chaerin. Membuat Yuri menelengkan kepalanya ke lain arah dan berusaha tidak mellihat. Saat Yuri kembali menatap keduanya, air mata sudah jatuh dari pelupuk mata Hani. “Maafkan aku, Chaerin-a. Maafkan aku.”

Hari itu mungkin adalah kali pertama Chaerin melihat Hani menangis di depan wajahnya. Untuk alasan tidak detail, pilar besar di tengah yang menaungi tubuh Jiyong hancur dengan sendirinya. Binar mata hijau milik Chaerin berubah kembali menjadi normal, luka-luka di tubuhnya seketika menghilang.

Zico berhasil menangkap Jiyong saat pilarnya ambruk. Tubuh pria itu kaku dan tidak menunjukkan lebih banyak kemajuan. Tapi setidaknya, ia telah lepas dari pengaruh pilar dan seluruh cahaya hitam Chaerin.

“Ibu…” Chaerin bergumam. Saat itu tanah bergetar. Dengan hancurnya pilar keenam, lubang menganga di bawahnya perlahan menutup. Air mata seolah mengering dan menyuruk masuk ke dalamnya. Tidak ada kata yang lebih spesial daripada terima-kasih dalam bibir Kwon Yuri, namun gadis itu tidak mengatakannya. Seluruh tubuhnya seakan sudah hancur.

Cahaya putih yang menjadi busananya selama beberapa jam terakhir, perlahan sirna. Ia mendengar lamat-lamat suara langkah Victoria dan Seunghyun yang mendekat dan meneriaki namanya. Namun Yuri urung mendengarkan. Ada seseorang yang memanggilnya. Seseorang di dalam ruangan hampa.

.

.

-Seminggu kemudian-

“Belum ada tanda-tanda dia akan bangun?” Seunghyun menghampiri Victoria yang baru saja selesai mengunjungi kamar besar. Di balik pintu bercat hitamnya, terbaring sosok Yuri yang sudah tidur selama seminggu belakangan. Tidak ada kerusakan fisik dari tubuhnya bahkan saat dibuktikan dengan catatan medis rumah sakit. Tapi ia tak kunjung siuman sejak malam itu.

Victoria menggeleng sebagai respons. “Tidak akan bangun kecuali keajaiban terjadi. Oppa, apa kau sudah menghubungi mansion soal Chaerin? Apa mereka memberikan keringanan hukuman padanya?”
Seunghyun menggeleng lemah. “Tetap dihukum sesuai peraturan karena dia adalah bagian dari mansion. Yang diberi keringanan hanya Kwon Hani. Tapi ia menolak dan memutuskan akan bersama Chaerin sampai masa hukumannya selesai. Dia bicara soal Yuri juga saat aku mencoba membela mereka di pengadilan, katanya jiwa Yuri mungkin sudah hancur seiring dengan banyaknya cambukan yang ia terima malam itu. Cahaya hitam merenggut sedikit demi sedikit jiwanya.”

“Lalu apa ia bisa kembali, Oppa?”

“Bisa iya. Bisa tidak. Aku tidak tahu persis. Zico sedang mencari cara. Ia sedang melakukan riset. Kita hanya bisa berharap untuk yang terbaik.”

Victoria mengangguk. “Bagaimana dengan Jiyong? Dia sudah siuman?”

Tatapan nanar Seunghyun bertumbuk pada dinding-dinding bisu yang membatasi kamar Yuri dan Jiyong. Seunghyun menggeleng.

“Hal yang lebih parah terjadi padanya. Kedua bintang ghost slayer kebanggaan kita, tidak dapat ditentukan nasibnya saat ini. Mereka tidak kunjung bangun. Jiwanya belum kembali. Entahlah.”

.

.

Yuri berada di tempat asing baginya. Tidak ada udara, tidak ada air. Selama berhari-hari ia hanya duduk termenung di balik sebuah reruntuhan bangunan kecil yang tidak ia kenali. Bau hangus adalah materi yang sehari-hari menemaninya di sana. Ia tidak mengeluh, hanya saja ia merasa sangat kesepian.

“Kau lebih tenang dari apa yang kubayangkan, Nak.”

Yuri mendongak, mencari sumber suara. Namun ia tidak bisa melihat apapun selain ruang kosong dengan warna putih di sepanjang hamparan area tersebut. “Siapa kau?” Yuri bertanya.

“Aku? Siapa ya aku?”

“Aku tidak bercanda.”

“Apa aku tertawa?”

Hening.

“Ayah, aku tidak bercanda.”

“Oke baiklah. Ayah juga tidak tertawa kok.”

“AYAH?” Yuri menerka. Dengan antusiasme lumayan tinggi. Lalu seorang pria paruh baya muncul di hadapannya. “Gotcha!

Yuri berlari lantas memeluk sosok yang selalu dirindukannya itu dengan erat. Shiwoon tidak menolak, selama ini ia tidak menampik bahwa ia selalu merindukan gadis sembrono yang sangat diandalkannya itu.

“Kenapa kau di sini, Nak?” Tanyanya. “Kupikir kau sedang dalam pertarungan serumu di sana dengan kakakmu.”

“Kau tahu, Ayah?” Yuri mengerutkan dahinya. Shiwoon mengangguk pasti. “Aku bahkan tahu kau hampir dibunuhnya kalau ibumu tidak datang.”

Saat itu Yuri mengeluh panjang. “Dia bukan ibuku. Tapi aku berterima-kasih ia sudah melakukannya.”

Shiwoon menepuk pundak anaknya. “Terima-kasih bagimu juga dapat menerima sosok Hani dalam hidupmu.”

“Ya.” Yuri menghela napasnya. “Lalu bagaimana rupa ibu kandungku?”

“Kau penasaran?”

“Sangat, Ayah.”

“Dia mirip sekali denganmu. Tubuhnya sependek Zico dan gaya bicaranya secepat kau. Ia sedikit sembrono tapi ia sangat pintar untuk beberapa hal. Ia tidak punya kekurangan kecuali satu,”

“Apa itu?”

“Ia mudah sekali meninggalkan kita.”

Wajah Yuri berubah menjadi murung. “Ya, kau benar.” Desahnya. “Tapi setidaknya aku memilikimu sekarang.” Imbuh Yuri. Kali ini ekspresi Shiwoon terkesan menimbang-nimbang. Tanpa Yuri sadari, tangannya yang melingkar di tubuh ayahnya tersebut dilepaskan perlahan.

“Yuri, kau tersesat, Nak. Kau seharusnya tidak di sini.”

“Hah?” Yuri tentu saja tidak mengerti. Baginya, berada dengan ayahnya adalah mimpi terindah. Tidak mungkin bahwa jalan ini membuatnya tersesat, tidak mungkin sama sekali baginya. “Aku tidak mengerti, Ayah.”

“Kau tidak boleh di sini.”

“Tentu aku boleh. Aku sudah mati, Ayah. Inilah alasan aku berada di sini.”

“Tidak, Nak.” Shiwoon menatap dalam-dalam pada anak gadisnya tersebut. “Kau belum mati, Sayang. Kau hanya tersesat dan tidak tahu jalan kembali.”

“Aku tidak ingin kembali, Ayah.”

“Kau harus kembali. Bukan untukmu, tapi untuk orang yang menunggumu.”

“Aku mungkin akan lebih bahagia berada di sini, bersamamu. Tidak ada yang akan menungguku di luar sana. Percayalah padaku. Aku selalu percaya takdir, Ayah. Dan ketika takdirku mengirimku ke dunia ini, aku akan menjalaninya dengan senang hati.”

Shiwoon mengusap kepala Yuri pelan. Ada perasaan bercampur di dalam hatinya. Ia memilah-milah banyak kalimat di dalam kepalanya sampai akhirnya sebuah pelangi muncul di hadapan mereka. Belum cukup ajaib, sebuah gedung dan sederet rumah perlahan terbangun dengan sendirinya.

“Dia telah datang, Yuri. Aku harus cepat-cepat pergi.”

Yuri terlonjak saat mendengar ayahnya akan pergi. Ia menahan tangan kekar Shiwoon dan memandangnya lekat. “Apa? Kenapa kau pergi? Siapa yang datang?”

Shiwoon mengelus pipi Yuri. “Sudah kubilang kau tersesat. Takdir memang membawamu kemari, tapi bukan untuk tinggal, anakku. Kau kemari untuk menjemput takdir barumu. Kau kemari untuk menjemput orang itu. Aku harus pergi sebelum dia datang. Aku harus pergi untuk membiarkanmu memilih takdirmu sendiri. Aku hanya bisa memandumu, anakku. Selebihnya, terserah padamu.”

Lalu bayangan itu perlahan memudar, menyisakan rasa perih di seluruh tubuh Yuri. Sosok yang selalu membuatnya merindu itu menghilang begitu saja di hadapannya, tanpa bekas dan tanpa selamat tinggal.

Alas yang dipijaknya bergetar hebat. Lalu gedung-gedung pencakar langit bermunculan di depan matanya. Ada jalan-jalan yang berkelok-kelok juga sungai-sungai indah dengan jembatan manis di atasnya. Tidak ada orang berlalu-lalang yang menikmati pemandangan indah tersebut. Semuanya Yuri nikmati sendiri.
Awan cerah muncul dari balik gunung besar yang tiba-tiba saja sudah bertengger di balik gedung pencakar langit. Suara burung-burung bersahutan dari balik awan dan membuat suasana lebih terasa senikmat musim panas. Reruntuhan yang sebelumnya Yuri tempati kini telah berubah menjadi sebuah fountain dengan air mancur keemasan yang membasahi tubuhnya dengan percikan air.

“Indah sekali.” Gumamnya. Ia menengadah lantas melihat ke langit luas. “Andai kau melihat ini, Ayah.”

BOOM!

Suara dentuman terdengar dan mengambil-alih pendengaran Yuri seluruhnya dari kicauan burung. Yuri melihat ke sumber suara dan menemukan sebuah bangunan ambruk seketika. Ia mundur perlahan, berjaga-jaga kalau-kalau ada bahaya mendekat.

Benar saja, sosok bayangan hitam berjalan tertatih ke arahnya. Dengan batuk-batuk keras dari asap yang mengepul akibat reruntuhan, Yuri bisa menebak. Perlahan sosok itu semakin dekat dengan tubuhnya; dengan tebakannya.

Saat akhirnya sosok itu bertemu-pandang dengan Yuri, ia tersenyum cerah.

Kau kemari untuk menjemput orang itu.

“Jiyong Oppa!”

.

.
OPPA!

Victoria berteriak memanggil Seunghyun. Pemuda itu bergegas berlari ke arahnya. Saat ia bersisian dengan gadis itu, Victoria menunjuk-tunjuk tubuh kaku Yuri.

“Apa? Kenapa?” Seunghyun panik tanpa sebab.

“Dia—dia—“

“Katakan dengan jelas!”

“Dia baru saja menggerakkan tangannya!”

“Eh?”

“Aku bersumpah dia baru saja menggerakkan tangannya!”

Belum selesai Seunghyun dengan keterkejutannya. Salah seorang bawahannya datang dengan tergesa-gesa. Ia belum sempat menelan ludah karena sangat panik. Seunghyun memerintahkan agar ia tenang, tapi pemuda mungil itu sempat tersengal selama sepersekian detik jika Victoria tidak membuatnya sadar dengan sebuah tamparan.

“Apa? Kenapa?” Seunghyun bertanya.

“Aku bertugas menjaga tubuh Kwon Jiyong hari ini, tapi—“

“TAPI APA!”

“I—itu… tubuhnya bergerak. Kepalanya bergerak singkat tadi.”

“Apa kau serius?”

“Aku berani bersumpah, Tuan!”

Seunghyun menukar-pandang dengan Victoria. “Telepon Zico. Katakan dua orang saudara-saudarinya hampir siuman.”

.

.

“Kau bertemu Ayah?” Jiyong menekankan kalimatnya. Yuri mengangguk.

“Kau tidak?” Tanyanya.

“Aku bertemu, sebentar sekali.”

“Sama.”

Lalu jeda panjang terjadi di antara keduanya. Setelah semua yang terjadi, suasana terasa sangat canggung. Apalagi ketika mereka tahu bahwa mereka bukanlah sepasang kakak-adik setelah semua yang telah mereka lalui selama ini. Pun hari ini adalah pertama kalinya Jiyong mendengar Yuri memanggilnya dengan sebutan oppa. Lidah Yuri juga terasa sangat aneh saat menyebutnya demikian, tapi hal itu terjadi begitu saja.

“Yuri-a…”

Oppa…”

Bahkan keduanya bicara di saat yang bersamaan saat ini. Semakin membuat kikuk.

“Kau duluan.” Kata Jiyong.

“Tidak, kau duluan saja.” Sahut Yuri.

Lantas keduanya sama-sama membentuk senyum simpul di wajah mereka. Entahlah. Pernah sekali-duakali terpikir dalam benak Jiyong bahwa ia memiliki sister-complex selama ini. Tapi pikiran itu ia enyahkan mengingat posisinya sebagai kakak tertua. Namun ketika kenyataan yang sebenarnya mulai terkuak, ia meragukan hal tersebut. Alasan mengapa ia terlalu membatasi gadis ini dari pria di sekitarnya adalah karena ia diam-diam memiliki perhatian berlebih pada Yuri.

Dulu ia pikir karena Yuri adalah adiknya.

Sekarang mungkin lain hal.

“Baiklah, aku duluan.” Yuri akhirnya mengalah untuk berbicara. “Aku di sini untuk menjemputmu.”

“Aku?”

Yeah, kau. Pertarungan di luar sana entah berakhir seperti apa, tapi kata Ayah, kau dan aku belum boleh berada di sini. Ia menyuruhku kembali, bersamamu.”

Jiyong tertawa pelan. “Aku juga ingin kembali. Tapi entah mengapa aku merasa takut.” Manik Jiyong menerawang. Tungkainya ditekuk kemudian perlahan ia memeluknya.

“Kenapa? Tidak ada yang perlu kita takutkan jika kita bersama di sana.”

“Justru itu yang aku takutkan. Kita bersama, setelah apa yang terjadi. Setelah semua ini, segalanya tidak akan sama untuk kita, Yuri-a. Aku bukan kakakmu dan kau bukan adikku. Sementara kita harus bekerja bersama. Tidakkah kau merasa ini akan aneh?”

Yuri menelan ludahnya. Ada kalanya bahwa Jiyong benar. Tapi suatu sudut dalam hatinya berontak diam-diam, menginginkan semuanya terjadi seperti biasa saja; menginginkan Jiyong menganggapnya biasa saja.

“Kau benar, Oppa.” Yuri menghela napasnya. Entah mengapa ia merasa dadanya sakit kala itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa telah melakukan sebuah kebohongan besar di hadapan Jiyong. “Tapi tetap saja, kita harus pulang. Banyak yang menunggu kita di sana.”

“Tidak ada yang akan menunggu kita, Yuri.”

“Ayah bilang ada.”

“Siapa?”

“Takdir.” Yuri mampu membungkar mulut Jiyong. Sebelum lebih banyak alasan keluar dari bibirnya, Yuri mengajaknya berdiri dengan menggenggam tangannya. “Oppa, aku takut akan seperti apa kita jadinya di luar sana tapi aku lebih takut lagi kalau meninggalkanmu sendirian di sini. Aku percaya takdir dan aku percaya semua yang telah kita lalui bersama tidak sia-sia. Meskipun kau bukan kakakku atau aku bukan adikmu, aku akan tetap menghargaimu. Perasaanku padamu tidak berubah, Oppa. Harap kau jangan takut.”

“Justru itu ketakutanku yang lain, Yuri-a. Soal perasaanmu yang tidak akan berubah padaku. Satu tempat dalam hatiku menolaknya, karena…”

Tangan lembut Jiyong menariknya ke dalam dekapan hangat pria tersebut. Hujan tiba-tiba saja turun di dunia paralel tersebut. Namun tubuh mereka tidak basah, hanya hawa dingin yang menyambut pori-pori kulit keduanya. Sesaat sebelum Yuri melepaskan diri, Jiyong sudah bergerak terlalu jauh. Dikecupnya bibir Yuri dengan gerakan lembut. Tanpa kesan memaksa, ia berhasil mencicipi bibir mungil itu sejak sekian lama.

Keduanya bertatap-tatapan tanpa suara hingga akhirnya hujan mereda. Jiyong melepaskan genggaman tangan mereka.
Ia menatap gadis itu lekat.

“Perasaanku padamu mungkin sudah berubah sejak lama. Hanya saja hubungan ini aku simpan rapi. Tapi sekarang tidak akan lagi. Dan aku takut. Kita mungkin akan kembali, tapi kau dan aku tidak bisa bersama seperti dulu, Yuri-a. Suka tidak suka, kau dan aku berjalan masing-masing.”

Awan putih lantas turun ke bawah kaki Jiyong dan mengangkat pria itu ke udara. Angin topan kecil muncul di atas kepalanya. Hal yang sama terjadi pada Yuri. Keduanya diam saja dan pasrah. Masih bertatapan, keduanya mencoba berkomunikasi melalui manik yang sudah mereka kenal bertahun-tahun, barangkali menemukan suatu kebohongan di sana.

Tapi sekeras apapun mencoba, mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa bersama seperti sediakala.

.

.

Mansion panik. Seunghyun sedang kewalahan karena mendapat berita bahwa Jiyong sudah sadar sepenuhnya sementara di kamar sebelahnya, Victoria memekik girang karena Yuri sudah siuman. Zico berlari saat itu. Ia memeluk saudarinya dengan penuh kehangatan. Senyumnya tidak pernah lepas dari rasa syukur.

Dalam ingatan Yuri semuanya tergambar jelas. Meskipun ia bangun, pikirannya tidak benar-benar bangun. Ada kalanya hal-hal mengenai Jiyong masih meracuni otaknya.

“Victoria, Jiyong membutuhkan beberapa treatment.” Saat Seunghyun berteriak dari balik pintu, Yuri ingin sekali mengangkat kakinya dan berjalan mengekori Victoria. Tapi ia urung melangkah.

Janjinya sudah diikat di ruang hampa.

Bahwa ia tahu hidupnya tidak akan sama.

Bahwa ia tahu Jiyong tidak lagi akan sama.

Yuri meraba bibirnya. Rasanya seperti mimpi namun sampai satu titik terkesan begitu nyata. Lantas ia paham mengapa Jiyong memperlakukannya seperti ini. Perasaannya yang berubah atau perasaan sebenarnya yang terpendam sejak lama, tidak seharusnya dimiliki oleh Yuri.

Bagaimanapun ini salah.

Dan Yuri paham itu.

.

.

| To Be Continued |

MAAF SEKALI UPDATE GHOST SLAYER-NYA KELAMAAN. HAHAHAHAHA. tapi akhirnya aku menyelesaikannya juga. Ghost Slayer Step #9 adalah endingnya.  Siap-siap ya!

52 thoughts on “GHOST SLAYER STEP #8

      • Shin Min Mi berkata:

        ini.. bener-bener sweet moment dr semua part yg udah ada, yuri yg tetep ngnaggep chaerin oenni nya, zico yg mati-matian mo nyelamatin jiyoung tpi dia jg kuatir ma adiknya… apalagi bagian pertemuan ibu dan 2 orang anak gadisnya (?) aish.. bikin air mata turun he8
        dan akhirnya.. yuri bisa ketemu ma ayahnya setelah di part kemaren jiyoung yg udah ketemu, mengharu biru…huhuuhu apa ya, pokoknya sepadan banget ama penantian selama ini😀 apalagi bacanya abis noton 3days semalem🙂 thank you yun, maturnuwun ^^
        lanjut ke part ending dulu ya~

  1. tha_elfsone berkata:

    waah nyun…so romantis bnget yg ini..
    aku setuju jika yuri ma jinyong🙂
    ahaha..suka bnget…
    yuri bner” bertarung dengan cara nya sendiri🙂
    ok aq mau lanjut lagi yaa nyun ^^

  2. Tetta Andira berkata:

    Nyun-chan ,, sllu gak tau mau ngomong apa lahh kalo udh brhdpn sama tulisanmu .. -_-
    Ini menakjubkan🙂 part dmna Yul-CL bertarung -smpe Yul nyaris tewas- & akhir’x muncul Kwon Hani ,, ituh beneran menyedihkan😥 smpe nangis krna kalimat” nyentuh’x ..
    & buat prtemuan + hal” baru yg terungkap di “ruang hampa” antara Jiyong-Yul ,, itu beneran okehh pnya🙂
    Ahh~ mau lgsg ke part 9 deh ..

  3. tarhy94 berkata:

    bkann klamaann tpii sngaaatt lmaa..
    hemm…tpii gk ppalahh..yg pnting d lnjutin..
    aigooo….YulEon d Cium Jiyong#AndaikanInReal.hahaha.#Mimpi;-)

    Chaerin jahat bngett untng ad Ibu Yuleon..gk kbayangg dehh klo Yuleon triaknyaa bnerann gituu bsa2 phon d korea Hbiss smua krna triakan yuleon.wkwkwkw..

    ok dehh.izin d chapter endingnyaa yahh eonnie^_^

  4. Yhyemin_ berkata:

    ah ada angin apa nih kakak brubah pikiran lagi? Hahaha sneng bgtt deh akhirnya kakak update ghost slayer,hampir aja lupa terakhirnya gmna…
    Feel nya sperti biasa ngena bgt, alurnya jga gk buru” jd santai bcanya,actionnya jg gk trlalu dominan lbih fokus k konflik kyknya..
    Ah pokoknya mlam ini seneng bgt apalagi sama ending yg d tunggu”.^^
    Mluncur —->> Ending

    • bapkyr berkata:

      Tadi lagi buat ff baru ternyata sebentar doang . Berhubung udah buka laptop jadi sekalian aja garap ghost slayer. Hhahha.
      Makasih yaaa

  5. kimikakyuri berkata:

    •°☺☺oooHh•°°•••°° kayunn ,, update tan mu bikin aku happy .. Hehe. =D

    Dikirain bakal lanjut april ternyata muncul lebih cepat ..

    Sekarang semuannya udah jelas .. Tinggal baca ghost slayer step #9 nya aja .. 🙂

  6. dinda berkata:

    penantian lama ini terbayar kan sudah /halah/. Daebak daebak daebak. Ah ceritanya sweet banget kaknyun <3awww aku suka

  7. mellinw berkata:

    Wawawawaaaaa neomu neomu daebaaaakk unnie !!!

    Wahwahwah .. Ini panjang skaliii dan memuaskan kisahnyaa dehh uhuhu :3 asikasik josshh ..

    Gile deh vict seunghyun baek rupanya ya wkwk ..
    Dtunggu ff slanjutnya kaknyuun . Cihuy

  8. Sabrina berkata:

    setelah berabad abad #elahlebai😄 akhirnya Ghost slayer terbit😀 ternyata yuri juga suka sama GD yah #eh? wkwkwkw bagus lah aku sampe gak jadi tidur gara gara liat updatean Ghost slayer😀

  9. nadiyavirgi berkata:

    Chaerin luluh juga kan! Wkwk
    Udah nebak si dari part2 sebelum nya kalo jiyong ngasih perhatian ke yuri itu lebih ada rasa suka gitu lah ke yuri😄 tapi karna mereka adik kaka dia diem2 aja. /soktau

    Kereenn! Caw step 9

  10. hani"thahyun kim berkata:

    Akhirnyaaa lanjut juga nih ff nya,, nungguin dari kapan laahhh lanjutannya..chaerin bisa menghentikan aksi jahatnya karena kehadiran kwon hani..ibunya..yuri ketemu lagi S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ ayahnya,, setelah sekian lama ga ketemu..jiyoung bilang perasaannya berubah, dari dulu kayanya jiyoung emang udah punya perasaan lain S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ yuri bukan sebagai adiknya..tapi sebagai wanita yg dia suka..inget pertama kali pertemuan jiyoung, yuri S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ zico..jiyoung selalu marah klo yuri deket” S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ zico..ªƿƏ itu bukan cemburu namanya ? “̮ƗƗɑɑ “̮ ƗƗɑɑ “̮ ƗƗɑɑ “̮ !-) lanjuut part 9 end😦

  11. YoonYuladdicts berkata:

    waah, udah lama banget gak berkunjung ke blog kaknyun, ternyata ghost slayer sudah double post🙂
    wooh, pertarungan antara yuri sm chaerin menegangkan trus bahasanya lumayan berat..
    daripada penasaran, mending baca part 9 ah !!

  12. Tansa berkata:

    Akhirnyaaa update lagi eon.. Bagus lhoo hahahaha😀 ga nyangka penantian yang lama membuahkan hasil yang lebih hihihi🙂

  13. Nafiani Zulfikar berkata:

    wah, cuma cl sama zico yang belum ketemu sama ayahnya? eh kirain cl mati ternyata enggak. hehe
    Itu adegan yuri -gdnya awww~~~
    cie gd uda ada rasa sejak mereka masih ngira kalo mereka adik kakak >//<
    ga sabar aku mau langsung lanjut baca chap 9! ending~

  14. Sjelfeu berkata:

    Akhirnya dipost jugaa
    suka kalo pertarungan2 kyk gini, keren !
    Ternyata mereka sama2 memiliki rasa yg terpendam
    semoga bisa bersatu yaaa =))

  15. Agnes berkata:

    akhirnya bisa baca ghost slayer setelah ujian sekolah yang melelahkan! updatenya kelamaan unnie, jadi aku udah ga penasaran lagi, udah males. tapi serulah. unnie, orion udah dihapus ya? aku cek ga ada. padahal aku suka sama orion. toznya juga cepet-cepet update ya unnie

  16. elny si yul+hun+han shiper berkata:

    omo !!
    aku telat banyak ya fanfic di wp eon?
    haha…aku senang(?) *nahlo?* berarti aku gak usah bosen lagi gegara tugas numpuk….

    ahhh~ senyum2 sendiri nih..

    haha…

    aku lanjut baca kilat ya eon~^^

  17. Angella Yurisistable berkata:

    Cl trlampau kejam…Tpi luluh dgn Kwon Hani..Disini bkan salah siapa2 tpi krana kasih sayang ibubapa kepada anaklah.Tiada siapa yg sanggup membunuh anak kandung sendiri.

    Jiyong slalu ada untk Yuri.Blum tiba masa Yuri meninggalkan dunia yg memerlukan nyawa..

  18. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    Hoaaaa chaerin kejam sekaliiii, please ini nangis gegara inget ab siblings nya ga akan barengan lagi hoaaaaaa, keren!

  19. Anonym berkata:

    Keren :3 tapi part depan udah end u,u padahal mau baca petualangan mereka nangkep hantu lagi -_-

  20. slmnabil berkata:

    Aww kak nyuuun! Metamorfosa perasaan mereka cantik banget, apalagi di ruang hampa itu. Seperti biasa best dialog selalu ada di setiap chapter dan yang favorit nabil adalah pembicaraan yuri sama ayahnya.
    “Aku tidak bercanda.”
    “Oh aku tidak tertawa.”
    Good job kak nyuuun!

  21. Ckh.Kyr berkata:

    Agak canggung pas bagian mereka di dunia ilusi atau apalah itu, kebawa suasana nganggap mereka beneran kakak-adik sih ;3
    .
    Kok Seunghyun-Victoria imut sih (?) padahal udah mantanan juga ;-;
    CLBK gih #jderr

  22. Ardelia wynne berkata:

    Kak nyun aku ga begitu ngertisama part ini. But it still cool for me. Akhir na yuri ama jiyong siuman. Penasaran bgt ama ending cerita na gmn heheh

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s