GHOST SLAYER STEP #9-END

Poster #9 Ghost Slayer

ENDING YEAY!

***

“Kwon Zico, atas keberanianmu, mansion menganugerahkan gelar allegra tujuh, menggantikan masa tugas Saudara Lee Junki yang telah habis.”

Dengan dianugerahkannya pedang allegra kehormatan dari tangan Junki ke tangan Zico, maka berakhirlah sudah upacara resmi hari itu. Seharusnya yang berdiri di sana dalah Yuri, namun Yuri menolak jabatan allegra. Bahkan ia menolak untuk terus bersama mansion sampai akhir.

Ya.

Yuri memutuskan untuk berhenti menjadi ghost slayer.

“Aku lelah. Mungkin sedikit trauma.” Ujarnya ketika ditanya. Namun siapa yang tahu bahwa alasan sebenarnya adalah ia ingin menjaga jarak dengan Kwon Jiyong. Yuri tidak ingin membuat pemuda itu terluka dengan perasaannya karena ia tidak bisa membalasnya. Perasaan cinta untuk Jiyong hanyalah sebagai kakak. Yuri tidak bisa melangkah lebih jauh dari batas itu.

“Selamat!” Lamunannya terbuyarkan saat Zico merangkul pundaknya. “Ini harusnya untukmu!” Kata Zico lagi. Ia memainkan pedangnya di depan Yuri namun Yuri hanya menggeleng jenaka. Di kejauhan, msalah satu sudut ruangan, didapatinya sosok Jiyong yang mencoba mengalihkan pandangannya.

Tubuhnya bersandar pada tembok dan ia bersidekap santai. Jiyong berusaha menyembunyikan maniknya dari tatapan tidak sengaja dengan Yuri, namun sesungguhnya ia telah terlambat.

“Ayo kita beritahu Jiyong untuk sebuah pesta!” Ajak Zico. Tentu mengejutkan mengingat sudah tiga hari sejak mereka siuman dan tidak satupun yang membuat Yuri berada dekat-dekat dengan Jiyong. Mungkin Zico ingin menjadi semacam malaikat di antara mereka dan mencoba mempertemukan kembali dua orang yang merenggang tanpa sebab tersebut tapi,

“Maaf, aku harus ke rumah sakit hari ini. Maaf sekali.”

.

.

–1 Tahun kemudian—

“Bawa mereka kembali atau kau tidak akan kembali.”

“Katakan yang keras!”

“BAWA MEREKA KEMBALI ATAU KAU TIDAK AKAN KEMBALI!”

“Bagus. Terus latihan!”

Jiyong pergi, meninggalkan puluhan muda-mudi yang baru saja ditatarnya. Seunghyun di kejauhan melihatnya dengan menggelengkan kepala. Namun apa yang bisa ia lakukan. Kejadian satu tahun yang lalu membuat Jiyong tidak hanya kehilangan popularitasnya, ia juga kehilangan rekan satu timnya sendiri, Yuri.

Gadis itu memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan tidak kembali sampai waktu yang tidak ditentukan. Chaerin dan Ibu Jiyong masih berada dalam penjara dan sesekali ia mengunjunginya untuk sekadar bertukar kabar.

Singkatnya, Jiyong bukanlah Jiyong yang dulu pernah Seunghyun kenal.

“Dia tampan, ah, andai saja dia tidak segalak ini.” Ucap salah seorang gadis dengan rambut yang diikat ke atas. Ia memegangi gun-kitnya sembari mengeluh pada kawanan gadis di sekelilingnya. Merasa pernyataan tersebut ada benarnya, mereka mengangguk setuju.

“Aku tidak ragu kalau dia bahkan tidak punya kekasih. Wajar saja dengan perangai seperti itu.”

“Betul. Aku setuju. Wanita bodoh mana yang tahan dengan pria galak macam dia.”

“Benar. Wanita bodoh mana ya.” Suara tenor muncul tiba-tiba dari balik bahu segerombolan gadis tadi. Zico berdiri di sana, dengan kacamata hitam dan jaket kulit kelabu yang terkesan mewah di tubuhnya. Para gadis tadi memekik tertahan kemudian bercerai-berai dengan perasaan berdesir. Lama AB-Sibling tidak terdengar, kini Zico adalah primadonnanya Mansion. Tak jarang gadis yang berteriak karena pesonanya tersebut. Selain tampan, kemampuannya berada di atas rata-rata dan kepirbadiannya tentu sangat kontras dengan Jiyong.

“Mereka membicarakanmu lagi, Hyung.”

“Biarkan saja.” Jiyong menanggapi ketika Zico duduk di sisinya.

Seunghyun saat itu memutuskan untuk bergabung dengan mereka dan duduk menengahi Zico dan Jiyong.

“Bagaimana tugasmu di Jepang, Zico-a?”

“Lancar. Apa perlu aku menulis laporannya untukmu?”

“Oh tidak perlu. Aku tahu kemampuanmu. Kenapa tidak kau ajak pemuda pemarah ini berada dalam wilayahmu. Kurasa dia akan cukup membantu.” Sahut Seunghyun.

“Tidak usah membawa-bawa namaku. Aku cukup senang jadi tutor anak baru.”

“Jiyong-a, kemampuanmu lama sekali tidak terasah. Mau sampai kapan seperti ini terus?” Seunghyun menasehati namun seperti biasa, Jiyong tidak mau mendengar.

“Biarkan sajalah Hyung¸ pemuda pemarah ini tidak akan mengubah apa yang telah menjadi keputusannya. Kecuali…”

Seunghyun menoleh ke arah Zico.

“Ia jatuh cinta.”

Jiyong terbatuk saat itu. “What?”

“Jatuh cinta! Kau tidak pernah jatuh cinta memangnya?” Zico membaca ekspresi tak yakin dari wajah Jiyong. “Oh ayolah. Pria setampan kau tidak memiliki masa lalu yang bagus dengan wanita?”

“Dia memang payah. Selama aku di sini, satu-satunya wanita yang bersamanya hanya Yuri.” Papar Seunghyun. Zico menggeleng lamban. “Well, itu menjelaskan semuanya kenapa ia begitu payah urusan gadis.”

“Diamlah kalian berdua. Urusi saja urusan masing-masing.” Setengah jengah, Jiyong berujar. Namun bukanlah Zico namanya jika ia berhenti berbicara. Masih dengan terka-menerka dan menggoda Jiyong, Zico melanjutkan kalimatnya,

“Jangan katakan kau jatuh cinta pada kakakku. Jangan katakan!”

Jiyong tersedak lagi. Kali ini batuknya keras sekali hingga Seunghyun beranjak dari tempat duduknya dan menjauhi Jiyong karena salivanya. Zico melihat perubahan air muka Jiyong lantas ia tersenyum jahil.

“Aku sepertinya benar…”

“DIAMLAH KAU BOCAH TENGIK.”

“Ya, ya, ya. Kali ini aku akan diam. Tapi sebagai calon kakak-ipar, kau harusnya lebih baik memperlakukanku.”

“ZICO-AH!”

Bye! Kakak-ipar!”

Zico telah pergi dari hadapan Jiyong dengan terburu-buru. Saat pandangan mata Jiyong tertohok di manik Seunghyun, pemuda itu mengangkat kedua tangannya sembari mundur perlahan. “Urusan keluarga di luar tanggung-jawabku, maaf.”

.

.

“Kau bilang ini mudah!” Jiyong berguling ke samping kanan hingga kemejanya penuh dengan lumpur. Zico masih bergulat dengan gun-kitnya yang tertelan oleh monster besar berlumpur di dataran. Jepang sudah sangat liar saat ini akibat beberapa hal yang tidak diketahui.

Jiyong yang menolak pekerjaan lapangan, kini harus diturunkan juga untuk membantu sepak-terjang Zico. Ada penolakan dalam batinnya namun perintah adalah perintah.

“Ini akan lebih mudah jika kau tidak membiarkan makhluk ini menelan semua peralatan kita, Hyung.” Zico memrotes.

Satu-satunya yang tersisa adalah gun-kitnya itupun kalau ia berhasil menahan benda tersebut tetap berada di mulut sang hantu lumpur.

GLEK.

“O—Ow. Apa kita memiliki Plan B, Hyung?”

“Ada.”

“Seperti?”

Jiyong mundur perlahan diikuti oleh Zico. Ia memperhatikan sekitarnya kemudian mengambil ancang-ancang dengan tungkainya. “Lari.”

OH MY GOD! HARGA DIRIKU!”

Zico melesat menyusul Jiyong yang sudah berlari di depannya. Makhluk berlumpur itu bagaikan gumpalan kue Oreo yang selalu menggelinding mengejar keduanya. Saat Zico sudah hampir mengejar langkah Jiyong, pemuda tersebut kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Jiyong bisa saja menyelamatkan dirinya dan lari mengabaikan Zico, tapi ia memilih berhenti dan membantu tubuh Zico untuk bangkit.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku apa-apa sekali.” Zico menunjukkan lututnya yang cedera karena batu besar. Lantas Jiyong tanpa pikir panjang membagi punggungnya untuk dinaiki. “Apa boleh begini… harga diriku…”

“Lupakan harga diri Maha Agung-mu dan lekas naik jika kau ingin tubuhmu utuh sampai di mansion.”

Zico menuruti perintah Jiyong. Tanpa ba-bi-bu, kedua pemuda itu segera menyelamatkan diri mereka dari amukan makhluk berlumpur. Sesaat titik terang di dapatnya ketika melihat mobil putih besar terparkir tidak jauh dari mereka. “Itu van kita.” Kata Zico.

Sekali mereka masuk maka perlindungan otomatis dari tubuh van akan bekerja. Yang perlu mereka lakukan adalah masuk ke dalam van dan duduk dengan tenang.

Namun seperti tahu, makluk berlumpur itu berguling lebih cepat dan melahap mobil itu tanpa ampun. Teriakan pilu serta tangisan ‘harga diri’ yang terbuang milik Zico baru saja ia luapkan tatkala Sang Roh menyeringai lebar di hadapan keduanya.

“Sekarang apa…” Katanya.

Gate-kitmu Zico, bukalah.”

“Ini tidak bekerja, Hyung.”

“Sial.”

“Ada rencana lain?”

“Ada, rencana B yang biasa aku dan Yuri lakukan.”

“Rencana apa?”

“Rencana B. Bahaya.”

Tepat di akhir kalimatnya, Jiyong melemparkan Zico melewati selangkangan Sang Roh. “KAU GILA YA!” Sahut Zico. Tanpa reaksi berarti, Jiyong memancing Sang Roh ke lain arah, mengejarnya seorang.

“Panggil bantuan selama aku mengalihkan perhatiannya! Kau pasti bisa!”

.

.

“Diam kau makhluk bau besar!”

Jiyong sudah berlari jauh namun bantuan tak nampak muncul. Dalam beberapa jam lagi mungkin ia akan kelelahan dan berakhir di mulut Sang Roh Lumpur ini. Tapi ia sudah percaya betul bahwa Zico tidak akan membiarkannya mati di sini. Tidak keren. Apalagi dengan lumpur bau begini.

Krek.

Jiyong menginjak sebuah ranting rapuh. Ia pikir hanya sebuah ranting jadi ia tidak peduli. Namun siapa yang sangka bahwa ranting tadi adalah kaki-kaki kecil dari Roh Pohon yang berada di dekatnya. Jiyong terjebak karena sulur panjang dari pohon tersebut mengikat pergelangan kakinya. Ia tergantung dengan kepala di bawah. Roh Lumpur Besar berhenti mengejar. Ia bertatap-tatapan dengan Roh Pohon kemudian selang beberapa menit keduanya bergerak lamban.

Tahu-tahu, Jiyong sudah berada di tepi jurang!

Sulur-sulur itu terus bergerak dan dalam beberapa menit lagi, mungkin ikatan pada pergelangan kakinya mengendur. Bisa jadi malah terlepas hingga tubuh Jiyong bisa terjun bebas ke dasar jurang.

Mengerikan!

Zico, sebaiknya kau punya bantuan yang bagus.

Sulur mengendur, terus dan terus. Hingga rasanya Jiyong sudah pasrah menerima takdirnya. Lalu bunyi syuut ringan mengumandang di kejauhan. Berani bertaruh, benda yang terbang itu adalah anak panah.

Pohon bergerak-gerak gelisah. Sulurnya lepas dari kaki Jiyong. Namun sebelum Jiyong terjatuh, seseorang mendekapnya tepat waktu.

“Tinggal di sini sebentar.”

Suara wanita. Yang lebih mengagetkannya, suara wanita yang sangat ia kenali. Zico berlari di kejauhan dengan senyum sumringah seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya. Sementara gadis yang baru saja menyelamatkan Jiyong kini memunggunginya. Gadis itu sedang berjibaku sendirian dengan pedang besar yang bisa berubah bentuk dan gate-kit yang berpendar tiap ia menangkap satu roh.

Dalam lima menit, roh tersebut sudah dapat dikembalikan ke kingdom.

Dan tepat saat itu juga, Jiyong melihat dengan jelas wajah wanita yang baru saja menyelamatkannya.

“Yuri?”

“Sudah kuduga kau sepayah ini, Oppa.”

“Kau ada di sini?”

“Lalu seharusnya aku di mana? Kingdom?”

Zico memandang keduanya. “Err… seharusnya aku tidak di sini. Aku pergi sebentar.”

Jeda panjang.

Jeda panjang kemudian menyelimuti keduanya. Jiyong enggan beranjak dari posisinya dan Yuri juga tidak berniat pergi. Lantas semuanya kembali terjadi persis seperti setahun lalu, di mana rasa kikuk dan canggung itu baru saja muncul kembali setelah sekian lama.

“Apa kabarmu?” Tanya Jiyong.

“Baik. Dan kau?”

“Standar.”

“Kudengar kau menjadi tutor para ghost slayer baru?”

“Zico menceritakannya padamu?”

“Setiap hari, melalui e-mail.”

“Oh.” Jiyong menghela napas. “Setidaknya aku tahu bahwa ia berbohong soal ‘aku tidak tahu ke mana Yuri noona pergi selama ini’ miliknya.”

Yuri tertawa kecil. “Aku yang menyuruhnya tutup mulut. Untuk berjaga-jaga.”

“Berjaga-jaga dari apa?”

Yuri menerawang. “Berjaga-jaga kalau kau masih takut dengan perasaanmu.”

Jiyong menggerakkan bahunya tanpa suara. Ia tidak memilih menjawab. Ia bergeming.

“Aku sudah hidup selama setahun sendiri. Aku banyak berpikir hingga rasanya kepala ini akan pecah.” Kata Yuri lagi.

“Kau bodoh untuk hal semacam itu.”

Yeah, aku tahu kok. Aku memotong rambutku karena stress.”

“Rambutmu tidak terlihat pendek sama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya.”

“Ini sudah panjang lagi, bodoh!”

“Kau mulai memanggilku seperti itu lagi! Panggil aku dengan hormat, sebut aku oppa!”

“Tidak! Kau siapa memerintahkanku seperti ini?”

“Esh.”

“Cih.”

Yuri dan Jiyong berpandang-pandangan lalu keduanya sama-sama tergelak dalam tawa kecilnya masing-masing. Semilir angin panas menerbangkan surai rambut keduanya hingga Yuri berulang kali membenahi rambutnya.

Saat tawa itu terhenti, keduanya kembali hening.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sebelum semuanya menjadi terlambat untuk kita.” Ujar Yuri.

“Tentang?”

“Tentang rasa takutmu. Kupikir rasa takutmu adalah alasan mengapa kau dan aku tidak bisa kembali seperti dahulu. Namun selama setahun berpikir sendiri, sesungguhnya bukan hanya dirimu yang merasa takut, Oppa. Rasa takut sesungguhnya berasal dari diriku. Pikiran mengenai bagaimana jika aku tidak dapat membalas perasaanmu dan perasaan sejenis lainnya selalu bergulat di dalam benakku dan membuat nyaliku ciut. Dulu kupikir kau hanyalah seorang kakak bagiku,”

Yuri menghela napasnya.

“Tapi saat Ayah mengatakan bahwa aku akan menemukan takdir baru, kupikir ayah sudah tahu soal perasaanku padamu. Bahkan jauh sebelum aku menyadarinya.”

Yuri menatap manik Jiyong dalam-dalam. “Oppa, yang ingin kukatakan padamu sebelum terlambat adalah…”

Yuri memberi kecupan singkat di pipi Jiyong saat jeda panjang antara kalimatnya. Lantas satu senyum simpul mencuat begitu saja di wajahnya.

“Aku mencintaimu.”

.

.

Zico tersenyum di kejauhan lantas diam-diam menjauh.

“Kau bahagia, Nak?” Seseorang tanpa sosok ragawi bersuara dalam benaknya. Zico tidak mampu menutupi lelehan air mata harunya saat itu. Suara yang sangat dirindukannya datang lagi setelah sekian lama menghilang. Zico melihat tanah yang dipijaknya, tanah yang sama di mana ia kehilangan sosok utuh dari suara yang menyembul barusan.

Angin semilir menampakkan dua kejadian kontras di dalam ingatannya. Masa lalu dan masa kini. Tentang kehilangan dan harapan baru.

“Aku bahagia, Ayah. Aku sangat bahagia.”

“Bisakah kau pergi bersamaku sekarang, Anakku? Waktu yang diberikan padamu telah habis, Nak.”

Zico menelan ludahnya. Dengan hati-hati ia menatap jauh ke dua sosok yang sangat dikaguminya di ujung sana. Kemudian tanpa penyesalan ia berkata,

“Ya, ayah. Aku siap pergi sekarang.”

.

.

| f i n |

.

.

HUAAAAH. Akhinya selesai juga GHOST SLAYER-ku setelah sempat tertunda sekian lama. YEAYYYY. Aku sekarang fokus ke Klise deh😄

73 thoughts on “GHOST SLAYER STEP #9-END

  1. Ckh.Kyr berkata:

    Suka banget deh sama bagian Jiyong, Zico, Seunghyun.
    Lari dari hantu, harga diri Zico terluka tjuy! Sabar yo, mana Zico di bawa sama Ayahnya pula, syakeeet ;-;

  2. Ardelia wynne berkata:

    Aaaa akhir na jiyong ama yuri ! So happy.
    Tapi ending na naggung gitu kak.
    Zico na knpa pergi coba? Dia mati ya ato gmn?? Aaa ga rela
    Keep writing ya kak untuk ghost slayer redo na :))

  3. nalyyullie berkata:

    Yeay!! Finally JiYul be together!!…
    Omo zico n jiyong so funny when fight with the monster just now…
    Glad yul come and save jiyong..
    What is mean by zico need to go???
    Love ur story.. Jjang!!!
    Their action feel so real n powerful…

  4. --- berkata:

    Kereeeenn…
    FF beginian mah susah cari di FFn (Mungkin g ada kali ya, cari ff kpop straight aja susahnya minta ampun) /apasihinimalahcurhat/
    Okay terus berkarya kak, hwaiting!!!

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s