KLISE : Unstoppable [Part 7]

untitlaaaed-1-copy

“Turunlah dan bersikap wajar.” Yonghwa memerintahkan. Ia mengulurkan tangannya, menunggu jemari lembut Yuri menyambutnya dari dalam badan mobil. Masih takut-takut, Yuri beringsut di dalam jok seolah tidak siap pergi dari sana.


“Turunlah, Yuri-a. Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini terus?”

Oppa…” Sahut Yuri ragu.

“Turunlah.” Ucap Yonghwa sekali lagi. Yuri melongok ke depan gedung besar yang mulai marak dengan orang. Rata-rata setiap kepala yang masuk ke dalam pintu gerbangnya adalah kaum konglomerat—terlihat dari setelan mahal yang dipakainya. Para wanita—baik tua maupun muda—berjalan dengan stiletto bertaburkan intan atau minimal emas entah berapa karat.

Saat Yonghwa berkata “turunlah” lagi untuk kesekian kalinya, Yuri dengan ragu-ragu menginjak aspal. Mobil hitam yang tadi ditumpanginya pergi dengan seorang supir valey. Tangan Yonghwa membantunya untuk tetap berdiri tegak seolah pemuda itu tahu bahwa Yuri bisa saja jatuh jika ia melepaskannya sedikit saja.

“Kuatlah. Tunjukkan pada dunia bahwa kau baik-baik saja.” Tepat di akhir kalimatnya, serentetan cahaya terang yang berkerjap-kerjap semakin dekat membuat Yuri sontak memejamkan matanya. Kamera tahu-tahu sudah mengular di depannya. Yonghwa sibuk memberi celah sembari mengucapkan banyak kata setipe “permisi” atau “maaf, Yuri sedang tidak ingin diwawancarai.”

Seolah tuli, tidak ada satupun pewawancara yang berniat menyingkir sehingga Yonghwa mengambil cara lain.

“Tutup matamu dalam hitungan ketiga.”

“Apa? Kenapa?”

“Tiga!”

“What?”

Belum selesai Yuri menuntaskan rasa penasarannya, tubuhnya tahu-tahu sudah melayang di udara. Sepersekian detik adalah waktu yang cukup bagi Yuri untuk menyadari kalau tubuhnya baru saja digendong ala bridal oleh Yonghwa. Mereka selamat masuk ke dalam pesta tertutup hari itu dengan susah payah.

“Ini akan jadi berita besar.” Keluh Yuri. Ia memandangi para awak media yang tengah sibuk mencatat dan mengulang kembali rekaman pada kamera besar mereka masing-masing.
“Biarkan saja.” Imbuh Yonghwa, “Ayo masuk.”

Tidak seperti biasanya, gedung yang kerap dikunjungi Yuri setiap ia makan siang bersama kru agensinya itu disesaki oleh orang-orang penting. Yuri terkejut ketika Yonghwa mengajaknya pada ruang utama tempat dihelatnya acara pesta malam itu.

Pesta pertunangan Myungsoo.

Begitu melewati pintu utama, penjagaan semakin ketat. Bahkan para tamu harus melewati pintu logam detector, seolah pesta tersebut adalah sasaran utama pelaku terorisme. Yuri tidak memiliki undangan tapi mengingat yang di sisinya saat ini adalah Yonghwa, ia bisa masuk ke dalam tempat pesta dengan leluasa.

Stiletto hitamnya beberapa kali menginjak karpet mahal dengan tidak nyaman. Aroma wewangian yang tidak pernah ia hirup sebelumnya mewarnai langkahnya. Terbesit sedikit curiga soal bagaimana Yonghwa dapat masuk ke dalam ruangan pesta tanpa menunjukkan undangannya. Tapi Yuri mengubur pertanyaan tersebut dalam-dalam mengingat di depannya nampak seseorang yang amat dicintainya.

“Jalan dengan percaya diri. Abaikan mereka yang berbisik-bisik. Juga, kalau bisa, jangan tatap mata ibunya Myungsoo.” Yonghwa mengingatkan Yuri tatkala sepanjang mereka menyesari karpet merah, segerombolan gadis-gadis anak pejabat tengah disibukkan dalam gosip malamnya. Sesekali kilatan mata mereka menatap tidak senang pada Yuri namun lebih banyak, pada Yonghwa.

Yonghwa tahu bahwa ia bukan siapa-siapa malam itu. Dan ia suka dianggap seperti itu. Setidaknya, dengan begini Yuri akan aman bersamanya. Aman dari media dan sorotan orang-orang.
Yuri mendengarkan Yonghwa tapi tatapannya terpaku pada tubuh Myungsoo dalam balutan tuksedo putihnya. Mungkin pemuda itu telah melihatnya, atau mungkin tidak. Yuri sudah mencuri-curi pandang ke jemari Myungsoo dan melihat kilatan perak mahal melingkari jari manisnya. Oke, dia sudah terlambat.

“Ah!” Gaun Yuri terinjak dan membuatnya mengaduh. Yonghwa meraih lengan Yuri, mencegahnya jatuh. Pemandangan itu semakin membuat marak gosip malam para gadis. Hyuna memicing di kejauhan kemudian gatal untuk berbicara rendah.

“Siapa dia? Yuri dan kekasih barunya?” Tanyanya. Tentu pertanyaan ini ditujukan untuk Myungsoo. Pemuda itu bergeming dan memilih untuk mengangkat gelas anggurnya sebatas bibir dan meneguknya sekaligus. Hyuna mencibir kemudian mengalihkan perhatiannya sendiri dengan berbincang pada beberapa tamu.

Di depannya, Yuri dan Yonghwa semakin mendekat. Yonghwa tersenyum pada Myungsoo namun pemuda itu tidak acuh.

Myungsoo mencekik sebotol anggur lagi dan menuangkannya sedikit demi sedikit di gelasnya.

“Selamat, Hyuna-ssi!” Sapa Yonghwa begitu mereka bertemu-tatap. Tamu yang sebelumnya disapa Hyuna cukup tahu diri untuk menghindar. Kasak-kusuk semakin ramai di belakang tubuh Yuri dan gadis itu memilih diam. Myungsoo memasukkan tangannya ke dalam saku saat Hyuna tiba-tiba melingkarkan lengan di pinggangnya.

Ia terbatuk.

Yuri tidak kunjung mengangkat kepalanya. Ia malah mencengkram kelepak jas Yonghwa kuat-kuat seolah ia sangat takut.

“Halo… err… mohon maaf tapi siapa kau?” Sahut Hyuna dengan nada yang dibuat-buat. Yonghwa terkekeh. “Aku teman Myungsoo, Jung Yonghwa.”

“Oh, halo! Myungsoo tidak banyak bercerita padamu tapi kuyakin kau adalah teman yang baik sampai pemuda ini mengundangmu.”

Yonghwa tersenyum simpul. Rupanya tak banyak yang Hyuna tahu soal keluarga yang akan dinikahinya sebentar lagi. Entah Yonghwa harus bersyukur atau bersedih.
Terlihat jelas saat Hyuna menyikut lengan Myungsoo saat Yonghwa mengulurkan tangannya. Myungsoo enggan menarik tangannya dari saku atau menaruh dulu gelas anggurnya, jadi ia mengabaikan Yonghwa.

Yuri membeku. Sebelumnya, adegan perkelahian dua orang pemuda di hadapannya ini sempat terkilas-balik kembali di dalam otaknya.

Adegan canggung seperti saat ini sudah pernah dibayangkannya ketika ia enggan turun dari mobil beberapa saat tadi. Dan bam! She never get wrong.

Anyway, terima-kasih sudah datang.” Hyuna mencoba menghidupkan suasana meski dalam hatinya ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah acara tersebut cepat usai dan ia bisa dengan santai berada di rumah bersama kekasih sungguhannya, Chansung.

“Ya. Selamat atas pertunanganmu. Aku dan Yuri datang membawakan ini.” Yonghwa memberikan sebuah kotak kecil pada Hyuna. Yuri tidak tahu apa isinya jadi ketika Yonghwa mengatakan “aku dan Yuri” sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja.

Akal-akalan Yonghwa tersebut sebenarnya mampu membuat Myungsoo mendongak dan mulai menatap Yuri yang ada di hadapannya. Bahkan ketika seorang waiter melintas, gelas anggur kosong miliknya sudah diletakannya di atas nampan.

“Wah, terima-kasih! Aku akan membukanya nanti. Terima-kasih Yonghwa-ssi, ah dan juga,” Hyuna menatap Yuri sarkastik. “Terima-kasih Yuri-ssi.”

“Ya, sama-sama.” Sahut Yonghwa kalem. Yuri kala itu berbisik rendah padanya, mengajaknya untuk cepat-cepat pergi dari sana saat ia melihat sosok Jung Kahi mulai nampak di kejauhan.
Yonghwa melihatnya juga, sosok ibu teregois yang pernah ia tahu di kejauhan. Langkah panjangnya perlahan mendekat. Yuri mencengkram kelepak kemeja Yonghwa lebih kencang. Namun siapa yang tahu kalau Myungsoo diam-diam memerhatikan semuanya.

Rasa cemburu menggerayangi tubuhnya seketika. Namun apa yang bisa ia lakukan? Cincin perak sudah mengikatnya dengan kisah lain dan apa yang akan ia lakukan sekarang hanya akan menyakiti Yuri lebih lama lagi. Myungsoo tidak ingin melakukan itu.

Menyadari getaran ketakutan dari tubuh Yuri, Yonghwa menyelipkan jemarinya di antara ruang-ruang jemari Yuri. Pemuda itu menggengamnya erat sembari berujar, “Kau kuat. Tunjukanlah pada mereka.”

“Oppa…”

“Percayalah padaku.”

Gerakan kecil itu tidak luput dari manik Hyuna dan Myungsoo. Namun Hyuna tidak peduli, toh ia juga tengah merangkul Myungsoo dengan mesra saat ini.

“Oh Eomma-nim!” Hyuna melepaskan rangkulannya saat Jung Kahi datang di antara mereka. Yonghwa menggenggam erat jemari Yuri sementara gadis itu mengucurkan keringat dingin. Ada perasaan ingin memeluk Yuri dan menyeka keringatnya di dalam diri Myungsoo saat itu. Namun sosok Kahi dan Yonghwa ada di sana dan menahan semua gerakannya.

“Hyuna-a, Oh, kau mengundang gadis ini?” Tanya Kahi penuh keterkejutan yang dibuat-buat. Maksud hati ingin mencoba mengintimidasi Yuri sekali lagi. Namun saat itu Myungsoo bicara, seolah ingin melindungi Yuri. “Eomma, orang-orang banyak yang mencarimu. Dari mana saja kau?”

“Ada yang perlu kuurus dan itu urusan pribadi. Kau anakku lagipula kenapa kau tidak menyapa mereka mewakiliku?”

Tsk,” Siapa yang sangka bahwa Myungsoo saat itu akan mengumpat kecil. Yuri mendongak karena ingin menyakinkan dirinya bahwa ia baru saja mendengar suara yang amat dirindukannya itu. Dan ia mendapati manik Myungsoo menatap tidak senang pada ibunya sendiri. “Aku tidak punya keahlian untuk berbasa-basi di depan rekan bisnismu. Mungkin bukan anakmu yang ini bisa kau andalkan.”

Yonghwa tersenyum simpul atas kalimat sindiran Myungsoo.

Baik Hyuna maupun Yuri tidak mengerti kemana topik mereka akan bermuara jadi keduanya diam saja. Ada sesuatu yang keduanya belum tahu soal rahasia besar keluarga ini.
Suasana menjadi sangat panas sejak kehadirannya di tengah-tengah empat orang tersebut, Kahi memutuskan untuk mengalihkan topik ke lain hal. Dengan ramah, objek dialognya kini bertumpu pada Yuri.

“Bagaimana kabarmu, Yuri-ssi?” Tanyanya dengan nada ramah yang dibuat-buat. Yuri tidak menjawab, tentu saja. Pikirnya apa yang harus ia katakan saat penyebab kehancuran hidupnya malah bertanya soal apakah dia baik atau tidak?

“Dia baik-baik saja, seperti yang anda lihat, Nyonya.” Jawab Yonghwa ramah.

“Oh,” Kahi menemukan kenyataan bahwa Yonghwa baru saja berakting seolah mereka tidak mengenal satu sama lain.

Perbuatannya ini semakin meyakinkan diri Kahi bahwa ada sesuatu yang ia tidak tahu antara Yonghwa dan Yuri. “Begitu? Dan siapa kau?”

Kahi mengikuti aliran drama yang dipersembahkan oleh Yonghwa.

Kenyataan bahwa Hyuna, calon menantunya juga tidak tahu soal huru-hara keluarga mereka, membuat Kahi semakin berakting dalam suasana ini.

Ditambah lagi, di sekeliling mereka berdatangan beberapa orang yang masih belum tahu soal kenyataan yang terjadi di keluarga Kim. Akan sangat merepotkan jika malam pertunangan ini berantakan hanya karena masalah kecil tersebut, pikirnya.

“Oh, ini Jung Yonghwa-ssi.” Hyuna menjawab sebelum Yonghwa berbicara. “Dia temannya Myungsoo.”

Kahi mengangguk. “Kau mengenalnya Myungsoo-a?” Kahi bertanya pada Myungsoo yang disusul dengan keheningan seketika.

“Kau rupanya juga mengenal Yuri?” Tanya Kahi pada Yonghwa. Masih berakting, Yonghwa mengiyakan kemudian tersenyum simpul. Senyuman ini tak lekas lekang dari wajahnya sampai akhirnya Yonghwa mendapatkan ekspresi aneh dari Myungsoo kala ia melanjutkan kalimatnya,

“Aku kekasihnya.”

.

.

“Tinggallah untuk makan malam sebentar. Bagaimanapun Yuri pernah menjadi bagian dari keluarga kami.”

Kahi tidak percaya dirinya mengatakan hal tersebut. Kalimat Yonghwa yang mendeklarasikan dirinya sebagai kekasih dari Yuri masih terngiang-ngiang di telinganya. Ia hanya memiliki dua anak lelaki dan keduanya jatuh cinta pada gadis yang sama.

Aneh.

Sangat aneh bagi Kahi.

Tidak ada banyak masalah jika Yonghwa menyukai Yuri dan memutuskan untuk menjadi kekasihnya saat ini. Tapi lambat laun semuanya akan menjadi masalah jika Yonghwa pada akhirnya menguasai perusahaan dan memperistri Yuri.

Kahi memikirkan soal harta dan lagi-lagi ia dibenturkan pada kenyataan pahit soal kisah cinta anak-anaknya.

“Nyonya, tamu sudah menunggu.”

Seorang pelayan menyembul di balik pintu dengan hormat. Kahi menggoyangkan tangannya sebagai respons. Pelayan tersebut kemudian pergi setelah mendapatkan kode. Kahi mengganti mantelnya dengan mantel yang lebih mewah. Ia berjalan dengan kepala dipijit-pijitnya beberapa kali.

Ia memiliki sebuah rencana. Hanya pukulan mental kecil bagi Yuri.

Hebatnya, rencana ini akan ia lakukan malam ini juga.

.

.

“Maaf menyita banyak waktu berhargamu.” Sahut Kahi. Ia menengahi meja makan, berada di centre dari empat lainnya yang duduk bersisian di sisi kanan dan kirinya. Hyuna di sisi Myungsoo berada pada lajur di sebelah kanan Kahi dan sisanya berada di lajur sebelah kiri.

“Tidak apa-apa.” Sahut Yonghwa kalem. “Kami juga tidak terburu-buru.”

“Syukurlah.” Katanya. “Bagaimana denganmu Yuri-ssi? Kau tidak ada jadwal shooting iklan lagi malam-malam begini?”

Kahi masih ingat betul ketika Myungsoo menyelinap keluar malam hari hanya dengan alasan bahwa ia ingin menemani Yuri shooting iklan di malam hari. Jadi maksud dari pertanyaan ini adalah, setengah mengintimidasi dan setengah pukulan mental.

“Tidak. Aku berencana berhenti.” Kata Yuri pelan.

“Lho? Kenapa? Itu mengagetkan. Bukankah kau cukup terkenal?” Sahut Kahi.

“Ya, dia cukup terkenal.” Hyuna menyahuti dengan nada yang tidak benar-benar tulus. Yuri menghela napas. Yonghwa dan Myungsoo ingin melindunginya tapi mereka berhadapan dengan Jung Kahi saat ini, tidak ada yang bisa menghentikan wanita tua satu ini.

“Aku sampai pada titik jenuh.” Jawab Yuri. “Kurasa aku tidak memiliki bakat di bidang ini.” Katanya lagi, rendah hati.

Myungsoo berdeham. Yonghwa melirik sekilas pada ekspresi Yuri yang hambar.

“Begitukah? Pasti sangat menyenangkan ya menjadi presiden agensi yang memiliki artis sepertimu, Yuri-ssi. Setidaknya kau tahu iklim bisnis yang merugikan mereka dengan mengundurkan diri dari panggung hiburan.” Pedas, hal yang pertama ditangkap oleh kepala Yuri. Tapi toh ia tidak memiliki hak untuk menimpali, kenyataannya ia benar. Setelah kejadian ini atau tanpa nama Myungsoo, dirinya bukanlah siapa-siapa. Bahkan saat Kahi dan Hyuna tertawa bersahutan saat ini, Yuri tahu betul ia sejak awal memang bahan olokan dan ia pasrah.

“Ibu, hentikan.” Sahut Myungsoo.

“Kenapa? Apa yang harus berhenti?”

“Kita di sini untuk makan bukan untuk tertawa.” Katanya lagi, lebih dingin.

“Ayolah, tadi hanya bercanda.” Hyuna berkilah diiringi anggukan dari Kahi.

“Lagipula Yuri-ssi tidak mengapa. Benar bukan, Yuri-ssi?” Kata Hyuna lagi. Maniknya lurus menatap Yuri. Gadis itu mengangguk saja ketika mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Hyuna.

Kau harus kuat, Yuri. Yonghwa mencoba menahan kalimat tersebut agar tidak keluar dari bibirnya. Jauh dalam nuraninya, ia masih berharap semoga Yuri lebih kuat dari kelihatannya.

“Omong-omong,” Kahi menatap Yonghwa kemudian Yuri bergantian. “Sejak kapan kalian menjadi pasangan?”

“Belum lama.” Ucap Yonghwa.

“Apa artinya Yuri-ssi... mungkinkah kau mengkhianati anakku selama ini?”

Myungsoo terbatuk saat itu. Yuri menatapnya sebentar. Ia tidak memiliki jawaban lagipula apa yang dikatakannya tidak pernah ada yang jujur malam ini. Yonghwa bertukar-pandang dengan Yuri sebentar lalu ia berdeham. “Tidak…”

“Kuharap,” Kahi memotong. “Kau tidak melakukan hal yang sama pada Yonghwa, Yuri-ssi. Kau tidak boleh mempermainkan pria seperti ini hanya karena kau cantik.”

“Ibu…” Myungsoo mencoba menyela namun Kahi tidak pernah berhenti bicara.

“Aku memaafkanmu karena kau banyak membantu Myungsoo setahun belakangan, tapi bermain di belakangnya setelah hubunganmu baru saja berakhir, itu tidak elok sama sekali.”

“Ibu!” Myungsoo meninggikan nadanya.

“Kau juga!” Kahi menatap Myungsoo. “Kau seharusnya marah, Nak! Kau dikhianati!”

Perbincangan berubah menjadi area salah-menyalahkan. Yuri adalah objek utama saat ini dan ia tidak tahu harus berkata apa pun memasang wajah bagaimana. Yang bisa ia lakukan adalah berharap, berharap ia bisa pergi dari sana tanpa satu orangpun tahu.

Yonghwa menatap gadis itu iba kemudian memegang erat jemarinya. Tidak disangka, Yuri menepisnya. Gadis itu malah menyembunyikan tangannya di bawah meja dengan mata tertunduk ke atas piring kosong. Ia menjadi lebih tidak berselera.

Kahi masih bersitegang dengan Myungsoo dan Yonghwa tahu betul bagaimana perasaan Yuri saat ini. Hyuna ada di sana, kebingungan juga namun tak nampak tanda-tanda bahwa ia akan melerai.

“Nyonya…” Kata Yonghwa pelan, mencoba menghentikkan adu mulut antara Myungsoo dan Kahi. Suaranya tidak terdengar karena sangat pelan. Ia mencoba memanggilnya lagi dengan lebih keras. Hyuna menolah tapi Kahi tidak.

Yuri meremas gaunnya sendiri, Yonghwa tahu. Kenyataan bahwa Yuri sangat terbebani, ia tahu betul. Adalah kesalahan mengajaknya kemari dan Yonghwa menanggung rasa salah itu sekarang.
“Myungsoo! Kau…”

“HENTIKAN!”

Yonghwa meledak. Hyuna dan Yuri serentak menoleh ke arahnya. Begitupun Myungsoo dan Kahi yang tengah bersitegang.

“Apa yang membuatmu—“ Kahi bicara namun kalimatnya tidak pernah selesai. Yonghwa memutus kalimat itu dengan suara parau yang rendah. “Kumohon hentikan… hentikan,”
Manik Yonghwa bertumbukkan dengan Kahi. Suara parau itu membuat keheningan luar biasa dan keterkejutan tidak tertutupi dari Yuri dan Hyuna.

“Hentikan, Ibu.”

.

.

Yonghwa menutup pintu mobilnya dengan kaku. Yuri sudah ada di kursi penumpang di depan dan ia tepat di sisinya. Sejak keluar dari gedung besar tersebut, Yuri tidak bersuara. Napasnya bahkan disuarakan sekecil mungkin hingga hampir tidak terdengar.

Sampai Yonghwa menyalakan mobil dan berkemudi di jalan raya, Yuri tetap bergeming.

“Yuri…”

“Aku lelah Oppa.”

“Yuri… aku…”

“Ya. Tidak apa-apa. Dia ibumu, aku tahu perasaanmu.”

Yonghwa mendesah. “Maafkan aku.”

Yuri memijit dahinya. Ia berusaha memejamkan mata namun ia tidak pernah bisa. Kenyataan bahwa Yonghwa memiliki ibu yang sama dengan Myungsoo meluluh-lantakkan seisi kepalanya.
Aku membiarkan dipukul dengan sukarela. Kuharap ini bisa membuat kesalahan ibuku padanya berkurang.

Kalimat Yonghwa pada malam di rumah sakit, sesaat sebelum Myungsoo datang, menjadi sangat jelas bagi Yuri. Mungkin saja saat itu ia sedang berbicara soal hubungannya dengan Myungsoo dan ia tahu bahwa luka lebam hari itu adalah efek perkelahiannya dengan pemuda tersebut.

Oppa,” Yuri berbicara setelah jeda panjang. Ia masih belum memiliki keberanian untuk menatap lawan bicaranya. Gadis itu hanya memandangi dashboard. “Jangan sembunyikan apapun lagi dariku. Jangan pernah.”

.

.

“Apa kau baik-baik saja?” Jiyong bertanya tatkala Yuri melemparkan tas kecilnya asal di atas sofa. Sesaat tadi, ia baru saja menolak ketia Yonghwa berkeinginan menemaninya di rumah. Ia tahu bahwa Yonghwa adalah pemuda yang baik tapi,

Entahlah.

Yuri terjebak.

 

“Hari ini sangat berat.”

“Apa sesuatu terjadi di tengah acara?”

“Aku terlambat untuk acara utamanya, jadi, tidak.”

“Lalu apa yang membuatmu sekusut ini?”

“Sesuatu terjadi di akhir acaranya.”

“Soal Myungsoo dan ibunya?”

“Lebih parah, soal Myungsoo, ibunya, dan kakak tirinya.”

“Ah. Yonghwa?”

Yuri tidak mengedipkan mata ketika Jiyong menyebutkan nama Yonghwa. “Kau tahu, Oppa?”

Jiyong menggaruk kepalanya. “Maafkan aku.”

Hening adalah kalimat yang bisa dijelaskan dari keduanya saat ini. Sesungguhnya jika diberi pilihan, Yuri ingin ditinggalkan sendirian dan kembali minum-minum sampai ia tidak sadarkan diri seperti malam sebelumnya. Namun ia tidak ingin terbangun di rumah Yonghwa sekali lagi.

Srek.

Seorang gadis belia muncul dari balik kamar. Rambutnya acak-acakan, sepertinya dia baru saja terbangun dari tidurnya.

“Kenapa kau bangun, Nara-a?”

Nara menggeleng sebentar. “Kau sudah pulang, Eonni? Kenapa ponselmu dimatikan?”

Yuri teringat ponselnya yang membangkai di dalam tas. “Ah, aku lupa menyalakannya kembali. Maafkan aku. Apa kau khawatir?”

Nara mengangguk. “Semuanya khawatir padamu. Aku, ibu bahkan Jiyong Oppa.” Jiyong menarik Nara ke dalam dekapannya lantas memgacak-acak rambut gadis itu. Nara berontak berkata bahwa ia sudah besar untuk sebuah perlakuan manis dari Jiyong tapi Jiyong tidak mendengarkan.

Yuri tertawa diam-diam.

Hatinya memang sakit, tapi keluarganya selalu memiliki obat untuk menyembuhkannya.

.

.

Eonni, aku berangkat!” Nara menghilang di balik pintu. Tertinggal Jiyong dan Yuri di dalam rumah. Ibu keduanya tengah pergi ke pasar dan kembali dalam sejam kemudian. Hari itu adalah seminggu setelah pertunangan menyebalkan terjadi.

Myungsoo tidak pernah sekalipun menghubungi Yuri. Dan Yuri seolah tidak peduli, ia tidak mencoba untuk menghubunginya juga. Bahkan, belakangan Yuri telah mengganti nomor ponselnya. Ia memilih mengasingkan diri di rumah meskipun ia tidak benar-benar terasing.

Faktanya, Yonghwa masih sering datang dan mengunjunginya sekali-dua kali. Yuri selalu menggunakan Jiyong dan Nara sebagai alasan menolak untuk keluar dari rumah. Ia masih belum sanggup berdiri dengan kakinya sendiri di luar sana. Gosip dan pembicaraan tentang dirinya semakin marak saja.

Apalagi dua hari yang lalu, Yonghwa berhenti mengunjungi Yuri. Pasalnya, ada pemberitaan besar di media cetak dan elektronik bahwa Yonghwa sudah mengganti namanya menjadi Kim yang artinya sudah resmi diumumkan sebagai bagian dari keluarga besar Kim Myungsoo. Jung Kahi sudah mengumumkan bahwa Jung Yonghwa adalah anaknya.

Berita tentang Yuri dan Yonghwa mencuat ke media. Mereka membesar-besarkan masalah. Bahkan memasang headline besar soal dirinya yang dicap sebagai perusak hubungan kakak-adik dengan terlibat dalam hubungan asmara keduanya.

Nama Yuri semakin buruk dan Yuri tidak mau mendengarnya lebih banyak lagi.

“Terima-kasih Paman!”

Jiyong menutup pintu dengan membawa satu kertas tebal yang dibungkus indah dengan pita. “Undangan.” Katanya bergumam. Yuri melihat Jiyong membuka kertas lantas melihat namanya di depan plastik sampulnya. “Untukmu.” Sahut Jiyong.

Sekilas lihat saja Yuri sudah tahu undangan dari siapa itu.

“Pernikahannya dua hari lagi. Secepat itukah?” Kata Jiyong. Ia menatap Yuri. “Kau tidak apa-apa?”

“Kau bicara apa, tentu aku tidak apa-apa.” Sahut Yuri. Padahal ia ingin sekali mengatakan aku bisa hidup saja sudah sangat bagus.

“Duduk di sini, Yuri-a. Aku ingin berbicara serius padamu sebelum eomma datang.”

“Kau tidak akan menasehatiku lagi bukan?”

“Aku hanya akan menanyaimu beberapa hal.”

Yuri duduk di sofa. Berhadap-hadapan dengan Jiyong seperti ini, membuatnya gugup. Terakhir kali ia berhadap-hadapan adalah ketika ia menangis soal Myungsoo.
“Di antara Myungsoo dan Yonghwa, siapa yang kaupilih?”

Yuri menyediakan jeda panjang bagi Jiyong untuk bersiap-siap dengan jawabannya. Namun jeda panjang itu tak kunjung usai bahkan setelah ia berdeham berkali-kali.

“Jawablah.” Katanya lagi.

Yuri mendesah. “Mereka bukan pilihan, Oppa. Aku merasa jahat untuk memilih satu di antara keduanya.”

“Lalu biar kuubah pertanyaannya. Siapa yang kau cintai? Myungsoo atau Yonghwa? Kau tidak mungkin menghindari pertanyaan ini bukan?”

“Oppa,”

“Jawablah. Ini hanya di antara kita.”

“Hm,” Yuri menghela napasnya. “Rasanya kau sudah tahu kepada siapa hatiku ini berlabuh tanpa perlu kudeklarasikan dua kali.”

“Lalu kenapa kau tidak mengejarnya?”

“Aku punya alasan.”

“Tapi sudah saatnya kau membagi alasan itu padaku. Aku kakakmu.”

“Tapi kau tidak akan me—“

“Jangan coba katakan aku tidak akan mengerti, Yuri-a. Aku mengenalmu sejak kau masih merah dan berselaput.”

Yuri lagi-lagi menghela napasnya. “Aku memang tidak pernah selamat dari interogasimu.”

“Katakanlah sekarang.”

“Masalahnya klasik, Oppa. Jung Kahi ingin bertemu denganku beberapa saat sebelum ia memutuskan pertunangan Myungsoo. Ia mengatakan hal yang tidak-tidak sampai aku menyerah untuk memperjuangkan pemuda itu. Rasanya aku sangat jahat jika membiarkan Myungsoo bersama denganku selalu.”

“Wanita tua itu tidak bisa menerimamu bersama dengan Myungsoo?”

“Ya. Dan tidak juga dengan Yonghwa.”

“Sudah kubilang orang kaya memang banyak masalahnya.”

Yuri terkekeh pelan.

“Aku juga berpisah dengan Sandara beberapa minggu lalu.”

Mata Yuri terbelalak. “Benarkah?”

“Hm.” Jiyong mengangguk. “Ia memilih pria lain. Kami berpisah baik-baik tapi tetap saja, aku merasa dia sungguh jahat.”

Yuri menatap lurus manik Jiyong. Setengah berkaca-kaca. Hal tersebut membuat Jiyong penasaran. “Jangan mengiba begitu padaku. Aku bisa menemukan yang lebih baik dari Sandara.”
Oppa,” Kata Yuri mengalun lembut di udara. “Apakah setiap pria dengan hubungan kandas selalu sepertimu?”

“Maksudmu?”

“Apakah Myungsoo juga menganggap aku jahat meskipun ibunya sendiri yang memaksaku ke dalam posisi seperti ini? Apakah aku hubungan kami menjadi serendah itu di matanya?”
“Yuri-a,” Jiyong tersenyum tipis. “Biar kuceritakan hati para lelaki yang telah putus cinta.”

Jiyong menerawang kemudian maniknya kembali lekat pada binar manik Yuri. “Lelaki yang gagal dalam kisah cintanya, tidak akan pernah menangis di hadapanmu. Dia tidak ingin terlihat rapuh hanya karena hatinya baru saja hancur. Lelaki patah hati, memilih kekerasan fisik sebagai pelampiasan. Ia ingin terlihat kuat dan tidak ingin hancur di depan gadis yang dicintainya. Lelaki patah hati tidak akan memanggil namamu dua kali karena dia tahu, itu akan menyakitkan baik untuk sang gadis atau untuknya. Lelaki patah hati selalu terlihat menyerah, tapi sebenarnya ia menunggu. Menunggu datangnya keajaiban yang dapat membuatnya kembali bersama kekasihnya, atau membuatnya melupakan semuanya. Lelaki patah hati tidak akan bercerita pada siapapun soal hatinya yang hancur. Yang dilakukannya hanya menunggu seseorang datang membenahi retakan tersebut. Lelaki patah hati terlihat sangat dingin, tidak banyak bicara padamu dan seolah mengabaikan eksistensimu. Tapi sebenarnya hatinya hancur berulang, lagi dan lagi ketika ia melihatmu—mantan kekasihnya. Parunya rusak, hatinya berlubang dan jantungnya seperti ditusuk panah. Lelaki patah hati ingin menyeka air mata mantan kekasihnya, karena baginya, menyeka air mata itu hanya akan memberi sang gadis harapan palsu dan menyakitinya lagi suatu hari. Lelaki patah hati sembuh lebih lama dari gadisnya. Lelaki patah hati akan berjuang sendiri, tanpa banyak bicara. Kadang mereka sembuh, tapi lebih banyak yang semakin jatuh ke dalam palung derita lebih dalam lagi. Myungsoo-mu mungkin banyak menderita belakangan ini, lebih parah darimu. Tapi kau tidak tahu.”
Yuri mendengarkan dalam kalut. Tahu-tahu air matanya menetes begitu saja. Jiyong menelengkan kepalanya ke arah lain, tidak ingin ikut hanyut dalam pagi sendu yang dibuat oleh adiknya tersebut. Bagi Jiyong, perasaan sakit ditinggal Sandara saja masih kadang membuatnya tersedak saat menghirup napas, dia tidak ingin memperparah keadaan dengan ikut larut dalam tangis cinta adiknya.

“Yuri-a, lelaki patah hati hanya memiliki dua pilihan. Masa lalu atau masa depan. Dan eksistensimu di sepanjang ingatannya, akan memudar lebih lama dari yang kau tahu. Dan selama proses itu, lelaki patah hati akan menderita. Tidak berkesudahan.”

.

.

Tapi aku juga menderita, Oppa. Myungsoo pasti akan melewati masa-masa ini dengan baik. Dia lelaki dewasa dan tahu bagaimana harus bertindak. Ini untuk masa depan dirinya dan keluarganya, juga aku dan keluargaku—kau, Nara dan ibu. Tidak mengapa ia menderita karena suatu saat, seperti katamu, akan ada seseorang yang menata kembali hatinya. Dan kuharap itu tidak terlalu lama. Kuharap Hyuna-ssi yang akan melakukannya.”

Jiyong masih terngiang-ngiang kalimat Yuri selepas dialognya pagi tadi. Ia berada di atas motor saat ini, di persimpangan. Jiyong terjebak lampu merah cukup lama. Kakinya ia jejalkan di atas aspal untuk menopang bobot motor besar yang berat.

Beberapa orang menyeberang menatapnya. Jiyong tidak perlu membalasnya karena ia memakai helem yang hampir menutup separuh wajahnya. Meskipun ia tersenyum, ia tidak yakin bahwa mereka dapat melihat senyuman tersebut.

Hitungan angka mundur semakin mendekati angka nol dan Jiyong sudah hampir bersiap-siap dengan kemudi motornya. Maniknya mengedar dan terhenti pada sebuah mobil hitam tepat di sebelahnya.

Di dalamnya terdapat sosok gadis yang ia kenal tengah bercengkrama mesra dengan seorang pria. Jiyong memicingkan mata, dilihatnya sosok Kim Hyuna—sang penyanyi terkenal dengan seorang pria yang bukan tunangannya.

Hyuna kerap mencubit, tertawa bahkan berani mencium pipi pria asing tersebut di saat statusnya adalah tunangan dari Kim Myungsoo. Jiyong menyipitkan mata lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat, namun saat itu suara klakson dari arah belakang mendorongnya untuk segera berkendara maju.

Jiyong mengambil ponselnya diam-diam, tanpa banyak berpikir ia mengabadikan momen tersebut di dalam ponselnya. Yah, siapa tahu akan berguna nantinya, pikir Jiyong.

Mobil hitam dan motor Jiyong kemudian berpisah di persimpangan empat arah di depan. Jiyong membelokkan setir ke kanan sedangkan mobil hitam itu berbelok ke arah kiri. Ke arah sebuah perumahan elit di kawasan Gangnam.

.

.

| To Be Continued |

 

TADAAAAAA~~~

Semoga chapter ini tidak mengecewakan. HAHAHA. ini pas bikin aku berasa kaya drama abis ya ini FF -_______-

Ohiya, ini mau ending juga lho, karena konfliknya sudah hampir menemukan titik terang. Seenggaknya si Jiyong udah tahu kalau Hyuna itu bukan cewek yang bener-bener suka sama Myungsoo. Nanti dilihat aja bagaimana tindakan Jiyong di chapter depan. Apa dia bakal ngasih tahu Yuri? Atau malah diselidiki sendiri?

😄

Tungguin aja chapter depannya ya.

 

56 thoughts on “KLISE : Unstoppable [Part 7]

  1. Cynthia berkata:

    Minta lanjutan ffx donk..
    (っ ‘o’)ノśзмαηgªτττ !!! Ya eonni,kak yun..
    Aq selalu ngu ffx semua yg on going..
    (っ ‘o’)ノśзмαηgªτττ !!! Fighting..!!!!
    :* >3

  2. Bintang Virgo berkata:

    liat sendiri hyuna akibat dari perbuatanmu dan rencana jahatmu..
    hahahah…
    semoga jiyeong dapat dengan cepat mengetahui yang sebenarnya sedang direncanakan olehnya……..
    dan myungyul tetap faighting buat memperjuangkan cinta keduanya…

  3. Lulu Kwon Eun G berkata:

    ah amosi sumpah, klo q jd Yuleon udh ta acak2 tu rambut nenek sihir!!
    Myungyul Fighting, kaNyun Fighting! ceritanya sungguh liat biasah!! :*

  4. Nikita Tirta berkata:

    Lelaki tidak ingin dilihat lemah dimata org yg dicintainya….
    Satu perkataan dengan 13 abjad yg sesuai untk Jung Hani & Hyuna ‘MATERIALISTIC’……
    Arg…Okay Let see siapa yang membawa title ‘Tercundang’…..

  5. kimchikai berkata:

    Akhirnya bisa lanjut baca lagi..

    YESS!! belangnya hyuna ketauan! Kalau aja kahi tau hyuna cuma manfaatin dia doang wkk.

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s