THE SORCERER’S DIARY [1st Page]

The Sorcerer's Diary #1

.

Kindly remind you that :

Kwon Yuri as Yuri Fekleweis (well known as Miss Feckleweis)

Park Yoochun as Lionel Dimps (or well known as Lion, Lionel or Mr. Dimps)

Some people call each other by their last name so don’t get confused. (Beberapa orang dipanggil dengan nama belakang mereka, jangan keliru.)

.

.

.

“Abracadabra.”

Sapu melayang di udara lengkap dengan kawan karibnya, sebuah lap pel basah. Telunjuk lentik dari gadis dengan kemeja biru yang terkesan lusuh baru saja mengayun lamban di udara, memberi perintah. Ia memerhatikan gerakan dua alat kebersihan itu seolah dialah bosnya. Bosan menunggu, gadis itu mulai melakukan gerakan senam ringan. Area kecil yang menengahi ruang makan dan dapur digunakannya untuk merenggangkan otot-otot motoriknya yang kaku.

Adalah Yuri Feckleweis, tujuh belas tahun. Seorang gadis yang baru saja mendapatkan surat undangan penerimaan mahasiswi baru di sebuah akademi penyihir ternama abad dua puluh satu, Raville. Kemampuan sihirnya bukan dalam kategori yang patut dielu-elukan. Ajaibnya, ia kini resmi menyandang status dari sekolah elit tersebut. Hari ini hari pertamanya dan dia tidak berniat membuatnya berantakan.

Bangun pagi—bahkan sebelum ayam berkokok—dilakukannya hari ini. Pasalnya, Yuri kerap mendengar rumor bahwa murid baru yang masuk melalui seleksi tahap dua (seperti dirinya) biasanya akan mendapat perlakuan berbeda di hari pertama, well, akan tambah buruk ketika dia dengan sengaja terlambat datang.

“Itu mantra usang. Gunakanlah mantra seperti job de follum. Ini sedang tren.”

Yuri terjatuh dengan bokong mendarat sempurna di atas karpet hijau. Manik hazelnya dengan tidak ramah menatap seorang pria. Rambut hitam pria tersebut yang dicukur rapi, mengesankan bahwa ia merawat dirinya dengan sangat baik. Pria itu tahu-tahu muncul begitu saja tanpa ada sedikitpun gerakan peringatan.

“Kau mengagetkanku, Lionel. Jangan gunakan jubah itu lagi! Hargai jantungku,” Yuri perlahan berdiri. Lionel Dimps adalah sahabatnya. Tinggal dua blok jauhnya dari kediaman Yuri, ia kerap mengenakan jubah menghilang agar tidak diketahui orang-orang di sekitarnya bahwa ia masih bersikeras berteman dengan gadis itu. “Dan sebagai info, aku masih menyukai mantra abracadabra dibandingkan follum-mu itu.” Tambah Yuri.

“Oh ayolah!” Lion—begitu ia biasa disapa, merangsek maju. Dilemparnya asal jubah pemberian ayahandanya sementara tubuh itu sendiri mendekat pada Yuri. “Kalau kau seperti ini terus kau bisa semakin dicurigai sebagai Dark-Witch.”

“Persetan dengan mereka. Aku suka mantra lama. Kau tahu Lion, apapun yang klasik lebih cocok untukku.” Di akhir kalimat gadis itu, Lionel mendapati tata ruang rumah Yuri saat ini. Guci besar dengan pahatan zaman renaissance, buku-buku tebal yang tidak akan sanggup dihabiskannya dalam sehari, jam-jam dan arloji usang yang telah berhenti bergerak entah sejak berapa abad yang lalu, terakhir, sebuah figura foto yang mengisahkan sejarah Raville dari zaman para nobles masih ada hingga kini, ketika status seperti itu dihapuskan. Oke, Yuri tidak pernah benar-benar berbohong.

“Mereka membakar seseorang yang dicurigai sebagai Dark-Witch kemarin di selatan pematang sawah area Gimpkins.”

“Dan kau pikir aku yang akan dibakar selanjutnya? Ayolah Lion! Aku murid Raville. Kau juga!”

“Kau murid baru. Jangan lupakan itu.”

“Lalu apa bedanya? Tidak ada satupun yang dapat menyakiti murid Raville,” Yuri memukul lengannya sendiri. Kemudian menggaruknya tatkala seekor nyamuk kecil terbang dengan limbung dari sela-sela jarinya. “Oke, kecuali nyamuk.”

Lionel menggerakan bahunya naik-turun. “Aku sudah memperingatkanmu.”

“Dan aku ucapkan terima-kasih atas peringatan pagimu. Kutunggu peringatan siang, sore, dan malammu.” Balas Yuri sedikit kasar. Lionel membalikkan tubuhnya ke lain arah dan memandangi sarang laba-laba yang mulai mengurai dengan sendirinya, menjatuhkan sang laba-laba ke tanah. “Jadi, bisakah kita berangkat sekarang karena kita berdua tahu, tidak ada yang ingin terlambat di hari pertama mereka.” Katanya.

“Oke.”

Yuri menjentikkan jarinya dan segala aktifitas sihir di rumah klasiknya terhenti seketika. Lionel buru-buru menarik tangan gadis itu dengan maksud membuatnya cepat-cepat pergi dari sana.

Ia baru tahu ketika mereka pergi sejauh sepuluh meter dari sana, kalau sedari tadi seseorang memerhatikan semuanya. Diam-diam dan rapi.

.

.

Witch dan Sorcerer berbeda sama sekali.

Sorcerer dianggap lebih mulia karena mereka sebagian besar berasal dari keturunan murni. Sorcerer menggunakan sihir mereka dengan tujuan normal. Lebih banyak menggunakannya untuk keseharian masing-masing pengguna. Lain hal dengan Witch.

Sebagian besar penduduk Rauchsst akan bergidik ketika nama ini disebut.

Witch identik dengan sebutan bagi para penyihir yang gemar mencuri kekuatan sihir para Sorcerer. Bertahun-tahun lamanya, sejak terasering status seperti nobles di hapuskan di negeri ini, para Sorcerer baik yang berasal dari kaum bangsawan ataupun yang bukan, dibebaskan untuk menuntut ilmu sihir sejauh yang mereka bisa. Para Witch lahir dari mereka yang masih haus akan ilmu sihir namun tidak dapat belajar lebih banyak karena usia.

Mereka mulai “mencuri”.

Tidak ingin repot-repot menambah kekuatan sihir dengan belajar bertahun-tahun, para Witch mulai menyukai mencuri kekuatan para penyihir biasa. Targetnya kebanyakan adalah para orang tua yang sudah banyak berpengalaman atau murid-murid pintar yang bersekolah di dalam sekolah sihir elit.

Witch adalah ancaman, namun Magic Ministry—Kementerian Sihir, sudah lama sekali menerapkan jam malam dan area-area yang dianggap sudah “bersih” dari kegiatan para Witch. Para Sorcerer memiliki aturan jam malam dan area-area yang harus mereka hindari di jam-jam tertentu.

Efektif? Sedikit.

Nyatanya masih banyak saja para Sorcerer yang dinyatakan hilang oleh Ministry. Dugaan kuat, para Witch mencuri sekaligus membunuh para Sorcerer. Mengerikan.

Hanya itu?

Tidak juga.

Ada lagi kisah mengancam dari Dark Witch. Konon, mereka adalah para penyihir hitam yang tidak puas dengan semua kekuatan yang mereka curi dan menginginkan kekuatan yang lebih dahsyat.

Para Dark-Witch kabarnya ada tiga dan semuanya telah dibunuh jauh pada abad sembilan belas. Meski demikian, nyatanya, tidak satupun yang dapat menemukan makam atau tempat peristirahatan terakhirnya.

Dark-Witch dapat merasuki tubuh Sorcerer dan hidup sebagai parasit. Dan kabarnya, (jika mereka masih hidup) mereka dapat hidup lama dari Witch biasa atau Sorcerer karena mereka dapat berganti-ganti inang. Karena hidup di abad sembilan belas, ada sebuah kesimpulan rancu yang masyarakat ambil dari kejadian tersebut.

“ ’Jika seorang Sorcerer masih hidup dengan cara lama; menggunakan mantra lama; belajar dari buku lama; ada kemungkinan kecil bahwa ia adalah seseorang yang dianugerahi bakat oleh para Witch. Bisa jadi mereka ditumpangi oleh para Dark-Witch’, entah kenapa kalimat ini selalu membuatku takut denganmu, Yuri.”

Lionel berjalan di sisi Yuri dengan lirikan tak suka dari gadis itu tiap beberapa sekon sekali.

“Bisa berhenti mengatakan itu? Karena jujur saja, aku mulai muak.”

“Wow, wow, tidak mata galak itu lagi.”

Shut up, Lion. Kita di area sekolah.”

Lionel mengerjapkan matanya dan well, Yuri benar. Mereka sudah berada di area Raville setelah baru saja, keduanya melewati patung terkenal phoenix dan wolf. Dari titik itu, bersesaran beberapa muda-mudi seusia mereka dengan buku-buku dan tongkat sihir. Ada juga yang hanya membawa tas dan kelihatan percaya diri dengan gaya berbusananya. Juga ada yang tengah berjalan pelan-pelan sembari membenarkan letak kacamatanya yang melorot tiap sesekon.

Yuri dan Lionel adalah salah satu yang tersesat dan kebingungan berjalan kemana.

“Lion, kau tahu aku mengandalkanmu. Kemana kita sekarang? Kau lebih lama di sini daripada aku, dear.”

Lionel menggaruk kepalanya, “Yeah, perlu kau tahu juga bahwa aku hanya lebih lama seminggu darimu. Kau mengharapkan apa?”

“Kau tidak baca denahnya bahkan untuk sekali dalam hidupmu?” Lionel menggeleng. “Demi Celana Simpsons, kau ini tidak berguna.”

Yuri berjalan mendahului pemuda tersebut. Lionel menyusulnya dengan tergesa-gesa melewati sekumpulan pemuda yang berbisik-bisik rendah di bawah pohon ek dengan kayu sekurus bambu. Bahu Lionel mengedik pelan saat ia teringat akan sesuatu,

“Omong-omong, siapa Simpsons?”

.

.

“Aku selalu merasakan kalau seseorang sedang memerhatikan kita akhir-akhir ini.” Lionel berbisik ketika Yuri dan dirinya berdiri bersisian dengan rapi dalam sebuah barisan mengular di aula utama. Upacara penerimaan murid baru gelombang satu dan dua. Lionel adalah salah satu yang berhasil masuk ke Raville melalui ujian tahap satu sedangkan Yuri yang berada di lajur selanjutnya, termasuk yang berhasil masuk tes dalam ujian kedua.

Pria berjanggut putih nampak maju ke podium diiringi dengan tepuk tangan meriah sedangkan Lionel tengah menyikut Yuri sekali-dua kali agar gadis itu memberinya respons.

Yuri menoleh sedikit ke belakang dan mendapati beberapa gadis yang perlahan mulai bungkam saat sebelumnya terdengar kasak-kusuk berisik dari sana.

“Ya, memang kita diperhatikan. Lihat ke sana, barusan mereka diam.” Yuri memberi isyarat mata soal posisi para gadis pada Lionel. Lionel tersenyum sebentar ketika manik cokelatnya bertumbukkan dengan satu-dua gadis di belakang Yuri.

“Maksudku bukan itu. Ada aura aneh yang menyelimutimu, Yuri. Aku yakin sekali.”

“Jangan bertingkah seperti Pak Tua Sinting Wicky.”

“Aku tidak begitu! Lagipula Pak Wicky tidak sinting! Dia hanya… err... sedikit kurang waras.”

“Apa bedanya, bodoh.”

Yuri menyikut lengan Lionel karena rasanya, pembicaraan mereka sudah terlampau lama. Ia harus memerhatikan isi pidato kepala sekolah mereka jika tidak ingin menjadi pelajar yang dikeluarkan dalam semenit setelah berdiri di aula Raville.

“Dan kuucapkan selamat!” Tepuk tangan bergemuruh dari seisi aula besar. Yuri tidak tahu apa yang dibicarakan Si Tua Janggut Putih jadi ia hanya ikut-ikut tepuk tangan saja. Sejurus kemudian seorang pria muda naik ke podium dan berbicara soal siapa namanya dan apa jabatannya dalam Raville.

Total ada tiga guru pria yang tampan, enam sampai tujuh pria tua dan ada beberapa guru wanita dari usia tiga puluhan hingga lima puluhan. Semuanya dengan rajin memberikan sambutan mereka seolah mereka bahagia menerima murid baru tanpa tahu bagaimana rupa mereka.

“Selamat datang dan selamat belajar!”

Kata paling ampuh untuk membubarkan upacara. Lionel menarik rambut hitam Yuri saat gadis itu hendak menuju kelasnya. “Apa lagi?”

“Kita ada di kelas yang sama.”

“Oh bagus sekali.”

Saat itu Yuri tidak benar-benar berniat mengatakannya. Baginya, Lionel adalah salah satu pembicara aktif yang mungkin akan mengacaukan hari pertamanya di sekolah ini.

.

.

“Tidak, tidak. Tidak begitu profesor, mangolopoem adalah tanaman yang tidak bisa mati. Aku penah menemukannya di selatan Desa Plincher bulan lalu. Sungguh! Tanaman itu tidak bisa mati. Aku mencoba segala cara.”

Benar saja!

Yuri selalu benar soal bagaimana mulut Lionel dapat mengacaukan harinya. Baru hari pertama datang ke sekolah, Lionel sudah berani mendebat guru herbal. Untung saja ia adalah seorang wanita muda yang nampaknya sangat baik. Ia memperkenalkan diri sebagai Profesor Gianna sesaat sebelum pelajaran utama dimulai tadi.

Mangolopoem tidak ada yang abadi. Mungkin yang kau temukan adalah tiruan, Tuan Dimps. Akhir-akhir ini panen mangolopoem menurun karena hama. Para petani menggunakan tanaman tiruan untuk membunuh hamanya. Yang kau lihat mungkin tiruannya.”

“Tiruan tidak mungkin memiliki akar ‘kan, Profesor? Yang kulihat memiliki akar kuat, menancap di tanah. Aku tidak mungkin salah lihat dengan mata sebesar ini.” Lionel memamerkan matanya. Yuri menutup wajah, seolah tidak ingin kenal dengan pemuda tersebut.

“Petani dengan sihir tinggi, bisa menumbuhkan akar pada tanaman tiruan. Kau hanya bisa memastikan mangolopoem tersebut asli atau tidak dengan mencicipi daunnya. Apa kau melakukannya, Tuan Dimps?”

“Oh, kalau itu aku…”

“Apa sudah jelas bagimu?”

“Oke cukup Profesor.”

Sejurus setelah kejadian memalukan tersebut. Gianna keluar dari kelasnya dengan senyum yang tak pernah lekang. Ia memandangi muridnya satu per satu sebelum benar-benar sampai di pintu keluar lantas manik kelabunya berhenti pada sosok Yuri. Gianna mendesah panjang kemudian menghilang setelah ia menunjukkan gerak-gerik aneh di depan gadis tersebut.

.

.

Oke, cukup Profesor, katamu? Bagus sekali! Kini semua orang akan menertawaimu, Lion.” Yuri membuka tutup kaleng soda dan memberikannya pada Lionel di jam istirahat mereka. Lionel hanya menggerakan bahu sebagai balasan.

“Hey, Dimps! Bawalah mangolopoem abadimu kemari! Haha!”

Segerombolan pemuda meneriaki Yuri dan Lionel dari kejauhan lantas tertawa terbahak-bahak. “Biarkan saja mereka.” Yuri menutup lubang telinga Lionel dengan telapak tangannya. Namun gerakan itu dilumpuhkan Lionel begitu saja. “Tidak. Seperti ini tidak bagus untukmu.” Katanya sembari membuat jeda antara tempat duduk mereka.

“Omong-omong, apa kau lihat ekspresi Profesor Gianna tadi padamu?” Lionel bertanya disusul dengan anggukan persetujuan dari Yuri.

“Kenapa dia seperti itu?”

“Kalau kupikir lagi, bukan hanya Profesor Gianna, sebagian besar murid di sini membicarakanmu ketika kau melintas di depan mereka.”

“Benarkah?”

“Aku sudah bilang belum soal aku merasakan kehadiran seseorang di rumahmu?”

“Kukira kau bercanda.”

“Aku tahu waktu untuk bercanda. April mop sudah lewat.”

Yuri menenggak kaleng minuman sodanya. Ia memerhatikan para murid yang melintas di sisi kiri dan kanannya kemudian menelengkan kepala ke arah Lionel. “Jadi analisismu berkata apa?”
Lionel meremukkan kaleng yang sudah kosong dalam sekejap. Ia menerbangkannya dengan sihir sederhana hingga kaleng mendarat sempurna dalam tong sampah terdekat. “Ada sesuatu tentang dirimu yang semua orang tahu, sementara kau dan aku tidak.”

“Lalu?”

“Lalu kita akan bertanya.”

“Pada siapa?”

Lionel menatap lawan bicaranya dengan pekikan tertahan. “Siapa lagi yang kita kenal di sini memangnya?”

Yuri menggelengkan kepala. “Oh, jangan dia Lion. Jangan dia.”

.

.

“Aku sudah melihatnya, Jongsuk. Dia lumayan.”

Gianna menggeser kursinya agar lebih dekat dengan lawan bicaranya. Jongsuk, Lee seorang profesor kenamaan dari Asia Timur kini menaruh perhatian pada Gianna. Senyum lebar terpampang jelas di wajahnya.

“Menurutmu juga begitu?”

Yeah, tahun ini akan sangat menarik.” Kata Gianna lagi. Ia meliukkan alisnya tatkala teringat akan sesuatu. Gianna tiba-tiba saja berlaku waspada kemudian menoleh ke kanan dan kirinya hati-hati. Ia ingin memastikan bahwa saat itu memang benar-benar ada dirinya dan Jongsuk Lee saja, tidak yang lain.

Termasuk tidak bagi laba-laba di pojokkan.

“Kau dimata-matai, Dear.” Gianna mengingatkan. Jongsuk tak nampak terkejut, ekspresinya membawa kabar seperti ia sudah tahu hal tersebut jauh sebelum Gianna menyadarinya. Perlahan, di pojok ruangan laba-laba tersebut terjatuh ke tanah dan sarangnya mengurai dengan sendirinya.

Sepersekian sekon kemudian, sarang tersebut hilang sempurna.

“Aku tahu kau di sana, Tuan Park.” Ujar Jongsuk setengah berteriak.

Ceklek.

Muncul dari balik pintu adalah Haejin Park, salah satu guru dari Asia Timur yang merupakan kawan sekaligus rival berat Jongsuk selama keduanya berkarir di Raville. Berada di usia yang sama dan memiliki kekuatan tidak jauh berbeda, kadang menimbulkan persaingan sengit yang tidak dapat dijelaskan (karena terkadang persaingan ini berubah menjadi bahan lawakan jenaka.)

“Kau tahu itu aku?” Haejin bertanya. Ia menundukkan kepala singkat pada Gianna sebagai rasa hormat karena bagaimanapun, Gianna adalah senior keduanya.

“Sejak awal, sebagai tambahan.” Jawab Jongsuk.

Holycrap.”

Haejin menyihir sebuah sofa di pojok ruangan kemudian memindahkannya tepat di bawah bokongnya sebelum ia terjengkang jatuh ke lantai. Jongsuk saat itu tengah tenggelam dalam silabus materi yang akan diajarkannya pada murid-murid baru tahun ini.

“Sampai mana obrolan kita tadi, Tuan Lee? Bagus sekali ada Tuan Park juga di sini, kita bisa merumuskan ini bersama.” Kata Gianna, mengingatkan. Jongsuk nampak tak terlalu acuh pada bahasan yang dibawa Gianna kali ini. Kontras dengan Haejin yang lantas bicara setiap sekali dalam sepuluh detik.

“Kita hanya bisa menunggu.” Jongsuk pada akhirnya menyimpulkan. Ia berdiri kemudian menatap nanar ke luar jendela. “Kita hanya guru dan guru hanya bertindak sesuai perintah Kepala Sekolah. Biarkan Si Tua itu memutuskan akan seperti apa penanganan bagi anak-anak spesial seperti mereka, Profesor. Aku ada kelas. Aku duluan.”

Jongsuk menundukkan kepala pada Gianna ala adat Asia. Manik Haejin membuntuti guru muda itu sampai tubuhnya hilang di balik pintu kayu cokelat. Setelahnya, ia mendesah panjang. “Dia masih belum bisa melupakan kejadian sepuluh tahun lalu, Profesor. Dia masih Jongsuk yang begini.”

Gianna tidak menatap lawan bicara, tapi ia tahu apa yang pemuda itu inginkan.

“Ya. Trauma kehilangan adiknya masih belum hilang. Kurasa kita harus membuatnya sedikit lebih rileks, Tuan Park.”

“Yeah, setuju. Bagaimana kalau minum selepas jam sekolah nanti?”

Gianna tersenyum pada Haejin. “Call!”

.

.

Brak.

Kakek tua berjanggut putih yang sebelumnya Yuri lihat naik ke atas podium kini tengah berada di depannya. Gadis itu harusnya merasa tegang atau setidaknya takut mengingat yang dia hadapi saat ini adalah orang yang paling berpengaruh se-antero sekolah.

Faktanya, gadis itu malah duduk manis di atas sofanya tanpa izin kemudian bertukar pandang dengan Lionel yang sesekali memutar-putar globe di pojok ruangan.

“Apa yang bisa kubantu? Apa Lionel membuat masalah lagi untukmu, Yuri?” Suara berwibawa dengan intonasi sederhana tersebut menembus gendang telinga Yuri dan membuatnya merasa aman selama beberapa sekon sebelum akhirnya Lionel menarik rambutnya dan menyuruhnya segera bicara.

“Itu…” Yuri tergagap. Lionel kali ini benar-benar membuatnya terpojok sampai ia tidak tahu harus bicara apa di depan sosok idolanya. Paman Lionel, Gregory, adalah salah satu penyihir kenamaan abad ini. Penghargaan demi penghargaan dari Kementerian berhasil diboyong pulang oleh pria tua ini. Raville ada di bawah kekuasannya dan melalui tangan dinginnya, tercetak penyihir-penyihir berbakat yang jasanya begitu besar bagi kemajuan Rauchsst.

Mungkin hanya satu cela pria tua ini bagi Yuri, bahwa dia tidak lain adalah paman dari seorang Lionel Dimps.

“Yuri ingin bertanya soal gosip hari ini tentangnya, Paman.” Lionel melirik pada Yuri, ia mendekat kemudian menyikut lengannya. “Katakan padanya, Yuri.”

“I—ini tentang…” Yuri menarik napas lantas melihat ekspresi Lionel untuk menambah keyakinannya. Namun pada akhirnya, Yuri hanya berhasil mengucapkan satu kata, “Maaf.”

“Kau ini kenapa? Paman, bisakah aku menggantikannya untuk bicara?”

Gregory menatap Yuri yang semakin detik semakin menunduk saja. Lantas ia mengiyakan saat keponakannya membuat keputusan bijak dengan menggantikan Yuri untuk bicara.

“Jadi, perempuan ini…”

“Dia temanmu, Lion. Jangan memanggilnya begitu.”

“Oke, yang kumaksud adalah, Yuri, merasa tidak nyaman dengan sekolah ini, Paman. Kemanapun dia pergi, kami—aku dan Yuri—selalu saja mendapatkan tatapan aneh. Malah kadang mereka yang berpapasan dengan kami selalu berbisik-bisik rendah. Kukira ada sesuatu yang kalian tahu dan kami tidak, dan kami kemari karena alasan tersebut.”

Gregory tertawa, dalam konteks memuji keberanian keponakannya.

“Kau memiliki rahasia di tempat ini ya tentang kami? Apa itu benar?”

“Tidak,” Gregory menyisir janggutnya dengan jari lantas melirik ke arah Yuri. “Tapi benar.”

“Jadi benar atau tidak, Paman?”

“Tergantung dengan siapa aku bicara.”

“Kenapa begitu?”

“Seperti kau yang memiliki alasanmu sendiri untuk tetap berkawan dengan Yuri meski orang tuamu melarangnya, aku juga memiliki alasanku sendiri, Lion.”

“Kalau kukatakan alasanku, apa kau akan mengatakan alasanmu?” Lionel masih bernegosiasi. Gregory meliukkan alisnya. “Ayolah, Paman. Ini tentang Yuri, bukan tentangku. Kau juga Yuri, katakan sesuatu!” Di akhir kalimat, Lionel berbicara pada Yuri. Namun maniknya tidak lepas dari manik biru laut Gregory.

“Baik, baik. Aku kalah. Silakan duduk dan sesap teh dahulu.” Gregory memunculkan sepoci teh panas lengkap dengan gula yang terurai di sebuah wadah tepat di sampingnya. Poci dan cangkir berisi teh tersebut terbang di atas nampan dan mendarat tepat di udara kosong, di sisi kanan baik Yuri maupun Lionel.

“Aku tidak ingin tehnya, siapa tahu kau mencampurnya dengan tanaman beracun dan membuat kami lupa siapa kami dan kenapa kami bertanya.” Komentar Lionel disusul dengan semburan teh Yuri dari bibirnya. Sebagai info, gadis itu baru saja menelan beberapa teguk teh sampai akhirnya sadar bahwa perkataan Lionel ada benarnya juga.

“Kau kadang memang jenaka.” Sahut Gregory. “Baiklah akan kuceritakan soal ini. Sebelumnya aku mohon maaf pada Yuri, hari pertamanya di Raville mungkin akan menjadi hari terakhirnya juga.”

.

.

“Raville tidak pernah melakukan ini sebelumnya, terakhir adalah sepuluh tahun yang lalu. Saat itu adalah huru-hara atas kematian Riddick, Menteri Sihir. Atas kekacauan pasca wafatnya Riddick yang diduga karena ulah penyihir hitam, Kementerian dengan Raville sebagai perpanjangan tangan, melakukan sebuah tindakan inhumani.”

Lionel sudah akan angkat bicara. Namun Gregory menyelanya, “Tunggu sampai aku selesai, Lion. Atau aku tidak akan mengatakannya.”

Lionel buru-buru mengunci bibirnya.

“Tempat kejadian perkara saat Riddick dibunuh adalah area aula Raville, tepat saat ia memberikan pidato sambutan bagi pelajar yang lulus. Rasanya tidak sampai satu sekon, tahu-tahu tubuh Riddick sudah terbaring di atas podium dengan kondisi mengerikan saat itu. Aku adalah guru pada masa itu, dan aku tahu betul perintah Kementerian soal mengunci semua pintu Raville sampai kasus pasca kematian Riddick terungkap. Semua pelajar terjebak selama berhari-hari di sana, sampai akhirnya mereka tiba pada satu kesimpulan.”

Gregory menahan napasnya, “Penyihir Hitam dalam tubuh seorang pelajar di Raville.”

Gregory berdeham. Maniknya menelisik kalau-kalau Yuri dan Lionel terlalu terkejut. Lantas Gregory meneruskan kisahnya dengan intonasi yang lebih bersahabat dan rileks,  “Apa kalian pernah mendengar soal ratusan siswa Raville yang tiba-tiba menghilang dari sekolah sepuluh tahun lalu?”

Yuri mengangguk pasti. Lionel memilih bergeming.

“Mereka tidak hilang, Dear. Kenyataannya mereka tewas.”

Yuri memekik tertahan dibalik telapak tangan yang memblokade mulutnya. Lionel setengah kaget dan setengah tak percaya.

“Akibat insiden Riddick yang berkaitan dengan Dark-Witch, Kementerian menduga penyihir hitam itu menguasai salah satu tubuh seorang pelajar Raville. Kita semua tahu bahwa salah satu ciri penyihir hitam adalah mantranya yang terkesan kuno. Sepuluh tahun lalu, ratusan murid lebih suka menggunakan mantra kuno dalam setiap kegiatan mereka dan ironisnya, mereka digiring ke kematian lebih dekat karena hal tersebut.”

“Kematian? Apa yang terjadi sebenarnya, Paman?”

“Seperti permainan survival, Kementerian mengumpulkan ratusan murid yang dicurigai tersebut di sebuah area. Lantas mereka saling membunuh hanya untuk membuktikan siapa penyihir hitam di antara mereka.”

“Lantas apa yang terjadi setelah itu?”

Gregory menggeleng. “Tidak ada. Penyihir hitam tidak pernah ada. Kementerian hanya menyia-siakan banyak nyawa hari itu. Dari ratusan siswa dan siswi, hanya tersisa satu orang yang berhasil selamat. Tapi menurutku, dia tidak pernah benar-benar selamat, mentalnya terganggu dan menyebabkan wajahnya lima kali lebih tua dari umur sebenarnya.”

Lionel berpandang-pandangan dengan Yuri.

“Kalian pasti kenal Wicky? Mungkin anak zaman sekarang menyebutnya sebagai Pak Tua Sinting Wicky? Pernah bertemu dengannya?”

Lionel dan Yuri dipenuhi rasa mengerti sekaligus keterkejutan yang mutlak. Lantas mereka menyesal telah membicarakan kejelekan Pak Tua itu selama ini.

“Dan yeah, setelah kejadian memalukan tersebut, Kementerian menyamarkan kematian Riddick sebagai pembunuhan tanpa jejak. Dan insiden tewasnya ratusan siswa dan siswi Raville dinyatakan sebagai ‘penculikan oleh Witch’, yang mana tidak benar bagiku.”

“Ah, aku menghargai kejujuran dan semua ceritamu, Paman. Tapi…” Manik Lionel tertumbuk pada Yuri lantas ia menatap kembali pada Gregory. “Apa korelasi ceritamu dengan apa yang kutanyakan sebelumnya?”

“Sederhana, Dear.” Gregory menyesap tehnya lambat. “Biar kuberitahu sebuah rahasia lagi tentang kejadian sepuluh tahun lalu.”

Manik Gregory menerawang, “Pak Tua Wicky sebelumnya adalah murid yang pintar. Terutama ketika bicara soal forecast. Dia peramal yang jitu. Suatu saat Pak Wicky mendatangiku di pasar, ia bilang aku akan jadi seorang kepala sekolah dan penyihir paling dikagumi. Bam, dan itu terjadi. Selanjutnya ia mulai meramalkan masa depan di tengah kegilaannya. Aku tidak ingin percaya tapi apa yang dikatakannya selalu benar. Sampai akhirnya aku memanggilnya untuk menawari sebuah pekerjaan di Raville terlepas dari kondisi mentalnya. Ia menolak lalu berlari histeris. Katanya Raville sudah terkutuk. Ia berkata pada orang-orang yang ditemuinya bahwa suatu hari, tiga tahun dari hari itu, akan bangkit kegelapan dari Raville. Tiga orang pelajar bertanggung-jawab untuk itu. Hari itu adalah ramalan terakhir dari Pak Tua Wicky karena selanjutnya, Kementerian membuat mentalnya semakin parah. Mereka mencabut paksa kekuatan sihir Pak Wicky. Begitulah yang terjadi.”

Gregory menatap dalam-dalam palung indah di mata Yuri. “Sayangnya, tiga tahun yang dikatakan Pak Wicky, adalah tepat sekarang. Berita sudah menyebar entah dari siapa. Kementerian yang semula tidak percaya kini membuat sebuah peraturan baru demi keselamatan dunia sihir Rauchsst. Para murid baru, tingkat satu, dua dan tiga yang berada di akademi ini diperintahkan untuk menjalani serangkaian tes.”

“Tes?”

“Ya. dan kurasa kalian semua sudah menjalaninya.”

“Apa maksudmu tes masuk akademi?”

“Persis.”

“Itu hanya soal biasa, Paman.”

“Apa kau ingat soal nomor dua puluh tiga di tes tersebut? Soal termudah dari semua soal yang ada.” Gregory memancing ingatan keduanya untuk berpikir. Lion lemah soal mengingat, tapi Yuri sebaliknya. “Soal itu meminta kami menuliskan mantra sederhana untuk membuka pintu. Kurasa aku juga aneh saat membacanya. Soal itu terlalu mudah.”

Gregory tersenyum. Dan Lionel seperti baru mendapatkan mukjizat, ia berteriak mengiyakan.

“Lantas apa yang kaujawab, Yuri? Lionel?”

“Apa lagi, Paman? Tentu saja Opus de Follum.”

Alohomora.” Jawab Yuri, hampir serentak dengan Lionel.

“Eh? Yuri? Kau menjawab dengan mantra kuno itu?” Yuri mengangguk diiringi manik tidak percaya milik Lionel. “Ada yang salah?” Katanya lagi.

“Tentu salah! Sudah kubilang jangan gunakan mantra-mantra kuno lagi! Kau bisa dianggap sebagai penyi—“ Lionel terbelalak akan sesuatu yang baru saja ia sadari di dalam otaknya. “BENAR! TES ITU! Mereka ingin memastikan kau ada hubungannya dengan penyihir hitam atau tidak dengan membuatmu menjawab pertanyaan tersebut. Kita semua tahu penyihir hitam selalu menyukai segala sesuatu yang kuno. Dan kau… Oh tidak, Yuri! Kau baru saja dicurigai.”

Gregory menatap keduanya. Yuri mengigit bibirnya merasa bersalah sedangkan Lionel berapa kali berdecak kecewa.

“Informasi hasil tes kemarin hanya segelintir yang tahu, tapi entah mulut siapa rupanya sudah membeberkan hasil tes ini ke se-antero sekolah. Maafkan atas ini, tapi Yuri, kau mungkin harus bersiap-siap. Akan ada perlakuan khusus untukmu dan beberapa orang lainnya sejak hari ini.”

Lionel bergerak-gerak gelisah di sisi Gregory. Meski ia tahu bahwa ini di luar kekuasaan Gregory, tapi suatu tempat dalam hatinya ingin agar pamannya itu melakukan sesuatu.

“Sudah kukatakan sejak awal kau duduk di sini bahwa,” Gregory membuat satu sihir menakjubkan lagi selain pertunjukkan teh melayang sebelumnya, kini ia memunculkan sebuah tas besar dengan beberapa peralatan pelajar di hadapan Yuri. “Ini adalah hari pertama sekaligus terakhirmu di Raville, Nak.”

.

.

| to be continued |

.

.

bapkyr’s note :

Apa yang terjadi sebenarnya dengan Yuri? Kira-kira siapa yang sempat Lionel lihat ketika ia menjemput Yuri di rumahnya? Lalu apa yang akan terjadi pada Yuri selanjutnya? Well, semuanya akan terungkap perlahan-lahan kalau kalian tetap berada di Blackpearl Fairytale dan membaca lembar demi lembar Buku Harian Para Sorcerer ini sampai selesai. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu di lembar paling akhirnya.

Sincerely,

bapkyr.

107 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [1st Page]

  1. dotha12 berkata:

    Ninggalin jejak karena mau mulai baca #lagi , salah satu karya kaknyun yg jdi favoritku…
    pemilihan diksi-mu ituloh kak… bikin imajinasiku tervisualisasi dengan baik kekekeke
    aku lanjut membaca yah kaknyun… kali ini akan jdi readers yg baik kok #janji!🙂😉

  2. Ersih marlina berkata:

    Wow wow. Dunia shiir lagi sukaaa
    smpat bca untungnya udah lpa hihi, jdi bcanya masih ada pnsran

    dan laba2 itu jadi kya mata2 in yuri sma lion toh, pas mreka bcra sblum brangkat skolah

    iya, emang kalo gosip itu mdah tersebar, kaya air ngalir
    . Nah lanjuut, smngat ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s