THE SORCERER’S DIARY [2nd Page]

The Sorcerer's Diary #2

The Second Page of the Diary is coming to you

Advice : Take the popcorn with you

.

I am gonna locked the next chapter if YOU, YES YOU SIDERS, keep reading without leave some review(s) /Maaf saja ini ff akan bernasib sama kaya Vibrance kalau siders masih gak tobat. Aku akan kembali menerapkan sistem password buat FF-FF ku. We’ll see!/ /ketawa jahat/ /ini serius/

.

.

“Kunci ini dibuat khusus untukmu. Jangan sampai hilang, ketika itu terjadi maka hidupmu dipertaruhkan.”

Yuri memandang kosong pada sebuah onggokan besi kecil yang diukir sedemikian rupa. Gregory berdiri di sampingnya, memberi beberapa petuah. Kebingungan demi kebingungan masih belum lekang dari otak Yuri namun gadis itu tidak memunyai pilihan.

Sebelumnya, tepat ketika Gregory sampai di penghujung ceritanya, sebuah koper melayang tepat di kaki Yuri. Belum lagi ia harus menyaksikan bagaimana Gregory menyihir keponakannya sendiri menjadi setengah linglung.

“Kau mendengarkan aku?”

Yuri terbangun dari lamunannya. Ia menatap kunci di tangannya gemetar kemudian didapatinya manik biru laut Gregory yang seolah berseloroh di depan wajahnya. Sepersekian detik kemudian tatapan bijak ditunjukkan pria tua itu pada Yuri. Katanya, “Wajar bagimu untuk takut. Tapi kau di sini untuk belajar, Yuri. Tidak akan ada kisah ironis sepuluh tahun lalu selama metode ini berjalan lancar. Semua akan baik-baik saja.”

“Tuan Albus …”

“Panggil saja aku Paman Gregory. Aku tidak terlalu suka nama belakangku.”

“Oke Paman, apakah … tidak, maksudku … mungkinkah Lionel dan yang lain akan tetap sama memandangku?”

“Kau tidak perlu khawatir soal apa yang dipikirkan orang lain. Kau lebih baik mengkhawatirkan dirimu sendiri, Nak. Aku menjamin semua akan baik-baik saja tapi aku tidak katakan bahwa ke depannya, semua akan menjadi mudah. Kau akan bertemu banyak orang asing, mereka yang kebanyakan datang dari belahan bumi lain. Mereka bisa jadi akan menjadi sahabatmu seperti yang Lionel lakukan selama ini, atau jadi musuhmu. Lebih buruk lagi, mereka akan menikammu pelan-pelan dari belakang. Semua bisa terjadi di dalam karena tidak ada yang tahu siapa akan jadi siapa. Hidupmu akan penuh dengan kecurigaan tidak berdasar mulai sekarang. Kau akan menderita lebih banyak, tapi jika kau yakin akan dirimu sendiri, kau akan baik-baik saja.”

Gregory menepuk pundak Yuri yang berada sejajar dadanya.

“Nah, anggaplah dirimu spesial.”

“Tapi Paman, aku … mungkin … takut, sedikit. Bahkan ketika aku belum menghadapinya, aku sudah gemetar.”

“Tidak ada yang perlu kau takuti, Nak.”

“Kau tidak mengerti, Paman. Aku takut ketika nantinya aku—“

“Tidak ada ‘nantinya’ bagimu. Semuanya tergantung apa yang kau lakukan ‘sekarang’. Kau akan dilatih dengan penanganan spesial bersama mereka yang bernasib sama denganmu. Yakinkan dirimu bahwa kau bukan seseorang yang dituliskan dalam sejarah sebagai Dark-Witch dan buktikan bahwa ramalan Pak Tua Wicky itu salah.”

Yuri masih ragu-ragu melangkahkan kakinya lebih dekat dengan sebuah pintu kayu tua reyot di hadapannya. Ia enggan mengalihkan maniknya dari mata teduh Gregory, tapi semakin lama ia berdiri di sana akan semakin banyak keraguan yang urung membuatnya meletakkan kunci pada rumahnya.

“Masuklah, mereka tidak akan memulai kelas khusus ini tanpamu.”

Yuri menelan ludahnya. Rasanya menelan ludah tidak pernah sesulit ini tadinya. Gemetar, ia meletakkan kunci pada sarangnya. Di hatinya Yuri menghitung sampai lima. Sepersekian sekon sebelum angka lima disebut, ia sudah berhasil memutar kuncinya ke kanan sebanyak dua kali. Bunyi gemeletuk kayu yang bergesekkan dengan lantai terdengar, bergaung.

Yuri menatap Gregory sekali lagi, hanya untuk mendapatkan setengah keberaniannya dari mata biru laut pria tua tersebut. Ia mengangguk yakin, kemudian mendorong pintu tersebut. Sebuah cahaya biru terang menusuk-nusuk maniknya. Saat ia berkedip, Gregory sudah tidak ada di sisinya. Ia sendiri.

Yuri melangkahkan kakinya.

Alas marmer yang lebih gelap dan bangunan yang lebih kokoh daripada Raville kini mewarnai seluruh bola matanya. Belum pernah ia menemukan bangunan seindah ini. Satu-satunya bangunan termegah yang pernah ia masuki sekali-dua kali adalah Kementerian Sihir. Itu pun tidak seindah ini, pikirnya.

Yuri menyeret koper pemberian Gregory. Sesuatu menyembul dari balik koper begitu ia menggerakkan tungkainya. Seekor hamster kecil.

Hamster putih keemasan itu bercicit ketika Yuri hampir saja melindasnya dengan ban koper. Untung saja sang hamster kecil sangat gesit dalam menghindar. Hamster tersebut kemudian berdiri di depan Yuri, bersuara dengan cicit-cicit yang tidak bisa Yuri mengerti.

Hamster tersebut kemudian berjalan di depannya, menyesari lorong panjang terlebih dahulu seolah ia sangat hapal betul tata ruang bangunan indah tersebut. Yuri ragu melangkah, namun akhirnya ia mengikuti hewan kecil itu juga.

“Terima-kasih.” Ucapnya pelan ketika ia tiba di depan pintu yang begitu besar. Tingginya dua kali lipat dari tinggi Gregory, lebarnya hampir sepuluh kali lipat dari lebar tubuh pria tua tersebut. Yuri menatapnya ternganga, setengah tidak percaya ada bangunan tersebut di balik sebuah pintu kayu reyot yang ditunjukkan Gregory.

Yuri mencoba membaca keterangan besar di atas pintu, namun karena terlalu tinggi, ia tidak dapat membacanya. Hanya huruf-huruf latin yang tergambar samar.

Well, aku hanya perlu mengetuknya, bukan?” Yuri mencoba mencari pembenaran dengan bertanya pada makhluk kecil bercicit tadi, namun sang hamster sudah pergi entah kemana.

Tok … tok … .

Yuri mengetuk pintu tersebut dua kali. Kenapa tidak tiga? Well, karena tepat ketika gadis itu hendak mengetuk pintu ketiga kalinya, seorang pria bertubuh proporsional tengah berdiri menengahi pintu tersebut. Di belakang sang pria, ada beberapa meja-meja dan beberapa orang yang tengah sibuk dengan urusan pekerjaan mereka. Sebagian menatap kaku pada mesin tiknya; sebagian berjalan dengan kertas-kertas yang mengepak di udara kosong sejajar kepalanya; sebagian menghitung uang-uang yang kerap berlarian layaknya anak kecil; sisanya tengah menatapnya. Benar-benar menatapnya, seperti yang dilakukan pria tampan di depannya.

“Ha—hallo … “ Yuri mencoba menyapanya.

“Kau Nona Feckleweis?”

“Ya… oh, aku kemari karena Paman, eh, maksudku Tuan Albus…”

“Ya, ya aku sudah tahu. Aku Haejin Park, salah satu tutormu. Kelasmu di ujung lorong dan asramamu di sisi kanan gedung ini. Kau bawa kunci yang diberikan Pak Tua itu padamu?”

Yuri mengangguk. Haejin—yang memperkenalkan diri sebagai tutor—kini ikut-ikutan mengangguk juga.

“Jangan pernah hilangkan itu. Gedung ini bersifat tidak nyata, ini dunia paralel. Sekali kau menghilangkannya dari dalam sini, kau tidak akan bisa kembali.”

Yuri menelan ludah.

“Jangan menatapku seperti aku akan menyantapmu, Nona Feckleweis. Aku bukan pria seperti itu.” Kata Haejin lagi. Yuri mengangguk namun Haejin tampak kurang puas. “Akan aku panggilkan seseorang yang bertanggung-jawab soal asrama, sebentar.”

Haejin berdiri dengan satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku. Tanpa tongkat, ia membuat sihir cahaya yang berputar radial di depan wajahnya. Cahaya itu berbentuk surai-surai beraneka warna dan perlahan membentuk sebuah lubang besar di tengahnya. Lubang besar tersebut berukuran kira-kira selebar wajahnya. Lantas di sana, muncul wajah seorang wanita yang nampak tidak asing bagi Yuri.

“Profesor Gianna, bisa kau kemari dan melakukan sesuatu untukku?”

“Aku sedang dalam kelas, Haejin. Jika ini tidak terlalu penting maka …”

“Kau akan menyesal jika kau tidak ke sini segera.”

Haejin tersenyum penuh arti di depan wajah tersebut. Gianna menggerakan bahunya.

“Kuharap kau memang benar.”

Wajah itu menghilang seketika dari saluran sihir yang dibuat Haejin. Yuri terkesiap sebentar, lantas terkejut lagi oleh kedatangan seseorang di belakang bahunya dengan tiba-tiba. Gianna sudah berdiri di belakangnya dalam hitungan detik setelah sambungan jarak jauh tersebut terputus. Inginnya Yuri memekik dan berteriak “bravo, bravo” namun kalimat itu tidak pernah keluar dengan benar.

“Jadi kau sudah dikirim juga ke sini?” Gianna menatap Yuri. Sementara Yuri, yang pernah bertemu dengannya sekali, kini mengangguk saja tanpa banyak protes. “Apa teman menyebalkanmu yang pernah memrotesku soal mangolopoem abadi tahu soal ini?”

“Tidak, Profesor.”

“Bagus.” Gianna menatap Haejin. “Jadi soal apa ini?”

“Oh, ini soal asrama dan tur singkat. Kau tahu Gianna, aku sedikit sibuk hari ini, bisakah kau yeah, kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Haejin tersenyum-senyum di hadapan Gianna. Wanita itu melipat tangannya di depan dada kemudian melirik Yuri sekilas.

“Ikut aku, Nona Feckleweis.”

.

.

“Kembalikan itu, Daehyun!”

“Tidak. Tidak akan.”

“Jung Daehyun!”

Brak!

Dua tubuh pria terjerembab di pojok ruangan sementara teman-temannya melihat tidak peduli. Adalah dua pria Asia, Jung Daehyun dan Kim Himchan tengah berseteru (lagi) hari ini. Suasana sebenarnya sangat damai di kafetaria siang ini, awalnya. Sampai dua penyihir muda itu merusak kedamaian tersebut.

Kisahnya berawal ketika Jung Daehyun bergabung dengan kawanan gadis yang tengah menyantap makan siangnya, sedangkan Kim Himchan yang baru saja datang, duduk dengan terpaksa di sisi Daehyun karena kursi lain sudah penuh.

Himchan tidak pernah lepas dari buku yang selalu dibawa-bawanya. Semua masalahnya bermula dari sana.

Daehyun mengajak Himchan bicara dan Himchan mengabaikannya. Daehyun membuang buku yang dibaca Himchan, lalu Himchan naik pitam dan membuat serangan sihir sederhana pada tubuh Daehyun. Daehyun mulai mencabik-cabik buku Himchan di udara sedangkan Himchan dengan beraninya menumpahkan semangkuk mie dingin di kepala Daehyun.

Kira-kira seperti itulah perseteruan tersebut dibangun.

Sebenarnya tidak aneh, kecuali pada bagian Gianna tiba-tiba datang dan melerai keduanya dengan sihir medan gaya yang kuat.

“Kalian berdua ikut aku!”

Dengan begitu, berakhirlah pertunjukkan Himchan dan Daehyun siang itu.

Yuri mengekori punggung Gianna hati-hati, berusaha tidak mencolok. Ia tidak ingin dirinya menarik terlalu banyak perhatian dari mereka yang berada di kafetaria siang ini. Bagaimanapun, menjadi murid baru di institusi apapun tidak ada yang mengatakan akan mudah.

“Ini belum genap dua hari kalian berada di sini dan kalian sudah bertengkar lebih dari lima kali.” Gianna berhenti di sebuah lorong kemudian menatap Daehyun dan Himchan bergantian. Yuri berada tidak jauh dari Gianna hanya menatap dua orang tersebut tidak mengerti.

“Daehyun yang memulainya, Profesor.” Himchan membela diri. Daehyun membelalakkan mata tidak percaya.

“Aku tidak akan seperti itu jika kau mau mendengarkanku bicara, Kim Himchan!”

“Untuk apa aku mendengarkanmu bicara? Di sana kafetaria, bukan tempat bergosip!”

“Aku sedang bicara serius kalau kau ingin mendengarkan! Aku tidak bergosip, asal kau tahu!”

Gianna memandang keduanya dengan intens sebelum akhirnya ia berteriak, “Enough!

Bagi Yuri, teriakan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bagaimana Lionel berteriak ketika ia menemukan sesuatu yang mencengangkan terjadi di sekitarnya, malah teriakan Gianna adalah salah satu nada normal baginya. Anehnya—bagi Yuri—dua orang di depan Gianna cenderung diam saat ini; tidak melakukan apapun.

Yuri ingin saja mengatakan ‘hey teriakan tadi tidak seseram itu kok’, namun siapa sih yang akan mendengarkannya dalam suasana seperti ini?

“Sudah saatnya untuk menghentikan tabiat ini sebelum semuanya terlambat. Aku memiliki hukuman yang pantas untuk kalian.” Gianna melirik arlojinya kemudian bel berdering di se-antero lorong. Gianna masih memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan daripada mengajak Yuri berkeliling saat ini. Ia sebenarnya sangat terbantu dengan kejadian barusan, setidaknya ada rencana yang akan memudahkannya.

“Sebagai hukuman, kenalkan ini Nona Feckleweis, salah satu yang akan menjadi teman sekelasmu. Dia baru saja datang dan kalian bertanggung jawab untuk mengajaknya tur keliling area sekolah hari ini.”

Himchan dan Daehyun serentak menyadari kehadiran seorang gadis asing yang baru saja ditunjukkan Gianna. Yuri tersenyum sebentar dengan canggung lantas buru-buru menyibukkan diri dengan hal-hal kecil yang luput dari perhatian keduanya. Dari dalam manik cokelat khas Asia Himchan, baginya Yuri sama sekali tidak terlihat seperti penduduk Rauchsst pada umumnya. Rambutnya hitam alami, iris matanya berwarna hazel dan kulitnya sebersih mereka yang tinggal dalam negara tropis.

Sekilas, Yuri bagi Himchan adalah gadis-gadis Asia yang biasa ia lihat di negaranya.

Sedangkan bagi Daehyun,

Tidak ada.

Otaknya terlalu penuh dijejali segala pemikiran soal tumpahan mie dingin di kepalanya.

“Aku minta maaf Nona Feckleweis, aku memiliki beberapa kelas lagi hari ini. Kau bisa berkeliling dengan mereka. Mereka telah berada di sini sejak dua hari yang lalu, seharusnya mereka tahu banyak.” Kata Gianna. Matanya cenderung membagi lirikan mengancam pada Himchan dan Daehyun bahwa mereka harus memperlakukan Yuri dengan baik.

Sejurus kemudian, Gianna menghilang bak debu. Himchan dan Daehyun merenggang, keduanya bahkan tidak saling tatap.

“Jadi, aku Yuri Feckleweis.” Yuri mengulurkan tangannya. Himchan menyambutnya sembari memperkenalkan nama sedangkan Daehyun urung bergerak.

“Apa yang kau ingin tahu terlebih dahulu, Nona Feckleweis?” Tanya Himchan.

“Panggil aku Yuri saja.”

“Ajak saja dia ke perpustakaan, tempat favoritmu.” Daehyun berceletuk. Himchan menghela napas, “Abaikan saja dia.”

“Kau tidak bisa menyuruh gadis ini mengabaikanku. Kita bekerja bersama, kau ingat?”

“Jadi bekerjalah dan berhenti mendebatku.” Sahut Himchan. Jika saja Yuri tidak buru-buru melerai keduanya, sudah pasti chapter kedua dari perkelahian siang ini akan menjadi menu Yuri. Ia menengahi mereka dan menarik tangan keduanya untuk tetap berada di sisinya.

“Begini lebih baik.” Kata Yuri. Tentu ia tidak ingin tersenyum tapi melihat keadaan yang panas, ia membuat senyum simpul agar suasana ini mendingin sedikit. Berjalan di sisi kiri Yuri adalah Himchan dan di sisi satunya, ada Daehyun yang berjalan terpaksa.

Mereka berhasil menyesari lorong dan tiba di beberapa tempat. Himchan dengan rajin menjelaskan fungsi masing-masing ruang dan jika ada kesempatan kecil, ia bercerita banyak soal apa yang akan mereka hadapi dan juga guru-guru yang akan mengajar di kelas khusus mereka kelak.

Himchan beberapa kali menambahkan soal asal-usul dan mengapa ia bisa terdampar di sini. Barulah ketika sampai pada materi tersebut Daehyun bicara.

“Aku juga. Kalau tahu seperti ini aku tidak akan mau jauh-jauh datang ke Rauchsst.” Sahut Daehyun. “Aku bahkan sudah belajar mati-matian demi tes ujian masuknya.”

Himchan menatap Daehyun, “Belajar tidak akan membuatmu mati. Tidak ada ruginya belajar.”

Daehyun berseloroh di depan wajah Himchan dengan menunjukkan ekspresi jenaka. Yuri tertawa kecil, hampir tidak terdengar.

“Omong-omong berapa banyak siswa yang berada di kelas khusus?” Tanya Yuri.

“Hm,” Daehyun terlihat berpikir.

“Kau murid terakhir. Murid ke dua puluh sembilan.” Sela Himchan.

“Tidak, sebenarnya ada tiga puluh. Murid ketiga puluh tidak dapat hadir. Kabarnya ia menghilang diculik oleh Witch.”

Ew, Daehyun, itu hanya spekulasi orang-orang tidak bertanggung jawab. Jangan menceritakan hal yang belum benar adanya.”

“Ini betulan kok. Beritanya sudah menyebar bahkan ada yang bilang sehari setelah ia hilang, seseorang dibakar di selatan pematang sawah Desa Gimpkins.”

Yuri tiba-tiba ingat bagaimana Lionel berkata soal berita ini padanya tadi pagi.

“Aku mendengar berita itu juga dari temanku tadi pagi,” timpal Yuri. “Tapi aku belum tahu kebenarannya, jadi mari kita akhiri topik ini. Masih banyak hal yang ingin kutanyakan soal tempat ini.”

Yuri menepuk pundak Himchan dan Daehyun lantas ketiganya kembali menyesari lorong yang seolah tanpa ujung tersebut.

.

.

 

“Ada beberapa tutor yang akan mengisi kelas kita. Profesor Gianna yang tadi kau temui adalah salah satunya. Dia tidak akan mengajar ilmu tumbuh-tumbuhan sebagaimana yang kita tahu. Di kelas khusus, dia bertanggung jawab atas manipulasi sihir tingkat lanjut. Ia mampu membuat ruang-tak-terbatas (paralel) dalam sihirnya. Yang kau injak ini adalah salah satu ciptaannya yang abadi.”

Yuri mengagumi penjelasan detail dari Himchan. Terlihat sekali bahwa pemuda di sampingnya merupakan pemuda yang jenius. Seperti kata ungkapan kuno, intelejensi seseorang tersirat jelas dari bagaimana dia bicara.

“Bukan hanya Profesor Gianna, hampir semua profesor yang kau kenal di Raville, mengajarkan sesuatu yang lebih pro dan berbeda di kelas kita nanti.” Daehyun menimpali, seolah tak mau kalah.

Himchan menatap Daehyun dengan tak ramah, kemudian ia kembali bicara. “Dari semua profesor yang akan mengajar, mungkin aku harus memperingatimu soal dua profesor yang terkenal akan keangkerannya.”

“Ah benar, benar!” Daehyun mengangguk dan menepuk tangannya pertanda setuju. Maniknya berbinar seolah Himchan baru saja mengatakan sesuatu yang sangat penting yang hampir dilupakannya.

“Profesor Lee dan Profesor Levi. Kau harus khawatir jika kau suatu saat berurusan dengan mereka. Profesor Levi adalah salah satu yang mengajarkan pertahanan terhadap ilmu hitam, sekilas kau dapat melihatnya tanpa cela, tapi percayalah kau tidak akan mampu meniliknya lebih lama lagi karena tatapannya yang mematikan.”

“Sampai seperti itukah?” Tanya Yuri polos. “Aku tidak pernah takut dengan tutorku, Profesor Albus adalah satu-satunya yang kutakuti. Itu pun karena kharismanya.”

“Wah, kau tidak akan bicara seperti ini jika kau bertemu langsung dengannya.” Daehyun menimpali. “Dia selalu memakai topi besar seperti yang dipakai koboi-koboi dari selatan. Ia tidak pernah tersenyum dan kau akan selalu mengendus aroma tidak biasa dari tubuhnya. Bahkan dari sabetan angin ketika dia melintas.” Jelas Daehyun, sedikit menakut-takuti.

“Oh,” Yuri mengangguk singkat.

“Profesor Jongsuk, Lee adalah kebalikannya. Sekilas dia bak malaikat, namun sekali dia tidak suka padamu maka kau tidak akan bisa selamat dari kelasnya. Dia tidak banyak bicara dan dia sangat pintar. Ah, aku benci orang pintar.” Daehyun melirik Himchan di akhir kalimatnya. Ia sendiri tengah menggoyangkan tungkainya santai saat bahunya melandai pada sebuah tembok kokoh.

Yuri tidak melakukan apapun selain mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Konon dia adalah orang yang baik, lebih seperti Profesor Haejin di masa lalu.” Himchan menambahkan. Daehyun terbelalak.

“Benarkah itu?”

“Hm, katanya ia berubah setelah adiknya terjebak dalam insiden Raville sepuluh tahun lalu.”

Yuri menyela, “Maksudmu insiden bunuh-membunuh itu?”

“Ya.”

Yuri menelan ludahnya dengan susah payah. “Pasti sangat berat baginya…,” ucapnya otomatis.

“Nah, apa ada lagi yang perlu kau ketahui?” Daehyun bertanya, ia melirik arlojinya sesekali. “Ini sudah hampir waktunya untuk briefing sore.”

“Apa itu briefing sore?” Tanya Yuri.

Yeah, ini semacam upacara pembukaan biasa. Namun kami harus memulainya lagi karena beberapa murid datang terlambat hari ini. Aku tidak bermaksud menyindirmu, tapi terima-kasih jika kau merasa begitu.” Daehyun terkikik pelan. Ia bukanlah tipe seseorang yang bisa berdiri setengah jam sembari mendengarkan ulang semua pidato yang telah ia dengarkan di hari sebelumnya. Wajar bagi Daehyun jika ia mengucapkan kata-kata tadi pada Yuri.

Mengabaikan Daehyun, Himchan mulai bicara dengan lugas, “Pelajar perempuan tidak banyak di sini. Mungkin hanya ada tujuh atau delapan. Jadi kamar kalian berderet di ujung lorong ini, berhadap-hadapan dengan kamar siswa-siswa lainnya. Tidak ada pemisahan gedung untuk siswa pria dan wanita. Dan juga, satu kamar diisi dua orang. Kau cari saja kamar paling ujung, itu milik Suzy Lovegood dan dia sendirian di sana.”

I got it.” Sahut Yuri. Ia bergerak maju menyesari lorong sendirian sementara Himchan dan Daehyun perlahan berputar arah, kembali ke kelas. Lamat-lamat Yuri bisa mendengar suara teriakan Daehyun di belakangnya, “Kita ada pertemuan di aula lantai satu jam empat sore ini, pakailah seragammu dan bawa tongkat sihirmu, Nona Feckleweis!”

.

.

Yuri mendapat tempat berdiri tepat di tengah-tengah. Tidak banyak orang yang hadir di sana kecuali murid-murid kelas khusus. Jumlahnya tepat dua puluh sembilan orang seperti yang dikatakan oleh Himchan dan Daehyun beberapa saat tadi.

Semuanya memakai seragam hitam dengan jubah hitam panjang yang kelepaknya tidak sampai menyentuh lantai. Bahannya begitu halus sehingga Yuri berani bertaruh sekali ia pergi keluar dengan mantel tersebut, maka benda itu akan terbang meninggalkannya dengan segera.

“Kau Nona Feckleweis?” Seorang gadis, lebih pendek dua sampai tiga senti darinya menghampiri Yuri. Matanya bulat dan jernih. Ia tidak terlihat seperti penduduk Rauchsst pada umumnya sehingga Yuri sampai pada kesimpulan bahwa gadis ini mungkin imigran seperti Himchan atau Daehyun.

Kalau Yuri melihat ke sekelilingnya, rasanya memang seluruh murid di sana tidak banyak yang memiliki ciri khas Rauchsst. Wajah mereka sebagian besar berasal dari Asia dengan rambut hitam dan mata kecil yang khas.

“Aku Suzy Lovegood. Oh, aku bukan Asian, jangan salah paham menilaiku.” Yuri tidak bertanya, tapi Suzy seperti sudah memperkirakannya. “Oh, aku Yuri …”

“Aku sudah tahu. Aku yang menyapamu tadi, kau ingat? Tidak ada di ruangan ini yang tidak tahu siapa kau. Seorang gadis muda yang terkenal aneh karena gemar mengoleksi benda antik di dalam rumahnya? Ayolah.” Suzy bicara panjang lebar yang kemudian disambut dengan senyuman tipis dari Yuri.

“Kau mengenalku sampai seperti ini, kau penduduk Rauchsst?”

“Ya,” Suzy mengangguk. “Seorang reporter Rauchsst … nantinya.”

“Nantinya?”

Suzy mengangguk lantas mengeluarkan sebuah kamera kecil yang ia sembunyikan di balik jubah hitamnya. “Ini hobiku. Aku berhasil membawanya kemari dengan cerdik.”

Suzy tertawa. Gadis itu sangat aktif di awal mereka baru saja berkenalan. Bagi Yuri, sosok Suzy bak interpretasi Lionel yang sekarang entah di mana dan sedang apa.

“Aku tinggal di Rauchsst sejak aku dilahirkan. Di sini hampir semuanya berasal dari negeri lain, kadang aku merasa sendiri. Untung kudengar kau juga datang kemari.”

“Ya, kau benar. Aku seperti merasa di dunia lain dengan dikelilingi wajah-wajah asing ini.” Yuri mengusap tengkuknya.

“Ini belum seberapa. Beberapa tutor kabarnya juga bukan asli Rauchsst. Ah, ini pasti efek perbedaan perkembangan zaman. Asia saat ini mungkin tertinggal beberapa langkah soal perkembangan ilmu sihir dibandingkan Rauchsst. Wajar sebagian besar imigran ini menuliskan mantra kuno di soal nomor dua puluh tiga dalam tes.” Suzy menggelengkan kepalanya. Maniknya tertanam sempurna di atas podium yang kosong. “Herannya, mereka bahkan tidak mentolerir hal ini pada pendatang.”

“Mereka?”

“Ya,” Suzy lantas menatap Yuri, “Kementerian dan Highway.”

“Maksudmu Highway, para petinggi Raville?”

“Benar. Oh, tidak termasuk Kepala Sekolah kita. Kau tahu kan itu kesatuan terpisah.”

Yeah.” Yuri mengangguk.

“Kuharap mereka segera dapat membuktikan ramalan itu dan membebaskan kita dari sini. Aku tidak ingin tua di tempat ini. Aku masih ingin jadi reporter.”

“Kita tidak akan selama itu di sini, Nona Lovegood.”

Who knows? Sampai ramalan itu terbukti, kita akan tetap terjebak di sini. Sebagai informasi, kau pasti sudah tahu ini dunia paralel. Segala sesuatu di sini, hitungannya tidak akan sama dengan dunia nyata. Satu hari di sini bisa seminggu di dunia nyata, bahkan setahun di sini berarti selamanya. Aku tidak tahu.”

Riuh tepuk tangan mulai terdengar saat Suzy mengedikkan bahunya. Yuri ikut bertepuk tangan tapi otaknya masih mengawang.

Jika ia berada sekitar tiga sampai empat tahun di sini, maka apa yang akan ia temukan begitu ia kembali ke dunia nyata? Masih adakah rumah klasik kecilnya di pinggir desa atau, masih adakah penyihir tersisa sepertinya?

Lebih buruk lagi,

Masih adakah Lionel untuknya?

.

.

to be continued |

.

.

BAPKYR’S LOUNGE

Yah, pada dasarnya aku lagi kesal. Ini gak main-main lho statistik The Sorcerer’s Diary, tapi yang komen? Duh. Bukannya gila pujian, lagipula gak ada yang nyuruh muji juga kan? Mbokya, setidak-tidaknya meninggalkan sebuah komentar. Apalah susahnya ngetik lima sampai enam kata dibandingkan aku yang ngetik sampai tiga ribu lebih kata.

Masih gak mau komen juga?

Maaf saja, kamu akan di blacklist. Parahnya, mungkin akan berefek ke kembali HIATUS-nya aku dari blog ini. (ATAU PROTECT SEMUA FF PAKE PASSWORD. SEMUA LHO YA, SEMUA.)

Dimohon aja kesadarannya masing-masing.

 

Regard,

bapkyr.

(PS : Aku lagi kesal. Maaf kalau kasar abis)

 

205 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [2nd Page]

  1. zelo berkata:

    Kak nyun ff nya bagus bangeett~_~ aku gk bisa ngomong apa” selain bagus, keren, feel nya.dapet, dll… Semacem speechlees gitu kak wkwkwkw, fighting yo; love you unnie :**

  2. kyuta13nurlita berkata:

    hai kak.. aku sering liat kakak di ifk dan aku dapet rekomendasi dri temen aku tentang ff ini dann yeaaahhhhhh ini keren banget kak. krna aku pencinta ff fiksi.. gak tau mau ngmong apa. DAEBAK!

  3. lia berkata:

    Aq sebenar a kurang kenal sama cast a ;( jadi cemanaaa gitu,, agag bingung jugag lama2,, tapi gag papa lah,, aq baca aj teros,, ntar lama2 jugag ngerti sendiri,,
    “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

  4. sinta dewi berkata:

    seperti ff 2nya nyun yg lain, ini tuh keren bgt.makasih ya nyun dah mau bikin ff2 yg keren2,yg bisa bikin aku ngilangin jenuh disaat lg banyak kerjaan… pokokny keèp writing aja…hwaiting…

  5. Lulu Kwon Eun G berkata:

    haduh makin penasaran… klo di protect gmn nih, sialnya jd reader baru huaaaa..😥
    ide cerita dn tulisannya terllu berharga buat gk d baca..
    hiks
    d part part awal msih tahap pengenalan jg,,, eh pas konflik smoga gk d protect..
    jgn bkin aq gegana kayur
    aq jatuh cinta sm karyamu!! #eaaaaaa hiks hiks😥

  6. Sjelfeu berkata:

    Baru baca ulang nih kak ff nyaaaa
    suka sama cerita sihir ini, udah lama ga main kesini udah update banyak aja hehehe

  7. auraminwoo berkata:

    baru selesai simulasi un langsung buru buru pulang buat baca ff ini, dan hasilnya? bikin aku fresh lagi! thanks!

  8. Ardelia wynne berkata:

    Kak Nyun, lucu banget yg part himchan sama daehyun :))))) pengen langsung lanjut trus abisin bacanya deh

  9. lalayuri berkata:

    Hai kak Nyunn, ff nya keren banget. Dunia paralelnya buatan prof gianna, wah hebat bgt dia, suka deh pas himchan dan daehyun berantem, trus yg prof gianna bilang mereka berdua baru 2 hari tpi udh berantem 5 kali, trus yg daehyun bilang gak suka org pintar truss ngelirik himchan. Pokoknya keren lah kak, sampe speechless aku bacanya

  10. dotha12 berkata:

    Kaknyun anyeong… #senyumtanpadosa

    Aku memutuskan baca ulang FF ini… Krna ini salah satu dri yg pling aku favoritin dri krya kaknyun… BerharapBerharap TOZ jg cepet update. Hahhahaa

    Fighting kaakk utk nyelesain ff yg se-daebak inii….

  11. dotha12 berkata:

    Kaknyun anyeong… #senyumtanpadosa

    Aku memutuskan baca ulang FF ini… Krna ini salah satu dri yg pling aku favoritin dri krya kaknyun… Berharap TOZ jg cepet update. Hahhahaa

    Fighting kaakk utk nyelesain ff yg se-daebak inii….

  12. KakNyun Trash berkata:

    Oh my god oh my god /Le singing svt OMG/
    Duh kaknyun emg the best ff writer ever dah, feelsnya dapet bangeet. Tobat dah tobat aku ka, dulu” baca doang ga komen hehehe. I know that feels ka, kita cape” ngerjain ga di hargain.
    Go to the next part 🚀

  13. HanCheonsa berkata:

    Wow, aku kayak liat harpot indo vers kak.. serius deh, aku suka bangett.. hmm, tapi masih belum hapal sma castnya.. secara pas aku liat teasernya, cast nya itu bejibun yaa.. aku sempat liat kalo ff ini udh ampe chap belasan, tapi baru nemu ni ff sekarang. Padahal aku udh cukup lama tau blog ini..
    Penulisan kakak bagus, berat2 ringan gmnaa gtu. Mudah dimengerti walaupun (lagilagi) susah ngapal castnya.. overall, akuu sukaaa.. hehehe

  14. Puput berkata:

    Wah ini bener bener keren, jarang soalnya ngeliat ad ff yuri snsd ttg fiksi, btw banyak yg bilang vibrance bagus, nanti aku baca ya eon

  15. alia_putri05 berkata:

    wah banyak harry potter mantra aku jadi ke inget sama harry potter bagus banget kak wah aku baca yg diatas berarti ada yg di protect ff nya nanti kalau ada yg di protect aku minta pw nya kirim ke putrialia991@gmail.com makasih kak , fighting bikin kelanjutan nya

  16. Ersih marlina berkata:

    Wow. 1 hari di dunia paralel berarti seminggu di sunia nyta
    pants aja prof. Giana bilang ga mungkin himchan sma daehyun ga tau tmpat2 di dunia pararel
    hampur 2 hari, brarti hmpir 2 minggu kan. Lama jga

    dan da, pnsran di antra rmlan yg menybtkn 3 pljr raville adlahapa yah itu nmnya lupa, pncri kekuatan sorcere hihi. Tpatnya nama2nya, smga yuri bkan trmsuk jstru jdi pnylmat

    ow ow, yuri ada rasa sma lionel, lnjuut. Smngat ka nyun

  17. Ckh.Kyr berkata:

    Aku penasaran sama murid ke-30.
    Itu beneran di culik Witch atau gimana tuh

    Belum juga ditinggal 1 chapter sama Lionel aku udah kangen aja sama dia /plakplak
    Biarpun Lionel temen yg nyebelin tapi Yuri tetap sayang sama dia :—)

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s