THE SORCERER’S DIARY [3rd Page]

The Sorcerer's Diary #3

The Male Teacher, 3rd Page of The Sorcerer’s Diary!

Again, take the popcorn with you.

This page is not available for SIDERS

.

Note : Levi Kard is Seo Inguk

Lionel Dimps is Park Yoochun

Suzy Lovegood is Bae Su Ji

Zelo Russel is Zelo B.A.P

Hansel Duppont is Kim Myungsoo

Kalau menemukan nama asing selain yang kusebutkan di atas, itu OC.

.

.

.

Lionel mondar-mandir di depan pintu besar dengan ukiran phoenix keperakan pada permukaannya. Ia bisa saja mengetuk pintu tersebut dan masuk dengan sopan, tapi niat itu rupanya tidak pernah terlaksana. Sesuatu mengganggunya dan membuatnya tetap berjalan bolak-balik sembari mengingat-ingat sesuatu.

Ia yakin ia lupa soal sesuatu tapi ia tidak tahu apa yang ia lupakan.

Bingung?

Kira-kira seperti itulah gambaran perasaan Lionel saat ini.

“Ehem,”

Suara renta baru saja berdeham di kejauhan. Perlahan sosok sumber suara menampakan diri dari balik kepulan asap putih yang membumbung di depan wajah Lionel. Ia tidak takjub, baginya, begitu kepulan asap itu terlihat saja ia sudah tahu siapa yang akan muncul.

“Apa ada sesuatu yang bisa kubantu, Lion?” Suara serak Gregory—lengkap dengan tubuhnya, menampakkan diri di depan Lionel. Senyum adalah ciri khas yang selalu tertempel secara otomatis setiap Lionel menatap pamannya itu.

“Aku … kemari … ingin bertanya padamu.”

“Hm?” Gregory menelengkan kepalanya selama beberapa detik kemudian kembali fokus pada pemilik iris biru langit kesayangannya tersebut. “Kiranya pertanyaan apa yang jawabannya bisa kupaparkan jawabannya padamu, Lion?”

“Itu masalahnya, Paman.”

“Apa maksudmu dengan ‘itu masalahnya’ ?”

“Aku tidak tahu apa yang ingin kutanyakan.”

“Lho? Lalu untuk apa kau berdiri di sini?”

“Tidak tahu. Aku hanya merasa ada sesuatu yang harus kutanyakan dan aku, mungkin, berpikir kau tahu kiranya pertanyaan apa yang akan kutanyakan. Ini semacam aku telah kehilangan sesuatu dan aku berpikir kau mengetahui kalau aku kehilangan sesuatu. Kau mengerti aku, Paman?”

Well, Lion,” Gregory menatap Lion teduh, ia berjalan selangkah lebih dekat dengan Lionel kemudian mengusap tempurung kepalanya dengan penuh kasih. “Maaf tapi sepertinya aku tidak paham, Nak.”

.

.

“Ada apa dengan keponakanmu, Tuan Albus?”

“Oh, kau datang Profesor Levi!”

Tidak bermaksud mengabaikan pertanyaan Levi Kard, Gregory membalasnya dengan alihan topik. Cara tersebut cukup efektif mengingat Levi Kard bukanlah pria yang kerap berpikiran terlalu dalam soal sesuatu yang bukan urusannya.

“Ada apa kau memanggilku? Aku mengorbankan sebuah briefing sore.”

“Oh, maafkan soal waktumu Profesor Levi. Ada sesuatu yang harus aku diskusikan denganmu.”

“Kuharap itu sesuatu yang penting.”

“Aku jamin kau tidak akan pernah kecewa.”

Levi menatap mata biru laut Gregory dengan seksama. “Kau tidak bohong. Jadi berita penting apa ini?”

“Yuri Feckleweis, Zelo Russel dan Hansel Duppont. Kau tentu tahu tiga nama ini bukan?” Saat tiga nama itu belum benar-benar selesai disebut, Levi sudah menggeser kursinya lebih dekat dengan meja besar yang menengahi dirinya dan Gregory. Senyum bangga tergambar jelas di wajah Gregory saat melihat ekspresi tertarik Levi yang demikian.

“Apa mereka membuat ulah?”

“Haha,” Gregory tertawa kecil, “Bukan. Tidak persis seperti itu. Tiga nama ini baru saja berada dalam daftar teratas dari nama-nama yang dicurigai oleh Kementerian. Mata-mataku di sana memberiku kabar demikian.”

“Apa yang mendasari mereka melakukan hal tersebut?”

“Sederhana, perilaku dan latar belakang yang tidak jelas.”

“Bukankah pria muda Duppont ini adalah bangsawan?”

Bekas bangsawan, Profesor Levi. Sejak ibunya dibakar hidup-hidup karena dituduh sebagai penyihir hitam, Hansel dan adik-adiknya tidak lagi bergelar bangsawan. Bahkan mereka hidup sendiri di tengah hutan sampai ayah Hansel meninggal.”

“Bagaimana dengan dua lainnya?”

“Zelo Russel dicurigai kuat karena asal-usul keluarganya yang belum jelas. Rumah penampungan anak tempatnya dibesarkan tidak dapat membuktikan siapa dan di mana orang tua Zelo. Ditambah lagi kemampuan sihirnya yang sukar dikendalikan. Kabarnya ia pernah membuat seseorang buta secara tidak sengaja di usianya yang belum genap lima tahun.”

Levi sibuk mendengarkan. Sekali-dua kali ia melakukan gerakan kecil untuk membuat dirinya nyaman dan terlarut dalam kisah yang diperdengarkan kepadanya. Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Gregory, terakhir ia membuat gerakan sihir di udara dan secangkir kopi hitam serta satu gelas penuh air putih muncul dari sana. Cangkir kopi mendarat mulus di dekat tubuhnya sedangkan gelas penuh air putih berada di atas meja, dekat Gregory.

“Bagaimana dengan Yuri Feckleweis? Semua orang tahu bahwa orang tuanya meninggal saat ia berusia tujuh tahun.”

Gregory mendesis. “Justru itu masalahnya, Profesor Levi.”

Dahi Levi mengerut saat Gregory menguapkan embusan hangat dari mulutnya ke udara.

“Setelah Kementerian melakukan berbagai penyelidikan, baru diketahui bahwa orang tua Nona Feckleweis selama ini, bukanlah orang tua gadis itu sebenarnya. Orang tua aslinya sudah lama mati dan terkubur di bawah onggokan bebatuan di pinggiran sawah, dua mil jauhnya dari perbatasan selatan Rauchsst dengan negeri sebelah.”

Levi hendak membuka mulut lagi namun niat itu ia urungkan karena gerak-gerik Gregory yang sepertinya enggan menghabiskan kalimat tadi dalam satu tarikan napas. Terlihat kini, ia menarik napas kembali dan bersiap melanjutkan kalimatnya. “Dan, kematian orang tua Nona Feckleweis ini menjadi sangat unik.”

“Unik?”

“Ya, mereka dibakar hidup-hidup,”

“Sama seperti Ibu dari Duppont? Well, itu banyak terjadi. Tidak terlalu unik.”

Levi menarik tubuhnya, punggungnya menempel nyaman pada sandaran kursi. Saat itu, Gregory seperti tidak mendengarkan Levi bicara. Ia masih saja sibuk berkisah,

“Abunya dalam gucinya telah diteliti dengan seksama, Profesor Levi, dan terjadi hal mengejutkan.”

“Hal apa lagi yang bisa lebih mengejutkan selain kenyataan bahwa aku ditugaskan penuh untuk mengajar mereka sampai waktu yang tidak ditentukan, Tuan Albus?”

“Kubilang kau tidak akan menyesal mendengar ini,”

“Katakan dengan jelas, Tuan Al—“

“Abu itu telah berusia sedikitnya satu abad, Profesor Levi, satu abad!”

Levi Kard menatap dalam-dalam manik biru laut itu lagi, tidak ada tanda-tanda bahwa Gregory telah berbohong padanya. Mau tak mau ia menelan ludah untuk membuat sedikit tekanan di kepalanya hengkang. Levi Kard menatap kopi hitamnya tanpa ekspresi. Ia tiba-tiba sangat antusias dengan tugas baru yang diembannya.

“Jadi maksudmu, Nona Feckleweis sebenarnya juga telah hidup sejak berabad lalu dan dia sendiri tidak menyadarinya? Bagaimana ini bisa terjadi, Tuan Albus? Bagaimana hal ini bisa luput dari Kementerian selama ini?”

.

.

“Benarkah hal tersebut bisa terjadi?”

Levi mengangguk atas pernyataan tidak percaya dari beberapa rekan tutor yang mengelilinginya. Gianna, Haejin bahkan Jongsuk yang baru datang sudah mendengar keseluruhan info dari bibir Levi tanpa ada yang terpenggal. Berbeda dari pernyataan rekannya kebanyakan, Jongsuk cenderung bersikap santai seolah hal yang baru didengarnya belum terlalu mengejutkan.

“Kita tetap pada rencana awal. Beri yang terbaik dan laporkan perkembangan mereka. Albus menginginkan agar kita dapat menjauhkan mereka dari tangan Kementerian, terutama tiga orang tersebut.” Perintah Levi.

I got it. Tapi bagaimana dengan yang lain? Apa dengan adanya informasi ini berarti yang lain bisa dibebaskan?” Tanya Haejin penuh rasa penasaran. Jongsuk baru saja melewatinya dan menarik sebuah kursi dengan jarak lumayan lebar dari tempat rekannya berkumpul. Jongsuk tenggelam di dalam sebuah buku tebal yang halamannya dapat berganti-ganti sesuai keinginan Jongsuk tanpa ia harus membuka lembar demi lembarnya.

“Gregory memberitahukan dua nama asing yang harus kita perhatikan juga selain Zelo Russel, Yuri Feckleweis dan Hansel Duppont. Dua pendatang baru.”

Gianna melirik Jongsuk sebentar, mencoba memerhatikan perubahan air wajahnya. Wanita itu kembali dengan desahan kecewa karena Jongsuk tidak benar-benar tertarik dengan topik hari ini. Meski ini adalah persoalan penting.

“Jika dua pendatang, kukira aku tahu siapa.” Sahut Haejin. “Jung Daehyun dan Park Chanyeol. Dua idiot itu!”

“Mereka terlalu idiot untuk dicurigai, Haejin. Aku telah memerhatikan dua orang siswa baru dua hari ini. Kim Himchan dan Luhan menarik perhatianku.” Gianna menimpali. Haejin langsung terkekeh pelan, “Bukan karena keduanya tampan bukan, Nona Gianna?”

Shut up, Haejin. Aku serius.”

Haejin masih menggoda wanita itu. Kadang ia sampai harus membuang wajahnya ke lain arah untuk tertawa.

“Nama yang kau sebutkan tadi sempat melintas juga di dalam otakku. Kalian tidak sepenuhnya salah, namun tidak sepenuhnya benar juga. Dua nama yang diamanatkan oleh Gregory padaku adalah,” bagaikan dalam suatu sidang, Gianna dan Haejin terlarut dalam suasana tegang yang dibuat oleh Levi. Tidak biasanya bagi mereka untuk berada dalam percakapan seperti ini di jam-jam kerja, terlebih dengan Levi dan Jongsuk yang berada di tengah-tengah mereka (perlu diketahui bahwa hubungan dua orang ini tidak begitu baik sejak awal). Levi berdeham, lalu ia mulai menyelesaikan kalimatnya.

“Jung Daehyun dan,”

Hening, Levi mengambil beberapa jeda panjang agar audiensnya bisa mempersiapkan diri mereka dari hal-hal mengejutkan.

“Kim Jongin.”

.

.

“Hey kau Jongin, jangan diam saja di depan pintu. Masuk cepat!” Seorang pria dengan kaus kaki kelewat longgar dan rambut pirang yang membuat kesan lusuh pada dirinya terlihat tengah meneriaki seorang pria Asia yang bergeming saja di depan pintu kamar.

Ia melirik lama sekali ke ujung lorong, tepatnya pada sebuah kamar yang penghuninya baru saja keluar.

“Zelo, kau tahu siapa gadis tadi?”

“Siapa yang siapa? Jangan bicara sekarang, masuk dulu dan bicara di dalam.” Ujar Zelo, sedikit keras. Namun Jongin tak lekas bergerak. Zelo mengalah, ia keluar dan melongok ke arah yang dipandangi Jongin sedari tadi.

“Itu kamar Suzy Lovegood. Kau telah berkenalan dengannya kemarin.”

“Satunya. Bukan dia. Ada seorang lagi keluar dari kamarnya barusan.”

“Oh? Maksudmu Yuri Feckleweis?”

Kaki Jongin gemetar kecil.

“Jadi dia? Feckleweis yang sering menjadi bahan perbincangan.”

Zelo mengangguk. “Kurasa ya. Dan dia eksklusif. Mungkin salah satu yang paling dicurigai di antara dua puluh sembilan yang ada di sini. Jangan terlalu dekat dengannya.”

Jongin mendesah lantas menggerakkan tungkainya ke depan. Perlahan, langah demi langkah dititinya hingga ia sampai di sisi pinggir dari kasur dengan seprai putih yang selembut sutra.

“Dia tidak seaneh yang diberitakan rumor.” Komentar Jongin. Zelo mengedikkan bahunya. “Kau tidak akan tahu sampai kau mengenalnya, Jongin. Tapi yeah, dia lumayan. Setidaknya dia memiliki postur yang bagus.”

Zelo merebahkan dirinya di atas kasur lantas fragmen soal keluarganya berkelebat di dalam otaknya. Dia enggan menceritakannya pada Jongin yang baru-baru ini menjadi teman sekamarnya, namun dia tidak acuh, toh semua orang juga cepat atau lambat akan tahu. Bahkan,cepat atau lambat itu mungkin saja sekarang.

“Zelo, kau tahu …,“ Jongin menatap Zelo setelah Zelo menyilakannya. “Kadang aku berpikir kau dan aku mungkin berada di tempat kedua dan ketiga dari daftar nama yang paling dicurigai Kementerian saat ini setelah gadis itu. Tentu kau tahu alasannya sendiri.”

Zelo tertawa, tidak lepas. Ia berguling ke dekat jendela besar lantas meratapi refleksi tubuhnya di depan jendela dengan cahaya lampu yang membias.

“Aku tidak ingin percaya,” manik kelabu Zelo mengawang, “tapi mungkin saja kau benar, Jongin.”

.

.

Sekolah khusus di dalam dunia paralel yang dibuat Gianna memiliki lorong-lorong yang menyesatkan jika seseorang yang tidak diundang secara tidak sengaja masuk ke dalamnya. Bagi mereka yang memiliki kunci dan selalu membawanya kemanapun mereka melangkah, peristiwa ini seakan tidak pernah ada bagi mereka.

Adalah Jongsuk yang berjalan di tengah cahaya rembulan yang membias dari balik jendela-jendela besar di lorong-lorong panjang. Ia tidak membawa kuncinya dan harus berjuang sendirian untuk kembali ke kantornya, di mana ia terakhir kali meninggalkan kunci miliknya.

Rasanya ia sudah berputar selama satu jam dan belum mendapatkan jalan keluar yang sesungguhnya. Hal ini membuatnya sedikit frustasi karena ia mengabaikan hal terpenting; dasar dari yang paling dasar di dunia paralel Raville tersebut.

Sebuah kunci terjatuh di dekat alas kakinya. Jongsuk buru-buru memungut benda tersebut dan mengecek apakah namanya yang tertulis di sana. Labirin-labirin kosong yang sebelumnya ia lihat kini menghilang, menyisakan hanya satu yang benar-benar ada di depan matanya. Di mulut lorong tersebut, berdiri Levi Kard dalam balutan jubah panjang dan topi yang tidak pernah ia lepaskan dari kepalanya.

“Jangan meninggalkan ini lagi, Jongsuk.” Sahutnya. Ada nada peringatan juga kelegaan dalam kalimat Levi. Alih-alih berterima kasih, pemuda yang telah dibantu itu hanya menunduk singkat lantas memutar tubuhnya ke lain arah. Seolah jasa Levi Kard tidak ada apa-apanya bagi dirinya.

“Kita tidak bisa hidup seperti ini, Jongsuk.”

Langkah Jongsuk terhenti saat Levi memanggil namanya, kembali. Tidak berniat mendengarkan, ia hanya mampu bertahan selama dua sekon sebelum akhirnya melangkah kembali.

Itu bukan salahmu, tapi aku tidak bisa berhenti membencimu.

.

.

Gianna membagi cangkir kecil kopi dengan Haejin. Keduanya sama-sama menyesapnya dengan pikiran menerawang. Haejin masih rajin membahas soal siapa yang akan dicurigai selanjutnya oleh Kementerian namun dalam otak Gianna, balutan memoarnya berkelebat dalam topik lain.

“Tadi itu situasi luar biasa.” Kata Haejin. Gianna hampir tersedak karena ia terlalu lama melamun. Tubuhnya ia ringankan sedikit hingga ia terbang di udara. Jarak telapak kakinya dari tanah hanya sekitar sepuluh senti. Itu membuatnya nyaman.

“Apa yang luar biasa?”

“Profesor Levi dan Lee dalam satu ruangan. Tidak seperti biasanya.”

“Oh,” komentar kecil Gianna. Kali ini topik yang dibawa Haejin mulai sinkron dengan apa yang ada dalam otaknya. Pun tetap saja ia tidak dapat banyak berkomentar. Ia sudah mengenal baik Haejin maupun Levi sejak lama. Jadi ia sedang tidak ingin memihak pada siapapun atau berbicara tentang keduanya di belakang mereka saat ini.

“Aku tidak tahu efek kejadian sepuluh tahun silam akan membekas parah di ingatan Profesor Lee.”

Gianna tersenyum tipis, “Sama. Aku juga tidak menyangka.”

“Ah, Gianna, kau dahulu kenal dekat dengan kedua orang itu, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Apa yang membuat Profesor Lee dan Profesor Levi bertindak demikian hingga hari ini?”

Gianna terdiam.

“Ceritanya panjang, Haejin.”

“Tidak apa, kita punya semalaman untuk ini.”

Gianna mulai mendesah panjang. Ia tidak ingin bercerita tapi hati kecilnya berteriak agar bebannya dikurangi. Ia sangat memercayai Haejin seperti ia memercayai Levi atau Jongsuk. Dengan pemikiran matang, ia akhirnya menceritakan sebuah kisah.

Kisah berdarah yang menjadi bibit keretakan persahabatan sepuluh tahun silam.

.

| the flashback |

“Demi keamanan, harap tidak satu pun yang meninggalkan sekolah!”

Suara tersebut bergema dalam kepala Lee Hayi. Setiap nada yang mengalun dari intonasi lembut tersebut seolah mengancamnya lebih dalam setiap ia mengingatnya. Palung matanya sudah jatuh terlalu jauh dalam depresi yang mengambil alih setiap inci kewarasan gadis tersebut.

Seharusnya, jika semua berjalan lancar, hari itu adalah hari kelima setelah kelulusannya. Sebagai murid yang pintar, masa depannya bisa jadi lebih cemerlang daripada deretan piala dan penghargaan besar yang pernah ia terima semasa sekolah. Namun sayangnya, Hayi bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di luar sekolah sejak kelulusannya.

“Tegakkan kepalamu, Hayi! Kuatlah.” Seorang pemuda berbisik di dekatnya. Sosoknya tidak pernah benar-benar ada. Bicara jujur, adalah sebuah kalung dengan liontin berisi foto keluarganya yang baru saja bicara. Suaranya hampir mirip dengan dirinya namun dalam versi yang lebih kelelakian. “Kau pasti bisa melewati ini, aku sedang berusaha mencari cara jadi jangan menyerah!”

Hayi menatap liontin tersebut, nanar. Wajahnya mengguratkan ekspresi jengah dan cuai yang kentara. Seolah telinganya tuli, ia mengabaikan suara kakaknya, Lee Jongsuk.

Tanpa alas kaki, telapak itu berjalan di atas onggokan daging-daging tanpa nyawa. Sebagian sudah berusia lebih dari sehari dan lainnya masih segar. Bahkan beberapa masih bergerak sebelum akhirnya Hayi melemparkan sihir kuat dan membuat tubuh tersebut tak berdaya.

“Hayi hentikan!” Suara Jongsuk lagi-lagi memperingati Hayi. Namun layaknya batu, Hayi bahkan tidak berusaha mendengar sedikitpun. Tongkat sihirnya berayun di udara setiap kali seseorang muncul dan menyerangnya. Suasana akan menjadi semakin gaduh setiap satu tubuh tumbang di depan Hayi.

Lalu Jongsuk akan berteriak lagi dan Hayi akan berontak lagi.

Siklusnya terus terjadi demikian selama satu jam.

Hingga,

Hanya tiga yang tersisa, dari ratusan yang ada.

“HAYI HENTIKAN!”

Jika Hayi adalah batu, maka Jongsuk adalah karang. Ia tidak kenal menyerah meskipun satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah berteriak. Itu pun sesaat sebelum koneksi mereka berakhir. Levi Kard adalah yang bertanggung jawab soal hal tersebut.

“Kau tidak bisa memengaruhi seseorang dari luar. Mereka sudah ditugaskan oleh Kementerian dan tidak satu pun yang dapat menghentikannya, Jongsuk. Sadarlah.”

Jongsuk membanting liontin miliknya yang sekilas, sangat mirip dengan yang Hayi kenakan. Ia menundukkan kepalanya. Isakannya berat dan napasnya tidak ia kelola dengan baik.

“Nyalakan ini kembali, Levi. Adikku butuh bantuanku.” Ujarnya dengan suara dalam yang ia buat tenang—meskipun tidak terdengar kata ‘tenang’ sama sekali dari sana.

“Tidak. Peraturan adalah peraturan.”

“Aku tidak peduli peraturan, adikku ada di dalam sana, Levi! Dia hampir sinting dan aku tidak bisa hanya diam!”

“Jongsuk,” Levi Kard, salah seorang kawan karib dari Jongsuk Lee kini mencoba berbicara lebih lamban dan lembut. Ia harap kawannya itu dapat mengerti konsekuensi dari apa yang ia coba lakukan saat ini. Tidak ada kuasa bagi mereka—yang notabene hanya seorang guru magang biasa—berurusan dengan keputusan mutlak para Dewan Agung di Kementerian dan Highway dari Raville. Tidak ada sama sekali harapan. “Tenanglah dan duduk.”

Tanpa ampun, Jongsuk memberikan bogem mentah di wajah Levi, membuat pria tampan tersebut jatuh ke atas lantai dan hampir tergulung serpihan kayu dari pintu kayu yang ia tabrak. Lelehan cairan keluar dari bibirnya.

Menyeka?

Tidak. Tidak sama sekali.

Tidak ada waktu bagi Levi untuk menyeka darahnya sendiri karena Jongsuk kini mengacungkan tongkat sihirnya tepat di depan hidungnya.

Refleks, Levi mengangkat kedua tangannya, pertanda ia menyerah.

“Batalkan kembali apa yang kau lakukan pada liontinku, Levi. Aku bersungguh-sungguh akan membuatmu tidak berdaya!”

Tangan Jongsuk gemetar, sehingga ia memutuskan menggenggam tongkatnya dengan dua tangan. Levi terkekeh saat itu. Ia menyeka cairan di sekitar bibirnya kemudian memandang Jongsuk serius. “Lakukanlah. Tapi aku bertaruh kau tidak akan berani melakukan apapun.”

“DIAM KAU!”

Cahaya hijau terang menguar dari ujung tongkat Jongsuk, membuat sebuah bara api dengan lidah hijau panas yang menggaruk-garuk udara dan membakar apapun yang melintas di dekatnya tanpa sisa. Namun naas bagi Jongsuk, lidah api hijau tersebut berada satu meter jauhnya dari tempat Levi terjerembab.

Kegagalan?

Tidak juga.

Bagaimanapun, di mata Jongsuk, Levi adalah kawannya.

“Astaga, JONGSUK! HENTIKAN!” Gianna melintas di saat-saat genting tersebut. Namun tongkat sihir Jongsuk menyapanya lebih cepat dari apapun. Lidah api berwarna hijau membarikade posisi Gianna. Ia tidak dapat mendekat pada kedua sahabatnya lebih jauh dari apa yang ia inginkan. Kenyataannya, ia harus puas dengan berdiri di tengah bara api yang memagarinya sambil mencoba mencuri dengar dan mencari tahu apa yang telah terjadi di antara dua manusia di hadapannya.

“Lakukan apa yang kuinginkan, Levi. Aku tidak pernah memohon padamu, jadi kabulkanlah satu permohonan kecil ini. Demi adikku, demi adikku yang sedang ada dalam bahaya. Jika tidak …,”

Jongsuk tidak dapat meneruskan kalimatnya sedangkan Levi menohok matanya pada sebuah area kosong di dekat kaki Jongsuk. Matanya menerawang kosong. Levi memikirkan beberapa pertimbangan saat Jongsuk menangis putus asa di depannya. Itu adalah kali pertama ia melihat kawannya menangis sejak bersahabat sekian lama, dan itu wajar.

Adiknya berada dalam satu adu nyawa yang tidak bisa ia elakkan mengingat hal tersebut adalah perintah Kementerian. Dan saat-saat seperti ini adalah yang paling ditunggu, dimana hanya ada tiga orang yang tersisa dari ratusan yang ada. Judulnya berubah dari ‘siapa penyihir hitam dan pembunuh Riddick?’ menjadi ‘siapa lagi yang akan membunuh siapa?’. Sebagai seorang kakak, Levi paham betul apa yang ada di dalam benak Jongsuk saat ini.

Satu yang menghambat otak Levi kala itu.

Sebuah kata singkat namun sarat makna.

Tapi

“Jongsuk, peraturan adalah peraturan. Jika aku membantumu, aku mengkhianati Kementerian dan aku menyalahi peraturan. Tidak, ini tidak bisa terjadi sesuai keinginanmu, Jongsuk. Berharap saja semoga Hayi-mu baik-baik saja. Aku … Aku tidak bisa membantu.”

| end of flahsback |

“Lee Hayi menjadi orang pertama yang terbunuh di antara tiga yang tersisa. Kondisinya sangat parah, ketika Kementerian ke arena, tubuhnya tercerai-berai. Bahkan beberapa mengatakan ada bagian-bagian yang hilang entah kemana,”

Gianna mengakhiri ceritanya dengan ending dramatis. Haejin tidak bisa melakukan apapun selain bergidik ngeri dan setengah tidak percaya. Lantas ia memutar-putar sebuah pena kecil yang sedari tadi ada di tangannya. Haejin menggoreskan tinta dari pena yang ia genggam, tepat di udara kosong. Tinta itu kemudian mengurai bak kehilangan gaya tarik bumi, kemudian perlahan membentuk suatu kata penuh makna.

“Lalu,” Haejin memandang goresan tintanya kemudian tanpa memandang Gianna, ia mulai melanjutkan kalimatnya. “Apa yang terjadi dengan Jongsuk setelah itu?”

Gianna menghela napas, setengah lelah. Bahkan untuk membayangkan dirinya kembali ke sepuluh tahun silam saja sudah sangat berat bagi Gianna. Haejin sempat berpikir, “Jika Gianna saja bisa sampai depresi seperti ini, bagaimana Jongsuk?”

“Jongsuk hampir membakar kepala Levi dan Levi hampir mati karenanya. Jongsuk juga hampir dipenjara karena tindakannya setahuku. Well, sejak saat itu hidupnya dipenuhi kata hampir. Ia juga melakukan banyak hampir yang lain.”

“Itu menjelaskan banyak. Ia termasuk hampir tidak pernah bicara banyak juga dengan kita.”

Gianna menarik kedua sudut bibirnya ke atas, sebagai sopan santun.

“Apa yang membuat Jongsuk tidak dipenjara. Setahuku membakar baju tutor lain saja dampaknya sudah sangat berat. Seperti katamu, Jongsuk dalam kasus ini, hampir membakar Levi. Jadi, apa yang terjadi?”

“Kurasa, itu yang membuat hubungan mereka menjadi aneh. Bekas luka bakar masih sedikit tersisa di kepala Levi … “

Well, itu menjelaskan banyak soal kenapa ia selalu menggunakan topi koboinya di segala suasana.” Haejin menyela, maksudnya ingin membuat sebuah lelucon kecil. Namun ia berdeham canggung karena selanjutnya, Gianna memandanginya dengan tatapan kesal, “Oke, maaf.”

Gianna mendesah.

“Levi menghubungi Kementerian dan membuat kesaksian palsu soal kejadian malam itu. Levi bilang dialah yang lalai dan hampir terbakar api hijau malam itu. Levi tidak mengatakan apa-apa soal serangan yang ia terima dari Jongsuk.”

“Itu aneh untukku. Bukankah seharusnya Jongsuk merasa sangat beruntung memiliki teman sebaik Levi? Mengapa ia bertingkah seolah pemuda itu adalah sumber malapetakanya?”

“Ini kompeks, Haejin. Jongsuk bukan tipe pemuda yang dengan gampangnya menerima bantuan dari seseorang yang seharusnya ia benci. Kenyataan bahwa Levi telah membantunya sekali, maka ia akan semakin membencinya.”

Haejin menerawang, mengangguk lantas menggaruk kepalanya. “Dia sangat rumit, aku setuju denganmu.”

.

.

.

| To be Cont. |

.

.

Kindly review then? 

108 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [3rd Page]

  1. Retha Lee berkata:

    oya aku baru sadar kak. pas liat tanggal updatenya chapter ini. bertepatan dengan ultah aku 7 april wkwk *gananyaces
    dan hadiahnya adalah handsome male teachers wkwkwk. jungsuk aja cukup sih hihi

  2. KakNyun Trash berkata:

    Finally guru” ganteng muncul. Andai sekolah guru”nya kek mereka, damai hidup anakmu ini bu. Tpi aku liat balik teaser, di situ leehi jdi rosemary. Well mungkin itu next chapter kali yah
    Kek biasanya feelsnya dapet banget, Tulisan kaknyun jadi gabikin orang bosen.

    Go to the next chapter, bbyong ✈

  3. HanCheonsa berkata:

    Aku yakin banget,seperti biasa semua yg kakak tulis ini pasti berhubungan.. tapi aku bahkan ga bsa nebak gmna ending cerita ini.. biasanya, terlalu mudah utkku menebak ending sebuah cerita, tapi aku sama sekali engga bakat menebak ending dri setiap cerita yang kakak buat.. hmmm, lagi lagi, aku sukaaaa

  4. alia_putri05 berkata:

    tambah seru kayak nya bentar lagi part nya ada yg di protect nih aku mah sabar aja ya liat komentar aku di part sebelum nya ya kak aku minta pw ff ini oke gomawo kak fighting!!!!!!!!

  5. Ersih marlina berkata:

    Ada myuungsoo , suka suka suka
    mksd albus blang ke yuri, banwa skrang hidupnya penuh dngan kecurigaan apa sih ?
    Dan lucu bca nama suzy, lovegood hihi
    masih bnyk rahasia yg blum d mngerti, lanjuut . Smngat ka nyun

  6. Ckh.Kyr berkata:

    Gianna suka sama Jongsuk ya?:o
    Apa alasan kenapa Daehyun sama Jongin jadi orang yang paling dicurigai? Aku penasaran ;3;

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s