THE SORCERER’S DIARY [4th Page]

 

The Sorcerer's Diary #4

Here it comes the 4th Page : Classmates!

.

ps : Suzy Lovegood is Bae Su Ji

Zelo Russel is Zelo B.A.P

Hansel Duppont is Kim Myungsoo

Levi Kard is Seo Inguk

(if you find more strangers, they are definitely OC(s).)

.

.

“Kau Zelo Russel?” Zelo mengangguk pasti ketika seorang pemuda yang lebih pendek darinya mencoba memberikan beberapa paket modul. Zelo membaca nama yang tertera di nametag jubah hitam panjang pemuda tersebut.

“Oh Sehun?” Tanyanya. Zelo kemudian mendongak, mendapati manik kecil dari pemuda yang kini menatapnya. “Nama yang bagus.” Kata Zelo kemudian.

Pemuda Oh Sehun itu hanya tersenyum singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya—membagi-bagikan beberapa paket modul. Zelo Russel duduk di lajur paling depan tepat di tengah. Yang mengapitnya adalah seorang gadis belia yang kepribadiannya sukar ditebak karena ia hampir tidak pernah bicara—Zinni Porte, dan seorang pemuda dengan figur serta proporsi wajah yang terkesan tangguh, Bang Yongguk.

Zelo tidak mengenal banyak selain nama-nama tersebut ditambah Oh Sehun yang baru ditemuinya serta Kim Jongin, teman sekamarnya. Namun Zelo sudah tahu orang-orang yang sepertinya akan menjadi ancaman terbesar untuk eksistensinya.

Salah satunya, Yuri Feckleweis.

Ia tidak suka gadis itu. Tidak suka tanpa alasan.

Bel berdentang. Berasal dari lonceng layaknya berabad silam, tak lantas memuaikan seluruh semangat dua puluh sembilan orang yang tengah duduk sopan di kursi masing-masing. Mungkin beberapa masih terlihat malas-malasan karena pola tidur yang tidak benar, namun sebagian besar menunjukan kuriositas dan antisipasi tinggi untuk kelas pertama mereka di sekolah-paralel-Raville ini.

Muncul tiba-tiba dari balik gumpalan asap di depan kelas kemudian adalah Lee Jongsuk. Tidak terlalu mengejutkan bagi audiens yang ada, mengingat, bukan kali pertama mereka menyaksikan pertunjukkan semacam itu di pagi hari.

Tanpa mantra yang dirapalkan terlebih dahulu, tahu-tahu spidol hitam bergerak-gerak di permukaan papan tulis putih. Spidol itu bergerak di bawah perintah Lee Jongsuk yang pada saat bersamaan, menggerakkan telunjuknya di udara, menggores-goreskan sesuatu.

Saat sebuah kalimat muncul di papan tulis putih, itu adalah saat di mana tangan Jongsuk berhenti bergerak.

“Ini namaku.” Katanya singkat. Tentu saja yang ia tuju dalam kalimatnya adalah dua buah kata singkat di atas papan tulis.

Tidak berniat membuat impresisasi yang berlebihan, kini ia mulai memunculkan setumpuk kertas di atas podium kecil tempatnya berdiri.

“Ini hasil tes ujian masuk Raville yang dituliskan oleh kalian. Seharusnya aku merahasiakan ini, tapi kurasa itu tidak adil,” katanya. Jongsuk mulai menerbangkan satu demi satu kertas ke udara lantas sejurus kemudian, seolah tahu siapa pemiliknya, kertas tersebut jatuh di atas meja masing-masing murid Jongsuk yang masih terperangah.

“Apa semua sudah mendapat kertas hasil ujiannya masing-masing?” Kalimat tanya tersebut direspons baik oleh bibir-bibir muda yang duduk di balik meja kayunya masing-masing. Jongsuk mengedarkan pandangannya, tanpa senyum.

“Adakah yang merasa telah mendapatkan nilai hampir sempurna?”

Hening adalah jawabannya. Dua puluh sembilan kepala saling menoleh satu sama lain walaupun tidak jarang yang saling belum mengenal. Sebagian tertunduk di atas kertasnya dan menghindari picingan mata Jongsuk. Yang masih berani menatapnya, bisa dihitung dengan jari.

“Tidak ada? Apakah tidak ada sama sekali yang merasa mendapat nilai hampir sempurna?” Jongsuk ingin memastikan sekali lagi. Saat itu dua tangannya membuat pilar di atas podium bagi tubuhnya yang jangkung. Tidak tersenyum, ia masih mempertahankan ekspresi demikian di depan murid-muridnya.

“Apa benar tidak ada?” Jongsuk bertanya kembali. “Well, aku benar-benar kecewa …”

“Aku, Profesor. Kurasa itu aku.”

Seorang pemuda berdiri. Tidak ada kalimat tergagap-gagap dari bibir pemuda tersebut meskipun ia berdiri tanpa perintah dari seorang Lee Jongsuk. Wajah pemuda yang baru saja membuat seluruh perhatian padanya tadi terkesan datar, tidak ada kebanggaan berlebih, namun ia sangat percaya diri bahwa ia adalah yang dimaksudkan oleh Lee Jongsuk.

“Luhan? Itu namamu bukan?” Lee Jongsuk memandangi pemuda tampan tersebut. Rambutnya dicukur bak tempurung, rapi dan sangat cocok dengan wajahnya yang bulat. Sekilas, jika ia tidak mencoba menghilangkan poninya, Jongsuk sudah akan salah mengira pemuda tersebut adalah seorang gadis belia.

“Benar, Profesor.” Sahutnya.

Segenap kelas memandanginya. Sebagian takjub dan sisanya berseloroh tidak percaya.

“Berapa nilaimu?” Tanya Jongsuk.

“95, Profesor.”

“Apa kau yakin nilaimu hampir sempurna di antara semua yang ada di sini?” Jongsuk kembali menguji pemuda tersebut. Tapi Luhan bahkan tidak gentar sedikitpun. Ia mengedarkan pandangannya untuk memastikan ekspresi dari dua puluh delapan orang yang lain, lantas ia mengangguk pasti. “Ya, Profesor.”

“Baiklah. Tetap berdiri di tempatmu, sekarang coba kuganti pertanyaannya. Siapa yang merasa nilainya buruk sekali?”

Yuri sempat bimbang. Ia ingin mengangkat tangannya ketika melihat angka 75 besar-besar di selembar kertas yang teronggok di atas mejanya, sayangnya, niat itu terabaikan begitu saja saat Suzy Lovegood dan seorang pemuda di sisi lain berdiri serentak.

Keduanya saling bertatapan bersekon-sekon lamanya.

“Dua orang?” Kata Jongsuk. “Sebagai informasi, dalam kelas ini, tidak satupun murid yang memiliki nilai sama satu sama lain. Jadi apa maksudnya ini?”

Suzy Lovegood mengangkat kertasnya tinggi-tinggi. Tidak dengan tangan, sihir sederhana menerbangkan benda ringan, baru saja dirapalkannya. Ia menerbangkan kertas itu hingga jaraknya hanya beberapa senti dari Jongsuk.

“45?” Jongsuk meliukkan alisnya. “Mukjizat besar kau bisa masuk Raville hanya karena soal dua puluh tiga. Dan kau, berapa nilaimu?” Jongsuk mengalihkan perhatiannya pada sosok pemuda di sisi lain dari Suzy. Jika Jongsuk tidak buru-buru mengalihkan perhatian murid-muridnya dari nilai Suzy, sudah pasti pekik tawa tertahan tersebut akan segera meledak dan membuat gaduh kelasnya.

“Empat … Empat puluh dua.”

Suzy menutup mulutnya tidak percaya. Baru pertama kali rekor nilai terendahnya semasa ia menuntut ilmu bisa dikalahkan. Suzy bukan tipe gadis yang selalu lekat dengan tulisan di tercetak di buku-buku sihir tebal. Ia praktikal. Dan ujian tertulis tentu saja kelemahannya. Suzy sudah tahu diri sejak awal kalau-kalau mungkin saja ia adalah murid terbodoh di kelas tersebut.

Kenyataan bahwa ada yang lebih bodoh lagi darinya, di luar perkiraan gadis tersebut.

“Siapa namamu?” Jongsuk bicara sedikit lebih nyaring karena kelasnya mulai gaduh.

“Jung Daehyun.”

“Oh,” Jongsuk memijit dahinya. “Nona Lovegood, kau bisa duduk.”

Suzy menelengkan kepalanya pada kursi yang diduduki Yuri, ia membagi tatapan leganya sekilas dengan gadis itu kemudian segera duduk dan memusatkan perhatiannya kembali ke depan kelas. Tepatnya, pada picingan apik Lee Jongsuk.

“Jadi,” Jongsuk menatap Daehyun lekat, “Kau yakin tidak ada yang lebih rendah lagi dari nilaimu yang sekarang?”

“Kurasa … “

“Kau hanya memiliki ya dan tidak, Daehyun.”

“Ya?”

“Ya?”

“Ya. Maksudku, yeah, Profesor.”

“Baiklah. Jadi kita telah memiliki dua orang dengan nilai kontras hari ini. Apa yang bisa terjadi sekarang? Hm…,” Jongsuk menatap keduanya—Daehyun dan Luhan—dalam keheningan panjang. Maniknya bolak-balik bertumbuk dengan masing-masing iris mata dari kedua murid yang berdiri bingung di samping meja mereka masing-masing. “Oke, lakukan ini.”

Jongsuk menepukkan telapak tangannya setelah ia berpikir keras. Kini ia merangsek maju dan keluar dari podium kecil. “Luhan, katakan sesuatu pada Daehyun.”

“Eh? Maaf, Profesor?”

“Katakan sesuatu.”

“Tapi apa yang harus kukatakan?”

“Semuanya. Tentang bagaimana perasaanmu mendapat peringkat tertinggi di kelas dan apa kesanmu terhadap nilai Daehyun. Katakan sejujur mungkin. Aku ingin mendengarnya.”

Gaduh. Itu yang pertama terjadi saat Jongsuk menyelesaikan kalimatnya. Luhan beberapa kali mengedarkan pandangannya tak percaya ke sekelilingnya. Mungkin ia berharap mendapatkan bantuan dari seseorang, tapi nyatanya, ia sendiri.

Manik Jongsuk seolah mengintimidasinya.

“Tapi Profesor, itu … agak …“ Luhan terbata.

“Kasar?” Jongsuk melanjutkan. Ia menggelengkan kepala dengan tak banyak ekspresi yang tergores di wajahnya. “Katakan saja. Atau kau harus rela menerima hukuman dariku di hari pertamamu yang mana sangat disayangkan mengingat kau adalah murid yang pintar.”

“Prof … “

“Katakan atau keluar dari kelasku sekarang, Tuan Luhan.” Jongsuk mulai menyudutkan Luhan. Pemuda itu merasa dirinya sangat kecil di depan Jongsuk. Percaya tidak percaya, akhirnya ia mengatakannya juga, sebuah kalimat kasar yang tidak pernah ia bayangkan bisa keluar dari bibirnya sendiri.

“Tidakkah itu memalukan, Daehyun? Berada di posisi terendah dari hanya dua puluh sembilan yang ada? Dan kau masih berani menunjukkan … “ Luhan terkesan ragu melanjutkan kalimatnya, namun manik Jongsuk tidak membiarkan itu terjadi. Dengan sekali lagi ludah yang ia telah susah payah, Luhan melanjutkan kalimatnya. “Dan kau masih berani menunjukkan sifat burukmu di depan umum. Kau masih berani menjelek-jelekkan dan membenci mereka yang kau anggap pintar hanya karena apa? Kau tidak pintar? Bagus sekali, Daehyun. Sekarang lihatlah aku dan lihatlah apa yang kudapat. Sementara bandingkan dengan apa yang kau dapat di kertas lusuhmu itu. Tidakkah kau tahu seberapa besar jarak antara kita? Tidakkah kau paham mengapa kau bersekolah? Jangan tunjukkan wajah itu padaku. Harap jangan lagi bicara padaku. Kau hanya akan mempermalukan eksistensiku dengan berada sekelas denganmu, Tuan Daehyun. Mempermalukanku. Sangat.”

Luhan menarik napasnya dengan tergesa-gesa. Maniknya mulai berair. Tidak disangka, kalimat tersebut mencuat juga dari bibirnya dengan lancar. Malah lebih panjang dari apa yang ia perkirakan. Jongsuk menatapnya, puas.

Daehyun di sisi lain kini termenung. Kepalanya tertunduk dan tangannya mengepal. Rambut blondenya berkilauan diterpa cahaya yang tiba-tiba membias dari balik jendela, pertanda matahari mulai naik perlahan di dunia paralel tersebut.

Yuri adalah gadis yang terdekat dengan meja Daehyun saat ini dan tentu ia sama terkejutnya dengan Daehyun. Mendengar seseorang mengejek kemampuan otak orang lain di depan umum—meskipun dalam konteks ini, Luhan dalam kondisi terpaksa—adalah sesuatu yang sangat memalukan.

Yuri tidak pernah merasa serendah Daehyun pun setinggi Luhan, tapi ia paham betul bagaimana perasaan keduanya saat ini. Yang tidak ia mengerti justru soal,

Apa yang dipikirkan Jongsuk sebagai tutor?

“Oke, bagus sekali.” Jongsuk berdeham, “Ada yang ingin kau katakan, Daehyun? Kau bisa mengatakan apa saja sekarang.”

Daehyun menatap Luhan yang kini tampak kehilangan kepercayaan dirinya. Ia tentu memiliki banyak emosi yang meluap-luap. Alih-alih mengiyakan atau menyambut baik tawaran Jongsuk, pemuda tersebut memilih diam seribu bahasa sembari menggelengkan kepala.

“Oke. Daehyun dan Luhan, silakan kalian maju dan berdiri di sisi kananku.” Tanpa banyak protes, keduanya melangkahkan tungkai mereka menuju sisi kosong di area kanan Jongsuk. Tanpa bertatapan, keduanya menatap kosong pada kawan-kawan yang duduk di hadapan mereka.

Jongsuk tersenyum sebentar. Lantas maniknya bertumbukkan dengan Kim Himchan yang sedari tadi duduk dengan gelisah di kursinya.

“Kim Himchan, majulah. Dan kau juga, Bang Yongguk.” Perintah Jongsuk. Entah dari mana Jongsuk tahu nama-nama muridnya dengan detail. Untuk beberapa poin, hampir sebagian besar muridnya merasa Jongsuk memanggil orang secara acak.

Kenyataannya,

“Himchan dan Yongguk, kenapa kalian berbohong?”

Diberi pertanyaan seperti itu. Dua orang tersebut yang kini berdiri di sisi kiri Jongsuk, menundukkan kepala. Kasak-kusuk mulai ramai di antara murid-murid yang lain, termasuk di antara Oh Sehun dan Kim Minseok yang duduk di barisan paling akhir dari meja-meja yang ada.

Tak ada jawaban, Jongsuk mulai menerbangkan kertas ujian Yongguk dan Himchan kemudian menunjukkannya di depan kelas. Zelo yang berada di baris depan dari meja, bisa membaca angka 99 dan 100 di kertas tes mereka. Nilai hampir sempurna, bahkan melebihi nilai dari Luhan yang tadi sempat mengaku bahwa dirinya adalah murid dengan nilai sempurna di seluruh kelas.

Yuri berpandang-pandangan tidak sengaja dengan Kim Jongin, pemuda di sebelahnya.

Lantas ia terbatuk dan buru-buru memutus pandangan penuh energi dan kesan mendalam tersebut.

Jongsuk memanggil sebuah nama lagi, seorang pemuda lagi. Tubuh jangkungnya melengang santai saat namanya disebut. “Park Chanyeol. Nilaimu Tiga puluh. Lebih rendah dari Jung Daehyun.”

Jongsuk menatap nama-nama yang sudah ia sebut satu per satu. Ia berjalan, di depan mereka yang berbaris dengan perasaan kalut dan malu. Jongsuk tidak melakukan hal lain di samping itu dan jujur saja, bagi Himchan dan Yongguk, hal tersebut adalah hal menakutkan yang pernah ia tahu.

“Kalian boleh duduk sekarang.” Katanya pada akhirnya. Jongsuk membiarkan murid-murid berbisik gaduh sekali lagi. Ia memijit dahinya kemudian menatap seluruh kelas dengan tatapan penuh makna.

“Kalian tidak boleh seperti ini. Sama sekali tidak boleh.” Urai Jongsuk. Kegaduhan mereda. Semakin senyap malahan ketika ia mulai menunjukkan ekspresi seriusnya. “Ketidakjujuran adalah salah satu yang aku kecam di kelasku. Meskipun aku membenci kebodohan, kejeniusan yang tanpa batas diiringi egoisme tinggi adalah hal yang lebih kubenci lagi. Katakan apa yang ingin kau katakan, tapi pertimbangkan juga kata-kata yang mungkin tidak ingin orang lain dengar dari mulutmu.”

Jongsuk memandang sosok Luhan yang masih terpukul di balik mejanya. “Mencaci dan menjelekkan seorang rekan hanya karena kau berada di bawah tekanan, itu bukan sifat dasar seorang sorcerer. Pikirkan jika hal ini terjadi di dunia nyata saat rekanmu sedang dalam bahaya, akankah kau menjadi seorang pengkhianat dan mengorbankan rekanmu sendiri?”

Luhan termenung. Sama termenungnya dengan seisi kelas.

“Menyembunyikan kemampuan hanya karena tidak ingin menjadi sorotan, itu juga bukan sifat sorcerer,” kali ini targetnya Yongguk dan Himchan. “Bagaimana jika kemampuanmu menjadi penolong dan penyelamat ratusan jiwa di suatu hari? Akankah kau masih menyembunyikannya dengan alasan tidak ingin menjadi sorotan?”

Jongsuk menghela napas.

Maniknya kini menatap Park Chanyeol. “Kebodohan bukan sifat. Itu penyakit. Penyakit dapat disembuhkan dengan cara-cara yang benar. Suatu hari, mungkin saja kebodohanmu bisa membunuh teman-temanmu. Tidak ada yang tahu. Untuk itu kau harus disembuhkan.”

Park Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak mampu berkata-kata seusainya Jongsuk memberi penjelasan.

Manik Jongsuk pada akhirnya tertanam sempurna di orang terakhir. Jung Daehyun. Berbeda dari tatapan galak dan setengah emosi tadi, binar mata Jongsuk cenderung teduh ketika ia melihat Daehyun.

“Kau,” katanya. “Jangan lagi bersikap seperti itu. Orang baik memang dibutuhkan, tapi terlalu baik akan membunuhmu. Lakukanlah sesuatu dengan cara yang benar ketika seseorang menindasmu. Kau tidak bisa diam saja. Dan mulai sekarang, berhenti membenci orang yang lebih pintar darimu. Kau tidak akan tahu kapan mereka bisa membantumu, Daehyun.”

Yuri menangkap kesan luar biasa saat Jongsuk bicara. Layaknya Gregory yang selalu menjadi figur favorit baginya, ia rasa bahwa Lee Jongsuk ini mengisi suatu ruang sempit yang membuka hatinya lebar-lebar. Kata-katanya menyejukkan, bagai memberi es pada tubuh berkeringat.

Kalimatnya padat dan berisi. Penuh dengan makna dan praktikal. Seolah Jongsuk ini sudah memerhatikan setiap muridnya jauh sebelum mereka berada di kursi ini. Dan itu patut diacungkan jempol.

Hal yang sama terjadi pada seluruh murid di kelas tersebut. Pesona Jongsuk adalah sesuatu yang tidak bisa dilampaui beberapa tutor yang pernah mengajar di kelas normal di Raville. Dan itu yang patut disyukuri.

Setidaknya berada di kelas khusus, tidak begitu buruk.

“Hal yang sama berlaku pada setiap orang dari kelas ini. Apa kalian sudah mengerti?” Jongsuk menutup pidatonya.

“Ya, Profesor.” Sahut muridnya serentak.

Jongsuk saat itu akan berbalik dan mulai menulis sesuatu di papan tulis dengan sihirnya. Namun ia ingat sesuatu.

“Karena aku benci dengan ketidakjujuran, maka aku juga akan jujur soal sesuatu.” Jongsuk membagi pandangan itu lagi, pandangan yang selalu menjadi tanda tanya besar bagi murid-muridnya. Terlebih, pandangan tersebut beberapa kali berhenti di Yuri Feckleweis dan empat pemuda di sekitarnya.

“Jangan lupakan alasan kalian berada di tempat ini. Kalian dicurigai Kementerian sebagai inang dari Dark-Witch dan ini bukan rahasia lagi. Namun Kementerian baru-baru ini mengirim informasi. Mereka mengirimkan lima nama yang sudah mereka curigai sebagai inang Dark-Witch,”

Suasana menjadi lebih tegang dari yang seharusnya.

Jongsuk sudah diperintahkan untuk menutup berita ini rapat-rapat tapi bukan Jongsuk namanya jika ia mematuhi peraturan.

“Zelo Russel, Hansel Duppont, Jung Daehyun, Kim Jongin dan Yuri Feckleweis, kalian berada dalam daftar tersebut. Harap berhati-hati. Highway Raville tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian jika kecurigaan itu benar adanya.”

Dalam sekejap, lebih ajaib dari sihir, semua manik tertuju pada lima orang yang namanya baru saja diucapkan oleh Jongsuk. Zelo dan Jongin sudah pernah membicarakannya dan mereka tidak terlalu terlonjak akan hal tersebut. Lain hal dengan Daehyun dan Yuri. Keduanya tidak sengaja saling bertemu-tatap dan diam seribu bahasa.

Pikirannya dipenuhi rasa-rasa yang aneh. Jika sebelumnya mereka mengagumi sosok Jongsuk, kini rasanya keduanya ingin mengutuk pria tersebut cepat-cepat.

Dan Hansel Duppont?

Dia pemuda pendiam yang karakternya sukar ditebak. Bahkan ketika mendengar berita tersebut, ekspresinya datar, sedatar ekspresi yang dibuat Jongsuk.

Belum selesai keterkejutannya, Jongsuk melanjutkan kalimatnya. “Dan di antara lima nama yang kusebut tadi, peringatan keras dan perhatian terbesar jatuh pada satu nama saja. Dan aku tertarik untuk memberitahukannya pada sang pemilik nama,” Jongsuk memandang seseorang yang masih mengatur napas di balik mejanya. Hening.

Hening tercipta saat semua manik mengikuti ekor mata Jongsuk bermuara.

“Kau menduduki peringkat pertama sebagai orang yang paling dicurigai Kementerian. Selamat, Nona Feckleweis!”

.

.

“Ini sinting.” Suzy Lovegood duduk di meja kosong yang berada tepat di depan meja Yuri saat break pertama dari keseluruhan jam mengajar di hari tersebut. Seusainya Jongsuk memberi informasi mengejutkan, beberapa orang saling memandang penuh makna pada Yuri, sebagian mengiba dan sisanya penuh ketakutan. Mungkin, bagi Yuri, hanya Suzy ini yang terkesan biasa saja baginya.

“Meskipun aku tahu kau mungkin adalah orang yang paling dicurigai di sini, tapi tetap saja! Ini sinting. Guru itu sedikit tidak waras.” Suzy bicara lagi, kali ini penuh binar ketidakpuasan akan hal-hal yang menurutnya tidak benar.

“Menurutku,” Yuri merapikan buku-buku di atas mejanya. Tumpukan itu kemudian sudah berjajar rapi di dalam loker kecil yang tersimpan di balik mejanya, sejurus kemudian. “Dia sudah melakukan hal yang terbaik dalam kondisi ini. Setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.”

“Tapi itu tidak benar untukku. Nah, sekarang kau rasakan sendiri, beberapa orang mulai memandangmu dengan cara yang berbeda bukan?”

Yuri menarik kedua sudut bibirnya ke atas. “Itu tidak masalah untukku. Aku, entah bagaimana, sudah terbiasa.”

Suzy berdecak, “Kau agak aneh.”

“Kurasa kau malah sudah tahu itu sejak awal.”

“Memang, tapi aku tidak tahu kau akan seaneh ini.”

Yuri tersenyum tipis lantas berdiri untuk meregangkan tubuhnya. Saat itu ia menangkap beberapa pasang mata yang menatapnya keji, juga aura-aura yang sama mencekamnya dengan aura yang pernah ia rasakan saat kematian kedua orangtuanya sepuluh tahun silam.

Penasaran, Yuri mencoba mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan kelas yang masih dijejali rekan-rekannya. Tidak ada yang aneh. Benar-benar tidak ada.

Namun hawa tidak menyenangkan itu masih ada di sana, bahkan ketika Yuri menahan napasnya dan terbatuk keras.

 

.

.

“Ada apa, Gianna?” Levi tengah menyelesaikan sebuah silabus besarnya saat Gianna tiba-tiba menerobos masuk ruangannya tanpa peringatan. Tubuh dan wajah gadis itu tidak berubah meski tahun demi tahun telah berlalu. Bahkan suara terengah dan panik dari wajahnya tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun.

“Levi ini gawat.” Levi menunggu lama untuk kalimat ini namun Gianna hanya mengatakan tiga patah kata untuk membayar semua waktu Levi yang sudah terbuang percuma tadi. Levi mau tak mau meliukkan alisnya, kebingungan.

“Ada apa? Apa yang lebih gawat lagi dari kau yang terengah seperti ini?”

“Kau tidak akan percaya, Levi.”

“Apa yang terjadi?” Levi mulai menahan napasnya, mengantisipasi hal-hal besar yang mungkin keluar dari bibir Gianna.

“Nona Feckleweis…” Gianna menyeka sebutir kalimatnya. Levi sudah berdiri, berjalan mendekati tubuh Gianna agar ia bisa mendengar jelas kalimat bagaimana yang keluar dari bibir itu selanjutnya.

Sejurus kemudian Levi sudah berlari, menyusuri lorong yang panjang, seolah berkejaran dengan waktu. Gianna mengekor di belakangnya.

Keduanya sampai di sebuah persimpangan dan menemukan satu ruangan yang dijejali oleh beberapa rekan guru dan tabib-tabib sihir. Terbaring di sana adalah Yuri yang tidak sadarkan diri. Suzy memekik di pojok sedangkan rekannya yang lain mencuri pandang di balik jendela.

Kerumunan membuka jalan saat Levi—orang yang bertanggung jawab untuk kelas khusus—datang. Ia menatap tubuh gadis itu penuh tanda tanya besar.

Sihir hitam… gadis ini…

.

.

“Kau gila ya?” Seorang pemuda berjalan cepat, menyusul kawannya yang ia ajak bicara kala keduanya berjalan menyusuri lorong-lorong panjang. Pemuda yang ia ekori tetap berjalan konstan, seolah ia tidak terganggu atas pertanyaan dari kawannya.

“Untuk apa kau melakukan itu, hah?” Tanya si pemuda di belakang, lagi. Langkah besar yang kerap dibuat tungkainya itu mendadak berhenti seketika saat pemuda di depannya juga bergeming. Tanpa menoleh ke belakang, suara serak menyeruak ke udara, memberi ketegangan yang luar biasa pada si pemuda di belakang. “Bersenang-senang,”

Pemuda dengan jubah hitam panjang dan perawakan yang lebih kecil daripada pemuda di depannya itu kini melipat tangan di depan dada, membuat ekspresi tidak setuju dengan kepala yang digelengkan berkali-kali. “Kau tidak boleh bertindak seperti ini. Konsekuensinya tidak main-main.”

“Kau pikir aku bertindak tanpa perhitungan?”

“Lho?” Pemuda pendek tadi kebingungan, “Jadi kau sudah merencanakannya, dan hebatnya, oke, kau tidak memberitahuku?”

“Memberitahu rencana pribadiku padamu adalah kemunduran.”

“Esh, kau kejam.”

“Untuk itu aku di sini.”

“Kau terlalu kejam untuk menyerang gadis yang bahkan tidak sedang menggenggam tongkat sihirnya. Itu pertarungan satu sisi. Tidak fair. Seperti bukan dirimu saja.”

Pria yang sedang diceramahi kini mendesah panjang. “Aku punya alasanku sendiri. Dan kurasa kau juga memiliki alasan sendiri. Ingat, kita tidak bekerjasama. Setelah proses ini selesai, kita akan bebas dan baik kau maupun aku tidak pernah sedekat ini. Kau mengerti?”

“Hey! Aku tahu itu. Tapi ya terima-kasih sudah mengingatkan kembali.”

Lantas kedua pemuda tersebut berjalan kembali, mendekati sebuah ruang yang penuh sesak dengan orang-orang di sudut yang lain. Keduanya datang tanpa mimik berdosa dan seolah terjebak dengan rasa penasaran, keduanya mendongak—seperti yang lain—mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

Aktingnya sangat bagus. Bahkan sampai tidak ada satu makhluk hidup pun yang mengetahui bahwa keduanya hanya berpura-pura.

Kecuali satu.

Makhluk semu yang bersembunyi di balik tembok kemudian tenggelam kembali dalam materi padat tersebut,

Ia tahu semuanya.

.

.

.

to be cont. |

.

.

Leave comment(s) then?

103 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [4th Page]

  1. Ckh.Kyr berkata:

    Yang menyerang Yuri itu Zelo ya? Trus pemuda yg di belakangnya itu Jongin? Curiga sih itu mereka
    Makhluk semu itu sebenarnya siapa sih

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s