THE SORCERER’S DIARY [7th Page]

The Sorcerer's Diary #5

THE SORCERER’S DIARY

[The Soul]

…do not copy-pasteing my things without my permission!

.

.

.

“Kalian akan diberikan waktu tiga hari untuk berlatih. Di hari terakhir dari tiga hari tersebut, kalian akan diminta memilih satu di antara empat orang yang ada di depan kalian ini. Gunakan kesempatan tiga hari ini untuk memilih dengan bijak. That’s all, class dismiss!”

Suzy masih menggaruk ubunnya, isi kepalanya dipenuhi tanda-tanda tanya yang tak dapat dipecahkan dengan berapa kalipun asumsi dan logika yang ada. Gadis itu, sedari keluar dari kelas, hanya berjalan di lorong-lorong tanpa arah tujuan, pertanda jelas bahwa ia masih diliputi berbagai kebingungan tak terpecahkan.

Kakinya tersaruk sesuatu sehingga ia terjatuh dengan kening mencium karpet yang terbentang sepanjang lorong. Suzy mengaduh pelan sembari mengusap keningnya. Ia mengutuk karpet merah yang terbentang seolah tanpa ujung di sepanjang lorong. Gadis itu meringis kemudian berbalik arah, hendak kembali ke asramanya.

Kesialan seolah belum puas mengolok Suzy, untuk kedua kalinya, ia terjatuh kembali. Kali ini hidungnya langsung terasa bebal karena gravitasi menariknya lebih kuat ke bawah.

“Ouch!” Ia meringis. “Karpet sialan!” Suzy mengumpat kembali. Diinjaknya karpet dengan kesal, kadang tubuhnya sengaja ia lontar-lontarkan di udara demi menginjak karpet dengan penuh tenaga (mungkin Suzy bukan tipe gadis yang memiliki pengetahuan kalau karpet tidak punya indera perasa).

Saat ia berbalik dan hendak berjalan lagi, bulu kuduknya meremang seketika tanpa sebab. Suzy menoleh ke belakang dan mengedarkan seluruh pandangannya. Ia masih di lorong yang sama, rasa bebal yang sama di hidungnya, dan karpet yang sama di bawah kakinya. Tidak ada yang berbeda tapi ia merasa hawanya sangat lain.

Suzy memutuskan untuk bergegas. Kala itu suara berisik berdebam di belakang bahunya. Suzy menoleh dan memicingkan mata. Ia melihat sebuah lukisan Raville yang terpampang besar di dinding, tiba-tiba terjatuh. Saat menyentuh karpet merah, kanvasnya berubah warna senada dengan warna karpet. Lukisan hitam-putih bangunan tua Raville, langsung berubah semerah darah karenanya.

Suzy menarik tongkat sihirnya dari balik jubah, berjaga-jaga.

Ia yakin kalau ekor matanya baru saja menangkap sosok berkelebat di sekitaran lukisan yang terjatuh. Jadi, Suzy mengerjapkan matanya sebentar untuk memastikan. Gadis itu pada akhirnya menelan pil penasarannya seorang diri. Tidak ada apapun di sana selain lukisan yang terjatuh dengan posisi telungkup serta warna hitam-putih yang kelewat usang.

Padahal tadi, ia yakin baru saja melihat lukisan tersebut berubah menjadi merah sejak terjatuh di atas karpet tebal sepanjang lorong. Suzy lantas mengedikkan bahunya tak acuh. Ia berbalik kembali dan memutuskan untuk berjalan cepat ke arah kantor tutor. Ia yakin peristiwa jatuhnya lukisan ini sepatutnya diberitakan pada yang berwenang.

Belum satu langkahpun tercipta dari tungkainya, Suzy sudah terjegal di tempatnya berdiri. Ia menatap nanar ke alas di bawah kakinya. Bulu kuduknya meremang. Ia sudah berada sekitar lima sampai enam hari di dunia paralel tersebut, dan sudah sewajarnya ia hapal letak dan tata ruang bangunan ilusi ini. Yang membuat Suzy tidak habis pikir adalah,

Sejak kapan lorong di sana dilapisi karpet merah?

.

.

“Aku melihatnya. Aku melihatnya, Nona Feckleweis.”

Yuri sudah mengantuk luar biasa, tapi ia tidak bisa menyahuti empuknya kasur yang seolah memanggil-manggil namanya untuk ditiduri. Yuri terpaksa masih terjaga karena Suzy yang mulai bercerita dengan antusias sekembalinya dari jalan-jalan di sekitar lorong.

“Park Chanyeol benar, koridor tiga belas itu memang aneh.”

“Mungkin kau salah lihat, Nona Lovegood.”

“Hey, aku tahu otakku memang bodoh. Tapi aku percaya penglihatanku tidak.”

“Oke, jadi anggap yang kau lihat adalah benar. Jadi kapan aku bisa melihatnya?”

“Apa kau berani?”

“Apa kau takut?”

Suzy mendengus, “Ini tidak simpel. Bulu kudukmu akan meremang dan kau akan terkencing-kencing!”

“Oh,” Yuri mengangguk. “Jadi itu sebabnya celanamu basah tadi?”

“Ayolah, Nona Feckleweis. Bukan saat yang tepat untuk berseloroh.”

I never was.”

Fine, pergilah ke koridor tiga belas sekarang. Lalu kembali ke sini dengan celana kering, if you can,” Suzy lantas menyuarakan tantangan pada Yuri. Bukan Yuri namanya jika ia tidak segera menerima tantangan tersebut. Anggukan singkat adalah pertanda bahwa Yuri sudah siap. Diambilnya tongkat sihir dan kunci perak yang ia miliki. Yuri menyelipkan keduanya di kantung bajunya yang besar di balik jubah. Ia tersenyum tipis pada Suzy sebelum menghilang di balik pintu kamar mereka,

“Jangan kunci pintunya, aku akan kembali dengan cepat.”

.

.

“Lihatlah yang kau lakukan, Dude. Kau membuat langkah Kementerian menjadi lebih cepat daripada yang kita duga. Sudah kubilang stick to the plan. Kau tidak pernah mendengarkan,” pemuda yang berbaring di atas kasur berkata. Ia tentu saja bicara pada pemuda lain yang tiba-tiba muncul di cermin besar di kamarnya. Dengan senyuman tipis yang menawarkan sejuta kedok, pemuda di cermin memandang pemuda yang mengeluh dengan bijak.

“Bukankah ini semakin bagus?”

“Kompetisi bak sepuluh tahun silam? Apanya yang bagus? Kita bisa terbunuh sebelum misi berhasil.”

“Kita tidak akan terbunuh, Bro. Tidak, jika kita bisa menemukan salah satu lagi inang dark-witch di antara dua puluhan murid di sana.”

Pemuda yang terbaring di atas kasur berguling aktif. Ia tertawa sementara kakinya menendang-nendang udara kosong dengan heboh, “Aku suka Kementerian mencurigai empat orang tersebut. Ini permainan yang menyenangkan.”

“Aku setuju,” pemuda di dalam cermin mengerutkan dahi sejurus kemudian, “Tapi, ada kemungkinan di antara empat pemuda itu, salah satunya adalah sekutu kita.”

Well, kuharap itu Hansel Duppont. Dia terlihat tangguh untuk beberapa alasan.”

Pemuda dalam cermin menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk lengkungan yang menambah tampan parasnya. “Setuju. Tapi Kim Jongin lebih cocok untuk kita.”

“Oh jangan dia. Dia terlalu frontal, untuk beberapa poin, ia bukan tipe yang akan menjadi sekutu sampai akhir. Dia tipe pengkhianat, juga… apa kau tidak lihat ia sepertinya tertarik dengan Nona Feckleweis?”

Pemuda dalam cermin terbatuk pelan. “Rasanya tidak satu pun yang tidak tertarik dengan gadis satu itu, Bro. Dia cantik, misterius, dan dipenuhi talenta menjanjikan. Semua penyihir berbondong-bondong ingin berada di sekitarnya.”

Yeah, unfortunately, she never attached to anyone here.”

No, she already had a person attached to.”

“Hah?” Pemuda yang terbaring, kini menegakkan punggungnya, ia terduduk dengan kaki bersila di atas kasurnya. Kerutan di dahinya mengesankan sekeras apa otaknya berpikir saat itu, “Oh, biar kutebak, Jung Daehyun?”

Pemuda dalam cermin mengangguk.

“Dia tidak setertarik itu padanya, Bro. Dia hanya menganggap tiga orang lainnya tidak mumpuni untuk ia percayai. Jung Daehyun adalah pemuda yang mengenalnya sejak ia berada di sini, jadi masuk akal ia lebih memercayai pemuda itu. Dan, pemuda itu bukan ancaman besar, kurasa.”

Pemuda dalam cermin memekik tertahan. Rupanya ia tak kuasa menahan kegelian di dalam perutnya karena kalimat pemuda di hadapannya barusan. Dengan nada rendah, ia berkata, “Ada sesuatu yang membuatku geli. Ingat saat aku membuat Nona Feckleweis hampir mati di kelas? Aku tidak berniat membuatnya hampir mati. Aku membuatnya benar-benar mati. Tapi silakan tebak, siapa yang mengahalangiku saat itu,” pemuda dalam cermin terkekeh pelah, “Si bodoh Jung Daehyun. Entah bagaimana refleksnya, mengetahui ancaman lebih cepat daripada otaknya.”

Jeda waktu panjang tercipta di antara keduanya. Pemuda di atas kasur menggaruk tengkuknya. “Dia tidak terlihat sekuat itu sama sekali.”

“Dia memakai kedok, sama seperti kita memakainya saat ini. Setidaknya sekarang aku tahu, dia tidak di pihak kita.”

“Bagaimana dengan Feckleweis?”

“Dia tidak bisa diprediksi. Tapi kekuatannya akan sangat berguna jika dia di pihak kita.”

“Haruskah aku berada dalam tim yang sama dengannya?”

“Itu akan membuatmu satu tim dengan Jung Daehyun, kukira kau tahu bahwa Nona Feckleweis akan memihak pemuda itu.”

“Aku tidak masalah, ia hanya tahu kedokmu, bukan kedokku.” Sahut si pria di atas kasur. Ia mengedikkan bahunya kemudian menatap cermin di hadapannya dengan air wajah gembira. “Kau tidak bisa berada satu tim denganku di hari pemilihan nanti.”

“Aku tahu, aku sudah menentukan pilihan.”

“Dengan Kim Jongin?”

“Bukan. Aku mungkin akan satu tim dengan Hansel Duppont, teman sekamarmu.”

Pemuda di atas kasur tertawa kecil. Ia menggelengkan kepala pertanda sikap temannya ini menunjukkan rasa optimis yang besar. Satu sekon selanjutnya, pemuda itu berhenti tertawa. Sikapnya berubah menjadi normal secara drastis. Perlahan, bayangan pemuda di cermin memudar pelan-pelan saat derap langkah kaki lamat-lamat terdengar dari luar.

“Teman sekamarmu sudah datang, aku pergi.” Lantas bayangan di dalam cermin menghilang sepenuhnya.

Hansel Duppont muncul dari balik pintu yang terbuka. Tangannya mengayun pelan untuk mengaktifkan sihir penerangan dari tongkat sihirnya. Dilihatnya sosok teman sekamarnya yang tersenyum dari atas kasur, memandangnya lurus. Hansel tidak banyak berpikir, ia hanya mengedikkan bahu kemudian mematikan lampu kembali setelah berujar,

“Maaf, kukira kau sudah tidur, Tuan Youngjae.”

.

.

Yuri keluar dari kamarnya bertepatan ketika Hansel Duppont baru saja masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat pemuda itu sekilas kemudian tanpa acuh, berjalan lurus melewati setiap kamar di lorong tersebut dengan hati-hati.

Jika ia tidak salah ingat, tinggal tiga belokan lagi ke kiri, barulah ia sampai di lorong aneh yang ditunjukkan Suzy Lovegood. Yuri dengan percaya diri berjalan sesuai instingnya. Ia belok kiri, menyesari lorong, dan belok kiri lagi. Saat ia berada di mulut lorong yang dimaksud Suzy, Yuri menggenggam tongkatnya kuat-kuat, berjaga-jaga.

Maniknya awas mengedarkan pandangan ke seluruh sisi. Bahkan kadang, Yuri sampai harus memutar tubuhnya untuk memastikan tidak ada apapun di belakang tubuhnya.

“Karpet merah? Cih, bocah itu.” Yuri tersenyum tipis melecehkan. Sepanjang menyesari lorong tersebut hingga ujung, tidak sehelaipun benang dari karpet merah yang terbentang di sana. Pula, tidak ada tanda-tanda lukisan jatuh di sepanjang lantainya. Yuri sempat berpikir kalau-kalau lukisan itu sudah dibawa entah kemana oleh pihak Raville setelah laporan Suzy sebelumnya.

Tapi soal karpet merah? Tidak masuk akal seorang menyingkirkannya. Jadi, kini otak Yuri dijejali hanya dua kemungkinan: Suzy berbohong, atau Suzy sudah gila.

“Ayolah Yuri, kau membuang-buang waktu.” Yuri terkekeh pelan atas kebodohannya untuk memercayai Suzy secepat itu. Ia membalikkan tubuhnya ke lain arah mata angin, kemudian berjalan lurus, kembali ke mulut lorong tersebut.

Tongkatnya ia selipkan kembali di balik jubahnya sementara tangan-tangan Yuri yang bebas kini menelisik rambutnya untuk disatukan dalam sebuah ikat rambut kecil berwarna hitam.

Ia yakin bahwa mulut lorong hanya berada, setidaknya, tujuh meter di depannya. Butuh waktu kurang dari lima menit dengan langkah kakinya yang panjang untuk sampai di sana. Tapi kala itu, Yuri sudah berjalan sekitar lima belas menit dan ia belum juga sampai di mulut lorong—yang jelas-jelas ada di depan matanya. Malah kalau bisa ia analisis, setiap ia melangkah satu meter, mulut lorong akan semakin jauh dengannya sebanyak satu meter pula.

“Ini aneh, sihirkah?” Yuri mengedarkan pandangannya pada langit-langit lorong. Ia telah menghentikkan tungkainya untuk melangkah. Tepat pada saat ia berhenti di satu titik lampu hias, lukisan besar di belakangnya terjatuh. Yuri terhenyak dan menahan fokus matanya pada benda tersebut sekian lama.

Entah sejak kapan, tahu-tahu karpet merah yang disebut-sebut Suzy terbentang sepanjang alas kakinya. Yuri tertawa pelan, setengah bingung. Ia berjalan, menginjak karpet dengan penuh kuriositas. Malah kadang ia berjongkok, menyentuh bahan beludru dari karpet tersebut.

Sejurus kemudian, suara lembut dari seorang wanita memanggil-manggil namanya. Saat itu lukisan sudah menjadi merah, dan jemarinya yang semula dipakainya menyentuh karpet, kini sudah berubah pula menjadi merah. Yuri hendak mencabut tongkat sihirnya, namun tubuhnya tiba-tiba membeku. Suaranya tidak keluar, bahkan, untuk waktu yang sangat singkat, ia berhenti bernapas.

Di tatapnya, dinding yang seolah berputar pada satu poros di balik area tempat semula lukisan dipajang. Lampunya berkedip-kedip, membuyarkan seluruh konsentrasi Yuri untuk mencoba menggunakan teleportasi alternatif. Ruangan tersebut seketika berfungsi sebagai medan magnet bagi seluruh kekuatan sihirnya, Yuri melemas seketika.

Kekuatan hebat seolah mencabik-cabik jiwa Yuri menjadi kepingan tidak berharga. Yuri mungkin sudah berteriak jika saja suaranya bisa terdengar. Telinga gadis itu mengucurkan darah tanpa sebab, kemudian suara berdengin dan bau amis berkutat di sekitarnya untuk beberapa lama.

Yuri berhasil keluar dari kengerian itu setelah dua gadis datang di depannya. Kala itu, Yuri sudah terkulai lemah di atas karpet merah dengan kedua tungkai tertekuk lemas. Kepalanya harus ia dongakan sedikit untuk melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya.

Gaun putih, rambut acak-acakan, dan bau amis adalah impresi awal yang terukir di dalam otaknya. Dua sosok gadis itu sama-sama memiliki mata merah yang agaknya mengerikan bagi Yuri. Dari bibirnya yang pucat, kadang menetes lelehan merah yang hilang ditelan udara sesaat sebelum menyentuh karpet.

Yuri menatap kedua sosok gadis itu bergantian. Ia memandangi gadis dengan rambut berombak lebih lama daripada gadis dengan rambut lurus di sisinya. Meski penasaran, Yuri menahan kalimatnya tetap berenang di dalam pikirannya saja. Ia tidak ingin berkomentar, pun tidak berniat menyerang.

Yuri hanya terduduk lemas sembari berpikir bahwa,

Cerita Park Chanyeol, mungkin ada benarnya juga.

.

.

Himchan memandangi perkamen besarnya yang berantakan di udara—mengambang dengan permukaan yang dipenuhi coretan tinta. Di sisinya, Jung Daehyun sedang memainkan kartu tarot kesukaannya. Kartu itu bisa dipandanginya selama berjam-jam ke depan jika saja Himchan tidak membuyarkan konsentrasinya dengan sebuah bersin kecil.

Himchan meminta maaf sekilas, kemudian memutuskan untuk merapikan seluruh perkamennya. Kala itu, ia mengendus sesuatu yang mengganggu hidungnya. Tanpa kata, ia memandangi Daehyun yang juga kini menumbukkan maniknya pada Himchan. Dalam sesekon selanjutnya mereka berkomunikasi melalui manik masing-masing, kemudian sama-sama berdiri.

“Menurutmu dari arah mana, Daehyun?”

“Koridor tiga belas, kurasa.”

Mereka mulai menampakkan diri. Seseorang yang menarik perhatian mereka pasti baru saja melintas di sana.” Himchan menggaruk kulit kepalanya yang tak benar-benar gatal. “Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun.”

Daehyun mengumpulkan kartu tarotnya yang berantakkan kemudian menerbangkannya di udara. Kartu-kartu itu mengambang, sementara ia sendiri tanpa melihat, menarik satu kartu sembarang dari banyak kartu.

“Kau punya ide, siapa di sana?” Tanya Daehyun.

“Tidak juga,” Himchan menghela napasnya. Ia memandangi satu kartu yang digenggam kuat oleh Daehyun saat pemuda itu bicara. Di permukaannya terdapat gambar seorang wanita dengan sayap putih lebar dan tongkat putih bersih yang bersinar, sementara latar belakangnya adalah sebuah hamparan ruang hitam legam.

Daehyun tersenyum puas. Ramalannya tidak pernah salah.

“Feckleweis. The Angel.”

.

.

“Maaf atas ketidaknyamanannya,” sosok gadis pendek dengan gaun selutut dan rambut yang tergerai lurus di belakang bahunya kini mengulurkan tangan pada Yuri. Manik merahnya telah berubah menjadi hitam, layaknya penyihir kebanyakan.

Suaranya lembut, bagai alunan harpa di tengah gurun pasir tandus. Parasnya, bagi Yuri, adalah oase yang dapat menghilangkan dahaga bagi siapapun yang melihat. Jadi Yuri pikir dua sosok gadis itu sempurna sampai saat ia menemukan bahwa tubuhnya kadang tembus pandang dan melayang-layang.

“Aku tidak percaya masih ada The Soul di era ini.” Yuri tidak berkedip menatap keduanya. Dibandingkan gadis dengan rambut berombak di sebelahnya, gadis berambut panjang ini agaknya lebih ramah daripada kelihatannya. Terbukti dari beberapa kali ia melihat iba dan menjawab setiap pertanyaan Yuri.

“Aku juga tidak percaya eksistensimu, Nona Feckleweis. Sampai akhirnya kami melihatmu terluka oleh sihir hitam, dan sembuh dengan cepat.”

“Huh?”

“Lupakan. Kami kemari tidak ingin membicarakan itu. Aku Juniel dan ini Lee Hi,” gadis itu memperkenalkan diri di hadapan Yuri. “Sudah lama kami tidak muncul seperti ini, jadi maafkan kami atas perlakuan tadi. Omong-omong, itu hanya ilusi.”

Yuri memeriksa telinga dan hidungnya yang semula mengucurkan darah, namun nihil. Seolah darah itu tidak pernah ada di sana dan semuanya hanya mimpi. Yuri memang pernah mendengar kisah tentang roh atau lebih populer dengan sebutan The Soul di Rauchsst. Sepengetahuannya, The Soul, sudah menghilang sejak berabad lalu, bersamaan dengan punahnya hewan-hewan sihir dan seluruh ciptaan magis seperti phoenix dan wolves.

The Soul memiliki kemampuan ilusi yang hebat. Konon, penyihir sekelas Gregory sekalipun membutuhkan dua hari untuk keluar dari ilusi yang dibuat oleh The Soul karena tingkat kesukarannya yang tanpa banding. Selain itu, mereka memang selalu menampakkan diri dengan paras menyeramkan, seolah ingin menerkam para sorcerers.

Ada kisah yang menyebutkan bahwa The Soul adalah roh-roh para sorcerer yang telah meninggal dan masih memiliki kepentingan khusus di dunia sihir sehingga mereka tidak bisa pergi ke alamnya sendiri. Jiwa mereka bergentayangan. Ada yang menyebutkan mereka akan menghisap jiwa para penyihir hidup untuk kembali ke dunia, namun ada pula yang mengatakan bahwa kepentingan The Soul tidak lain adalah membuktikan kebenaran pada kisah menyimpang di masa lalu.

Jadi, singkatnya, setelah urusan di dunianya selesai, para roh akan kembali ke alamnya dengan tenang.

Meski mereka diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusan di dunianya yang belum selesai, para roh tidak bisa melakukannya sendiri. Mereka menunggu untuk seseorang yang dapat mereka tumpangi. Kriterianya adalah penyihir dengan kemampuan mumpuni yang dapat memungkinkan mereka hidup dengan berbagi kekuatan magis.

Mereka butuh inang yang tepat, waktu yang tepat dan kepentingan yang sama.

Saat itu, Yuri adalah orang yang mereka butuhkan.

“Apa yang kalian inginkan?” Yuri bertanya tanpa basa-basi. Ia memandangi keduanya dengan kuriositas tinggi.

“Kau sudah mendengar banyak tentang kisah-kisah The Soul, seharusnya kau tahu.”

“Aku tidak bisa menjadi inang.”

“Tentu kau bisa, dear. Kau memiliki kekuatan hebat, waktu yang tepat, dan tujuan yang sempurna.”

“Apa tujuanmu?”

“Kompetisi itu, dear. Kau akan butuh bantuan kami.”

“Untuk apa?”

Juniel terkikik pelan. “Kau begitu polos. Kau dalam bahaya, dear. Bahaya besar. Kurasa Jung Daehyun sudah memberitahumu soal kekuatan besarmu.”

Dahi Yuri mengerut. Dari mana ia mengenal Jung Daehyun, pikirnya.

“Siapa sebenarnya kau?”

“Justru aku yang harus bertanya, Nona Feckleweis, siapa sebenarnya kau?”

“Apanya yang siapa? Aku tidak mengerti maksudmu!”

“Pikirmu,” Juniel tersenyum, “Merapalkan mantra usang, sembuh dengan cepat dari sihir hitam, dan hidup selama lebih dari satu abad adalah anugerah? Tidak Nona Feckleweis, itu malapetaka bagimu.”

“APA YANG KAU BICARAKAN!”

“Kau tidak tahu?” Juniel memandang manik hazel Yuri dengan lekat, “Kau ditumpangi kekuatan dark-witch, dear. Dia sedang tertidur, waktunya terbangun sebentar lagi. Kau akan terkejut.”

.

.

Yuri meneteskan peluhnya. Ia menghabiskan tiga puluh menit hanya untuk menyadari kenyataan tersebut. Di tambah sejam tambahan baginya untuk mencerna beberapa penjelasan penting dari Juniel.

Gadis itu mengklaim bahwa ia tahu soal serangan sihir hitam pada Yuri dan pelakunya. Ia memastikan bahwa dirinya berada di balik tembok dalam bentuk semu tak terlihat tatkala pelakunya melintas setelah insiden serangan tersebut. Namun gadis roh ini, tidak pernah mengatakan siapa mereka atau berapa jumlah kawanannya pada Yuri. Adalah pantangan untuk ikut campur pada kehidupan antara penyihir dengan penyihir, bagi kaum The Soul.

Tidak sampai disitu Yuri harus terkejut, kabar mengejutkan lain terpapar oleh penjelasan panjang soal asal-usulnya dari bibir Juniel.

Katanya,

Orang tua Yuri adalah yang pertama ditumpangi oleh dark-witch. Selama berabad-abad keduanya hidup berpindah-pindah dan tersembunyi. Orang tua Yuri adalah sorcerer yang cukup andal dalam dunia sihir. Mereka menggunakan sihir manipulasi pada setiap orang sehingga, tidak satu pun curiga bahwa mereka telah hidup lebih dari seabad bersama-sama dengan dark-witch. Di sisi lain, mereka juga menekan kekuatan dark-witch dengan membuatnya tertidur pulas di dalam jiwa mereka.

Namun sesuatu terjadi, entah bagaimana, dark-witch yang bersemayam dalam tubuh Tuan Feckleweis—ayah Yuri, terbebas. Kekuatannya merangsang jiwa dark-witch pada tubuh Nyonya Feckleweis—Ibu Yuri terbebas juga. Lalu mereka kehilangan akal sehat dan mulai menculik banyak penyihir untuk disantap kekuatan magisnya.

“—hingga akhirnya kau lahir saat itu. Kau dianugerahi pecahan jiwa dark-witch yang semula bersemayam dalam tubuh ibumu. Jiwa itu tertidur, dan memanipulasi otakmu untuk hidup dengan kepalsuan dari waktu ke waktu. Sihir hitam itu dengan tidak sengaja, menular ke semua orang dan membuat mereka menganggap kau hanyalah gadis berusia tujuh belas tahun yang biasa. Oke, kau memang biasa saja sekarang, Nona Feckleweis. Namun segalanya akan berubah jika pecahan jiwa hitam di dalam dirimu, bertemu dengan jiwa utuhnya. Kau akan kehilangan jati dirimu, kau akan berakhir seperti kami, The Soul.”

Juniel menutup ceritanya dengan kesan misterius. Yuri memegangi dadanya di tengah ketidakpercayaan yang melandanya seketika. Dua sosok gadis di depannya mampu membuatnya bungkam. Mendengar ceritanya, sama dengan mendengar banyak kisah fiksi yang kadang kebenarannya masih samar. Tapi tidak bisa dikatakan kebohongan juga.

“Serangan padamu beberapa hari lalu, menunjukkan ada satu kepastian, penyihir hitam ada di antara teman-temanmu di dalam sini. Kompetisi akan berubah menjadi lautan darah seperti sepuluh tahun silam jika kau memihak pada seseorang yang salah. Kami akan berada di dalam jiwamu, membantu menekan pecahan jiwa hitam agar tidak terbangun sampai kau menyelesaikan misimu.”

Manik Yuri menyalak, “Lalu apa untungnya bagi kalian mengatakan semua itu?”

“Sederhana, Nona Feckleweis. Kami hanya ingin ketenangan. Beberapa orang yang kami tinggalkan di dunia ini sudah lama tersesat karena kehilangan kami dengan tiba-tiba. Kami hanya ingin satu kesempatan untuk menunjukkan kebenaran pada mereka. Tidak ada maksud lain. Kami membutuhkan seseorang dengan kriteria seperti dirimu: tangguh, berwawasan, dan pernah dicurigai Kementerian. Kami terjebak di sekolah ini selama berabad-abad, Jung Daehyun dan Kim Himchan pernah kami datangi seminggu yang lalu, meski keduanya tangguh, tapi mereka tidak memenuhi persyaratan: Daehyun tidak berwawasan dan Himchan tidak dalam kategori dicurigai Kementerian.”

Yuri menahan napasnya saat Juniel kembali bicara. Sementara Lee Hi, yang berada di sebelahnya terdiam seribu bahasa.

“Seminggu selama kau bertanding di arena, kami akan menahan sihir hitam di dalam jiwamu. Kami bisa menyelamatkanmu, asal kau berjanji bahwa kau bersedia membantu kami mewujudkan kebenaran. Kau harus menemukan tiga penyihir hitam sekaligus dan mencegah ramalan Wicky terjadi padamu.”

“Aku bukan orang berada dalam ramalan Pak Wicky!” Yuri memekik.

“Sekarang kau bukan, tapi nanti kau bisa menjadi salah satunya jika kami tidak membantumu menahan sihir hitam di jiwamu. Harus berapa kali lagi kami mengatakan ini, Nona Feckleweis? Pecahan sihir hitam itu akan terbangun jika bertemu dengan kesatuan utuhnya. Tidakkah kau paham itu? Tidakkah kau paham hal mengerikan apa yang akan terjadi?”

Yuri menahan kalimat di pangkal lidahnya. Ia tentu mengingat hal mengerikan bagaimana yang diceritakan oleh Gregory. Tapi ia tidak bisa memercayai dua roh ini begitu saja. Gregory mengatakan padanya bahwa ia tidak bisa percaya siapapun. Jadi dia tidak boleh.

Tapi ini, bukan siapapun.

Mereka roh.

“Apa aku bisa memercayaimu?”

Juniel mengangguk, “Kebebasan kami ada di pundakmu, jadi, ya! Kau hanya perlu membiarkan kami masuk ke dalam jiwamu sekarang, jika kau siap.”

Yuri menelan ludahnya. “Apa aku punya pilihan lain?”

Juniel berpandangan dengan Lee Hi. Kemudian tatapan itu ditutup dengan gelengan pelan di depan wajah Yuri.

“Kurasa tidak.”

.

.

[To be Cont]

.

.

Do leave review please…

89 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [7th Page]

  1. P. Ahra32 berkata:

    Kyaa.. ceritanya seru banget! Ya, walaupun bikin merinding sih. Tapi bagus kok.
    Oh ya, maaf ya Kaknyun, aku baru bisa komen di part ini. Maaf banget
    Jangan lama2 ya part selanjutnya. Keep spirit!🙂

  2. yuluhan berkata:

    kaknyuuuu maaf baru komentar di part ini,kuliah ku sibuuuuuuk bangeeet jd jarang main ke blog kak nyuuu

    jadi ini yuri dark witch bukan? bukan dong ya, disini main pairing nya daehyun yuri kah?

  3. kiminunuzukaireo berkata:

    Annyeong Author ~nim !🙂 saya salag.satu reader di blog mu yang baru bisa ikut coment , dan itu pun tak bisa di setiap fanfic mu soalnya entah kenapa jaringan nya selalu eror >_< Maafkan aku juga kadang jadi sider karnanya -_-

    Aku amat sangat suka dengan hampir semua karya mu itu *briliant =D bahkan hampir tiap hari aku cek blogmu ini lewat e-mail ..

    dan lagi intinya mianhae atas ketidak sopananku jarang berkomentar d fanfic2 mu yg DAEBAK itu -_-

  4. kwon heirin berkata:

    Org d sekitarnya mengganggap yuri 17 th dlm seabad itu. Kalo dark witch nya pergi, apa dia msh kelihatan muda? Ah, suka sm kata2 siapapun menyukainya.
    Oke, jaehyun antagonis.

  5. countessha berkata:

    tuhhhh, benerkan…..!! yuri punya dark witch di tubuhnya. hahaha, udah aku duga. FF nya daebak kak nyunn.. next part nya di tunggu ya kak nyun😀

  6. mellinw berkata:

    Aku komen lagi. Kalau komenan kmren aku kebingungan . Skrg aku paham ..

    Gilaaa!! Ff ini skali lupa kisah awal bakalan blank ke kisah2 slanjutnya. Jadi aku yang smpet lupaaa .. Baca lagi dr awal :3 . Dan bener deh gilaaa kaknyun, buat cerita sebegininya . Sulit tapi keren banget. Beruntung ada yurisistable kayak kaknyun yg jago buat cerita :3 ..

    Aku agak penasaran sm jung daehyun skrg.. Dia sbnernya siapa ? Apa hubungannya sm yuri sbnernya ? Knapa dia tau sekali ttg yuri? Aku nebak jangan2 daehyun ada hubungan sm pak wicky lagi (abs sama2 bsa ngeramal) hehehehe ..

    Dan aku juga penasaran sama 1 org inang darkwitch slain org tua yuri dijaman dahulu. Ada hubungan gak ya sama inang dw yg skrg . Si youngjae dan temennya .
    Aku juga penasaraaaaaaaaannnn sama sikap dn kelakuan jongin ke yuriii .. Apa knapa kok bsa??? Yuri jadi begitu pas tatap2an sm jongin.. Jongin jangan2 adalah salah satu inang dw nih (hahahaha parah) ..

    Sgtu aja kak komenan aku (kalo komen sbnyak ini mah bkan sgtu namanya meel haha)

    InsyaAllah aku siap kalo2 kakak posting part 8nya :3 hahhaa *ngode.

    Tetep semangat ya kak!! Sipsip lanjuttttt :3

  7. Nadia Chairunnisa berkata:

    Ohh god!! FF ini bagus sekali kak! Jadi si Youngjae?? lha terus yg ada di dalam cermin siapa? dan Jongin itu kenapa? I know!! Jongin punya tatapan menyakitkan/? yg akan membuat gadis yg menatapnya menjadi jatuh dalam pesonanya *asik* ngarang😄
    Nah…. Trus kalau Lee Hi atau Juniel masuk ke dalam tubuh Yuri…. apakah sifat Yuri bakal kayak biasa atau bakal ngikut sifat Kedua roh itu?:/ membingungkan kalau belum baca chapter selanjutnya~~ \=D/ Update soon kak ^^)/ maaf baru bisa baca ff nya sekarang -3-

  8. Jelita berkata:

    Youngjae 1 inang dw, hmmm 1 lagi org yg akn jd 1 tim sm duppont, 1 lagiiii…. Aaaarggghh penasaraann … Please hurry up kakk updatenyaa heehehehe😀

  9. margarethadl berkata:

    oalah ternyata juniel juga udah mati dan jadi the soul bareng leehi,
    yang nyerang yuri itu youngjae kah?
    yuri hidup dari berabad lalu. ngingetin sama vibrance. terus wolves dan phoenix udah punah ternyata disini toh. aih sayang.. padahal keliatannya seru kalo masih ada wolvesphoenix drakoncentaur. mwhihihi.
    lanjut nextpart

  10. AngelYURISISTABLE berkata:

    KAKNYUN.. SELAMATKAN EONNIKU JUSEYOO ●︿●
    JANGAN MEMBUAT DIA SENGSARA, TAPI GAKPAPA SIH.. SENGSARA DI AWAL, HAPPY DI AKHIR, AKU NEXT YA KAK ◑▂◐

    TULUNG!! CAPSLOCK JEBOL ╯△╰
    abaikan ._.v

  11. bettybabybap berkata:

    Plis… Ceritanya makin ngebuat penasaran! Aaah ngga nyangka Youngjae Oppa itu salah satu dari mereka /siapa? /Dark-witch!
    Aduh, yang di cermin siapa ya? Himchannie Oppa? Ah bukan… Ow ow ow… Mungkin yang lebih pinter dari dia… Yonggukkie Appa? Eiiiiii tapi aku malah lebih yakin kalo itu Zelo Russel ya? Huduh bingung bingung bingung!
    Oh ya, tumben Daehyunnie sama Himchannie Oppa akur :v… Wah tapi seneng sih, daehyunnie Oppa ternyata yang nyelametin yuri /terus?
    Eh tapi, gimana kalo 2 roh itu masuk ke Yuri? Bakal berubah gitu ngga ya yurinya? Ah mungkin ngga, mereka cuma nempatin aja… Jadi sikapnya ngga bakal ngikut. Yakin /sotoy.
    Okelah… Daripada penasaran /kayanya udah penasaran banget deh! mending baca next chap ajaaaa…
    Kak Nyun! Hwaiting!!!
    BETTY.

  12. Sam Min Hyo berkata:

    Ngakak pas bagian Suzy ngompol. Trus merinding sendiri pas Yuri di datengin sma juniel dan lee hi. Karna baca part ini jam segini.

    Akhirnya tanda tanya besar sekarang udah mengecil. Org yg nyerang Yuri ternyata berkerjasama dgn youngjae. Aku harap yg satunya bkn sehun or luhan. Trus makhluk semu yg nyelamatin Yuri itu Daehyun ya? Ohohoho… sekarang aku ngerti.

    Kembaranku kpn munculnya kak nyun? (Ngelirik Minho) Hehehe

  13. yayu hani destriani berkata:

    penasaran yang lagi ngobrol sama yongjae itu siapa >.<
    jangan sampe tar yuri berakhir jadi the soul deh hahaha
    ok fix saya sangat penasaran sama cerita selanjutnya, kanyun mau ke next part ya hehe😉

  14. dreamy yeoja berkata:

    wuiih… koridor 13 ngeri juga ya🙂 tpi bukan yuleon namanya kalo dia ga “curious”. Tapi ada untungnya juga sih yuleon bisa ketemu sama The Soul. Menurutku ada baiknya kalo yuleon nerima tawaran the soul, toh mereka juga bisa membantu kan? *sok tau* dan berkat The Soul, yuleon akhirnya tau kalo ada pecahan sihir hitam dlm dirinya.. ;A; smoga pecahan itu ga nyatu sama yg utuh & yuleon ga berakhir jadi The Soul.
    *Nah! Dua ekor pemuda yg ngobrol di kamar tadi siapa sih? Satunya Young Jae, satunya lagi? Kayaknya tadi ga disebutin deh.. dan menurutku ada aura2 jahat gituu //sok tau// apa mereka yang ‘’nyelakain’’ yuleon waktu itu? Bener ga? Kok jadi mendadak bingung ya?😦 maaf eonni, reader sok tau emg gini >.<*
    *review nya segini dulu ya eon.. ijin baca part 8*

  15. Kyulyul berkata:

    The soul keren ih~ agak gak ngerti sih pas percakapan yang dua pemuda itu._. *run to part 8

  16. rensynsr berkata:

    Well akhirnya identitas yuri perlahan di buka, ntah bagaimana aku jadi tambah penasaran ke next part.
    Keep writting kak nyun ‘-‘)9

  17. Banana Kim berkata:

    Gelinya terasa pas bagian Yuri dateng ke lorong 13. Hmmm. hft, lagi sendirian tiba tiba ada roh ngeri ngeri gitu datang. Huaaaa /meluk jongin/
    Lanjutt

  18. Riska Dewi berkata:

    Apa Yuri ternyata ditumpangi ama dark-witch O_O
    Dan Daehyun itu siapa…apa dia peramal?
    Aku makin penasaran banget sama kelanjutannya Kayur…aku next ya^^

  19. Lida berkata:

    Wow jadi yuri emang benar punya jiwa dark witch ya di tubuhnya, aku kirain si kkamjong kak hehehe ^^ kak aku baca part ke 8 nya ya

  20. YulHan berkata:

    kereeen^^
    penasaran banget sama kelanjutan cerita

    eonnie tolong kirim password di email aku, soalnya Aku mau baca ff yang berpassword

    gomawo sebelumnya🙂

  21. yulhan exoshidae berkata:

    Makin keren aj niy ff,,
    Kalo d jadikan film pasti keren bget eon,,
    Sebenar a aq ud pengen bget ke part selanjutnya,, tapi berhubung karna ud malam, aq bobog dulu, sambong besok lagi,, eonnie jjang

  22. Intan berkata:

    Ini sungguh mengejutkan, ternyata di dlm tubuh Yuleon ada pecahan sihir hitam. :O
    wooww, dan yg mengetahui semua kejadian pas Yuleon hampir terbunuh itu adalah the soul, fantastic.
    Sedikit demi sedikit semuanya terungkap.
    Aku semakin penasarann.
    Aku lanjut ya kak nyun..🙂

  23. auraminwoo berkata:

    makin kesini kok gua tambah bingung?:/
    ini yang jahat mana? yang baik mana? semuanya masih terselubuuuuung :”(
    pengen berhenti baca karena takut tambah bingung, tapi kalo gak baca tambah penasaraaannn u,u
    eottokhae???
    next and keep writing!😀

  24. Lulu Kwon Eun G berkata:

    “Feckleweis The Angel” wiw… ko angel? diakan punya pecahan Dark Witch… ahh sumpah ini cerita! beuh bgt
    gada deh yg bikin FF keren nya setengah mati kaya gini.. sumpah kak Nyun the Master..!! jjang jjang jjang..!

  25. aloneyworld berkata:

    Young jae darkwitch terus yang dicermin siapa? Si yuri juga ya tapi untungnya ada the soul😀 yuri harus ketemu 3 darkwitch lainnya? Berarti youngjae, pria dicermin dan satu lainnya siapa -_-

  26. lalayuri berkata:

    Kak Nyun kerennnnnn, aku mau tanya soal yg kartu tarot daehyun itu deh kak, kok dia bilang the angel ? Nah the soul bilang yuri termasuk penyihir yg di dalam jiwanya ada pecahan dark witch (?) Yg bener yg mana ya kak ? The angel or the dark-witch ? Ok aku next ya

  27. Retha Lee berkata:

    bayangin scene nya suzy sama yuri di lorong 13, sereeem
    the soul cantik cantik yaaah.
    apaan deh youngjae yg jadi salah dua dari pencelaka yuri?
    dan yuri punya pecahan darkwitch. aku kira yuri anak yulhan di vibrance yang dikasih mantra kaya yuri di vibrane wkwkwk
    daehyun peramal??
    makin banyak misteri deh makin seruuu
    otw to next chappie

  28. Ersih marlina berkata:

    Yongjae dark witch? Trus siapa rekannya yg ada di balik cermin ?
    Kim jongin ? Tertarik pada yuri? Tatapannya, kya sihir.
    Waw, pertempuran yg berlautan darah, saling mencurigai.

    Sreem jga sih

  29. Ckh.Kyr berkata:

    3 Dark Witch sekaligus.
    Trus siapa song dark witch yg satunya lagi?
    Curiganya sih sama Jongin, tapi Zelo juga deh

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s