THE SORCERER’S DIARY [8th Page]

The Sorcerer's Diary #8

THE SORCERER’S DIARY

[by bapkyr]

8th Page : Seed Of Love

[do not read if you have no plan to leave comment(s)]

.

.

.

Yuri kembali. Ke kamarnya? Oh, tidak juga.

Gadis itu memilih kafetaria yang kosong dan gelap sebagai persinggahannya malam ini. Ia mendudukkan diri di salah satu bangku kayu panjang yang paling dekat dengan pintu masuk kafetaria. Tongkatnya ia letakkan rapi di atas meja berpelitur cokelat tua kemudian ia sendiri menidurkan kepalanya di sampingnya.

Yuri kadang menyeka sulur hitam lembutnya yang berjatuhan kala ia membuat kepalanya terbiasa dengan alas kayu cokelat yang keras. Bergulat di dalam otaknya, berbagai resolusi dan resiko yang ia perhitungkan untuk segala langkah yang ia coba ambil hari ini.

Hal-hal mengejutkan terjadi dalam estimasi waktu kurang dari seminggu. Jika Yuri tidak setangguh ini, mungkin kepalanya sudah akan meledak (dan ini serius.)

Ia sudah banyak mengalami hal-hal aneh: dituduh sebagai penyihir hitam sejak usianya lima tahun, bertemu Lionel yang notabene adalah pemuda dengan minat aneh yang beruntung menjadi keponakan dari Gregory, dan tinggal di rumah pemberian orang tidak dikenal saat ia kehilangan orang tuanya di usia tujuh tahun.

Tapi, hari ini, bahkan hal-hal aneh sepanjang hidupnya tersebut bahkan tidak komparatif terhadap seluruh hal aneh yang terjadi belakangan. Dimulai dari kenyataan orang tua kandungnya yang hidup berabad lalu, dan menjadi inang dark-witch secara diam-diam; dirinya yang dikaruniai pecahan sihir hitam minoritas karena pernah berada di dalam kandungan ibunya seabad lalu; ramalan Pak Wicky, sekolah paralel, dua puluh sembilan teman yang saling curiga; terakhir, The Soul.

Saat itu Yuri baru paham mengapa semua orang kerap mengatakan bahwa mengetahui segalanya itu sama sekali tidak menguntungkan’

Dia ada di posisi itu. Kartu as ada pada Yuri.

Jika ia mau, ia bisa saja berlari ke Raville sekarang melalui pintu dengan kenop gagak yang pernah ia temukan kemarin, kemudian, menyelinap ke ruangan Gregory dan membuat pengakuan dosa di sana.

Tentu itu hal mudah bagi Yuri.

Masalahnya adalah, ia sudah terlanjur mengikatkan diri pada perjanjiannya dengan The Soul. Ia tentu tidak ingin jiwanya tercabik-cabik karena ia melanggar apa yang sudah ia perjanjikan dengan dua makhluk halus di koridor tiga belas tersebut.

Rasa gentar akan kematian, dan tuduhan miring dari masyarakat, mendorongnya untuk cepat-cepat mengikatkan diri pada kedua makhluk tak kasat mata tersebut. Meskipun ia pikir keputusannya itu tepat, tapi rasa penyesalan aneh kerap menjalari tubuhnya hingga detik ini. Bahkan jika ia pikir lagi, harusnya ia mengulur waktu dan memikirkan semuanya dengan matang terlebih dahulu sebelum memutuskan.

“Aku gila,” Yuri mengacak-acak rambutnya. Jika saat itu ada seseorang melintas di sana, pastilah ia bisa salah paham mengira Yuri semacam roh dan sebangsanya karena gadis itu sangat berantakan; rambutnya menjuntai acak menutupi separuh wajahnya serta gaun malam putih yang dikenakannya, semacam menambah kesan horor di kafetaria gelap tersebut.

Dalam sejemang, gadis itu mulai menggerakkan tungkainya untuk meninggalkan tempat itu. Tak bergairah, ia menyesari lorong dan berniat kembali ke dalam kamarnya. Namun di mulut lorong, gadis itu bergeming.

Dilihatnya satu per satu pintu-pintu kamar yang seragam dengan kamarnya. Yang membedakan seluruh pintu tersebut hanyalah nomor-nomor dan nama-nama kecil yang terpampang jelas di permukaan pelitur cokelatnya.

Yuri menghitung, setidaknya ada lima belas kamar di sana, dengan dua puluh sembilan orang yang menghuni kamar tersebut. Teman? Tidak juga. Yuri tidak bisa mengatakan siapa teman dan siapa yang tidak cocok untuk sebutan tersebut sementara ini. Ia yakin bahwa sebagian besar dari penghuni di balik pintu-pintu itu adalah orang-orang yang masih mencurigainya diam-diam. Mungkin juga malah ada yang berniat ingin membunuhnya.

Saat Yuri berjalan selangkah, ia mengerling sejenak pada sosok yang entah sejak kapan berada di belakang bahunya. Ia muncul begitu saja tanpa suara seolah ia adalah hantu. Yuri tidak terperenyak karena ia tahu sosok itu bukan ancaman. Gadis itu memutar haluan, dan berdiri berhadap-hadapan dengan sosok misterius tersebut.

Ia tersenyum tipis,

“Jadi katakan, sejak kapan kau tahu tentang The Soul, Daehyun?”

.

.

“Tepat sejak hari pertama kami berada di sini. Aku dan Himchan berbagi kamar dan sama-sama disambangi oleh dua gadis itu. Ia memercayai kami entah bagaimana. Ketika kau datang, dua gadis itu membicarakan soal kekuatanmu, dan seperti itulah kira-kira bagaimana kami mengetahui jati dirimu.”

Daehyun menyauk sebungkus keripik yang mengambang di udara. Mulutnya penuh dijejali makanan sejak Yuri berada di kamarnya. Di depan Daehyun, Himchan terduduk bersila di atas karpet yang menengahi kasur kecilnya dan kasur kecil Daehyun. Yuri berada tepat di depan Himchan, penuh dengan pertanyaan.

“Dan soal serangan itu? Kalian tahu siapa orangnya?”

The Soul adalah satu-satunya yang tahu soal pelakunya dan ia menolak memberitahu kami. Tapi Daehyun kita, agaknya melakukan hal yang benar kala itu. Refleksnya menyambangi tubuhmu lebih cepat dengan kekuatan sihirnya daripada sihir hitam tersebut sehingga efek kerusakan pada dirimu dapat ditekan.” Himchan menjawab. Daehyun terkekeh-kekeh bodoh di depan sebungkus keripik melayang. Bahkan ia sesekali mengangkat kerah kaus oblongnya, membuat gestur soal betapa kerennya dia.

“Bagaimana kau tahu sihir hitam akan menyerangku, Daehyun?”

Well, tidak tahu. Aku hanya merasa seperti akan flu lalu seberkas sinar hitam melintas di sampingku, tepat menyerangmu.”

“Sesederhana itu?”

“Sesederhana itu.”

Daehyun menyibukkan diri dengan mengunyah keripiknya kembali dalam damai, meski Yuri sama sekali tidak mencerna apa yang baru saja dipaparkan pemuda tersebut. Pikir Yuri, sihir hitam adalah sihir kompleks dengan komponen yang sukar sekali dideteksi mengingat si pengguna pastilah menggunakan mantra lama yang sudah jarang sekali dirapalkan. Lalu Daehyun dengan santainya mengatakan bahwa ia hanya merasa sedikit flu saat sihir hitam itu melintas?

Gaya potensial dan gerakan sihir tersebut seperti poros magnet sejenis dengan pengguna sihir biasa. Sekali sihir hitam muncul, maka sihir biasa akan menolak keberadaannya, singkatnya, sihir biasa tidak akan bisa mendeteksi kehadiran sihir hitam secepat yang dilakukan Daehyun.

Yuri jadi ingat ketika Juniel mengatakan, “—Himchan dan Daehyun, mereka tangguh—“, mungkin ada benarnya juga. Dua orang ini memang bukan orang-orang biasa baginya. Terlepas dari karakter bodoh yang kerap ditunjukkan Daehyun atau karakter kelewat pintar milik Himchan, dua orang ini adalah penyihir yang tangguh—tak disangka-sangka.

“Omong-omong, apa dua orang roh itu sudah berada dalam jiwamu sekarang?” Himchan bertanya, mimiknya lebih serius ketimbang air muka bodoh saat Daehyun, di belakangnya, terbatuk keras akibat tersedak beberapa keripik.

“Mereka akan mendatangiku sehari sebelum kompetisi. Pada saat itulah mereka akan mulai bersama denganku.”

“Ah,” Himchan menganggukkan kepalanya, “apa mereka bercerita soal kenapa dan bagaimana mereka membutuhkanmu?”

“Katanya, mereka ingin cepat-cepat mendapatkan ketenangan. Kurasa, keduanya memiliki keterkaitan dengan sihir hitam.”

Kurasa, katamu?” Himchan meliukkan alisnya penuh tanda tanya. Kalimat dari bibir Yuri seakan tidak memuaskan pertanyaannya barusan. “Apa mereka tidak mengatakannya?”

Kali ini giliran Yuri yang meliukkan alis. Ia bingung. “Mengatakan apa?”

“Soal siapa mereka, barangkali?”

“Juniel dan Lee Hi. Memangnya kenapa?”

“Serius! Mereka ternyata tidak mengatakannya padamu?”

“Apa? Mengatakan apa?”

Himchan menghela napasnya, “aku tidak pandai berkisah. Daehyun, kau saja yang jelaskan. Sesekali mulut tanpa remmu harus berguna.”

Daehyun menggeleng pelan sembari menyambar bungkus keripik yang mulai kosong. “Aku sibuk.”

“Dengan keripik? Ayolah!”

“Kau sajalah.”

“Apa perlu kubuang semua persediaan keripikmu sekarang juga?”

Daehyun bergeming. Bola matanya berputar, seolah memikirkan sesuatu yang sangat penting. Makanan adalah hidupnya, dan Himchan bukanlah tipe orang yang akan menarik kembali kalimatnya.

“Oke, jadi begini, Nona Feckleweis,” Daehyun membiarkan bungkusan keripiknya tetap melayang, sementara ia menghadapkan pandangan langsung pada manik hazel Yuri Feckleweis. Himchan mendengarkan sembari membuang rasa jengahnya pada cerita itu—yang kebetulah sudah ia dengar lebih dari dua kali dari bibir Daehyun—dengan membuka-buka perkamen usang miliknya.

“Kita semua tahu bahwa dark-witch memiliki inang di setiap periode kehidupannya. Orang tuamu adalah salah satunya yang ditumpangi. Setelah mereka menyerang kedua orang tuamu, mereka mencari inang lain. Kau termasuk salah satu yang beruntung karena kau tidak terbunuh. Mereka tidak tahu bahwa selama ibumu mengandungmu, pecahan jiwa hitam dari mereka bersemayam juga di dalam dirimu. Kau hidup abadi dengan kekuatan hitam yang tertidur. Nah,” Daehyun duduk bersila. “Hal yang seperti ini, tidak terjadi padamu saja. Beberapa inang-inang yang lain juga mengalami hal serupa denganmu. Mereka berbagi tubuh dengan dark-witch sementara mereka mengandung manusia biasa.

Setelah mereka meninggal karena dark-witch membunuhnya, para anak-anak spesial dengan pecahan sihir hitam ini muncul dan hidup berabad-abad lamanya. Mereka—tanpa disadari—mampu memanipulasi ingatan setiap orang. Setiap orang menganggap eksistensi mereka adalah sama dengan yang lain. Mereka dimanipulasi agar tidak satu pun yang ingat bahwa anak-anak spesial ini telah hidup berabad-abad. Ini semacam pergerakan refleks alam bawah sadar mereka sendiri.

Dalam kasus ini, termasuk kau, Nona Feckleweis. Kau mungkin tidak sadar selama ini kau telah hidup sangat lama, begitu juga kami, dan orang yang berada di sekitarmu. Ini adalah hal wajar, mengingat kemampuanmu itu adalah kemampuan langka, pecahan sihir hitam.

Anak-anak spesial ini kemudian menjadi murid di Raville tanpa sedikit pun kecemasan akan kekuatan yang akan merusak mereka. Lalu suatu hari, pecahan yang terdapat dalam tubuh mereka, tidak sengaja bertemu dengan induknya, dark-witch. Kekuatan pecahan kecil itu bereaksi dan terbangun. Sang inang—anak-anak spesial—kehilangan kesadaran mereka masing-masing dan mulai mengacau. Mereka membunuh, merusak, dan menghancurkan apapun yang berada di depannya. Termasuk, mereka yang bernyawa.

Sepuluh tahun lalu, tepat setelah Riddick dinyatakan tewas, dark witch memang datang di antara murid-murid Raville. Mereka menginginkan kekuatannya yang tidak sengaja dicuri si anak-anak spesial, kembali. Kematian Riddick hanyalah sebuah penyulut kecil. Yang mereka inginkan sesungguhnya adalah kematian anak-anak spesial tersebut sehingga kekuatan mereka kembali. Well, dua dari tiga dark-witch yang ada memang mendapatkan kekuatan mereka kembali atas kematian dua anak spesial yang berada di dalam insiden Raville saat itu. Tapi satu dark-witch masih mencari satu anak lagi yang membawa pecahan kekuatannya sampai saat ini.

Yang kumaksud itu kau, Nona Feckleweis.

Dark-witch, melalui inangnya yang baru, terus mencarimu. Mereka akan memburumu hingga kekuatan yang telah kaucuri dari mereka, kembali. Kompetisi ini mungkin akan sangat berbahaya untukmu, mengingat tidak satu pun penyihir setingkat profesor di Raville yang akan melindungimu di dalam arena. Mereka merencakan ini dengan matang; memisahkan para murid berpotensi dari guru-guru mereka, membuat kepercayaan murid-murid runtuh satu sama lain, membuat mereka saling membunuh kemudian. Dark-witch tidak pernah main-main. Setiap nyawa penyihir yang tumbang di tangan mereka, adalah tambahan kekuatan.

Dua penyihir hitam sudah mendapatkan cukup kekuatan sejak pecahan kekuatan mereka kembali sepuluh tahun lalu. Dua penyihir jahat itu membunuh dua murid Raville, yang kebetulan berada dalam arena.

Jika kau jeli mendengarkan ceritaku, mungkin kau sudah tahu korelasi ceritaku dengan identitas Juniel dan Lee Hi.”

Yuri terpekur tidak percaya. Alih-alih menjawab, bibirnya malah menganga sehingga tangannya harus repot-repot menutupnya segera. Jika ia kembali lagi pada memorinya sejam yang lalu, ia masih ingat soal Juniel mengatakan, “—Namun segalanya akan berubah jika pecahan jiwa hitam di dalam dirimu, bertemu dengan jiwa utuhnya. Kau akan kehilangan jati dirimu, kau akan berakhir seperti kami, The Soul—“

“Ya, Nona Feckleweis. Mereka adalah dua orang yang terbunuh pada insiden sepuluh tahun lalu. Keduanya murid Raville dan sama-sama pernah membawa pecahan sihir hitam sepertimu. Kau tahu apa artinya ini? Yeah, kau akan bernasib sama seperti mereka jika kau terbunuh di dalam arena nanti. Untuk itu, mereka melindungimu, Nona Feckleweis. Mereka akan melindungimu hingga mereka bisa menangkap tiga penyihir hitam yang membunuh mereka dahulu.”

.

.

“Kementerian akan menyesal dengan melepasmu begitu saja, Nona Feckleweis,” Jongin melintas di depan Yuri, mengucapkan sumpah serapah dan membagi picingan keji ketika ia bertemu tatap dengan Yuri di kafetaria. Sudut-sudut bibirnya membuat seringai seram saat ia berganti haluan, dengan nampan yang ada di kedua tangannya. Yuri sudah terbiasa, toh Jongin memang bukanlah pemuda hangat seperti Lionel atau Daehyun.

Bahkan, Yuri tidak pernah lihat Kim Jongin beradaptasi dan berkumpul dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Jika bukan karena Zelo Russel, Jongin pasti sudah akan duduk sendiri di pojok ruangan sembari mengganyang roti gandumnya yang masih panas.

Hari ini adalah hari pertama dari tiga hari yang disediakan oleh Kementerian untuk berlatih. Mereka sudah disarankan untuk menjauhi kelas dan segala buku teori hari itu. Esensi berlatih hari ini adalah benar-benar berlatih. Tongkat sihir, sapu terbang, teleportasi, telekinesis, dan apapun yang bisa dilakukan oleh seorang sorcerer, akan diasah kembali hari ini.

Yuri telah mempersiapkan segalanya, termasuk observasi matang tentang empat calon ketua tim yang akan dia pilih. Kim Jongin barusan sudah ia coret dari daftarnya. Zelo Russel sepertinya juga tidak akan menyediakan kerjasama yang baik bagi gadis tersebut. Yuri masih ingin memihak dan mengenal lebih banyak soal Hansel Duppont, jadi ia memutuskan untuk duduk di samping pemuda itu saat sarapan pagi ini.

“Halo,” sapanya ramah. Hansel Duppont adalah tipe pria sebeku es. Ia bahkan tidak mengangguk atas sapaan ramah dari seorang Feckleweis. Ck terlalu.

“Kupikir kita belum mengobrol banyak dan aku putuskan untuk duduk di sini. Apa kau keberatan?” Yuri kembali berbicara, kali ini ia sengaja menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Hansel agar pemuda itu sadar bahwa Yuri sudah menjatuhkan beberapa tahap egonya demi membuat Hansel bicara. Alih-alih menjawab, Hansel malah melengos pergi dari hadapan Yuri. Nampannya sudah bersih dari segala makanan dan segelas limun asamnya sudah habis. Yuri menatap punggung pemuda itu dari kejauhan dan diam-diam memendam kejengkelan.

“Ditolak?”

Daehyun duduk di sisi Yuri kemudian sama-sama memandang punggung Hansel yang lamat-lamat menghilang di balik pintu besar. “Mungkin nama tengahnya ice. Hansel Ice Duppont.”

Senyum kecil terbubuh sempurna pada wajah Yuri. Tangannya mulai sibuk meraih roti gandum yang sudah dicelupkan pada sup krim rasa nanas. Yuri mengunyah rotinya tanpa banyak bicara. Daehyun sedari tadi hanya duduk saja dan memerhatikan gerakan Yuri dengan seksama.

“Kau kenapa?” Tanya Yuri.

“Apanya?”

“Kau duduk di sini hanya untuk melihatku makan?”

“Oh,” Daehyun menggaruk kepalanya, “tidak juga.”

“Lalu apa?”

Yeah, kupikir kau akan bergabung dengan tim Hansel. Jadi aku kemari.”

“Aku bebas menentukan pilihan, ‘kan?”

Daehyun melejitkan bahunya sedikit. Irisnya menyoroti nampan milik Yuri yang semakin kosong. “Kupikir setelah semua yang kuceritakan, kau akan memihak padaku.”

“Aku independen dan aku bisa menjaga rahasia. Aku akan menentukan dengan siapa aku akan bergabung setelah semua latihan menyebalkan ini selesai. Oke?”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau kau bisa dipercaya?”

Yuri menelan rotinya dengan susah payah, kemudian dipandanginya wajah tampan yang seolah meratap jawaban dari gadis itu. Ia tersenyum sebentar kemudian menyentuh pipi Daehyun dan mencubitnya.

“Feckleweis tidak akan berbohong padamu.”

.

.

Himchan baru saja selesai menata rambutnya ketika Daehyun datang tergesa-gesa sembari menutup pintu dengan gerakan kelewat berlebihan. Pemandangan Daehyun dengan napas tidak terolah dengan benar kemudian mulut yang enggan menutup, menjadi fenomena tersendiri bagi Himchan. Temannya itu tidak pernah seperti ini sebelumnya.

“Dikejar Profesor Gianna atau Profesor Jongsuk?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Himchan. Ia pikir, kali ini mungkin masalah nilai lagi. Jika benar, maka lumrah baginya mengingat Daehyun sudah masuk dalam daftar hitam murid-murid dengan nilai yang tidak cukup bagus untuk menjadi sorcerer.

Tebakan Himchan meleset saat Daehyun menggeleng pelan. Jakun pemuda itu naik dan turun beberapa kali saat ia menyeka keringatnya. Himchan memberinya segelas air kemudian menemani Daehyun untuk bersama-sama duduk di tepi kasur.

“Jadi ini soal apa, Daehyun?” Katanya, penasaran. Daehyun mengerjapkan mata dan sungguh, itu adalah gerakan tertolol yang pernah Daehyun lakukan di depan Himchan. Dahulu sekali, Daehyun pernah merasa seperti ini saat seorang wanita tujuh belas tahunan, menggendongnya ketika ia terjatuh dari atas pohon ek. Rasa terima-kasihnya yang besar pada wanita tersebut, membuatnya tidak bisa tidur siang dan malam selama beberapa hari.

Yang membuatnya gundah adalah, ia tidak mengenal wanita tersebut kecuali identitas mengenai tongkat sihirnya yang tertinggal saat ia menolong Daehyun. Tongkat tersebut kemudian menyusut setelah beberapa hari berada di tangan Daehyun. Hingga akhirnya Daehyun memutuskan untuk mengabadikan tongkat yang sudah sebesar tusuk gigi, sebagai jimat keberuntungannya hingga ia sebesar ini.

Sekelumit bayangannya tentang sang wanita akhirnya bisa ia lupakan juga setelah ia memutuskan untuk menjadi penyihir dan merantau ke Rauchsst. Daehyun yakin jika wanita yang bertemu dengannya belasan tahun lalu, ada di negara ini. Ia tidak tahu siapa namanya dan lupa akan rupanya, tapi satu yang pasti, ada probabilitas besar bahwa wanita itu sudah begitu tua sekarang.

“Aku harus menunggu jawabanmu selama apa?” Himchan mengembalikan respons normal Daehyun. Kali ini pemuda itu sudah lebih tenang daripada sebelumnya. Tangan Daehyun enggan enyah dari dadanya.

“Dadamu sakit atau bagaimana?” Tanya Himchan lagi, penuh dengan desakan agar Daehyun segera menjawab seluruh pertanyaan demi pertanyaannya. Daehyun masih mengatur napas. Ia ingin menjawab dengan lebih cepat sungguh! Tapi dadanya masih berdentum-dentum hebat seolah ada yang meledak di dalam sana.

Pipi Daehyun perlahan bersemu merah dan hal itu tidak luput dari kornea Himchan.

“Bertemu seorang gadis, huh?” Himchan mulai mengerti. Kerutan penasaran di dahinya segera hilang begitu melihat Daehyun yang salah tingkah dengan konyolnya. Himchan tidak kuasa melakukan apapun selain tertawa jijik pada tingkah laku Daehyun.

Bravo. Dan siapa gadis kurang beruntung itu, Daehyun?” Daehyun memasang manik sebal saat Himchan bertanya asal padanya. Himchan tidak ambil pusing toh ia hanya bercanda. Himchan tahu betul bagaimana karakter Jung Daehyun. Meski tolol dan konyol, pemuda itu tidak pernah meremehkan orang lain. Daehyun adalah sosok pemuda yang sempurna di balik tampangnya yang terkesan idiot. Tipe-tipe pemuda seperti Daehyun, biasanya tidak akan pernah melepaskan seorang wanita begitu ia merasa jatuh cinta padanya. Tipe setia.

“Zinni Porte? Suzy Lovegood? Krystal Lleuach? Aluna Jun?”

Daehyun bergeming. Hal itu kemudian menjadi bahan tertawaan sendiri untuk Himchan. Ia tertawa sekeras mungkin sembari memegangi perutnya yang terkocok-kocok. Daehyun tidak menjawab, ia masih menerawang dan merasakan hatinya berdentum-dentum. Kontras dengan Himchan yang sudah menggelepar di atas lantai dan merasakan perutnya kram seketika.

Saat keduanya berhenti dan menguasai diri mereka masing-masing, Himchan menohok manik Daehyun pada iris miliknya. Pembicaraan itu menjadi sebuah simpul senyum bagi Himchan,

“Yuri Feckleweis? Kau menyukai Yuri Feckleweis dengan tiba-tiba, Daehyun?”

.

.

Sebuah ruangan besar yang terbentang hampir seluas kafetaria, kini adalah satu-satunya tempat yang dilihat oleh manik dua puluh sembilan murid kelas spesial Raville. Gianna berada di tengah dengan Haejin yang setia membawakan perkamen-perkamen besar dan segala buku-buku tebal di atasnya. Jubah panjang yang dikenakan Gianna, membuat aura mengerikan pada dua puluh sembilan muridnya.

Wanita itu menyihir sebuah perkamen paling besar , membuatnya melayang di udara kemudian terjatuh dan membentang panjang di atas lantai. Lebarnya kira-kira dua meter dan panjangnya, cukup untuk menengahi jarak antara Gianna dan murid-muridnya.

Sepanjang perkamen tersebut, barisan aksara dalam bahasa ibu masa lalu berderet rapi, dari ujung sampai ujung yang lain. Gianna melengkungkan sebuah senyum puas saat ia melihat ekspresi heran yang ditunjukkan dua puluh sembilan muridnya.

“Ini adalah daftar mantra yang tidak boleh kalian gunakan selama berada di arena.” Katanya. Di ujung kalimatnya, perkamen itu terbang dengan sendirinya, merapat di dinding yang paling dekat kemudian terpajang indah di sana. Barisan aksara tadi kelihatan semakin kecil di kejauhan. Thank to Gianna, sihir dunia ilusinya melakukan hal lebih baik daripada yang orang lain bisa lakukan. Tulisan itu menyesuaikan diri dengan manik si pembaca. Tulisan akan membesar sendirinya ketika manik si pembaca sampai pada kata-kata yang akan mereka baca, kemudian mengecil kembali ke ukuran semula. Tentu saja hal tersebut tidak mengganggu pembaca lain, seolah setiap pembaca, memiliki lensa tiga dimensinya sendiri untuk membaca tulisan super kecil tersebut.

“Jadi ini tidak boleh sama sekali kami gunakan, Profesor?” Tanya Luhan, pemuda yang kelihatannya begitu diperhatikan Gianna akhir-akhir ini.

“Kau mendengarkan aku tadi.”

“Oke,” Luhan mengangguk. “Ini tidak akan sulit. Bagiku ini bahkan pertama kalinya mendengar eksistensi mantra-mantra seperti ini.”

Gianna hanya tersenyum mendengar komentar Luhan. Bagi penyihir biasa, mungkin larangan menggunakan mantra seperti ini terdengar sangat lucu, mengingat mereka selalu menggunakan mantra-mantra baru (oke mungkin sedikit mantra baru). Namun larangan ini sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada mereka yang sudah terbiasa menggunakan mantra lama. Akan sangat berat menghilangkan kebiasaan itu begitu mereka berada di arena.

Sekali ada yang melanggar aturan ini, maka kecurigaan sebagai dark-witch akan hinggap padanya.

Konsep ini sederhana. Dan seharusnya Yuri paham. Namun setelah membaca seluruh perkamen besar tersebut, gadis itu gundah bukan main. Ia beberapa kali menggigiti bibirnya kemudian meremas-remas tangannya.

Daehyun yang kebetulan ada di sebelahnya, menyikut lengan Yuri.

“Kau kenapa?” Tanyanya.

Yuri mengerling sebentar pada pemuda tersebut kemudian kembali dalam kegundahannya sendiri.

“Kutanya kau kenapa?”

Yuri masih menolak untuk berkomentar meski Gianna kini sudah berbalik arah dan membimbing dua puluh sembilan orang di belakangnya untuk melakukan beberapa tes fisik dan kemampuan standar. Daehyun pantang menyerah, maniknya selalu menemukan waktu yang pas untuk bertemu tatap dengan Yuri, dan ketika itu terjadi, ia selalu mendesak Yuri agar menjawab pertanyaannya.

Ketika Yuri akhirnya menjawab, Daehyun ikut-ikutan meneteskan peluh. Refleksnya, menjawat jemari Yuri dengan seketika, memberikan kehangatan dan keberanian yang sebenarnya juga semu bagi Daehyun.

“Aku selalu menggunakan semuanya, Daehyun. Mantra-mantra dalam perkamen itu … bagaimana aku bisa menghindarinya?”

.

.

.

[To be Cont.]

.

.

.

Yeay! Finally Updated!

(so yeah, Dae mulai suka-suka gimana gitu sama Yuri)

99 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [8th Page]

  1. sjelfeu berkata:

    daehyun meuni lebay gitu yaaak😀
    ternyata the soul itu inang nya dark witch
    tambah penasaraaann😮
    keep write kakaa !! fighting !^^

  2. nadinedenasti berkata:

    Entah kenapa aku malah ngebayangin v bukan daehyun.__. Maap aku baru comment lagi unn belakangan ini lagi ribet haha, makin gemes aku sama ceritanya:3 keep writing nyun unnie fighting hoho

  3. ameng berkata:

    Mangat kak! Review dari yang kmrn2 disini aja ya
    Pokoknya lanjutin teruss jangan berhenti di tengah jalannn, ceritanya oke punya lhhh, mantap!

  4. AngelYURISISTABLE berkata:

    Azekkk daehyun suka sama yuri, si jongin kayaknya juga suka sama yuri tuh╯ε ╰
    lanjut ya kak, banyakin romance,horor sama actionnya kak
    WKWKWK😄
    doh aku curiga sama namja yang ada di cermin kak, itu siapa sih-_-
    MAAF YA KAK KALO KADANG JARAK WAKTU AKU BACA SAMA COMENT ITU, KEJAUHAN ●︿●
    SEBENERNYA BELOM AKU BACA, BARU AKU BUKA-BUKA DOANG SUMPAH/?
    Sekian coment dan curcolku kaknyun mianheyoo😥

  5. jilanoy berkata:

    kaakkk aku baru pertama kali nih ya comment disini;D hehe,sebelum2nya selalu via twitter terus kan hahahaha.tapi yg terakhir kemaren gadibales:( mungkin kakak sibuk ya hehe. ini seru kaaaaaaakkkkk
    kirain himchan yg bakal naksir yuri ternyata daehyun hahaha. keep writing kak

  6. ikaa_roro berkata:

    Well, ini part yang paling seru, terjawab smua tanda tanya besar d otak aku selama 7 part sebelum nya,hihihi

    Wow ternyata yuri bagian dari dark witch ? O_O

    The soul, arwah penyihir korban dari dark witch itu kenapa yaa bisa memilih himchan dan daehyun ?apa mereka punya sesuatu yang special ?aiihh penasaran

    Aku menaruh curiga sama jongin nie, apakah dia induk dari dark witch ? Well nyun d tunggu banget next chept ny, jgan lama2 yaa nyun,hehehe

  7. bettybabybap berkata:

    Auuuuhhhhh! Akhirnya ngerti pas penjelasannya Daehyunnie Oppa tentang 2 roh itu… Haha! Daebak kak nyun (y) bikin penasaran banget, tapi akhirnya jawabannya memuaskan rasa penasaran yang hinggap di kepala /apaancoba?
    Dan, pas mo baca FF, biasanya aku liat dulu tuh foto covernya :3. Aduuuuuh udah berasa gimana gitu liat 2 orang itu terpampang di situ… Apalagi judulnya… “Seed Of Love” udah agak histeris gitu, berarti disini bagian awal mereka mulai lope2an :v.
    Awalnya sih nyari2 kapan sik adegan mereka yang mengarah ke romance2 gitu? Eeehhhh pas tiba2 di Kafetaria ituuuuu, aw aw aw! Udah gemes duluan gitu… Padahal belum ngapa2in loh! Ketika tiba2 yuri menyentuh pipi Daehyunnie Oppa dan mencubitnya itu tiba2 Betty serasa terbang gitu ajaaaaa… Sumpah! Itu ya, simpel banget gerakannya tapi unyunya itu lohhh sumpah!!! Apalagi ditambah adegan salah tingkahnya Oppa yang kelewat lebay itu… Makin gemes bener deh *.*v. Kak nyun hebat banget ngebuat Betty kek gini… Terus terus… Bagian Himchannie Oppa yang ngakak tiada henti (?) itu… Ngahahahahaha bener2 kocak sumpah!!! :v
    Dan… Dibagian akhir… Eh tunggu, Daehyunnie oppa pernah di selametin wanita? 17 taunan? Itu Yuri bukan? Kan dia udah idup berabad lamanya /oke ini sotoy.
    Balik lagi di bagian akhir ituuuuu, pas jemari mereka bertautan kyeaaaaahhhhhhhh >.< /pingsan.
    Oke kak nyun, ini bener2 hebat! Super duper hebat! FF ini keren! Kak nyun juga lebih keren!
    Di tunggu kelanjutannya kak~ Hwaiting!!
    BETTY.

  8. seora berkata:

    Omo daehyun sma yuri… yuri makin gelisah, perasaanku aja atau chap yg ini agak pndek ya eon? #plak
    lanjut eon, fighting

  9. Raisa .s berkata:

    MAKIN BAGUS HUAAAA ;_;!!!!
    Kadang aku suka ketawa ngeliat tingkahnya daehyun sama himchan wkss
    Menenggangkan banget ceritanya

    MAAF YA AKU BARU TINGGALIN JEJAK DISINI AKU BENER-BENER TIDAK BERMAKSUD DURHAKA HANYA SAJA CERITANYA SANGAT SERU BIKIN PENGEN LANJUT BACA, hehe maaf ya *bow

  10. kwon yuri berkata:

    kak bikin cinta segtiga atau segiempat kak😦 wkwkk daehyun yuri myungsoo cocok atuh
    daebakk
    nunggu kelanjutannya selaluuu

  11. Onlyuri berkata:

    Annyeong kaknyun~
    Aku br engeuh kl part 8 nya udh di post, waaah… aku gatau sbnr nya mau komen apaan selain mau bilang kalo aku penasaran yuri pilih siapa buat satu tim sm kelompoknya nanti dan gmn sm the soul yg nanti bakal nemenin yuri di arena. Penasaran bingiiit.
    un aku baca tweets unnie di tlist, jgn hiatus dong un.. komen yg menghambat ceritanya diemin aja. Lanjutin aja cerita yg unnie udh bikin. Aku tunggu next part nya ya un~ fighting!^^

  12. SSY_ELF berkata:

    Demi apa eonni, ini MAKIN DAEBAK!!
    penasaran gimana nasib Yuri and the soul…
    btw, pas liat posternya aku langsung mangap… Daehyun-Yuri? kok bisa?*plakk
    Hansel Duppont udah mulai masuk nih…
    Ya! Kai oppa, jangan gitu dong sama uri eonni…

    (sebenarnya aku dah baca part ini dari siang tadi, eh tiba2 mati lampu.. layar laptopku hitam mengkilap/? baterai habis dan men-cas nya gak pake baterai lagi… jadilah aku comment sekarang)*curhat.. aku kan gak mau dibilang sider…

    Okeh… lanjut baca part sembilan~

  13. countessha berkata:

    woww, yuri harus gimana dong?? dia pake semua mantra yang di larang. daehyun sama yuri?? kenapa enggak sama himchan?luhan?kai? hikssss… next

  14. Sam Min Hyo berkata:

    Seeds Love.. udah semangat banget bacanya. Xixixi
    Ehem.. daehyun…
    Itu JongIn sebenarnya knp sih? Punya dendem kesumet ama Yuri apa udh falling in love sama yuri???

  15. yardannimeisya berkata:

    Huaaa daehyu:3 Cie bgt deh haha. Disini udah mulai adegan romancenya haha, makin penasaran sama siapa yg bakalan jadi sama yuri hehe, seru bgt kaknyun^^

  16. dreamy yeoja berkata:

    Ah! Ternyata Daehyun pinter ngomomg ya.. gatau knp enak(?) ndengerin ceritannya Daehyun🙂 maksudku, sekarang aku jadi tau soal knp Hayi&Juniel menjadi The Soul dan soal masih ada satu dark-witch yg nantinya akan mengincar(?) yuleon.. smoga aja yuleon ga terbunuh🙂 duh! Yuleon trus gimana nih? Dia kan selalu pake mantra2 kuno sedangkan mantra2 itu dilarang😦 poor yuleon😦
    *Haha itu Daehyun juga agak gimanaa gitu… dia kena love syndrome atau apa? lol >,< aaah… I see… jadi nanti pairingnya Dae-Yul? Gpp lah meski aku sll berharap kak nyun bakal bikin pairing KaiYul :)*

  17. yayu hani destriani berkata:

    the soul ternyata inang dari dark witch yuri juga eoh
    dae suka yuri acieeeeee #tabok deahyun
    duh jongin makin serem du sini, keren lah nih ff :*
    next part ya kanyun🙂

  18. soshiyulk berkata:

    oh gosh…. mian eonni sebelumnya aku udah baca nih ff jauh” hari tapi belom komen soalnya setiap baca mesti ketiduran bayangin aja eon aku bacanya aja selalu tiap malem /apaini/abaikan/
    eon itu bang dae suka yuri? ok gpp asal dia izin aku/? hihi

    fighting!

  19. madurisagita berkata:

    ……DAEYUL aduh❤ jadiin daeyul aja jangan diganti2 ne T^T btw, aku nunggu lanjutan tales of zodiac (kalo ga salah inget) kok udah ga update lagi ._.

  20. Riska Dewi berkata:

    Aaaccciiieeee Daehyun suka siapa tuh…suka Yuri ya..^^
    Itu si Myungsoo dingin banget sih sama Yuri..awas nanti jadinya suka lo ><
    Aku next ya Kayur..penasaran banget sama kelanjutannya^^

  21. Lida berkata:

    Terus gimana yuri bisa menang kalo semua mantra yang biasa dia pake dilarang semua, kak dae suka ama si yuri ya? Kak aku baca part 9 dulu ya hehehe ^^

  22. YulHan berkata:

    seru bangett
    yeahh suka banget ff ini, soalnya Daehyun oppa suka Yuri eonnie
    masih penasaran sama Jongin

  23. auraminwoo berkata:

    jadi, sebelumnya minta izin dulu buat manggil author kak nyun /sungkem/
    kanyun, lionelnya jangan disebut, gua bapeeeerrrrrrr /nangisdipojokan/
    asli banget kangen sama tikus satu itu. kapan dia nongol(?) lagi?? jawab aku kak jawab akuuu /kokjadilebay?/
    gak mau komen tentang yuri ah, nanti tambah baper
    keep writing!/salamketjup/

  24. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Kyaa Daehyun cie cie cie… ahaha cubewt cubewt.. *eh Lionel mw d kmanain? tp cewe yg gendong Daehyun kecil tu yuri bkn ya
    emp khawatir deh sama Yuri tu anak nasib.a malang bgt yeh, ih makin seru, ceritanya knp gak bikin bosen kak Nyun?
    mantep deh kak Nyun… fighting kak Nyun! smoga mood.a sllu oke buat nrusin FF yg msi On Going..!! trmasuk yg ini hehe

  25. aloneyworld berkata:

    Hahaha jadi dae suka yuri? Tapi darimana himchan tau? Daehyun kan ngga ngmng -_- hahaha daehyun salahtingkah lucu banget😀 entah kenapa aku ngerasanya cewe yang nolongin daehyun kecil itu si yuri -_-

  26. lalayuri berkata:

    Kak Nyunn, jadi yuri satu”nya anak spesial pecahan dark witch yg masih tersisa ? Lee Hi dan Juniel terbunuh karena mereka anak spesial. jangan sampe yuri terbunuh juga kakk. Kak aku request dong pairingnya yuri hansel alias Myungsoo aja ya kak, soalnya unik aja klo misalkan pasangan yuri itu cowok yg dingin wkwk

  27. Retha Lee berkata:

    juniel lee hi juga bawa pecahan darkwitch dulunyaa owalaah
    wah wah waah daehyuun, baper nih sama yuri kwkwk

  28. alia_putri05 berkata:

    ini pairing nya daeyul ya aku kira yulh lagi hehehe kak kapan pw nya dikirim aku udh gk sabar baca nya gomawo

  29. Ersih marlina berkata:

    Yuri yg termasuk di tumpangi dark witch itu

    haha, tingkah daehyun konyol, dia ska sma yuri karena semasa kecil pernah di selamatkan gadis berusia 17 dg masih menyimpan tongkat shirnya sampe di abadikan yg sebesar tusuk gigi, waw mungkin gadis itu yuri, secara dia kan sdah hdup lama

    mantra? Semuanya yuri gunakan?

  30. Ckh.Kyr berkata:

    Jongin punya dendam apa sih sama Yuri–
    Hansel dingin bgt ewh, misterius sekali dirimu.
    Uwooo Daehyun suka Yuri XDD

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s