THE SORCERER’S DIARY [9th Page]

The Sorcerer's Diary #9

THE SORCERER’S DIARY #9

[The Great Trio]

by:

bapkyr

[Do not read if you have no plan in leaving comment]

.

.

Gianna menempatkan beberapa orang terpisah dalam sejemang. Mereka berada di beberapa area latihan yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa memilih latihan fisik, beberapa latihan sihir, dan sisanya—yang mengandalkan otak—memilih menghapal beberapa mantra rumit dan berlatih serius di pojok ruangan (studi kasus pada Himchan dan Yongguk, mungkin.)

Daehyun sudah berjanji pada Yuri bahwa ia akan bersamanya sepanjang hari itu mengingat kondisi Yuri sedang tidak baik. Mereka memilih latihan fisik dikarenakan Yuri yang masih takut menggunakan tongkat sihirnya. Ia takut kalau saja nanti ia merapalkan mantra yang seharusnya tidak boleh ia rapalkan. Jadi, ia bermain aman saat ini.

Area uji kemampuan sihir, dijejali sedikitnya oleh sepuluh orang. Krystal Lleouch, Hansel Duppont, Yoo Youngjae, dan Zelo Russel adalah mereka yang menempati urutan tertinggi dari berbagai penilaian kemampuan sihir yang terdapat di sana. Peraturannya, tidak diperkenankan penggunaan sihir-sihir muslihat menyembunyikan dan memindahkan diri. Artinya, jika ada Lionel di sana, jubah hitam gaibnya menjadi tidak berfungsi.

Beberapa murid, refleks menggunakannya dalam pertarungan simulasi, dan empat orang tadi adalah mereka yang mampu menghindari segala mantra yang berhubungan dengan bersembunyi, penyamaran dan perpindahan lokasi cepat—teleportasi.

Ketiga area latihan tersebut berada dalam ruangan besar yang sama, sehingga, dua puluh sembilan orang tadi bisa menilai masing-masing kemampuan dari teman-temannya. Daehyun sama sekali tidak tahu jika Hansel Duppont, ternyata pemuda yang memiliki potensi sihir yang tinggi. Baru saja, dengan ekor matanya sendiri, Daehyun melihat Hansel menghancurkan sebuah boneka sihir properti dari simulator hanya dengan satu mantra sederhana lucros dari tongkat sihirnya.

Lucros adalah mantra rumah tangga yang biasa digunakan para ibu-ibu untuk memecahkan kenari. Tingkat kekuatan yang dapat diluncurkan melalui mantra lucros, biasanya tergantung si pengguna. Dalam kasus Hansel, mengingat ia dapat menghancurkan boneka keramik yang berada di simulator dalam sekejap, tentu kekuatannya tidak bisa dianggap lemah.

Daehyun kemudian teringat pada Himchan dan tertarik untuk membandingkan kekuatan Hansel dengan Himchan. Keduanya sama-sama mengubah sihir sederhana menjadi sihir dengan kekuatan merusak. Salah satunya bahkan terkenal akan kepintarannya, sedangkan yang lain karena kepribadian misteriusnya. Akan sangat menarik jika keduanya berada di tim berbeda dan bertarung satu sama lain, pikirnya. Lalu Daehyun tersadar bahwa hal itu mungkin saja terjadi.

Perhitungan dan dugaan sementaranya saat ini, mengerucut pada kesimpulan bahwa Himchan dan Yuri akan memihak padanya. Artinya, Himchan bisa saja berhadapan dengan Hansel dan Yuri mungkin bisa saja menghadapi beberapa yang terparah, seperti Kim Jongin misalnya.

“Giliranmu, Daehyun.” Yuri berbisik. Perhatian Daehyun terlalu lama disita oleh lokasi uji kemampuan sihir hingga ia lupa bahwa simulator latihan untuk dirinya seorang akan dimulai sebentar lagi. Langsung saja semua aktivitas terhenti. Semua mata tertuju padanya.

Tidak aneh, baginya. Ia adalah salah satu dari empat yang dicurigai Kementerian, sehingga kemampuannya akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi teman-temannya yang bersedia memihak padanya di arena nanti.

Hansel sudah menunjukkan kehebatannya melalui sebuah ledakan boneka keramik, Zelo Russel tadi sudah hampir membakar dirinya karena mantra tingkat tinggi—firex—yang biasanya hanya digunakan para prajurit Kementerian.

Ajang unjuk kemampuan ini hanya tersisa bagi Daehyun dan Jongin saja.

Daehyun berjalan ke simulator sederhana tersebut dengan berbagai perasaan tidak keruan. Dilihatnya Yuri yang mengangguk pelan begitu ia sampai di sebuah papan alas bundar kecil yang berada di tengah-tengah kawasan simulator. Tidak ada mesin di sana, yang ada hanya ilusi yang diciptakan dengan kompleks oleh Gianna.

Dinding cahaya terbangun tinggi, memisahkan para penonton dengan Jung Daehyun. Keringat Daehyun meleleh turun dari dahinya saat Gianna mulai menjelaskan apa yang harus ia lakukan.

“Jangan gunakan tongkat sihirmu, gunakan fisikmu. Semua hanya ilusi, tapi rasa sakit di tubuhmu akibat serangan lawan, itu nyata. Kau hanya diperbolehkan membuat manusia-manusia ilusi ini tidak dapat menyerangmu lagi, bukan tidak dapat bernapas lagi. Tujuan latihan ini adalah melucuti senjata lawan dan membuatnya tak berdaya. Bukan membunuh. Simulasi ini akan dimulai setelah kau siap. Jadi sekarang kutanya, apakah kau sudah siap, Jung Daehyun?”

Daehyun mengepalkan tangannya. Ia tertarik pada pandangan Jongin yang memicing tajam pada sosok Yuri di kejauhan, saat itulah Gianna bertanya soal kesiapan Daehyun kembali. Pemuda itu tidak punya pilihan selain maju. Ia mengumpulkan energinya dalam tarikan napas singkat kemudian memberi anggukan pada Gianna.

“Bersiaplah di hitungan kelima, Daehyun. Fokus!”

.

.

Hansel tidak pernah setertarik ini pada adu fisik, tapi ia harus rela maniknya kini tertohok pada sosok Daehyun yang dibanjiri keringat dari dalam sebuah simulator ilusi. Daehyun menanggalkan tongkat sihirnya di luar arena kecil tersebut dan bertarung hanya dengan kekuatan fisiknya, kini sudah lima orang bertumbangan tepat seperti apa yang dibutuhkan oleh Gianna.

Tidak hanya anggota gerak Daehyun yang mampu menyerang, kepalanya, perut, bahkan bahunya bergerak sempurna untuk menangkis dan mengembalikan serangan lawan dengan indah. Kadang ia melakukan putaran penuh tiga ratus enam puluh derajat saat lawan baru muncul tepat di belakangnya—tepat ketika menyerang blind spotnya.

Yang mengagumkan bukan kelincahan Daehyun, tapi kecermatan perhitungan serangan dari pemuda itu. Ia melakukan tepat seperti apa yang dibutuhkan dalam pertarungan. Ia melukai, menjatuhkan, namun tidak membunuh. Yang perlu dielukan adalah kemampuannya untuk menghindar dari serangan lawan dengan senjata tajam. Daehyun tidak hanya melucuti senjata lawan, namun mampu menumbangkannya dalam gerakan cepat yang tidak menguras energi.

Jubah Daehyun terlepas saat ia menghadapi lawannya yang terakhir. Sebagai lawan terakhir, Gianna memberikan efek yang dramatis di sana. Sang lawan muncul dari langit-langit kemudian mendarat telak di punggung Daehyun. Ia menutup mata Daehyun, kemudian menarik kepalanya ke belakang.

Penonton memekik tertahan. Tidak terkecuali bagi Hansel yang sedang fokus memerhatikannya. Ia berdiri paling belakang di antara kerumunan namun masih bisa melihat jelas jenis kesakitan apa yang sedang Daehyun rasakan. Manusia yang menimpanya berbobot tiga kali lebih besar dari tubuh Daehyun. Kini, Hansel dapat melihat kerutan-kerutan di dahi Daehyun.

Tak habis akal, Daehyun mengakali posisi tidak menguntungkan tersebut dengan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Awalnya ia kesulitan untuk melakukan manuver tersebut, bahkan kakinya sempat terpincang-pincang akibat sabetan senjata tajam yang munculnya tiba-tiba dari tangan Sang Lawan. Daehyun membiasakan tubuhnya sendiri dengan jenis beban, juga rasa sakit yang menderanya. Ia melakukan perhitungan cermat.

Bobot pria yang menungganginya tiga kali lebih besar daripada bobotnya sendiri. Menggunakan teknik ‘mengayun dan membanting’ akan memberikan efek samping terparah pada tulang-tulangnya. Belum lagi, soal belati perak ukuran sedang yang siap memutus urat lehernya kapan pun ia mau. Sekali gerakan Daehyun salah, maka habislah semuanya.

Lima menit pertama simulasi telah berlalu. Ini bahkan belum ada setengahnya dari waktu yang disediakan—dua puluh menit. Rata-rata, peserta sebelumnya berhasil dalam waktu lima belas sampai enam belas menit. Kebanggaan tersendiri bagi Daehyun bahwa ia telah sampai pada musuh terakhir dalam lima menit saja.

Tapi,

Masalah sebenarnya justru mulai dari sini.

Daehyun masih menahan rasa sakit dan menjauhkan lehernya dari jangkauan pisau Sang Lawan. Ia masih berputar, membawa beban di punggungnya kemudian berusaha terlepas perlahan dari beban tersebut. Sihir tidak akan membantunya kali ini, meskipun ia ingin sekali mnggunakannya. Latihan ini adalah soal uji fisik, dan ia tahu, ia harus melewati ini apapun yang terjadi.

Daehyun butuh massa jika ia ingin selamat dalam arena nanti, dan dalam mencari massa, ia perlu menunjukkan kebolehannya dalam latihan ini.

“Kau menyebalkan, Perut Besar.” Daehyun mulai lelah sementara Sang Lawan mengaum-ngaum senang di punggungnya. Ia jengah sendiri. Pemuda itu akan tiba di titik lelahnya sebentar lagi sementara lawannya masih terkekeh-kekeh bodoh di punggungnya, kelihatan penuh dengan energi dan gairah membunuh. “Sepertinya aku tak punya pilihan.”

Daehyun bergumam rendah pada dirinya sendiri, terlihat sekilas, maniknya sempat terpejam dalam sepersekian sekon—mengawasi dan menelaah efek samping dari pola gerakan yang bergerilya di dalam otaknya. Bagi Daehyun, menjauhkan lehernya dari sentuhan pisau adalah prioritas.

Jadi semua manik saat itu terbelalak saat Daehyun menumbangkan tubuhnya dengan sengaja. Ia tersungkur ke depan dengan tubuh lawan di atas punggungnya. Bunyi krek terdengar renyah, bagai kraker jamur yang biasa ia makan di musim panas, bedanya, kali ini disebut kraker tulang.

Pisau Sang Lawan menyentuh lehernya. Lucu bagi Daehyun, karena itu tepat sesuai perhitungannya. Manik yang menontonnya dari luar area bertarung terbeliak tak percaya saat pemuda itu menggigit mata tajam dari pisaunya. Daehyun sudah tidak peduli apakah itu darah dari lidah atau tepi bibirnya, saat ia berhasil menarik pisau dari tangan Sang Lawan.

Tanpa ampun, tubuhnya yang kecil menggeliat dan meronta meminta bebas dari jeratan ketiak penuh lemak dan kulit ari yang sekilas nampak tak berkolagen—menggelayut;menjijikkan.

Tak sampai satu sekon, pemuda itu melakukan gerilya pada bokong dan selangkangan Sang Lawan dengan tendangan maut dari kaki kecil lincahnya. Sang Lawan mengeram kemudian melonggarkan dekapan ‘sayang’nya pada Daehyun. Hal tersebut tidak disia-siakan pemuda itu, dengan lihai—seolah sudah terlatih bertahun-tahun untuk pertandingan dengan tipe seperti ini—Daehyun mulai merayap keluar dan menyiagakan tubuhnya tepat di depan Sang Lawan. Tubuh besar itu menggeliat berdiri dengan erangan sakit di sekitar pangkal pahanya, kejengkelannya, mungkin sudah sampai pada level ‘aku akan membunuhmu betulan’.

Pisau kecil Sang Lawan sudah dikuasai penuh oleh jemari Daehyun. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan demi mendapatkan pertahanan dan penglihatan yang lebih baik soal lawannya yang tengah kesal.

Selanjutnya, para penonton disuguhi pertandingan ala matador dengan pisau yang bertindak bak kain merah. Sang Lawan mengamuk dan menyerbu Daehyun seolah ia adalah sosis mayonaise lezat yang terjatuh saat sarapan, sementara Daehyun melihat musuhnya sebagai, oke, timbunan lemak berjalan.

Come and get papa, babe,” Daehyun mulai menggoda Sang Lawan seolah pertarungan tersebut kemenangannya telah mutlak miliknya. Ia memang benar, tapi ia tidak pernah sebenar itu sebelumnya. Daehyun sudah memperhitungkan segalanya, termasuk gerakan tergelincir kecil Sang Timbunan Lemak Berjalan, saat ia mulai menyerang Daehyun dari arah depan.

Pertanyaannya, apa yang membuat Sang Lawan tergelincir?

Bunyi kring singkat kemudian berdentang saat Daehyun menancapkan sebilah pisau tepat di punggung Sang Timbunan Lemak tepat, ketika ia menggelepar kesakitan di atas alas kayu. Sosok itu kemudian menghilang saat sorak-sorai membahana, mengelu-elukan dirinya.

Yuri yang berdiri terlalu dekat dengan arena kini membagi pelukan hangat pada Daehyun dengan refleksnya, seolah pandangan mata dan siulan singkat dari mereka yang menonton, tak ada artinya.

“Bagaimana kau melakukan itu?” Tanya Yuri. Gadis itu memiliki banyak pujian yang tertahan di pangkal lidahnya bagi Daehyun. Ia sungguh tak menyangka—benar-benar tak menyangka—bahwa segala gerakan yang dibuat Daehyun barusan sama sekali tidak sia-sia, seolah ia telah memperhitungkannya dengan cermat sejak awal ia berada di atas papan bundar tersebut.

And, well, he is.

Daehyun memang ahli memperkirakan kondisi, dan ia layak dipuji soal ini.

“Itu gampang, kau harus tahu beberapa karakter orang-orang kelebihan lemak,”

Dahi Yuri mengernyit, “Apa maksudnya itu?”

“Kau melihat dia terjatuh?”

“Ya, dan aku barusan bertanya bagaimana caramu menjatuhkannya?”

“Aku tidak melakukan apapun, Yuri. Aku hanya membuatnya berkeringat,”

Dahi Yuri makin menunjukkan kerutan tak mengerti. Penjelasan Daehyun sama sekali tak membantunya menemukan solusi. Jadi wajar jika keduanya saat ini tengah berjalan memisahkan diri dari kerumunan, dan membiarkan sorak-sorai mereda di kejauhan. Keduanya berdiri di sisi jendela besar yang tingginya tiga kali dari tinggi Yuri.

Daehyun mengedikkan bahunya.

Well, kau tahu, tidak semua orang gendut bisa berdiri tegak di atas licinnya kayu berpelitur akibat keringatnya sendiri ‘kan?”

.

.

Sepuluh menit selanjutnya masih jadi rekor Daehyun dalam adu fisik. Pemuda itu sendiri sebenarnya tak menyangka ia bisa secepat (dan seberuntung) itu bisa keluar dari simulator. Awalnya ia hanya menargetkan, paling tidak ia tidak tumbang, itu saja.

Soal darah di bibir dan luka-luka kecil akibat tumbukkan keras dengan Si Lemak, kini sudah diatasi Gianna dengan obat-obatan sihir herbalnya. Bagaimanapun, ia masih bertanggung jawab soal kesehatan dua puluh sembilan murid sebelum mereka sampai di arena.

Omong-omong soal rekor, Hansel cukup tercengang juga. Sebelumnya ia hanya berpikir bahwa Daehyun adalah pemuda tolol yang sejak awal hanya gemar mengganggu Himchan dan buku-bukunya, kendati mereka berteman. Matanya menekur ke lantai keramik krem saat ia mencoba memanggil kembali memorinya soal Daehyun, dan menelaah, kalau-kalau ia terlupa akan sesuatu.

Salah satu fragmen memorinya mendarat pada penglihatan lawas soal Daehyun dan Himchan yang tahu-tahu muncul di koridor tiga belas saat ia melintas. Keduanya berbicara sangat serius kemudian berlari terbirit-birit ke kamar seolah sesuatu baru saja melintas dan menghantui keduanya.

Karena penasaran, Hansel mencoba menyesari koridor tiga belas. Ia mencari tempat persembunyian atau apapun yang dapat ia temukan untuk mencoba membuktikan bahwa, Daehyun dan Himchan tidak dengan tiba-tiba saja muncul tanpa asap sihir. Sayangnya, saat itu ia tidak menemukan apapun. Seolah, dua orang yang dilihatnya baru saja terhisap ke dimensi lain kemudian kembali tiba-tiba dari antah berantah.

Hansel pada dasarnya tidak memercayai siapapun, bahkan penglihatannya sendiri. Jadi dia memilih diam, dan mencoba melakukan penelitiannya sendiri.

Pemuda itu tengah tenggelam dalam observasinya saat Suzy Lovegood menabraknya dari belakang. Tongkat sihirnya terjatuh, tepat di depan kaki kanan Hansel. “Oh maaf, Tuan Duppont. Aku tidak sengaja.” Katanya.

Anggukan singkat adalah jawaban bagi Suzy. Ia tidak mau menunggu lebih lama lagi karena Hansel adalah tipe pemuda yang tidak suka basa-basi. Dalam sejemang, sosok Lovegood hilang dari pandangan Hansel. Pemuda itu tidak suka disentuh apalagi oleh wanita. Kini ia mengibaskan jubahnya seolah sosok Lovegood adalah bakteri.

“Kau begitu dingin, kawan,” rambut hitamnya adalah yang pertama kali menohon titik fokus mata Hansel. Pemuda yang kini tengah mendekat ke sisinya adalah Yoo Youngjae, teman sekamarnya. Bicara jujur, ia juga tidak mengenal betul sosok Youngjae selain kenyataan bahwa mereka sekamar, dan Youngjae terlalu agresif bergerak ketika ia tidur.

Kekagetan yang sama sempat menguasainya ketika Youngjae, mampu menyaingi rekornya di simulasi sihir. Kekuatannya tidak berbeda dengan kekuatan yang ditunjukkan Hansel. Sedikit-banyak, Hansel berharap pemuda ini dapat bergabung dalam timnya nanti.

“Popularitasmu di antara para gadis begitu tinggi, jika kau tidak sedingin ini.” Kata Yongjae lagi. Senyumannya membekas di wajah kecil pemuda tersebut, kemudian memberi getaran yang tidak dapat dijelaskan pada sekujur tubuh Hansel. Ia selalu seperti ini, setiap kali bertemu tatap dengan Youngjae. Hal ini di luar kendalinya.

“Sayangnya, aku tidak tertarik.”

“Ayolah, kau butuh teman. Kau harus bergaul.”

“Kita dikirim kemari bukan untuk berteman, kurasa. Kau tahu pada akhirnya kita akan saling melukai.”

Youngjae terkekeh atas komentar Hansel. “Kau mungkin akan menjadi target utama tim lain jika kau bersikeras menyikapi mereka dengan caramu yang dingin ini.”

“Aku tidak peduli.”

“Bahkan jika kau bisa mati?”

“Tidak akan ada yang mati di arena, mereka melindungi kita.”

Mereka? Siapa yang kaumaksud dengan mereka? Raville? Kepala sekolah? Para guru? Oh ayolah, kau terlalu naif!”

Alih-alih membalas pernyataan sarkasme dari Youngjae, Hansel melejitkan bahu dalam periode detikan singkat. Bibirnya ia sunggingkan ke atas, seolah mengejek Youngjae akan ketidaktahuannya. Atau malah, Hansel tengah mengetes kecerdasan Youngjae dan indera kepekaannya saat itu.

Dari konversasi barusan, setidaknya Hansel mendapatkan satu poin penting :

Yoo Youngjae percaya bahwa Raville sudah tidak berdaya.

.

.

Ekspresi cuai Daehyun menyerang seisi pelupuk mata Yuri kala rekornya terkalahkan seketika oleh Kim Jongin. Dengan lawan yang sama, Jongin dapat menghabiskan tujuh menit saja untuk menghabisi manusia ilusi di simulator. Menyebar di seisi ruangan kemudian, adalah elu-eluan untuk sosok Kim Jongin yang rasanya sukar sekali ditebak.

Daehyun tidak yakin ucapannya akan membantu banyak, tapi kata ‘ayo istirahat’ setidaknya, dapat mengalihkan perhatian Yuri dari sosok Jongin. Daehyun selalu merasa pemuda itu mengincar Yuri sejak awal mereka bersama-sama masuk ke dalam Raville. Daehyun merasa aura-aura buruk, dan ia acapkali benar soal perasaannya.

Ketika keduanya duduk berhadap-hadapan di sebuah bangku kafetarian, Himchan berlarian dari belakang bahu Daehyun, dan mengisi ruang kosong di sisi Yuri. Pemuda itu baru saja mengalahkan rekor Yongguk dalam adu ketangkasan strategi barusan. Sayangnya, para murid di sana kurang begitu tertarik dengan adu strategi tersebut jadi tidak banyak yang tahu kalau Himchan begini jenius.

“Kau tidak akan percaya apa yang telah kulihat,” Daehyun memulai pembicaraan. Tongkat sihirnya ia letakkan di atas meja yang menengahi tubuhnya dan tubuh Yuri. Pupilnya membesar saat sorot hazel gadis itu terfokus penuh padanya. “Kim Jongin tidak memiliki niat yang bagus sejak awal.”

“Kau bicara apa?” Yuri meliukkan alisnya.

“Aku selalu mendapati pemuda itu tengah memandangmu dengan … err … beringas? Entahlah. Tatapannya tidak biasa.”

“Nah,” Himchan menyela. Telunjuknya teracung ke tengah, tepat di antara Daehyun dan Yuri. Perlahan, ia mendekat, mencondongkan tubuhnya dan berbicara dengan intonasi yang lebih dalam dan bariton yang hampir tidak terdengar. “Aku punya teori soal ini.”

Tidak ingin tertangkap basah sedang membicarakan hal-hal sensitif, Himchan mendorong tubuhnya kembali ke tempat duduknya semula. Ia berdeham beberapa kali untuk mengulur waktu; mempersiapkan apa yang akan dikatakannya, serta mempertimbangkannya jika itu tidak akan mengganggu fokus latihan mereka ke depannya.

“Biar kutanya satu hal padamu dulu, Daehyun. Apa Suzy Lovegood menabrakmu hari ini?”

Daehyun menatap Yuri kemudian menggeleng. Seharian ini ia bersama Yuri kemana pun. Jika ada waktu di mana mereka berpisah, itu adalah di dalam arena ketika Yuri dan Daehyun sama-sama bertanding dalam simulator. Tidak ada waktu lain untuk sengaja bertabrakan dengan Suzy Lovegood (bahkan jika Daehyun menginginkannya).

“Tidak. Kenapa?”

“Oke, ini teoriku yang pertama : Suzy Lovegood memiliki kemampuan sihir akurat soal deteksi aura,” Himchan menunggu reaksi, tapi Daehyun dan Yuri terlalu bingung untuk bereaksi. “Jika kau pikir aku berada di pojokkan sembari terfokus pada papirus saja, maka kau salah. Seharian ini aku memerhatikan beberapa orang yang kucurigai. Dan Nona Lovegood agaknya berpikiran sama sepertiku.”

Kening Daehyun berkerut, “Bisa kau lebih mendetail?”

“Oke, demi menjangkau kemampuan berpikirmu yang rendah, dengan sangat terpaksa harus kujelaskan terperinci. Gelagatnya, Nona Lovegood menyembunyikan kekuatannya selama ini. Ia tipe sorcerer langka yang memiliki sense kuat dalam mendeteksi aura. Pendeteksi aura biasanya melakukan penelitian dengan dua cara: pertama, bertanding dengan sang pemilik aura, atau, menyentuh bagian tubuh mereka. Hari ini aku melihat Nona Lovegood menabrakan diri pada—setidaknya—sepuluh orang teman kita. Di antaranya, Jongin, Hansel dan Zelo Russel.

Teori keduaku mengatakan bahwa,

Suzy Lovegood tidak memeriksamu karena ia sudah tahu bahwa kau bukan bagian dari objek observasinya; kau tidak termasuk dalam daftar orang yang dicurigai Lovegood.

Sedangkan teori ketigaku membuatku menyimpulkan bahwa, karena Yuri Feckleweis tidur sekamar dengannya, kurasa Lovegood ini sudah tahu siapa Yuri sebenarnya. Yang membuatku bertanya adalah, mengapa ia tidak bicara apapun. Itu saja.”

Himchan tersenyum bangga atas hasil observasi singkatnya hari ini. Ia tahu kedua orang di hadapannya itu terkejut. Tapi ia tidak menyangka bahwa sebuah keterkejutan dapat diekspresikan dengan keheningan yang terlalu panjang. Himchan membiarkannya beberapa saat hingga akhirnya Yuri berbisik,

“Menurutmu apa aku harus berbicara pada Suzy Lovegood?”

“Tidak, kurasa. Suzy Lovegood bertindak seperti referee; dia tidak memihak, dan kita tidak bisa membuatnya memihak.”

“Memangnya aku terlihat membuat kubu?” Tanya Yuri. Kemudian menyadari bahwa seluruh kafetaria di isi oleh individu dalam meja kecilnya sendiri-sendiri. “Oke, aku paham. Mereka mengira kita sudah membentuk kubu sendiri di sini.”

“Persis, glad you knew it.” Himchan memberikan penekanan fatal pada nada suaranya, ekor matanya tertahan pada sosok Daehyun yang—yah—terlihat masih belum sepenuhnya mengerti topik tersebut.

“Aku belum mengatakan teoriku yang terakhir, Nona Feckleweis.”

“Kau bisa memanggilku Yuri, dengan nyaman.”

Himchan mengulas senyum di wajahnya, “Baiklah, Yuri. Teori keempatku merujuk pada keberadaan Kim Jongin dan maksud tidak baiknya padamu. Ekspresi Nona Lovegood berubah begitu ia menabrakan dirinya pada Jongin. Kemudian aku tidak melihatnya lagi hingga latihan selesai hari ini. Bahkan kau tidak akan menemukannya di kafetaria, jika matamu berkeliling.”

Yuri memalingkan wajahnya dari Himchan; ekor matanya bergerak senada dengan gerakan kepalanya. Ia melihat beberapa wajah yang ia kenal dari Park Chanyeol hingga Yoo Youngjae. Namun tidak satu pun sosok gadis dengan rambut hitam panjang yang biasanya akan mengabadikan kegiatan makan siang ini dalam sebuah gambar indah.

“Kurasa,” nada bicara Himchan direndahkan kembali. Ia melirik kanan dan kiri untuk memastikan nada suaranya tidak akan terdengar bahkan oleh semut. “Nona Lovegood menemukan hal janggal pada Kim Jongin. Dan dia menutup mulutnya rapat-rapat, lalu bersembunyi ketakutan di suatu tempat di sekolah paralel ini. Dan apapun itu di dalam sosok Kim Jongin, kurasa itu akan berbahaya untukmu, Yuri.”

.

.

.

[To be Cont.]

.

.

I have no idea how the ending will be, but for this time, enjoy this diary🙂

94 thoughts on “THE SORCERER’S DIARY [9th Page]

  1. Luluu berkata:

    Kaknyun!!! Makin kemari makin keren deh :3 makin bikin ketagihan huehehe.. Youngjae bikin penasaran ya -.- trus Hansel ga belok kan? *speechless* Jongin… sebenrnya siapa kamu??? Haha.. great job kaknyun! (Y) aku demen sama the great trio itu :p wkwk..
    untung aku ud selesai pu :p jadi bisa baca deh. Sayangnya bentar lagi aku us, takut ga sempet baca lagi :” hehe.. next page nya jngn lama lama ya.. hehehe… hwaiting kaknyun!

  2. Wdy_01 berkata:

    KYAAA~ >< KEREN BANGET KAKNYUN *-* JONGIN MISTERIUS BOY~ NEXT PART DI TUNGGU KAKNYUN ^^ KEEP WRITING AND HWAITING KAKNYUN ^^

  3. Agnes berkata:

    tadi himchan keren!! paling males kalo baca ff ada kata-kata to be continue. part 10 nya dong unnie! kok toz ga update-update ya?

  4. sjelfeu berkata:

    Iyaa kan bener ada yang aneh sama si kai itu ! yaa swear deh tambah penasaraan. Bakatnya si daehyun kan udh keliatan tuh dia tepat bgt bikin planning menyerang, Dan bertahan. Perhitungan nya tepat ! great ! si himchan hebat analysis nya. bakat nya suzy unik !
    sekarang mari kita tunggu, kekuatan istimewa apa yg dipunyai seorang yuri fekcleweis :3
    Omong2 sukaaaa bgt deh sama nama ‘yuri fekcleweis’😀

  5. Sam Min Hyo berkata:

    JongIn itu kenapa??? Mistis amat tuh orang -_-
    Masih belum ngerti kekuatan Suzy..

    Ayo kak nyun…next part di tunggu yah. I’m wait.. Keep Writing. Hwaiting. Yeeay…

  6. yardannimeisya berkata:

    Gatau kenapa selalu aja degdegan tiap baca ff kaknyun , kaknyun sebenernya pake mantra apa biar bisa buat FF sekeren ini TT_TT Hehe uwoo Daeyul moment, atau hyunyul moment haha. Himchan ngambil otak siapa jadi pinter begitu haha ? :3 Wahwah ada apa kan dengan jongin😦 yah jngn jngn dia jadi peran jahat nih😦 Ditunggu kaknyun next partnya. Fighting^^

  7. yuluhan berkata:

    kaknyuuuuun ampyuuun deh makin penasaran kaknyuuun bisa aja buat cerita yg kualitasnya bagus anti mainstream aku sukaaa banget

  8. dreamy yeoja berkata:

    woah… daehyun mendadak jadi keren(?) tapi Jongin lebih keren🙂 *jiwa fangirl kumat* and… ehem…kayaknya ada yg merasa tersaingi nih *nunjuk si duppont*🙂 ak beneran ga nyangka sama si lovegood… ternyata dia ahli soal mendeteksi aura(?) thanks to Himchan, ak jadi makin penasaran emangnya Jongin kenapa sih? Dia jahat ya? Dia bisa pake ilmu hitam? Nah lho… dia induknya dark-witch? *apa ini?*
    Lanjut yaaa…🙂

  9. yayu hani destriani berkata:

    wehhh kenapa harus tbc tjoba ‘_’)
    daehyun bikin aku tercengang sama aksinya😀
    daehyun keren yeyelala yeyelala #alay -_-
    di part ini udah pada mulai kekuatan para murid (?)
    suzy juga ternyata keren cuman lewat aura atau nyentuh seseorang dia tau sehebat apa tu orang..
    duh ada apa sih sama jongin >.<
    next partnya ditunggu banget ya kanyun {}🙂

  10. Onlyuri berkata:

    Unnie.. aku ga liat update an yg ke 9 MUAHAHA kaget liat di twitter udah update yg ke 10 aja. Ini baru baca deh jadinya.
    wah daehyun nya kece amat lah, aku penasaran bgt sm si jongin huhu dia siapa si ;__;

  11. tarhyulk berkata:

    kai mkinn buat gua curigaa.. aq yakin klo dy emank ngincar yuleon deh.. oia unnie aq gk liat updatan part 9 ..pas buka blogmu msih part 8 yg trlihat but izin k part 10 yh eon..><

  12. soshiyulk berkata:

    ini juga dari kemaren belom aku komen eonT,T

    btw ini ada efek suaranya eon? aku kira suara hpnya orang/?
    eon kapan-kapan kasih hansel-yuri momen ya hihi gatau napa jadi pengen liat mereka berdua kkk

    fighting!

  13. Stella Kim berkata:

    uwaa aku telat bacanya. tapi ini keren kok! semakin ke sini semakin bikin penasaran. aku bisa mati penasaran juga nih lama-lama. Kaknyun anda memang the best! jjang!

  14. ikaa_roro berkata:

    Huuuuaaaa kereeeennn, karna bru baca lanjut part selanjut ny yaa nyun,udah penasaran maksimal,hahaha

  15. Riska Dewi berkata:

    Aku penasaran banget sama si Kai…abisnya dia itu misterius banget
    Dan juga Daebak buat Kayur…*prokprokprok* ^^

  16. Yuri rahmamalika berkata:

    Himchan jenius,
    daehyun lemot…kontras banget
    semua punya kemampuan yang berbeda2,penasaran dengan akhirnya

  17. auraminwoo berkata:

    uwaaa…akhirnya aku sedikit mengerti alur konfliknya😀
    masih penasaran siapa yang waktu itu dicermin ngobrol sama youngjae
    apa jangan jangan youngjae atau teman cerminnya itu si induk dari dark witch?
    btw kanyun…

    KENAPA LIONEL DISEBUT DIAWAL??? AKU BAPEEEERRRR!!!

  18. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Daebak Daehyun rekor nya! Daebak Himchan Observasi nya! Daebak kak Nyun ff nya.. Yuri blm Daebak hhe
    beuh ini klo di bikin Novel aq hrus jd org yg pertama beli..
    aq suka the Great Trio..(iyalah-secara) jd penasaran siapa yg bakal gabung ama mreka brtiga, tp blm pd spakat buat gabung kan ya..
    lanjutkan kak Nyun! smangat keep writing n fighting!!

  19. lalayuri berkata:

    Kak Nyunnn aku makin penasaran, kai jahat ? Yah jangan dong kak gak relaaaaa, trus suzy nya kemana ? Pantesan tdi suzy nabrakin dirinya ke hansel. Youngjae itu dark witch kan ? Ada di part berapa ya tdi. Intinya ff nya kerennnnn

  20. Retha Lee berkata:

    sungguuuh kereen daehyun!
    hansel si ice prince wkwkwk
    mengapa sih jongin ini. baca chap sebelum2nya juga aneh banget kelakuannya jongin ke yuri deuh
    kekuatan spesial suzy terkuak yaa

  21. alia_putri05 berkata:

    kenapa jongin jahat kaya gitu dan bakat nya suzy unik wah kayak nya udh mau di mulai nih perang nya mian cuman bisa coment ini

  22. kyulyulmiu berkata:

    yaampun kaknyun
    maaf sebelumnya aku jarang mampir kak TT aku sibuk bgt belajar kmren2.
    huaaa
    aku gk tau aku udh coment dimna terakhir di ff kakak #miamhe
    kakak aku ganti id ya,
    dari -> agneskyuri21->kyulyul->kyulyulmiu
    semoga kakak gk lupa TT

    nah jadi udh terkuak deh power of lovegood, hansel dingin bgt dah ya:v
    omo omo ada apa dgn jongin?
    izin bca next part kal

  23. Ersih marlina berkata:

    Weowe mulu kalau bca ff kaka, hihi oh iya ka nyun, kenapa sih bsa buat ff yg buat reader ga nyangka sma org2 nya, hihi
    suzy jga pnya bkat yg langka

    tentang prediksi aura suzy jelas jongin bkan suka sma yuri, tapi lbih kpda ingin yuri tewas barang kali ? Hihi terlalu ya fkirannya, oke maafin ya ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s