KLISE : UNSTOPPABLE [Part 8]

Klise unstoppable

KLISE : UNSTOPPABLE PART 8

Maaf atas keterlambatannya ya guys!

Semoga bisa menemani ngabuburit :p

.

Yuri berjalan dengan tas yang ia sampirkan asal di pundaknya. Meski cuaca mendung mengekorinya setiap langkah, Yuri tak juga berniat menepi. Alih-alih ia berjalan lurus, melewati emperan demi emperan jalan kemudian etalase-etalase dan beranda toko berkanopi kecil. Setiap langkahnya menghambur udara, kali itu juga beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Malah terkadang, mulut-mulut itu kerap berkomat-kamit setiap kali Yuri tak sengaja menatapnya. Meski tidak mendengarkan apapun, setidaknya Yuri sudah tahu sekiranya topik apa yang coba mereka bawa ketika melihatnya.

Tetes-tetes hujan mulai membasahi alas beton yang tengah ia pijak. Yuri menyerah, ia menepi. Sebuah toko baju yang kerap ia kunjungi kini menjadi pilihannya. Di jendela besarnya, terpasang sebuah manekin dengan busana kasual perpaduan celana pendek berwarna salem dengan atasan blus sifon berlengan pendek, khas musim panas. Yuri menilik sebentar kemudian tersenyum ketika pelayan toko tersebut menyapanya ramah.

“Ada yang bisa kami bantu?” Tanyanya.

“Oh aku…,” Yuri memutar kepalanya ke kanan dan kiri, kemudian meretas pandang pada seisi toko di lantai satu. Saat maniknya mulai tertuju pada anak tangga, pelayan di depan pintu buru-buru bicara kembali, “ada koleksi baru di pojok, jika kau berkenan maka aku akan…”

“Tidak, tidak perlu. Aku ingin melihat-lihat dulu.” Sang Pelayan entah mengapa kehilangan kalimatnya. Gadis muda tiga puluh tahunan itu terlihat ragu ketika Yuri pergi dari hadapannya dan mulai melihat-lihat baju di sisi yang lain.

Bukannya tak sadar, Yuri hanya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pikiran-pikiran negatifnya. Sekilas ia berharap bahwa perasaan tidak enak yang baru saja menghinggapinya akibat tindak-tanduk tak biasa Sang Pelayan, hanya imajinasinya saja.

Yuri tiba di pojok ruangan dengan sederet manekin yang mengenakan gaun menjuntai berwarna keemasan di sisi-sisinya. Maniknya bagaikan dibasuh dengan air yang baru turun dari pegunungan begitu melihat deretan gaun-gaun chic tepat di sebelah manekin tadi. Yuri meraihnya, memilih kemudian membawanya ke kamar pas.

Harusnya semuanya berjalan lancar toh Yuri hanya berniat membeli beberapa potong baju, berjalan-jalan sebentar kemudian pulang kembali ke rumahnya. Agaknya, niat itu musnah sudah ketika tepat di anak tangga, dirinya berpapasan dengan seorang gadis muda yang belakangan wajahnya kerap muncul di televisi.

Berdiri di sana, memandang Yuri dengan sinis, tidak lain adalah Hyuna Kim. Seorang gadis yang disebut-sebut akan mengubah status lajangnya besok bersama seorang pria yang pernah menjadi kekasihnya.

“Oh kau.” Tidak ada nada ramah dalam kalimat tersebut. Malah, Yuri menangkap barusan Hyuna menyapanya dengan sarkasme tersembunyi yang seolah mengoloknya atas apa yang terjadi pada Yuri sekarang. “Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini.”

Yuri menggulung baju-baju yang ada di lengannya lantaran ia berusaha untuk menutupi rasa gugupnya. Meski ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan pernah lagi terguncang untuk pemberitaan soal Myungsoo dan Hyuna, namun, hatinya tidak dapat dibohongi sama sekali. Yuri bukanlah gadis manis yang selalu dapat menekan amarahnya ke titik nol. Tidak. Titik maksimalnya ada di angka tujuh puluh dan hari ini, ia telah menekannya hingga titik itu.

Berharap saja Yuri tidak akan meledak kali ini.

“Kalau kau merasa tidak nyaman, aku akan…”

“Tidak Yuri, tidak perlu. Aku sudah selesai dengan urusanku di toko ini. Yah, kau tahu, aku hanya mencoba kembali gaun yang akan kugunakan besok.”

Tidak ada nada tidak nyaman yang dilontarkan Hyuna barusan meski, bagi siapapun yang mendengar dua gadis itu bicara, terlihat sekali bahwa Hyuna baru saja menyindir Yuri sekali lagi. Delapan puluh. Amarah Yuri meningkat kembali.

“Senang sekali mendengar kau sangat mendetail seperti ini, kuharap semuanya lancar besok. Kalau begitu aku permisi dulu,” Yuri bergegas angkat kaki dari hadapan Hyuna, namun sekali lagi, seperti ada rasa tak puas ketika Yuri pergi, Hyuna mulai memanggil namanya kembali.

“Apakah kau sudah menerima undangannya?” Tanya Hyuna.

Dengan canggung, Yuri mengangguk.

“Kuharap kau datang.”

Yuri menghela napas, kemudian memandang manik biru laut Hyuna lekat-lekat, “jangan tersinggung, tapi sepertinya aku tidak akan pernah datang.”

Hyuna menggeleng kemudian berdecak sembari menggoyang-goyangkan telunjuk kanannya. Bibirnya yang mungil terkadang dimajukan ketika kakinya juga melangkah maju dua sampai tiga langkah. Ketika tubuhnya bersisian dengan tubuh Yuri, Hyuna merendahkan volume suaranya. “Aku sudah bilang begitu padanya, tapi dia tidak mau mendengar.”

Yuri mengerutkan dahinya, “apa maksudmu? Siapa yang kau bicarakan?”

“Yah,” Hyuna menyibakkan rambutnya dengan gaya angkuh, suaranya kembali normal. “Kau tentu tahu bahwa faktanya, pria lebih sukar melupakan masa lalunya. Mungkin pria itu berharap kau melakukan sesuatu untuk menggagalkan acara besok atau mengajakmu menikah di sana dan semacamnya, tapi apapun itu, kuharap kau tidak akan pernah melakukan apa yang akan menggagalkan acara pernikahanku besok, Nona Kwon. Aku tidak pernah mengirimmu undangan itu, namun jika undangan itu sudah berada di tanganmu, aku yakin sekali pria cengeng itu yang melakukannya. Myungsoo-mu merencanakan sesuatu dan aku tidak ingin kau bersekongkol dengannya. Kau memegang janjimu pada Nyonya Kahi bukan?”

Yuri tampak terkejut begitu Hyuna menyangkut-pautkan janjinya pada Kahi yang seharusnya sangat rahasia di antara mereka. Rasa penasaran itu tahu-tahu mencuat ke permukaan lebih dari apapun. Namun Hyuna, dengan entengnya menjawab rasa penasaran itu dengan kalimat sederhana.

“Jangan kaget karena aku tahu. Aku Kim Hyuna, dan tidak ada satupun yang tidak kuketahui jika berbicara soal keluarga itu. Bahkan, bicara jujur, aku juga tahu seluk-beluk keluargamu, Nona Kwon. Jika kau mau dengar, aku bisa menyebutkan…”

“Aku di sini bukan untuk mendengar ocehanmu, Nona Kim yang terhormat. Jika tidak ada hal penting lain yang akan kau utarakan, aku permisi—“

Hyuna tersenyum tepat ketika Yuri memunggunginya. “Nona Yuri,” panggilnya. Namun seperti dugaan, Yuri sama sekali tidak menoleh ketika ia hampir tiba di depan pintu kaca toko baju tersebut. Pelayan yang tadi menyambut Yuri ketika kedatangannya di sana, kini tengah sibuk mewadahi seluruh baju yang tidak jadi dibeli oleh Yuri. Konsumennya tersebut malah pergi dengan wajah masam.

“Cih,” Hyuna meniup poninya ke atas.

.

.

Yuri menyesari jalan-jalan Gangnam ketika terik mentari memuaikan cairan di dalam tubuhnya. Tetes-tetes peluh itu tak jemu menuruni pelipis kanan gadis itu hingga akhirnya terjatuh bebas di atas trotoar. Yuri sesekali menoleh ke arah di mana ia baru saja sukses menahan amarahnya yang begitu memuncak—tepat pada sebuah mobil hitam mewah yang sekarang sudah melaju bebas ke jalanan dengan kencangnya.

Ck,” Yuri mendesah. “Kau seharusnya mendengar apa kata Ibu, Yuri.” Ia berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu menyeka peluh di dahinya kemudian memilih sebuah bangku panjang berwarna merah muda sebagai jawaban atas kelelahan mental dahsyat yang dialaminya barusan.

Gadis keras kepala itu meletakkan tas kecil miliknya, tepat di samping tubuhnya kemudian mulai mengikat rambutnya menjadi satu simpul di belakang kepalanya. Maniknya mulai menyoroti jalanan yang tak henti-hentinya beraktivitas. Di ujung jalan tersebut terdapat sebuah perempatan jalan di mana ia bisa melihat orang – orang yang berlalu-lalang sembari memegang ponsel mereka masing-masing. Beberapa bahkan terlihat sibuk menelepon sehingga kadang menabrak pejalan kaki lain yang kebetulan melintas. Anak-anak muda dengan seragam sekolah—yang kemungkinan membolos—tengah tertawa diam-diam ketika mereka melintas di depan Yuri. Gadis itu bahkan sempat menyadari bahwa salah satu dari mereka baru saja mengacungkan ponselnya dan mengambil gambarnya dengan cekatan, kemudian berlari puas bersama teman-temannya yang lain.

Yuri mendesah, paling-paling sebentar lagi SNS akan ramai pemberitaan soal diriku lagi.

Yuri meraih ponselnya, mencoba membuktikan kecurigaannya tersebut. Yuri tidak pernah membiarkan ponselnya tanpa pengamanan sejak pemberitaan miring soal dirinya mencuat ke media. Dirinya selalu memastikan ponselnya dalam keadaan terkunci dengan password sehingga ketika sesuatu terjadi pada ponselnya, data-data di dalamnya tidak akan dapat diakses dengan mudah.

Gadis itu kini mulai mengetikkan beberapa kombinasi angka di layar depan ponselnya. Ketika tombol penguncinya berhasil dibuka, gadis itu terpaku selama beberapa detik melihat wallpapernya sendiri. Terpajang di sana, adalah foto Myungsoo dan dirinya.

Musim dingin menjelang natal, Desember.

Ketika itu, Myungsoo membawanya ke salah satu area paling ramai di Namsan. Mengatakan bahwa ia ingin putus dari Yuri saat itu juga, Myungsoo telah membuat bualan paling menyakitkan untuk Yuri. Gadis itu hampir saja percaya ketika setetes air mata jatuh di pipinya. Kala itu ia belum menyadari bahwa sejumlah lilin telah di pasang di area kosong di kaki menara Namsan. Lilin-lilin tersebut berjumlah tak kurang dari lima ratus dua belas buah—tepat sesuai tanggal ulang tahunnya, lima desember. Berdalih karena lilin ke lima ratus dua belas belum sempat menyala ketika Yuri datang, Myungsoo terpaksa membuat drama bualan bagi gadis tersebut sehingga ia menangis.

Yuri tertawa ketika ia—ternyata—masih mengingat semuanya dengan sangat jelas di dalam otaknya. Indera penciumannya masih tajam untuk mengingat harum aroma tubuh Myungsoo; Indera perabanya masih hapal betul hangat dekapan pemuda tersebut. Yuri masih sama, ia masih Yuri yang mencintai pemuda itu tanpa syarat.

Namun hari ini ia di sini,

Jauh dari menara Namsan; dari dinginnya salju Desember; dari pemuda itu.

Yuri menggenggam ponselnya erat seolah ia sangat menyesal telah memungut benda tersebut dari tasnya. Air matanya sudah menggenang, tapi gadis itu menahannya sedemikian rupa hingga air itu mengering bak oase yang menghilang di tengah gurun. Bibirnya tidak sedikit pun mengulas senyum, bahkan ketika seorang kakek-kakek menyapanya dengan sangat ramah.

Kebaikan itu telah hilang dari diri Yuri, hilang ditelan kegundahan yang tak berujung.

“Hyeji-ah, Hyejiah! Tunggu!”

“Ma—maaf, Noona…”

Rupanya kesialan Yuri tidak berhenti pada pertemuan tidak terduganya dengan Hyuna saja. Barusan, seorang anak muda berseragamkan abu-abu gelap menabraknya. Kedua tangannya menggenggam dua gelas plastik americano yang—kebetulan—salah satunya tumpah dengan sukses ke pangkuan Yuri.

“Ma—maaf Noona, a—aku… omo!” Binar bocah tersebut terpancang jelas di maniknya ketika ia beradu pandang dengan Yuri. Mungkin saja, bocah itu menyadari bahwa gadis muda yang baru saja ia tumpahi segelas americano adalah gadis yang tengah ramai dibicarakan se-Korea.

Yuri mencoba tersenyum, meskipun—sekali lagi—ia tidak benar-benar menginginkannya.

“Tidak apa-apa, aku—“ belum selesai Yuri bicara, bocah itu sudah pergi dari hadapannya, kembali meneriaki nama Hyeji dan menghilang di belokan tak jauh dari tempat Yuri berdiri dengan frustasi. “Bocah tengik.” Gumamnya.

Yuri berdecak kesal, ia menepuk-nepuk celana pendeknya yang baru ditumpahi air kecokelatan yang beraroma sangat manis. Aroma yang mengingatkannya pada sejuta memoar manis bersama Myungsoo. “Sial!” Ia mengumpat kembali setelah usahanya untuk menghilangkan noda cokelat tersebut ternyata berakhir sia-sia.

Tepat ketika Yuri hendak menghentakkan kakinya lantaran kesal, tas tangannya terjatuh sehingga isinya berhamburan kemana-mana. Kepala Yuri makin panas, dirinya mengumpat lebih intens daripada sebelumnya. Tangannya bekerja ekstra untuk mengumpulkan kembali barang-barang yang berhamburan dari tasnya.

Beberapa orang di sisi jalan kini memandangi Yuri, seolah kejadian sial yang menimpa gadis itu adalah topik menarik yang mungkin akan menghiasi headline berita online sebentar lagi.

Pasrah, Yuri mengacuhkan sekelilingnya. Kotak make-up yang terlontar paling jauh dari kakinya, kini mulai diraihnya perlahan. Kotak itu kemudian melayang masuk ke dalam tasnya dengan tiba-tiba. Yuri sempat mengira matanya salah lihat, tapi ketika ia mendongak, sosok pria yang tengah tersenyum baru saja menjelaskan alasan mengapa kotak make-upnya bisa terlempar ke dalam tasnya barusan.

“Halo, Yuri-a. Sudah lama sekali tidak melihatmu.”

Senyum mentari. Yuri sudah lama sekali tidak melihat senyuman hangat seperti ini. Hatinya tergerak untuk membuat sambutan hangat, maka senyum bahagialah yang pertama ia tunjukkan pada pria tersebut. Kali ini Yuri memang tersenyum, dan percayalah, Yuri tidak mengulas senyum palsu. Ia berdiri, menyampirkan tas tangannya di bahu kemudian meraih jemari pria tersebut, mengajaknya berjabat tangan.

“Luhan!”

.

.

“Jika kau mengajakku untuk kembali bersamamu, maaf aku—“

“Tidak, tidak. Aku adalah pria yang menghargai keputusanmu dan aku tidak akan mencoba mengubah hal tersebut.”

Jiyong duduk di atas sofa krem yang empuk. Di hadapannya, di atas sofa bercorak sama, ada Sandara dengan muka masam yang tidak terlalu acuh pada kehadiran Jiyong saat ini. Tangan gadis itu bersembunyi di balik meja, Jiyong tebak, ia sedang melipat tangannya arogan. Seperti yang terakhir kali ia tunjukkan ketika keduanya resmi berpisah beberapa hari lalu.

Namun saat ini bukanlah saat yang tepat bagi Jiyong untuk mempermasalahkan hal tersebut. Ada hal lain yang mendorongnya untuk sengaja mengatur pertemuan ini dengan Sandara, dan percayalah, ini lebih penting dari apapun.

“Lalu apa yang kau inginkan, Oppa?”

“Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan seperti apa?”

“Soal Yuri…”

“Aku tidak ingin ikut campur soal keluargamu.”

“Aku tidak memintamu ikut campur. Aku hanya meminta sedikit informasi darimu. Kau orang terpandang di Seoul, Sandara. Dan bukannya tidak mungkin kau tahu informasi apapun tentang orang-orang tersohor lain di kota ini.”

Sandara meloloskan tangannya dari kaitannya sendiri di depan perut. Pundaknya mulai rileks dan atensinya kini penuh memandang manik hitam Jiyong. “Jadi informasi tentang siapa yang kau butuhkan, Jiyong Oppa?”

Jiyong berdeham. Ia memindai seisi kafe dengan maniknya kalau-kalau ada orang lain yang mendengar konversasi mereka. Setelah dirasa aman, Jiyong mulai mencondongkan tubuhnya ke depan, hampir memakan setengah dari luasnya meja yang menengahi dirinya dan Sandara. Refleks, sandara memosisikan dirinya hampir dekat dengan bibir Jiyong, kemudian mendengarnya bicara dengan bisikan paling hati-hati.

“Kim Hyuna. Berikan aku informasi tentangnya.”

.

.

“Jadi,” Luhan menyerahkan sebuah tas kecil pada Yuri setelah keduanya keluar dari salah satu toko baju terdekat. Busana Yuri saat itu sudah berubah menjadi sebuah dress terusan berwarna merah muda dengan pita kecil di belakang punggungnya. “Apa yang membuatmu duduk sendiri hari ini?” Katanya.

“Kau bertanya seolah kau tak tahu.” Balas Yuri.

“Basa-basiku memang selalu tak berpengaruh apapun padamu ya? Aku tidak kaget.” Luhan tertawa. “Mungkin aku terlambat, mungkin ini klise, tapi biarlah aku tanya ini sekarang. Apakah kau baik-baik saja?”

Yuri mendongak sebentar untuk tertawa terbahak, kemudian kembali dengan wajah hangatnya yang sengaja ia buat untuk membesarkan hati lawan bicaranya. “Pretending to be fine.”

It means you are not fine at all.”

“Tidak apa-apa. Lagipula ini sudah biasa terjadi pada gadis yang melewati batasnya sepertiku. Seperti yang kau bilang tadi, ini klise.”

Luhan kehilangan beberapa katanya untuk sesaat ketika ia melihat manik indah Yuri yang sejak lama dirindukannya. Meski perasaannya bagi gadis itu sudah lama sekali ia musnahkan, namun bukan berarti perasaan tersebut hilang seluruhnya. Luhan selalu merasakan penyembuhan fantastis ketika menilik ke dalam binar manik Yuri lagi dan lagi.

“Tapi Yuri,” Luhan menata kalimatnya dengan hati-hati. Ia tahu betul bagaimana perasaan Yuri saat ini. Bicara jujur, Luhan telah terlebih dahulu merasakan apa yang dirasakan Yuri tepat ketika gadis itu dan Myungsoo mengumumkan kisah asmara mereka ke media. “Hal-hal klise itu, pada akhirnya adalah hal-hal yang tidak dapat dihentikan. Unstoppable.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Aku membicarakan kau dan Myungsoo, juga kisahmu. Klise, tapi kau tidak akan tahu bagaimana akhirnya jika kau tidak mencoba untuk membenahinya sekali lagi. Yuri yang aku tahu adalah gadis yang tidak dapat dihentikkan, bukan gadis yang gemar duduk sendiri dan termenung di siang bolong seperti ini.”

Yuri tersenyum kecut, “aku sudah berubah banyak, Luhan.”

“Benarkah? Jadi kau sudah bisa mencintai orang lain selain Myungsoo?” Luhan menyampirkan senyuman yang terkesan menggali perasaan Yuri lebih dalam lagi sehingga gadis itu kikuk sekarang. Yuri baru saja membohongi perasaannya dan Luhan tahu betul. Terbukti, sekarang gadis itu diam seribu bahasa seolah telah diserang habis-habisan dan tak bisa bergerak kembali.

“Tidak ada yang berubah dari dirimu Yuri, termasuk rasa cinta dan bencimu pada Myungsoo. Myungsoo yang aku kenal juga tidak akan berdiam diri. Ia pasti sedang mencari cara agar kau bisa kembali ke sisinya, dengan cara apapun.”

Yuri menghela napasnya, “kupikir kau akan berbeda dari orang-orang kebanyakan, Luhan. Kupikir kau akan menghiburku dengan tidak menyebutkan nama pemuda itu lagi dalam hidupku. Tapi kau tidak ubahnya mereka. Kau sama saja.”

“Kau sangat lucu.”

Yuri mengerutkan kening ketika Luhan langsung tertawa atas kalimatnya. “Apa?”

“Lucu. Kau lucu Yuri. Kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri. Masih perlukah beberapa orang lagi yang mendatangimu dan mencoba membicarakan perkara ini kepadamu lagi dan lagi? Ketahuilah, orang-orang ini berdatangan kepadamu karena mereka tahu apa yang paling kau butuhkan saat ini, sementara dirimu terus menerus menyangkalnya.”

Jika tadi Luhan sempat kehilangan beberapa kalimat, maka kali ini giliran Yuri. Gadis itu termenung, sama tersentuhnya ketika Jiyong menjelaskan beberapa nasehat padanya tempo hari. Gadis itu mulai menyadari penyangkalan-penyangkalan yang terus menerus disuntikkan kepalanya ke dalam hatinya sendiri. Yuri menyadari bahwa dirinya jauh lebih pengecut dari sebelumnya.

“Apa sekarang kau sadar, Yuri-a? Bahwa kau sekarang menderita karena penyangkalanmu sendiri?” Tanya Luhan. “Mungkin kau akan berpikir kembali. Mungkin kau akan mencoba memperjuangkan cintamu kembali. Aku sudah mengorbankan banyak untuk kau dan Myungsoo, termasuk perasaanku. Aku tak ingin pengorbanan ini sia-sia. Pikirkanlah baik-baik, waktumu sangat sempit.”

.

.

“Gadis itu adalah salah satu dari gadis yang paling memuakkan di lingkungan sosialku, Oppa. Ia memiliki hubungan tidak harmonis dengan orang tuanya. Kudengar ia hanyalah anak angkat. Ada rumor mengatakan bahwa ketika Hyuna menikahi seorang chaebol, seluruh aset orang tuanya akan jatuh di tangannya. Hyuna adalah gadis yang serakah dan aku tidak kaget ketika dia mengumuman rencana pernikahannya tiba-tiba dengan Myungsoo. Aku sempat mendengar desas-desus kalau Hyuna telah memiliki seorang kekasih di luar negeri dan ayahku sempat berpikir kalau Hyuna merencanakan sesuatu dengan keluarga itu dan seluruh aset mereka, hingga ayahku membatalkan salah satu kontrak dengan perusahaan milik ayah Hyuna. Hanya itu saja yang dapat kuberitahu, meski banyak sekali rumor tentang gadis itu, percayalah kau tidak akan ingin mendengarnya lebih banyak. Semua desas-desus yang kudengar adalah pemberitaan negatif.”

Asap kopi pahit mengepul dari cangkir kaca yang tengah di mainkan tepinya oleh Jiyong. Pikirannya melayang entah kemana setelah memikirkan kembali informasi yang ia dapatkan dari Sandara. Pemikiran itu memakan akal sehatnya hingga kehadiran Nara sempat direspon lambat oleh bibirnya.

“Sejak kapan kau ada di sana, Nara-a?”

“Setengah jam lalu. Kau kenapa Oppa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak, tidak ada…”

“Kau bohong. Aku akan bicara pada ibu.” Ancam Nara. Saat itu Jiyong tidak sengaja menarik tangan gadis kecil itu hingga sikunya menyenggol cangkir kopi di atas meja. Bunyi pecahan gelas kaca berhamburan di lantai, menyadarkan keduanya dari drama kecil yang baru saja mereka mainkan.

“Aku tidak jadi melapor ini ke ibu. Biar aku bereskan ini. Ini salahku.” Nara mulai berjongkok. Ketika jarinya mulai menari, memunguti pecahan kaca, Jiyong menarik jemari itu untuk menjauh. Katanya, “ini gelasku, kalau ini pecah, ya ini salahku.”

Nara tersenyum. “Tapi aku yang memecahkannya, Oppa.”

“Kau tidak akan menyenggolnya jika aku tidak menarik tanganmu tiba-tiba, Nara-a.”

“Tapi kau tidak akan menarik tanganku jika aku tidak akan mengancammu untuk melapor pada ibu ‘kan Oppa?”

“Tapi kau tidak melapor jika saja aku—“ Jiyong menatap manik Nara yang kini mulai berbinar cerah di hadapannya. Bak menemukan sebuah pelangi di habis mendung kelam, Jiyong kini tertawa lepas. “Sudahlah lupakan.”

“Kenapa kau tiba-tiba tertawa, Oppa?”

“Karena aku menemukan hal sederhana yang sangat lucu.”

“Apa itu?”

Jiyong menatap figura foto keluarga yang terpampang di dindingnya. Di sana, Yuri tersenyum sembari memeluknya dan Nara. Kemudian ada Ibunya yang duduk di kursi paling tengah, sedang tertawa seolah sangat bahagia memiliki tiga anak seperti mereka.

Jiyong menghela napasnya. Ia menemukan solusi.

“Kau akan tahu. Sebentar lagi.”

.

.

Oppa!

Yuri meneriaki nama Jiyong ketika kakinya melangkah masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi hari itu. Ia yakin sekali bahwa ini masih senja dan rumahnya sudah seperti tak berpenghuni saja. Lampu-lampunya dimatikan total sehingga Yuri harus meraba-raba dinding, mencari saklar.

Gadis itu sempat dilanda kepanikan sesaat ketika tahu bahwa ada yang aneh di rumahnya. Nara tidak menyambutnya di depan pintu, ibunya tidak menyahutinya dari dapur dan Jiyong tidak memukulnya di kepala adalah hal-hal yang ia dapatkan ketika pulang ke rumah senja ini.

Yuri tak juga menemukan saklar bahkan setelah ia meraba selama lima menit. Dirinya sudah dilanda ketakutan terlebih dahulu sehingga ia tak mampu berpikir jernih. “OPPA!”

Gadis itu mulai berteriak. Tepat ketika itu, ia merasa jarinya menyentuh benda keras di dinding. Tanpa banyak tindakan tak perlu, ia mulai menyalakan saklar yang baru ia temukan tersebut. Saat benderangnya lampu hampir menerangi, Yuri harus meronta lantaran sebuah tangan asing membekap mulutnya dengan kencang.

Di dalam kegelapan yang kembali melandanya, Yuri merasa tubuhnya diseret menjauh dari rumahnya. Angin dingin kembali menyapanya di luar rumah, menyibakkan sedikit terusan kremnya. Tangan itu membekapnya dengan kuat sebelum akhirnya tubuh keduanya bertumbukkan kasar ke dalam sebuah ruangan yang rasanya seperti mobil bagi Yuri.

Mata Yuri lantas ditutup dengan seikat kain, kemudian tangannya benar-benar diikat dengan simpul rumit yang hampir tak mungkin bagi Yuri untuk mengurainya. Gadis itu meronta dengan kuat, lalu ia mendengar suara pintu mobil ditutup dengan keras. Desing mesin mulai dinyalakan, dan saat itu Yuri tahu, bahwa dirinya sedang ada dalam bahaya.

.

.

“Lepaskan aku!”

Nara menoleh ke belakang jok mobilnya kemudian menatap Sandara yang duduk di jok paling belakang dengan rasa takut. Pandangan gadis kecil itu kemudian tertumbuk di manik Jiyong yang tengah menelusuri jalanan yang diterangi hanya oleh lampu mobilnya saja. Terantuk-antuk batu, adalah resiko yang harus dilalui Jiyong ketika ia memutuskan untuk berkendara ke tempat ini.

Yang ia tuju adalah salah satu rumah Sandara yang sudah tak terpakai di pinggiran kota Seoul. Seharusnya Sandara tidak pernah kembali ke sini lagi jika Jiyong tidak memintanya dengan ide gila yang tak biasa.

“LEPASKAN AKU!”

Suara itu meronta di belakang mobil. Membuat Nara semakin takut. Gemetar, ia berbicara terpatah-patah pada Jiyong. “Oppa… apa ini… tidak apa-apa?”

Jiyong diam saja, ia mendengar namun memilih fokus pada jalanan. Lebih baik tidak menjawab pertanyaan Nara saat ini, toh cepat atau lambat Nara akan tahu sendiri apa yang sedang terjadi.

Mobil Jiyong terus melaju membelah gelapnya malam. Tuas remnya ia injak kuat-kuat ketika melihat sinyal lampu senter yang diarahkan dari jarak beberapa meter ke depan. Terlihat di sana, seorang pria dengan senter yang baru ia turunkan dari udara tengah tersenyum pada kedatangan Jiyong dan rombongannya.

“Bagaimana perjalanannya?” Sapa pria tersebut ketika Jiyong turun dari mobilnya. Teriakan dan amukan dari dalam mobil kemudian menyerang gendang telinga mereka, secara tidak langsung juga menjawab pertanyaan barusan.

“Seperti yang kau lihat, agak menyulitkan. Bagaimana di dalam?”

“Aman.”

“Kau tidak membiusnya ‘kan?” Selidik Jiyong. Pria yang jadi lawan bicaranya tertawa. “Kita sudah sepakat tidak melakukan itu, Hyung.”

“Lalu kenapa tidak ada teriakan?”

“Aku menyumpal mulutnya dengan kain.”

Jiyong memandangnya sebal.

“Hey, hey, kau hanya mengatakan jangan membiusnya. Dia berisik, jadi aku menyumpalnya.”

“Oke terserahlah. Sekarang bantu aku menyumpal pria yang berteriak di dalam mobil itu. Dia benar-benar sulit dikendalikan.”

“Kenapa harus aku, Hyung?”

“Kau ‘kan temannya.”

“Astaga. Pada akhirnya aku semua yang mengerjakan. Cih.”

Pria tersebut berjalan mendahului Jiyong, lurus ke dalam mobil yang sudah terparkir di sebelah mobilnya. Ia menarik seorang pria yang meronta dari jok tengah mobil tersebut kemudian dengan cekatan menyumpalnya dengan kain, seperti yang ia lakukan pada sosok yang sekarang tengah ia sekap di dalam rumah Sandara di belakangnya.

“Selesai. Giliranmu, Hyung.”

Jiyong melanjutkannya dengan membawa pemuda itu ke dalam sebuah rumah yang gelap. “Duduklah di sini.” Ujar Jiyong pada pemuda itu. Namun ia malah meronta dan menendang dengkulnya dengan keras sehingga Jiyong terjatuh.

“JIYONG HYUNG!” Pekiknya sekali lagi. Namun saat itu, Jiyong sudah pergi dan menutup pintu rumahnya. Ia menghela napas dan berkacak pinggang menatap pemuda yang terkaget-kaget di depan pintu mobil. “Sepertinya kau tidak menyumpalnya dengan benar, Luhan-a.”

Luhan, yang sedari tadi menunggu di depan mobil, akhirnya terkekeh. Maniknya menatap Sandara sebentar kemudian kembali meretas pandang pada bangunan gelap yang teronggok di depan mereka. Mungkin, satu-satunya yang terlihat khawatir adalah Nara yang tengah duduk di dalam mobil. Ia berkali-kali meremas jemarinya sendiri kemudian menggigiti bibir.

Ketika Luhan kembali ke mobilnya sendiri dan Jiyong kembali ke belakang setir mobil yang lain, manik Nara seolah menginterogasinya.

“Apa ini tidak terlalu berlebihan, Oppa? Bagaimana jika sampai ibu tahu?”

“Ibu pasti akan mendukung ideku. Kau tidak perlu khawatir, Nara-a.”

“Tapi jika eonni sampai kenapa-kenapa, maka…”

“Yuri eonnimu tidak akan kenapa-kenapa. Percayalah padaku, Nara-a.”

Nara menelan ludahnya. “Kenapa kau percaya sekali ia akan baik-baik saja, Oppa? Bangunan tadi terlalu sepi dan menyeramkan.”

Jiyong menyalakan mesin mobilnya kemudian memandang Nara dengan mata teduh. “Ada dua hal yang perlu kau ketahui, Nara-a… pertama, Yuri kita, tidak selemah yang kita pikirkan. Dan kedua…”

Jiyong menghentikkan kalimatnya. Ekor matanya melepas mobil Luhan yang sudah terlebih dahulu pergi dari sana.

“Dan yang kedua?” Nara mengembalikan fokus Jiyong kali ini. Mau tak mau pria itu berdeham sebentar kemudian kembali memandang binar teduh Nara sekali lagi.

“Dia tidak sendiri. Orang itu akan melindunginya, apapun yang terjadi.”

.

.

TBC…

 

46 thoughts on “KLISE : UNSTOPPABLE [Part 8]

  1. Cynthia berkata:

    Waahhhhh yuleon sm myung oppa gmn?? Apa sih rencanax? Lo kok hrs smpi gt?? Bsk ada pernikahan kn??
    Trs gmn nasibx?? Trs gmn?? Penasaran.. cpt dilanjut ya eon..
    fighting!!!!
    Jgn terlalu lama donkk… saranku eonni rilisx satu ff dlu aja jgn lgsg byk nt semakin penasaran..😥 aq penasaran bgt gmn sm semua crita yg eon buat.. hehehehehe.. jjang!!!!!

  2. chy23 berkata:

    Aaaaaa betapa kangennya dengan ff ini T,T akhirnya ada lanjutannya😄 sumpah girang sekali diriku ini😄
    Seperti biasa ini kereeeen kakak!!🙂
    Terus2 siapa yg ada di dalam bangunan itu bersama Yuri? Myungsoo kah?
    Sepertinya udah mau antiklimaks nih kak😥 nyium aroma2 ending haha semoga hanya penciumanku saja😄
    Sekali lagi kereeeeen kak :)))))))))))

  3. tha_elfsone berkata:

    Ahhh akhirnya publish juga nyun…aq kangen bnget ma ff ini.. :”
    Huuaa…trnyata luhan juga punya rasa buad yuri yaaa..kasian juga yaa luhan -_-
    Omo sbnernya apa yg d lakukan luhan ma jiyong ma yuri yaaa?? Huua firasatku klo yg satu lagi myungsoo yaaa..berharap siih gtu..heheh
    Ok aq tnggu ff mu yg lain yaaa nyun ^^

  4. mellinw berkata:

    wowwwwwwww ini udh panjang ceritanya tapi msh aja berasa kurang lho kaaak .. duh kerennn

    luhaaan kembaliiiii

    aku tebak pria yang dkurung di rumah sandara itu myungsoo kan kaak? mhehe

    ayo kaaak next chappie jangan lama yahh aku tunggu dengan setianya :* semangat kaknyuuun

  5. YoonYuladdicts berkata:

    wooww.. aku kangen banget nih sm ffnya kaknyun, akhirnya update juga..
    waduh, kenapa jd jiyong nyulik yuri, semoga aja yuri sm myungsoo yg dikurung, jd mereka bisa buat rencana gagalin pernikahan myungsoo.. tiba2 ada luhan nongol, dia mantannya yuri kan ?
    ga sabar gimana kelanjutannya🙂 ..
    lanjut ya kak…

  6. Stella Kim berkata:

    setelah sekian lama menunggu, penantian aku ga sia-sia. semua terbayarkan sama part ini yeayyy. Ko ga bikin lebih panjang sih kak, masih penasaran nihhh/ gatau diri padahal udah panjang banget/

    itu pasti yuri diculik barengan sama myungsoo kan? ketauann ahaha
    Kak, next chapnya jangan lama-lama yaa, bisa mati penasaran aku kalau kelamaan nunggunya.

    Fighting kaknyun!

  7. gita berkata:

    setelah menunggu sekian lama..
    Unnie part ini menegangkan! Luhan juga muncul,
    dan semakin pnasaran!!
    kajja lanjutin eon, *ditabok*
    hehehehe

  8. kimikakyuri berkata:

    Yeyyyyy ff ini update juga ..😀

    Penasaran sama rencananya jiyoung .. Mau diapain coba yuri di culik gitu .. Tapi yuri di culiknya berdua yaa sama myungsoo bukan ?? Akhh makin di buat penasaran sama kayun ..

    Next part nyaa ,, moga ga lama di post😀

  9. Seo Sung Young berkata:

    kyaaa…. eonnie akhirnya nge-post😀
    Aku penasaran kenapa luhan muncul trus siapa cowok yang bareng sm yuri ?
    dan semoga hyuna batal kawin ama myung soo #amiinnn
    ditunggu chap selanjutnya🙂

  10. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Ah, kak nyun, sebenernya dari tadi pagi aku mau komen tapi itu susah banget, nggak kekirim2 , tau deh komentar aku masuk apa enggak, yng pasti nih ff makin bagus , ditunggu ff chapter lainnya yng belum diterusin , keep writing kak nyun..

  11. Meytasari Walalangi berkata:

    Akhirnyaa part ini keluar jgaa. Makin seru dan tambah penasaran. Lanjut eon jngn lama2 ne^^ semangaaat trs🙂

  12. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    Hoaaaaaaaa akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaa, gak ada myungsoo atau yonghwa yang muncul di part ini, eh yang muncul malah luhan<3333 itu jiyong nya ngerencanain apaaaaaaa sama luhan, ada yulhan nyaaaa aduh feels /apa. Padahal myungyul tapi feel yulhan nya muncul lagiiii, di lanjut yooo, da best lah! Kangen berat sama ff yang ini:D

  13. Agnes berkata:

    akhirnya dipublish juga. lama banget kak nyun -_-
    ff kak nyun pada bagus semua jadi bingung mau comment apa

    • Riska Dewi berkata:

      Uwwwwaaaaaaaa akhirnya….^^
      Makin keren ni ff^^
      Aku lanjut ya Kayur….penasaran pake banget sama kelanjutannya^^

  14. winda eka putri berkata:

    OMG *_* diriku merindukanmu kanyun (?)
    seperti biasa ff unni selalu mantep !! di part ini gak terlalu banyak konflik ya hehe. Itu Jiyong Luhan Nara nakal banget sampe ngurung Yuri😄 ahahaha😄 sama myungsoo kan?? Hyuna kamu menghilanglah (?)

  15. Tetta Andira berkata:

    Holla Nyun-chan !! :’) kaka kaget loh ini publish .. Emng’x dijadwal tgl 30 yaa? Gak kecepetan kan? Kaka gak inget sihh .. Hha~ bt, kalo emng lbh awal dr jdwl kaka seneng aja dehh. Hehhe~ bt maaf, atas ktrlambatan mmbaca ..
    O’oww ,, liat Hyuna berasa pengen nabok aja nihh .. Manas2in Yuri. Blom tau apa kalo Yuri panas bkal trjdi apa?! Paling dy nyebur dikolam ikan .. #ehh? Maaf, jd ngelantur. Hha~
    Woahh~ demi apa?! Luhan kmbali!! Kalimat2 yg kmu tuang soal gmna prasaan Luhan ke Yuri bkin anget nih .. Bt kalimat2 Luhan ke Yuri jg gak kalah deh .. Dy mncoba mmbuat Yuri sadar lg ky’x yaa ..
    Ommo~ stlh Jiyong ngeliat bingkai foto klwrga’x, ada aksi penculikan !! Apa yg direncanain mreka sbnr’x yaa ?? Brtmbh penasaran ..
    Okkeh, ditunggu sllu kelanjutan’x yaa .. Makasih jg udh posting ini disela kesibukanmu yg bejibun. Ttap smangat yaa .. Sllu jd favorit kaka, & tntu ajah 143, Nyun ><

  16. rensynsr berkata:

    Kak nyun tau ga reaction aku waktu liat twit ka nyun DL ff ini? “Finally kak nyun comeback” hahaa..
    Awalnya seneng ff ini dilanjut, dengan cerita yg selalu awesome ditangan kak nyun. Sejujurnya dari semua cerita ff para autor baru ff kak nyun yang ceritanya itu ga bisa di prediksi, kayak semacam kisah cinta di 5 cm.
    Sedihnya semakin penasaran dan cuma bisa berharap ff ini dilanjut secepetnya T.T
    Kutunggu comeback mu ya kak nyun ‘-‘)9

  17. Kim Ji Bin berkata:

    Sebelum baca part ini kudu baca yang sebeumnya, kelupaan :v lanjutnya jangan lama lama kak.😉

  18. hyun mi berkata:

    seperti biasa selalu bikin penasaran sama lanjutan ceritanya,,,,,
    ditunggu next chapternya……!!!

  19. jilanoy berkata:

    MAAKKIIIN SEERUUU KAAAKKKKKKK AAAAAAAAA
    TELAT NIH BACANYAAAA.
    itu yg diculik yuri sama myungsoo apa gimana???kepoooo
    cepetan ya kak next chapnya hihi,ditunggu. keep writing!
    peace luv and gawl.chu

  20. Park Hana berkata:

    akhirnya di lanjut juga .. maksih unni ffnya udah di lanjutt .. ceritanya baguss .. pokoknya (y) (y) buat unni ..
    next chapter ya unni ..

    #fighting :i

  21. Ruru berkata:

    Akhirnyaaaaaaa datang juga !!!
    Setelah sekiaannn lama menunggu hehe
    Ceritanya seru seru seru,, menegangkan + bikin penasaran. Sebenernya apa ya rencana mereka buat yuri dan myungsoo…
    Lanjut yaaa eonni.. Fighting ^^

  22. Yuri rahmamalika berkata:

    Extrim amat rencana jiyoung…
    Sampe nyekap adexnya sendiri..

    Trus gimana kawinannya myungsoo? Gagalkah?

    Penasaraaaaaaaaaan

  23. kwonsy berkata:

    akhirnyaa update jugaaa omaigatt ♡ yurii nya galau iih kaknyun ;( baguss bangett, udh kangen nih sm kliseee sm myungyull jugaaaa ♡ next chapt nya semangatt yaa, buat ff yg lain juga semangat mwah

  24. jathy berkata:

    hwaaaa itu yuri ama myungsoo diculik my oppa lulu ama jiyoung yah? next next next eon, cepet ngak sabar, ngak sabar baca TOZ juga

  25. rashamega87 berkata:

    OH MY GOD!!!! kau jenius jiyoung oppa.. ha ha ha, tapi aku khawatir dengan kahi & hyuna yg licik itu . hmmmmm…..rasanya ingin aku cekik hyuna & kahi, GrrrrRRR (mian…reader terbawa suasana kekeke)

  26. Bintang Virgo berkata:

    jiyoung oppa sampai segitunya untuk mempertahankan hubungan myungyul…
    jadi salut sama jiyoung oppa
    semoga acara pernikahan itu hancur dan tidak jadi terlaksana…
    eh… tunggu…
    jadi Luhan juga pernah suka sama yuri…
    ah ciee ciee
    tapi kok luhannya ga pernah mau ya bilang sama yuri….
    kan yuri dulu juga pernah suka sama Luhan…
    ah terserah yang penting hubungan myungyul tetap terjaga sampai akhir…..

    kak ditunggu ya next chapnya..
    kakak author faighting!!

  27. nadiyavirgi berkata:

    Setelah sekian lama akhirnya kaknyun update ff klise juga😀
    Aku gatau mau komen apa, soalnya aku ga pinter komen sih yaaa XP /ditabok kaknyun/
    Kok Yonghwa gak muncul dipart ini kak(?) kok ga ada Myungsoo juga/? Wkwk
    Sempet lupa sama cerita sebelumnya kekeke :v penasaran sama rencana nya jidi, dia bakal ngelakuin apa sih sama Yuri, Myungsoo(?) Salut sama dia :’D jadi kakak baik bgt, sampe segitunya dia cuman buat mempertahanin hubungan Yuri-Myungsoo! aaaaa aku padamu jidong :* /abaikan/
    Btw, part selajutnya jangan selama part ini ya kak :’) aku udah lumutan nunggu part 8, dan taunya digantungin gini endingnya sama kaknyun :’) /cielah/ part 9 (kalau bisa) lebih cepet ya kak!🙂
    maaf kalo komen ku ga ada penting nya sama sekali, jujur aku ga pinter komen kak😦 Jadi aku cumann bisa komen begini aja! Semangat ya kaknyun :*

    Nadd
    /kecupbasah/💋😻✌😸😘

  28. soshiyulk berkata:

    hayo itu pasti yuri sama myungsoo*-*
    aduh eon dirl aku udah gasuka hyuna malah baca klise ini tambah greget sama tuh yeoja T.T
    btw yang nabrak yuri tadi siapa eon? apa cuma kebetulan apa emang salah satu cast :^

    fighting eonni!

  29. dandegun berkata:

    kak, kau telah mengobati kerinduan ku kepada fict yang satu ini kak! /tebar cinta/
    ya walaupun hyuna sangat bitchy di sini. aku berharap yuri bisa fight her love dan melewati cobaan ini (maaf kak akhirakhir ini aku agak lebay)

    aku bisa bayangkan betapa kesalnya yuri saat kopi menumpahi pahanya, ya karena aku pernah merasakannya dan itu sangat menjengkelkan. (apalagi kalo kopinya masih panas) (apalagi kalo lagi pake baju putih) (apalagi yang numpahin ga minta maaf properly dan malah pergi ngejer orang lain) ya seperti nano nano.

    kalo kata dora itu disetiap episode ‘apa bagian yang paling kamu suka?’ aku punya jawabannya buat fict yang satu ini.
    Ya, itu saat jiyoung menjadi cupid dadakannya myungyul! apalagi dengan bantuan sandara yanb menurutku masih punya rasa dengan jiyoung, haha. bakal bagus banget kalo mereka makeup lagi.

    segitu aja deh kak, aku ga berharap update soon dari kakak, soalnya aku tau kok kalo kak nyun itu lagi sibuk banget. jadi aku ucapin fighting dan selamat berpuasa kak! makasih juga udah janjiin buat update ff kak nyun yg lagi ongoing.

    btw, ini pertama kalinya aku komen panjang loh kak…. kalo gitu annyeong~!

  30. sevy berkata:

    yang di sekap ITU myungyul ya eon?
    wah APA yang did rencanain jiyong ?
    aduh…. gak sabar nunggu next nya eon…
    next… palliwa….

  31. BestfriendExoSone berkata:

    yul gak sendirian..
    jangan-jangan orang itu myungsoo..
    apa sih rencana mereka?
    tapi aku seneng si Luhan kembali..

  32. tarhy95 berkata:

    aq ktinggalan bcanya😦 pas buka tau2nya udh ampe end..but gk pplaah yg pnting msih bsa bca^^ …mkinn seruu…ampe gk bsa komen pnjang coz pnsaran am endingnya…izin k part 9 yah kk nyun^_^

  33. haeri berkata:

    Kyaaaaaa!! Luhan is back..akhirnya luhan kembali bak super hero demi myungyul, haha, thx min.. jiyong oppa kocak, pake acara penculikan segala, haha.. sandara eonni baik, mau ikut2an nolongin si mantan n myungyul.. gk sabar pgn tau gmn reaksi myungyul selanjutnya n gmn endingnya.. #degdegan lanjut part terakhir *senyum2gaje

  34. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Eh ada bang Luhan toh.. ah ah.. kak Nyun keren bgt sh bkin kalimatnya,
    bisa deh Jiyong oppa ide
    nya bikin deg degan gue..
    baca ff doang loh tp sumpah -_- apa aq.a yg trllu lebay
    lope lope sm tulisan kak nyun..❤❤

  35. Nikita Tirta berkata:

    Penculikan adalah 1 jenayah….Tapi mungkin tidak salah klau tidak ada sedikit pun niat untuk menyakit tetapi memberi kebahagian….
    Jiyong Oppa sangat menitik beratkan kebahagian dongsaengnya…Aigoo Luhan sekali lg kamu menbuat Yuri sedar dia hdp dgn pura 2….’

  36. kimchikai berkata:

    Yang diculik(?) sama jiyoung itu yuri sama myungsoo ya?? Apa rencana jiyoung? Apapun itu semoga yang bisa buat myungyul bersatu lagi.

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s