KLISE : UNSTOPPABLE [Part 9-END]

untitlaaaed-1-copy

A Story by bapkyr (@bapkyr)

Kwon Yuri, Kim Myungsoo & Jung Yonghwa

on

KLISE : UNSTOPPABLE

Chapter 9-END.

.

.

“SIAL!”

Myungsoo mengumpat. Ikatan di tangannya sudah terlepas dengan kerja keras ekstranya. Myungsoo tidak disebut pintar tanpa maksud. Pemuda itu langsung membanting sebuah vas bunga ketika penutup matanya dibuka oleh Jiyong. Ia berpikir begitu dalam soal kenapa ia ditinggalkan sendirian di rumah kosong yang letaknya di antah berantah ini. Dirinya juga mengumpat banyak soal bisa-bisanya Jiyong yang begitu ia percayai bersekongkol merencanakan hal busuk ini di hari-hari di mana ia seharusnya pergi menemui Yuri dan meminta maaf pada gadis itu.

Namun ketika melihat sosok gadis tak berdaya yang terikat dengan tali di sebuah sofa yang terletak di pojok ruangan, Myungsoo sadar bahwa ada bantuan kecil yang mereka sediakan malam ini. Setidaknya Myungsoo tahu bahwa Luhan dan Jiyong tidak membawanya kesini tanpa maksud.

“Aku tahu kau di sana, Myungsoo.” Gadis itu berbicara. Tangannya masih dalam kondisi terikat kuat sedangkan pupil matanya tertutup sempurna oleh kain hitam. Ia terjerembab di atas sofa tanpa perlawanan. Begitu pasrah. Namun begitu, baru saja gadis itu menyebut nama Myungsoo—seolah ia tahu pemuda tersebut kini sedang tertegun menatapnya.

“Jangan tanya bagaimana aku tahu, teriakanmu tadi telah menjelaskan semuanya.” Sahut Yuri—gadis yang tengah Myungsoo amat-amati tersebut. “Bisa minta sedikit bantuan?” Yuri bergerak, menggeliat seolah membuat gestur agar Myungsoo melepaskan ikatan di tubuhnya. Tanpa perlu diperintah dua kali, pemuda tersebut menyambar sebuah pecahan kaca dan mulai meretas tali tambang yang terikat kuat di lengan Yuri. Ketika tali-temali tersebut terlepas dari lengan gadis itu, pergelangan tangannya memerah, begitu kentara.

Tanpa mengindahkan luka kecil di pergelangan tangannya, Yuri melepas tutup matanya dan kini mulai duduk dengan benar di atas sebuah sofa lapuk. Di hadapannya, Myungsoo masih berjongkok, memandangnya dengan raut rindu tak terperi.

“Terima kasih.” Ujar Yuri kemudian. Gadis itu tidak mampu merangkai kalimatnya menjadi kalimat yang lebih berarti dari sekadar terima kasih saja—meski di kepalanya sudah terkumpul berbagai kosa kata yang lebih bermakna. “Kita harus keluar dari sini.”

Yuri beranjak saat itu. Tubuhnya melewati Myungsoo yang masih terduduk di lantai, memandangnya tanpa suara. Raut itu mengoleskan luka di manik Yuri yang tidak ingin gadis itu ingat-ingat lagi sehingga ia memutuskan untuk menghindar. Namun tatkala gadis itu sampai di depan pintu utama, ia tahu betul bahwa kabur dari sana di jam-jam seperti ini adalah mustahil.

Gerendel kunci besi terdengar nyaring kalau Yuri menggoyangkan pintunya. Pun suara petir yang tiba-tiba bersahutan di langit membuat nyalinya ciut. Hampir tidak mungkin ia pergi dari sana di saat-saat seperti ini apalagi dengan lokasi yang ia tidak yakin di mana tersebut.

“Kita tidak akan bisa keluar dari sini. Setidaknya sampai matahari muncul.” Myungsoo berjalan ke arah Yuri, memegang lengannya kemudian menariknya. Tidak dalam konteks paksaan, hanya menarik biasa agar Yuri merelakan niatnya untuk pergi dari sana pupus.

Kala itu Yuri menghempaskan tangannya dan menarik diri dari ajakan Myungsoo untuk kembali duduk di atas sofa. Myungsoo berbalik dan kembali memandangi Yuri lama-lama, berharap tadi itu hanya ilusinya saja. Namun kalimat Yuri selanjutnya meretakkan hati Myungsoo seketika.

“Kumohon jangan begini.” Ucap Yuri lirih. Ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri, seolah menghapus sentuhan kulit Myungsoo dari kulitnya. Ia menggigit bibirnya tatkala kalimatnya yang lain kembali ia lantunkan di udara, “akan sulit bagiku jika kau terus begini padaku.”

Yuri menunduk, tidak memiliki keberanian cukup untuk menatap Myungsoo. Pun ia tidak memiliki kekuatan penuh untuk berdiri sehingga ia akhirnya berjalan, pelan, melewati titik di mana Myungsoo masih berdiri membeku, dan duduk di sofa.

Myungsoo menghela napas kala itu. Ia menyusul Yuri, duduk di sebuah ruang kosong yang disisakan Yuri di atas sofa tersebut. Keduanya menjaga jarak, cenderung berjauhan. Bahkan wajah Yuri telah ditelengkannya ke arah lain, seolah tidak ingin memandang Myungsoo selama-lamanya.

“Kurasa,” Myungsoo mulai berbicara. “Aku tahu mengapa mereka meninggalkan kita di sini.”

Tidak ada respons dari Yuri selain gerakan tubuhnya yang tak nyaman. Ia tidak suka ruangan gelap—sama sekali.

“Yuri-a… aku ingin kau tahu bahwa—“

“Hentikan di sana Kim Myungsoo. Jika kau bicara terus ini akan menjadi semakin sulit untukku. Kumohon, jangan mempersulitku. Aku sudah berusaha menerima semuanya, jadi kumohon kau diamlah. Jangan bicara lagi.” Yuri menghentikkan kalimat Myungsoo dengan lugas tanpa sedikitpun ekor matanya melirik ke arah pemuda itu. Ia mengangkat kedua kakinya kemudian memeluknya erat dengan lingkaran tangan-tangannya sendiri. Sambil menyembunyikan wajahnya di atas kedua pahanya, Yuri bergerak kecil.

Yuri berharap bahwa Myungsoo tidak mengatakan apapun lagi kali ini. Ia sudah akan melupakan pemuda itu dan merelakannya dengan wanita lain jikalau keduanya tidak terjebak di sini. Bukan salahnya atau salah Myungsoo jika luka itu kemudian semakin mempersulit posisi Yuri. Tapi siapa yang harus disalahkan atas takdir tiba-tiba ini? Bukankah kedua orang yang pantas bersama pada akhirnya memang harus bersama jika takdir berkata demikian?

Jika tidak, maka gadis itu sudah pasrah bahwa Myungsoo dan dirinya bukan diciptakan untuk bersama lagi. Cintanya mungkin saja telah kadaluarsa.

Di tengah kalutnya jalan pikiran Yuri, terdengar kekehan singkat yang datangnya dari bibir Myungsoo. Pria itu melandaikan tubuhnya ke sandaran sofa kemudian perlahan menarik perhatian Yuri. Gadis itu kini menatapnya, keheranan.

Iris cokelat itu akhirnya bertumbukkan di satu titik dan saat itu Yuri tidak ingin berpaling lagi. Dirinya seolah terhipnotis akan suara itu, suara kekehan yang telah lama sekali tidak ia dengarkan.

“Apa yang lucu?” Tanyanya penasaran. Yuri menyelipkan helaian rambut panjangnya di balik telinga saat ia bertanya. Gadis itu khawatir bahwa penampilannya mengundang tawa bagi Myungsoo.

“Kau.”

“Kenapa denganku?” Yuri membetulkan posisi duduknya. Ia malah mulai berani berhadap-hadapan dengan Myungsoo, wajah bertemu wajah, mata bertemu mata. Ia menelan ludahnya sendiri beberapa kali sebelum akhirnya bertanya, “apa yang lucu dariku?”

“Sesulit itukah katamu?” Myungsoo bertanya. Membuat kening Yuri berkerut-kerut tidak mengerti. “Sesulit itukah bagimu untuk melupakanku? Sampai-sampai kau memohon padaku agar aku tidak lagi berbicara padamu. Sesulit itukah?”

Kali ini Yuri yang tertawa, “jadi karena hal bodoh itukah kau menertawaiku?”

Myungsoo melejitkan bahunya. “Aku tidak tahu jika kau bisa menyebut ini sebagai ‘hal bodoh’. Sementara dirimu sering kali disulitkan oleh hal bodoh ini. Jika melupakanku sesulit itu, kenapa kau tidak menyerah saja?”

Yuri berdecih. Ia menundukkan kepala kemudian menelengkannya ke arah lain dengan gaya yang ia buat-buat. Jika bisa dipaparkan, maka Yuri dalam kondisi terpojok. Ia sendiri tidak mengerti apa yang tengah ia bicarakan saat ini. Hanya satu saja yang ia tangkap; bahwa Myungsoo hampir saja membaca hatinya yang sebenarnya.

“Sulit itu di awalnya, nanti aku juga akan terbiasa. Sama seperti kau terjatuh lalu mendapat luka kecil di lutut. Waktu akan menyembuhkan.”

“Tidak,” Myungsoo menyanggah tanpa Yuri sempat menarik napas sekali lagi.

“Waktu melakukan dua hal; menyembuhkan dan membunuh. Ketika kau terjatuh, kau tidak hanya memerlukan waktu untuk menyembuhkan lukamu. Kau memerlukan plester dan obat-obatan. Sekarang, kau sudah terjatuh dan kau tidak memiliki itu. Bagaimana bisa kau akan sembuh?”

Yuri mengigit bibirnya.

Myungsoo masih menatapnya tanpa kedipan, membuatnya kembali tersadar apa yang telah mereka lewati bersama selama ini adalah kenyataan yang tidak akan bisa Yuri lupakan. Myungsoo ingin Yuri sadar betul bahwa kesempatan masih selalu terbuka buatnya dan ia sama sekali belum terlambat. Ia ingin gadis itu tahu bahwa apapun yang akan menghadangnya di masa yang akan datang, tak akan serta-merta menggempurnya mundur. Dia akan terus melangkah, bersama gadis itu, kemana pun.

“Kau tidak bisa sembuh lantaran lukamu masih menganga dan kau menolak diobati.” Ucap pemuda itu lagi.

Kali ini Yuri tidak tinggal diam, maniknya seolah menyala-nyala, meluapkan emosi yang dipendamnya sedari tadi. Ia merasa terpojok kemudian berontak seketika.

“Tahu apa kau tentang aku, Myungsoo-a? Kau bicara seolah kau bukan jadi penyebab luka ini. Kau bicara seolah kau bisa menyembuhkan luka ini. Kau tahu apa! Kau tidak pernah tahu apa-apa!”

“Dan aku menginginkan kau memberitahuku!” Myungsoo meninggikan nada suaranya, membuat Yuri terdiam dan merekatkan bibirnya erat. “Aku ingin kau memberitahuku, tentang lukamu dan betapa jahatnya diriku. Aku ingin kau menceritakan semuanya agar aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menyebuhkan lukamu. Seharusnya kau juga tahu, luka besar padamu, tidak lebih besar dari lukaku, Yuri… kupikir kau mengerti, kupikir kau tahu…”

Kalimat Myungsoo mulai melambat kala ia melihat wajah Yuri tenggelam di dalam telapak tangan gadis itu sendiri. Tanpa perlu diberitahu, Myungsoo tahu betul gadis itu ingin mengurai air matanya seorang diri di balik telapak tangannya. Suaranya begitu kecil, namun Myungsoo dapat mendengar jelas. Seolah, tangisan itu menjelaskan banyak kalimat yang tak pernah bisa Yuri ucapkan padanya.

Myungsoo merenung. Jemarinya perlahan bergerak tatkala bahu Yuri naik-turun mengendalikan emosinya dalam bentuk tangisan. Ia ingin sekali membelai rambutnya hanya untuk menahan isakan itu agar tak terjatuh lebih banyak; atau kalau bisa, ia ingin sekali mendekapnya erat dan berbisik kalau tangisan tidak akan membuat lukanya mengering. Namun jemari Myungsoo akhirnya berhenti bergerak, ia mematung dan enggan melakukan apapun. Bagaimana bisa ia meredakan tangis seorang gadis di mana ia sendiri yang jadi penyebabnya?

“Maafkan aku…” ujarnya rendah, hampir membisik lembut. Myungsoo memalingkan wajahnya dari hadapan Yuri. Bahkan ia tak sanggup lagi melihat gadis itu terpuruk di depan matanya sendiri; hancur karena kondisinya sendiri.

“Maafkan aku… Yuri-a…”

.

.

Sekembalinya Jiyong dari rumah tua milik Sandara, ia dihadang oleh sosok Yonghwa di ambang pintu. Wajah Yonghwa nampak gelisah.

Segera setelah Nara dan Sandara pergi dari hadapan keduanya, Yonghwa mengajak Jiyong ke suatu tempat. Dengan mobil hitamnya, kini Yonghwa mendaratkan Jiyong di depan sebuah klub malam mewah kawasan Gangnam. Jiyong ingat betul bahwa kemarin ia sempat mendapati sosok Hyuna berada di sekitar kawasan elit ini. Dan ia bisa tebak kenapa.

Iris matanya memantulkan sosok Hyuna bersama-sama dengan seorang pria baru saja keluar dari klub tersebut. Keduanya bergandengan tangan bahkan sempat melakukan adegan layaknya sepasang kekasih di jalanan sepi tersebut. Hyuna kemudian masuk ke dalam mobil dengan tuntunan pria tersebut lantas keduanya pergi dari kawasan itu tanpa tahu bahwa ada yang mengamat-amati keduanya.

“Kau sudah tahu tentang ini bukan?” Yonghwa bertanya pada Jiyong atas apa yang dilihatnya. Ia berkesimpulan demikian karena ekspresi Jiyong dirasa tidak sesuai ekspektasi Yonghwa sebelumnya. Paling tidak, Jiyong akan melotot marah kemudian menghancurkan dahsboard mobilnya. Namun yang terjadi justru sesuatu yang terkesan alami. Oleh karena itu Yonghwa langsung berkesimpulan bahwa Jiyong sudah tahu tentang rahasia Hyuna.

“Kau sudah tahu tentang ini bukan, Hyung?” Ulangnya lagi. Saat itu Jiyong mengangguk.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahu aku?” Selidik Yonghwa. Nada bicaranya menyiratkan kekecewaan. Jiyong mendelik penuh protes. “Kenapa aku harus memberitahumu? Jika ada yang harus kuberitahu, tentulah Myungsoo adalah orangnya. Bukan kau.”

“Tapi ini bukan tentang Myungsoo. Kita sama-sama tahu bahwa ini tentang Yuri.”

“Lalu kenapa? Apa dengan memberitahu ini pada Yuri, kau berharap ia akan membuka hatinya padamu? Apa kau memiliki maksud lain, Jung Yonghwa?”

“Bukan!” Yonghwa menelan ludahnya kemudian, terkait reponsnya yang kelewat agresif soal ini. Ia menggaruk tengkuknya kemudian mulai mengacak-acak rambutnya sendiri. “Maafkan aku, Hyung. Aku hanya…” Pemuda itu menghentikkan kalimatnya untuk sepersekian detik, lantas ia mulai bicara kembali. “…sepertinya aku tidak bisa melupakan Yuri begitu saja. Rasanya, seperti aku berusaha menjatuhkan diri dari tebing.”

Jiyong tidak berkata apapun, namun tepukan di pundak Yonghwa yang ia berikan sebanyak tiga kali mampu membuat kepala pemuda tersebut terangkat.

“Kau adalah pemuda yang baik dan aku tahu persis. Kau berhak untuk memperjuangkan cintamu dan siapa pun tak bisa menghalangimu. Tapi ada satu hal yang mestinya kau ingat, cinta yang kau kejar tidak selalu dapat kau tangkap. Kadang ia berlari menjauh, kadang ia menghilang dan kadang… ia telah dimiliki. Kalau kau kini merasa dirimu berada di tepian jurang, kusarankan agar kau tarik kembali tubuhmu. Menjatuhkan diri ke sana, tidak akan mengembalikan apa yang tengah kau kejar, Yonghwa. Aku sudah pernah merasakannya. Kau melakukan satu hal sia-sia.”

Sebagai pemuda yang lebih dewasa, Jiyong memberikan tatapan teduhnya pada Yonghwa seolah ia adalah Yuri, adiknya sendiri. Tidak ada banyak respons berarti dari bibir Yonghwa selain—setelah semenit dilanda keheningan—ia bertanya,

“Lantas bagaimana membuat cinta yang bertepuk sebelah tangan ini tidak sia-sia setelah semua yang kuperjuangkan?”

Jiyong menyunggingkan sebuah senyuman pada wajah Yonghwa. Keduanya lantas sepakat menjalankan mobilnya kemudian, seolah sepaham atas segala sesuatu yang dicetuskan otaknya masing-masing. Selanjutnya, jalanan Gangnam dibelah oleh kecepatan mobil tersebut. Yonghwa sudah memutuskan suatu hal penting malam itu.

.

.

“Kau tidak perlu minta maaf…” Yuri bicara setelah berjam-jam keduanya larut dalam keheningan panjang. Air matanya sudah mengering dan kini ia menegakkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda Myungsoo mendengarkan, jadi ia menoleh pada pemuda itu.

Dilihatnya pemuda itu bersandar pada sofa dengan mata tertutup. Ia melipat tangannya di depan dada dan berlagak seolah ia tengah tertidur pulas. Yuri tidak bisa menutup rasa penasarannya begitu saja. “Myungsoo?” Ia mulai memanggil namanya.

Yuri sudah akan berpikir yang tidak-tidak kala Myungsoo tak kunjung menyahuti panggilannya. Jadi ia memutuskan untuk mendekat, memperpendek jaraknya dengan Myungsoo. Tepat saat itu, tangan melingkar di tubuh Yuri dan menariknya ke depan sehingga ia terjerembab di atas dada Myungsoo, mendengarkan detakkan jantungnya yang berirama.

“Aku mendengarkanmu. Teruskan apa yang ingin kau katakan.” Sahut Myungsoo. Yuri menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri tanpa suara, namun pelukan Myungsoo semakin erat padanya. Hingga kadang membuat punggung Yuri begitu sakit. Yuri memutuskan untuk mendongak, melihat seperti apa ekspresi Myungsoo saat ini. Namun sayang sekali, mata Myungsoo masih terpejam; bahkan tidak melihat wajahnya sama sekali.

“Kau tidak bisa begini, Myungsoo.”

“Nanti aku sampaikan padanya.”

Huh ?” Yuri keheranan. Tidak mengerti apa yang baru saja Myungsoo ucapkan padanya.

“Kau membenci Myungsoo, aku tahu. Nanti aku sampaikan padanya ketika ia terbangun. Sekarang, ucapkan apa yang ingin kau ucapkan.”

Tidak salah jika dahulu Yuri menyebut Myungsoo adalah seorang pemuda yang tidak dapat dikendalikan—unstoppable. Ia tahu betul bahwa pemuda ini selalu menemukan cara agar amarah Yuri dapat lolos begitu mudahnya. Myungsoo selalu tahu bagaimana membuatnya tersenyum merekah meski ia begitu benci pada pemuda itu.

Kali ini berlaku hal yang sama; seorang Myungsoo yang tengah berusaha membuat Yuri jujur sekali lagi. Jujur tentang perasaannya dan mengesampingkan egonya.

“Aku… tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, Myungsoo.”

“Oke, nanti aku sampaikan padanya.”

Yuri diam-diam tersenyum. Selera humor yang bagus untuk saat-saat seperti ini. Tapi ia sadar betul Myungsoo tidak sedang bercanda kali ini. Ia hanya terpejam, bukan berarti tidak mendengarkan.

“Aku… membencinya, aku membenci Myungsoo.” Ujar Yuri kemudian. Tanpa ia tahu, manik Myungsoo sempat terbuka sepersekian detik, memandang surai hitam Yuri yang bersandar di tubuhnya. Gadis itu di sana, menenggelamkan wajahnya di antara surai dan dada bidangnya.

“Kau akan memberitahu Myungsoo bukan? Kalau aku membencinya?” Tanya Yuri.

“Ya, tentu saja. Kalau aku boleh tahu, kenapa kau membencinya?”

Yuri mendecih. “Dia menyebalkan. Pemuda yang tahu-tahu datang memanggilku noona kemudian berusaha mengubah nama belakangku dengan Kim. Di saat aku sedang berdelusi mengenai semua itu, tahu-tahu dia datang lagi dan membuatku harus puas dengan marga Kwon-ku di saat ia akan memberikan nama belakangnya untuk gadis lain. Aku membenci Myungsoo.”

Myungsoo mempererat pelukannya hingga Yuri tidak bergerak—dan memang gadis itu tidak berniat untuk bergerak.

“Ada lagi. Aku juga membencinya ketika ia berbicara seolah ia tahu tentang aku. Aku benci ketika ia mulai berlagak seperti ia menguasai diriku. Aku benci ketika ia menjadi terlalu posesif. Aku benci ketika ia mulai dikerumuni wanita-wanita. Dan aku juga benci ketika ia mengatakan bahwa ia akan menyerahkan hidupnya untukku.”

“Bukankah itu bagus?” Myungsoo menyela, “ketika seorang pria berkata dia akan menyerahkan hidupnya untukmu?”

Yuri menggeleng hingga Myungsoo merasa perutnya kegelian akibat surai-surai Yuri yang menusuk, menembus kemejanya.

“Tidak,” balasnya. “Tidak bagus. Jika ia menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku, lalu dengan siapa aku akan memulai kembali semua hari-hari indahku. Aku tidak butuh pengorbanan itu, aku hanya butuh dirinya. Dirinya seorang.”

Myungsoo memutuskan untuk diam.

“Apa sekarang kau mengerti kenapa aku sangat benci pada Myungsoo?”

“Kurasa, aku mulai paham.”

“Apa kau akan sampaikan seluruh kalimatku padanya?”

“Tentu.”

“Baguslah.”

“Tapi Myungsoo menitipkan pesan padaku. Apa kau ingin mendengarnya?”

Yuri mendongak, menemukan Myungsoo masih terpejam.

“Aku ingin mendengarnya.”

“Myungsoo berkata,” jemari Myungsoo mulai bergerak, menari di antara helaian surai Yuri dengan lembut hingga membuat Yuri sedikit terlonjak. “Meski kau membencinya, dia tahu kau mencintainya. Bukankah begitu?”

Yuri enggan menjawab meski ia merasakan pijatan jemari itu menelusuri setiap helaian rambutnya sekali lagi. Rasanya seperti akan mengatakan ‘aku tidak sakit’ kala ia benar merasakan sakit. Sepelik itu. Yuri bukanlah tipe gadis yang mau mengakui kalau dirinya telah jatuh terlalu dalam ke perangkap cinta yang dipasang Myungsoo padanya. Sebaliknya, ia adalah tipe gadis yang ingin dijatuhkan lebih dalam lagi ke perangkap itu, meski tanpa kalimat permohonan yang terucap dari bibirnya. Bila orang takut jatuh ke dalam lubang yang terlalu dalam, maka Yuri adalah satu-satunya yang bersedia jatuh ke dalam lubang itu hingga Myungsoo datang untuk bersama-sama terjun dengannya.

“Ya. Dia memang selalu benar. Aku memang mencintainya.”

Yuri mendongak dan mendapati mata Myungsoo sudah terbuka. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tulus sementara maniknya enggan lekang dari iris cokelat milik Yuri. Seketika saja, air mata jatuh kembali dari manik Yuri setelah ia memutuskan untuk memandang wajah Myungsoo lama-lama. Lengannya bergerak tanpa diperintah, memeluk tubuh Myungsoo erat-erat.

“Jangan pergi… kumohon… jangan pergi…”

Pilu, isakannya membelah malam sunyi. Myungsoo mendekap gadisnya erat, membuat tangisannya membanjiri seluruh kemejanya. Ia menciumi kening Yuri lembut, memberinya energi kerinduan begitu kuat. Ketika keduanya sepakat melepas pelukan, diraihnya jemari Yuri dalam sela-sela kungkungan tangan Myungsoo. Iris keduanya bersirobok, menuntaskan perasaan rindu itu sekali lagi.

Di momen tersebut, Myungsoo mengecup kening Yuri. Dibisikannya sebuah kalimat kecil berulang kali hingga Yuri tertidur di dadanya sampai pagi menjelang.

“Aku mencintaimu, Yuri. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

.

.

Esoknya,

Manik Myungsoo baru saja terbuka lebar tatkala sinar fajar menyorot celah-celah rumah tua tidak terpakai tersebut. Hari sudah pagi dan kemejanya sudah kering dari air mata. Myungsoo tersenyum kemudian perlahan menggeliat hati-hati.

Dadanya sudah tidak terasa berat. Dan ia kini tahu mengapa.

Saat itu, ia menyadari kalau sosok Yuri sudah tidak ada di sana. Satu-satunya yang tersisa, hanyalah selembar kertas yang entah datangnya dari mana. Tinta hitam dituangkan di atasnya dalam barisan aksara.

Terima kasih karena tidak meninggalkanku, dan maaf karena tindakanku yang sebaliknya.

Yuri sudah pergi. Sementara derung mesin mobil kemudian terdengar di telinganya. Sosok Jung Kahi menerobos ruangan minim cahaya tersebut dan memeluk tubuh Myungsoo erat-erat. Terdengar sekilas sumpah serapah yang ditujukan pada Yuri. Namun Myungsoo tahu hal sebenarnya.

Yuri sudah meninggalkannya.

.

.

Jiyong tak kuasa menahan rasa penasarannya tatkala melihat Yuri kembali ke rumah di pagi buta. Yang membuatnya keheranan tak lain soal sosok Myungsoo yang tak ada bersama gadis itu. Ketika Yuri melangkah ke dalam kamarnya tanpa sepatah kata pun, Jiyong yakin bahwa ia sudah gagal dengan rencananya kali ini.

Segera, ia mengirimi Luhan sebuah pesan singkat.

Pernikahan Myungsoo akan dilaksanakan siang ini. Tidak ada perubahan rencana.

Dengkul Jiyong melemas saat itu juga. Rencananya benar-benar gagal total. Ia menunggu setidaknya dua jam kemudian sampai Yuri keluar lagi dari kamarnya. Wajahnya benar-benar kusut meski ia sudah membasuhnya berulang kali. Bahkan, Jiyong bisa mengatakan bahwa mata sebam bekas tangisan tersebut masih ada di sana, terukir di bawah matanya dengan sangat jelas.

“Pernikahan Myungsoo akan dihelat dalam satu jam.” Ucapnya tanpa basa-basi. Yuri terkesan tak acuh. Ia meraih sebuah gelas kemudian mengisinya penuh dengan air putih. Gadis itu menenggaknya dalam satu kali tegukan—seolah air tadi adalah wine.

“Kau dengar aku? Pernikahan Myungsoo akan dihelat dalam satu jam.” Ulang Jiyong lagi. Nara yang kebetulan melintas, terpaksa kembali ke kamarnya dan berusaha tidak terlibat. Ia tahu jika dua orang kakaknya ini berseteru dan adu bicara, maka suasana rumah akan sangat mencekam dan ia tidak ingin terjebak dalam suasana itu.

Yuri menggaruk telinganya. “Aku lelah. Aku ingin tidur. Bangunkan aku jika aku sudah peduli.”

Jiyong menggeleng. Saat itu Yuri kembali ke kamarnya dan membanting pintunya keras-keras. Nara bersembunyi ketakutan di balik kamarnya sendiri, mengintip ekspresi Jiyong yang mulai kesal. Ia ingin menghibur kedua kakaknya tersebut, namun sejak segala insiden asmara Yuri, keadaan rumahnya sendiri sama berantakannya dengan keadaan Yuri.

Barusan Nara mendengar suara meja yang digeser, berdecit. Jiyong mungkin sempat menendangnya sebentar kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Meski tidak sekeras debuman pintu kamar Yuri, tapi pria itu baru saja membanting pintunya juga, membuat Nara semakin enggan keluar dari kamarnya sendiri.

Ia meraih ponselnya kemudian mengirimi ibunya sebuah pesan singkat :

Ibu, Jiyong Oppa dan Yuri Eonni bertengkar lagi. Cepatlah pulang.

Belom sempat membuka balasan pesan singkat dari ibunya. Nara harus rela telinganya dikejutkan kembali oleh suara debuman yang lain. Ia memberanikan diri mengintip dari celah pintu dan mendapati Jiyong membawa sekotak besar kardus. Ia berjalan menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Yuri beberapa kali.

Ketika pintu tersebut terbuka, Jiyong bergegas masuk dan Nara tidak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

“Jangan membawa sampah ke kamarku.” Sahut Yuri dingin ketika ia melihat Jiyong melemparkan sebuah kardus penuh dengan surat-surat di kamarnya.

“Aku tidak akan mengatakan apapun. Lihat dan putuskan sendiri.”

“Kenapa aku harus menuruti perintahmu?”

“Karena ini adalah bukti kalau Myungsoo selalu mencintaimu tanpa syarat.”

Tanpa ekspresi, Jiyong berbalik, meninggalkan kamar Yuri dengan segala perasaan kesalnya. Kesal lantaran Yuri tidak juga menyadari hati Myungsoo yang sesungguhnya padanya selama ini. Kesal seperti ketika ia memarahi Yuri kecil ketika ia menjatuhkan cokelat valentine pemberiannya, jenis kesal semacam itu.

Jiyong memutuskan bahwa ketika kalimat dan nasehat tidak akan berpengaruh banyak pada gadis itu, maka satu-satunya cara adalah bukti yang kuat. Otak Yuri bekerja keras dengan fakta dan logika—tidak seperti wanita kebanyakan. Dan kini, ia berharap semoga fakta itu akan menuntun Yuri menemukan pelabuhannya sendiri.

Yuri menggeser kardus pemberian Jiyong di atas lantai dengan kakinya sendiri. Sekilas, ketika kardus itu semakin mendekat, ia bisa melihat namanya tertulis dalam barisan aksaran Korea di permukaan setiap kartu ucapan dan surat-surat. Warna-warna kertas tersebut menarik hati sehingga Yuri tanpa pikir panjang memungutnya satu per satu.

Ketika surat pertama ia buka, ia langsung melemparkannya jauh-jauh sembari berteriak histeris. Di sana tertera fotonya sedang tersenyum bersama Myungsoo—sebuah foto yang sempat dipublikasikan oleh Myungsoo dalam SNS-nya. Namun dalam foto tersebut, wajah Yuri penuh dengan coretan merah yang pengirimnya klaim sebagai darah ayam.

Penasaran, Yuri kembali membuka setumpuk surat-surat lain di sana.

Isinya tidak lebih baik dari yang pertama. Ancaman, cacian dan olokan adalah sebagian besar kalimat yang tertulis di sana dan kesemuanya ditujukan padanya. Kala Yuri menyoroti tanggal dari pada surat tersebut, hatinya langsung rapuh seketika.

Segalanya dimulai dari tanggal ketika hubungannya dan Myungsoo naik ke permukaan, dan terus menerus hingga detik ini. Ada alasan mengapa Myungsoo kerap menemui Jiyong secara rahasia selama ini, dan kini ia tahu mengapa.

Jika kau menikahi Myungsoo Oppa aku bersumpah akan membunuhmu, Eonni.

Jauhi Myungsoo Oppa kami!

Ayam mati itu hadiah ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, pecundang.

Yuri memegangi kepalanya seakan bisa jatuh kapan saja. Ia begitu terpukul. Kenyataannya, selama ini Myungsoo melindunginya tanpa ia tahu sehingga ia bisa beraktivitas sebagaimana biasa. Kenyataannya, Myungsoo berusaha mencintainya dan menjauhkan segala hal yang dapat mencelakainya.

Dan kenyataan menyedihkannya,

Yuri sama sekali tidak tahu.

Dan kini ia menyesal. Menyesal karena tidak pernah menyadari bahwa ia memang mencintai Myungsoo. Yuri tidak terlatih untuk berbohong dan dia kini sadar bahwa hatinya memang tidak cocok untuk mencoba membohongi rasa cintanya sendiri.

1 Jam.

Pernikahannya akan dihelat satu jam lagi. Dan ia masih memiliki kesempatan kecil. Yuri yakin ia masih memiliki kesempatan itu.

.

.

Myungsoo sudah bersiap dengan segala setelan hitamnya dan dasi kupu-kupu yang tersemat di atas dadanya. Ia memandangi cermin, kemudian beralih melihat ke jendela. Ia berharap ada keajaiban yang membawa Yuri kembali di saat –saat penting seperti ini. Namun ketika sebuah tangan menariknya dari sana, ia sadar hal tersebut hanya delusinya semata.

Waktunya sudah sangat sempit dan ia tak bisa kembali.

Pintu besar bercat cokelat terbuka lebar—mempertontonkan sebuah jalanan kecil berkarpet merah di depannya. Tidak, itu bukan jalanan menuju altar tempatnya seharusnya berada. Tapi di sana adalah lorong hotel dengan karpet merah biasa. Myungsoo menghela napas. Hidupnya tak pernah ia sangka jadi serumit ini.

“Hai.” Sebuah suara familier menyapanya dari ujung lorong. Luhan datang dengan sebuah kado kecil dengan surat ucapan yang tertulis di atasnya. “Selamat atas pernikahanmu.”

Myungsoo tersenyum kecut. Ia tak berniat membalasnya.

“Apa kau tidak akan membuka kado dariku? Atau… setidaknya membaca suratku sebelum kau naik ke altar?”

“Tidak perlu. Ah, mungkin aku akan menyimpan suratmu di saku. Akan kubaca jika hari ini berjalan dengan baik.” Sahut Myungsoo. “Tapi terima-kasih. Kau adalah teman terbaik yang pernah kumiliki.”

Myungsoo tertawa, disambut dengan tawa dari Luhan. Namun ketika punggung Myungsoo menyorotinya dari jarak yang semakin jauh, tawa itu berubah hambar. Ia menggeleng pasrah. “Aku tahu betul kau tidak akan pernah tertawa seperti itu lagi setelah hari ini, brother.”

.

.

Yuri berlari. Ia tidak peduli lagi jika sepatu heels-nya telah ia lepaskan di tengah jalan. Kemacetan parah selalu menjadi hal klasik di kota ini dan ia tidak ingin terjebak di dalamnya untuk hari ini. Gadis itu, dengan gaun selututnya, kembali berlari di atas trotoar. Tujuannya tak lain adalah gedung dari hotel bintang lima di dekat persimpangan jalan.

Ia hampir menangis kala sebuah televisi besar di atas sebuah pusat perbelanjaan yang tengah ia lewati, menampilkan seorang pengantin wanita nan cantik dengan seorang pria yang telah menunggunya di depan altar.

Detik itu langkah Yuri melambat. Ia tahu kalau ia sudah terlambat.

“Yuri-a…”

Yuri mendongak, menyambut uluran tangan seseorang ketika ia tengah terjatuh lemas di atas trotoar. Ia tahu jika lebih lama di sana, akan membuatnya menjadi bahan tontonan para pengguna jalan, jadi ia meraih uluran tangan tersebut tanpa tahu milik siapa.

Segera ketika ia akan mengucapkan terima-kasih, matanya bak hampir loncat karena kagetnya. Ia mengenali wajah itu, pun segala busana yang ia kenakan. Hanya satu yang ia tak mengerti, soal bagaimana pria di hadapannya bisa benar-benar ada di hadapannya saat ini.

.

.

“JUNG YONGHWA?”

Kahi memekik histeris tatkala acara yang sudah susah payah ia persiapkan dari jauh-jauh hari harus gagal total hanya karena keberadaan Jung Yonghwa yang tiba-tiba menarik lengan Hyuna sebelum ia sampai ke altar. Ditambah lagi, ia memerintahkan Myungsoo untuk segera berlari, dan meninggalkan altar tersebut.

Para penjaga sibuk menjegal Myungsoo namun dengan sedikit bantuan dari Luhan, pemuda itu bisa meloloskan diri juga. Luhan berlari bersama Myungsoo dan mengantarkannya ke suatu tempat, menyelamatkan diri dari pernikahan akbar itu adalah prioritas utama.

Tayangan di televisi yang seharusnya menayangkan sosok Myungsoo dan Hyuna berdua mengikat janji di depan altar, lantas berubah menjadi tayangan Hyuna yang berjalan di sepanjang permadani merah berulang-ulang tanpa berkesudahan. Dan saat itu di tempat yang lain, Yuri kebetulan melihatnya tanpa menyadari apa yang tengah terjadi sesungguhnya.

“YONGHWA APA YANG KAU LAKUKAN!” Kahi berteriak penuh emosi. Matanya merah seketika. Namun Yonghwa malah menekan sesuatu di ponselnya dan seketika sebuah tayangan proyeksi besar terpampang di dinding. Sederet foto Hyuna dan seorang pria yang tengah mabuk di jalanan terpampang besar-besar. Tidak cukup puas, ia memamerkan rekaman audio yang susah payah ia dapatkan dari riwayat panggilan teleponnya.

“…aku akan menguasai harta mereka kemudian meninggalkan bocah cengeng itu segera… tenang saja sayang…”

Hyuna berkeringat. Ia bahkan tidak berani menatap calon mertuanya sendiri. Kahi seperti diserang sebuah panah dari belakang bahunya. Selain jatuh ke lantai sembari memegangi dadanya, ia tak mampu berkata apapun lagi. Tinggallah Yonghwa sebagai orang yang paling bertanggung jawab saat ini.

“Dengan ini, pernikahan dibatalkan. Dengan hormat, mohon agar dapat meninggalkan ruangan ini. Sekali lagi, pernikahan dibatalkan.”

Hyuna menghempaskan lengannya dari Yonghwa. Namun Yonghwa bersikukuh untuk mencengkeram lengan gadis itu kuat-kuat. “Diam dan kita lihat apa yang akan terjadi padamu, nona.” Sahutnya.

Tidak lama, satu tim polisi meluncur ke dalam aula besar tersebut. Ia memboyong Hyuna bersama dengan kekasihnya, Chansung ke kantor polisi. Yang mengejutkan adalah ternyata keduanya memiliki daftar hitam di luar negeri soal pemerasan harta pejabat dan konglomerat.

Kahi hanya bisa tertegun tidak percaya. Ia kini telah dilarikan ke rumah sakit lantaran pingsan mendadak ketika melihat pemandangan hebat di depan matanya. Rencana pernikahan Myungsoo hari itu telah resmi dibatalkan. Para undangan bercerai-berai, meninggalkan gunjingan demi gunjingan pada keluarga Jung.

Acara akbar yang rencananya disiarkan langsung melalui saluran televisi ternama, kini dibatalkan. Bersisa, iklan demi iklan yang berderet sebagai substitusi sementara staf dan kru pertelevisian sibuk meminta klarifikasi pada Yonghwa.

“Tidak ada yang perlu diklarifikasi, kami hanya korban. Terima kasih.”

Dengan begitu, Yonghwa meninggalkan awak media. Setelan abu-abunya kemudian menuntunnya keluar, mendapati seseorang tengah menunggunya di dalam mobil yang telah disiapkan beberapa menit yang lalu. Duduk di bangku supir adalah Kwon Jiyong dengan senyum cerahnya.

Tatkala Yonghwa masuk ke dalam mobil, Jiyong lekas saja berkata, “kau membuat pengorbananmu tidak sia-sia pada akhirnya. Selamat.”

Yonghwa tersenyum sembari memasang sabuk pengamannya kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangan akibat pantulan dari cahaya kamera-kamera para awak media yang masih mengikutinya. Seolah tahu kerepotan Yonghwa, Jiyong lekas menginjak pedal gas dan menjalankan mesin mobilnya. Ia membunyikan klakson panjang dan membelah kerumunan awak media di depan jalur mobil tersebut.

“Bagaimana dengan Yuri?” Tanya Yonghwa ketika keduanya telah berhasil menjauh dari gedung hotel. Pertanyaannya tersebut disambut gelak tawa oleh Jiyong sehingga Yonghwa mengerutkan dahi. Pertanyaannya tersebut akhirnya dijawab Jiyong beberapa detik kemudian, setelah tawanya mereda.

She’s fine. Dia pasti akan kaget setengah mati.”

.

.

“Kim… Myungsoo?”

Rentetan suara klakson terdengar dari balik bahu Yuri dan membuat gadis itu terperanjat sejemang. Di hadapannya secara ajaib, ada Myungsoo dalam balutan setelan jas hitamnya. Sedangkan yang memencet klakson padanya tadi adalah mobil miliknya, dengan Luhan sebagai supir di dalamnya. Tanpa penjelasan, Myungsoo menarik tangan Yuri dan membawanya ke dalam mobil.

Masih belum jelas kenapa dan untuk apa, mobil tersebut melaju kencang, membawa ketiganya jauh dari hiruk-pikuk jalan raya dan segala sorot mata tajam dari setiap orang yang mengenali mereka.

“A…da apa ini? Bukankah kau…”

“Nanti saja bicaranya. Nanti dulu.” Myungsoo menahan Yuri. Luhan terkekeh dari balik setir kemudian membiarkan mobil memasuki sebuah jalan bebas hambatan dan terus meluncur ke luar Seoul.

.

.

“Tempat pamanku.” Luhan menjelaskan tatkala ketiganya sampai di teras rumah kuno yang kondisinya cukup baik. “Aku menyebutnya rumah peristirahatan. Kalian tidak keberatan bukan jika kutinggal di sini? Masih banyak yang harus kuurus di Seoul seperti konferensi pers dan yah… hal semacamnya.”

Hanya basa-basi. Luhan berbicara panjang lebar pun tidak akan ada yang mendengar ketika Myungsoo sudah menjawat tangan Yuri. Jadi tanpa pikir panjang lagi, ia pamit, membawa mobil Myungsoo kembali ke Seoul, meninggalkan pemilik asli bersama kekasihnya di sebuah rumah asing.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Yuri menjawat kuat jemari Myungsoo, cenderung meremasnya. Maniknya tidak juga menunjukkan riak damai. Kecemasan tak beralasan masih berada di sana, kala ia memandangi wajah Myungsoo.

“Pernikahanku batal.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku baru tahu dari Yonghwa hyung baru saja, dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini. Tapi satu yang pasti, pernikahanku dibatalkan.”

Yuri tidak tergagap-gagap. Ia tentu masih belum mencerna segala yang terjadi di depannya sekejapan mata saja. Namun ia berusaha paham dan menyesuaikan diri. “Jadi…”

“Ya, pernikahanku batal. Tidak akan ada lagi pernikahan.”

Hening. Yuri tidak tahu harus tertawa dahulu atau menangis dahulu. Perasaannya tercampur aduk menjadi satu sehingga ia tidak tahu lagi harus mendahulukan yang mana. Gadis itu memilih penyelesaian yang bijak dengan mengecup bibir Myungsoo lembut, tanpa aba-aba. Gadis itu tidak bisa memilih tindakan yang lebih baik daripada itu.

Maniknya lantas berkaca-kaca ketika Myungsoo memeluknya.

“Mari mulai dari awal.” Myungsoo berbisik di telinga Yuri, membuat pipinya merona merah. Gadis itu berjinjit, untuk menyamakan tingginya dengan Myungsoo agar ia bisa bersandar di bahunya. Dirasa olehnya, jemari  Myungsoo mulai menuruni helai demi helai rambutnya secara sadar.

“Aku membencimu.” Ucap Yuri

“Aku juga.” Balas Myungsoo. “Tapi cinta dan benci itu bedanya sangat tipis. Kau berhak khawatir.” Yuri memukul ringan dada Myungsoo kemudian tertawa. Gadis itu tidak bisa menghentikkan linangan air mata yang kini—lagi-lagi—menjadi pemandangan utama dari wajahnya, pun tidak bisa untuk menghentikkan tawanya sendiri.

Pintu yang telah ia nanti-nanti kini hadir dengan mulusnya di hadapannya. Yuri tidak menginginkan hal yang lebih baik dari ini. Dicintai oleh Myungsoo adalah hal terindah yang pernah ia miliki.

“Katakan pada Myungsoo,” Yuri menenggelamkan wajahnya di dada pria itu sekali lagi, “aku mencintainya. Kali ini sungguhan. Dan aku tidak akan pergi lagi darinya. Tidak akan pernah.”

“Ya,” Myungsoo mengecup kening Yuri. “Kata Myungsoo, dia sudah tahu itu.”

Meski kalimat ini klise, tapi aku mencintaimu juga, tanpa henti, berulang lagi. Unstoppable.

.

.

FIN

.

.


AKHIRNYA SELESAI!

Done yes done!

Maaf karena menunggu lama kurang lebih 8 bulan demi FF satu ini ya guys. Aku mendadak kehilangan feel nulis semua FF Chaptered-ku dikarenakan menumpah-ruahnya boyben boyben baru yang layak sekali untuk diikuti perkembangannya. Waktuku tersita banyak dan malah, lebih deres bikin FF buat para boyben tersebut he he he

Dan lagi, aku kecanduan bikin FF sejenis Oneshot saja. Males bikin yang chaptered gitu :p Kemudian aktivitas Yuri yang kebanyakan di Jepang juga sedikit menurunkan minat untuk menulis lebih banyak tentangnya. (pengennya cepet kambek ke Korea terus ngapain kek maen drama kek ya pokoknya solo activity gitu deh) biar inspirasi lancar jaya terus he he he

Sekian deh sekian

Btw Selamat Eid Mubarak buat yang merayakan!

Salam

Nyun

 

47 thoughts on “KLISE : UNSTOPPABLE [Part 9-END]

  1. kwon steffi berkata:

    Akhirnya selesai kisah klise ini
    Well, complicated but sweet in the end
    Pkkny salut sama penulisan kayur
    Keep the spirit for sharing more awsome fanfic ya kak
    Btw,
    met lebaran –V

  2. Cynthia berkata:

    Yahhha udh end… pdhl pingun endingx mrk yg tb2 menikah…
    Aaaaaa.. aq pingin bgt ff chapter semua yg ada disini dibuat filmx.. wkwkkwwkkkwk.. castx jg sm..
    Wahhh klo eonni tau blog2 dikorea yg ttg kyk gini trs ini diterjemahin ke bhs korea trs dibca sm sutradara2 bagus ini dijadin film apalgi yg main idolaku.. hehhehehehehe.. (mengayal tingkat tinggi x_x)
    Fightingg ya eonni semoga dpt feel buat ffx yg byk n seru2 terutama castx yuleon hehhehehehee…
    Dtgu..
    Yo..yo..yo.. yehet😀

  3. Bintang Virgo berkata:

    Yey akhirnya keluar juga ff nya kak…

    ga nyangka bisa jadi yang pertama mengkoment…
    FFnya kzak
    bikin ketawa, kesal gaje aja kak..

    Myungsoo nya keren…
    yurinya membenci < mencintai myungsoo
    saranghae myungyul… ❤

  4. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Akhirnya end juga.. Kerenn kak nyunn, ampe terharu aku *lap ingus*
    Happy end.. Semoga dapet ide terus ya buat bikin ff bercast utama kwon yuri, selalu ditunggu karyanya kak nyunn..,

  5. Tetta Andira berkata:

    Nyun-chan, sblun’x minal aidin wal faidzin yoo .. maap lahir bathin, kalo slma ini bnyk salah2 kata ^^
    bhkn lbh menyenangkan baca ff kmu drpda nikmatin kue lebaran saat ini .. sprti bysa, sllu pnya rasa & warna yg bkin kaka bisa snyum & nangis kemudian. ntah itu nangis haru atau bahagia😀
    kaka gak bnyk cingcong, kalimat2 super kmu yg bisa ngegambarin sgla hal dgn baik & bisa dirasakan banget sama readers udh gak prlu dikomentari lg. tokoh2 di dlm crta yg sllu bisa penuh karakter beneran gak diragukan.
    kaka mnta maaf utk komen yg gak seberapa ini. bt trma kasih utk setiap karyamu yg luar biasa. smoga kmu bisa ttap jd Nyun yg penuh ide kreatif-imajinatif yaa .. utk ff chapter yg lain, akan sllu ditunggu kok. kmu slow aja, apalagi slma ini kmu jg msh sering menyajikan tulisan lain’x sbg temen buat nunggu ff2 chapter itu ..
    sllu smangat, truslah bersinar, & smakin 143 sama kmu :3

  6. sevy berkata:

    wah…. gak kerasa udah end nih ff…..
    wah… kalo eonnie suka bikin ff oneshort berarti bisa donk buat sequel ff ini….
    ayolah eon… gantung amat rasanya endingnya eon…

    kasi sequel ya…. oneshort aja eon….
    kekeke…..
    bagus eon…. awalnya mewek, nyesek. anget rasanya jadi mereka…..

    haha….. terus di lanjut ff ff nya eon….

  7. tha_elfsone berkata:

    Minal aidin wal faizin yaa nyun🙂
    Akhirnya publish juga ff nya nyun🙂
    Aq sedih pas myungsoo mau nikah trus yuri dh pergi dr myungsoo.. -_-
    Tapi untung aja ada yonghwa yg bisa nyelamatin yuri ma myungsoo ^^
    Terimakasih bnget buad yonghwa Oppa ^^
    Ff ini emng keren bnget nyun feel nya dapet bnget ^^

  8. Yhyemin_ berkata:

    akhirnya d lanjut jg,tp jujur ya kak feelnya mnurun mungkin karna lamanya update.tp itu tdk mengurangi tulisan kakak yg udah ‘perfect’.
    Aku akan tetep nunggu ff chapter ataupun ff cast Yuri lainnya,maaf aja aku gk bsa bca ff slain cast Yuri,aku jga brharap bgt kak Yuri punya solo activity g2 …..

    Terakhir,minal ‘aidzin wal faidzin,mohon maap bila aku prnah nyampah yg enggak” d blog kakak,yg gk enak d hati kakak,yg terkadang ngebet bgt ff”nya pengen d lanjut pdahal kakak sibuk,dan smua kesalahan” yg dsengaja ataupun nggak,maafin ya kak🙂

    #Fighting!!

  9. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    WOHOOOOOO FINALLY END!!!! KERENNNNNNNNNNNNN NANGIS SAMA SENENG BERCAMPUR ADUK, BENER BENER KANGEN SAMA MYUNGYUL<3 luvvvv

  10. liya lan berkata:

    good….
    terharu sama ceritanya…
    jgn lpa ff chaptered yang lain ya unni…
    oiya, selamat hari raya idul fitri…. mohon maaf lahir dan batin.. maaf kalau selama ini ada komentar yang kurang berkenan…..

  11. chy23 berkata:

    SEDIHNYA SUDAH END😦
    tapi sumpah ini keren banget kak😄
    Padahal ini FF chaptered terfavorit huhu kenapa end😦 *eh
    Haha iye boyband melimpah ruah😄 si Yuri aktivitasnya kurang😦 jd gatau perkembangannya kayak gimana haha
    Well good job again kaknyun ^^

  12. mellinw berkata:

    Yihaaaaa~ ending ending endiiiing

    Duh akhirnyaaaa , kapaaaaan ketemu yg kayak myungsoo yaaa . Ampun deh sayang banget sm yuri

    Yonghwa luhan jiyoung, salut sama ketiganya . Berjuang demi org yg dicintainya . Beeeehh ……………….. Keren dahhhh

    Senenglah kak endingnya mantap bgini🙂 , ayo kaaaak smangat lanjutin ffnya🙂

  13. jathy berkata:

    hela nafas dulu kak “huh”. akhirnya end, sumpah seneng banget. myungsoo ama yul eonnie!! , sumpah seneng kak. dan endingnya ngak ketebak banget!
    aku masih khawatir kalo kahi ngak nerima yuri. tapi ada yonghwa tenang!
    toz kak toz! kangen ama bang wufan, apa lagi sejak lagunya wufan itu. aku selalu nunggu karya2 kakak!

  14. Stella Kim berkata:

    YEAY AKHIRNYA SELESAI JUGA KAK NYUN!

    setelah lama banget aku nungguin ff ini selesai, eh keluar juga chap terakhirnya haha.
    akhir yang mengharukan banget, walaupun awalnya aku berharap kalau endingnya lebih dramatis, tapi ini juga keren ko kak! ga ketebak sama sekali haha!

    jangan hilang feel dong kak nyun! toz sama sorcerers diarynya gimanaaa nanti? Hwaiting kak nyun!

  15. kwon_yongri berkata:

    akhirnya slesai jga,
    keren bnget,
    dan akhirnya yuri-myungsoo brsatu,
    senangnya🙂
    tetep smangat bwat lnjutin ff lainnya🙂

  16. BestfriendExoSone berkata:

    walaupun mungkin kak nyun gak mood buatnya..
    tapi kata- kata di ff nih tetetp buat aku puas and suka banget..
    yah aku juga berharap yuleon segera dapet kegiatan solo jadi aku bisa baca ff chaptered lanjutan dan ff tentang yuleon buatan kak Nyun..

  17. I am Yurisistable berkata:

    Wah, pasti bkalan kangen sm ff ney. ada sequelx ga thor?? hehehe… endingx kurang seru. ^^

  18. Agnes berkata:

    endingnya keren! aku bingung mau comment apa lagi. oh ya kak, maaf ya aku nanya-nanya, toz sama sorcerer’s nya kok belum dipost-post? maaf ya kak nyun

  19. Liza Nining berkata:

    a..khir…nya…..
    lega bgt happy ending gini mereka sosweeeeeeeeettt
    puas bgt kak meskipun 8 bulan lamanya hehe
    kaknyun choigooooo (y)(y) ^____^

  20. kimikakyuri berkata:

    Udahh selesai yaaa ,,😦 .. Jadi gak perlu nunggu ff ini lagi sedihh ada seneng juga adaa .. Ini ff yg selalu di tunggu2 .. Setiap main ke sini selalu berharap ada ff ini .. Jadi sekarang gk perlu berharap lagi kan udahh selesaii .. Kayun ayo buat lagi ff myungyul .. Kkk

    Sempet kaget waktu hampir abiss baca part nyaa kok yuri ninggalin myungsoo lagi .. Tappii pas sampe akhir bacanya myungyul bisa balikann lagi .. Ahh seneng nyaaa ..

  21. kyul berkata:

    Daebak keren banget bikin nangis saking so sweetnya, banyakin ff myungyul nya dong eon suka banget sama myungsoo apalagi tatapannya hadeh bikin melting hehehe

  22. soshiyulk berkata:

    ending ya u,u
    itu.. anu…. aku lebih suka moment bro&sist yuri jiyoung eon h3h3
    alhamdulillah deh ff yang ini lancar. ff ToZ masih lanjut kah nyun eonni?

    perbanyakin ff yulhan dong eon ato yuri jonghoon yaa h3h3
    fighting!

  23. Hani"thahyun"kim berkata:

    Lamaaaaa banget ga berkunjung ke wp ini..aduuuhh ketinggalan cerita kan yaa..puas banget nih sama endingnyaa..tapi sayang deh berakhir ff ini..ga bisa liat myungyul lagii deh…haduuuuhhh…myungsoo yuri best couple laaahhh..suka banget banget banget..

  24. tarhy95 berkata:

    dri judulnya yg hnya klise ampe skrng d bkin sequel n akhirny tamat .ssdih hruss pisah am couple in.kpn yh yuleon bsa bkin momen am namja in.L myungseo n kwon yuri psti kngen dehh..:-(
    minal aidzin walfaidzin yh k nyun.^_^
    smoga dri tmtnya klise in unnie bsa mndptkn ide yg lbih luar biasa lgi #amin
    #fighting^

  25. tarhy95 berkata:

    dri judulnya yg hnya klise ampe skrng d bkin sequel n akhirny tamat .ssdih hruss pisah am couple in.kpn yh yuleon bsa bkin momen am namja in.L myungseo n kwon yuri psti kngen dehh..:-(
    minal aidzin walfaidzin yh k nyun.^_^
    smoga dri tmtnya klise in unnie bsa mndptkn ide yg lbih luar biasa lgi #amin
    #*fighting^

  26. Kim Ji Bin berkata:

    Sempet lupa chapter sebelum nya kaya gimana, duuh udah beres lagi huhu. Happy ending😀 aku pengen Yuri dipairingin sama member seventeen/plok.
    Sama Luhan atau Kai aja eon nyun~
    Aku tunggu karya”mu eon kkk

  27. kwonsy berkata:

    huwaaa akhirnya update jugaa~~ klise but unstoppable. huwaa, akhirnya bersama jugaa. blm puas nih sampe liat reaksinya jung kahi. tp menurutku yg jadi best momen itu pas myung pura pura tidur itu itu gatau kenapa sukaa banget pas bagian itu kak nyun >< klise udh selesai ga berasa ;' next ff fighting ya kak nyun mwah mwahhh ditunggu lanjutan ff yg lain sm new ff nya😉

  28. Blackpearl berkata:

    Gabisa berkata kataa. Kereeeeennnnnnnnnnn!!!!! suka banget sama couple ini. Teruskan karyamu kak^^

  29. YoonYuladdicts berkata:

    ini keren banget kak,, yuri sama myungsoo akhirnya bisa bersatu #yeayyyy
    nasibnya yonghwa gimana kak? kasian sama yonghwa..
    hyuna ketangkep basah juga dia.. dan yuri sama myungsoo hidup bahagia dehhhh..
    ditunggu ff lainnya kak,, semangatttt

  30. zelo berkata:

    Finnaaalllyyyy~ ditunggu” lama akhirnya keluar jugaa 😂 seneng sedih terhura baca ini unn~ daebbak lah kkk~ aku lanjut yg lain ya, fighting unniiee♡♡

  31. Yuri rahmamalika berkata:

    Akhirnya punya kesepatan baca akhir dari ff ini😀
    walaupun banyak cobaan cinta yul ama myungsoo happy ending juga…
    Ya cinta memang butuh pengorbana,mana enak cinta yang lempeng aja tampa ada riak2 kecil atau kerikil yang mengancam

    ditunggu karya berikutnya🙂

  32. uzh_joon berkata:

    fiuuh,, udah ending, selamat ya kak nyun..
    nih bacanya bener” bikin deg”an, sedih, seneng campur aduk pokoknya…
    biasa lah, kak nyun kalo buat ep ep kata”y dalem bener, bikin tersentuh pakek bingit.. he he…
    ditunggu karya lainnya kak🙂

  33. intan berkata:

    Kkyyyaaaa.. akhirnya happy ending juga. :’)
    Aaaaa aku seneng banget.
    Aku sampek bingung mau komen apa eon, ceritanya sungguh menarik.
    Eon, maaf dari part 6 sampek end aku baru komen disini.
    Soalnya aku penasaran banget sama lanjutannya, pengen tau apa aja yg direncanain ibu nya Yonghwa dan Myungsoo.
    Jahat banget sihh sampek mau memisahkan mereka.
    Tapi akhirnya mereka bisa bersatu lagi, ahhh senengnya.😀

  34. Lulu Kwon Eun G berkata:

    udahan kak? ini udah tamat ini?,,, huaa.. terharu bgt happy ending yeay ^^
    akhirny kisah cinta Kim Myungsoo n Kwon Yuri selesai aq baca..😀 aq paling suka peran Jiyong disini ..

    bagus apik bener,,, kak Nyun Masternim sunnguh briliant!
    mau FF fantasi, action, ramance apalah, selalu sukses bkin reader.a kebwa cerita, yg aq suka tuh di setiap ff.a kak Nyun tuh psti ada yg nyempil² kata² yg bijak dan itu jd masukan jg sh buat aq..😀
    semua FF kak Nyun gada yg ngecewain, tulisan kak Nyun gk kalah sama penulis² yg udh punya buku, kak Nyun kapan rilis buku?….😉 aq tunggu.. ok
    fighting kak,, mangatse!!! buat ff yg msi on going hehe
    gomawo kak Nyun buat dramanya ^^

  35. Tarhyulk berkata:

    Slah stu ff fforitq d blogmu kak nyun .. Aq buka 1 perstu soalx udh lupa2 ingat jdul terakhir yg aq prnah bca … Hmmmm ^^

  36. kimchikai berkata:

    Tindakan yonghwa udah tepat. aku suka saat dia mau berkorban, merelakan perasaannya sendiri demi kebahagian myungsoo dan yuri. endingnya manis bngdt.. Akhh myungyul akhirnya bersatu.. Suka, suka..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s