어디니? 뭐하니? [Where Are You? What Are You Doing?] #2

어디니 뭐하니

[ 2 Of 2 ]

어디니? 뭐하니?

by bapkyr

Starring

Ahn Jae Hyun [Actor] & Kwon Yuri [SNSD]

| Romance, Tragedy, Mystery, Fluff, Angst, AU, PG-13, Chaptered |

based on

B.A.P – 어디니? 뭐하니? [Probably the story went a bit too far from the song because basically i only used some parts of this song’s lyric, not as whole.]

.

So whatever I do, your empty spot feels too big
I still fall asleep as I long for you…

“Oh,” Jaehyun mengusap maniknya yang masih berat kala ia mendengarkan suara berisik dari dapurnya. Perlahan ia mendudukkan dirinya. Apartemen Jaehyun tidak memiliki banyak sekat sehingga dari tempatnya duduk saat ini, ia bisa melihat suara apa yang mengganggunya dari arah dapur barusan. Dilihatnya kemudian adalah sosok Yuri yang tengah menyiapkan sesuatu—mungkin sarapan.

Merasa tidak enak, Jaehyun berjalan gontai ke arah dapur. Ia menyandarkan bahunya di salah satu pilar yang membatasi ruangan tengah dengan dapur. Kepalanya ia landaikan ke belakang sementara tangannya masih asyik dengan pose andalannya—dilipat depan perut.

“Kau bangun terlalu pagi.” Ucap Jaehyun. Tidak ada maksud khusus kalimatnya. Anggaplah tadi sebagai basa-basi.

Yuri tersenyum sebentar, melirik ke arah Jaehyun dan kembali berkutat dengan kegiatan iris-mengirisnya. Jaehyun tidak kuasa menahan rasa penasarannya untuk melongok apa yang tengah Yuri buat. Ketika maniknya mendapati sebuah panci penuh dengan air dan sayur-sayur segar, serta kaldu berwarna kecokelatan, ia mengecapkan lidah. “Sup?”

“Tidak suka?”

“Aku tidak suka sayuran.”

“Aku memasukkan potongan sosis. Kau bisa menyisihkan sayurannya.” Sahut Yuri. Jaehyun sejemang beberapa menit ke depan. Apel adamnya bergerak naik-turun, wajahnya menyiratkan ekspresi tidak setuju. “Begitu juga tetap tidak bisa makan?” Tanya Yuri kembali.

Jaehyun menggeleng ragu.

“Ah, kau ini. Polisi karnivora.”

Jaehyun bisa saja membalas gadis itu. Namun tangannya terlalu lemas dan hidungnya terlalu lemah akibat bau sayur-mayur yang didihkan. Sudah lama sekali ia menghindari santapan sayur-sayuran. Menurutnya, menyantapnya hanya akan mengembalikan semua ingatan buruk semasa kecilnya.

Bicara masa kecil.

Sebenarnya alasan Yuri memasak pagi-pagi sekali adalah efek samping dari tidak tidur semalaman. Pikiran Yuri kalut dan dilanda gundah terus menerus. Setelah melihat foto yang dipajang di dalam kamar Ahn Jaehyun, gadis itu yakin sekali akan sesuatu; bahwa Ahn Jaehyun adalah bocah sepuluh tahun lalu yang pernah menjanjikan keamanan bagi dirinya dan ibunya.

Yuri kerap bertanya-tanya kenapa perginya sosok bocah ini serta ayahnya yang seharusnya mendampingi ia dan ibunya dalam masa-masa sulit. Yuri akui ia sempat marah. Bukan lantaran mereka pergi di saat ia kehilangan ibunya, namun lantaran bocah tersebut berbohong padanya. Gadis itu merasa ditipu telak oleh Jaehyun kecil dan ayahnya. Tidak, mungkin hanya ialah yang terlalu percaya pada apa yang didengarnya.

Lantas kejadian itu mengubah segalanya. Yuri menjadi gadis yang lebih tegar dan mandiri. Ia paham jika dunia tidak sebaik yang ia pikirkan. Gadis yang sebelumnya sangat mengagumi sosok penegak hukum, kini lebih suka hidup tanpa mereka. Ia tak percaya keadilan itu ada. Tidak sejak balai bambu di rumahnya dihiasi oleh darah merah ibunya.

Namun kini ia seperti dijungkirbalikkan dari titik teraman hidupnya. Pertemuannya dengan Ahn Jaehyun setelah sekian lama bocah itu pergi, kini mengganggu tidurnya. Ia tak menyangka—benar-benar tidak—jika hari ini, semuanya akan kembali ke masa lalu.

Kemudian, yang membuat gadis itu heran adalah soal Jaehyun dan kehidupannya. Sejak kejadian pembunuhan ibunya, ayah Jaehyun beserta bocah tersebut menghilang dari kota kecil di bagian selatan Busan. Beritanya simpang-siur; beberapa mengatakan ia dipecat, beberapa mengatakan pria paruh baya tersebut mengundurkan diri.

Yuri dengan sikap emosionalnya yang tidak terkendali, pernah sekali menyambangi kediaman keduanya. Namun rumah itu sudah kosong. Tetangganya mengatakan keluarga mereka sudah pergi tanpa pamit, meninggalkan beberapa barang-barang yang sulit diangkut di dalam rumahnya. Tidak ada tanda-tanda mereka akan kembali, pun tidak ada tanda bahwa mereka akan menjual rumah tersebut.

Demikian edisi akhir dari kemarahan Yuri saat ia kecil dahulu. Meski ia sangat emosional kala itu, namun kejadian sepuluh tahun tetaplah bersarang pada sepuluh tahun yang lalu. Ia tidak semarah itu kini, meski kadang ada rasa menggigit yang mencoba menggelitiknya untuk bertanya pada Jaehyun.

“Jaehyun-ssi,” Yuri memanggil nama pria tersebut; pelan dan teratur. Kala manik keduanya bersirobok, Yuri melepaskan apron dan mencuci tangannya di wastafel.

“Ada apa?”

Yuri terdiam. Ia tahu apa yang harus ia tanyakan hanya saja, ia bukanlah penyusun kata yang baik. Di dalam kepalanya teracak susunan yang kadang timbul-tenggelam, membuatnya menahan lidahnya lebih lama.

“Butuh sesuatu?” Tambahnya lagi.

Kala itu Yuri menggeleng. Ia rasa saat itu belum tepat. Mungkin ia akan memakai cara lain; membuat Jaehyun sendiri yang membuka mulutnya dan ingat masa kecil suram itu dengannya. Ia tak ingin memulai ini. Maksudnya, siapa sih yang ingin membuka kembali luka yang hampir mengering? Terlebih luka itu ada pada hatinya, bukan Jaehyun.

“Ada apa?” Tanya Jaehyun penasaran.

Yuri kala itu hanya mengulum senyumnya, kemudian mengembangkannya perlahan.

“Bisakah kau mencarikanku kecap? Aku tidak bisa menemukannya.”

.

.

“Kau tidak menghabiskan telur dadarmu?”

“Kau menaruh sayur di sana.” Protes Jaehyun kala manik Yuri menindai marah pada piring Jaehyun. “Walau hanya cabe merah, aku tidak suka.”

Yuri berdecih dan memainkan garpunya di atas piring kosong. “Kau ini sebenarnya polisi apa anak kecil?”

Jaehyun melejitkan bahunya kemudian menjauhkan piring makan dari tubuhnya. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya perlahan; memandang lurus mata Yuri.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Apakah kau akan seharian di sini?”

Em?

“Ini apartemenku dan kau baru saja mengosongkan kulkas.”

“Lalu?”

Jaehyun menghela napasnya.

“Tidakkah kau pikir akan lebih baik mengisinya kembali. Lagipula dari mana kau mendapatkan sayuran itu? Aku tak pernah membelinya seingatku.”

“Aku membelinya pagi tadi. Kupikir kau suka.” Yuri menelengkan kepalanya, “sebentar, apa sekarang kau menyuruhku untuk pergi ke swalayan?”

Jaehyun mengangguk.

“Sekarang?”

Pemuda itu mengangguk lagi.

“Sendirian?”

Jaehyun mengangguk lagi, namun ia menggeleng kemudian. “Mungkin aku akan mengantarmu.” Yuri sudah terkekeh senang, namun Jaehyun mengoreksi kembali kalimatnya. “Demi keamanan, dan tugasku.”

Namun kalimat tersebut nyatanya adalah neraka bagi Jaehyun beberapa menit kemudian.

Berbelanja dengan seorang gadis di swalayan adalah pilihan terburuk bagi pemuda lajang seperti Jaehyun. Ia tidak memungkiri bahwa Yuri adalah gadis yang manis sehingga tak ayal mata para pemuda yang berada di sana kerap terpaku ke arahnya. Namun yang mengganggunya bukan hal tersebut.

“Aku ingin lobak.”

“Aku tidak suka sayur, kubilang.”

“Kau harus coba sup lobak buatanku.”

“Tidak.”

Ey!

“Tid—“

“Ambil saja, kasihan isterimu. Dia terlihat seperti gadis yang baik. Kau beruntung sekali memiliki dia.”

Nah. Kejadian tadi adalah salah satu contohnya. Jaehyun dan Yuri kerapkali disangka sebagai pasangan suami dan istri. Dari mulai penjaga konter lobak hingga paman penjaga konter ikan hias, semuanya berpendapat sama sehingga itu mengganggu Jaehyun.

Lain hal dengan Yuri, gadis itu terlihat datar-datar saja bahkan cenderung tak terpengaruh. Yang ia lakukan selama satu jam terakhir adalah berkeliling dengan troli dan memasukkan apa saja ke dalam keranjang beroda tersebut.

Jaehyun dan Yuri kemudian kembali ke dalam mobil dalam rentang waktu lima menit selanjutnya. Seluruh bagasi Jaehyun sesak dengan belanjaan.

“Kau yakin akan menghabiskan ini semua?”

Yuri bersenandung kemudian berujar,  “lihat saja nanti.”

Jaehyun menyalakan mesin mobilnya sembari menggeleng. Ketika ia sudah siap untuk melaju, Yuri menahannya. “Nanti, tunggu dulu, sebentar!”

Jaehyun mau tak mau menoleh dan melihat Yuri sedang kesulitan memakai sabuk pengamannya. Jika diingat lagi, ketika mereka berangkat tadi, Yuri juga kesulitan memasang sabuk pengamannya.

“Kau tidak pernah naik mobil?” Tanya Jaehyun dengan nada mengejek. Yuri diam saja, ia masih bergelut dengan kegiatan tarik-menarik sabuknya. Jaehyun menggeleng, terlalu lama di sana, akan semakin membengkaknya tarif parkir. Jadi ia segera membantu Yuri; Jaehyun melepas sabuk pengamannya sendiri, mencondongkan tubuh ke arah Yuri hingga wajah mereka berdekatan, kemudian tangannya membantu Yuri untuk menarik sabuk elastis tersebut hingga berbunyi klik ringan di tepinya.

“Nah, sudah.”

“Terima kasih.” Balas Yuri begitu pelan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Yang mana?

“Kau tidak pernah naik mobil?”

Yuri menatap jalanan yang kini mulai dibelah oleh laju mobil Jaehyun. Ia mencengkeram sabuk pengamannya kuat-kuat meski mobilnya berkecepatan normal. Jaehyun menangkap gerakan aneh tersebut namun ia memilih bungkam.

“A—aku tidak bilang aku tidak pernah. Hanya saja,” Yuri menggigit bibirnya. “Tidak sering. Aku tidak terlalu suka naik mobil pribadi dan duduk di depan seperti ini.”

Jaehyun termenung, dahinya mengerut. Rasa penasaran membawanya pada kalimat ini, “tidak terlalu suka yang bagaimana?”

“Sama seperti kau yang tak suka sayur.”

“Setakut itu?”

“Aku tidak bilang aku takut. Aku hanya tidak suka.” Yuri mencengkeram sabuknya lebih erat hingga tangannya kram. “Eh, jadi apakah kau takut pada sayur?”

Jaehyun melejitkan bahunya. Ia menurunkan kecepatannya meski jalanan sedang sepi. Jaehyun tahu bagaimana perasaan tidak suka yang dimaksud Yuri. Ia tahu betul karena ia berada dalam ketakutan dan tak suka yang sama pada sesuatu yang tak Yuri tahu.

.

.

“Kita harus pergi dari sini, Jaehyun-a.” Jaehyun memandangi sosok pria yang kerepotan berjalan mondar-mandir di depannya sembari mengumpulkan setiap barang yang ia temukan di tengah ruangan. Pria itu lantas menyeret dua buah koper besar dan menjejalkan macam-macam kebutuhan sandang ke dalamnya. Wajahnya pucat, keringatnya bercucuran tak berhenti meski saat itu seharusnya menjadi hari terdingin dalam Desember tahun ini.

“Ayah… kita…”

“Jangan bicara. Kita akan pindah segera.”

“Tapi ayah…”

DOR!

Suara tembakan itu menyeruak di balik pintu kayu, membumbungkan asap berbau mesiu yang tidak menyenangkan. Jaehyun kecil menatap ayahnya samar, ia masih hidup. Tidak ada yang terluka. Namun wajah ayahnya memutih tatkala suara debuman kencang terdengar dari luar.

“Jaehyun, larilah. Sejauh mungkin.”

Jaehyun tahu ada yang tidak beres, tapi kakinya tidak mau bergerak. Dipandanginya sosok keletihan di hadapannya. “Ayah…”

“Lari dan selamatkan hidupmu. Sekarang.”

“A—ayah…”

“LARI!”

DOR!

.

.

“AHN JAEHYUN-SSI!”

Jaehyun terbangun. Kakinya masih utuh berbaring di atas sofa empuk yang sangat familier di matanya. Ia menyeka peluhnya sambil berusaha mengabaikan mimpi buruk yang selama ini tidak pernah absen dari tidurnya. Biasanya setelah ia terbangun letih, Jaehyun akan menatap kosong dinding dan pintu di rumahnya sambil berharap, tidak ada yang mencoba mendobraknya atau melepaskan desingan peluru di sana.

Tapi kemana pun ia melihat, suasana rumahnya tampak baik-baik saja jika menyingkirkan fakta akan kehadiran seorang gadis asing di hadapannya.

“Kau membuatku panik!” Yuri memandanginya dengan raut wajah khawatir. Ia menggigit bibirnya kemudian dengan tertatih-tatih, membawakan Jaehyun segelas air putih hangat. Yuri mengekori gelas yang ia bawa hingga isinya tertuang habis ke dalam kerongkongan Jaehyun.

“Kau bermimpi buruk?” Tanyanya. Tidak ada maksud untuk menyeberangi privasi di dalam kalimat tersebut, namun bagi Jaehyun yang sudah terbiasa hidup sendirian, rasanya tetap saja aneh. Apalagi yang bertanya adalah seorang gadis, korban penyiksaan yang baru ia kenal hitungan hari saja.

“Sedikit.”

“Tapi kau begitu…” Yuri menatap Jaehyun ragu-ragu. Ia memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. “…histeris?”

“Kadang seperti itu. Tapi tidak setiap hari. Sekarang katakan padaku jam berapa ini?”

Yuri menunjukkan arlojinya pada Jaehyun yang disambut dengan keluhan dari Jaehyun. Sejak pulang dari swalayan dan membeli banyak bahan makanan, ia sudah tertidur kurang lebih tiga jam. Bahkan Jaehyun hampir-hampir melewati jam makan malam jika saja Yuri tidak berusaha membangunkannya tepat ketika ia terguncang dalam mimpinya.

Jaehyun baru saja akan beranjak dari sofa. Ia memunyai firasat bahwa jika ia tidak segera ke dapur malam ini, maka tidak akan ada makan malam.

“Kalau kau ingin makan, ada di meja.” Seolah membaca pikirannya, Yuri berujar. Jaehyun menelengkan kepalanya ke arah meja makan dan menemukan berbagai hidangan makan malam yang sudah dingin berjajar rapi di sana. “Sudah dingin sih, tapi akan kuhangatkan lagi jika kau…”

“Tidak, biar aku saja.”

“Mana bisa, ‘kan aku yang menumpang di sini.”

“Diam dan duduk, aku tidak suka dihalang-halangi ketika aku ingin melakukan sesuatu.”

Yuri memutar bola matanya dengan bosan. “Terserahlah, aku hanya mencoba berbuat baik.”

Jaehyun bungkam. Pada dasarnya ia termasuk tipe pria yang tidak banyak bicara, bukan tipe yang akan Yuri daftarkan pada Daftar Cowok Penuh Pesona di dalam benaknya. Tapi tetap saja, gadis itu masih seringkali diganggu oleh pemikiran tentang identitas pria satu ini. Setiap ia menatap Jaehyun, aroma tutti-frutti yang ia kenal selalu saja menyergak hidungnya dengan pelan-pelan, menenangkan dan mematikan.

Setiap ada kesempatan, ia mencoba menghirup aroma favoritnya itu dari tubuh Jaehyun, tapi ia tidak menemukan yang ia harapkan. Jaehyun mungkin telah membuang banyak identitas dan kenangan lamanya, seperti Yuri yang bersembunyi dari kenangannya. Menyadari hal tersebut, Yuri merasa kasihan. Jaehyun dan dirinya tidak jauh berbeda; sendirian dan mencoba lari dari masa lalu.

Cklek.

Tiba-tiba pandangan Yuri berubah menjadi hitam. Ia pikir dirinya pingsan—lagi. Namun suara Jaehyun yang mengingatkannya agar tidak pergi kemana-mana dari sofa membuatnya yakin bahwa ia tidak pingsan.

Listrik padam.

Jika hal ini terjadi ketika ia sendirian, maka Yuri mungkin sudah akan mati ketakutan. Suara Jaehyun berpindah-pindah dari sudut kiri ke kanan dan sebaliknya—mungkin mencari senter atau lilin atau apalah—membuatnya tenang. Setidaknya ia tidak sendirian, kali ini.

“Ulurkan tanganmu.” Sesosok bayang-bayang hadir di hadapannya, dan Yuri mengulurkan tangannya. “Jangan lepaskan. Ada yang tidak beres di sini, aku khawatir.”

Tangan Yuri secara refleks meremas tangan pria itu. Entah apa yang dipikirkan olehnya saat ini, tapi apapun itu, Yuri sangat teramat ketakutan. Saat Jaehyun mulai mengajaknya berdiri, Yuri serta merta mendekatkan tubuhnya pada pria itu. Barangkali, ia takut terpisah secara tidak sengaja di kegelapan kemudian orang itu kembali menangkap dan mencoba membunuhnya.

Klok klok klok.

“Tetap di sampingku, Yuri.” Jaehyun memperingatkan. Sekilas, ekor matanya bisa menangkap sesosok pria yang mengenakan topi berkelebatan beberapa meter di hadapannya. Pria itu bisa menyerang kapan saja di dalam kegelapan tanpa meninggalkan jejak atau identitas. Jaehyun mungkin sudah akan menyerangnya dengan tangan kosong—sudah lama sekali ia tidak menikmati itu—tapi ia sadar, bahwa Yuri bisa saja terjerumus ke dalam bahaya ketika ia melakukan itu. Jadi satu-satunya yang ia lakukan adalah berbicara. “Siapa di sana? Apa maumu?”

Tidak ada jawaban, tentu saja Jaehyun tahu. Jaehyun tiba-tiba gemetar, meski ia tidak setakut itu. Namun ia sadar bahwa asalnya dari Yuri. Jaehyun menebak, bahwa mungkin saja gadis itu sedang memejamkan mata, dan tertunduk ketakutan sambil terus meremas tangannya. Tanpa pikir panjang, Jaehyun menarik gadis itu ke dalam rengkuhan tangannya, ia memeluknya erat dengan tangan kirinya.

“Jangan bersuara.” Bisiknya pada Yuri.

Klok klok klok.

Bunyi sepasang sandal kayu yang dibenturkan. Agak aneh kedengarannya karena jarang sekali penjahat yang berlari-lari dengan menggunakan sandal kayu. Hanya orang sinting yang melakukannya dan Jaehyun yakin sekali, pria di depannya termasuk kategori tersebut.

“Yuri-a…” Pria misterius itu akhirnya bicara, dengan suara serak yang tercekik. Jaehyun menebak pria itu mencoba untuk mendekati keduanya dengan terlalu pelan, mengintimidasi dengan suara sandal kayu yang diadu satu sama lain, kemudian mencoba merobohkan mental Yuri dengan memanggil namanya. Siapapun penjahat yang melakukan hal tersebut, Jaehyun tidak akan memaafkannya.

“Bagaimana kau masuk? Apa maumu?” Jaehyun mengulur waktu. Tentang hal-hal buruk apapun yang mungkin akan terjadi padanya, ia hanya berharap semoga itu menyelamatkan Yuri. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia punya pemikiran semacam itu.

“Yuri-a… ayah pulang…” Suara serak itu semakin dekat, membuat Yuri menarik baju Jaehyun dan menenggelamkan wajahnya di dadanya yang bidang. Ia gemetaran. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan teror ini sejak kecil, namun semakin ia mencoba berani, semakin rapuh keberanian yang ia miliki, seolah suara serak tersebut menyedot seluruh jiwanya sampai tak bersisa.

“Kau ayahnya?” Jaehyun menangkap kejanggalan. Direngkuhnya Yuri semakin erat dalam dekapannya. Jaehyun menyusun potongan kasus di dalam kepalanya dengan sangat hati-hati. Alasan mengapa Yuri sangat tertutup dan ketakutan adalah ini.

“HAHAHAHA.” Suara tawa menggelegar di dalam apartemennya. “Kau terlalu banyak bicara. Seperti ayahmu.”

Mendadak nyali Jaehyun menciut ketika mendengarnya. Pria di dalam kegelapan itu menyebut-nyebut ayahnya, di sisi lain ia jelas-jelas mengincar Yuri. Kejanggalan itu semakin memuncak tatkala lampu-lampu di apartemennya mendadak kembali menyala dengan terang. Pandangan Jaehyun tertumbuk pertama kali pada sosok pria setengah baya dengan uban-uban yang menghiasi setengah dari kepalanya yang hampir botak. Giginya berwarna kuning, bahkan di sela-sela giginya tertumpuk sisa-sisa cabai dan cabikan daun-daunan hijau yang sudah hampir busuk. Pria itu mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan topi lukis dipadu dengan celana terusan berwarna senada. Sekilas tidak ada yang terlalu aneh darinya. Namun ketika pria itu mencabut sebilah pisau dari balik saku celananya, Jaehyun mundur beberapa langkah.

“Siapa kau?”

“Cih.” Pria itu berdecih sangar sambil menjilat-jilati mata pisaunya. Yuri gemetar, bahkan ia tidak berani menoleh sedikitpun. “DOR! Kau tak ingat?”

Wajah Jaehyun perlahan memutih. Jika bisa, ia ingin kembali ke mimpinya saja dan mengulangi mimpi yang paling buruknya berulang-ulang daripada bangun dan mendapati dirinya berhadapan dengan kenyataan pahit. Jaehyun sudah lama melupakan rasa sakitnya dan mencoba untuk memaafkan, tapi jika ia diingatkan kembali soal malam itu, maka ia tak punya pilihan selain membenci.

“Kau membunuh ayahku.” Ucap Jaehyun lirih. Tubuhnya melemas sehingga Yuri merasakannya juga. Gadis itu mendongak cemas ke arah Jaehyun. Perasaan kaget dan bersalah tercampur aduk di dalam benaknya. Selama ini ia kira Jaehyun dan ayahnya tega meninggalkan keluarganya dan lepas dari tanggung jawabnya sebagai detektif. Namun jika ia tahu hal ini lebih awal, Yuri tidak perlu menyimpan emosi dan dendam yang sesungguhnya tidak beralasan.

Jaehyun pasti sama menderitanya seperti dirinya selama ini.

“Aku banyak membunuh orang. Tapi ayahmu yang paling kuingat, beruntunglah dia.”

BRUGH.

Yuri berdiri sendirian di dekat jendela dan hanya mampu menyaksikan adegan tadi dengan sekilas. Jaehyun memukul wajah si Pria beruban. Ia menerjang terus hingga pisau itu melucut dari tangan si Pria. Melihat kesempatan, Yuri buru-buru berlari dan memungutnya, mencoba menjauhkan benda berbahaya itu agar tidak melukai siapa-siapa.

Pria yang bergelung di atas lantai sana adalah ayahnya. Yuri bahkan tidak tahu lagi kalau ia masih bisa mengakui pria itu sebagai ayah. Sudah lama sekali dirinya membenci kenyataan bahwa penjahat yang membunuh ibu itu adalah ayah kandungnya. Sejak usahanya bangkrut, pria itu sudah kehilangan kewarasannya. Ia tega memukuli Yuri dan ibunya di dalam rumah. Ketika mereka memutuskan untuk bercerai, ibunya kerap merasa tidak nyaman karena terus-menerus merasa hidupnya dibuntuti oleh pria itu. Yuri ingat sekali ketika ia dan ibunya melapor ke kantor polisi dan menemukan ayah Jaehyun.

Pria itu sangat baik, hampir seperti malaikat. Ia membuat Yuri merasa seperti dilahirkan kembali. Begitu pun Jaehyun. Saat itu, Yuri yakin sekali bahwa hidupnya akan baik-baik saja selama mereka bersama. Namun yang tak disangka-sangka terjadi. Ayahnya berhasil membunuh ibunya, kemudian saat Yuri terluntang-lantung sendirian, baik Jaehyun dan ayahnya sudah menghilang entah kemana tanpa kabar.

Yuri ditinggalkan menderita.

Dan kini orang-orang dari masa lalunya saling memukul di hadapannya. Yuri rasanya ingin mati saja.

BRUGH!

Pukulan keras mendarat di pinggang Jaehyun, membuatnya terlunta-lunta berdiri. Ayah Yuri tersenyum puas kemudian mendaratkan pandangannya pada anak gadisnya yang ketakutan di dekat jendela. “Anak manis, kau tidak kangen pada ibu? Perlukah ayah memberikanmu pada ibu?”

DUGH

Jaehyun memberikan perlawanan. Keduanya terjatuh di atas meja kaca dan berhasil menghancurkan meja itu hingga berkeping-keping. Yuri melihat darah tercecer, entah darah siapa. Pecahan kaca itu berhasil membuat pertandingan semakin sengit dan brutal. Saat lengan Jaehyun terluka oleh sabetan pecahan kaca dari lawannya, Yuri merasa tindakannya mengamankan pisau tadi sia-sia. Ada benda yang lebih melukai daripada pisau. Mustahil untuk tidak terluka dalam perkelahian ini.

Dan itu semua untuknya.

Yuri berlari ke sisi lain, ia meraih sebuah telepon genggam milik Jaehyun dan mulai menekan-nekan tombol. “Gadis tengik!” Ayahnya meneriaki, dengan gemetar, Yuri mencoba mengabaikannya dan berkonsentrasi pada telepon yang diremasnya kuat-kuat.

Jaehyun menerjang ayah Yuri dan mencoba berbagai cara untuk melunakannya. Namun semakin ia berkelahi, semakin deras luka-luka di tubuhnya. Jaehyun berusaha tidak merintih dan menunjukkan rasa sakit, namun tubuhnya seperti terbakar.

Yuri menutup teleponnya. Ia yakin bahwa pertolongan akan datang dalam beberapa menit. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah menunggu dengan berani, mengulur waktu dan memisahkan Jaehyun dari ayahnya. Meskipun Jaehyun tidak mengatakan apapun, Yuri tahu bahwa pria itu kelelahan dan kesakitan.

Ia tidak terbiasa berhutang budi. Namun jika harus, maka ia harus menebusnya saat itu juga.

“Hentikan ayah!” Yuri berteriak. Bibirnya gemetar namun ia menguasai dirinya dengan cepat. “Kalau kau mau membawaku, bawa saja aku dan biarkan yang lain.”

Jaehyun mendongak dan menatap Yuri. Sosoknya seolah berkata bodoh kau pada gadis itu. Ayah Yuri lebih cepat, ia melepas cengkraman Jaehyun dari tubuhnya dan berlari terseok-seok menuju Yuri. Yuri tidak berusaha memejamkan mata meskipun ia yakin keberaniannya yang sempat datang tadi kini sudah menguap. Tangannya berkeringat dan matanya tidak fokus. Ia mengingat ketika dirinya dicambuk oleh ikat pinggang ketika usianya lima tahun. Belum lagi ketika ia berusaha melindungi ibunya ketika perseteruan rumah tangga pecah di dalam rumah. Sosok sangat dan menyeramkan itu masih membayang-bayanginya dan kini sosok tersebut menyembul di hadapannya, tersenyum melecehkan.

“Aku akan membawamu bertemu dengan ibumu yang brengsek. Kau suka dibawa dengan cara apa?” Yuri ingin menangis ketika pecahan kaca menempel di tenggorokannya. “Dengan darah dan kesakitan seperti ibumu, atau dengan cepat seperti ayahnya Jaehyun? Aku jago dalam keduanya. Silakan pilih.”

Jaehyun merangkak tapi ia tertahan karena yang ia pijak adalah pecahan kaca sehingga semakin ia bergerak akan semakin parah luka yang ia dapat. Jelas di mata Jaehyun, pria ini adalah orang yang membunuh ayahnya malam itu. Juga pria yang sama dengan yang membunuh ibu Yuri. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana bisa ia dan Yuri memiliki masa lalu kelam yang sama? Apa hubungan antara ayah Yuri dengan mendiang ayahnya?

Jaehyun membiarkan pertanyaan tersebut tidak terjawab sementara karena ia melihat hal yang sangat gawat. Tepat ketika sirine polisi berdenging secara bergerombol di jalanan dekat apartemennya, mata tajam dari pecahan kaca sudah menggores Yuri perlahan. Gadis itu memekik pelan. Yuri menatap Jaehyun dengan gamang dan perasaan bersalah yang tidak pernah Jaehyun mengerti.

“Kau akan bersama perempuan brengsek itu di neraka.” Jaehyun berusaha berdiri dan berjalan terseok ke arah Yuri dan ayahnya. Pada saat itu bala bantuan datang, satu kompi petugas dari kepolisian menerobos masuk ke dalam apartemen, mengepung mereka di tengah-tengah. Jaehyun seharusnya bisa sedikit lebih tenang.

Namun, suara teriakan itu membuatnya lemas. Pemandangan kabur, ia melihat peluru berdesing melewatinya, kemudian suara kepanikan dan derap demi derap langkah tegas. Jaehyun dikelilingi orang-orang berseragam yang kemudian memegangi lengannya agar tidak serta-merta ambruk. Ia melihat pria sinting dengan pecahan kaca yang berlumuran darah berjalan dengan kawalan ketat pria-pria bersenjata. Wajahnya sumringah, agak mengejek. Pria itu tertawa kemudian hilang di balik pintu.

Seketika Jaehyun tumbang, seolah energinya sudah terhisap habis bersamaan dengan tawa jahat dari pria barusan. Jiwanya tercacah sedemikian rupa, meninggalkan memori samar tentang seorang gadis kecil yang ketakutan setiap detik.

Jaehyun benar-benar pingsan sekarang. Namun sebelum matanya terpejam, samar-samar ia melihat seorang wanita tertidur di lantai. Matanya terpejam penuh kepiluan, bibirnya pucat pasi. Jaehyun melihat seberkas kengerian di wajahnya lalu ia mendapati kenyataan:

Gadis itu tersungkur dalam kubangan darahnya sendiri.

.

.

“Alice!”

Jaehyun mendengar suara pria dan wanita yang histeris menangis di sisi ranjangnya. Mungkin Alice—sang wanita, mengalami syok berat yang membuatnya berkali-kali pingsan. Jaehyun belum bisa membuka matanya. Serpihan pecahan dari kaca mejanya melukai kelopak matanya dan membuat pria itu susah untuk membuka mata.

Dengan mata terpejam saja, Jaehyun sudah bisa menangkap ada yang tidak beres di sekitarnya.

“Ahn Jaehyun-ssi?” Suara pria yang familier berdengung di telinganya, membuat tangannya bergerak. Luka-lukanya masih terasa perih, mungkin di beberapa bagian, darah masih belum berhenti mengalir keluar, namun Jaehyun memaksakan diri untuk bergerak kecil.

Ia mengerang kemudian. Ada yang salah dengan pinggangnya—akibat kena hantam atau sejenisnya.

“Kau—kau baik-baik saja?”

“Ya…” Jaehyun bekata lirih.

“Aku Himchan, mungkin kau ingat? Teman Alice dan Yuri.”

Yuri.

Jaehyun buru-buru membuka matanya dan merasakan kepedihan luar biasa di sekujur tubuhnya. Rasa sakit menjalari dan mengganggunya dalam sekejap, ia meraung dan merintih. Hal tersebut menyebabkan beberapa perawat datang dan kembali menidurkannya di atas kasur atas laporan dari Himchan.

“Yuri… dia…” Jaehyun bicara terbata, penuh penyesalan. Memorinya memutar seberkas pemandangan saat gadis itu tenggelam dalam kubangan darahnya sendiri. Sesaat sebelum itu, yang dia ingat adalah soal pecahan kaca yang berada di leher Yuri, kemudian… Jaehyun tidak tahu lagi.

“Dia masih di ruang gawat darurat.” Himchan menjelaskan. “Terluka sangat parah di bagian leher. Dokter bilang tidak dalam, tapi bisa gawat kalau terlambat.”

Jaehyun meringis kesakitan saat ia mencoba untuk duduk kembali di atas kasurnya, kali ini dengan gerakan lebih pelan.

“Maaf aku tidak bisa menjaganya.” Katanya. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui lokasi Yuri dan masuk ke dalam apartemenku.”

“Oh,” Himchan menggigit bibirnya. “Aku sudah menjelaskannya pada polisi. Itu salahku. Ia mengatakan bahwa ia adalah ayahnya dan aku memberitahukan alamatmu padanya,  Kupikir itu bisa membantu memulihkan tekanan mental Yuri. Namun aku tidak tahu bahwa penyebab gadis itu menderita adalah karena ayahnya sendiri. Aku benar-benar menyesal.”

Jaehyun bisa saja mencurigai pemuda itu sebagai sekutu tersangka atau bagaimana, namun melihat ketulusan dan rasa penyesalan yang mendalam dalam kalimatnya, kecurigaan itu punah seketika.

“Bagaimana dia bisa masuk?”

“Itu… aku tidak tahu. Tapi menurut polisi, salah satu penjaga keamanan di sana disandera, mungkin ia memiliki kunci cadangan atau semacamnya. Mereka tidak memberitahukanku dengan detail…” Himchan belum selesai bicara ketika suara raungan histeris seorang gadis menggema dari kamar sebelah. Himchan dengan kikuk pamit pada Jaehyun dan berlari menerjang pintu. Mungkin soal pacarnya yang pingsan, tebak Jaehyun.

Jaehyun kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandangi langit-langit dengan atap putih cemerlang. Wajah seorang gadis kecil muncul di sana, masih ketakutan. Ketika Jaehyun berkedip, pemandangan itu berubah. Yuri tersenyum padanya, menunjukkan luka sayatan di lehernya. Kemudian gadis itu menghilang ke dalam alam bawah sadar Jaehyun. Pria itu pun terlelap.

.

.

Jaehyun duduk di atas kursi rodanya saat ia mendapatkan kabar penting dari dokter bedah di ruang operasi.

“Mungkin akan siuman dalam 3 atau 4 jam lagi. Tapi masih belum bisa dikunjungi hingga 24 jam.”

Tidak begitu bagus, karena ia gemas sekali ingin segera menyerbu gadis itu sembari meminta maaf. Jaehyun masih tidak yakin bahwa ayahnya dan ayah Yuri memiliki sebuah masa lalu yang pahit dan ia ingin mengorek informasi dari gadis itu.

Namun kini, gagasan itu tidak berarti lagi baginya. Apapun yang terjadi di masa lalu, hanya masa lalu. Lagipula ia tentu tahu bahwa seseorang tidak pernah suka ditanya-tanyai soal masa lalunya yang kelam.

Yang bisa Jaehyun lakukan kali ini hanya menunggu atau pergi. Tapi ia tidak paham, mengapa ia harus memilih satu di antara keduanya.

.

1 Minggu Kemudian.

Yuri duduk di atas kursi roda. Alice mendorongnya di belakang. Meski letih, ia tidak pernah mengeluh di depan Alice untuk alasan ketenangan. Sahabatnya itu kadang bertindak kelewat jauh. Yuri ingat cerita Himchan tentang Alice yang pingsan berkali-kali saat Yuri di operasi. Yuri tentu tidak ingin itu terjadi di hari kepulangannya dari rumah sakit.

“Aku akan menyiapkan mobil, kalian tunggu sebentar di sini.” Himchan berlari ke area parkir. Sebenarnya tidak terlalu jauh, Alice bisa mendorong kursi roda beberapa meter lagi dan sampailah mereka di sana. Namun lagi-lagi, kedua sahabatnya itu begitu mengkhawatirkan Yuri dan membiarkan mereka yang melakukan semuanya untuk mempermudah keadaan.

Yuri memandang lurus ke arah pria dan wanita yang berlalu-lalang sembari memegangi anak-anaknya. Saat Yuri kecil, ia tidak pernah datang ke rumah sakit. Ketika gadis itu sakit, ibunya akan merawatnya di rumah sambil berjibaku dengan cacian dan makian dari ayahnya. Tidak ada memori indah tentang keluarga yang mengantarnya ke rumah sakit bersama, atau bahkan yang lebih baik dari itu.

Pemandangan itu mungkin terus akan dipelototi Yuri kalau saja sesosok pria yang tak asing datang dengan langkah lebar-lebar ke arahnya. Ia tak tersenyum, tipikal Jaehyun. Namun jelas, Jaehyun sedang mencarinya. Sejak kejadian terakhir, ia dan Jaehyun tidak pernah bertemu lagi, bahkan di rumah sakit. Jaehyun tidak pernah menemuinya dan Yuri, dia merasa begitu bersalah untuk berhadap-hadapan dengan pria itu.

Ketika ayahnya mengatakan bahwa ia telah membunuh ayah Jaehyun, dosa itu begitu saja menghinggapi Yuri dan merambatinya. Ia tidak pernah tahu soal itu.

“Hai Alice,” Jaehyun menyapa ramah. Alice tersenyum dan menjabat tangannya. Kemudian tanpa alasan, gadis itu pergi begitu saja dari sisi Yuri, seolah ia paham apa yang akan terjadi di antara keduanya adalah hal pribadi.

“Bisakah aku mengantarmu pulang?” Tawarnya. Tapi Yuri yakin sekali ada maksud lain dalam kalimatnya.

“Alice dan Himchan akan mengantarku.” Kalimat Yuri terbukti bualan belaka. Saat itu ia melihat mobil Himchan melaju di hadapannya diiringi dengan tatapan minta maaf dari Alice di jendela. “Baiklah.”

Jaehyun mendorong kursi roda Yuri ke mobilnya yang ternyata tidak terparkir terlalu jauh dari area parkir Himchan tadi. Yuri menduga, agaknya kedua pria ini sudah bersekongkol atau entahlah. Setibanya di dekat mobil, Jaehyun menggendong Yuri dan meletakannya di kursi depan dengan hati-hati. Yuri juga membantunya, memosisikan dirinya senyaman mungkin agar penyangga lehernya tidak bergeser.

Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk berdua di dalam mobil, menatap lurus ke jalanan sambil mendengarkan desing mesin dengan seksama. Tidak ada suara lain yang merecoki sehinga Yuri hampir saja mati dalam kebosanan.

“Aku minta maaf.”

Yuri tidak bisa menoleh terlalu banyak karena penyangga leher sialannya. Tapi ia melirik pada pria di sebelahnya. Sebelum Yuri sempat meluruskan pernyataan pria tersebut, Jaehyun sudah menggenggam tangannya.

“Aku membuatmu hampir mati, aku minta maaf.”

Yuri ingin berkata oh sudahlah, lagian aku kan hidup. Cuma leherku saja sobek-sobek sedikit, tapi ia mengurungkan niatnya. Rasanya tidak lucu mengingat Jaehyun benar-benar serius.

“Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tidak tahu kalau ayahku dan ayahmu… yah, kau tahu ‘kan. Pokoknya aku minta maaf.” Bagi siapapun yang mendengar, mungkin permintaan maafnya terdengar tidak tulus. Tapi bagi Jaehyun, itu sudah cukup. Apalagi Yuri meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.

“Aku tidak suka membahas masa lalu jadi aku sudah melupakan hal itu.”

Tidak suka membahas masa lalu. Yuri menerawang. Mungkin saat itu ia paham mengapa Jaehyun sama sekali tidak mengenalinya atau bahkan mengingat namanya. Jaehyun mungkin sudah melupakan kejadian itu lama sekali. Lagipula apa pedulinya pada Yuri? Dia ‘kan Cuma klien ayahnya. Hanya kebetulan Jaehyun berada di sana saat itu.

“Iya, aku juga tidak suka membahas masa lalu.” Yuri berpura-pura mengiyakan.

Kecanggungan kembali melanda. Jika Yuri bisa menoleh sedikit saja, ia mungkin sudah akan memandangi wajah pria itu dengan seksama dari samping. Jaehyun tampan, terlalu tampan untuk ukuran pria yang berada dekat dengannya. Jika masa lalunya tidak serumit ini, mungkin Yuri sudah akan menjadikannya kekasih saat ini juga.

“Kau…” Yuri tersentak saat Jaehyun mulai bicara. Gadis itu terlalu banyak melamun barusan. “… pernah bertemu denganku.”

Kali ini Yuri tersentak lagi, mungkin gara-gara ia terlalu sadar seratus persen.

“Oh… di kantor polisi ‘kan maksudmu.”

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Gadis kecil ketakutan dengan gaun terusan warna biru terang yang terus-terusan bersembunyi di balik tubuh ibunya sepuluh tahun lalu. Itukah kau, Kwon Yuri?”

Seperti kaleng cola yang dikocok terlalu kencang, saat dibuka airnya menyembur wajah Yuri. Kira-kira seperti  itulah gambaran perasaannya. Yuri sudah mencoba mengubur kenangan itu selagi ia bicara dengan Jaehyun. Ia sempat berpikir ada bagusnya kalau hanya ia yang tahu soal kenangan sepuluh tahun lalu, tentang bocah ingusan yang membuatnya bisa lebih berani daripada biasanya.

Tapi sekarang ia diserang dengan tiba-tiba. Jaehyun entah bagaimana tahu dan ia tidak tahu harus bicara apa pada pria itu.

“Kau… bicara apa?” Yuri berbohong, memilin-milin ujung bajunya. Jaehyun melihatnya sekilas sebelum ia kembali fokus pada jalanan. Keduanya tidak bereaksi selama beberapa menit sampai akhirnya Jaehyun mengembuskan napas.

“Kukira itu kau. Aku agak kecewa kalau itu bukan kau, karena tadinya aku membayangkan adegan di mana aku menangis meminta maaf padanya.”

Kening Yuri berkerut. “Kau salah apa sampai meminta maaf pada gadis itu?”

“Ayahku dibunuh tepat ketika ibunya dibunuh. Pesan terakhirnya mengatakan bahwa aku harus lari dan aku lari, ketakutan. Saat itu aku mengerti apa arti ketakutan yang sesungguhnya. Dan aku merasa bersalah bahwa aku justru terkalahkan rasa takutku di saat yang genting. Aku seharusnya melindungi dia dan keluarganya. Aku hanya merasa bersalah hingga membuatku ingin muntah.”

Yuri berjengit sedikit dan merasakan persendian kakunya berbunyi nyaring. Ia tidak tahu jika Ahn Jaehyun selalu peduli padanya. Kabut kelam sepuluh tahun lalu juga janji yang tidak sempat ditepati saat itu, kini membuat mereka kembali bertemu dalam suasana yang berbeda. Yuri tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau menangis terlebih dahulu. Ahn Jaehyun seperti ayahnya, sampai akhir, mereka adalah pria-pria yang baik.

“Jaehyun-ssi… aku sebenarnya…”

“Jangan katakan. Aku sudah tahu.”

“Aku minta—“

“Jangan katakan maaf lagi, aku sudah bosan. Sepanjang perjalanan ini topik kita hanya minta maaf. Terkesan janggal. Bukan obrolan pria dan wanita yang jatuh cinta pada umumnya.”

Yuri merasa ada yang janggal sampai akhirnya ia meresapi kalimat yang Jaehyun katakan dengan seksama. “Apa?” Tanyanya, seolah butuh penegasan ulang.

“Kau tidak?”

“Apanya yang tidak?” Dahi Yuri mengerut.

“Oh, kalau begitu barangkali ini cinta bertepuk sebelah tangan.”

Yuri hendak menoleh dan memukul pundah Jaehyun sambil mengorek sekali lagi pernyataannya. Tapi lagi-lagi perban sialan membatasinya dalam bergerak. Jaehyun tersenyum pada gadis itu, kemudian mengusap kepalanya dengan lembut. Yuri tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, dan ia merasa seperti berada di rumah, bersama ibunya.

Gadis itu memandang lurus ke jalanan dengan mata berkaca-kaca. Lirih, ia berkata. “Biar kukatakan ya, cintamu tidak bertepuk sebelah tangan. Nah, sekarang, antarkan aku ke rumahmu. Banyak yang harus kita bicarakan.”

.

.

|Fin


 

Hey guys wassup!

Sebenarnya agak malu ya aku muncul di sini mengingat ternyata banyak hutang fanfiksi yang belum terbayarkan. Iseng-iseng di sela waktu luang, akhirnya bisa menyelesaikan 어디니? 뭐하니? setelah sekian lama tertunda.

TOZ sedang dalam proses ketik-mengetik. Sedangkan untuk SWPG belum ada progres signifikan. TSD masih godok ulang plot karena ada beberapa bagian yang miss.

Dan sebagai info, i’m not officially comeback. Kalau ide sedang lancar maybe i come tapi kalau tidak ya maklumin ya hehehehe

Sekian dan terima kasih atas dukungannya selalu.

Salam,

nyun

31 thoughts on “어디니? 뭐하니? [Where Are You? What Are You Doing?] #2

  1. Shin Min Mi berkata:

    gapapa lah yun, yg penting jgn ngilang ga ada kabar sama sekali… ga baca yg part 1 tapi cukup paham ama cerita disini… yg jelas cuma mo ngomong cie… yuri pairingan ma anh jae hyun, cocok tu😀

    • bapkyr berkata:

      Halo Kak Intan!
      Lama juga udah ga ketemu sama kak Intan nih hehehe. Nanti bakalan aku bikin Yuri pairingan sama aktor yang keren lainnya kak Intan. (lagi seneng sama aktor aktor) (maklumlah)
      makasih udah baca

  2. Stella Kim berkata:

    kangen sama kak nyun! keren kok part ini, plotnya juga bersa banget. pas adegan tembak-tembakannya itu erggghhh
    kak toz sama sorcerer’s diary lanjutin lagi dong udah kangen nihhh nyehehehe
    fighting ya kak nyun!

    • bapkyr berkata:

      Kangen juga sama blog ini dan kamu
      sip, akan dilanjutkan seperti yang aku paparkan di atas tadi, waktunya gak tahu kapan hehehehe
      makasih banyak stella

  3. Cynthia berkata:

    yaapum c[pt bgt sdh suka sama yuleon.. sdh sk dr kecil sihh tp jaehyun gentle bgt lgsg blg n g malu”.. so sweet…
    couple baru…
    fightingg ya eonni buat ffnya… selalu dtgu..

  4. beninglaras berkata:

    Kanyuuunn, long time no see.. br buka2 blog nih.. aku br plg dr vietnam.. hehehe.. trnyt udah bnyk ff yg blum aku baca, aku komen yg ad yuri nya dl yaa..

    Kangen baca ff mu, keren spt biasa kanyun.. ini pairing yg g biasa, tp chemistry nya cocok2 aj koq.. aku sampe ulang baca yg part 1.. tuh kan dr awal aku tau klo jaehyun sm yuri itu emang pny masa lalu yg sama.. tp g nyangka klo pemeran antagonisny slama ini ayah kandungny yuri yg psycho.. untung udah ditangkep n jaehyun-yuri selamat.. itu jaehyun g ad cara lain yg sdkt lbh romantis ap wkt blg suka?? To the point skali.. tp lucuuu.. adegan penutup yg cukup sweet lah..

    Aku mau baca ff lainny, dtunggu komen ku yg lain yaa.. smoga hidupmu menyenangkan kanyun, biar g lama2 hiatusny.. 😙
    smoga mslh bap jg slesai.. fighting!

    • bapkyr berkata:

      HAH?
      DARI VIETNAM?
      SERIUS NIH?
      Bolelah minta oleh oleh /plak/

      masa sih? aku perasaan gak update ff terus kok selama enam bulan terakhir. Gak banyak-banyak banget kok ras yang musti dibaca. Paling enam atau tujuh ff pendek hehehe

      Yap, aku lagi senang memairingkan idol cewek sama aktor. Atau aktris sama aktor gatau deh kenapa mungkin karena mencari pencerahan?
      aiduno

      sip, makasih ya laras!

  5. gita berkata:

    udah lama gak baca ff kk,
    Sumpah keren bgt!
    Endingnya sesuatu kak😀
    Jaehyun dan yul eon CETAR🙂

    Ditunggu ff selanjutnya kak
    Fighting kk!

  6. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    yeayyeayyeayyyyyy akhir nyaaaaaa update jugaaaaaaaaa, gatau harus komentar apaaaaa so sweet bangetttttttttttttt, kak bikin ff jaehyun-yuri lagi ya kalau ada waktu, kalau gaada ya gapapa’-‘ keren lah edun/?

  7. bintang virgo berkata:

    Kak nyun….
    akhirnya ff ini dilanjut

    keren kak
    apalagi pas di mobil
    yang jaehyunnya bilang cinta… /suitsuit/

    ToZ and TSD ditunggu kelanjutannya ya kak sama ff yuleon yang lain….

  8. SSY_ELF berkata:

    SUKAAAAAaaa BGT!
    AIGO.. GREGET AKU BACANYA, AGAK MERINDING SIH PAS AYAH YURI DATANG.. SEREM. NAMUN AKU MERASA HANGAT/? SAAT JAEHYUN MERANGKUL DAN MELINDUNGI YURI… ><

    CIE.. CIE.. TERNYATA UDAH JATUH CINTA DARI DULU *SUITSUIT*

    AMPUN DEH, YANG DIOPERASI YURI, YANG PINGSAN BERKALI2 ALICE -,-

    KEREN KAK! APALAGI PERNYATAAN CINTA TO THE POIN OLEH SEORANG AHN JAE HYUN :*

    DUH..AKHIRNYA RINDUKU TEROBATI… :') WALAU FF-NYA SEKARANG UDAH ENDING YA :3 *PLAKK

    HAHAHA… GOMAPTA KAK, DITUNGGU TSD-NYA… FIGHTING! ^^

  9. zulaipatnam berkata:

    Ahn Jae ama Yuri?? Ya awoh mereka biasku. Sayang udah kedahuluan ngeShip Ahn Jae ama Krystal. Wkwkwkwk
    Cetar lah Ffmu ini, say. Konflik yang gag rumit tapi penyelesaiannya penuh emosi. Endingnya itu loh…. uaw cute beud.

  10. kwonsy berkata:

    Udah lupa part 1 nya gimana, tp dibaca aja wks ga kebayang pas yuri kulitnya kena serpihan kaca gegara ayahnya. Itu yg akhir ceritanya buat gmn gitu wks ditunggu next ff ya kak nyun

  11. yurimyblog berkata:

    Waaaa kaknyuuuunn aku telaaattt huaaaaa😭😭😭😭
    Pokoknya ini bagussss batttt, ga ada minusnya dehh. Suka pas jaehyun bilang yg cinta cinta itu😂😂
    Semangat teyuusss kaknyuuunnn, ditunggu ff lainnyaaa~~

  12. Hn_avy berkata:

    Tuh bnerkan ayahnya JaeHyun itu dibunuh ama ayahnya Yuri..

    Oh jadi Ayahnya Yuri itu stress *ngangguk-ngangguk

    Cie cie yang cintanya gak jadi bertepuk sebelah tangan..ehem ehem.

    Sumpah pas baca akhirnya aku senyum-senyum sendiri.Sambil byangin gmna gntengnya Ahn JaeHyun hihihi

  13. lavinahyun berkata:

    Aku komen part 1 part 2 disini aja ya, Kak. Akhirnya bisa bermondar-mandir di blog kakak. Hehe. Ceritanya bagus, Kak. Aku suka, aku suka.😀
    Jaehyun-Yuri cocok juga dijadiin couple. >_<
    Buat Kakak mah, 2 jempol deh. Keren. Makin semangat nulis ya, Kak. ^_^
    Ditunggu buat cerita-cerita yang akan datang.😀

  14. EKHA_LEESUNHI berkata:

    Cling nongol lagi. udah lama bgd hiatus dari dunia FF baik bkin ataupun baca. td iseng ubeg2 blog dan pas liat trnyta dah bnyak update-an ya nyun hai apa kabar haha udah lama ga ngbrol. pas liat cover nya ahn jae hyun langsung brb baca. karakternya pass serasa liat dy di drama YATS kecew…
    haha trnyta ga cuma aq yg dilanda hiatus. nyun juga ya… ini juga lagi nyari semangat lagi buat bkin FF. keep writing deh ya buat kita kkk~

  15. Lulu Kwon Eun G berkata:

    akhirnya baca yg part 2, iih keren ini keren banget..!! ah jd suka weh ama JaehYul hahaha *abaikan
    aku suka banget ceritanya feel.a dapet beruntung bgt Yuri,, tegang.a horor.a pas ada bapak.a yuri.. dan aq kira Yuri mati tadi.a,, tp Oh yg jelas happy ending.. smpe jerit2 gaje, arrhhh sumpah Jaehyun Laki bgt..
    Kak Nyun The Best dah,, keep writing n fighting kak!

  16. joohyun berkata:

    tebakanku salah😦 ternyata ayahnya jaehyun gk jahat.. justru malah punya niat baik untuk menolong yuri & ibunya🙂
    ugh jaehyun..gk ada angin gk ada hujan tiba” nyatain perasaannya.. ugh kalo aku jadi yuri udah salting gk jelas gituu..❤
    gk tau nih kak mau komen apa.. emang udah bagus banget ceritanya😀

    thank you kak nyun~

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s