Melody Of Silence #1

IMG_20141119_230622

[1]

Melody of Silence : Roh Amnesia Super Payah


 

“Yo, Park Yoo Chun!”

Alih-alih menoleh, pria yang dipanggil mengayunkan kakinya lebih cepat. Di belakangnya, berlarilah seorang pria lain yang ia hindari sejak pagi tadi. Atas alasan yang masih ia rahasiakan, Yoochun sama sekali tidak berharap konfrontasi dengannya di waktu-waktu seperti ini.

“Yo, Bung!”

Gemeletap sepasang sepatu yang terantuk lantai marmer menelusup ke telinga Yoochun lebih cepat seiring dengan semakin kuat keinginannya untuk menghindar. Tanpa disadari, kini pria yang mengejarnya sudah berdiri terengah-engah di hadapannya—berharap Yoochun mau mengerti seberat apa berlari-lari di sepanjang lorong kampus.

“Wah, kau benar-benar berniat menanggalkan janjimu pada ibu ya?” Lee Jongsuk—pria kurus yang terengah-engah—mencengkram bahu Yoochun. Di bawah sadar, perlahan Yoochun dimbimbingnya ke arah berlawanan dari yang semula ia rencanakan. “Kau tidak bisa meninggalkan acara kencan buta, Bung! Kalau kau seperti ini terus aku tidak akan bisa menikah.”

Keduanya lantas berjalan bersisian menyusuri lorong-lorong yang ramai akan mahasiswi-mahasiswi berwajah bak tepung lengket. Hampir semuanya mendadak mengacungkan ponsel dan menyalakan flash sampai bunyi klik klik terdengar berulang kali. Pemandangan tersebut adalah wajar bagi Jongsuk, maksudnya, gadis mana sih yang tidak tergila-gila pada penggila wanita dengan tampang bodoh sekaligus tampan abad ini?

Jongsuk hampir memiliki figur yang sempurna. Oke, hampir. Jadi, ia memiliki kulit seputih susu dan sehalus pualam, rambut yang terawat dengan wewangian lidah buaya yang—mungkin—dicampur dengan yoghurt, tubuhnya atletis—dengan serangkaian kotak-kotak di bidang perut serta bisep-bisep yang indah di sisi kanan dan kiri lengannya dan bentuk kaki yang akan membuat wanita manapun rela bergelantungan di sana. Dan jika belum cukup, mari berbicara soal wajahnya! Hyun Bin? Oh ayolah, Jongsuk bahkan dua kali lebih keren daripada aktor kenamaan tersebut. Tidak heran jika sekarang para gadis mulai mengerumuninya seperti lalat.

“Maaf, maaf, mau lewat nih sana pergi,”

Soal figur sempurna Jongsuk, apakah tadi ada yang bilang hampir?

Yap, seperti pangeran dari negeri dongeng kebanyakan, karakter Jongsuk tidak lebih baik dari Park Yoochun. Tidak aneh sih, mereka kan saudara tiri yang dibesarkan di rumah yang sama. Jika Jongsuk adalah pangeran keren penggila wanita berhati dingin dan berotak dangkal, maka Yoochun adalah versi 2.0-nya.

“Minggir, idiot.”

Bahkan ia lebih buruk.

Yoochun tidak seramah Jongsuk dan ia benci segala bentuk kebodohan beserta modifikasinya. Perlu digarisbawahi juga bahwa pria satu ini tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun selama ia berada di satu lingkungan tertentu. Tidak banyak bicara, memancarkan aura setan yang mengerikan dan arogansi yang cukup untuk membuat Spiderman memulai usaha memintal sweater, membuat seantero kampus meragukan persaudaraannya dengan Jongsuk. Dua setan tampan berada dalam satu rumah yang sama? Ayolah!

“Aku tidak pernah peduli pada hal-hal remeh seperti ini, tapi Bung, kau harus datang ke kencan buta yang ini. Serius deh, kau tidak ingin aku melajang seumur hidupku kan? Lebih cepat kau menikah, lebih cepat lagi aku akan menikahi Laura, eh Isabell—atau siapalah namanya, aku lupa—dan aku bisa melupakan soal warisan perusahaan dan hal-hal membosankan itu,” Jongsuk berlari mendahului Yoochun ketika ia bicara. Ia membimbing pemuda itu tepat ketika sebuah mobil bercat hitam datang dengan kecepatan rendah di hadapan mereka. “Termasuk hal-hal membosankan yang ini,” keluh Jongsuk. Pemuda itu menggedor kaca jendela sang supir mobil. “Paman, tidak bisakah kau menyerahkan kunci benda keren ini kepada kami dan membiarkan kami menyetir sendiri huh?”

Pria di dalam mobil menggeleng kemudian menyahutinya, “Tuan besar melarang keras kalian menyetir sendiri,”

Jongsuk berdecih kemudian menatap Yoochun seolah semua kejadian buruk yang menimpanya adalah salah kakak tirinya. “Menyetir saja tidak boleh, apalagi menikah mendahului kau, Bung. Ugh nasibku.”

“Cih,” Yoochun tersenyum mengejek, “Sebaiknya kau mulai memisahkan mana hidupmu dan mana hidupku.”

“Aku suka ide itu,” Jongsuk dan Yoochun secara bersamaan membuka pintu mobil dari sisi yang berbeda kemudian berjejalan masuk sebelum para gadis gila muncul dengan ponsel maha besarnya. “Tapi kau tahu kan, ayah tidak suka ide-ide kita. Apalagi idemu.”

Yoochun memandangi para gadis yang berebut tempat strategis untuk mengambil gambarnya, mereka berteriak dan tenggelam dalam euforianya sendiri. Ia biasanya tidak acuh pada mereka, namun seorang gadis dengan celana jins ketat dan kemeja bermotif binatang memandangnya dalam diam. Sekilas, ia menangkap manik cokelat terangnya bersirobok dengan manik hitam jernih gadis itu. Perlahan, Yoochun seolah tersihir. Perhatiannya tersedot ke dimensi lain yang membuatnya berdelusi. Sayup-sayup, di telinganya berlantunan nada-nada asing secara acak dan membentuk sebuah melodi yang tak ia kenali sebelumnya. Semakin maniknya larut pada gadis itu, semakin merdu lantunan musik yang didengarnya.

Yoochun dan gadis tersebut bertatapan selama bermili-mili sekon sebelum akhirnya mobil yang ditumpanginya berbelok di gerbang depan—meninggalkan bangunan kampus yang menjulang megah di belakangnya.

Saat itu seorang Park Yoochun baru saja menyadari, bahwa sebuah sunyi ternyata memberinya sebuah melodi.

.

.

“Kau sudah gila, Non?” Bobby mengunyah keripik madunya dengan kecepatan penuh, “Itu tadi kuanggap sebuah ketololan murni keduamu sepanjang tahun ini setelah kemarin kau berhasil menampakkan diri pada seorang pria jangkung—siapa? Lee Jongsuk?”

Bobby membuang plastik pembungkus keripiknya ke atas, melewati kepalanya. Dan jika bertanya kemanakah sampah tersebut sekarang, jawabannya ada di ujung langit—eh—maksudnya cukup tidak logis karena sampah tadi sudah lenyap secara ajaib.

“Iya deh aku memang gila,” jawab seorang gadis di hadapannya. Gadis itu duduk meringkuk di bawah tiang-tiang pembatas atap kampus. Angin mempermainkan helai demi helai dari surainya yang hitam kemudian menelusup paksa ke dalam tubuhnya melalui lubang-lubang kaus bermotif binatang yang dikenakannya siang itu. “Aku sedang berlatih jatuh cinta soalnya.” Tambahnya, nanar.

Bobby melepaskan topi dari kepalanya dan mulai melempar-lemparkannya ke udara beberapa kali sebelum akhirnya benda tersebut hilang. Ia terbiasa melakukan itu jika sedang panik.

“Kau tahu kau ini apa kan? Kau tidak sedang mengigau kan?” Bobby mulai menginterogasi. Pertanyaannya disambut gelengan lemas dari Yuri, gadis yang kini semakin lesu duduk di sana.

“Aku sepenuhnya sadar, aku sedang berusaha jatuh cinta pada manusia—yah, pada Lee Jongsuk sih tepatnya.”

“Lee Jongsuk atau siapapun, Itu tidak boleh terjadi. Kau ini roh, tahu tidak? Kita adalah roh! Yang artinya kau dan aku sudah mati. Kau tidak boleh jatuh cinta pada manusia sampai Pintu Dunia Bawah terbuka untuk kita!”

“Bobby… ak—aku tidak mau… maksudku, aku belum melupakan keinginan itu,”

Yuri berkata dengan sangat hati-hati, seolah pilihan kalimatnya akan melukai Bobby dengan pedang. Sementara di sisi lain, diam-diam Bobby mengutuk dirinya sendiri dan menyumpah-nyumpah ke atas langit.

“Berharap ingatanmu kembali karena cinta? Realistis dong Yuri! Itu hanya terjadi kalau kau adalah malaikat. Kita ini roh tersesat, kita serendah itu. Satu-satunya yang harus kita lakukan di sini adalah menunggu para Tetua Langit busuk itu membukakan pintu ke dunia kita yang seharusnya. Pokoknya, kita tidak boleh melakukan apapun selain menunggu. Dan jatuh cinta tergolong dalam apapun.”

Bobby cukup persuasif, tapi Yuri tidak setuju.

“Bobby, kau juga harus realistis. Apakah kau sama sekali tidak menginginkan ingatanmu kembali? Bisakah kita pergi dengan begini saja—tanpa tahu siapa kau di saat kau masih hidup?” Yuri memandangi Bobby, berharap pria itu mendukungnya. Lalu, bermili-mili sekon melintas dengan hampa dan Yuri sadar bahwa Bobby memiliki pandangan yang berbeda dengannya. Sayang.

Saat udara menelusup ke dalam bajunya sekali lagi, Yuri berujar, “Aku ingin tahu siapa aku dan kenapa aku mati, aku butuh waktu untuk itu. Makanya aku perlu melakukan ritual jatuh cinta pada manusia. Aku butuh tambatan—kau tahu—agar aku masih terhubung ke dunia ini sementara waktu sampai aku mendapatkan kembali ingatanku.”

“Dan kau memilih Lee Jongsuk?” Alis Bobby terangkat.

“Iya! Soalnya dia tampan—eh—maksudku dia sangat menyukai gadis dan mudah untuk melepaskan mereka. Aku butuh dia karena pria itu memenuhi syarat,”

“Apa kau membicarakan soal nasehat roh peramal gendut itu—Madam Aika?”

“Yah,” Yuri mengangkat bahunya. “Begitu deh.”

“Memilih pria yang mudah mencintai dan mudah meninggalkanmu sebagai syarat ritual, begitukah?” Kernyitan keningnya Bobby tahan untuk beberapa detik sampai desahan panjang keluar dari bibirnya. Pria itu memandangi gadis yang perlahan berdiri dan mengangguk penuh tekad. Jika Yuri sudah memutuskan sesuatu, maka ia tidak bisa berbicara banyak.

“Terserahlah, pokoknya aku tidak mau kau terlibat masalah besar. Aku akan mengabarimu kalau Pintu Dunia Bawah sudah terbuka. Kau sebaiknya hati-hati, Nyonya Aika si roh peramal tidak terkenal sebagai penutur nasehat yang jujur.”

Lengkungan bias terpeta di bibir Yuri, “Yang akan terjadi, terjadilah. Aku tidak peduli.”

.

.

“Maaf, ugh, maaf lagi.” Jongsuk melipirkan tubuhnya ke meja-meja kecil yang terletak di pojok ruangan setelah ia menabrak beberapa pelayan yang sibuk. Aroma espresso yang menggoda mengukuhkan keyakinannya bahwa ia masih berada di sebuah kafe elit, melakukan tugas mata-mata dari ibunya sendiri. Plus, objek mata-matanya adalah Yoochun dan seorang gadis yang tidak ia kenali.

Gadis tersebut mengenakan setelan terusan berwarna merah muda selutut. Kulit kakinya terbungkus apik oleh stocking berwarna kulit—jangan tanya dari mana Jongsuk tahu. Rambut hitamnya diikat ponytail ke belakang kemudian disimpul dengan sebuah pita kecil bercorak bunga-bunga. Ia mengenakan stiletto hitam tujuh senti—warna yang sama dengan iris matanya. Gadis itu tidak jelek, namun tidak terlalu cantik juga. Dan dari gerak-gerik gelisah Park Yoochun, Jongsuk tahu bahwa rencana kencan buta yang susah payah ibunya rencanakan sudah di ambang kegagalan.

Probabilitas paling buruknya, Yoochun meninggalkan pertemuan kemudian sang gadis pergi ke rumah dengan harga diri terhina dan melaporkan tingkah laku Yoochun pada ibunya, maka saat itu adalah kiamat. BAM! Dan selesailah sudah. Jongsuk tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan wanita tanpa hasil campur tangan keluarganya.

No, itu tidak boleh terjadi.” Jongsuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Permisi, apakah anda siap memesan?” Pramusaji pria berdiri di hadapannya dengan sebuah pena yang siap digoreskan pada selembar kertas kecil yang digenggamnya. Senyumnya terpapar manis di wajahnya, dan Jongsuk sama sekali tidak memiliki minat untuk menatapnya lama-lama. Matanya memindai salinan menu yang sudah ia abaikan dalam sepuluh menit terakhir lantas perlahan merujuk pada tulisan BEVERAGES yang dicetak mencolok dengan tinta warna emas.

“Aku pesan yang ini.” Tunjuk Jongsuk asal. Ia ingin mengenyahkan pramusaji itu dari jarak pandang pendeknya dengan segera. Tepat ketika harapannya dikabulkan, saat itu Jongsuk sudah melihat Yoochun terduduk dengan basah kuyup. Seluruh perhatian segenap pengunjung kafe terpaku padanya. Jongsuk tidak perlu diberitahu apa yang baru saja luput dari irisnya. Yah, dilempar air oleh wanita memang sudah menjadi satu dari sepuluh ciri khas pria keren. (Tidak perlu menyebutkan berdasarkan pengalaman Jongsuk).

Yoochun mulai menunjukkan ekspresi tidak senangnya yang segera ia kuasai dalam hitungan detik. Pria itu perlahan membersihkan sisa-sisa air yang masih menetes melewati dahinya dengan selembar tisu , lantas ia menggumpal dan melemparkannya ke atas meja dengan kasar. Ia tahu bahwa Jongsuk—adik tiri menyebalkan yang mati-matian ia hindari, kini berada di sana, di ujung ruangan, mengamat-amatinya dengan penuh sukacita.

“Aku tidak akan jadi sepertimu, idiot.” Yoochun bergumam pelan. Diraihnya sebuah gelas kopi panas dari atas nampan pramusaji yang kebetulan melintas di dekatnya. Tanpa mengindahkan pandangan terkejut dari berbagai arah, Yoochun berjalan pelan kepada tujuannya. Oke, ia tidak biasanya semarah ini tapi demi menghentikan semua kegilaan ibu tirinya, ia harus melakukan ini.

Yuri mungkin selalu benar dalam ilmu soal prakiraan-prakiraan, tapi saat ia memutuskan untuk meninggalkan Bobby di atap kampus dan bergegas pergi ke tempat di mana ia mencium aroma tubuh Jongsuk, Yuri tahu ia dalam masalah. Instingnya yang tidak terduga membuatnya berada dalam masalah pelik.

Dalam dunia roh, Yuri mempelajari hal-hal sederhana untuk memenuhi standar kelayakan hidup sebagai roh, seperti membuat suara menangis untuk menakut-nakuti mereka yang hidup dan teleportasi. Roh normal—yang begitu mati langsung dibimbing ke Dunia Bawah—mungkin tidak memerlukan hal-hal seperti ini. Lain jika membicarakan roh-roh yang tersesat sepertinya. Yuri sendiri tidak paham mengapa ia ditakdirkan untuk tersesat.

Tersesat saja sudah memusingkan, ditambah lagi ia tidak ingat bagaimana dan sampai kapan ia akan tetap seperti itu—terombang-ambing di antara yang hidup dan yang mati. Setiap roh selalu bermunculan dengan satu persamaan: terkecuali namanya sendiri, mereka tidak ingat apa-apa lagi.

Iya, tersesat dan amnesia adalah kombinasi yang memusingkan. Yuri sangat putus asa sampai-sampai ia pernah berandai-andai soal GPS Pemandu ke Dunia Bawah khusus roh. Sejak pertemuannya dengan roh peramal—yang mengaku bernama Madam Aika—Yuri serta merta melupakan usulan GPS-nya. Aika bilang padanya soal cara-cara untuk mendapatkan ingatannya kembali.

“Kau harus menemukan seorang pria yang mencintaimu dengan tulus,” kalimat pertama? Tipikal dongeng tapi ternyata tidak juga ketika Yuri mendengarkannya sampai akhir. “Pria itu akan menjadi tambatanmu ke dunia. Tidak ada yang tahu bagaimana cara kerjanya, tapi semakin kau mencintai pria itu maka ingatanmu akan kembali dengan cepat. Meski begitu, kau bersaing dengan waktu. Tidak ada yang gratis di dunia, bahkan bagi roh seperti kita. Ingatan itu akan ditebus oleh kematian. Kematian pria yang kau pilih.”

Yuri tidak benar-benar memikirkannya saat ia memohon meminta petunjuk pada roh peramal itu pertama kali. Kematian bukanlah bagian dari rencananya, maksudnya, siapa sih yang ingin main-main dengan kematian? Sinting ya?

Saat Yuri merasa harapan itu pupus bahkan sebelum ia mencobanya, kalimat Madam Aika mampu mengokohkannya kembali, “Tapi ada satu cara untuk menghindar. Curangi kematian! Kematian hanya akan terjadi ketika kau mendapatkan ingatanmu kembali. Saat itu, Dunia Bawah akan membukakan pintunya untukmu dan kau akan dilupakan oleh siapa pun yang mengenalmu sebagai roh. Namun pria itu? Tidak akan pernah. Ingatannya tentangmu akan terpelihara dan itu akan mengundang perhatian dari Dunia Bawah. Mereka akan menariknya ke dalam jurang kematian, bersama-sama denganmu. Jika ada yang bisa menyelamatkannya, itu adalah kemauan pria itu sendiri dengan kata lain, ia harus bisa melupakanmu sebelum segalanya terlambat.”

Berbekal dialog yang terus ia ulang-ulang di dalam kepalanya, Yuri menyimpulkan sebuah hal terkeji nan sederhana. Daripada ia membawa seorang pria ke dalam jurang kematian bersama-sama dengannya, akan lebih baik kalau dia mencintai pria yang salah sejak awal. Tipikal pria yang gemar gonta-ganti pacar akan lebih bagus, pikirnya. Dan atas dasar petuah roh dan pemikiran konyol, Yuri memilih Jongsuk.

“Tapi Yuri, hati-hati pada—“

PRANG!

Belum sempat ia mengulang bait-bait terakhir dari Madam Aika, secangkir kopi panas hancur berserakan di lantai yang dipijaknya. Untungnya, Yuri tak kasat mata kalau tidak ia pasti sudah terluka akibat berdiri di atas serpihan cangkir di atas lantai.

Yuri pikir ia tidak akan peduli pada pria yang megap-megap penuh amarah di hadapannya, namun saat manik pria itu memandang Jongsuk—yang kebetulan berdiri di belakang tubuh gadis itu, Yuri jadi penasaran. Ada apaan nih?

Yoochun memusatkan amarahnya pada Jongsuk, “Kau pikir ini lucu, Dik?” Ini nih yang Yuri benci dari kehidupan manusia normal. Selalu saja begitu dekat dengan sarkasme, bahkan pada keluarganya sendiri. Untung saja Yuri sudah banyak belajar jadi kata Dik yang barusan ia dengar dapat langsung ia artikan sebagai ejekan untuk Jongsuk.

Tanpa alasan jelas, Yuri merasa khawatir. Oke, ia berbohong soal ia mencintai Jongsuk karena pria itu memenuhi persyaratan konyol untuk ritualnya. Satu-satunya alasan adalah karena ia tampan. Betul, setampan itu.

Brotha, jadi… kayaknya kau salah pa—“

“Iya, kau selalu benar dan pemahamanku selalu salah, bagus.”

Perang sarkasme baru saja dimulai. Umpat Yuri.

“Oh bukan begitu, Bro… jadi aku… “ Jongsuk menatap sekeliling dan mendapati dirinya memang terdengar sangat payah. Sangat payah sampai-sampai pramusaji yang akan menghidangkan pesanan kopinya kembali lagi ke dapur dengan buru-buru. Lima menit lebih lama saja ia berada di sana, maka sudah pasti baik ia dan Yoochun akan berwisata di kantor polisi malam ini.

“Ayo pergi dulu,” bujuk Jongsuk. Gayung tidak bersambut—atau apalah peribahasanya, Yoochun malah menghempaskan tangan Jongsuk yang sudah terulur hangat di depan ekor matanya. “Kalau kau memang seingin itu karyawisata di kantor polisi, silakan.” Tambahnya.

Wow keren, pikir Yuri. Ia selama ini hanya mengenal Jongsuk sebatas playboy dan pria berisik yang gemar menabung—ada SISTAR di cover buku tabungannya, jangan tanya dari mana Yuri tahu—jadi ia tidak berekspektasi hal yang keren-keren untuk Jongsuk, tapi hari itu Yuri tahu Jongsuk adalah pria yang berpikir logis. Yuri harus membiasakan diri dengan doktrin “Jongsuk Itu Keren”.

Kalau Yuri jadi Yoochun, ia tidak akan pernah melintasi kawasan terlarang yang ditandai dengan serpihan cangkir kopi yang bertabur di atas lantai marmer mahal. Pria itu cukup ceroboh sehingga ia terjatuh dengan tangan yang menjadi pondasi penahan agar tubuhnya tidak terjerembab di atas lantai.

Yuri tertawa, namun sayang sekali tidak dalam waktu yang lama. Sebelum Yuri tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia sudah terjatuh di antara pecahan cangkir, dengan wajah yang terkejut dan tubuh yang melayang dua senti saja dari TKP. Ia pikir menjadi roh berarti tidak terlihat dari semuanya, namun rasa sakit yang tiba-tiba menggerayangi tubuhnya meragukan itu. Yuri tahu bagaimana rupa darah, namun ia tidak pernah merasakan darahnya sendiri merembes keluar dari pori-pori tangannya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tubuhnya yang melayang, kemudian berdebam di atas lantai marmer—membuat sederet kulitnya yang terbuka, mencium pecahan cangkir dengan seketika. Semakin banyak darah keluar dari pori-porinya.

Yuri menatap Yoochun yang juga melalui masa sulit yang sama dengannya. Tangan pria itu mengucurkan darah bahkan lebih deras daripada yang ia alami. Sesuatu terbuka lebar di sekitar pergelangan tangannya dan Yuri tahu jika dibiarkan, maka pria itu akan mati. Yuri berharap Jongsuk—atau siapa pun di sana—tidak hanya berdiri dan terbengong-bengong seperti saat itu namun sesuatu yang salah sepertinya sedang terjadi pada mereka. Yuri tidak melihat adanya gerakan selain rintihan lemah Park Yoochun dan ratapan cengeng yang Yuri sembunyikan sendiri. Semuanya seolah membeku oleh waktu.

Di tengah kebingungannya, Park Yoochun menjerit. Jika semua orang kecuali dirinya dan Yoochun membeku, maka satu-satunya yang bisa menolong pria itu adalah Yuri. Sekejap, Yuri melupakan soal siapa dirinya dan untuk apa dia di sana. Ketika nalurinya berkata bahwa ia harus menolong pria tersebut, maka ia segera melakukannya.

Yuri tidak menduga akan terjadi hal-hal besar, namun saat itu hal besar baru saja terjadi padanya. Dengan ajaib, ia dapat menyentuh tubuh fana untuk pertama kalinya sepanjang yang ia ingat. Yoochun sontak menatapnya, perlahan menyadari eksistensi dirinya dan Yuri secara bersama-sama. Di lain pihak, Yuri mati-matian berusaha menghentikan pendarahan hebat pria itu hanya dengan menekan pergelangan tangannya. Sakit yang ia derita akibat pecahan cangkir di seputar kaki dan tangan, berusaha Yuri tekan. Ia memusatkan seluruh perhatiannya pada pergelangan tangan Yoochun. Entah bagaimana sebuah pecahan bisa menyebabkan pendarahan hebat seperti itu.

Rasa penasaran Yuri ia enyahkan jauh-jauh. Tidak ada waktu memikirkan kenapa dan bagaimana. Ia harus mencari solusi agar pemuda di hadapannya ini tidak mati.

“Aku tidak tahu cangkir kopi bisa menyebabkan seorang pemuda sekarat,” Yuri mengeluh. Ia merobek kaus motif binatang yang tengah dikenakannya—meninggalkan tontonan soal separuh perutnya yang rata—dan mengikat robekan itu kuat-kuat di pergelangan tangan Yoochun. Butuh waktu sampai darahnya berhenti mengalir, tapi pada akhirnya Yoochun menunjukkan ekspresi yang lebih mendingan dibanding sebelumnya.

Yuri sempat memiliki visi aneh; Madam Aika mewujud di dalam halusinasinya, mengutarakan apa yang pernah ia utarakan pada Yuri dengan wajah penuh kecemasan. “Yuri, hati-hati pada…”

BRUK!

Yuri ambruk seketika. Sebelum visinya gelap, ekor matanya menangkap segerombolan orang asing yang berteriak panik, Lee Jongsuk yang terlihat begitu cemas dan Park Yoochun yang berbaring telungkup dengan mata tertutup, seikat kain nampak melilit di pergelangan tangannya. Lalu Yuri merasa tubuhnya mendapat sentuhan-sentuhan asing, ia melihat orang-orang berpakaian putih mendatanginya dengan tergesa-gesa dan mengangkatnya. Saat suara sirine familer menyergap telinganya, mendadak Yuri ingat soal Madam Aika,

Tapi Yuri, hati-hati pada takdir. Yang satu itu akan membuat segala rencanamu berantakan. Kau mungkin bisa mencurangi kematian, tapi tidak untuk takdir.”

Iya,

Andai Yuri ingat petuah satu itu lebih cepat, mungkin cerita ini akan berjalan sesuai dengan koridornya.


To Be Continued…

[Mind for leave review, anyone?]

Iklan

48 thoughts on “Melody Of Silence #1

  1. daebbakkk kanyun~~~
    aku udah merindukan yuri karya kanyun yg beginian dan, apalagi ini? yuri jadi hantu lagi😂😂😂
    udah penasaran, tersesat, amnesia, belajar jatuh cinta lagi. elah lol😂😂
    kalo diliat liat memang bahasa ketikan kanyun berubah ya/? mirip om riordan/? jadi kangen novelnya om riordan juga/?wkwk
    lanjut dulu ya kanyun~ tetep semangat buat ff ff nyaa.. semoga cepet selesai semua kerjaan ff nya terutama yg chaptered♡♡♡
    fighting kanyun! God bless you~😙

  2. Idenya kak nyun selalu daebak..
    Kata-katanya keren..
    Ini nih yang bwt selalu kangen sma ffnya kak nyun..
    Yuri hati-hati jgn bwa orang lain mati..
    Tpi jangan- jangan kata”nya madam aika ada yang bohong

  3. ini apalagi. mereka sodara tiri? jongsuk yoochun? setan tampan? lengkap bgt hidup yuri ketemu dua orang ini 😀 itu yuri jadi keliatan ma orang banyak ya, bukan ma yoochun aja yun? butuh konsentrasi tinggi buat baca karyamu seperti biasa ^^ lanjut ke part 2 dulu…~

  4. huaaa kak nyuun ini bagus banget u,u
    dan aku beberapa kali senyam senyum gegara ungkapan ungkapan itu x3
    well pecahan cangkir bisa bikin seseorang sekarat .. ._. ah bisa aja sih kalo semisal pecahannya ngegores nadi/? /hiiy :’3

    oke kak nyun aku ini readers yang semenjak 3bulan lalu terdampar diblogmu dan baru menyembul dipermukaan hari ini xD
    nami dari garis 01 kak *3*

  5. ooh…ini ff bagus aja..ceritanya beda gk mainstream(?) & bikin penasaran
    whooo..yuri kok jadi bisa masuk ke alam dunia?
    btw itu ada kimbab alias kim jiwon a.k.a bobby *_* hihi…lucu aja ngebayangin bobby sama yuri *abaikan*

  6. astaaagaaaa….
    kangen banget baca cerita kakak.
    baca ff ini jadi keinget highschool love on deh wkwkwk. bedanya yang ini hantu 😦

    ngakak banget pas tau jongsuk sm yoochun dua beradik. mimpi apa gue woy -_-

    dan lagii…. my muka mesum bobby jadi teman hantunya yuri?
    omaigot, can i be her in this story? u,u

  7. Nah, baru sempet komen dan full read. *lempar laporan dan kartu sidang* btw, aku new readers yg insyaf #alamak. Dan aku suka pemilihan bahasa kak nyun.
    Aku bingung pas pertamanya tuh, apalagi yg pas ada terluka-luka gitu. Dan yg bikin tambah bingung, aku nggak nemuin part yg hilang #nahloh. Aku minta link dong kak? rindydayani@yahoo.com plis plis #aegyogagal

  8. pairing nya yoochun yuri ya?
    aku agak bingung sama yg dibilang madam aika itu,
    kenapa yuleon selalu ngeyel ya jadi cewe? haha
    lanjut baca ya kaknyun..

  9. UNNIEEEEEEEEEEEEEEEEEE waaaa karena sibuk ujian baru sempet baca ff 😥 waktu di liat unnie udh update ff baru yeayyyy unnie jeongmal buat penasaran 😉 muwah buat unnie keren, daebak, jjang^-^)b

  10. Omooo…. ide keren kya gini nemu dr mana sih kak?? heran ama kak Nyun,, imajanisi.a tingkat dewa kak Nyun mah, setara kya penulis komik² jepang.. keren bgt lah..

    aq aga bingung kak, kok bisa gitu Yuri bedarah, kan dia arwah
    .. trs yg jd prtnyaan kok Yoochun bsa lyt Yuri n sketika org² di skeliling mreka pd beku trmasuk Jongsuk?? o.O
    Horor…mungkin ini takdir *mikirkeras*

    ini nih,, bkn FF kak Nyun klo gk bkin penasaran n lgsg bisa di tebak!

    oya aq berharap klo Yuri tuh blm mati,, dia msi koma ato gmn gitu.. byr ending.a bisa ama Yoochun… – – *abaikan/gmn kak Nyun aja*

    kak di Pw ya part slanjutnya? yah kak tnggung jwab dong udh bkin penasaran,, hehe aq bagi PW.a boleh kak? ^^
    klo boleh bysa kak, ke amalialutfianilulu@gmail.com makasih kak Nyun..

  11. wah wwah wah, ngebayangin dua orang kece itu jadi sodara tiri tuh bikin senyam-senyum sendiri.

    astaga astaga pasti jongsuk nya suka tebar pesona gitu ke cewe ya?

    oh di sini yuri nya mulai jadi manusia kan ya ? iya kan?

  12. Hantu amnesia hihihi lucu. ini kaya ceritanya filmnya park shinhye kalo ga salah. keren nih pasti keren hohohoho :D. semangat nulisnya eonni 🙂

  13. Kenapa yuri tbtb berdarah gitu? Grgr yoochun? Yoochun takdirnya yuri gitu? Hahaha roh amnesia yang sangat payah 😀 si jongsuk penggila wanita yang idiot tapi tampan abad ini xD keren (y) 😀

  14. uwaaa.. bagus kak nyun^^ aku sukaaaa 😀
    yoochun sok jual mahal ih.. kasihan jongsuk gk bisa nikah gara” yoochun.. kkk~
    ;A; penasaran banget sama ‘takdir’ nya yuri *.*
    aku masih gk paham sama kejadian yg tiba” yuri bisa ikutan jatuh di atas pecahan cangkir(?)

  15. Bentar bentar, aku masih ga ngeh gimana Yoochun bisa sampe gitu- dan itu Yuri gmana bisa nyentuh si Yoochun- omg seru nih 😱😱

  16. berharap nanti ujungnya Happy Ending ini:’) Yuri jadi hantu Amnesia+pelupa lgi :v dia lupa takdir(?) Semoga takdir membuat mreka bersama wkwkwk. Semangatt terus buat ngelanjutinnya kak nyuuunn^-^ *-*

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s