Melody Of Silence #2

Melody Of Silence

copyright bapkyr 2015

for question leave it at my official twitter @michanjee

Melody Of Silence Chapter 2 : Ponsel Pembawa Petaka

.

.


Seakan memata-matai Yoochun belum cukup buruk baginya, Jongsuk kini disibukkan menyumpah-nyumpah di sepanjang lorong rumah sakit. Nyonya Joo, ibunya, datang dengan terburu-buru begitu mendapatkan kabar bahwa Park Yoochun—anak angkatnya, dilarikan ke rumah sakit. Diagnosa sementara, shock.

Jongsuk sama sekali tidak memiliki ide soal Park Yoochun yang ternyata adalah seorang pria yang gampang sekali terkejut. Tidak, tidak. Maksudnya, ia yakin melihat Park Yoochun hampir menumpahkan kopi ke wajahnya namun ia malah memecahkan benda tersebut di depan kedua matanya. Seingat Jongsuk, ia terlibat adu mulut selama sekejap sampai Yoochun mendadak kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas kekacauan yang ia buat sendiri. Lalu seorang gadis yang kebetulan melintas, ikut terjatuh juga di dekatnya tanpa sebab. Jongsuk hampir sinting. Kejadiannya terjadi begitu saja dengan cepat sehingga ia tidak tahu bagaimana menyusunnya.

“Dan, Jongsuk-a,” Jongsuk mengakui bahwa hari itu adalah hari paling melelahkan di dunia. Jadi saat ini, ia merasa tidak perlu sesigap itu untuk segera merespon panggilan dari ibunya.

“Jongsuk-a,” ulang wanita paruh baya itu.

“Kalau ibu ingin bertanya bagaimana Yoochun pingsan, silakan mengantre. Aku berencana memberitahukan ayah terlebih dahulu.” Jawab Jongsuk, malas-malasan.

“Itu tidak penting lagi, soalnya ada yang lebih membuatku penasaran.”

Jongsuk menoleh pada empunya suara tadi berasal. Mendengar Nyonya Joo mengatakan sesuatu tentang ada yang membuatku penasaran sama saja dengan mendengar aku punya misi tidak berguna lagi untuk kau kerjakan. Dan oke, Jongsuk sudah lelah untuk itu.

Jika bukan demi memperjuangkan hak-hak asasinya demi bebas dari segala bentuk obrolan panas soal warisan perusahaantemasuk modifikasinya, ia pasti sudah menolak mentah-mentah.

“Wanita yang pingsan itu siapa? Apa kau mengenalnya?”

Kening Jongsuk berkerut. Bicara soal itu, benar juga. Jongsuk yakin ia pernah bertemu wanita itu di suatu tempat tapi ia terlalu pintar—ehm, gitu deh—untuk mengingat. Wanita tadi tentu tidak sengaja pingsan di depannya bukan? Barangkali ia bermaksud menarik perhatian Jongsuk agar ia menangkapnya.

Jika gadis tersebut adalah gadis yang memang sedang sial melintas di sana, lalu kenapa ada lilitan kain di pergelangan tangan Yoochun yang berasal dari robekan kaus bermotif binatang yang dikenakannya pada saat itu? Jika gadis itu memiliki cukup waktu untuk melilitkan kain itu pada pergelangan tangan Yoochun, kenapa ia tidak melakukannya pada tangan dan kakinya sendiri?

Iya, terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Jongsuk dan ia tidak tahu harus mulai dari mana.

“Membaca dari ekspresimu, kau juga tidak tahu kan?” Joo menyimpulkan. “Kurasa kau berpikir seperti apa yang aku pikirkan. Gadis itu pastilah orang yang disebut-sebut dalam ramalan awal tahunku.”

“Eh, maaf?” Jongsuk mengendurkan satu kerutan di keningnya. Ia sedikit terkejut.

“Nyonya Lee, kau ingat? Itu lho yang datang ke rumah sewaktu kita merayakan tahun baru! Pokoknya dia peramal hebat. Dia menyebutkan soal 2015 akan menjadi tahun yang gemilang untuk keluarga kita. Ah, dan akan ada gadis yang menyenangkan di rumah. Menurutnya, gadis ini mendatangkan peruntungan yang baik meskipun pertemuannya akan menjadi tidak terduga.”

Jongsuk mengerucutkan bibirnya, “Jadi itu sebabnya kau memaksa Yoochun untuk segera menikah? Kau berharap gadis yang dinikahi Yoochun adalah gadis yang dimaksud dalam ramalan?”

“Tidak ada cara lain bagi seorang gadis untuk tinggal bersama kita selain menikahi Yoochun kan?”

Jongsuk mendengus, “Jadi benar ya, aku benar-benar tidak diperbolehkan menikah sebelum Yoochun.”

“Kau masih kecil,”

“Tapi aku sanggup membuat anak kecil.”

“Hush!”

Joo menatap Jongsuk dengan enggan. Ia memang memiliki hubungan tarik-dorong yang sukar dipaparkan jika sudah berhadapan dengan Jongsuk. Meskipun Jongsuk adalah anak kandungnya, tapi Park Yoochun-lah yang terlebih dahulu menemaninya. Karena vonis kelainan rahim yang diderita Joo, ia memutuskan untuk mencari anak angkat. Ia mengadopsi Park Yoochun dari sebuah panti asuhan di Busan sejak usianya satu tahun. Joo dan suaminya, Lee Sangyoon, memutuskan untuk tidak mengganti namanya sebagai sebuah momentum agar Yoochun tahu jati dirinya.

Setelah Yoochun genap berusia dua tahun, keajaiban terjadi, Joo mengandung Jongsuk yang kemudian lahir prematur di bulan kehamilannya yang ke-8.

Mengurus bayi prematur cukup merepotkan dan Park Yoochun banyak membantu untuk itu. Meski ia belum banyak mengerti, tapi dengan berkelakuan baik, Yoochun sudah sangat membantu di mata Joo. Wanita itu sudah banyak melihat sisi kedewasaan Yoochun dan membuatnya sangat yakin kalau Park Yoochun memiliki masa depan yang baik. Rasa sayangnya tumbuh begitu saja; ia sudah menganggap Yoochun dan Jongsuk adalah saudara sedarah.

“Jadi, sekarang apa yang kaurencanakan?” Jongsuk bisa membaca rencana-rencana konyol yang terpeta di wajah ibunya. Melihat dari bagaimana alisnya berjengit dan matanya terpejam, Jongsuk memutuskan untuk menerjemahkannya sendiri; Mengajak gadis asing itu tinggal di rumah? Memaksa si gadis menikah dengan Yoochun sebagai kompensasi atas shock yang dialaminya? Atau, membuat keluarga sang gadis bangkrut total sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain tunduk pada ibunya? Jongsuk tinggal menunggu skenario mana yang akan dipilih.

Sebelum Joo mengutarakan idenya, seorang perawat datang pada keduanya dengan tergopoh-gopoh. Ia memegangi selembar kertas yang terlihat seperti sebuah perjanjian resmi dengan kepala surat berlogo rumah sakit swasta tersebut. Di sudut kanan paling bawah, terdapat sebuah goresan rumit yang dapat diasumsikan sebagai sebuah tanda tangan. Kwon Yuri, begitu nama jelas yang tertulis di sana.

“Saya baru akan menginformasikan pada Nona Yuri soal kedatangan anda dan keluarga, namun saya juga baru tahu ia sudah meninggalkan rumah sakit beberapa menit yang lalu. Maaf sekali, Nyonya Joo.”

“Meninggalkan rumah sakit? Bukankah dia masih belum pulih?” Nada bicara Joo meninggi sejalan dengan kegelisahan yang menjeplak di wajahnya.

“Betul, seharusnya ia masih beristirahat satu atau dua hari lagi. Tapi Nona Kwon bersikeras untuk keluar dari rumah sakit, kami hanya bisa membuatnya menandatangani perjanjian klaim ini. Kami tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kesehatan Nona Yuri jika ia bersikeras keluar seperti ini, sekali lagi kami mohon maaf Nyonya Joo. Kami telah melakukan segala sesuatunya sesuai prosedur dan tidak dapat membantu lebih banyak lagi.”

Jongsuk mengalihkan pandangannya dari perawat wanita yang mulai bertolak dari keduanya. Ibunya berdiri dengan kepalan tangan yang menyejajari garis jahitan pinggir rok biru tuanya. Sungguh pemandangan yang langka, sudah sekian lama sejak ia melihat ibunya begini ambisius.

Belum mencoba bicara apa-apa, kerlingan penuh ambisi dalam diri Joo sudah seolah membakar jiwa Jongsuk. Ia tersedak, “Apa sih? Bicara kan bisa, tidak perlu pakai pandangan begituan.” Protes Jongsuk.

Joo menepuk-nepuk tangannya yang sudah mulai mengendur kemudian telunjuknya teracung ke ujung lorong, di mana pintu keluar terlihat. Alisnya berjengit lagi, memberikan kode pada Jongsuk.

“Serius? Kau ingin aku mencari gadis-entah-siapa itu?”

“Namanya Kwon Yuri, dan ya.”

“Ibu!”

“Cepatlah, kebebasan hidupmu bergantung padanya.”

“APA HUBUNGANNYA?”

“Aku ingin membawanya ke rumah, pokoknya, kau temukan dulu nanti kuatur hal yang remeh-remeh lainnya.”

Mendengar ibunya membawa perihal menculik anak gadis orang ke dalam rumah sebagai hal remeh, sudah cukup membuat kaki Jongsuk bergerak menjauh. Ibunya tidak seburuk itu, tapi rencananya selalu berhasil membuat Jongsuk kehabisan obat sakit kepala.

.

.

Lee Jongsuk.

Yuri tahu pemuda itu berada tak jauh di belakangnya. Sang gadis memilih untuk memacu langkahnya menjauh meski dengan terpincang-pincang, ia sama sekali ingin pergi dari rumah sakit. Di dalam sana, Yuri ingat ia hampir menjerit ketika seorang perawat hampir menusuknya dengan jarum yang menetes-neteskan air, kecelakaan kecil terjadi saat jarum kecil itu berhasil menembus kulitnya. Suara bip bip terdengar beberapa kali sebelum akhirnya Yuri tertidur.

Kejutan itu tak berhenti sampai di sana. Bahkan saat ia memutuskan untuk pergi dari kasur terbungkus seprei putih asing yang ditidurinya, mereka masih harus menyibukkan Yuri dengan hal-hal tidak perlu, seperti menandatangani sebuah perjanjian.

Yuri merasa dirinya sehat-sehat saja kecuali soal kenyataan bahwa dirinya sekarang terpincang-pincak dan selebihnya, ia hampir seperti manusia pada umumnya. Tak tahu bagaimana, tapi bertanya pada Bobby yang sekarang mungkin berada di atap kampus—seperti biasa—adalah ide bagus.

“Katanya misimu dimulai dari mengejar Lee Jongsuk?” Yuri tahu suara itu dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan yang dimiliki pemiliknya—seperti muncul tanpa pemberitahuan di atas kepalanya. Bobby melayang turun dari atap sebuah flat lantai empat. Wajahnya kentara sumringah kendati itu tidak berefek apapun pada suasana hati Yuri. “Tuh, kau sekarang dikejar Lee Jongsuk. Apa kau mau kabur?”

Bobby mengangkat kepalanya dan merujuk pada arah dimana Jongsuk sedang bersandar di antara tiang-tiang panel iklan digital. Yuri tak menaruh atensi pada Jongsuk, bola matanya memutar jengah.

“Bob, bagaimana soal aku?” Yuri bertanya secara acak, tidak jelas apa tujuannya.

“Eh, kau? Kau terlihat… begitu-begitu saja. Memangnya kenapa?”

“Tidak, bukan itu jawaban yang aku ingin dengarkan. Aku ini terlihat, dan apa—eh tidak—maksudku bagaimana, eh, aku pasti sudah sinting, ya kan?”

Bobby memindai kawan lamanya itu dari ujung rambut hingga ujung-ujung sepatu jingga yang menurutnya tak cocok dengan kaus motif binatang yang sobek-sobek milik Yuri. “Selain fakta bahwa kau sekarang terlihat seperti manusia, baumu masih seperti roh. Aku tidak tahu jawaban seperti apa yang ingin kaudengar, tapi itu sudah kuanggap sebagai jawaban super dari Bobby.”

Yuri meremas tangannya. “Jadi benar ya? Aku sekarang manusia?”

“Secara teknis, iya. Tapi tetap saja, kau kan sudah mati.”

Makasih sudah diingatkan soal itu,” Yuri menjawab culas. Bobby memang tidak pernah acuh pada hal-hal yang lebih serius dari kecambah misterius yang tiba-tiba muncul di belakang pintu toilet tidak terpakai di kampus. Sang gadis seharusnya tidak terkejut begitu mendengar petuah Bobby barusan.

“Oh, jangan menatapku seperti itu, Non. Aku sudah memperingatkanmu ya! Hal-hal yang sedang kaucoba ini adalah pengalaman baru juga bagiku. Jadi, jangan tanya bagaimana dan kenapa kau bisa seperti itu.” Bobby membela diri. “Pokoknya kalau kau seputus asa itu, aku mengenal orang yang mungkin bisa membantumu lebih banyak daripada aku.”

Alis Yuri bertaut. Bobby tidak pernah memberinya saran serius sebelumnya alih-alih sang gadis mendengarkan daripada mencoba mendebatnya.

“Ada satu orang sakti—lebih sakti daripada roh peramal itu—yang mungkin bisa kau hubungi. Para manusia biasa memanggilnya dengan sebutan Om Google. Katanya sih kau bisa menemukannya di dalam komputer. Semoga beruntung ya!”

Tepat ketika deretan gigi Bobby menghilang di selubung udara, Yuri mengumpat. “Berengsek!” Keningnya berkerut dan satu sekon selanjutnya, ia bersiap untuk berjalan menjauh dari tempatnya berdiri saat ini. Semuanya terjadi begitu saja, dan Yuri kini bertemu tatap dengan seorang pria jangkung yang sangat ia kenali.

“Nona Yuri kan? Kwon Yuri?” Jongsuk mengendurkan tangannya pada Yuri—iya, Jongsuk menggenggam tangan Yuri untuk waktu yang singkat. Yuri mengangguk sambil diam-diam mencuri pandang ke atas langit kalau-kalau Bobby menertawainya dari suatu tempat di sana. “Syukurlah, ibuku mencarimu. Ia ingin membicarakan sesuatu.”

Mata Yuri berkedip. Ia belum pernah berada sedekat ini dengan Lee Jongsuk sebelumnya, jadi berpikir bahwa Jongsuk akan menyentuh tangannya? Wow, kejutan!

“Ibumu… ingin membicarakan sesuatu?”

Jongsuk mengangguk samar.

“Soal?”

“Aku juga ingin tahu. Makanya ayo kembali ke rumah sakit dulu.”

Yuri melangkah dengan ragu-ragu, menyambut uluran tangan Jongsuk yang terbuka lebar ke arahnya. Iris Jongsuk berwarna hitam jernih, Yuri baru menyadari itu. Bibirnya tidak terlalu merah, namun cukup menggoda baginya. Jangankan para gadis muda yang masih hidup, Yuri saja yang secara teknis sudah mati, tergila-gila padanya.

“Eh, sebentar.” Yuri merasa ada yang salah. Jika mengikutsertakan perilaku Jongsuk yang tidak dapat dipercaya, maka ajakan itu adalah tanda tanya besar baginya. “Apakah aku bisa memercayaimu?” Ujarnya.

Jongsuk jelas tak berkeberatan dengan pertanyaan barusan. Kendati demikian, uluran tangannya perlahan ia gagalkan. Sang pria membiarkan sang gadis bingung ini tetap dalam fase kebingungannya.

“Tidak, kau tidak bisa.” Balasnya. “Tapi ibuku memercayaimu. Dia jelas berharap kau kembali. Jadi ayo!”

.

.

Yoochun sudah bisa melihat dinding putih tulang sejak semenit yang lalu. Kendati demikian, ia tak memiliki keinginan untuk cepat-cepat mengumpulkan kesadarannya secara optimal. Tubuhnya masih ringkih dan nyeri di beberapa bagian, tidak fatal sih, tapi cukup membuatnya bermalas-malasan untuk bangkit.

Serpihan memorinya kabur. Ia hanya tahu bahwa yang membuatnya terkapar tak berdaya tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri. Bagaimana ia sampai bisa berada di rumah sakit? Tak tahu.

Srek.

Pintu menjeplak, menampakkan beberapa wajah yang familier di matanya. Nyonya Joo—ibu tirinya—segera menghamburkan diri ke pelukan Yoochun tatkala maniknya bersirobok dengan pria itu. “Kau ini agak bodoh ya,” katanya kemudian. “Tidak usah berlagak memecahkan barang-barang jika setelah itu kau berencana menginjaknya.”

“Itu kecelakaan, Bu.” Balas Yoochun pendek sembari melepaskan ibunya perlahan. Joo berjalan menyamping, memberikan sedikit ruang bagi Lee Sang Yoon—suaminya—melipir ke sisi ranjang. Sang pria paruh baya itu tidak menunjukkan banyak rasa empati selain mengusap-usap kepala Yoochun barang tiga sekon. Yoochun memaklumi hal-hal seperti itu, ayah tirinya memang agak kikuk.

Yoochun tidak menginginkan kejutan besar hari itu, tapi Jongsuk tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, menggiring seorang gadis asing. Kalau menyimpulkan bahwa Jongsuk tengah membawa gadis yang bernama Isabell—atau apalah—untuk diperkenalkan kepada keluarganya, timing-nya cukup buruk. Hanyalah asumsi-asumsi setipe Jongsuk terlibat masalah cewek lagi-lah yang memenuhi otaknya untuk sementara.

“Oh Kwon Yuri!” Joo menghampiri sang gadis dengan sukacita, sekaligus memancing tanda tanya besar di kepala Yoochun. Tidak akan pernah ada sejarah yang menyebutkan bahwa ibunya akan sebaik itu pada para gadis yang didatangkan oleh Jongsuk. Terakhir, ketika Jongsuk membawa seorang gadis belia ke hadapan ibunya, sang pria dimaki habis-habisan kemudian dilempar lem tikus.

Tapi yang ini berbeda.

Ibunya terlihat sangat ramah.

“Apa tanganmu masih sakit? Apa kakimu baik-baik saja?” Tanya Joo berulang-ulang. Yoochun mengambil kesempatan itu untuk mengamat-amati gadis itu lebih jauh lagi. Hidungnya mancung, tapi tidak lebih indah dari miliknya. Rambutnya tidak teramat bagus untuk dilihat, dan lagi di beberapa bagian, kusut tak terawat. Mata sang gadis memancarkan aura keluguan sekaligus keteguhan—sangat unik—yang dimanifestasikan oleh iris hitam jernihnya. Ia mengenakan kaus lengan pendek bermotif binatang yang sudah sobek-sobek dan memadukannya dengan celana jins warna kulit.

Singkatnya, tidak ada yang menarik dari gadis ini selain fakta bahwa Joo menyambut ramah kedatangannya.

“Kau sudah mendingan nih, Bung?” Jongsuk sudah duduk di ruang kosong yang Yoochun sisakan pada ranjangnya. Ia menjejalkan pantatnya yang ramping di sela-sela bantal dan selimut yang bertumpuk acak-acakan. Senyum riang terpeta di wajahnya.

“Menurutmu?” Kata Yoochun cuai.

Jongsuk melirik ke arah kain kasa dan perban yang melilit di pergelangan tangan Yoochun. “Sudah ganti jadi perban tuh?”

“Daritadi juga perban kok,” sergah Yoochun.

“Tidak. Nih aku beritahu karena kelihatannya kau masih tidak tahu apa-apa,” Jongsuk mengacung-acungkan jarinya ke arah lilitan perban di tangan Yoochun kemudian menuntunnya untuk sama-sama memerhatikan gadis yang tampak sangat bingung di sisi Joo. “Gadis itu menyelamatkanmu. Pokoknya saat ia tahu kau terluka, ia merobek bajunya dan melilitkan robekan itu di pergelangan tanganmu. Makasih deh buat dia, soalnya aku tidak perlu donor darah banyak-banyak padamu.”

Yoochun baru saja akan mengatakan sesuatu namun Jongsuk sudah buru-buru meninggalkan ranjangnya dan menjauh hingga ke sudut ruangan di mana sofa sebuah berlokasi. Mimik wajahnya seolah mengejek Yoochun dengan kalimat gadis itu menyelamatkanmu loh, ayo berikan seluruh hidupmu padanya.

“Eh iya, ini anakku yang kau selamatkan, Park Yoochun. Dan Yoochun, ini gadis yang menyelamatkanmu, Kwon Yuri.”

“Park Yoochun,” katanya sambil mengulurkan tangan. Kalau bukan karena alasan selamat-menyelamatkan dia tidak akan repot bersikap non-Yoochun seperti ini.

“Kwon Yuri.”

Suara gadis itu menembus masuk ke gendang telinganya dengan lembut. Ia tidak memiliki kontur suara yang dalam, juga tidak terlalu ringan. Suaranya benar-benar terdengar renyah dan membuatnya ingin mendengar berulang-ulang. Dan entah mengapa, juga familier di telinga Yoochun.

Yuri melirik Yoochun sambil diam-diam mengoloknya. Sejak ia menargetkan Lee Jongsuk sebagai pria yang akan dicintainya, mau tak mau Yuri juga memerhatikan bagaimana Park Yoochun melakukan kesehariannya. Bisa dibilang, dibanding kelihatannya, Yuri sudah mengetahui apa saja kejelekan pria itu.

“Jadi Yuri, di mana kedua orang tuamu? Apa mereka belum tahu kau terluka?”

Satu cobaan menghadangnya. Yuri tidak berpikir sampai sejauh itu. Benar juga, sekarang ia adalah manusia yang kasat mata dan wajar jika harusnya ia memiliki keluarga. Kalau Yuri hendak bicara soal keluarganya sedang di luar negeri dan sebagainya dan sebagainya, ia takut kalau pertanyaan yang akan diajukan oleh Joo bisa lebih kompleks lagi.

Yuri memilih cara paling aman,

“Aku… aku tidak tahu siapa orang tuaku, juga di mana aku tinggal. Maaf aku tidak bisa membantu.” Yuri berbohong. Yah, termasuk kebohongan pertamanya sejak ia jadi manusia kembali. Joo dan suaminya nampak bertukar pandang sejemang. Sedangkan Jongsuk di sudut ruangan mulai tersenyum dan mengeja kata amnesia itu seru tanpa suara.

“Makanya tadi aku buru-buru ingin keluar dari sini, aku tidak ingin merepotkan siapa pun.” Yuri masih berakting. Sepertinya ia cukup jago di bidang itu. Joo nampak cemas, ia bahkan menggandeng lengan suaminya keluar dari kamar pasien, meninggalkan hanya Yoochun, Jongsuk dan Yuri di sana.

“Jadi, kau amnesia? Tidak ingat apapun?” Tanya Jongsuk begitu ketiganya disergap keheningan.

“Oh… kecuali nama, iya.” Jawab Yuri dengan keyakinan yang dibuat-buat. Dari balik selimutnya, Yoochun memerhatikan Yuri, masih berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar suara itu.

“Tapi kau tidak terlihat seperti pasien amnesia.” Balas Jongsuk lagi

“Apa aku perlu berjalan-jalan dengan stempel aku ini amnesia di jidatku?”

Jongsuk tertawa, menyemburkan air mineral yang tadi ia tenggak. “Kau ini menarik.”

“Semoga dalam hal positif,”

“Tuh kan!”

“Apa?!”

“Kalian bisa diam tidak?!” Yoochun perlahan menurunkan kedua telapak tangan dari telinganya. Ia beralih pandang dari Yuri ke Jongsuk dan sebaliknya hingga tiga putaran penuh. “Aku sedang sakit, oke? Lagipula, Non, terima kasih untuk kerendahan hatimu dalam menolongku. Aku tidak tahu apa yang direncanakan kedua orang tuaku, tapi apapun itu kumohon kau tidak perlu repot-repot menyetujuinya. Ada hal-hal buruk dalam setiap rencana ibuku,”

Serius, Yuri tidak pernah bisa mendengarkan kalimat yang panjang dari bibir orang asing. Park Yoochun inilah yang pertama. Ia memiliki semacam aura mengerikan yang bisa membuat Yuri tertelan kehampaan.

“Oh, Kak ayolah! Tidak lagi menyebarkan imej yang bukan-bukan soal ibu!”

Dan Lee Jongsuk, adalah obat penawarnya. Sepertinya memang kedua pria ini sudah ditakdirkan melengkapi satu sama lain.

“Kau tahu benar seperti apa ibu, Jongsuk. Dengan membawa gadis seperti ini kemari saja aku sudah bisa membaca rencananya,”

Oke.

Yuri tidak memiliki masalah jika ia menjadi pusat perhatian saat ini. Tapi dengan menyebutkan gadis seperti ini, Park Yoochun agaknya memiliki hal-hal yang harus diselesaikan dengan Yuri.

“Permisi, bapak-bapak,” Yuri meninggikan suaranya agar terdengar oleh kedua orang yang tengah beradu mulut. “Hei Tuan Park, gadis seperti ini maksudmu yang seperti apa? Iya aku memang kehilangan ingatanku tapi aku tidak kehilangan perasaanku. Kau ini pria yang kasar, sungguh.”

Yoochun terdiam—mungkin agak terkejut sedikit. Sementara Jongsuk terkekeh pelan.

“Kau juga, Tuan Lee! Berhenti mencurigaiku dan berpikir aneh-aneh, kau ini pria tengik. Kalian ini benar-benar pria berengsek.”

Yuri meraih sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri. Diayunkannya benda mungil tersebut di sisi kanannya. Ia menargetkan wajah Park Yoochun—yang kini berada di balik selimut, berlindung. Saat benda tersebut hampir melayang lepas dari tangan Yuri, pintu menjeplak terbuka, menampilkan Joo dan suaminya yang tergopoh-gopoh masuk.

Ponsel mahal itu melayang ke bawah, mencium lantai dengan hentakkan keras. Baterainya terpisah dari kerangka mesinnya diikuti dengan retakan melintang di layar yang kini sudah sehitam jelaga. Jika ada yang harus marah, maka itu adalah Joo—ponsel tersebut miliknya.

Alih-alih marah, Joo memandang kerangka ponselnya dan tertegun sebentar. Salivanya bergerak turun melalui kerongkongannya saat kening Joo mulai berkerut. Lee Sang Yoon, acuh tak acuh, berdiri di belakangnya tanpa melakukan gerakan-gerakan di luar kendali. Ia memandangi Yuri dengan tatapan iba dan menutupnya dengan dehaman pelan.

“Nona Yuri, kami sudah berbicara dengan pihak rumah sakit, soal kau. Sebagai balas budi atas pertolonganmu, kami akan membantu menemukan identitasmu jadi sampai saat itu, aku dan istriku sepakat akan membawamu ke dinas sosial untuk—“

“Tidak,” Joo memotong kalimat suaminya. Keduanya berpandang-pandangan dengan intens selama dua sekon sebelum akhirnya Joo mengabaikan pria itu seutuhnya. “Nona Yuri tidak akan kemana-mana. Ia baru saja menghancurkan ponsel yang baru aku beli.”

“Apa? Eh, Sayang, tapi kita sudah sepakat untuk—“

“Membawanya ke dinas sosial? Jika dan hanya jika ponselku tidak seperti ini. Lagipula itu idemu, bukan ideku.” Sergah Joo.

“Tapi, katamu lagi kau tadi—“

“Pokoknya,” Joo lagi-lagi memotong pembicaraan, maniknya memicing pada Yuri. “Kau harus mengganti ini.”

Mengganti sebuah ponsel milik Nyonya Joo? Kedengaran tidak terlalu buruk ketimbang dipaksa tinggal di dinas sosial—seperti yang ia sebut-sebut tadi. Yuri belum memikirkan soal berapa banyak uang yang harus ia hasilkan untuk membeli kembali ponsel wanita paruh baya itu, namun agaknya tak jadi soal. Lagipula, ia punya Bobby yang—barangkali—bisa membantu.

“Maafkan aku Nyonya, tapi aku janji akan menggantinya jika kau memberiku waktu,” Yuri berujar selembut yang ia bisa. Saat ia menundukkan kepala, telinganya menangkap suara cibiran rendah dari Jongsuk di pojok ruangan. Iya berengsek, awas saja kau!

“Nona Yuri kau orang yang baik,” Joo memujinya kemudian ia menjatuhkannya di saat yang nyaris bersamaan, “Tapi aku belum sepenuhnya memercayaimu. Kau amnesia yang bahkan tidak tahu tempat tinggalmu, dalam kondismu yang sekarang, aku ragu kau bahkan memiliki cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit. Jadi, agar kau dan aku berdamai, kau harus tinggal bersamaku.”

Yoochun hampir memuntahkan kembali air liurnya. Dia tidak salah dengar kan?

“Aku harus mendapatkan jaminan agar ponselku kembali, dan karena kau menggelandang, lebih baik kau tinggal bersamaku. Tidak lama kok, hanya sampai kau bisa mengganti ponselku.” Joo memaparkan. Sang Yoon nampak tak senang, ia menyenggol bahu Joo secara terang-terangan yang disambut Joo dengan sebuah injakan sepatu super kilat.

“Suamiku nampaknya sangat antusias.” Komentarnya.

“IBU!” Yoochun memrotes keputusan ibunya, diiringi desahan panjang dari Jongsuk yang kini sudah mulai berjalan ke sisi kakak tirinya. “Apa ibu tahu apa yang baru saja ibu katakan?” Tambah Yoochun, kali ini diiringi anggukan massal dari Sang Yoon dan Jongsuk.

Joo tertawa, ia membuka tangannya lebar-lebar dan berjalan mondar-mandir. “Oh iya,” ia menjentikkan jarinya. “Apa aku perlu mengulangnya lagi?”

“Ibu sudah gila ya?!” Kali ini Jongsuk melakukan konfrontasi. Ia membusungkan dada, memasang wajah super emosi dan memajukan bibirnya semaksimal yang ia bisa. Kendati demikian, nyalinya menciut ketika ibunya memelototinya tanpa kata.

“Jadi, Yuri?” Joo mengalihkan pandangannya dari Jongsuk pada Yuri. Kejutannya, ia memandangnya dengan air wajah yang lebih kalem, seolah gadis yang di hadapannya bukanlah gadis yang sama dengan yang sudah menghancurkan ponselnya. Joo jelas menunggu jawaban ya keluar dari bibir Yuri, tapi jika yang keluar adalah kata tidak, ia masih memiliki seribu satu cara lagi yang akan membuatnya memenangkan perdebatan terselubung ini.

“Ya ampun Ibu, itu hanya ponsel! Hanya ponsel!” Yoochun menegaskan. “Ibu hanya memberikan gadis ini semakin banyak saja keuntungan dengan membiarkannya berada di rumah kita.”

Yuri melirik pedas ke arah Yoochun. Entah mengapa ia tidak suka dengan kalimatnya barusan, seperti harga dirinya dijatuhkan ke palung Mindanao—meskipun itu cukup jauh dari Seoul. Sang gadis juga mendapatkan insting soal betapa Park Yoochun membencinya untuk alasan yang tidak ia ketahui. Sesuatu yang pedas serupa cabai tiba-tiba saja membakar dadanya. Belum pernah ia merasakan ini sejak ia berkelana sebagai roh dan kini ia diberi kesempatan seperti itu; balas dendam.

Yuri pernah diberitahu oleh Bobby kalau yang namanya balas dendam para manusia dibagi menjadi beberapa level; biasa saja hingga kelewat luar biasa. Dan Yuri, memilih level medium, yang artinya ia harus melakukan apa yang Yoochun tidak suka dan menunjukkan pada pria itu bahwa ini adalah podium nomor satunya.

Oke, sudah diputuskan.

“Aku bersedia kok,” kalimat Yuri bagai petir yang menggerayangi tubuh Yoochun dalam sekejap. Visi-visi buruk sudah dilihatnya bahkan sebelum kejadian yang sesungguhnya dimulai. “Aku akan bekerja keras untuk mengganti ponselmu, Nyonya dan sebagai jaminan aku tidak akan kabur, aku bersedia tinggal di rumahmu. Itu cukup adil bagi kita.”

Joo tersenyum yang disambut sebaliknya oleh tiga pria lain. Jongsuk mendadak osteoporosis. Ia terduduk lemah di ranjang Yoochun dan mendesah panjang. Yoochun memandang ibunya dengan tatapan tak percaya, mencoba menukar pendapat mereka lewat isyarat kedipan mata.

“Oh, begitu ya.” Sang Yoon mencoba menetralkan suasana. Dahulu ia menikahi Joo karena merasa wanita tersebut berbeda dari wanita kebanyakan, dan oke, ia memang berbeda. “Nona Yuri, aku harap kau mengikuti aku sebentar, ada administrasi rumah sakit yang harus kau urus sebelum kau pindah ke rumah kami.”

Dengan itu, keluarlah Sang Yoon dan Yuri, sekali lagi meninggalkan Jongsuk dan Yoochun yang terbengong-bengong satu sama lain.

Joo memungut ponselnya, kemudian meletakkan baterai pada slot kosong yang sudah hampir penyok di bagian belakangnya. Ia membolak-balik benda tersebut sembari sesekali terkekeh-kekeh ringan.

“Maaf ya, ayahmu tidak setuju membawa gadis itu tanpa alasan ke rumah tapi syukurlah akhirnya datang alasan bagus seperti ini.” Ia menjelaskan.

“Wah,” Jongsuk bertepuk tangan setengah hati. Ia kini tahu alasan mengapa dirinya pandai sekali berbohong dan menipu. “Ibu benar-benar merencanakan semua ini dengan sempurna.”

“Iya dong!”

“Padahal bisa saja Ibu membeli ponsel baru lagi kan?”

“Aku terlalu suka pada ponsel lamaku, sudah lima tahun terakhir aku tidak ganti.”

Kepala Yoochun mendadak berputar hebat, “Tadi kau bilang pada Yuri, ia menghancurkan ponsel barumu! Jika sudah lima tahun kau tidak membeli ponsel, jadi tadi—Wah, ibu, kau sungguh-sungguh penipu ulung.”

Joo mengedikkan pundaknya, “Aku tidak punya pilihan. Aku harus membawanya ke rumah. Dan kalian, para pria pengacau, berbaik hatilah padanya.”


tbc.

How is it?

i will reply all of ur comments on MoS’ previous chapter soon, for now lets leave another one here.

39 thoughts on “Melody Of Silence #2

  1. bintang virgo berkata:

    Hahahah
    yoochun dan jongsuk cute
    ga bisa deh bayangin gimana syoknya jongsuk dan yoochun
    Eommanya tiba tiba mengajak seorang wanita ke rumah mereka..
    dan gimana marahnya yuri atas tatapan yoochun…

    Daebak kak ditunggu part selanjutnya
    sama ff lainnya ya kak… ^_^

  2. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Haha.. Cuma karena ponsel doang? Harus tinggal bareng deh, duh pasti seru tuh, bakal bnyak keributan, ditunggu chapter selanjutnya^^

  3. Cho Aulia berkata:

    Wowowow.. Penasaran gimana pas Yuri tinggal sama 2 cowok cakep🙂 ditunggu ch selanjutnya kak nyun.. Fighting!

  4. Stella Kim berkata:

    HAHAHAHHAHAHHAHAHA lucu wkkwkw
    as always ff kak nyun selalu bagus! gatau mesti comment apa lagi kak…
    udah lah semangat aja ya kak! fighting buat semuanya lah ehehehe

  5. SSY_ELF berkata:

    udah ada part 2 nya…. yeay!
    ooh, ternyata yang baju putih kemaren emang yang di dunia nyata /?
    apa lagi ini, ‘jawaban super dari Bobby’ dan ‘Om Google’ ya dah ibob..
    jadi cuma secara teknis Yuri hidup lagi ya *manggut2*
    Yuri-Jongsuk-Yuchun demi apa aku kangen Yuri-Yuchun tapi lagi2 seperti ff the stewardess kamu memberikan pilihan orang ketiga yang super kak nyunnnn!!
    ya, walau endingnya aku masih belum bisa nebak pairingnya Yuri eonni siapa sih… tapi mungkin aku bakal kasihan liat Jongsuk :3 *klu gitu sama aku aja yuk oppa*

    omg! Joo emang ibu2 yang agak gimanaaaa… gitu -_- sampai segitunya bikin Yuri tinggal di rumahnya😀
    reaksi dua bocah itu, ya ampunnn.. hahahha ,, lucu
    gimana saat mereka udah tinggal satu atap ya, belum lagi tindakan2 gila dari Joo..
    duh pasti greget…

    ditunggu next part eonni.. Fighting!
    See ya~

  6. wulan berkata:

    ya ampun…. lagi seru-serunya eh malah TBC. penasaran bagaimana kehidupan yuri dg dua namja itu.. next chap. d tunggu kaknyun.
    semangat.!!!

  7. lizanining berkata:

    sekalian komen yg kedua yakak soalnya udah baca juga,
    susah milih kak knp pairnya jongsuk-yoochun sichh TT
    ini bakal berapa part kak? plis yuri jgn salah fokus hahahahaha
    hwaiting kaknyun

  8. mellinw berkata:

    Aku lupa harus kirim komentar apa kmarin, tapi ini suer unik bangeeeet kaaak .

    Ff kakak satu ini uniiik banget,
    Aku entah kenapa ngebayangin joo (mama yoochun-jongsuk) adalah mamanya cowok yg suka sm shin hye di drama pinochio (efek aku gatau namanya hahaha),

    Seneng akhrnya blog kakak rebes juga😀 , dtunggu ff slanjtnya kak🙂

  9. Tansa berkata:

    Wow applause buat Nyonya Joo😀
    Part ini bikin ketawa sendiri pas bacanya😀
    Banyak bagian-bagian yang lucu😀
    Tiap kalimatnya juga ringan banget😀
    Dan sepertinya ff yg satu ini bakalan jd favorit ku😀
    Di tunggu kelanjutannya kak😉

  10. zcheery berkata:

    lol, ibunya yakin banget kalo yuri itu gadis yg dimaksud ramalan/? wkwkwk😂😂
    kalo misalnya bukan yuri gimana nyonya joo? tapi kalo memang yuri yang dimaksud yah ini cerita bakalan menarik 😆
    daebbak kanyun~ thx for your story ^^ fighting ne, keep writing God bless!😊

  11. mutia arizka yuniar berkata:

    wahhhhhhhh ga kebayang itu jongsuk yoochun xD penasaran sama next chaoter nyaaaa, keep writing kak! semangat!

  12. Hn_avy berkata:

    Ahahahah..itu mama’ny Jongsuk ama Yoochun oppa bikin ktawa-tawa ngakak..

    Terhibur bgt dgn sosok mama’ny kakak beradik itu dan juga si Jongsuk yang gak ada bedanya ama mama’ny.

    Itu Yuri msih ada niat buat jatuh cinta ama Jongsuk gak y?

    Next chap ditunggu y kak ^.^

  13. sinta dewi berkata:

    kyaaaaa…yuri jadi manusia….ahhh jd makin penasaran…gimana reaksinya keluaga itu ya kalau tau yuri itu roh yg tersesat….

    btw punya ema kaya gitu yoochun ma jongsuk pasti sering jantungan mendadak gegara ide2nya yg rada2 eeerrrrr…

  14. Shin Min Mi berkata:

    sumpah suka banget ma ini yun,,, hiburan bgt kata”nya. omongannya jongsuk yg dibilang ibunya “Kau masih kecil,” tapi malah ngejawab dgn sok polosnya “Tapi aku sanggup membuat anak kecil.” OMG -___- dan bobby dgn kurang ajarnya berani bikin yuri cengo kkkk itu bobby ikon bukan si? itu yoochun anak angkat kan, tpi knp sebutannya ibu jongsuk itu ibu tirinya yoochun? ini keluarga somplak, kasian bapaknya yg ga tau apa”😀 dapet julukan baru lagi mereka “pria pengacau”
    bacanya marathon, abis ini langsung ke part 3, makasih ya udah balik lgi bikin ff genre gini ^^

  15. Autumn Hwang ツ berkata:

    Annyeong.. lia imnida .
    Salam kenal. ^^
    kalo misalkan aku punya keluarga macam ini, pasti di jamin hidup ini bakalan tentram. -minus kelakuan jongsuk- ibunya gaul sekaleeee…
    Hhaha. .
    gak nyangka kalo nyonya joo bakalan milih ide itu buat nyuruh yuri tinggal di rumahnya. daebak kak nyun idenya.
    See you ^^

  16. minaina berkata:

    “Tapi aku sanggup membuat anak kecil.”
    HAHAHA yaampun demi apa Jongsuk TT__TT
    ah..suka sama karakternya Jongsuk disini🙂 sok polos + nyebelin >.,<

  17. baekpear berkata:

    Kak Nyun! Hai!
    Hehe bukan yang pertama sih main ke blog anda, tapi baru pertama komen! Duh maapkan saya😦

    Oke, aku udah baca chap sebelumnya, tapi belum sempet komen. Tapi janji kok bakal komen, aku pen lepas jadi siders soalnya hehe
    Dan jongsuk disini itu agak nyebelin ya? Haha aku ngakak pas dia bilang sanggup bikin anak. Saoloh😄
    Tiap aku baca dialog sing jongsuk itu selalu dapet feel nya. apa karena keseringan liat om jong di drama ya,?
    Kadang sampe ngulangin dialog jongsuk sampe pake mimiknya segala😄

    Euhmm, gatau mau komen apa lagi.

    Kalo gitu udah dulu ya nyunsen,
    .. meluncur ke next chap~

    Pat

  18. Lulu Kwon Eun G berkata:

    ah aq baru baca skrg.. ><
    kyaaa keluarga somplak, itu emak.a jongsuk napa sh kak nyun? hha seru..😀
    knp juga Yoochun d depan Yuri kek gk suka gitu..? hmmp penasaran dah..
    izin lnjut ya kak Nyun..

  19. beebubblee berkata:

    Kerennnn ><
    Itu ceritanya yuri udh jadi manusia atau belom sih? Si bobby bikin kacau persepsi aku nih u,u hahaha
    Maksudnya secara teknis dia udh jadi manusia, tapi sebenernya dia masih jadi roh? Jadi dia masih tetep diambang hidup dan mati dong? Bener kan? '-')a

    Nyonya joo nya juga licik banget xD
    Ngebayangin klo punya nyokap kayak gitu, dipastikan akan stress dan lucu juga sih… Apalagi menyangkut tingkah lakunya hahaha
    Hwaiting ^^)9

  20. kiyuroo berkata:

    “Kau masih kecil,”
    “Tapi aku sanggup membuat anak
    kecil.”

    duh aku ngakak baca itu haha. Iya deh bang jongsuk. kau sudah dewasa.

    dan omong-omong dengan Joo. dia ko agak serem ya? tipikal orang yang akan ngelakuin apapun biar kemauannya tercapai.

    wow

    lanjut chap 3😀

  21. yul89s berkata:

    Bingung mau komen apa pagi
    Cast cowo ga ditambahin eon? Kkkk
    Itu ibu joo ato sapalah-lupa. Bikin greget terus hmm

  22. Tarhyulk berkata:

    “Kmu msih kcil” , “tpi aq sdah mmpu mmbuat ank kcil” hahahaha .. Sumpah ngakak …
    Nyoya Joo bleh jga , pintar bnget boongx hehee ^^ izin yah k part slnjutx ^^

  23. nalyyullie berkata:

    Waaaa…yul will be live together with yoochun n jongsuk…
    Boys’s mom so funny..
    Loll yuri n yoochun already start bickering…
    Love yul’s character here…

  24. joohyun berkata:

    aduh-aduh… yoochun omma emang the best!! hahaha.. bisa” kepikiran handphone yg rusak dijadiin alasan biar yuri mau tinggal sama yoochun😀 lol~
    ;A; pasti ada sesuatu nih sama yulchun.. masa lalu mereka mungkin?
    ;A; bikin penasaran tingkat dewa pokoknya~

  25. chunniee berkata:

    HAHAHAHA ada2 aja itu umma nya, alesannya gaje bgt xDDDDD

    Anyway cap3 di protect ya? Terus kalo mau lanjut gmana dong? 😭😭

  26. @kyunabumik berkata:

    joo ngebet bnget pengen nikahin yoochun :v
    jongsuk ngebet bnget pengen nikah:v . ini comedy mnurut ku (?) Semangat terus kaknyun *-*

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s