Melody of Silence #5

melody-of-silence

Melody of Silence, The Fifth Chapter :

Park Yoochun dan Hantu Hippie

“Park Yoochun tak tahu mana yang lebih seram: Ibunya atau Hantu Hippie tadi malam.”


“Darimana saja kau Jong—ah… Yuri?”

Joo punya kebiasaan untuk menyambut kedatangan anak-anaknya di ruang tamu. Tapi malam itu ia terkejut sekali. Pasalnya, Yuri datang dengan cara jalan yang aneh, pula bersama Jongsuk. Joo telah diberitahu Yoochun soal Yuri yang akan datang terlambat ke rumah, hanya saja ia tak menyangka bahwa sang gadis akan datang bersama-sama dengan Lee Jongsuk.

Apa itu berarti sesuatu bagi Joo?

Ya.

“Maafkan aku Nyonya Joo, aku pulang terlambat.” Yuri membungkuk sopan.

“Tidak masalah. Tapi cara jalanmu barusan, ada yang salah dengan kakimu?” Yuri melirik penuh arti pada Jongsuk, memancing dehaman singkat nan canggung dari pria itu.

“Hanya luka kecil, kecelakaan kerja di hari pertama Nyonya.” Jawab Yuri lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah dibanding sebelumnya. Rupa-rupanya Yuri sudah kehilangan hampir seluruh energinya. “Kalau aku diizinkan, aku mungkin akan ke kamar dan beristirahat.” Pintanya.

“Kau tidak akan makan malam?” Tanya Joo khawatir.

“Terima kasih, Nyonya. Aku—aku sudah makan di luar.” Yuri mengulas senyum palsu di bibirnya. “Aku pergi ke kamar dulu.”

Perjalanan pendeknya dari lantai satu ke lantai dua ternyata tak semulus yang ia pikirkan. Selain kesusahan karena luka melintang di kakinya yang kini telah dibebat oleh perban, Yuri juga disibukkan dengan picingan netra tak suka dari Yoochun jauh di muara tangga yang membuatnya tak habis pikir. Jika ia adalah Yoochun, maka sudah daritadi dirinya berada di muara tangga alih-alih memandangi gadis amnesia yang kesusahan menapaki anak tangga satu per satu.

“Ah kau ini!” Suara Jongsuk menembus telinga Yuri sebagaimana tangannya yang kini berada di pinggang sang gadis. Entah bagaimana, Jongsuk berada di sana, memandunya menapaki anak tangga di bawah konsentrasi penuh dari netra Yoochun. “Bilang dong kalau kau masih kesusahan berjalan. Aku kan bisa membantu.” Protesnya lugu.

Yuri dipapahnya hingga ke depan kamar setelah sebelumnya keduanya melewati Yoochun seperti ia bukan pria yang kelihatan. Di depan pintu putih tulang yang merupakan gerbang ke petilasan malamnya, Yuri berkata lirih soal terima kasih dan basa-basi lainnya. Ia juga meminta Jongsuk agar merahasiakan pertemuannya di pub malam serta berjanji akan mengatakan alasan mengapa ia berada di sana suatu hari padanya. Yuri sudah dirambati banyak pemikiran soal hal-hal tidak logis dan serba mendadak yang menimpanya bertubi-tubi sepanjang dua hari terakhir, beruntungnya Jongsuk seolah paham akan hal tersebut. Diraihnya pipi Yuri di antara kedua tangannya, kemudian ia merendahkan tubuhnya setinggi Yuri.

“Kau akan baik-baik saja. Ingatanmu pasti akan kembali.” Ujarnya ditutup dengan lengkungan manis di bibir. Jongsuk mengacak-acak rambutnya seakan di antara keduanya tidak ada rentang usia—toh siapa yang peduli, memangnya roh masih punya hitungan usia—membuat Yuri mau tak mau tersipu malu. Biasanya ia hanya melihat Jongsuk sebagai pria tampan nan bodoh yang ahli membuat wanita menangis. Hari ini kebalikannya. Ia melihat dari sisi lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Diakuinya, Jongsuk cukup menawan.

“Tidurlah, nanti kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku. Ketuk saja pintunya, oke?” Jongsuk berbicara soal kamarnya yang berada tepat di sebelah Yuri. Sang gadis tentu sangat bersyukur soal itu, tapi apa pun bantuan terbaik yang diberikan Jongsuk saat ini padanya, tentu tidak akan membuat Atropos berhenti berencana untuk membunuhnya.

Yuri jadi bertanya-tanya. Apabila nanti malam ia mengetuk pintu kamar Jongsuk dan memintanya untuk menjadi kekasihnya, apakah ia akan membantu?

.

.

Semalaman itu Yoochun tidak bisa tidur. Koreksi, ia hanya tidur selama dua jam pertama sebelum mimpi-mimpi buruknya muncul dan membuatnya susah untuk sekadar membaringkan diri di atas kasur empuk miliknya. Saat ia bangun, jam meja digitalnya menampakkan angka 01:23—kebetulan?

Mimpinya berkutat soal seorang pria tua yang menampakkan diri dalam kabut. Visualisasinya agak kabur karena sang pria tua terus menerus tertelan kabut dan muncul kembali ke permukaan setiap lima detik sekali. Ia mengatakan sesuatu soal nasib buruk dan penyelamatan namun Yoochun tak begitu mendengarnya. Gemuruh angin selalu saja membuyarkan suara tersebut dan membuat suara komplementer tidak perlu seperti: gemerisik dedaunan kering, suara pertengakran dua orang anak kecil dan suara seorang gadis yang berteriak.

Mimpinya tidak seseram ditelan Anaconda atau dikejar Paus hamil tua, akan tetapi visi itu memberikan Yoochun kengerian tersendiri. Ia tidak bisa menguasai dirinya untuk tetap terlelap karena ia takut mimpi tersebut menyerangnya kembali.

Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat itu adalah terjaga dan kopi adalah jawabannya.

Jika beruntung, Yoochun akan menemukan secangkir es kopi yang didiamkan sang ibu di dalam lemari pendingin. Ibunya punya adiksi kuat terhadap kopi yang mengalahkan adiksinya terhadap hal-hal mistis. Kopi dingin di pagi hari adalah favoritnya dan Yoochun sekarang berniat mencuri itu.

Sayang, lantaran terlalu mencemaskan Jongsuk dan Yuri, sang ibu rupanya melupakan benda yang dicari Yoochun saat ini. Tidak ada kopi dingin di mana pun yang membuat sang pria terpaksa harus membuat secangkir kopi panas untuk dirinya sendiri. Yoochun bergegas angkat kaki ke dapur dengan suara langkah yang dipelankan. Diraihnya sebuah cangkir kecil dan dua buah toples yang masing-masing berisi gula dan bubuk kopi dari dalam lemari penyimpanan milik Joo. Yoochun menakar kopi dalam sebuah sendok kecil terlebih dahulu sebelum menumpahkan isinya ke dalam cangkir. Pria itu juga menambahkan sedikit gula, ia tidak terlalu menyukai segala sesuatu yang manis. Sebagai sentuhan terakhir, dituangkannya air panas langsung dari dispenser yang terletak di sisi kanan dari lemari pendingin.

Tak ingin ketinggalan momen paling eksotis dari membuat kopi, Yoochun buru-buru menghirup aromanya dalam-dalam dan menikmatinya sekon demi sekon. Ia sangat perfeksionis untuk urusan kopi.

Secangkir kafein itu kemudian dibawanya pelan-pelan tanpa suara ke atas tangga. Pemuda itu tidak ingin membangunkan Joo atau ayahnya yang kini entah berada di mana di dalam alam mimpinya. Bisa repot kalau Joo bangun, bisa-bisa nanti dia akan merekomendasikan kue-kue kering atau kudapan lain untuk camilan. Yoochun kan sedang diet.

Sang pria berhenti di muara tangga. Ia menyembunyikan diri di balik tembok saat melihat pemandangan tak lazim di ujung lorong, tepat di depan pintu kamar Yuri. Seseorang berperawakan seperti pria berdiri di sana. Ia mengenakan topeng putih sewarna susu minus lubang di mata atau di bawah hidung, seolah-olah sang pembuat topeng tahu kalau si pria tak bernapas. Yoochun ingin mengindikasikan sang pria sebagai pembunuh berantai namun ia agak ragu dengan kaus kelonggaran dengan motif bunga yang seolah dicetak dari teknik celup ikat. Hanya pembunuh yang bodoh memakai kaus yang mencolok seperti itu. Pula, kaus tersebut dipadupadankan dengan rompi cokelat ala koboi yang memiliki rumbai di tepi bawahnya. Ia mengenakan jins longgar yang menjuntai hingga menutupi kedua alas kaki yang—mungkin—dipijaknya.

Pria itu berdandan ala hippie dengan aksesori tambahan berupa ikat kepala yang kelihatannya dibuat dari sulur-sulur rambat pohon tertentu. Tidak ada yang tahu.

Yoochun sempat merinding di balik tembok. Sososk pria hippie tersebut tak nampak bergerak sama sekali seolah mematung di depan pintu kamar Yuri adalah tujuannya sejak awal ia berada di sana. Sebelum kopi yang dibuatnya kehilangan suhu hangat idealnya, Yoochun memutuskan melakukan konfrontasi. Apa dan siapa pun yang sedang berdiri di sana, itu tidak akan membuatnya meminum kopi yang sudah dingin.

“Hei!” Seru Yoochun. Jangankan menoleh, yang dipanggil malah membalikkan badan. Yoochun memutuskan untuk mendekat dan pada saat itulah fokus netranya kabur entah bagaimana. Ketika ia sadar, sang pria hippie sudah tak lagi berada di sana, meninggalkan Yoochun dan cangkirnya yang kosong.

Aroma woody berkeliaran di setiap sudut dalam ruang udara yang dihirup Yoochun, membuat sang pria tiba-tiba merasa mimpi kakek tua berkabutnya jauh lebih baik dibandingkan pria hippie tadi.

.

.

“Kau begadang?” Yoochun mengenyahkan pandangan mengejek dari Jongsuk dalam sekali kibasan siku. Si pria yang hampir kena pukul tertawa pelan sembari mengunyah roti selai gosong miliknya. Bukannya tanpa alasan Jongsuk bertanya demikian, hanya saja melihat Yoochun yang biasanya rapih dan necis kini memiliki kantung mata yang bengkak, tentu di luar ekspektasinya. Entah bagaimana itu sangat lucu di mata Jongsuk.

Si pria yang menjadi bulan-bulanan tawa Jongsuk malah lebih banyak diam. Selain rasa kantuk yang tak pernah lekang dari matanya, dirinya penuh khidmat mengawasi gerak-gerik Yuri yang duduk tepat di seberang meja makan. Keduanya hanya dipisahkan oleh dua mangkuk sereal susu yang masih hangat dan satu toples selai kacang yang kini raib digeser Jongsuk.

Agak aneh baginya karena Yuri terlalu diam hari ini sampai ketika Yoochun menyadari bahwa gadis itu pucat sekali. Warna kulitnya yang tak terlalu terang kini berubah menjadi sepucat apel yang telah dikuliti dan ditinggalkan. Netranya pun tak fokus terbukti dari beberapa kali ia menciduk udara alih-alih serealnya.

“Kau oke, Non?” Joo mengajukan pertanyaannya pada Yuri namun entah mengapa Yoochun ingin berkata bahwa ia tentu sedang kenapa-kenapa. Gadis itu mungkin saja dihantui mimpi buruk soal pria hippie yang datang dan pergi tiba-tiba entah bagaimana. Apa lagi yang bisa lebih seram daripada itu memangnya?

“Aku… um… oke.” Jawab Yuri, linglung.

“Mungkin kalian bisa mengantarnya.” Perintah Joo. Biasanya Yoochun selalu menolak mentah-mentah segala aktifitas yang berkaitan dengan Yuri atau gadis mana pun di dunia ini yang memiliki keterkaitan dengan ibunya, tapi ia meloloskan yang satu ini tanpa protes. Pria itu tahu otaknya agak tidak beres dan ia tidak bisa menolongnya sama sekali. Lagipula ini tidak buruk-buruk amat, pergi ke kampus bersama seorang gadis amnesia yang berprofesi sebagai penjaga perpustakaan serta seorang pria terkenal yang gemar memacari gadis-gadis?

Enteng.

.

.

Tidak.

Tidak enteng sama sekali.

Segera setelah ketiganya turun dari mobil, sejumlah gadis berebutan untuk berada di sisi Jongsuk dan berjalan menyejajarinya sembari berteriak-teriak penuh kekaguman. Sementara sisanya, memicing tajam pada Yuri seolah Yuri adalah remah roti yang harus segera disingkirkan dari jas almamater mereka. Jika bukan karena Yoochun, maka sudah pasti gadis itu diseret ke toilet belakang dan diceramahi macam-macam sembari mandi jus jeruk.

Yoochun sudah berkali-kali melihat yang seperti itu.

“Loh, kalian gak ngajak aku?” Jongsuk membelah kerumunan dan melarikan diri saat Yoochun mulai berjalan bersama-sama dengan Yuri. Sebelum ia sampai di titik temu yang ia inginkan, Jongsuk sudah mulai dikerubungi lagi oleh para gadis, seperti lalat.

“Sepertinya ia tidak akan keluar dari sana sampai bel berbunyi,” Yoochun mengomentari. Ia melempar pandangan pada Yuri diam-diam. “Setidaknya kau aman, Non. Kerja sana.”

Yuri ingin sekali cepat-cepat pergi dari sisi Yoochun dan duduk manis di balik meja kerjanya dalam area perpustakaan, namun bukannya pergi, ia malah mematung di sana. Banyak alasan yang membuatnya urung melangkah, di antaranya soal wanita ber-crinolline yang terus saja mengikutinya sejak kemarin. Yuri tidak tahan dengan wajah hancur dan bau hangus yang terkuar sebagai paket lengkap dari sang hantu. Ia tahu bahwa tidak seharusnya roh mengikuti manusia seperti ini, jadi pasti ada sesuatu yang ingin ditunjukkan sang wanita hantu ini.

“Kau tidak bisa jalan ya?” Yuri baru sadar bahwa Yoochun masih berada di sana. Bisa saja ia mengatakan bahwa ia kini sedang ragu-ragu melangkah karena ada hantu Nona Belanda yang mengikutinya, tapi siapa yang akan percaya?

“Aku bisa kok.” Kata Yuri singkat sembari menunjukkan keahliannya berjalan terseok-seok. Saat kakinya sedikit tergelincir ia berujar, “Hanya belum mahir.”

Sang pria merasa bersalah. Ia bukan penyebab gadis tersebut menjadi seperti ini sih, cuma agaknya ia menyesal tidak membantunya lebih cepat dari Jongsuk. Peristiwa pria hantu hippie semalam membuatnya penasaran apakah penyebab gadis tersebut amnesia adalah si hantu?

“Aku bantu,” Respon pria itu kemudian. “Tapi sampai lorong dekat perpustakaan.”

Yuri tak bisa menolak lagi. Gadis itu masih belum terbiasa soal wajah hancur dari Nona Belanda yang terus mengekorinya jadi, dipapah oleh pria sampai depan perpustakaan itu ide bagus.

.

.

Bobby tidak datang hari ini yang mana itu semakin membuat Yuri gentar. Perpustakaan tidak sepi-sepi amat, namun si Nona Belanda masih saja betah berada di sampingnya, memelototinya. Jika ada Bobby, setidaknya ada yang mengajak sang roh bule ini mengobrol atau main kartu—siapa tahu.

Yuri teringat akan mimpinya semalam. Ia berdiri di jendela dari sebuah rumah besar, memandangi seorang wanita yang menangisi sesosok tubuh yang berbalut kain sampai sebatas leher. Wajah yang ditangisi tidak terlihat karena cahaya mentari yang menembus kaca-kaca dan memburamkan penglihatan Yuri. Namun entah bagaimana Yuri tahu bahwa yang terbaring di sana adalah seorang wanita. Rambutnya yang hitam dipilin sedikit-sedikit oleh wanita yang kini menangisinya, meraung memohon agar sang wanita yang terbaring cepat-cepat bangun.

Lalu pemandangan berubah menjadi kabut-kabut udara hampa. Yuri melayang di atas awan-awan dan mendarat di ujung tebing. Di seberangnya, ia melihat Madam Aika tengah membuka tangannya lebar-lebar dan tersenyum pada Yuri.

Takdirmu sudah ditentukan, mulai hari ini kau akan menemui berbagai hal tidak masuk akal. Kau harus bertahan. Ada dua orang yang harus kau waspadai : adikku, Atropos dan …

Saat itulah Nona Belanda datang menghantui paginya. Mimpinya berhenti sampai di sana sebelum ia mendengar bagian terpenting dari seluruh misinya. Jadi musuhnya bukan hanya Atropos. Ada seorang lagi entah dari mana yang kini mulai mengincarnya. Ia berharap, itu tidak ada hubungannya dengan sang roh Belanda ini.

.

.

“Kau memata-matainya, Atropos?” Yang ditanya tersenyum pada gadis muda yang kini berjalan mengitarinya dengan anggun, “Uh, oh. Maksudku, Yonghwa.”

“Cih,” sang pria berdecih arogan saat ia melepaskan kedua telapak tangannya yang bertaut satu sama lain, berpangku di atas meja. “Aku tidak suka nama itu, tapi apa boleh buat. Memata-matai bukan keahlianku, semalam saja aku hampir ketahuan, kau tahu.”

Gadis yang diajak bicara unjuk kebolehan atas deretan gigi-giginya yang bak pualam mahal. Sembari menggoyangkan wine di tangannya, ia mengoceh tentang bagaimana lucunya Yonghwa ketika ia pulang ke rumah dengan mimik wajah yang tak karuan.

“Dilihat oleh manusia itu kisah yang sungguh sangat lucu. Lagipula, atas dasar apa kau terpancing ke sana, Yonghwa? Ini tidak sepertimu.”

“Aku hanya penasaran,” sang pria menarik cerutu dari sakunya, memainkannya sesaat kemudian membakarnya sampai habis—sekadar main-main. “Rupa Calliope-ku kali ini.”

Kerongkongan sang gadis seperti terbakar saat ia meneguk wine-nya dalam sekali tembak. Wajar, itu bukan wine sungguhan, sedikit campuran dari wine Jerman tahun 1990 dan darah musang segar yang diimpor langsung dari Inggris. Campuran unik untuk seorang wanita muda nan cantik yang berpenampilan bak Taylor Swift.

“Aku bertemu dengannya dan ia cukup cantik. Meski harus kuakui gaya busananya sangat payah.” Komentarnya.

“Kau seharusnya tidak mengatakan itu pada pria yang punya sejarah kutukan panjang dengan Calliope. Tapi yah, sudahlah. Omong-omong, bagaimana soal pria-pria yang disiapkan Lakhesis—kakakku—soal takdir dan sebagainya. Kau bertanggung jawab soal ini.”

Sang gadis tertawa. “Ha! Aku hampir lupa mengabarkan. Dua pria berada di dekat sang gadis saat ini, yang satu terlihat tak peduli dan satu lagi, yah, playboy. Kau tahu istilah itu. Kalau kau ingin mendapatkan Calliope-mu, maka inilah saatnya.”

Sang pria nampak tak setuju. “Lakhesis mengirimkannya bantuan.”

“Roh Nyonya Belanda?”

“Ya. Lakhesis sepertinya tahu kita bekerja sama. Ia melindungi Calliope. Itu sebabnya aku tidak bisa menembus kamarnya tadi malam. Sungguh kakak yang payah.”

“Perlindungan itu hanya sementara. Paling lama, sore ini. Aku sangat tahu Lakhesis, dia dewi takdir yang tidak lebih baik dari aku. Huh! Harusnya aku yang berada di dalam posisinya. Aku bosan jadi dewi keberuntungan.”

Yonghwa memicing, “Kau masih mendendam soal itu? Soal posisi dewi takdir?”

“Kau pikir untuk apa aku rela bergabung dengan dalam rencana tolol ini, Tuan Jenius?” Balasnya sarkastik. “Lakhesis dan Klotho tidak akan kumaafkan. ‘Dewi takdir’ itu milikku!”

Yonghwa memutar bola matanya seolah berkata terserahlah. Sementara sang gadis kini menatap ke ujung ruangan dengan bengis, seolah tembok yang kokoh itu telah meludahinya dan membuatnya sangat teramat marah.

“Sementara ini, lakukan tugasmu dulu. Jauhkan pria mana pun dari sisi Calliope sampai aku berada di dekatnya. Kau mengerti, Tikhe?”

Yang ditanya tampak mengangguk dengan linglung. Sementara Yonghwa terkekeh di hadapannya, “Sorry. Maksudku, Clara. Omong-omong aku suka nama barumu.”

.

.

Jongsuk sedang dalam krisis kebosanan tingkat payah. Tidak biasanya ia mengabaikan perhatian para gadis seperti ini. Penyebabnya adalah amukan dosen soal tugas yang tak kunjung diselesaikan olehnya selama dua minggu. Yah, meski ia tidak peduli tapi itu membuatnya kesal juga. Pasalnya sang dosen botak berkacamata dobel tak enggan memarahinya di depan umum, menggetok kepalanya dengan buku serta menyumpah-nyumpah soal bagaimana nilai F akan memenuhi seluruh transkrip nilai mata kuliahnya semester ini.

Cukup buruk.

Seakan belum cukup buruk, si Dosen Botak memberinya dua lembar kertas folio bergaris dan memerintahkan Jongsuk agar menyelesaikan satu lagi tugas essay tambahan untuk membuat nilai F nya naik dua atau tiga level. Sang pria cuma punya satu pilihan, yakni mencari Yoochun.

Namun pria itu malah terdampar di perpustakaan yang merupakan tempat ke-10 dari daftar tempat terburuk yang pernah ia kunjungi. Yoochun berjanji menemuinya di sana namun sampai sekarang yang berjanji tak juga menampakkan diri. Malahan, para gadislah yang kini mulai berdatangan, diam-diam duduk di bangku-bangku sekelilingnya, memerhatikan dari balik dinding pemisah.

Membosankan.

Dilihatnya Yuri yang duduk dan bekerja layaknya robot di balik meja petugas administrasi. Kalau menyingkirkan hal-hal aneh dari Yuri, seperti ia yang selalu terlibat kecelakaan kecil atau fakta bahwa ia hilang ingatan, agaknya Yuri cukup menarik juga. Dari kemarin ia ingin menanyakan soal kebiasaan buruk sang gadis yang suka berbicara sendiri, namun ia takut itu akan memengaruhi pandangannya pada gadis tersebut. Itu tidak keren soalnya Yuri cantik!

Nah, bicara soal cantik, kenapa ia tak segera mendatanginya dan mengajaknya berbincang ringan. Tentu itu tidak akan membuatnya dikeluarkan dari pekerjaan kan?

.

.

Yuri sudah punya firasat buruk sejak kedatangan Jongsuk di dalam area perpustakaan. Pertama, karena itu sungguh sangat tidak terduga dan kedua, sang Nona Belanda bergerak-gerak resah tatkala si pria mendekat ke mejanya.

“Halo, Non.” Sapanya, diiringi dengan kedipan sebelah mata yang menggoda. Yuri hampir terpengaruh jika ia tak ingat ada roh muka hancur yang berdiri tepat di sebelahnya. Ugh, sungguh, mau sampai kapan roh itu ada di sisinya?

“Ada yang bisa kubantu?” Balas Yuri tak kalah ramah, namun siapa pun tahu ia hanya berpura-pura.

“Sebenarnya ada sih tapi aku ragu kau bisa membantu. Aku dihukum membuat essay, Non. Kalau kau tahu dari mana aku harus memulainya, sebaiknya kau beritahu segera.” Jongsuk mengetuk-ngetukkan buku jarinya di atas meja. Ia menarik kursi yang bertengger di hadapannya dan mendudukinya segera setelah mengepaskan posisi dengan pantatnya.

“Jadi, apa kakimu masih nyeri?” Tanyanya.

“Tidak begitu. Kurasa aku sudah agak mendingan.”

“Oh, lalu kenapa kau betah memojokkan diri?” Jari Jongsuk teracung ke area kosong di sebelah Yuri—setidaknya, kosong di mata pria itu saja. “Area kerjamu di belakang meja seluas itu dan kau memilih tempat yang terlalu ke pojok?”

Yuri melirik hati-hati ke arah roh Belanda yang masih memelototinya dengan menyeramkan. “Um, anu,” kalau ada kesempatan berteriak maka ia tak sungkan-sungkan melakukannya sekarang. “Aku senang… di sini.”

Alis Jongsuk berjengit. “Kau ini gadis amnesia yang aneh. Pertama kau bicara sendiri dan kedua, kau senang berdiri di pojok. Besok-besok kalau aku melihatmu tidur di dekat jamban, aku tidak akan kaget deh.”

“Aku tidak sejenius itu, Tuan Sok Tahu!” Protes sang gadis sarkastik. “Lagipula apa yang kau inginkan dariku dengan terus duduk di sana? Tuh gadis-gadis ceria hore-hore-mu masih menunggu.”

“Untuk selera humor, kuberi kau nilai sembilan puluh.”

Makasih. Aku memang harus selucu itu untuk membuatmu jatuh cinta padaku,” Yuri menahan napasnya. “Ups.” Mimpi seram dan dikuntit oleh roh Nona Belanda agaknya berpengaruh banyak terhadap konsentrasinya. Ia telah mengatakan apa yang tidak seharusnya ia katakan. Lagipula, apa sih yang ia pikirkan? Yuri kan tidak seputus asa itu untuk meminta seseorang menjadi kekasihnya. Ia cantik, baik, cukup pengertian dan pintar. Mengecualikan fakta bahwa ia sudah mati, apa lagi yang kurang?

“Kau ingin membuatku apa?” Jongsuk menahan udara di rongga mulutnya hingga pipinya menggembung lantas mengeluarkannya dalam tawa satu kali nan heboh, tak ayal membuat Yuri kehilangan kepercayaan diri.

Pengunjung asli perpustakaan—maksudnya, mengecualikan gadis-gadis sinting yang berusaha memasukkan surat cinta ke dalam tas Jongsuk diam-diam—nampak terganggu dengan suara tawa dahsyat dari tempatnya berdiri, sehingga Yuri mau tak mau harus turun tangan sendiri untuk menutup mulut sang pria dengan bekapan tangannya.

Pada gadis molek—tentu saja—terkejut dengan tindakannya. Netra mereka mengutarakan perang seketika pada Yuri. Biarlah, apa pedulinya lagipula. Jika dia nantinya akan disiram jus jeruk dan dijambak sampai mati, malah lebih bagus. Dia tak perlu repot-repot mengalami kutukan Calliope atau dikejar-kejar Dewa Tropis atau siapa pun namanya.

“Wah, aku hampir tertipu.” Jongsuk segera bicara setelah tangan Yuri terlepas seutuhnya dari pinggiran bibirnya. “Selera humormu yang satu itu kuberi nilai seratus, Non.”

Yuri diberi keberuntungan kali itu. Wah, untung saja Jongsuk tidak sejenius itu untuk menyadari maksud asli dari kalimatnya barusan. Kalau iya, Yuri bisa repot. Namun jikalau suatu hari ia benar-benar menyatakan perasaannya pada Jongsuk supaya kutukannya hilang, akankah Jongsuk tetap mengindikasikannya sebagai humor?

Tak tahu.

Pria bodoh satu ini tidak pernah bisa diprediksi.

“Hoi,” Entah sejak kapan Yoochun telah berdiri di sisi Jongsuk, melemparkan pandangan kesal padanya. Di belakangnya berangsur-angsur masuklah gadis manis yang tak asing. Penampilan luar sang gadis sangat mengesankan dengan dress selutut ketat berwarna krem. Ia tak memakai aksesori berlebihan namun auranya begitu mewah. Ia agak heran mengapa gadis ini betah di samping Yoochun alih-alih Jongsuk karena sepertinya Clara—gadis dengan dress krem—tipe Jongsuk sekali.

“Mana tugasmu?” Tanya Yoochun ketus. Nampaknya ini bukan kali pertama Jongsuk meminta bantuan soal tugas-tugasnya. Wajar saja jika Yoochun nampak terganggu. Alih-alih memenuhi apa yang diminta Yoochun, si pria malah penuh konsentrasi memandangi Clara. Sudah bisa ditebak jika Jongsuk tertarik pada gadis itu.

“Jongsuk!” Yoochun mulai meninggikan nada suaranya, tak sampai kedengaran ke seluruh ruangan sih, tapi cukup membuat si Nona Belanda bergerak-gerak gelisah. Yuri menghitung kemungkinan jika kehadiran Yoochun membuat sang Noni takut entah bagaimana. Tapi ketika Yoochun dan Jongsuk pergi ke tempat duduk yang lebih jauh, si roh tetap saja terlihat resah. Gadis itu akhirnya memusatkan netranya pada Clara yang masih betah duduk di kursi kecil depan mejanya.

“Halo,” sapanya ramah. Entah mengapa Yuri tak suka itu. Perasaannya menjadi tak karuan. “Aku Clara. Yang kemarin tidak sengaja menabrakmu,” sambutnya lagi.

“Aku Yuri.” Balasnya singkat. Ia terlanjur sebal pada gadis ini. “Dan aku orang yang tak sengaja ditabrak olehmu.”

Clara tertawa. “Lucu. Kakakku pasti akan sangat suka denganmu.”

“Kakakmu?” Alis Yuri bertaut, mengindikasikan tingkat kuriositas yang melebihi harapannya.

“Jung Yonghwa, kakakku. Dia akan pindah ke Seoul dalam waktu dekat. Kau tahu, dia punya adiksi gila soal buku-buku dan pengetahuan. Jadi aku rekomendasikan perpustakaan ini, bisa dibilang, kau akan lebih sering ketemu dengannya nanti.”

“Dari kantin mewah, laboratorium super lengkap dan taman air mancur indah, kau malah merekomendasikan perpustakaan tua?”

“Aku bahkan merekomendasikanmu,” Clara meneruskan kalimatnya sambil berbisik. “Dia sangat suka gadis lugu sepertimu.”

Yuri tak paham mengapa ia selalu bertemu dengan orang-orang yang punya adiksi kuat soal keberadaannya. Bisa mulai daftar panjang dari nama-nama seperti Jongsuk, Joo, Yoochun dan sekarang bahkan Clara—dan kakaknya yang entah bagaimana tertarik dengannya. Belum lagi roh Belanda yang kini makin resah di sisinya. Sungguh repot jadi roh setengah manusia.

“Oh, kakakmu orang yang menarik. Mungkin kami bisa berteman.” Komentarnya singkat. Ia membubuhkan senyum termanis yang ia bisa karena Nona Belanda sedang menarik-narik kepalanya, membuat konsentrasinya agak kacau.

Yuri tidak ingin terlihat aneh di depan Clara jadi ia menahan diri untuk menginjak atau memukul perut si roh—yang mana di luar kemampuannya. Sebaliknya, ia malah mematung kikuk sembari terus tersenyum dan melirik sesekali ke arah sang roh.

“Kakakku memang menarik. Tapi tidak kusarankan untuk berteman dengannya.” Yuri menangkap gerakan lirikan super kilat dari Clara pada si Nona Belanda. Gadis itu tak yakin jika Clara melihat si roh jadi dugaan sementaranya atas gerakan tadi adalah kebetulan semata.

“Kenapa?”

“Yah, soalnya… zona itu tidak ada dalam kamusnya. Zona sosialisasinya pada gadis-gadis hanya ada dua, lebih dari teman atau, tidak menjadi teman sama sekali. Kalau kau tidak hati-hati…” Clara sekali lagi melirik ke arah Nona Belanda. Yuri yakin ada yang tak beres dengan gadis satu ini. Lirikan pedas terakhir ditujukan Clara tepat pada manik sendu sang roh dan sontak membuatnya makin gelisah.

Clara kemudian memetakan senyum di wajahnya; senyum bengis. “Kau bisa saja menjadi musuhnya.”

.

.

|tbc


 

‘sup semuanya? Genki desu ka?

Maaf sempat menelantarkan MoS untuk beberapa waktu kemarin. Pasalnya aku sibuk mengurusi lembar ijazahku yang masih ada di kampus akibat revisi pasca-sidang yang belum kuselesaikan. Alhamdulillah, kalau gak ada halangan, sabtu ini sudah bisa diambil.

Dan sebagai bonus atas kegembiraan yang aku rasakan, aku mem-publish dua cerita sekaligus hari ini. Yang pertama ada sebuah cerpen Mark-Amora dan kedua adalah seri lanjutan MoS yang telah kalian baca ini. Semoga siapa pun yang membaca MoS bersedia untuk menyematkan komentar perbaikan di bawah ini ya. Dan maaf untuk sementara MoS 1-4 aku password karena ketimpangan jumlah viewers dan commenters.

Terima kasih sudah berkunjung. Salam,

nyun

Iklan

42 thoughts on “Melody of Silence #5

  1. aaaaaaaaaaaaaa…… ><
    oh my! gomen kak nyun mungkin disetiap aku nge-comment ff ini bawaannya pasti ke 'pairingnya siapa?' maklum otakku akhir2 ini ruwet/?
    yeah… mungkin karena aku merasa endingnya bakal YooRi ya, habis yang selalu dapat pertanda om Yoochun mulu 😀
    tapi yowes.. emang Jongsuk itu kgk cocok mendapat hidayah*loh? eh pertanda kali ya…*plakk
    uhukk cast lain meramaikan ff ini nih.. super excited aku 😄
    aigo… mendebarkan sekaligus kocak ffnya kak…
    daebak kak nyun! always best deh!

    (note*apaan sih* : niatnya sih mau izin nyepot doang.. eh malah nge-review dikit.. dan muncullah pemikiranku seperti yang di atas..)
    btw, ditunggu ff on going yang lain kak Nyunnnn.. fighting ^^9

  2. oke jongsuk-yuri nya bikin greget juga, dan dewi dewi nya bikin sedikit bingung juga, tapi tetep da best lah ff nya, sekarang jadi jarang nyari ff baru, ada nya nungguin ff dari wp kaka walaupun lama juga tetep di tunggu(y)

  3. bahahaha gk tau hrus ketawa ato merinding baca ff kak Nyun yg ini,, knp gk hrs ketawa toh kenyataan.a ini ff horor, malah aq sengaja baca tengah mlm kak, biar lbih dapet.. tp sisi lain, ini tuh terlampau kocak…wkwkwk
    aq suka bgt sama Jongsuk dsini… kyah>_<
    apalagi istilah katakata kak Nyun yg apalah2 itu,, dismping ini ff.a aga beribet tp dsmpaikn dgn cara bahasa yg ringan.. dan itu keren!!

  4. Ya ampun keren banget kak nyun makin suka aja sama ceritanya. Yoochun biasanya ga peduli ada kemajuan juga
    Jongsuk kamu polos banget sih
    Didatengin sama roh belanda kayanya serem amat deh.
    Ah jadi yonghwa sama clara teryata…..
    Lanjut kak semangat ^^

  5. kak nyuuunnnn
    suka banget deh sm cerita dan cara nulis kakak yang ga ngebosenin
    walaupun aku suka telat update sm cerita kakak karena aku asrama, tapi aku tetep dibuat penasaran sm cerita kakak

    nb: kak kangen sm ToZ loh hehe

  6. baru sempet baca yang chap ini.
    woooohhh makin complicated ceritanya nih. Dan betewe, ko yoochun ga histeris sih liat hantu di kamarnya?
    kalo aku sih langsung kabur hihi 😀

    iih pengen cubit si jongsuk deh. Sok playboy banget diaaa X3

    lanjut kaaaa

  7. Ah….
    Ff kakak makin dan makin kerennnn

    Clara ternyata temannya yonghwa dan roh?
    Jongsuk agak sedikit tidak peka masa itu aja gak tau padahal yurinya kan keceplosan berarti itu benarlah… Terus kenapa yoochun membawa bawa clara lagi terus si nona belanda kenapa gelisah sih?

    Pokoknya ff kakak the best ….

  8. Jadi si clara itu sekutunya si jonghwa? Yang tugasnya jauhin yoochun sama si jongsuk? Aku kira roh belanda itu jahat ternyata buat jagain yuri ya 😀 hahaha yoochun liat yuri sama jongsuk jeles kayaknya ya 😀

  9. Yonghwa? Clara? Sbnrx ap tjuan mreka mndekati yuri ? Si roh belanda jga ngapain coba . Aishh pnasarann . Unnie aq cuss k part brikutx ^^

  10. tidaaaaaak…. chapter ini bikin penasaran maksimaal *alay*
    aduuh.. banyak hal yg masih abu-abu(?)
    ”dan…” apa itu? yah mimpinya yuri pake kepotong segala 😦
    jadi, jung yonghwa itu Atropus? huwaaa… kok jadi ngeri ya krn Atropus mulai muncul
    lakhesis dimana kau?? yahh jgn sampai yuri diganggu Atropus
    hmm.. roh belanda itu kayaknya ada sesuatu..
    kapan yoochun mulai terlibat urusannya yuri??

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s