Nice Lady’s Bad Day

Nice Lady's Bad Day

bapkyr‘s new delutional pairing : Mark & Amora

Vignette (1.400 w) | Mark [GOT7] with OC Amora Jun | AU, Daily-life | General, Teen.

“Gadis baik tak selalu mendapatkan hari yang baik.”


Mencari pekerjaan susah, katanya.

Tapi bagi Amora, yang paling susah adalah bangun pagi-pagi buta untuk menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam ke sebuah perusahaan makanan instan ternama di Seoul dan bekerja seperti tidak ada hari esok.

Posisi jabatannya sebagai head officer of quality controlling department menjadi tak lebih menarik dari segelas ice chocolate yang kini disesapnya dengan perlahan. Ia lebih memilih berjalan dua puluh menit dari rumahnya demi duduk-duduk di sebuah kursi magenta sembari memeluk sebuah map hijau dengan tulisan Amora di atasnya ketimbang mengikuti rutinitas hariannya yang membosankan.

Iya, Amora sedang berusaha mencari pekerjaan baru.

Amora memang sepintar kelihatannya. Di balik soft lens cokelat yang dikenakannya adalah netra indah yang sempurna. Sebagai penyandang gen Kaukasoid, kulitnya nampak putih dengan rona-rona kemerahan yang memesona ketika ditempa mentari. Hidungnya tak semancung ayahnya—yang merupakan warga negara Jerman—tapi perpaduan dari shading tipis dan concealer dapat menutupi kekurangan satu itu. Gadis itu mengenakan blus putih yang ia bungkus dalam sebuah blazer baby pink dan sehelai rok warna biru pastel. Rambutnya hari itu bergaya ponytail dengan ikat rambut berwarna serupa dengan roknya.

Jika melihat Amora sekilas saja, siapa pun tak akan pernah menyangka bahwa gadis yang mereka tatap adalah gadis yang berani untuk melayangkan permohonan pengunduran dirinya via kue tart ulang tahun yang dipesannya jauh-jauh hari dalam rangka ulang tahun perusahaan.

Amora tak peduli. Ia hanya ingin kerja dengan manusiawi.

Bruk.

 

Seorang pemuda baru saja menendang kakinya dan menumpahkan minuman yang dibawanya. Keberuntungan masih berpihak pada Amora karena jika ia tidak cepat-cepat menghindar, percikan tumpahan Capuccino Latte sang pemuda tadi mungkin sudah menempel lekat ke serat-serat roknya.

“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap sang pemuda cepat-cepat. Amora hanya melirik pedas dan membubuhkan senyum cuai pada wajahnya. Ya, ia tak semudah itu memaafkan seseorang.

Amora tak ingin mengekori pemuda tadi, tapi setelah kekacauan yang dibuatnya barusan, mau tak mau matanya terpaku pada pemuda tersebut. Dua puluh? Dua puluh tiga? Entahlah, tapi nampaknya pemuda tadi tak memiliki rentang usia jauh dengannya secara fisik. Aroma parfum maskulinnya masih terendus hidung Amora meski mereka hanya sempat berdekatan sesaat. Tatanan rambut hitamnya yang dibiarkan berantakan nampak begitu serasi dengan setelan tuksedo hitam yang dikenakannya. Kalau Amora boleh menunjukkan satu yang kurang pas, mungkin itu soal sepatu. Tidak seharusnya pria ini memakai sepatu kets warna biru-hitam kan?

Tapi sang gadis rupanya tak ingin lama-lama membiarkan netranya fokus pada satu titik saja. Ia mulai mengedarkan pandangan beberapa kali dengan cemas, seolah mencari sesuatu yang teramat penting demi kelangsungan hidupnya. Wajahnya mulai sumringah tatkala ia menemukan sebuah ruangan dengan tulisan TOILET yang terpampang di permukaan pintunya. Amora buru-buru beranjak tempat duduk, ia perlu ke kamar kecil sebentar.

.

.

Amora tak pernah betah berlama-lama di dalam toilet umum. Pertama, ia alergi pada segala sesuatu yang dipakai bersama dan kedua, selalu saja ada yang menggedor pintu kamar mandi di saat yang tidak tepat. Amora baru saja mengenakan roknya kembali ketika seseorang menggedor-gedor pintu kamar mandinya dengan teramat kencang. Dibiarkan lima detik lagi saja, Amora yakin ia sudah akan menjadi musuh umat manusia di seluruh dunia ini.

Itulah mengapa ia sangat tak suka segala bentuk kehidupan organik.

“Lho?” Amora tak segera duduk di mejanya semula. Ia terbengong selama sepersekian detik di samping meja kasir dan mengamat-amati seorang pemuda yang kini duduk di mejanya. Amora mengerutkan kening. Setelah tertimpa kesialan di dalam kamar mandi barusan, haruskah ia mengalami kesialan yang lain lagi?

Tuhan tentu tahu sekali betapa Amora tidak sedang ingin berurusan dengan manusia. Dan kini, ia kirimkan seorang pemuda sebagai bentuk cobaan. Terserahlah.

Sang gadis memutuskan untuk berjalan serampangan dan duduk di kursi kosong, tepat di depan sang pemuda yang kini sedang melongo ke arahnya. Amora memandanginya dengan picingan tajam dari sudut matanya. Ia tak ingin bicara, ia tak suka berbicara banyak-banyak. Tapi dengan bahasa tubuhnya, semoga sang pemuda ini mengerti.

“Hai,” sapa sang pemuda, diiringi dengan senyuman manis. Tapi tetap, itu tidak membantu memperbaiki imejnya di depan Amora.

“Hai.” Sahut Amora ketus. Tidak ada nada keramahan yang sama di setiap huruf yang ia katakan, tapi pemuda di depannya nampak oke-oke saja.

“Aku Mark.”

Tidak ada yang bertanya siapa namamu, bodoh.

 

“Amora.” Balasnya dingin. Mark—pemuda di hadapannya—mengulurkan tangan pada Amora yang dibalas dengan dagu Amora yang terangkat tinggi-tinggi.

Terlihat jelas bahwa pemuda tadi kikuk. Ia buru-buru menarik kembali uluran tangannya dan meyeruput segelas minuman yang berada di atas mejanya. Saat itu Amora mengerutkan keningnya kuat-kuat. Memangnya duduk di mejaku tidak cukup sampai-sampai kau harus minum es cokelatku?

 

“Ehm,” sang gadis berdeham, bermaksud mengganggu acara sarapan Mark. Pria yang dimaksud sayangnya tidak sepeka itu. Ia malah buru-buru menghabiskan isi dari gelasnya dan memandang Amora dengan tampang cukup menjengkelkan di mata sang gadis. Sambil tersenyum lugu, pria itu berkata, “Eh? Apa kau mau juga?”

Berengsek!

 

Amora mencoba menyembunyikan kepal tinjunya di balik meja. Hari ini ia yakin sudah mengambil keputusan yang teramat besar dengan mengundurkan diri dari perusahaan yang telah membesarkan namanya. Dan hal-hal kecil seperti urusan dengan pemuda itu tidak boleh merusak mood Amora sama sekali. Ia sudah berjanji akan hidup dengan lebih baik hari ini.

“Nona Amora?” Pemuda itu melambaikan telapak tangannya di depan wajah Amora—mencoba menyadarkan sang gadis dari lamunan singkatnya. Amora terperenyak sedikit namun ia buru-buru memegang kendali atas dirinya dalam sekejap. Mark—atau siapalah—sudah cukup untuk membuatnya hengkang dari kedai kopi tersebut. Bagaimana pun, Amora sudah ada janji wawancara siang ini dan ia tak ingin terlambat untuk alasan yang remeh.

Sang gadis menghela napas panjang kemudian berdiri setelah ia menarik sebuah map kuning di atas meja. Ekspresi terkejut dari Mark sudah diduga oleh Amora, namun dia tak acuh, toh, mereka tidak akan bertemu lagi setelah hari ini. Mark sudah cukup keterlaluan dengan mengambil mejanya dan menyeruput es cokelat miliknya. Jadi kalau suatu hari ia mengganggu Amora lagi dengan hal-hal kecil lainnya, Amora sudah berjanji akan melemparkan tas tepat ke wajah sang pria.

Amora menepati janjinya.

Ia baru saja melemparkan tasnya ke wajah Mark lantaran sang pria mencoba menarik map yang ia bawa. Mata sang gadis membelalak, melengkapi ekspresi murka yang tengah ia tekan. Amora pantang menarik perhatian publik, tapi hari ini menjadi pengecualiannya.

“Jangan kurang ajar!” Serunya, yang diikuti oleh bunyi klik klik dari ponsel segenap pengunjung kedai. “Bukan berarti kau bisa mengambil mapku juga setelah kau mengambil meja dan es cokelatku!”

Riuh rendah merebak. Tak ingin kehilangan setiap momen berharga, beberapa penonton adegan tersebut sampai menaiki beberapa kursi yang ada dan mulai merekam.

Pria yang dipermalukan kini mulai menunjukkan wajah setelah sebelumnya ia memegangi pipinya yang mungkin kram akibat pukulan tas Amora. Kesal? Marah? Malu? Tidak. Amora mengernyitkan kening—mencoba menyimpulkan. Di matanya, pemuda tersebut nampak tenang dan baik-baik saja. Tak terlihat tanda-tanda ia mengakui kesalahannya atau pun membalas perlakukan Amora. Terbersit pemikiran dalam benak sang gadis soal apakah ia harus memukulnya lagi?

“Jadi, Nona Amora ya?” Pria itu berkata dengan tenang. Suaranya melenakkan Amora, membuat amarahnya tiba-tiba mereda. Namun begitu, bukan berarti ia telah melupakan apa yang terjadi. Bagaimana pun pria ini sudah kurang ajar di matanya.

“Aku bisa melaporkanmu ke polisi jika aku mau.” Ancam Amora. Ia juga tak begitu yakin soal pernyataannya ini. Memangnya minum es cokelat milik orang lain bisa dijatuhi hukum pidana?

Mark hanya tertawa. Diliriknya gadis itu sekilas sebelum ia membubarkan kerumunan yang ada. Para pengunjung kafe membubarkan diri dengan sukarela meskipun di mata Amora, tidak ada yang terselesaikan di sini. Ia masih bingung dan sang pemuda yang menjadi penyebabnya sebingung ini kini malah mengajaknya duduk bersama kembali.

Amora tak bisa menahan diri dari kebingungan.

“Aku tidak suka dipukul orang asing, tapi aku akan membiarkan yang satu ini, Non.” Mark berujar rendah ketika keduanya sudah duduk dengan lebih tenang. Aroma parfum maskulin sang pria sempat mengganggu konsentrasi Amora, jadi ia tidak bisa mengutarakan apa pun untuk saat ini.

Mark mengetuk-ngetukkan buku-buku jarinya ke atas meja—tepat di dekat map kuning yang jadi sumber huru-hara barusan. Amora mengamat-amatinya tanpa sadar hingga bunyi tuk-tuk-tuk berirama menembus gendang telinganya dan menyadarkannya akan sesuatu.

Amora menarik map tersebut dan lekas-lekas membuka isinya. Saat itu wajahnya merah padam sampai ke titik di mana ia tak sanggup untuk menatap lawan bicaranya lagi. Amora menurunkan map yang menutupi wajahnya dengan sangat pelan sekali, seakan ia tak ingin dikenali oleh Mark.

Tapi segalanya memang sudah jadi bubur bagi sang gadis.

Amora menoleh ke belakang dan mendapati sebuah map hijau tergeletak begitu saja di atas meja. Tepat di sebelahnya, terdapat setengah gelas iced chocolate yang sempat ditinggalkannya sebelum ia pergi ke toilet.

Amora memandang kosong meja tersebut. Kalau boleh, ia ingin menghilang saja dari sana sekarang juga. Setelah beberapa sekon dihabiskan untuk terbengong-bengong, sang gadis mulai memandang kembali Mark yang mungkin sudah siap menertawainya. Sayangnya tak lama.

Amora memutuskan untuk merendahkan pandangannya dan menghindari segala konversasi yang dimulai dari bibirnya.

“Jadi Non,” suara Mark bergetar. Taruhan, Mark pasti sedang menahan tawanya di balik meja. Sang gadis tak bergeming, ia memilih untuk tetap menunduk.

“Eh, maksudku Nona Amora,” Mark mengoreksi. Maniknya masih tertanam lekat ke tubuh sang gadis. Dengan lembut dan menggoda, ia berkata, “Masih mau lapor polisi?”

Hari Amora tak pernah lebih buruk dari ini.

.

.

Fin

Iklan

54 thoughts on “Nice Lady’s Bad Day

  1. hihi.. Udah lama gk mampir ke blog nyun.. Sperti biasa keren lah.. Suka bgt sm kata2nya. Enak di bc.. Oia senyum cuai apaan sih nyun? ._.

  2. hai kak nyun! salam kenal, aku adalah pengunjung baru di neverland hehehe
    dan well- aku suka banget cerita iniii~<3 bahasanya asik dan gak ribet, simple tapi buat dibayangin jelas. suka karakter-nya Mark duhh bikin melting dan Amora…. kalo jadi dia mah mending aku langsung kabur, gakuat nahan malunya hahaha XD

    Anw, semangat terus kak nyun, aku fansmu loh! makin sering bikin fic lagi yaaa<3

  3. Amora kurang minum air putih kayaknya ya~
    haha aduh… Lucu kalo endingnya Amora bilang “Ada aqu….?” LOL salah fokus
    Untung Marknya gak rese banget sampe ngeledek parah. Yaaa nanya masih mau lapor polisi juga udah rese sih wk. Ini cocok banget buat dijadiin iklan minuman air mineral itu deh kayaknya… Kesandung kaki orang, salah masuk toilet(?), sama satu lagi salah duduk dan salah ngambil map.
    Yeaaay such a bad day T,T mau nangis aja males cari kerja lagi haha
    Tapi bener deh, resign itu selalu susah kan? Keluar dari comfort zone yang gak nyaman nyaman amat. Wajar lah kalo Amora jadi kurang konsentrasi gini. Mau minta maaf sama Mark juga awkward, ga minta maaf gimana… Aduh… Bisa gak jadi invisible aja? wkwkwk
    Sukkkkaaa

  4. Hahahaha amoraaaa memalukan syekaliii yaampun x_x hahaha ternyata salah meja xD meja kamu yang disebelah nak :v hahaha bayangin mark ditabok pake tas kek gitu lucu banget hahaha sabar ya abang tamvan xD

  5. KAK NYUN INI APAAN? KOK NABIL KETINGGALAN BACA? /yasudahlah udah baca sekarang bil/ Itu si Amora pasti malu banget, tapi kesan yang beda pasti bikin ada sesuatu sama Mark nya iya kaan? Btw nabil pernah gini, cuma pas nyegat angkot hihi :3 udah ngotot lambai-lambai tangan canteks eh taunya malah dibilang “Bukan angkot neng!” Kenapa ngga Mark aja coba yang jadi supir angkotnya /? Pokonya ini good as always 🙂

  6. Hehehehe.. Yaampun kasian banget Mark harus ditimpuk pakek tas sama Amora, hehe
    Kalo aku berada di posisinya Amora mesti malu banget, salah ambil trus nimpuk orang lagi. Untung aja Mark orangnya baik. Coba kalo nggak? Mungkin udah dilaporin balik ke polisi /geleng2/ ckckck hehe

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s