MELODY OF SILENCE #7

Melody Of Silence 2a story by bapkyr (@michanjee)

Melody Of Silence : Aku Hampir Tertimpa Ayam Goreng Kebahagiaan

Yuri melihat siluet pria membopongnya, dan saat itulah Ayam Goreng Kebahagiaan menjadi sumber kesialan berikutnya.


Yuri ingin mati lagi saja.

Itu yang terlintas di kepala gadis itu begitu ia sadar bahwa arah yang ditujunya adalah ranah antah-berantah yang merupakan area milik sebuah gedung kolumbarium cukup tenar di Kota Seoul. Maka tak aneh jika sekarang ia merasa sedang digelitiki oleh perasaan takut dan mencekam. Jaraknya dengan pintu utama kolumbarium kurang dari dua ratus meter, jadi secara teori Yuri tidak dekat-dekat amat. Namun demikian, sang gadis dapat melihat enam sampai tujuh roh yang duduk-duduk santai menikmati pekatnya malam sembari mengobrol di depan gedung tersebut. Lebih dari setengahnya nampak kehilangan beberapa proporsi pembentuk rangka normal manusia, pula bau-bauan yang ingin membuat Yuri muntah dari jaraknya berdiri.

Rencananya simpel. Yuri hanya perlu berlari melewati halaman kolumbarium untuk mencapai jembatan penyeberangan selanjutnya di depan. Ia butuh menyeberang kembali agar ia sampai rumah dengan selamat dan tidak tersesat. Bepergian dalam wujud manusia lebih riskan dibandingkan melayang dalam wujud roh. Selain mengkhawatirkan soal roh-roh menyeramkan yang bisa menempel padanya kapan saja, ia juga masih dirisaukan soal gerombolan preman atau pria-pria mabuk yang biasanya merebak di pinggir-pinggir jalan. Yah, kalau Yuri harus mati kedua kalinya, ia tak mau pria-pria itulah yang mencabut nyawanya.

“Argh, aku mulai menyesal menjadi manusia,” keluh gadis itu. Sang gadis mengucir rambutnya di belakang kepala dalam beberapa kali lilitan ikat rambut biru muda. Matanya memicing—berkonsentrasi—pada beberapa roh yang mulai menembus pintu utama kolumbarium dan berkumpul dengan rekan-rekannya di halaman utama. Makin sulit saja.

Kemahiran berjalan terseok-seoknya belum mencapai titik dimana ia bisa berlari terseok-seok, jadi, Yuri tak punya pilihan selain berharap ketika ia melintas di sana, aktingnya cukup memadai untuk tidak memancing perhatian para roh tersebut.

“Sial,” ia mengumpat ketika memutuskan untuk mulai berjalan hati-hati. Tangannya mengepal kuat, sementara syaraf motoriknya sedang tegang. Peluh melintas turun dengan cepat dari dahinya, menunjukkan betapa ia sangat takut—sebuah perasaan asing yang tidak pernah dirasakannya ketika ia menjadi roh.

Dari dua ratus meter, kini jaraknya memendek. Hanya lima langkah lagi sebelum firasat buruknya jadi kenyataan. Malah belum sampai saja, salah satu roh mulai bergerak mengendusi rambutnya sembari melayang. Yuri menolak untuk menjelaskan seperti apa rupanya saat sekilas tadi ia hampir menginjak sebuah benda bulat berlendir yang jatuh dari atas kepalanya. Saat benda itu berhenti menggelinding, sadarlah Yuri bahwa sebuah mata beriris cokelat tengah memandanginya dari bawah.

Wajar jika saat itu sebuah jeritan melengking keras dari bibirnya terlontar dan mengacaukan seluruh rencana pergi diam-diamnya. Lusinan roh sontak memandang Yuri dengan kuriositas, sebagian mulai mengelilinginya, melakukan observasi.

“Jangan ganggu aku,” pekiknya tatkala dua roh mulai menarik-narik baju yang dikenakannya. Salah satunya bahkan mulai mencoba mencari celah masuk ke dalam raga Yuri dengan terus-menerus mengamati ubun-ubun kepala sang gadis. “Jangan ganggu!”

Yuri menggoyangkan tubuhnya kuat-kuat bahkan ia sampai harus berputar dalam satu putaran penuh tiga ratus enam puluh derajat hanya demi mengenyahkan para roh yang mengganduli tubuhnya. Dirasa belum cukup, Yuri melemparkan tendangan kaki kanan yang kuat pada roh yang tengah berusaha menggigiti betisnya.

Pikir Yuri, ia sudah berhasil mengenyahkan setidaknya sebagian dari roh yang mengganggunya, tapi ia salah besar. Lusinan roh keluar dari bawah tanah, dari dalam kolumbarium, dari arah mana pun yang memungkinkan untuk menyudutkan sang gadis. Dalam sekejap, ia dikelilingi ratusan roh yang nampak murka. Tak ada celah sedikit pun baginya untuk melarikan diri.

“A—aku,” Yuri membuka mulutnya untuk memulai negosiasi. Ia tidak tahu apakah cara itu cukup ampuh, tapi tak ada salahnya mencoba. “Aku bisa melakukan apa pun asal kalian tak menggangguku.”

Tawaran konyol. Memangnya Yuri dewa-dewi? Hidupnya saja begitu menyedihkan jadi bagian mana dari dirinya yang mengatakan bahwa ia bisa melakukan apa saja untuk para roh? Dusta yang manis.

“Aku bisa menyampaikan pesan untuk orang yang hidup,” tambahnya. “Keluarga, kekasih, bos? Atau… selingkuhan barangkali? Ada yang mau titip pesan?” Di akhir kalimatnya tak lupa ia menambahkan sebuah senyum tolol yang melengkapi dusta terkonyol sepanjang masanya.

Yah, sesuai prediksi awal, tawarannya tak membuahkan jalan keluar.

Para roh dengan berbagai bentuk mulai menghampirinya sekali lagi, beberapa bahkan duduk-duduk di atas ubun-ubunnya—menunggu kesempatan untuk mengambil alih tubuh gadis itu.

Yuri hendak berlari, namun ia merasa sesak napas. Udara di sekitarnya mendadak menipis dan berkurang drastis. Kalau pun ia mencoba bernapas dalam-dalam, yang dihirupnya adalah sepaket udara dengan aroma hangus. Yuri terbatuk kencang, membiarkan tubuhnya melemas sekon demi sekon. Tenggorokannya tercekik, seperti habis diparut oleh ratusan silet dan jarum kecil. Paru-parunya seperti ditumbuk oleh sebuah batu yang besar sehingga Yuri spontan memuntahkan lendir merah keemasan dari mulutnya.

Tubuhnya seperti disedot oleh sebuah pipa besar hingga ia bahkan tak merasa mulutnya memproduksi saliva. Yuri mendadak dilanda dehidrasi super parah. Ia berusaha menjerit, namun hanya suara bisikan kecil yang sanggup keluar dari bibirnya. Serangkaian hal-hal janggal dalam dirinya kemudian membuka sedikit celah kecil di ubun-ubun sang gadis. Para roh kegirangan dan mulai berjejalan untuk berbaris, menunggu celah tadi mencapai diameter proporsional untuk dilewati.

Yuri sudah sudah pasrah. Dewa-dewi atau siapa pun, sepertinya tak akan sanggup menolongnya. Ia akan mati tragis seperti Calliope.

.

.

Mati.

Saat Yuri pikir bahwa ia sangat dekat dengan kematian—lagi, sekelebatan visi-visi aneh muncul begitu saja di dalam kepalanya; roh Nona Belanda yang berusaha menarik tangan Yuri dari pergumulan roh-roh asing di sekitar tubuhnya, Madam Aika yang kemudian membawa sang roh Belanda pergi, hingga sesosok hitam nan jangkung yang menembus kerumunan roh dan menarik tubuh Yuri.

Suara teriakan dari para roh menyumbat telinga sang gadis dan merongrongnya untuk menolak rengkuhan dari sosok hitam tadi. Yuri yakin sekali bahwa tadi itu bukan dirinya yang menepis bantuan, namun separuh dari dirinya—entah yang mana—tak bisa beranjak, seolah dirinya sedang tersedot ke dalam sebuah medan magnet besar yang sangat tidak mungkin membuatnya lepas seketika.

Matanya yang sedari tadi terpejam, tak berani ia tampakkan bahkan pada sosok hitam jangkung yang kini mencoba lagi untuk mengangkat tubuhnya. Yuri meronta, tak yakin bahwa yang datang tidak lebih buruk dari sekumpulan roh di depan Kolumbarium yang penasaran. Gerakannya semakin melambat ketika sosok itu kemudian membawa lari tubuhnya entah kemana, energi Yuri sudah terkuras dan ia tak mampu untuk berpikir jernih apalagi memrotes.

Suara Boom kemudian terdengar di telinganya, namun demikian Yuri mencoba tidak berpikir. Gadis itu berharap dengan tidak berpikir, ia bisa terselamatkan dari apa pun yang membawanya saat ini.

Selanjutnya yang terjadi ketika Yuri sadar adalah sebuah ruangan dengan wallpaper polos warna biru muda dengan sebuah ranjang dibungkus seprai warna senada. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali berharap apa yang dilihatnya bukanlah sebuah ilusi atau bagian dari visi-visi buruk yang belakangan ini sering ia alami. Ketika sang gadis perlahan memosisikan diri untuk duduk, netranya menangkap sebuah sandal tidur dengan logo Manchester United yang sangat ia kenali.

“Oh, syukurlah aku masih hidup.” Ujarnya seketika, tanpa sadar bahwa sesosok pria jangkung kini duduk di sebuah kursi di dekat jendela, memerhatikannya sembari bersidekap penuh konsentrasi. Yuri mau tak mau tersentak ke belakang lantaran kaget. “Kau—“

Park Yoochun, sang pria yang tengah terduduk, berdeham. Ia menelengkan kepalanya dengan pelan, melakukan ritual menggaruk kepala dengan tenang dan kembali memusatkan perhatiannya pada sang gadis yang duduk di atas ranjang penuh praduga. Dipertahankannya situasi hening selama beberapa sekon tanpa alasan yang jelas. Yang keduanya lakukan kemudian adalah bertukar pandang dan memaknai pandangan tersebut sendiri-sendiri.

Bagi Yuri, entahlah. Pikirannya masih kacau sejak roh-roh di depan halaman Kolumbarium mencoba melintasi dunianya melalui tubuh sang gadis. Kalau ia mencoba meruntutkan kejadiannya semasa ia sepenuhnya sadar, Yuri yakin sekali bahwa saat ini mungkin ia sedang pingsan di pinggiran trotoar dan mungkin tidak akan ada yang menyadarinya hingga esok pagi—mengingat jalanan begitu sepi.

Sekarang sang gadis terduduk di kamar hangatnya, yang akhirnya membuat Yuri sampai pada kesimpulan bahwa sesuatu yang penting terjadi saat dirinya tidak sadar. Mungkin sosok hitam nan jangkung tadi menyelamatkannya entah bagaimana. Menyimpulkan dari bagaimana Yoochun memandanginya, sang gadis yakin sekali bahwa sosok jangkung yang menolongnya adalah pria menyebalkan satu itu.

Yuri tidak melihat ada kemungkinan yang lebih tepat dari ini.

Lidahnya terdorong untuk mengucapkan beberapa kalimat interogasi untuk menguji hipotesanya, tapi hal tersebut tak kunjung dilakukan sang gadis. Penyebabnya adalah wajah sang pria yang mendadak nampak tegang dan tak tenang. Alisnya beberapa kali terangkat dan keningnya berkerut, menampakkan seorang Yoochun yang dua kali lipat lebih berbahaya dan menyebalkan daripada sebelumnya. Belum lagi tangannya yang bersidekap dengan posisi terduduk sempurna dengan sudut siku-siku, menambah keyakinan Yuri bahwa selama ia tak sadarkan diri, sesuatu telah mengganggu Yoochun—dan apa pun itu, tentunya tak menguntungkan sang gadis.

“Ehm,” Ia tak bisa menahan diri lagi, Yuri memutuskan untuk segera memecahkan keheningan daripada terus-terusan dipandangi secara intens oleh pria satu itu. “Apa sesuatu terja—“

“Ck,” Yoochun menyelanya, membuat Yuri hampir tersedak. Ia mencoba mengeluarkan saliva dari tenggorokannya dengan terbatuk beberapa kali, sementara pria yang menjadi penyebabnya kini berdiri, berjalan ke arahnya dengan mimik wajah yang sangat aneh. Ketika Yuri selesai dengan batuk-batuk kecilnya, sang pria sudah duduk di sisi ranjangnya, memandanginya begitu dekat dari sebelumnya.

Yuri tahu bahwa bukan pada tempatnya ia berpikir hal-hal seperti ini, tapi, ia berani bersumpah kalau wajah Yoochun dari dekat setampan adiknya, Lee Jongsuk. Bibirnya tampak semanis kapas dengan kulit-kulit kering yang entah mengapa sangat memesona di mata Yuri, hidungnya nampak dalam proporsi yang pas dengan keseluruhan wajahnya; bangir dan bersih dari komedo, rahangnya begitu kokoh ditambah dengan tulang pipi yang menonjol membawa kesan maskulin dan keren menurut penilaian sang gadis, bahkan baginya, lubang dan garis-garis samar di pipi sebelah kiri Park Yoochun adalah sama menawannya dengan bibir sang pria. Kala itu Yuri seolah ditampar oleh waktu lantaran netra sang pria kini mulai memusat pada kornea matanya, seolah membaca pikiran kotornya dan mengajukan petisi jangan lihat aku atau kubunuh kau.

Yuri menundukkan kepala sembari mengenyahkan segala fantasinya soal ketampanan pria satu ini. Namun hal itu disesalkannya kemudian. Sang pria rupanya tahu apa titik lemahnya dan dengan terang-terangan menguntai selarik pertanyaan yang akhirnya membawa sang gadis mendongak, menatap netra hitam Park Yoochun dalam-dalam dan berharap bahwa pria itu berkelakar.

“Kau ini sebenarnya apa, Kwon Yuri?”

.

.

“Kau ini sebenarnya apa, Kwon Yuri?”

Yoochun tak yakin pertanyaannya tergolong masuk akal untuk kebanyakan orang. Ia sendiri masih tak percaya ia berani memutuskan menanyakan hal demikian di antara puluhan untaian kalimat pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. Pria tersebut tak dapat menolong rasa penasarannya sendiri setelah sebuah kejadian super yang dialaminya barusan. Otaknya tidak dapat mencerna segala sesuatunya berdasarkan kaidah-kaidah yang lazimnya disebut logika. Ia sendiri tak tahu harus menyebutnya sebagai apa—sihir, sulap, hantu?

Segalanya bermula ketika Yoochun memutuskan untuk menyusul Yuri dan menjemputnya. Dirinya berlari ketika mendengar suara teriakan seorang gadis di ujung sebuah halaman Kolumbarium. Ketika Yoochun hampir sampai di sumber suara, ia dikejutkan dengan fakta bahwa gadis yang berteriak barusan adalah Kwon Yuri yang sudah terduduk lemas di atas aspal sembari terus-terusan meronta dan menutup telinganya. Sang gadis meraung seperti orang gila, mencakar-cakar tanah kemudian mengacak-acak rambutnya seraya mengucapkan kata tolong aku berulang kali.

Ketika Park Yoochun mengulurkan tangannya, menawarkan sebuah bantuan pada Yuri, di situlah sebuah keanehan terjadi. Tubuh Yuri yang akan diraihnya kemudian tiba-tiba menjadi tembus pandang, tak dapat diraih sama sekali meski ia bisa melihatnya dengan mata telanjang. Park Yoochun menganggap matanya berfungsi dengan tidak benar sehingga ia mencoba sekali lagi untuk menawarkan bantuan, dan saat itu hal yang sama terjadi. Tubuh Yuri bak sebuah cahaya dari proyektil yang hampir kehabisan daya, berkedip-kedip antara kasat mata dan tidak.

Yoochun mundur selangkah saat itu, bertekad untuk meninggalkan gadis aneh tersebut di sana. Namun saat itulah Yuri tergoncang hebat dan pingsan di atas halaman Kolumbarium. Ketakutan terpeta jelas pada wajah sang gadis, seolah memohon dan memanggil nama Yoochun agar tidak menyerah dalam mengulurkan bantuannya.

Pria itu kemudian mencoba meraih tubuh Yuri kembali. Usahanya yang terakhir tadi tidak sia-sia karena tubuh Yuri kembali normal—mengecualikan suhu tubuhnya yang mendadak terlalu dingin. Tidak ingin membuang banyak waktu, ia segera melarikan sang gadis menjauh dari halaman Kolumbarium. Sebanyak tiga langkah lebar baru saja dibuatnya ketika sebuah papan reklame raksasa yang bertuliskan Ayam Goreng Kebahagiaan untuk Anda tiba-tiba terjatuh ke arah Yoochun. Sudah terlambat bagi pemuda itu untuk sekadar berpikir, jadi ia membiarkan spontanitasnya mengambil alih. Diterjangnya sebuah jalanan ke samping untuk menghindari serpihan dari papan reklame raksasa yang terjatuh. Sial baginya, sebuah mobil saat itu datang dari arah belakang bahunya, kaget serta kehilangan kendali. Mobil tersebut menyerempet Yoochun hingga tubuh Yuri sempat terpelanting lepas dari tangannya.

Dari serentetan kesialan tersebut, Yoochun masih bersyukur saat ini keduanya baik-baik saja—meski harus diakui, masuk ke rumah secara diam-diam adalah ide buruk. Jongsuk banyak membantu untuk sekadar membukakan pintu belakang dan menahan diri dari banyak tanya-tanya tak perlu. Setelah kakaknya berjanji akan menceritakan semua yang dirasa perlu, Jongsuk kembali ke kamarnya tanpa negosiasi.

Dan kira-kira seperti itulah kisah Park Yoochun hingga ia terdampar di sebuah ruangan milik seorang gadis.

“Apa kau sedang tak waras?” Suara sang gadis memecahkan keheningan, cukup ampuh untuk mengumpulkan kembali rasa penasaran Yoochun ke titik paling awal tanpa distraksi. Sang gadis memandanginya dengan intens, berkaca-kaca dan percaya diri. Netranya di sisi lain terasa sedang memohon agar sang pria tak lagi bertanya-tanya dan menghentikkan semua praduganya sampai di sana. Tapi asal Yuri tahu saja, Yoochun tak semudah yang ia pikir.

“Kau yang tidak waras. Kau ini sebenarnya apa? Kau jelas bukan manusia.” Yoochun merendahkan suaranya ketika mengatakan kalimat pamungkasnya. Jelas sekali wajah Yuri menunjukkan ekspresi terkejut—yang entah mengapa dinilai Yoochun cukup imut. Tangannya meremas kuat seprai yang ditidurinya, giginya tampak sibuk menggigiti bibirnya meski ketika Yoochun memasang fokus matanya di sana, gadis itu selalu saja berpolah normal. Padahal jelas-jelas ia tidak normal dari awal.

“Kalau kau duduk-duduk di kamarku hanya untuk mengatakan hal tidak bermakna, lebih baik kau pergi dari sini sekarang.”

“Setuju. Kuharap percakapan ini tak bermakna soalnya aku akan kaget kalau kau ternyata betulan bukan manusia. Jadi, kau apa?”

Tidak mudah mengenyahkan presensi Park Yoochun begitu saja karena pada dasarnya ia adalah pria arogan yang egosentris. Ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak akan pergi sebelum mendapatkannya, seperti itulah kira-kira Park Yoochun. Jadi sekarang, pilihan Yuri hanya ada dua: berkelit atau mengatakan apa adanya.

“Aku Alien. Kau puas?”

Atau tidak dua-duanya.

.

.

“Aku Alien. Kau puas?”

Yoochun mengerjapkan matanya, menjauhkan tubuhnya barang satu atau dua senti dari tubuh sang gadis yang kini berbau macam-macam: keringat, debu, asap knalpot bahkan bau amis darah.

Tunggu. Darah?

Oh tidak. Mungkin hanya halusinasi pria itu saja. Pokoknya Yoochun sangat terkejut dengan proklamasi sang gadis soal jati dirinya. Jika apa yang dikatakannya benar, maka tubuhnya yang bak hologram tadi termasuk salah satu keahlian alien yang cukup keren dan wajib didokumentasikan. Mungkin Yoochun akan menjadi peneliti kaya-raya setelah mendapatkan sebuah video singkat tubuh hologram sang gadis.

“Ehm,” Yoochun tak bergeming sejenak, menikmati fantasinya sendiri. Ia mengangguk seru dan tersenyum samar beberapa kali sehingga mengundang kening Yuri berkerut. “Kau baik-baik saja?” Tanya sang gadis yang dijawab oleh gelengan kuat sang pria dan menyusul anggukan samar darinya.

“Jadi kau benar-benar alien?”

Tidak ada sebuah nada kecurigaan dan intimidasi di kalimat Yoochun seperti pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya yang mana membuat Yuri mendapatkan kembali kesempatan untuk berkelit. Sang gadis menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan melalui mulutnya. Dan saat itu, sesuatu menarik perhatiannya lebih daripada biasanya. Hidungnya gatal karena bau amis darah yang datangnya entah dari mana sejak Yoochun menghampiri kasurnya. Ia pikir itu hanya halusinasinya saja, namun setelah melihat lelehan darah merembes di atas seprai birunya yang berubah jadi cokelat, saat itulah ia melihat kulit kaki Yoochun yang koyak.

“ASTAGA!” Ia berteriak, memusatkan seluruh perhatiannya pada kaki kanan sang pria. Yoochun tadinya nampak tenang, lebih tertarik pada pernyataan yang akan Yuri berikan alih-alih sebuah objek yang diteriaki astaga oleh sang gadis. Namun sialnya, saat itulah ia merasa kakinya berdenyut-denyut. Ekor mata sang pria dengan gesit mencapai objek yang menjadi masalah dan tercenganglah ia. Pertanyaannya, sejak kapan luka sebesar itu ada di sana?

“ASTA—,” Yoochun memutuskan untuk membungkam mulut gadis di hadapannya sebelum seluruh penghuni rumah terbangun dan menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit. Jujur saja, ia bosan dengan rumah sakit. “Kau kenapa?” Sang gadis masih berpolah panik, diliriknya luka lebar tersebut beberapa kali sebelum akhirnya ia beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi dengan terseok-seok. Ketika sang gadis muncul di sisi ranjang, sebuah ember berisi air dingin dan sebuah lap—yang kelihatannya seperti handuk kecil—sudah berada dalam genggaman sang gadis.

Yoochun sudah kehabisan ide soal energi Yuri yang tahu-tahu sudah penuh kembali setelah seluruh kekacauan yang dibuatnya di pinggir jalan beberapa saat yang lalu, toh itu bagus untuknya. Setidaknya ia tak perlu mengarang cerita yang aneh-aneh pada Jongsuk esok hari. Lucunya, di sisi lain dari pola pikir Yoochun memproklamirkan bahwa ia seharusnya percaya bahwa Yuri adalah alien seperti yang diungkapkannya, dan memutuskan bahwa itu termasuk sesuatu di antara keren dan aneh.

“AW!” Yoochun berjengit tatkala lukanya dibersihkan oleh handuk kecil biru muda milik sang gadis. Dengan telaten, Yuri membersihkan luka sang pemuda sembari terus mempertimbangkan ekspresi dari pemuda tersebut. Jika Yoochun menutup matanya kuat-kuat, maka ia akan berhenti menyentuh daerah yang dirasa menyakitkan bagi pemuda itu dan mulai membersihkan area yang lain. Dengan ketelatenan dan kesungguhan Yuri, kaki Yoochun sudah dapat disterilkan dengan cairan desinfektan dan dibebat dengan perban.

Kekacauan yang dibuat oleh keduanya hanya tinggal selembar seprai yang berbau amis dan peralatan P3K yang berantakan di atas kasur Yuri.

“Apa ada sebuah cerita di balik lukamu ini?” Bohong jika Yuri tidak penasaran. Jika ada yang membuatnya menahan-nahan rasa penasarannya soal dari mana Yoochun mendapatkan luka demikian itu karena ia membiarkan pikirannya fokus untuk mengobati sang pemuda, Yuri tahu betul bagaimana rasa nyeri di kaki—ia sudah tiga hari berjalan terseok-seok.

Sang pemuda menampakan tanda tak acuh yang diasumsikan Yuri sebagai kode keberatan untuk bercerita. Yuri sebenarnya tak mendesak, namun sang pria nampak berpikir untuk sesaat, membiarkan keningnya menampakkan kerutan horisontal. Sang pemuda lantas mengedikkan bahu saat ia akhirnya membuka mulut.

“Kau pingsan di depan Kolumbarium. Yah, pokoknya aku kebetulan lewat sana dan berusaha membawamu. Tapi banyak hal terjadi.”

Yuri tidak pernah berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya lantaran ia baru saja beberapa hari jadi manusia kembali setelah kematiannya. Namun melihat dari praduga Yoochun beberapa saat lalu, luka besar di kakinya dan beberapa hal yang belum lengkap diceritakan sang pemuda, Yuri tahu bahwa peringatan Alice—atau Lakhesis—adalah benar adanya. Kutukan Calliope kini bertubi-tubi akan menimpanya setiap hari dan membuatnya tak berdaya cepat atau lambat. Buruknya lagi, kutukan Calliope akan berlaku pula untuk setiap pria yang berada dekat dengannya—yang memperkuat keyakinan Yuri bahwa kecelakaan kecil yang baru saja dialami Yoochun adalah karena ia mencoba menyelamatkan Yuri.

“Apa kau mendengarkan?” Yoochun menjentikkan jarinya di depan hidung Yuri. Pria itu kemudian meringis kesakitan lantaran kakinya mendapatkan sedikit tekanan dari otot-otot motoriknya ketika bergerak beberapa senti mendekat ke arah lawan bicaranya.

“Uh, oh, iya.” Yuri mengumpulkan fokusnya satu per satu. Ia memutuskan bahwa ia harus mendengar kisah malam ini versi Park Yoochun lebih banyak lagi. “Aku hanya sedang berpikir, apa sesuatu yang buruk terjadi selama aku pingsan?”

“Aku tak begitu ingat, semuanya terjadi begitu saja: tubuhmu yang tiba-tiba berpolah aneh bak hologram, sebuah papan reklame yang jatuh dan hampir menghancurkan kita berdua lalu sebuah mobil yang—“ Yoochun menghentikan kalimatnya selama sepersekian sekon. Ketika ia bicara lagi itulah saat sebuah AH! muncul dari bibirnya setelah diiringi oleh jentikkan jari beberapa kali. “Kurasa luka ini kudapatkan saat itu! Sebuah mobil hitam muncul entah dari mana dan menyerempetku dan melantingkan tubuhmu beberapa senti.”

Yuri menyipitkan matanya, “Mobil hitam?”

“Ya, kurasa, entahlah. Aku tidak begitu ingat.”

“Lalu bagaimana kau baru bisa menyadari lukamu sekarang?”

“Itu yang sedang kupertanyakan pada diriku sendiri. Bagaimana? Belakangan ini aku selalu mengalami hal-hal aneh yang barangkali itu berpengaruh juga terhadap impuls syaraf rasa sakit fisikku.” Yuri tak bergeming pun menanggapi pemuda yang tengah berceloteh di hadapannya. Sebenarnya ia sedang menimbang-nimbang, jika pria yang ia benci seperti Yoochun saja bisa dapat musibah separah ini, lalu bagaimana dengan pria yang nantinya akan ia manfaatkan untuk tujuan aslinya? Khususnya, bagaimana dengan Jongsuk? Yuri bukanlah gadis yang akan memanfaatkan hidup orang lain demi kelangsungan hidupnya sendiri. Tapi jika ia menyerah pada tujuan utamanya, lantas apa yang akan terjadi? Apa sesuatu akan datang dan mengubahnya menjadi abu?

Tidak. Tidak. Aku harus berpikir jernih. Aku harus merencanakan sesuatu.

“Kupikir kau juga sama.” Yoochun mencacah lamunan Yuri.

“Eh?”

“Belakangan ini kau nampak berbeda, lebih pucat dan tidak bersemangat. Beberapa kali aku melihatmu berjalan kencang seperti dikejar sesuatu padahal tidak ada apa pun di belakangmu. Di bioskop kau sangat ketakutan, lalu beberapa jam lalu kau pingsan di depan Kolumbarium setelah meraung-raung minta tolong seperti kau akan dibawa seseorang pergi. Jujur saja, kemarin malam aku memergoki sosok pria berpakaian ala hippie berdiri di depan pintu kamarmu dan kemudian menghilang. Menurut perhitunganku, sejak saat itulah semua yang aneh-aneh terjadi.”

Yuri nampak kaget. Pertama, ia sangat kaget bahwa ada sosok hippie yang disebut-sebut Yoochun berada di depan pintu kamarnya. Kedua, sejak kapan Yoochun dapat melihat roh? Apa semuanya hanya kebetulan belaka?

“Pria hippie?”

“Ya, pria aneh yang memakai topeng dan hilang seketika. Sebelum itu juga aku sempat bermimpi aneh selama dua hari, pokoknya sejak kau datang, sorry gak maksud membuatmu tersinggung.”

Yuri semakin tidak mengerti. Awalnya ia hanya ingin menjalankan rencananya dengan mudah dengan memanfaatkan Jongsuk. Lalu Yoochun datang dan mengatakan hal-hal yang hampir bersinggungan dengan dunia roh secara gamblang. Joo memang pernah bercerita padanya bahwa dahulu sekali keluarga besarnya tinggal di sebuah rumah besar yang diturunkan generasi per generasi, namun Yoochun kecil menolak tinggal di sana dan selalu menangis. Jadi, hanya keluarga Joo-lah yang tidak mendiami rumah besar tersebut.

Yuri mengumpulkan fakta acak yang mulai bermunculan satu per satu di kepalanya. Ia menyusunnya satu per satu dengan hati-hati sampai akhirnya ia bermuara pada sebuah kesimpulan asal, mungkinkah Yoochun memilliki bakat untuk bersinggungan dengan dunia tak kasat mata?

Hal tersebut secara tak langsung meresahkan Yuri, karena jika benar, maka rencananya bisa berantakan. Kemungkinan sang pemuda bersirobok dengan hantu-hantu di sekitar Yuri akan lebih membuatnya curiga berlebih pada sang gadis. Bisa-bisa ia meyakinkan Joo untuk mengusir Yuri dari rumah. Belum lagi soal Jongsuk; mencoba menjalin hubungan dengan gadis yang dikelilingi hantu? Tentu ia akan berpikir dua ratus kali.

Yuri memikirkan jalan keluar yang paling memungkinkan untuk dilakukannya sekarang, tapi pikirannya selalu buntu. Segalanya seperti sebuah benang simpul yang terkait satu sama lain, Yuri tak bisa menceritakannya setengah saja. Jika ia memutuskan untuk mengungkapkan siapa dirinya maka segalanya harus ia ceritakan dari awal.

“Kau benar-benar tersinggung ya?” Yoochun mengibaskan tangannya di depan wajah Yuri, membuat sang gadis tersentak kecil.

“Oh, tidak.”

“Kau juga sering kedapatan melamun. Apa yang kaupikirkan?”

“Aku? Tidak… tidak ada…”

“Kalau tidak ada ya sudah. Aku akan pergi dari kamarmu karena sepertinya aku mengganggu. Omong-omong terima kasih untuk pengobatan gratisnya. Aku anggap ini impas terhadap apa yang aku lakukan malam ini.”

Yoochun mengangkat kakinya yang dibebat dan perlahan berjalan dengan pelan, meraba tembok dengan jarak konstan dua sampai tiga senti per detik. Yuri tertinggal di atas kasur, memandangi punggung pria yang kini makin menjauh dari jarak pandang matanya. Segala sesuatunya harus diputuskan di sini dan hari ini. Jika Yuri memutuskan untuk membiarkan asumsi alien tertanam di otak Yoochun untuk selamanya, maka ia sekarang tak mengerti mengapa ia menghentikan langkah sang pria dengan menghalangi pintu keluar.

“Apa yang kaulakukan?” Tanya Yoochun penuh curiga.

“Kita harus bicara sedikit lagi,”

“Soal apa?”

“Soal aku.”

Yoochun mengamat-amati ekspresi Yuri sejemang sebelum akhirnya berkata, “Aku lelah, kita bicarakan besok saja.”

“Tidak, harus hari ini, harus sekarang.”

Yoochun memandang remeh pada permintaan sang gadis, dengan sebuah kerlingan tak acuh dan kekehan mengolok, ia menepis tangan Yuri agar enyah dari knop pintu. Sang gadis bertahan, kali ini menghalangi knop pintu dengan tubuhnya sehingga jarak keduanya hanya tersisa beberapa senti saja.

“Biar aku tekankan lagi, Kwon Yuri. Ki-ta bi-sa bi-ca-ra be-sok. Pokoknya bicara besok. Kau ini kenapa sih? Memangnya kau akan mati besok?”

Yuri mengepalkan tangannya; sekarang atau tidak sama sekali.

“Pertanyaan menarik, tapi maaf, aku sudah pernah mati sekali.”

.

.

.tbc


Halo!

Sudah lama tak bertemu melalui fanfiksi satu ini ya. Oh iya, cuma sekadar ingin share, seluruh fanfiksiku tidak terpengaruh dengan fakta yang terjadi di ranah Kpop ya. Misalnya, Yoochun lagi main drama sama Shin Se Kyung, atau Yuri pacaran sama Oh Seung Hwan–atau siapalah, fanfiksiku tetep lanjut. Jadi, tenang aja, semua fanfiksi akan dilanjut kalau mood-ku sedang oke.

Terima kasih

nyun

30 thoughts on “MELODY OF SILENCE #7

  1. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Wah wah, yoochun udah mulai curiga ama yuri, anddd!! Diakhir yuri ngasih tau yoochun bahwa dia pernah mati.. Makin kesini penderitaan yuri makin banyak , hihi.. Ceritanya makin menarik , ditunggu kelanjutannya ya^^

  2. mutia arizka yuniar berkata:

    WOWOWOWOWOWWWWWWWWW yuri nya jujurrrrr, yoochun nya ngejauh engga’-‘?, aduh moment yoochun yuri nyaaaaa, jongsuk yuri nya gimana, ahh sudahlah ditunggu chapter8 nya kak,

  3. mellinw berkata:

    Gilaaaa akhirnya kaknyun lanjutin lagi.
    Ah aku suka sama kata kata akhir kaknyun. Gomawo muah..

    Kak, asik nih yoochun penasaran abis dgn yuri dan mereka mulai terang terangan gitu. Udh makin ke dalam ceritanya. Aku suka suka suka..

    Ditunggu kelanjutannya loh kak.
    Btw aku suka posternya hehehe

  4. Shin Min Mi berkata:

    baguslah klo masih tetep dilanjut, tapi adegan yoochun yg mendekai yuri dan yuri mulai membaca wajah yoochun jdi inget TGWSS ep 10😀 disitu kelewatan bgt yoochun, bikin ngiri ha8.. maap malah curhat😀 yang pasti seneng bgt ini dilanjut, part ini bener’ monent yuriyoochun, jongsuknya lgi liburan kali ye, dan semua kejadian yg menimpa mereka berdua emang kesialan yg mulai menghampiri yuri kan? btw mobil yg nabrak mereka tu yonghwa bukan? *mikir* dan akhirnya yuri jujur juga ma yoochun, jd inget master sun gitu kkkk.. makasih lah pokonya bt lanjutin bikin ff nya, yg laennya fitunggu lo yun, beneran deh, apalagi yg TOZ please please dilanjutin🙂

    • Shin Min Mi berkata:

      oiya ni poster baru kan, bikin sendiri ya? bagus lo, lebih ngena ma ceritanya di part ini,, hanya yoochun dan yuri🙂

  5. Stella Kim berkata:

    Jujur sih bagus yul tapi timingnya ga tepat lol
    Kalo yoochub jadi gila pas denger lu ngomong kalo lu ud pernah mati sekali gmn wkwkwkkwwk!

    Eonnnnn udah lama banget nungguin kelanjutan dari berbagai ff di sini. Hu-uh kangen sama yuri, kangen sama cerita u ttg yuri. Nungguin ni cerita sampe jenglotan , eh maaf maksudnya jengotan!

    Pokoknya semoga u bakal mood terus buat lanjutin ff-ff disini ya. SEMANGAT

  6. Hn_avy berkata:

    Wah apa sbhaya itu y kalau deket Yuri?
    Hihi sbnernya aku tuh suka sama jongsuk-yuri di sini.Tpi berhubung gak mungkin ff ini semuanya memuat tentang mereka,jadi kuktakan AKU SUKA

    Pnasaran deh liat tanggepan yoochun gmna pas denger kalimat trakhir tdi..
    Apapun itu aku suka bgt ff ini jadi smoga mood kakak tetep baik y..
    Trmakasih y

  7. zcheery berkata:

    waaa udah keluaarr wgwgwg
    hiii yoori moment nya aaaa ngenes banget ya hahahaha tapi bagus kookkk.. AMAZING

    ganahan rasanya ya kalo jadi Yuri udah di ubah jadi manusia, di jadikan calliope[?] lagi, penderitaan mu nak, sedih kumelihatnya😂#YuriRapopo #PrayForYuri

    thx for your hardwork kak hahaha semangat yoo💪

  8. vialee945 berkata:

    akhirnya di update juga :’)
    kalo alien tampan do min joon, kita kedapatan alien cantik kwon yuri xD
    waduhh akhirnya yuri ngaku ke yoochun. semoga yoochun bisa membantu :’)
    oke deh.. ditunggu kelanjutannya ya🙂

  9. wulan berkata:

    halo eonni….
    wah, yuri eonni mau jujur nih sma yoochun oppa??
    g’mna yah, tanggepan yoochun oppa, stlah yuri eonni mengatakannya….

    penasaran… next, eon.

  10. liliknisa berkata:

    Aku baru liat ternyata kak nyun udah update asik. Makin penasaran aja sama kelanjutannya.

  11. Cynthia berkata:

    Yey sdh dilanjut ffx..
    Kak ff yg lain donk diterusin..
    Wahh knp kok yuleon mau cerita identitasx yg asli… Waduhhh gmn ya crita selanjutx..
    Dtgu😀

  12. lizanining berkata:

    huaaaaaa kudet lagiii u,u
    endingnya greget kak finally ada pengakuan 😱
    itu yoochun asli bisa liat roh apa emang karna takdirnya yoochun sama yuri jd dia bia liat gituan? hmm…..

  13. Potterviskey berkata:

    Sorry for late comment kak:( Skrg udah bisa komen pake acc lg nih hihi=D
    Adegan awal-awal itu menegangkan sekali, serem coba dikelilingi hantu-hantu gitu apalagi kalo hantunya mau masuk ke tubuh, asli malah merinding sendiri. Terus itu yang papan reklame besar jatuh itu wah curiga ada yang ngerjain ituu wkwk anyway disini aku jadi keingetan film horror comedy spellbound yg pemainnya son ye jin. Serem tapi ingin ngakak juga apalagi pas baca ‘Ayam Goreng Kebahagiaan untuk Anda’. Bukan cerita kaknyun kalo engga ada pelesetan komedinya hihi.
    Aku kirain yuri bakal pengakuan jati dirinya itu nanti-nanti atau yoochun tau nya lagi gak sengaja lewat gitu pas yuri lg ngobrol sama bobby atau apa hahaha. Dan tentu saja diri ini penasaran gimana reaksinya yoochun kalo udah tau yuri pernah mati, atau jangan-jangan dia malah gak percaya hahaha.
    Keep writing kak, ku akan terus menunggu kelanjutannya hihihi =))

  14. windakyr berkata:

    Ayam goreng kebahagian😄 *seketikaingetupinipin*
    setelah sekian lama gak baca fanfic, kaknyun akhirny update xD seru eonnn, aku jadi malah ngebayangin hantu hantu yang ngerumin, ini malam jumat lagi.____.

  15. Lulu Kwon Eun G berkata:

    woooww.. aq kudet:(
    kok yuri nya cepet ngaku kak nyun? jangan jangan, jgn jangan nih…
    aku suka bgt chap ini bcos cuma ada Yoochun n Yuri.. ya wlopun bnyk pertumphan darah.. bahaq
    sumpah mkin seru dah.. next.a bkin penasaran bgt.. smoga mood.a kak Nyun oke terus.. amin
    smangat ye kak!!

    oya blog nya mkin keren! tulisan kak nyun jg tambah keren! org.a apa lagi.. bgt dah.. hhe

  16. babyhaena berkata:

    jadi pairingnya yuri sama yoochun ya?😦 padahal lebih pro ke dia sama jongsuk
    but gapapa lagi seneng sama yoochun juga gara gara sensory couple

    pertamanya ngakak baca ‘ayam goreng kebahagiaan’ eh ternyata menyeramkan
    keep going kak nyun, love ur story!

  17. sinta dewi berkata:

    udah pernah baca pas semingguan yang lalu berhubung bacanya malem n dah ngantuk jd ketiduran jadi lum sempet comment…jd sekarang balik lg kesini nyelesaiin baca n kasih comment…

    Nyun…nyun …. itu si yuri penderitaannya ga abis2 ya……adeehh sinyun walaupun endnya Yuri ngasih tau ke yoochun kalo dia dah pernah mati, tetep bukan Nyun namanya klo readers ga dibikin penasaran… jadi pengen tau reaksiny yoochun stelah yuri kasih tau rahsiany… jadi ngejauhin kah atw makin deket…..
    Sungguh mati aku jadi penasaran…eeeeaaaaaa….

  18. bestfriendExoSone berkata:

    kasihan yuleon diganggu makhluk halus..
    yoochun oppa pernah mati sekali?
    penasaran ceritanya yoochun

  19. Bintang Virgo berkata:

    Hah?
    Yuri mau ngungkapin semua?
    Dari jati dirinya sampe bagian mau manfaatin jongsuk?
    Yoochun bakalan percaya nggak ya..

    Pokoknya ff ini bikin penasaran tingkat dewa.. Keren

  20. lavinahyun berkata:

    Aduh, bagaimana ini bagaimanaaaa..
    aku tau kak ini udah telaattttt bangettttttttttt, tapi gak apa-apa lah dari pada gak ninggalin jejak..
    aku baru baca sekarang kak setelah barusan baca part ke enam lagi karena aku lupa ceritanya gimana,. /maapkan aku kak/
    Okee, jadi seperti nya ceritanya makin seru aja. Yoochun yang mulai curiga siapa Yuri sebenarnya, dan ternyata Yuri bilang kalau dia udah pernah mati!!! Omaygat, kira-kira gimana pendapat Yoochun, wah makin penasaran eykee.😀
    Bukan kak nyun kalau gak bikin kita senyum sedikit, begitu aku ketemu judul MoS part 7, perhatianku langsung menuju kata-kata summary-nya. ‘Ayam Goreng Kebahagiaan’ aduh kak, pas banget karena aku juga lagi ngidam itu /eh/
    Udah ah, dari pada nanti muter-muter gak jelas, lebih baik aku cukupkan komen aku, makasih banyak kak.😀
    Semangat, Kanyun!🙂

  21. Tarhyulk berkata:

    “AKU HAMPIR TERTIMPA AYAM GORENG KEBAHAGIAAN” ap mksudnya ?
    “Biar aku tekankan lagi, Kwon Yuri. Ki-ta bi-sa bi-ca-ra be-sok. Pokoknya bicara besok. Kau ini kenapa sih? Memangnya kau akan mati besok?”

    Yuri mengepalkan tangannya sekarang atau tidak sama sekali.

    “Pertanyaan menarik, tapi maaf, aku sudah pernah mati sekali.”

    Omaygottt ,, what thee ???? Yul bnar2 jjur yah ,, lbih baik jjur aj deh dri pda yoochun prcya klo yul unnie Alien ^^ hahaha

  22. joohyun berkata:

    OH.MY.GOD.. this is it! akhirnya yuri akan mengungkapkan identitasnya..hmm..itu pun kalo yoochun percaya😀 kak nyun, yg “ayam goreng kebahagiaan untuk Anda” itu lucu banget wkwkwk😀 mengurangi ketegangan🙂 very nice (y)
    jadi kasihan sama yoochun.. dia jadi sering terluka setiap menyelamatkan yuri😦
    stay strong yoochun-ah~

  23. kyulyulmiu berkata:

    Kaknyunn
    Aku ganti id ya kak,tadinya id aku->agneskyuri21(kyuri21) menjadi kyulyul kemudian berganti lgi jadi kyulyulmiu karena aku udh punya akun wp kak,semoga kk inget TT

    Nah apa ya reaksi yoochun pas yuri bilang dia udh pernah mati,dia aja anggep yuru alien,jgn2 ntar dianggep gila lgi wkwk
    Izin bca nextpart kak

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s