[Vignette] Blind Date

Blind date 2 copya story by bapkyr (@michanjee)

BLIND DATE

this story is a request from Potterviskey in “Fanfiction by Request” Event. Visit her blog HERE

starring

Kwon Yuri of SNSD & Choi Minho of SHINee | Romance, AU, Fluff | General | Vignette [1.200 words]

.

.


Menyedihkan.

Kalau Yuri bisa merangkum keseluruhan esensi hidupnya dalam sebuah kata, maka menyedihkan sangat pas untuk itu. Usianya sudah beranjak memasuki kepala tiga namun ia tak kunjung diberikan kesempatan mencicipi nikmatnya memiliki pasangan. Berulang kali ia terlibat dalam urusan percintaan yang berujung pada perpisahan pahit. Tak perlu menyebutkan seorang pria yang kemudian berselingkuh terakhir kali.

Hidup Yuri luar biasa sulit. Tak hanya bagi dirinya sendiri, imbasnya sampai ke seluruh keluarganya. Mereka mengeluh setiap hari, mulai tentang Yuri yang tampak sebagai wanita tak laku, hingga soal siapa yang bertanggung jawab membetulkan atap rumah. Keluarganya memaksa Yuri untuk mengunjungi beberapa kali acara kencan buta, menjodohkannya dengan para lelaki yang tak pernah dikenalnya. Diakuinya memiliki pasangan itu sama esensialnya dengan memasangkan sepatu pada telapak kaki, namun apa perlu ia mencoba sepatu yang bahkan tak akan pernah muat di kakinya? Sementara, itulah yang terjadi padanya.

Sekilas tentang Yuri, ia nampak seperti wanita matang pada umumnya. Pekerjaannya umum—pegawai administrasi di sebuah kantor konsultan hukum—dan tak banyak menyita waktu. Parasnya menawan disertai tubuh proporsional yang menggoda. Ia tahu bagaimana mendandani dan menambah nilai jual pada dirinya sendiri dengan tak menghilangkan unsur alami yang dimilikinya. Ia tahu mode, tahu gaya rambut yang pas untuk bentuk wajahnya dan tahu bagaimana harus berlakon di kehidupan sosial. Sekilas, ia nampak seperti wanita normal pada umumnya. Namun demikian, Yuri memiliki kriteria yang ketat untuk calon pendampingnya. Ia beberapa kali ditipu pria, beberapa kali dipermainkan dan beberapa kali dimanfaatkan, sehingga pengalamannya itu menjadi cambuk dalam memilah dan memilih pria pendamping hidupnya.

Ia setuju akan kencan buta yang diatur oleh keluarganya namun Yuri tidak pernah meloloskan satu pun pria lebih dari satu bulan. Jika dirasa pria pilihan keluarganya tidak akan cocok, maka ia hanya akan memacarinya selama satu bulan sebelum mengenyahkan mereka.

Hal yang sama juga sudah direncanakan Yuri hari ini, dengan seorang pria yang lain. Sang pria memperkenalkan dirinya sebagai Choi Minho. Penampilannya kasual dan santai dengan gaya bicara yang tak bertele-tele dan keremaja-remajaan. Sempat Yuri mengira sang pria lebih muda darinya sampai akhirnya mereka mengobrol lebih jauh dan berkenalan satu sama lain. Pria ini jelas menarik. Yuri menyukai bagaimana ia berpenampilan dan berkata-kata, seolah mereka sudah berteman sejak lama.

“Jadi, aku yang keberapa?” Pria itu berbicara. Diayun-ayunkan sebuah topi di ujung jemarinya sementara maniknya sibuk melirik pada Yuri.

“Maaf?”

Blinde date.”

“Oh, ke-13,” jawab Yuri singkat.

“Angka sial.”

“Uh-oh.” Yuri mengangguk kemudian membalikkan pertanyaan yang sama pada sang pria. “Kau?”

“Ini kali keduaku. Yang pertama gagal karena aku mendadak disiram jus jeruk.”

Yuri mengedikkan bahu. Wajar jika sang pria mendapatkan hal itu. Belum dua menit mereka duduk bersama, ia telah mengunakan banmal, hal tersebut merupakan contoh kecil akan kekurangajaran pria ini. Namun demikian, Yuri tak mau ambil pusing. Kalau dirasanya sang pria tak mendekati kriterianya, maka mudah bagi Yuri untuk meninggalkannya sekarang. Yang perlu ia lakukan segera adalah observasi dan evaluasi—dua tahap esensial dalam ujian pra-kekasihnya.

“Untungnya jus jeruk gampang dibersihkan. Kalau kuah kimchi, wah, itu perkara lain.” Minho menggelengkan kepalanya seraya bermonolog. Kata-katanya mengingatkan Yuri akan kejadian beberapa minggu lalu, saat ia menyiramkan kuah kimchi pada pria cabul yang ditemuinya di sebuah kedai soju. Yah, sudah agak lama, pun kejadiannya terlalu cepat, susah diperjelas.

“Omong-omong, kenapa kau tidak bosan dengan kencan buta. Menemui pria asing tiga belas kali jelas bukan perkara mudah untuk para gadis,” Minho berujar. “Kau bukan pengidap sindrom kencan buta atau semacamnya kan?”

Yuri ingin melemparkan sepatunya ke wajah Minho, namun urung ia lakukan. Pria ini benar-benar sok tahu dan menyebalkan.

“Faktor usia dan tuntutan peran sebagai anak,” jawab Yuri. “Kau? Kuyakin kau tidak seiseng itu untuk datang ke kencan buta.” Atas reaksi Minho terjadap kalimat Yuri yang diucapkan dengan nada mengolok, Yuri tahu betul bahwa senyum sang pria hanya reaksi kamuflasenya saja.

“Meski penampilanku begini, aku cukup sibuk. Ya, aku juga tidak bermaksud iseng. Hanya saja, kupikir kencan buta dapat membantuku menemukan gadis asing yang menarik.”

“Oh,” Yuri mengangguk. Jika Yuri membawa checklist kriteria pria idamannya, maka ia yakin poin determinasi pada tujuan telah dicoret mutlak dari daftar penilaian pria ini. Choi Minho tampak tak memiliki ketetapan hati dan main-main. Bukan merupakan satu di antara sepuluh pria yang akan masuk ke daftar nominasi kekasih idaman sang gadis.

Yuri jadi gatal untuk mengakhiri ini segera. Diliriknya arloji yang sudah semakin bergerak maju. Ia tak bisa buang-buang waktu. Observasi sudah dilaksanakan, kini saatnya ia mengevaluasi sang pria dengan pertanyaan pamungkas.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Oh,” Minho membenahi posisi duduknya. “Kau kelihatan sangat serius, aku suka itu. Katakan saja.”

“Ehm,” Yuri berdeham, memutar otaknya agar pertanyaan inti yang tak mampu dijawab oleh pria-pria yang telah ia kencani selama ini, bisa kembali dibahas bersama Minho. Siapa tahu, pria pecicilan itu bisa membuatnya terkesan—meski Yuri tak yakin. “Kita tak saling kenal sebelum ini, kau belum pernah tahu seperti apa aku ketika aku di luaran sana, dan aku pun tak tahu seperti apa dirimu. Jika takdir mempertemukan kita dalam kondisi lain—ehm—kekasih, misalnya, bagaimana caramu meyakinkanku bahwa kita diciptakan untuk melengkapi satu sama lain?”

Yuri menghela napasnya ketika ia sampai di ujung pertanyaannya. Entah metoda apa yang akan Minho gunakan, itu bukan urusannya. Sang gadis semata hanya menginginkan jawaban yang masuk akal—setidaknya dapat dipercaya. Ketidakpedulian Yuri benar-benar menunjukkan konsistensi luar biasa dari caranya memasang ekspresi tenang pada cekikikan Minho yang hampir mengganggu pengunjung kafe yang lain.

Yuri memutuskan untuk menyesap kopinya yang sudah dingin sembari menunggu sang pria mereda dengan sendirinya. Situasi canggung tersebut berlangsung kurang-lebih lima menit sampai akhirnya bunyi berisik dari gesekan lantai dengan kursi yang diduduki Minho memaksa sang pria untuk diam.

“Kau memang bertanya apa kau sedang memberiku tes, Nona Kwon?”

“Tergantung perspektifmu, Tuan Choi.”

Yuri mengangkat dagunya, mengokohkan aura kuatnya pada sang pria. Dari gerak-geriknya, sudah jelas sekali Minho tampak tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan pada Yuri.

“Perspektifku agak sedikit kontradiktif.”

“Dan agak berbelit-belit, kurasa,” Yuri menyesap kembali kopinya. “Jadi, katakan padaku jawaban yang tepat dari sudut pandangmu.”

Minho menjentikkan jarinya, “Kau mungkin tidak akan pernah ingin pergi dariku kalau kau mendengarnya.”

“Pernyataanmu membuatku ingin tertawa.”

“Pertanyaanmu lebih membuatku seperti itu. Kau terlihat pintar, Nona Kwon, tapi pertanyaanmu tak sedikit pun mencerminkan kecerdasan yang kaumiliki.”

Yuri mengerutkan kening. “Kau mengejekku? Apa itu masuk akal seseorang sepertimu mengejekku?”

Minho berdecih. Dengan penuh percaya diri, ia membalas, “Aku tentu tidak bermaksud demikian, Nona Kwon. Tapi pertanyaanmu tentang takdir tadi terasa sedikit menyedihkan. Seolah kau tidak menemukan apa yang kaucari selama ini dan kau menimpakan seluruh rasa frustasimu pada pria-pria yang kautemui.”

Yuri menghela napasnya.

“Apa yang salah dari pertanyaanku? Tidakkah wajar bagi seorang wanita mempertanyakan masa depan dan kebahagiaannya pada pria yang memilikinya?”

“Cih,” Minho melepaskan sebuah kekehan singkat. “Pertanyaanmu sangat umum dan sama sekali tidak salah, namun jawaban yang kaucari, sebenarnya sederhana sekali. Karena itulah aku meragukan kecerdasanmu.”

“Apa? Bagai—“

“Nona Kwon,” Minho menyela, mendekatkan tubuhnya pada gadis yang kini menatapnya gugup. “Tempat kau duduk saat ini adalah permukaan bulat dari planet raksasa kebiruan yang melayang di ruang hampa udara. Kau hidup dengan udara tipis di bawah atmosfer di mana meteor, komet dan satelit bisa menghancurkannya kapan saja. Saat malam, kau terbiasa memandangi benda bulat bersinar yang kemudian dapat menggerakkan pasang-surut air laut tanpa takut malfungsi yang akan terjadi. Kau hidup seperti itu, dan kau masih tidak percaya pada sebuah keajaiban? Jika hal-hal berbahaya tadi dapat membuatmu hidup, kenapa aku tidak?”

Entah mengapa Yuri merasa malu sekali. Rasanya ia ingin menutupi wajahnya dengan es kopi dan berharap pekat hitamnya akan mengusir Minho dari hadapannya.

Alih-alih tersenyum puas karena berhasil membisukan sang gadis, Minho menundukkan kepalanya, menatap sepatu kets biru terang yang dikenakannya saat itu. Tak berapa lama kemudian ia akhirnya bersuara.

“Apa jawabanku memuaskan pertanyaanmu, Nona Kwon?”

“Kau agak—yah—entah… mungkin, kau ada benarnya.”

“Bagus, sekarang giliranku,” Minho berdeham, menggetarkan tenggorokannya. “Pertanyaanku, kau juga harus jawab pertanyaanku.”

“Eh? Apa? Tunggu!”

“Ini mudah, Nona, sebuah pertanyaan ya dan tidak. Beberapa minggu lalu, aku melihatmu menumpahkan kimchi pada seorang pria. Aku juga melihatmu saat seorang gadis menyirami jus jeruk padaku. Hari ini, aku melihatmu lagi sedang duduk-duduk kebingungan di depanku. Lantas pertanyaannya, apakah mungkin aku akan melihatmu lagi esok?”

Mendadak tubuh Yuri menyahut rileks pada pertanyaan tersebut. Minho baru saja membukakan sebuah jalan berpikir yang baru dan segar baginya. Itu sangat hebat untuk seorang pria yang baru dikenalnya selama dua jam terakhir. Jika ada pilihan ya atau tidak untuk menemuinya kembali, Yuri pasti sudah tahu apa yang ia pikirkan.

“Tuan Choi, apa barusan aku menyiramimu dengan jus jeruk?”

“Eh?” Minho terlonjak. “Tidak, em kenap—“

“Apa aku menyiramimu dengan kuah kimchi?”

“Itu juga tidak.”

Yuri tersenyum penuh arti.

“Nah, kalau begitu kau sudah tahu jawabanku.”

.

.

fin.


Terkhusus bagi pencetus ide plot, Potterviskey, karena dirimu membebaskan aku untuk pemilihan male cast, dan berhubung cast Donghae yang kamu sarankan sudah termuat dalam fanfiksiku baru-baru ini, jadi aku menggunakan Minho. Maaf kalau kurang berkenan. Hehe.

Dengan ini, sudah dua project request-an fanfiksi yang sudah terealisasi. Aku berniat memilah dan memilih plot yang kuanggap menarik  dari semua request yang masuk. Kalau ide fanfiksi kamu belum juga dibuatkan olehku, berarti aku sedang dalam masa penggodokkan plot dan karakter. Meski gak semuanya dapat kusulap jadi fanfiksi, semoga tidak mengurangi antusiasme kawan-kawan semua dalam membaca ya 🙂 Aku berusaha semampuku mewujudkan request yang sudah masuk. Please wait for more surprise!

sincerely,

nyun

 

Iklan

32 thoughts on “[Vignette] Blind Date

  1. ahhh ini so sweet.. cerita pendek tapi berkesan 🙂
    sudah lama aku gk baca ff minyul , dan vignette kali ini sukses bikin aku jadi suka minyul lagi :’)

  2. halo kak nyuuuuun, udah lamaaaaa banget ga baca ff disini T____T

    seperti biasa ff kanyun ga pernah mengecewakan >_<

    akhirnya ada ff minyul lagi muehehe :3

    ceritanya kereennnnnnn, cie aja yuri kayaknya udah nemu yang pas tuh buat pendamping xD #apa

    keep writing kanyun! ^^)b

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s