[Oneshot] THE HEALTH

THE HEALTH copya story by bapkyr (@michanjee)

THE HEALTH

loosely based on request from Juliahwang on “Fanfiction by Request” Event. Visit her blog HERE

starring

Kwon Yuri of SNSD, Kai/Kim Jongin from EXO & Bobby from iKON

Length oneshot Genre action, AU, romance, bit sci-fi? (dunno), suspense, mystery Rating PG-13

“Ketamakan manusia adalah hal paling berbahaya.”


Aku terbangun di antara gundukkan pasir keemasan—yang awalnya kukira sebagai timbunan debu emas—tanpa ingat siapa diriku. Gundukkan tersebut berada tepat di bawah sebuah lubang raksasa yang dari sisi-sisi mulut lubangnya masih meluruhkan debu-debu keemasan. Dari posisi aku terjengkang dan sebagainya, bisa kusimpulkan bahwa aku baru saja jatuh dari ketinggian lima belas meter di atas sana. Aku menyentuh kepalaku, memeriksa barangkali ada kebocoran kecil di beberapa permukaan, namun aku tak menemukan apa pun selain beberapa helai rambutku yang rontok. Pemeriksaan kesehatan dadakan pun kulakukan di bagian tubuhku yang lain dan berharap tak ada luka serius. Kecuali tiga luka tusukan jarum di bagian pergelangan tangan kananku, segalanya baik-baik saja.

Aku memandang ke atas, memeriksa barangkali ada seseorang di sana atau sesuatu yang luput dari pandanganku. Langit kehitaman dengan sebuah bintang yang berdiri sendiri seolah tengah mengejekku pada akhirnya menuntunku pada kesimpulan bahwa tak ada hal-hal yang mencurigakan. Aku terduduk kembali di atas timbunan pasir, memandanginya kosong tanpa rencana. Saat itulah aku mulai memperhatikan ruang-ruang di sekitarku. Untuk sebuah lubang raksasa, rasanya ruangan ini begitu besar. Di sekelilingnya terdapat tembok beton kecokelatan bak pasir dengan tonjolan-tonjolan berbentuk kerucut terbalik. Sekurang-kurangnya enam tonjolan berjajar dengan rapi, seolah benda tersebut memang dirancang menjadi ikon penyambutan bagi siapa pun yang berkunjung ke sana.

Luapan rasa penasaranku yang membabi buta menuntunku menyambangi salah satu tonjolan di sebelah kiri. Aku merabanya, kemudian berjinjit untuk memastikan isi di dalam kerucutnya. Aroma menyengat dari bensin yang bercampur bau gosong bercampur di dalam hidungku, membuatku cepat-cepat menjauh. Namun begitu, rasa penasaranku terjawab sudah. Dilihat dari bagaimana tetesan bensin dan bau gosong tersebut menyerang inderaku, tonjolan tadi mungkin telah digunakan sebagai dudukan obor baru-baru ini.

Tebakanku bisa saja salah besar, namun saat itulah pembuktian tidak logis terjadi di depan mataku. Dinding tadi terbelah menjadi dua diiringi suara bergemuruh. Timbunan pasir-pasir berderak, terbuyarkan bak ledakan besar yang melontarkanku ke udara semena-mena. Undakan kemudian muncul di tengah ceruk besar akibat pergeseran dua tembok tadi. Perlahan tapi pasti, undakan tersebut berderak terus, mendorong kedua tembok yang sudah terbelah untuk memberinya jalan.

Aku terdiam beberapa lama sembari memecahkan persoalan kenapa aku tidak merasa sakit sedikit pun setelah terlontar keras oleh pasir barusan, namun undakan misterius tadi seolah tak mengizinkanku untuk kehilangan fokus. Tanpa peringatan, tanah yang kupijak kemudian terbelah dua, membuatku kerepotan terlontar ke kanan dan ke kiri. Dari celah besar di bawah tanah, muncullah cabang anak tangga yang lain yang mengarah pada undakan utama. Celakanya, aku terjatuh ke dalam sana, ke sebuah anak tangga yang masih bergerak, menyelaraskan posisinya dengan undakan utama. Salah sedikit, bisa-bisa aku terjepit di antara dua anak tangga yang akan terjalin jadi satu itu.

Refleksku mendorong untuk bergerak terus. Aku memerintahkan tubuhku untuk terus bergerak menjauh dari sambungan, berharap waktunya cukup untuk menyelamatkan hidupku sendiri. Anehnya, meski keadaanku cukup buruk, aku tak merasa panik sedikit pun. Seolah-olah apa yang kuhadapi hari ini sama biasanya dengan bernapas setiap hari.

DUM.

Sebuah suara luar biasa memekikkan telinga berdebum begitu saja di dekatku. Aku tak membiarkan diriku untuk terlonjak barang sesekon pun, jadi yang kulakukan adalah menyibukkan pikiran dan energiku pada kemisteriusan anak tangga barusan. Kini undakan tersebut semakin jelas di mataku. Aku berpijak pada bagian terluar yang bahkan tidak semenyeramkan apa yang ada di hadapanku. Tepat di celah besar antara kedua tembok yang terbelah, siluet pria muncul di pangkal tangga yang mengarah ke bawah. Ia berjalan seolah runtuhan bebatuan kecil dan pasir-pasir emas yang berterbangan bukan gangguan sedikit pun.

Siluet tersebut kemudian semakin nyata saat sinar rembulan memasuki celah-celah kecil dari hasil pergerakan misterius tadi. Sosok pria dengan setelan hitam yang sebagian wajahnya dibalut topeng kini berdiri di hadapanku. Sebuah celah kecil dari topengnya mempertontonkan iris matanya yang hitam legam, kontras dengan iris abu-abu di matanya yang satu lagi. Pria itu mengenakan sarung tangan hitam dan berdiri di sisi sebuah tongkat penyangga kecokelatan berukir naga-naga yang tengah memangsa satu sama lain.

Perlu kutegaskan sekali lagi, aku tidak panik. Malahan ada perasaan hangat yang sangat kukenal menjalari seluruh tubuhku, membuatku tidak akan pernah memalingkan fokus pandanganku dari sang pria bertopeng. Sejujurnya ini aneh untukku. Pertama-tama, aku terbangun dalam timbunan pasir tanpa tahu aku siapa, lantas menyusul fenomena benda-benda dan bangunan yang bergerak di sekitarku, kemudian terakhir, dengan ajaib seorang pria bertopeng muncul dari perut bumi. Hebatnya, di antara segala keanehan tersebut, aku merasa baik-baik saja. Aku merasa sehat, normal dan bersemangat untuk alasan yang tidak kuketahui.

“Selamat datang kembali,” pria itu bersuara. Saat itu telapak tangannya terbuka, seolah ia bertanggung jawab untuk pesta penyambutan. “Nona Kwon.”

Aku bergetar saat ia menyebutku seperti itu. Aku yakin ia baru saja menyebutkan sebuah nama, namun nama siapa? Apakah ia sedang memanggilku? Lalu kalau bukan, kenapa nama tadi terasa tidak asing?

“Sudah sebulan ini kami mencarimu, Nona. Kupikir mereka tidak akan membiarkanmu hidup.”

Lagi-lagi, aku merasa pembicaraan ini tak asing meski banyak sekali misteri yang tidak bisa kucerna. Seolah-olah, ada kepingan besar di dalam otakku yang malfungsi.

“Kau kelihatan aneh, kau baik-baik saja?” Pria itu melepas topengnya saat ia berjalan ke arahku. Jika aku jadi dia, aku pasti tidak akan pernah melepaskan benda itu dari wajahku. Bukan, bukan, wajahnya jauh sekali dari sebutan buruk rupa, bahkan kebalikannya, ia terlihat sangat teramat tampan. Aku tak bisa menjelaskan lekuk-lekuk wajahnya secara mendetail karena saat ia mulai berjongkok untuk memandangku, bibirnya langsung mendarat pada bibirku.

Aku hendak mendorongnya menjauh dan sebagainya, namun tubuhku rupanya tidak setuju. Aku diam saja merasakan aliran aneh yang merayapi seluruh tubuhku. Bagian syarafku merespons rasa dingin yang teramat sangat di pori-pori kulitku, namun secara fisik, kulitku menghangat dan—mungkin saja—merona kemerahan. Bibir pria ini sangat lembut dan bersahaja, seolah ia sudah tahu bagaimana memberikan sentuhan yang layak pada bibirku. Ini semakin aneh saja saat aku tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di kepalaku yang kemudian mengganggu acaraku dengan sang pria.

Penglihatanku berdenyar kabur. Undakan di bawah kakiku berubah menjadi kabel-kabel sensorik dan layar besar, orang-orang asing berkeliaran di sebuah tabung reaktor kecil yang seolah menyedot perhatian mereka. Seseorang berteriak di balik tubuh mereka, namun tak ada satu pun yang peduli. Pemandangan berganti menjadi sebuah ruangan persegi sempit berukuran empat meter kali empat meter. Di tengah ruangan sebuah tabung besar berasap berdiri sempurna, mengunci seseorang yang tak sadarkan diri di dalamnya. Tembok-tembok putih mengelilingi tabung, kamera pengawas bertengger di setiap sudut yang bisa dijangkau, seolah seseorang tak berdaya di dalam tabung tersebut bisa kabur kapan saja. Saat aku mulai mendengar percakapan samar, pemandangan berganti lagi menjadi sebuah padang pasir nan gersang. Matahari terik berada tepat di atasku, membuatku berhalusinasi akan oase di depan mataku. Aku merasa sangat kelelahan, namun aku tak pernah berhenti. Jika aku berhenti, kepalaku terasa seperti akan meledak, darahku akan keluar dari setiap pori-pori kecil yang aku miliki, aku menjadi lebih sekarat dari apa yang kuprediksikan. Dalam visi blur tersebut, aku juga sempat melihat ada sekurang-kurangnya tiga orang berpakaian serba putih yang memanggul senjata berjalan pelan di belakangku. Moncong senjatanya seolah membidik punggungku.

Pemandangan lainnya kemudian mengacaukan visi sebelumnya. Aku tidak lagi berada di padang pasir, aku berada di sebuah helikopter. Seorang wanita berusia kurang-lebih empat puluhan mengelus kepalaku, menunjukkan mayat-mayat pria berseragam putih yang kulihat dalam padang pasir sebelumnya. Sebelum aku berteriak, ia tersenyum sembari menyuntikkan pergelangan tanganku dengan cairan pekat hingga tanganku mati rasa. Aku pingsan dalam pangkuannya. Kendati demikian, aku masih menangkap suara serak sang wanita ketika ia mengucapkan sebuah nama. Sebuah nama yang mendadak kuingat kembali saat visiku kembali ke dalam undakan tangga di perut bumi.

“Kai.”

.

.

“Tunggu, tunggu,” seorang pria bertopi mengamat-amatiku penuh konsentrasi, lalu beralih memandangi Kai—ya, si pria bertopeng itu bernama Kai—yang sedang duduk frustasi di sebuah kursi malas. “Maksudmu Yuri tidak bisa mengingat apa pun selain namamu?”

Kai mengangguk pasrah sembari menutup wajahnya, entah mengapa kelihatan sangat murung. Padahal, kalau mengingat rasa bibirnya… ah sudahlah.

“Biar aku coba,” pria bertopi menatapku lagi. “Apa kautahu siapa aku, Non?”

Aku mengernyitkan dahi. Wajah pria ini benar-benar kontras sekali dengan Kai. Hampir tak ada tanda-tanda kecerdasan dalam lekuk wajahnya, seolah ia memang sudah ditakdirkan sebagai pria dengan sejuta lelucon.

Aku menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaannya kemudian berkata, “Tidak. Apa aku mengenalmu?”

“Setahuku kita saling mengenal sejak berada di karantina, Non. Keahlian taekwondo dan judo-mu memangnya berasal dari mana? Itu berkat aku, Bobby si Pria Serba Bisa,” ujarnya bangga. Di ujung lain, Kai berdecih.

“Ia belajar dari Youtube.”

“Oh, eh, itu iya. Tapi aku yang merekomendasikannya pada Yuri, Kai. Aku bahkan men-download-kannya.”

Kai melemparkan sebuah jaket pada Bobby—yah, sepertinya itu namanya—kemudian dengan penuh karisma ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana depannya. “Itu tidak penting sekarang. Kita harus cari cara agar ingatan Yuri kembali dan memulai rencana kita dari awal.”

“Rencana?” Aku menelengkan kepalaku lantaran bingung. Aku hanya bisa mengingat sebuah nama dan kini aku tak sengaja terlibat ke dalam kumpulan dua pria linglung yang memiliki rumah di bawah tanah. Hebat? Tidak sama sekali. Aku bahkan tak terkesan.

“Aku jarang melakukan ini padamu sebelumnya karena biasanya kau tahu segalanya, namun karena kau hilang ingatan aku—“

“Jelaskan saja dengan singkat, Bob,” Kai memperingatkannya. Ia berjalan menjauh, menggaruk-garuk tengkuknya dengan gelisah.

“Ah, sial si Kai. Oke kalau begitu. Singkat cerita, kau, aku dan pria galau di ujung sana adalah sebuah tim elit dari FBI. Kalau kau perlu tahu apa itu FBI, silakan buka internet—pokoknya aku tak mau menjelaskan bagian itu.” Bobby berdeham. “Sebulan lalu, kita terperangkap ke dalam muslihat keji sebuah perkumpulan ilmuwan yang berencana bereksperimen dengan sebuah virus berbahaya bagi manusia. Jika virus tersebut diluncurkan maka korbannya akan kehilangan kontrol atas panca inderanya. Mereka akan kebal terhadap rasa sakit. HEALTH, nama perkumpulan tersebut—sebaiknya jangan kautanya bagian ini—berencana menginjeksi virus temuannya pada para tentara dan tim keamanan negara agar mereka dapat berperang tanpa merasa sakit. Pemerintah yang tahu aktivitas tersebut kemudian membubarkan HEALTH. Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi sampai akhirnya tersiar kabar ada sebuah kota di Mesir yang terjangkit penyakit aneh. Kita diperintahkan menyelidikinya dan tak sengaja menemukan markas baru HEALTH. Mereka telah banyak bereksperimen dengan manusia dan gagal sehingga banyak penduduk sekitar yang menjadi korban dan menderita penyakit aneh. Kau memerintahkan untuk melakukan konfrontasi dan saat itulah kita dikepung. Kita berhasil kabur namun saat itu badai pasir melanda gurun yang menjadi rute pelarian darurat. Aku dan Kai berhasil selamat, namun kau menghilang. Kami mencarimu sembari membangun markas tersembunyi baru yang letaknya tak jauh dari markas utama HEALTH. Lalu suatu hari voila! kau tahu-tahu muncul di dalam markas kami dengan ingatan yang ketinggalan. Kerja bagus.”

Aku tak tahu jika kerja otakku lumayan oke. Aku dapat mencerna segala macam kejadian yang diceritakan Bobby secara terperinci, tanpa ketinggalan detil-detil kecil dengan mudah—termasuk segelintir sarkasme yang terkandung di dalamnya. Aku tidak merasa terguncang, malah aku merasa seperti sebuah beban berat baru saja dicongkel keluar dari otakku. Lagi-lagi aku merasa sangat familier dengan kondisi Bobby dan Kai, seolah aku yang sedang bercerita, bukan mereka.

Namun aku masih belum memutuskan apakah mereka bisa dipercaya. Bisa jadi aku yang sedang diperdaya.

“Eh tunggu Non, kalau kau hilang ingatan…” Bobby memandangiku intens. Ia menyentuh betisku sehingga aku dengan refleks menendang kuat perutnya. Bobby mengaduh. “Kupikir kau kehilangan kemampuan judo-mu, ternyata yang amnesia hanya otakmu saja. Refleks bertarungmu masih oke. Sial, padahal aku ingin sekali mengalahkanmu, Komandan.”

Komandan?

“Istirahatlah dulu, Hon—maksudku, Nona Yuri. Kita akan membicarakan ini esok hari.” Kai berlakon aneh. Baru saja aku mendengar sesuatu yang hampir menggelitik telingaku, tapi kemudian ia menghentikan kalimatnya seolah aku tak boleh dengar hal-hal lain yang berpotensi mengganggu pemulihanku—padahal aku tak merasa sekarat.

Bobby tampak terlonjak dan Kai dengan tenang memberikan kode-kode yang tak dapat aku mengerti padanya. Sejemang kemudian ia mengajakku ke dalam sebuah kabin sempit dengan sebuah kasur kecil berseprai biru. Meski kecil dan tak memuat banyak barang bagus, tempat itu sepertinya tidak pernah ditempati namun sangat bersih dan rapi. Saat aku bertanya-tanya dalam hati, Bobby menjawab semuanya.

“Aku sudah menyebut Kai gila karena ia terus-terusan membereskan ruangan ini setiap pagi selama sebulan terakhir, berharap kau akan datang dan tidur di sini. Rasanya aku akan segera minta maaf menyebut Kai demikian.”

Aku luar biasa terkejut seorang pria keren dan tampan seperti Kai nyatanya punya sisi gentleman seperti ini. “Aku tidak tahu pria seperti Kai sangat setia kawan.”

Bobby mendengus kemudian terkekeh.

“Setia kawan? Setahuku dia tak pernah membereskan kamarku seperti ini meskipun kami berteman.”

Aku menggelengkan kepala tak mengerti. Kutatap Bobby, meminta penjelasan darinya. Namun sang pria bertopi tersebut tampak ragu. “Kau tidak ingat bagian itu juga, Komandan?”

“Tidak. Dan kenapa kau terus-terusan memanggilku komandan?”

“Sumpah deh.” Bobby mengumpat samar. Aku semakin penasaran. “Tidak apa-apa kalau kau lupa jabatanmu sebagai pemimpin tim, tapi bagian itu… aku tidak habis pikir…”

“Sebenarnya kau membicarakan apa?”

“Kai, tentu saja!”

“Kenapa dengan pria itu?”

“Kau tidak bisa menyebutkannya dengan pria itu saja, Komandan. Jauh sebelum kau ditangkap, dari yang terakhir kali kuingat, kau dan Kai adalah…” Bobby menatapku, ia nampak ragu-ragu. Beberapa kali aku melihat jakun Bobby naik-turun menelan saliva dengan susah payah. Di gerakan terakhir, ia mengecilkan volume suaranya, membuatku agak sedikit terkejut.

“Kalian adalah pasangan kekasih.”

.

.

“Ketua Tim,” seorang pria berseragam putih menyerahkan beberapa lembar dokumen dan sebuah tablet pada wanita paruh baya yang duduk dengan elegan di sebuah sofa. Saat tangan sang wanita menyentuh benda-benda yang diberikannya, sang pria buru-buru berbicara. “Umpan sudah dimakan, kami bisa melacak kolam ikannya.”

Sang wanita nampak terkesan. Ia menggerakkan jemarinya di atas layar, dan membandingkan apa yang ia lihat dengan apa yang tertera dalam dokumen di atas mejanya.

“Bagaimana dengan eksperimennya, Nathan? Ada kabar baik yang bisa kaulaporkan?”

“Belum, Ketua Tim—“

“Panggil saja aku seperti saat aku mengeluarkanmu dari penjara, Nathan.”

Nathan, sang pria berseragam putih, nampak tak nyaman dengan permintaan wanita di hadapannya. Meski begitu, ia tak punya pilihan. Nathan sudah tahu kemungkinan paling buruk yang bisa ia dapatkan ketika ia tak mengindahkan perintah si wanita.

“Baik, Nyonya Riley.” Nathan berdeham kemudian melanjutkan laporannya. “Bahan eksperimen telah menunjukkan aktivitas positif. Virusnya bekerja sama dengan baik pada sistem imun bahan eksperimen kita. Dengan tekanan yang sesuai, mungkin kita bisa segera lihat proses finalnya.”

“Bagus, aku suka itu. Jadi, kapan kiranya sebuah tekanan itu kita jalankan?”

“Aku menunggu perintahmu, Nyonya Riley. Kami sudah siap.”

“Baiklah,” Riley tersenyum, memamerkan deretan giginya yang sebagian besar berhias berlian kecil. Alih-alih indah, senyumnya terkesan begitu menyeramkan. “Perintahkan orang laboratorium untuk terus mengawasi grafik perkembangan bahan eksperimental kita. Sementara kau dan timmu, kuperintahkan untuk mulai memancing besok.”

“Perintah diterima, Nyonya.”

.

.

Sepanjang hari ini adalah hari yang penuh dengan hal-hal asing yang menentramkan hatiku. Pagi tadi aku dan dua pria linglung itu sarapan roti yang diolesi madu sembari berbincang-bincang tentang masa laluku. Bobby banyak sekali bicara, Kai lebih memilih menimpali sesekali sembari mencuri pandang padaku dengan kikuk. Omong-omong, sebelum sarapan aku sempat mendengar Kai mengomeli Bobby karena ia telah memberitahukan rahasia Kai padaku. Entah mengapa saat itu aku merasa Kai seolah ingin menutupi seluruh masa laluku dengannya dan tak mau mengungkitnya lagi. Padahal, dari apa yang kudengar sekilas dari Bobby, hubungan kami terjalin dengan sehat dan baik-baik saja. Kami juga sangat bahagia, tambahnya lagi. Tingkah laku Kai tadi pagi tidak dapat kumengerti. Mungkinkah dahulu ia hanya pura-pura bahagia ketika ia jadi kekasihku dan sekarang amnesiaku dimanfaatkannya agar kami menjauh?

Aku tidak mengerti perasaan itu. Aku takut diperdaya oleh dua orang ini. Pertanyaan seperti apakah aku dapat mempercayai mereka dan apakah mereka bukan orang jahat acapkali menggangguku di setiap waktu. Namun rasa hangat dan perasaan nyaman seperti berada di rumah ketika aku bicara dengan dua orang ini, selalu menakan rasa curigaku dalam-dalam. Instingku mengatakan aku sudah sangat tepat berada di antara mereka, namun otakku di bagian lain menolak, seolah aku bisa saja jadi malapetaka bagi dua orang ini.

Selagi aku bergulat hebat dengan pikiranku, Bobby menyambangiku sekali lagi dengan sebuah benda asing di tangannya. Aku sudah tahu apa itu FBI dan apa yang mereka kerjakan, namun melihat pria cebol itu menggendong senapan laras panjang dan melempar-lemparkan sebuah alat pelacak di telapak tangannya, rasanya aku tak mungkin bisa percaya. Bobby menceritakan apa pun yang membuatku penasaran. Dimulai dari bagaimana kami sama-sama mendapatkan pelatihan militer sejak usia enam tahun hingga soal persaingan benci jadi cintaku dengan Kai saat itu. Saat Bobby tiba pada cerita-cerita romantis aku dan Kai, maka Kai akan menjauh dari dialog kami, ia pura-pura menyibukkan diri dengan komputer dan berlakon seolah telinganya tuli.

“Aku tidak tahu apa yang membuat dia seperti itu padamu, Komandan. Sebulan belakangan dia merindukanmu setengah mati, sekarang… kaulihat sendiri bagaimana perilaku itu berubah total.” Bobby berbisik padaku. Kala itu aku refleks memandangi punggung Kai, satu-satunya bagian dari sang pria yang bisa aku pandangi sesuka hati tanpa takut ketahuan olehnya. Bagaimana seseorang yang mati-matian merindukanku dapat berubah pada hari kami bertemu. Apakah karena ciuman itu? Atau ada hal lain yang mengganggu Kai dan membuatnya berubah pikiran?

Entah apa pun itu, aku harap itu bukan pertanda buruk.

Suara alarm peringatan menyala-nyala mengagetkanku. Aku meminta penjelasan dari Bobby namun pria itu kini melesat dengan cepat ke depan komputer, mengetikkan sesuatu dengan kecepatan cahaya pada keyboard-nya dan mengumpat berkali-kali setelahnya.

“Penyusup, Kai.” Bobby memegangi kepalanya seakan bagian itu akan menggelinding kalau Kai bergerak sedikit saja.

“Siapa?”

“Dilihat dari seragam astronot putihnya, HEALTH. Mereka sudah tahu lokasi ini. Hanya masalah waktu sampai mereka menemukan pintu masuknya.”

Kai mendengus seraya memandangi gambar kurang-lebih sepuluh orang pria berbaju putih yang memanggul senjata canggih di tangannya. Di punggung salah satu dari mereka, sebuah tabung transparan berisi cairan biru tampak dengan jelas. Tabung itu terhubung pada sebuah selang yang ujungnya digenggam erat oleh pembawanya. Pria di sebelahnya berdiri dengan pakaian astronot, memegangi sebuah tabletphone. Kai menekan kombinasi kunci tombol keyboard untuk membuat gambar lebih fokus pada orang tadi. Ia melihat sang pria astronot menghitung dan nampak kebingungan menentukan arah, seolah apa yang tertera di dalam layar tabletphone-nya tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.

“Mereka menemukan kita dengan GPS,” Kai menyimpulkan. Ia melihat ke arah Bobby dengan tatapan curiga. Bobby refleks berteriak dan sibuk menggeleng. “Aku sudah memastikan sinyal perangkat jaringan kita tersembunyi. Kau tahu kemampuanku!”

Kai mendengus lantas ia menatap ke arahku, mengintimidasi. Aku hendak membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak melakukan apa pun, namun setelah kerenggangan di antara kami plus penyakit amnesiaku, rasanya alibi tadi tidak masuk akal. Maksudku, aku sudah berkelana di luar sana selama sebulan dengan ingatan yang kabur lantas aku tahu-tahu kembali ke tempat ini entah bagaimana, kemungkinan baik apa yang bisa terjadi? Siapa tahu HEALTH memperdayai ingatanku dan membuatku menjadi umpan untuk menangkap Kai dan Bobby. Jika benar, aku akan sangat menyesal.

“Oh?” Bobby mengalihkan konsentrasi Kai dengan menunjukkan objek tabung yang terpampang di layar. “Cairan biru itu rasanya pernah kulihat di laboratorium mereka saat invasi kita terakhir kali. Kau tahu juga kan, Kai?”

Kai menjengitkan kedua bahunya, ia menunduk dan mengusap wajahnya dengan kalut. “Itu virusnya. Nampaknya mereka tidak berhenti bereksperimen. Berengsek!” Sebuah tinju prima mendarat pada meja kayu di sebelah Bobby. Aku dan Bobby sontak terlonjak akan reaksi Kai. Pria itu berpolah seolah ia sudah kalah dan dunia akan hancur karenanya.

Aku menjaga jarak aman dengan dua pria sibuk di depanku. Saat itulah aku merasakan gerakan aneh di bawah permukaan kulitku. Suara bip bip kemudian mengganggu pendengaranku. Awalnya kupikir suara tadi berasal dari komputer yang tengah dioperasikan Bobby, namun ketika sebuah ledakan besar terjadi di atas sana dan memaksa kami untuk melakukan evakuasi ke sebuah gang sempit yang mengarah ke permukaan bumi, suara itu makin kencang. Tepat kala itu, aku bisa merasakan penglihatanku berdenyar kabur, wajah Kai menjadi tetes-tetes air yang mengalir deras di hadapanku. Aku merasa seperti tenggelam dalam sebuah ruang sempit. Aku bisa berenang, namun kakiku selalu tersangkut sesuatu, ditambah rasanya ada nyeri yang tak berkesudahan di seluruh tubuhku. Aku memperhatikan cairan yang rasanya akan membunuhku itu dan mendapati warna kebiruan pekat yang bercampur buih di sana. Aku menggedor dinding-dinding yang mengurungku namun selain suara samar dari seorang wanita, aku tidak mendengar apa pun lagi.

“AH!” Aku terbangun dengan memegangi kepalaku erat-erat. Aku berada di sebuah ruangan kering, di atas kasur dengan dikelilingi oleh tiga orang berseragam putih khas dokter. Mereka memeriksa mataku, menempelkan beberapa perangkat serupa kabel di sekujur tubuhku, kemudian mengaliri benda tersebut dengan listrik. Aku dengan seseorang mengatakan 70 Joule saat mereka mulai mengaliri listrik ke tubuhku. Anehnya, aku hanya merasa kegelian. Mereka terus meningkatkan tekanan listriknya dan tetap tidak ada perubahan berarti dalam inderas perasaku. Aku tidak merasakan sakit.

Sistem kerja imunnya cukup relevan dengan komposisi virus, Ketua Tim. Gadis ini sangat potensial untuk tetap kita pertahankan. Tinggal sedikit eksperimen penunjang, maka ia bisa menjadi materi presentasi keberhasilan kita pada dunia.”

Aku berteriak saat itu. Kabel-kabel kutarik hingga berantakan sementara beberapa orang yang mengelilingiku mendapatkan beberapa tendangan acak satu per satu hingga tumbang. Salah satu dari mereka memukulku dengan tiang infus, alih-alih sakit, aku malah mematahkan lengannya dengan brutal. Aku kehabisan napas. Aku melihat orang-orang yang tumbang di sekelilingku seraya berpikir, apa yang baru saja kulakukan?

Kerja bagus, Nona Kwon. Kau sudah siap untuk tes selanjutnya.” Suara itu datangnya dari atas kepalaku, dari balik sebuah kaca transparan tiga meter di atasku. Berdiri di sana adalah seorang wanita paruh baya yang memandangiku seolah aku adalah anak yang baru saja membuatnya sangat bangga. Ia bertepuk tangan sebelum akhirnya meninggalkanku dengan senyum bengis dari balik pulas kemerahan bibirnya. Wanita itu menjentikkan jari ketika ia sampai di ambang pintu keluar, mengundang beberapa pria berbaju astronot masuk dan menahan gerakan agresifku. Aku meronta dan meminta penjelasan, namun mereka menyuntikkan sesuatu di leherku, membuat visiku kabur dan tak berdaya.

“TIDAK!” Aku mengerang. Aku membuka mataku dan melihat Kai tengah memegangi lenganku dan berusaha menahan tendangan hebatku di perutnya. Aku mulai menguasai diriku ketika melihat konstruksi gang sempit di mana aku terkulai lemas. Bobby berada tepat di depan aku dan Kai, berteriak panik soal bagaimana pintu utama sudah dibobol dengan ledakan dan memperingati kami agar bergegas menyelamatkan diri.

Kai mengusap air mata di pipiku—aku bahkan tak sadar aku tengah menangis. Beberapa sekon singkat lalu, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku bangun dengan peluh keringat yang membanjiri tubuhku serta segudang memori memuakkan yang menerobos masuk ke dalam kepalaku tanpa ampun. Mungkin sederet memori tersebut merangsang alam bawah sadarku yang lemah agar menangis. Wajar jika aku menjadi seperti ini. Potongan-potongan gambar kabur itu pada akhirnya dapat kurangkai jadi satu dan hal tersebut bukan merupakan ingatan yang baik.

Kupandangi Kai kala ia mulai memapahku untuk berjalan. Tangannya masih melingkar di pinggangku sementara aku masih melingkarkan tanganku di lehernya. Sembari tertatih, kubisikkan sebuah maaf pada Kai, yang serta-merta membuat sang pria menoleh pelan ke arahku.

“Apa?”

Tepat sebulan lalu, di sebuah malam ketika segala hal buruk bermula, aku menemukan fakta fantastis yang kemudian memicu amarahku pada Kai. Saat itu aku tidak sengaja menguping pembicaraan ia dengan seorang wanita paruh baya yang amat sangat kukenal, Riley Kim, sang provokator huru-hara. Mereka beradu pendapat; Kai ingin Riley menyerah dalam damai sementara Riley ingin Kai bergabung dengannya. Di sela-sela dialog intensif tersebut, namaku kemudian disebut-sebut sang wanita. Ia mengatakan sesuatu soal membunuhku jika perlu dan sebagainya. Kai sangat marah ketika namaku disebut, kemudian ia mengajukan beberapa petisi yang ditolak mentah oleh Riley. Ketika sang pria berada di puncak emosinya dengan menyumpahi Riley, saat itulah aku mendapati kenyataan pahit; Riley Kim adalah ibu kandung dari Kai.

Keduanya berselisih pendapat soal aku, soal hidupku. Kai bersikeras bahwa aku tidak ada hubungannya dengan segala serangan militer pemerintah terhadap HEALTH—yang mana tidak benar. Ia juga berusaha memohon pada ibunya untuk membuatku tetap hidup. Puncaknya, sang pria menyetujui untuk bergabung dengan syarat seluruh tim militernya di FBI dihapus dari daftar bahan eksperimen virus HEALTH.

Kejadiannya terjadi sangat cepat, hingga yang aku sadari selanjutnya adalah, aku menyerang Riley dan Kai secara bersamaan. Sepasukan militan berpakaian ala astronot mengepungku atas tindakan bodohku barusan. Kai tak lama-lama terlonjak, ia menarik tanganku dan mati-matian menyelamatkanku. Namun saat itu, pasukan Riley lebih banyak dan lebih tahu medan pertempuran. Ia menyuntikkan sesuatu pada leherku dan memukul kepala Kai kuat-kuat. Aku sempat melihat Kai diseret menjauh dariku, sebelum segalanya menjadi gelap dan panas.

“Aku…” Aku bicara tertatih pada Kai. Saat kubilang hidupku berat, maka Kai adalah versi dua kali lipatnya. Tak terbayangkan olehku memiliki seorang ibu yang merupakan DPO di seluruh negeri. Terlebih, misi Kai sendiri adalah memburu dan menangkap ibunya. Kutahan emosiku dalam-dalam untuk menyelesaikan kalimatku. “Aku ingat semuanya.”

BOOM.

Ledakan besar terjadi tepat di belakang bahuku. Bobby berteriak panik dan berusaha mengotak-atik remote yang digenggamnya. Untungnya, jalan keluar sudah tak jauh dan dari apa yang kutangkap, sudah ada kendaraan menunggu di sana. Satu-satunya yang tersisa adalah, semoga kami tidak tertimbun tanah sebelum sampai ke atas.

Kai mendorongku maju dan aku melangkah dengan sigap untuk menariknya. Jika aku adalah bahan eksperimen, maka masuk akal kalau aku sekarang tidak merasakan apa pun di permukaan kulitku meski Bobby acapkali mengeluh kepanasan. Entah mengapa aku punya perasaan bahwa Kai tahu akan fakta ini, dan itu membuatnya berusaha menjauhiku. Rasa bersalahnya mengontrol jiwanya, tipikal Kai yang kukenal.

“Cepatlah!” Bobby berteriak dari permukaan tanah, rupanya ia sudah menyalakan sebuah van yang sebelumnya tertimbun longsoran pasir. Ketika aku sampai di permukaan, Kai menarikku ke bagian belakang van, meninggalkan Bobby sendirian di kursi depan. “Jalan,” perintahnya kemudian.

Aku terengah. Bukan lantaran aku lelah atau sejenisnya. Kehadiran Kai-lah yang membuatku kehilangan ritme pernapasanku. Aku sangat gugup. Aku tidak tahu harus bagaimana memulai seluruh pembicaraan ini. Memulai dari amnesiaku sudah sembuh rasanya seperti dialog dalam drama.

“Boleh kulihat pergelangan tanganmu?” Tanya Kai. Aku diam-diam bersyukur ia membuka pembicaraan kami. Kuulurkan pergelangan tangan kanan dan kiriku. Pertama-tama Kai terkejut. Dengusan napasnya terdengar sangat kencang hingga Bobby sempat bertanya apakah ban mobilnya kempes.

“Terlihat seperti bekas injeksi. Sebuah chip pemancar sinyal mungkin berada di balik permukaan kulitmu. Jelas sekali ada seseorang dari HEALTH yang dengan sengaja mengirimkanmu pada kami sebagai umpan.” Kai terlihat sangat serius.

“Riley,” ujarku cepat. Aku ragu sebentar sembari memerhatikan perubahan air wajah Kai. Setelah kudapatkan kembali perhatiannya, aku meneruskan kalimatku. “Ia menenggelamkanku dalam tabung eksperimen virusnya. Acapkali ia menyuntikkan sesuatu lewat leherku yang membuatku kehilangan kesadaran. Kurasa chip ini ulahnya juga.”

Sesuai dugaanku, Kai menatapku lekat. Mungkin saat ini dalam pikirannya berkecamuk rasa bersalah bercampur rasa-rasa canggung lainnya yang tidak bisa ia utarakan. Namun demikian, dengan melihat ke dalam sorot mata hitamnya saja, aku sudah bisa menebak.

“Kau… bagaimana kau…”

“Setelah konfrontasi itu, aku menjadi bahan eksperimen HEALTH. Aku disandera selama satu bulan, dipaksa kehilangan kesadaran berkali-kali hingga ingatanku terganggu. Entah mengapa, ingatan tersebut berangsur pulih ketika aku bertemu denganmu. HEALTH sangat berbahaya, Kai. Aku melihat banyak sekali sampel manusia dalam laboratorium mereka. Semua sampel rata-rata mati setelah injeksi virus pertama mereka. Entah bagaimana aku bertahan dan fakta tersebut menarik perhatian Riley. Aku mendengarnya samar ketika aku setengah sadar, tapi ya, Riley menjadikanku umpan untuk membawa FBI keluar dari urusan mereka. Dengan kata lain, mereka akan membunuh kita.”

Aku menekuk lututku dan mulai membayangkan skenario terburukku bersama dengan kedua pria ini. Aku telah mengatakan semuanya, sebuah kebenaran tentang kondisiku. Terkecuali satu hal yang terpenting, bahwa penyebab semua kekacauan ini adalah aku. Mereka ingin mengetahui perkembangan virus dalam tubuhku dan mengandalkan aku untuk melawan FBI. Dengan kata lain, mereka mungkin akan memaksaku membunuh Kai dan Bobby.

“Aku tidak mengerti,” ujar Kai. “Kenapa ibuku sampai sejauh ini.”

Aku memandanginya dengan raut iba. Hendak dibunuh oleh ibu kandung tentu bukan pengalaman yang patut diingat.

“Lalu kau,” ia menggenggam tanganku, mengusapnya lembut. “Bagaimana mereka melakukan itu padamu, maksudku, kau…”

“Aku terinfeksi, Kai. Seperti yang kaulihat, aku sama tak berartinya seperti batu. Aku tidak bisa merasakan apa pun, bahkan kalau aku terbunuh.”

Kini giliran Kai yang menatapku iba. Tapi sayangnya aku sedang tidak butuh dikasihani. Jika Riley ingin sebuah pertarungan, maka ada satu cara untuk membuatnya terkesan tanpa menghancurkan agen-agen terbaik FBI. Dan satu cara itu, hanya aku yang bisa melakukannya.

“Aku minta maaf,” ujar Kai. “Malam itu seharusnya aku tidak meninggalkanmu.”

“Bukan salahmu. Aku yang bodoh. Lagipula segalanya sudah terjadi, aku tidak suka menyalahkan siapa pun,” sahutku. Aku menggenggam erat tanganku. Entah kenapa pembicaraan ini mengusik ketatapan hatiku, seolah, ini kali terakhirnya aku berbicara dengan Kai sebagai seorang Yuri—yang mana sudah cukup tepat. Jika rencanaku untuk menghancurkan Riley berhasil, kesempatan berbicara seperti ini dengan Kai, hampir nol persen. Hal itu membuatku sinting.

CKIIT.

Mobil tiba-tiba berhenti. Dari jendela van, aku bisa melihat sekelompok orang mengepung kami. Di atas van, ada sebuah helikopter yang melayang rendah. Tangga talinya terjulur ke bawah, menurunkan beberapa pasukan tambahan seolah yang sudah ada belum cukup banyak.

“Menyerahlah, Kai.” Seseorang berseru dari atas helikopter. Riley. “Serahkan gadis itu padaku.”

Aku hendak keluar dari van, namun Kai menahan lenganku dan menggelengkan kepala.

“Tidak, tidak, jangan!” Aku mendengar suara Bobby di bagian depan mobil. Lantas aku benar-benar bisa melihat Bobby melalui celah kecil di jendela van, ia sudah tertangkap.

“Menyerahlah atau kubunuh temanmu ini,” perintah Riley lagi. Aku bergerak, namun Kai lagi-lagi menahan tanganku. Ia melarangku keluar dari van sementara Kai sendiri sibuk memasangkan peluru pada sebuah senjata tangannya. Kesempatan itulah yang kupergunakan untuk lepas dari cengkeramannya. Aku keluar dari van, menengadah pada sebuah helikopter di atas sana.

Kai lantas menyusul di belakangku, ia mengaitkan lengannya padaku kembali, seolah takut aku mengambil tindakan gegabah—yang mana akan kulakukan dalam waktu dekat.

“Bagus. Sekarang, serahkan gadis itu, Nak.”

“Boleh,” Kai menjawab cepat, cengirannya sama menyeramkannya dengan Riley. “Tapi langkahi dulu mayatku, Nyonya.”

.

.

Segalanya menjadi kacau. Aku melihat Bobby kembali ke van dan memangku senjata laras panjang otomatis di tangannya. Ia berhasil menembaki beberapa orang dari pasukan musuh dan berlindung di balik van saat ia terpojok. Kai meluncurkan tenaganya untuk menendang dan menembaki musuh-musuh yang berusaha membawaku. Terakhir, ia terjatuh ke atas pasir tatkala seseorang berhasil memegangi tubuhku dengan kuat.

Kai buru-buru terbangun dan menendang wajahnya. Aku terlontar kembali ke dalam pelukannya. “Jangan jauh-jauh dariku.”

Meski terdengar sangat romantis dan pahlawan sekali, tapi aku tahu ia tidak benar-benar yakin apa yang dilakukannya. Musuh masih terus bangkit dan melawan, sementara Riley di atas helikopter mungkin sedang minum wine sembari menahan tawanya. Dunia sungguh tidak adil.

Aku melihat kesempatan kecil ketika berpikir soal Riley. Tangga talinya masih tergantung beberapa sentimeter di atas van. Jadi, aku menendang Kai ke samping dan melarikan diri ke arah van. Bobby meneriakiku untuk mundur entah mengapa, aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan. Namun ketika sebuah peluru menancap kuat di lengan kiriku, barulah aku sadar apa yang sedari tadi diperingati si Cebol.

“YURI!” Aku mendengar teriakan khawatir Kai. Sayangnya, selain darah yang mengucur deras di atas van, aku tidak merasakan hal yang lebih sakit lagi. Aku kebal. Kutarik lenganku sementara tungkaiku berlari menuju tangga tali helikopter yang menjuntai. Awak pesawat rupanya agak sedikit lengah. Ketika aku sudah loncat dan meniti tangga tersebut, barulah Riley memerintahkan sang pilot agar terbang lebih tinggi.

“Wanita tua payah,” gumamku. Aku sangat suka ketinggian karena aku dibesarkan dengan itu. Tempat latihan militerku sejak kecil adalah puncak dari sebuah gedung 67 lantai. Kadang, beberapa latihan mengharuskanku untuk mendekat dengan tepi gedung dan menatap ke bawah. Aku sudah terbiasa dengan itu.

Tanpa gangguan, aku tiba di bagian dalam helikopter. Di depanku duduklah Riley yang terkejut. Kendati demikian, ia berlakon seolah-olah tindakanku sudah diprediksinya.

“Selamat datang, sampelku yang berharga,” sambutnya dengan sinis. “Apakah kau ingin kembali dengan sukarela?”

“Lepaskan mereka,” ujarku.

“FBI? Tidak. Aku akan mengakhirinya di sini, Non.”

“Ini bukan tawaran, Riley. Ini perintah.”

Riley tertawa. “Aku perlu mencatat ini. Virus itu bukan hanya mengebalkan inderamu, tapi juga mentalmu ya?”

Aku mencekiknya tanpa pikir panjang. Seorang pria berpakaian putih yang duduk di sebelahnya menodongkan senjata di pelipisku. Aku melirik sekilas dan mengenalinya. Nathan, pria yang ditugaskan menginjeksiku ketika aku disandera. Bagaimana aku bisa lupa wajah bedebah itu.

“Kau akan menyesal melakukan ini, Non,” Riley mengancam. Aku cukup terkesan ia tak gentar dengan aura memburuku. Aku melepaskan cengkeramanku. Nathan melonggarkan pertahananya, namun aku yakin moncong senjatanya bisa menembus pelipisku kapan saja. Aku memang tidak bisa merasakan sakit, tapi aku bisa saja mati kehabisan darah.

“Bagus. Ini yang kuharapkan darimu. Kau adalah sampel berhargaku. Such a waste kalau aku membunuhmu sekarang,” ujar Riley sembari membenahi kemejanya.

“Jangan salah paham, Nyonya. Tercekik bukan cara mati yang cocok dengan gaya hidupmu. Aku berencana mencari cara lain. Kau suka meledak?”

Riley tersenyum hambar. Kalimatku rupanya telah bekerja dengan baik untuk mengacaukan pertahanan psikis Riley.

“Nathan, bereskan gadis ini,” perintahnya kemudian. Saat tangan Nathan terulur padaku, aku mematahkan lengannya dengan taekwondo-ku. Senjatanya terjatuh dari ketinggian dua puluh lima meter di udara. Ia mengaduh kesakitan dan menunjukkan bagian tangannya yang terkulai pada Riley. Wanita paruh baya itu sangat tegang sehingga ia memerintahkan pilot untuk berbelok arah. Sayangnya, ia kalah cepat denganku. Aku menodongkan sebuah pisau yang kuambil dari saku celanaku pada sang pilot, menyuruhnya tetap terbang di ketinggian—selepas ini aku akan berterima kasih pada Bobby karena pria itulah yang menyuruhku menyimpan pisau di saku.

“Kau berengsek!” Umpat Riley.

“Ucapkan itu ketika kau bercermin, Nyonya.”

“Aku akan melepaskan teman-temanmu, jadi hentikan ini.”

“Aku ingin bukti,” aku mengancamn Riley. Saat itu ia menarik sebuah radio pemancar berukuran sebesar deodoran. Ia berbicara pada benda tersebut. “Kuperintahkan semuanya untuk mundur ke markas. Jangan lagi ada pertempuran. Perintahkan pasukan cadangan untuk membatalkan misi.”

Aku mendengar sebuah roger dari radio tersebut. Riley menatapku, “Kau dengar sendiri.” Ia menghela napasnya seolah telah melakukan sesuatu yang benar. Aku jadi ingat ketika pertama kali bertemu dengan Kai. Kai kecil selalu melakukan itu ketika ia melakukan sebuah dusta.

“Kau memutar rekaman. Itu bukan saluran komunikasimu.” Aku mengarahkan pisauku pada Riley alih-alih pilot. Aku memutar tubuhku sehingga kini aku berdiri di belakang Riley, mencekiknya dari belakang. Entah karena takut atau sebagainya, tiba-tiba pintu kemudi pilot terbuka lebar. Sebuah parasut terbentang di bawah helikopter, memamerkan seorang pilot yang meninggalkan tanggung jawab penerbangannya.

“Keadaan semakin menarik,” Riley bergumam. “Aku bisa mengendalikan helikopter. Aku bisa menyelamatkan kita berdua, sebaiknya kau singkirkan pisau sialan ini.”

Nathan tak banyak membantu meski aku acapkali melihat gestur aneh dari Riley. Sepertinya Riley merencanakan sesuatu untuk memutar balik keadaan dengan menggunakan Nathan. Aku lebih pro untuk menyadari hal tersebut. Kutendang Nathan hingga kepalanya mendorong pintu samping helikopter hingga terbuka. Ia terpental ke bawah dengan jeritan pilu.

“Kau bisa mengendalikan helikopter? Aku bisa mengendalikan orang. Sebaiknya lakukan apa yang kuminta, hentikan pertarunganmu di bawah sana dan menyerahlah.”

“Kalau tidak? Apa yang akan kaulakukan kalau aku menolak?”

“Aku bisa membunuhmu.”

Riley tergelak. “Kalau aku terbunuh, kau juga akan mati, bodoh.”

“Aku sudah berencana untuk itu.”

“Apa?”

“Kau terkejut? Lucu sekali. Aku akan mati, Nyonya. Ya, bahan eksperimenmu ini akan mati. Harusnya kau lebih terkejut lagi.”

Riley menggigit bibirnya. Ia menimbang-nimbang beberapa kemungkinan ketidakberuntungannya. Aku masih mengarahkan sisi tajam pisauku padanya, berharap ia menyerah. Tak lama, aku mendengar ia berbicara pada radio pemancar sesungguhnya. Kali ini suara di seberang sana nampak protes dan sebagainya, kemudian suara tembakan terdengar dan sambungan pun terputus.

Namun aku tampak senang, sebuah peluru entah dari Bobby atau Kai, telah berhasil melumpuhkan pasukan Riley, artinya, salah satu dari mereka masih hidup.

“Kau puas?” Sahut Riley. “Sekarang turunkan pisaumu, biarkan aku mengemudikan helikopternya.”

Aku melakukan apa yang telah menjadi kesepakatan. Angin menerpa kami berdua karena helikopter tersebut terbang tanpa arah semakin tinggi. Dari pintu yang sudah rusak oleh Nathan tadi, aku bisa melihat dataran di bawah kami, sebuah gurun pasir yang gersang. Beberapa meter jauhnya, sebuah gedung kecil yang familier tertangkap netraku, markas HEALTH.

Amarah menguasaiku lagi. Jika bukan karena ketamakan Riley dan organisasinya, keadaan mungkin tidak akan menjadi lebih buruk lagi. Aku tak akan mungkin menjadi monster seperti ini. Lalu rencana sesungguhnya kulaksanakan dengan cepat. Kudorong Riley hingga ia terjatuh dari pintu di sisi kemudi. Tangannya sempat menyambarku, aku mengenyahkannya dengan mudah. Ia terjatuh dengan teriakkan serupa Nathan, pilu dan menyayat. Namun hatiku tidak tergerak.

Apa yang kulakukan, adalah apa yang telah ia lakukan padaku dan pada Kai. Aku tidak menyesal sedikit pun.

.

.

Menurut Bobby, aku telah koma selama dua minggu.

Saat mereka pertama kali menemukanku, aku bersimbah darah di sebuah gunung pasir setelah helikopter yang kutumpangi mendadak kehabisan bahan bakar dan terjatuh. Menurut keterangan dokter, kakiku retak dan salah satu tanganku patah. Jari kelingking di kakiku tak dapat diselamatkan setelah kakiku terjepit di antara reruntuhan badan pesawat. Tak ada luka serius pada tubuhku, namun tim dokter menemukan beberapa kejanggalan pada kemampuan rangsang syarafku.

“Inderamu tumpul,” kata Bobby, seolah aku perlu diingatkan. Menurutnya, aku disarankan beristirahat lebih lama lagi di rumah sakit sembari menerima pengobatan. Awalnya aku tak setuju, namun sayangnya, Kai telah menandatangani kontrak perawatan atas namaku.

Pria itu kini berdiri di hadapanku.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya. Bobby terkekeh kecil lantas meninggalkanku berdua dengan Kai di kamar rawatku.

“Dengan kelingking hilang dan tangan patah? Ya, aku baik-baik saja,” jawabku sarkastik. Kai tertawa pada kalimatku dan kami pun berbincang sedikit. Kai menceritakan apa yang terjadi selama aku koma. Riley ditemukan tewas dan para pengikutnya ditahan oleh FBI untuk kemudian diproses secara hukum. Namaku terdaftar dalam tabel saksi dan korban, sidang pertama akan diadakan bulan depan.

“Aku minta maaf soal ibumu…” ujarku.

“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Justru aku berterima kasih padamu. Sejak lama aku ingin melakukannya, namun aku tak bisa.”

Aku menggigit bibirku. Pasti berat rasanya menjadi Kai. Ia telah kehilangan segalanya, bahkan seorang ibu yang harusnya menjadi penyemangat hidup. Aku hendak menggerakan tanganku untuk menyentuh pipi lembut Kai, namun aku terlalu lupa bahwa tanganku masih dibebat. Tanganku yang lain masih dihiasi selang infus. Aku tidak bisa melakukan apa pun.

Rupanya, usahaku tadi dilirik Kai. Dengan kekehan ringan, ia duduk di sampingku, merangkul pundakku. Ia berbisik, “Tentang apa yang kaulakukan dua minggu lalu, kuharap kau tidak melakukannya lagi. Kalau kau memikirkan sebuah rencana, kau harus melibatkanku.”

Aku hendak menoleh untuk menatapnya, namun leherku terasa sakit.

Tunggu. Apa aku bilang sakit?

“Kai… apa kau bisa menepuk tengkukku?”

“Eh? Kenapa?”

“Lakukan saja!” Pria itu lantas menuruti kehendakku. Ia menepuk tengkukku dengan pelan, namun saat itu aku bisa merasakan suhu tubuhnya melalui kontak fisik singkat. Lantas, bekas tepukan tadi cukup terasa perih di tengkukku.

Oh my God,” ujarku terpana. Aku menatap lurus ke depan dan mulai merasakan perih di mataku. “Aku merasa… sakit.”

“Tentu, bodoh! Kelingkingmu diamputasi dan kakimu retak, wajar jika kau—APA?”

Kai menatapku tak percaya.

“Cubit aku, Kai.”

Kai mencubit lenganku. Responsku agak terlambat, tapi aku tahu rasa sakit itu.

“Obatnya berhasil,” ujar Kai tak percaya.

“Obat apa?”

“Nathan, salah satu pegawai ibuku yang sempat selamat dari insiden helikopter. Ia dirawat beberapa hari di rumah sakit ini, dan sebelum ajal menjemputnya, ia menyerahkan sebuah formula penawar pada dokter yang menanganimu. Ia juga meminta maaf atas segalanya. Dari apa yang kudengar, Nathan terpaksa menuruti perintah ibuku karena ibuku menjanjikan kebebasan bagi beberapa temannya di penjara.”

Telingaku berdenging. Aku merasa bersalah telah mendorongnya jatuh waktu itu. Namun siapa yang tahu jika Nathan adalah orang baik?

“Ketika aku bisa normal lagi,” aku menatap Kai. “Bisakah kau membawaku ke tempat peristirahatan Nathan?”

Kai mengusap rambutku. Bibirnya membuat sentuhan samar yang ekspres di bibirku. Dari jarak dekat, aku bisa melihat kembali tawanya yang menjengkelkan. “Tentu, Komandan. Sudah tugasku melayanimu.”

.

.

fin.


Terima kasih untuk Juliahwang yang sudah berpartisipasi dalam Fanfiction by Request Event-ku. Buat yang belum tahu, Juliahwang ini adalah pembuat poster untuk latest chapter Tales of Zodiac lho! Julia (biasa kusapa Juleha) juga menjadi salah satu rekan menulisku di IFK, makanya aku cukup kaget Julia berpartisipasi dalam event-ku. Hehehe.

Teruntuk Juleha, yang request sci-fi, mohon maaf jadinya seperti ini karena sesungguhnya aku gak mahir juga di sci-fi. HAHA.

Fanfiksi ini juga menjadi penanda kembalinya aku dengan sebuah fanfiksi exoyul setelah sekian lama ya. Hehe. Pokoknya, selamat menikmati, dan review (berupa komentar dsb) masih kutunggu lho.

Terima kasih dan tetap stay tuned,

nyun.

 

Iklan

39 thoughts on “[Oneshot] THE HEALTH

  1. Waah wah kak nyunn sumpeh bagus banget ni ff, pokoknya aku tu paling suka sama ff kak nyun yang genre action. Bacanya ikutan deg degan, greget nya depat keren lah pokoknya

  2. Anyeong ini reader yg waktu itu . Awal nya nggak ngerti sih tapi waktu baca sampe akhir baru ngerti . Baru liat situs nya gara” kuota internet abis hehe

  3. Acipiwit to twit
    Yulkai romantis keren dan the best.
    Yuleonnya keren masa belajar judo dan taekwondo dari youtube?

    Kak nyun ff yang beginian di banyakin ya kak

  4. komen dulu ahh. huhu salah satu my fav kapel, kalo cerita pasti bagus lah kak Nyun gitu 😀

    1. ini sumpah keren kak. biasanya aku ga terlalu suka ama genre sci-fi, tapi yg ini suka bgtttttttt (y), tulisan kak Nyun ito loh yg bikin pgen baca terus. kadang suka mikir kalo tiap baca ff kak Nyun itu, ini ide-ide ceritanya dpt dari manaa hoho. dan karena ff ini juga aku makin cintaaaah ama kai :*

  5. daebakk kakk! ceritanya bgs bgtt dan kalo kakak buat ff action pasti ngenaa, suka bgt sama karakter yuri disini, ga takut mati, apalagi romancenya sm kai walaupun dikit tp kerasa segimana gentlenya diaa , ditunggu ff action lainnya kakk! fighting!!

  6. Emm da awal2 crita aku gk ngrti dan gk bsa ngbyangin keadaan sma tmpatna , keke mngkin itak aku aja yg koneksinya lama 😀
    tpi stelah bca smuanya aku paham.
    Dan ska, suka,suka sma ff ini, smuanya gk berlbhan, romance sama actionnya seinbang
    aigoo, sperti nyata, brsa aku brada d crita ini dan nonton tingkah mreka
    yul klingkingnya ilang efek jatuh dri hlikopter, uggh ngeri
    dan booby lucu,
    fighthing 😉

  7. pas awal baca rada gk paham, pas udah mau pertengahan baru ngerti jlan ceritanya:D pokoknya ff nya keren kak nyun,Enjoy bacanya . Semangat terus buat bikin ff^^ suka ama YulKai Jadinya Ahh Kai*-* wkwk

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s