DOPPELGANGER [2 OF 6]

Doppelganger

a story by bapkyr (@michanjee)

DOPPELGANGER

[early warning] this story rated PG because its cursings, harassments and any other violences.

“It was you, the one who makes me feel like a shit. And there’s another you, the one who makes me feel so alive.”


“Kris, kau sedang dalam masalah.” Kimmy Jean, satu-satunya awak pesawat yang juga adalah pilot helikopter favorit Kris, angkat bicara segera setelah Kris berhasil menaiki tangga tali darurat yang diterjunkannya sesaat sebelum pria itu menghujam tanah. Kris masih terengah, dengan mimik jengkel dibalasnya Kim dengan, “Aku baru saja selamat dari kematian sih, tapi terima kasih untuk infonya, kau menyebalkan seperti biasa, Non.”

“Maaf,” Kim tertawa kecil. “I’m in a rush.

With those things in your eyes, i don’t think so.”

One word about my eyelashes, you’ll dead.”

Kris berdecak, berusaha untuk berpolah semenyebalkan mungkin di belakang Kim yang tengah fokus mengendalikan helikopternya. Kim dulunya adalah seorang bocah idiot yang kerap diganggu oleh seniornya selama berada di akademi pelatihan mata-mata, Slotte. Sebaliknya, Kris adalah seorang jenius, bocah yang disebut-sebut sebagai agen mata-mata terbaik saat usianya lima belas tahun, mengalahkan beberapa pesaingnya yang sudah dimakan usia. Secara logika, tidak mungkin bagi Kris untuk berteman dengan Kim, apalagi bekerja dalam satu tim yang sama dengan gadis idiot itu. Sayangnya segala hal berjalan dengan tidak realistis, semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa ia kendalikan penuh. Perjalanan hidup Kris yang sebelumnya semulus jalan tol, kini berbelok arah, masuk ke gorong-gorong dan keluar di tengah savana penuh singa. Tidak ada yang tersisa dari kehidupan lama Kris, kecuali Kim dan kenangannya tentang seorang gadis.

“Anna Rufflekov,” Kris sedang mengumpulkan kalimat untuk membalas Kim saat gadis itu berbicara seolah sedang membaca pikirannya. “Kau masih merindukannya ‘kan, Kris?”

How do you know?” Kris memainkan pisau kecil yang sebelumnya terikat di balik betisnya selagi ia bicara. Topik tentang Anna Rufflekov menjadi sangat sensitif baginya. Ketika nama gadis itu disebut, segala kenangan buruk seolah dipaksa mendiami seluruh ruang di otak Kris, memakan seluruh kesadarannya dan membuatnya setengah gila.

Kim menyadari itu saat ia menyempatkan diri untuk menoleh sebentar. Kris sangat menyedihkan, tapi Kim terpaksa. Informasi yang ia miliki akan melibatkan Kris untuk mengingat Anna Rufflekov jauh lebih sering dari sebelumnya. Kris tidak bisa menghindarinya, bagaimana pun tersiksanya ia.

Is that too obvious, Kris? Anna Rufflekov is the first girl in forever, who make you feel like a saint and a shit in the same time, right?”

Kris menundukkan kepalanya. “Yeah, she was.”

Was?” tanya Kim penuh kuriositas.

“Jadi soal ‘Kris, kau sedang dalam masalah’ yang tadi kaukatakan, mind to tell me?” Kris membelokkan pembicaraan. Kim hampir lupa ia memiliki info yang lebih penting daripada perdebatannya dengan Anna Rufflekov—meskipun hal tersebut kadang dinilai sebagai hal yang sama pentingnya, Kim tidak bisa memutuskan.

“Oke, jadi begini, kau ingat soal Alpha 23? Seekor kadal, objek penelitianmu yang sempat dicuri oleh mantan rekan kita di Slotte?” Kris mengangguk atas pertanyaan Kim. “Bad news, Slotte memanfaatkan objek penelitianmu, menggabungkannya dengan serum yang mereka curi dari laboratoriummu, dan menginjeksinya pada tubuh manusia. Mereka baru saja berhasil mengubah seorang pria jadi setengah kadal.”

Kris menghujamkan tinju pada kursi kosong di sebelahnya. “Glovicki’s works, perhaps?”

“Yeah, that bastard.”

“Damn!”

“I know,” Kim merasakan amarah Kris mengalir padanya, tapi ia memutuskan untuk tidak melampiaskannya dengan menabrakan helikopter ke barisan gunung batu di depannya. “Tapi kau tidak duduk di sana untuk mendengarkan obrolan sampah soal Glovicki. Ini soal penemuannya, Kris. Singkatnya, ia berhasil membuat seekor mutan. Mutan itu ditanami berbagai sensor, salah satunya adalah penangkap sinyal Blackpearl, salah satu driver-chip penting buatan Lesther Rufflekov—ayah Anna—yang telah hilang bersamaan dengan tewasnya Anna. Kau sudah tahu soal Blackpearl?”

Kris menggaruk kepalanya. “Anna mengatakan kalau Blackpearl semacam benda magis. I don’t know, we’re both eight around that time.

Blackpearl adalah sebuah kunci utama untuk membuat otak buatan, Kris. That’s actually a pretty good idea, i mean, artificial brain! why not?” Kim bergembira untuk alasan yang tidak ia sendiri tidak tahu. “Tapi masalahnya ada di sini, ia membutuhkan manusia sebagai bahan eksperimen. Blackpearl pernah beberapa kali diaplikasikan pada hewan. Hingga akhir penelitiannya, tidak ada satu pun yang berfungsi dengan baik. Waktu berlalu, Lesther kemudian menggunakan seorang bocah yang tidak pernah dicatat sejarah baik nama maupun rupanya. Ia mengklaim percobaannya gagal dan sang bocah melarikan diri. Karena tindakannya yang dianggap tidak bertanggung jawab, Pemerintah Amerika mencabut seluruh gelar dan lisensi yang ia miliki. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, sebelum memutuskan untuk tinggal berdua dengan anak semata wayangnya, Anna Rufflekov. Selanjutnya, seperti yang kita tahu, Anna Rufflekov memutuskan untuk mendaftar sebagai agen mata-mata swasta Slotte di waktu yang bersamaan denganmu.”

Kris menengadah, membayangkan seluruh kenangan yang ia habiskan bersama dengan Anna Rufflekov semasa gadis itu hidup. Senyum manis, kulit hitam manis serta rambut cokelat Anna yang selalu dikepang menjadi kenangan favorit Kris. Mau tak mau, ia tersenyum, “She was an idiot back then,” ujarnya dengan netra berkaca-kaca. Kris bukan orang yang suka perasaan pribadinya menjadi konsumsi publik, tatkala Kim memandanginya dengan paras mengiba, Kris menepuk tangannya. “Tapi itu sudah berlalu. Anna sudah tewas, mari kita pikirkan soal Glovicki dan Blackpearl-nya.”

Kim menggelengkan kepala. Ia memegang kendali penuh atas tuas-tuas di panel khusus pilotnya, namun gelengan pelan barusan hampir membuatnya kehilangan fokus. Seharusnya itu sudah cukup untuk memperingatkan Kris bahwa apa pun yang akan dikatakan Kim, itu sudah pasti buruk.

“Anna dead, it was what Slotte told us. We visited her grave, but we didn’t know whose body laid down there. Neither of us sure Anna was gone, and neither of us did anything, you know why?”

Kris menelan ludahnya. Diakuinya, ia pernah berpikir demikian, persis seperti apa yang Kim katakan padanya. Namun pengabdian dan kepercayaannya pada Slotte tepat berada di atas perasaan pribadinya. Ia mengabaikan Anna Rufflekov, mengabaikan sang gadis dari apa pun yang sebenarnya terjadi padanya. Lantas ketika Slotte menunjukkan wajah asli Glovicki padanya, Kris mulai kehilangan arah, loyalitasnya pudar. Dari seorang budak patuh, Kris berubah menjadi seorang yang paling pertama diburu oleh Slotte. Kala ia sadar akan jati dirinya, semuanya sudah terlambat, Anna sudah tiada dan Kris tidak bisa berbuat apa-apa.

That’s impossible, Kim. You know—“

Ya, Kris, probably we were right. Anna is alive. And wherever she is now, she is in danger.”

Kulit Kris memutih. Ia menjadi sangat gugup, entah karena jauh di lubuk hatinya ia bahagia dengan kemungkinan Anna hidup, atau lantaran Kris mengetahui sesuatu yang tidak pernah orang lain ketahui tentang Anna. Kris tidak bisa memutuskan yang mana. Ia hanya tersenyum kecil pada Kim, berharap sang gadis mendaratkan helikopter di tempat yang jauh dari masa lalunya.

.

.

Anna sudah tewas ketika Kris berusia lima belas. Tidak ada yang mengubah keyakinan itu dalam dirinya, sampai setidaknya dua menit yang lalu, tepat ketika ia mendarat di atap gedung hotel ternama di pusat kota Seoul. Mata lihainya menangkap keindahan pusat kota Seoul sebagai ancaman. Ia tidak lagi menentang keputusan Kim untuk mendaratkannya di sini, akan tetapi, Kim agaknya menangkap ketidaknyamanan yang dipetakan jelas di wajah rekannya.

“Tenanglah, semua ini hanya asumsi. Mari berharap hal-hal sederhana.”

Seusai ia mengatakan hal tersebut, dikeluarkannya sebuah senapan mesin dari bagasi pesawat. Kris mengangkat kedua alisnya, “Hal-hal sederhana katamu?”

“Ini untuk berjaga-jaga.”

Senyuman kecil diberikan Kim pada Kris, tapi pria itu segera memalingkan wajahnya ke arah handy-gun berwarna abu-abu miliknya. Seoul tak buruk, tapi akan sangat buruk kalau Kris membawa benda abu-abu itu terang-terangan ke seluruh kota. Jadi dengan segala kerendahan hati, ia menyisipkan benda tersebut di pinggangnya, tepat di bawah jins biru miliknya. Ia melirik cepat pada Kim yang mulai merapikan peralatan elektroniknya dalam sebuah koper besar beroda. Gadis itu menambahkan blazer krem di atas t-shirt yang dikenakannya, merapikan rambut dan menyematkan sebuah kacamata hitam di sana. Jarang sekali melihat Kim menaruh atensi pada gaya busana atau rambutnya, tapi dandanan hari itu dinilai Kris tak terlalu jelek.

“Kau benar-benar terlihat seperti turis,” komentarnya.

Kim memutar bola matanya, “Is that a compliment?”

Kris mengabaikannya. “Dari mana kita akan mulai mencari Alpha 23-ku?”

“Oh soal itu,” Kim mengeluarkan ponsel miliknya. Jemarinya menari-nari di atas layar dengan lincah. “Aku memasukan semacam virus ke dalam sistem Slotte. Aku bisa masuk ke dalam jaringan mereka sesukaku, dan menurut apa yang kulihat—setidaknya sampai beberapa menit lalu, sinyal dari Alpha 23 berada satu kilometer dari sini. Di sebuah area perkantoran sibuk, tepatnya.”

Kris mengerutkan kening. “Sampai beberapa menit yang lalu?”

“Ya,” Kim mengedikkan bahunya. “Sinyal Alpha 23 baru saja menghilang. Kurasa Glovicki tahu aku meretas sistemnya.”

Kris menghela napasnya. Ia membayangkan suatu adegan di mana ia dan Glovicki bertemu untuk bertarung. Itu tidak buruk, Kris bisa merontokkan seluruh gigi pria tua rakus itu. Tapi jika ada skenario bagus untuk mencelakai Glovicki, Kris lebih senang untuk melibatkan Kim. Rekannya selalu memiliki cara yang fantastis untuk mengakhiri hidup seseorang. Namun rencananya dengan hidup Glovicki harus menunggu,

“Ayo pergi, Kim. Ada manusia kadal berbahaya yang harus dihancurkan.”

.

.

Ada dua kabar untukmu, baik dan buruk. Kabar baiknya, kami berhasil selamat dari amukan Lizard-Man—aku tidak punya pilihan, Minho lebih suka menyebutnya demikian—setelah berlari di jalanan sibuk Seoul. Aku punya banyak pertanyaan di kepalaku, dimulai dari hilangnya Jiyong hingga identitas si Lizard-Man, namun aku terlalu sibuk untuk mencoba menyuarakannya. Aku hanya tahu berlari dan berlari hingga kami terpojok di atap sebuah gedung perkantoran dua puluh lantai. Dalam kepanikan, Minho menarikku untuk terjun dari tepi gedung—keputusan gila dari pesulap gila yang diikuti sukarela oleh gadis gila, oh sungguh hari yang gila.

Kabar buruknya, aku akan bertabrakan dengan sebuah helikopter yang mendekat. Helikopter itu datang mendadak dari arah selatan dengan kecepatan tinggi. Pertama-tama mereka berada di atas gedung di sebelah gedung yang sempat kupijak. Lantas salah satu dari awak helikopter melakukan loncatan akrobatik ke atap gedung, sesaat sebelum aku jatuh. Aku sempat mendengar suara tembakan beberapa kali, namun aku sudah terlalu jauh dari atap gedung untuk melihat. Lantas tanpa kusadari, arah terjunku berbelok tajam, aku akan berbenturan dengan sebuah helikopter yang terbang rendah sebentar lagi.

“Kris!”

Aku bisa mendengar suara seorang gadis meneriakkan nama rekannya. Mungkin ia sedang memanggil pria yang baru saja melakukan loncatan akrobatik, aku tak peduli. Minho menggenggam tanganku, berbicara bahwa kami akan baik-baik saja—sebagai informasi, Minho adalah pendusta yang buruk. Ketika ia menarik tanganku untuk terjun, aku seketika tahu bahwa kami tidak baik-baik saja. Kalaupun aku dan Minho selamat, mungkin kami akan kehilangan beberapa jari dan akal sehat, siapa tahu.

Untungnya itu tidak terjadi. Seorang pria berpakaian ketat terjun dari atap gedung dengan cepatnya. Ia mengulurkan seutas tali kepadaku dan berteriak, “Ambil talinya.”

Minho lebih efektif untuk tugas dengan tali-temali, jadi ia bergerak lebih dulu untuk membantuku. Dengan kecepatan jatuh yang luar biasa, sebuah helikopter dan pria berbaju ketat yang mengenakan topeng, kurasa kami sudah cukup menarik perhatian orang-orang di bawah sana. Tidak perlu menghitung banyaknya orang yang berkumpul, begitu kami jatuh, lenyaplah mereka semua.

“Yuri, genggam tanganku!” teriak Minho kemudian. Aku melihat ke atas, pria berbaju ketat sudah bergelantungan di bagian bawah helikopter, meneriakkan kami agar melakukan gerakan cepat. Rupanya ia sudah mengikatkan ujung tali yang satu lagi ke sebuah tiang di badan pesawat. Ia ingin kami segera meraih ujung tali satunya, memanjatnya perlahan dan segera masuk ke badan pesawat. Tindakan yang ekstrem.

“Yuri!”

Aku mengumpulkan kesadaranku. Tanganku sudah berhasil menggapai tali. Satu-satunya yang tersisa adalah memanjat talinya. Saat aku remaja, memanjat adalah keahlianku. Tapi itu lain cerita, aku hanya ahli memanjat tebing batu, bukan benda rapuh yang getas seperti tali. Aku tidak akan mencoba memanjat tali jika aku ditawari kesempatan ini sekali lagi. Aku berusaha sangat keras untuk memanjat, namun aku hanya bergeser beberapa senti saja dari sebelumnya. Helikopter mulai memperlebar jaraknya dari tanah, yang artinya akan semakin mengerikan jika aku jatuh lagi sekarang.

“Yuri, pegang tanganku.” Minho memerintahkanku lagi. Tapi tunggu… sejak kapan dia sudah sejauh ini dariku? Pria itu baru saja menginjakkan kakinya di badan pesawat, kini ia mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak bisa menolong diriku selain tersipu lebih dahulu. Pria yang kusangka tidak pernah mempedulikan kehadiranku, kini mencoba membantuku agar tidak tewas, tidak ada hari yang lebih baik dan buruk dari ini. Namun jangan sebut ini kisahku kalau segalanya berjalan dengan mulus, karena tepat ketika aku ingin menggenggam tangannya, sesuatu menarik kakiku.

“Oh, shit!” seseorang di atas sana bergumam. Suara seorang gadis, dan kurasa berasal dari dalam pesawat. Mungkinkah pilotnya seorang wanita?

I thought you killed that guy, Kris,” ujarnya lagi. Pria berbaju ketat menanggapi ocehan suara gadis tadi dengan dehaman singkat, jadi aku berasumsi pria ini pastilah seseorang yang bernama Kris.

I did. I’m sure i did.”

“But he is… WATCH OUT!” Aku terlambat memahami kata-kata sang gadis. Bahasa Inggrisku A, tapi aku tak pernah lulus dalam pelajaran Bagaimana Tak Jadi Pecundang. Aku tidak bisa mengendalikan diriku ketika tahu Lizard-Man menangkap kakiku. Aku berusaha melepaskannya dengan tendangan dan injakkan kuat, namun selain mulutnya yang agak miring, usahaku tidak berbuah apa pun lagi.

Tepat ketika gadis itu berteriak, aku kehilangan dayaku pada talinya. Aku terjatuh bebas, sekali lagi. Terjengkang turun dengan makhluk aneh yang kini menjulurkan lidahnya padaku, berpose seolah ia telah menunggu saat ini. Aku menutup mataku, memikirkan rantai makanan yang memuat seekor kadal di dalamnya, semoga saja ia herbivora.

Such a bad guy, huh?”

Suara yang sangat… menyenangkan. Uh, aku tidak bisa menjelaskannya karena ini adalah kali pertama aku mendengar pria bernama Kris itu berbicara begitu dekat dengan telingaku. Meskipun wajahnya berada rapat di balik topengnya, aku bisa membayangkan seperti apa rupanya hanya dengan mendengarkan suaranya. Tangannya sangat kekar, dari caranya memeluk pinggangku dan menarikku ke sisinya. Ia cukup berkeringat, tapi aromanya sangat maskulin dan menghangatkan. Kami jatuh dari ketinggian dengan cepat, setidaknya sampai ia membuka sebuah parasut dari punggungnya. Thank God!

Kami terjatuh di atap gedung tempatku loncat beberapa saat yang lalu, begitu pula Lizard-Man. Segera setelah kami mendarat, Kris melepaskan tali-temali parasut dari pakaian hitam ketatnya. Tanpa memedulikan kehadiranku, ia berjalan ke depan, meninggalkanku tersungkur di bawah parasut besarnya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari jinsnya yang langsung kukenali sebagai hand-gun abu-abu.

I’m sure my bullets killed you before,” Kris berbicara. Di hadapannya, berdiri seekor Lizard-Man yang kepayahan. Aku menutup mataku ketika selanjutnya mendengar suara suara tembakan kencang sebanyak dua kali, salah satunya diselingi suara teriakan seorang pria dan kepakan kuat dari ekor reptil. Ketika aku membuka mata, Kris berdiri membelakangiku, Lizard-Man tumbang di hadapannya, menggeliat di atas kubangan darah. Kepala manusianya berlubang tepat di tengah, senada dengan pantat kadalnya. Seakan itu belum cukup, Kris melemparkan sebuah granat tepat di tubuh buruannya. “Nevermind, i just have to kill you once again.”

Saat aku berpikir pria ini sudah pasti sinting, ia berjalan ke arahku, melepaskan topengnya sambil memperlihatkan sebuah ledakan kecil yang terjadi di belakang tubuhnya, seolah berkata Hey, akulah pahlawannya!

“Hai,” ia menyapaku seolah barusan tidak ada apa pun; seolah kami tidak pernah berada dalam bahaya. Saat aku memandang wajahnya, ekspektasiku tidak pernah dikecewakan. Kris adalah seorang pria yang tampan. “Maaf untuk adegan laganya, aku Kris Schiff—“

Lalu ia berhenti bicara ketika kami hanya berjarak beberapa senti saja. Aku yakin ia akan memperkenalkan dirinya, tapi ia begitu terpana ketika melihatku—yang membuatku hampir mengira apakah aku secantik itu. Kris Schiff-whatever sedang memandangiku dengan penuh rona keterkejutan. Ia membelalakkan matanya dan kehilangan pengendalian atas dirinya sendiri. Ia jatuh terduduk di hadapanku, mulutnya terbuka lebar.

“Anna?” ujarnya kemudian. “Anna Rufflekov?”

.

.

Tbc.


Do leave any comments, fellas!

74 thoughts on “DOPPELGANGER [2 OF 6]

  1. kyulyulmiu berkata:

    Kyaa lucu deh ya yuri ngomong pesulap gila,gadis gila dan hari gila,wkwk
    Oh jadi anna itu masa lalu kris
    Wah lizard man megang tgn yuri,dan untunh udh mati
    Nahloj gmn kelanjutannya?
    Izin bca kaknyun
    Tpi jiyong mna? TT

  2. Ersih marlina berkata:

    Ah tersemat bhsa inggris kurang ngerti hihi, maklum lah ga bgtu suka sma bhsa yg yah rumit buat aku huhu

    aksi heroik kris nyelamatin yuri atau mungkin anna? Ah entahlah hihi

  3. Angella Yurisistable berkata:

    1st : I like to said yang mungkin saja Minho bocah kecil yg menghilangkn diri setelah di suntik olh Lesther. Krn kelakuan sinting Minho….Hahahaha Maybe?
    2nd : Yuri & Anna is a same people? = Maybe!!! Sbb Kim blg mungkin saja Anna dinamakn di grave tapi tidak tubuhnya. Tapi Yuri tidak kenal sama Kris?
    3rd : Where is my richest idol? Jiyoung? 😁
    4th : I really hope , YulNa is a different people.

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s