DOPPELGANGER [3 OF 6]

Doppelgangertale by bapkyr (@michanjee)

DOPPELGANGER

[3 of 4]

“Don’t learn the truth, if you barely know who you are.”


Namanya Kris Schiffery, bukan Kris Schiff-whatever, dan kini ia sedang memandangiku tanpa jemu, membuatku ragu untuk sekadar menyambar sekeping kraker cokelat buatan gadis muda yang memperkenalkan dirinya dengan nama Kimmy Jean. Aku sudah menjelaskan bahwa aku bukan Anna Rufflekov seperti yang ia kira, bahkan sampai aku tersedak busa salivaku sendiri, tapi Kris cukup keras kepala untuk memercayai hal sebaliknya. Kim sudah menjelaskan padaku tentang siapa mereka dan untuk apa mereka membawaku ke sebuah rumah mungil di tengah perbukitan selatan Seoul. Dari apa yang kulihat, Kim tidak berdusta ketika ia menceritakan bagian “mata-mata” padaku. Maksudku, baju ketat, helikopter pribadi, sebuah bunker senjata di bawah rumah mungil? Aku tidak memiliki penjelasan logis soal ini jika mereka bukan sepasang “mata-mata”. Kendati demikian, Kim menolak menjelaskan soal siapa yang mempekerjakan keduanya, hanya sebuah ulasan senyum di wajahnya yang menutup topik kami, sebelum Kim pergi ke dapur dan mulai meracik kudapan untuk kami.

“Kau oke?” Minho duduk di sisiku, melemparkan sekeping kraker ke dalam mulutnya tanpa enggan. Aku menaikkan salah satu alisku, menilai seolah gerakan Minho adalah tindakan vandalisme terkeji yang pernah kulihat. “Apa?” tanyanya galak.

“Tidak,” aku memerhatikan Minho mengunyah dan menelan krakernya. Satu detik, lima detik, sepuluh detik, oke, tidak ada racun atau hal berbahaya lainnya. Kue itu sama amannya dengan bokongku yang sudah tak mau lepas dari kursi empuk di ruang makan Kim. Baiklah, saatnya makan!

“Yuri?”

Demi Tuhan, aku hampir tersedak.

“Bisa kau kemari sebentar?”

Kim memanggilku ke dapur. Seolah sudah tahu bahwa Kim ingin ditinggalkan berdua denganku saja, Kris dan Minho menyingkir lebih jauh daripada hanya sekadar terbengong-bengong di ruang makan. Keduanya melangkahi ambang pintu ruang makan dan berpencar tepat setelahnya; Minho ke ruang tamu, Kris sepertinya pergi ke ruang senjata bawah tanah.

“Maaf,” Kim menyentuh bahuku, menepuknya perlahan kemudian mengajakku duduk di kusen beranda dapurnya. Normalnya, aku adalah pembangkang, kendati demikian, Kim berhasil menyuruhku ini dan itu tanpa membuatku merasa terkekang. Yah, padahal kalau dipikir-pikir, aku lebih tua darinya. “Kurasa terlalu dini untuk menceritakanmu soal Anna Rufflekov, tapi kurasa aku harus menceritakannya padamu.”

Anna Rufflekov, gadis itu lagi. Sepertinya ia adalah kunci dari kekacauan ini, aku merasa seolah-olah aku memiliki hubungan lebih penting daripada sekadar wajah yang serupa. Sebuah hubungan yang riskan dan lebih intim.

“Anna adalah seniorku, rekan paling dikagumi Kris, ikonik—kebanggaan perusahaan. Ayahnya adalah seorang pensiunan ilmuwan, ibunya sudah lama tiada—aku tak pernah mendengar penyebabnya. Kepribadiannya lembut dan menyenangkan, ia jenius namun keluguannya tidak menampakkan demikian. Anna adalah seorang agen yang andal, perencana strategi yang baik, rekan dan rival sempurna bagi Kris. Setidaknya sampai usia ia dan Kris menginjak lima belas, segalanya baik-baik saja—“

“Um, maaf menyela, Kim,” Kim memandangku tak senang ketika aku memotong kalimatnya tepat di pertengahan. “Anna Rufflekov terdengar seperti gadis yang menyenangkan, oke, tapi maksudku… kenapa aku harus mendengarkan ini?”

“Dia memiliki wajah sepertimu, Yuri. Aku—“

“Ada banyak yang memiliki wajah serupa, Kim. Maksudku coba lihat Kristen Stewart dan Emma Wats—“

“Yuri darling,” Kim memotong ucapanku. Rasanya dialog ini tidak akan bermuara kemana pun kalau kami terus-terusan saling potong-memotong konversasi. Baiklah, aku mengalah. Bukankah yang lebih berumur memang sudah seharusnya mengalah? Aku mendengarkan kalimat Kim baik-baik kali ini. “Pernah mendengar soal ‘there are, at least, seven people around the world that looks exactly like you’? Kalau belum, selamat kau baru saja mengetahui fakta bahwa itu benar. Setidaknya, aku telah melihat dua dari tujuh yang ada; kini, satu yang tersisa dari tujuh.”

Membaca kebingungan di wajahku, Kim mempermudahnya dengan sebuah peralatan elektronik canggih yang ia keluarkan dari laci bumbunya. Sebuah mouse berukuran sedang ditariknya keluar dari sebuah toples gula. Aku jadi curiga jangan-jangan seluruh isi dapur sudah diubah jadi gudang barang berkabel.

“Perhatikan ini,” sarannya padaku. Tanpa perlu dikomando dua kali, aku menundukkan pandanganku pada sebuah layar komputer yang terpampang jelas di atas meja kecil dekat kusen. Layarnya yang berukuran dua puluh satu inci mempertontonkan enam profil para gadis dari seluruh dunia dengan wajah serupa sepertiku, salah satunya adalah Anna Rufflekov.

“Mereka semua, kecuali kau, telah tewas. Menurut informasi rahasia yang kudapat, Glovicki, salah satu musuh-yang-tadinya-rekan kami—kami punya banyak yang seperti itu—adalah dalang di balik semuanya. Anna Rufflekov digadang-gadang tewas delapan tahun lalu, setelah peristiwa ledakan di laboratorium bekas ayahnya bekerja dahulu. Glovicki sebagai perwakilan perusahaan mata-mata kami mengumumkan bahwa Anna telah tewas dalam ledakan tersebut, namun sayangnya, kami tidak pernah melihat jasadnya. Seminggu yang lalu, aku berasumsi bahwa Anna belum tewas setelah melihat ini, data orang-orang yang telah dibunuh Glovicki dalam beberapa tahun terakhir. Semuanya memiliki wajah serupa dengan Anna Rufflekov.”

Aku terpana akan penjelasannya. Agak berbelit-belit memang, tapi entah bagaimana aku mengerti keseluruhan detilnya. Lantas pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. “Apakah kau menganalisa tujuan si Glovicki ini?”

“Tentu saja. Aku telah melakukan riset berat untuk mengungkapkan ini. Kau adalah orang pertama yang tahu—Kris bahkan belum kuceritakan.” Jemari Kim menari-nari di atas keyboard, menunjukkan kelihaiannya sebagai ahli tekhnologi. “Ini dia, kasus Anna Rufflekov. Glovicki tahu bahwa Anna Rufflekov tidak pernah tewas. Perlu diketahui, ketika ledakan itu terjadi, sebuah salinan driver-chip penting bernama Blackpearl telah hilang dari kediaman Lesther Rufflekov. Aku berasumsi bahwa Glovicki yang menyadari hal ini, menyimpulkan bahwa Blackpearl tersebut telah hilang bersama dengan Anna, jikalau bagian Anna tidak tewas itu benar adanya. Pria itu, yang tidak tahu kemana Anna pergi, berusaha sebaik mungkin memburu setiap orang yang memiliki wajah seperti Anna dan membunuhnya jika buruannya tak memiliki apa yang ia cari. Aku menemukan lima orang serupa kau dan Anna telah tewas, tentu saja kasusnya langsung ditutup agar tak mencurigakan. Sampai saat itu kupikir kau dan Anna adalah orang berbeda, tapi dua minggu lalu aku menemukan satu jasad gadis lagi di New York—yang mengganggu pikiranku. Total enam yang tewas, ditambah kau dan Anna, jadi delapan. Hanya ada tujuh orang berwajah sama, bukan delapan. Jadi berdasarkan itu, aku mulai berpikir kau dan Anna adalah orang yang sama. ”

Kabar baiknya, aku lega hanya bertemu Lizard-Man, bukan Glovicki. Dari apa yang Kim ceritakan, ia kedengaran seperti pria tua erotis yang berengsek, aku akan mudah terbunuh oleh pria seperti ini. Namun di sisi lain, kabar buruknya, aku merasa sebuah kabut tebal baru saja menyelimutiku dengan eratnya. Bayangan mimpiku tentang Anna Rufflekov mendadak berkelebatan di benakku, membuatku tak nyaman.

“Bukan hanya itu yang membuatku yakin,“ tambah Kim. “Soal Glovicki dan rencana jahatnya, baru-baru ini sepertinya ia memiliki terobosan baru. Blackpearl yang kami cari memancarkan sinyal unik yang tidak dapat ditangkap oleh radiasi pendeteksi sinyal biasa, bahkan satelit tidak dapat menemukannya. Tahu akan hal itu, ia mencuri serum penting yang dibuat oleh teman kita di sana—maksudku Kris—menyatukannya dengan alat pendeteksi sinyal mutakhir buatannya, dan menyuntikannya pada kadal mutan yang juga adalah residual dari eksperimen gagal Kris—aku tidak mencoba untuk menyalahkan pria itu tapi ya terserah kau. Manusia kadal yang kaulihat tadi adalah hasilnya. Glovicki memanfaatkan mutan tersebut untuk memburu Blackpearl, Ia telah berkeliaran selama dua hari terakhir di Seoul, sebelum akhirnya menemukan apa yang ia cari hari ini.”

Aku mengangkat tanganku, hendak menghentikan cerita Kim sesaat. Namun gadis itu menolak dengan gelengan singkat, seolah berkata “Hey, aku bukan video yang bisa di-pause.”

“Dugaanku, Lesther Rufflekov membuat driver-chip sebanyak dua buah, Blackpearl yang diburu Glovicki adalah sebuah salinan, disinyalir dibawa pergi Anna ketika ia menghilang. Sedangkan yang asli, telah hilang jauh sebelum itu, ditanam dalam seorang bocah yang menjadi subjek eksperimental, seorang bocah yang tak pernah diketahui rupa dan namanya. Jadi, kalau semua asumsiku benar adanya ditambah kemunculan Lizard-Man yang mengejarmu, aku yakin Blackpearl tidak berada jauh darimu, dengan penjelasan: either you are Anna Rufflekov, the missing girl, or you are the missing mysterious experimental subject back then. But Yuri, whoever you are, i’m sure you don’t remember anything before you were fifteen.”

.

.

So, you’re trying to tell me that the memories i had so far, were… fake?”

Aku dan Kim sepakat tidak lagi menggunakan kusen pintu sebagai dudukan. Sebagai ganti, ia menyediakan sofa empuk di ruang tamu untuk bokongku—setelah sebelumnya mengusir paksa Minho kembali ke dapur. Sebenarnya aku tidak khawatir kalau Minho mendengar kami, tidak ada perbincangan khas wanita yang mengharuskan pria jauh-jauh dari kami kok, tapi Kim katanya keberatan. Ia lebih suka ditinggal berdua denganku, membicarakan hal-hal yang bagiku tidak masuk akal.

It was not fake, just modified. Itu asumsiku, dan sejauh ini hanya teori itu yang paling masuk akal. Rumornya, Blackpearl memiliki semacam efek samping yang memengaruhi kemampuan memori otak pada pemiliknya. Jadi jika kau adalah bocah eksperimen Lesther di tahun 2000, sudah pasti kau akan kehilangan sedikit memori ketika Blackpearl itu ditanamkan padamu,” sekali lagi Kim menjelaskan dengan penuh percaya diri, yang sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai gadis yang sangat teramat keras kepala—tak jauh berbeda dengan rekannya.

“Dan soal Anna Rufflekov,” tambahnya. “Maksudku jika ternyata kau bukanlah bocah eksperimental lima belas tahun lalu, sudah pasti kau adalah Anna Rufflekov.”

Aku mendecih, agak risih dengan asumsi terakhirnya. Sembari mempertahankan ekspresi jengkelku, kuedarkan pandang ke seluruh sudut ruang tamu, memerhatikan setiap pajangan dan—barangkali—telinga Kris atau Minho yang terpasang tajam di balik pintu-pintu kayu. Kala kupandangi cat pelitur cokelatnya, seketika aku terbayang pintu rumahku di Seoul. Aku teringat soal Anna Rufflekov, gadis bertudung hitam dalam mimpiku. Anna muncul dengan peringatan misterius yang tidak kumengerti, sorot cokelat netranya menguarkan sebuah kesedihan dan kesepian mendalam. Saat ia memerintahkanku untuk lari, sorot netra itulah yang seketika menghentikanku. Anna memandangku seolah memintaku agar tetap bersamanya, sementara mulutnya berkata sebaliknya. Mimpi itu sempat mendatangiku tiga kali dalam tiga malam berturut-turut, membuat aku berkeyakinan bahwa ada makna tersirat dalam mimpiku, kendati demikian aku tak merasa terlalu gentar. Kemunculan Anna entah mengapa terasa sangat hangat, menyeramkan tentu, tapi hangat di sisi yang lain. Ketika ia berkedip dan bicara, aku merasa sudah kenal Anna sejak lama sampai ke titik di mana aku tahu bahwa Anna sedang berdusta ketika memerintahkanku lari. Lantas ketika aku terbangun dari tiga mimpi di tiga hari yang berbeda itu, Jiyong selalu berdiri di sisi ranjangku, menatapku dengan haru dan memintaku agar tidur kembali.

Omong-omong soal Jiyong…

“Kim, kaubilang sebelumnya kau memiliki semacam satelit—“

“Maksudmu meretas jaringan satelit pemerintah, barangkali?”

Aku menggerakkan tanganku dengan panik. “Terserahlah, tapi bisakah kau tolong aku untuk menemukan kakakku? Kwon Jiyong. Aku tidak bisa menemukannya saat Lizard-Man menyerang.”

Aku melihat kerutan di wajah Kimmy Jean, tiga garis horisontal yang memiliki gap cukup dalam. “Siapa katamu?”

“Kwon Jiyong, Kwon-Ji-Yong, dia kakakku,” ulangku memperjelas. Alih-alih, Kim semakin tak mengerti. Ia menggaruk kepalanya kemudian mengetikkan sesuatu di atas laptop-nya. Aku tidak menunggu cukup lama untungnya, ia segera dapat menemukan apa yang kucari meski aku tak menyebutkan detilnya. Aku diperintahkannya mendekat dan melihat layar laptop-nya bersama, namun aku terkejut dengan hasilnya; Not Found.

“Apa usahamu gagal?” tanyaku pada Kim yang tak kunjung dijawab sang gadis. Ia malah menjauhiku, memandangiku lama-lama dan menggelengkan kepala. Saat itulah Kris datang di antara kami, di tangannya ada sekaleng cola dingin. Matanya mengedar pandang kemana-mana sebelum akhirnya bermuara di layar yang sedang aku pandangi.

“Kim tidak pernah gagal. Apa pun yang kaucari sekarang, aku yakin itu tidak pernah ada,” ucapan Kris tak sedikit pun kupercaya. Jadi, aku menginterupsinya dengan mengatakan macam-macam hal yang kuketahui dari Jiyong, dari ciri fisik hingga karakteristiknya. Kim bahkan menyerahkan laptop-nya padaku, memintaku untuk mencarinya sendiri. Sejam berlalu, kabar baiknya, pria yang kusuka—Minho—sudah duduk di sofa tepat di sampingku. Kabar buruknya, Kim dan Kris benar. Kwon Jiyong tidak dapat kutemukan kendati dengan bantuan satelit.

“Tidak mungkin…” ujarku.

“Uh, well, bagiku itu mungkin,” Kim menanggapi. Ia mengedipkan sebelah matanya padaku dan entah mengapa aku teringat kembali soal apa yang diutarakannya sebelum ini. Kim memiliki asumsi bahwa aku Anna Rufflekov. Ia juga memiliki asumsi lain yang mengatakan aku bisa saja adalah subjek eksperimen yang menghilang belasan tahun lalu dari Lesther Rufflekov. Kedua asumsi Kim memiliki kontradiksi, namun tidak berarti berbeda sama sekali. Satu-satunya kesamaan dari kedua asumsi Kim adalah bagian rekayasa memorinya. Gadis itu mengatakan bahwa aku tidak akan mengingat apa pun sebelum aku berusia lima belas tahun.

Demi menggagalkan hal tersebut, aku berusaha mengingat eksistensi Jiyong sebanyak yang aku rekam. Jika ia kakakku, maka sudah pasti aku banyak sekali memiliki ingatan tentang dirinya. Aku memejamkan mata, berpikir keras di tengah beberapa pasang mata yang kini memindaiku dengan kuriositas. Aku mencoba memanggil nama Jiyong di dalam pikiranku, sekeras mungkin, segaduh yang aku bisa. Aku membayangkan bagaimana rumah masa kecil yang kami diami, wajah orang tua kami, atau beberapa kenangan lain yang kuyakini berasal dari masa kanak-kanak kami. Aku berusaha sekuat tenaga, kendati demikian, tak ada satu pun serpihan memori yang muncul. Aku memeras otakku hingga aku ingin muntah, tapi yang terlihat hanya Jiyong dewasa yang sedang tertidur di sofa karena mabuk semalaman. Tidak ada apa pun dari masa kecil kami. Aku tidak dapat melihat masa kecilku.

Tidak mungkin!

“Tidak… mungkin…” Kim seolah dapat membaca pikiranku. Ia tahu bahwa aku baru saja membuktikan hipotesanya. “Kau benar-benar tidak dapat mengingat masa lalumu, ‘kan?”

Aku terengah. Terombang-ambing di antara kenyataan dan fantasi. Aku yakin telah hidup cukup lama untuk menganggap Jiyong adalah kakakku, lalu kenapa ini terjadi? Siapa Jiyong? Lebih penting lagi, siapa aku?

“Apa? Ada apa, Kim? Kau tahu sesuatu?” Kris meletakkan kaleng cola-nya, ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya dengan terus-terusan menginterupsi percobaan interogasi Kim padaku. Aku tidak peduli bagian itu, satu-satunya yang menarik atensiku adalah soal Choi Minho. Bagaimana dengan dia? Kami tinggal serumah selama ini, jika Kwon Jiyong tidak benar-benar ada eksistensinya—lalu siapa Choi Minho? Ia jelas-jelas bisa melihat Kwon Jiyong, sama sepertiku. Namun mengapa ekspresinya bisa setenang itu? Apa yang terjadi? Ada apa dengan hidupku?

Lari!

Aku menoleh ke belakang bahuku. Sepertinya aku mendengar sesuatu, suara seorang gadis yang kukenal. Tapi siapa?

Lari!

“Apa kalian mendengar sesuatu?” tanyaku tepat ketika Kris dan Kim berjalan ke ambang pintu. Sepertinya Kim terpaksa menceritakan apa yang tadi hanya ia kisahkan padaku. Aku bisa melihat perubahan cepat di wajah Kris, ekspresi terkejutnya. Saat kupikir tidak ada yang mendengar pertanyaanku, Minho memandangku kemudian menggelengkan kepalanya. Ada yang aneh. Entah aku yang sudah gila atau Minho yang berdusta.

Berhubung aku dan Minho sudah ditinggal berdua, aku memutuskan untuk memulai topik soal Kwon Jiyong. Aku merasakan perasaan yang aneh saat mata kami sekali lagi bersirobok—iris mata Minho berubah keabuan—tapi kurasa aku sedang berhalusinasi jadi kuabaikan itu.

“Minho, ini pertanyaan gila yang tidak pernah kubayangkan akan kutanyakan, tapi… benarkah Kwon Jiyong ada?” Minho mencoba memertahankan temu pandang kami, tapi aku begitu tak tahan dengan mata cokelatnya yang terus berkedip jadi abu-abu. Aku mengenyahkan fokus netraku ke arah lain. Kutangkap sekilas dari ekor mataku, Minho nampak mengusap matanya seolah ia baru kemasukan sesuatu.

“Kau oke?” tanyaku.

“Ya,” jawabnya singkat. Kala ia menunjukkan wajahnya padaku, kulihat matanya sudah normal seperti biasa, hanya sepasang iris cokelat, tanpa perubahan warna. Aku bersyukur, namun nampaknya Minho tidak berpendapat demikian, ekspresinya jauh lebih kusut daripada beberapa sekon lalu, ia kelihatan frustasi.

“Serius, kau oke?”

Aku bertanya lagi, belum terpuaskan oleh jawabannya. Minho tahu betapa keras kepalanya aku—meskipun aku menolak disejajarkan dengan Kim—jadi jika aku jadi dia, aku tidak akan berkelit lagi. Kami memertahankan kesenyapan selama beberapa sekon, sebelum akhirnya diinterupsi oleh kembalinya Kris dan Kim ke sisiku. Aku tidak masalah jika Kris memilih duduk di ujung sofa dan kembali menenggak cola-nya, alih-alih ia duduk tepat di sisiku, mencuri pandang padaku dalam setiap kesempatan kecil yang ia dapat.

Setelah mendengar asumsi Kim, aku berani bertaruh pria keras kepala itu semakin meyakini bahwa aku adalah Anna Rufflekov, asumsi gila, aku menolaknya. Satu-satunya yang kubutuhkan untuk mengembalikan kesadaranku adalah Minho, atau setidaknya, pengakuannya. Aku butuh jawaban pasti soal eksistensi Jiyong. Jika Minho berkata bahwa Jiyong adalah sebuah eksistensi nyata, maka runtuhlah sudah semua hipotesa aneh Kim, aku akan bersuka hati pulang ke rumah bersama Minho. Namun jika Minho justru berkata sebaliknya, bahwa Jiyong adalah manifestasi rekaan dari pikiran khayalku, maka Kim mungkin benar dengan hipotesanya. Harus kuyakini bahwa entah aku adalah si Subjek Eksperimen misterius yang hilang belasan tahun lalu, atau lebih buruknya lagi… aku adalah Anna Rufflekov.

Semoga Minho membaca pikiranku.

“Yuri…”

Doaku cepat sekali sampai.

Tapi tidak, ini bukan saatnya aku bersuka hati. Minho tidak menunjukkan reaksi positif padaku. Wajahnya masih kelihatan kelelahan, seolah tenaganya terkuras habis karena duduk memandangku. Ia menunduk, tangannya dimainkan satu sama lain—sebuah tanda bahwa ia sangat gugup. Kris dan Kim, yang sebenarnya tidak perlu mendengarkan bagian ini, sepertinya tertarik pada jawaban yang akan diutarakan Minho. Sepertinya mereka sadar, bahwa apa pun yang akan keluar dari mulut sang pria merupakan suatu kunci untuk mengungkap identitasku.

Lari!

Aku mendengar suara itu lagi, sayup-sayup. Kali ini aku tidak menoleh kemanapun, aku bahkan tidak bergerak. Detik ketika aku mendengar suara itu untuk ketiga kalinya, seketika aku dapat mengidentifikasi sang pemilik suara. Anna Rufflekov. Dan ya, itu bukan halusinasiku, aku mendengarnya, mendengar suara Anna yang berasal dari dalam kepalaku. Suaranya sengau, penuh kegetiran, seolah ia telah terkurung di dalam kepalaku sejak lama, di luar kehendaknya.

Jelas sekali ia memerintahkanku untuk lari. Tapi aku tidak melihat tanda-tanda kemunculan Lizard-Man versi II, tidak ada yang seperti itu, aku yakin markas Kim adalah yang terbaik dengan teknologi tercanggih. Lantas, apa yang dimaksud oleh Anna? Lari dari apa tepatnya?

“Yuri… soal Kwon Jiyong…”

Ah! Aku lupa aku dalam pertengahan konversasi. Segera kufokuskan seluruh inderaku pada apa yang akan dikatakan Minho, aku berekspektasi besar, bahwa Minho akan membelaku dengan mengatakan Jiyong adalah eksistensi nyata. Sebagai pria yang sudah tinggal di rumahku secara cuma-cuma selama delapan tahun terakhir, sudah seharusnya ia membantuku. Minho si Pesulap Gila itu biasanya selalu dapat diandalkan di saat-saat kritis, aku benar-benar berharap banyak darinya.

“Kwon Jiyong… sesungguhnya tidak benar-benar ada…”

Bagai disambar halilintar, aku seketika tersadar, benang kusut di kepalaku seolah mengurai dengan sendirinya, perlahan dan pasti. Kim dan Kris sepakat memandangiku penuh observasi, sementara Minho sudah kehilangan karakter ceria yang biasanya tak pernah enyah dari wajahnya. Ia menundukkan kepala, seolah baru saja mengatakan sebuah dosa besar yang ia sembunyikan bertahun-tahun—dan memang begitulah adanya.

Kini, meski terlambat, mungkin aku tahu apa yang dimaksudkan Anna.

Mungkin Anna ingin sekali aku lari, lari dari kenyataan.

BRUGH!

.

.

tbc.


Ternyata gak jadi dibuat 3 chapter, ternyata harus luber sampai 4 chapter, semoga ini gak mengganggu kenyamanan membaca ya🙂

Do leave reviews please.

NYUN

53 thoughts on “DOPPELGANGER [3 OF 6]

  1. Angella Yurisistable berkata:

    1st : Bila anda begitu mnyakin Anna adalah Yuri dan Yuri adalh anda, dan 2nd probability is also appear. And you head make your own possible…Tapi klau Anna adlh Yuri siapa yg ada dlm grave..
    2nd: 60% my head say Yuri is Anna and 40% Yuri is bocah yg larikan diri dari experiments. Kalau bnr dia Anna knpa dia tidak ingat apa2 dan klau dia bocah itu dimana pula Anna…Ya i got confused here…
    3rd: And Jiyoung just a imagination?Cause when Yuri go to find Jiyoung and she didn’t found him.Minho be like ‘Di kemana?’ What happen with Minho?
    4th: Nyun you the ways you think to make this ff really amazing. I like it 😘

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s