DOPPELGANGER [4 OF 6]

Doppelganger a story by bapkyr (@michanjee)

DOPPELGANGER

[4 of 6]

“Her soul and mine were mixed, changed and mixed again, now i can’t tell who is who.”


Kalau kaupikir aku baru saja terjatuh dari sofa dan pingsan seketika, maka kau salah besar. Minho yang melakukannya barusan, aku bersumpah atas nama segala benda-benda sinting di muka bumi, ia benar-benar tak pantas melakukan itu. Maksudku, ayolah! Di sini aku yang lebih pantas untuk pingsan setelah mendengarkan cerita edan dari mulutnya, bukan sebaliknya. Jadi itulah sebabnya aku tak mau repot-repot membopong tubuh pria itu ke atas kasur.

“Yuri, bisa kau kemari sebentar?” Kris memanggilku. Oh sungguh, aku tidak butuh pria yang lebih sinting dari Minho.

“Aku ingin berbicara denganmu, berdua,” ucapnya lagi tatkala aku tak kunjung bergegas. Oke, baiklah, terserah. Aku berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Ketika aku hanya tinggal beberapa senti dari tubuhnya, ia membalikkan badannya dan berjalan ke depan seolah ingin menuntunku ke suatu tempat. Selanjutnya yang kulihat adalah sebuah labirin mini dengan berbagai jenis senjata yang terpajang di dinding-dinding gypsum-nya. Aku belum pernah melihat senjata api sedekat ini sebelumnya, tapi aku langsung meraih sebuah, memainkan pelatuknya dengan santai.

Kris mengangkat alisnya ketika melihatku memainkan senjata apinya, namun ia tak banyak berkomentar. Membaca dari ekspresinya, aku yakin ia terheran-heran melihatku menimang-nimang handy-gun hitamnya. Aku sendiri terkejut karena keberanian yang kumiliki. Handy-gun tersebut agak berat, ada enam peluru dalam revolver-nya, yang kuyakin semuanya bukan sekadar selongsong. Jangan tanya dari mana aku tahu cara memegang senjata bahkan membuka revolver-nya, aku pun tak paham. Senjata seolah sudah menjadi sama biasanya dengan pakaian dalam buatku, dan sekali lagi, jangan tanya dari mana analogiku berasal.

“Apa yang ingin kaubicarakan?” tanyaku seusai meletakkan kembali handy-gun hitam milik Kris di tempatnya semula.

“Sebelumnya aku minta maaf,” Kris menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan tanpa melihatku untuk alasan yang tak jelas. Bagus, aku juga bisa melakukan itu, awas saja! Memangnya aku sejelek itu?

“Kalau kau mengucapkan itu hanya sebagai ucapan simpati atas halusinasi ‘Kwon Jiyong’ku, lupakan,” ucapku ketus.

“Tidak, dengar dulu,” katanya agak memaksa. “Aku tidak melakukan itu untukmu. Anna Rufflekov, aku melakukannya untuk dia.”

Aku menghela napasku keras-keras. Kris dan Minho memang sama-sama tampan, tapi keduanya agak edan.

Told you, i’m not Anna. Found your Anna yourself, Dude.”

I’m half-positive you’re her. Listen,” Kris berhasil menyedot atensiku tatkala ia memperlihatkan sebuah jubah hitam panjang dengan bordiran nama lengkap Anna di bagian dalam tudungnya. Seketika aku teringat pada mimpiku beberapa hari lalu. Aku tidak bodoh, jubah hitam adalah barang yang mudah dibuat dan ditemukan di mana pun, tapi melihatnya di tangan Kris, aku memiliki perasaan berbeda. Jelas aku tidak pernah menceritakan soal mimpiku pada pria itu sehingga aku tidak memiliki penjelasan bagaimana Kris dapat mudahnya menebak jitu apa yang menggangguku soal Anna Rufflekov. Kendati banyak balon pertanyaan beterbangan di kepala, aku tak lantas merespons secara sembarangan. Kris adalah mata-mata, dan dari apa yang kutahu, ia senang berpikir logis. Mendengarkan Kris adalah satu-satunya opsi masuk akal untukku.

“Aku tidak berusaha untuk mencuci otakmu dengan terus-menerus berkata kau adalah Anna. Tadinya aku ingin menyerah namun setelah mendengar cerita Kim, aku sedikit-banyak berharap kembali padamu. Jika kau adalah Anna, maka kuharap kau percaya dengan apa yang akan kuceritakan, tapi jika kau bukan Anna,” Kris menatapku nanar. “Kuharap itu tak terjadi.”

“Kenapa?”

“Karena aku berdosa telah meninggalkannya.”

.

.

“Segalanya berawal ketika Anna bergabung dengan Slotte. Kami adalah rival—kutebak Kim sudah menjelaskan ini padamu. Anna adalah gadis periang yang sangat ceroboh, sehingga ia ditempatkan dalam divisi yang sama denganku karena organisasi kami berharap aku dapat membimbingnya. Dan begitulah pada mulanya kami mengubah status rival menjadi teman.”

Aku lupa untuk menelan ludahku kala Kris bercerita. Salahkan pria itu dengan ekspresi rindunya yang membuatku berpikir: siapa pun Anna, ia harusnya benar-benar bahagia memiliki pria seperti itu di sisinya.

“Anna menceritakan seluruh rahasianya padaku, seluruhnya, hingga yang terkelam. Suatu hari ia bercerita bahwa Lesther Rufflekov bukanlah ayah kandungnya. Aku terkejut—tentu saja. Lantas aku melakukan penyelidikan kecil pada latar belakangnya dan menemukan fakta bahwa Anna adalah salah satu penghuni panti asuhan yang didanai oleh Lesther.”

“Kau melakukan penyelidikan di belakang Anna?” aku bertanya. Namun segera menutup mulutku lagi kala ekspresi Kris berubah mendung. Nampaknya pertanyaanku mengganggunya.

“Ya. Itulah salah satu pemicu kebencian Anna padaku. Setelah itu hubungan kami berubah, Anna menjadi gadis pemurung. Ia selalu menyembunyikan wajah dan tubuhnya di balik jubah hitam ketika pergi dalam misi, ia menjadi penyendiri dan berperilaku sangat kontras dengan apa yang biasanya kuketahui. Lantas suatu hari, aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Anna dengan Glovicki. Pria berengsek itu memojokkan Anna, memintanya mencuri salinan Blackpearl dari kediamannya sendiri, ia bahkan mengancam akan membunuh Lesther dan Anna jika gadis itu tidak melakukan perintahnya.”

Perutku mual. Mendengarkan kata “bunuh” telah membuat kepalaku sakit. Aku akui ini memalukan, tapi jika Kris tidak segera menangkapku dan memboyongku ke sebuah kursi terdekat, aku yakin sudah akan merusak lemari pajangan senjatanya.

“Maafkan aku, efek terlalu lama melihat hal tak masuk akal,” kataku memberi alasan. Perutku masih terasa seperti ditusuk-tusuk paku saat Kris kembali bicara. Tapi aku berpolah normal, tidak lucu kalau pria itu memboyongku sekali lagi.

“Sebuah ledakan terjadi beberapa hari kemudian di kediaman Lesther. Aku bergegas ke sana dan mencari Anna. Kim bahkan tidak pernah mengetahui bahwa aku ada di tempat kejadian ketika Anna tewas. Sungguh, aku melihat Anna terbaring di atas lantai. Jubah hitamnya berselimut darah dan menutupi sebagian tubuhnya. Saat itu aku yakin Anna mungkin telah tewas. Aku sudah akan memeriksa wajah di balik jubah tersebut, namun Glovicki tiba-tiba datang. Aku buru-buru melakukan apa yang kubisa di waktu yang sangat singkat; menarik jubah Anna untuk memastikannya, tapi,”

Wajah Kris memucat, begitu juga diriku. Kris hanya bercerita apa yang pernah berada dalam kenangannya, namun aku merasa seolah sedang dipertontonkan kejadian yang sebenarnya. Aku memejamkan mata kuat-kuat saat pria itu tak memerhatikan. Maksud hati ingin mengenyahkan visi-visi buruk yang tiba-tiba berkelebat di depan mataku.

Kris tidak berdusta. Aku berani berkata demikian karena tiba-tiba saja aku melihat sosok Anna yang berbaring di depan mataku. Warna cokelat jernih matanya dibaluri oleh tetesan darah yang berasal dari keningnya. Gadis itu meringkuk bagai janin di dalam perut ibunya. Ekspresinya begitu pedih, menyayat dan penuh kerelaan di saat yang bersamaan. Aku sangat yakin Anna telah tewas, gadis berjubah hitam dalam visi samar-samarku telah tewas.

Aku hampir menjerit jika saja Kris tidak menginterupsiku. Rupanya aku benar-benar berhalusinasi barusan. Pria itu menanyakan apa aku baik-baik saja yang langsung kujawab dengan anggukan cepat. Aku tidak bisa bercerita, tidak pada Kris. Aku segera mengalihkan topik. “Lantas apa yang terjadi selanjutnya?”

“Ah iya, Anna-ku, ehem, maksudku, aku menarik jubah Anna sebelum berlari. Tapi yang terbaring di sana bukan Anna. Maksudku wajahnya serupa, tapi jelas, gadis itu bukan Anna. Rambut pirang, pipi tirus dan kulit putih susu, jelas itu bukan Anna. Saat aku kembali ke kediamanku, aku mencoba meneliti jubah yang dikenakannya untuk membuktikan keraguanku, lantas fakta yang mengejutkan muncul, jubahnya benar jubah Anna, dengan sidik jari dan DNA darah yang sama persis—“

“Sebentar,” aku terengah. Visi blur di dalam kepalaku terus berkelebatan. Semakin Kris bercerita semakin banyak gambar-gambar belum sempurna yang tersusun di kepalaku seperti puzzle. Ketika akhirnya sebuah video utuh terbentuk, aku melihat Anna Rufflekov berjalan di kegelapan bersama seorang pria. Jauh di depan mereka adalah Lesther Rufflekov—aku tidak tahu bagaimana aku mengenalinya, tapi itulah dia, pria yang menjadi kunci segalanya. Enyahlah, aku mencoba memantrai diriku sendiri dan kembali pada Kris. “Apa kau mencoba mengatakan bahwa ada seorang lagi gadis yang memiliki wajah serupa dengan Anna dan aku? Jika iya, maka itu mustahil. Kim mengatakan hanya ada tujuh orang yang serupa, sisanya hanya mirip, tidak mungkin sama persis. Kim sudah menemukan ketujuhnya, tidak termasuk gadis yang kautemui.”

“Apa Kim sudah menceritakan padamu waktu dan penyebab kematian gadis yang ia temukan terakhir kali?”

Aku menggeleng. “Apakah itu penting?”

“Penyebab kematiannya adalah infeksi otak karena serum tak dikenal. Serum itu memodifikasi sistem reproduksi sel-selnya, mengusir bakteri pembusukkan sehingga tubuhnya sukar membusuk sekaligus mengacaukan waktu prakiraan kematiannya. Gadis yang kulihat malam itu memiliki ciri-ciri fisik dengan gadis yang ditunjukkan Kim padaku; rambut pirang, kulit putih susu dan pipi yang tirus. Kim juga menambahkan ia baru bisa memecahkan komposisi serum penyebab kematian sang gadis. Serum tersebut memiliki komposisi serupa dengan sebagian kecil bahan dasar Blackpearl…”

“Lantas kesimpulanmu?”

“Aku tidak berani menyimpulkan apa-apa sampai beberapa menit yang lalu, saat Kim menceritakan soal penelitian serumnya. Seperti Kim yang menyembunyikan soal penemuan tujuh gadis serupa Anna, aku juga menyembunyikan fakta soal gadis yang kutemui malam itu dari Kim. Aku melakukan penelitianku sendiri, dan sampai pada kesimpulan bahwa, gadis yang kulihat malam itu adalah gadis yang sama dengan yang dilihat Kim dalam pencariannya. Karena waktu kematiannya tidak dapat ditentukan, ada kemungkinan gadis itu telah mati bertahun-tahun lalu, saat Anna hilang, atau bahkan lebih jauh sebelum itu. Dan siapa pun dia, Anna Rufflekov pasti mengenalnya dengan sangat baik.”

.

.

Garis bawahi kalimat ini : aku benar-benar ingin muntah.

Secepat mungkin aku melesat, mencari jalan keluar dari labirin mini yang disulap Kris menjadi gudang senjata. Rasa mual ini membuatku edan, pasalnya kini aku bisa melihat hal-hal aneh di depan mataku. Dinding putih penuh senjata telah berubah menjadi medan penuh api dengan seorang gadis yang tengkurap di tengah-tengahnya.

Aku sontak berteriak, memanggil nama-nama gadis yang aku kenal—siapa saja—kadang aku malah mengumpat, semata-mata agar sosok itu bersedia bangun dan menyelamatkan hidupnya. But noooo. Dia tidak pernah bangun.

“Dia saudari kandungku,” Aku hampir rubuh saat suara Anna berada begitu dekat denganku. Aku mendadak bergumam “wah aku memang sinting” saat aku benar-benar melihat sosok Anna Rufflekov berdiri di hadapanku. Dengan jubah hitam yang menjadi ciri khasnya, ia menuntunku memandangi satu sosok lagi berwajah serupa yang sedang terbaring lemah di tengah ruangan.

“Lihatlah itu,” katanya. Telunjuknya teracung pada sosok Kris—bukan Kris masa kini, dia Kris masa lalu—yang berlari melewati sang gadis misterius yang diklaim Anna sebagai saudarinya. Kris nampak panik, ia tak melakukan banyak hal selain terkejut, mencuri jubah hitam dan segera pergi dari tempat menyeramkan tersebut. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap menghampiri tubuh tak bernyawa tersebut. Dibolak-baliknya tubuh sang gadis misterius sebelum akhirnya ia membawanya pergi dan mengumumkan pada seluruh penjuru dunia bahwa Anna Rufflekov telah tewas. Saat itu entah dari mana aku mendapatkan feeling kalau pria bongsor tersebut tahu tubuh tersebut bukanlah Anna. Hanya saja, ia merahasiakannya. “Dia Glovicki. Pria yang menjadi sangat terobsesi pada Blackpearl,” kata Anna lagi.

“Dia yang membunuh saudarimu, Anna?” tanyaku. Jangan tanya dari mana aku mendapat keberanian itu.

“Tidak, Lesther-lah orangnya.”

“Maaf?” aku gugup ketika menanyakan ini. Kupikir telingaku tersumbat sesuatu sehingga kalimat tanya itu terlontar begitu saja.

“Aku dan saudariku dibesarkan di panti asuhan Lesther. Sekilas, panti asuhan tersebut terlihat seperti panti asuhan kebanyakan, namun Lesther menggunakan anak kecil di dalamnya demi eksperimen gilanya. Aku dan saudariku adalah salah satunya. Kami dibawa ke rumah Lesther dan menjadi kelincinya selama beberapa waktu. Eksperimennya padaku menghasilkan sebuah benda yang kausebut sebagai Blackpearl, namun eksperimennya pada saudariku berakhir fatal. Ia tewas setelah beberapa bulan berusaha untuk tetap hidup.”

Kepalaku sakit, seolah akulah yang merasakan dan menanggung semua kesedihan Anna kala ia menceritakan kisahnya. Tiba-tiba saja aku meneteskan air mata, yang membuatku keheranan. Terserahlah, toh aku memang sudah agak edan sejak kemarin.

“Aku sedih—itu pasti—bahkan aku sempat mengancam Lesther untuk melaporkannya ke pihak berwenang. Aku bertemu Glovicki yang menawarkanku bantuan, ia pandai berpura-pura dan aku terjebak—aku memberitahukan Glovicki soal Blackpearl, dan dia mulai terobsesi pada benda tersebut. Semuanya menjadi rumit, satu-satunya hal benar yang telah kulakukan saat itu adalah dengan tidak pernah memberitahukan Glovicki soal identitas aku dan saudariku. Tidak banyak yang tahu eksistensi kami, bahkan tidak teman-teman kami di panti. Aku dan saudariku selalu bertukar peran atas perintah Lesther, kadang aku menjadi dia dan tinggal di panti, kadang aku menjadi diriku sendiri dan tinggal di rumah Lesther.”

“Kalian diperlakukan buruk olehnya?”

“Tidak. Lesther dan anak laki-lakinya memperlakukan kami sebagaimana mestinya. Liam Rufflekov, anak Lesther, sangat menyukai saudariku—tanpa tahu bahwa kami adalah kelinci percobaan ayahnya. Saat saudariku tewas, Liam tahu segalanya dan memutuskan untuk memusuhiku. Ia menyesalkan fakta bahwa gadis yang dicintainya tewas sementara aku, seseorang yang tidak pernah sekali pun bicara banyak padanya, hidup sehat. Kadang aku berpikir seandainya dia masih hidup dan kami bertukar posisi…”

Aku menangis lagi tanpa sedikit pun meniatkannya. Ini benar-benar aneh, seolah jiwaku dan Anna tertukar, kemudian tercampur dan tertukar lagi, hingga aku tidak mengerti siapa adalah siapa. Iris cokelat Anna menatapku sendu di saat klimaksku, ia mengurai rambutku dengan sentuhan tangan lembutnya sebelum berkata,

“Tapi tidak, dia sudah tewas. Yuri Rufflekov—saudariku—telah tewas saat usia kami 7 tahun. Dan kau… kau adalah aku, Kwon Yuri… kau adalah Anna Rufflekov.”

Tbc.


Ok, ‘only 4 part’ was a bullshit from me, it is 6 now!

next chapter is password-protected. Kalau emang gak pernah aktif review/komen, gak bakal diladenin kalau mau minta password. Sorry not sorry

Leave review please.

80 thoughts on “DOPPELGANGER [4 OF 6]

  1. Angella Yurisistable berkata:

    1st: Yuri adlh Anna. Tpi bgaimna bisa Anna mnjadi Kwon Yuri? The clue that Anna is Yuri is already showing.Saat Yuri meperlaku senjata dgn biasa tnpa rasa tkt.Dan mimpi yang mnghantuinya 3 mlm brtrt.
    Poor Yuri Rufflekov.
    2nd: Kenapa Si Minho bisa pitam..?
    3rd: Jdi tidak hairanlh Anna@Yuri bisa lupa sma memorinya krna mereka jga slh satu yg mnjdi experiments.
    4th: Jadi siapa bocah yg menghilang kn dirinya? Apa Minho?
    5th : Kris pda trsasul aja bilng Anna itu gadis ku
    ..😁😁

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s