GHOST SLAYER RE:DO [1 OF 4]

Ghost Slayer REDO a story by bapkyr (@michanjee)

GHOST SLAYER RE:DO

1 of 4

a sequel from GHOST SLAYER

Kwon Yuri [SNSD], Kwon Jiyong [Big Bang], Leo [VIXX] and Zico [Block B] | PG-13 (because of bloody scenes) | AU, Supernatural, Mystery, Dark, Romance, Family

“When you think everything is ended fine & cool, think again.”


Serius nih? Aku pikir penderitaanku telah usai ketika peristiwa iblis-iblisan tempo hari sukses diungkap dengan damai. Kupikir aku akan mendapatkan sekantung emas, sebuah puri di puncak bukit Catskill—atau bukit mana pun—dan jaminan bahwa aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan hantu dalam sisa usiaku. Namun itu pun sepertinya masih merupakan imbalan yang istimewa bagi Mansion. Faktanya, aku kembali dipekerjakan seperti biasa, dengan upah yang—yah, aku tidak kaget—serta beban kerja yang agak timpang.

Apa sudah kubilang kalau Jiyong kini tak lagi menjadi partner­-ku?

Kondisiku cukup baik pada awalnya, meninggalkan Mansion dan hidup sebagai manusia normal selama setahun, cukup membuatku terharu. Kalau tidak gara-gara e-mail dan segala surat dari Zico—yang mana terus-menerus menyebutkan kabar Jiyong padaku—aku jelas tak akan kembali ke Korea Selatan dan membuat diriku bertekuk lutut pada Mansion sekali lagi. Pokoknya kuakui aku sedikit sinting ketika menerima tawaran kerja itu.

Nah, masalahnya dimulai sesaat setelah itu. Aku dan Jiyong menjadi sepasang kekasih—tolong jangan berkomentar—yang paling aneh untuk eksis di muka bumi. Mansion dan segenap orang di dalamnya tak tahu-menahu soal kondisi kami, bisa dibilang, akulah yang membuat mereka seolah kami masih kakak-beradik yang keren dan bermasalah seperti biasa. Selain mereka yang hadir menyaksikan kejadian setahun lalu di Kyoto, kurasa tak ada lagi yang tahu bahwa kami bukanlah saudara kandung sungguhan, menyangka pun tidak.

Sebagian besar memandang kami seperti biasa, menyapa aku dan Jiyong layaknya—bisa kukatakan, agen perhantuan biasa. Kekacauan itulah yang membuatku tak bisa dengan lantang mengatakan “hey, aku punya pacar keren nih” pada teman-temanku. Pikir saja, apa yang akan mereka lakukan begitu mendengar fakta ini. Terlebih, aku masih saja dititipi surat dan kotak hadiah dari gadis-gadis pekerja Mansion yang ditujukan pada Jiyong. Bisa kubayangkan ekspresi keji mereka ketika aku mengatakan bahwa aku kekasihnya.

Yah singkatnya, aku terganggu dengan hal-hal semacam itu dan memutuskan untuk bekerja sendiri alih-alih satu tim bersama Jiyong. Maksudku, hey, aku bahkan tak dapat menyentuh pacarku ketika ia tepat di sampingku, berjauhan kedengarannya lebih oke. Jadi, ya, seperti itulah awal dari semua kebodohan yang kubuat. Aku meninggalkan Jiyong dengan anak-anak ingusannya, melatihnya dengan senjata dan sebagainya, sementara aku berkelana dari kota ke kota, mengembalikan hantu-hantu penghuni jamban ke dalam Kingdom.

Not bad, setidaknya sampai aku bertemu hantu pria ganteng itu.

.

.

Pokoknya aku sedang bertengkar dengan Jiyong. Belakangan ini hubungan kami memang selalu seperti ini. Jiyong menjadi sangat protektif dan berlakon seolah dialah pengendali semesta sehingga aku harus selalu menunggu perintahnya ketika memutuskan sesuatu. Ia acapkali melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan seorang kekasih pada umumnya, misalnya, memberikan rangkaian bunga berkabung dengan tulisan “i love you” atau memerintahkan hantu pengangguran untuk menjadi pembantu rumah tanggaku—jangan tanya bagaimana ia menggajinya.

Jiyong yang kuanggap keren selama beberapa tahun terakhir kini menjadi agak kolot, seolah ia sedang kerasukan pensiunan astronot.

“Seharusnya kaubawa rangkaian bunga yang sudah kususun di atas meja,” katanya dengan nada menjengkelkan. Nampaknya Jiyong belum sadar kalau sedari tadi aku tak meresponsnya barang seanggukan kepala. Ia terus saja mengoceh selagi kami berjalan di atas jalan setapak dalam komplek pemakaman.

Selepas mandi tadi pagi, aku menyempatkan diri pergi ke gereja dan melakukan pengakuan dosa di sana, berharap dengan begitu prasangka dan perasaan burukku pada Jiyong dihapuskan. Tapi sekarang rasanya percuma, semakin aku keseringan bertemu dengan pria ini, semakin jengkel aku dibuatnya. Seharusnya perjalanan ini menjadi sangat singkat; berkunjung ke makam Zico, meletakkan buket bunga di sana kemudian menanyakan kabar pada sebuah nisan batu yang baru berdiri sebulan itu. Sayang, Jiyong membuatnya rumit dengan segala persiapan sintingnya.

“Kalau kaupunya waktu untuk itu, kenapa tidak kautinggalkan saja Gun-Kit­-mu dan menggantinya dengan bunga bodohmu,” kataku tak kalah jengkel.

“Aku kan tidak keren kalau bawa-bawa bunga.”

“Memangnya kau mau menarik perhatian siapa? Hantu-hantu cewek dengan lubang di punggung? Tuyul-tuyul gadis di bawah umur?”

“Yang seperti itu ada?”

“Lupakan saja.”

Benar, lupakan saja, aku bisa edan berbicara dengannya. Lagipula, kaki-kakiku sudah berhenti tepat di sebuah nisan abu-abu. Meski baru sebulan, aku sudah melihat banyak ilalang dan rerumputan hijau yang mengganggu di bagian bawah nisannya, seolah batu ini sudah berabad-abad tak dikunjungi. Aku menekuk lututku, menyejajarkan tubuhku dengan tinggi nisan tersebut. Tertulis nama Zico di sana, lengkap dengan tanggal kami kehilangannya.

Sebulan yang lalu, setelah aku memutuskan kembali ke Korea Selatan, Zico memutuskan untuk pergi. Ketiadaannya tidak terlampau dramatis, karena ia sempat memberitahuku bahwa ada sesuatu yang harus ia dan ayahku selesaikan di Kingdom. Aku juga tak pernah menganggapnya benar-benar mati. Kadang-kadang aku malah meyakinkan diriku bahwa Zico sedang menunaikan tugasnya yang mustahil di alam lain sana, dan akan kembali ketika semuanya usai—meskipun itu asumsi bodoh. Zico sudah terbaring di bawah tanah, bermain bersama cacing, atau barangkali berenang di kubangan akhirat bersama roh-roh kuda nil.

“Atau mungkin kau yang ingin kutenggelamkan ke kubangan kuda nil,”

Sosok pria pendek dengan hidung kegemukkan itu menampakkan diri dari balik nisan pucatnya, membubuhkan cengiran kuda pada wajahnya seraya memandangku jengkel. Zico berdiri di sana, di balik balutan cahaya samar kebiruan, tubuhnya menjelma bak hologram yang kehabisan daya. Ketika ia berjalan selangkah mendekat, aku bisa mencium aroma tanah yang tak begitu menyenangkan, seolah ada cacing dan semut yang ditumbuk, diaduk-aduk kemudian dicetak menjadi agar-agar. Dari balik sinar samarnya, aku bisa melihat busana yang dikenakan Zico, kemeja putih yang dipadukan dengan celana pendek yang warnanya di pertengahan hijau muda dan putih kusam. Rambutnya yang hitam disisir ke belakang setelah diminyaki. Entah kenapa aku tidak begitu kaget.

“Apakah mereka menyediakan semacam salon kecantikan di alam baka?” tanyaku sarkastik. Tidak bermaksud begitu sih, aku hanya kepikiran untuk menggodanya sesekali. Meskipun Zico menjelma bak manusia dalam balutan spotlight tapi ia tetaplah hantu. Dan seharusnya sih ia takut pada kami yang notabene merupakan pembasmi hantu.

“Apa kabarmu, Jiyong?”

Si Pendek itu mengabaikanku. Sejak kemunculannya tiga hari yang lalu, Zico seperti tak acuh soal eksistensiku. Aku tidak mau bertanya jadi aku hanya berasumsi, mungkin pria itu lebih nyaman berteman dengan Jiyong sejak ia tak lagi bertarung dengan hantu-hantu sepertiku. Zico bisa saja takut aku akan mengembalikannya ke Kingdom.

Jika kautanya pendapatku, aku tak sungguh-sungguh peduli. Zico bangkit dari kubur dan menjadi hantu kemudian dianugerahi kemampuan membaca pikiranku, itu bukan sesuatu yang mengagetkan. Aku juga tak peduli jika ia ingin bermain monopoli bersama hantu-hantu lainnya atau, yah, sekadar menjahili orang-orang yang berkunjung ke sekitar makamnya. Selama ia tak menyebabkan dunia ini kiamat, aku tak memiliki alasan untuk mengembalikannya ke Kingdom. Kendati demikian, Jiyong punya hobi yang agak eksentrik. Dia gemar mengubah sesuatu yang kelihatan sederhana menjadi kompleks, dan entah mengapa ia selalu ingin aku dilibatkan dalam perkaranya.

Jiyong pernah memberitahuku bahwa ia sering didatangi mimpi-mimpi buruk tentang Kingdom—yang mana tidak aneh karena ia adalah anak iblis, penguasa Kingdom—ketidakseimbangan alam dan hal-hal lain yang tidak sepenuhnya kumengerti. Memberitahu hal tersebut padaku adalah ide buruk. Semua orang di Mansion sudah tahu bahwa berurusan dengan dunia hantu akan memberikan mimpi buruk yang berkepanjangan, dan hal tersebut sudah berkali-kali kami baca dalam peraturan dasar menjadi seorang Ghost Slayer. Aku bisa menceritakan sederet mimpi buruk yang paling keji selama aku menggeluti pekerjaan ini kalau memang Jiyong ingin diingatkan.

Tapi ya, aku tak bisa mengalah pada keinginan kuatnya. Jika Jiyong berkata “aku ingin menyelidiki ini” maka itulah yang akan kupanuti. Catat ini dulu, aku melakukannya bukan karena aku kekasih Jiyong dan aku mencintainya, oke, aku memang mencintainya, tapi aku tak melakukan ini karena dirinya. Belakangan, aku cukup kewalahan dengan banjirnya tawaran pekerjaan pembasmian hantu di mana-mana. Saat aku selesai dengan sebuah persoalan, datang masalah lainnya, seolah hantu-hantu jahil ini tak ada habisnya. Kupikir itu hanya perasaanku saja, sampai akhinya aku bertemu dengan hantu kepala buntung di sebuah kota besar di Indonesia. Seingatku sih, aku sudah pernah membawanya ke Mansion dengan sedikit pertarungan “cari kepalaku”, tapi ternyata ia muncul lagi di sana dengan kondisi sama persis seperti terakhir kali aku mengalahkannya.

Beberapa minggu setelahnya, di belahan dunia yang berbeda, aku menemukannya lagi. Ia masih mencari-cari kepalanya yang sebenarnya sudah kujadikan pajangan di alam baka sana. Hal tersebut membuatku kebingungan. Mengalahkan hantu ling-lung adalah keahlianku tapi membawanya secara paten ke dalam Kingdom adalah perkara lain lagi. Aku menceritakan keanehan ini pada Victoria—yang tentunya disampaikan langsung pada pacarnya, Choi Seunghyun. Pria itu memerintahkanku untuk bekerja kembali bersama Jiyong, menggunakan hasil latihanku selama ini untuk melindungi pria satu itu—padahal semua orang tahu Jiyong tidak butuh dilindungi meski sudah lama tak menjadi agen lapangan.

“Baik. Kau?” Jiyong menjawab pertanyaan Zico setelah menyintung lenganku. Karena jengkel, aku menjauh beberapa langkah darinya dan mulai mencabuti rumput liar di sekitar makam Zico. Bukan masalah besar, lagipula mereka berdua tidak akan pernah melibatkanku dalam konversasi penyelidikannya. Aku tak lebih dari sekadar bodyguard.

“Repot. Ayah dan aku berusaha membereskan semua di dalam sana, tapi keadaan malah tambah kacau,” jelas Zico.

“Sekacau apa?”

“Percayalah kau tidak akan mau mengulang pertanyaanmu. Pasca peristiwa gerbang Kingdom yang dibuka paksa, para hantu jadi tak terkendali, they are absolutely nuts.”

“Mereka berubah menjadi kacang?” ucapku, berusaha mencampuri konversasi keduanya. Saat Jiyong memandangiku dengan tak senang, aku buru-buru minta maaf. “Sorry, bercanda.”

“Keberadaan Kingdom adalah untuk mengimbangi kehidupan. Tapi belakangan, beberapa pintu akhirat terbuka otomatis, kadang muncul di tempat-tempat yang tidak semestinya. Para hantu mulai memberontak, melawan para penjaga dan berusaha pergi kembali ke dunia, berkeliaran di tempat yang tidak seharusnya. Ayah dan aku berusaha menutup pintu-pintu itu, tapi karena ketidakpastian lokasi kemunculannya, tidak banyak kemajuan yang kami dapat. Para hantu terus berkelahi satu sama lain.”

Aku menganggukkan kepala, hampir berkata “jadi itu penyebab kenapa aku terus-menerus bertemu si Kepala Buntung” pada akhirnya, aku tidak mengatakannya. Bukan lantaran aku tak bisa atau takut diabaikan kembali, akan tetapi ada sesuatu yang menggangguku, aura gelap yang seakan mengurungku di tempat ini. Dinginnya menarik-narik permukaan kulitku, seolah memohon agar aku mengikuti aliran udara tersebut. Segera saja kuperiksa D-Kit yang kusematkan di balik punggungku, berharap ada cahaya yang bisa kulihat di sana. Namun faktanya tidak semudah itu, D-Kit­-ku tidak menunjukkan apapun, dan aura mengerikan itu masih di sana, seolah menunggu kesempatan emas untuk menjelma.

Jiyong menatapku sesaat sebelum ia menarik sebuah Gun-Kit dari kantung celana belakangnya. Aku tahu apa yang ia rencanakan meski kami tak terlihat membicarakannya. Aku berlari mendekati Zico, melemparkan sebuah kotak hitam yang sekilas nampak seperti kotak tisu. Tentu saja benda itu menembus tubuh Zico dan melayang jatuh ke tanah tepat di bawah kakinya, namun seketika, tubuh samar Zico juga melayang turun, terurai menjadi udara berkabut yang melingkar spiral dan masuk sempurna ke dalam kotak hitam di bawahnya. Aku meraih kotaknya dan memasukkan benda tersebut dalam tas pinggang yang kukenakan.

“Zico sudah aman,” kataku. Jiyong mengangguk dan mengeluarkan sebuah U-Kit dari tas pinggangnya—apa sudah kukatakan bahwa kami memiliki tas pinggang yang sama?–dan memamerkan kedua kutubnya ke langit-langit. Suara guntur terdengar, diiringi tetesan gerimis yang beraroma amis. Aku memercikkan water-spray anti hantu pada tubuhku dan tubuh Jiyong, hanya untuk berjaga-jaga. Kami memandangi sekeliling dan mematung siaga selama beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan menyarungkan kembali senjata yang sudah kami keluarkan. Tidak ada yang terjadi di sini selain gerimis.

“Sebaiknya kita—“ aku belum selesai berkata-kata dan Jiyong pun sepertinya tak menyadari ini; aku baru saja dikelilingi sepasukan kerangka hidup yang menghunuskan pisau dapur padaku. “O-ow.”

Aku sadar bahwa keputusan menyarungkan senjataku kembali adalah ide buruk. Sepasukan manusia kerangka tersebut seolah mengolokku, meskipun aku tahu mereka tak punya cukup otot motorik dan daging untuk melakukan hal tersebut. Aku tak bisa berteriak, ini soal harga diriku. Lagipula, Jiyong tak bergerak untuk membantu, yang kuyakini ia juga sedikit kesulitan di bagian area yang lain, entahlah, dengan sepasukan tengkorak busuk ini, aku tak dapat berkonsentrasi untuk mengetahui keadaannya.

Saat aku berpikir kenapa aku tidak menyadari ini, apakah ­D-Kit kami malfungsi lagi, dan lain-lain, kerangka tersebut mulai bergerak semakin dekat, berderap bagaikan tentara betulan. Mereka memblokir semua jalan keluar bagiku dengan rangka-rangka cokelatnya. Aku tak gentar, maksudku, aku berdaging! Makhluk berdaging tak mungkin kalah dari pasukan bodoh ini ‘kan?

“Yuri?” aku mendengar suara Jiyong tak jauh dari tempatku berdiri, syukurlah ia masih hidup. “Aku kesulitan di sini, kau mendengarku?”

Aku tak terkejut. Sekumpulan tentara kerangka ini pasti sudah habis dihancurkan oleh kami berdua kalau saja Jiyong tidak dalam masalah lain. Sekarang pertanyaannya, masalah siapa yang lebih merepotkan?

“Aku dihadang sepasukan kerangka, kau ada ide melarikan diri?” tanyaku.

“Oh, bagus. Aku bisa saja punya ide kalau para badut ini bosan bawa-bawa linggis,”

Setelah mendengar kondisi Jiyong, dikelilingi sepasukan kerangka kelihatan agak mendingan, setidaknya aku tak perlu melihat badut-badut bergincu tebal tersenyum sembari berupaya membunuhku. Apalagi soal linggis, uh-oh, apa mereka berencana mencongkel mata Jiyong atau semacamnya? Kalau iya, itu buruk.

Saat aku memikirkan ini, aku sadar bahwa langit tak lagi bergemuruh dan menurunkan gerimis yang berbau ngeri. Sejak kapan? Aku tak tahu pasti, yang jelas, para hantu marah ini tiba-tiba saja ada setelah gerimis lenyap. Mungkinkah mereka tercipta dari aliran air itu? Kalau iya, itu menjelaskan mengapa aroma hujannya berbau tak menyenangkan.

Belum sempat aku mengungkapkan penemuanku pada Jiyong, pasukan kerangka di depanku berderap ke samping, membuka sebuah jalan yang cukup lebar di hadapanku. Aku berprasangka cukup baik, tapi tidak cukup waras. Kutarik Gun-Kit-ku seraya berlari melewati celah tadi. Aku menembaki beberapa kerangka yang bisa kujangkau dengan timah perak. Sebagian menghindar, namun banyak juga yang melepuh dan hancur menjadi butiran debu. Saat kurasa aku telah cukup sukses, berdirilah sosok pria cukup tinggi di hadapanku. Jubahnya hitam, tersampir di bahunya hingga ke mata kaki, hampir menutupi sepatu Doctor Martin hitam yang dikenakannya. Rambutnya agak panjang, tergerai sebahu dengan poni yang sebagian besar menutupi matanya, membuatku hampir berpikir dia vokalis dari sebuah band asal Jepang.

Aku tak punya waktu untuk mengira-ngira sosok tersebut kawan atau lawan, jadi aku menembaknya dengan dua timah perak yang kulepaskan dari senjataku. Salah satunya meleset, mungkin karena reaksi terkejutku, namun salah satunya sudah pasti akan mengenai sebuah titik di antara kedua matanya, aku sejenius itu lho! Aku menundukkan tubuhku, mengupayakan diriku men-tackle kedua kakinya agar ia terjerembab tepat setelah aku melewati kolong selangkangannya.

Aku memang berhasil melewati itu, tapi aku tidak menyangka ia tidak jatuh terjerembab dan berubah menjadi debu, seperti yang kuperkirakan. Mendekati pun tidak. Alih-alih ia berdiri dengan gagahnya, berbalik memandangku yang masih tengkurap memalukan di dekat nisan Zico sembari terkejut. Para tengkorak berebut membuat barisan di belakang sosok pria serba hitam tersebut, yang membuatku yakin bahwa ialah pemimpinnya, ialah yang membuat semua kericuhan ini. Terlebih, badut-badut berlinggis sudah tak berminat pada Jiyong, mereka membubarkan diri, berlari-lari kocar-kacir seperti roh linglung pada umumnya.

Hal tersebut sontak membuatku penasaran akan identitas pria di depanku. Jelas bahwa ia bukan manusia, namun ia juga tak nampak seperti roh.

“Siapa kau?” tanyaku.

Sang pria diam saja, tapi kalimatku berhasil membuat Jiyong sadar akan presensi sosok tersebut dan buru-buru memosisikan dirinya tepat di sebelahku, mungkin ingin berjaga-jaga kalau aku terpojok, misalnya. Jiyong menarik senjatanya, menyiagakannya tepat di depan kedua dadanya. Malu berkalang dengan tanah lama-lama, aku berdiri juga. Aku mencari-cari senjata yang kugunakan barusan untuk menembaki sosok pria-serba-hitam tadi, yang, barangkali terjatuh. Aku mengedarkan pandanganku sambil berharap pria tersebut tak menyerang kami di saat aku kebingungan.

“Kau mencari ini?” katanya. Suara pria-serba-hitam itu tak kedengaran seperti penampilannya. Aku pernah mendengar yang seperti ini, seperti suara Celine Dion dan Bruno Mars disatukan dan dibuat dalam versi yang lebih maskulin. Suaranya tak seangker penampilannya, dan hal tersebut membuatku sinting. Terlebih lagi, barang yang kucari sedari tadi ternyata tepat berada di tangannya, diputar di atas ujung jarinya.

Jiyong sudah pasti melirik ke arahku, menyalahkan. Tapi aku tak mengerti. Jelas-jelas benda tersebut ada di tanganku saat aku melawannya. Tak mungkin jika benda tersebut berpindah ke tangan orang lain, well, sepertinya mungkin saja, jika ia bergerak beberapa sekon lebih cepat sebelum aku berhasil keluar dari kolong selangkangannya. Dari apa yang kulihat, itu sepenuhnya terjadi.

Oke aku sudah memutuskan, kalau dia adalah musuh kami, dia tentu lawan yang berbahaya.

“Jangan terburu-buru, aku kemari tidak untuk berperang,” ujarnya santai. Ia bahkan melemparkan senjata di tangannya padaku. Aku melirik pada Jiyong serata berusaha menyampaikan pesan setipe kita tak sedang ditipu ‘kan?

“Aku Leo,” ia menyebutkan namanya dan saat itu sepasukan kecil angin jahil berhasil menyibakkan helaian rambut dari wajahnya. Aku sudah banyak terkejut hari ini, tapi bukan berarti aku tak bisa lebih terkejut lagi. Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Leo ini, benar-benar tak nampak seperti roh, jika ia memang roh. Di balik selera busananya yang agak gothic, ia cukup tampan. Untukku pribadi, dia sangat tampan dari segenap pria yang pernah kulihat. Mendadak jantungku berdentam keras, bimbang apakah aku menyesal telah melihat wajahnya atau aku harus bersyukur ia cuma roh.

Lagipula, Jiyong nampak tak suka. Ia menarikku ke sisinya, menggenggam tanganku dengan eratnya, seakan aku dalam bahaya. Oke, pria tampan memang berbahaya, baik itu hidup atau mati.

“Apa maumu, Leo?” tanya Jiyong. Aku bisa dengar suaranya yang sedikit dibuat berat dan menggeram. Ia benar-benar jengkel untuk alasan yang tidak kupahami.

“Sebuah bantuan kecil dari Mansion.”

Aku menjengitkan alisku. “Bantuan?” ya, aneh memang. Para hantu cenderung membenci Mansion dan berusaha untuk tidak terlibat banyak dengan kami, tapi Leo si Tampan ini sebaliknya, ia mencari bantuan “kecil” dari Mansion. Apa yang bisa diberikan Mansion pada seorang hantu tampan dan sekumpulan pasukan kerangka dan badutnya? Tidak tahu.

Untungnya, Jiyong seolah tahu apa yang kupikirkan dan segera bertanya, “Bantuan apa?”

“Meninabobokan seorang ayah yang sedang jengkel,” katanya.

“Apa?”

“Apa aku sudah memperkenalkan diriku?” ia melihat ke arah kami berdua dengan wajah datarnya—hey, aku tak mengerti, dia tak menunjukkan ekspresi sama sekali. “Sepertinya belum? Jadi begini, akan kubuat singkat, aku Leo dan aku butuh kalian untuk meredakan amarah ayahku yang—”

“Kau bercanda?” aku hendak tertawa, namun tak bisa setelah melihat wajah tampannya. Ah aku benci jadi wanita. “Kusarankan kau cari baby-sitter daripada Ghost Slayer. Kemampuan menembak senjata kami tidak cocok untuk meredakan amarah seseorang.”

Leo berdecak dan menggelengkan kepalanya. Entah bagaimana aku tahu dia menertawakan kata-kataku meski ia tak seekspresif itu. Mata hitam jernihnya memandangku tajam, seolah menawarkan sejuta pesona yang tak kutemukan dari pria hidup mana pun. Harus kuakui aku terlena akan hal tersebut.

“Aku tak suka seseorang menyelaku saat aku berbicara,” Leo menanggapi. “Tapi akan kulupakan itu karena kau butuh aku dan aku butuh Mansion.”

“Berhenti bicara seolah Mansion akan membantumu!” bentak Jiyong.

Baru kali itu dan hanya kali itu, aku melihat senyum asimetris yang dipetakan Leo pada wajahnya sedemikian cepat. Ia bergeser memandangi Jiyong dengan intens alih-alih tetap berada pada jangkauan iris cokelatku. Selanjutnya yang kutahu, ia berhasil membuat Jiyong bungkam hanya dengan sebuah kalimat sakti.

“Tentu Mansion akan membantuku, Tuan Jiyong. Aku Leo, Putera Kegelapan, keturunan Raja Iblis. Aku butuh kau untuk meninabobokan ayahku, ayah kita.”

.

.

| tbc


YEAY! maaf buat keterlambatannya hehe, sempet sakit jadi sempet tertunda. Ditunggu komen-komennya ya, biar semangat terosssss~

nyun.

26 thoughts on “GHOST SLAYER RE:DO [1 OF 4]

  1. vanny00 berkata:

    oh jadi zico bener2 mati ya… :'((
    ngebayangin yuri dikepung sama pasukan kerangka yang bawa pisau jadi inget spongebob waktu tuan crab dikepung dikuburan *abaikan
    ceritanya bagus eon
    lanjut^^

  2. Anis Dewi berkata:

    yuhuu~.seneng banget akhirnya bertemu pasangan aneh si jiyong yuri ini lagi, sikap mereka gak berubah sama sekali, masih suka bertengkar hal hal kecil..
    lucu deh waktu adegan yuri malah terpesona ketampanan leo, pria dingin super tampan, sampe si jiyong kesel sendiri.. dan kalimat terakhir bukan jiyong aja yg kaget tapi aku juga, jadi si leo adalah brothernya si jiyong?? uwaaa gak nyangka, pokoknya next part ditunggu selalu ya^^

  3. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    yuhuu~.seneng banget akhirnya bertemu pasangan aneh si jiyong yuri ini lagi, sikap mereka gak berubah sama sekali, masih suka bertengkar hal hal kecil..lucu deh waktu adegan yuri malah terpesona ketampanan leo, pria dingin super tampan, sampe si jiyong kesel sendiri.. dan kalimat terakhir bukan jiyong aja yg kaget tapi aku juga, jadi si leo adalah brothernya si jiyong?? uwaaa gak nyangka, pokoknya next part ditunggu selalu ya^^

  4. imaniarsevy berkata:

    huwa…. akhirnya setelah dr kemarin buka ini blog setiap online.
    dan akhirnya pada akhirnya…. yey… di post juga ini ff.. #gapenting.
    yuri jiyoung. suka bgt couple ini. tetep tengkar tengkar mulu. tapi tetep so sweet…
    next kak nyun….
    keep writing.

  5. Shin Min Mi berkata:

    wow,, ada lanjutannya ternyata,, kirain dah abis, msh dibikn lanjutan lagi he8 cie yg udah jdi status pacar jiyoung tpi ga bisa go publik cie….😀 zico knp hrs dimasukin ke kotak segala? ehm,, berarti jiyoung tu 3 bersaudara? apa gimana yun? rada lupa ma ceritanya -_- kan dulu yg cwe musuh mereka itu adik nya jiyoung kan ya? la ini ada saudaranya lagi?

  6. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Kak Nyuuuuun… HAHAHA ngakak mulu gk kuat aq bacanya apalagi pas Yuri nyebutin setan Indonesia punya.. wakkk Jiyong ampe heran emg ada Setan macem gitu..?
    pantes Yuri tau dia pernah ke Indonesia nanganin hantu Jeruk peres eh Purut(?) :v
    SUKAA…!!>< penasaran sama mreka! masi pemanasan ya kak adegan fight nya blm panas… ditunggu bgt kak Nyun..
    keep healty kak MANGATSE!!!!

  7. Yhyemin_ berkata:

    DEMI APA!! GHOST SLAYER ADA SQUELNYA!!YURI JIYOUNG SEPASANG KEKASIH!! Woohooo KEREN!!KERENN!!PROK PROK PROK BUAT KAK NYUN
    Tp sebenernya aku pengen ToZ yg dlanjut penasaran bgttt sama zodiak ophiucus… -_-v #peacekak

  8. slmnabil berkata:

    Kak nyuuuuuuun terimakasih sekali loh ini ghost slayer ada lanjutannya lagi :)))))))) so much love deeh buat jiyong

    ceritanya bagus banget as always, bahasanya udah paling greget. ini semua sudah keren sekali, saya bisa apa TT

  9. mellinw berkata:

    Zico udh mati nih ceritanya kak. Agak kaget sih, tapi mengingat dia juga ga sekedar mati saja, tapi bantu bantu di alam lain, yah sama aja dengan bantu yuri jiyoung juga dong yah, walau beda wujud hahaha..

    Dan eeerrrr Leo sanggup juga bikin yuri rada terpesona hahaa. Jadi dia itu kayak jiyoung yahh kak, bukan roh bukan manusia? Iya gitu kan?

    Aku suka bagian ini kak haha ‘pria tampan memang berbahaya. Entah itu hidup atau mati’ wkwkwk cool

    Ditunggu selalu kak ffnya🙂

  10. Ovrianti Nurhadi berkata:

    ternyata bukan aku aja yang terpesona sama Leo eh Yuri juga toh😀 suka banget sama pasangan Jiyoung&Yuri mereka masih belum berubah, masih sering bertengkar dan meributkan hal hal kecil. Oow omong omong si Leo ternyata brothernya Jiyoung? agak kaget sih, tapi pasti lebih seru^^ okai deh ditunggu kelanjutannya kak, setiap hari minggu kan? berarti hari ini ada. Fighting kak Nyun^^

  11. tha_elfsone berkata:

    Ehh raja iblis?serem bnget kdengerannya yaa nyun..
    Oh berarti leo itu sodaranya jiyong dunk..
    Ok aq sangat tertarik sama ceritanya nyun..Aq lanjut part 2 yaa.. ^^

  12. liliknisa berkata:

    Wow keren banget kak nyun
    Jadi leo anak raja iblis.
    Dan dia minta bantuin buat bikin tidur raja iblis gimana caranya wkwkwk
    Ditunggu kelanjutannya ^^

  13. aloneyworld berkata:

    Whaat jadi leo sama jiyoung sodaraan :v hahaha leo mah emang gitu expressionless :v tapi tamvan😀 kenapa banyak cowo-cowo ganteng disini yuri enak banget hahaha xD makin keren aja ffnya kak, apalagi disini bahasanya santai banget yaampun keren😀

  14. zcheery berkata:

    yeaaa tim leooo!
    wkwkwkwk raja iblis😂
    i wonder sejauh apa fantasi kanyun😂😂
    kukira leo itu minho/? can’t wait for the next episode♡♡ ciayoo kanyunn
    (ada beberapa typo kak:v)

  15. kyulyul berkata:

    aaaa ini yuri karakternya aku suka
    zico jdi roh.
    leo roh juga
    wow si jiyong brother nya si leo
    aku puas bgt sma part ini kaknyun
    dtnggu next part

  16. Luluu berkata:

    Kaknyun ini ff k2 yg aku baca setelah lama hilang dan ga nyesel sama sekaliii! Ini baru 1 part kan ya? Semangat kak lanjutinnya! Keren banget dan buat penasaran banget! Ditunggu next part nya kak!! Aku mau obrak abrik blog kaknyun lagi abis ini :p keep writing kaknyun!

  17. SSY_ELF berkata:

    Gila deh… Aku sampe lupa klu yuri n zico saudaraan dan ziconya udah meninggal… Jd hub jiyong dan eonni ku kek gima nih.. Mesra amat 😑
    Pleae.. Mungkin aku bakal melting jika ketemu sosok leo..
    Kyknya ff ini makin keren dan seru.. Tp aku beharap kesan horor yg lebih sih *sok berani
    Oke kak nyun.. Trus semangat nulis kak… Makin keren n bersinar… 😙

  18. Ardelia wynne berkata:

    Waduh masalah na makin rumit
    Bener” penasaran sama cerita selanjut na
    Kira” jiyong ama yuri bakal ngapain lagi yah
    It’s kinda cute bahasa na kak ‘meninabobokan’ hehe

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s