SHOULD WE PLAY A GAME [1 OF 6]

SWPG1

a story by bapkyr (@michanjee)

SHOULD WE PLAY A GAME?

|1 OF 6 |

“To love or to hurt is a choice, a mind-game.”


Aku dan Minho telah lama bermusuhan. Jauh lebih lama dari apa yang kaubayangkan sampai-sampai aku bertanya-tanya tepatnya sejak kapan ini bermula, karena jujur saja, dahulu kami adalah sepasang teman dengan hubungan yang sangat baik. Minho yang merupakan tetangga baruku adalah bocah lelaki yang sangat manis, aku tak menampik bagian yang menyebutkan bahwa ia sangat ganteng—hey, itu benar—tapi aku menolak menyebutnya demikian di hadapannya langsung. Bagaimana pun dia lelaki, dan lelaki biasanya besar kepala.

Minho berasal dari famili yang cukup berada. Rumahnya besar dan segala perabotan di dalamnya terlihat berkilau dan mahal. Aku sering diajaknya menginap atau sekadar dijamu makan malam. Kadangkala kami bermain sampai pagi, atau menonton film seru sampai setidaknya salah satu dari kami tertidur duluan di ruang televisi, dan tak akan ada yang mengganggu kami. Baik ayah dan ibu Minho adalah orang-orang sibuk. Aku tidak terlalu tahu soal ayahnya, tapi ibunya adalah seorang pengacara kondang Korea Selatan. Hampir tidak ada yang tidak tahu soal Choi Gaeun, seorang wanita mandiri yang dikenal karena kepiawaiannya di meja hijau dan keteguhannya membela keadilan. Sudah sewajarnya jika Minho sangat mengagumi sosok ibunya, alih-alih ia membencinya. Keabstainan sang ibu dalam memenuhi kewajibannya sebagai seorang ibu, membuat Minho menjadi pembangkang menyedihkan.

Aku ingat sekali ketika ia pertama kali pindah kemari, Minho kabur dari rumah karena tak suka dengan barang-barang miliknya yang disentuh Gaeun. Sepele memang, tapi serius, tak ada bocah yang benar-benar keras kepala seperti Minho. Ia kabur setidaknya seharian, sampai-sampai aku dan keluargaku harus turun tangan ikut dalam pencarian di sekitar rumah. Saat itu jugalah kali pertama aku bertemu Minho, di atap sebuah rumah bobrok yang disembunyikan semak-semak lebat. Jangan tanya darimana aku tahu—hey, tempat paling baik untuk menyendiri adalah di tempat sepi, bukan?

Aku tahu dia adalah bocah yang kami cari-cari namun sorot cokelat di balik deretan poni hitamnya membelengguku, binar matanya seolah bicara bahwa ia menginginkan waktu yang lebih lama untuk sendiri, tanpa harus khawatir dirinya terlihat oleh orang lain, dan entah kenapa itulah yang kulakukan. Aku berjalan pelan-pelan ke belakang tanpa bicara sepatah kata pun, tubuhku berotasi, langkahku mengayun semakin cepat. Dengan cepatnya aku menghilang dari jarak pandang Minho tanpa menyadari bahwa apa yang kulakukan sama saja dengan memproklamirkan diri sebagai teman.

Berteman dengan Minho bukan hal buruk. Seleranya sangat berkelas dalam berbagai hal sementara aku payah, primitif dan cenderung kuno. Ia menyukai kebersihan dan aroma wewangian yang sanggup membuat ngengat mati, atau para wanita mendekat—kaupilih yang mana—sementara aku lebih suka tampil ada adanya, ada sepatu? Oke, tidak ada? Tak apa. Kami sangat berbeda di sisi mana pun, namun ketika kami duduk berdua saja, berhadap-hadapan sembari memelototi sendu kosong dalam binar mata kami, aku tahu kami memiliki lebih dari cukup alasan untuk berteman. Aku dan Minho bisa memiliki segalanya yang kami inginkan, apa pun, kecuali kasih sayang. Tidak ada yang seperti itu dalam perjalanan hidup kami, pun tak ada yang mengajari.

Selanjutnya, di kondisi lain, di paragraf-paragraf yang lain, mungkin aku akan menghina-hina Minho dan menceritakan berbagai hal yang akan membuatmu menggeleng sembari berkata “cih, cowok sialan”, tapi itu kuserahkan padamu, faktanya, aku dan Minho pernah menjadi sedekat jagung dan mentaga dalam wajan panas, kami adalah popcorn yang meletup-letup bebas dengan indah. Kami menyukai perubahan dan sayangnya, itulah yang sedang kami lakukan. Kalau kau melihat sebutir jagung yang tetap menjadi butiran jagung setelah dipanaskan dalam wajan penuh mentega, dan kau bertanya-tanya kenapa, nah, kita punya pertanyaan serupa. Semua orang berhak berubah dan semua orang di sekitarku telah melakukannya.

Kecuali satu, kecuali aku.

.

.

Aku wanita dan itu bukan pertanyaan retorikal. Mungkin aku tumbuh di lingkungan yang benar, tapi cara mereka membesarkanku tidak sebenar kelihatannya. Aku dibiarkan tumbuh menjadi gadis arogan pecicilan yang hanya menilai segala sesuatunya dari sudut pandangku saja. Aku menyebalkan—yeah, aku harus dapat penghargaan untuk itu—dan manja. Aku bukan feminis yang bergincu tebal dalam balutan seragam kantor yang membosankan, tapi aku juga bukan gadis berandalan dengan celana jins ketat dan tato bertuliskan “fuck you, Bieber” yang gemar bergelimpangan di sudut-sudut jalan saat fajar menyembul. Tanpa kusadari, aku tumbuh menjadi gadis kompleks, di tengah-tengah kaum feminis dan apatis.

Uang adalah sumber energiku tapi, hey, pasti ada sebagian dari kalian yang percaya bahwa uang bukanlah segalanya, dan itulah yang kukatakan. Aku tidak bisa membeli teman, itu jelas sekali. Aku juga sadar bahwa kepingan demi kepingan yang kukumpulkan dari uang saku bulananku tidak akan bisa memberikanku kebahagiaan dan kehidupan yang ideal dari sudut pandangku. Di sisi lain, dalam pemikiran konseptual yang lebih sempit, aku bertindak mengatasnamakan uang, mendewakan materi yang kumiliki dan berharap untuk setidaknya mencicipi segala sesuatu yang seharusnya tidak bisa dibeli.

Aku punya teman sekarang, tidak aneh, namun aku sadar betul bahwa mereka hanya berteman dengan isi dompetku. Aku sering berkata “oke, tidak apa, Yuri, kau bisa melakukannya” dan terus percaya bahwa aku memang bisa melakukannya, tapi tidak. Aku selalu berakhir dengan kenyataan pahit bahwa teman bagiku adalah nol sepersekian persen dari dinosaurus yang mungkin masih eksis di dalam lautan—atau mungkin sudah punah.

Saat aku mandi, percayalah aku tidak menggosok tubuhku lebih lama tanpa tujuan. Aku menghabiskan berjam-jam di kamar mandi, mengosongkan pikiran dan sadar bahwa tempat berlantai licin tersebut adalah satu-satunya kotak kosong untuk merajut kembali pikiranku. Aku sehat, prima dan sebagainya, namun sebenarnya aku cacat di bagian terpenting. Hatiku sudah remuk sebelah. Bagaimana pun caraku memplesternya, kepingan-kepingan tersebut selalu terlepas, terbuyarkan dan menimbulkan kembali luka menganga yang luar biasa sakitnya. Aku bisa saja menghubungi dokter hebat di seluruh Korea Selatan, tapi aku kasihan pada mereka semua. Pada akhirnya alat-alat canggih yang mereka bawa menjadi tak lebih dari sekadar bahan olokan, dan aku yang pertama kali akan tertawa.

Aku tidak butuh dokter, sudah pasti. Aku juga tidak bisa pulih, tidak, kecuali Minho mengetuk pintu rumahku sembari membawa separuh hatiku yang sudah diremukkannya saat kami remaja dahulu.

.

.

“Pergi lagi?”

“Menurutmu?”

Aku menjengitkan salah satu alisku, menenggak sebotol jus tomat yang sudah didinginkan semalaman di dalam kulkas. Botol kosongnya kutaruh di meja nakas tepat di sisi Kwon Jiyong berdiri jengkel, ia memindaiku dengan mata birunya, meninggalkan aku yang bertanya-tanya apa dia memakai lensa kontakku lagi.

“Ibu meneleponku, menanyakan kabarmu dan sebagainya. Sebenarnya sudah berapa lama kau tidak mengangkat setiap panggilan dari ibu sih, Yuri?” Jiyong meneriakiku, artinya sudah jam delapan tepat. Aku melirik arlojiku dan menemukan lima menit terakhir sebelum busku berangkat.

“Aku terlambat nih, bagaimana kalau roti ini kubungkus saja ya?”

“Jangan mengalihkan topik! Kau sadar kan apa yang kauperbuat ini tidak baik, Yuri?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku, rambutku tidak rapih-rapih juga, tapi menjengkelkan kalau aku harus mengacak-acaknya hanya karena bertengkar dengan Jiyong. Kuberitahu kau, pertengkaran seperti ini selalu terjadi setiap ibu dan ayah pergi sementara tanggung jawab pengasuh jatuh ke tangan Jiyong, ini seperti sebuah rutinitas, dan yang perlu kulakukan adalah tetap tenang.

Aku menyauk setangkup roti cokelat panggang dari atas meja dan menjejalkannya langsung ke dalam mulutku. Dalam beberapa kali gerakan menyebalkan, aku menelannya dan menunjukkan senyum pagi penuh remah rotiku pada Jiyong.

“Kau tidak perlu khawatir soal aku, Kak,” ujarku. “Lagipula sejak kapan keluarga ini mengenal apa yang baik dan buruk bagiku.”

.

.

Kejadiannya sudah lumayan lama, namun aku tak bisa menahan diriku untuk tak melihat rumah besar di ujung jalan itu. Warna pagarnya hitam, dikelilingi ilalang tinggi yang tak karuan rupanya. Cat tembok kremnya sudah mengelupas di sana-sini, ditambah bau apak tanaman yang sudah terlalu lama kering tak disirami. Aku tak ingat tepatnya kapan, tapi rumah yang mulanya didiami oleh Minho tersebut sudah menua dari apa yang kuingat.

Minho dan keluarganya mengalami masalah di Korea Selatan. Ayahnya ternyata merupakan salah satu pejabat korup. Meski Choi Gaeun telah lama menceraikannya, namun hal tersebut memberi dampak negatif yang cukup untuk menurunkan pamornya di dunia hukum yang telah melambungkan namanya. Kudengar, untuk memberikan perlindungan pada masa depan Minho sebagai satu-satunya anaknya, ia membawa bocah itu ke luar negeri, merajut asa di negeri orang.

Sejak saat itulah rumah tersebut menjadi usang, lebih usang dari seharusnya. Aura cerah yang terpancar di sana mendadak redup, seiring dengan anak-anak kecil yang sering berteriak “hantu!” setiap kali memandangnya lama-lama. Aku tak percaya hantu, tapi aku juga akan berlari jika ada sesosok aneh yang muncul tiba-tiba di rumah megah yang kosong itu. Sejauh ini, segalanya aman dan aku tidak melihat tanda-tanda hantu atau pun alien.

“Entah kau melankolis atau bodoh, Yuri.” Seseorang bicara dari balik punggungku. Jessica Jung, sosok gadis yang pasti tidak akan kuloloskan dari audisi menjadi temanku—tapi toh, itulah yang terjadi. Ia adalah gadis menarik dengan paras indah dan wajah mengagumkan. Ia selalu berjalan dalam balutan benda-benda bermerek, parfum beraroma menggoda dan gincu merah yang menyala-nyala. Perangainya baik, sejauh ini ia memiliki loyalitas yang tinggi sebagai seorang teman. Jessica juga tidak pelit, sosok ideal yang akan kaujadikan teman begitu kau mengenalnya. Mau tahu apa yang lucu dari sekelumit kehidupan sempurna Jessica? Ia tidak punya teman selain aku.

Pasti kau akan bertanya, “si cewek sempurna tidak punya teman? Kau bercanda?” tapi itulah yang terjadi. Para manusia tolol itu mengira bahwa aura gadis tersebut terlalu terang untuk didekati, katanya, menjadi terlalu sempurna adalah bencana. Mereka beranggapan cahaya terangnya akan redup jika sekali saja mereka berteman terlalu lama dengan Jessica. Memang sih, semua perhatian akan tertuju pada Jessica ketika kami berduaan, tapi siapa peduli? Aku tidak makan dari perhatian orang lain.

Mungkin itu yang membuat kami cocok, Jessica membutuhkan orang sepertiku dan aku suka orang-orang yang berloyalitas.

“Kau menyusulku ke sini?”

“Ya,” ujar Jessica ramah. “Karena aku tahu kau tidak bisa melewatkan rumah ini barang sehari. Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah siap untuk wawancara kerjamu?”

“Ya dan tidak. Entahlah, aku skeptis akan peluangnya.”

“Itu perusahaan ayahku. Bilang saja padaku apa yang butuhkan.”

“Oh tidak, tidak,” aku menggelengkan kepalaku meski rasanya itu perbuatan bodoh. Aku akan melakukan wawancara kerja yang entah keberapa kalinya, dan aku baru saja menolak sebuah tawaran menggiurkan. Aku bodoh ya? “Rasanya aku akan berhutang seumur hidup padamu kalau aku melakukan itu. Kau tak ingin sahabatmu yang manis ini merasakan beban seperti itu ‘kan?”

Jessica tertawa, menunjukkan deretan gigi putih yang terawat.

“Aku sudah menduganya,” ia membenamkan kedua tangannya di dalam tas tangan yang di bawanya, mengaduk-aduk isinya dan mengeluarkan sebuah sobekan majalah padaku. “Ini, aku menemukannya di salon kemarin. Kupikir kau mungkin mau membacanya.”

Ia menyerahkan selembar kertas itu padaku. Aku tak berminat membaca, Jessica paham betul. Melihatnya terburu-buru memberikan selembar kertas sobekan itu padaku artinya ada sesuatu yang Jessica ingin pastikan dari ekspresiku saat membacanya. Entah apa. Entah bagaimana.

Jadi kubaca perlahan.

“Tokoh hari ini?” kataku sembari menjengitkan kedua alisku. Kutolehkan kepala ke arah Jessica sebentar, memintanya persetujuan untuk tak meneruskannya, Jessica berpikir sebaliknya, jadi aku harus membacanya.

Dan itu kusesali kemudian. Tidak bagus, isinya hanya ulasan dan kisah motivasi yang bersumber dari pengalaman hidup seseorang, aku tidak ahli menghayati yang seperti ini. Namun yang membuatku bertahan hingga titik di paragraf paling akhir adalah satu nama, Choi Minho. Namanya terpampang besar-besar, di bawah sebuah kalimat yang bertajuk “Sosok di Balik Industri Properti Abad Ini”.

“Dia telah berubah banyak,” Jessica memandangku, saat itu jelaslah tujuannya. Ia ingin aku melupakan segala kenangan masa kecilku bersama Choi Minho, ia ingin aku meletup, seperti jagung terakhir yang berubah menjadi popcorn. Aku mafhum dia begitu ambisius, seperti yang sudah kujelaskan, loyalitas Jessica pada temannya tidak bisa diukur. Aku menceritakan segalanya soal Minho dan dia bertekad akan membantuku melupakan pria itu, hanya karena Minho telah membuatku seperti ini. “Saatnya kau bangkit, Yuri.”

Perutku tergelitik, namun aku tak bisa membedakan itu sembelit atau sakit lambung. Malah bisa jadi bukan dua-duanya karena kini aku tertawa renyah. “Aku tidak semenderita yang kaupikir kok, Jess. Minho ya Minho, aku ya aku. Lagipula aku ragu ia masih ingat segala yang sudah kami bangun di sini.”

Jessica meraih sobekan tersebut dan membuangnya di bawah kakinya, tidak, tepatnya ia menginjak-injaknya.

“O-ow, apa itu perlu?” tanyaku.

“Aku hanya ingin kautahu, Yuri,” Jessica terengah, ia pandai betul membuat sebuah konversasi sedramatis yang ia inginkan. “Kau jelas semenderita yang kautahu. Bisa jadi lebih. Kau dipenuhi rasa sakit, dan keputusasaan. Kau kesepian, kau terluka, tapi kau tak melakukan apa-apa. Yang kaulakukan setiap hari adalah merenung di kamar mandi kemudian memutar ke jalan ini, hanya untuk memandangi rumah usang itu setiap hari. Sementara, jika kau mau disadarkan, seseorang yang telah merusak separuh hatimu kini berkeliaran di sana, di antara para gadis, menawarkan uang, kesuksesan dan wajah tampannya kemana-mana, tanpa sadar ada kau, orang yang ia sakiti.”

Hatiku bergelora, berada di pertengahan pemikiran tentang betapa kurang ajarnya Jessica karena telah memahami aku lebih dari diriku sendiri atau, betapa Minho adalah lelaki berengsek yang pernah kutemui. Ada serpihan memori yang tersusun acak kemudian membenahi urutannya sendiri, menjadi suatu visual singkat malam ketika Minho memberiku luka menganga ini.

“Aku akan kembali, aku janji.”

Sebuah janji yang tak kunjung ditepati lima belas tahun belakangan. Alih-alih aku masih percaya, menahan-nahan diriku untuk tidak pergi dari kungkungan neraka bernama keluarga. Karena jika aku pergi dari sana, aku tak akan bisa ditemukan lagi. Padahal dari hati yang terdalam, aku ingin ditemukan, entah oleh Minho, atau oleh orang-orang yang cukup peduli untuk tak meremukkan hatiku.

Namun Cinderella akhirnya mendapatkan pangerannya, Puteri Salju mendapatkan cinta sejatinya, dan aku sadar mereka semua hanya fiksi, dongeng belaka. Aku hidup di dunia nyata di mana sepatu kaca laku keras di pasar tradisional, dan apel merah beracun disulap menjadi antitoksin. Tak akan ada pangeran yang menyelamatkanku, tidak pula Minho.

Satu-satunya yang ia berikan adalah janji palsu, disusul luka lama tentang pernikahan agung lima tahun lalu.

.

.

tbc


Sampai jumpa di chapter depan, jangan lupa RCL ya hehe. Terima kasih!

Hidup Minyul!

nyun.

257 thoughts on “SHOULD WE PLAY A GAME [1 OF 6]

  1. mellinw berkata:

    Jinjja!!! Yuri :’)
    Untung ada Jessica selalu yah, jess ngerti banget kamu yul,
    Minho masih inget kamu ga yah yul. Sedih jadi kamu yah huhu..

    Jadi penasaran kak, hubungan hubungan di masa lalu mereka, yuri dan keluarga, yuri dan minho.
    Trus kedepannya gimana yuri dan minho ketemu, juga kemunculan donghae. Suka kak suka banget nget nget. Aku rindu tulisan romantis kaknyun. Beneran.
    Ditunggu part duanya yah kak🙂

  2. Lulu Kwon Eun G berkata:

    waw kak Nyun baru lagi..(?) huhu sedih MOS kpn lanjut kangen Yulchun #abaikan

    Ini aku blm pernah baca sih yg ver. pertamanya,, tp aku jadi tertarik baca kelanjutannya, eh jd baper ada Jessica..haha SUKAAA >_<
    penasaran iyakah Minho bener-bener cowok brengsek?? next
    MANGATSE kak!!^^

  3. Ovrianti Nurhadi berkata:

    Kyaa~ ternyata benar semuanya dirubah, aku jadi penasaran apa masalah antara Yuri dan Minho serta Yuri dan keluarganya. okedeh kak, aku meluncur di chapter kedua ya, izin baca kak^^

  4. gitasaraswati berkata:

    Ya Ampunn, jdi nostalgia sama yulsic U.U
    setidaknya ada jessica yg selalu ada buat Yuri
    minho nikah ? wow ceritanya emang diubah kaknyun
    tapi tetap oke kok
    cuss part 2
    fighting kaknyun

  5. Jung Eun Ra berkata:

    daebak. kalo boleh tau kenapa dibuat yg baru ini ff nya, kak nyun ? ._. dulu aku udh baca, tapi pas diliat kemaren” kok gaada ff nya?

    aku izin mau baca ff-ff disini ya, kak..😀
    dulu aku jadi silent readers. maafin aku ya kak, nanti aku bakal ngomen terus deh.. kakak mau maafin aku gak? maafin yaa😦

    keep writing and fighting ka~~ karya karya kakak semuanya bagus banget😀 aku tunggu ff yulkainya, :3

    • bapkyr berkata:

      Dibuat baru karena aku ilfil sama cerita yang lama, terlalu banyak perbaikan, jalan cerita ga logis, dan sebagainya. Makanya daripada repot ngebenerin aku lebih milih bikin yang baru
      iya, usahakan jangan jadi silent readers lagi ya,
      mudah2an banyak siders yang jadi readers aktif kayak kamu hehe

  6. Tarhyulk berkata:

    Unniee . Prsaan crita dlu yg prnah aq bca gak kayak gni deh . Dlu chapt 1 spertix bnyak moment minyul .bca SWPG in sperti bca FF bru buatan mu ..
    Emnk udh d rubah yah eon ??

  7. yuri superexoshidae berkata:

    Pas buka story tellingnya kakak… tawu2 ad update an baru..
    Seneng nya tu cemanaaaaaaa gitu…
    Langsung baca part 1nya langsung d kasi cerita betapa menyedihkannya kak yuri😥

    Aq baca next chapter kak

  8. liliknisa berkata:

    Ceritanya menarik.
    Aku makin penasaran.
    Disini donghae belum muncul.
    Langsung ke part selanjutnya kak nyun ^^

  9. aloneyworld berkata:

    Ampuun kak ampunn ini keren banget, bikin aku bertanya-tanya emang luka apa si yang minho kasih? Grgr pergi minhonya? Terus yang pernikahan agung 5th lalu itu artinya apa? Greget banget :3😀

  10. zcheery berkata:

    omona, yulsic moment😂😂😂
    yea jessica is such a perfect girl, tapi di dunia ini nggak ada yg sempurna kan makanya dia butuh yuri kyk aku yg butuh cerita kanyun untuk menemani hariku walaahh wkwk /efek baper/
    I’m waiting for the lil girl to come out/? hahahaha aku lanjut dulu yakanyun😂

    satu lagi, itu mentega nya typo apa memang tulisannya mentaga ?😂

  11. Dhean Kwon berkata:

    halo eon q readers bru dsini slam knal y..
    crita diatas ckup mnarik buat q y mski blum pham smuanx sich mungkin karna msih part 1..
    jd yuri tu ska k minho tpi syang ma minho ditinggal..crita yg slalu bkin pnasaran…

  12. windakyr berkata:

    berubah banget yaaaaaaaa tapi makin mantep….. menghibur banget, baru ngerasaain jadi anak kuliah capeknya *malahcurhat*
    bikin penasarannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

  13. nisrinasyifa berkata:

    Halluuu kak nyun aku reader baru. Hmm tapi ga juga sih😶 aaaaaa gilaaaa aku excited banget pas tau pairing nya minyul sama yulhae omg couple favorit aku aaaaa gila hohohi sumpah seneng banget😆😂 ff nya juga keren banget padahal ini masih awal hohoho

  14. KakNyun trash (BangTeen) berkata:

    Kak nyun…!!future wifenya Jungkook ijin baca nih ff ye, padahal setau aku ff ini pernah aku baca tapi udah lamaaa banget. Udah ga aku baca” lagi soalnya ngga di apdet apdet. Nah jadi mao baca ulang….!!!!

  15. park kyura berkata:

    Hi unni! Im new reader.
    aku baru mampir hari ini karna ff yg unni post di kwonyuriff
    btw, aku suka bgt minyul kapel, makanya singgah di ff ini duluan.
    salam kenal ^^

  16. lizanining berkata:

    Hidup Minyul!
    di part 1 ini masih blm kebayang ceritanya bakal gmn, trus yg bagian akhir ada luka lama pernikahan itu apa yuri udh pernah nikah sebelumnya? hmm langsung cuss part2~~~~
    ohya kak, koreksi dikit td ada 2 kalimat yg agak bikin bingung “ada adanya” sm apa ya td lupa ._.

  17. miranda berkata:

    hohoho
    aku baru mampir lagi di blog ka nyun…
    ternyata ini ff remake..
    oh oh oh.. aku baca dulu ya ka…
    btw ceritanya bagus.. diksinya juga mantap lah..
    dua jempol lah buat kaka

  18. Retha Lee berkata:

    Kak aku baca ulang dari chap 1 hihi. Saking lamanya endak kesini. Jadi lupa jalan ceritanya trs itu udah epilog aja. Senangnya akhirnya komen ku bisa te post . jadi bisa baca ff kaknyun lagi deeeh

  19. Retha Lee berkata:

    wah ceritanya di ubah yaa? kayanya ga sama kaya dulu. tapi tetep aku sukak hehe.
    otw to read chap 2 caaw

  20. Angella Yurisistable berkata:

    Hi Nyun…
    Huh…..Erm pertama2 ya masih bingung sih kan baru chapter 1…
    Tpi benar aja tu kalau sudah brjanji seboleh2nya kita harus tunaikan..Jadi buat Minho si tampan lagi menawan silakan tunaikan janji yang anda katakan pada Yuri. Penantian tu satu penyeksaan ya sdah 15 tahun kali ya…Uppss emosi sebentar ya… ahahahahaaha
    Minho sudah nikah? Ya x heran Yuri semenderita sprti yg dikatakan Jessica..Yulsic 😭😭😭
    Apa itu cinta Yul?
    IZin baca chapter 2 Kak Nyun…

  21. Angella Yurisistable berkata:

    Hi Nyun…
    Huh…..Erm pertama2 ya masih bingung sih kan baru chapter 1…
    Tpi benar aja tu kalau sudah brjanji seboleh2nya kita harus tunaikan..Jadi buat Minho si tampan lagi menawan silakan tunaikan janji yang anda katakan pada Yuri. Penantian tu satu penyeksaan ya sdah 15 tahun kali ya…Uppss emosi sebentar ya… ahahahahaaha
    Minho sudah nikah? Ya x heran Yuri semenderita sprti yg dikatakan Jessica..Yulsic 😭😭😭
    Apa itu cinta Yul?
    IZin baca chapter 2 Kak Nyun…

  22. Ersih marlina berkata:

    Ah, untungnya udah rada lupa sama ff ka nyun. Jadi bcanya seru keke ada rasa pnsran gtuh, jadi semnget buat bca nya
    ah, dan untuk part 1 nya, itu minho nikah 5 thn yang lalu
    udah lama atuh yah
    dan yuri masih cinta sama minho

    oh, ga adil kan, msa yuri doang yang kecewa trus2 san
    lnjut bca, smngat ya ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s