SHOULD WE PLAY A GAME [2 of 6]

SWPG1

a story by bapkyr (@michanjee)

SHOULD WE PLAY A GAME?

|2 OF 6 |

“To love or to hurt is a choice, a mind-game.”


“Menikah?”

“Iya, kau sudah dua lima sekarang, Yuri.”

“Tidak, pokoknya tidak!”

“Dia adalah anak orang terpandang, tampan dan mandiri. Kau tidak akan pernah—halo? Yuri? Halo, kau di sana?”

Tidak ada gunanya mengangkat telepon dari ibu, seharusnya aku sudah tahu. Inilah yang membuatku muak dengan fungsi ponsel. Kalau Jiyong tidak terus-terusan berteriak padaku, ditambah wawancara pekerjaanku yang gagal, aku tentu tidak akan pernah mengangkat telepon tersebut. Lucu, segalanya tidak berjalan sesuai keinginanku hari ini.

“Pernikahan ya?”

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Dua puluh lima tahun bukanlah usia yang terlambat atau terlalu dini untuk menikah, tapi aku tak bisa menyerahkan diriku pada seorang lelaki sekarang. Tidak sebelum Minho datang dan meminta maaf. Oh kuakui saja, aku masih menunggu cowok berengsek itu.

Di sisi satunya, ada ibu dan ayah yang berubah menjadi agen pemasaran, menawar-nawari anak gadis satu-satunya kepada keluarga terpandang dan terhormat yang tidak pernah kukenal. Ketika gayungnya bersambut, ia akan membujukku, memintaku setuju dengan lelaki yang sudah dipilihnya. Meski demikian, aku tak bisa menyalahkan mereka. Ayah dan ibuku menikah di usia yang rawan, dan itu menyebabkan mereka terlalu kolot untuk mengerti apa yang anak-anaknya inginkan. Dan mungkin hal itu jugalah yang menyebabkan aku sering berselisih dengan ayah dan ibu, soal sudut pandang dan cara berpikir. Ketika kau menjadi sebuah keluarga, setidaknya kau punya tujuan yang sama, bahagia. Tapi kami memiliki definisi yang berbeda tentang cara dan proses bahagia, visi kami tidak sejalan, dan aku tidak terlalu penurut untuk mendengarkan.

Aku mengerti bahwa mereka hanya ingin kehidupan yang lebih baik untukku, tapi aku merasa mereka tidak benar-benar mengerti apa yang kubutuhkan sekarang. Pernikahan tidak melulu mendatangkan nasib baik, meski kira-kira ada pepatah berbunyi demikian. Pernikahan di waktu yang salah, dengan orang yang salah, akan membuat kau bertanya-tanya untuk apa kau hidup. Aku tidak ingin menjadi salah seorang yang menyesali itu.

Aku sudah melihat contoh sebuah pernikahan yang dipaksakan, dan itu berakhir buruk. Tidak hanya buruk bagi para pengantinnya, tapi juga bagi hati-hati terluka yang tidak sengaja mereka lubangi, seperti bagaimana Choi Minho melubangi hatiku dengan pernikahannya.

Aku tidak menyalahkannya. Ia sukses dan tampan, dan pada saat itu hanya berusia dua puluh tahun, seusia denganku. Entah bagaimana koran harian mencetak berita itu, pernikahan Choi Minho dengan gadis sederajat yang tak kalah cantik dari Jessica Jung. Yah, pokoknya aku ditipu habis-habisan hari itu, dimuakkan dengan janji palsunya dan bersumpah tidak akan pernah lagi memandang wajahnya. Namun pada akhirnya aku kerap kembali memandangi rumah usang di ujung jalan, seolah masih ada sosok bocah kesepian yang duduk sendiri di sana, menungguku menjemputnya.

Aku diliputi perasaan kontradiktif yang tarik-menarik satu sama lain, meminta salah satunya melebur atau enyah. Entahlah. Aku benci Choi Minho, kau pasti tahu, tapi tahun lalu, ketika kabar perceraiannya merebak ke seantero negeri, mendadak perasaan nostalgia hangat itu datang kembali, bagai seonggok daging bego, aku menumbuhkan rasa cintaku kembali, berharap diam-diam Minho bisa kembali padaku.

Sayangnya, tidak. Minho berdiri di atas kakinya sendiri, dan sepertinya ia tak butuh aku. Sekarang dan nanti, ia akan tetap menjadi pria menyebalkan nomor satu dalam hidupku.

“Tadi ibu bilang apa?” Jiyong sudah berdiri di ambang pintu kamarku sementara pikiranku menerawang jauh. Percayalah, dia tidak benar-benar peduli. Dia hanya ingin tahu, sebagian besar dari manusia hanya ingin tahu.

“Menikah.”

“Kaujawab apa?”

“Tidak.”

“Kau kekanak-kanakkan, sadar tidak?”

“Aku lebih suka jadi kekanak-kanakkan, ketimbang jadi dewasa yang menyebalkan seperti kau dan ibu.”

Aku tidak memerhatikan apa yang dilakukan Jiyong karena selanjutnya, aku membelakanginya dan berpura-pura tidur di atas kasur.

“Aku akan segera menikah, Yuri,” aku mendengar volume suara Jiyong melunak. “Dan pada saatnya, kau harus pergi dari rumah ini. Ibu dan ayah telah mempersiapkan rumah barumu, berikut seperangkat kehidupan baru di ujung sana. Kita tak bisa melawan mereka, bagaimana pun inginnya, ibu dan ayah adalah orang-orang yang telah membesarkan kita,” jelasnya. Aku tahu ini hanya taktiknya untuk membujukku, tapi kalimat Jiyong tidak sepenuhnya dusta. Aku tahu aku harus cepat-cepat pindah dari rumah ini karena Jiyong akan memboyong istrinya ke sini dan sesuai pembagian waris, ayah dan ibuku setuju memberikan rumah ini padanya, aku tak memiliki hak. Dengar-dengar mereka telah membelikanku sebuah rumah di Busan, tapi akhirnya memutuskan untuk membeli apartemen untuk kutinggali—yang kuduga bukan apartemen biasa.

Jiyong benar, aku memang harus berkemas dan hengkang dari sini. Lagipula… yah, Minho tidak akan pernah datang ke sini. Dia ‘kan duda keren terkenal yang hidupnya penuh paparazzi, tidak mungkin ia datang ke rumahku hanya untuk mengarang kata konyol seperti minta maaf dan sebagainya.

“Kaudengar aku?” Jiyong menegaskan.

“Ya, tentu,” ujarku cepat-cepat. Jiyong memiliki insting bagus untuk menilai ekspresi seseorang bahkan hanya dari suara, aku tidak ingin perasaan bimbangku ketahuan olehnya.

“Aku tidak mengusirmu, sebenarnya kaubisa tinggal selama yang kaumau, tapi ini soal kemandirian. Ayah dan ibu sedang mengajarimu itu, Yuri, jadi mengertilah.”

Aku hanya mengangguk, pasrah.

“Lusa mereka akan datang, dan kuharap kau sudah memutuskan. Aku tidak ingin melihat wajah adikku yang kusut di pernikahanku pekan depan, bersemangatlah.”

.

.

Aku tidak memercayai diriku bahwa kotak-kotak kontainer plastik di halaman depan adalah ulahku. Setidaknya lima belas kotak sudah dijejalkan ke dalam sebuah mobil boks berukuran besar, lengkap dengan titel memuakkan yang berbunyi “Jasa Pindah Rumah, Telepon Kami Segera!”

Iya, aku memutuskan untuk menyerah.

“Masih ada lagi?” Jessica berada di sisiku, mengenakan jins ketat dan kaus kebesaran bercorak kembang, ia berhasil membawa sebuah boks kontainer dengan susah payah. Gadis ini tidak terbiasa untuk melakukan pekerjaan berat, dan ia juga kelewat malu untuk mengeluh karena pindah rumah merupakan salah satu idenya juga.

“Tidak ada, ini yang terakhir.” Aku menghela napas sembari memandang langit keruh dari halaman rumahku, barangkali aku akan merindukannya. Juni lumayan panas, tapi selalu salah untuk mengeluh. Ada beberapa bulir keringat kristal yang hanya bisa kaulihat pada wajah Jessica di musim panas begini, dan itu membuat titelnya sebagai Nona Sempurna pudar, menurutku, ia sama manusiawinya denganku—lebih manusia.

“Apa kau sudah menghubungi agen penjualannya?” tanyanya kemudian.

“Aku sudah mendapatkan akses masuknya, jadi kurasa tidak perlu.”

“Serius? Kudengar keamanan di sana cukup ketat. Apa tidak apa-apa kau tidak mengonfirmasinya dahulu?”

“Itu berlebihan,” kujawab dengan cepat sebelum bergegas cepat menjejalkan tubuh ke dalam mobil Porsche hitam Jessica. Sesampainya di dalam, aku mendudukkan diri di bangku kemudi, membiarkan Jessica menyerahkan kunci barang cantik ini padaku sementara dia sendiri memilih kursi kosong di sisiku.

“Kita berangkat.”

.

.

Aku muak mengatakan bahwa Jessica selalu benar. Tadi kami mendapatkan sedikit masalah keamanan di depan gedung apartemen, aku diminta menunjukkan tanda pengenal dan administrasi kepemilikan unit, dan sebagainya. Untungnya kejadian tersebut tak lama karena mereka terkejut begitu disodorkan tanda pengenal milik Jessica. Sebuah “Jung” di belakang namanya seperti sebuah mantera yang membebaskanmu melakukan apa pun yang kaumau di negeri ini. Sungguh orang kaya yang berkuasa.

“Yang ini mau ditaruh di mana, Non?” tanya seorang pekerja yang berdiri di hadapanku. Sosoknya dibingkai oleh ambang pintu, keberatan dengan beban sebuah boks kontainer merah muda. “Oh, di sana,” kataku, menunjuk sebuah ruang kosong di ujung ruangan. “Tumpuk semuanya di sekitar sini, oh, jangan yang itu, itu pecah-belah!”

Aku mondar-mandir memerintahkan para pegawai yang membantu acara pindah rumahku untuk meletakkan barang sesuai yang aku mau. Jessica hanya pandai soal perawatan gigi dan kuku, jadi aku tak memintanya untuk ikut menggeser-geser boks kontainer plastik ke sana dan kemari. Aku terus bekerja, dan bekerja, utamanya, agar pikiran kalutku tentang meninggalkan rumah bisa enyah. Bisa lebih bagus lagi kalau pikiran soal Minho bubar sekalian.

Ketika semua barang-barang dirasa cukup tertata, aku membiarkan para pekerja malang tadi pulang dengan memberi upah yang mampu membuat mereka memamerkan gigi kuningnya padaku. Itu hal baiknya. Hal buruknya adalah, aku kehabisan barang untuk menutupi ruang-ruang kosong di berbagai sudut. Sungguh deh, ibu dan ayah terlalu berlebihan, apartemennya terlalu luas. Kalau kuperhatikan lagi, ada sebuah gazebo di lantai dua, lengkap dengan balkon kolam renang mini berdinding kaca.

“Apa aku seorang superstar atau sejenisnya?” kataku keheranan. Jessica hanya tertawa geli. Ya sudah, terserahlah.

“Kau mau makan malam?” tawar Jessica padaku.

“Eh? Seharusnya sih makan siang dulu, apa aku melewatkan makan siang? Pukul berapa ini?”

“Tujuh malam. Kau telah bekerja lima jam nonstop, Non. Jadi, mau makan?”

Aku mengusap wajahku, sungguh hari yang berat. Pantas saja perutku keroncongan dan merasa pekerjaan ini lama sekali.

“Aku mandi dulu, kaubisa tunggu sebentar?”

Jessica mengangguk, aku menghamburkan langkah gesit ke kamar mandi.

.

.

Makan malam kami bertempat di sebuah restoran Sushi yang lumayan terkenal seantero Gangnam. Aku tidak bisa berdebat soal rasanya, tapi Jessica agaknya kurang puas dengan nori-nya. Terlalu kering, katanya. Yah, dia memang punya bakat lidah yang eksklusif, sebuah andil dari ayahnya yang mantan chef.

Tapi aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi selama makan malam. Itu membosankan. Kami hanya berbincang ringan, bercanda ini dan itu serta membuat beberapa preparasi busana dan makeup kelak ketika hari Jiyong menikah tiba. Aku tidak begitu peduli bagian itu jadi wajar aku melupakannya sekarang.

Membenahi apartemen sejenak membuatku terlupa akan segala masalah yang kumiliki. Bahkan kalau ada yang perlu dibenahi lagi, aku akan mengerjakannya sekarang juga. Masalahnya, segala sudah beres dan daftar terakhir yang masih menunggu adalah tidur dan istirahat. Batinku masih gelisah. Ini rumahku sekarang, namun aku seperti berada di belahan dunia yang lain, terasing dan kesepian. Untuk sepersekian sekon aku mengingat Choi Minho, betapa menyedihkannya dia saat itu. Pasti sakit rasanya menjadi sangat kesepian, dan ia telah mencicipi perasaan itu di waktu yang kelewat muda.

“Oke, Yuri, sadarlah! Kau sudah berjanji akan melupakannya,” aku menepuk kedua pipiku, biasanya ini berhasil untuk membantuku berpikir jernih. Tapi tidak, kali ini tidak semudah itu, jadi aku berupaya mengabaikannya dengan menggerakkan semua tubuhku, melakukan senam ringan. Aku menyibukkan diri, berkonsentrasi dengan apa yang dilakukan ototku, menghabiskan semua energi hingga kelelahan lantas membenamkan diri di atas kasur.

Aku tidak mau menyiksa diriku lebih lama lagi, jadi mulai saat ini Choi Minho akan kuhapus dalam ingatanku. Kini saatnya aku melangkah, meraih apa yang seharusnya sudah kudapatkan sejak lama. Aku bisa beranjak dari masa lalu.

Aku mampu.

.

.

Esoknya adalah masalah baru.

Baru sehari aku berada di lingkungan apartemen baru, mobilku sudah menabrak sebuah tiang rambu-rambu. Diteriaki dan disentak bukan masalah, yang menjadi isu hangat adalah kondisi dari seorang gadis yang kebetulan melintas di dekat rambu-rambu patah tersebut. Kalau saja seorang pemuda tidak merentangkan tangan dan menukar posisinya dengan gadis tadi, sudah pasti aku bakal masuk penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan pada anak kecil. Bisa jadi di penjara internasional, karena gadis tadi tak nampak seperti penduduk Korea.

Kabar baiknya, pemuda tersebut tak nampak akan menuntut apa pun padaku—meski aku mampu memberinya apa saja—alih-alih, ia bertingkah sangat bersahabat, mengobrol dan bercanda, hingga tahu-tahu aku sudah duduk di kedai kopi bersamanya.

“Aku mengenal penjaga keamanannya, sudah lumayan lama, ia seperti pamanku sendiri,” katanya bercerita. “Omong-omong, Yuri, kau tinggal di unit mana?”

“Oh,” aku lupa memberitahunya. Tapi, apa itu penting? “Lantai sembilan, 9012.”

“Wah, kebetulan yang fantastis. Aku berada tepat di hadapanmu dong. Aku si 9014.” Pria itu berteriak histeris, seolah ia baru memenangkan lotere terpenting abad ini, sampai-sampai aku dan sang gadis kecil yang hampir kutabrak—omong-omong namanya Lauren—tersedak es cokelat kami masing-masing.

“Oh ya, itu bagus hehe,” kataku berusaha agar terlihat lebih ramah. Pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Donghae tersebut lebih berisik dari Jessica. Ini konyol, kalau bukan karena rasa terima-kasihku, pria seperti dia sudah kutinggalkan bermenit-menit yang lalu. Aku mulai tidak suka peruntungan nasibku hari ini.

“Oke, um, Yuri… sepertinya aku harus berangkat kerja sekarang. Pukul sembilan, sudah terlalu siang. Apa kau keberatan menjaga Lauren sampai orang tuanya datang di sini?”

Aku menoleh pada bocah di sampingku. Dia gadis yang lucu dan menggemaskan, aku tak punya alasan untuk meninggalkannya. Lagipula, dia bisa kuajak ke apartemenku, mudah-mudahan suasananya jadi lebih hangat alih-alih suram.

“Aku akan membawanya ke apartemenku kalau begitu. Kau sudah tahu di mana ‘kan?”

Donghae melemparkan senyuman manisnya padaku, dan kabar buruknya, aku membalasnya dengan hal serupa. Kegilaan mana lagi yang memengaruhiku, Oh Tuhan? Aku baru bertemu dengannya beberapa menit lalu dan tak kusangka dia bisa mendapatkan senyumanku yang terkenal mahal itu.

Apa aku sudah agak sinting?

“Petugas keamanan sedang membawa kedua orang tuanya ke sini, kau bisa memberi info itu pada mereka. Biar mereka datang ke unitmu.”

“Baiklah.”

“Sampai jumpa nanti sore, Yuri!”

Aku tidak begitu peduli pada bagian nanti sore, tapi tak ada salahnya menjawab ‘kan?

“Sampai jumpa juga.”

.

to be continued.


Hai, aku kejar tayang nih, biar bisa membalas semua dukungan kalian ke aku. Tolong jangan jadi silent readers ya, cukup deh, serius. Tau gak kenapa para author males bikin banyak-banyak fanfiksi chaptered? Soalnya kebanyakan siders-nya. Kalau kamu baca ini dan masih mau bungkam, i will find you. Serius.

Makasih,

nyun.

217 thoughts on “SHOULD WE PLAY A GAME [2 of 6]

  1. zcheery berkata:

    kasian ya yuri… baper mulu😂kirain minho melintas ternyata donghae:v yey akhirnya dateng juga si laurenn♡ can’t wait for the next chapter😆😆

  2. Dhean Kwon berkata:

    jdi yg nikah tu minho biar q tbak jgn” lauren tu anak minho hehehe sok tau bgt…
    akhirnx donghae ktmu jg ma yul sbelumnx q pkir orang yg di jodohin ke yul tu donghae ..

  3. windakyr berkata:

    ooouuhhhh lauren nongol juga hehe, jessica yuri ya :’ kangen yulsic u,u
    jarang2 aku bc fanfic langsung ngerti baca sekali wkwkw

  4. hyenayurisistable berkata:

    Kasian yuri nya
    minho cepatlah datang,
    Itu kayaknya bakalan banyak momen yulhae deh
    huhuhu
    Lanjut ya author
    aduh gk enak bgt manggilnya thar thor
    aku panggil kak aja ya
    aku 93L

  5. Angella Yurisistable berkata:

    Hi…
    Erkk Minho jdi duda hot ya.. hikhikhik
    Jdi Lauren ya nama bocah yang ada dlm poster itu.. Anak Minho?
    Apa nti Donghae nti bkal suka Yul? huhuhuh
    Bila pula Hani akan keluar?
    Awww Yuri wlaupn trsakit masih sja mengharap Minho..
    Izin baca chapter 3 Kak Nyun…

  6. Ersih marlina berkata:

    Wah iya sih yul kalo d pkir2 usia 25 thn itu udah ckup buat nikah
    prtemuan yulhae haha, d blang crwet donghaenya
    trus d bandingin sma sica crwetnya, dan yeaah kamu mnang crwet dari sica ahaha

    minho, cerai 1 thn yg lalu. Udah lah minho, balik ke yuri aja lagi

    lnjut bca, hwaiting ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s