SHOULD WE PLAY A GAME [3 of 6]

SWPGa story by bapkyr (@michanjee)

Should We Play A Game

| 3 of 6 |

please read the 2nd chapter first.

“To hurt or to be hurt, your choice.”


“Lauren mau yang cokelat. Strawberry terlalu asam, Lauren tidak suka.”

Kuraih sebotol minuman perisa cokelat dari lemari pendinginku lantas kuberikan pada Lauren. Gadis ini menarik perhatianku karena mata birunya yang begitu menonjol. Rambutnya brunette dengan sentuhan ikal kecil sebahu. Ia mengenakan sebuah kaus yang ditumpuk oleh dress overall berbahan jins. Rona pipinya kemerahan di bawah terik mentari, itu sebabnya aku buru-buru menyalakan pendingin udaraku begitu sampai di ruang tamu.

“Kau tinggal sendiri, Bibi?” tanyanya, mata bulatnya mengedarkan pandang ke seluruh dinding yang kosong. Sejak pindahanku kemarin, aku tidak berminat meletakkan foto-foto di sana. Gambar itu hanya ajang pamer, lagipula aku tidak memiliki keluarga bagus yang layak dipamerkan. Lantas untuk apa aku repot-repot memasangnya? Buang-buang energi saja.

“Iya, sejak kemarin. Kau sudah lama tinggal di sini, Lauren?”

“Tidak ingat,” katanya. “Mungkin sudah selama yang kaupikir, bisa jadi baru kemarin.”

Untuk seseorang yang disinyalir baru berusia lima tahun, ia telah belajar banyak. Teka-teki bukan keahlianku, apalagi sebuah analogi. Atau mungkin, Lauren hanya skeptis karena ia tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya dariku, atau lagi, dia masih shock karena kecelakaan barusan. Aku tak peduli yang mana, aku hanya akan mengabaikannya.

“Di mana kedua orang tuamu?”

“Kalau ibu sudah pergi, ayah tidak tahu.”

Aku ragu mengatakan ini, tapi Lauren memang mengatakannya dengan ekspresi datar, masih mengecap perisa cokelat di langit-langit rongga mulutnya, acuh tak acuh. Tidak biasanya aku mendorong anak kecil untuk menjawab pertanyaanku dengan sungguh-sungguh, tapi rasa penasaranku sudah cukup besar untuk ditahan. Aku bisa meledak.

“Kau… sorry, semacam dibuang?”

“Apa itu dibuang?”

Mungkin koleksi kosakatanya tidak sebanyak yang aku ekspektasikan.

“Lupakan. Apa kau mau cokelat lagi? Sejujurnya aku pecinta cokelat jadi aku punya beragam makanan cokelat di kulkas.” Aku berusaha tak peduli meski rasa penasaranku membuncah.

“Apa aku bisa minta eskrimnya?” katanya saat kutunjukan freezer-ku.

“Boleh, janji kau akan memakannya sampai habis ya?” Aku memberinya sebuah popsicle cokelat yang langsung disambarnya dengan lihai. Saat aku tersenyum padanya, mata biru laut itu memandangku penuh permohonan. “Apa aku bisa minta satu lagi?”

“Kau sudah makan banyak cokelat, aku takut perutmu sakit, Lauren sayang.” Dengan suara meyakinkan, aku mengusap puncak kepalanya. Namun mata biru itu benar-benar serius, bersikukuh berada di antara jarak pandangku, meminta penuh harap dan cemas.

“Oke, oke, kuberi satu lagi. Tapi makanlah besok, perutmu bisa sakit.”

“Asyik!” serunya riang. “Ayah pasti akan suka.”

Aku menjengitkan kedua alisku. Lauren tengah mengagumi sebuah eskrim cokelat yang masih terbungkus sempurna di tangannya sembari berteriak girang menyebutkan kata “Ayah” beberapa kali.

Aku mual mendadak, teringat sebuah memori ketika ayahku membelikan banyak strawberry hanya untuk meredakan tangisanku. Juga ketika ibu mulai menghiasi kamar kecilku dengan pernak-pernik bergambar dan beraroma strawberry, favoritku. Saat itu aku merengek dan tak peduli soal perasaan kedua orang tuaku, aku diberi apa pun yang aku mau, sampai aku bosan. Ketika aku menjelma sebagai gadis manja yang berengsek, mereka membuangku, mengabaikanku dengan dalih pernikahan. Cih, sebagian dari aku yang sekarang adalah apa yang mereka lakukan dahulu. Andai saja mereka lebih tegas padaku, atau andai saja aku menyadari segala sesuatunya lebih cepat…

Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan. Maksudku Lauren. Di usianya yang muda begini, dia sangat berbeda sepertiku, dia memikirkan orang lain lebih di atas dirinya sendiri. Lauren tentunya sangat menyayangi ayahnya.

“Anak pintar,” aku memujinya. “Bagaimana kalau satu lagi untuk ibu?”

Lauren mulai menggeleng pelan. Ia menyembunyikan kedua eskrim di belakang tubuh kecilnya, mengundangku untuk terus memupuk rasa keheranan.

“Kalau ibu jangan. Ibu tidak pernah puas kalau satu, nanti dia minta dua, tiga dan seterusnya. Lebih baik ibu tidak usah tahu, dia akan memukulku.” Tentu saja aku terenyuh mendengarnya, tapi perkataan dari bocah lima tahun agak susah dimengerti olehku yang tidak paham arti keluarga. Aku mengiyakannya saja, melewatkan sebuah ekspresi takut Lauren sebagai selingan saja. Aku mengelus puncak kepalanya seraya menuntunnya kembali ke ruang tamu. Tepat saat itulah bel berdentang, membuat langkahku berhambur ke depan pintu dengan segera.

.

.

Ingat ketika aku mengatakan ini bakal jadi hari yang buruk dan penuh kejutan? Itu benar adanya. Setelah aku berhambur ke pintu depan, kulirik sekilas seseorang yang berdiri di sisi satunya, di depan pintuku melalui kamera pengawas. Awalnya yang kulihat hanya rambut hitam yang diminyaki, disisir rapih hingga nampak seperti seseorang yang tak tahu hairdryer sudah diciptakan. Aku menolak membuka cepat-cepat dengan alasan keamanan, jadi kutengok dengan teliti pria di sana. Kali ini, aku bisa melihat wajahnya, pria itu menunjukkannya tepat di depan kamera seraya terus membunyikan bel pintu.

Tapi aku beku. Mataku melotot ke arah layar, terpaku dan ternganga tak percaya. Di luar kebiasaan, aku menjatuhkan diriku, melorot perlahan ke karpet putih gading yang susah payah kupasang kemarin. Aku hampir menangis, dan aku menjamin itu akan kulakukan, hanya saja Lauren memandangku ketakutan di atas sofa. Mungkin mataku yang memerah penyebabnya, atau bisa jadi tingkah lakuku yang kelewat aneh membuatnya demikian.

“Kau tidak apa-apa, Bibi? Apa ibuku memukulmu?”

Terus terang aku tak paham apa maksudnya, tapi aku buru-buru menghapus air mataku. “Tidak,” ucapku singkat. Aku berusaha tersenyum, sebuah ekspresi yang sangat sulit kulakukan di sini, ketika bel berdentang dibarengi mata biru laut yang terus memandangku takut-takut.

“Apa kau yakin, Bibi?” Lauren mendekatiku dengan perlahan, eskrim cokelat ditaruhnya di meja, ia bahkan tidak peduli lagi. Aku buru-buru bangkit, berupaya terlihat baik-baik saja meski jiwaku terpukul rata. Lauren tidak mengerti apa-apa, dan seharusnya ia tak melihatku begini. Aku memberanikan diri menyentuh tombol merah menyala-nyala di panel pintu otomatisku, seketika benda itu terbuka, menampakkan sosok pemuda tampan yang khawatir di baliknya.

“Ayah?” Lauren berkata. Seketika, kepercayaan diriku runtuh. Gadis kecil itu berlari ke belakang tubuhku, meraih kedua eskrimnya dan menghamburkan diri ke pelukan pria yang baru saja masuk selangkah dari ambang pintu.

“Lauren! Maafkan ayah, Nak, kau tidak apa-apa?”

Suara tenor yang menyakitkan. Tidak ada yang berubah dari suara itu, masih sama-sama punya efek yang luar biasa padaku, sehingga aku dengan segala ketakutanku berotasi, membalikkan tubuhku ke arah yang lain, menyembunyikan wajahku dari Minho, pria yang dipanggil Lauren sebagai ayah.

“Maafkan aku, Nona. Apa kami merepotkanmu?” tanyanya. Kelihatan sekali ia ingin aku berputar dan menunjukkan wajahku, tapi aku tidak meluluskan niatnya.

“Tidak, itu bukan apa-apa.”

“Ayah, Bibi memberikanku eskrim cokelat. Apa kaumau?” Lauren menginterupsi kami dan kurasa itu bagus.

“Oke, baiklah. Kau tunggu sebentar di sini ya, aku ingin berbicara dengan Bibi sebentar.”

Tidak, ini buruk. Segera setelah Lauren melangkah keluar dari ambang pintu, Minho mengajakku bicara lagi.

“Apa kau benar-benar tidak bisa menunjukkan wajahmu, Nona? Jika kau seperti itu karena marah padaku, aku benar-benar minta maaf. Aku lupa dia memiliki jadwal lebih singkat hari ini, seharusnya aku menjemputnya, aku benar—“

“Tidak apa, tidak masalah. Aku…” aku menggigit bibirku. Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini, tapi aku terlalu takut untuk menatap matanya. Seluruh tubuhku bergidik, meluapkan amarah dan rasa rindu yang tak terbendung di saat yang bersamaan. Minho sudah meninggalkanku sejak lama, tapi melihatnya bersama seorang bocah yang ia sebut anak, memohon maaf atas anaknya kepadaku, rasanya sungguh perih. Aku tak tahu jika ia memiliki seorang anak dari perkawinannya lima tahun lalu. Rasanya, tak seorang pun di negeri ini yang tahu. Tapi bukan itu masalah utamanya. Hatiku, hatiku yang tinggal sekeping itu langsung runtuh begitu saja.

“Nona, setidaknya beri aku namamu. Aku akan sangat berterima kasih atas bantuanmu.”

“Tidak, tidak. Aku…” Tidak sopan, aku tahu itu. Seharusnya aku menatap matanya ketika bicara, itu apa yang orang tua ajarkan kepada anak-anaknya. Kecuali kausalah, sudah seharusnya peraturan tersebut ditetapkan. Dan kalau perlu diingatkan, aku tidak memiliki salah apa pun pada Minho, sebaliknya, ia bersalah padaku. Lantas untuk apa aku menghindarinya? Sampai kapan aku bisa lepas dari kendalinya? Kalau ada saat yang tepat untuk melupakan Minho, mengonfrontasinya dengan luapan amarahku, hari ini adalah saatnya. Semakin lama, Minho akan semakin membuatku tak berdaya, seperti apa yang dilakukannya selagi kami kecil dahulu.

Jadi, aku berotasi, menampakkan wajahku kepadanya tanpa rasa takut. Mataku masih merah, sepertinya ia sadar, tapi ia tak bergeming ketika aku menyebutkan namaku.

“Kwon Yuri, panggil aku Yuri.”

.

.

Aku lupa mematikan radioku, jadi tak aneh jika telingaku samar-samar mendengar lirik lagu The Other Woman yang dilantukan mendayu-dayu oleh Lana Del Rey. Seolah suasana kami belum cukup kikuk, Lauren kembali dengan es cokelat di tangannya, menarik-narik lengan Minho agar ia mau menyalamiku.

Aku hampir kehabisan kesabaran dan seluruh kekuatan mentalku. Meski kuyakini pria ini agak terkejut ketika berhasil bertatapan denganku, namun aku tak yakin akan peluang keberhasilanku mengguncang mentalnya. Selain sekilas kekagetan tadi—serius, itu benar-benar sebentar—iya tak menunjukkan kegoyahan secara emosional maupun fisik. Ia nampak baik-baik saja? Oh benarkah?

“Aku Choi Minho, ayah Lauren, terima kasih telah menjaga Lauren dan aku minta maaf kalau gadis kecil ini menyusahkanmu, Nona Kwon.”

Katakan padaku, seluruh candaan konyol yang pernah eksis di muka bumi karena aku butuh tertawa kencang. Minho biasa memanggilku “Otak Kubis” atau kalau mood-nya sedang tidak baik, biasanya dia hanya menyebutku idiot. Tidak sekali pun ia bersikap ramah dan memanggilku “Nona Kwon” sebelumnya. Sejujurnya itu menggangguku, intonasi dan tatapan mata ramahnya mengindikasikan keganjilan, seolah ia tidak pernah bertemu denganku, tak mengenalku.

“Nona? Kau baik-baik saja?” tanyanya. Ia memamerkan telapak tangannya padaku, mengibas-ngibasnya kemudian berkali-kali bertanya apa aku baik-baik saja. Pikir saja, berengsek! Aku tidak akan pernah baik-baik saja jika dia terus-terusan berkata demikian. Tidak, ini tidak bagus.

“A—aku, yah, baik-baik saja,” kataku berusaha menutup diri. Aku perlu waktu untuk mencerna semua yang telah terjadi hari ini. Tidak ada upaya bagus untuk menghindar, tapi ini apartemenku dan dia hanyalah pengunjung. “Lauren gadis yang baik kok,” tutupku canggung.

Bepura-pura bahagia adalah keahlianku, sekarang pergilah berengsek.

“Ah, sepertinya ia menyusahkanmu, tapi aku lega mendengar sebaliknya. Terima kasih, Nona Kwon. Apartemenku berada tepat di sebelahmu, unit 9013. Pemilik unit 9014 di sana adalah teman kantorku, dia yang meneleponku atas kejadian hari ini.”

Aku punya otak yang terlalu sempit untuk menjejalkan segalanya secara utuh, jadi sebuah senyum kurasa cukup untuk meresponsnya.

“Baiklah, terima kasih atas bantuannya, Nona Kwon.”

Pria itu menundukkan kepalanya padaku. Lauren tersenyum sebentar dan memanggilku “Bibi” berapa kali sampai suara itu tak terdengar lagi setelah pintu apartemen di sebelahku tertutup. Aku buru-buru menutup pintuku juga dan berlari ke kamar mandi. Tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan dari hari ini, dan aku juga tak pernah percaya ada yang namanya takdir. Lalu sekarang aku benar-benar butuh penjelasan akan siapa dan kenapa tangisan ini kujatuhkan.

.

.

“Apa kau terluka, Lauren?”

Gadis itu menggeleng pelan seraya menyerahkan sebatang eskrim cokelat yang sudah leleh pada pria di hadapannya. Tangan kecilnya dipenuhi noda cokelat beraroma manis.

“Aku bertemu Paman Donghae, dia terluka di dengkulnya tapi tidak apa-apa. Bibi sebelah mengobatinya dengan baik.”

Minho tersenyum cerah dan mengusap kepala gadis manisnya dengan lembut. Lauren hanyalah seorang bocah lima tahun yang polos dan menggemaskan, namun ketika ia melihat ke belakang, gadis itu sudah cukup berpengalaman dari bocah-bocah seusianya. Lauren kerap disiksa oleh mantan isteri Minho, dan itu membuat hatinya sakit jika teringat kembali. Sekonyong-konyong sosok Lauren datang dalam kehidupannya, membuat pernikahannya yang suram menjadi lebih berwarna. Sebagian orang akan jijik jika mereka diberikan bayi kumal yang ditemukan dalam saluran pipa apartemennya, tapi Minho tidak, ia merawatnya dengan baik karena tahu bahwa ia tak mungkin memiliki anak dari istrinya.

Minho adalah ayah yang payah, ia bahkan tidak tahu sejak kapan istrinya kerap memukuli Lauren, tapi kepayahan itu dipandang Lauren sebagai kepahlawanan. Minho tergelitik untuk menaruh nasib pernikahannya di garis depan, demi melindungi Lauren. Dan yang terburuk sudah terjadi, ia bercerai. Pernikahannya yang hanya sebentar tersebut menuai banyak kritikan dan gosip pedas, namun Minho berusaha melepaskan nama Lauren dari serangan tersebut. Tanpa ia sadari, Minho sudah menyembunyikannya dari publisitas, tak ada seorang pun yang tahu bahwa ia memiliki seorang anak asuh.

Dari segala hal yang sudah terjadi, Lauren tetaplah seseorang yang akan diberinya kasih sayang dalam sisa usianya. Namun siapa yang sangka jika Lauren adalah jembatannya pada masa lalu, sebuah masa kecil penuh kenang-kenangan asam dan manis.

“Aku ingin membersihkan ini, apa Ayah mau ikut?” Lauren menunjukkan tangan-tangan kotornya pada Minho. Pria itu menyambutnya dengan senyum dan melepaskan anak semata wayangnya ke wastafel yang sudah disesuaikan tingginya dengan Lauren. Jadi, Lauren adalah seorang gadis yang beruntung memiliki ayah seperti seorang Minho. Minho membuatkan apa pun yang diperlukan untuknya, kamar mandi khusus, wastafel khusus, kamar dengan dekorasi tokoh kartun favoritnya, apa pun. Lauren tentu belum paham apa yang terjadi padanya, ia selalu merindukan sosok seorang ibu yang belum pernah benar-benar didapatkannya. Tapi, Minho lebih mumpuni dari sepaket pasangan. Ia bisa menjadi ayah dan ibu yang baik. Dinilainya semua sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan, Minho memastikan bahwa segalanya baik-baik saja.

Tapi kini ia menarik kata-katanya kembali. Sembari memandangi gadis kecilnya membasuh noda cokelat di bibirnya, sosok Kwon Yuri terpeta di dalam angannya, memunculkan perasaan nostalgia.

Bohong kalau dia tidak mengingat segalanya.

Minho dikenal sebagai jenius berengsek, dan kadang, kau harus memilih salah satu, jenius atau berengsek. Kali ini ia memilih menjadi berengsek, berusaha tidak ingat segalanya dan berpura-pura menjadi orang asing bagi Kwon Yuri, meski ia sangat ingin menyapanya sebagaimana dahulu. Yuri adalah kenangan yang paling indah yang pernah ia dapatkan semasa kecil dahulu, dan Minho menginginkannya tetap demikian. Meski ia sangat menyukai kehidupannya sekarang, dusta kalau dia tak pernah diam-diam kepikiran untuk kembali menjadi bocah, yang masalahnya cuma kesepian semu.

Ia ingin mengingat Yuri sebagai bocah yang menjengkelkan, kerap menertawainya dan membicarakan orang bersama-sama. Ia tidak ingin melihat Yuri tumbuh dewasa.

Akan tetapi, hari ini doanya tak terkabul. Minho kembali bertemu dengan Yuri, melihat mata cokelatnya yang penuh aura dendam, juga sakit yang ditahan-tahan. Iris cokelatnya menggariskan sebuah kesepian yang teramat dalam, depresi, kalut, dan benci. Apa yang pernah dirasakannya dahulu, kini berkumpul dalam sorot mata hitam itu, sorot mata dari gadis yang pernah dikenalnya dengan baik.

Minho tak mengerti keseluruhan cerita hidup Yuri sampai saat ini.

Tapi ia paham betul salah satu penyebabnya, sebuah janji palsu untuk kembali puluhan tahun lalu.

.

.

“Cukup nyaman di sini, kau pasti betah,” komentar Jiyong setelah ia mengelilingi apartemenku sejam penuh. Aku masih gemetar, seluruh pikiranku penuh dengan Choi Minho, jadi aku tak begitu peduli ketika Jiyong dan orang tuaku memutuskan untuk berkunjung. Biasanya aku memang tak peduli, tapi kali ini bisa dua kali lipatnya.

“Ini apartemen termahal di daerah Gangnam, lucu kalau Yuri tidak betah, Jiyong,” Ayahku menimpali dari balik sebuah guci antik yang baru saja diletakkan ibu di ruang keluarga.

“Aku tidak butuh itu,” komentarku pada ibu.

“Ini bukan untukmu. Ini untuk rumah ini. Terlihat suram dan menyedihkan kalau aku tidak menghiasnya sedikit,” kata ibuku. Lucunya, ia berkata demikian dengan tatapan menyebalkan ke arahku, seolah suramnya apartemen mewah ini adalah ulahku.

Sebelum aku sempat membalasnya dan mendebat apik, jemari ibu sudah menelusuri rambutku—yang biasanya bukan prioritasnya. “Pernikahan Jiyong akan dilaksanakan pekan depan, dan aku tidak ingin semuanya berantakan. Terima kasih karena kau mendengarkan kami, Yuri.”

Aku mengempaskan jemari ibu dari rambutku, menjengitkan kedua bahu seolah itu bukan masalah.

“Tapi,” ibu berjalan menjauh dariku. Dari apa yang kuperhatikan selama ini, itu bisa jadi buruk. Ia selalu memiliki rencana aneh untuk anak-anaknya. Kini kurasa aku tahu apa. “Aku berencana menjodohkanmu dengan anak dari kenalanku.”

“Ibu, aku tak ingin menikah!”

“Kau tidak perlu berteriak seperti itu pada ibu,” bentak Jiyong. Aku heran kenapa pria ini mudah sekali berlemah lembut pada seseorang yang telah menjadikannya barang dagangan di industri pernikahan konglomerat. Padahal, setahuku Jiyong memiliki seorang gadis yang dicintainya sejak lama, dan ia menyerah lantaran ibu memiliki rencana lain terhadap hidupnya. Ironis memang. Sosok yang harusnya melindungi kebebasan anaknya, kini lebih suka mengekang dan mencabik kebahagiaan orang lain.

“Aku tidak akan berakhir sepertimu, Jiyong. Pernikahanku ada di tanganku dan aku benci diatur-atur!” kuakui itu cukup keras, jantungku berdentum keras setelah mengatakan apa yang kuinginkan. Kulihat binar redup mata ibuku dan ayahku yang saling memandang. Mereka terlihat kecewa, namun tak nampak tanda-tanda marah bahkan jika itu membuatnya jengkel.

Jiyong agaknya ingin menamparku, tapi saat itu ayah beranjak, menahan tangan Jiyong berbuat sesuatu yang semakin akan menghancurkan titel keluarga dari nama belakang kami. Aku tidak menyalahkannya, aku memang semakin menjengkelkan. Wajar bukan? Kau diperintahkan menghabiskan seluruh hidupmu untuk menikahi seseorang yang tidak pernah kaucintai, terlebih oleh keluargamu sendiri, perasaan baik apa yang harus kutunjukkan? Aku kesal dan marah, itu pasti. Namun jika kautelisik lebih dalam, aku hanya kecewa. Bagaimana mereka bisa memperlakukanku seperti ini.

“Yuri, aku tahu kau akan marah pada kami dan sebagainya. Tapi semua ini demi kebaikanmu, kami bukan bidak-bidak catur yang dipermainkan oleh uang, tidak. Kami hanya ingin kau bahagia, dengan lelaki yang kami pilihkan, lelaki yang tidak akan mencampakkanmu seperti apa yang Choi Minho lakukan…”

“PERGI!”

Aku menyentak keras ibuku kali ini. Aku berdosa, tapi aku tak sanggup mendengar nama Choi Minho diucapkan dari mulut ibu. Ia mengesankan bahwa Choi Minho adalah pria berengsek—yang mungkin benar. Tetap saja, aku tak bisa diganggu-ganggu dengan hal seperti itu. Hidupku adalah masalahku, sampai kapan mereka akan mengerti batasan ini?

“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin hidup damai di sini, bisakah kalian mengerti?”

Ayah menatap ibuku yang kini mulai kehilangan kesimbangannya. Mungkin dia terkejut anak gadisnya bisa melawan sedemikian bengal, atau mungkin obat asmanya ketinggalan. Jiyong melotot ke arahku yang kubalas dengan pelototan lebih ngeri lagi.

“Terserah kau,” Jiyong berdecih, berjalan angkuh menjauhiku. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat besar di atas meja dan berlalu bersama-sama dengan ibu yang dipapahnya di tengah-tengah ia dan ayah. “Telepon aku malam ini kalau kau berubah pikiran.”

.

.

Mendapatkan banyak pengunjung tak menyenangkan di hari kedua tempat tinggal barumu memang benar-benar pengalaman yang tak boleh diingat-ingat. Jadi, aku keluar, berjalan-jalan mencari angin segar di sekitar taman yang dibangun tak jauh dari kompleks gedung apartemenku. Kurasa, taman ini memang disediakan untuk orang-orang depresi sepertiku. Ada kakek tua yang berpakaian seadanya tengah menggulung kertas untuk bakau keringnya di bawah pohon. Di tepi kolam ikan, seorang gadis tengah tersedu sembari mencuci kaki-kakinya dengan air kolam. Di ujung yang lain, anak-anak bermain gembira dengan polosnya, menaiki berbagai permainan kecil dan berkejar-kejaran bersama teman-temannya.

Taman ini mungkin akan jadi favoritku nantinya, seperti sebuah pemetaan kehidupan yang lebih simpel, di mana depresi dan bahagia letaknya tak melulu berjauhan.

“Kau di sini rupanya,” aku melewatkan pemuda itu selangkah saat kupikir ia tak sedang berbicara denganku. Namun kala ia memanggil namaku, barulah aku menoleh, mendapati sosok Donghae tersenyum ramah.

“Oh, kau,” kataku tanpa jiwa. Aku benar-benar tak berselera mengobrol dan sebagainya, apalagi sore biasanya hanya datang sebentar, sebelum lampu-lampu dinyalakan dan digantikan gelapnya malam.

“Aku ke apartemenmu, tapi tidak ada orang. Aku mau ke minimarket tapi tak sengaja melihatmu di sini. Apa yang kaulakukan di sini sore-sore? Apa Lauren sudah diambil ayahnya?”

Terlalu banyak. Terlalu banyak ia bicara dan bertanya, benar-benar mengganggu.

“Aku mencari… udara segar. Lauren sudah diambil ayahnya tadi siang,” aku menjawab dengan terpaksa. “Katamu tadi kau akan ke minimarket?”

“Oh… ya! Aku lupa. Aku baru saja akan ke minimarket. Tapi tidak jadi deh, aku lupa mobilku diparkir di atas, malas membawanya turun lagi.”

“Memangnya sejauh apa minimarket-nya?”

“Butuh waktu beberapa menit untuk berjalan ke sana.”

“Itu tidak terlalu jauh,” aku melihat Donghae mengangguk-angguk. Pria ini kelihatan sangat lugu, namun serius di saat yang bersamaan. Dia juga terlihat jujur, apa adanya dan ramah. Sangat jarang aku menemukan yang seperti ini di Seoul, entah ini anugerah atau bencana, yang bisa kulakukan pertama-tama untuk mencari tahu adalah mencoba mengenalnya. “Mau kuantar? Aku tidak memiliki kesibukkan, bagaimana kalau sebotol soju sesudahnya?”

.

.

to be continued.


 

YAHOOOO! Akhirnya aku bisa juga membawa chapter tiganya lebih cepat. Daaaaan, sebagai info nih, Should We Play A Game bakal di-update setiap hari!

Artinya, ada tiga hari berturut-turut di mana kamu bisa ngebaca FF satu ini nonstop. Asyik ya?

Nah, boleh dong aku minta review dan komentarnya? Barangkali dengan begitu aku bisa nyelesin TSD dan TOZ lebih cepat juga. Hehe.

Salam,

nyun.

120 thoughts on “SHOULD WE PLAY A GAME [3 of 6]

  1. Tarhyulk berkata:

    Aku udh bca kmrin . Tpi komenx d teaser WSPG in . Heheheh soalx kmrin agk heran critax brubah . Trnyta emank sngaja d rubah . Krna faktor ap sih eon jlan critax d ubah ? Tpi overall keren kok . Lbih tau prsaan yul k minho tu gmna . Walau blum tau minho prsaanx k yul sbnarx msih ad ap gak .. Izin part brikutx yah eon …

  2. liliknisa berkata:

    Ternyata lauren anak minho.
    Dan minho pura pura lupa sama yuri. Kasian banget mereka.
    Lanjut ke part selanjutnya

  3. yuri superexoshidae berkata:

    Sanggup x minho pura2 lupa sama yuri ya….
    Sama2 pura2 tegar. Padahal kangennya pakek x…

    Next chap ya kak

  4. aloneyworld berkata:

    Entah kenapa bagian paling menarik itu ada di a/n yang bilang tsd sama toz bakal dilanjut hahaha xD kenapa minho harus pura2 gakenal sih -_- masa lalu lauren buruk juga ya, saluran pipa apartemen, disiksa duhduhduh untung minho sayang banget sama lauren ya😀 kira-kira mereka bakal bersatu ngga ya😀

  5. zcheery berkata:

    mau dong punya adek semandiri lauren😂😂😂 wkwkwk
    menurutku kak, gaya penulisan kanyun sedikit berubah, bagian dialog mungkin/? ato di bagian lain.. dunno where but i can feel the little difference 😆
    tapiiiiii masih bagus as always kok kak wkwk, lanjut dulu penasaran nih💃

  6. Dhean Kwon berkata:

    jihahaha tbakan q bner klo lauren anak minho y mski cma anak angkat,…
    dsini karakter donghae lucu jg bkin greget yg bca so agak crewet gtu tpi q ska..
    kirain minho hilang ingatan tau”nx gk..
    mkin pnasan ma klanjutannx…

  7. nisrinasyifa berkata:

    gilaaaa kak nyun keren hohoho, lauren anak minho? hmm sudah kuduga wkwkwk
    yes minyul ketemu juga tapi greget sih minho nya pura pura ga inget huhuhu
    oke aku ijin baca chapt selanjutnya ya kak

  8. hyenayurisistable berkata:

    Ternyata lauren anak nya minho
    cuma lega karena tau lauren bukan anak kandung minho
    cuma yuri keburu salah paham
    huhuhu
    yuri harus tau kalo minho gk sebrengsek yg dia kira
    duh kayaknya makin banyak yulhae momen nih kedepannya
    aku berharap minyul gk lagi saling salah paham terus

  9. Angella Yurisistable berkata:

    Hi Kak Nyun…
    I taught Minho itu amnesia tpi itu hnya lakonan untk mngaburi matanya Yul… Oh jdi Lauren bisa diblg ‘Kau…. sorry..anak dibuang’.
    Aww karakter Yuri disini bisa dibilang ‘Kurang ajar’..
    Tpi spa juga yang tdk emosi jika hdp dikungkung olh org tua….
    Next Chapter…

  10. Ersih marlina berkata:

    Minho ayah lauren. Ayah angkat tepatnya
    umm, pernikahan minho kyanya ga ada cinta deh, buktinya belom punya anak sndri

    ga kbyang hidupnya lauren, d pukul istrinya minho, kejam
    untung mereka cerai
    dan untung lagi yang nemuin lauren d pipa pembuangan minho, coba kalo bukan, ga kbyang deh

    dan yuri, iya juga sih. Kalo d paksa trus nikah ksel jga
    apalagi itu hati yuri keukeuh sama minho hihi

    lnjut bca, smngat ya ka nyun

  11. yayarahmatika berkata:

    Jadi kenapa minho pura pura lupa sama yuri sih? tujuannya apa? Penasaran. Donghae jugak makin deket aja sama yuri. Jadi lauren itu bukan anak kandung nya minho.

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s