SHOULD WE PLAY A GAME [5 of 6]

SWPG a story by bapkyr (@michanjee)

Should We Play A Game

| 5 of 6 |

please read the 4th chapter first.

“To hurt or to be hurt, your choice.”


“Terima kasih sudah membawanya, aku akan mengurusnya, terima kasih.” Aku menyerahkan selembar uang lagi pada kedua petugas keamanan tersebut, seraya membungkukkan badan berkali-kali. Dari apa yang diinfokan keduanya, Minho tak sadarkan diri karena terlalu mabuk. Mungkin ia berdusta ketika ia mengatakan “hanya minum-minum sedikit” padaku berapa saat yang lalu. Ditambah, kantung plastik yang ia bawa tadi, seluruhnya berisi kaleng-kaleng bir. Entah sudah berapa liter yang dia masukkan ke tubuhnya.

“Tuan Choi, kau mendengarkanku?” Aku tidak suka aroma tubuhnya, tapi terpaksa melepaskan bajunya yang basah kuyup oleh hujan. Aku menyelimutinya dengan handuk, kemudian perlahan melepasnya satu per satu dengan wajah yang memerah. Sebagai wanita biasa, aku berpikiran macam-macam, tapi aku tak sempat membahas itu lebih jauh. Tubuh Minho sangat panas tapi mendadak ia menggigil.

“Kau demam.” Aku memutuskan. Kuambil kotak obat-obatan yang kumiliki, memasak sup hangat dan mempersiapkan air hangat di sebuah wadah. Aku melakukan semuanya sekaligus dengan cepat, tak membiarkan kondisi Minho memarah. Aku mengganti bajunya dengan mantel hangatku, yang nampak kekecilan di tubuhnya. Kupakaikan juga celana pendek Jiyong—yang entah kenapa bisa ada di lemariku—kemudian memapahnya ke dalam kamarku dan menidurkannya di balik selimut tebal milikku.

Aku mencuci kakinya dengan air hangat yang kutempelkan via handuk kecil perlahan demi perlahan. Kutaruh sebuah kain berisi es batu kecil-kecil di keningnya, berharap metode itu berhasil untuk menurunkan panasnya. Di sela-sela kegiatan itu, aku berlari ke dapur, mematikan kompor di mana sepanci sup sudah cukup matang di atasnya.

Aku berharap itu cukup. Aku berharap Minho baik-baik saja.

Aku menarik sebuah kursi di samping ranjangku, menungguinya sembari mencari tahu apa yang ada di dalam ponsel Minho. Aku berharap menemukan nomor telepon ibunya atau semacamnya, tapi Minho mengunci layarnya. Aku tak tahu bagaimana cara menghubungi keluarganya.

Selama tiga jam selanjutnya, aku menahan kantukku dengan membaca. Minho sudah tertidur, namun ia gelisah. Aku harus terus mengganti kompresnya, memijat kakinya dengan air hangat dan menarik selimutnya yang kerap melorot. Biasanya aku mengomel ketika melakukan ini pada Jiyong, tapi rasanya berbeda dengan Minho yang terbaring di sana.

Diam-diam, aku memerhatikan wajahnya, mengusap pipinya hanya untuk memastikan aku tidak bermimpi.

Aku menjawat tangannya, melepaskan kerinduanku. Terasa aneh mendapati diriku yang melankolis seperti ini, namun di sisi lain ini tak begitu aneh mengingat Minho yang membuatku demikian. Aku masih memilikinya, perasaan hangatku untuk Minho. Kini, setelah menggenggam tangannya, aku tak ingin melepaskannya lagi. Kutempatkan kepalaku di sisinya, lantas aku kehilangan kesadaranku untuk beberapa saat.

.

.

Aku bermimpi aneh, Minho mengusap rambutku dan membisikkan bahwa ia mencintaku. Tapi hanya sekadar itu saja, aku terbangun dan mendapati sosok Minho masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Demamnya sudah turun dan dia nampak lebih baik dari sebelumnya. Aku melihat jam dinding, dan tersentak begitu mendapati angka tujuh di sana.

Ponselku berdering, nama Donghae menyala-nyala di layarnya.

“Oh, iya. Bisakah kita pergi sore nanti? … Aku, ada urusan mendadak… ya, kau bisa memberitahu ibuku. Terima kasih atas bantuannya, Donghae.”

Aku mematikan ponselku dengan terburu-buru.

“Nona Kwon?”

Aku menoleh, mendapati Minho sudah membuka matanya perlahan. Ia memandangiku, lantas mengedarkannya ke seluruh ruangan yang ia diami. Mungkin ia baru sadar bahwa dia tak berada kamarnya.

“Oh kau sudah bangun. Sebentar,” aku buru-buru menyelinap keluar dengan cemas, berharap ia tak mendengarkan konversasiku dengan Donghae barusan. Sup yang kubuat semalam kini kupanaskan kembali di atas kompor. Dalam beberapa menit, sebagiannya sudah berada di mangkuk yang kubawa ke kamar.

“Makanlah ini dulu. Bagus untuk memulihkan rasa mabukmu,” saranku. Minho mengangguk. Aku membantunya untuk duduk ketika ia sedikit kesulitan. Kusediakan meja kecil di sisinya untuk memudahkannya menyantap supku.

“Kau hampir membunuh dirimu sendiri,” kataku setelah mengingat-ingat kejadian semalam. Aku begitu cemas sampai-sampai kuingin menggetok kepalanya barang sekali. “Sebenarnya apa yang kaupikirkan?”

Minho meletakkan sendok supnya kemudian perlahan menyeruput kuah di dalam mangkuknya dalam dua kali teguk. “Ini enak,” komentarnya.

“Tuan Choi, kausadar apa yang terjadi semalam bisa membuat keluargamu khawatir ‘kan?” aku meninggikan volume suaraku karena Minho mengalihkan topik. Tapi alih-alih memandangku, ia malah fokus pada ponselnya yang kutinggalkan di atas meja nakas dekat ranjang.

“Apa salah satu dari mereka yang kausebut keluargaku menelepon ke sana?” tanyanya.

“Tidak, tapi—“

“Nah, mereka tidak mencemaskanku.” Minho menghempaskan selimutnya perlahan, kemudian duduk di sisi ranjang, berhadap-hadapan denganku. “Sekarang ceritakan, kenapa malah kau yang begitu khawatir?”

Dia menatap di sisi yang tepat. Mata selalu menunjukkan kebenaran. Aku tidak punya keahlian khusus untuk berdusta, tapi aku tahu bagaimana mengalihkan topik.

“Bagaimana dengan Lauren? Dia—“

“Yah, sepertinya aku memang harus pulang.” Minho memotong kalimatku, kini ia sedang bersusah-susah berdiri. Kali ketika dia limbung, aku menangkap tubuhnya, namun bobot pria bukanlah tandingan lengan kurusku. Kami terjatuh ke belakang, berjejalan di atas kasurku.

Gelora aneh merayapi jiwaku saat kudapati tubuh Minho berada di atasku. Kupikir dentaman tidak karuan yang kudengar adalah teknik kerja jantungku, tapi tidak, rasanya ada dua jantung yang berdetak tak seirama. Aku masih menghirup bau alkohol dari tubuh Minho, tapi entah kenapa bukan itu yang utama di sini. Kami berpandangan, bertahan dalam posisi demikian selama sepersekian detik, sebelum akhirnya bibirnya mendarat di bibirku.

Dua detik pertama aku ingin seperti ini selamanya. Aku merasa utuh dan terlindungi. Jiwaku hangat dan bunga-bunga seolah bermekaran di berbagai ladang di dalamnya. Namun detik ketiga, aku merasa seolah telah dijebloskan ke dasar jurang gelap. Aku memberontak ingin keluar, tapi aku malah semakin terperosok ke dalamnya yang tanpa dasar.

PLAK!

Bagai sebuah opera sabun, kejadian itu kualami sendiri. Aku menampar Minho. Kurasa cukup kencang hingga ia berhenti dan memberi jarak lebar pada kami. Aku tertegun di atas kasur, memandangi telapak tanganku yang kemerahan. Sementara Minho di dekat dinding, entah apa yang dia lakukan.

“Maaf, tapi kurasa kau melewati batasanmu, Tuan Choi.” Kataku, berupaya tegas, tapi aku malah menangis. Diriku berupaya keras agar isakkan demi isakkannya tak terlalu terdengar, alih-alih sebaliknya terjadi. Aku memeluk lenganku, perlahan menekuk lutut dan bergulung bagai anak kecil yang merengek di atas kasur.

Tapi tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangku.

“Maaf,” katanya lembut. Kudapati sosok Minho di sana, memelukku dari belakang dengan segenap perlindungan yang bisa dia miliki. Aku ingin menamparnya lagi, tapi aku tak memiliki alasan kuat untuk melakukannya untuk kali kedua. Aku adalah seorang gadis yang akan menikah besok, dan sekarang yang kulakukan adalah hal-hal mengerikan seperti ini.

Entah apa yang kupikirkan.

Minho juga nampaknya tak peduli soal itu. Ia terus membungkus tubuhku dengan lengan kekarnya, menyelimutiku dengan perasaan hangat dan nostalgia-nostalgia menyenangkan.

“Aku tahu kau masih merindukanku, Yuri.”

Aku tercekat. Seingatku, setidaknya sampai beberapa menit yang lalu Minho masih memanggilku “Nona Kwon”.

“Tuan Choi, maaf tapi aku—“ aku berusaha lepas dari kungkungannya, tapi Minho tak bergeming.

“Apa kau benar-benar tak mengingatku?” katanya. Aku semakin tercekat. Saat Minho melonggarkan kedua tangannya, aku berbalik, menghadirkan wajah kagetku tepat di depan batang hidungnya.

“Tuan Choi, kau tidak…”

“Minho,” katanya. “Kau terbiasa memanggilku Minho. Tidakkah kauingat?”

.

.

Setelah pertemuanku dengan Minho pagi ini aku menjadi semakin gelisah dan ragu akan keputusanku untuk menikah. Apalagi setelah tahu bahwa Minho sama sekali tidak melupakanku, meski ia mengatakannya seperti sebuah teka-teki. Yah, tak semestinya aku memikirkannya di saat-saat terakhirku sebagai seorang lajang, namun di sisi lain, suaranya yang memanggil namaku tak bisa kuenyahkan begitu saja.

Tenor itu menggaung-gaung di dalam telinga, memintaku untuk terus memikirkannya.

“Kau oke, Yuri?” Donghae di sebelahku sekarang, ia menyetir dengan hati-hati. Perhatiannya tercurah secara natural begitu mendengar bahwa aku mengundurkan waktu “jalan-jalan” hari ini karena tidak enak badan—yang mana adalah dusta. Ia sangat cermat untuk menjagaku, dan kuhormati pria-pria seperti dia.

“Ya, aku baik-baik saja. Apa masih jauh? Aku lupa di mana butiknya.”

“Di ujung jalan ini. Kalau kau merasa tidak enak badan, kita bisa kembali. Lagipula kita di sini hanya untuk memastikan gaunnya sudah tepat. Segalanya sudah diurus oleh ibumu, jadi—“

“Tidak. Kita sudah jauh-jauh ke sini. Aku harus memastikan tubuhku masih muat di dalam gaunnya.”

Donghae tersenyum dan menjawat lenganku. Aku ingin menariknya, hanya saja tak lagi memiliki kuasa atasnya. Seperti sebuah bahtera kecil, aku terombang-ambing di antara dua pulau, entah di mana aku akan mendarat.

.

.

Nasib buruk selalu menimpaku.

Butik yang dimaksudkan Donghae berada bersebelahan dengan sebuah toko es krim. Yah, sekilas tidak ada masalah sih, sampai akhirnya aku mendengar seorang gadis mengetuk-ngetuk jendela toko es krim saat aku melintas di dekatnya.

“Oh itu Lauren dan ayahnya, ayo kuperkenalkan!” Donghae menarik lenganku dengan terburu-buru. Kami bahkan sama sekali belum menuntaskan apa yang kami rencanakan sebelumnya, alih-alih duduk bersama Minho dan Lauren di toko es krim. Donghae seperti seorang bocah polos, seorang kameo dalam drama yang tak tahu apa-apa. Aku menghormatinya, jadi aku ikut berakting juga.

“Halo,” sapaku ramah pada Minho. Lauren di sebelahnya, menawarkan es krim cokelat padaku. Aku mencubit pipinya kemudian mengangkatnya dari sana. “Kau mau cokelat lagi? Mau bibi belikan?” tanyaku.

Anggukan Lauren adalah kabar baiknya. Aku bergegas ke konter utama dengan Lauren yang kugendong di sisiku. Sisa-sisa noda cokelat dari bibirnya menempel lekat ke kemeja yang kukenakan, namun tak mencolok, karena aku memakai warna gelap hari ini.

“Aku mau yang lebih besar,” katanya merengek. Aku menyetujuinya, kami bisa berbagi. “Terima kasih, Bibi,” suara manja yang dibuatnya membuatku gemas. Aku mencubit pipinya dan tertawa bersama sebelum akhirnya kembali lagi ke meja kami semula.

Minho dan Donghae memandangku serentak, entah apa yang baru mereka bicarakan.

“Nah, ini dia calon istriku, hebat tidak?” Donghae tertawa setelah menyintung lengan Minho di atas meja. Kudapati ia memandangiku sekilas dan bergegas menyeruput minuman cokelatnya. Rasanya sangat tidak nyaman, jadi aku hanya bermain dengan Lauren sambil sesekali menjawab ocehan Donghae. Sungguh deh, Donghae adalah pria polos yang tak tahu apa pun. Kalau hal-hal buruk terjadi pada pernikahan kami, sepertinya aku tak bisa meninggalkannya. Dia terlalu baik untuk disakiti. Kalau aku, aku terlalu sering untuk tersakiti. Jadi secara kebetulan kami cocok.

Minho? Minho adalah si Berengsek. Penghancur hati setiap wanita, pencuri kebahagiaan. Dan aku sudah terlanjur berbelok tajam, menghindari masa lalu, terutama si Berengsek yang meninggalkanku.

“Ah menyenangkan, suatu saat aku juga akan memiliki Lauren-ku sendiri,” ujar Donghae asal. Aku tersipu malu.

“Kalian pasangan yang serasi,” Minho berkomentar. Dari sudut mataku, aku bisa melihat ia sedikit gugup, kurasa ia tak benar-benar mengatakannya sepenuh hati. “Di mana kau bertemu dengan Nona Kwon, Donghae?”

“Yah,” ia menatapku. “Di taman, dipertemukan oleh kecelakaan kecil Lauren. Tapi tidak juga sih, sebenarnya kami dijodohkan.”

Aku tahu jawaban tersebut tidak memuaskan Minho, dan aku tahu benar ia bukan tipe orang yang akan menyerah untuk mengorek sesuatu sampai benar-benar jelas. Minho adalah pria menyeramkan yang membuatmu bertekuk lutut dan kehabisan kata-kata sekali kau bicara. Dan dia akan terus mendapatkan tujuannya dari Donghae dengan cara yang sama, dia akan mendapatkan apa pun yang ingin dicarinya dalam konversasi ini.

“Dijodohkan? Kalian tak saling mengenal?” katanya.

“Ya. Kurasa. Tapi itu tidak penting, kami akan mulai mengenal setelah menikah.” Donghae melirik ke arahku. Lagi-lagi sebagai penghormatan, aku hanya mengulas senyum singkat sembari terus menyibukkan diri dengan mengasuh Lauren di pangkuanku. Untuk sejemang, aku memikirkan kondisi kesehatan Minho, lantas pikiran tersebut musnah begitu saja kala ia bertanya, “Apa kau mencintainya, Donghae?”

Ada runtuhan kecil dalam jiwa yang menimbunku terlalu dalam. Minho sudah keterlaluan.

“Tentu!” seruku lantang. Aku menggenggam lengannya begitu kuat, sehingga Donghae sontak menoleh ke arahku. Lauren nampak ketakutan dan ia beringsut mendekati ayahnya kembali. “Kami saling mencintai.”

Aku tidak suka diliputi perasaan mengancam seperti ini, seolah Minho sedang menguji kesabaran dan kejujuranku. Aku tidak bisa mundur, tidak dengan tenggat waktu pernikahan yang sangat sempit. Dia datang di saat yang salah, dan itu bukan merupakan kesalahanku. Sudah cukup ia meninggalkanku dahulu, menyia-nyiakan dan menyakitiku. Kini, ia tak lagi dapat bermain dengan perasaanku.

Aku harus membuktikan padanya bahwa aku tak lagi mencintainya. Tidak perlu lagi ada yang sakit atau disakiti dalam permainan cinta yang diciptakan Choi Minho.

“Aku tak pernah merasakan cinta sebesar ini sebelumnya. Aku mencintai Donghae.”

Permainan sudah berakhir, tapi aku tak tahu siapa yang harus tertawa. Aku atau Minho.

.

.

“Kau oke?”

“Aku merasa mual. Bisa kulepaskan ini sekarang?”

Aku tak enak hati pada Donghae, tapi aku benar-benar merasa kurang sehat sekarang. Aku tak bisa berkonsentrasi pada gaunku, dan membiarkan Donghae menyetujui apa pun. Pernikahan kami memang dihelat lebih cepat mengingat ibu dan ayahku akan pergi lagi berbisnis entah ke belahan dunia mana. Donghae juga tidak suka menunda-nunda sesuatu, dan kurasa kami telah sama-sama sepakat untuk menikah besok.

Hanya saja, segalanya menghablur tak karuan hari ini. Aku diserang perasaan takut. Sorot mata menyedihkan nan kosong dari Minho terus saja menggangguku. Kupikir ia sudah bahagia, menjemput mimpinya menjadi seseorang yang sukses dan sebagainya, tapi kala kulihat lagi beberapa saat yang lalu, latar kesepian itu masih berada di sana, bernaung tenteram di bening cokelat matanya.

Minho masih kesepian. Minho tidak bahagia.

Lalu kenapa?

Bukankah sudah kukatakan permainannya sudah berakhir? Aku tidak ingin berada dalam kenangan itu, tidak untuk dua kali. Bukankah aku sudah belok tajam ke jalan yang lain? Aku tidak ingin berada di trek itu sekali lagi.

Lalu kenapa?

Darimana asalnya kegundahan ini?

Ouch, itu sakit.” Aku melihat genangan darah di telapak kakiku. Rupanya ada jarum kecil di sana yang terinjak. Para pegawai butik buru-buru meminta maaf padaku, resah membawa berbagai peralatan P3K sembari terus memohon agar aku tak melaporkan ini pada atasannya. “Berikan plesternya padaku.” Aku memerintahkan salah seorang wanita muda agar memberikan plester lukanya. Dia begitu gemetaran sehingga benda itu tak lantas menutup luka di telapak kakiku.

“Maafkan aku, Nona Kwon,” ujarnya ketakutan.

“Siapa namamu?”

Ia melirik ke salah satu temannya di ujung tirai, kemudian menunduk pasrah padaku. “Jung Hani. Kumohon, jangan beritahukan ini pada Nyonya. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Aku susah payah menghidupi keluargaku, kumohon, Nona—“

“Tidak apa, Nona Jung. Aku tidak akan melakukan apa-apa.” Aku berusaha menenangkannya. Dia teramat ketakutan. Mungkin ia memiliki bos yang sangat galak atau apa. “Terima kasih plesternya,” tutupku. Wajah Hani nampak lega, ia berterima kasih berulang kali padaku. Aku masih berada di ruang ganti, menukar gaun pengantinku dengan busana yang kukenakan semula. Hani berdiri di balik bilik kayu, kadang menawariku bantuan untuk mengambilkan ini dan itu, yang kukira merupakan bentuk ucapan terima kasihnya.

“Kau baru bekerja di sini, Nona Jung?” kataku seraya memakai kembali jinsku.

“A—aku sudah di sini sebulan,” katanya dengan gugup. Dari balik bilik pun aku bisa membayangkan wajah polosnya yang takut-takut dengan suaraku.

“Tidak usah gugup. Entah gadis-gadis kaya seperti apa yang kautemui di sini, aku tak memiliki sedikit pun kemiripan dengan mereka. Tidak usah cemas aku akan mengadukan macam-macam pada atasanmu. Kenal pun tidak.”

“Eh, aku tidak mengatakan demikian, Nona Kwon, maaf kalau kau tersinggung. Aku tidak terbiasa dengan orang asing.”

Aku membuka tirai yang menutup bilikku setelah selesai mengenakan seluruh pakaianku dengan lengkap. Hani menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata denganku. “Orang asing kadang-kadang bisa jadi teman ngobrol yang baik daripada sahabat yang kaukenal lama, tahu.”

Aku tersenyum padanya, menunjukkan keramahtamahanku. Hatiku memang hancur di dalamnya, tapi gadis polos ini tidak harus melihatnya. Aku bisa berakting, seolah aku bagian dari dunia yang baik-baik saja.

“Terima kasih,” katanya padaku. “Omong-omong pacarmu sudah menunggu di ruang depan.”

“Biarkan saja, suruh tunggu sebentar lagi. Bilang saja aku sedang tersangkut gaun atau semacamnya.”

Hani tertawa lagi. Aku senang membuat orang lain tertawa.

“Pacarmu tampan, kalau seandainya aku adalah dirimu, Nona Kwon, aku sih ingin cepat-cepat ke sana.”

“Aku tahu, tapi kalau aku ke sana sekarang, duniaku mungkin akan berubah cepat.”

“Ya?”

“Oh, tidak, apa yang kubicarakan,” aku mencubit diriku sendiri setelah tanpa sengaja menyuarakan isi pikiranku pada orang yang sama sekali tidak kukenal.

“Boleh aku berkata sesuatu sebagai orang asing?” Hani menarik atensiku dengan senyuman dan sapaan ramahnya. “Kau bodoh kalau melepaskan pria seperti dia.”

Aku mengangguk setuju, tapi hatiku dirundung pilu. Kuraih tangan Hani dan menepuk-nepuknya penuh kehangatan, seolah kami telah mengenal jauh lebih lama dari dua menit saja. Hani menyambutku dengan baik, ia tertawa dan kembali bicara.

“Tapi sebagai orang asing juga, aku menyarankan kau mendengarkan hatimu. Pasti ada yang berteriak-teriak ‘kan di sana?”

.

.

“Yuri?”

“Ya?”

Aku dan Donghae berdiri di depan pintu apartemenku, melakukan konversasi singkat.

Kami berpandangan selama beberapa detik sebelum dia meraih tubuhku dan memeluknya erat. “Aku akan merindukanmu sampai besok malam,” katanya. Ia memelukku sebentar, tapi rasanya lama sekali. Aku sudah lama tak mengenal pria selain Jiyong dan Minho, jadi perhatian Donghae agak membuatku kaget.

“Aku sangat gugup,” katanya lagi.

Aku membalas, “Aku juga.”

“Kita tidak akan bertemu seharian sampai pernikahan, kau keberatan?”

“Tidak, itu tak masalah.”

“Aku benar-benar akan mati merindukanmu,” ujarnya. Ia melepaskan pelukannya dan mendaratkan satu lagi kecupan manis di dahiku. “Sementara ini aku akan tidur di rumah keluargaku. Kau tak apa di apartemenmu sendiri? Atau kalau kau berubah pikiran, aku bisa mengantarmu ke rumahmu…”

Aku memotongnya. “Tidak,” hanya membayangkan diriku berada di rumah itu saja sudah membuatku bergidik ngeri. “Tidak usah. Aku senang sendirian di sini kok.”

Ia menerawang jauh ke dalam mataku, “Baiklah,” katanya. Ia memberiku satu kecupan lagi di pipi, dan sosoknya kemudian lenyap dari pandanganku setelah ucapan selamat malam berakhir. Aku memandangi wajahnya yang menghilang ditelan pintu lift, kemudian menghela sebuah napas berat.

Aku baru saja akan menekan tombol-tombol kombinasi kunci unit apartemenku saat menyadari kehadiran Minho tak jauh dari sana. Kelihatannya, ia baru saja pulang dengan Lauren yang tertidur di bahunya. Pria itu menatapku sekilas sembari terus berjalan ke unitnya.

“Menjemput Lauren dari rumah neneknya?” tanyaku basa-basi.

“Ya. Kau baru pulang?”

“Ya.”

Lalu kami sama-sama membiarkan keheningan merayap lambat. Aku begitu bodoh, tak berusaha membuka pintuku lebih cepat, seolah aku memang menantikan konversasi ini. Padahal terlihat begitu sia-sia dan menyedihkan.

“Kalau begitu, selamat malam,” kataku buru-buru sebelum ia menyadari aku sedang gulana.

Minho tidak setuju, ia menahanku. “Tunggu, bisakah kau membantuku?”

Ketika aku menunjukkan ekspresi mengapa, Minho memperlihatkan tas-tas dan kantung belanja di dekat pot bunga, tak jauh dari lift. Lantas kutahu apa maksudnya.

Aku hendak menolak, namun gaung suara lemah Jung Hani berbunyi dalam pikiranku, terus-menerus mengulang kalimat yang sama berulang kali, dengarkan hatimu, pasti ada yang berteriak di dalam sana ‘kan?

Aku menyerah.

Setelah menyisihkan waktu untuk berpikir, aku membalas Minho dengan tatapan teramah yang kumiliki.

“Biar kugendong Lauren, kau urus sisanya.”

.

.

to be continued.


Mohon RCL ya🙂

nyun.

34 thoughts on “SHOULD WE PLAY A GAME [5 of 6]

  1. Park Sung Young berkata:

    aaak kak. aku sedih bacanya :(( aku gamau kaya gini😦 aku yakin, minho masih pria baik baik😦 dia ga brengsek😦 aku berharap mereka bersatu kembali😦 ditunggu besok kak endingnya hehehehe semangat!!!

  2. Lulu Kwon Eun G berkata:

    udah tbc aja… duh gk pengen berenti baca coba
    eh ada Hani ya:D Dongahe nya bae bnget sih, dia jd beneran cinta sama Yuri? tp hati Yuri gk bisa d boongin ya? oh Minyul kuh.. tp aq sdikit kecewa sm Minho sih dsini:/ *aw
    Sukaaa!!
    lanjut kak Nyun udah mau end aja cepet yhaa😀 huhu
    MANGATSE kakak♥♥

  3. vialee945 berkata:

    aihhh yuri ragu lagi😦
    ishhh ahhhh ahhhh *galau*
    kalo yuri milih minho dari pada dongek .. kasian atuh dongek nya. dongek baik loh, :’)
    tapi klo yulhae jadi nikah. ya kasian juga minho nya.. hahaha ribet ah cinta segitiga itu .. jadi keinget moment minyulhae hihihih.. moment smtown di taiwan itu yg paling ngena.. hahaha
    ditunggu kelanjutannya kak nyun ❤

  4. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    kenapa aku ikut galau ya bacanyaaaaa..perasaan resah gelisah yuri tersampaikan sempurna banget disini, aku bingung sumpah kalo jadi yuri, kak nyun ff ini selalu ditunggu deh , chapter depan ending kah? okedeh semangat kak nulisnya^^

  5. mellinw berkata:

    Jung hani itu hantu ya kaaaakk
    Aaaaaakkkkkk kurang looohh huhu

    Aku, gatau kenapa menyayangkan sosok donghae disini pasti dia yg tersakiti nanti😥
    Yuri msh sayang minho gitu, Minho juga hiks😥
    Dan manalagi minho bener bener ngaku kenal yuri saat yuri jelas akan menikah, huhu

    Kaaaakk kalau nanti kisahnya yuri sama minho, buatin ff cast yuri donghae dooong😥
    #salahfokus
    Hahahaa
    Ditunggu kelanjutannya kak..

  6. chy23 berkata:

    Hani kau benar sekaleeee! Ada yang berteriak Minho di hati mbak Yul tuh😄
    Ayolah kapan bersatunya Minyulku qaqa T.T udah greget tapi Donghae jg baik bangeeet ;( kan kan bikin galau ;(
    Lauren! Paksa papamu lah biar Mbak Yul jadi mama kamu😄 aku setuju kok #plak
    Huaaa kakNyuun sangat memuaskan! FFNYA KEREN A6 B8😄 part akhir bsk kan? gasabar niiih hehe semangat KakNyuuun!!!! ^^

  7. gita saraswati berkata:

    Argggggh minhoo
    Kau menghancurkan segalanyaaa
    Klu jadi yuri aku milih minho ajaaa
    Tapi kasihan donghaenyaa
    Ya ampunnn -.-
    Lanjut kaknyunnn
    Fighting!

  8. Ovrianti Nurhadi berkata:

    ini nih yang buat aku ga suka cinta segitiga -tapi aku suka baca cerita tema cinta segitiga:v – ga tau harus milih yang mana. pilih Donghae-Yul entar kasihan Minhonya. Pilih Minho-Yuri entar kasihan juga Donghaenya. ahh bingung~ yaudah deh kak terserah kakak, ditunggu lanjutannya esok hari. Fighting^^

  9. Cynthia berkata:

    Ottokeh???
    Aq kok semakin g rela klo yuleon sm minho oppa???
    Kasian bgt donghae oppa pdhl dia udah sayang bgt sm yuleon😦
    Tp gtw deh.. klo memang mrk bs bahagia ya udah deh..

  10. nokaav3896 berkata:

    Aduh kak nyuun galau amat nih aku wkwk Yuriiiiii, mantapkan hatimu nak xD Ini aku curiga sih sebenernya (?) Tokoh antagonisnya siapa wkwk Semangat kak nyun :3 kunanti endingnyaa😀

  11. tha_elfsone berkata:

    Sedih nyun :”
    Kasian donghae tapi kasian juga ama minyul..huaaa bingung” -_-
    Jujur ini comment aq yg k dua d part ini soalnya pas aq cek comment aq g k post…😦

  12. Tarhyulk berkata:

    ”Aku tak pernah merasakan cinta sebesar ini sebelumnya. Aku mencintai Donghae.”
    Omaygott . In . Yull in prsaan ap . Ap loh hnya ingin mmbuat minho cemburu .
    Unnie bnar .. Minho ksepian .
    Tpi ap tdak trlalu jahat jika krna minho yul ninggalin haeppa .
    Haeppa bgitu baik . Ahh . Jdi galau . Pngenx Minyul tpi aq ksihan am haeppa .
    Appun it semua kputusan ad d tangan author . Hehehe.

    Izin k part brikutx yah unnie ^^

  13. liliknisa berkata:

    Yuri bimbang nih mau milih mana. Meski hati masih ada buat minho.
    Kak nyun sumpah keren. Langsung ke part selanjutnya ^^

  14. Dhean Kwon berkata:

    yul agk bingung antara donghae ma minho…
    tpi ksian jg klo seandainx yul ninggalin donghae..
    q bingung mo pilih yulhae or minyul.. so q menyukai kduanx..

  15. zcheery berkata:

    aku kalo jadi yuri udah menghilang ajalah😂 rumit banget masalah nyaaa.. yuri juga siiihh nggak move on move on dudududuuuu sudah terlalu lama sendiri nih di sayangin sama donghae dia nya kaget😂 yha bepat aja hae, udah ada jess yg menunggumu😂

  16. Stella Kim berkata:

    Wahhh yuri mau pilih minho atau donghae? Kalo minyul donghae kasian bangrttt tapi kalo yulhae cinta yuriminho waktu kecil siasia….
    😕😕😕
    Aku harus ke part 6 untuk mencari tau siapa pilihan yuri! Annyeongg

  17. sevy berkata:

    halo… kak nyun…. huwa… jetinggalan banyak…
    gara gara paketan habis jadi gak bisa main ke sini.
    ini pake id dulu ya kak nyun yg ‘sevy’ soalnya pake hp ayah. ntar kalo comment nya pake id ‘imaniarsevy’ jangan kaget ya.. hehe.. itu sevy juga kok. tapi di hp pribadi…
    keren kan nyun…
    mau lanjut baca yg part 6 sama epikoug nya…
    keep writing…

  18. Angella Yurisistable berkata:

    Apa hubungan Yuri, Hani, Donghae dan Minho?
    Minyul? Yulhae?
    Meneruskan bengkokan itu atau berpatah balik ke garis mula?
    Arggggw…Kalau berada di tmpt Yuri pasti sulit memilih antara orang yang dia cintai tapi pernah menyakitinya atau orang yang tidak dicintai tapi bakal suaminya?
    Next chapter….

  19. Angella Yurisistable berkata:

    Aduhhh…Saat Yuri memilih untuk mngikut bengokakan yg seperti di katakan Donghae,di garis mula ada Minho yg juga mencintainya.Apa yg perlu dilakukan?
    Minyul?Yulhae?

  20. Ersih marlina berkata:

    Minyul momentnya dkitt, kkk
    yuri, benar kata hani, dengarkan kata hatimu, haha yang berteriak pasti namanya minho

    pernkhan besok, yuri masih labil
    ayolah, aku yg deg2kan inih ahoho

    lnjut bca, hwaiting ka nyum

  21. yayarahmatika berkata:

    Jangan bilang kalau nanti pas pernikahan yuri sama donghae, mempelai pria nya di ganti sama minho karna donghae tau semuanya. Yahh kalo memang gitu cerita nya kasian banget donghaenya, padahal dia udah percaya kali waktu yuri ngebalas pertanyaan minho kalo yuri benar benar mencintainya. Duhhh tapi belom ngeri alasan minho pura pura lupa sama yuri waktu itu

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s