SHOULD WE PLAY A GAME [6 of 6]

SWPGa story by bapkyr (@michanjee)

SHOULD WE PLAY A GAME?

| 6 of 6 |

better read the 5th chapter first

“To hurt or to be hurt, your choice.”


Berbeda dengan kamarku yang nampak kosong, kamar Minho dipenuhi dengan berbagai macam peralatan canggih dan furnitur elok. Katanya, Lauren tidak pernah bisa tidur sendiri, jadi selama ini kamarnya adalah kamar Minho juga. Aku dibuat kagum akan warna putih gading yang dipilihnya. Ruangan dan pajangannya terasa menyatu, hidup dan terkesan etnis. Ada aroma serpihan kayu yang menurutku berasal dari ukiran kayu yang kududuki di ruang tengah.

Di depanku meja bulat menyapa, di bawah dua cangkir cokelat panas yang disajikan pemiliknya.

“Hari yang berat.” Minho duduk di sebuah kursi kayu tepat di hadapanku. Praktis, kami jadi bisa melihat wajah masing-masing yang hanya dipisahkan oleh meja bulat.

“Apa kau sudah baikkan?” tanyaku sembari memutar-mutar gelas di tanganku.

“Berkat kau dan Lauren, lumayan. Bagaimana persiapan pernikahanmu?”

Aku tahu cepat atau lambat dia akan menanyakannya. Aku sudah memiliki persiapan mental untuk itu. “Berat, tapi menyenangkan.”

Kami disibukkan kembali dengan menyesap cokelat hangat dan menikmati keheningan malam. Desain di dalam apartemen Minho sangat mengintimidasi, membuatku bisa kehilangan kestabilan emosiku. Foto-foto yang dipajang, lukisan, semua aroma aneh ini, mengingatkanku akan kebiasaannya bertahun-tahun lalu, saat aku sering bermain dan menginap di rumahnya.

Lantas aku tersadar, apa yang ia coba susun di sini, adalah apa yang pernah ia tunjukkan padaku di masa lalu. Ruangan demi ruangannya dibuat sama persis, bahkan soal aroma. Lalu sadarlah aku bahwa Minho memang belum berubah. Ia masih pria kesepian yang sama.

“Bagaimana pernikahanmu?” tanyaku sambil meletakkan gelas di atas meja. “Jangan salah paham, aku bertanya sebagai referensi karena kau telah mencicipinya sebelum aku.”

Minho mengangkat salah satu alisnya, “Aku tidak seberuntung kau, aku menemukan pasangan yang mengerikan.”

“Ibu Lauren?”

Aku bertanya karena aku penasaran. Beberapa hari lalu, aku mendengar ocehan Lauren soal ibunya yang memukul dan meneriakinya. Barangkali, itulah yang menyebabkan Minho bercerai. Namun, kalau kubaca berita, istri Minho adalah seorang pengusaha kaya asli Korea Selatan. Rasanya tidak mungkin dia memiliki darah blasteran dan memiliki anak kebarat-baratan seperti Lauren, jadi, aku penasaran soal identitas sang gadis. Mungkinkah Minho selingkuh dengan gadis lain?

“Tidak. Sejujurnya, sampai saat ini aku tidak tahu siapa ibunya. Lauren dibuang di saluran pembuangan sejak ia dilahirkan. Aku mengangkatnya sebagai anak. Tapi istriku bilang itu akan berbahaya mengingat reputasinya, jadi kami mulai bertengkar dan ia melampiaskan amarahnya pada Lauren ketika aku tak ada. Sampai akhirnya, Lauren pernah jatuh pingsan setelah dipukuli istriku, jadi aku menceraikannya.”

“Dan kau tidak memberitahu publik tentang apa yang sebenarnya terjadi?”

Minho mengangguk.

“Pernikahanmu memang mengerikan.”

“Tapi kau bertemu dengan Lee Donghae. Aku sudah kenal lama dengannya dan ia sangat baik. Mungkin kau akan mengalami gangguan pendengaran sedikit karena dia tipe pria yang tak bisa berhenti bicara,” katanya sembari tertawa.

“Yah, kita lihat saja,” komentarku.

“Omong-omong,” Minho meletakkan gelas cokelatnya tak jauh dari gelasku. Ia mengusap kedua tangannya dengan kikuk. “Aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku juga tidak tahu apa yang kubicarakan, mungkin efek samping obat, entahlah.”

“Sudah kulupakan,” sahutku. “Sekarang aku bisa cepat melupakan sesuatu.”

“Syukurlah.”

Kami berusaha menghindari kontak mata secara langsung. Bahaya, Minho bisa tahu kalau aku baru saja berdusta. Aku pengingat yang baik. Aku bahkan ingat kalau Minho belum menepati janjinya untuk kembali menjemputku.

“Senang berbicara denganmu lagi, Yuri. Tadinya aku sempat terpikir kita tak akan pernah bertemu kembali. Hari-hari yang kulewati tanpamu, benar-benar neraka.”

Aku melirik ke iris cokelat Minho yang tengah mengembara. Aku tidak salah ketika mengatakan dia memiliki sorot mata yang sama persis seperti bocah bertahun-tahun lalu.

“Kau masih sama ya? Kau masih anak angkuh yang gemar menyendiri,” komentarku.

Minho tertawa. “Aku ketahuan ya?”

“Matamu tidak bisa berdusta.”

Kami terpaku, memandangi wajah masing-masing. “Wajahmu juga. Kau tidak bahagia ‘kan?”

Aku tersenyum sarkastik seraya meneguk cokelat panasku. “Kautahu siapa biang keladinya.”

Lantas jam-jam berikutnya, kami berbicara seperti seorang teman, seperti tidak ada bekas masa lalu yang mengganggu di belakang kami. Ia menertawakan kehidupan palsu yang kuceritakan, dan aku menertawakan omong kosong soal kesuksesannya. Kami memahami banyak hal sekaligus. Betapa kesedihan, kesepian, kehilangan dan kerinduan tidak akan mudah ditutupi oleh sebuah tawa dan paras elok. Betapa pun kami berusaha bahagia, sebanyak itu juga sakit yang akan didapatkan.

Namun,

Minho sudah jauh berkendara melewatiku, dan aku baru saja mengambil belokan tajam, kami tidak akan pernah bertemu. Seperti dua garis paralel yang melesat sejajar, dalam tujuan konstan yang sama. Jika bukan kecelakaan yang membuat garis itu melewati satu sama lain, maka tak akan ada yang akan menyatukan kami.

Minho tak mengatakan apa pun soal perasaannya padaku, begitu pun aku. Tapi kami sama-sama tahu, diam-diam kami menyimpan secuil cinta itu untuk dinikmati sendiri, merasakan lukanya perlahan membusuk di dalam jiwa.

“Sudah larut, aku tidak mau terlambat untuk pernikahanku.” Aku membereskan gelas-gelas cokelat kami dan mencucinya. Minho membantu dengan mengelapnya dan menempatkannya kembali ke dalam rak-rak kecilnya.

“Biar aku mengantarmu sampai pintu,” katanya. Aku tak kuasa menolaknya. Begitu sampai di pintu kuucapkan selamat malam, namun Minho malah menarik tubuhku ke pelukannya. “Sebentar saja, untuk kali terakhir,” bisiknya.

Aku membiarkan malamku ditutup oleh sentuhan Minho, dan aku tak punya kuasa untuk menolaknya. Aku juga menginginkan ini, aku ingin sebuah waktu diputar kembali, di mana kami tak harus dihadapkan pada keputusan untuk sakit atau menyakiti. Aku hanya berharap kami dapat bersama seperti dahulu, memandang ufuk dan senja berulang kali.

Berharap hari ini tidak berakhir begitu cepat, kupejamkan mataku. Tak tahu apa, tapi aku memang bisa melihat sesosok pria memandangku di dekat lift, kemudian pergi dengan terburu-buru. Aku tak bicara apa pun pada Minho, tapi entah bagaimana aku tahu ia juga melihatnya, lebih jelas, sampai-sampai ia melepaskan pelukannya.

Apa pun itu, kurasa cukup buruk.

.

.

“Yuri!”

Jessica berlarian di koridor menyusulku dengan terseok-seok. Di belakangnya, datang berurutan adalah ibu, ayah dan calon mertuaku. Mereka berjejalan di lorong rumah sakit, kepayahan menyusulku yang sudah melesat terlebih dahulu di depan. Kupandangi kamar rawat satu per satu, kemudian menyocokkan apa yang ditulis di pintunya dengan rekaman data yang kudapat dari resepsionis.

Segera setelah menemukan kamar yang sesuai, aku menggeser pintunya dengan kasar, melesatkan diriku ke ranjang dan membuka tabir di sekitar ranjangnya dengan tergesa-gesa.

“Lee Donghae!” Aku memanggil namanya penuh kepanikan. Sosok pria itu berlindung dengan selimut yang ditarik sebatas leher. Perlahan, ia menarik tangannya keluar, memberiku sebuah lambaian tangan. “Halo,” katanya.

Energiku seperti terkuras habis. Tadi pagi, aku meninggalkan apartemenku dengan lampu menyala dan bergegas pergi ke sini setelah mendapatkan berita bahwa Donghae terlibat dalam kecelakaan mobil dini hari. Pihak rumah sakit menelepon orang tuanya, dan aku dikabari oleh Jessica Jung—entah bagaimana ia bisa tahu lebih dahulu. Mengingat semalam aku merasa melihat sosoknya berkeliaran di depan lift, rasa tanggung jawab dan rasa bersalah di dalam diriku berpadu. Aku menyalahkan diriku atas kecelakaan yang menimpanya sehingga aku dilanda kepanikan luar biasa.

Namun kejutannya, sesampainya di sini aku menemukan sesosok pria yang tersenyum di atas ranjang rumah sakit sembari melambai-lambaikan tangan seperti orang bodoh.

“Kau benar-benar berengsek, Lee Donghae!” bentakku. “Kau keterlaluan.”

“Hey, hey, tenanglah.” Aku memukulinya dengan pelan, namun selimutnya melorot, menampakkan tangannya yang dibebat perban, juga luka-luka kecil di sepanjang jemarinya.

“Kau betul-betul kecelakaan?” Aku bertanya tak percaya, mulanya kukira itu kelakar karena Donghae tak nampak menunjukkan rasa sakit.

“Memangnya aku sedang apa di sini? Liburan?”

“Seharusnya kaubilang! Aku jadi tak perlu memukulmu.”

Debat kami mungkin bisa tak berujung kalau saja keluarganya tak segera datang. Aku mundur perlahan, membiarkan sang ibu memeluk Donghae dan menasihatinya macam-macam.

“Apa dia tak apa-apa?” tanya ibuku. Aku hanya mengangguk kecil. “Pernikahan mungkin akan diundur,” tambahnya lagi. Serius deh, orang macam apa yang masih memikirkan pernikahan di saat-saat seperti ini. Ibuku memang semakin aneh saja.

“Yuri, Yuri,” Jessica berbisik memanggilku ke luar ruangan. “Kurasa kauingin melihat ini.” Gadis berisik itu menyerahkan ponselnya padaku, menunjukkan sebuah portal berita online yang sedang dilihatnya. Wajah Minho terpampang besar-besar di sana, ada foto Lauren kecil yang digendongnya saat kami makan es krim kemarin. Isi artikelnya kurang-lebih membahas bagaimana Minho bisa menyembunyikan seorang gadis kecil selama ini, lengkap dengan gosip kalau dia baru saja mengencani gadis-gadis di-pub asing—beserta bukti foto yang tidak begitu jelas.

“Nah, ternyata perceraiannya karena si Pria yang berengsek. Selama ini aku salah kira,” komentar Jessica. Gadis ini tak pernah bertemu dengan Minho sebelumnya, namun ia bisa jadi sama kesalnya dengan keluargaku ketika berita tentang Minho mencuat. Dia sangat menyayangkan masa mudaku yang habis hanya untuk meratapi pria itu.

Akibat dari dua berita buruk di saat yang kurang-lebih sama? Aku kelelahan.

Di satu sisi, aku ingin di sini, berada di samping Donghae untuk menebus kesalahanku karena telah berdusta padanya soal hatiku. Tapi separuh jiwaku ingin berada di samping Minho, menemaninya melewati masa-masa sulit.

“Ia akan menggelar konferensi pers siang ini!” pekik Jessica. “Aku harus menontonnya. Pukul berapa sekarang? Oh, dua jam lagi. Kau juga harus melihatnya nanti, Yuri.”

Jessica nampak bahagia dengan hancurnya Minho, seharusnya aku pun begitu, kalau saja kami tak pernah bertemu lagi. Dan lagi, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga artikel gosip tadi tidak berhasil memengaruhiku.

“Aku akan menjaga Donghae, kau saja.”

“Ah, iya. Nanti aku rekam ini untukmu.”

Aku melirik ke ruangan di dalam, perlahan orang-orang yang memenuhi spasi-spasi di sana sudah hengkang, termasuk kedua orang tuaku yang super sibuk itu. Aku menghabiskan beberapa menit waktu untuk berbincang-bincang dengan Jessica, sampai akhirnya calon ibu mertuaku keluar dari sana.

“Bisa kaujaga Donghae untukku, Yuri? Ada beberapa administrasi dengan korban kecelakaan lain yang harus kuselesaikan.”

Aku hendak bertanya “apakah ini kecelakaan beruntun?” tapi wanita tua dan suaminya itu sudah pergi, membelakangiku sembari berbincang-bincang kecil soal Donghae.

“Jess, aku akan ke dalam. Kau mau ikut, atau…”

“Aku lebih baik pulang dulu. Aku ingin menonton konferensi persnya. Sampaikan saja salamku pada Donghae, semoga lekas pulih dan bisa melanjutkan acara pernikahannya denganmu.”

Aku memeluk Jessica dan berbisik ucapan terima kasih di telinganya. Gadis itu pun pada akhirnya pergi, meninggalkanku di kursi tunggu lorong rumah sakit yang sunyi.

.

.

Donghae bersikeras menonton acara konferensi persnya setelah kuberi tahu kebenaran soal status Minho dan Lauren. Jadi mau tak mau, aku juga menontonnya. Ia mengatakan pada media apa yang sudah dikatakannya padaku tempo hari, maka kupastikan ia tidak berdusta. Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya di setiap pertanyaan pedas yang dilemparkan para wartawan pada Minho. Lantas, ia mematikan televisinya dengan jengkel.

“Para paparazzi itu memang kadang sangat buas,” dengusnya kesal.

“Tapi Minho pasti bisa mengatasi itu kok,” ujarku cuek. Donghae memandangku dengan picingan curiga. “Maksudku, dia ‘kan seorang ayah. Ayah adalah pahlawan, aku selalu percaya pepatah itu.”

“Haha, benar juga.” Donghae terus-terusan menyantap kacangnya selagi aku membereskan kulit-kulit kacang kering yang ia buang sembarangan. Sejak aku datang, ia memang sudah aneh seperti ini. Padahal, kemarin ia berulang kali mengatakan ia akan merindukanku. Tapi ia memperlakukanku seperti pembantu.

Jika ini ada kaitannya dengan sosok yang kulihat dan disinyalir sebagai Donghae semalam, maka sudah sepantasnya kami bicara.

“Aku ingin bicara agak serius denganmu.”

“Kau bawa soju?”

“Donghae!”

“Kalau bir?”

“Donghae!” aku memekik, begitu jengkel dengan tingkahnya yang mengabaikanku seperti tadi. “Biarkan aku bicara.”

Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, membiarkan aku kalut dalam senyap. Saat tawanya terpeta di wajahnya, kami sudah berpegangan tangan. Donghae yang memulainya. “Aku tahu apa yang akan kaubicarakan. Iya, aku di sana semalam. Iya, aku melihat semuanya.”

Aku merintih. Kini aku tahu mengapa ia mengabaikanku. Asumsiku pada akhirnya jadi kenyataan.

“Maafkan aku…”

“Tidak perlu,” Donghae menarik jari-jemariku, menyematkan sebuah cincin perak tepat di jari tengahku. “Aku lupa akan memberikan ini semalam, jadi aku kembali lagi ke apartemenmu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku tahu sebelum segalanya terlambat.”

Aku ingin menangis saat melihat benda itu berkilauan di jari-jariku. Air mataku pada akhirnya menyerah, meleleh dari wadahnya. Namun Donghae mengusapnya perlahan, melesapkan air itu dengan lubang-lubang kecil di pori-pori jemarinya. “Aku memberimu cincin, tapi kau malah menangis?”

“Donghae, aku—“

“Yah, aku tak mau mendengar apa pun darimu. Aku ingin marah padamu, untuk pertama dan terakhir kalinya, jadi jangan menangis.”

Aku memeluknya dengan segenap jiwaku. Sebagian berterima kasih akan pengertian dan sebagian lagi karena rasa bersalah yang memenuhi ruang gelap di dadaku. Aku bisa merasakan sakit, aku sudah sering merasakan sakit, jadi apa yang dirasakan Donghae mungkin tak jauh berbeda dengan perasaanku saat Minho pergi.

Donghae kerap mengatakan jangan menangis dan bilang ia benci padaku, tapi tubuhnya bergerak sebaliknya. Ia memelukku dengan erat, seolah ini adalah kali terakhir kami bisa sedekat ini. Aromanya tak lagi semaskulin biasanya, mungkin efek infus dan obat-obatan yang berada di sekeliling kami.

“Aku benci adegan seperti ini ketika muncul di drama-drama. Sekarang aku mengalaminya.” Aku menyeka air mataku, berpura-pura tertawa. Donghae pun tersenyum, tapi kurasa itu pura-pura juga.

“Jangan bicara denganku, idiot. Apa sudah kukatakan aku benci padamu?” katanya. Namun tangannya tak jua melepaskanku. “Sekarang apa yang akan kaulakukan? Kau hampir saja belok ke jalan yang salah, sekarang apa?”

Aku tertawa, namun air mataku masih berlinangan. “Tidak ada kesempatan. Aku akan menjalani kehidupan yang biasanya, berjalan di trek lurus.”

Donghae mengusap kepalaku sepersekian sekon sebelum mendaratkan pukulan menyakitkan di sana. “Bodoh,” umpatnya. “Kalau kau salah jalan kau harusnya putar arah.”

“Tidak ada jalan memutar, tidak ada U-turn. Aku tidak bisa kembali.”

Donghae menatapku. Aku benar-benar kacau, air mataku masih berlinangan. “Berikan ponselmu,” perintahnya. Tak jelas mengapa, tapi kuberikan apa yang dia pinta. Selanjutnya, kudengar ia tengah menelepon seseorang dengan suara yang dikeraskan, sehingga aku juga dapat mendengar keduanya bicara.

“Kemari kau, berengsek!”

Donghae menutup teleponnya tanpa membiarkan sosok pria di seberang sana menjawab. Meskipun amat sangat sebentar, tapi aku tahu siapa yang dia hubungi begitu melihat rekaman panggilan pada teleponku. Donghae baru saja menghubungi Minho.

Aku melotot padanya.

“Sudah kusediakan U-turn, sekarang kau yang akan beraksi. Siap untuk putar balik?”

.

.

Bagaimana Minho tahu Donghae ada di rumah sakit dan sebagainya, masih merupakan misteri bagiku. Dan ya, dia sudah hadir di ambang pintu. Kulitnya memutih dan ronanya memerah. Ia telah melewati hari yang berat dengan dihelatnya konferensi pers, dan kini ia datang terengah, hanya karena baru saja diumpat oleh Donghae.

Ia menatapku sekilas sebelum berjalan mendekat ke ranjang rawat Donghae. “Lee Donghae,” ujarnya samar. Aku tak menghapus air mataku, semata agar ia tahu aku juga baru saja melewati hari yang tak kalah berat. Tatapan Minho mungkin bisa berarti banyak, tapi bisa jadi kosong sama sekali. Ia membuat ekspresi bersalah yang dalam, bahkan ketika ia perlahan duduk di sebuah kursi samping ranjang rawat Donghae.

“Maafkan aku, aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku dan Yuri dulunya adalah teman dekat, dan…” Minho memandangiku, aku membuang iris cokelatku ke luar jendela kamar, di mana sosok Donghae sebenarnya sedang duduk menikmati semilir angin.

“Kurasa, aku mencintainya,” tutupnya. Ia melirik ke arahku, memandangku dari sudut matanya yang kemerahan. Aku memeluk diriku sendiri, berusaha tak meneteskan air mata di hadapannya. Pria kesepian itu memang sudah banyak berubah, tapi definisi bahagianya masih sama, dan ia masih belum menemukannya.

Kurasa aku juga tidak bahagia, sampai akhirnya Lee Donghae datang dan membimbingku untuk mencicipi apa yang sebenarnya hatiku inginkan. Dia bukan pria biasa, jelas sekali dia mungkin malaikat. Tapi, aku baru saja menyakiti hati malaikat itu demi pria iblis yang sudah lama kucintai. Aku terlalu takut mengakuinya, sampai-sampai aku gelap mata, menyama-nyamakan hidup ini sebagai permainan belaka.

Donghae mengatakan, ini bukan tentang sakit-menyakiti, tapi cinta-mencintai. Ia memaksaku untuk mengubah pandanganku dengan filosofi “lalu lintas” menggelikannya, dan entah mengapa itu berhasil. Dia telah membuat tikungan tajam untukku, tapi lantas menghapusnya, menggantinya dengan sebuah tikungan U yang tadinya mustahil kuciptakan.

Permainan sudah berakhir. Aku sudah menemukan halte yang kuinginkan.

“Choi Minho, begini, kurasa Donghae juga tahu aku mencintaimu.”

.

.

Kabar buruknya, aku dan Donghae mengalami hari-hari terberat di dalam keluarga kami masing-masing. Yah, aku tahu mereka telah mempersiapkan segala macam untuk pernikahanku. Sungguh mengejutkan ketika aku dan Donghae sepakat membatalkan ini. Mereka dilanda shock berkepanjangan hingga aku harus bisa jauh-jauh dari ayah dan ibu.

Tanpa kusadari, sudah sebulan lamanya sejak kejadian itu. Lee Donghae sudah keluar dari rumah sakit, dan ia memutuskan untuk mengejar kembali cita-citanya sebagai animator dan mulai belajar di Jepang. Jiyong dapat kabar baik, istrinya tengah mengandung janin—yang pada akhirnya mampu merekatkan kembali keluarga kami. Jessica Jung memutuskan untuk tidak lagi membenci Minho, dan dia selalu ada ketika kami butuh seseorang untuk mengantar-jemput Lauren. Gadis kecil itu cukup akrab dengannya.

Dan aku, yah, aku masih berada di apartemen 9012, seringnya memandang jenuh ke arah gazebo tanpa tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku. Namun ketika aku lelah, kini aku memiliki sebidang dada kekar untuk bersandar, seseorang yang bisa kuandalkan untuk menghabiskan sisa hidup sia-siaku bersama.

“Kapan kau akan menikahiku?”

“Tidakkah begini cukup.”

“Minho!”

“Baik, kauingin gaun seperti apa?”

“Putih terang! Tapi aku tidak suka yang berenda.”

“Bagaimana dengan Lauren?”

“Dia harus mengenakan pita putih, ah, aku ingin dia didandani seperti putri.”

Dan konversasi itu berlangsung seterusnya, menghabiskan senja dan ufuk bersama, seperti apa yang telah kami impikan. Kini aku tahu bahwa memenuhi satu impian kecil tidak gampang, kadang ada permainan-permainan Tuhan yang menghadang. Tapi di sisi lain aku juga tahu, bahwa aku tidak bisa berhenti. Aku tidak punya nyawa lebih untuk mati, tapi aku juga tidak ingin berhenti di tengah-tengah. Lantas ketika segalanya gelap, cobalah untuk membayangkan apa yang ada di akhir, dan seseorang akan menolongmu.

Aku telah menyelesaikan permainanku.

Haruskah kita lihat permainanmu?

.

.

fin?


Oh, engga bener-bener tamat juga sih, liat epilogue-nya ya. Bakal di-publish lusa. Ditunggu review/komentarnya.

Makasih,

nyun.

34 thoughts on “SHOULD WE PLAY A GAME [6 of 6]

  1. vialee945 berkata:

    ahhh finally :’)
    tuh kan selalu dongek yg ngalah :’) selama aku baca ff yuri yg dongek nya jadi org ketiga.. pasti dongek selalu ngalah dengan gentle :’)
    itu yg bikin aku jatuh cinta 😍
    di tunggu karya2 nya kak nyun selanjut nya ❤

  2. Park Sung Young berkata:

    Akhirnyaaa dipost juga!!! Hehe iya… donghae selalu mengalah :’) Kak Nyun tau gak? Ini sampe bikin air mata aku jatuh, pas yuri dipakein cincin wkwk trll menjiwai kali ya bacanya. Awalnya aku pengen bgt minho sama yuri bersatu. Tp memang ga cukup adil kalo donghae seorang diri. Kasian :’) hmmm. Ditunggu kaak epiloguenyaa!!! Semangat!!!

  3. Rania SonELF berkata:

    Kak Nyun mianhae aku baru sempat komen di part ini….!!

    Semua ff Kak Nyun ngga ada yg jelek smuax cetar membahana

  4. Gita saraswati berkata:

    Ya ampunn donghae baik banget U.U
    akhirnya minyul bersatu wkwk
    di tunggu ya lanjutannya kaknyun
    fighting kaknyun !

  5. Cynthia berkata:

    why???
    knp kok lusa???
    gak sabar bgt baca kelanjutan epiloguenya..
    ok.. chukkae minyul..
    donghae oppa sm aq aja😀
    Dtgu ffnya yg ain + ff baru😀

  6. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Donghae?? aduhh kasian dia, bener bener malaikat dahhhh… tapi aku seneng juga minyul bersatu, mereka harus bahagia!! hehe.. epilog nya di tunggu ya kak^^ semangat!!

  7. Tarhyulk berkata:

    Dan akhirnya Minyul bersatu . #OkByeHaeppa ^^
    “Mnyakiti malaikat untk bsa prgi brsama iblis ”
    Spertix bnyak yg ngalamin hal sperti it d kisah nyata #Pedih hahahaha.

    Ok epilog rasax bsa ngobatin rsa frustasi gue trahadap ap yg yuleon lakuin am haeppa ^^
    D tunggu epilogx yah unnie
    fighting !!

  8. Lulu Kwon Eun G berkata:

    omo masa aku baru baca!

    yihaaa bendera MInyul berkibar~
    tapi Donghae lo itu bener bener Pria *aseek ><
    hiks kok kak Nyun aq ngerasa kaya ada yg kurang deh apa ye??:/ mwehehe
    aku tunggu epilog nya aja deh kak! MANGATSEU Kak Nyuuun!! laf laf

  9. yuri superexoshidae berkata:

    Nice story…
    Seneng liat donghae.. baiknya gag ketulungan
    Aq tunggu epilognya kak..

    Keep writing

  10. chy23 berkata:

    Khan maen minyulkuuuuu a6 b8😄
    donghae gentle banget! Suka suka sukaaaa
    Akhirnya bersatu yaaaaaaaa. Moga epilognya tentang pernikahan Minyul hehe ditunggu kelanjutannya kaknyun!!

  11. aloneyworld berkata:

    Demi apapun kak ini keren banget, feelnya dapet😀 jadi donghae sedih jadi minho juga, aku juga kadang ngerasa hidup aku gajelas, tapi gaada yang bimbing kek donghae😦 *curhat :v aku suka pas donghae jadi cowo pengertian dia gamarah gaapa yaampun keren :3

  12. Dhean Kwon berkata:

    part ni sedih bgt ksian donghae dia slalu ngalah..
    buat minyul chukkae karna happy ending buat kalian..
    eon HWAITING buat ff slanjutnx…

  13. zcheery berkata:

    segampang itu?!?!?!
    tapi pada kenyataannya hidup nggak seindah/segampang fiksi😂
    ff yg begitu singkat padat dan jelas😂 daebbak

  14. windakyr berkata:

    kok aku nangis ya pas donghae blg kalo dia liat kejadian itu tapi tetep meluk yuri :’ duh baper amat–‘

  15. Stella Kim berkata:

    Wahhh❤❤
    What a sweet ending! Tapi donghae kasian banget omg! Sini donghae sm i ajaaaa HEHEHEHE

    Keknya ini ff paling sweet dr kak nyun ya? V sweet omg. Menghidupkan impian para wanita gagal move on 😻😻😻
    Better read the epilogue!

  16. Retha Lee berkata:

    donghae. . . kamu tu duh baik benerrr. sini adek peluk bhakk
    akhirnyaa minyul bersatu setelah melewati cobaan dari kaknyun wkwkwk, #ampunkaknyun😀

  17. hyenayurisistable berkata:

    Donghae bener2 malaikat
    sumpah donghae baik banget mau menyatukan minyul kembali*terharu
    semoga donghae juga bisa bahagia..
    bagaimana kl dgn hani atau sica?
    Hihihi
    aku suka ff ini complicated bgt tapi happy ending

  18. Angella Yurisistable berkata:

    Awwww kasian Donghae sdah kemalangan hlg pula wanita yg dicintai nya argg itu sulit ku terima.
    Inilah masalh mnjadi pembaca yg mnyukai kedua cast namjanya.Sukar membuat pilihan sma ada Minyul atau Yulhae tpi ending Minyul… Suka suka suka tpi sedih dgn Donghae..
    Lauren skrg sdah pnya Omma ya..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s