Should We Play A Game [Epilogue-Final]

SWPGa story by bapkyr (@michanjee)

SHOULD WE PLAY A GAME

F I N A L / E P I L O G U E

“To hurt or to be hurt, your choice.”


Yuri berdiri di sana, dalam glamornya gaun putih ala crinolline berhiaskan payet berkilauan dan sifon putih yang berselempangan di bagian pinggulnya, menggantikan renda yang seharusnya ada di sana. Ia mulai berjalan perlahan, menuruni tangga dengan langkah pendek malu-malu. Rona merahnya hampir tak terlihat di balik tudung putih tembus pandang yang menghiasi kepalanya, membuat kesan seolah Yuri adalah Cinderella yang dinanti-nanti.

Di sebelahnya, berjalan sang Ayah, menggandeng anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. Mungkin, jika Yuri punya waktu sedikit untuk melirik ke kanan, ia bisa memastikan itu dengan matanya sendiri. Sosok ayah dan ibu yang, sampai beberapa saat yang lalu, masih dibencinya, kini merona bahagia bersama-sama. Sang ibu yang menunggu di anak tangga terakhir bahkan menangis haru, meminjam dasi Jiyong sebagai saputangan.

Ketika Yuri sampai di altar, tangisan sang Ayah pecah. Begitu sedihnya ia sampai sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya. Melahirkan dan membesarkan anak adalah perkara susah, menyerahkannya ke pria lain, tentu lebih sulit dari itu. Minho tahu betul, jadi ia mengupayakan sebuah senyuman paling menenangkan di dunia, ditujukan langsung kepada kedua orang tua Yuri yang berdiri di belakang putrinya.

“Tolong jaga dia,” sang Ayah berkata. Minho mengangguk. Sudah barang tentu ia akan menjaga Yuri sebagaimana ayahnya membesarkannya, bukankah hal tersebut adalah tugas pokok para pria di seluruh dunia?

Yuri menoleh sebentar ke belakang, namun sang Ayah buru-buru menyembunyikan isakannya dengan selembar saputangan hitam. Ia mundur perlahan, bergabung bersama hadirin di barisan. Minho menarik tangan sang gadis, membimbingnya naik ke altar dengan hati-hati. Ia tahu betul, para gadis sangat menyukai momen-momen seperti ini, di mana mereka terlihat sangat anggun dan luar biasa menawan di depan altar. Yuri tentu tidak ingin sebuah kesalahan kecil pun terjadi, dan Minho sudah tahu.

Segera setelah ia dan Yuri berdiri menyejajari satu sama lain, sang Pastur memulai upacara sucinya. Beberapa patah kata dan janji suci diucapkan, diiringi sebuah kecupan, isak haru dan riuh tepuk tangan—entah mana yang paling mendominasi. Lauren yang mulanya berdiri di sisi Jessica, kini berlari ke altar, memeluk ibu barunya. Ia mengecup pipi Yuri bergantian dengan pipi Minho, hingga keduanya sama-sama menggendongnya untuk dipamerkan kepada tamu yang datang.

Bermenit-menit selanjutnya, tawa merebak dalam sebuah pesta, memberikan waktu luang bagi para tamu untuk bersenang-senang sedikit sembari menyapa Raja dan Ratu sehari mereka. Yuri dan Minho berkeliling, membawa Lauren untuk diperkenalkan kepada mereka yang cukup penasaran akan identitas sang gadis.

Yuri tidak keberatan menikahi seseorang yang pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya. Ia juga menerima Lauren yang diketahui bukan anak biologis dari Minho. Baginya, kedua orang yang hadir di sana adalah karunia besar, bukan masalah. Nyinyiran orang-orang yang diam-diam memperbincangkannya di belakang, tak diacuhkannya. Toh, mereka belum tentu sebahagia dirinya.

“Gaun yang cantik,” puji Donghae.

“Oh, kau datang?” tanya Yuri terkejut. Karena tragedi beberapa hari belakangan, ia pikir Donghae tidak akan pernah datang.

“Kaupikir aku tidak akan? Yah, aku memang membenci kalian berdua, tapi,” Donghae membungkukkan tubuhnya, mencubit pipi Lauren hingga sang gadis kecil berlari mencari Jessica, minta dilindungi dari Donghae. “Kenapa sih dia? Memangnya si Jessica itu bodyguard-nya?”

Minho tertawa, menepuk pundak Donghae. “Kenapa tidak cari tahu? Dia belum menikah, dan—“

“Wow, ini pesta pernikahan apa acara perjodohan?”

Yuri menyintung lengan Donghae, “Jessica gadis yang sangat baik. Dia kaya, yah, orang tuamu pasti setuju.”

“Seingatku,” Donghae menarik segelas jus jeruk dari nampan salah satu waiter yang melintas. “Terakhir aku memacari orang kaya, ia menikah dengan tetanggaku.”

Yuri menginjak kaki Donghae pelan. “Sorry, bercanda. Tapi aku orang yang selalu belajar dari pengalaman. Sekarang aku mencari gadis-gadis sederhana yang penurut. Lebih baik lagi kalau ia tidak punya masa lalu dengan para tetanggaku.”

Minho dan Yuri tertawa dibuatnya. Namun demikian, keduanya tahu bahwa hal tersebut hanyalah formalitas belaka. Yuri tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Donghae, ia tahu seberapa parah kerusakan dari hancurnya harapan atas cinta. Ia tahu bahkan dalam kelakar paling lucu yang ditunjukkan Donghae, sekeping hatinya sudah pupus, runtuh bagai serpihan abu yang ditiupkan angin ke segala arah. Senyumnya hanya manifestasi dari betapa ia ingin terlihat baik-baik saja di depan orang-orang yang menyakitinya, semata hanya ingin membuktikan ia kuat.

Tapi Yuri tahu. Yuri selalu tahu rasanya sakit.

“Aku punya kenalan dengan kriteria seperti yang kausebutkan, kebetulan dia kuundang ke sini.” Aku mencoba meyakinkan Donghae. Sang pria menggeleng, nampak tak tertarik. Namun saat kuaarahkan telunjukku ke sebuah kursi di mana seorang gadis duduk sendiri dengan canggung, Donghae menelengkan kepalanya padaku. “Serius?” katanya.

“Dia gadis sederhana, luar biasa sederhana dan lugu. Ah, dia pernah bilang kau tampan, kalau-kalau kaubutuh lebih banyak alasan untuk menemuinya.”

“Yuri, kau tidak serius ‘kan?” Minho membisikinya. Yuri mengangguk mantap, menukar pandang dengan Donghae.

“Aku sudah memperlihatkan sebuah belokan tajam. Silakan nyalakan mesinmu, Tuan Lee.”

.

.

“Sendirian, huh?” Donghae telah lama mempertimbangkan waktu yang tepat untuk mengajak sang gadis berbincang. Jadi, tatkala gadis kikuk itu berjalan sendirian ke arah pintu keluar, Donghae mengekorinya hingga ke bangku kayu di taman yang terletak di bagian depan gedung serbaguna pesta malam itu.

Donghae duduk di sampingnya, merentangkan tangan di sepanjang garis sandaran bangku setelah menarik sebatang rokok dari saku depan kemejanya. Alih-alih terkejut, sang gadis menarik rokok tersebut, memindahkannya ke bibirnya. Ia juga menarik pemantik dari tangan Donghae, membakar rokok yang dimilikinya, kemudian menghisapnya dalam-dalam.

Bibir Donghae membentuk sebuah senyum asimetris, “Dia mengatakan padaku kau adalah gadis yang baik dan polos, jelas sekali Yuri tak tahu apa-apa, iya ‘kan Hani?”

Hani mengepulkan asap dari mulutnya, membiarkannya membumbung tinggi dan hilang ditelan gelapnya malam. Ia tak menanggapi Donghae, namun pria di sebelahnya terus saja berbicara setelah membakar sebatang rokok lagi untuknya.

“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya.

“Sama seperti kau ada di sini.”

“Yuri benar-benar menganggapmu teman berkat aktingmu. Apa tidak apa seperti ini? Membiarkan dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Hani menggeleng, menyelipkan tembakaunya di antara jari tengah dan telunjuk. “Tidak perlu. Lauren akan baik-baik saja bersama mereka. Seperti yang kautahu, aku tidak baik atau pun polos, dia akan menderita jika tahu ibu kandungnya sejalang ini.”

Donghae berdecih, mengisap tembakaunya kuat-kuat dan melepaskannya di udara. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak begitu gatal, kemudian menengadah, menatap gelapnya langit tanpa bintang.

“Sudah enam tahun ya? Apa kau merindukanku?”

“Kau sudah tahu jawabannya, aku benci kau dan keluargamu, berengsek.”

Sang Pria tertawa, perutnya seakan digelitik oleh umpatan yang keluar dari bibir gadis yang dahulu pernah dicintainya. Hani mengalami banyak nasib buruk ketika bertemu Donghae, dari hubungan cinta yang tak disetujui hingga “kecelakaan” yang membuatnya mengandung janin tanpa sosok suami. Semuanya ulah Donghae, dan sudah sepantasnya Hani membencinya. Alih-alih menghajar Donghae, kini Hani hanya menatapnya, membiarkan ia menengadah ke arah yang sama dengan yang dilihatnya, malam gelap.

“Hani aku tahu ini super terlambat, tapi aku minta maaf.”

“Oh itu tidak perlu, permintaan maafmu tidak akan membenahi apa pun.”

Donghae menghela sebuah tarikan napas yang panjang. “Kalau aku boleh protes, aku melakukan segalanya demi kau. Aku membeli apartemen di dekat Minho agar bisa mengawasi anak kita dengan baik, aku bekerja dengannya semata agar aku tahu orang seperti apa Minho itu. Ketika aku tahu masa lalunya, aku mulai mencari tahu soal Yuri, membujuk keluarganya agar membeli apartemen di depanku. Yah, pokoknya aku merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Demi kau.”

“Cih,” Hani membuang rokoknya yang sudah semakin pendek. Ia mematikannya dengan injakkan kecil. “Memang kau merencanakan semuanya, segalanya kecuali jatuh cinta.”

Donghae menjengitkan bahunya. “Aku ketahuan ya?”

“Itu bukan kecelakaan. Kau menabrakan dirimu sendiri. How dramatic.”

Donghae membuang rokoknya, melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Hani beberapa saat yang lalu. “Kau tahu segalanya, itu mengerikan.”

“Bersyukurlah kita tak pernah benar-benar menikah.”

Hani menyunggingkan sebuah senyum sarkastik pada Donghae, membuat sang pria mau tak mau menerimanya dengan anggukan singkat. Malam tak pernah begitu terasa panjang, tapi hari ini dinginnya menusuk kulit, memaksanya merasakan panjangnya sebuah malam dengan perlahan.

“Hei Hani, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan belok kemana-mana.”

“Apa?”

“Tidak apa-apa.” Donghae memejamkan mata. “Malam ini sepertinya akan hujan.”

.

.

fin.


SELESAI SUDAH HOREEEE!

Bagaimana kesan dan pesannya setelah ngebaca SWPG? Hihi, meskipun sempat dianggurin setahunan sama aku akhirnya kelar juga deh ini cerita fiuh.

Selanjutnya, bikin apa lagi ya? Ada ide?

nyun.

Iklan

36 thoughts on “Should We Play A Game [Epilogue-Final]

  1. Ya elah donghaeee ikann… ternyata itu akal2an dy yaaa deketin Yuri. Tapi benar yg dibilang Hani, jatuh cinta nya diluar skenario. haha manis endingnya buat MinYul. Yuri dapat duren beranak satu. haha sip akhirnya kelar juga baca FF ini. kece dan jadi kangen bgd ama MinYul ckckck bikin MinYul lagi donk nyun. hehehe

  2. semua sudah direncanakan. oh tidak donghae. ku tarik kata2ku kalo km baik. yah walaupun emg baik sih.
    lauren anak donghae-hani. ini diluar perkiraan. kaknyun kamu terbaik deh kalo soal ginian.
    akhirnya selesai juga nih baca nya, mau lanjut youniverse
    kak aku udh ninggalin email dalam format di curious tinkerbell tolong ya kak aku minta pw youniverse yg chap 6,7,8 tengkyuu

  3. Yaelah donghae dan hani gk sepolos itu
    semua sudah direncanakan kecuali jatuh cinta
    lauren anak mereka toh
    tapi ini ending yang manis buat minyul
    Kak, buat ff minyul lagi dong
    hihihi
    aku tunggu ff minyul lainnya ya
    aku suka gaya nulis kakak soalnya

  4. Ohhh semua adlh rancangan Donghae…
    Lauren trnyata anak Hani dan Donghae.Masa lalu yg buruk bagi Hani.Tapi iya biarlh Lauren sntiasa sma Minyul.
    Huahua… Nice story Nyun.
    Permainan kata2 yg rumit tpi indah..

  5. Haaah, donghae ngrencanain semuanya ?
    Umm, yeay akhirnya minyul happy end
    ka nyun, part 6 nya ga bsa kbuka masa, jadi lngsng bca ke endnya aja
    maafin yah 😀
    balik ke donghae sama hani

    yang aneh adalah, lauren kan d tmuin d saluran pipa pembuangan, berarti orang tuanya ga syang sma lauren kan ?
    Trus hae blang kalo dia nglakuin rncna itu dmi nglndungin lauren

    ah, hani mantn istrinya kyu yah ? Soalnya kan istrinya kyu ga tau namanya. Dia sengaja mukl hanu, spya kyu cerai sama dia
    trus msa lalu hani itu sma donghae
    ah entahlah, cman nbak aja hehe

    lnjut ke ff yg laen, hwaiting ka

  6. Sama sekali gak pernah kebayang kalo donghae yang ngerencanain semuanya dan kalo lauren anak nya donghae. Donghae malaikat di mata yuri, tapi masa lalu nya yang duhhhh. Kak nyuun hebat bisa buat pembacanya terkejut. Rasanya kaya ngeliat film, di setiap fanfic yang kak nyun buat aku gak pengen cerita nya end 😁

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s