GHOST SLAYER RE:DO [3 of 4]

Ghost Slayer REDOa story by bapkyr (@michanjee)

GHOST SLAYER RE:DO

[3 of 4]

“Yuri bertemu Zombie keriput mesum.”

.


“Maaf,” Chaerin menatapku malu-malu. “Bisakah kau menceritakan padaku duduk persoalannya? Victoria mengatakan Jiyong dipaksa kembali ke Kingdom karena ulahku setahun yang lalu, apa itu benar?”

Aku tak menatapnya, terlalu dini untuk melakukan itu setelah menyadari posisinya sebagai adik iparku yang lumayan aneh dan mengejutkan. Tapi salah sekali kalau aku tidak menjawab. Aku menjelaskan segalanya, termasuk soal kemunculan Leo dan betapa gantengnya sepupu tirinya itu. Kalau aku pikir-pikir lagi, keluarga sang Raja Iblis memiliki gen yang lumayan bagus.

“Jadi ini benar karena ulahku setahun lalu, ya?”

“Oh tidak juga, Chaerin. Jangan menyudutkan dirimu seperti itu dong, aku tidak tahu harus berkata apa,” timpalku kikuk. Aku tidak terbiasa untuk mendengarkan curhatan orang yang menyalahkan dirinya sendiri. Berkata seperti oh, tenang saja ini bukan salahmu, kadang terasa munafik. Sebagian besar, memang salahnya sih. Aku hanya tak tega mengatakannya.

“Maafkan aku,” katanya terbata. Lucu sekali. Setahun lalu, Chaerin adalah monster bersayap mengerikan yang kerap meneteskan liur hijau berlendir ke kepalaku. Sekarang, ia nampak seperti bayi lucu yang siap kuayunan ke udara kapan saja. Betapa cepat seseorang berubah hanya dalam waktu sesempit dua belas bulan.

Aku membalasnya dengan anggukan hangat. Kulirik jam tanganku, sudah dua jam lewat dari 24 jam yang diperjanjikan. Zico pasti sudah menghancurkan beberapa pintu di belahan negara lain, dan Jiyong mungkin sudah melakukan beberapa cara untuk menghancurkan sebagian kecil di sini. Hanya aku yang belum menuntaskan tugas itu. Sebagai seseorang yang mengusulkan ide berpencar, sangat malu kalau aku bahkan belum menghancurkan satu pintu pun.

“Ada medan energi besar di depan kita, Yuri. Apakah itu pintunya?” saat Chaerin memberitahu, tubuhku dengan refleks berhenti berlari. Kupejamkan mata, mencoba mendeteksi apa yang sudah terlebih dahulu disadari Chaerin.

“Seratus meter ke barat, ayo.” Aku memerintahkan Chaerin untuk berlari, dan ia memberhentikanku tepat saat itu juga. “Jangan,” katanya. Aku benci diperintah-perintah apalagi ketika sang pemberi perintah mengatakannya dengan misterius. Tapi Chaerin benar, bodoh jika aku berlari sekarang. Medan energi tersebut terasa semakin dekat. Ada pergerakan aneh tak jauh dari kami. Punggung Chaerin melekat di punggungku, kami sama-sama menatap dua arah berbeda, bersiaga.

Dari bawah tanah, muncul tangan-tangan keriput yang mencakar-cakar udara. Perlahan, pemilik tangan bangkit, menampakkan tubuh ceking dengan daging yang mengelupas di sana-sini, tergantung-gantung hampir lepas. Matanya turun sampai ke ujung bibir, sedangkan telinganya kebanyakan terpotong zig-zag, menampakkan dagingnya yang busuk.

“Aku yakin mereka tidak tahu eksistensi dokter THT,” komentarku. Pasukan Zombie kakek-kakek itu berjalan pelan-pelan ke arahku, langkah konstan tiap tiga detik sekali. Aku biasanya bertarung dengan musuh yang dinamis, menebas-nebas, menggetok kepala satu sama lain hingga akhirnya pertarungannya kumenangkan. Tapi kali ini, aku tak bisa membayangkan adegan laga dramatis. Zombienya lebih pelan dari kura-kura, dan aku jadi tidak tega.

Saat aku sedang dilanda kebingungan, Chaerin sudah melesat ke depan, meninggalkan punggungku tanpa tameng. Saat kucuri pandang, ia telah menebas sekurang-kurangnya sebelas Zombie. ZombieZombie tersebut kemudian terbuyarkan menjadi debu dan berputar spiral di udara.

Aku jadi terpacu. Chaerin bisa menebas Zombie dengan tangan kosong, sementara aku memiliki peralatan yang lebih canggih. Seharusnya, aku bisa menebas Zombie dua kali lipat lebih banyak daripada Chaerin. Tanpa banyak berpikir, aku melesat maju, menembus barisan Zombie yang berjalan patah-patah dan menebas kepala mereka satu per satu dengan cepat. Gerakanku bagai kilat, berlari acak sembari terus menyerang dengan berganti-ganti senjata dari Gun ke Blade.

Aku tidak berhenti, sampai akhirnya kutemukan tak ada lagi yang bisa kupenggal. Aku berdiri terengah menatap Chaerin. Ia telah menyelesaikan sejumlah Zombie yang sama banyak denganku tanpa terlihat kelelahan. Sebutir keringat pun tidak nampak.

“Oke, sekarang cari pintu—“

Gemuruh menginterupsiku. Saat kucari tahu mengapa, tiga buah pintu besar sudah muncul dari bawah tanah. Ketiga-tiganya berlumuran lumpur, menguarkan bau anyir seperti ada seseorang yang melumurinya dengan minyak ikan. Selebihnya, pintu tersebut nampak seperti pintu pada umumnya, dengan tinggi sama dan knop pintu yang tersedia pada tempatnya. Seiring dengan kemunculan pintu tersebut, debu-debu Zombie yang sudah kalah memusat di satu titik, berputar spiral sambil menjelma sebagai Zombie raksasa.

“Oh, harusnya aku bawa vacuum cleaner dan membersihkan semuanya.”

Chaerin melirik ke arahku, tak nampak terhibur dengan kelakar yang baru kulontarkan. “Bisa kupinjam salah satu senjatamu, Yuri? yang mana pun oke.”

Gun-Kit kurasa cocok denganmu.” Kulemparkan senjata api dengan peluru perakku padanya. Aku tidak suka menembak. Sedari dahulu, aku lebih suka mengayunkan pedang. Beberapa roh kadang lebih ampuh dipaksa menyerah dengan sabetan mata pedang perak daripada peluru yang menembus kepalanya. Mudah-mudahan yang satu ini juga demikian, karena kalau tidak, nyawaku bisa hilang.

“Biar aku jujur di sini, aku tidak suka peluangnya. Makhluk itu sepertinya mengumpulkan energi dari para Zombie yang telah dikalahkan, dan mengambil energi lain dari roh-roh lemah di sekitar sini. Jika kita terlalu lama dekat-dekat, energi kita juga bisa ia serap dengan mudah. Menyerangnya terus-terusan hanya akan menguntungkan musuh,”

“Jadi apa rencanamu, Chaerin?”

“Menyerang sekali dengan kuat, kemudian hancurkan pintunya. Pintu itu sepertinya akan mengeluarkan lebih banyak roh, artinya, lebih banyak energi. Zombie Keriput itu pasti akan semakin kuat setelah mengisapnya juga, dan itu buruk untuk kita,” Chaerin menggigit bibirnya hingga lendir hijau keluar. Aku merinding, ternyata bagi anak iblis terkuat seperti Chaerin, Zombie Keriput pun bisa menakutkannya juga. “Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya mengalahkan makhluk bau itu dengan sekali serangan. Kekuatan kau tidak sebesar itu sementara kekuatanku baru saja kembali setelah setahun lamanya tidak kugunakan. Aku tidak suka kemungkinannya, Yuri. Kalau kau ada ide, kuberi kau setengah menit.”

Aku berpikir sebentar, meski berpikir bukan salah satu keahlianku. Zombie Keriput ini memang kelihatannya sangat kuat dan menyebalkan. Tidak ada cara bagi kami untuk mengalahkannya hanya dalam satu kali serangan, apalagi dengan kondisi kami yang saat ini. Kalaupun kami bisa, artinya tidak ada sisa kekuatan untuk dipakai saat melawan Raja Iblis nanti. Bisa berarti bahwa kami sudah pasti akan kalah sebelum acara finalnya. Aku tidak mau membayangkan kekalahan kami, karena Jiyong selalu mengatakan kalau aku tidak menang, dia akan mencari pacar baru. Yah, yang tadi memang kelakarnya saja sih, tapi aku sudah terlanjur terdeterminasi oleh kalimatnya. Leo sangat ganteng, tapi Jiyong adalah satu-satunya untukku. Tidak perlu lebih.

Aku harus menang.

“Chaerin, apakah kau pernah bertemu om-om mesum?”

“Ya, tapi kenapa kau bertanya?”

“Anggap saja mereka om-om mesum, kautahu apa yang biasanya wanita lakukan ‘kan? Cukup sekali saja serangan.”

“Eh? Sebentar, Yuri, maksudmu—“

Tapi aku tidak mendengarnya. Kutarik lengan Chaerin untuk sama-sama berlari ke depan, menerjang target raksasaku yang tengah berteriak bangga di tengah-tengah taman umum. Para penduduk lokal mungkin bisa melihatku memakai pedang, tengah menerjang sesuatu yang nampak seperti kabut bagi mereka, menonton dengan kebingungan. Sebagian sisanya, menelepon polisi untuk melaporkan ada dua gadis gila yang membawa-bawa senjata di tempat umum. Siapa peduli?

Tujuanku sudah jelas. Tujuanku cuma satu.

Zombie raksasa ini tak lebih dari kumpulan kakek tua renta cabul yang lemah. Seharusnya sabetan pedang dan tendangan di selangkangan raksasanya, bisa menyelesaikan segalanya dengan mudah.

Aku memicingkan mataku, bergumam rendah pada Chaerin.

“Ayo maju.”

.

.

Aku punya firasat bahwa rencanaku berhasil, dan nyatanya memang demikian. Zombie Keriput tadi tumbang ke belakang, memegangi selangkangannya sembari tersedu-sedu. “Maaf,” kataku enteng. Tak ingin membuang waktu, aku menghancurkan salah satu pintu yang mulai berdenyar di depanku. Harus cepat, aku tak ingin pintu ini hilang dan muncul lagi di tempat acak dan menambah pekerjaanku.

Menghancurkan pintu memang pekerjaan semudah keliatannya. Dalam hitungan detik, tiga pintu masuk ke Kingdom sudah berubah menjadi abu karena terbakar. Tadinya aku takut debu tadi akan berubah kembali menjadi Zombie yang lain, tapi Chaerin memastikannya dengan membuka Gate-Kit milikku, menyedot segala yang tersisa ke dalam sana, termasuk Zombie Keriputnya.

“Berapa lagi yang tersisa, Yuri?”

“Kalau hitunganku benar, masih ada sembilan belas pintu yang tersebar entah di mana. Kuharap setengahnya sudah dihancurkan Jiyong. Jadi kita tak perlu melakukan banyak hal.”

“Kuharap, katamu?”

“Aku tidak bisa menghubungi Jiyong. Ia telah masuk ke dalam Kingdom bersama-sama dengan Leo, menghancurkan pintu dari dalam, mencegah lebih banyak pintu yang muncul.”

Wajah Chaerin tiba-tiba memucat.

“Hei, Jiyong kuat, dia akan baik-baik saja,” hiburku meski tak yakin. Chaerin menggeleng pelan, aku bisa merasakan darahnya mendidih dan suhu tubuhnya memanas. Gadis itu nampak marah dan takut di saat yang bersamaan, membuatku tak nyaman.

“Hei, Chaerin? Kau oke?”

Chaerin menjawat tanganku kuat sekali, hingga aku harus memelintir jemarinya hanya agar ia melepaskanku. Gadis ini benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Kengerian kuat terpancar dari wajahnya. Ada hal-hal buruk yang mungkin sedang dibayangkannya.

“Jiyong tak seharusnya berada di Kingdom. Aku setuju membantu tapi aku tak menyangka kalian akan sejauh itu. Kingdom adalah tempat sibuk untuk para roh, tapi bukan tempat baik untuk para manusia. Meskipun mengalir darah iblis di dalam tubuhnya, Jiyong pada dasarnya hanya manusia. Di sana tidak ada udara bersih, hanya tercium bau amis dan kematian. Berlama-lama di sana akan berbahaya untuk seseorang yang tidak pernah mengunjungi Kingdom sebelumnya. Jiyong akan tewas sebelum ia sempat mengalahkan musuhnya.”

Aku tertegun sebentar, kemudian menepuk pundak Chaerin seraya tertawa. “Kau punya selera humor yang bagus,” kataku. Saat sorot sedih di matanya ia tunjukkan kembali padaku, aku berhenti. Ia tidak berkelakar, dan entah mengapa aku percaya padanya. Pikiranku berkecamuk. Aku tidak bisa melakukan tindakan tak bertanggung jawab seperti tiba-tiba pergi ke Kingdom sebelum menyelesaikan misiku di permukaan. Tapi di sisi lain, aku ingin memperingati Jiyong akan bahaya yang akan mengancamnya. Sial sekali tak ada yang memperingati mereka soal ini. Bahkan tidak juga Leo.

“Fokus, Chaerin. Jika kauingin membantu kakakmu, selesaikan urusan di sini dengan cepat. Kita tidak bisa meninggalkan apa yang ada di permukaan.”

Terselip keraguan dalam kalimatku. Kulirik pedangku, matanya masih tajam, bersiap untuk menebas apa pun yang menghadang di depan. Jiyong adalah pria yang kuat, aku ingin percaya itu. Namun setelah semuanya, aku ingin membuktikan itu dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin melihatnya baik-baik saja di sana, di Kingdom.

“Jika Jiyong di sini, ia pasti akan memerintahkan kita untuk tetap menebas apa pun. Aku tidak akan lari, aku akan menyelesaikan apa yang ada di atas sini. Pilihanmu, Chaerin.”

Chaerin berhenti gemetaran. Ia memeluk tubuhnya erat-erat, menolak untuk menatapku di mata secara langsung. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Sirine polisi berkumandang di kejauhan, diiringi dengan riuh-rendah penduduk lokal yang semakin dekat.

Chaerin menjawat lenganku kuat.

“Jika kau berjanji menyelamatkan Jiyong dengan cepat, aku akan membantumu.”

Aku tidak yakin, tapi sepertinya aku baru saja membentuk senyum asimetris menyebalkan di wajahku.

“Aku bukan tipe cewek yang akan meninggalkan pacarku untuk tewas di tangan ayahnya. Kita akan menyelamatkannya. Aku janji.”

.

.

Sial sekali bagi Jiyong karena ia mendapatkan satu lagi misi mustahil. Apalagi misi tersebut tepat didapatkannya setelah lisensi penuh sebagai penebas hantu didapatkannya kembali. Misi perdana ideal yang dibayangkannya adalah menebas roh-roh di Maldives bersama Yuri, hanya berdua. Ia sudah menyiapkan beberapa sunblock berbentuk gel yang berfungsi sebagai pengganti spray anti roh sekaligus tabir surya. Pikiran kotornya juga sudah membayangkan sosok Yuri berbikini dengan kulit hitam manisnya yang terpapar surya di pantai Maldives. Pokoknya, Jiyong sudah siap untuk menjemput misi ideal pertamanya saat tiba-tiba Seunghyun membuatnya berbelok tajam.

Lupakan soal Maldives. Jiyong kini harus berjalan-jalan santai di dunia para roh, Kingdom. Bukan dengan Yuri, tapi dengan seorang pemuda ganteng yang mengaku adik tirinya.

“Tinggal tiga pintu lagi, ‘kan?” kata Leo, seolah tahu apa yang dipikirkan Jiyong. Bicara soal baca-membaca pikiran, sayang sekali Zico tak ikut bersama mereka. Pria itu punya kemampuan spesial membaca pikiran yang didapatkannya instan ketika ia menjadi roh, entah bagaimana. Jika Zico berada di antara mereka, Jiyong pasti sudah akan memintanya mengintip isi kepala Leo, mencari tahu maksud orisinal pria itu.

Kecurigaan Jiyong sebetulnya beralasan. Pasalnya, segera setelah ia sampai di dunia roh, tak sekali pun dirinya menemukan roh-roh nakal yang bergentayangan mengganggu. Pintu-pintu yang semula diperkirakan dijaga kuat oleh para penjaga akhirat, teronggok bebas tanpa penjagaan, membuat Jiyong dengan mudah menebasnya menjadi debu dalam sekali tebasan pedang S-Class. Seunghyun sepertinya membuat misi ini kedengaran susah ketimbang melaksanakannya, atau mungkin, Leo menyembunyikan sesuatu yang lebih berbahaya yang tak pernah diketahui. Jiyong tak bisa memutuskan yang mana. Ia juga sangat gengsi untuk bertanya duluan.

Huplah,” sembari memikirkannya, Jiyong mengekori Leo, membantunya menebas beberapa pintu yang kebetulan terlihat di depan keduanya. Pintu-pintu tersebut muncul secara ajaib di tengah putaran spiral kabut asap yang asalnya dari bara api para roh-roh lansia yang hancur. Meski Jiyong tak sekali pun melihat knop pintu atau sesuatu yang digunakan untuk membuka pintunya, Leo selalu meyakinkannya untuk selalu menebas apa pun sebelum ada reaksi terjadi, tanpa menjelaskan mengapa. Jiyong pada dasarnya tak ingin kerepotan, jadi ia menurut saja. Tebas dan tebas, ia telah melakukan hal ini selama kurang-lebih delapan jam sekarang.

Sebagai manusia biasa yang terjebak dalam labirin panjang, gelap, dan berkelok-kelok, Jiyong mengakui bahwa ia kelelahan.

“Tidak ada makanan di sini,” Leo berkomentar tanpa perlu Jiyong beritahu. Jiyong jadi bertanya-tanya apakah pemuda ini bisa membaca pikiran selayaknya Zico?

“Aku tidak lapar kok,” balas Jiyong berdusta. Harga dirinya dipertaruhkan. Sejak kemunculan Leo di dunia atas, Jiyong tahu bahwa pemuda ini merupakan saingan terberatnya. Para gadis sangat mudah jatuh cinta pada pemuda tampan, apalagi dalam kasus Yuri, ia sangat mudah terpesona oleh roh-roh ganteng. Jiyong tahu bahwa kekasihnya itu tak pernah sekali pun melepaskan pandangannya dari Leo, bahkan saat mereka tengah berduaan. Kerupawanan Leo telah menghipnotis Yuri, dan Jiyong menganggap hal tersebut sebagai alarm tanda bahaya. Siaga satu.

“Di depan ada sungai. Styx. Airnya bisa diminum oleh anak-anak iblis seperti kita.” Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya di dinding labirin, berusaha mengecek sesuatu sembari bicara. Jiyong berusaha cuek. Sungai apa pun, ia tak akan meminum air dari dunia bawah. Konon katanya, jika seorang manusia menerima makanan dan minuman yang tumbuh di dunia bawah, maka tubuhnya akan hancur dan ia tak bisa kembali ke permukaan. Dengan kata lain, Jiyong akan selamanya terjebak di dalam Kingdom sebagai orang mati.

Yo, terima kasih, aku masih ingin hidup.”

“Air dari Styx tak berbahaya bagi tubuhmu. Lagipula kau ‘kan bukan manusia. Kau anak iblis yang kebetulan punya raga serupa manusia.”

“Wah, terima kasih pelajaran biologinya. Sekarang, apakah aku boleh menghancurkan pintu lagi?”

Tiba-tiba, wajah Leo berubah serius. Ia melihat ke sekelilingnya dengan mata yang menyipit, berusaha memfokuskan diri terhadap sesuatu di dalam gelap. Jiyong bersiaga. Ia sudah terlatih untuk masuk segera ke mode perang tiap kali seseorang memasang wajah pucat di depannya.

“Ada yang aneh,” sahut Leo kemudian.

“Sebenarnya dari tadi. Pintu-pintu tak terjaga, tak ada roh, dan sebagainya. Kau sadar tidak?”

Leo menggeleng, kemudian mengangguk. Jiyong tak paham apakah gerakannya tadi masih bisa disebut jawaban.

“Para roh lemah akan kabur begitu mengendus presensiku. Apalagi kini aku berdua denganmu. Mereka menilai seseorang berkekuatan besar sebagai ancaman. Wajar jika tak ada roh di sekitar kita. Kalaupun ada, mereka sudah pasti tersedot ke dalam perisai kekuatan dalam yang kita miliki. Soal para penjaga pintu yang kuceritakan, aku baru saja mengeceknya…”

“Dengan membentur-benturkan jarimu di dinding?” tanya Jiyong sarkastik.

“Ya, kurang-lebih begitu. Aku menggunakan kemampuanku untuk memvisualisasikan kejadian di sini tepat sebelum kita datang.”

“Dan yang kautemukan adalah?”

“Bau darah.”

Jiyong nampak kecewa. “Itu sudah pasti. Kita ‘kan ada di dunia bawah, dunia orang mati. Masa sih kau tidak menyadari bau amis darah yang hangus sedari tadi.”

“Bukan. Bukan darah roh. Aku mencium amis darah manusia, manusia setengah iblis yang masih hidup. Ia masuk ke sini sebelum kita dan menimbulkan kekacauan. Ia kehilangan akal sehat dan menebas para penjaga pintu dengan brutal, membuyarkan mereka menjadi abu.” Di akhir kalimatnya, Leo menggerak-gerakkan tangannya ke dinding, membuat beberapa bagian yang disentuhnya rusak parah hingga menimbulkan lubang besar. Dari ceruk tersebut, runtuhlah setumpuk abu yang nampaknya masih baru. Udara menghangat karenanya.

“Wow,” mau tak mau Jiyong harus mengakui kemampuan Leo memang luar biasa. “Kaubisa menyimpulkan sesuatu dengan cepat hanya dengan menyentuhnya?”

“Selama masih di Kingdom, ya.”

“Lalu kautahu siapa yang melakukan ini?”

“Kalau aku mengatakannya kurasa kau akan sangat terkejut.”

“Tak ada yang lebih mengejutkanku selain kemunculanmu.”

“Baiklah jika kau memaksa,” Leo menatap lurus ke mata Jiyong hingga sang pria merasakan getaran listrik aneh pada maniknya. Seluruh tubuhnya bergidik hangat. Syaraf-syarafnya terkejut kecil, membuat pundaknya melejit secara refleks. Tak lama kemudian, Jiyong bisa melihat pemandangan samar seperti sebuah cuplikan film yang amat cepat terjadi di depan matanya. Seorang wanita berlari, berteriak, menebas para roh yang mengerubunginya bagai lalat. Ia melihat ke sekelilingnya, kemudian menebas para penjaga bertubuh bongsor hanya dengan sekali sentilan di ujung telunjuknya. Wanita itu buas. Wanita itu seram. Terusan putihnya seolah hanya sebungkus kertas yang siap dinodai dengan darah hijau dari iblis. Tekadnya untuk membunuh begitu bulat, sehingga Jiyong ketakutan sendiri.

Namun,

Aksi heroik sang wanita harus berhenti seketika ketika ia mencapai ujung labirin. Dari ujung gelap tersebut, muncullah sesosok bayang-bayang menakutkan dengan bau yang amat-sangat mengganggu. Bayang-bayang tersebut seperti namanya, hanya berupa bayangan hitam samar yang muncul timbul-tenggelam. Meski demikian, sosok tersebut sudah cukup untuk membuat sang wanita menjerit dan menerjangnya dengan kekuatan penuh. Kala Jiyong menerka-nerka bagaimana akhir dari pertandingan barusan, darah hijau kental sudah memenuhi dinding labirin, meresap perlahan ke dalamnya. Sepotong jari tergeletak di salah satu sudut, terbakar habis menjadi abu seiring dengan perginya sosok monster bongsor ke dalam kegelapan.

Video samar tadi hanya sekilas, berupa kilatan transfer memori beberapa detik saja. Dari detik-detik yang sudah disajikan, Jiyong sudah bisa menebak apa yang coba diberitahu Leo.

“Leo… yang tadi itu…”

“Hani. Ya. Dia diserang oleh suaminya sendiri, ayah kita.”

.

.

“Chaerin, kita harus ke Kingdom sekarang juga,” ujarku cepat. Tepat sedetik yang lalu, aku baru saja menghancurkan sesosok roh rongsokan yang memiliki kebiasaan untuk menyabetkan panci rombeng dalam bertarung. Setelah menghadapinya susah-payah, pesanku: jangan anggap remeh barang-barang rongsokan. Roh ini sangat susah ditumbangkan. Aku tak bisa melancarkan strategi ‘selangkangan’ karena bagian itu dipenuhi oleh spons cuci piring yang berbusa. Kalau aku tendang, aku akan jatuh tergelincir saking licinnya.

Untung saja, Chaerin punya ide brilian.

Karena tubuhnya yang merupakan kesatuan dari banyak barang-barang bekas, gerakan sang roh cukup lambat. Kami dengan mudah memreteli barang-barang tersebut satu per satu dari tubuhnya, dan menghancurkannya secara terpisah ketimbang menyerang tubuhnya langsung. Aku dan Chaerin sudah belajar banyak dari hantu zombie mesum dan memutuskan bahwa setiap dari mereka memiliki regenerasi yang cepat. Akan sangat menyusahkan jika menebasnya sebagai roh utuh.

Meski hampir memakan waktu dua jam, kami berhasil memreteli seluruh barang bekas yang menempel di tubuh sang roh, kemudian menghancurkannya dengan brutal. Barang terakhir yang kubakar adalah spons penuh busa. Sang roh meraung-raung ketika apinya mulai menyala, kemudian menghilang saat spons tadi sudah menjadi debu mikro dan tersedot masuk dengan Gate-Kit-ku.

Dengan berakhirnya riwayat roh tadi, berakhir juga tugas kami di permukaan. Saatnya berjalan-jalan di Kingdom.

“Chaerin? Tunjukkan jalannya,” ulangku kala Chaerin tak juga menoleh. Aku memutuskan mendekatinya, melihat apa yang sedang dilakukannya. Ketika aku datang, Chaerin nampak memegangi ponselku.

“Oh, aku menjatuhkannya ya?” kataku ramah. Tapi Chaerin tak sependapat. Ia melotot ke arahku, terkejut. “Kau membuatku takut deh, Chaerin.”

“Vi—Victoria menelepon,” katanya terbata. Aku melirik sebentar ke layar ponsel dan melihat nama Victoria masih menyala di sana. Kami masih terhubung dengannya, dan segera saja kuraih ponsel itu untuk mendengarkan wanita di seberang sana bicara.

Percakapan kami tak lama, mungkin hanya sepuluh atau dua puluh detik. Tapi waktu singkat tersebut sudah sangat cukup untuk membuatku ikut-ikutan shock. Pertama, Victoria memperingatkan kami bahwa kami hanya memiliki dua belas jam tersisa untuk misi ini. Orang-orang di Mansion sudah tahu siapa yang harus dikejar atas peristiwa pembebasan Chaerin dari penjara, sehingga kami harus membuktikan diri kami bersih sebelum mereka memutuskan memenggal kepala kami. Kedua, yang tak pernah kubayangkan, Victoria memberitahu kami informasi yang sangat beresiko bagi Chaerin dan diriku. Sesuatu tentang Hani. Ibuku yang kabur dari penjara dan masuk ke Kingdom, entah untuk apa.

Saat akhirnya kututup sambungan tersebut, Chaerin menangis di hadapanku. Aku tak perlu kata-kata untuk menjelaskan bahwa aku juga merasakan penderitaan yang sama sepertinya. Tapi tangis, kuyakini tak akan menyelesaikan segalanya. Kukuatkan mentalku. Pasti ada sesuatu, hal-hal yang perlu diselesaikan Hani seorang sehingga ia memutuskan untuk terjun ke Kingdom. Ibuku tak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan, dan aku bertaruh banyak untuk rencananya, apa pun itu.

Lagipula, kami masih memiliki Jiyong dan Leo, yang entah bagaimana keadaannya di dalam sana.

Jika kami punya waktu untuk menangis, harusnya kami memanfaatkannya untuk segera terjun ke dalam Kingdom dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku ingin menangis, tapi sekarang aku tidak butuh. Satu-satunya yang kubutuhkan adalah kekuatan. Kekuatan besar agar harapanku tersampaikan.

Jiyong, kumohon, selamatkan ibu.

.

.

Aula utama Kingdom. Baik Leo dan Jiyong tidak pernah menyangka keduanya akan sampai ke tempat keramat semudah itu. Berbaris di hadapannya adalah dua kompi roh-roh berbagai bentuk. Sebagian telah kehilangan bentuk utuh tubuhnya, sebagian sisanya berbentuk kabut tipis yang melayang, serupa Casper.

Kedua pasukan besar itu membelakangi sesosok bayangan hitam yang tengah duduk santai di atas singgasana tengkoraknya. Di antara kerangka demi kerangka yang terjalin membentuk kursinya, terdapat sesosok wanita kurus bersurai hitam yang pingsan. Darah hijau berlendir kerap merembes keluar dari pori-pori tubuhnya, seiring dengan beban berat yang menduduki punggungnya.

“Aku tak ingat memiliki ayah yang sinting,” gumam Jiyong.

“Aku terkejut dengan kemajuan kekuatannya. Ia tidak sebesar ini kala kutinggalkan kemarin,” jawab Leo cemas.

“Mungkin efek karena mengunyah saudara-saudaramu.”

“Kau tidak membuat perasaanku lebih baik, Jiyong.”

“Itu yang kuinginkan,” Jiyong menghunuskan pedangnya, membiarkan kilatan tajam peraknya menakuti pasukan roh di hadapannya. “Agar kau marah dan membantuku menebas semuanya.”

Keduanya lantas menerjang, mengenyahkan gangguan-gangguan kecil di sekitarnya dengan kekuatan penuh.

.

tbc.


Haha, maaf banget chapter-nya jadi nambah huhuhahauhuahaha.

Btw Selamat Hari Kambing! Happy Eid Mubarak!

nyun.

20 thoughts on “GHOST SLAYER RE:DO [3 of 4]

  1. sevy berkata:

    wow…. wowo…. wow…. keren bnget kak nyun…
    di pikir cuma 3 chapter eh gataunya nambah 1 lagi…
    aduh…. gatau deh mau comment apa…
    oh ya ini aku kak sevy yg biasanya pake akun imaniarsevy. kembali pake akun sevy karna lg pake hp adk. jadi tolong maafkan karna suka ganti akun dr imaniarsevy ke sevy ke imaniarsevy lagi ke sevy dst.
    next kak nyun keep writing.

  2. mia berkata:

    Haiii kakk, kaka gaperlu minta maaf dengan bertambahnya chapter. Serius. Itu berita baik banget, hehejehehehhe.

    Mau bilang, as always, gapernah gagal bikin terpukau sama jalan cerita ghost slayer. Paling top yg jiyong ngaku kalau dia sempat berpikiran kotor ttng yuri di maldives. Hehhehehehrhe. Jiyong juga ga keliatan kesusahan bgt di kingdom, ga seperti yg chaerin bilang ke yuri ttng gada udara brsih dll.

    Kaya ada sudut pandang orang ktiga yang nyelip diantara sudut pandang yuri di bagian awal. Kupikir aku yg salah. Tapi gataudengg.

    Selamat hari raya idul qurbannn.

    • mia berkata:

      Entah atas dasar apa aku malah ngebayangin labirin daedalus yg di percy jackson. Dan sungai nya juga. Keren ka keren. Chaerin ramah bgt kok janggal ya. Hehehhe.

  3. Lulu KEG berkata:

    bwahaha bluber lg ya kak?? sudah kuduga *plak
    oh aku nunggu ini bgt kak Nyun, asliiii seperti biasa gk iso blg apa apa, selain Keren critanya mkin greget kak, kak Nyun Masternim><
    Jiyong Yuri Leo Chaerin ati ati yah nak jangan pada mati! fighting!
    kak Nyun hehe boong sih kak klo aku gak nunggu /apaan sih lu apaan/*plak
    yawdh ya kak maafkan udah nyampah, ditunggu kelanjutan nya kak Nyun ayolah kak jgn lama lama kak hehe keep writing kak Nyun MANGATSE KAK NYUUUN!!

  4. Cynthia berkata:

    Knp hani msk ke kingdom??
    Gmn carax dy kabur??
    Klo misalx misi ini tdk berhsl mrk gak akan dipenggal kn?? Kn tujuanan baik.. tp pst berhsil kok..
    Gak sabar mau baca lanjutanx..
    Dtgu😀

  5. Yhyemin_ berkata:

    makin seruu aja😀 …
    Oooooohhh jiyong udah siaga satu aja takut yuri d rebut leo yaaa…cieeee..cieee
    Suka bgt cara pacaran jiyong-yuri lbih gimana gituuuu….

  6. Stella Kim berkata:

    HAHAHHA hari kambing!
    seru deh kak chappie ini!
    kok image chaerin berubah 180 derajat ya? dr monster jadi cewe unyu unyu gitu. KWKWKWKW
    dan bapaknya jiyong leo so creepy tapi kok anaknya ganteng-ganteng?

    looking forward untuk next chappieeeee
    go kak nyun!

  7. aloneyworld berkata:

    Wahahaha aku ngakak pas bagian mereka nendang selangkangan si zombie mesum😄 yuri lucu banget disini😀 kesannya santai banget😀 hahaha jiyong juga😀 suka suka suka😀 tak kirain yuri bakal suka leo ternyata jiyong satu-satunya toh😄 hahaha keren kak keren😀 kalo bisa nambah terus chapternya😄 oh iya happy eid mubarak juga😀

  8. Ckh.Kyr berkata:

    Gegara Yuri yg mengelu-elukan Leo, aku jadi tertarik nyari tau kayak gimana sih si Leo itu, ternyata dia emang ganteeeng #okeinioutoftopic
    Jari Hani putus? Waw.

  9. slmnabil berkata:

    Gatau kenapa baca notifikasi ini di email ekspektasinya selalu muncul, bentukan yang gimana lagi ya yang bakal jadi cameo di ghost slayer? Dan AS ALWAYS KAK NYUUN INI FANFICTION YANG JENIUS BANGET! KAN BIASANYA ZOMBIE ITU REMAJA-REMAJA SINTING ATAU GIMANA, INIMAH KAKEK-KAKEK! Apalagi dibagian MONSTER YANG DARI PANCI NABIL JADI MIKIR INI KOK KEPIKIRAN YA? Dan lebih okenya lagi kakak ngga lupa ngasih moral value di setiap chap, kaya yang disinimah yang jangan anggap remeh barang rongsokan. That’s so smart kak btw, dan penempatannya sempurna sekali hehe :3

    Penambahan chapter sih ngga masalah, ditambah-tambahin terus juga boleh kok hihi :v

    POKOKNYA KEEP WRITING YA KAK NYUN NYUN

  10. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Haduh kak, aku baru sempet baca.. kaka mah selalu the best dahh!! aku kira wanita yang ketempat jiyong leo itu si yuri, eh gataunya ibunya, pokoknya makin penasaran ..selalu ditunggu ya kelanjutannya^^

  11. Luluu berkata:

    Kaknyun makin keren aja xD penasarannn!!
    The way kaknyun deliver the story ttp asik dan kerenn
    Semangat kaknyun!

  12. tha_elfsone berkata:

    Aq kayanya ketinggalan bayak niih nyuun..ttp ini ceritanya keren bnget..kasihan ibu nya yuri yaa bisa d serang sama suaminya sendiri..sereem.. -.-
    Haha jiyong ceritanya udh cemburu yaa k leo sampai ada siaga 1 gtu..hehe..d tunggu next partnya yaa nyuun ^^

  13. zcheery berkata:

    ngiahaha selamat hari kambing

    aku tidak ingat kalo hani adalah ibu yuri/? wkwk yha jadi ceritanya masih panjang? baguslah wkwk👏👏
    oke ceritanya kaknyun emang daebak kok, aku kehilangan kata” karena mungkin semua kalimatku sudah di commentkan sama yg lain muehehe..
    thx for the story kak💕💕 fightingg and Gbu!

  14. Ardelia wynne berkata:

    Wow dibayangan aku mereka keren bgt membasmi iblis na trus mereka berpetualang ke kingdom
    Penasaran sama ending cerita na kayak apa
    Semangat kak nyun nulis na wkwk fighting!!

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s