YOUNIVERSE [1 of ?]

YouniverseYOUNIVERSE

by bapkyr

|1 of ?|

“Today is what you did days before.”


Tokyo, 7 November 2011

Dingin. Cokelat. Gugur.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah demi langkah kecil sementara atensiku terbagi ke bahu kiri dan kanan jalan, mendarat pada dedaunan cokelat yang berguguran dengan cara yang indah, susul-menyusul helai demi helai. Kaki kecilku melangkah gembira, melompati dedaunan yang terbang di bawah tumitku kemudian menginjak helaian kering yang lain hingga bunyi koyak daun kering yang khas menyatu dalam irama yang mengasyikkan. Nampaknya bukan hanya kakiku saja yang sibuk. Jemari dari tanganku terjalin, membentuk sebuah kepalan kecil demi menolak hawa dingin masuk melalui celah-celah permukaan tangan. Mulutku mengeluarkan uap-uap dingin beberapa kali, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah gedung besar bernama sekolah. Kupandangi cat kremnya, jam besar di pilar sentralnya, taman besar di belakang pagarnya, benar-benar bangunan yang indah. Aku menyukai efek daun berguguran yang menghiasi bagian muka halamannya, seolah menyambutku dengan riang. Di belakang dedaunan, berkoloni dengan acak adalah orang-orang berseragam sama denganku. Beberapa gadis sibuk memegangi ponselnya, pria-pria berkerumun di gerbang, matanya sibuk menjelajahi tubuh gadis paling cantik yang melewatinya, sedangkan sisanya berjalan dalam senyap, terbenam ke dalam entah drama apa dalam pikirannya masing-masing.

Aku sangat suka sekolah.

Bukan karena apa yang telah kusebutkan barusan. Aku suka sekolah karena seorang bocah bermata hitam jernih yang kerap memandangi lapangan dari balik jendela kelasnya di lantai dua. Aku suka sekolah karena seorang bocah lelaki dingin berkulit putih yang dikenal sukar didekati. Aku suka sekolah karena aku suka Luhan, bocah lelaki misterius yang kucintai diam-diam.

.

.

Sapporo, 7 November 2015.

Sebenarnya aku sangat suka esensi menunggu. Duduk resah dan gelisah sembari bertekuk lutut pada Tuan Waktu untuk beberapa jam berharga yang tak pernah kuhitung, rasanya mendebarkan. Aku suka sensasi tak sabar yang kubuat kala melirik arloji tiap semenit sekali kemudian menjulurkan kepala sembari mencari satu titik yang dinanti-nanti. Kesendirian dalam menunggu memberiku banyak hal yang tak bisa kupelajari dari waktu, yang diharapkan maupun yang disesali. Tapi di atas semuanya, menunggu tetaplah bukan hal terfavorit yang bisa kulakukan. Kau tidak akan tahu berapa besar perubahan karakter dan mood seseorang yang kesal menunggu, juga efek sampingnya pada seseorang yang tengah ditunggu. Skenario terburuk dari menunggu? Yah, semisal orang yang tengah ditunggu, tak tahu-menahu bahwa ada seseorang yang diam-diam mengharap kehadirannya.

Benar-benar deh.

Kasus menunggu akan semakin rumit jika sudah dibubuhkan drama cinta diam-diam. Sebuah kisah roman klasik di mana sang pria miskin mencintai putri dari kerajaan antah-berantah, misalnya. Sang pria biasanya akan menjadi korban sebuah tunggu yang panjang dan tak berujung, bahkan bisa jadi berakhir buruk. Namun di kala sang pria berjuang selama sisa hidupnya, sang gadis berdiri di balkon istana, memandang ke hamparan pematang sawah sembari bertanya-tanya adakah cinta sejati untuknya.

Yup, amat rumit.

Menunggu seringnya menyajikan kisah ironis. Dan kurasa diriku pun telah setuju.

Hanya saja,

Aku tak bisa berhenti menunggu.

Penantian panjangku kuharap setimpal dengan hari ini, di mana seragam Sapporo Hokkaido Minami High School tahun kedua melekat pas pada tubuhku. Jujur saja, aku tak pernah menanti masa-masa sekolah yang menyenangkan, juga sosial dan relasi yang lebih luas. Penantian panjangku hanya untuk satu orang, untuk sebuah ironi cinta modern yang dibumbui keluguan.

Aku menunggu Luhan, seorang pemuda yang bahkan tak pernah tahu eksistensiku.

.

.

Tokyo, 24 Desember 2011

Sehari sebelum natal dan hampir tak ada orang di sekolah. Harusnya libur baru mulai sehari sesudah natal, tepat tanggal 26 Desember, tapi belum mendekati pun, bangunan megah itu sudah benar-benar sepi sekarang. Kehidupan sekolah yang menyenangkan tak berlaku bagiku. Aku sendirian. Kepribadianku yang pemalu dan terlalu pintar—yang awalnya kurasa sebagai poin plus—nyatanya malah membuatku ditakuti banyak orang. Awalnya kurasa normal, namun lama-lama aku diasingkan. Konversasi yang kubuat dengan kebanyakan orang tidak pernah lebih lama dari sepuluh detik, sampai-sampai kadang aku bisa menghitungnya sendiri di dalam hati. Jenuh? Tidak usah ditanya. Lekas pertanyaannya, mengapa aku tak membenahi semua kekacauan ini sesegera mungkin?

Lucu memang jika aku mencoba mengurutkan skenario hidupku kembali, tapi aku bukan tipe gadis yang gemar meratapi masa lalu. Tak punya teman, tak masalah. Aku punya Luhan, pria yang menjadi mentari di pertengahan Desember. Mau kuceritakan sebuah rahasia?

Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.

Cihuy!

Tiada hari yang lebih hebat dari ini.

Aku sudah menyiapkan segalanya. Kotak hadiah berisi gantungan kunci berbandul planet-planet yang berputar mengelilingi bola oranye kecil, pita merah muda di rambutku, serta mantel biru yang baru saja dibelikan ibu kemarin. Tak biasanya aku bangun pagi-pagi, tapi hari ini pengecualian. Masih ada sehari lagi untuk bertemu Luhan sebelum liburan musim dingin, dan aku harus menyelesaikan urusan asmaraku sesegera mungkin.

Masalahnya?

Tidak begitu serius, tapi yah—kalau bisa disebutkan, mungkin soal Luhan sendiri. Bocah lelaki itu tak banyak disukai oleh teman-teman sekelasnya lantaran karakternya yang serupa es. Sorot kosong dari matanya kerap mengintimidasi siapa pun yang sudi memandangnya lebih dari sepuluh detik, setidaknya, begitu yang kudengar—iya, itu tadi terdengar kurang-lebih seperti kasusku. Kendati demikian, di mataku Luhan adalah pemuda yang sangat kukagumi. Tak ada yang kisah spesial yang menandai titik awal aku jatuh hati padanya. Boleh dikatakan, aku mengalami sindrom jatuh cinta pada pandangan pertama yang diiringi dengan sindrom cinta diam-diam.

Payah ya?

Kepribadianku yang sangat pemalu dan kurang menonjol menjadikan rasa percaya diriku terkikis seketika. Meski Luhan terlihat kejam dan sangat tak berperasaan—maaf aku harus mengatakan ini—tapi wajah tampannya sudah merupakan nilai lebih tersendiri bagi para gadis seusiaku. Luhan selalu sepopuler yang kubayangkan, bagai karakter pria dalam manga-manga yang pernah kubaca. Tidak ada sisi yang tidak menarik darinya, bahkan karakter sendu dari matanya sekali pun.

Aku tak pernah menyesal pernah menyukai pemuda seperti Luhan.

Satu-satunya yang kusesalkan adalah pertemuan kami hari ini.

Setelah semua pujian yang kuceritakan, Luhan pada akhirnya tak pernah sepeduli yang kuinginkan. Aku telah mengungkapkan seluruh perasaanku padanya, alih-alih jawaban yang kudapat, aku didampratnya dengan kejam.

Aku selalu ingat matanya yang menyalang tatkala ia melihat pemberian dalam kotak berpita yang kuberikan. Ia menyambarnya, kemudian membuangnya ke suatu tempat—entah kemana—yang bahkan aku tak sempat melihatnya. Saat dengkulku lemas, membiarkan tubuh yang ditopangnya jatuh ke semen keras yang kupijak, Luhan meneriakkan sebuah kalimat tajam padaku.

“Berhenti melakukan ini! Kenapa para gadis sepertimu memperlakukan pria dengan cara bodoh seperti ini. Perasaanmu menjijikkan. Aku bahkan tak pernah mengenalmu!”

Kalau waktu bisa kuputar kembali, aku ingin terbang kembali ke rumah dan bergulung hangat di dalam selimut untuk seharian ini. Kalau aku diberi kesempatan untuk memutarnya lebih jauh lagi, aku ingin kembali pada saat wajah Luhan muncul di gerbang sekolahku, selepas liburan musim semi. Kalau-kalau aku boleh berharap amat lebih jauh lagi, aku tidak ingin dipertemukan dengannya. Aku tidak ingin mengingat wajahnya. Aku tidak pernah ingin jatuh cinta padanya.

Aku ingin menarik semua kata-kataku kembali, tapi bibirku benar-benar kelu dibuatnya. Rumornya benar, manik Luhan sangat mengintimidasi bahkan ketika ia memalingkan kepalanya ke arah yang lain seraya berkata, “Pergilah. Aku tak pernah mengenalmu, Gadis Asing.

Harusnya aku memang pergi ‘kan?

Sudah pasti aku harus pergi ‘kan?

Tapi kenapa aku tidak pernah melakukannya sesegera mungkin?

“Ke—kenal, atau tidak kenal… itu bukan alasan untuk tidak jatuh cinta,”

Bodohnya aku. Bukan saatnya aku berkata yang tidak-tidak, tapi kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Dengan takut-takut, kukumpulkan energiku untuk bangkit dari keterpurukan, secara teknis—tentu saja. Ketika kami sudah cukup stabil dan aku cukup bisa menguasai diriku untuk tetap memandangi mata hitam Luhan lebih lama, aku tiba-tiba menangis.

Jika kau menebak aku sangat takut pada sorot mata itu, maaf kau salah. Perasaan yang berkecamuk di dalam jiwaku bukan soal betapa menakutkannya bocah itu. Seberapa dalam kegelapan di dalamnya, dan bagaimana caranya agar aku dapat menyelaminya, itu yang menjadi pergolakan batinku. Entah kenapa aku menjadi sangat peduli setelah sebelumnya tidak sama sekali. Luhan memiliki aura kesepian yang aneh, yang kadang membuatku tak tega untuk meninggalkannya kala ia berteriak mengusirku. Aura itu memengaruhi jiwaku, di saat yang sama memerintahkanku pergi lalu menarikku kembali.

Aku menangis, hingga rasanya dadaku sesak. Luhan tak bergerak seinci pun, ia mematung di sana seperti yang sudah kuduga. Entah apa yang dipikirkannya; seorang gadis cengeng yang merengek karena ditolak? Seorang gadis lugu yang menangis manja karena dibentak? Aku tak peduli. Ya, aku tak peduli sampai bermenit-menit berlalu di bawah kaki kami, di tempat yang sering mereka sebut sebagai atap sekolah, Luhan untuk pertama kalinya berbicara dengan nada sewajarnya padaku.

Dari semua pertanyaan yang kupikirkan, ia malah berkata,

“Siapa namamu?”

“Eh?”

Sebuah ‘eh?’ benar-benar tak seperti aku yang katanya jenius dan cerdas ini. Sebuah ‘eh?’ dari bibirku pada akhirnya hanya akan menguatkan pemikiran negatif bocah lelaki itu tentangku—yang bisa saja tak benar. Dan ketika aku memroses segalanya kembali di otakku, berusaha menutupi kesalahan ‘eh?’-ku dengan sebuah kalimat cerdas baru, Luhan sudah buru-buru berlarian ke segala arah, terburu-buru mencari sesuatu. Ia kembali dengan sekotak merah muda yang tadi sempat dibuangnya, juga ponsel yang berdering kencang di genggamanya.

Siapa namamu?” katanya lagi. Kali ini terengah-engah.

Yu—Yuri…”

“Baiklah… em… Yuri-san, terima kasih atas hadiahnya,” ia menoleh sesekali pada ponselnya yang kemudian berhenti berdering, mengintip sesuatu di layarnya kemudian menutup flip-nya kembali. Aku sangat yakin ia sudah melakukan sebuah kuda-kuda untuk kabur dari keadaan jika saja aku tak menahannya dengan beberapa kalimat tidak penting.

“Tu—tunggu, setidaknya,” aku tidak merasa kalau suaraku bergetar, namun kalau kuingat-ingat lagi nampaknya aku terlihat demikian. “Katakan dulu ja—jawabanmu…”

Aku memang gadis lugu yang sangat lancang. Berani-beraninya aku meminta jawaban atas perasaanku pada pemuda yang sebenarnya baru saja reda amarahnya. Tolol ya? Tapi aku tak bisa membantu kegundahan berkepanjangan yang kurasakan. Tidak ada salahnya ‘kan memperjuangkan apa yang seharusnya bisa kuupayakan?

Jadi kukira, Luhan akan melihat ketetapan hatiku dan segera menjawabnya sampai akhirnya dering di ponselnya menyeru kembali, melantunkan nada-nada merdu sebuah lagu lawas yang kulupakan judulnya. Fokusnya terpecah, antara ingin menjawabku atau mengangkat ponselnya yang sudah berteriak-teriak.

Aku mengutuk alat komunikasi satu itu. Itulah mengapa aku tidak suka tergantung pada elektronik.

Selanjutnya, Luhan semakin gelisah. Jemarinya menari-nari di atas ponselnya sebentar-sebentar, kemudian diam-diam menatapku dari balik poni panjangnya. Saat aku ingin tahu mengapa, lengan Luhan sudah menggapai puncak kepalaku, membelai surai yang disatukan dengan pita merah mudaku.

Aku mengerti,” katanya. Singkat dan jelas.

Betapa pun kalimat tadi terasa teduh di telingaku, terangkai dalam amanat mendalam yang semestinya hanya untukku, aku selalu merasakan getirnya segumpal ampas yang dijejalkan paksa ke dalam hidupku. Ampas berupa barisan kata yang teruntai untuk memantraiku seumur hidup, sepanjang usiaku. Sebuah tusukan tajam yang mencabik-cabik kehidupan seorang gadis empat belas tahun yang bahkan tidak pernah tahu apa artinya menunggu.

“Jadi, bisakah kau menungguku sebentar, Yuri-san?”

Aku,

Sudah dibutakan oleh kalimat sihir epik modern dari bocah berengsek empat belas tahun yang tak pernah tahu artinya sebuah ‘kembali’.

.

.

Sapporo, 14 November 2015.

Ranting. Langit biru. Dingin.

Harusnya, sebagai kota yang terdingin di belahan utara Jepang, bulan November dihiasi dengan salju. Pergerakan ilmiah dan hal-hal teknis bersifat pengetahuan lainnya kemudian menjelaskan bahwa untuk beberapa tahun ke depan, tidak mungkin Sapporo ditutupi salju sedini ini. Padahal, dahulu ibuku membawaku ke sini karena iklim kepulauan Hokkaido yang menyenangkan.

Jika kautanya opiniku, musim gugur di Sapporo sebenarnya lebih baik.

Satu-satunya alasan mengapa ibuku sangat menginginkan tempat tinggal di Sapporo dilatarbelakangi perceraiannya dengan ayahku. Tokyo, menurutnya, menyimpan banyak kenangan buruk yang tak patut diingat kembali selama sisa hidupnya. Dan demi alasan yang sama, ia membawaku ke kota sedingin ini, berharap hati kami sama-sama dibekukan Sapporo, dipisahkan dari masa lalu yang sudah membuat kami menderita.

Yah, pada akhirnya alasan itu masuk akal juga. Setidaknya sampai aku menyadari bahwa ibuku pergi kembali ke Tokyo, memilih hidup palsu sebagai Nyonya Besar tanpa anak di keluarga antah-berantah.

Aku bisa saja menyusulnya ke sana, meluapkan amarahku, memintanya untuk tak lagi meninggalkanku. Namun, separuh dari hatiku tak menghendaki agenda demikian. Ibu, sebulan sekali, datang berkunjung dengan banyak uang yang diserahkannya padaku untuk membiayai hidupku sebagai penyendiri di Sapporo. Tak lama memang, biasanya hanya sehari, tapi sehari itu sudah sanggup membuatnya menguraikan berbagai penyesalan dan air mata di hadapanku.

Aku tak mau mendengar apa pekerjaannya. Aku tak mau mendengar bagaimana hidupnya. Terserah jika sebagian orang berkata hatiku sudah sedingin Sapporo, hanya aku yang tahu siapa ibu. Hidupnya sangat menderita, aku tahu. Lebam di permukaan kulitnya yang berusaha ditutupinya dengan berlembar-lembar pakaian, menjelaskan lebih detil ketimbang ucapan ‘aku tidak apa-apa’ dari bibirnya.

Tak peduli Sapporo atau Tokyo, pada akhirnya aku dan ibu masih menderita dengan cara yang sama.

“Yuri-chan!”

Kutolehkan kepalaku ke samping dan menemukan sosok gadis berambut panjang dengan seragam musim dingin yang serupa denganku, tengah berlari-lari kecil menenteng tas sekolahnya di tangan kiri. Surainya yang hitam tergerai begitu saja, tertiup pelan oleh angin malas pertengahan November. Syal merah yang melingkar di lehernya dinodai oleh cairan yang sepertinya tumpahan kopi—entah kenapa aku tidak kaget. Di atas semua kerusuhan kecil hariannya, Odawara Hani selalu memiliki daya pikat tersendiri untuk membuatku dekat dengannya. “Hah, syukurlah aku menemukanmu di sini. Aku hampir saja merasa bersalah karena tidak menjemputmu di rumah pagi ini. Kakakku—“

“Menolak mengantarmu karena ia harus membeli beberapa kilo ikan untuk diberikan pada penguin-penguin di penangkaran miliknya, ‘kan? Sudah biasa,” ujarku melengkapi. Kami berdua sama-sama terkekeh pelan. Pagi ini kuputuskan untuk bahagia—yah, aku punya kebiasaan dini untuk menentukan bagaimana mood-ku hari ini setelah satu kejadian di pagi hari. Aku tak tahu apakah Hani bahagia berteman denganku, tapi aku cukup menghargai eksistensinya di sisiku.

Pertemanan kami terjalin dengan serangkaian keanehan. Di samping perbedaan latar belakang, aku juga dapat menuliskan segudang perbedaan besar lain antara kami yang kalau kulakukan kita bisa menyebutkan itu sampai besok.

Hani berasal dari keluarga baik-baik yang tampak bahagia. Kepribadiannya tak begitu manis, tapi dia punya daya pikat dari kemampuan olah raganya. Tubuhnya yang ramping, matanya yang besar, dan gaya bicaranya yang blak-blakan, membuat Hani dengan mudah mendapatkan posisi sebagai gadis yang patut diperhitungkan untuk dipacari pria-pria di sekolah. Tentu saja dia memiliki beberapa kebiasaan buruk yang tak orang lain tahu, tapi toh, itu tak mempengaruhi apa pun. Hani sangat populer, apa pun yang ia kerjakan.

Sayangnya, sudah jadi takdir buruknya ia bertemu denganku. Meskipun dahulu sekali aku adalah gadis cerdas pemalu yang cengeng, aku tak pernah sekalipun menunjukkannya pada Sapporo dan isinya. Kepribadianku yang itu sudah lama tertinggal di Tokyo. Sejak aku pindah ke Sapporo, yang tumbuh adalah seorang Yuri pemalas yang arogan dan menyebalkan. Aku dikenal karena kepribadianku yang serupa kota ini sendiri, begitu dingin, begitu mengintimidasi, tak terkendali. Aku pintar, tapi tak sekalipun aku mempertontonkannya di sini. Sisi pemaluku tak bisa disembunyikan, jadi aku menyiasatinya dengan sebuah arogansi luar biasa. Aku menutup diriku dari sosialisasi, mengusir setiap orang yang kebetulan memiliki minat berteman denganku.

Dahulu, jika bukan karena judo-ku yang menyelamatkan Hani dari senioritas kakak kelas, gadis itu tak mungkin bersamaku saat ini. Ketika kukatakan ia boleh melupakan kejadian hari itu dan menganggapku tak lebih dari orang asing yang kebetulan menyelamatkannya, ia menolak. Hani adalah orang pertama, temanku satu-satunya, yang selalu bersamaku menghabiskan tahun-tahunku di Sapporo.

Desember nanti, kami akan merayakan dua tahun persahabatan kami. Sedikit melankolis ya? Apalagi bagi gadis yang sudah menutup dirinya dari segala keglamoran pertemanan seperti diriku. Tapi kita bicara soal Hani, dan tak ada yang bisa menampik pesona memikatnya.

“Oh iya!” ia memekik ketika kami sampai di loker sepatu. Kutaruh sepatuku di dalam loker yang pada permukaannya, terpatri nama lengkapku; Horikita Yuri. Kutukar sepatu yang kukenakan dengan sepatu wajib yang digunakan di area sekolah sembari tetap fokus mendengarkan apa yang akan dikatakan Hani. “Kautahu pemuda dari kelas akselerasi? Kabarnya dia dipindahkan karena kasus kekerasan.”

“Kekerasan?” kataku. Meskipun aku tak begitu ingin tahu, Hani akan marah padaku jika aku mengabaikannya.

“Kudengar dia memukuli teman sekelasnya, atau semacamnya. Dia dipindahkan ke kelas reguler, dan kabarnya dia berada di kelas kita.”

Aku menggeleng. “Sepertinya kelas kita menjadi semacam tempat pembuangan akhir di sekolah ini. Aku tidak suka peluangku.”

“Dari awal kelas 2-5 memang tak istimewa.”

“Tapi keberadaanmu di sana membuatnya cukup baik, kuberi tahu.”

“Kau memang tidak bisa diajak berbicara basa-basi terlalu lama ya, Yuri-chan? Memang menyebalkan. Tapi omong-omong, pemuda yang kuceritakan tadi cukup tampan lho. Namanya cukup aneh, seperti bukan orang Jepang, sesuatu berawalan Lu…”

Aku menjengitkan kedua bahuku. Tak begitu kaget. Hanya ada satu nama aneh seperti itu di sini, dan aku sudah lama tahu sejak aku pindah ke Sapporo, dua tahun lalu.

“Takegaya Luhan,” potongku.

“Ya! Kurasa itu. Memang tidak terdengar seperti nama Jepang. Rumornya dia sangat tampan dan ramah, namun kepribadiannya tak bisa ditentukan saat dia marah. Mungkin dia menderita semacam sindrom—lho? Sebentar… bagaimana kautahu?”

Salahku membiarkan bibir ini meluncur lebih cepat daripada otakku. Hani memiliki kemampuan interogasi yang tajam, mungkin dipengaruhi oleh ayahnya yang bekerja sebagai hakim daerah. Kini ia memandangiku dengan curiga, sembari melecutkan kalimat-kalimat penuh keingintahuan dalam perjalanan kami ke kelas.

“Kau sudah mengenalnya ya?” katanya setelah kami sampai di ambang pintu kelas. Terpeta pada papan penunjuk di atas pintu, Kelas 2-5. Beberapa orang yang wajahnya kukenal menyapaku dengan takut, kemudian pergi berjingkat-jingkat agar tak mengganggu. Hani bisa sangat menyebalkan lebih dari yang kautahu.

Ketika aku berencana untuk tak menjawab, sesosok pemuda yang menjadi bahan konversasi kami sudah duduk di dekat jendela, di sebuah kursi yang semestinya diduduki olehku. Ia tak memandang kemana-mana selain pemandangan membosankan di luar jendela, jadi tak mungkin ia mendengar kami.

Lalu tanpa hati-hati aku menggerakkan kepalaku ke arahnya, mengerling jijik pada sosoknya yang tampak begitu tenang.

“Tidak. Aku tak tahu siapa dia.”

.

.

Aku sudah memutuskan untuk bahagia hari ini.

Dan hal-hal teknis-organik seperti eksistensi Luhan di kelasku, mengacaukan segalanya. Kalau saja ia bertingkah normal dan mau menjadi seorang pemuda lugu di dalam kelas, aku mungkin bisa segera kabur ke atap dan membolos beberapa pelajaran membosankan hari ini. Namun—garisbawahi namun-ku tadi—semua yang kuharapkan tak terjadi.

Gara-gara sikapnya yang kelewat ramah—sumpah deh, senyum setiap semenit sekali itu apa perlu?—para gadis dari kelas-kelas lain sibuk berdiri di ambang pintu kelasku, menghalangi jalan keluarku pada kebebasan. Sial sekali!

Aku menghabiskan jam istirahat dengan pura-pura tidur di meja baruku—iya, meja lamaku sudah direbut paksa oleh pria berengsek itu—yang letaknya, kebetulan, bersebelahan dengan meja Luhan. Yah, tidak senyaman yang kuduga. Para gadis kerap berseliweran di dekatku, kadang-kadang menubruk mejaku sampai miring, atau tak sengaja menginjak kakiku yang—padahal—sudah kuatur agar tetap tersembunyi di bawah meja. Waktu santai-santaiku menjadi sangat kacau sejak kedatangan pria itu.

Wajar ‘kan jika sekarang aku menunjukkan ekspresi kesalku pada Hani yang tengah memberikan yoghurt strawberry-nya padaku.

“Kelas kita mendadak sangat ramai, ya?” katanya berbasa-basi, mencairkan suasana hatiku yang tak baik. Ia telah melakukannya dengan cukup baik, andai saja ia mau berhenti memandangi Luhan dan melihatku ketika bicara.

“Aku tidak begitu peduli,” balasku kemudian, memancing picingan curiga dari Hani—yah setidaknya kini ia memerhatikanku.

“Kau punya hubungan buruk ya dengan pemuda itu?”

“Logislah sedikit, aku kenal pun tidak,” dustaku. “Cuma tidak suka kalau orang-orang terdekatku bertingkah sebodoh itu di depannya. Dia ‘kan bukan pusat dunia.”

Hani tergelak hingga sedotan yoghurt-nya tersembur keluar dari mulutnya. “Sekarang karena kau mengatakannya, aku jadi ingat.”

“Ingat apa?”

“Dunia. Universe. Kau selalu mengatakan itu setiap kali kau kesal. Yah, seingatku kau juga mengatakan umpatan yang sama waktu kita pertama kali bertemu. Kaubilang ‘berhenti menangis, dan jadilah kuat, gadis bodoh. Dunia tidak berputar hanya di sekitarmu.’ Yah… itu membuatku terkenang masa-masa lalu.”

Melihat Hani berakting manis ketika teringat masa lalu kami, bukan merupakan pilihan yang kusukai, tapi lebih baik ketimbang memandangi gadis-gadis yang sibuk memerhatikan Luhan. Pria populer yang ramah, katanya? Cih, tunggu saja sampai ia marah.

Hani menunggu reaksi dariku selama kurang-lebih setengah menit—jangan tanya darimana aku tahu. Detik ketika ia menyintung lenganku, bel berbunyi, membubarkan barisan huru-hara para gadis yang siap berperang untuk memperebutkan hati Luhan. Ah, aku tak pernah sesenang ini kala jam istirahat berakhir. Ini kali pertama, dan mudah-mudahan terakhir. Akan kupastikan besok aku keluar kelas lebih cepat dari para gadis yang membarikade pintu kelas.

Hani kemudian menjauh dari mejaku. Ia mundur teratur ke sebuah barisan yang lain, di mana tas abu-abunya tergeletak rapi di atas meja yang jaraknya cukup jauh dari tempatku. Bibir Hani lekas membentuk sebuah kalimat tanpa suara yang bisa kuartikan sebagai Coba ajak Take-kun ngobrol! Tepat ketika ia telah duduk di atas kursinya

Take-kun? Sejak kapan dia memanggilnya begitu?

Merepotkan. Siapa juga yang sudi melakukan itu setelah semua yang terjadi hari ini.

“Anu… Horikita-san?”

Aku menoleh malas pada Luhan. Oke, barusan ia memanggilku, jadi kenapa? Hani tak perlu bertingkah sesenang itu di balik tasnya kan? Memangnya kami sedang apa? Kencan buta?

“Ya?” jawabku setengah hati. Tanganku sibuk mengaduk-aduk tas sembari mengeluarkan beberapa buku yang kuanggap penting untuk ditaruh di atas meja. Aku tak pernah tertarik pada isi sebuah buku. Satu-satunya alasanku mencari-cari benda itu adalah soal fungsi praktisnya untuk memukul wajah seseorang secara instan. Kalau Luhan memang semenyebakan yang kukira, aku tinggal menggetok wajahnya saja. Beres.

“Aku lupa membawa buku hari ini, bisakah kau berbagi bukumu denganku?” manik Luhan yang sudah lama tak pernah kulihat begitu dekat, kini mengekori setiap gerakan tanganku pada buku-buku yang kuperlakukan dengan kasar. Aku mendengus kesal. Menunjukkan sikap kasarku tepat di hari pertama kami bertemu lagi setelah sekian lama. Luhan tidak ingat apa-apa, dan itu kumaklumi. Ia hanya bertemu satu kali denganku, itu pun tak lebih lama dari lima menit. Apa yang bisa diharapkan?

Sedangkan aku, meskipun aku ingat segalanya hingga ke detil terkecil pada iris hitamnya yang mengerikan, hal tersebut sudah tidak ada artinya lagi. Aku sudah meninggalkan Tokyo, dan segala kenangan yang berada di dalamnya. Aku sudah memutuskan untuk merajut kenangan yang berbeda di Sapporo, meninggalkan masa lalu nan suramku di belakang. Termasuk soal Luhan, dan segala perasaanku padanya.

Aku telah tumbuh menjadi pribadi yang egois, mementingkan diri sendiri dan tak pernah menaruh atensi akan eksistensi sebuah hubungan.

Jadi kenapa?

“Tarik kursimu mendekat, Takegaya-san.”

Jadi kenapa aku mengatakan itu padanya?

.

.

to be continued.


notes.

san = merupakan panggilan yang paling umum. Digunakan ketika menyapa seseorang, dan bukan anggota keluaga. San mirip dengan is similar to “Mr”, “Ms”, “Mrs”, di negara Barat.

kun = merupakan sapaan informal dan biasa digunakan pada pria.

chan = merupakan bentuk “san” yang dialamatkan pada anggota keluarga atau anak-anak, atau bisa digunakan oleh orang dewasa jika ingin bersikap kekanak-kanakan pada lawan bicara atau me-refer pada seseorang yang cute menurut si pembicara.

Kalau belum terlalu kenal, biasanya orang-orang di Jepang memanggil satu sama lain dengan nama keluarganya [kayak Horikita atau Takegaya di atas]. Kalau udah kenal, ia biasanya bisa memanggil seseorang dengan nama depannya [kayak Yuri, Luhan, Hani dll] bisa dengan tambahan –san [bagi wanita atau pria], –chan [bagi wanita] atau –kun [bagi pria].

bapkyr’ lounge

Halo semua. Ini kisah romantis selanjutnya setelah Klise. Berlatar SMA, anak enam belas tahunan yang mencari cinta gitu kira-kira. Kisahnya kubuat berlatar belakang di Jepang, karena, cerita ini sedikit-banyak terinspirasi dari beberapa anime romantis yang baru-baru ini kutonton. Sebut saja ada Aoharaido, Bokura Ga Ita, Tonari no Kaibutsu-kun dan Kimi Ni Todoke. Fiksi satu ini bisa dikatakan perpaduan acak dari keempat anime yang kusebutkan tadi. Jadi, jangan kaget kalau gayaku agak berbeda dan ke-jepang-jepang-an ya.

Makasih

nyun.

118 thoughts on “YOUNIVERSE [1 of ?]

  1. Retha Lee berkata:

    wuaaw! sukak banget ih. berasa nonton anime wkwkwk. entah mengapa pas baca aku membayangkan yuri itu futaba dan luhan itu kou. hehe. i love aoharuride kekekek. seneng banget deh ada ff gini. soalnya akunya yg termasuk anime romance addict hahaha.
    ganbatte ne kaknyun
    caww otw to next chap

  2. Rimyeol Park Diary berkata:

    Aku suka banget ama ceritanya… Ini nih tipe cerita yg aku suka apalagi uri luhan ada disini aigooo….

  3. Viktoria berkata:

    Duhhh kak , kece banget fanficnya nihh , baru baca part 1 nya aja udah gregett , makin kepo nih
    Ohh ya kak , aku ini penggemar blog kakak , maaf selama ini gak pernah ninggalin komen , tapi janji deh bakalan sering-sering komen

  4. dotha12 berkata:

    Arghhhh kaknyunnn….

    Baru mulai baca nihh aku, Kimi Ni Todoke jg aku udh nontonn hahhahaa pantes kok ada sisi2 yg agak gak asingg…
    Kulanjutkan yah kak reading nya hohohihiio

  5. Tara berkata:

    lagi penat dengan rutinitas.. coba nyari-nyari ff dan nemu YOUNIVERSE ini. Awal cerita yang menarik kak! ^^

  6. indaah_inkai berkata:

    salam kenal kk,,
    readers baru,,
    critanya keren. Luhan misterius bgt d sini,,
    penasaran gmna klanjutan kisah yuri sbg gadis Saporro.

  7. indaah_inkai berkata:

    salam kenal kk
    readers baru
    baru baca chap 1,,keren..
    luhan misterius, makin pnasaran sama kisah yuri sbg gadis es saporro

  8. yayarahmatika berkata:

    Haduh kak nyunn salut deh sama kak nyun, bisa masuk ke semua cerita, dan sekarang fiksi yang mulai kejepang jepangan gini, ini jadi sesuatu yang beda dari fiksi kak nyun yang lain. Suka deh

    Sayang banget karena yuri harus berubah jadi dingin dan arogan gitu. Dan tadi di atas luhan nampar yuri ya? Jadi kenapa tiba tiba sikapnya berubah gitu pas ponselnya berdering? Dan sekarang luhan udah berubah jadi ramah? Kenapa ini? Ada sesuatu pasti kejutan kejutan yang hj iasa kak nyun buat. Oke kak nyun lanjut baca yang part selanjutnya yaa

  9. chaenoona berkata:

    aduh udah baca ke part 1 nya semakin penasaran dan menarik uwaaaa. aku bakal lanjut ke part 2^^ semoga aja part 2 nya mengasyikkan deh kkkk

  10. kyulyulmiu berkata:

    Yaampun ini yuri kasian udh gtu disuruh nunggu lama,eh luhannya gk blik lagi
    Dan setelah ketemu lulu mlh gk inget
    Universe
    Izin bca nextpart kak

  11. Yelin berkata:

    waah.. settingnya di sapporo. sblmnya aq pernah baca novel yg settingnya sapporo. sejak itu aq tertarik sama kota sapporo itu.
    eeh..nyun-chan buat ff yg settingnya sapporo aq jadi antusias bacanya.
    itu Lulu lupa beneran ya sama yuri??
    nnti pasti ingetkan? mungkinkah hadiah dr yuri dulu masih disimpen sama lulu?
    aq bakal cari tau di part selanjutnya.^^

  12. yuura berkata:

    udh lama banget g penah baca ff disini dan selalu suka sama ff yang dibuat disini bacanya bikin kebawa suasananya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s