YOUNIVERSE [2 of ?]

YouniverseYOUNIVERSE

a story by bapkyr

“We don’t remember days, we remember moments” – Cesare Pavese


Bel pulang. Selesai. Akhirnya hari ini usai sudah.

Tanpa menunggu Hani membereskan segala kerusuhan alat tulis di mejanya, aku lekas berjalan keluar kelas. Atmosfer dalam ruangan menyebalkan itu semakin tak enak saja. Apalagi ventilasi utamanya dibarikade oleh sosok pria berambut hitam yang sangat senang dikerubungi gadis-gadis. Ada yang lebih menyebalkan dari situasiku? Sebutkan di sini dan kau akan jadi teman terbaikku.

Mengganti sepatu tak memakan waktu lama bagiku. Kurang-lebih setengah menit kemudian, aku sudah berada di trek biasa yang kugunakan untuk pulang. Aku membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan hingga ke rumah, tanpa melewati jalanan besar. Kalau aku sedang malas, biasanya ada taksi yang bersedia dibayar murah untuk perjalanan singkat tersebut—yah, walaupun aku sudah berhenti menggunakannya karena alasan efisiensi.

Rumahku bisa dicapai dalam beberapa rute yang kurang-lebih memakan waktu sama. Aku memiliki sebuah rute favorit yang sebenarnya lebih lama semenit dari rute-rute yang tersedia. Meskipun demikian, aku tak pernah merasa pegal atau direpotkan. Rute yang kupilih adalah jalur sepi dengan tanjakan tinggi. Di sisi kanannya, terhampar sungai Toyohira yang sangat tenang di musim gugur, meninggalkan kesan misterius yang mendamaikan. Sisi kirinya berderet rumah-rumah tradisional dan modern yang dihiasi cat-cat merah dan biru yang sama-sama sudah mengelupas. Karena kondisi jalanannya curam serta rumor soal salah satu bangunan tua di sisi jalan yang berhantu, para murid Minami tak pernah memilih jalan ini sebagai rute pulang mereka. Satu-satunya yang senang dengan rute seseram ini hanyalah aku.

Ibuku juga pasti akan berpendapat serupa. Kami sangat suka daerah sepi yang jauh dari mulut-mulut jahil para tetangga. Aku dan ibu tak terbiasa bergaul dengan kehidupan yang dinamakan pertemanan. Entah apa yang melatarbelakangi ibu bertindak demikian, tapi kalau kau bertanya soal aku, aku bisa membeberkan penjelasannya sampai besok. Kekecewaanku pada makhluk sosial bernama teman, sepertinya berbekas trauma mendalam. Aku kerap dikhianati, ditindas, diasingkan oleh mereka yang semula mengatakan bahwa aku adalah yang mereka inginkan untuk menghabiskan masa muda indah bersama. Pengalamanku dengan Luhan, dengan ayah yang tak bertanggung jawab, juga dengan ibu yang pergi dengan tiba-tiba, semakin membuatku percaya bahwa pada akhirnya orang-orang yang paling dekat adalah yang paling mudah menyakiti.

Aku tak percaya hal-hal bersifat humani seperti pertemanan. Termasuk pada Hani.

Meskipun ia beberapa kali menganggapku sebagai teman terbaiknya, aku secara tidak adil hanya membuatnya menjadi sebuah simbol, tanda bahwa aku sungguh-sungguh menghargai eksistensinya meski tak menganggapnya teman. Aku memperlakukannya dengan sangat tak adil, tapi tak sekali pun Hani membicarakannya. Kutebak, ia bosan berdebat denganku. Ia selalu menjadi yang gadis keras kepala.

Tanpa terasa kakiku sudah berdiri di puncak tanjakan. Aku selalu menyempatkan diri untuk memandang ke permukaan sungai, melihat barisan rumah modern di seberangnya yang dihiasi lampu-lampu senja. Ada sinar warna-warni yang timbul akibat ilusi warna cat rumah, menimbulkan efek serupa festival tradisional. Di usia enam belasku, kuhitung hanya sekali aku pernah diajak ke sebuah festival tradisional. Kala itu musim panas, aku mengenakan yukata* bermotif bunga, diapit kedua orang tuaku di kanan dan kiri. Memori indah yang menyeramkan. Apalagi jika aku ingat kedua orang tua yang mengapitku saat itu adalah orang-orang yang tega untuk meninggalkanku sendiri.

“Sial, ups!” saat aku tengah menyalurkan kekesalanku dengan menendang-nendang pagar pembatas jalannya, aku terpeleset dan kehilangan keseimbanganku. Kupikir, aku akan baik-baik saja karena pagar itu akan menahan bobot tubuhku untuk tidak terjun bebas ke sungai sedalam lima meter di bawah sana. Sebaliknya, pagar itu serupa tampilannya, memiliki kekuatan yang sangat lapuk. Ketika bahuku menyentuhnya, susunannya hancur menjadi serbuk-serbuk kayu berbau rayap tua yang menyesakkan.

Lalu terlintas di pikiranku bahwa seharusnya aku lebih mendramatisir. Jadi, aku berkata pada diriku sendiri sembari memejamkan mata, “Nah, beginilah akhirnya.”

Hidupku tak terlalu berguna untuk orang lain, jadi kupikir jika aku harus mati di sini, bukan masalah besar.

“Gadis bodoh!”

Eh?

Ketika kupikir sebuah ‘eh’ saja sudah cukup untuk menjelaskan keraguanku, tanganku merasakan sentuhan kuat dari kulit kasar yang tak pernah kugenggam sebelumnya. Ada tarikan kuat, aroma keringat menyengat, dan juga, umpatan begitu dahsyat yang dilantunkan seseorang di telingaku yang membuatku kembali membuka mata dan menyadari kondisi terpayahku; aku baru saja diselamatkan oleh seorang pemuda dari jatuh memalukan ke dalam sungai.

“Kau?” aku membuka mataku lebar-lebar setelah tahu pemilik aroma tak enak tadi. Seorang pemuda, ya tak salah lagi. Kejutannya, aku benar-benar memiliki masalah dengan yang satu ini. “Takegaya-san?”

“Kau gila ya?” katanya sembari mengelap keringatnya dengan dasi yang ia kenakan. “Kalau mau bunuh diri, cari tempat yang bagus dong!”

Dia benar-benar… menjengkelkan!

“Harusnya kau tak ikut campur, berengsek!”

“Hah?” Luhan menggaruk-garuk kepalanya. “Kaubilang aku berengsek setelah kau membuat diriku berkeringat seperti ini? Oke, terima kasih kembali deh!” jawabnya tak kalah ketus.

“Apa sih yang kaulakukan di sini! Merepotkan.”

“Memangnya Sapporo punya pamanmu? Aku bebas jalan kemana saja. Lagipula, rumahku yang baru memang berada di jalan ini, tahu!”

Ups, iya aku tak sampai memikirkan hal tadi.

Kulirik Luhan dengan manik bersalah yang kututup-tutupi oleh rambutku yang—untungnya—berantakan oleh angin. Senja sudah tak terlihat lagi, diganti sebuah petang yang lebih gelap. Kabar baiknya, aku sudah tak jauh dari rumah, kabar buruknya, aku takut gelap.

Sebelum gelap bertambah pekat, aku membalikkan tubuhku dan berjalan menjauhi Luhan tanpa berkata apa-apa. Aku sudah terbiasa untuk tak terlalu sering menggunakan dua kata sakti seperti maaf dan terima kasih. Soalnya, jika lidahku terbiasa, aku akan semakin kehilangan topeng arogansiku. Bukankah sudah kuputuskan bahwa peran antagonis adalah salah satu yang kuinginkan setelah aku ke Sapporo?

Tap, tap, tap.

Semakin aku berjalan, semakin resah aku dibuatnya. Kupikir ketika Luhan mengatakan rumahnya tak jauh dari tanjakan tadi, rumahnya memang benar-benar tak jauh, semisal, hanya beberapa langkah lagi begitu. Namun asumsiku dipatahkannya ketika setengah menit berlalu dan ia tak kunjung berhenti mengikuti langkahku. Konsentrasiku hancur, seiring dengan badanku yang sakit-sakit akibat shock karena hampir terjatuh tadi.

“Jangan mengikutiku terus,” kataku pelan. Aku menambahkan bumbu ancaman pada nada suaraku, semata agar ia menghentikan aktivitasnya.

“Rumahku di depan kok.”

“Kalau begitu jalan duluan,” saranku.

“Ah merepotkan, nanti kautahu rumahku,” ujarnya tak acuh.

Kalau begitu mati saja kau, berengsek.

Aku menahan emosiku. Rasanya tidak benar untuk menyulut sebuah perdebatan di jalanan sepi begini. Bisa-bisa, para tetangga salah paham dan malah membawa kami berdua ke kantor polisi.

“Kalau begitu jalan satu menit setelah aku menghilang di belokan depan,” usulku. Kurasa jalan keluar tadi cukup bagus. Aku tidak akan tahu di mana rumah Luhan dan ia juga tak akan pernah mengikutiku ke rumah. Kalau ia cukup jenius dalam menilai keadaan dan mood-ku, harusnya ia bilang ya sekarang.

“Kenapa ya? Kayaknya aku tidak bisa melakukan itu. Aku takut sendirian.” Luhan mengedipkan sebelah matanya saat berkata demikian. Bahkan—kalau aku tak salah dengar—ia berbicara dengan aksen imut menyebalkan. Sialan! Dia mempermainkanku.

Emosiku terpancing pada akhirnya. Kuberikan sebuah tatapan galak padanya. Dengusan napasku kubunyikan lebih nyaring dari biasa, semata untuk menandai serangan balik yang sudah mencapai batasnya. Yah, kurasa aku sudah menampilkan wajah penuh emosiku sebaik yang aku bisa, dan Luhan…

…tertawa?

Benar, ia tenggelam dalam tawanya sendiri.

Saat melihatnya, pipiku tiba-tiba memanas. Pasti karena emosi ‘kan? Betul ‘kan? Sudah barang tentu tidak ada teori yang lebih pas daripada itu. Aku sangat emosi sampai-sampai suhu tubuhku memanas. Beres.

Tapi, senyumnya…

Tidak, tidak. Ada yang salah di sini. Kalau aku tidak memukul Luhan mundur hari ini, pasti kejadian seperti petang ini akan terjadi berulang kali selama sisa hidupku. Membayangkan ini terjadi saja sudah mengerikan.

“Em, Takegaya-san?” kataku setelah berdeham. Luhan memiliki pengendalian emosi yang cukup terampil. Ia berhenti tertawa setelah aku menatapnya serius. “Mari kita hentikan ini sekarang.”

Kutatap wajahnya dan poin utama yang kuteliti pertama kali adalah mata hitamnya yang gelap. Entah karena ini sudah malam dan lampu jalanannya belum sepenuhnya menyala, atau iris mata Luhan memang selalu segelap itu. Jika boleh kubandingkan dengan bocah dua tahun lalu, maka Luhan yang sekarang terasa lain, lebih hangat dan menyenangkan dibandingkan Pangean Es Tokyo yang kukenal. Seperti rumor yang beredar di sekolahku selama ini, ia pemuda yang bisa menempatkan dirinya di mana saja, bersahaja dan gemar berkelakar tanpa membeda-bedakan temannya. Namun saat kulihat iris mata hitamnya hari ini, sebuah kekosongan tanpa ujung yang pernah kulihat dahulu masih bertengger di sana, bersemayam diam-diam. Kegelapan itu seolah mengolokku, merayuku untuk menyelaminya, berusaha membuatku untuk memecahkan misteri di dalamnya. Aku terpaku sesaat. Luhan yang ini masih sama dengan Pangeran Es Tokyo bertahun-tahun lalu. Ia hanya menyembunyikannya dengan baik.

Tapi lupakan saja itu. Kutekankan lagi, Luhan tak pernah mengenaliku dan aku sudah lama meninggalkan kenanganku di Tokyo. Tak ada sehelai pun benang takdir yang menjalin kami jadi sebuah kesatuan.

Ya, aku sudah tahu apa yang harus kukatakan selanjutnya.

“Mari hentikan kelakarmu.”

“Anu… apa?”

Aku menghela napas, “Berhenti menggangguku, itu maksudku.”

“Eh, kenapa?” Luhan memiliki kemampuan mengubah ekspresinya dengan cepat bagai seekor bunglon. Selagi aku tenggelam dalam binar kosong iris hitamnya, kini ia mengubah ekspresi matanya serupa kucing lucu yang minta diberi makan. Menyebalkan, untung aku benci kucing.

“Kau dan aku tidak saling mengenal, kita hanya kebetulan berada di kelas yang sama…”

Aku menggantungkan kalimatku setelah melihat gerak-gerik aneh Luhan pada jemarinya. Di akhir kalimatku tadi, ia mengacungkan jari telunjuknya di udara, seolah mempertontonkan visualisasi angka satu padaku.

Cih.

“Kau aneh, aku benar-benar tidak menyukaimu,” tutupku.

Di saat yang sama, Luhan menunjukkan padaku jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan, mempertontonkan sebuah gestur seolah ia sedang menyebutkan dua dengan jari-jarinya. Karenanya, tentu saja keningku mengernyit, tapi aku memutuskan untuk tak lagi mempermasalahkannya. Aku sudah mengatakan apa yang aku inginkan, jadi sekarang saatnya berbalik dan pergi.

“Dua hal, Horikita-san,” suara Luhan berubah seketika. Sudah kuduga, dia memang memiliki kemampuan serupa bunglon, sehingga aku tak tahu lagi yang mana karakter orisinalnya. Saat ia bicara seperti itu, tungkainya perlahan-lahan bergerak pasti. Meski hanya lima sentimeter per gerakan, ia tetap maju, seolah ingin membuktikan bahwa ia berani mendebatku. Di sisi lain, kakiku terpaku di atas sepatuku, tak bisa bergerak sama sekali. “Dua dusta,” katanya tenang.

Aku benci gelap dan aku benci Luhan. Kini dua hal yang sama-sama kubenci berada tepat di sekelilingku. Sekarang coba kau jadi aku, dan pikirkan jalan keluarnya.

Saat aku berada dalam fase-fase ketakutanku, tangan kiri Luhan entah sejak kapan sudah menelusup ke dalam saku depan celana jinsnya, mengaduk-aduk sesuatu di sana. Sembari melakukan hal mencurigakan tadi, ia masih menatapku, berbicara dengan mimik serius. “Biar kuluruskan dusta pertamamu, kau memang mengenalku.”

Aku kehabisan napas. Aku seperti kehabisan napas. Luhan ingat! Luhan tahu bahwa kami pernah bertemu, atau jika tidak, begitulah kekhawatiranku untuk sesaat ini. Kalimatnya masih ambigu, mengambang di antara benar dan salah. Jadi untuk meredakan kecurigaan, aku tak berkata apa-apa, tak bereaksi apa-apa sembari membiarkannya terus berjalan mendekat dengan tangan kiri yang mengaduk-aduk saku.

“Dusta kedua,” Luhan berjalan cukup cepat setelah kalimatnya barusan, sehingga ia kini berdiri kurang dari beberapa senti saja dari wajahku. Aku bisa menghirup aroma keringatnya lagi, aroma yang kurasa cukup sesuai dengan tubuh dan wajah yang dimilikinya entah bagaimana. Tadinya, aku hanya menunduk pasrah dalam kekalutanku sendiri, tapi aroma tadi menggoda syaraf motorikku untuk bekerja ekstra, mengangkat kepalaku agar mata ini dapat langsung menindai iris mata hitam sang pemuda. Saat aku akhirnya berhasil, pemandangan yang kuinginkan itu kemudian ditengahi oleh sebuah benda menggantung yang anehnya, sangat tak asing. Keychain*. Berbandul tata surya dengan replika mentari oranye sebagai pusatnya.

“Kau memang menyukaiku, Yuri.”

.

.

“Yo, Yuri-chan, selamat pagi.”

“Oh, selamat pagi Hani.” Aku berjalan bagai seonggok zombie tanpa kesadaran. Tadi pagi aku tak sempat mandi, jadi sebagai ganti, aku menggunakan banyak-banyak cologne pada tubuhku. Aku bangun terlalu siang hari ini, jadi jangan tanya soal pulasan bedak dan lipgloss yang kulupakan. Aku bahkan tidak memakai lotion pelembab, padahal kulitku sangat sensitif terhadap udara dingin. Hani yang biasanya membuat pagiku cerah, kini tak mampu membendung bengkak di bawah mataku. Aku sangat lelah karena tidak bisa tidur semalaman, dan mudah-mudahan Hani tak bertanya kenapa.

Aku tak punya penjelasan detil. Kejadian kemarin berlangsung terlalu cepat.

“Kau memang menyukaiku, Yuri.”

Ah, sial! Aku teringat lagi!

“Yuri-chan, kau baik-baik saja?” tanya Hani cemas saat aku mulai menjedut-jedutkan kepalaku di atas meja. Suhu tubuhku yang memanas sejak semalam dan tak kunjung normal juga hingga detik ini, membuatku harus bersusah-payah menyembunyikan kedua pipiku yang merona merah akibatnya. Mau tak mau aku menghindari pertanyaan Hani dengan terus-terusan menyembunyikan wajah di balik surai-suraiku.

Hani tak gampang menyerah. Ditiup-tiupnya tengkukku hingga aku merasa gelisah dan lekas menatapnya jengkel. “Sudah kubilang jangan melakukan itu padaku. Aku tidak tahan dingin.”

Mataku mengekori Hani hingga gadis itu duduk tak jauh dari mejaku. Sebelum aku memutuskan menjatuhkan kepalaku ke atas meja kembali, Hani menyentuh dahiku. “Kau demam,” simpulnya.

Refleks, kugerakkan tanganku ke dahi, mengecek kebenaran perkataan Hani. Suhu tubuhku yang memanas kini memiliki alasan yang logis. Setidaknya, aku tidak tersipu oleh fakta bahwa Luhan mengingatku. Suhu tinggiku hari ini disebabkan oleh virus demam. Ya, itu lebih baik.

“Aku harus ke ruang kesehatan.”

“Kuantar,” balas Hani bergegas merangkul lenganku.

“Tidak, kau harus di sini, katakan pada Yamada Sensei* aku sakit. Aku hanya perlu tidur sebentar, setidaknya sampai kalkulusnya berakhir.” Di akhir kalimatku, lengan Hani masih menggantung juga di sekitar pinggulku, berusaha memapah hingga ke ambang pintu. Hani bisa menjadi sangat perhatian dan menyebalkan di saat yang bersamaan. Kondisiku tidak separah itu. Aku masih bisa berjalan dengan benar.

Untuk mengakhirinya dengan cepat, aku membubuhkan senyum di atas wajahku. Semua orang di sekolah kerap memanggilku si Gadis Es karena aku terlihat memiliki ekspresi dingin, kejam, dan tak tulus bahkan ketika aku tersenyum. Malahan, beberapa orang—termasuk Hani—lebih takut pada ekspresiku ketika aku tersenyum daripada ketika aku kesal.

Senyumku membawa semacam aura negatif baginya.

“O—oke, aku akan beritahu sensei,” Hani setengah hati setuju.

Yosh.

Satu masalah selesai. Aku bisa tidur di ruang kesehatan menggunakan alasan demamku, kemudian bisa terbebas dari jeratan kalkulus sekaligus bayang-bayang soal sosok Luhan yang mungkin akan mengejekku lagi dengan senyumnya jika aku berada di kelas. Sungguh keberuntungan.

Bicara soal Luhan, aku tidak melihatnya di kelas pagi ini. Jika dalam lima menit dia tidak muncul, kemungkinan besar dia pasti terlambat, atau bisa jadi membolos. Aku tak terlalu peduli sih, hanya saja, pertemuan kami kemarin benar-benar menimbulkan tanda tanya yang besar di kepalaku. Luhan mengingatku, itu pasti. Lantas kenapa dua tahun belakangan ini ia tak sekali pun memberitahukannya padaku? Jangankan bicara, bertemu saja tidak pernah. Lagipula, pemuda mana yang bisa-bisanya mengingat kejadian amat singkat dua tahun lalu sih? Apalagi ingatan tersebut berkutat pada seorang gadis pemalu yang sangat norak. Kalau aku jadi Luhan, aku tidak akan sudi mengingat-ingat.

Dalam kasusku, kalaupun aku ingat kembali dan bertemu dengan subjek-subjek dalam kenanganku, aku cuma perlu pura-pura tak tahu.

Selama ini, aku—sebagai satu-satunya yang menganggap hari itu sudah lenyap—hanya tahu Luhan merupakan salah satu murid pandai yang ditempatkan di kelas khusus di sekolahku. Sedangkan aku, yah—namaku tidak cukup populer untuk diingat dari sisi positif. Sampai saat ini, sebagian dari ekosistem kelasku kerap memanggilku si Gadis Es. Cukup keren, jadi aku memutuskan aku tak akan tersinggung.

Srek.

“Ada yang bisa kubantu?”

Sesosok wanita berjas dokter berdiri di ambang pintu, menindaiku dari iris mata cokelatnya yang jernih. Nametag hitam kecil tergantung di sisi kanan kantung jasnya dengan sebuah ‘Shimura Sayaka’ yang tertulis besar-besar di bawah cetak foto tiga kali empatnya.

“Aku merasa tidak enak badan,” jawabku. Sayaka mengangguk sebentar kemudian sebagai jawaban singkat, ia membawaku ke salah satu tempat tidur yang berada di balik birai putih beraroma softener. Kelihatannya seluruh kain di ruangan ini baru saja di-laundry.

“Siapa namamu?” katanya seraya membaringkan tubuhku di atas kasur. Beberapa kancing teratas dari kemejaku dilepasnya sebagai jalan masuk untuk stetoskop putih yang tengah dipegangnya. Ia memegang pergelangan tanganku, mencocokkan denyut yang ia rasakan dengan arlojinya. Tangannya yang halus menyentuh dahiku, kemudian mencatat sesuatu pada selembar kertas yang ia taruh di dekat nakas.

“Horikita Yuri, kelas 2-5.” Aku mencoba memandangi wajahnya yang tenggelam dalam pekerjaan mencatatnya. Ia masih sangat muda untuk kupanggil sensei, tapi terlalu tua untuk kutambahkan sebuah chan di belakang namanya. Usianya mungkin sekitar 25 atau 26 tahun. Saat aku berkunjung ke ruang kesehatan, ia nampak sibuk dengan setumpuk kertas di meja kerjanya. Kedatanganku sepertinya memberinya pekerjaan yang lebih banyak. Meski demikian, ia tak menunjukkan raut kelelahannya sedikit pun padaku. Alih-alih ia berusaha tersenyum meski hal itu tak cocok dengan kantung hitam di bawah matanya.

“Kalau kutekan perutmu seperti ini, apa terasa sakit Horikita-san?” kurasakan telunjuknya menekan-nekan perut di sisi kananku. Tak terasa apa-apa.

“Tidak ya? Kalau di sebelah sini?” Sayaka menekan sisi perutku yang lain, ia terus-menerus bertanya pertanyaan yang sama, dan aku pun terus-menerus memberi jawaban serupa. “Tidak sakit.”

“Baiklah, kau cuma demam,” simpul Sayaka kemudian. Aku hendak bertanya untuk apa semua pemeriksaan tekan-menekan tadi, tapi Sayaka sudah menjelaskannya lebih dulu, seolah dia membaca pikiranku. “Beberapa murid mengalami kelelahan, maag akut, dan hypothermia*. Cuaca sedang tidak baik, jadi aku mengecek kondisimu kalau-kalau kau mengalami tiga penyakit dari yang kusebutkan tadi.”

Aku mengangguk. Dibandingkan petugas kesehatan sebelumnya, Sayaka nampak lebih bertanggung jawab dari kelihatannya. Seorang wanita berparas menawan seperti Sayaka, biasanya selalu dikaitkan dengan stereotip bodoh. Namun, aku tidak melihatnya di wajah wanita satu ini. Sayaka terlihat cerdas, tenang, dan cantik. Sebuah paket lengkap untuk menarik perhatian para pemuda.

Bicara pemuda, aku jadi ingat cerita Hani soal pegawai baru di unit kesehatan sekolah yang digilai oleh murid-murid lelaki di sini. Mungkin maksudnya adalah Sayaka. Jelas sekali pasti Sayaka.

“Di mana tempat tinggalmu, Horikita-san?” katanya sembari mengacak-acak lemari obat-obatan.

“Blok 5, lima belas menit kalau berjalan kaki.”

“Kedengaran tak begitu jauh, ya?” balasnya. Sayaka mendekatiku dengan sebuah pil dan segelas air putih. Ia memberikannya padaku. “Apa kau sudah sarapan?”

“Ya. Apa kau akan memintaku meminum ini?”

“Benar sekali. Setelah itu, kau bisa istirahat. Akan ada rapat guru sebentar lagi, jadi mohon maaf aku tak bisa menemanimu lama-lama, kusarankan kau pulang dan istirahat di rumah.”

Aku menenggak pil yang diberikan Sayaka, kemudian mendorongnya dengan air putih banyak-banyak. Wanita itu memandangiku, memastikan bahwa aku tidak membuang pilnya melalui muntahan.

Setelah aku sudah lebih tenang, ia menarik sebuah bantal untuk ditempatkan tepat di bawah kepalaku. Kala kupandangi iris cokelat Sayaka diam-diam, aku membayangkan sosok ibuku tepat pada wajahnya, membuatku ingin tetap terjaga berlama-lama dan mengabaikan rasa pusing di kepalaku. Sayaka memiliki pesona keibuan yang hangat. Aku iri padanya.

“Anu… Sensei¸ aku sepertinya akan tetap di sini sampai sekolah selesai.”

“Eh?” ia terkejut, tapi aku tak begitu mengerti penyebabnya. “Kau tidak apa-apa sendirian, Horikita-san?”

“Bukan masalah. Aku hanya perlu tidur ‘kan, Sensei?”

Sayaka nampak ragu meninggalkanku. Tapi tak lama. Setengah detik setelah aku bicara, masuklah seorang guru pria memanggil-manggil namanya. Keduanya kemudian nampak terburu-buru menarik beberapa kertas dari meja dan pergi tanpa berpamitan padaku.

Syukurlah,

Akhirnya aku bisa sendirian.

.

.

to be continued


short dictionary.

  1. Yukata : jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas. Dipakai juga dalam berbagai macam perayaan musim panas.
  2. Keychain : gantungan kunci.
  3. Sensei : guru
  4. Hypothermia : kondisi medis yang terjadi ketika tubuh kita kehilangan suhu panas dibanding kemampuannya memproduksi suhu, menyebabkan suhu tubuh rendah yang berbahaya.

bapkyr’s lounge

Hai, semuanya. Langsung saja, karena cerita ini full of jejepangan, aku membuat latar belakang tempat dan waktu serealistik mungkin. Sungai Toyohira benar-benar eksis di Sapporo, begitu juga Sapporo Minami High School yang menjadi latar cerita. Penampakannya :

Toyohira River

Hokkaido_Sapporo_Minami_High_School

104 thoughts on “YOUNIVERSE [2 of ?]

  1. yayarahmatika berkata:

    Aku malah ngebayangin kalo luhan nanti ada di ruang kesehatan juga, karakter luhan di sini itu kan keliatannya baik deh kak, ya memang misterius tapi lebih ke manjengkelkan, suka deh sama luhan yang ini, trus gimana ya kalo kak nyun buat ff yang luhan nya itu nakal nakal gimana gitu ahahhaha oke kak nyun lanjut baca part selanjutnya

  2. love yuri berkata:

    awalnya kurang ngerti tapi lama lama ceritanya jadi keren banget.

    maaf bari swmpwt komen aku juga baru hiarus lama dari web ini dan setiap mau komen aku gatau caranya gimama tp skrmf udh tau. semangat terus kak nyun dan author lainnya ^-^

  3. Yelin berkata:

    yeeiy.. Lulu inget sama yuri n hadiah dari yuri jg masih disimpen sama lulu.
    aq suka deh kalo nyun jg nyertain gambar latar belakang di ff ini. jadi bisa ngebayangin dgn lebih jelas suasananya.

  4. sarah berkata:

    Sebenernya aku baru baca ff lagi dan langsung ke blog ini karna aku suka castnya dan ceritanya selalu menarik.
    Aku suka feelnya di cerita ini dan untuk info, efek ga pernah buka wrdprss aku lupa cara login-_-
    *curhat ga penting bngt. Oke lanjuut^^

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s