YOUNIVERSE [3 of ?]

Youniverse

YOUNIVERSE

| 3 of ? |

a story by bapkyr

those are two kinds of secrets: those we hide from others and those we hide from ourselves.


Ada ribut-ribut di luar segera setelah Sayaka pergi. Aku jadi tidak bisa menutup mataku barang sedetik pun. Tertarik oleh suara bising tersebut, aku melangkah ke pintu, mencoba mengintip dari jendela kecil di permukaannya. Sosok Luhan berdiri di sana, tepat di samping seorang pria berwajah babak-belur. Sayaka dan seorang guru pria di sebelahnya membantu sang pemuda babak-belur masuk ke ruang kesehatan, sehingga aku harus kembali ke kasurku diam-diam, berpolah seolah aku tak tahu apa pun.

“Tetap di sana, Takegaya­.”

Aku mendengar perintah tegas dari Sayaka. Setelah segala pujian yang kulantunkan diam-diam dalam hati soal sosoknya, kini aku ditunjukkan sebuah karakter yang sama sekali berbeda. Kupikir Sayaka adalah wanita lembut yang selalu merawat murid-murid di sini dengan penuh kasih sayang. Kupikir juga, ia adalah wanita yang cukup sabar dalam menangani murid-murid bermasalah. Akan tetapi, dari nada bicaranya barusan, ada sesuatu yang disembunyikannya. Saat ia melintas di dekat ranjangku, aku menangkap ekspresi lesunya, keringat dingin bercampur dengan kecemasan pekat. Ia membaringkan pasiennya dengan hati-hati, kemudian mengobati luka-luka di sekitar wajahnya sembari memerintahkan rekan gurunya yang lain untuk menelepon keluarga si murid.

Aku mengintip sedikit dari balik selimutku dan menemukan sosok Luhan masih berdiri di ambang pintu meski Sayaka beberapa kali meneriakinya untuk pergi. Dibandingkan dengan luka dari pemuda yang terbaring di sampingku, Luhan nampak baik-baik saja. Kusimpulkan, saat sebuah perkelahian terjadi, Luhan dengan mudah menumbangkan lawannya ke tanah tanpa perlawanan. Itulah mengapa ia tak memiliki sedikit pun luka.

“Pergi,” kudengar Sayaka memerintahkannya lagi, kali ini lebih pelan. Aku merasa sangat salah terjebak di situasi seperti ini, apalagi setelah beberapa orang datang dan membawa tubuh pemuda babak-belur pergi bersama para guru, bermenit-menit kemudian. Seseorang meneriakkan umpatan pada Luhan yang berdiri kaku di ambang pintu, dan hal tadi diikuti oleh beberapa temannya yang lain.

Segalanya terjadi sangat cepat, tahu-tahu aku sudah ditinggalkan oleh semua orang, kecuali dua yang tengah bersitegang tak jauh dari hadapanku. Luhan berada di ambang pintu, masih berdiri kaku seperti bermenit-menit lalu, sedangkan Sayaka, berdiri di samping meja kerjanya, menundukkan kepala. Keduanya mungkin tak pernah mengira aku masih terjaga. Jadi, kumanfaatkan momen itu untuk mendengarkan.

“Kembalilah ke kelasmu.”

Dingin. Suara Sayaka begitu berbeda dengan Sayaka yang tadi membantuku. Meski aku tak melihat keduanya dengan jelas, tapi aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada keduanya, sejak sangat lama. Sesuatu yang tak pernah bisa ditemukan jalan keluarnya.

“Tidak,” Luhan menjawab. Aku cukup terkejut ia tak mengeluarkan suara konyol seperti saat ia berbicara padaku kemarin. “Aku akan menjelaskan—“

“Berhenti!” volume bicara Sayaka meninggi, membuatku ingin segera tertidur dan melupakan segalanya. Meski aku baru saja bertemu dengan wanita itu, aku merasa sikapnya yang kasar pada Luhan sekarang bukan merupakan sikap orisinalnya. Entah Sayaka mengenakan topeng atau baru saja melepasnya, aku tak tahu lagi.

Di ambang pintu, Luhan berhasil bungkam. Aku saja, yang kemarin susah-payah mencoba membungkamnya dengan berbagai cara, masih saja gagal. Sayaka, entah bagaimana bisa membuat pria itu bertekuk lutut dengan hanya satu kata.

“Aku tidak suka kau berperilaku seperti ini, Luhan.”

Luhan?

Aku benar-benar terkejut. Cara Sayaka memanggil nama depan Luhan, ditambah ekspresi yang diguratkan di wajahnya, benar-benar sangat salah untuk hubungan guru dan murid. Ada sesuatu. Hubungan yang tidak aku dan orang lain ketahui di antara keduanya.

“Kubilang, aku bisa jelas—“

“Jangan masuk! Sudah kuperingatkan. Kembalilah ke kelasmu sekarang. Aku tidak mau ada yang tahu soal ini.”

Aku benar-benar penasaran. Sayaka tak bertindak seperti Sayaka saat ia berada di hadapan Luhan, sementara Luhan, bertindak dingin di hadapannya, berkebalikan dengan apa yang pertontonkan kepada teman-temannya setiap hari. Luhan enam belas tahun seolah kembali menjadi Luhan empat belas tahun, sosok yang dingin, angkuh, dan menyebalkan.

Ada sesuatu yang lain dalam hubungan mereka, dan apa pun itu, hatiku rasanya tergelitik ingin tahu.

“Sayaka Sensei, rapat akan segera dimulai.”

Suara itu munculnya di ambang pintu, tepat di belakang Luhan, dari seorang pemuda berprofesi sama seperti Sayaka. Aku mengenalnya sebagai Yamada Sensei, guru kalkulus kami yang menyebalkan. Tapi saat ia bicara pada Sayaka hari ini, nada bicaranya melembut, jauh sekali dengan apa yang biasa kudengarkan di dalam kelas. Apakah Sayaka memiliki kemampuan untuk mengubah kepribadian orang-orang dengan seketika?

“Oh—iya, baiklah.”

Tak perlu waktu lama bagi Sayaka untuk, sekali lagi, pergi dari ruangan kerjanya. Ia melewati tubuh Luhan tanpa sepatah kata pun, kemudian menghilang di balik pintu, meninggalkanku hanya berdua dengan pemuda menyedihkan satu itu. Aku sudah berusaha baik sejauh ini, mendengarkan tanpa gerak-gerik mencurigakan. Ketika aku berusaha memejamkan mata dan mengenyahkan rasa gugupku, Luhan berderap ke depan dari ambang pintu, berjalan ke sebuah ranjang di sampingku dan tertidur di sana.

Aku mengintip sedikit dari selimutku dengan hati-hati, hanya demi pemandangan sesosok pemuda yang tengah termenung memandangi langit-langit ruang kesehatan.

“Kau pasti sangat bosan ya, Horikita-san?”

Eh?

“Kau tidak tidur ‘kan?”

Aku terkejut ketika Luhan menyebutkan namaku. Untuk nol koma nol nol nol detik yang lalu, aku hampir mati kehabisan napas saking kagetnya. Luhan tahu bahwa aku menguping seluruh pembicaraannya. Meskipun aku telah mengambil peran sebagai gadis yang cuek untuk dua tahun terakhir, tapi aku masih tahu tata krama. Apa yang kulakukan barusan—menguping—merupakan salah satu yang dibenci orang-orang. Aku siap untuk sebuah omelan atau makian. Hanya saja, sampai aku membuka selimutku dan menunjukkan wajah bersalahku pada Luhan, pemuda itu tak berkata apa-apa. Ia masih saja sibuk memandangi plafon sembari tiduran dengan tangan yang disangga di bawah kepalanya.

“Anu… aku…”

“Wajahmu merah. Kau sakit betulan?”

Ia bicara tanpa memandangku sama sekali. Aku memaklumi itu. Tidak ada orang yang sanggup menatap wajah orang yang baru saja menguping pembicaraannya. Apalagi, aku termasuk orang asing baginya.

“Um, iya… aku demam,” kataku singkat. Aku melirik diam-diam ke arahnya, hanya penasaran soal apa yang dilakukannya setelah perbincangan barusan. Aku yakin ia tak berbaring di sana hanya untuk menanyaiku soal kondisiku.

“Sudah minum obat?”

“Sayaka Sensei sudah memberikannya,” menyebut nama Sayaka terasa sangat salah, tapi tidak menyebutnya sama sekali malah akan tampak lebih canggung untuk kami. Aku bingung dengan sikapku sendiri. Bukankah aku sudah memutuskan untuk tumbuh menjadi gadis yang cuek dan apatis? Bukankah seharusnya aku tinggal tidur saja dan melupakan semua yang terjadi hari ini? Bukankah hal itu yang biasanya kulakukan setiap hari?

Tapi kenapa tidak hari ini?

Setelah upaya untuk mengubah diri selama dua tahun terakhir, kupikir aku benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang sama sekali berbeda. Tapi Luhan pun datang, memorak-porandakan segalanya, seperti apa yang ia lakukan dahulu. Kini aku tak tahu lagi, apa aku harus meneruskan drama Gadis Es Sapporo-ku, atau berhenti dan menjelma kembali menjadi Gadis Pemalu Tokyo.

“Em… anu, Takegaya-san, soal Sayaka Sensei…”

Yah, pada akhirnya aku kembali menjadi gadis lawas itu. Si Pemalu dari Tokyo.

“Kuduga memang aku tak bisa menyembunyikan apa pun setelah kejadian barusan, ya?” ia tertawa lantas mendudukkan dirinya di atas ranjang, menghadap ke arahku. Mau tak mau, aku jadi menoleh ke arahnya dengan refleks, mencari jawaban di antara senyumnya yang menawan.

“Maaf telah menguping,” kataku ragu-ragu.

“Mau diapakan lagi. Kau sudah di sini dari awal, jadi bukan salahmu.” Tawa Luhan tak terkesan palsu, tapi di sisi lain, jujur pun masih kunilai berlebihan. Untuk mencairkan suasana, aku berdeham, mencoba untuk mengalihkan topik. Tepat saat aku akan angkat bicara, Luhan mendahuluiku.

“Dia kakakku,” katanya singkat. Kami tak bertatapan selama sepersekian sekon, setidaknya, sampai aku menutup mulutku yang menganga lebar.

“Ap—apa…”

“Shimura Sayaka, dia kakak tiriku.”

Oh.

Hatiku mencelos. Masuk akal mengapa keduanya bertengkar tak biasa. Juga masuk akal mengapa Sayaka memanggil Luhan dengan tutur informal. Aku ingin bertanya lagi, tapi aku menahannya. Aku tak punya pengalaman memiliki kakak atau adik, tapi jika aku punya satu, kurasa kondisi pertengkaran seperti yang kulihat tadi dirasa mafhum. Sudah sepantasnya ada percekcokan di dalam keluarga, tak memandang di mana keluarga tersebut berada.

Namun demikian, membicarakan hal serumit ini denganku, apalagi mengingat statusku yang hanya wanita dari masa lalunya, rasanya sangat canggung. Aku tidak tahu bagaimana cara menenangkan hati Luhan, atau mencoba sedikit kata-kata ajaib menghilangkan kekikukkan kami, karena selama dua tahun ini, aku benar-benar tak banyak berinteraksi dengan orang lain. Aku bahkan tak tahu lagi caranya tersenyum tulus, seperti yang Luhan lakukan di hadapanku tanpa henti.

Heran. Mengapa ia bisa berlaku begini di kala ia seharusnya emosi.

“Yang kaulihat bukan yang pertama kok, jadi kau tidak perlu mencari kata-kata yang tepat untuk menghiburku. Aku tidak butuh yang seperti itu, oke?”

Tidak oke. Tidak oke sama sekali.

Aku memang tak tahu maksud tersembunyi dari senyumannya, atau apakah ia baik-baik saja seperti yang ditunjukannya. Tapi, aku tahu sorot sendu di iris matanya. Galaksi hitam tanpa bintang berputar-putar di dalamnya, membentuk spiral kekosongan yang teramat gelap. Aku tidak bisa menjangkaunya, sorot mata itu. Kedua sudut bibir Luhan ditarik ke atas, memancarkan ekspresi bahagia seolah dunia sudah berlakon baik padanya selama ini. Namun dari matanya yang gelap, aku bisa membaca kesendirian, kesedihan, kekecewaan yang amat dalam. Luhan mungkin bisa berbohong dengan bibirnya, tapi aku, yang sudah terlatih dengan berbagai kekecewaan dalam hidup, ahli dalam membaca apa yang ada di dalam pikirannya; apa yang terpeta di matanya.

Tapi,

Aku tidak punya alasan kuat untuk memberitahunya hasil observasiku. Berkata bahwa aku tahu segalanya dan bersedia untuk menjadi teman curhatnya? Terdengar naif sekali. Memberinya nasehat? Tampak seperti bukan diriku. Horikita Yuri yang kuciptakan adalah gadis arogan yang selalu menempatkan harga dirinya di garis depan, menolak untuk mendengarkan keluh-kesah yang tak memiliki faedah atas hidupnya. Citra Yuri yang susah-payah kubuat adalah gadis apatis Sapporo yang hatinya telah beku dari segala perasaan emosional. Tak peduli kapan dan dengan siapa aku bicara, aku tak pernah benar-benar memahami dan mendengarkan. Aku telah lama menulikan telinga, menutup mata dan mengunci mulutku dari interaksi sosial. Keberadaan Luhan, tak mungkin membuatku goyah.

Tidak, ‘kan?

Jadi, sekarang, aku tak tahu kenapa aku masih berbaring di sini dan menatapnya dengan kikuk. Padahal, aku bisa saja kembali tak peduli dan menarik selimutku hingga kepalaku terbenam di dalamnya. Lebih repotnya lagi, aku malah mengajaknya bicara. Mengatakan hal-hal yang tak kuduga bisa juga keluar dari bibir Horikita Yuri yang seperti ini.

“Kautahu kenapa aku dijuluki si Gadis Es?”

Luhan menancapkan titik hitam netranya padaku. “Karena kau… sedingin es? Tak punya perasaan? Apatis?”

“Benar, tapi kautahu apa yang menyenangkan dari itu?”

“Kau populer?”

Aku menggeleng samar, membiarkan Luhan memandangiku lebih lama.

“Karena aku tidak begitu peduli kisah hidup orang lain.”

Luhan tertawa, “Lalu?”

Ranjangku dan ranjang yang diduduki Luhan tak terlalu jauh jaraknya, jadi aku bisa menggapai lengan Luhan dengan mudah. Jangan tanya apa yang terlintas di pikiranku kala aku melakukannya, aku juga sangat keheranan lebih daripada yang kalian kira. Gerakan memalukan itu terjadi begitu saja dengan refleks, seolah tangan-tanganku sudah lama menanti kesempatan seperti ini tanpa kusadari.

“Lalu,” aku berdeham, berusaha menguasai diriku kembali setelah tanganku menyentuhnya. “Jika… jika kau butuh seseorang untuk bercerita tanpa membuatnya peduli, anu… kaubisa menghubungiku. Aku tak akan pernah berusaha kasihan padamu, jadi kau tak perlu repot-repot khawatir soal itu. Aku juga tak akan pernah bertanya apa kau baik-baik saja…” aku terhenti tepat di tengah-tengah kalimatku. Saat itu Luhan menundukkan kepalanya, melepaskan jemari kami yang telah bertaut untuk beberapa sekon singkat. Saat kupikir ia mulai jengkel, tangannya menggapai kepalaku, seiring dengan tubuhnya yang berdiri dan bergerak semakin dekat ke arahku.

“Lalu kau seperti langit,” katanya berbisik.

Bahuku berjengit refleks saat ia mulai membelai kepalaku. Situasi menjadi benar-benar kacau. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini memalukan.

“Tak ada jawaban berarti setuju.”

“Eh? Takegaya-san?”

“Kaubilang kau bersedia mendengarkanku dan tidak akan pernah merasakan kasihan padaku, maka, jadilah langitku.”

Luhan, seperti kelihatannya, memang pandai memainkan perasaan wanita. Aku sudah jauh-jauh ke Sapporo, meninggalkan kenangan dua tahun lalu di Tokyo, tapi aku dipertemukan kembali dengannya di sini, malahan lebih dekat daripada apa yang pernah kuingat. Aku ingin menyebutnya takdir, tapi sebenarnya aku sudah tahu Luhan di Sapporo sejak aku bersekolah di sini pada tahun pertama, hanya saja, aku memutus takdir itu. Aku selalu menghindari dan menyembunyikan wajahku untuk tetap tak terlihat, berusaha tidak menjadi salah satu sorotan orang yang kemudian bisa dikenali Luhan.

Dan,

Detik ini, adalah saat-saat ia menghancurkan dinding yang sudah kubangun susah-payah. Luhan menyambung kembali jalinan takdir yang sudah lama kuputus. Ia mengikatnya erat, membuatku enggan untuk menghancurkannya kembali.

“Kau sama dengan langit, ada, tapi kalian sama-sama tak peduli. Aku suka ide itu, ayo berteman, Yuri-chan.

.

.

Ya.

Bisa kukatakan, aku telah mengambil jalan yang salah. Saat ini, atau beberapa jam sebelumnya. Secara teknis, dan konotatif. Pokoknya, aku benar-benar kacau.

“Yuri-chan, kemarin kau tidak lewat sini. Jalan memutar ya?”

Diam kau bocah sialan.

Aku mengerling kesal pada Luhan tanpa ia ketahui. Pemuda itu bersikeras mengantarku pulang hanya karena aku tampak pucat dan kelelahan. Harusnya kuberi tahu bahwa yang membuatku teramat lelah adalah dirinya sendiri. Bodohnya.

“Lewat dekat sungai Toyohira padahal lebih dekat ke rumahku.”

“Kalau begitu pulang saja sendiri!”

“Kau tidak perlu jengkel begitu dong. Lagipula kita sudah setengah jalan, akan terlalu jauh bagiku untuk memutar.”

Lalu kenapa kau mengikutiku, bodoh!

Aku mendengus. Ini kali pertama aku ditemani seseorang pulang ke rumah. Hani saja kadang-kadang kularang saat ia ingin mengantarku. Luhan benar-benar aneh. Di satu sisi, aku melihatnya sebagai seseorang yang menyeramkan, tapi di sisi lain, ia bisa berubah menjadi seseorang yang menyenangkan dengan cepat, tak peduli bagaimana. Hatinya bak bercabang menjadi dua, hitam dan putih. Luhan yang berjalan di belakangku saat ini, benar-benar kontras sekali dengan Luhan yang menghajar seseorang hingga babak-belur.

Seperti dua kepribadian yang disatukan dalam satu tubuh. Begitulah aku menilainya.

“Yuri-chan, kalau aku…”

“Berhenti memanggilku seperti itu. Aku setuju menjadi langitmu atau apa pun itu, tapi aku tidak suka kau memanggilku seolah kita benar-benar teman,” ujarku. Hanya untuk mempertegas, aku tak memiliki niatan menjadi teman baiknya. Terserah apa yang dia nilai dariku, toh sejak awal, aku sudah mengatakan aku tak akan peduli. Ia bisa bercerita sebanyak yang aku mau, dan aku tak akan sedikit pun melayangkan jari bantuan padanya. Anggaplah aku ini semacam batu para dewa. Kau bisa memohon, tapi tak ada yang bisa menjamin permohonanmu akan dikabulkan.

Sesederhana itu pemikiranku.

“Kupikir karena kau sudah setuju, dan kita berteman, aku bisa memanggilmu sesuka hati. Oh, atau begini, kau juga bisa memanggilku Luhan. Impas.”

“Bukan itu masalahnya,” aku berhenti dan membalikkan badan menatapnya. “Hubungan kita tak seperti itu. Aku hanya langitmu, tapi aku tidak ingin berteman denganmu. Lagipula bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak menyukaimu?”

Luhan mengangkat kedua alisnya. “Kupikir bagian terakhir itu sudah kita selesaikan,” katanya.

Kini giliranku yang mendengarkan karena ketidakpahaman. Luhan menangkap ekspresiku dan mulai menjelaskan sembari berjalan pelan mendahului.

“Kau pernah bilang kau menyukaiku, dulu sekali, di atap sekolah.”

Sial. Dia membahas titik lemahku di saat-saat seperti ini. Si berengsek itu. Aku harus bisa menguasai emosiku sendiri.

Tenang, Yuri, tenang.

“Jawabannya sudah ada di pernyataanmu, tahu. Dulu. Artinya sudah lama sekali. Sekarang aku tidak menyukaimu.”

“Eh, benarkah?” jawab Luhan. Serius deh, ia tampak tolol dengan ekspresi terkejut semacam itu. Kuharap aku tak tertawa dan bisa melupakannya segera.

“Wah, betapa cepat perasaan seseorang berubah dalam waktu yang begitu singkat. Aku penasaran kapan hal-hal itu terjadi padaku,” timpal Luhan lagi.

Sekarang, taruhan, siapa yang bisa mengerti apa yang baru saja dikatakannya dengan ekspresi sesendu itu. Cepat sekali ia berubah dari Luhan si Bodoh menjadi Luhan si Misterius. Sekarang aku tidak tahu siapa Luhan sebenarnya, dan tololnya, aku semakin penasaran.

“Jadi bagaimana,” tambah Luhan. “Bagaimana cara kau mengubah hatimu dengan cepat?”

Aku tidak pernah melihat Luhan begitu jelas terpapar mentari sore seperti ini, aku juga tidak pernah melihat Luhan menatapku begitu dalam seperti ini. Hari ini, segalanya ditunjukannya padaku, tanpa cela, tanpa perlu banyak izin yang terucap. Surainya diterpa angin November, bergoyang dan tergerai sedikit-sedikit, menampakkan wajahnya di balik poni panjangnya. Aroma shampoo, keringat, lotion, dan sedikit aroma ruang kesehatan, berpadu di balik kemejanya, menimbulkan kesan tersendiri; kesan yang sangat kuat untuk tak dilupakan. Ia begitu rupawan, menyedihkan, misterius, dewasa dan kekanak-kanakkan di saat yang hampir sama. Sosoknya hanya satu, tapi aku bisa merasakan banyak orang di dalamnya, banyak sekali misteri yang terbaring dari pelupuk matanya.

Galaksi. Sebuah galaksi hitam tanpa bintang. Dunia tanpa terang—an universe without the light.

“Melupakannya setiap hari. Tepat setelah kau membuka matamu,” kataku pelan. Kutatap cakrawala yang hampir menguning di ufuk barat. Begitu damai, begitu menyenangkan.

“Lalu, kau berhasil?” tanyanya. Meskipun aku sama sekali tak memandangnya, aku tahu dia berdiri di belakangku, memastikan jawabanku lewat tertiupnya surai-surai hitamku. Entah apa yang dipikirkannya tentangku, aku akan menjadi langit yang tak benar-benar peduli. Aku akan menjadi setenang dan semengagumkan cakrawala sore ini. Tak peduli bagaimana orang menilaiku. Tak peduli jika Luhan tahu sesungguhnya perasaanku.

“Mungkin,” kataku pelan. “Jika saja aku bisa memejamkan mata sebelumnya.”

.

.

Esok hari setelah hari itu terasa sangat cepat bagiku. Tahu-tahu aku telah sukses melewati seminggu panjang terakhir di bulan November. Selamat tinggal dedaunan cokelat, selamat datang hujan es!

Desember tak benar-benar jadi favoritku walau dengan julukanku sebagai gadis es. Untung saja, salju kelihatannya masih belum mau turun di awal bulan seperti ini. Mantelku yang lama sudah kusam, dan hari ini Hani bersedia untuk mengantarkanku ke toko baju-baju musim dingin setelah sekolah berakhir. Yah, jadi kupikir, aku akan baik-baik saja sampai saat itu.

Kalau saja…

Yah, kalau saja seseorang tak tiba-tiba datang dan menceritakan hal-hal tak perlu ketika aku berada di dekatnya.

Namanya Satsuku Aoda, seorang gadis pesolek yang selalu ahli untuk menyebarkan berita-berita terkini di sekolah. Bisa kukatakan, ia semacam infotainment yang disukai orang-orang karena ketajaman informasinya. Hampir tak ada yang tak benar jika sebuah informasi sudah keluar dari bibirnya. Aoda adalah informan dan peneliti berita luar biasa. Kurasa ia bisa mendaftar ke FBI untuk menjadi mata-mata jika dia serius.

“Yuri-chan, kalau kau tak mau mendengarnya, minggir sedikit dong, aku mau tahu.” Hani mendorongku sedikit. Ia sudah mencium ketidakpedulianku pada hal-hal seperti ini, jadi dengan mudah aku menggeser tubuhku sendiri dan duduk di kursi kosong dekat jendela. Bukan kursiku—yah—sebenarnya tadinya kursiku, kalau Luhan tak mengambilnya dengan paksa.

Bicara soal Luhan, aku tidak melihatnya sejak speaker sekolah menyerukan namanya di seluruh penjuru. Kurasa ini soal kasus pemukulan seminggu lalu. Sudah waktunya bagi dia untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.

Ah kasihan. Tapi tidak juga. Aku ‘kan tidak peduli.

“Diskors?”

Hani membekap mulutnya. Terlambat, aku sudah terlanjur mendengarkan hal-hal tak penting. Aku penasaran, tapi demi citraku, aku bertahan di sisi jendela, menyangga kepalaku dengan tangan dan berlagak kebosanan setengah mati—padahal aku sangat penasaran, hore!

Para gadis masih berkerumun di meja Aoda, memintanya bercerita banyak.

“Takegaya-kun tak sebaik yang kita pikirkan. Dia sangat kasar. Sebelum pindah ke sini dia kedapatan memukuli seseorang dari sekolah lain hanya karena ia mengatakan sesuatu tentang kakak perempuannya.”

“Kakaknya? Takegaya-kun punya kakak perempuan?”

“Eh? Masa sih?”

“Apakah dia cantik?”

Riuh. Benar-benar riuh hingga aku tak tahu harus berkonsentrasi pada pertanyaan yang mana. Untung saja Aoda kembali menenangkan kegaduhan dengan tetap bercerita.

“Ada, kakak tiri. Tapi sangat sedikit informasi yang kudapat soal itu. Dari beberapa sumber yang kurahasiakan, Takegaya-kun adalah seorang sis-con*.”

“Eh? Yang benar?!”

Iya. Jangan tanya apa-apa lagi. Aku kaget, puas?

Di benakku terbentuk sekilas bayangan wajah Sayaka, pertengkarannya dengan Luhan, atau bagaimana Luhan menanggapi segalanya soal Sayaka. Jika Aoda benar—dan biasanya memang begitu—agak aneh untukku mencernanya. Aku pernah mencintai seorang bocah yang mencintai kakak tirinya sendiri? Ayolah! Hidupku tidak sebercanda itu.

“Begitulah. Aku juga tidak percaya pada awalnya, tapi sumberku mengatakan bahwa Takegaya-kun kerap memukuli siapa pun yang berkata jelek soal kakak tirinya. Kakaknya itu punya catatan buruk. Ia korban pemerkosaan yang pelakunya disinyalir merupakan ayah Takegaya-kun sendiri. Jadi sebagai rasa tanggung jawab, ibu Takegaya-kun menikahi suaminya yang sekarang, dan memperlakukan anak dari suaminya sebagai anak sendiri.”

Retak.

Gelap.

Kini aku tahu mengapa dalam sorot mata Luhan hanya terpancar kegelapan tanpa ujung. Bebannya terlalu banyak untuk bocah enam belas tahun. Terlalu berat untuk senyumannya yang lugu. Mencintai tanpa dibumbui perasaan aneh-aneh saja sudah berat, apalagi mencintai dengan dibumbui sebuah beban dan intrik spesial kehidupan. Lantas aku terbayang wajah Sayaka dan Luhan secara bersamaan.

Senyum hangat, binar teduh, suara melenakkan, semuanya hanya topeng belaka. Tak ada satu pun yang paham bagaimana sebuah senyum terbentuk, binar mata teduh menyapa atau suara melembutkan. Keduanya tak pernah paham bagaimana hidup membuka tirai dan memerintahkan mereka memainkan peranan yang menyakitkan. Dua garis paralel yang tegak lurus, bertemu sekali untuk berpisah selamanya.

Air mataku tiba-tiba menetes tanpa kusadari, membasahi lenganku yang baru saja bersidekap di atas meja. Suraiku turun, menutupi wajahku dari sisi kanan dan kiri. Aku tenggelam dalam kesedihan yang tak beralasan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, hatiku tiba-tiba sesak. Sebuah bongkahan besar seolah baru saja dibenamkan setengah ke dalam hatiku, membuatku susah bernapas. Tanganku gemetar, hanya dengan membayangkan bagaimana perasaan Luhan terhadap Sayaka. Aku tidak cemburu, perasaanku jauh sekali dari kata rendahan itu.

Aku berempati.

Entah kenapa aku merasa serupa dengan keduanya.

Hidup menjadi seseorang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh diri sendiri, aku paham betul bagaimana rasanya. Memalsukan perasaan agar tak dianggap lemah, aku sangat mengerti betapa sulitnya. Sayaka dan Luhan, yang pada awalnya terlihat tenang dan menyenangkan, pada akhirnya sama sepertiku, penuh dengan kekecewaan, kesendirian, dan kekalutan tak berujung.

Dengan cara yang berbeda, kami sebenarnya sama-sama menderita lebih dari apa yang bisa orang lain bayangkan. Tenggelam dalam kehampaan masa lalu; sebuah penyesalan mendalam.

Sementara para gadis masih riuh membicarakan orang lain, aku di sini sudah hancur dari dalam, terpekur di atas meja dengan kepala yang terbaring menyamping, berhadap-hadapan dengan jendela. Aku tak mau tangisku terlihat, tapi aku tak bisa menghentikannya.

Sesak.

Sesak sekali.

Rasanya tubuh ini sudah dicabik-cabik oleh sesuatu yang tak terlihat. Aku menjadi sangat lemah. Kepercayaan diriku hancur seketika.

“Oh iya, ada cerita lagi. Jadi ketika Takegaya-kun—“

Hatiku sakit, bahkan ketika ini bukan urusanku.

Aku tak ingin mendengarkan. Tolong, jangan buat aku mendengarkan.

“Yuri-chan, kau tidur?”

Siapa pun… jangan mendekat. Tolong jangan temukan aku terlihat lemah seperti ini. Menjauhlah, jangan dekati aku.

Kumohon…

Siapa pun…

BRAK!

.

.

to be continued.


mini dictionary.

*) sis-con = Sebuah kondisi di mana laki laki menyukai adik/kakak perempuannya.

bapkyr’s lounge

Yoohoo, semakin rumit dan puanas. Tetap stay tuned ya. Bakalan lebih panjang dan rumit kalau emang banyak yang komen dan baca. Hehe. Makasih.

-nyun-

94 thoughts on “YOUNIVERSE [3 of ?]

  1. dhean kwon berkata:

    jd luhan ma sayaka tu saudara tiri..
    dan sayaka diperkosa oleh ayah luhan trus..??? ah q bingung eon mungkin klo bca part slanjutnx bkln ngerti lgi…
    ff eon emang pnuh dgn teka teki… tpi q suka
    HWAITING eon buat part slanjutnx..

    • bapkyr berkata:

      Iya konfliknya brother sister complex terlarang banget makanya dibuat selow hehe.
      Sayaka dinodai sama ayah luhan abis itu ayah luhan meninggal kecelakaan dan usut punya usut penyebabnya dan pelakunya ayah sayaka sendiri karena doi dendam anaknya digituin. Trus pas ayah luhan udah tewas, ibu luhan ngerasa kasian sama sayaka jd dia nikah sama bapaknya sayaka biar sayaka gak kesepian sekalian buat nebus dosa. Kira kira gitu

  2. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Wuahhh kak!! sumpah bingung mau komen apa ini, keren banget, bacanya sambil ngebayangin gitu, suasana sekolah yang penuh rasa gado gado deh.. jadi sedih deh, soalnya sebentar lagi aku mau lulus dari SMA, tapi ga pernah punya cerita semenarik itu, huhu.. *oke ini out of topik * hehe.. yuri itu kalo di ff kakak selalu digambarkan dengan gadis yang beda dari lainnya, selalu keren deh, kalo buat luhan mah no coment dah buat cowo tamvan satu itu….
    next chap selalu ditunggu ya kak, semangat ^^

    • bapkyr berkata:

      Manfaatkan masa sma sebaik baiknya ya soalnya gak bakal keulang lagi percaya deh hahaha. Aku jd kangen sma juga nih.

      Makasih yha udah baca

  3. nurulnijma90 berkata:

    berasa drama jepang bgt baca ini…apalagi soal sis connya luhan +latar belakang keluarganya yg complex.pantes aja luhan dingin gt,hmm…msh bingung jg soal hubungan yuri sm luhan,mrk ini py hubungan apa?msh misteri,msh jd tanda tanya…
    😮😮
    Kukuku…berarti hrs jeli ya di part slanjutnya,buat nangkep inti cerita😁

  4. afifahcaku berkata:

    aduh kasihan Luhan..
    kasihan juga Yuleon..
    terus kak Nyun, mana nih abang Minhyuk?
    suka pas Luhan bilang Yuri langitnya
    tapi apa gak sakit jadi langit? maksudku Yuri cuma bisa lihat Luhan dong tapi gak bisa menjangkaunya..*digeplak kak Nyun akibat sotoy
    kenapa ada tbc setelah kata Brak?
    penasarn tingkat alien nih kak Nyun
    Kak nyun Semangat!

  5. chy23 berkata:

    Seseorang tolong pergoki Yuri😄 yey Luhan-Yuri komunikasinya kembali terjalin, ya meskipun ga kyk dulu. Eh jgn sampai kyk dulu deng😄 perubahan sifat keduanya bikin greget, pengen cepat2 nyatuin gitu wkwk yaudah deh ditunggu kelanjutan anime ini haha semangat kaknyuuuun ^^

  6. vialee945 berkata:

    wawww seruu.. tebakan ku di part sebelumnya salah.. ternyata penjaga ruang kesehatan itu kakak tiri nya si luhan. terus luhan suka sama kakaknya sendiri. itu menurut gosip. entah apa yg dikatan langsung sama luhan.. semoga aja itu gosip salah.. luhan suka nya sama yuri. mungkin dulu luhan suka memang sama kakaknya, sebelum ketemu yuri.. tapi entahlah..
    brak ?? itu yuri ngebrak meja atau luhan nya datang dan marah2??
    penasarann.. ditunggu chapter selanjutnya ya kak nyun..

  7. Cynthia berkata:

    Waaaa… kasian bgt Luhan gege.. aq kira ttg perasaan yg bs berubah dgn cpt itu mksdx perasaannya sm yuleon.. eh ternyata sm kakaknya sendiri..😥
    Sedih…😥
    Untung yuleon dewasa n g cemburu..
    Kira2 siapa yg menggebrak pintu atau apa itu pkokx brak2..
    Dtgu bgt part selanjutx😀

  8. aloneyworld berkata:

    Oh jadi luhan sis-con dan dia mukulin orang-orang grgr kasus bapanya sama sayaka? Yaampun berat juga ya jadi luhan entah kenapa aku juga jadi rasain apa yg yuri rasain sesak emen rasanya ya😦 tapi aku suka kata-kata disini kak apalagi yang an universe without a light😀 keren banget dan bikin penasaran bikin pengen baca lagi-dan lagi😀

  9. joohyun berkata:

    woo..makin kesini makin rumit.. gk nyangka eh itu luhan gimana masih bisa senyum di atas garis hidup yg dia alami.. pasti sulit banget untuk hidup menjadi orang lain.. harus pake topeng tiap hari.. neomu himdeuroso😦 semoga yuri bisa jadi sandarannya luhan biar luhan gk kesepian🙂

    thanks for update^^ kak nyun jjang!

  10. gita saraswati berkata:

    masa ya Luhan sis-con?
    atau karena rasa bersalahnya aja ?
    penasaran banget kaknyunnn
    ditunggu part selanjutnyaaa yaaa 😘😘😘😘

  11. Lulu KEG berkata:

    Nah loh beneran tuh Luhan suka sama Sayaka?
    si Yuri-chan kenapa seketika jadi melankolis banget sih ya ampun kata-katanya itu loh Nyesek banget kak Nyun, dan Entah kenapa aku ‘juga seperti merasa serupa dengan ‘ketiganya!! hiks
    siapa juga sih tuh yang nge ‘geBraak’? knp juga sih pake TBC? *plakk
    hua aku makin tergila-gila sama karyamu kak! ampun dah aku penasaran pake banget ini! gak usah di suru juga aku selalu setia kak! ff se keren ini pantes banget buat di tunggu,, siapa dulu sih penulis nya..
    oke deh Makasih ya kak Nyun ditunggu kelanjutan nya kak Mangatse^^

  12. mellinw berkata:

    Omaigat kaknyuuuun pokoknya yg kayak gini harus dilanjutin, Gaboleh enggaaaaaak huhu..

    Trus kak, kasian luhan kalau ternyata dia memang suka dengan sayaka hmm, yuri nangis gitu, mungkin untuk pertama kalinya sejak 2 tahun.

    Siapa tuh kak yg dtg ke kelas mereka..
    Luhan kah, minhyuk kaaah.
    Penasaran dengan peran minhyuk di sini loh. Banget nget nget haha

    Lanjut yah kak, ditunggu selalu😉

  13. lalayuri berkata:

    Wow ff nya makin seru, suka suka suka. Wah ternyata luhannya sis-con yaa ? Yah kasian yurinya dong. Ternyata luhan inget sama yuri cieee. Ditunggu part selanjutnya ya kak. Jangan lama lama

  14. mia berkata:

    BANG!! Udah saya duga tulisan kaka yang satu ini bukan cuma tentang romane ciye ciyean masalalu broken heartb dan sejenisnya. Iya, yg begitu bukan gaya kaknyun banget. Jadinya konflik konflik ngejelimet pasti betebaran.

    Saya malah mikir kalo orang oranf kaya luhan, sayaka, dan yuri itu hebat bgt. Topeng topeng baru mereka buat untuk nutupin luka d diri mereka (walaupun luka luka itu nggak tertutup sempurna) tapi mereka hebat. 😱😱

    Pengen tau bgt bagaimana chap chap selanjutnya bikin luhan mengubah perasaannya ke sayaka. Masih sangat curiga lho kak, tentang luhan yg waktu diatap itu🙍 Dia buru buru pergi karena ada telepon. apaya kirakira.
    HEBAT KAK😍 waiting for the next chap;)))

    • bapkyr berkata:

      Cinta terlarang tuh kadang oke banget dimodel gimana jg makanya aku suka cinta terlarang segi sembarang biar rumit. Hahaha.
      Nanti dijelaskan di chapter2 selanjutnya. Misterinya biasanya dijelaskan pelan pelan. Aku gak nulis lgsg kenapa sih cuma soal pesannya pasti tersirat asal pembaca jeli aja hehe.
      Makasih yaaaa Mia

  15. seungmi1214 berkata:

    Itu yang panggil Yuri-chan Luhan, bukan? Aduuuh, bener tambah puanas kaknyun. Kalo aku jadi Yuri sih pasti nangis juga bayangin hidupnya Luhan yg rumit banget ;__; Paling suka penggambaran karakter Luhan yang beragam, kaknyun pinter banget kalo udah urusan begitu deh, detail tapi nggak jelimet(?) *applause*

  16. Yhyemin_ berkata:

    seperti yang kakak bilang semakin rumit dan panas.aku ngerasa kasian sama yuri,luhan,dan sayaka.mereka gak bisa meraih kebahagianya sendiri.
    Terkukung oleh tembok paralel.

  17. Indira berkata:

    Part ini agak rumit kak, setelah aku baca 2x baru aku ngerti
    Jadi luhan suka sama kakak tirinya? Yah berharap sih dia sukanya sama yuri…
    Ternyata hidupnya luhan mirip2 kaya yuri yaaa 😫 Kasihan deh mereka

  18. The Blackpearl berkata:

    bagian ini ada typo ya kak?
    “Ia bisa bercerita sebanyak yang aku mau, dan aku tak akan sedikit pun melayangkan jari bantuan padanya.”

    hooooohhh… jadi ternyata luhan sukanya sama kakak tiri nya ituu.. kirain dia sukanya sama yuri dulu *ngarep
    keren kaknyunn… lanjutkan karyamu yang daebak inii~~

  19. yuri superexoshidae berkata:

    Complicated x kak….
    Btw kan kak… d part 1 kan luhan sempat buang kado dari yuri… abis tu dy liat hpnya… ntah sms ato telpon, tiba2 kado dri yuri dy ambil lagi… itu kenapa ya kak???

    Ff kakak beneran luar biasa…
    Keep writing kakak

  20. imaniarsevy berkata:

    baca part 4 pantesan bingung.. aku pikir yg part 3 sudah kebaca ternyata belum… hihihi… maaf kak nyun… efek lama hiatus…
    over all keren kak nyun… tinggal nungguin pasword buat baca part 6..

  21. Amortentia berkata:

    Uwaaa sumpah ‘Langit’ ini sumpah jejepangan banget kak, terakhir lihat anime yang mengungkapkan cewek yang disukai itu seperti ‘Lautan’ yang kadang tenang, kadang gelisah tapi terkadang begitu keras kepala tak bisa di tenangkan

    Sumpah ya dua bersodara Luhan dan Sayaka itu belajar poker face dari mana coba bisa berubah seenaknya kepribadian mereka, apa perlu ane pakek synesthesia supaya tau warna kepribadian mereka yang sebenarnya#plakkk

    kepribadian Luhan yang retak dan gelap itu lebih parah dri Kou Au Haru Ride menurutku, yah mungkin karena hidupnya Luhan disini juga lebih parah kalau yang aku tangkap informan Aoba, tapi kalau bener Sayaka itu di perkosa sama ayahnya Luhan itu juga mengenaskan
    “You love someone secretly, you will be hurt silently” Quote buat Yuri pas nangis saat denger serita Aoba.

    Jujur aja ane rada trauma sama yang siscon gtu kak, terakhir lihat anime yang gak sengaja aku download itu siscon sama sodara kembar perempuannya sendiri dan itu ngenes banget.
    Semangat terus kak nulisnya hohoho. Ini ane satu hari baca satu chapter supaya bisa menyerapi setiap cerita kak nyun

    • bapkyr berkata:

      Love that quote tho.
      Aku sebenere sebel sama cerita yang siscon atau brocon, cuma pas buat Youniverse, biar konfliknya greget dan dramatis, akhirnya kubuat demikian. Kayaknya seru juga mencoba sesuatu yang aku gak suka, siapa tahu jadi pengalaman menulis drama ke depannya hehehe
      makasih udah baca

  22. Hara_Kwon berkata:

    Kenapa LuHan sering terlibat perkelahian?? Dia sampai membuat lawannya babak belur dan dia tidak ada luka sedikit pun.
    Kok LuHan bisa tau ya kalo Yuri ada disana? Wahh dia sungguh menakjubkan, kkkkkk
    Ohh ternyata Sayaka itu kakak tirinya LuHan.. Wauuww
    LuHan benar2 seperti bunglon, dia bisa menempatkan diri disituasi yg berbeda-beda. Dan memang Yuri tidak bisa bersifat acuh pada LuHan dan dia bersedia mnjdi ‘langit’ utk dia.
    Kena bangett feelnya..
    Ahhh aku baperrr kak nyunn..

  23. wulan berkata:

    oh, ternyata sayaka itu kakak tiri luhan..
    sayaka d.perkosa ayah luhan???

    bunyi BRAK itu ada apaan ??
    jangan-jangan luhan dtg ketmpt itu??

  24. zcheery berkata:

    Aku pernah nemu cerita yg ada brother complex.. Hampir sama lah kek sis-con isinya mah sedih sedih dilema gitu wks
    Hayolooo Yuri baper yaaaaa gamon yaaaaaa ihiy..
    Wonder where is cnblue minhyuk hm..

  25. neechan0525 berkata:

    sis con? klo gk ada ikatan darah tetep aja ya? gelap serius kak makin gila ini *saya* awalnya udah mulai terbuka,kyk luhan ngasih kesempatan gitu buat terbuka *filling* tapi oh god,yuri kecewa kyknya. emng gk pantes kecewa tapi kan tetep aja.
    udah stop…. /-/

  26. aeyoungiedo berkata:

    Berarti intinya, Luhan-Sayaka kejebak kondisi siscon dimana laki-laki suka sama kakak perempuan. Gitu kak?
    Yuri kecewa banget ini kayanya😦
    Baca cerita ini, berasa baca anime jepang deh. Aku suka😀

  27. windakyr berkata:

    Awalnya mau bilang kalo luhan itu….. Ah tapi gak jadi gara2 diujung cerita ternyata oh ternyata😮
    Yul nangis, aku juga mau nangis #apasih-_-v
    Mantep deh, bisa buat perkiraan yang awalnya gini ternyata gini (?)

  28. syawlanrlv berkata:

    Wow.. sebelumnya aku agak bingung sama scene yang sayaka kaka luhan terus jadi korban ayah luhan dan bla..bla..bla itu..
    Tapi akhirnya ngerti juga… hohoho

  29. Viktoria berkata:

    Luhan sis-con ???😥 duh patah hati nih baca part 3 nyaa !!! Jadi tambah dibuat kepo nihh
    Fighting eonn !!

  30. dotha12 berkata:

    Akuu penaasaraann knpa ada bunyi “braakk”

    Dan pas liat koment melli dan yg lain ternyta akan ada minhyuk??? Minhyuk yg imutt unyu2 kesygan Boice kan kaknyun??? Hehheee

  31. rissa berkata:

    Penasaran sm yg dobrak pintu. Luhan siscon? Weleh weleh.. Yuleon pasti sedih bnget tuhh, meluncur ke part selanjutnya aja yaa kak

  32. rynwu berkata:

    Kk nyun ff ini keren bgt..
    Nyesel baru baca skarang,,tp aku smangat buat bca part slanjutnya..
    Ijin bca part slanjutnya ya kk.

  33. Aoralight berkata:

    luhan sis-con sama sayaka, gimana sama yuri T.T karakter luhan makin misterius aja kak nyun. semoga ada perubahan di chapter-chapter selanjutnya, semoga yang nge rubah karakter si luhan ya si yuri.

  34. chaenoona berkata:

    wow daebak daebak aku kaget banget saat tahu kalau luhan suka sama kakak tirinya sendiri yaitu sayaka. Semoga aja nanti luhan bisa berubah hatinya, karena gak tau deh lebih nge feel luhan sama yuri. Kak nyun ini hebat banget ff nya masalah2 nya apalagi bikin deg2 an terus jadi ketagihan melulu bacanya. Hebat kak nyun fighting!!!

  35. yayarahmatika berkata:

    Aku pun ikut kaget baca nya pas di bilang luhan itu siscon. Ya ampuunn sama sekali gak bisa di tebak cerita ini, bahkan ff yang lain juga. oke makinpenasaran

  36. Yelin berkata:

    di anime2 dan manga emang banyak ya cerita sis-con..kan emang nyun terinspirasi dari sana ya
    yuri bakal jadi langit yg ga peduli buat lulu.langitkan ga pernah kemana-mana..tetap ada setiap saat..dimanapun..kapanpun..apa yuri jg bakal kayak gitu buat lulu??

  37. sarah berkata:

    Aku sudah ada feeling hubungan sayaka dan luhan itu adik kakak yg saling suka, tapi ga kepikiran kalau serumit ini, keren kaaaa.
    Aku lanjut yaaa^^

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s