ETIKA BERKOMENTAR

Dunia maya dan dunia nyata pada dasarnya memiliki kaidah yang sama. Jika kita diajari soal etika di dalam dunia nyata, maka hal tersebut berlaku pula di dunia maya. Ada etika-etika dunia maya ini yang terbentuk dari rujukan normatif dalam dunia sesungguhnya. Nah, aku sebetulnya bukan orang yang terlalu kaku dan formal untuk benar-benar saklek ke suatu aturan, tapi sejak aku menjadi penulis (jika memang penulis adalah kata yang tepat untukku) lepas di dunia maya dan mengelola beberapa blogku sendiri, rasanya etiket berkomentar adalah salah satu yang memang harus benar-benar harus diperhatikan.

Aku menemukan banyak sekali tulisan di kolom komentar yang sebetulnya mengganjal. Beberapa terkesan ‘terpaksa’ untuk menulis komentar, bahkan ada yang berkomentar pedas hingga menjurus ke penghinaan dan ‘pembunuhan karakter’ seseorang.

Banyak sekali yang bisa aku bahas untuk mengkritik para komentator tak bertanggung jawab tersebut, tapi sayangnya aku bukan orang yang mau direpotkan dengan hal-hal seperti itu. Jadi, daripada menyerang balik, aku lebih suka membenahi untuk bekal ke depannya.

Dirangkum dan diadaptasi dari SINI, aku memberikan beberapa tips untuk berkomentar secara baik dan benar.

  1. Bacalah artikel dengan teliti
    Salah satu hal kecil yang sering dilewatkan oleh para pembaca suatu blog, khususnya blog-blog berkonten fanfiksi adalah identitas artikel/fiksi yang dibaca. Selalu ada prolog atau teaser untuk setiap cerita. Terlebih, biasanya sang penulis selalu menuliskan hal-hal penting seperti siapa cast-nya, berapa jumlah wordcount dalam sebuah fiksi, apa genre-nya. Bahkan, di beberapa fiksi bersambung, sang penulis sampai-sampai meringkas cerita fiksinya beberapa chapter sebelumnya ketika akan mem-publish kelanjutannya. Sangat tidak masuk akal untuk para pembaca yang mengeluhkan kebingungan akan siapa jadi siapa dan siapa sedang ada di mana ketika membaca fiksi tersebut. Teliti juga hal-hal kecil seperti latar waktu, latar tempat, juga momen-momen di dalam cerita, sehingga ketika adegannya beralih dari satu ke yang lainnya, pembaca tidak kehilangan keutuhan plotnya.
  2. Gunakan bahasa yang jelas dan sopan
    Kalau ada pembaca yang nulisnya S3PeRT1 In! rasanya aku juga akan menyerah. Hindari tulisan 4L4Y dan penggunaan bahasa yang tidak jelas. Penyingkatan karena keterbatasan ruang gerak jari (jika mengetik via ponsel) itu memang tak dilarang, tapi hindari kebanyakan menyingkat kata. Para pengelola blog tidak semuanya mengerti kalau “tw” adalah “tahu” dan “spt” adalah “seperti” (intinya kalau masih bisa ditulis lengkap, kenapa disingkat?)
  3. Hindari kritik membingungkan
    Pengalamanku selama mengelola blog BPFT sendiri, banyak sekali kritik-kritik yang membingungkan ditulis di kolom komentar. Mengkritik itu sangat diperlukan (malahan aku senang kalau dikritik, berarti ada yang benar-benar memahami tulisanku) cuma, banyak sekali yang menyampaikan kritik dengan cara yang salah. Jika mau menyampaikan kritik, pastikan kamu sudah membaca langkah 1 dan 2 di atas. Kritik yang benar adalah kritik yang menyebutkan dengan tepat bagian mana yang perlu dikoreksi dan bagaimana cara mengoreksinya. Jadi gak sekadar “Kak, aku nemu typo tapi lupa di mana.” atau “Kak, ceritanya agak aneh di beberapa bagian, tapi aku gak tahu yang mana.” Lha, aku pun gak tahu salahku di mana. Lagipula emang aku gak selamanya benar, aku juga butuh dikasih tahu bagian mana yang cacat dalam tulisanku dan bagaimana cara memperbaikinya agar di masa depan aku gak lagi mengulangi kesalahan  yang sama. Mengkritik orang lain gak sekadar asal bunyi saja lho! malahan aku pernah diberitahu kalau sebelum mengkritik, hendaknya kita memberitahu poin-poin lebihnya terlebih dahulu. Jadi kritikkan itu imbang, tidak berat sebelah. Nah, kalau belum-belum udah main kritik aja, namanya bukan kritik lagi. Bisa jadi penghinaan.
  4. Hindari Komentar berbau SARA
    Sebelum berkomentar pastikan dulu kalimat yang kamu ketik tidak mengandung unsur menyinggung Suku, Agama dan Ras,
  5. Hindari komentar bermakna tak jelas
    Komentar yang baik adalah komentar yang memuat jelas apa apa yang disukai atau tidak disukai dari isi artikel, apa poin lebih dan kekurangan dari artikelnya, juga bagaimana kesan sang pembaca setelah menyelesaikan membaca artikel bersangkutan. Nah, kalau tiba-tiba ada komentar “Nice, Thor.”, “Daebak,,,,,,”, “Jejak,,,,” lantas bagaimana caraku untuk membalasnya? Dibilang Nice, Thor, apanya yang nice? Thor siapa? anggota The Avengers? Untuk itu, sebagai bukti bahwa kamu adalah pembaca berkualitas, hendaknya menghindari komentar tak bermakna yang ditulis asal.

Aku tidak mengharapkan komentar super panjang, malahan sebetulnya aku menghargai berbagai jenis komentar yang masuk. Hanya saja, sebagai penulis yang tugasnya memang untuk membagi-bagikan pengetahuan, rasanya salah jika aku tidak berbagi ilmu yang kudapatkan ini. Semoga setelah membaca artikel ini, aku dan pembaca BPFT semua mampu menulis komentar yang baik, baik untuk pembaca dan untuk sang penulis sendiri.

Semoga bermanfaat.

nyun

ps : tambahan, sebisa mungkin hindari penggunaan emoji yang memakai tanda kurung siku “<” dan “>” Penggunaan kedua tanda baca tersebut akan memotong komentar kamu ketika di-post. Kalau kamu udah ngetik panjang-panjang terus komentar yang dipos cuma nampak setengah, berarti ada penggunaan emoji yang berlebihan di dalam komentarmu. Emoji yang aman mungkin yang menggunakan tanda kurung “)” atau “(“.

6 thoughts on “ETIKA BERKOMENTAR

  1. Lulu KEG berkata:

    wah jadi gitu ya kak, pantesan komentar ku sering kepotong karna pake tanda/emoji kaya gitu ya.. ‘ngerti
    makasih loh kak, berguna banget deh buatku soalnya komentar2 ku juga sering ada kesalahan nya kaya poin-poin yang di sebut di atas.. ‘duuh
    oke deh, seterusnya sebisa mungkin aku perbaiki komentar2 ku dengan menggunakan Tatakrama berkomentar di tiap blog yang kubaca, hehe terutama disini😀
    makasih banyak kak Nyun

  2. lizanining berkata:

    siap kak nyun, makasih udah bagi2 ilmu diatas, kedepannya aku bakal lebih berhati2 pas ngasih komen dan kritik, maaf jg kalo komenku selama ini ada buat kak nyun kecewa, 😟🙏

  3. stffnat berkata:

    Makasih thor infonya !
    Jadi saling bisa belajar
    dari sini juga bisa tau komen apa yg diperlukan karena terkadang bingung mau komen apa !!
    Next time bakal diterapin deh thor

  4. aloneyworld berkata:

    Iya deh kak aku bakal usahain bikin komentar sesuai etika berkomentar yang kaknyun sebutin diatas😀 hihi ternyata bikin kometar juga harus elegan ya kak ngga asal aja😄

  5. Tetta Andira berkata:

    Woahh~ hebat nih Nyuuuunn.. kmu bhkn ngasih info soal ‘etika berkomentar’. Kaka skrg bingung Nyun. Kmu blg kamu gak trlalu ngarep sama komen panjang. Tapi kaka gak janji buat gak nulis panjang kali lebar samadengan luas buat dikolom komentar ff kmu. Terus sama kalimat kmu yg “Mengkritik itu sangat diperlukan (malahan aku senang kalau dikritik, berarti ada yang benar-benar memahami tulisanku)” kaka jd berpikir. Apa selama ini kaka gak pernah bener2 paham sama tulisan kmu? Ahh,, jd ngerasa dosa & o’on banget. Jd selama ini kaka ngapain aja? Maap yahh Nyunchaaaaann . . Semoga kedepannya bisa jd reader yg lbh peka & baik, plus bisa memahami kmu -khususnya tulisan kmu dgn lbh baik. 143 Nyuuunn.. bdw, kaka msh pnya pe er sama Youniverse chapt. 2-4 nihh. Tunda dulu yah?? Hehe.

  6. nufiin berkata:

    Makasih juga untuk artikelnya…bermamfaat juga buat aku yang baru bisa komen di wp. Soalnya dulu emang belum punya, tapi jujur selama aku komen, belum pe4nah kritik, paling kesenangan baca doang

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s