YOUNIVERSE [4 of ?]

Youniverse2

YOUNIVERSE

a story by bapkyr

[ 4 of ? ]

“The past can hurt, but you can either run from it, or learn from it” -The Lion King


Aku tak mendengar suara selain langkah pelan dari sepasang sepatu di ambang pintu. Jalannya lambat, tapi aku bisa mendengarnya mendekat. Beberapa pasang sepatu yang lain kedengaran sibuk berderap acak, membubarkan diri dari sebuah pusat perkumpulan massal. Saat kupikir kemungkinan apa yang tengah dibicarakan sedang berjalan mendekat, Luhan sudah duduk di kursi kosong, tepat di depanku. Meski aku menundukkan kepala, aku bisa tahu hanya dari aroma cologne-nya.

“Apa yang terjadi padanya, Odawara-san?”

“Aku… eh, Yuri-chan, mungkin tertidur. Aku tidak tahu, aku baru saja akan membangunkannya.”

Aku mendeteksi kesenyapan singkat. Karena penasaran, kutiupkan sedikit suraiku hanya agar sebuah celah terbuka dan aku dapat memandang Luhan dari sana. Aku telah memperkirakan wajah rupawannya di depanku, hanya saja, aku sedikit terkejut ia berada sedekat ini dengan wajahku. Meski cuma sekilas, air mataku yang masih berkumpul di pelupuk mata, telah dilihatnya dengan jelas. Ia menarik kembali wajahnya, memalingkannya ke arah Hani yang berdiri di sisiku khawatir.

“Ia demam lagi,” kata Luhan kemudian. Pasti dusta, soalnya aku tak merasa begitu. Entah apa maksudnya berkata demikian pada Hani.

“Oh buruk, aku akan membawanya ke ruang kesehatan,” tawar Hani.

“Tidak, biar aku saja. Akan sangat sulit untukmu jika membolos ‘kan, Odawara?” Tak ada reaksi dari Hani saat Luhan mengangkat tubuhku di depan dadanya. Refleks, aku melingkarkan tanganku pada tengkuknya, mendekatkan wajahku ke dada sang pemuda hanya agar Hani tak melihat bekas tangisanku di wajah. Aku tak pernah sekali pun menunjukkan sisiku yang ini pada siapa pun, aku tak pernah menunjukkan Yuri yang lemah.

Aku tak ingin segala upaya kepura-puraan yang kulakukan hancur gara-gara tangis tak masuk akal ini. Apalagi di saat yang aku tangisi adalah kehidupan orang lain. Sudah kukatakan, aku ingin hengkang dari jeratan perasaan empati dan emosional.

Saat kupikir aku sudah aman karena telah cukup jauh dari kelas, saat itu aku menggeliat, berbisik pelan pada Luhan. “Turunkan aku.”

Kulihat sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Ruang Kesehatan’ di atas pintunya, tapi Luhan melewatinya dengan segera. Ia berjalan lurus, tanpa mengindahkan permohonan kecilku untuk berhenti. Saat akhirnya ia berhenti, kami sudah berada di atap. Ia menurunkanku untuk duduk tak jauh darinya, bersandar pada bangunan kecil penyangga toren air.

Aku menekuk lutut dan memeluknya. Aku tak ingin wajahku terlihat.

“Kau pasti kelilipan dan malu memberitahu teman-temanmu ‘kan?” Luhan bertanya. Lebih tepatnya, ia meyakinkan dirinya sendiri demikian. Senyumnya yang samar kemudian terbenam ke dalam kedua tangannya yang ia usapkan kasar ke wajahnya. Ia menekuk lututnya, membuat gerakan yang serupa sepertiku. Perlahan-lahan, aku menolehkan kepalaku padanya, bersamaan dengannya. Kami bertatap-tatapan lama sekali, hingga senyum Luhan hilang seluruhnya.

Tak perlu kata-kata untuk membuatku mengerti. Karena, aku tahu bahwa Luhan ingin melindungi citraku. Ia ingin aku percaya bahwa dirinya tak pernah melihatku menangisi masalah-masalah orang lain. Luhan ingin aku bertindak selayaknya langit, yang tak pernah peduli dan berempati. Luhan, dengan caranya sendiri, telah melindungiku.

Hanya saja aku merasa sangat salah.

“Sejak kapan kau berada di sana?” tanyaku pelan.

Luhan memandangku dalam, “Sejak kau memutuskan bergeser ke kursiku.”

“Kau mendengar semuanya?”

“Dengan jelas.”

Kami terdiam. Luhan yang biasanya selalu tersenyum, kini menatapku hambar. Galaksi hitam itu kembali bersemayam di sana, tapi kali ini Luhan tak berusaha mengenyahkannya dengan senyum yang biasa ia lakukan.

“Jadi apa itu benar?” kataku pada akhirnya. Sebuah pertanyaan pamungkas yang berhasil membuat kami sama-sama duduk tegak penuh kecanggungan. Aku dengan segala penyesalan atas keingintahuanku dan Luhan, entah dengan penyesalan bagaimana.

“Yah,” Luhan bersandar di dinding kembali, memilih langit daripada memandangku. “Tak ada gunanya menyimpan rahasia darimu, huh?” ujarnya sembari menggaruk-garuk kepala.

“Aku baru berusia dua belas ketika bertemu Sayaka di sebuah pemakaman di Tokyo. Ia lebih tua lima tahun dariku, tapi cara bicaranya, seolah dia sudah melihat segala yang dilihatku sepuluh tahun yang akan datang. Ia, telah melihat banyak kepedihan yang tak pernah dilihat orang lain.”

.

.

Tokyo, April 2009.

Luhan kecil menyusuri blok-blok pemakaman Aoyama, menelusuri pohon-pohon sakura yang tumbuh di kanan jalan. Beberapa orang sedang duduk di kursi kayu, menikmati pemandangan bunga sakura yang berguguran diterbangkan angin musim semi. Sisanya, berjalan cuek ke depan, terburu-buru dengan sebuket bunga di tangannya.

Mata Luhan bengkak akibat menangis semalaman. Ia pernah berkali-kali berkeinginan untuk mengunjungi Aoyama dan melihat hanami* di sini. Sekarang, keinginannya terpenuhi. Bukan hanya sekali, ia bisa datang ke Aoyama kapan pun yang ia mau, sekalian pergi mengunjungi makam ayahnya.

Makam itu masih sangat baru, dibangun kemarin siang diiringi isakan tangis segenap keluarga. Luhan tak berkesempatan hadir dalam momen tersebut karena ia terlanjur tak sadarkan diri setelah mendengar berita ayahnya tewas dalam kecelakaan mobil. Barulah hari ini, ketika kesadarannya terkumpul sedikit, ia berani mengunjungi makam baru tersebut. Meski tekadnya untuk tak menangis sudah bulat, Luhan masih saja berjalan dengan gamang. Ibunya, sebagai satu-satunya yang bisa menguatkan dirinya, tertinggal jauh di dalam mobil dalam segala ketidaksadarannya yang kesekian kali.

Makamnya tak sulit ditemukan. Luhan juga tak banyak menghabiskan waktu merenung di depan nisan tegaknya. Ia datang, menempatkan sekeranjang bunga dan menuangkan air di atasnya, kemudian pergi pelan-pelan dan duduk di sebuah bangku kosong, tak jauh dari makam ayahnya. Memandangi nisan batu itu dari jauh dirasanya lebih baik ketimbang melihat kesedihan nyata itu dari dekat.

“Sendirian?”

Surai hitam sepunggungnya dipenuhi kelopak sakura yang berterbangan. Hidungnya mancung, pipinya tirus, matanya memancarkan pesona lugu yang memesona. Sayaka tujuh belas tahun, muncul di depan mata Luhan dengan penampilan yang sangat baik. Terusan satin berwarna biru dan topi rajut gradasi biru dan merah muda melengkapi sempurnanya kemunculan gadis bak bidadari hari itu. Luhan terkesiap. Ia berpikir barangkali memang ada semacam malaikat penjaga pemakaman hendak menemuinya.

“Aku juga. Boleh aku duduk?” tebakan Luhan salah. Telapak sepatu gadis itu menjejak pasti di atas tanah. Ia bergerak ke sisinya, kemudian duduk santai di area kosong dari bangku panjang di sebelahnya. “Aku benci pemakaman,” katanya kemudian.

Luhan melirik ragu pada sang gadis yang masih asyik menikmati sakura yang beterbangan. Apa yang dikatakannya barusan sangat bertentangan dengan ekspresi bahagia darinya. Didorong rasa penasaran, ia bertanya, “Tapi kau terlihat sangat menyukai pemakaman, Onee-san*.”

“Oh ya?” Sayaka tertawa. “Mungkin karena ini musim semi.”

“Ya?”

“Musim semi tidak diciptakan untuk kesedihan dan kebencian, itu kata ibuku.”

Aku tertawa. “Kau dan ibumu sungguh orang yang menarik.”

“Betul ‘kan, haha, kaubisa mengatakannya pada nisan di sebelah sana. Ibuku pasti akan senang.”

Luhan berhenti tersenyum. Diliriknya sebuah nisan yang tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah nisan tua yang ditunjukkan Sayaka padanya. Diam-diam ia menoleh ke arah sang gadis, melihatnya tertawa tanpa perasaan terluka.

“Kenapa?” tanya Sayaka, Luhan tertangkap basah.

“Aku… tak mengerti… kaubilang kau membenci tempat ini, tapi kau tertawa seolah itu baik-baik saja melihat ibumu dan yang lain terbenam di bawah sana.”

Sayaka menjengitkan kedua pundaknya. Satu lagi kelopak sakura jatuh dari atas, menghiasi rambutnya yang hitam. Matanya menerawang ke ranting-ranting kecil dari pohon di atasnya, memandanginya seksama tanpa mengindahkan presensi Luhan.

“Aku sangat benci, amat-sangat. Tapi banyak yang berkata bahwa benci dan cinta, bedanya sangat tipis. Ketika aku merasa benci sekali lagi, aku tak tahu apakah itu cinta yang sudah mulai tumbuh diam-diam. Aku tak mau mengakuinya, tapi di sinilah satu-satunya tempatku untuk berlama-lama dengan ibu. Secara tidak sadar, aku telah menyukainya, tempat ini.”

Saat Sayaka tenggelam dalam tawa gelinya sendiri, Luhan tengah menikmati wajahnya dengan seksama. Wajah yang tak pernah berdusta. Saat gadis itu berkata bahwa ia bahagia, pipinya merona, bibirnya menyunggingkan senyum lebar, kemudian ia mulai bergerak-gerak girang di atas kursi;menggoyangkan kepalanya dan melantunkan lagu dengan suara kecil.

Saat itu bukan kali terakhir Luhan bisa menatap wajah Sayaka. Di akhir minggu ketiga setiap bulan, keduanya sering bertemu di sini, dan seperti biasa, duduk-duduk di bangku kayu menjadi pilihan tepat. Sayaka akan berbicara lebih banyak ketimbang Luhan, ia menceritakan segalanya termasuk kehidupannya setelah ibunya pergi. Hal-hal tersebut berlangsung cukup lama, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tanpa terasa Luhan telah jatuh cinta pada Sayaka untuk waktu yang cukup lama, dalam diam.

Minggu ketiga di bulan ke dua puluh pertemuan mereka, Sayaka untuk pertama kalinya menangis. Saat Luhan bertanya mengapa, matanya menatap nanar pada Luhan, mendera sang bocah dengan penderitaan di balik air matanya. Saat itu, Luhan benar-benar tak tahu mengapa Sayaka menangis di hadapannya. Pun, ia juga terlalu muda untuk mengerti. Namun ketika Sayaka tak pernah datang kembali ke Aoyama untuk waktu yang sangat lama, Luhan paham mengapa. Ia paham alasan di balik air mata sang gadis hari itu.

“Ayahmu pantas tewas seperti itu. Tak seharusnya ia melakukan hal itu pada gadis muda yang tak tahu apa-apa.”

Kaki-kaki kecil Luhan melangkah ke luar, meminta seseorang mengantarnya kembali ke Aoyama meski dingin Desember tak tertahankan di luar sana. Detik ketika ia melihat gadis itu duduk di bangku kecil di bawah pohon penuh salju, Sayaka sedang tersenyum, memandangi langit yang gelap. Wajah dan tubuh kecilnya tenggelam dalam mantel tebal dan syal rajut abu-abu yang melingkar di lehernya. Sayaka menoleh sebentar atas kedatangan Luhan, namun ia tak sepenuhnya terganggu.

“Kau datang,” katanya pelan, hampir berbisik. Pipinya merona merah karena dingin, napasnya mengeluarkan buih-buih embun yang kentara di udara.

“Aku tahu. Aku tahu semuanya.” Luhan bergerak patah-patah, ragu apakah ia sudah tepat berdiri di sana.

“Oh begitu. Syukurlah,” balas sang gadis singkat. Ia menelengkan kepalanya ke arah Luhan, menunjukkan betapa senyumnya memiliki arti baik-baik saja.

“A—aku minta maaf, ayahku…”

“Sudah meninggal. Tak baik membicarakan seseorang yang sudah tiada. Lagipula kejadiannya sudah sangat lama, dan itu bukan salahmu, segalanya sudah terjadi seperti yang sudah digariskan takdir padaku. Aku bisa bertemu denganmu, tidak ada yang perlu disesali.”

“Tapi, tetap saja…”

“Aku diberi hidup setelah hari itu, artinya sebuah kesempatan. Ada hal-hal yang harus kulakukan daripada hidup dalam rasa kasihan orang lain. Selama ini aku sedang memikirkannya, apa yang seharusnya kulakukan dengan hidupku.”

“Apakah kau menemukannya?”

“Mungkin.”

Sayaka tersenyum, rambutnya tersapu angin yang dingin. Luhan duduk di sampingnya, tak jemu memandangnya. Pipinya merona merah, tapi bukan karena ia kedinginan. Bocah yang belum genap empat belas tahun itu bersemu hanya dengan memandang Sayaka. Jantungnya berdentam dengan irama kacau, berdetak kencang. Lekas tanpa sadar, dirinya sudah menjawat lengan Sayaka, keduanya menukar pandang dalam-dalam. Bibir Luhan mengatakannya, hal yang paling diinginkannya selama ini.

“Aku menyukaimu, Sayaka Nee-san*.”

Keduanya beradu senyap, betah berlama-lama menikmati sebuah potret tanpa gerakan dalam binar mata masing-masing. Sejemang setelahnya, Sayaka tersenyum lebar seraya menarik tangannya dari genggaman Luhan. Ia menepuk pundak sang bocah seraya tertawa.

“Aku serius,” Luhan meyakinkan. Tak ada reaksi selain tawa yang keluar dari bibirnya. Ia melirik sesekali pada Luhan, hanya untuk memastikan pria itu masih berada di sana, mendengarkan.

“Lihat, aku sudah menemukannya,” Sayaka berbicara pada dirinya sendiri. Dipandanginya ranting-ranting penuh salju di atasnya. “Aku sudah menemukan apa yang harus kulakukan: membuatmu membenciku.”

Kali ini Luhan melihat gadisnya lagi. Sayaka ada di sana, tapi kecantikan yang selalu terkuar dari wajahnya sudah sirna. Hanya ada aura gelap, aura misterius terpadu dengan dendam mendalam yang keluar menggantikan pesonanya yang biasa. Saat Sayaka tersenyum, wajahnya terkesan sangat palsu. Ada kesedihan mendalam dari kedua sudut bibirnya yang terangkat, kekecewaan yang tak akan pernah dimengerti oleh siapa pun.

“Aku sangat menyukai Aoyama karena di sinilah aku merasa begitu dekat dengan kematian. Kuharap perasaanku tersampaikan padamu, Luhan. Karena pertemuan selanjutnya, kau dan aku tak akan pernah sedekat ini dengan kematian. Kau dan aku, akan menjalani sebuah kehidupan dari pembalasan masa lalu. Pembalasan orang-orang yang telah mati.”

.

.

Sapporo, Desember 2015.

“Sejak saat itu aku tak pernah melihat Sayaka lagi. Tapi tepat dua tahun lalu, aku mendapatkan telepon dari ibuku untuk bertemu. Ia ingin membicarakan pernikahan keduanya padaku. Aku pergi ke tempat yang ibu beritahu, dan di sana kemudian aku bertemu lagi dengan Sayaka. Ayahnya adalah ayah baruku. Ancamannya padaku terbukti, ia ingin menghancurkan keluargaku dari dalam.”

Aku mendengarkan keseluruhan cerita Luhan tanpa menyelanya barang sedikit pun. Saat ia berkisah, matanya meredup, tersedot ke bagian terdalam yang kukenali bernama kenangan buruk. Ia tak lagi menyunggingkan senyumnya seperti biasa ketika ia berbicara. Cerita itu cukup dramatis dan lebih buruk dari yang kubayangkan. Alasan dirinya tampak seperti pangeran es dua tahun lalu kini jelas di mataku.

“Sayaka Sensei tak nampak seperti seseorang yang menyimpan dendam,” responsku cepat. Kurasa aku benar-benar telah berubah menjadi orang yang peduli sekarang.

“Kau benar, bagaimana pun ia adalah orang baik. Maafkan kata-kataku tadi, aku kadang masih tak paham jalan pikiran Sayaka.”

Ia tersenyum padaku. Lagi-lagi.

“Bisakah kau berhenti tersenyum saat mengatakan hal-hal menyedihkan seperti itu? Kau membuat perasaanku tak nyaman.”

Luhan menatapku. “Jadi itu sebabnya kau menangis, Horikita-san?”

Aku meluruskan kaki-kakiku, mencoba menunjukkan wajah bengkakku tanpa malu pada Luhan. Meski aku tak tersenyum semudah pemuda itu, tapi kurasa aku tak membenci kehadirannya di sini.

“Kutarik kata-kataku waktu itu, panggil aku Yuri,” kataku pelan. Kutatap wajahnya. Iris hitam Luhan menohok inderaku. Ada galaksi gelap di dalamnya, dan kini, aku merasa rela jika aku harus menyelaminya sekali lagi. Luhan, dengan segala kepalsuannya, telah menarikku jatuh ke dalam perangkap yang dibuatnya tak sengaja. Rekaman atap sekolah di Tokyo, dua tahun lalu, kini terputar kembali di Sapporo.

Selanjutnya bukan masalah sekarang atau dulu, faktanya, aku tak bisa lari dari apa yang membentukku hari ini. Aku…

“Lagipula aku tak menangis, aku cuma kelilipan.”

…masih tetap jatuh cinta pada pemuda yang sama.

.

.

Sejak hari itu, ketika aku bersedia menjadi sebuah langit yang memayungi kisah hidup pemuda yang tadinya tak ingin kukenal lagi, hidupku menjadi lebih mudah dibandingkan biasanya. Perubahannya tak drastis, tapi cukup kuketahui ketika kupandangi cermin di rumahku lama-lama. Pipiku merona merah hanya dengan membayangkan sebuah alasan terklise di hidupku; aku jatuh cinta dengan orang yang sama untuk kedua kalinya.

“Yuri-chan!” Hani melambaikan tangannya. Ia cepat-cepat turun dari mobil dan berlarian ke arahku yang sudah menunggunya di tugu selamat datang depan pintu gerbang Minami. “Ah, akhirnya. Ini.” Hani menyerahkan selembar tiket festival padaku. Tertulis di judulnya “Festival Musim Dingin Sapporo”. Melihat hal tersebut, kepalaku dijejali dengan berbagai pertanyaan. Kami masih memiliki dua hari tersisa untuk ujian sebelum liburan musim dingin, juga seminggu lagi kegiatan belajar, sementara yang Hani pikirkan hanya soal tiket ini?

“Festivalnya diadakan tiga hari, kita bisa datang setelah ujian semester ini selesai, berarti lusa. Bagaimana? Kaumau?”

Hani memohon. Ia selalu mengeluarkan jurus andalannya berupa mata berkaca-kaca bak anjing yang minta diadopsi ketika merayu seseorang. Di situasi normal, aku akan menolaknya mentah-mentah. Liburan musim dingin biasanya kumanfaatkan dengan bekerja paruh waktu, atau kalau tabunganku berlebihan, aku suka sekali jalan-jalan ke Tokyo sendirian dan mengintip apa yang dikerjakan ibu di sana. Aku tak punya waktu untuk bersenang-senang, apalagi dengan seseorang yang bisa kutemui di sekolah. Hidupku tidak sebercanda itu.

Jadi, tepat saat aku akan mengembalikan tiketnya, seseorang merangkulku dari belakang, membuatku kembali mengantungi selembar kertas warna-warni tersebut.

“Oh, festival! Kau memiliki yang seperti ini, Odawara? Apa kau masih punya tiket cadangan?”

Luhan, seperti yang kuduga. Sudah lewat tiga hari setelah hukuman skorsnya usai, dan kini kami menjadi lebih dekat dari yang kuduga. Luhan dengan mudahnya melewati batas-batas yang sudah kubuat pada diriku sendiri. Sebagai tambahan untuk memperumit, Hani dapat dengan mudah bergaul dengannya sehingga tanpa kusadari kami sudah menjadi teman dekat. Beberapa gadis mulai berhenti membicarakan soal kakak tiri Luhan, meski kakak kelas jahil kadang suka mencari tahu diam-diam lewat caranya masing-masing. Pemuda itu kembali menjadi pemuda normal biasa yang gemar bercengkerama dengan siapa pun. Ia menganggap semua orang adalah temannya, tak peduli apa yang orang lain pikirkan terhadapnya.

Aku ingin mundur tapi aku sudah terjebak dalam lingkaran pertemanannya. Luhan mengakuiku sebagai teman, bukannya aku ingin menolak, tapi dengan menjadi teman, aku merasa telah mengkhianatinya soal perasaanku yang sesungguhnya. Egoku masih sama, masih berharap ia memandangku sebagai seorang gadis, bukan seorang teman. Munafik sekali aku ini.

Meski demikian, aku tak pernah menunjukkan sisiku yang itu pada Luhan. Aku kembali menjadi Yuri dua tahun lalu, yang selalu mencintai diam-diam dan memendam apa yang dirasakannya sendiri. Meski aku tidak ingin, tapi nyatanya aku sudah berada di jalur itu. Perbedaan besarnya, sekarang aku nampak kuat dan sanggup untuk menanggung ini sendirian.

Kuenyahkan lengan Luhan dari pundakku. Mataku memicing tajam padanya, sebelum akhirnya aku membalikkan badan dan pergi dari hadapan keduanya. Selanjutnya, aku melihat Hani memberikan selembar tiket festival pada Luhan. Aku jadi berpikir, sepertinya mengunjungi festival bukan ide buruk.

Saat aku terbayang akan keberuntunganku, tubuhku menabrak seseorang hingga apa yang dibawanya terjatuh berserakan di dekat kakiku. “Maaf, maaf,” kutundukkan kepalaku sembari membereskan kekacauan yang baru saja kubuat. Saat kulihat selembar tiket festival yang kupikir milikku tergeletak di tanah, aku buru-buru menyambarnya. Tanpa sadar, tangan seorang wanita di depanku juga buru-buru mengarah ke arah yang sama.

“Maaf, itu tiketku, Horikita-san.” Aku melirik ke sumber suara, melihat Sayaka sudah berdiri dengan segaris senyum di wajahnya. Aku memegangi sebuah tiket festival, dan melirik sebuah tiket lagi di sakuku. Ada dua.

“Anu… maafkan aku, Sensei. Karena sama, kupikir punyaku.”

“Ah tidak apa-apa. Apa kau juga berencana akan pergi sabtu ini?”

Aku menatap ragu-ragu ke arahnya. Sejak rumor soal masa lalu Luhan dan kakak tirinya menyebar, aku jadi kikuk untuk menatap Sayaka. Walau bisa dipastikan hanya aku yang tahu soal siapa identitas kakak tiri Luhan yang sebenarnya, aku masih belum bisa menguasai pengetahuan itu. Aku tidak punya banyak pengalaman dalam memegang rahasia seseorang.

“Um, iya… kurasa.”

“Itu bagus,” katanya seraya menepuk pundakku. Ia benar-benar sebaik kelihatannya. “Bersenang-senang setelah ujian kadang diperlukan. Tapi, jangan lupakan kewajibanmu sebagai pelajar. Selesaikan ujianmu dengan baik, ya, Horikita-san.”

Sayaka tersenyum sekali lagi sebelum dia benar-benar memunggungiku dan pergi. Langkahnya yang besar-besar dan mantap, membuat siapa pun yakin bahwa kehidupan wanita itu secerah yang diharapkan. Aku mungkin akan jadi salah satu orang yang berpikir senaif itu, jika saja aku tak pernah mendengar apa pun dari Luhan.

Sekarang aku tak tahu bagaimana posisiku. Hani menganggapku teman, tapi aku tak benar-benar berteman dengannya. Luhan menganggapku teman, tapi aku punya perasaan yang lain padanya. Sayaka menganggapku murid sekolahan biasa, tapi aku tahu segalanya. Yah, aku tidak ingat sejak kapan hidupku mulai serumit ini, tapi jika nanti aku ingat, aku ingin melupakannya saja lekas-lekas.

Hidup rumit lebih baik ketimbang hidup tapi setengah mati.

.

.

Buruk. Sabtu yang buruk.

Karena kemarin adalah hari terakhir ujian, kupikir hari ini aku bisa merdeka dari kegiatan sekolah. Yah, setidaknya murid-murid lain begitu sih. Aku juga bisa pulang lebih awal bersama teman-teman sekelasku yang lain, andai saja nilai-nilaiku tidak sehancur ini.

“Kalau begini kau bisa dimasukkan ke dalam kelas khusus musim semi yang akan datang.”

Hanya membayangkan sosok Yamada Sensei dengan materi kalkulusnya saja aku sudah ingin muntah. Kalau sudah seperti ini, aku jadi ingat diriku yang dahulu. Aku cerdas dan kreatif. Para guru jelas sekali menyukaiku, tapi aku dijauhi teman-teman sebayaku karenanya. Katanya, mereka takut berada terlalu dekat dengan murid yang pintar karena takut dibanding-bandingkan oleh para guru. Sikapku yang pemalu dan pasif juga menambah parah. Aku tak lebih dari gadis kikuk empat belas tahun yang gemar menyendiri di jam istirahat.

Memori tidak menyenangkan itulah yang membuatku tidak pernah serius belajar ketika SMA. Sejak aku masuk Sapporo Minami, selain pelajaran yang kusukai, aku tak pernah serius memelajari apa pun. Kalkulus adalah salah satunya. Fisika? Oh, jangan sebut deh, aku iritasi mendengarnya.

Jika dulu aku adalah tipikal gadis yang akan begadang hingga mengerti sebuah materi baru, sekarang aku hanyalah gadis yang rela begadang demi sebuah acara televisi. Aku tak punya niatan untuk berubah menjadi seseorang yang sama seperti dulu. Yah, aku sudah tahu rasanya.

“Wah, sayang sekali. Tapi kau bisa datang ke festivalnya sore ini ‘kan, Yuri?”

Aku tak menyadari kehadiran Hani di sisiku. Kurasa ia sudah di sana setelah Yamada Sensei memarahiku soal nilai-nilai di lorong umum sekolah. Ia pasti sudah tahu jawabannya tanpa perlu bertanya ‘kan?

“Apa boleh buat, nilai-nilaiku memang menyedihkan. Yamada Sensei membuatku menjalani hukuman hari ini. Mudah-mudahan aku sempat pergi ke festivalnya.”

“Jangan begitu,” Hani menepuk pundakku. “Semangat! Aku yakin Yuri-chan pasti bisa melakukan segalanya dengan baik. Yamada Sensei pasti akan mengerti.”

“Mudah jika hanya bicara, tahu!” aku menggetok kepalanya.

“Haha, itu baru semangat. Aku dan Take-kun akan menunggumu di depan Kuil Gokoku, festivalnya di taman Nakajima. Jam lima ya, jangan lupa.”

Aku melambaikan tangan seiring dengan tubuh Hani yang tenggelam pada cahaya di ujung lorong. Aku tertunduk lesu. Kupandangi namaku yang tercetak merah di papan pengumuman sekali lagi, berharap aku salah lihat. Tapi tidak. Aku tidak pernah salah lihat.

“Ah, merepotkan saja.” Kugaruk-garuk kepalaku ringan seraya berjalan malas ke kantor guru. Aku sudah siap jika Yamada Sensei memintaku menuliskan berlembar-lembar janji siswa lagi. Aku sudah terbiasa.

Saat aku sampai di ambang pintu ruang guru, dari celah-celah kecilnya, aku bisa melihat Sayaka nampak sibuk merapikan mejanya dengan terburu-buru. Aku tidak berbuat salah, tapi tiba-tiba saja aku menyembunyikan tubuhku di balik dinding, hanya agar aku tidak ketahuan sedang berdiri di sana, entah mengapa. Aku gugup. Sebuah rasa aneh setiap aku bertemu Sayaka tetap tidak enyah meski aku menginginkannya. Aku tak lagi bisa memandang Sayaka sebagaimana aku melihat Yamada Sensei.

“Sudah mau pulang, Sayaka-san?”

“Oh Yamada Senpai*, kupikir kau masih punya kelas. Iya, aku terburu-buru untuk persiapan festival nanti sore.”

Aku berdosa. Lagi-lagi aku berada di tengah percakapan yang tidak ingin kuketahui. Namun karena aku sudah berada di sana, apa boleh buat. Lagipula, aku bertekad tidak akan masuk ke ruangan tersebut sebelum Sayaka pergi dari sana. Sebentar lagi, hanya sebentar, dan aku akan rela dihukum oleh Yamada Sensei.

“Bukankah kau memutuskan untuk tidak ikut?”

“Um… tadinya ya, tapi seseorang yang penting bagiku memutuskan ikut festival ini, jadi mau tak mau, aku harus ikut juga. Maaf membuatmu piket sendirian di sini, Senpai.”

Aku mencium gelagat terburu-buru Sayaka. Tapi bukan itu yang membuatku gugup tidak terkendali. Segera setelah tubuh wanita itu menghilang dari pandanganku, bergegas pergi ke luar lorong panjang, aku dilanda kecemasan tak beralasan.

Orang penting bagi Sayaka? Siapa?

Aku tahu apa yang berkecamuk di otakku sangat tak sejalan dengan apa yang lidahku lecutkan, namun demikian, aku tak bisa mengenyahkan perasaan tidak nyaman ini begitu saja. Apakah Luhan? Apakah orang lain? Aku tidak tahu siapa yang dimaksudkan Sayaka. Siapa pun itu, kurasa segalanya hanya akan bertambah buruk jika kucari tahu lebih dalam.

“Nah, Horikita-chan, di sana kau rupanya. Masuk ke dalam, banyak hukuman yang menunggu.”

Yamada Sensei menemukanku. Aku digiringnya ke ruang guru sembari diserahkan beberapa tugas menulis. Aku melakukan apa yang diperintahkan dengan gesit. Bukan lantaran aku penurut, tapi karena aku merasa terancam, takut jika aku tak lekas datang ke festival, Sayaka mungkin akan melakukan sesuatu yang menyakiti Luhan untuk kesekian kalinya.

Jangan tanya kenapa aku peduli.

Aku hanya mengikuti naluri.

.

.

to be continued.


mini glosarium.

  1. Hanami : adalah salah satu tradisi tradisional Jepang yang populer baik di Jepang atau di dunia. Aktivitas utama dalam tradisi ini adalah menikmati keindahan bunga yang sedang mekar, dan pada umumnya bunga yang dimaksud adalah bunga sakura atau bunga plum (ume). Source [1]
  2. Onee-san atau Nee-san : Panggilan untuk kakak perempuan, atau seorang wanita yang kelihatannya lebih tua. Akhirannya bisa diganti -chan jika orang-orang terkait sudah dekat satu sama lain.
  3. Senpai : sebutan untuk orang yang lebih tinggi derajatnya daripada kita biasanya sering disebut di sekolah kalau senpai adalah sebutan untuk seorang kakak kelas dan kalau dalam pekerjaan bisa dikatakan sebagai senior.

places setting.

1. Aoyama Cemetery (Pemakaman Aoyama)

Aoyama-Cemetery-01.

2. Sapporo Gokoku Shrine [Kuil Gokoku]sapporo-gokoku-jinjya4.

3. Nakajima Park [Taman Nakajima]43325301.

bapkyr’s lounge

yap, seperti yang udah kubilang di chapter sebelumnya, aku menggunakan setting-an waktu dan tempat yang serealistik mungkin. Tapi, untuk acara festival musim dinginnya, aku sedikit berimprovisasi dengan menyelenggarakan itu di Taman Nakajima. Dari berbagai sumber informasi yang kudapat, Taman Nakajima tidak pernah menjadi tempat diselenggarakannya festival. Tapi aku buat demikian karena aku suka sekali dengan tamannya. Hehe. Lagipula kelihatan sangat pas buat mendukung sisi roman ceritanya. Soal Kuil Gokoku dan lain-lain kutulis sebagaimana yang dideskripsikan di berbagai sumber.

Oh iya, jadi karena meningkatknya siders akhir-akhir ini, seperti biasa aku akan membuat daftar para pembaca yang rajin komen di Youniverse. Soalnya chapter2 selanjutnya bisa jadi ku-protect. Hanya yang rajin komen aja yang bisa akses Youniverse. Semoga peringatan ini sampe ke siders ya.

nyun.

Iklan

103 thoughts on “YOUNIVERSE [4 of ?]

  1. harus baca pelan dan seksama.. abis kaknyun selalu ngasih makna tersirat sihh :”
    Emang ya, hati itu gak punya otak. makanya bisa jatuh cinta dengan orang yg sama berulang kali, gak peduli gimana otak nentang itu /apasih

    *nexttt*

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s