YOUNIVERSE [5 of 18]

Youniverse2

YOUNIVERSE

| 5 of 18 |

a story by bapkyr (@michanjee)

“Don’t make a girl wait too long, because the day you want her, maybe the day she has finally given up .”


Aku sudah siap dengan busana musim dinginku. Mantel, cek. Topi wol, cek. Syal rajut, cek. Tinggal sepatu boots tebal yang ada di depan, dan aku siap berangkat. Kulirik ponselku. Pesan masuk dari Hani tertera di layar depan.

Aku sudah ada di Gokoku, berapa jam lagi aku harus menunggumu?

Cewek ini benar-benar tepat waktu. Lima lebih lima belas menit, aku sudah terlambat seperempat jam dari yang diperjanjikan. Karenanya, aku terburu-buru mengikat sepatuku dengan asal, dan bergegas berderap keluar setelah mengunci rumahku. Sesampainya di teras, lekas saja hawa dingin yang menembus tulang menyapaku kencang.

Pergi ke sebuah festival hingga malam nanti di hari yang dingin seperti ini, rasanya seperti bukan aku sekali. Sayang, tiketnya sudah di tanganku dan Hani juga nampak sudah menunggu kehadiranku. Karena aku tahu bagaimana bosannya arti tunggu, kurasa aku harus menepati janjiku yang sebelumnya. Kuil Gokoku tak jauh dari sini, kurasa. Oke, aku tak pernah sekali pun menginjakkan kakiku di tempat-tempat selain sekolah dan rumah selama aku di Sapporo, jadi aku tak bisa menjelaskan bagaimana suasana kuil tersebut. Jadi, anggaplah kuil itu seperti kuil yang kaubayangkan pada umumnya.

Festival musim dingin diadakan setahun sekali, di hari-hari menjelang liburan singkat musim dingin untuk para pelajar. Biasanya ada pertunjukkan tradisional di sebuah panggung kecil, tari-tarian, atraksi sulap atau pamentasan kabuki*. Aku hanya pernah sekali pergi ke festival saat aku kecil dahulu, jadi aku tak bisa mengingat apa yang dijajakan di sana dengan benar. Tapi jika aku boleh menyebutkan satu hal yang paling kuingat, adalah sebuah kios ramalan. Banyak yang bilang hal tersebut dibuat untuk hiburan semata, tapi aku pada dasarnya sangat suka dengan kejutan seperti itu. Kalau ada sebuah kios ramalan lagi di Festival Sapporo ini, kupastikan aku menjadi pelanggan pertama.

Tapi pertama-tama, aku harus sampai di Gokoku sebelum petang. Festivalnya akan mulai tepat ketika matahari terbenam, dan aku tidak ingin terlambat untuk acara kembang api perdananya. Semula rencananya, aku akan berjalan hingga ke Taman Nakajima, dan memutar untuk menemui Hani di depan Kuil Gokoku. Sialnya, Yamada Sensei berhasil membuatku melakukan banyak pekerjaan dan hasilnya, aku tidak sempat untuk datang ke Gokoku tepat waktu. Untung saja masih ada trem di sekitar sini. Aku berencana menaikinya dari Yamahanajukujo dan berhenti di stasiun Gyokeidori. Hanya perlu lima menit mencapai Gokoku kalau berjalan dari stasiun itu.

Dan di sinilah aku sekarang, di dalam trem.

Tremnya tidak penuh, tapi aku memilih untuk berdiri karena jarak yang tak terlalu jauh. Aku memeriksa kartu elektronikku sebentar, memastikannya berada tepat di dalam saku. Setelah kurasa aman, kujulurkan tanganku ke atas, meraih ring-ring yang bergelantungan sebagai pegangan.

Berdiri di sebelahku adalah seorang pria paruh baya yang wajahnya ditutup separuh oleh topi rajutnya. Di sisiku yang satunya, berdiri seorang ibu-ibu yang menenteng barang bawaan cukup banyak. Ia melirik ke kanan dan kiri, mungkin mencari tempat duduk kosong, tapi sialnya, selalu saja keduluan oleh orang lain. Walhasil, ia tetap berdiri sembari mengawasi barang-barangnya di setiap kesempatan.

Pintu akhirnya ditutup, seiring dengan seorang pemuda yang memaksa masuk dengan brutal. Ia terengah-engah tepat di hadapanku. Rambutnya berwarna cokelat, teracak-acak setelah ia melepaskan beanie-nya dan mengipas-ngipas tengkuknya yang dibanjiri keringat. Pemuda itu mengenakan sebuah jaket tebal berwarna hitam, syal rajut biru tua dan sepatu boots yang warnanya agak pudar. Ia berdiri dekat pintu, tepat di depanku tanpa peduli pada apa pun selain layar ponselnya sendiri.

Aku ingin berhenti peduli, tapi yang kulakukan selalu saja sebaliknya. Kupandangi wajahnya dengan seksama. Oke, dia lumayan tampan. Mata dengan lipitan kelopak tunggal, hidung mancung yang ujungnya kemerahan, dan pipi yang agak gemuk di kedua sisi. Ia nampak seperti sebuah boneka yang ingin kucuri dan kujadikan pajangan di rumah. Sayang, ia tak dijual di toko.

“Maaf.”

“Oh iya, anu, tidak apa-apa.”

Aku menganggukkan kepala pada pria paruh baya di sisi kananku. Rupanya, ia baru saja menginjak kakiku dan terburu-buru meminta maaf. Aku tidak merasa sakit sih, tapi kelihatannya sang pria merasa sangat bersalah padaku.

Kuabaikan segera pria paruh baya itu. Tapi gara-gara kejadian tadi, pemuda berambut cokelat di depanku memerhatikan kami. Tidak, ia memerhatikanku. Matanya menindai penampilanku dari bawah hingga atas. Mau tak mau aku tersipu malu, mengalihkan pandanganku ke arah mana pun yang memungkinkan selain arahnya. Saat ekor mataku melirik lagi ke arah sang pemuda, ia tengah menggelengkan kepalanya.

Masa sih penampilanku sepayah itu?

Aku melihat lampu hijau berkedip-kedip pada panel rute trem. Beberapa detik lagi, aku sudah siap turun di Gyokeidori. Kuacak-acak sakuku demi sebuah dompet dan kartu pascabayar elektronikku. Heran, mau sedalam apa pun aku merogoh saku celanaku, kedua benda yang kucari tak juga kutemukan. Kuingat-ingat lagi letaknya, kemudian kucari lagi benda-benda itu di dalam sakuku. Tetap tidak ada.

Aku kalut. Kucari ponsel di dalam tas, benda itu masih tergeletak di sana. Aku dilanda keresahan. Haruskah aku menelepon Hani dan mengatakan bahwa aku sepertinya terjebak dalam situasi genting? Atau, haruskah aku kembali ke rumah dan mencari kedua benda tadi untuk memastikan?

Tapi aku tidak akan melakukan keduanya. Soalnya, pemuda di hadapanku sekarang terlihat sibuk memandangiku dan menggeleng lagi. Ibu-ibu kerepotan di sebelahku terdiam, nampak tak mau tahu soal apa yang terjadi. Dalam sepersekian detik yang tak kusadari, pemuda berambut cokelat sudah terjerembab di atas tanah tepat ketika pintu-pintu tremnya terbuka. Ditindihnya seorang pria paruh baya yang tadi berdiri di sisi kananku, juga ibu-ibu repot yang kini tengah menjerit melihat keduanya berkelahi di tanah.

Aku yang tak mengerti apa yang terjadi, segera berlari ke petugas kepolisian lalu lintas yang berjaga di sekitar. Trem sudah pergi, dan tinggallah kami berempat diinterogasi di pos lalu lintas, tak jauh dari TKP. Sumpah deh, aku benar-benar tak memahami situasi yang terjadi sampai akhirnya sebuah dompet dan kartu elektronikku dikeluarkan si Ibu Repot dari kantung belanjaannya.

“Oh, punyaku!”

Aku berteriak kegirangan dan segera menyambar kedua benda tersebut. Selanjutnya, aku mendengar bahwa dua orang tadi adalah pasangan suami-istri yang diketahui sebagai sindikat pencopetan penumpang trem. Mereka berdiri mengapitku seraya mengincar saat yang tepat untuk mencuri barang-barang berharga tanpa kusadari.

Aku tidak pernah menyangka hari seperti ini akhirnya datang juga padaku. Keberuntunganku sepertinya memang benar-benar terkikis pelan-pelan.

Segera setelah interogasinya usai, aku lekas menemui pemuda yang menyelamatkanku tadi. Dari penampilannya yang terkesan acak-acakkan, aku tahu bahwa ia adalah pemalas. Dan biasanya seseorang seperti ini adalah orang yang sukar didekati. Tapi toh aku tak peduli. Aku ‘kan cuma ingin melakukan kewajibanku sebagai orang yang ditolong.

“Terima kasih ya, anu…”

“Hiroyuki Natsu, dan kau…” ia melirik ke arah kertas laporan yang berada di meja petugas kepolisian. Di sana tertulis namaku sebagai korban pencopetan—tidak elit sekali. “Horikita Yuri, ‘kan?”

Aku mengangguk, “Soal yang tadi, aku benar-benar berterima kasih atas bantuannya, Hiroyuki-san.”

“Itu bukan masalah besar. Kupikir kau sudah tahu saat kau terus-menerus memandangiku. Aku memberikan sinyal padamu.”

Sial. Ternyata itulah maksud semua gelengan dan pandangan anehnya padaku selama itu. Kupikir… ya ampun. Aku benar-benar telah salah sangka. Lagipula aku kenapa sih? Tidak biasanya aku sepeduli ini.

“Ya sudah lupakan, lagipula pencopetnya sudah tertangkap. Apa kau akan pergi ke suatu tempat, Horikita-san?”

“Iya, aku akan ke Gokoku. Temanku sudah menunggu di sana.”

“Benarkah?” meski bibirnya baru saja melecutkan keterkejutan, tapi tak sedikit pun ekspresi terperangah ditunjukkan wajahnya. Alih-alih ia menggaruk kepalanya, setengah mati kebosanan. “Jangan bilang kau akan pergi ke festival?”

“Kau juga?” tanyaku.

“Aku dapat satu tiket dari sepupuku. Tadinya mau kabur sih, tapi karena aku sudah di sini… ayo pergi bersama,” ajaknya. Ia memamerkan selembar tiket festival serupa seperti yang kumiliki. Meski wajahnya masih belum pulih dari ekspresi bosan setengah mati, pemuda itu nampak sungguh-sungguh mengajakku berjalan bersamanya. Tadinya aku akan menolaknya—bisa sangat repot kalau Hani tahu aku pergi dengan seorang pria tak dikenal—tapi tiba-tiba aku berubah pikiran. Natsu pastilah tidak akan menjadi masalah. Ia tak suka festival, dan kelihatannya tak berminat berlama-lama di tempat itu. Kami bisa berpencar begitu masuk ke Gokoku.

Yosh. Kedengarannya rencana sempurna.

“Kalau begitu ayo, kita sudah terlambat.”

.

.

Sesampainya di depan Kuil Gokoku, alih-alih Hani yang terkejut, malah aku yang mempertontonkan ekspresi demikian. Aku sudah benar-benar sinting saat Hani menarik lengan Natsu dan memperkenalkannya padaku sebagai sepupunya. Serius nih Hani punya sepupu yang… ugh, Natsu benar-benar semalas kelihatannya. Lain dengan Hani, pemuda ini nampak tak pernah memerhatikan penampilannya. Apakah ia tak tahu bahwa sisir sudah ditemukan di era ini?

“Kau menghajar pencopetnya, Natsu-chan?”

“Jangan memanggilku seperti bocah, Hani!”

“Oh ya? Haha,” Hani terlihat sangat senang dengan kehadiran Natsu. Ia berkali-kali mengatakan bahwa dirinya pernah bercerita soal Natsu padaku. Meski aku berusaha keras mengingat cerita-ceritanya, aku tetap saja tak ingat. Sudah menjadi kebiasaanku untuk lekas melupakan apa yang kudengar, apalagi yang tak berkaitan dengan hidupku.

“Di mana Take-kun?” tanya Hani kemudian.

Nah, kalau soal pemuda satu itu, rasanya aku memang tak pernah berhenti peduli. Hanya dengan mendengar namanya saja, jantungku sudah berdentam tak karuan. Saat perjalanan kemari, aku berulang kali mengatur tata rambutku, membersihkan debu-debu tak terlihat di bajuku dan berulang kali menggigiti kuku-kuku karena gugup. Saat kutahu Luhan tak berada di tengah-tengah kami, aku lantas kecewa. Yah, kaupikir untuk siapa aku repot-repot berdandan seperti itu.

“Aku akan coba meneleponnya,” tawarku seraya mengeluarkan ponsel dari saku.

“Kalau begitu, tolong ya, Yuri-chan.”

Aku mengangguk, mengambil langkah pendek untuk menjauh dari Hani dan Natsu, entah mengapa. Menelepon Luhan seharusnya bukan ide buruk ‘kan? Tapi aku merasa baru saja melangkah ke pintu neraka. Sesaat setelah aku menekan nama Luhan di layar ponselku, nada sambung terdengar. Begitu lama, mungkin sepuluh atau dua belas detik, sampai akhirnya seseorang di seberang sana mengangkatnya dan berkata, “Halo?”

“Takegaya-kun,”

“Yuri? Wah kebetulan sekali. Aku baru saja ingin meneleponmu?”

Pipiku merona hingga aku kehilangan keseluruhan kalimat yang telah kususun. Di kalimat selanjutnya, aku tahu bahwa ronaku adalah sia-sia. “Aku tidak bisa datang ke festival bersama Hani dan dirimu. Ada sesuatu hal…”

“Apakah soal Sayaka Sensei?”

Kalimat tadi meluncur begitu saja dari bibiku tanpa ragu. Ada sesuatu yang meletup di dalam jiwaku. Kukira, setelah aku memutuskan untuk jatuh cinta lagi padanya, Luhan yang sekarang sama sekali berbeda dengan apa yang kulihat dua tahun lalu. Kupikir, ia mulai paham apa artinya sebuah janji dan pentingnya sebuah penantian. Akan tetapi salah besar jika aku tetap berpendapat demikian. Tak masalah jika Luhan secara fisik telah berubah, karakternya masih sama. Pangeran Es Tokyo masih bersemayam di dalam dirinya, tak peduli apa.

Ada jeda panjang di antara kami setelah aku berbicara seenaknya sendiri. Di saat yang bersamaan, letupan jiwaku mengeras, kemudian mencair sedikit demi sedikit. Aku yang telah berjanji akan menjadi sebuah langit yang tak beremosi, kini baru saja mengingkari janjiku sendiri. Secara teknis, aku dan Luhan sama. Kami tak pernah menepati janji yang kami buat sendiri. Sialnya aku terlambat menyadarinya.

“Ya.”

Sebuah ya singkat akhirnya memperjelas hubungan kami. Sebuah ya darinya juga menegaskan sebuah dinding tinggi di antara kami yang tak akan pernah bisa kutembus. Dinding yang memisahkan aku dan janji Luhan yang telah lama dilupakannya.

“Oh…” aku menjauhkan ponselku sesaat sebelum bicara. Ada desakan menyakitkan di tenggorokanku yang tak dapat kuenyahkan segera. “Kalau begitu hati-hati… karena.. di sini banyak murid Minami, jadi…”

“Terima kasih sudah mencemaskanku, Yuri-chan. Aku akan berhati-hati.”

Sambungan terputus. Seiring dengan sebuah harapan yang terputus kembali. Aku lekas tertawa dengan pemikiran itu. Bagaimana bisa sebuah benang terputus ketika itu tak pernah terjalin sama sekali. Mungkin hanya aku, segala kerumitan ini hanya ada di kepalaku.

Sekali lagi aku diganjar sebuah pelajaran bahwa wanita adalah sisi yang paling tersakiti dari drama percintaan diam-diam.

.

.

“Kalau begitu, ayo jalan-jalan.”

Seruan Hani terasa sangat logis di situasi seperti ini. Diikuti aku dan Natsu yang ogah-ogahan mengekor di belakangnya, kami memasuki area taman Nakajima. Masih terlihat kejayaan musim gugur lewat dedaunan cokelat yang masih tersasar di beberapa pojok area. Kami melewatinya tanpa acuh. Kios-kios ditata menyebar di beberapa titik, kemungkinan dimaksudkan agar para pengunjung festival tak mesti berdesakan saat memasuki area festival. Namun tetap saja, baru beberapa meter kami memasuki area ramai tersebut, Hani sudah terpisah dari kami.

“Cewek itu benar-benar suka seenaknya saja sendiri,” Natsu mengacak-acak rambutnya meski—ehem—bagian itu sudah teracak sempurna sebelum ia melakukan apa pun. Kini saat aku berada di dekatnya, aku bisa mencium parfum beraroma cokelat dari tubuhnya. Saat ia melihatku, iris mata cokelatnya tertangkap netraku, kami berpandangan selama sepersekian sekon sebelum akhirnya ia menolehkan kepala ke arah lain.

“Mau ke sana?” tawarnya padaku. Aku melihat sebuah kios yang lumayan sepi dari beberapa kios di sebelahnya. Papannya bertuliskan “RAMALAN UNTUK ANDA” yang dihias dengan lampu-lampu kecil berwarna-warni.

“Kau suka yang seperti itu?” kataku menahan kegembiraan. Bukankah sudah kukatakan tempat meramal adalah salah satu yang ingin kukunjungi hari ini dalam sebuah festival? Aku hanya berpura-pura tak menginginkannya saat tiba-tiba Natsu seolah membaca pikiranku.

“Hanya karena di sana lebih sepi, bodoh. Apa kaupikir para lelaki suka keramaian?” aku berjengit ketika mendengarnya. Ekspresi wajah Natsu sangat sukar ditebak. Sebentar-sebentar ia terlihat seperti pemalasan yang tidak memaknai hidup dengan baik, tapi di sisi lain—seperti saat pertemuan kami di kereta misalnya—ia bisa menjadi seseorang yang peduli, sangat hangat dan baik. Hadirnya Natsu merangkum segalanya, bahwa aku memang telah dikelilingi orang-orang aneh tanpa kusadari.

Menuruti keinginannya—dan keinginanku—kami berjalan pelan ke arah kios ramalan. Sepanjang perjalanan pendek itu aku bertukar pesan dengan Hani, rupanya ia mampir sebentar di kios yakitori* karena menemukan teman sekolah dasarnya di sana. Aku memberitahukan pesan Hani pada Natsu yang memerintahkan untuk bertemu beberapa menit lagi di dekat kios dango*, tak jauh dari tempat ramalan di hadapan kami.

“Tapi kita sudah sampai di sini, setidaknya coba dulu,” pesan Natsu padaku. Yah, mau bagaimana lagi. Aku juga menginginkan ini sih.

Setibanya aku di depan kios, aku membayar dua ratus yen pada penjaganya dengan meletakkan uang tersebut di sebuah toples kecil di depan kios. Natsu memandangku dengan tatapan serius nih? Kau benar-benar tertarik ke hiburan semacam ini kala tangan sang peramal keluar dari sebuah lubang kecil dan mulai meraba-raba telapak tanganku. Adegan itu berlangsung selama kurang-lebih setengah menit, sampai akhirnya sebuah suara serak bergema dari dalam.

“Kau akan menghadapi tahun yang sulit, Onna*. Garis-garis melintangnya samar, kau tampak belum menyelesaikan suatu persoalan penting di masa lalu. Hal ini akan membuat hidupmu sulit di kemudian hari. Tapi, ini bisa juga berarti keberuntungan. Kau akan menemukan kebenaran yang kaucari selama ini.”

Saat tanganku dilepaskan oleh sang peramal misterius bersuara serak tadi, alih-alih terkejut, aku kebingungan. Halo? Aku membayar dua ratus yen hanya untuk ramalan ambigu seperti ini?

“Nah ‘kan.”

“Setelah menjerumuskanku ke sini, komentarmu hanya seperti itu, Hiroyuki-san?” aku melirik pedas ke arahnya. Ia masih tampak sama, setengah mati kebosanan. Sepertinya, karakter Natsu memang selalu seperti ini, hidup tapi tak nampak menikmati apa pun.

Aku baru akan menjawat tangan pemuda itu untuk segera mencari kios dango saat seseorang yang kukenal melintas begitu saja di hadapanku. Sayaka, mengenakan blus tebal dengan sepatu tinggi formal, lewat begitu saja dengan menggandeng seorang pria yang sama sekali tak nampak seperti Luhan. Aku mencoba mencari tahu dengan mengekorinya hingga ke depan sebuah kios okonomiyaki*. Benar, aku tak salah lihat, tidak ada sedikit pun presensi Luhan di antara keduanya. Malahan, nampak seperti Sayaka sedang menikmati kencan dengan pria asing di sebelahnya.

Tunggu! Kalau begitu…

Aku bergegas merogoh saku celanaku, mencari-cari ponsel yang kutaruh di sana. Saat kutemukan benda putih tersebut, kubuka segera kunci layarnya, lekas mencari nama Luhan di dalam memori kontakku. Natsu di belakangku bertanya ada apa, tapi aku hanya memberinya sebuah aku duluan dan menghilang di dalam kerumunan.

“Halo?”

Aku terkejut karena Luhan langsung mengangkat panggilanku. Namun hal tersebut tak membuat perasaanku baikkan. Fakta bahwa ponsel ada di tangannya, semakin menguatkan keyakinanku bahwa ia sama sekali tidak pergi ke festival bersama Sayaka seperti yang telah diucapkannya padaku.

“Di mana kau?!” kuakui aku sedikit berteriak ketika bertanya. Aku tidak bisa menahan luapan emosiku, entah karena aku ditipunya atau karena aku merasa sangat kasihan padanya.

“Aku? Bicara apa kau, tentu saja di festival bersama Sayaka Sen—“

“Aku tahu!” aku memotongnya. Senyap memenuhi spasi di antara kami. Aku tahu aku sangat lancang mengatakan itu padanya. Dengan begitu aku baru saja mengingkari janjiku untuk tak peduli. “Sekarang, katakan kau ada di mana?”

Dalam senyap itu kemudian kudengar suara lonceng dan anak kecil yang tengah berbincang. Ada suara koin jatuh yang sangat jelas sebelum lonceng berbunyi, kemudian ketukan-ketukan khas dari orang-orang yang bertepuk tangan kecil sebelum kekhidmatan menyerang. Saat aku tengah mencerna suara-suara tadi dan menyimpulkannya menjadi satu, panggilan kami terputus. Nama Luhan di layar ponselku perlahan meredup.

Luhan memang tipikal pemuda yang selalu bertindak semaunya sendiri. Aku tak bisa membuatnya memberitahu di mana dirinya berada atau apa yang sedang dia lakukan. Jadi, kurasa aku juga bisa membalasnya.

Kini aku akan bertindak semauku sendiri. Kulangkahkan kakiku kembali ke Kuil Gokoku karena tak ada lonceng kuil senyaring lonceng kecil di sana.

.

.

Aku menemukannya dengan mudah. Sosok Luhan yang berdiri di anak tangga dekat sekali dengan altar berdoa. Beberapa anak kecil dan pasangan muda seusiaku hilir-mudik melemparkan koin pada sebuah kotak kayu di hadapannya, membunyikan lonceng yang menggantung, kemudian memejamkan mata dan berdoa dengan tangan yang ditangkupkan satu sama lain. Aku tak tahu mereka berdoa pada siapa dan untuk apa, tapi ketika mereka membuka matanya, semuanya nampak puas dan tersenyum bahagia.

Mungkin Luhan juga sama, andai saja ia mau berdoa di sana alih-alih hanya duduk tertunduk lesu di tangga mini tak jauh dari altar kuilnya. Saat aku datang, ia buru-buru berdiri, membersihkan debu di celana jinsnya, kemudian mengajakku bicara dengan sebuah senyum, seperti tak ada hal-hal buruk yang bisa terjadi padanya.

“Aku ketahuan ya?” katanya selanjutnya.

Aku menyembunyikan perasaan kesalku yang sesungguhnya dengan terus-menerus mengepalkan tanganku. Mantel tebalku agak kepanjangan di bagian tangan, jadi kurasa kepalan itu pun tak bisa ditangkap manik Luhan dengan instan. Beruntungnya.

Jika kautanya mengapa aku bisa sekesal ini, jawabannya pun tak kuketahui. Mungkin karena Luhan? Karena Sayaka? Atau ini murni hanya kelabilan emosionalku saja. Atau bisa juga aku kesal setelah melihat pemuda yang kucemaskan nampak tak terganggu sama sekali dengan apa yang baru saja terjadi.

Di mataku, senyum Luhan tak ubahnya senyum palsu yang selalu ibu berikan padaku. Di dalamnya mengandung banyak makna tersirat yang tak mau diketahui orang lain. Pemuda ini pasti tahu bahwa Sayaka pergi bersama pria lain, ia juga pasti sadar bahwa tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah hal tersebut. Oleh karena itu, ia lebih memilih menyendiri di sini dan menghindari pertemuan dengan Sayaka demi kebaikan keduanya. Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Meski aku menolak mengatakan ini, tapi kurasa Luhan memang masih memendam perasaan lawasnya pada Sayaka, tak peduli wanita itu kakaknya atau bukan.

“Kau benar-benar bodoh,” umpatku pelan. Luhan menatap lurus padaku sehingga netra kami sama-sama bersirobok untuk waktu yang sangat lama.

“Mau bagaimana lagi,” jawabnya.

“Kau masih mencintainya ‘kan?”

Satu lagi keheningan panjang yang tak terpecahkan. Sementara kami diam dalam dunia kami sendiri, orang-orang sudah sibuk kembali berdoa di depan altar sesembahan, melempar koin dan memejamkan mata. Aku tiba-tiba mempertanyakan kepercayaan diriku, juga sebuah janji yang pada akhirnya tak akan pernah kutepati. Menjadi langit? Yang benar saja, bodoh! Mana bisa aku tidak sepeduli itu pada pemuda yang pernah kuinginkan setengah mati. Terjun saja sana kau ke jurang!

“Karena kita di sini, bagaimana kalau berdoa?” respons Luhan kemudian. Di bibirnya, terpeta sebuah senyuman yang tak sanggup kulihat lama-lama. Aku tahu ia hanya mengalihkan topik, tapi aku sudah menyerah untuk berdebat dengannya. Apalagi di saat aku tak memiliki hak apa pun untuk mengetahui jalan hidup Luhan.

Kami berbaris, kemudian perlahan berjalan ke altar. Aku melemparkan sekeping koin, disusul dengan Luhan. Kami sama-sama memejamkan mata setelah membunyikan lonceng, tenggelam dalam doa masing-masing.

“…kau tampak belum menyelesaikan suatu persoalan penting di masa lalu…”

Alih-alih suara hatiku, dalam kesenyapan ini aku malah teringat kembali soal ramalanku beberapa saat yang lalu. Persoalan penting di masa lalu? Apakah ia berkata soal perasaanku pada Luhan? Bukankah hal tersebut sudah selesai?

“…hal ini akan membuat hidupmu sulit di kemudian hari…”

Benar juga. Aku memang belum menyelesaikan apa yang kumulai bertahun-tahun lalu. Dahulu aku menolak untuk menyerah karena aku masih percaya akan janji Luhan, perkataannya yang membuatku menanti eksistensinya tak peduli waktu. Namun setelah semua yang terjadi, aku tahu bahwa tak ada satu tempat tersisa untukku di hatinya. Seorang gadis telah mengisi jiwa kosong pemuda itu sebelum aku sempat sadar posisiku. Seorang gadis yang tak lain adalah Sayaka, kakak tirinya sendiri.

Bodohnya aku.

“Kau menghabiskan waktu cukup lama berdiri di sana, apa doamu?”

Segera setelah membuka mata dan berjalan menjauh dari depan altar kuil, aku melangkah ke arah Luhan yang telah mendahuluiku berdiri di ambang gapura kuil. Aku tak tahu apakah dia tadi berdoa atau tidak—wow, ia sangat cepat.

“Doa sederhana agar lupa,” jawabku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. Aku menuntunnya berjalan keluar dari kuil, tetap menjaga keinginanku agar tak menunjukkan wajah ke arahnya. Sesaat tadi aku sudah memutuskan, aku sudah melakukan apa yang menurutku perlu.

“Melupakan yang buruk-buruk?”

Aku menggeleng pasti. Kutatap langit tanpa bintang di atas kepalaku. Salju telah turun, benar-benar di saat yang tepat. Salju pertama di musim ini katanya waktu yang tepat untuk berdoa. Sembari memandangnya turun dan pecah di tanah, aku mengucapkan doaku tadi dengan lebih jelas, berharap ada yang sudi mendengar dan mengabulkan segalanya.

“Lupa caranya menunggu. Aku ingin berhenti menunggu.”

.

.

to be continued.


mini glosarium.

  • Kabuki = teater tradisional Jepang, menggabungkan unsur tari, pantomim, musik, dan drama.
  • Onna = Nona/Nyonya.

.

  1. Yakitori

daging ayam yang di bakar kemudian di tusuk oleh tusuk sate. Ya bisa dibilang satenya orang Jepang sih.

yakitori-stall-532.

2. Dango

Makanan kaya sate yang ditusuk gitu tapi terbuat dari tepung beras.

festival-dango-534.

3. Okonomiyaki

Pancake-nya jepang, mirip martabak telor dengan topping macam-macam.

okonomiyaki-532.

4. Trem

Kereta yang memiliki trek khusus di dalam kota, biasanya untuk jarak dekat.

trem

Sumber : http://halojepang.blogspot.co.id/2013/10/jajanan-di-festival-jepang.html


bapkyr’s lounge

Jadi, sekali lagi, seluruh tempat di dalam cerita ini adalah nyata. Benar-benar eksis sesuai dengan penjelasannya. Oh iya, untuk siders, goodbye forever soalnya chapter depan aku protect.

nyun

Iklan

101 thoughts on “YOUNIVERSE [5 of 18]

  1. Aku udah ada pemikiran kalo luhan ga bisa dateng ke festival gara2 bneran sma syaka. Nytanya ? Dan sayaka serius dg kta2 kalo dia mau buat luhan agar membencinya
    dan sakit sekali jadi yuri, di gantungin masa . Iya, di terima engga, di tolak engga. Udah ya yuri, sma minhyuk aja gih
    oh iya kaka, aku minta pw pasrt 6 sma 8 dong, janji ninggalin jejak ko
    emailnya, ersihmarlina@gmail.com

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s