GHOST SLAYER RE:DO [4 of 4]

Ghost Slayer REDO

GHOST SLAYER RE:DO

a story by bapkyr

“Ayah mertuaku punya koleksi bros cicak kering dan payet cacing hidup.”


“Di sini!”

Chaerin memekik padaku, menunjukkan sebuah arah yang menarik perhatian telunjuknya. Kalau dipikir-pikir lagi, ini adalah kali pertama ia bicara dengan lantang setelah kami menjejalkan diri dengan paksa masuk ke dalam Kingdom.

“Oke, ayo ke sana dan berharap ada sesuatu.”

Aku mengiyakan ajakannya. Dari awal kami tiba, Chaerin selalu menunjukkan jalan padaku, meski ia tak benar-benar ingat. Adakalanya kami tersesat, terpisah dalam gelap, tapi Chaerin dan kemampuan mengendusnya yang luar biasa, sanggup membawa kami kembali bersama dan berjalan di trek yang benar. Tujuan kami tak lain adalah aula utama Kingdom, tempat di mana seharusnya kami bertemu dengan Jiyong dan yang lain.

Tapi perasaanku benar-benar tak nyaman sekarang. Aura hitam yang menyelimuti dinding labirin tanpa ujung ini begitu mengintimidasi. Aku seolah ditusuk-tusuk oleh sesuatu yang tak kasat mata, seperti ada sebuah kekuatan besar yang ingin mendiami tubuhku dan menggerakannya sesukanya. Chaerin nampak tak terpengaruh. Kurasa, karena sebelumnya ia pernah ke sini sendiri, ia mampu mengendalikan kekuatan sebesar itu.

Wosh.

“Apa itu?” aku menelisik sekelilingku, mencari-cari sumber hawa panas yang menerpa wajahku. Chaerin menyipitkan matanya saat berbalik dan memandangku. “Ada apa?” katanya.

Lho?

“Kau tak merasa ada sesuatu yang besar baru saja melewati kita?”

“Sesuatu yang besar?”

Chaerin benar-benar tak merasakan apa pun.

“Hawa yang sangat panas,” jelasku.

Chaerin menggeleng.

“Mungkin hanya perasaanku.” Aku berjalan kembali mengekori Chaerin. Setelah beberapa langkah, hawa panas itu kembali lagi kurasakan. Kali ini, dari belakang kepalaku dan terus melaju ke depan. Penasaran, kutarik pedangku dan kutebaskan ke sekeliling ruangan tersebut. Ada yang terjadi?

Tak ada.

“Kau paranoid?” tanya Chaerin.

Aku mengedikkan bahuku, “Mungkin. Iya. Entahlah. Kau benar-benar tak merasakannya?”

Chaerin mengernyitkan keningnya padaku. “Apa kau jenis Ghost Slayer pendeteksi?”

“Aku tipe penyerang. Apa sesuatu terjadi padaku?”

“Ini cuma asumsi sih, tapi kurasa inderamu lebih peka di Kingdom. Hawa panas yang kaurasakan bisa jadi merupakan manifestasi roh-roh yang sudah berubah menjadi debu, lihat.” Chaerin berhenti di dekat sebuah dinding, ia meletakkan tangannya pada sebuah tonjolan kecil di sana yang kemudian runtuh, menampakkan beberapa pendar tipis cahaya hitam yang panas bukan main. “Sisa dari para roh dan bau ibuku. Sesuatu yang besar nampaknya baru terjadi di sini,” Chaerin mengendus-endus udara. “Aroma Leo juga tak jauh. Hawa panas yang kaurasakan pastilah maksudnya ini.”

Aku ingin setuju untuk membuat hal ini lebih mudah, tapi jauh di dalam otakku, sesuatu terasa tak benar. Hawa panas yang kurasakan bukan hanya bersumber dari sisa-sisa roh pasca pertarungan sengit. Bukan juga dari aroma iblis yang menguar dari tubuh Leo. Aku merasakan sesuatu yang lain, tepatnya sesuatu yang lebih buruk daripada fakta bahwa kami sudah ada di Kingdom tanpa tahu di mana pintu keluarnya.

Aku merasakan sesuatu yang sangat jahat sedang mengintai kami pelan-pelan. Aura hitam yang bisa jadi menyediakan panggung drama untukku. Tapi simpan saja itu untuk nanti, ada sesuatu yang harus dikejar. Pacarku sudah susah payah bertarung dan aku tidak ingin ketinggalan pestanya.

“Baiklah, kita ikuti aroma Leo. Aku sudah tak sabar memperkenalkan diri pada ayah mertuaku.”

.

.

Jiyong ingin mengeluh tapi ia tak punya waktu. Kerangka yang ia tebas berbanding lurus dengan action figure Iron Man seri terbaru yang dipajang di toko mainan. Tak ada habisnya. Setiap ia menebas satu, maka satu yang lain akan terbentuk dari abunya, menjelma menjadi tengkorak lain yang lebih keren. Jika Jiyong menebas sebuah tengkorak versi 1.0, maka versi 2.0 akan muncul lagi tak jauh di depannya membalas dendam—oke, itu cuma sebutannya karena ia bingung dengan persenjataan pasukan kerangka ini; boomerang, meriam, tombak? Ayolah! Ini bukan Perang Pasifik.

“Mereka pasti akan ditahan karena meriam-meriam norak itu,” Jiyong menggerutu. Tubuh kecilnya bergerak agresif menghindari serangan meriam-meriam yang diluncurkan langsung pada kepalanya. Kena sedikit, otaknya bisa meleleh keluar. Meski kekuatan bola-bola meriamnya tak sekuat perang sungguhan, tapi Jiyong tetap tak ingin mencoba mengujinya. Terakhir, ketika secuil jinsnya mengenai bola-bola tersebut, rajutan mahal dari Wrangler itu meleleh, meninggalkan rongga di bagian bawah jins serta luka merah di permukaan tumitnya. “Darimana sih mereka mendapatkan benda seperti itu?”

“Dariku,” Leo menjawab. Ia mendapatkan sebuah busur dan anak panah entah dari rampasan perang yang mana, tapi anak panah tersebut sangat efektif menjadi senjata utamanya. Tiap lontarannya selalu mengenai sasaran bahkan tanpa perlu berlarian kesana-kemari seperti Jiyong. “Kupikir jika mereka dipersenjatai, aku akan mudah membentuk pasukan kuat untuk menaklukan ayah.”

“Tapi kau salah.”

Leo melesatkan satu lagi anak panah pada sesosok kerangka berduri yang muncul di balik punggung Jiyong. “Tidak sepenuhnya, beberapa sangat mudah dikalahkan kalau kautahu titik lemahnya.”

“Cih,” Jiyong mengetukkan tempurung dengkulnya ke sebuah kerangka yang baru saja dijatuhkannya. Meriam kecil dirampasnya paksa, meninggalkan sang kerangka hanya dengan abu dari tubuhnya yang perlahan menghilang. “Aku tinggal menggetok semuanya saja.”

“Kau akan kelelahan, kujamin.”

“Memangnya kau tidak?”

“Aku punya stamina tak terbatas selama aku berada di Kingdom. Kau berbeda, bagaimana pun kau tetap manusia.”

Jiyong ingin mendebat pria menyebalkan itu sekali lagi, tapi ia tak punya alasan yang relevan. Apa yang dikatakan Leo bisa jadi ada benarnya. Baru diserang pasukan kerangka saja Jiyong sudah merasa panik. Padahal, musuh sebenarnya adalah orang besar yang duduk santai di atas tubuh kurus ibunya. Mungkin sekarang Raja Iblis hanya menonton pertunjukan kecil yang dibuatnya, tapi tak ada jaminan kalau ia tak suka penyerangan gerilya. Bisa jadi ketika Jiyong melemah, ia diserang sang ayah kemudian dilumatnya.

Hiiii. Jiyong benar-benar tak bisa membayangkannya. Jijik sekali dikunyah dengan gigi kuning raksasa ayahnya.

“Yo, Leo, kau ada saran? Aku agak sebal ingat soal ini, tapi waktu kita tak banyak. Sebentar lagi mungkin Mansion akan membunuh aku dan Yuri karena membebaskan seorang tahanan berbahaya.”

Leo melesatkan anak panah terakhirnya sebelum ia berganti senjata. Dipilihnya sebuah meriam kecil seukuran lengannya yang memiliki kemampuan lempar jarak jauh. Alih-alih diisi bola meriam, Leo mengiris permukaan kulit lengannya dan meneteskan lendir hijau yang dihasilkannya ke dalam lubang meriam. Jiyong melihatnya keheranan, tapi ia cukup sibuk untuk bertanya. Lagipula pertanyaan terakhirnya belum juga dijawab oleh Leo.

Saat Jiyong sibuk dengan para kerangkanya, sebuah ledakan meriam nan dahsyat hampir membunuhnya dari belakang. Refleksnya menuntun sang pria untuk melakukan dua kali salto di udara sebelum akhirnya mendarat di atas ubun-ubun sesosok kerangka sekarat yang melepuh perlahan. Jiyong menyipitkan mata, melihat luncuran cepat dari benda yang hampir membunuhnya. Jiyong tak melihat benda bulat kehitaman yang ia cari-cari. Alih-alih sebuah gelembung cairan hijau menggantikannya, melesat kuat dan cepat, menghancurkan apa pun yang disentuhnya.

“Kusebut itu meriam Leo,” ujar Leo bangga.

Jiyong nampak tak setuju. Dengan jengkel ia berkata, “Dan benda menjijikkan itu hampir membunuhku. Kau sengaja ya?”

“Oh?” Leo menoleh ke arah Jiyong, melihat banyak sekali tumpukan debu yang perlahan lesap ke dalam tanah. “Aku tidak tahu kau di sana, Bung. Kupikir kau sudah ditebas para tengkorak.”

“Sialan kau.”

Prok… Prok… Prok…

Atensi keduanya mendadak beralih pada sebuah sumber suara gaduh di ujung ruangan, tepat di atas singgasana tengkorak. Dalam setiap tepukan itu, rintihan Hani terdengar samar, meminta agar Jiyong dan Leo tak berusaha mendekat. Tubuhnya yang kurus ditambah kulitnya yang sudah bergelayutan, tak lagi membuatnya nampak seperti manusia. Hani tak ubahnya sesosok kerangka, hanya saja ia berambut, dan lebih tahu bagaimana cara mengenakan daster dengan baik.

“Pertunjukkan yang brilian. Seperti yang kuharapkan dari anak-anakku,” sang Raja bicara. Mahkotanya terbuat dari kulit ular yang dikeringkan dan disatukan dengan ribuan cacing tanah yang masih hidup. Jubahnya tersampir hingga mata kaki, lebih lebar di bagian belakang. Payet-payetnya berasal dari perpaduan sisik ular dan buntut kadal berbentuk spiral—beberapa terlihat seperti masih bergerak. Bagian depannya cukup normal, andai saja ia berhenti memakai bros cicak yang dikeringkan. Jiyong ingin muntah. Ayahnya ternyata memiliki selera fashion kereptil-reptilan yang amat buruk.

“Serius? Aku mendapatkan pujian seperti itu dari dia?” Jiyong tak percaya menatap Leo, meminta sebuah respons. Tapi jangankan jawaban, bergerak pun tidak. Leo terpaku di pijakannya, masih dengan senjata aneh yang dilumuri darah hijaunya sendiri. Sorot matanya telah kosong entah sejak kapan. Ia benar-benar terlihat sangat tolol seperti itu, setidaknya bagi Jiyong.

“Hoi, Leo, apa kau kesurupan?” ujar Jiyong berusaha mencari tahu. Ia buru-buru mengoreksi kalimatnya kemudian. Tak mungkin seorang iblis kesurupan hantu ‘kan? “Bateraimu habis ya?”

“Haha, percuma saja!” tawa kencang merebak dari depan. Mulut sang Raja terbahak-bahak mengeluarkan sebuah kebahagiaan mengerikan. Ia tampak menikmati kebingungan Jiyong dengan segenap hatinya, dan tentu saja, Jiyong tak menyukai itu.

“Kau apakan pria lugu ini, Orang Tua?”

“Tidak melakukan apa-apa tuh,” ujarnya mengedikkan bahu. Jiyong sangat tidak suka jika seseorang yang sudah cukup berumur mengatakan sesuatu dengan gaya masa kini. Sangat tak cocok, membuatnya ingin segera menebas kepala sang Raja. “Leo sedari awal memang seperti itu. Dia bonekaku. Akulah berhasil menggunakannya untuk memancing kalian ke sini. Sungguh beruntung. Aku bahkan mendapatkan istriku kembali, ya ‘kan, Sayang?”

Di akhir kalimatnya sang Raja membelas pipi kurus Hani. Wanita itu mengerang, menggumamkan kata-kata tak jelas sebelum sang Raja menampar pipinya keras-keras. Jiyong menjadi geram. Ia sudah berniat tak akan menggunakan pedang S-class peninggalan berharga dari ayahnya di tempat kotor seperti Kingdom, tapi pada akhirnya ia melepaskan sarungnya juga. Dari aura kejam yang dipancarkan sang ayah, ia tahu dirinya tak akan bisa menang tanpa senjata. Apalagi saat ini musuhnya tidak hanya sang ayah seorang.

Jiyong melirik ke arah Leo, namun sang pemuda memandangnya dengan aura kejam yang serupa seperti ayahnya. Ia telah benar-benar menjadi boneka sang ayah.

“Apa yang kauinginkan?” gigi Jiyong bergemeletuk, bukan lantaran gentar, tapi cemas. Setelah tahu bahwa misinya adalah jebakan, ia tak mau Yuri terlibat. Jiyong cemas jika Yuri dan Chaerin juga ikut terjatuh dalam perangkap ini, sementara mereka tak memiliki benda yang lebih kuat dari pedang S-class-nya.

“Sederhana,” sang Raja turun dari singgasananya. Ia melewati beberapa tumpukan abu kerangka di kakinya, kemudian menghisapnya dari hidung hingga suaranya berubah cempreng. “Jiwa Leo, jiwamu dan jiwa Chaerin. Kalian akan memberikanku kekuatan tak terbatas, darah setengah manusia dan setengah malaikat. Perpaduan yang sempurna untuk menguasai dunia.”

Jiyong ingin segera menebas kepala ayahnya untuk menghentikannya berbicara yang bukan-bukan, tapi persoalan darah setengah malaikat, membuatnya ingin mendengar lebih banyak. Jiyong sudah mengetahui asal-usulnya, ibunya Hani adalah sesosok iblis betina, sedangkan ayahnya adalah orang kuno yang memakai jubah reptil berwajah jahat. Ia bukanlah setengah manusia apalagi setengah malaikat.

Seperti efek domino, pendar kecil tubuh ringkih sang ibu yang berada di antara tumpukkan rangka mencolok-colok mata Jiyong. Tetes darah hijau keringnya perlahan lesap pada pori-pori kulitnya, membentuk segumpal daging baru yang kencang. Ia memekik kesakitan selama proses tersebut. Diterangi cahaya yang kemudian menjadi luar biasa menyilaukan, Hani berubah menjadi sosok yang lain. Wanita berambut emas yang terjepit di antara kerangka beracun. Daster kusamnya telah berubah menjadi gaun putih selutut, menjuntai ke bawah, menampakkan sebagian kulit kakinya yang bersinar.

“Jadi, begitulah. Hani adalah malaikat yang dikutuk menjadi iblis. Dia baru akan kembali menjadi malaikat di saat-saat singkat sebelum ajal menjemputnya. Ketika pendarnya meredup, maka tamatlah riwayatnya.”

“Kau… licik!”

“Itu pujian yang menyenangkan, Nak. Aku sudah menunggu hari seperti ini sejak lama, reuni kecil kita. Aku menikahi Hani dengan tujuan dapat memakannya setelah ia berubah menjadi malaikat, tapi setelah mengetahui kapan perubahannya terjadi, aku tahu ia sangat tak berguna. Tapi kau dan Chaerin, sangatlah berbeda. Kalian berdua bisa jadi bateraiku untuk menguasai dunia. Bersama-sama darah iblis murni dari Leo, putera kesebelasku, aku akan membuat Kingdom sebagai pusat dunia dan tak akan ada yang bisa menghentikanku!”

Sebuah tawa merebak ke seluruh ruangan, memantul-mantul di dinding kemudian masuk ke dalam telinga Jiyong sebagai ejekan yang menyakitkan. Ia telah ditipu, tapi ia tak bisa marah dengan Leo. Pemuda itu kini menjadi lebih tolol daripada kelihatannya, apalagi dengan darah hijau yang menetes-netes di sepanjang telapak tangan hingga ketiaknya. Itu pasti perih.

Lagipula, Leo juga berada dalam bahaya. Ceritanya soal saudara-saudaranya yang telah dimakan nampaknya sungguhan. Leo adalah orang terakhir yang diperalat untuk memancing Jiyong dan Chaerin, setelah itu? Sudah pasti tamatlah riwayat Leo. Ia juga pasti akan ditelan bulat-bulat bagaikan daging ham mentah.

Hanya dengan membayangkannya saja, Jiyong sudah cukup geram. Tanpa pikir panjang, diserangnya sang Raja dengan mata pedang S-class-nya yang tajam. Kilau peraknya berhasil mengusir hawa panas di sekitar tubuh Leo, membuatnya tiba-tiba jatuh lemas dengan mata terpejam. Tak ada waktu untuk menyingkirkan tubuh Leo dari medan perang—apalagi Jiyong sudah tanggung melancarkan serangan penuh. Dengan sedikit improvisasi kecil, ia berhasil menendang kepala Leo hingga tubuhnya menabrak dinding dan mengucurkan darah hijau dari dahinya.

“Ups,” ucap Jiyong—tapi dia tidak benar-benar menyesal. “Kuanggap itu setimpal dengan upayamu membunuhku pakai meriam barusan.”

Jiyong bagaikan sebuah pegas yang dilemparkan penuh energi ke udara. Ia melesat, hampir seperti melayang—memenuhi ekspektasi sang ayah yang menyebutnya setengah malaikat. Kilatan pedangnya tak seindah ketika diayunkan di bawah mentari, tapi senjata itu sudah cukup untuk membuat luka melintang di pipi sang ayah. Raja Iblis tertawa kencang. Dihadiahi sabetan pedang dari anaknya yang sudah lama tak pernah ia temui, tentu bukan memori keluarga yang bagus. Kendati demikian, ia tetaplah puas dibuatnya.

“Itu yang kubutuhkan, Nak. Dendammu, keinginan kuatmu untuk membunuh. Aku bisa membayangkan darah mendidihmu mengalir pada tubuhku. Sungguh luar biasa!”

“Aku tak tertarik membicarakan bisnis denganmu, Orang Tua,” Jiyong menyabetkan pedangnya kembali. Kali ini targetnya adalah kepala sang ayah. Tak semudah yang pertama, serangan keduanya berhasil dihindari dengan gerakan mega cepat. Raja Iblis menghilang secepat ia muncul di tempat yang lain, tepat di titik buta Jiyong.

“Bagian sini terbuka lebar, Nak,” Raja Iblis mengangkat lengannya tinggi-tinggi, hampir menyentuh langit-langit Kingdom yang luar biasa tinggi. Dengan sekali ayunan, dijatuhkannya Jiyong dari ketinggian hingga suara bak ledakan bom mengiringi momen remuknya tulang-tulang punggung Jiyong. Raja Iblis tertawa senang, ia mundur selangkah, melihat anaknya terbenam payah di antara jari-jemarinya. “Nikmatilah masa-masa ini, Nak. Setelah kekuatanmu habis dan kau berubah menjadi malaikat seperti ibumu, kau akan melupakan segalanya dan menjadi santapanku. Sampai saat itu, kau harus kudorong hingga titik terlemahmu.”

Masih belum terlalu pulih dari serangan barusan, Jiyong sudah ditimpa serangan beruntun kedua. Ia dilontarkan ke udara, diputar-putar bagai gasing, kemudian dibenamkan ke tanah melalui jari-jari kaki sang ayah. Sementara ia menjerit kesakitan, sang ayah nampak bersenang-senang dengannya. Ia berulang kali melafalkan kalimat yang sama, seolah Jiyong perlu diingatkan.

Selagi berusaha keras untuk menahan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuh­nya, ia terheran-heran dengan darah hijau yang tak hentinya merembes melalui pori-pori kulit. Darah itu keluar dengan sendirinya, bahkan ketika tak ada luka yang cukup besar. Di samping itu, serangan bertubi-tubi padanya tak berpengaruh sama sekali terhadap keutuhan daging dan kulitnya. Tak ada bagian yang terkoyak, hanya beberapa tulang-tulang yang patah, itu pun tak banyak menimbulkan lelehan darah. Cairan hijau kental yang merembes keluar dari permukaan kulitnya dirasanya serupa seperti ketika ia melihat sang ibu berpendar dan berubah menjadi sosok yang lain; malaikat.

Sial.

Jiyong tak ingin dirinya berubah menjadi sosok bersayap dengan hanya cawat yang menutupi bagian pentingnya. Ia pasti akan dipermalukan ketika Leo bangun nanti. Meski demikian, niat saja nyatanya tak cukup untuk melawan sang Raja Iblis. Kekuatan hitamnya sudah mengubahnya menjadi sesuatu yang lain, haus darah, haus kekuasaan—menonjolkan sifat yang benar-benar keiblis-iblisan.

“Si—sial,” gumamnya. Jiyong berusaha berdiri meski tubuhnya menjerit. Pedang warisan Kwon Shi Woon, patah di tengah, membagi mata pedang menjadi dua bagian sama besar tanpa pegangan. Di sisi lain, Leo masih tak sadarkan diri dengan mulut menganga. Benar-benar tak bisa diharapkan sebagai bala bantuan. Di tengah krisis hidup dan matinya Jiyong berharap ia membawa sebuah ponsel yang bisa mengabadikan betapa jeleknya Leo dalam posisi demikian—ia masih terganggu saat Yuri tak berhenti membicarakannya.

Lupakan soal ponsel.

Jiyong bahkan tak memiliki waktu untuk melakukan satu tarikan napas terakhir. Raja Iblis sudah mengangkat salah satu kakinya tinggi-tinggi, bersiap untuk meremukkan sisa tulang-belulang yang masih bertahan membentuk tubuh proporsional Jiyong. Pemuda itu ingin menghindar tapi malang sekali, seluruh anggota geraknya sudah remuk tak berbentuk. Kakinya bagaikan agar-agar, hanya tersisa daging-daging yang bergelayut, sepakat menguras darah hijau pada tubuhnya. Jiyong menahan rasa sakitnya tapi lama kelamaan, rasa sakit tersebut sudah tak dirasakannya lagi. Lelehan cairan hijau yang merembes keluar dari tubuhnya, melesap ke tanah seolah membawa seluruh rasa sakitnya. Senada dengan hal tersebut, kepalanya berdenyut, ingatannya ditarik-tarik dan berubah menjadi gelembung yang bertabrakan satu sama lain. Grafis itu terpeta jelas di matanya, tapi kemudian berubah menjadi lautan hitam tak berujung.

Jiyong sudah terlampau yakin, kalau ia tak sadarkan diri sekarang dan saat ini, maka habis sudahlah riwayatnya. Mati dikunyah mungkin sudah merupakan bagian dari takdirnya.

.

.

BOOM!

Ledakan besarku berhasil membuat sang Raja Iblis terpental. Usahanya untuk menginjak Jiyong telah gagal sepenuhnya. Kabar buruknya? Jiyong juga ikut terpental. Tubuhnya yang bergelayut tanpa tulang melayang tinggi sampai akhirnya mendarat tak jauh di sisi Leo. Tak ada bunyi terantuk yang khas akibat tulang yang berbenturan dengan bebatuan, sebagai kompensasinya, daging perut Jiyong terkoyak lebar, menampakkan organ dalamnya yang dibungkus selaput lendir hijau.

Aku hampir muntah ketika mendekat untuk menolongnya.

“Jiyong, kau…”

“Jangan bilang apa-apa. Aku tidak akan mati, hanya sedikit bertransformasi. Bantu Chaerin selamatkan dulu ibu di sana, dia akan tewas kalau pendarnya meredup. Sisanya akan kuceritakan nanti.”

“Kauyakin? Karena… tulang…”

“Jangan bahas itu, kau membuatku mual.”

“Harusnya aku yang bilang itu, idiot!” aku menggetok kepalanya—sudah menjadi kebiasaanku—seraya mengalihkan pandanganku pada Leo. Ia tak sadarkan diri, tapi lukanya tak separah yang diderita Jiyong.

“Dia tak sengaja terlempar ketika aku beraksi, tapi kelihatannya dia baik-baik saja. Paling-paling amnesia sedikit,” komentar Jiyong.

“Jiyong?!”

“Oke, oke, pergilah. Jangan khawatirkan aku.”

Aku menundukkan kepala, memastikan kalau meninggalkan Jiyong dengan kondisi boneless—tanpa tulang adalah keputusan benar. Aku tak tahu apa yang terjadi di sini karena segalanya terlihat kacau; ada ibuku yang kelihatannya berubah menjadi semacam cupid bongsor; ada raksasa berjubah menjijikan setinggi tiga meter yang rajin sekali main ‘injak-injak bumi’ bersama Chaerin; ada anak iblis tampan yang sedang tidur dengan mulut menganga dan luka lebar di dahi; terakhir, ada pacarku yang baru saja kehilangan tulang-tulangnya dan entah bagaimana masih hidup dengan baik.

Tidak ada satu pun yang kumengerti, apalagi aku masih belum bisa memecahkan aura panas yang sejak tadi mengikutiku. Ini adalah kali pertama aku bertarung di sarangnya iblis, dan seluruh kawan yang seharusnya bisa kuandalkan, kini berbalik mengandalkanku. Jangan pikirkan soal bala bantuan, pedang pun kini aku tak punya. Satu-satunya senjata yang bisa kugunakan adalah otak. Selalu ada hukum sebab-akibat untuk segala situasi, dan kuharap itu berlaku untuk latihan melonggarkan rantai seperti yang diajarkan Victoria belum lama ini.

Aku akan mencoba teknik yang sama untuk menarik ibu dari penderitaan.

.

.

Tak perlu lama bagiku untuk menarik kaki ibu sementara Raib—aka Raja Iblis, aku suka nama itu—sedang sibuk oleh serangan kekanak-kanakkan Chaerin. Aku melihat gelembung hijau menembus wajah sang Raib dan membuatnya mengerang kepanasan. Rupanya itu gas beracun, pintar juga Chaerin.

“Ji—Jiyong… se—selamat—kan Jiyong…”

“Aku akan melakukan itu, tapi aku harus membawamu ke tempat yang aman terlebih dahulu, Bu,” aku berusaha keras tak terdistraksi meski kudengar Jiyong berteriak histeris dari tempatnya berbaring. Aku harus menuntaskan misiku menyelamatkan ibu sesuai janjiku pada Jiyong. Chaerin juga tentu menginginkan keselamatan sang ibu lebih dari siapa pun. Aku akan merasa sangat gagal jika ibu ternyata tak baik-baik saja. Aku menggendong tubuhnya di punggungku. Yah, aku tak pernah menggendong ibu sebelumnya, jadi aku tak tahu apakah normalnya ia seberat ini, ataukah sayap besar dengan pendar meredup yang membuatnya demikian.

Sungguh deh, aku punya banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab. Kalau aku tewas dalam misi, aku pasti akan jadi roh penasaran. Tidak bagus.

“A—aku sudah tak apa-apa, Yuri. Terima kasih. Kau harus membantu Jiyong segera. Di—dia, Leo dan Chaerin berada dalam bahaya mutlak.”

“Ibu, kau tak boleh banyak bicara dulu,” aku membaringkan ibuku di sebuah tempat yang cukup jauh dari medan pertempuran—tempat di mana aku merasakan hawa panas untuk pertama kalinya. Sebelumnya, aku sangat yakin hawa panas yang kurasakan berasal dari aura jahat nan mencekam yang menungguku di dalam aula besar, namun seiring dengan berjalannya waktu, aku semakin familier dengan kondisi tersebut. Aura panasnya memang terasa sangat emosional, labil, penuh dengan kemarahan dan berbahaya, tapi ketika aku membawa ibu denganku, aura itu berubah menjadi lebih hangat, bersahaja, dan… well, nampak menyenangkan. Tak ada tempat yang aman di Kingdom, tapi aku merasa labirin gelap tersebut merupakan tempat yang tepat untuk memulihkan tenaga ibu.

“Kekuatan hitam di Kingdom telah memengaruhi keseimbangan jiwa Raja Iblis. Ia berusaha memenuhi ambisi lamanya untuk menguasai dunia dengan memangsa seluruh keturunannya, juga menggunakan darah setengah malaikat yang dimiliki Jiyong dan Chaerin untuk menghancurkan Mansion. Raja Iblis akan melepaskan kemurkaannya segera. Kau tak boleh membiarkan ini terjadi, Yuri. Jangan biarkan Jiyong dan Chaerin kehilangan darah iblisnya. Ketika mereka menjadi sepertiku,” Ibu memandangku, menggerak-gerakkan sayap besar di punggungnya. “Seluruh memorinya selama di permukaan akan hilang. Ia tak lebih dari onggokkan daging tanpa energi yang bisa disantap kapan pun.”

Aku menggeram. Sedikit cemas dan ketakutan. Sayangnya, tak lama karena aku tak ingin dibebani perasaan demikian saat melakukan tugas penting. Sekarang, semuanya terserah padaku. Tak ada bala bantuan, tak akan ada yang tiba-tiba datang dan menolong. Aku sedang tidak main dalam sebuah film laga, juga tak pernah menandatangani kontrak dengan rumah produksi roman, tapi sekarang saat yang tepat untuk menunjukkan sejauh apa latihanku berbekas. Pula, sedalam apa perasaanku pada keluarga ini. Meskipun aku masih tidak paham apa yang terjadi—kenapa iblis bisa memiliki sayap bak malaikat—aku tetap akan melakukan apa yang menurutku terbaik.

Hidupku dipertaruhkan di garis depan.

“Aku akan menyelamatkan semuanya.”

Janjiku sudah terpatri. Aku tidak bisa mundur lagi.

.

.

Aku benar-benar seorang penyelamat. Datang di saat yang tepat ketika Chaerin hampir diremukkan dengan kaki sang Raib, tentulah sebuah opening laga yang keren—Ah, andai seseorang di Hollywood melihat ini. Aku tak punya pedang setajam pedang Jiyong—yang kini sudah hancur, dasar pacar bodoh—tapi aku punya peralatan sederhana yang bisa membuat sang Raib menertawaiku. Gun-Kit? Kita butuh acara tembak-menembak, tapi pelurunya terlalu kecil untuk menembus kulit sang Raja. Gate-Kit? D-Kit? Aku sudah berada di sarang iblis, benda seperti itu tidak ada gunanya.

Well, tapi aku masih punya kepercayaan diri yang lumayan tinggi dan kemampuan otak yang kupikir bisa diadu.

“Halo, ayah mertua,” sapaku. Chaerin berusaha bangkit ketika ia baru saja kuselamatkan. Aku menendang wajahnya agar ia tak turut campur—aku berjanji akan meminta maaf setelah kami semua selamat. “Ini pertama kalinya kita berjumpa. Kau…” aku menilai penampilan eksentriknya, kemudian tersenyum mengejek. “Sangat fashionable dengan bros cicakmu itu, eh, apa itu kadal?”

“Roarrrr!”

Aku melompat-lompat bagai seekor katak. Raja Iblis sepertinya gembira, pasalnya ia beberapa kali bertepuk tangan seolah tengah bersenang-senang menangkap seekor lalat membandel. Aku tak punya senjata, juga masih belum menemukan titik cerah untuk menyusun strategi brilian. Sejauh ini yang kulakukan cuma melompat-lompat, benar-benar memalukan.

Kalau kau mau penjelasan soal apa yang terjadi di pojok sana, adalah Jiyong yang menjerit serta Chaerin yang terseok-seok berusaha menghampirinya. Ibuku entah bagaimana benar. Darah hijau sudah berhenti menetes dari tubuh Jiyong, akan tetapi senada dengan tulangnya yang kemudian tumbuh membentuk tubuhnya kembali, ada sepasang sayap kecil yang perlahan-lahan memendarkan cahaya. Ia mengerang kesakitan karena sayap tersebut tak berhenti tumbuh. Di sisi lain, aku masih melompat-lompat dengan bodohnya meski ibu sudah memperingatkanku agar tak membiarkan Jiyong berubah menjadi makhluk bersayap.

Aku juga tak menginginkan kondisi terjepit seperti ini.

Aku tak ingin melihatnya berubah menjadi cupid bongsor. Aku tak ingin punya pacar yang suka terbang setengah telanjang.

“Kau benar-benar tak menyukai calon menantumu ya, Ayah Mertua?” sahutku lagi dengan sengaja memancing amarahnya. “Aku pintar macam-macam. Aku bisa memasak, merawat taman, mengurus anak, mencuci pakaian, mencuci piring, dan,” aku merasakan sebuah kehangatan di tengkukku.

Budak adalah raja yang kehilangan mahkotanya.

Sebuah bisikan. Tak jelas apa maksudnya.

Aku menggelengkan kepalaku barangkali tadi hanya khayalanku saja. Tapi kemudian, seiring dengan rasa hangat menjalari tengkukku kembali, bisikan itu berdenging di kepalaku berulang-ulang. Aku tak berhalusinasi, aku yakin mendengarnya dengan jelas.

Kupandangi mahkota kulit ular menjijikkan di atas kepala Raja Iblis. Jadi bisikan itu pada dasarnya menginginkanku melakukan sesuatu pada benda di puncak kepala sang Raja. Aku punya banyak pilihan mengasyikkan; dibakar, diinjak sampai hancur, atau dijadikan oleh-oleh dari Kingdom. Yang mana pun tak masalah, tapi aku akan memulainya dengan sedikit permainan harga diri.

“Membersihkan rumah. Keahlianku yang sebenarnya adalah membersihkan rumah dari makhluk-makhluk bodoh sepertimu, Ayah Mertua.”

Yeah,

Aku suka provokasi.

.

.

to be continued in FINALE chapter.


 

Maaf karena chapter 4-nya agak terlambat ya. Ini belum selesai lho, masih ada satu lagi chapter penentuan. CHAPTER FINALE. Tungguin dan kunjungi terus Blackpearl Fairy Tail yha untuk kelanjutannya. Terima kasih.

nyun

18 thoughts on “GHOST SLAYER RE:DO [4 of 4]

  1. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    kata kata terakhir yuri di chapter ini keren, haha… jadi pengen ketawa ngebayangin muka ayah jiyong.. dikira ini bakal end, gatau nya masih ada final chapter, adegan pertarungannya berasa banget deh, super duper keren ala kak nyun banget lah!! pokoknya the best!! selalu ditunggu ya kak next chapternya ^^

  2. mia berkata:

    Ahhhh kak nyun. Gini banget deh kisah kepahlawanan mereka. Dapat misi tipuan dan tibatiba aja jiyoung adalah setengah malaikat yang masih belum bisa kupercaya (oke, berharap lebih banyak penjelasan tentang ini di chap finale).

    Yahh, perasaan baru tadi pagi baca kisah gadis sapporo dengan topengnya plus dialog minim yang ngangenin. Sekarang adalah yuri si pahlawan yang brkunjung ke kingdom dan melakukan versus sama ayah mertua, aku suka sekali dialognya, semuanya bikin aku ketawa. Apalagi jiyoung like goblok bgt dia dengan teori lupakan ponselnya. Ahhh suka. (Bayanganku tentang kindom dan labirinnya adalah labirin yang sama kaya labirinnya daedalus.he. maaf ka failed imagine memang)

    Agak kesal deh kak waktu omongan keren yuri diakhir dipotong sama ‘to be continue’ he. Agak ga rela. Padahal disitu puncaknya. Dan apakah sosok si raib ini gabisa digambarkan lebih nyebelin lagi? Yah. Kalau memang kakak nyiptain raib untuk dikeselkeselin dan dihina kaka berhasil. Aku sebel bgt sama dia soalnya.

    Dari semuanya…… Chapter ini rasanya yang paling cepat terlewati like ‘lhooo udh tbc aja’ artinya noboring sepanjang cerita. aku suka. Semangat kak.lovyahh buat hiburan no berhenti dari kaknyun;;)

  3. lalayuri berkata:

    Hai kak nyun, makasih pw ToZ nya. Wah ff ini akhirnya di lanjut juga, jadi jiyong itu setengah malaikat, wah daebak !!! Yuri pov nya lucu deh kak, ada chapter final, ditunggu kak chapter finalnya, jgn lama lama. Oia kak aku minta pw youniverse part 8, kirim ke stevanihelena33@gmail.com makasih

  4. aloneyworld berkata:

    Aku suka banget gaya bahasa kaknyun kalo udah kaya gini😀 yaampun dari awal baca teaser(?)Nya aja udah ketawa, terus narasinya bener-bener bikin ngakak😄 hahahaha rasanya kayak pengen baca ulang terus-terusan tau kak, ini terlalu keren buat dilewatin😀 aih tak kirain udah selesai pas liat chapternya 4 of 4, ternyata masih ada babak penentuannya yak😀 sumpah aku gabisa bayangin si raib itu bentuknya kaya gimana, tinggi 3 meter pake jubah penuh hiasan reptil? Tapi punya anak ganteng macem si leo sama jiyong? Omaigat x_x eh btw hani itu setengah malaikat? Dia malaikat yang dikutuk jadi iblis?? Yaampun O.O Oh ayolah yuri semangat jangan biarin jiyong jadi malaikat setengah telanjang gitu😄 hahaha aku ngakak juga pas jiyong bilang ngga mau jadi malaikat yang cuma pake cawat buat nutupin bagian pentingnya hahahaha, dan dia berharap ada ponsel cuma biar bisa foto muka jelek leo terus nunjukin ke yuri? Oh ayolah itu konyol jiyong😄 eh kira-kira yang bisikin yuri itu siapa yak? Kwon shi woo kah? Jadi cara ngalahinnya cuma harus lepasin mahkota si raib ya? Okehlah yuri fighting!! *bawapompom*😄 udah ah kak komennya, intinya sih cuma mau bilang INI KEREN BANGET SUMPAH😀

  5. Lulu KEG berkata:

    Yaaayy Ghost Slayer akhirnya..makasih Kak Nyuuun❤
    Wess Yuri benar benar seorang penyelamat(?) haha.. kebayang banget muka songong nya Yuri hahaha Keren, Kocak tapi Tegang juga huhu
    kakak aku gak bisa bayangin Jiyong itu bentukan nya kayak apa sekarang? geli deh haha tuh kan aku dari awal udah curiga sama Leo tp orang ganteng bebas sih tidur sambil mangap juga *lho xD itu yg bisikin Yuri siapa ayah nya kah atau Zico? entahlah
    Sukaaaa kak Nyun baca ff kak Nyun mah gak pernah ngebosenin makin panjang makin greget mkin penasaran bkin kcanduan jadi pengen baca terus dah.. *plak ga sabar chapter finale nya
    ya pokoknya aku sellu setia nunggu semuaaa kelanjutan ff Kak Nyun hehe Smangat Kak Nyun!!
    makasih^^

  6. Phannia berkata:

    Udah baca berulang ulang, tapi blom sempet komen *mian eon..😦
    aku suka banget sama karakter mreka disini…
    aduh kasian sama hani..😥
    ayo yul sama chaerin cpet slametin jiyoung oppa..

  7. Phannia berkata:

    Udah baca berulang ulang, tapi blom sempet komen *mian eon..😦
    aku suka banget sama karakter mreka disini…
    aduh kasian sama hani..😥
    ayo yul cpet slametin jiyoung oppa..
    ngomong2 aku gak bisa bayangin stylenya raja iblis, intinya itu bukan salah satu style yg pengen aku tiru *serius😄

  8. Cynthia berkata:

    kunjungan menantu.. hehehehehehe..
    wahh GD oppa bs kembali jd manusia lagi gak setelah jd malaikat??
    yg berbisik ke yuleon itu papa kandungnya ya? ato zico??
    penasaran kak nyun..
    ditunggu final chapternya😀

  9. Stella Kim berkata:

    YOI yuriiii! leh uga u
    aku pikir udah selesai di part ini omg kak!
    Jujur sebenrnya aku gatau part ini lebih ke arah thriller, action, atau comedy…… why comedy why karena ada beberapa kata” yang lucu wkwkkwkw. bayangin aja jiyong jadi bongsor lalu stengah telanjang HEHEHEHEHE.
    Itu yang bicik bicik papanya yuri yaaaaa

    ditunggu next partnya kak!

  10. imaniarsevy berkata:

    aduh… gaya bahasa kak nyun nih emang keren banget deh…
    bekajar ah…
    kak nyun, berasa dapwt angin surga denger kalo kak nyun update ff keren keren….
    next kak nyun, di tunggu final chapternya.

    buatin yang romance ya….
    kekekeke….

  11. Luluu berkata:

    Kaknyun kaknyun kaknyun! Di tengah break uts aku penasaran siapa tau ada new chap nya youniverse, eh malah ada ini! Heheheh tbtb aku inget leo dan jadi penasaran kelanjutannya, aku baca deh. Keren banget kaknyun! Aku penasaran sbenerny tadi si leo diapain sampe jadi kaya boneka? Hipnotiskah? Tapi kayaknya raib bukan tukang hipnotis ya hahaha #gajelas
    Aku suka deh gimana yuri memprovokasi raib dan aku penasaran juga suara2 itu datang dari mana sebenarnya hahaha
    Ditunggu kelanjutannya kaknyun! Keep writing!

  12. Ckh.Kyr berkata:

    Kirain ini chapter terakhir.
    Plis deh Jiyong, di saat terdesak masih aja mikirin ponsel,-
    Ngebayangin Jiyong jadi cupid, ucul kali ya :’v
    Beuh Yuri suka provokasi, jangan-jangan suka liat orang fanwar juga nih #apahubungannyawoi klo gitu kita sama #plakplak

  13. stffnat berkata:

    Ditunggu thorrr!!!
    Penasaran bgt dan alurnya gak ketebak. Pernah ada fikiran sih kalo si Leo di suruh raja iblis tapi karena Leo bantu Jiyoung makanya bisa kepikiran mmg bener2 mau selesain misinya.
    Yurinya juga keren.
    last words keep writting thor

  14. zcheery berkata:

    “Di akhir kalimatnya sang Raja membelas pipi kurus Hani”
    Ini typo (membelai) apa aku yg kurang mengerti bahasa/? Haha
    Btw akhirnyaaassss setelah Berhari minggu bulan daku merana menunggu ff” favorit nya datang hmmmmm lejat :v jadi ini another gantungan cerita dari kanyun yha.. Ancen gaopo kok Kak lagian it’s kinda worth it since your story are beyond imagination wakakakakakak😂👌🏼

    Aand ini beberapa kata kata yang aku suka :
    “Kusebut itu meriam Leo,” ujar Leo bangga. (Absolutely TIM LEO!)

    Janjiku sudah terpatri. Aku tidak bisa mundur lagi. (Puisi yg indah yha😂)

    Dan masih banyak lagi yg aku suka tapi malas scroll scroll lagi ini pake aipad jadi kalo copas mah susah hohohoho..
    Yha Aku kira juga ini chap terakhir bakalan End disini.. Cuman gamungkin karena lagi klimaks” nya wahahahaaaa.. Okie dokie hihi jeongmal gomawo unnie❤️❤️❤️ God Bless~~~~

  15. Ardelia wynne berkata:

    Kak nyun ending na bkin greget
    Aku penasaran bgt ending na bakal kayak gmn
    Kesel bgt sama raja iblis na iiih greget deh -.-
    Fighting kak nyun nulis na , keep writing hehe🙂

  16. tha_elfsone berkata:

    maaf nyun aku baru bisa baca ffnya…waah g sabar niih sama kelanjutannya nyun,,semoga semuanya baik2 saja,,amiin…
    hmm siapa yg bisikin itu k yuri yaah,,jadi penasaran..heheh
    ditunggu next partnya yaa nyun

  17. nalyyullie berkata:

    Kingdom’s king surely so scary…
    So hani actually angel…
    Poor cl jiyong n leo, their father too obsess with power .!!
    Yul so funny when she provoke that king.!..!
    Hope yul can save all of them..?..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s