YOUNIVERSE [9 of ?]

Youniverse4a story by bapkyr

YOUNIVERSE

| 9 of ? |

“Forcing yourself to forget someone is the hardest thing life ever did.”


Sapporo, 19 Desember 2015.

“Ya, oke, jaga dirimu, Bu. Aku berangkat dulu.”

Yuri meraih tasnya di atas kursi, kemudian melangkah cepat ke arah pintu. Layar ponselnya telah redup, menandakan konversasi singkat penuh dustanya telah usai. Gadis itu menghela napasnya beberapa kali, mencoba menenangkan pikirannya yang telah kusut bagai pita kaset rusak. Ia meninggalkan rumah mungilnya dengan langkah gontai. Sebagian dari dirinya ingin merangkak kembali ke futon*, menikmati hari dingin dengan bermalas-malasan di bawah selimut. Sebagian yang lain menginginkan dirinya tetap berpegang teguh pada harga dirinya. Ia tidak ingin disangka lemah setelah mendapatkan dua kali penolakan serius pada dua kali momen pernyataan cintanya.

Terlebih dua-duanya disebabkan oleh pemuda yang sama.

“Maaf, Yuri.”

Yuri berhenti melangkah. Dipandanginya butiran salju yang mendadak turun pagi ini, menghujani kepalanya yang baru saja di-shampoo. Meski tak lebat, salju tersebut cukup untuk membuat Yuri mendongak ke atas, menjulurkan lidahnya sembari menunggu diberi makan salju oleh langit. Sudah menjadi kebiasaannya berlaku seperti ini sejak kecil, terutama ketika hatinya tidak tenang.

Salju tidak mengobati apa pun selain memberikan kedinginan, tapi justru rasa dingin berlebihan itulah yang ia cari. Rasa dingin akan membekukan inderanya, mengacaukan pikirannya, membuatnya terlelap dan melupakan segalanya. Dinginnya Sapporo selalu punya cara untuk menyembunyikan kepedihan di baliknya, selaras dengan sang gadis yang kini tengah berusaha mengenyahkan pikiran buruknya.

Kata-kata maaf dari Luhan tepat ketika ia berlari meninggalkan kelas kemarin, tak begitu dijelaskan oleh sang pemuda. Kendati demikian, Yuri tak perlu banyak penjelasan. Di matanya, sama seperti bagaimana Luhan memintanya untuk menunggu beberapa tahun silam, kata maaf dari sang pemuda tak mesti berarti sesuatu. Yuri sudah paham bahwa ia sudah kalah sebelum berperang. Ia kalah dari seorang Sayaka yang bahkan tak memberikan apa pun pada Luhan selain kebencian dan penderitaan.

Ia telah kalah oleh orang yang sepayah itu.

Memalukan.

Yuri sudah menangisi itu semalaman, tapi ketika ia menyusun kembali kenyataan yang menghantuinya, dirinya tak kuasa ditelan kembali oleh kegelapan. Dinginnya salju pada akhirnya tidak serta-merta menumpulkan inderanya atau mengebaskan emosinya. Ada tekanan di dalam sana yang menginginkan Yuri untuk menangis sekali lagi; memberi sentuhan sedih khas Desember di bawah langit Sapporo yang kejam.

Yang paling menyedihkan?

Yuri tidak berusaha mencegahnya.

.

.

Luhan sedang mengganti sepatunya dengan sepatu indoor* sekolah ketika Yuri melintas cepat di sisinya. Pemuda itu menolak menyebutnya memata-matai, tapi ekor matanya sudah mengikuti sosok gadis itu semenjak ia menampakkan diri. Yuri tengah menarik sepatu indoor-nya dari loker sepatu, bergegas menggantinya tanpa sedikit pun melirik ke sekelilingnya. Rambutnya turun saat ia membungkukkan badan, menghalangi Luhan untuk memastikan apakah Yuri baik-baik saja.

Yuri membalikkan badan. Saat itulah Luhan tahu bahwa sang gadis tak baik-baik saja. Meski sebentar, manik keduanya sempat bersirobok beberapa saat, mengartikan ekspresi wajah masing-masing dalam sunyi. Kantung tebal di bawah mata sang gadis memberikan macam-macam persepsi pada pikiran Luhan. Sayangnya segala pemikiran itu segera menjadi bahan negatif untuk dirinya sendiri. Dari gigi-giginya yang bergemeretak, ia sadar bahwa dingin bukanlah satu-satunya penyebab ia mengatupkan bibirnya. Kehadiran gadis itulah yang membuatnya demikian.

Meski ia menyesal tak memberikan jawaban yang menyenangkan, Luhan tak dapat menolong keadaan. Jujur saja, saat mendengar hal tersebut lagi dari bibir Yuri, pikirannya diserang kekacauan. Beberapa hal berkecamuk di kepalanya, bercampur kemudian terpisah menjadi serpihan-serpihan yang hanya bisa dirasakan olehnya. Sayaka tergambar jelas di sebuah kepingan terbesar yang tersisa, membayangi kepingan kecil lainnya yang berisi macam-macam hal dari memori buruk Luhan. Pemuda itu mencari-cari sosok gadis berpita merah muda dalam kepingan-kepingan yang lebih kecil lainnya, namun yang ia temukan cuma soal sakura bermekaran di Aoyama.

Untuk itulah ia mengucapkan sebuah maaf—meski sang gadis jelas-jelas tak mengerti. Maaf karena dirinya sendiri tak begitu mengerti cara kerja otaknya. Luhan pikir ia sudah mengambil keputusan yang tepat, tapi semalaman ia gelisah. Dipandanginya keychain yang selalu ia bawa-bawa, bertanya-tanya kenapa benda itu masih ada padanya ketika memori tentang si gadis yang memberinya tak pernah direkamnya dengan baik.

Semalaman ia dibuat tak nyaman dengan keputusannya sendiri, hingga saat Luhan sadar, hari sudah pagi dan ia sudah harus bersekolah.

“Pagi, Takegaya-kun.”

Berinisiatif, Yuri menyapa. Basa-basi. Hanya sebagai tameng dari rasa kasihan pemuda di depannya.

“Pagi, Horikita.”

Senyap kembali. Selain derapan sibuk dari beberapa murid di sekitarnya, Yuri tidak mendengar apa pun lagi. Lagipula, sudah cukuplah basa-basinya. Ia harus masuk ke kelas dan bersikap normal pada orang-orang di sekitarnya. Yuri tidak ingin Luhan melihatnya terpuruk. Itu melukai harga dirinya.

“Yuri-chan, ohayo!

Hani muncul entah dari mana. Berlari dengan senyuman cerah, ia menghampiri Yuri dan merangkulnya. Dipandanginya Luhan kemudian. “Selamat pagi, Take-kun.”

Luhan tak memiliki masalah dengan kehadiran Hani, tapi dari yang sudah-sudah, gadis itu selalu menemukan cara untuk membuat ia dan Yuri bicara. Luhan senang, tapi saatnya tidak tepat. Ia sangat tahu Yuri adalah tipe gadis yang menolak untuk dikasihani. Ia tahu bahwa jika bicara dengan Yuri sekarang, ia sama saja dengan memaksanya untuk berdusta; berpolah seperti tidak ada hati yang luka.

Ingin meringkas pertemuan ini dengan cepat, Luhan tersenyum sebentar untuk membalas Hani, dan membuka lokernya kembali sebagai alasan. Sepatu outdoor-nya sudah ia rapikan di dalam, lengkap dengan kaus kaki cadangan kalau-kalau kaus kaki yang ia pakai tadi pagi basah karena hujan salju lebat. Luhan berpura-pura sibuk. Tangannya bergerak membenahi apa pun yang bisa ia raih.

“Yuri-chan, soal tawaranku kemarin… apa kau berubah pikiran?”

Luhan bisa saja pergi, tapi ia tak melangkah. Malahan ia kini berpura-pura berdiri sembari menguping dengan bodohnya.

“Kemarin? Soal apa?” tanya Yuri.

“Pesta Natal. Banyak toko-toko yang buka hingga tengah malam di Taman Odori, juga pohon natal raksasa gaya Munich. Aku akan mengajak Natsu ke sana, jadi apa kau ada waktu untuk menemani kami berjalan-jalan?”

Lupakan soal Luhan yang menguping. Fokus saja pada wajah tanpa ekspresi dari Yuri. Hani seharusnya tahu, berapa pun ia memintanya, jawaban si Gadis Es akan selalu sama.

“Maaf, aku tidak bisa.”

“Kau punya rencana lain, Yuri-chan?”

“Tidak juga.”

“Yuri-chan benar-benar menganggap natal itu membosankan ya?” tanya Hani, kali ini dengan volume suara yang lebih kecil.

Yuri mengedikkan bahu. Tangannya terulur di atas pundak Hani, berusaha membesarkan hati sang gadis dengan menepuk-nepuknya. “Maaf mengecewakanmu, Hani-chan. Sebetulnya, aku suka natal. Hanya saja, aku tidak terlalu suka kalau harus merayakannya di tengah-tengah keramaian.”

“Begitukah?”

Mata berkaca-kaca Hani dibalas sebuah senyum singkat oleh Yuri sebelum keduanya melangkah pergi. Luhan sudah berjanji tak akan berusaha menyakiti Yuri lebih dari pada sebelumnya, tapi ia tanpa sadar telah menjejali pikirannya dengan senyum tipis Yuri, atau bagaimana Yuri berusaha terlihat baik di depan orang-orang terdekatnya. Entah di bagian mana, ia yakin pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Luhan berjalan gontai, mencoba mengingat-ingat memori samar beberapa tahun lalu. Luhan beberapa kali mengabaikan ucapan selamat pagi dari para gadis yang berlangganan menyapanya. Disibukkan dengan pikirannya sendiri, pemuda itu masih berjalan lurus, menyerahkan trek hanya kepada ingatan motorik tungkainya.

Saat ia akhirnya berada di ambang pintu kelas, digesernya pintu biru yang menghalangi. Seketika ia melihat lurus ke jendela yang berembun yang menyembunyikan dingin dari butiran salju. Terpatri samar bayangan wajahnya sendiri di sana tengah mengguratkan ekspresi terkejut.

Sekonyong memori besar menancap kuat ke ingatannya, bersamaan dengan kepingan-kepingan kecil yang mengekorinya. Senyuman yang ia cari membekas di kepingan paling besar, menampakkan sosok Luhan empat belas tahun yang hanya tahu bagaimana memisahkan diri dari orang dewasa dan lingkungannya; menampakkan senyuman palsu menyedihkan yang sering ia tunjukkan untuk meyakinkan orang lain bahwa hidupnya sempurna.

Di antara kepingan yang tersisa, wajah gadis berpita merah muda tertunduk malu-malu mengisi beberapa kepingan kecil yang berkoloni. Tangannya dibuka, memamerkan sebuah keychain perak yang agak hangat karena digenggamnya terlalu lama. Luhan tentu tak peduli saat itu, namun ketika dengan kikuk sang gadis berkata—

Aku menyukaimu.”

—ia tahu bahwa ada sebongkah gunung es besar yang meleleh di hatinya.

Entah Pangeran Es Tokyo atau si Gadis Es Sapporo, satu-satunya cara untuk melelehkan es yang ada di matanya adalah dengan kalimat sederhana; sebuah kejujuran dari aku mencintaimu—kejujuran yang entah mengapa tak mungkin bisa Luhan lakukan baik dulu atau sekarang.

.

.

“Aku akan membagikan hasil tes kemarin. Tolong ketua kelas maju.”

Yamada tidak mengumumkan catatan soal siapa yang akan disembelih untuk ditawarkan pada Dewa Salju, namun kurang-lebih begitulah nuansa yang ditangkap Yuri. Sejak membuka pintu pagi tadi, Yamada selalu saja berusaha melirik sebal ke arahnya. Nama sang gadis selalu disebutnya di setiap kesempatan yang ada, seakan-akan ia tengah melakukan supervisi singkat agar Yuri tak tiba-tiba loncat dari jendela atau semacamnya.

“Nilai-nilaimu sangat buruk. Kau mendapat banyak keluhan dari guru-guru, Horikita.”

Nada suaranya terkesan menyentak dan keras. Tapi tidak demikian yang ditangkap Yuri. Sejak pertama kali ia masuk ke Minami, Yamada-lah orang pertama yang membuatnya merasa begitu diperhatikan sebagai seorang murid. Tingkahnya memang menyebalkan, tak jarang Yuri kerap dipermalukannya di depan kelas, tapi bukan berarti hal-hal itu buruk. Yamada selalu mengawasi Yuri dari waktu ke waktu. Ia tak pernah memandangnya sekali pun sebagai gadis bodoh yang dingin. Jika guru-guru lain menyerah untuk menghadapi Yuri, maka berbeda bagi Yamada. Meski ia kerap diabaikan oleh sang gadis, pria itu tak menyerah. Usia tiga puluhan bukan halangan baginya untuk bersikap penuh energi layaknya pemuda bujang berusia dua puluhan. Ia sangat aktif, menyebalkan, tak tahu malu, sekaligus guru yang difavoritkan oleh Yuri—mengecualikan pelajaran yang diajarkannya.

Mendengar bagaimana kali ini Yamada mengeluhkan hal yang tak jauh berbeda dari hari-hari normal lainnya, Yuri cuma mengangguk pasrah. Cukup dua kali anggukkan kepala, ia menarik kertas yang dibagikan Ishida Kakeru—sang ketua kelas—dan duduk kembali di kursinya tanpa peduli pada angka sembilan per seratus berwarna merah di lembaran ujian kalkulusnya, atau sederet nilai merah lain di lembar-lembar selanjutnya.

“Kau benar-benar harus mengikuti kelas tambahan nanti, Horikita,” ujar Yamada sembari menuliskan sesuatu di daftar panjang rekapitulasi nilai-nilai murid asuhannya. Ia terlihat menandai beberapa nomor yang mengawali nama beberapa muridnya. Tak jarang ia mencoret bulatan tersebut kemudian menggantinya dengan membulati nomor-nomor sesudahnya.

Saat Kakeru menyelesaikan tugasnya, Yamada berdiri di belakang meja, mengumumkan hasil karyanya yang sedari tadi ia bulati.

“Aku akan mengumumkan nama-nama murid yang akan diikutsertakan pada kelas tambahan sebelum semester baru dimulai. Dimulai dengan Horikita Yuri,” Yamada bergerak ke samping, menunjukkan profil penuhnya di depan kelas. “Odawara Hani, Satsuku Aoda, Kimimaru Kou, Takegaya Luhan, dan Chizuru Rei. Kalian berenam akan mengikuti kelas tambahan setelah tahun baru, setiap dua jam sepulang sekolah.”

Sensei!

Selalu saja ada anak seperti ini di setiap kelas; yang mengangkat tangannya tanpa berpikir; yang dengan mudahnya mengekspresikan keberatan tanpa takut-takut.

“Ya, Satsuku?”

“Dua jam sepulang sekolah tidakkah terlalu berlebihan? Lagipula selepas tahun baru belum musim semi, Sensei. Pelajaran tambahan ‘kan harusnya musim semi nanti.”

“Pertanyaan bagus, Satsuku. Coba kau bisa sekritis ini saat menjawab pertanyaan ujian itu, kau pasti—“

Sensei,” Satsuku rupanya sangat paham kalau wali kelasnya bisa jadi super konyol di saat yang tak diinginkan. Ia menyela, membuat Yamada kembali memfokuskan dirinya.

“Ehem, itu keputusan pihak sekolah. Semua siswa dan siswi yang dianggap bermasalah dengan nilai-nilai ujian akan selalu diberikan kelas tambahan. Musim semi nanti akan semakin padat, jadi pihak sekolah berpikir untuk mulai menyicil pelajaran yang tertinggal dari sekarang. Dan omong-omong, kalian tidak sendirian. Kelas tambahan kali ini mengadopsi sistem efisiensi, jadi kalian akan disatukan dalam satu kelas dengan murid-murid setipe dari kelas lain. Atau setidaknya, begitulah yang kudengar.”

Di akhir pengumuman singkatnya, Yamada menggaruk kepalanya. Ia tak begitu mengerti kenapa dirinya yang terkenal tak bertanggung jawab malah diberi kewenangan berat dengan menjadi wali kelas. Merepotkan memang, tapi akhir-akhir ini Yamada mengerti. Kelas 2-5 bukan merupakan kelas berisi kumpulan murid-murid normal. Sebagian besar adalah siswa dan siswi bermasalah; murid-murid pintar yang tak pernah benar-benar serius untuk belajar. Kelas tambahan bukan merupakan program pihak sekolah, melainkan murni keputusan Yamada. Ia menginginkan para muridnya dapat bersungguh-sungguh belajar sebelum naik ke tingkat tiga. Pria satu itu ingin membuktikan bahwa dirinya mumpuni di bidang ini. Dan untuk mewujudkan mimpinya, ia memaksa kepala sekolah—yang juga adalah ayahnya—untuk memberikan kewenangan mengelola kelas tambahan setelah tahun baru—Januari nanti.

Ia memrakarsai pertemuan dengan wali kelas lain, kemudian membiarkan mereka mengirim murid paling merepotkan dalam kelasnya masing-masing untuk diberikan kelas tambahan. Kelas gabungan seperti ini biasanya hanya terjadi di pelajaran olah raga atau kelas musik, namun karena frekuensinya yang tak terlalu sering, Yamada memutuskan untuk membuat kelas tambahannya menjadi kelas gabungan. Dengan total 24 murid bermasalah, Yamada sudah siap untuk memulai kelasnya sendiri.

Atau, setidaknya begitulah niatnya.

Tak apa-apa ‘kan punya pola pikir yang sangat optimis?

“Lebih jelasnya, aku ingin enam orang yang kusebutkan tadi dapat menemuiku di ruang konseling setelah sekolah usai,” Yamada menutup pengumumannya dengan sebuah senyum yang menurut Hani sangatlah angker.

Aoda dan Rei yang mejanya bersebelahan sama-sama menukar informasi lewat cibiran. Kedua gadis itu lantas terkikik satu sama lain. Kou duduk di baris paling depan, tenggelam dalam alunan musik jazz dari headphone mini yang disembunyikannya di balik rambut pirangnya yang panjang. Pria itu memegangi sebuah buku di antara lima jari tangannya, tapi matanya bergerak ke samping, melirik Luhan dari sudut kecil yang dibuatnya.

Hani sibuk mengirimi ­pesan e-mail pada Yuri dari ponsel yang disembunyikannya di bawah meja. Namun demikian, tak satu pesan pun dapat mengalihkan atensi Yuri untuk tidak tertidur. Buku sang gadis jatuh ketika kepalanya disandarkan ke atas meja, membuat Luhan refleks memungutnya, tapi itu pun tetap tak menarik kepedulian sang gadis. Gerak bola matanya yang cepat hanya mampu merekam ekspresi Hani dan Kou, sebelum akhirnya Luhan diabaikannya—Yuri buru-buru memejamkan mata.

.

.

“Aku ingin jadi atlet, aku tidak butuh belajar kalkulus.”

“Aku tidak punya waktu untuk belajar. Mengobrol lebih berguna, Sensei.”

“Aku?” Chizuru Rei melirik Aoda sebentar, “Aku lebih suka mendengarkan Aoda bicara daripada belajar.”

Tidak ada harapan. Begitulah yang bisa Yamada simpulkan dari konseling berkelompok kali ini. Masing-masing dari muridnya begitu keras kepala pada apa yang disukainya, bukan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Yamada ingin memrotes keras hal ini, tapi jika ia ingat ke belakang, dirinya juga serupa seperti para murid yang dibimbingnya. Alhasil, Yamada tidak punya solusi selain memendam kejengkelannya.

Odawara Hani, yang Yamada pikir paling normal di antara murid bermasalah lainnya, ternyata tak lebih baik. Ia memang cerdas di bidang olah raga, tak heran mengapa sang gadis memilih menjadi berlatih menjadi atlet ketimbang duduk dan belajar. Tapi, tetap saja hal itu tak mengubah fakta bahwa ia adalah pelajar. Sedangkan, tugas pelajar adalah belajar.

Hal yang sama juga berlaku untuk Satsuku Aoda dan Chizuru Rei. Kedua gadis itu adalah paket lengkap untuk produser dan pembaca acara gosip sekolahan; minyak dan api. Tak ada yang bisa diharapkan dari mereka, bahkan kalau Yamada ingin mengatakan hal-hal serius yang agak cheesy. Ia pasti akan ditertawakan dan dijadikan headline news sekolah seminggu penuh.

Jadi untuk mengenyahkan kejengkelannya dari ketiga gadis tadi, Yamada pun mengalihkan fokusnya pada Kou.

“Kimimaru, giliranmu sekarang. Kenapa kau tidak pernah belajar?”

Pria yang ditanya cuma menjengitkan alis. Matanya tertunduk ke bawah, menampakkan eyeliner hitam di atas kelopak matanya. Yamada tahu kalau Kou sangat menyukai musik jazz, tapi eyeliner hitam sang pemuda dianggapnya tidak pas. Lain jika Kou mengatakan ia sangat suka heavy metal atau musik rock. Akan lebih masuk akal.

“Musik itu tentang jiwa, bukan akal. Aku tidak suka belajar.”

Yamada tertawa hambar. “Itu menjelaskan mengapa kau agak sinting.”

Kou lagi-lagi menjengitkan alisnya. Dikenakannya kembali sepasang earphone yang tadinya dilepas paksa oleh Yamada. Segera setelah kedua benda itu terpasang di telinganya, Kou memejamkan mata dan terlihat menikmati alunan musik-entah-apa yang berbunyi di sana.

Yamada menyerah. Ia ingin pulang.

Sensei, apa kita sudah bisa pergi?” kali ini giliran Yuri membuka suara. Dengan gesit, Yamada melirik ke samping. Sorot matanya dipenuhi keangkeran.

“Apa itu berarti kita tidak boleh pergi?” Yuri menerjemahkan picingan galak barusan. Sementara gurunya sibuk berlakon antagonis, Yuri tengah berjuang melawan kebosanan. Dirinya kerap menguap beberapa kali di sela-sela konversasi. Rasa kantuk akibat tidurnya yang tidak serius semalam tadi membuat kepalanya sakit. Jika konseling ini tidak cepat-cepat terselesaikan di sini, Yuri tak yakin ia bisa mencapai rumah tanpa celaka.

Sensei, aku ingin pulang,” pinta Yuri lagi.

“Pulang? Tentu semuanya ingin pulang. Pertama-tama ayo selesaikan ini dulu. Giliranmu, Horikita.”

Yuri enggan menjawab. Pertama, Luhan ada di sana, duduk mengamat-amati meski terlihat tak peduli. Kedua, ia tak tahu apa yang akan diucapkannya. Tapi kalau mau dibahas lebih lanjut, Yuri yakin ia tak akan menemui sebuah titik cerah. Satu-satunya jalan adalah menjawab dan berakting seolah jawabannya bukan masalah besar.

“Singkat saja,” Yuri mengeluh. “Aku benci menjadi pusat perhatian.”

“Hah?” Yamada berteriak kencang, menyuarakan kebingungannya keras-keras. Hal itu menarik perhatian Kou sampai-sampai ia melepaskan earphone-nya. “Hal itu jelas tidak ada hubungannya dengan belajar, tahu.”

Yuri melirik galak pada Yamada sebelum akhirnya ia berbicara kembali. “Pokoknya begitulah. Apa aku sudah boleh pulang?”

“Kalian ini memang murid-murid yang aneh. Biarkan Takegaya mendapatkan gilirannya dulu, setelah itu aku bisa membubarkan konseling ini. Nah, Takegaya-kun, silakan beri alasanmu.”

Yuri sudah malas mendengarkan. Ia meletakkan salah satu sikunya di atas meja, membuat pilar mini untuk kepalanya yang berat. Di ujung satunya Kimimaru Kou tengah bersidekap, berulang kali mendorong kursinya ke belakang dan berayun-ayun kecil. Rei dan Aoda masih seru berbisik kecil menggosip sementara Hani yang duduk di sebelahnya sibuk menundukkan kepala, mengetik sebuah pesan e-mail yang ditujukan pada Natsu.

“Aku tidak benci belajar kok, Sensei,” ujarnya. “Aku suka sekali belajar.”

Di luar perkiraan, Yamada memukul kepala Luhan dengan sebuah buku. Hal itu menarik perhatian dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Seluruh mata terpusat pada sosok pemuda yang sedang melakukan gaya cengiran tertolol, tak terkecuali Yuri.

“Kalau begitu jelaskan kenapa nilaimu buruk semua,” ujar Yamada. Pria itu sama sekali tak memercayai kata-kata Luhan. Menurutnya itu konyol. Seseorang yang sangat suka belajar tak mungkin mendapatkan nilai yang begitu buruk, apalagi sampai dikeluarkan dari kelas akselerasi.

“Aku mempelajari hal-hal yang tidak bisa dinilai, Sensei. Itu tak ada hubungannya dengan sekolah, sayangnya. Tapi aku suka belajar kok.”

Yamada memukul kepala Luhan sekali lagi sembari mengumpat. “Memangnya apa yang kaupelajari, bodoh! Jangan berbicara hal-hal omong kosong yang tidak kumengerti.”

Luhan tertawa meski kepalanya berdenyut akibat serangan mendadak Yamada. Perlahan atensi yang tadinya berfokus padanya kini melepaskan diri satu per satu, sibuk dengan urusannya semula. Hal yang sama berlaku juga untuk Yamada. Ia melakukan relaksasi instan untuk mengontrol kejengkelannya.

“Katakan Takegaya,” Yamada berbicara dengan lebih tenang. “Soal hal-hal yang tidak bisa dinilai, katakan padaku jenis pelajaran apa itu.”

Luhan tak tahu kenapa ia memandang Yuri, tapi itulah yang ia lakukan sekarang. Ekor matanya mengikuti kemana pun benda perak yang keluar dari saku Yuri bergulir. Suara terantuk kecil timbul saat benda itu jatuh ke lantai, membuat sang pemiliknya terlonjak dan buru-buru mengembalikan benda tersebut ke sakunya. Mata mereka bertemu dalam saat yang super singkat; saat-saat yang hanya bisa dibuat oleh sebuah benda perak yang pernah mempertemukan mereka.

“Pelajaran bahagia, Sensei,” Luhan berbicara dengan volume kecil. Senyumnya merekah menyusul runtuhnya pertemuan matanya dengan netra indah milik Yuri. “Aku belajar agar terlihat bahagia.”

.

.

“Ah, Yamada Sensei tak kusangka dia benar-benar serius. Ya ‘kan, Yuri-chan?”

“Hani, sudah kubilang aku bisa pulang sendiri.”

“Eh?” Hani menempelkan telunjuknya di pelipisnya, mencoba berpikir meski ia hanya pura-pura. “Aku kok tidak ingat kau pernah berkata seperti itu.”

Yuri mendesah. Sangat susah untuk melepaskan diri dari permintaan Hani. Tidak, koreksi. Sebetulnya ia bisa saja pergi dari Hani, kalau saja gadis itu memiliki teman selain dirinya. Hani sangat pandai bergaul dan gampang sekali disukai, namun karena definisi serupa sempurna yang dimilikinya, ia berakhir dengan terasing. Para gadis tak menyukainya karena ia mendapatkan semua atensi para pria tampan di sekolah, juga guru-guru olahraga—yang biasanya rupanya bak model majalah. Para pria memperebutkannya, bersaing dengan berbagai cara dan berakhir menjadi musuh satu sama lain. Hani menganggap dirinya sendiri sebagai musibah alih-alih putri. Satu-satunya yang dianggapnya bisa mengerti adalah Yuri.

Serupa tapi tak sama, begitulah hubungan pertemanan mereka bermula. Hani yang sangat sempurna sampai-sampai tak memiliki teman, dan Yuri yang sangat pintar sampai-sampai dijauhi dengan teman-temannya. Kemiripan itulah yang membuat Yuri membiarkan Hani menganggapnya teman, meski ia menjamin Hani tak pernah tahu seperti apa masa lalu Yuri atau bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.

“Terserahlah. Apa kau bersikeras mengikutiku ke rumah? Kau baru saja melewati belokan ke rumahmu, Hani.”

“Oh soal itu…” Hani menggaruk kepalanya. Ekspresi bersalah terpeta di wajahnya. “Bisakah hari ini aku menginap di rumahmu, Yuri-chan?”

Kedua alis Yuri berjengit. Serius?

Rumah Hani adalah definisi rumah idaman untuk Yuri. Jika ia menjadi Hani, ia tak akan pernah meninggalkan rumah senyaman itu hanya untuk tinggal semalam di rumah sederhana seperti rumah yang Yuri miliki saat ini.

“Tidak.”

Yah, lagipula Yuri tak pernah menerima seorang pun untuk berbagi kamar dengannya.

“Eh, begitukah?”

Biasanya Hani sangat ceria. Meskipun Yuri kerap mengkritiknya, menyindir, dan berbicara pedas padanya, Hani tak pernah menyerah untuk mendapatkan atensi dari Yuri. Ia juga sebisa mungkin tersenyum dengan bodohnya, yang pada akhirnya membuat Yuri luluh. Wajar jika saat ini Yuri khawatir. Pasalnya, Hani nampak amat lesu sampai-sampai rambut sebahunya turun menutupi wajahnya dari samping.

“Hani…­-chan?”

Yang dipanggil nampak terperangah dengan sikapnya sendiri. Hani buru-buru mengusap pipinya kemudian membelakangi Yuri. Di suatu sudut dalam hatinya berharap Yuri tak melihat apa yang terjadi, tapi sayang, si Gadis Es sudah melihatnya; tetes air mata yang tertinggal di pelupuk Hani.

“Apa sesuatu terjadi di rumah?”

“Ah, tidak…” Hani mengelak. Ia mereka banyak alasan konyol untuk mengalihkan topik. Tak sekali pun wajahnya ia tunjukkan pada Yuri, meski mereka hampir berdiri di sana hingga bermenit-menit. Yuri tahu jika Hani memiliki masalah hampir serupa dengan dirinya di sekolah, tapi ia pikir, kondisi keluarganya baik-baik saja. Jika ada sesuatu hal yang membuatnya tak bisa pulang ke rumah, maka pastilah itu masalah serius.

Yuri tidak mau mengakuinya, tapi ia pernah benar-benar menderita saat rumah menjadi tempat pertama yang tak ingin ia kunjungi. Ia tak tahu apa pun soal Hani, dan kini ia ingin tahu.

“Baiklah,” Yuri memutuskan untuk menarik lengan Hani, membuatnya bertatap muka dengannya. “Kau bisa melanjutkan alasan konyolmu di rumahku.”

.

.

tbc


Mini Glosarium

  1. Futon adalah kasur tradisionalnya orang jepang. Itu lho yang kayak biasa dipakai di manga dan anime-anime.
  2. Sepatu Indoor digunakan oleh siswa dan siswi di Jepang setiap kali mereka masuk area sekolah. Sepatu yang mereka gunakan untuk pulang dan pergi sekolah ditaruh di loker sebelum mereka ganti pakai sepatu khusus untuk di area dalam sekolah.

bapkyr’s lounge

Haha, maaf ya agak terlambat soalnya aku sempet ada dinas dan kesambet bedrest selama beberapa hari. Gak di-password sebagai permintaan maafku. :p

Iklan

37 thoughts on “YOUNIVERSE [9 of ?]

  1. Fanficnya bagus, penggunaan kalimatnya sederhana tapi mengena & bisa tersampaikan ke pembaca. Oya, kata-kata “surai” itu jadi mengingatkan aku sama singa. Hehehe… Kalau menurut aku pakai aja kata “rambut” sesekali karena di cerita-cerita novel aku jarang menemukan kata “surai” tadi.

  2. Aku ngucapin banyak terima kasih ama Kak Nyun yg mau nulis ff sekeren ini. Entah apa yg bikin Kak Nyun meluangkan waktunya untuk menulis ff hanya untuk menghibur para readers. Makasih banyak ya, Kak Nyun. Aku terhibur bgt sama ff kakak. Oh ya, aku kan udah mulai masuk waktu libur sekolah. Jadinya aku punya banyak waktu yg cukup terbuang. So, kalo kak Nyun makin semangat nulis ff dan sering2 update ff di Blackpearl Fairytale kayanya waktu aku yg terbuang bakalan ke isi sama kegiatan baca ff yg kak Nyun update. Makasih ya,kak. Udah mau ngasih pw ff Youniverse buat chapter 6,7 & 8 nya. Yaa, walaupun aku tau kalo aku rewel bgt mintanya. Abisan ff kaka bikin aku makin penasaran amad amad amad 😀

  3. yahhh, aku enggak bisa baca chap sebelumnya hiks. jadi penasaran. disini udah di ceritain kalau yuri nyatain perasaan nya ya kedua kalinya. TAPI KOK?? Luhannya responnya cuma gitu doang? sedih amat si yuri. semoga happy ending ya kak nyun.

  4. “Singkat saja, aku benci menjadi pusat perhatian” arrggh suka sama kata kata itu.
    Aku kira luhan bakal jawab “maaf kan aku yuri sudah memintamu menunggu dan aku menyesali itu, dan baru baru ini aku baru menyadari bahwa aku menyukai mu yuri” eh rupanya cuma jawab maaf kan aku, makin hancur yuri. Padahan luhan udah ngelirik ngelirik yuri, aku kira mulai suka

  5. Ah, Luhan. lagi-lagi bikin Yuri sedih, bikin dirinya sendiri sedih. Kaknyun bener2 bikin mereka sebagai orang menderita ya haha.
    Kasihan Hani.. tapi dari sini mungkin pertemanan mereka akan jauh lebih baik.

  6. Apa memang kelas 2-5 pelajarnya aneh-aneh ya..hahaha

    ‘Aku cuma tidak ingin dijadikan pusat perhatian.’

    ‘Aku belajar untuk bahagia’

    Next Chapter…

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s