GHOST SLAYER RE:DO – FINALE

Ghost Slayer REDO

A story by bapkyr (@michanjee)

GHOST SLAYER RE:DO

| f i n a l e |

"Lenganku jadi bandara Elang ling-lung!"


Aku memang bermulut besar. Membakar mahkota kulit ular sementara benda menjijikkan itu menempel di kepala sang Raib? Aku pasti sudah gila. Sambil berpikir, aku terus melakukan loncatan-loncatan hebat untuk merobek mahkota yang nampak menjijikkan tersebut. Sayang, tak sekali pun usahaku menampakkan binar keberhasilan. Alih-alih, aku harus rela tanganku berdarah-darah akibat sabetan kuat kulit-kulit ular yang terjalin di mahkotanya.

Kuulang upayaku hingga beberapa kali, tapi aku sadar bahwa semakin banyak aku berusaha, semakin payah aku terlihat. Jiyong sudah mencapai batasnya, sayapnya sudah tumbuh dua kali lebih lebar dari pada bahunya. Pendar kebiruan memantrai tubuhnya kembali seperti komposisinya semula, bahkan lebih ganteng. Aku jamin Leo pasti akan iri dengan tubuh hebat yang didapatkan Jiyong secara instan.

Dipenuhi oleh pekikan Chaerin untuk membantu menyadarkan Jiyong agar berhenti bermetamorfosis, aku kembali melesatkan tubuhku ke atas. Suara-suara hangat yang sebelumnya meyakinkanku untuk mencabut mahkota kulit tersebut sudah tak ada lagi, digantikan dengan aura teramat dingin yang membuatku ingin berlindung di bawah kotatsu. Aku panik, seperti kehilangan sebuah benda yang sangat kubutuhkan, aku menyerang asal-asalan. Tentu saja targetku masih di sana, mahkota kulit ular yang menjijikkan.

“Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kauinginkan, gadis nakal!”

Lucu sekali mendapatkan perlakuan seperti tadi dari mertuamu. Tapi, aku tak akan mempermasalahkan bagian itu. Aku juga memang sedikit kurang ajar sih; beradu pukul dengan calon mertuamu di hari pertama bertemu? Hanya aku yang berpikir seperti itu. Aku tetap menyerangnya tanpa jeda. Melesat, menggempur, menggetok, dan memukul mertuaku dengan gerakan instan, berharap ia kecolongan sebuah jeda yang bisa membantuku untuk menghancurkan mahkotanya. Tubuhnya yang luar biasa bongsor dan tubuhku yang luar biasa ramping membuat sebuah kesenjangan besar dalam jangkauan kekuatan kami. Aku tak suka hidup di bawah ekspektasi orang lain, tapi agaknya Chaerin benar, aku tak mungkin melawan orang ini sendirian.

Pertarungan sengit ini hanya akan berhenti jika Raib kalah, atau aku yang mati duluan.

Peluangnya buruk untukku.

Bersamaan dengan aku yang kepayahan bersembunyi di balik sebuah pilar tulang raksasa, calon mertuaku asyik tertawa. Ia menghancurkan apa yang ada di hadapannya dengan injakkan kuat atau sabetan lengan yang luar biasa dahsyat, sembari terus memangkas jarak denganku sedikit demi sedikit. Kalau aku jago matematika, seharusnya aku sudah bisa menghitung mundur detik-detik akhirnya riwayatku, sayangnya rumus hitung-hitungan selalu menjadi musuhku.

Aku menghindari pilar sesaat sebelum ujungnya jatuh dan merobek tenggorokanku. Aku berlari sembari bertanya-tanya apakah keputusanku untuk berwisata ke Kingdom sudah benar. Rasa dingin di tengkukku semakin menjadi setelah aku hampir mati beberapa kali. Hawa itu merambat naik, perlahan melesap ke pori-pori dan menjalari seluruh tubuhku melalui aliran darah. Aku pusing. Kepalaku terasa berat dan ringan di saat yang hampir bersamaan—harusnya tidak mungkin; aku memang agak edan. Saat aku berlari menghindari serangan kuat auman supersonik sang Raib, tubuhku terjatuh dengan sendirinya ke arah depan, begitu kuatnya hingga rasanya hidungku bengkok sedikit.

“Rasakan itu!” Raib tertawa kencang, tapi cuma aku yang tahu kalau tadi itu bukanlah kesuksesan perbuatannya. Ada sesuatu yang lain yang berani-beraninya menjatuhkanku seperti itu, dan apa pun itu, tujuannya tak bisa kuidentifikasi seiring dengan bentuk fisiknya yang tak kelihatan.

Tapi bicara soal kesintingan, kini aku mendengar suara-suara yang di seluruh telingaku. Banyak sekali. Aku sampai kebingungan harus mendengar yang mana terlebih dahulu. Lantas tepat di saat kritis itu, aku melihat bayangan samar seorang hantu bertudung merah tanpa wajah yang perlahan mendekat. Tubuhnya lebih samar daripada terakhir kali aku melihatnya, seolah ia sudah benar-benar akan kehabisan daya jika tak menemukan stop kontak.

Dan stop kontak yang dia tuju adalah diriku.

“Huft, akhirnya,” gadis itu bicara—dari yang kuingat, asal bunyi itu dari bokongnya, jadi tolong jangan coba-coba membayangkan detilnya. Ia tak melakukan banyak tingkah setelah mendorong brutal seperti barusan, tapi aku tak perlu bertanya lebih rinci setelah melihat bagian-bagian ganjil di balik tubuhnya; pemandangan statis yang perlahan membeku.

Chaerin sama bingungnya denganku, tengah menatap liar ke sekelilingnya seolah ada yang mencurigakan. Jiyong dan Leo memperlihatkan wajah kesakitannya masing-masing namun tak bergerak sama sekali, mereka membeku dalam waktu—yang membuat Chaerin luar biasa tak mengerti. Hal yang sama terjadi pada sang Raja Iblis juga ornamen lainnya yang tengah terjebak di ruang besar yang sama denganku. Mereka yang tak terpengaruh hanyalah Chaerin dan aku, tapi nampaknya Chaerin tak menyadari kehadiranku.

“Tidak ada yang bisa melihat kita. Aku sudah membuat kau dan diriku ditutupi kabut. Ini tak akan bertahan lama, jadi aku harus cepat-cepat.”

“Tunggu, ada yang lebih penting!” aku menyela. “Kau siapa?”

“Kau tak mengenaliku?”

“Dengan wajah rata?”

Oh, my bad,” gadis hantu itu melakukan sebuah sapuan telapak tangan di depan wajahnya dan secepat aku bernapas kembali, wajahnya sudah menampakkan diri secara instan. Lengkung hidung, bentuk bibir, hingga warna matanya, semuanya sempurna dan tampak begitu nyata di mataku. Perbedaannya, kesemua ornamen penting tersebut letaknya bertukar-tukar hingga aku harus melihat ke bagian bawah wajahnya hanya untuk bertatapan dengan netra abu-abunya. “Aku tidak punya waktu untuk menatanya, jadi bisakah kau bertahan untuk beberapa menit?”

“Kurasa…” aku melihat hidungnya yang terletak di bawah dagu. “Entahlah, jangan tersinggung kalau aku mendadak muntah. Dan ngomong-ngomong, aku masih tetap tak mengenalimu.”

Gadis hantu itu menggeleng padaku. Ekspresinya tak dapat kubaca karena letak… yah sudahlah.

“Kautahu Kwon Shi Woon?”

“Itu ayahku. Dan kau pacar hantu barunya di alam baka?”

“Bodoh, mana ada yang seperti itu!” gadis itu berdeham, tapi aku yakin diam-diam ia gembira mendengarnya dariku. “Dia orang yang sangat kuhormati, dan kini ia telah mempercayakan misinya padaku,” hey, kaubisa mengatakan aku mengada-ada, tapi memang ada air mata yang perlahan menetes dari kedua matanya di bawah dagu.

Sekarang aku mulai pusing menyebutkannya padamu.

“Apa sesuatu terjadi pada ayahku?”

“Ya… itu… ceritanya panjang dan aku tak memiliki kewajiban untuk menceritakan itu padamu. Aku ditugaskan melakukan misi berbahaya untuk keselamatan para manusia seperti kau dan saudara-saudarimu itu. Kwon Shi Woon mengatakan padaku bahwa ia…”

“Tunggu,” aku menyelanya lagi. “Kenapa ayahku tak melakukannya sendiri? Kenapa ia menyuruhmu?”

“Itu yang sedang kuceritakan, idiot,” gadis itu nampak jengkel. “Kwon Shi Woon memiliki kekuatan yang besar dan Raja Iblis bermaksud menggunakannya untuk tujuan buruknya. Tak mau Raja Iblis mendapatkan dirinya, Kwon Shi Woon membuyarkan dirinya sendiri menjadi debu agar tak dideteksi. Ia tetap hidup di sekitar sini—aku tak tahu detilnya—dan ia memerintahkanku untuk membantunya. Pertama-tama, pesannya, aku harus membangunkan kekuatan di dalam dirimu.”

“Aku sepertinya tak mengenal diriku sendiri. Kekuatan apa lagi yang kumiliki?”

Blending. Bukankah kau pernah melakukan itu?”

“Hanya satu kali dan itu sudah lama sekali dan itu tak disengaja dan itu benar-benar di luar kendaliku.”

“Wanita yang sangat tak terduga. Dengar ya, anak manja, aku sudah repot-repot membebaskan ibumu dan membawanya ke sini bukan tanpa alasan. Aku membiarkannya tertangkap—oke maafkan soal itu—tapi hal itu adalah satu-satunya yang akan membuat tujuanmu jelas. Ada tiga darah murni di sini, darah malaikat dari Hani, darah iblis Leo dan darah manusia yang mengalir di tubuhmu. Gunakan kemampuan blending-mu dan bangkitkan kekuatan baru untuk menyadarkan Raja Iblis. Hanya kau yang bisa melakukannya.”

Aku mengerutkan kening. “Kau terdengar sangat teoritis, aku bodoh jadi aku bingung.”

“Begini saja,” gadis hantu itu mendekatiku, mengiris lenganku hingga darah merah kental merembes keluar sedikit demi sedikit. Aku mengaduh, menendang tubuh hologram sang gadis meski sudah tahu hasilnya sia-sia. “Sekarang lakukan hal yang sama pada Leo dan Hani. Panggil darah mereka untuk menyatu dalam tubuhmu. Kekuatan yang baru akan turut muncul seiring dengan keseimbangan keyakinanmu.”

“Aku masih tidak mengerti di bagian memanggil darah tapi kita sepertinya kehabisan waktu,” aku memberinya kode-kode soal Chaerin yang mulai memfokuskan netranya ke titik di mana aku terduduk kaget.

“Oh, benar,” sang hantu tak berusaha membantah yang artinya memang sampai di sana saja batasnya. “Tapi kau harus hati-hati, Yuri. Tidak semua orang yang melakukan blending bisa lolos dari kematian dengan mudah. Selalu ada pengorbanan besar untuk sebuah kekuatan besar.”

“Apa aku sudah bilang aku tak akan mati hari ini?”

Sang hantu tersenyum padaku—meski ia sedikit kesusahan karena bibirnya terletak dekat sekali dengan kedua telinganya—aku menghargai upayanya, tapi aku tidak akan percaya akan kalimat yang terlontar dari bibirnya sesaat sebelum ia menghilang.

“Aku juga pernah berpikiran sama sepertimu. Dahulu, di hari kematianku.”

.

.

Meski aku sedikit jengkel pada peringatan samar sang Gadis Muka Rata, aku masih tetap bersyukur atas informasi yang ia berikan. Apalagi soal kekuatannya untuk membekukan waktu, itu benar-benar keren. Selain aku dan Chaerin, tak satu pun yang bergerak di ruangan penuh kerangka ini. Aku bisa saja menghampiri Leo terlebih dahulu, menyayat-nyayat kulit berharganya hingga darahnya menetesi luka di lenganku, tapi bukan aku namanya kalau mencari yang mudah-mudah.

Prioritas utamaku adalah ibuku yang berada di sebuah labirin kosong jauh dari medan pertempuran. Kalau apa yang dikatakan sang gadis hantu benar, seharusnya kekuatannya hanya menjangkau ruangan besar milik Raib saja. Aku menghampiri ibu untuk memastikannya sekalian.

Sesampainya di tempat, dugaan kuterbukti. Ibuku masih merintih dengan luka-luka di sekujur punggungnya. Aku sempat ragu untuk mengatakan keinginanku pada saat itu. Maksudku, ia sudah cukup terluka hebat, masa sih aku juga harus menyayat-nyayat lengannya agar darahnya menetes pada luka lebar di tanganku? Yang benar saja!

Meski demikian, ia tak menolak ketika kuceritakan apa yang terjadi. Ia bahkan menyayat lengannya sendiri dan menuangkan darah—hey, warnanya biru?—ke luka lebar di lenganku.

Karena aku sudah dijanjikan akan diceritakan hal-hal detilnya belakangan, aku berusaha mengabaikan darah biru milik ibu dan alasan di balik kemampuan ia dan Jiyong untuk menumbuhkan sayap di belakang punggung. Sihir membekukan waktu milik sang gadis tanpa wajah tadi tidak akan bertahan lama. Bisa jadi sebelum aku kembali ke medan pertempuran, Raib sudah membumihanguskan tempatnya tak bersisa. Bisa gawat. Jiyong akan mengutukku setelah ia berubah menjadi hantu malaikat setengah telanjang penasaran. Tidak deh, terima kasih.

Aku berlari secepat yang aku bisa hingga jarakku dan targetku selanjutnya—Ehem, Leo—terpangkas cepat.

Di sebelahnya, Jiyong mulai bergerak patah-patah, hampir kukira ia sedang memainkan tarian matrix terbarunya. Chaerin menghampiriku sebelum aku terlalu larut dalam atraksi geliatan Jiyong. Ia memandangiku sesaat sebelum aku menyayat lengan Leo dengan pisau tumpul milikku.

“Akan kujelaskan setelah ini,” kataku mempersingkat waktu. Kernyitan di kening Chaerin tak kunjung hilang bahkan setelah aku berusaha terlihat sangat percaya diri dengan apa yang kulakukan. Leo merintih saat aku mulai membuka sebuah luka melintang di lengannya, tapi ia tak protes bahkan ketika kudapati ia mulai bergerak patah-patah bak film rombeng. Prosesnya mungkin agak menyakitkan dan kurang ajar sekali, tapi untungnya kekurang ajaran tersebut tidak memakan waktu yang lama. Darah Leo sudah tumpah dan mengalir di dalam darahku. Secara teknis, aku sudah mengumpulkan apa yang disarankan si Hantu Muka Rata.

Lalu apa?

Bagaimana caranya blending sialan ini bekerja? Aku tak merasakan superpower apa pun dalam tubuhku. Kalau pun ada yang berbeda, rasa-rasanya aku akan menyebutkan bau keringatku. Iya, baunya jadi aneh, seolah ada sekilo rumput laut kering, tuna busuk dan sejumlah bangkai paus yang diblender dan dibalurkan ke sekujur tubuhku. Anehnya, melihat dari ekspresi Chaerin dan gerakan tubuhnya yang semakin mendekatiku, ia tak terganggu sama sekali dengan bau-bauan itu.

“Apa yang kaulakukan?” tanyanya. Jarak kami kurang dari setengah meter, walhasil membuatku kikuk. Aku tak pernah sedekat ini dengan seorang teman wanita sebelumnya. Jadi, rasanya aneh memiliki seorang seperti Chaerin—meskipun secara teknis, dia iblis—yang bicara begitu dekat dengan wajahku.

“Sebuah percobaan. Aku diberitahu untuk melakukan sesuatu yang disebut—blender?”

Blending, maksudmu?” tanyanya, yang langsung kuiyakan dengan setengah antusias. “Itu gila. Aku pernah dengar itu. Tekniknya sangat rumit dan resiko bagi penggunanya sangat besar. Apa kauyakin bisa melakukannya?”

“Wah, kalau begitu apa kaubisa?” aku berdeham ketika kudapati Chaerin melongo padaku. “Oke, sorry kalau aku kelihatannya bodoh dan tak meyakinkan, tapi saat ini kita tak punya pilihan. Aku harus mencobanya.”

“Tapi, Blending memiliki efek samping yang—“

Sebut saja banyak adegan bodoh yang kulakukan selama setahun terakhir, kuyakin itu tak sebanding dengan apa yang kulakukan pada Chaerin hari ini. Aku menjawat tangannya, memeluknya dan meyakinkannya bahwa aku ingin dia hanya memikirkan hal-hal positif dari seluruh kejadian ini. Saat aku sadar apa yang telah kulakukan, rasanya hatiku ingin menjerit dan berlari ke tengah auditorium utama di gedung-gedung opera sambil berteriak Jijik! Apa yang sudah kulakukan!

Apa yang sudah kulakukan?!

Tak sampai dua tahun, kami adalah musuh bebuyutan dan main bunuh-bunuhan. Sekarang sepertinya segala memori itu bak sebuah khayalan saja. Aku sudah edan. Tapi kupeluk lagi Chaerin untuk memastikan keedananku. Aku bahkan menepuk-nepuk punggungnya, menganggapnya sebagai bocah.

“Kalau kau jadi aku, kau tak akan sempat memikirkan soal efek samping dan bla bla bla.”

Kau hanya akan tahu segalanya dari sudut pandangku, jadi kita tak akan pernah tahu apa yang ada di dalam kepalanya. Kalau boleh kutebak salah satunya, jiwa Chaerin mungkin sedang menjerit JIJIK IH! padaku. Ya, aku tak menyalahkannya. Lalu untuk semilisekon selanjutnya, aku merasakan darahku mendidih. Asap mengepul dari lenganku sehingga aku buru-buru melepaskan pelukanku pada tubuh Chaerin. Kupikir Chaerin juga bakal melewatkan yang ini seperti ia melewatkan bau-bauan aneh pada tubuhku, tapi tidak. Ia juga melihat asap yang keluar dari lenganku, juga bonus fakta bahwa Raib sudah sepenuhnya bangkit dan menggeram marah di belakang bahuku.

Ya, jangan tanyakan aku apa yang terjadi, tahu-tahu seekor elang besar telah menjelma di atas lenganku. Tingginya kira-kira dua meter, dengan diameter masing-masing sayap yang kira-kira bisa menjadi tiang jemuran lima ibu-ibu kompleks. Matanya menyalang, biru di sisi kanan dan merah di sisi lainnya. Paruhnya kurasa kepanjangan untuk seekor elang, tapi aku akan mengabaikan bagian itu. Bulu-bulunya normal mengecualikan ukurannya yang tidak biasa. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri dengan pola acak, cakar-cakarnya menancap di lenganku, sampai-sampai aku baru sadar bahwa makhluk itu nyata, bertengger di sana dengan manja.

Satu hal yang terlintas di kepalaku. Lenganku adalah bandara elang linglung!

Chaerin sama bingungnya dengan aku. Tapi, aku lebih elegan dengan tidak membuka mulutku selebar miliknya. Aku berbaik hati menyadarkannya.

“Jadi,” aku berdeham. “Dari mana baiknya aku mulai?”

Raib memukul-mukul pilar di hadapannya dengan murka. Aku tidak perlu diingatkan bahwa ia sudah semakin dekat untuk menyadari eksistensi remeh sepertiku. Aku juga masih tak memiliki ide bagaimana elang sebesar ini ada di lenganku dan kenapa aku tak kesakitan menopangnya, tapi saatnya tidak tepat kalau mau membahas bagian itu.

Detilnya belakangan.

“Yuri, kalau aku jadi kau,” Chaerin berusaha memberi ide padaku meski mulutnya masih kering pasca kelamaan ternganga. Telunjuk sang gadis berputar-putar menunjuk sebuah target operasi utama. Sebuah mahkota kulit ular. “Dimulai dengan merobek bagian itu dan segera getok kepala pacarmu sesudahnya.”

Aku mengangguk dan mengimbuhkan cengiran pada Chaerin.

“Idemu tak buruk. Aku paling suka bagian yang terakhir.”

.

.

Hebat. Hebat sekali.

Kupikir sang elang akan membawaku terbang di atas kepala sang Raib dan membantuku melepaskan mahkota lengket itu dari kepala musuh, alih-alih, ia berbuih saat kuajak terbang, kemudian menghilang seketika, menyisakan hanya sebilah pedang panjang yang kilatannya berkilau bahkan ketika tak ada cahaya yang bersinar di sekitarku.

Lupakan soal elang. Aku punya sebilah pedang seukuran setengah tinggiku, dan sesosok musuh setinggi tiga meter yang murka luar biasa.

“Menyerahlah!” Raib berseru. Gigi-giginya—tunggu? Sejak kapan giginya jadi sebanyak itu?

Sederet gigi baru yang kelihatannya—ehem—sangat tajam telah tumbuh tumpang-tindih dengan gigi yang sudah ada. Sejak kapan? Tidak tahu. Seirama dengan Jiyong yang masih berteriak dan merintih soal sayap di punggungnya, metamorfosa serupa juga kelihatannya terjadi pada sang Raib. Bedanya, ia berubah menjadi lebih kuat dan menakutkan daripada sebelumnya. Ketakutanku cuma, soal bros reptil di busananya. Akankah semua pakaian reptilnya akan hidup kembali dan membantu Raib menyerangku?

Aku ingin membalas seruan Raib dengan berkata Iya aku menyerah, ampun deh ketika membayangkan soal busananya. Raksasa dan hantu, check. Reptil, tidak.

Hantaman dahsyat mendarat di kepalaku jika saja aku tak punya pedang tajamku. Aku menghindar dari reruntuhan batu dan berlari ke sebuah area lapang yang lebih aman, jauh dari para korban kepayahan, dan jauh dari setumpuk pilar yang bisa diremukkan kapan saja. Soal pertahanan barusan, bukan aku yang melakukannya. Pedang inilah yang melakukannya. Ada sebuah jiwa—jiwa yang lain—yang menggerakkan pedang ini secara proaktif untuk melindungiku. Kalau kubilang, pedang ini hidup, memiliki kehendak bebasnya sendiri. Mungkinkah ini karena blending-ku? Tapi bagaimana aku melakukannya?

“Roarrr!”

Lupakan soal itu. Aku sibuk.

Bukan berlari. Aku sibuk menebas. Aku mencoba peruntunganku dengan menahan serangan ‘Getokan Dahsyat’ sang Raib dengan menebas tangannya secepat ia mengayunkannya. Aku melakukan hal yang sama dengan tangan satunya, lantas kedua kakinya, lantas perutnya, hingga Raib murka luar biasa padaku. Aumannya sudah berubah lebih ganas, aku bisa merasakannya. Aura membunuh, dendam, dan gairah vandalismenya keluar, mengikat ruangan menjadi lebih menakutkan dari sebelumnya. Di sudut mataku, aku bisa melihat Chaerin tercekik hanya karena menghirup aroma ini.

Aku tak yakin sudah berapa lama aku berada di Kingdom, tapi jika aku tak buru-buru, semua orang ini tak akan bisa diselamatkan. Meski nantinya aku berhasil membunuh Raib, masih ada Mansion yang akan memburuku, memenjarakan kami semua. Idih, amit-amit deh.

“Ayah mertua,” kataku. Gara-gara pemikiran soal Mansion barusan, aku jadi geram. “Kita tak punya banyak waktu untuk bermain-main. Ayo selesaikan ini secara jantan.”

Raib tertawa. “Mungkin bagimu secara betina.”

“Itu juga boleh,” aku membentuk kuda-kuda siap perang dengan kakiku. Memegangi pangkal pedang dengan kedua tangan ketika benda itu berada diagonal di depan dadaku. Aku memusatkan seluruh kekuatan supranatural yang kumiliki pada tumitku. Ketika saatnya tepat, aku akan menggunakan itu sebagai pelontar untuk mencapai kepala musuh. Sekarang, tinggal bagaimana aku dan kemampuan matematikaku. Jika aku tak salah hitung, aku akan menghentikan amukan mertuaku. Tapi jika hitung-hitunganku payahnya minta ampun, aku juga masih akan tetap menghentikan monster itu, ditambah ekstra adegan dramatis kematianku sendiri.

Aku tidak bisa mundur. Demi Jiyong, dan mereka yang berjuang untuk tetap hidup, aku harus menghancurkan mahkota sialan itu.

“Biar kuajarkan padamu bagaimana bertarung secara betina yang kumaksud.”

Dan aku pun melesat, menebas kaki-kaki iblis gila itu dan mencabut mahkotanya dengan cepat.

.

.

“Harusnya kaubiarkan saja aku mengamuk. Mahkota yang hancur sama berbahayanya dengan mahkota utuh.”

Aku mendengar suara itu sesaat sebelum penglihatanku gelap. Kurasa itu suara Raib, tapi siapa yang peduli.

Entah apa yang terjadi pada diriku, tapi benda di tanganku adalah bukti bahwa aku memenangkan pertarungan terakhir tadi. Mahkota tersebut berhasil lepas dari kepala Raib yang artinya mertuaku bisa jadi sudah kembali seperti sediakala, begitu juga Jiyong dan segala metamorfosis cupid bongsor-nya.

Tapi, aku di mana?

Sekelilingku gelap, tanpa ada cahaya sama sekali. Aku berkedip berkali-kali untuk meyakinkan bahwa aku tidak terlempar ke suatu tempat aneh tanpa kuketahui, tapi sekarang aku malah yakin sebaliknya. Tempat ini tak membuatku berpijak, tapi tak juga mengizinkanku untuk bergerak. Aku melayang mengikuti arus kegelapan. Perlahan dan pasti, tersedot ke sebuah titik yang tak dapat kulihat.

Saking gelapnya, sekarang aku bahkan tak dapat melihat tubuhku sendiri. Tanganku tertelan dalam ombak hitam yang tenang. Suara-suara yang kuhasilkan sebagai jeritan minta tolong tertelan begitu saja ke dalam kegelapan, tak kedengaran bahkan oleh inderaku sendiri.

Tempat yang menakutkan.

“Kehampaan,” seseorang bicara kepadaku. Pria? Ya. Apa aku tahu milik siapa? Ya. Apa aku melihatnya? Tidak.

“Ayah?”

“Dimensi ini dinamakan Dimensi Kehampaan bukan tanpa alasan. Segala yang telah membentukmu—jati dirimu—semuanya tak berarti di sini. Kau tak akan bisa melihat dan mendengar apa pun di sini.”

“Aku bisa mendengarmu. Tolong katakan teorimu keliru dan aku masih berada di sebuah tempat di Kingdom dengan selamat.”

“Kau mendengarku hanya karena aku merasa kau perlu mendengarku.”

“Kalau membuatku bingung kuakui kau memang ahlinya.”

“Dengar, Yuri,” ayahku bicara lagi. “Mahkota itu disusun oleh semua kekuatan gelap di dalam Kingdom, dari kenangan-kenangan buruk para roh selama mereka hidup. Mereka yang mengenakan mahkota itu akan menjadi gila, seperti yang terjadi pada Raja Iblis. Dan hal serupa juga sangat mungkin terjadi pada orang yang menghancurkannya. Kenangan-kenangan buruk ratusan juta roh itu akan menghantuimu, Dimensi Kehampaan adalah fase pertama dalam prosesnya.”

Aku tidak yakin bagaimana menginterpretasikan ekspresiku sementara aku sendiri tak terlihat. Tapi kira-kira aku berdiri dengan canggung sambil menggaruk-garuk tengkukku kebingungan.

“Dan kau di sini karena kau pernah mencoba hal yang sama?”

“Tidak juga.”

“Oke, karena kau menyebalkan, aku ganti pertanyaannya. Sebenarnya aku sudah mati atau belum?”

Tiba-tiba cahaya biru menyilaukan bersinar di sampingku, mengusir partikel hitam yang menyelubungi lenganku dan sejumlah kegelapan lain di sekeliling tubuhku. Cahaya hitam itu masih berputar-putar di seluruh penjuru tapi tak menyentuhku sama sekali, cahaya biru dari sosok ayahku membentuk barikade keliling, mengamankanku dari serangan menakutkan itu.

Kupandangi lenganku, mahkota kulit ulat itu masih di sana, tak tergores bahkan setelah aku mencabutnya paksa dari kepala pemiliknya.

“Benar kau mencabut mahkotanya, tapi kau tak pernah menghancurkannya. Kau membawa mahkota itu bersamamu, ke dalam Dimensi Kehampaan, di saat seharusnya kau pergi sendiri. Kerja bagus.”

“Jadi artinya aku masih hidup?”

“Tidak pernah ada dua jiwa di dalam Dimensi Kehampaan.”

“Jawabanmu selalu saja berputar-putar.”

Ayah memangkas jarak di antara kami. Saat aku menunduk, aku bisa melihat kedua kaki telanjangnya menapak seberkas cahaya biru samar. Semilisekon saat aku lengah, ayah telah mencium keningku, menyalurkan perasaan rindu seorang ayah pada anaknya. Hatiku tiba-tiba jadi hangat. Aku suka perasaan ini, dan berharap gejolak ini bisa bertahan lebih lama daripada hanya sekadar beberapa sekon.

Ayah memecah suasana melankolis tersebut dengan setetes air dari pelupuk matanya. Kala aku memandang itu, aku baru sadar bahwa kedua matanya memiliki warna yang berbeda, merah dan biru, persis seperti elang linglung yang sudah membantuku.

“Namanya Phoenix,” kata Ayah. “Dan air matanya dikenal menyembuhkan.”

Saat itu duniaku menghablur lagi. Mahkota kulit ular sudah terlepas dari genggamanku. Saat aku sadar apa yang terjadi, tubuhku sudah tersedot ke dimensi lain.

Aku menutup mataku.

.

.

Fin?


 

Nope. Wait for Epilogue.

nyun.

 

 

14 thoughts on “GHOST SLAYER RE:DO – FINALE

  1. tatha_yurisistable berkata:

    wahh tmbah seru nyuun..aq suka🙂
    yuri kasian bertarung sendiri tapi dia hebat.. ^^
    aq langsung k epilognya yaa nyun ^^

  2. Phannia berkata:

    Annyeong eon.. aku komen dulu aja ya..
    kuota aku abis hari ini nanati takutnya malah gk bisa komen,
    ak yakin kok ceritanya pasti bagus apalagi ini endingnya..
    keep writing eon..!!!

  3. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    pertarungan yg kereeennn!! apalagi yuri, hebat banget, ngebayangin muka rata atau acak acakan itu jadu lucu sendiri… haha.. yuri udah meninggal apa masih hidup?? baca epilog dulu deh, hehe ^^

  4. lalayuri berkata:

    Kak Nyun, keren bgt kak ffnya. Yurinya kata katanya agak nyentrik gitu deh. Argggg ada pheonix di ff ini *mendadak kangen ff vibrance* Yurinya udh mati apa blm si kak, kepooo. truss yg hantu berwajah rata siapa ? Aku agak serem ya bayangin klo mata ada di bawah dagu. Aku next ya kak

  5. yhyemin_ berkata:

    acieeee phoniex kambek jadi elang linglung..
    Hehe yurinya sekarang agak nyentrik gimana g2,raja iblis jelekkkkk.

  6. stffnat berkata:

    unpredictable thor,
    sepet susah bayanginnya kalo di baca secara cepet dan ngak seksama di bagian yuri bertarung sama mertuanya hahaha
    jadi papanya yuri ini masih hidup at gimana ? Gonna read the epilog

  7. aloneyworld berkata:

    Ampun deh kaknyun ampun ini keren banget yaampun❤ cinta banget aku sama fict satu ini omagad omagad😀 entah ini keberapa kalinya aku bilang kalo AKU SUKA BANGET GAYA BAHASA FF INI😀 pasti ada aja saat-saat harusnya serius malah jadinya ketawa :3 cupid bongsor? Malaikat setengah telanjang penasaran? Dan masalah letak indera si hantu muka rata? Yaampun itu sukses bikin ngakak kaknyun😄 eh tapi yuri gaakan mati kan? Jangan sih nanti dimarahin jiyong gimana😄 eh ngomong-ngomong soal tarian matrix jadi inget BAP :3 huwaaaa pokoknya INI KEREN BANGET NGGA BOHONG❤❤

  8. zcheery berkata:

    Woaaahhh great ideaaa..
    Tapi meemang benar, teorimu selalu berputar putar kak wkwwkwkwk jadi maksudnya si Yuri ini masih hidup tapi karena dia megang mahkota kulit ular itu dia dibawa ke dimensi kehampaan tapi setelah ayahnya datang menyelamatkannya dia hidup lagi? Daku benar benar gapaham haahaahaa😂

    Anywayy lagi kangen” nya sama karya kanyun ternyata sudah ada sequelnya.. Se epilognya juga lagi wkwkkwk.. Lanjut dululah kalo gitu wkwwk tysomay kaakk💕💕💕

  9. Lulu KEG berkata:

    Kak Nyun!! ini sepanjang baca aku ngukuk mulu masa, Keren banget saoloh apalagi yang Yuri pake sok sok.an baca fikiran Chaerin yang ‘Jijik Ih’ kocak abis bagian itu. tapi pas yang Yuri bilang “Biar kuajarkan padamu bagaimana bertarung secara betina yang kumaksud.” wah itu aku udah berfikiran lebih loh Kak ckck aku kira Yuri kluarin juga jurus tendangan mautnya ituloh haha tapi aku baru ngeuh klo itu cuma di JMATB *plakk -_-
    lah Yuri lagi di dimensi lain ke dimensi lain lagi? hmm yang penting mbak kece tercinta ku gak mati. kan(?)
    hha yowes banyak cincong cus deh aku izin lanjut ke Epi ya Kak.. makasih^^ laf~laf~

  10. Stella Kim berkata:

    sorry kak aku baru bisa comment sekarang walaupun udah baca ff ini dari beberapa minggu yang lalu!:-(

    akhirnya sih gantung banget ya kak wkwkkwkw. aku suka sm ff ini❤ ceritanya yang seru dan gaya bahasanya yang unik ughhhhhh <3<3<3

    okay better langsung cus ke epilogue yaa

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s