GHOST SLAYER RE:DO – EPILOGUE

Ghost Slayer REDO

a story by bapkyr (@michanjee)

GHOST SLAYER RE:DO

an epilogue

"Saatnya gantung D-Kit!"

[Notice the change of POV]

“YURI!”

Chaerin berlari tergopoh-gopoh menuju tubuh Yuri yang mengejang di dekat Raja Iblis yang kepayahan berdiri. Kejadiannya berlangsung sangat singkat. Hal terakhir yang Chaerin lihat adalah tubuh Yuri yang terpelanting ke udara seperti ketapel sesaat setelah ia mencabut mahkota sang Raja Iblis.

“YURI!” teriaknya lagi.

“Percuma!” jawab sang Raja Iblis. Matanya sudah kembali normal, bersamaan dengan tubuhnya yang menciut—cuma setengah meter—kembali seperti sediakala. Giginya masih merupakan taring-taring menyeramkan, tapi setidaknya tidak tertumpang-tindih seperti sebelumnya. Jangan bayangkan bahwa dengan normalnya Raja Iblis pertarungan akan berhenti, karena, yang terjadi adalah sebaliknya. “Gadis itu sudah mati. Takdir bagi pengguna kekuatan menakutkan seperti blending selalu seperti itu. Tidak ada yang bisa kaulakukan, Anakku.”

Geram mendengar komentar seperti itu keluar dari mulut seseorang yang seharusnya jadi ayahnya, Chaerin menghunuskan sebuah pisau kecil milik Yuri yang tergeletak dekat tubuhnya. “Mundur!” pekiknya.

“Aku tak akan melakukan apa pun pada manusia yang sekarat, Raja Iblis tak akan melakukan hal rendah seperti itu.”

“Kalau begitu mundur!”

“Sadarlah! Gadis ini cuma anak manusia! Tidak ada gunanya menangisi makhluk yang berusia singkat seperti dia. Ketika dia menarik mahkota itu, dia sudah ditakdirkan untuk mati. Dia akan mati di sini, sendirian.”

Raja Iblis mengekspresikan dukanya dari wajahnya yang kelelahan. Tak ada yang menjamin ia sungguh-sungguh atau pura-pura. Raja Iblis pada dasarnya adalah materi kekuatan hitam, dan biasanya kekuatan hitam terkait erat dengan hal-hal buruk fundamental dari manusia, seperti, dusta.

Chaerin paham betul, tapi hatinya ragu sesaat.

“Maaf, Yah. Tapi dia tidak sendirian.”

Jiyong datang tertatih-tatih. Busananya robek total, terutama di bagian punggung. Celananya compang-camping, tapi ia beruntung karena benda itu masih menempel di tubuhnya. Meski tanpa senjata terpanggul, ia berdiri di lini depan, membelakangi Chaerin dan Yuri. “Aku akan kelihatan sangat payah kalau membiarkan pacarku mati.”

Yuri terbatuk, merespons aksi heroik Jiyong di ambang ketidaksadarannya. Bola hitam matanya perlahan kembali ke tempatnya semula setelah sebelumnya tak menampakkan diri.

Melihat itu, Chaerin berteriak. “Aku juga!” katanya. “Aku tak mau kehilangan saudari iparku.”

Senyum sinis mengembang di wajah Raja Iblis, tapi ia tak bertekad melakukan apa pun. Matanya bergerak ke sana kemari, membaca keteguhan hati anak-anaknya hanya dari sorot mata hijau yang memelototinya.

“Maaf mengganggu reuni menyentuhnya, kawan-kawan,” Leo bergabung meski luka di lengannya tak benar-benar sembuh. “Tapi aku tak sudi tertidur lemah di sana sementara gadis kurus dan saudara-saudarinya mengambil seluruh jatah adegan keren di sini.”

Leo tersenyum sinis pada Jiyong dan Chaerin bergantian. Ketiganya membuat barikade kecil di sekeliling Yuri, sekadar berjaga kalau-kalau Raja Iblis berubah pikiran dan menyerangnya lagi.

Di ujung lorong yang lain, tanpa diketahui siapa pun, Hani merangkak kesusahan menuju aula utama. Ia tahu dirinya sudah terlalu terlambat untuk membantu, tapi ketika tubuh Yuri mengejang hebat di tengah-tengah aula yang hancur, emosinya terbakar.

Hani menyalahkan dirinya sendiri karena tak lantas menjelaskan segalanya ketika sempat. Ia mengutuk dirinya karena menyerahkan segalanya di pundak Yuri meski tak yakin gadis itu mampu melakukannya. Hani mendadak hancur. Emosinya meletup-letup tapi fisiknya terlalu lemah untuk mencabik-cabik sesuatu. Dalam penyesalannya, ia teringat sebuah cara. Sebuah teknik terlarang untuk keajaiban final.

“Ya, betul,” katanya pada diri sendiri. Ia tahu suatu teknik yang diajarkan sang Raja Iblis ketika mereka masih tinggal bersama. Sebuah teknik untuk hidup abadi. Cara terlarang dengan mengorbankan hidup kekalnya sendiri.

Meski tahu konsekuensinya, Hani tak sedikit pun gentar. Rasa sesalnya lebih dalam dari rasa takutnya. Hani merangkak tertatih ke pusat aula. Siapa pun tak akan pernah tahu bahwa Hani sudah siap untuk menukar nyawanya dengan kesembuhan Yuri.

Hani tak dapat dihentikan.

Tidak dapat sama sekali.

Kecuali ketika ia melihat sinar putih terang dari langit yang melingkupi Yuri dan tiga orang lainnya dalam binar menyilaukan.

Hani pingsan.

.

.

Dalam ketidaksadarannya, Hani melihat sosok Kwon Shi Woon muda duduk di sebuah ayunan tua yang berderit. Berdiri di sebelahnya adalah seorang gadis cantik berambut hitam sebahu. Tubuhnya bersandar pada tiang ayunan yang sebetulnya bisa ambruk kapan saja. Kepala sang gadis menengadah ke langit, tapi matanya tak terbuka sama sekali.

“Apa yang kaulakukan?” sahut Kwon Shi Woon muda.

“Aku memimpikan sesuatu.”

“Mimpi apa?”

Mata sang gadis terbuka lebar, menampakkan netra hitam yang serupa dengan bola mata indah milik Yuri. Sang gadis misterius yang tak Hani kenali itu tersenyum pada Shi Woon, “Aku memimpikan sebuah keluarga yang berkumpul bahagia.”

Visi singkat itu cuma sampai di sana. Hani terbangun saat itu juga.

Cahaya menyilaukan masih menusuk-nusuk matanya, membuat semua orang termasuk Raja Iblis terkapar tak berdaya. Hani ingin menyerbu ke dalam ruang cahaya dan menebasnya dengan apa pun yang bisa ia raih, tapi ia tak yakin tindakannya adalah sebuah kebenaran. Ia merasa bahwa cahaya putih terang bukan ancaman. Apalagi dengan sebuah khayalan singkatnya barusan tentang Kwon Shi Woon dan seorang gadis misterius.

Hani selalu meyakini bahwa mimpi adalah penanda dan gerbang menuju dimensi lain. Bisa jadi apa yang ia lihat memang benar-benar terjadi pada suatu waktu di masa lalu, siapa yang tahu. Wanita paruh baya itu bisa membuktikan hipotesanya jika saja ia diberi waktu untuk berpikir. Namun, waktu itu tak pernah datang padanya. Bukan lantaran ia tak mampu, tapi ia cuma terlambat.

Kwon Shi Woon telah berdiri di tengah pusaran cahaya. Sosoknya jauh lebih tua dari apa yang barusan muncul di mimpinya. Di samping sang pria, berdirilah sosok hantu bertudung merah. Wajahnya tak nampak, tapi surai hitamnya sudah cukup dikenali oleh Hani.

Berbeda dengan Hani, kedua sosok itu kelihatannya tidak menyadari kehadirannya. Mereka hanya memandangi Yuri dan ketiga orang yang mengelilinginya sambil tersenyum. Kwon Shi Woon mengaitkan jemarinya di antara jemari gadis di sisinya. Meski samar, tapi Hani yakin ia telah mendengar sesuatu dari bibir Shi Woon, tepat sebelum pusaran cahaya tersebut pergi dan membuatnya pingsan sekali lagi.

“Mimpimu terwujud sudah, Aika.”

.

.

[Back to YURI POV]

Katanya aku sudah tiga hari koma. Jiyong bahkan tidak pernah tidur selama itu. Aku bersyukur karena ia sangat peduli padaku, tapi di saat yang sama, aku merasa bersalah padanya. Bukan salahnya aku jadi seperti ini ‘kan? Kenapa ia terlalu mendramatisir sesuatu?

Setelah aku sadar, Ibuku, Hani, melakukan segalanya untukku. Ia membuatkan makanan, mengingatkanku untuk meminum obat-obatan medis, memandikanku, menemaniku tidur, sekaligus menjadi teman ngobrol spesialku. Aku menghargai upayanya ini karena aku tahu, meski kami sudah berhasil melewati krisis 24 jam dari Mansion, Hani dan Chaerin bisa dijebloskan kembali ke penjara kapan saja, terlepas dari budi baik mereka selama di Kingdom. Mansion sangat menjunjung tinggi peraturan dan integritas, ditambah Chaerin dan Hani kelihatannya malah lebih suka keputusan itu, aku tak bisa berkata apa-apa dan memutuskan berhenti membahasnya.

“Ah, kepalaku sakit, Bu,” rintihku. Koma tiga hari membawa kabar buruk tidak hanya bagi fisikku. Indera keenamku, sebagai satu-satunya persyaratan menjadi Ghost Slayer, entah bagaimana hilang bersamaan ketika aku terbangun. Sekarang aku cuma gadis manusia biasa yang baru bangun dari sekarat panjang. Entah aku harus senang atau sedih.

“Apa kau sudah minum obatmu?”

“Ya, kurasa ini efek samping komaku. Aku dihantui mimpi-mimpi aneh selama koma.”

“Mimpi?” Ibuku meletakkan segelas air di meja dan mulai duduk di pinggir kasur untuk mendengarkanku.

“Ada sosok gadis hantu bertudung merah yang kukenal kerap memanggil namaku. Aku sangat takut sampai-sampai aku ingin segera bangun, tapi setelah aku bangun, rasanya aku merindukan suara itu, aku ingin tidur lagi. Perasaan yang aneh.”

Ibuku tersenyum, “Kadang mimpi mencoba memberitahumu sesuatu. Tapi tak jarang yang cuma bunga tidur saja. Aku juga begitu. Saat aku melanggar peraturan langit, dikutuk jadi iblis dan dipaksa menikahi Raja Iblis, aku benar-benar terpukul. Sayapku hilang bersamaan dengan hilangnya ingatanku yang mengikis. Lalu semua yang buruk terjadi satu tahun lalu, dan aku dipenjara. Aku selalu diberi mimpi buruk tak berkesudahan, bahkan ketika di balik jeruji. Lantas suatu hari, seorang gadis membangunkanku dari mimpi itu. Ia mengajakku mengetahui kebenaran dari masa lalu. Praktis aku ingat segalanya, termasuk keinginan terpendam Raja Iblis untuk menguasai darah murni malaikatku.”

“Jadi itu sebabnya kau berada di Kingdom saat itu, Bu?”

“Tertangkap sebetulnya bukan bagian dari rencanaku, tapi, ya. Begitulah kira-kira garis besarnya. Jiyong dan Chaerin tak tahu asal-usul mereka karena aku juga saat itu kehilangan ingatanku. Aku cuma tahu bahwa aku adalah Ratu Iblis dari Mansion yang melarikan diri dan melahirkan dua anak iblis di dunia fana.”

Aku tertegun. “Sungguh mengejutkan,” kataku. “Dan apa kautahu identitas gadis yang membangunkanmu dari mimpi buruk berkepanjangan itu?”

Ibuku mengedikkan kedua bahunya sambil berkata, “Entahlah, dia bisa jadi siapa saja. Bisa jadi penolong misterius bagiku, atau…”

Ibu melihatku, memberikan pandangan empati yang tak pernah bisa kupahami.

“…bisa jadi seorang ibu. Ibu yang punya mimpi paling mulia.”

.

.

“Hei,” aku melongok ke ambang pintu, Jiyong perlahan masuk dari sana dan duduk di sisi ranjangku. “Bagaimana kondisimu?” tanyanya.

“Baik. Dan kau?”

“Masih diserang mual karena tulang—yah, kautahu…”

“Cukup,” aku menghentikannya sebelum aku ikut-ikutan mual membayangkan rupa Jiyong ketika kami berada di Kingdom. “Lupakan soal tulang, anggap aku tak bertanya.”

Aku buru-buru menarik selimutku, tapi refleks tangan Jiyong lebih cepat dari gerakanku. Ia menjawat erat tanganku seakan aku akan kabur saja. Atas tindakannya barusan, aku menatapnya, meminta pertanggung jawaban atas apa yang baru saja dilakukannya.

“Apa?” tanyaku pelan.

“Aku takut,” jawabnya. “Kau membuatku takut dengan segala tindakan nekatmu beberapa hari lalu. Aku benar-benar khawatir kehilangan dirimu.”

“Kau mendramatisir. Salah minum obat? Tulang rusukmu salah tempat? Otakmu kebalik?”

Tebakanmu Jiyong menjawab pertanyaanku? Salah. Ia melakukan hal ekstrem yang baru pertama kali dilakukannya dalam masa-masa kami resmi jadi sepasang kekasih. Kami berpelukan. Oke, itu kedengaran tak ekstrem buatmu, tapi percayalah, ini pencapaian terbesarku di musim ini. Adakalanya aku memang butuh yang seperti ini.

Aku tak berkata barang sepatah kata pun hanya untuk mempertahankan suasana seperti ini. Aku ingin menikmati waktu di mana aku hanya bisa mendengar deru napas Jiyong dan detak jantungnya sementara ia bisa menikmati hal serupa dariku. Untuk pertama kalinya aku ingin diberi sebuah cahaya hitam, putih, biru—terserah yang mana—yang kiranya bisa memisahkan kami dari segala sesuatu yang dapat merusak suasana indah ini.

Jangan kaupikir aku sangat tangguh sehingga tak butuh hal-hal melankolis seperti ini. Aku juga gadis, dan gadis akan sangat senang diperlakukan sebagaimana gadis yang lain.

Untungnya Jiyong tahu benar.

Saat tangannya mulai membelai suraiku, aku hendak terpekik saking senangnya. Ia bukan tipikal pria seperti ini, kalau aku boleh jujur. Melakukan hal romantis adalah hal terakhir yang akan dilakukannya ketika dunia kiamat, hampir-hampir mustahil. Tapi jika aku boleh menghubungkan semuanya, mungkin Jiyong pikir yang kemarin itu diperhitungkan kiamat baginya.

Boleh juga.

Aku rela tanding ulang dengan Raja Iblis berulang kali hanya demi perlakuan seperti ini.

Sayangnya tidak mungkin. Aku sudah kehilangan seluruh kemampuan Ghost Slayer-ku. Dan sepertinya Jiyong hendak mengatakan sesuatu yang terkait dengan hal tersebut.

“Aku sudah mendengarnya, soal kemampuanmu…”

“Oh, tidak ucapan belasungkawa lagi,” kataku sambil melepaskan diriku dari Jiyong.

“Sebaliknya, aku ingin mengatakan selamat padamu.”

“Karena kau ingin melamarku?”

“Kenapa aku ingin melamarmu?”

“Jadi, bukan?”

“Kau ingin dilamar?”

“Sudahlah, pembicaraan ini tak akan kemana-mana. Kembali pada selamat,” sahutku sedikit jengah. Jiyong masih sama bodohnya dengan hari-hari yang lalu. Berengsek, dia sama sekali tidak peka.

“Selamat karena sudah menjadi gadis biasa.”

Aku memicing keji ke arahnya. “Kau menghinaku?”

“Serius. Aku suka kau menjadi manusia biasa. Sebenarnya aku suka segala versi dirimu, tapi aku suka kalau kau menjadi gadis biasa yang jauh dari bahaya-bahaya astral. Sudah kubilang aku sangat takut kehilanganmu. Aku tak mau yang kemarin itu terjadi lagi di kemudian hari. Lagipula, setelah hari itu, kekuatan iblisku sudah hilang. Aku masih bisa melihat hantu, tapi aku sama tak berdayanya dengan manusia biasa yang melakukan cenayang rendahan. Aku tak kompeten untuk tugas Ghost Slayer.”

Aku menunggu Jiyong untuk tertawa dan berkata April Mop!

Tapi dia tak bereaksi dan ini bukan April. Jiyong pasti sungguhan. Wah, kami sangat kompak. Jangan-jangan jodoh!

“Jadi, maksud percakapan ini adalah?”

“Mari hidup sebagai manusia biasa. Tidak ada lagi pembasmian hantu. Tidak ada lagi peralatan deteksi perak. Tidak ada lagi hantu-hantu jamban.”

“Kau mengusulkan keluar dari Mansion?”

Jiyong menggeleng. “Lebih seperti, pensiun dari Mansion.”

Aku menatap matanya. Aku suka sekali mata Jiyong. Sorot itu tak pernah berbohong padaku, berbeda sekali dengan lidahnya. Tapi kali ini, baik lidah maupun sorot netranya, mengatakan hal yang sama, bahwa ia ingin tetap berada di sampingku, bahwa ia ingin aku dan dirinya menghabiskan masa-masa indah bersama sampai tua. Bahwa kami diciptakan untuk melakukan hal-hal bodoh bersama.

Kedengaran menyenangkan.

Aku tak bisa membohongi diriku untuk setuju.

Pensiun kedengaran membosankan. Bagaimana kalau gantung sepatu?”

Jiyong mengacak-acak rambutku.

“Aku lebih suka gantung D-Kit.”

Aku menariknya, membuat tubuhnya memelukku sekali lagi.

“Itu juga boleh.”

.

.

Zico memutari makamnya sendiri. Ia begitu lelah setelah banting tulang membasmi hantu-hantu membandel beberapa hari yang lalu. Ia tak sempat berkunjung untuk mengabarkan bahwa misinya di Jepang berhasil, tapi ia tahu bahwa hal-hal teknis seperti itu tak diperlukan. Raja Iblis sudah kembali tenang ke singgasananya, didampingi dengan Leo yang langsung diangkat sebagai penasehat pribadinya. Sedangkan para hantu yang tersesat di dunia, perlahan kembali ke alam baka dengan kerja keras pada Ghost Slayer yang tersisa.

Ia tak tahu apa yang terjadi pada Chaerin atau Hani, tapi Zico sudah terlampau yakin kalau hal-hal baik pasti akan datang segera setelah petaka hebat. Jika keduanya tak bisa bebas dari penjara Mansion sekarang, setidaknya ia sudah mengirimkan pesan pada Seunghyun bahwa sejumlah pengurangan masa hukuman dirasa cukup.

Secara teknis, tugas Zico di dunia benar-benar selesai. Itulah mengapa ia kini siap untuk kembali ke tempat tidur-nya lagi. Sayangnya, kali ini keinginannya itu ditahan. Ada hal lain yang ditunggunya.

Saat itulah sepasang sosok yang ditunggu-tunggunya muncul. Pria dan wanita, berjalan bersisian.

“Nah,” Zico berseru.

Wanita itu melepaskan tudung merah dari kepalanya hingga nampaklah sosok wanita cantik yang nampak sebaya dengan pria yang berdiri di sampingnya. Iris matanya sewarna dengan milik Yuri dan Zico, sama-sama memancarkan ekspresi teduh yang menghanyutkan.

Zico tersenyum pada keduanya bergantian, ia lantas mengedip manja. “Jadi, Ibu, Ayah, apakah kita sudah bisa liburan ala hantu ke Maldives?”

.

.

FIN.


Yes, as in fin. No more chapters, just fin. :p

Jadi, gimana pendapatnya soal Ghost Slayer Re:Do.

nyun.

18 thoughts on “GHOST SLAYER RE:DO – EPILOGUE

  1. nalyyullie berkata:

    Glad that yul save from that attack!…
    Omo GYul become normal persons^^^
    No more see ghost …
    Both pension from become ghost slayer..
    GYul sweet though..
    So the woman who talk to yul actually yul’s mom…
    Glad that hani n cl also fine..
    Zico n parents also happy…
    Totally love ur story^^
    Jjang!!
    Thanks for the story^^

  2. Phannia berkata:

    Annyeong eon.. aku komen dulu aja ya..
    kuota aku abis hari ini nanati takutnya malah gk bisa komen,
    #curcol
    wahh ada epilog nya nih.. jadi pengen baca cepet2 tapi masih ada kelas😥
    pokok keep writing aja, TOZ ditinggu…

  3. Dewi ( Kwon Yul Yul ) berkata:

    Wuah kak!!! mereka pensiun, keputusan bagus, biar ga berbahaya lagi, jiyong sayang banget sama yuri,begitupun sebaliknya, jadu gadis tudung merah itu ibu yuri dan zico?? zico mau liburan ala hantu bareng ortu nya, haha.. dan pendapatku tentang ff kakak yg satu ini, kereeeeennnnnn bangetttttttttt…!! pertarungan nya seru!! 😄

  4. Rania SonELF berkata:

    Wow akhir yg keren Kak Nyun..!!

    Yg bkin iri hantu ajha bisa liburan ken Maldive masa aku ngga..;;

    Kak Nyun TOZ slalu dinanti..

  5. yhyemin_ berkata:

    oohhhhh jdi si hantu tudung merah tuh ibunya yuri?kan zico yuri sodara?ooohhooohhhh hani ibunya jiyong?raja iblis bapanya jiyong,kwon shi woon bapanya yuri.
    Kurang romance jiyong,leo,zico-yuri menurutku…
    Baguslah ka yuri gantung d-kit serem cewek kerjanya tukang nangkap hantu.jadi cewek biasa aja.
    Gila aja hantu sekeluarga liburan ke maldives aku aja manusia suka bertanya-tanya kapan kesana… T^T *curhat
    Selanjutnya project kak nyun apa?ditunggu..

  6. lalayuri berkata:

    Kak Nyun, aduh ff nya keren banget, selalu aja plotnya gak bisa aku tebak. Jadi hantu bertudung merah itu ibunya yuri-zico. Wahh jadi ibunya Yuri-Zico meninggal gara” melakukan blending. Yuri gak bisa lihat hantu lagi ? Ciee GDnya jadi so sweet gara” takut kehilangan Cewenya wkwkwk. Keren banget lah intinya kak. Oia kak Nyun please The Sorcerer’s Diary dan ToZ nya dilanjut udh kepo banget nih kak. Ada project baru lagi gak kak ? Ok sekian

  7. Cynthia berkata:

    yahh yuloen gak bisaliat ibu kandungnya..
    pas ketemu dia gak bisa liat krn wajahnya yg berantakan.. kasian..😦
    keren banget kak nyun ceritanya.. semoga aja kak nyun juga buat seriesnya vibrance, blood, sm the stewardess … sm dtunggu ff yg ongoing lainnya ya.. tales of zodiacnya ditunggu😀
    Fightinggg!!!!!!

  8. aloneyworld berkata:

    What? Jadi ada liburan ala hantu? ke maldives? Hantu juga ke maldives? Buat liburan? Aku aja gapernah😄 jiyong ngga peka -_- malah nanya “kenapa aku ingin melamarmu?” Yang sabar ya yuri jiyong mah emang telmi😄 jadi mereka bakal gantung D-kit? Okehlah jadi manusia biasa ngga buruk juga, ngga ada hantu jamban😄 jadi si tudung merah itu mamanya yuri ya? Aika? Yuri pernah ketemu aika sebelumnya ngga sih kak? ._. Kalo ditanya pendapat soal fict ini sih sama kaya ghost slayer yang dulu THIS IS THE BEST FANFICT EVER❤ cinta banget suka banget deh pokoknya sama fict ini sama jiyongnya lebih-lebih malah cintanya😄 tapi sedih juga sih ini berakhir😥

  9. chy23 berkata:

    Anjaaay lah!!!
    keren tiada batas euy kaknyuuuun :3
    finally jiyong-yuri jadi manusia biasa, so mereka ga perlu berurusan lagi dgn roh2 aneh bin ajaib plus gajelas maaunya apa ituuuuu😄
    dan dan momen mereka berduanya cweeet bangettttz bangetz!
    emg kalau baca ff kakak gapernah membosankan ^^
    yey semangat kaknyuun!!!

  10. zcheery berkata:

    Lhoo kurang kaakkk kami butuh jiyul moment lagiiii hahhahaha hoo aku paham skrg kalo mamanya yuri itu ya si gadis bertudung merah itu.. Makanya dari kemaren aku mikir, kalo hani cuman ngelahirin chaerin sama jiyong, yuri anaknya siaapa? Tetangga?

    Kanyunn aku suka bagian dimana ada kata, jangan-jangann jodoh? Hahahhahha nguakakk dahh gua😂😂😂 ada yg lain juga sih wkwkkwk well, thx buat ceritanya kanyuunn ditunggu jiyul jiyul laainnya haahahaahahaaha God bleess!

  11. Luluu berkata:

    Kaknyuuunnnn
    What a great ending~~ suka banget kaknyun
    Worth it banget nunggu lama hehehe
    Ditunggu cerita lainnya kak!! Semangat!!

  12. Lulu KEG berkata:

    di part tadi cekikikan gak berenti eh dsini? Ya ampun aku terharu sumpah,, apalagi bagian tiga anak raib ngebarikade Yuri(?) terus moment JiYul(?) di ending itu romantis nanggung gimana gitu, abis cuma peluk.pelukan doang wakk. sayang mreka malah pensiun huhu tapi seneng banget sih endingnya jelas #kodekeras *plak

    sumpah sejak awal aku seneng banget kak Nyun ngeluarin Ghost Slayer RE:DO ini ya mengobati kerinduan lah abisan ini Story keren abis gada dua nya aku suka bangett. ya karna ini aku jadi tau loh bentukan RaIb tuh gimana, trus ada keturunan2 iblis seganteng dan secantik mreka, Oya juga dari jamannya Ghost Slayer yang JiYul masi sodaraan aku baru tau loh ibunya Yuri bentukan nya kaya gitu untung cantik? ya haha pokoknya aku Puas! thanks to kak Nyun! huah deuh pokonya Kak Nyun kecebeut top markotop lah!! bakal kangen lagi sama ff ini

    yowes lah makasih kak Nyun Ghost Slayer Re:Do nya dan ff2 keren kak Nyun yang lain juga intinya Kak Nyun the best deh, sekali lagi terimakasih banyaaak Kak Nyun^^ deep bow~

  13. Stella Kim berkata:

    sabi lah kak!
    jadi aika itu siapa? ibu kandung yuri sama zico?
    aih jiyong and yuri, bye mansion and have a happy life!
    thankyou kak udah bikin ff ini🙂

    btw kak,
    toz sama tsd apa kabarnya? :-‘( terutama tsd, uda kangen parahhhhh

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s